KEBAJIKAN UNGGUL DARI KEHIDUPAN ORANG KRISTEN (1)
Pembacaan Alkitab: Flp. 4:5-9
Dalam membaca Kitab Filipi penting sekali kita menemukan faktor-faktor dasar yang menjadi motivasi tulisan Paulus. Dalam pasal 3 faktor-faktor motivasinya adalah perlu menanggulangi jiwa dan tubuh. Kita telah nampak bahwa Paulus menyinggung dua kelompok orang, para penganut agama Yahudi dan orang-orang Epikuros, ketika dia memberikan pengajaran kepada kaum saleh mengenai cara menanggulangi jiwa dan tubuh. Ketika kita sekarang tiba pada 4:5-9, kita temukan delapan ciri-ciri unggul. Kita perlu bertanya, mengapa pada butir ini dalam suratnya Paulus menyebutkan ciri-ciri ini.
Pasal 4 adalah kata kesimpulan. Ketika Paulus menyusun kata kesimpulan ini, ia tetap dimotivasi oleh faktorfaktor yang menggerakkannya menulis ketiga pasal yang pertama. Dia tetap menggumuli masalah-masalah seperti memikirkan hal yang sama melalui mengejar Kristus dan bersukacita dalam Kristus, guna menikmati kekayaan Kristus. Dalam ketiga pasal yang pertama dari Surat Filipi Paulus menunjukkan realitas batiniah pengalaman terhadap Kristus. Tetapi sebelum pasal 4, ia tidak memberikan penjelasan tentang ekspresi lahiriah dari realitas ini. Jika kita menikmati Kristus dan mengalami Dia, kita akan memiliki suatu realitas batiniah tertentu. Realitas batiniah yang demikian selalu menghasilkan suatu ekspresi lahiriah. Dalam 4:5-9 kita jumpai satu ekspresi lengkap dari realitas batiniah ini, satu ekspresi lengkap dari kehidupan yang memperhidupkan Kristus.
Dalam 1:21 Paulus mendeklarasikan, “Bagiku hidup adalah Kristus.” Pernyataan ini merupakan satu kesaksian dari realitas batiniah Paulus. Tetapi apakah ekspresi sejati dari suatu kehidupan yang memperhidupkan Kristus? Ekspresi ini terdapat dalam berbagai kebajikan yang tercantum dalam 4:5-9. Seprinsip dengan itu, dalam pasal 2 Paulus menetapkan Kristus sebagai teladan kita. Andaikata kita telah menerima Kristus yang tersalib dan ditinggikan itu sebagai teladan kita, apakah yang akan menjadi ekspresi dari kehidupan yang sesuai dengan teladan ini? Ekspresi ini tercantum dalam 4:5-9. Demikian pula tentang perkataan Paulus dalam pasal 3 mengenai menganggap segalanya rugi, bahkan sampah, untuk mendapatkan Kristus. Ekspresi macam apakah yang tampak pada kehidupan seseorang jika orang itu menyalahkan filsafat, menolak budaya, dan meninggalkan agama, menganggap semua itu sampah, untuk mendapatkan Kristus? Kehidupan macam apakah yang akan ditempuh oleh orang yang demikian, dan apakah yang menjadi ekspresi riil dari kehidupan ini? Kita harus menunjukkan sekali lagi bahwa ekspresinya tercantum dalam 4:5-9.
Walaupun Surat Filipi sangat pendek, tetapi faktorfaktor yang menjadi motivasi penulisan surat ini sangatlah kaya dan dalam. Dalam berita-berita ini kita giat menggali kedalaman Surat Filipi dan menyingkap faktor-faktor ini. Inilah juga yang menjadi tujuan kita dalam mengkaji pasal 4. Apakah faktor yang menjadi motivasi Paulus untuk me-nulis pasal kesimpulan sedemikian? Mengapa setelah me-ngatakan bersukacita dalam Tuhan ia segera mengatakan tentang kebaikan hati dan tanpa khawatir? Mengapa ia meneruskan dengan menyebut beberapa kebajikan, dan mengapa dalam kebajikan itu tidak mencakup misalnya kekudusan, kemenangan, dan kesabaran? Faktor dasar dalam batin Paulus yang menggerakkan dia untuk menulis perkataan kesimpulan ini ialah perlunya menunjukkan ekspresi suatu kehidupan yang memperhidupkan Kristus, yang mengambil Kristus sebagai teladan, yang menganggap hal-hal yang agamis, filosofis, dan budaya sebagai sampah, dan yang menikmati Kristus sebagai segala-galanya. Inilah motivasi Paulus dalam menyusun pasal 4 sebagai kata ke-simpulan dari Surat Kiriman ini.
