MEMIKIRKAN HAL YANG SAMA DAN BERSUKACITA DALAM TUHAN
Pembacaan Alkitab: Flp. 4:1-4
Dalam membaca Alkitab kita tidak boleh melihat segalanya memang semestinya demikian. Janganlah kita menganggap sebuah kalimat, sebuah frase, atau sebuah kata memang semestinya demikian, dan mengira kita sudah memahaminya. Jika kita mengira semuanya memang semestinya demikian ketika kita membaca Alkitab, kita akan menipu diri kita sendiri. Ketika saya membaca firman Allah, saya selalu berlatih untuk tidak menganggap semuanya memang semestinya demikian. Saya khusus menaruh perhatian pada kalimat atau ungkapan-ungkapan yang lebih sulit dipahami. Sebelum kita melanjutkan membahas 4:1-4, saya ingin menunjukkan beberapa bagian yang sulit dipahami dalam 3:7.
BEBERAPA TOPIK YANG SULIT DALAM FILIPI 3
Dalam ayat 7 Paulus berkata, “Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus.” Apakah yang dimaksud Paulus dengan keuntungan dan rugi? Tambahan pula, mengapa ia mengatakan keuntungan dalam bentuk jamak dan rugi dalam bentuk tunggal?
Dalam ayat 8 Paulus melanjutkan, “Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia (mustika) daripada semuanya. Karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus.” Paulus menggunakan kata “mustika” yang menyulitkan pemahaman kita. Apakah sebenarnya arti kata ini? Apakah pula arti “kemustikaan pengenalan akan Kristus?” Ketika membaca ayat ini banyak orang yang mengira itulah pengenalan yang mustika, bukan kemustikaan pengenalan. Namun besar sekali perbedaan antara pengenalan yang mustika dengan kemustikaan pengenalan. Dalam ayat ini Paulus juga mengatakan tentang melepaskan semuanya dan menganggapnya sampah. Mengapa ia tidak mengatakan, “Aku menganggap semuanya itu bukan apa-apa?” Selain itu, apa perbedaan antara rugi dan sampah?
Dalam ayat 9 Paulus berkata, “dan berada (ditemukan di) dalam Dia . . .” Apa artinya ditemukan di dalam Kristus? Mengapa Paulus tidak mengatakan “dikenal di dalam Kristus” atau “dilihat di dalam Kristus”? Mengapa ia memakai kata “ditemukan”?
Ayat 10 mengatakan, “. . . mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya.” Kita sudah menunjukkan bahwa mengenal Kristus berarti mengalami dan menikmati Dia. Mengapa Paulus di sini tidak menggunakan kata menikmati dan mengalami? Kita juga harus menaruh lebih banyak perhatian atas ungkapan “kuasa kebangkitan-Nya”. Saya tidak percaya bahwa kita sudah memberi definisi yang memadai atas ungkapan ini. Kita juga harus mengkaji tentang “persekutuan dalam penderitaan-Nya”. Apa yang dimaksud dengan ungkapan ini? Ada orang mengatakan bahwa persekutuan dalam penderitaan Kritus ditujukan kepada peran serta kita dalam penderitaan-penderitaan itu. Tetapi apa maksud Paulus dengan memakai istilah “persekutuan” di sini? Lagi pula, mengapa ia memakai frase “menjadi serupa”? Kita perlu menyelidiki dengan saksama tentang menjadi serupa dengan Kristus dalam kematian, dan memecahkan topik-topik sulit yang ditimbulkan oleh ungkapan tersebut.
Dalam ayat 11 Paulus melanjutkan, “supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan (yang ekstra) dari antara orang mati.” Pemakaian kata “kebangkitan yang ekstra” oleh Paulus di sini sulit dipahami. Bahkan kata “akhirnya” juga perlu pengkajian yang saksama.
Dalam ayat 12 Paulus berkata, “Bukan seolah-olah aku telah memperoleh hal ini atau telah sempurna, melainkan aku mengejarnya, kalau-kalau aku dapat juga menangkapnya, karena aku pun telah ditangkap oleh Kristus Yesus.” Mengapa Paulus di sini memakai kata “memperoleh”, bukan “mendapatkan”? Apa artinya kalimat “menangkapnya, ka-rena aku pun telah ditangkap oleh Kristus Yesus”? Semua perkataan ini sungguh sulit dipahami.