Judul berita ini “Kebajikan Unggul dari Kehidupan Orang Kristen”, tetapi dapat juga diberi judul “Ekspresi Kehidupan yang Memperhidupkan Kristus”. Judul yang terakhir lebih dalam daripada yang terdahulu. Bagian Surat Filipi ini memperlihatkan kepada kita ekspresi dari kehidupan yang memperhidupkan Kristus — suatu kehidupan yang menerima Kristus sebagai teladan dan menganggap segala sesuatu sampah demi lebih banyak memperoleh Kristus.
I. KEBAIKAN HATI
Aspek pertama dari ekspresi kehidupan yang memperhidupkan Kristus ialah kebaikan hati. Filipi 4:5 mengatakan, “Hendaklah kebaikan hatimu diketahui semua orang.” Setelah ini akan kita lihat bahwa aspek kedua adalah tanpa khawatir. Dalam kehidupan yang memperhidupkan Kristus terdapat kebaikan hati, tanpa khawatir, tanpa gelisah. Paulus menganggap kebaikan hati dan tanpa khawatir ini sebagai kedua aspek utama dalam ekspresi kehidupan yang memperhidupkan Kristus.
Kehidupan yang memperhidupkan Kristus adalah teduh, sentosa, damai, dan tenang. Sebaliknya, kehidupan yang rusuh atau penuh gejolak adalah kehidupan yang memperhidupkan Iblis. Kebaikan hati merupakan unsur terpenting dari kehidupan yang tenang. Kebaikan hati berarti memperlakukan orang dengan patut, tenggang rasa, memperhatikan orang lain, tidak kaku dalam menuntut hak absah seseorang. Jika kita ingin menempuh hidup yang tenang, kita harus mempunyai kebaikan hati.
Kebaikan hati mencakup kesabaran dan kepatutan (kepantasan); tetapi tidak hanya ini saja. Jika Anda memiliki kebaikan hati, Anda tidak akan berbantah-bantah, bertengkar, atau berdebat dengan orang lain. Boleh jadi ada banyak hal yang bisa Anda katakan, tetapi Anda bisa bersabar dan pantas menghadapi orang lain, tidak berkata apa-apa untuk menangkis hasutan atau rangsangan.
Misalkan ada sekelompok saudari tinggal bersama. Saudari yang paling mustika adalah yang paling sabar hati. Ketika timbul kesulitan, ia teduh dan tenang. Bahkan jika orang lain menyakiti dia, dia tidak membalas dendam. Tetapi saudari yang tidak bersabar hati mudah sekali bereaksi bila disalahi; dalam kehidupannya tidak ada keteduhan, tidak ada kesentosaan, dan tidak ada kepatutan. Kehidupan kristiani yang normal adalah kehidupan yang teduh. Menempuh kehidupan yang demikian ini berarti tidak berbantah-bantah dengan orang lain, tidak bertengkar dengan orang lain.
Kebaikan hati bertolak belakang dengan ambisi yang egoistis dan kemuliaan yang sia-sia. Kedua hal negatif ini pernah disebut oleh Paulus. Kebaikan hati juga berlawanan dengan bersungut-sungut dan berbantah-bantahan. Ada orang saleh yang mengejar persaingan dan kemuliaan yang sia-sia, sedangkan yang lain bersungut-sungut dan berselisih. Setiap kali kita cenderung bersaing, ingin kemuliaan yang sia-sia, sungut-sungut, dan beralasan, maka tidak ada keteduhan, kesentosaan, dan kesabaran hati.
Dari pengalaman saya telah belajar bahwa kesentosaan merupakan aspek pertama dari kehidupan yang memperhidupkan Kristus. Kalau kita memperhidupkan Kristus, kita tidak akan berbantah-bantah dengan orang lain. Kita akan mengetahui kapan waktunya yang tepat untuk mengucapkan perkataan yang teduh. Perkataan yang teduh, jika diucapkan pada saat yang tidak tepat, juga akan menimbul-kan perbantahan. Jika Anda segera menjawab begitu orang lain menyalahi Anda, perkataan Anda tidak mungkin mengandung kebaikan hati. Kalau seseorang marah-marah kepada Anda, paling baik tidak mengatakan apa-apa. Belajarlah berbaik hati dan menunggu saat yang tepat untuk mengucapkan perkataan yang teduh. Latihan demikian sangat penting, khususnya bagi para saudara dan saudari yang sudah menikah. Jika suami atau istri Anda suka berbantah-bantah, berhati-hatilah dengan cara Anda bertutur kata. Mungkin lebih hikmat kalau tidak berseru kepada Tuhan dengan suara keras. Berseru dengan suara keras mungkin akan membangkitkan kesulitan. Janganlah berbicara, tenangkanlah diri Anda, berserulah kepada Tuhan dalam batin, dan tunggulah sampai situasi tenang, kemudian baru berbicara.
Mengajar orang demikian memang mudah, tetapi mempraktekkannya sulit sekali. Untuk menempuh kehidupan semacam ini perlu anugerah. Ketika seorang saudari marah-marah kepada suaminya, mudah sekali bagi suami untuk tersinggung; mungkin ia terbakar oleh amarah dan emosinya naik. Pada saat demikian, sulit sekali untuk tenang dan teduh. Karena itu, kita perlu anugerah Tuhan. Untuk berbaik hati dalam situasi demikian sungguh perlu banyak anugerah. Tetapi bila kita berlatih untuk teduh oleh anugerah Tuhan, maka akhirnya suasana akan menjadi tenang. Kemudian barulah tiba saatnya yang tepat untuk mengucapkan perkataan yang teduh.
Saya tidak paham mengapa setelah membahas masalah yang demikian penting dalam ketiga pasal pertama, dalam 4:5 Paulus berkata, “Hendaklah kebaikan hatimu diketahui semua orang.” Kalau dibandingkan dengan apa yang telah dibahas di depan, maka kebaikan hati nampaknya tidak begitu penting. Namun, kebaikan hati justru merupakan suatu ujian yang riil apakah kita benar-benar memperhidupkan Kristus.
Dalam 4:5 Paulus juga berkata, “Tuhan itu dekat” (Tl.). Banyak pembaca Surat Filipi menganggap ini ditujukan kepada kedatangan Tuhan. Saya tidak mengatakan ini sama sekali bukan ditujukan kepada kedatangan Tuhan, tetapi saya percaya ini terutama tidak ditujukan kepada kedatangan-Nya. Sebaliknya, ini terutama ditujukan kepada penyertaan Tuhan dengan kita. Tuhan itu dekat, Dia beserta kita. Ketika kita memperhidupkan Dia, menerima Dia sebagai teladan kita, dan menganggap segalanya rugi demi mendapatkan Dia, kita akan merasa Dia sedang menyertai kita. Dia itu dekat dalam ruang dan waktu. Dalam ruang, Tuhan dekat terhadap kita, siap membantu kita. Dalam waktu, Tuhan dekat dengan kita, segera datang lagi. Karena Tuhan itu dekat, buat apa kita gelisah dan terganggu?
Ketika kita memperhidupkan Kristus, mengetahui bahwa Dia itu dekat, kita seharusnya membuat orang lain mengetahui kebaikan hati kita, sikap kepatutan kita. Saya ulangi, inilah aspek pertama dari penampilan kehidupan yang memperhidupkan Kristus. Percayalah, setiap kali Anda memperhidupkan Kristus, Anda akan menampilkan sikap baik hati, patut, dan teduh yang demikian. Tetapi, bila Anda berusaha keras untuk bersaing demi kemuliaan yang sia-sia, atau bila Anda bersungut-sungut atau beralasan, tidak ada kebaikan hati pada Anda. Keadaan tanpa kebaikan hati itu membuktikan bahwa Anda tidak memperhidupkan Kristus. Ujian pertama dalam memperhidupkan Kristus ialah apakah kita menampilkan kebaikan hati.