Dalam ayat 13-14 Paulus melanjutkan berkata, “Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap bahwa aku telah menangkapnya, tetapi inilah yang kulakukan: Aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang ada di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan surgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.” Apakah maksud Paulus mengatakan “menganggap” di sini? Kita juga harus bertanya, bagaimana baru bisa melupakan apa yang telah di belakang? Nampaknya kita hanya dapat melupakan sesuatu bila kita tidak mau melupakannya. Tetapi ketika kita mencoba melupakan sesuatu, kita malah akan lebih mengingatnya. Lalu, bagaimanakah kita memahami perkataan Paulus tentang “melupakan” ini? Dapatkah kita melupakan ciri-ciri nasional kita yang selalu mengikuti kita ke mana kita pergi? Unik pula ungkapan “mengarahkan diri” yang diucapkan Paulus, dan ini juga perlu kita kaji secara saksama. Apakah artinya “mengarahkan diri kepada apa yang di depan”? Kita juga perlu merenungkan “tujuan” dan “hadiah (pahala)” dalam ayat 14; jangan mengira kita telah memahami sepenuhnya kedua hal ini. Kita juga perlu menelaah ungkapan “panggilan surgawi”. Mengapa ia tidak mengatakan panggilan dari atas atau panggilan dari surga? Mengapa ia mengatakan panggilan surgawi dari Allah itu berada di dalam Kristus Yesus? Mengapa ia tidak mengatakan di dalam Yesus Kristus? Dengan kata lain, mengapa ia meletakkan gelar Kristus sebelum nama Yesus? Tentunya urutan yang demikian ini mengandung maksud dan arti yang penting. Lagi pula, mengapa Paulus tidak mengatakan panggilan yang tinggi “oleh” Allah, tetapi “dari” Allah? Boleh jadi ada orang mengatakan bahwa hal ini hanya masalah penggunaan ungkapan. Tetapi pendapat demikian tidak bisa memecahkan persoalannya. Dalam bahasa Yunani, Paulus bisa menggunakan keduanya itu. Pasti ada suatu alasan, sehingga ia di sini mengatakan “dari” Allah, bukan “oleh” Allah. Jika kita mengajukan pertanyaan-pertanyaan semacam ini ketika membaca Alkitab, kita akan belajar tidak menganggap semuanya itu memang semestinya demikian. Ketika kita membaca firman, kita tak dapat tidak menyadari betapa sedikitnya pengertian kita terhadap hal ini.
Ayat 15 melanjutkan, “Karena itu, marilah kita, yang sempurna, berpikir demikian. Dan jikalau lain pikiranmu tentang salah satu hal, hal itu akan dinyatakan Allah juga kepadamu.” Mengapa Paulus memakai istilah “sempurna” (matang, dewasa Tl.)?
Istilah ini mengandung arti hayat, sebab setiap benda yang bertumbuh dan dewasa pasti hidup dan berhayat. Walaupun boleh jadi kita mempunyai sedikit pengertian tentang ungkapan “matang” atau “dewasa”, namun istilah ini tetap sangat sulit dipahami.
Apakah artinya ungkapan “berpikir demikian” dan “lain pikiranmu” dalam ayat 15? Perkataan yang sederhana ini menyatakan konsepsi yang sangat penting.
Terakhir, dalam ayat 16 Paulus berkata, “Tetapi ting-kat mana yang telah kita capai, baiklah kita berjalan menurut aturan yang sama” (Tl.). Apakah artinya “tetapi” dan “tingkat mana yang telah kita capai”? Dalam ayat ini hampir setiap frase menyulitkan kita.
Alkitab adalah firman Allah, nafas ilahi, hembusan Allah sendiri. Karena itu kita tidak boleh membacanya dengan cara seperti kita membaca surat kabar atau majalah. Sebaliknya, kita tidak boleh menganggap segalanya memang semestinya demikian, tetapi lewat mengajukan pertanyaan, kita mencari dengan saksama makna dan arti setiap kata, frase, dan kalimat Alkitab tersebut. Jika kita menaruh perhatian pada semua topik sulit dalam 3:7-16, kita akan memperoleh lebih banyak kekayaan rohani.