Dalam mengajar kita untuk bersabar dan menanggung kesukaran, Paulus tidak ingin menjadi seperti tokoh agama tertentu. Faktor yang menggerakkan Paulus menulis ayat-ayat ini ialah ia ingin menunjukkan ekspresi dari suatu kehidupan yang memperhidupkan Kristus. Jadi, dalam 4:5-9 kita nampak sebuah lukisan kehidupan yang memperhidupkan Kristus. Jika kita memperhidupkan Kristus, kita akan membuat orang lain mengetahui kebaikan hati kita. Mereka akan nampak bahwa kita teduh, sentosa, dan patut; tidak ada apa pun yang dapat mengganggu keteduhan batiniah kita. Akan tetapi, bila kita tidak teduh, tentu kita tidak berada di dalam Kristus, dan dalam pengalaman kita pun Tuhan tidak dekat. Kita mungkin tidak teduh, melainkan khawatir, itulah yang merusak keteduhan kita, dan menjadikan kita kehilangan damai sejahtera batiniah. Ketika kita kehilangan keteduhan, tidak mungkin kita memperhidupkan Kristus. Tidak mungkin seseorang bertengkar dan berbantah-bantah dengan orang lain sambil memperhidupkan Kristus. Memperhidupkan Kristus memerlukan ketenangan dan keteduhan yang mutlak.
II. TANPA KEKHAWATIRAN
Dalam ayat 6 Paulus meneruskan, “Janganlah hendaknya kamu khawatir tentang apa pun juga . . .” Kerap kali bila kita mendengar kabar buruk, kita akan cemas dan menjadi khawatir. Kekhawatiran akan merusak kehidupan yang memperhidupkan Kristus. Janganlah khawatir, melainkan dalam setiap hal kita nyatakan keinginan kita kepada Allah melalui doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Demikian, damai sejahtera Allah akan menjaga hati dan pikiran kita dalam Kristus Yesus (ayat 7). Damai sejahtera Allah akan menyelamatkan kita dari ketakutan dan kekhawatiran. Kata-kata Paulus di sini membuktikan bahwa penjelasan kita atas ayat-ayat ini menurut pengalaman kita adalah tepat. Dibebaskan dari kekhawatiran adalah untuk menjaga kita tetap tenang dan teduh.
Dalam ayat 6 Paulus menyuruh kita, “Nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.” Kata “segala hal” ditujukan kepada berbagai hal yang kita alami tiap hari. Di bawah berkat Tuhan, banyak hal positif yang terjadi, dan kita mendengar kabar baik. Namun, kita juga mengalami hal-hal negatif dan mendengar kabar buruk. Bagaimanapun, dalam setiap hal kita harus menyatakan keinginan kita kepada Allah melalui doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Doa bersifat umum, beresenskan penyembahan dan persekutuan; permohonan bersifat khusus, ditu-jukan kepada keperluan tertentu. Perhatikan, Paulus berkata, “dengan ucapan syukur” bukan “dan ucapan syukur”. Ini menunjukkan bahwa doa dan permohonan kita seharusnya disertai dengan ucapan syukur kita kepada Tuhan.
Kelihatannya mudah sekali memahami perkataan Paulus, “Nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah.” Tetapi janganlah kita menganggap kata-kata ini memang semestinya begitu, dan kita sudah memahaminya. Saya telah menggunakan banyak waktu mengkaji frase “kepada Allah”. Frase ini boleh diterjemahkan “di hadapan Allah” atau “dalam penyertaan Allah”. Kata penghubung bahasa Yunani ini pros, sering diterjemahkan sebagai “dengan” (Yoh. 1:1; Mrk. 9:19; 2Kor. 5:8; 1Yoh. 1:2). Istilah ini menunjukkan suatu gerakan menuju suatu arah, dalam hal suatu komunikasi dan kesatuan yang hidup, yang menyiratkan persekutuan. Jadi, maksud frase “kepada Allah” di sini adalah dalam persekutuan dengan Allah. Kita harus menyatakan keinginan kita kepada Allah dalam persekutuan yang sedemikian, dalam persatuan dan persekutuan erat yang demikian. Ini memerlukan kita berdoa untuk berkontak dengan Allah.
Dalam doa kita kepada Allah harus ada esens penyembahan dan persekutuan, juga permohonan untuk keperluan-keperluan khusus. Sekalipun kita tidak mempunyai keperluan khusus, kita tetap perlu menggunakan waktu untuk berdoa tiap hari guna menyembah dan bersekutu dengan Tuhan. Ketika kita menyembah Tuhan dan bersekutu dengan Dia dalam doa, kita akan menikmati persekutuan erat dengan Dia dan bersatu dengan Dia secara organik.
Hasil dari bersatu secara organik dengan Tuhan adalah damai sejahtera Allah menjaga hati dan pikiran kita dalam Kristus Yesus (ayat 7). Damai sejahtera Allah sebenarnya adalah Allah sendiri sebagai damai sejahtera (ayat 9) diinfuskan ke dalam kita melalui persekutuan kita dengan Dia melalui doa, sebagai penangkal kegelisahan dan penawar kekhawatiran (Yoh. 16:33).
Kabar buruk atau situasi sulit bisa membuat kita cemas atau khawatir. Kita dapat menemukan penawar kekhawatiran bila kita berdoa, berlatih bersekutu dengan Allah, dan menikmati kesatuan yang organik. Kemudian, dengan spontan, bahkan tanpa disadari, damai sejahtera Allah terinfus ke dalam manusia batiniah kita. Damai sejahtera yang diinfuskan ini menjadi penangkal kegelisahan kita dan menjadi penawar kekhawatiran. Dari pengalaman kita tahu bahwa melalui doa kita menerima penawar kekhawatiran ini ketika damai sejahtera Allah terinfus ke dalam kita. Memiliki damai sejahtera Allah sebagai penangkal kegelisahan kita bukan berarti kegelisahan itu akan lenyap. Kegelisahan itu tetap ada, tetapi kita mempunyai penangkal. Lagi pula, racun kekhawatiran tetap ada dalam kita, tetapi kita mempunyai penawarnya, yakni damai sejahtera Allah yang diinfuskan ke dalam diri kita melalui persekutuan kita dengan Allah dalam doa. Ketika kita menikmati Allah sebagai damai sejahtera kita, batin kita menjadi tenang.
Dalam ayat 7 Paulus mengatakan bahwa damai sejahtera Allah akan memelihara hati dan pikiran kita dalam Kristus Yesus. Istilah “memelihara” boleh juga diterjemahkan sebagai “menjaga”. Allah sumber damai sejahtera berpatroli di hadapan pikiran dan hati kita dalam Kristus, menjaga kita tetap tenang dan teduh. Hati adalah sumber, pikiran adalah saluran. Damai sejahtera Allah menjaga hati dan pikiran kita. Ini berarti di dalam Kristus Yesus damai sejahtera berpatroli sebagai pengawal yang mondar mandir di depan hati dan pikiran kita. Damai sejahtera Allah yang berpatroli dalam diri kita sedemikian itu memelihara kita supaya kita tenang dan teduh. Sekalipun kita mungkin mengalami banyak kesukaran dan kekhawatiran, tidak ada apa pun yang dapat mengganggu kita. Ini bukan sekadar ajaran, melainkan perkataan yang cocok dengan pengalaman kita. Dari pengalaman kita tahu bahwa damai sejahtera Allah terinfus ke dalam kita, sehingga kita menjadi tenang.
Terhadap orang kita perlu kebaikan hati seperti yang dikatakan dalam ayat 5, sedang terhadap Allah kita perlu persekutuan, seperti yang disinggung Paulus dalam ayat 6 dan 7. Sebagai kedua aspek utama dalam ekspresi kehidupan yang memperhidupkan Kristus, maka kebaikan hati dan persekutuan membuat kita tetap tenang dalam batin. Dengan jalan inilah kita akan menjadi orang yang tenang. Tetapi ini tidak berarti tidak ada hal negatif yang akan menimpa kita. Sebaliknya, itu berarti kita harus tidak terganggu oleh hal-hal negatif. Janganlah Anda mengeluh terhadap situasi kehidupan Anda. Perhidupkanlah Kristus! Ekspresi Anda yang pertama dalam memperhidupkan Kristus ialah kebaikan hati.
Mengatakan kita harus memiliki kebaikan hati dan bebas dari khawatir tidak berarti bahwa setiap hari kita akan menerima kabar baik melulu. Iblis sering mengirimkan kabar buruk kepada kita. Namun kita tidak perlu gelisah karena kabar buruk itu, sebab kita mempunyai damai sejahtera Allah. Allah itu sendiri sebagai damai sejahtera di batin kita, menjaga perasaan batin kita. Tetapi, jika kita ingin mengalami damai sejahtera Allah ini, kita harus berdoa dan bersekutu dengan Allah.
Dalam 4:5-7 Paulus tidak menyinggung perihal yang ketiga selain kebaikan hati dan tidak khawatir. Sebaliknya, ia hanya menunjukkan kedua aspek penting dari kehidupan yang memperhidupkan Kristus ini — kebaikan hati dan tidak khawatir. Bila kita memiliki kebaikan hati dan tidak khawatir, kita akan senantiasa dalam suasana tenang dan teduh. Kemudian kita dapat memperhidupkan Kristus dan memiliki kenikmatan yang penuh akan Kristus.