DUA MACAM PENANGGULANGAN
Dalam dua pasal pertama Surat Filipi kita nampak persekutuan, lalu lintas rohani antara rasul dengan kaum beriman. Seperti telah kita tunjukkan, pasal 3 membahas dua macam penanggulangan — penanggulangan jiwa dan penanggulangan tubuh. Menurut Filipi 3, cara menanggulangi jiwa yang tepat adalah menganggap semua hal agamis, filosofis, dan budaya sebagai rugi, bahkan sampah. Kita mungkin tidak menyadari bahwa hal-hal sedemikian itu telah tergarap ke dalam jiwa kita. Jiwa kita tidak saja dipenuhi oleh hal-hal itu, bahkan telah tersusun oleh hal-hal itu. Hal-hal itu mungkin berguna untuk masyarakat, tetapi dapat merusak kehidupan kristiani kita. Hal-hal itu ibarat batu karang yang menduduki tempat dalam diri kita yang menjadi milik Kristus. Meskipun Anda telah menerima Kristus, Anda mungkin mengurung Dia di dalam roh Anda, dan tidak membiarkan Dia berkembang ke dalam jiwa Anda. Di dalam jiwa Anda mungkin tidak ada tempat untuk Kristus. Jiwa Anda mungkin telah dipenuhi oleh hal-hal agama, filsafat, dan budaya, teristimewa oleh ciri-ciri nasional Anda. Baik di Timur maupun di Barat, saya telah nampak setiap orang beriman telah tersusun oleh hal-hal itu dalam jiwa mereka. Namun Paulus telah tertolong melalui menganggap hal-hal itu sampah. Dia tidak lagi memustikakan apa pun milik agama, filsafat, dan budaya. Untuk mendapatkan Kristus, ia mutlak menganggap halhal lainnya sebagai sampah.
Seperti telah kita tunjukkan dalam pasal 3, Paulus tidak saja menanggulangi jiwa, juga menanggulangi tubuh. Dia menunjukkan bahwa kaum beriman tidak seharusnya menikmati benda-benda materi secara berlebihan.
KATA KESIMPULAN
Setelah menulis pasal 3, beban Paulus telah terlepas. Karena itu, pasal 4 merupakan suatu kesimpulan. Dalam kesimpulan ini, Paulus tidak menampilkan butir-butir utama tambahan apa pun. Isi pasal 4 berkaitan dengan apa yang telah ia tulis sebelumnya dan merupakan satu penegasan dari butir-butir ini. Tambahan pula, butir-butir dalam pasal 4 berfungsi sebagai suatu pesan kepada kaum beriman.
Filipi 4:1 mengatakan, “Karena itu, Saudara-saudara yang kukasihi dan kurindukan, sukacitaku dan mahkotaku, berdirilah juga dengan teguh dalam Tuhan, hai Saudara-saudaraku yang terkasih!” Perkataan “karena itu” menunjukkan bahwa apa yang akan dikatakan Paulus adalah suatu kesimpulan.
Di sini Paulus mengatakan saudara-saudara sebagai “yang kukasihi dan kurindukan”, “sukacitaku dan mahkotaku”. Kata-kata ini menunjukkan bahwa Paulus penuh dengan emosi, penuh dengan perasaan. Dia memakai kata “kukasihi” dan “terkasih”. Setelah menyatakan kaum beriman sebagai orang-orang yang ia kasihi, diulanginya bahwa mereka adalah yang terkasih. Kaum beriman adalah sukacitanya yang di dalam, juga mahkotanya yang di luar. Sukacita ada di dalam, mahkota ternyata di luaran. Dalam ayat ini Paulus mengatakan bahwa kaum beriman adalah kegembiraan batini dan kemuliaan luaran dari rasul.
Dalam 4:1 Paulus berpesan kepada kaum beriman untuk berdiri teguh dalam Tuhan. Ungkapan “berdirilah” di sini berarti berdiri dengan cara yang khusus, yaitu dengan cara yang dikemukakan dalam pasal-pasal sebelumnya. Da-lam ayat ini Paulus menasihati kaum beriman Filipi untuk berdiri menurut cara yang telah ditunjukkan kepada mereka.
MEMIKIRKAN HAL YANG SAMA
Dalam ayat 2 Paulus menyambung, “Euodia kunasihati dan Sintikhe kunasihati, supaya sehati sepikir (memikirkan hal yang sama) dalam Tuhan.” Ayat ini menunjukkan bahwa kedua saudari itu saling berbeda pendapat, mereka tidak sepikir. Karena itu, dalam kitab ini ada nasihat untuk berjuang bersama-sama dengan satu jiwa bersama Injil yang dipersonifikasi (1:27), bersatu dalam jiwa, memikirkan hal yang sama (2:2), dan dengan sepikir menuntut Kristus (3:14-15).
Menurut ayat 3, kedua saudari tersebut sangat baik, mereka pernah membantu Paulus. Paulus berkata tentang mereka bahwa mereka “telah berjuang dengan aku dalam pekabaran Injil, bersama-sama dengan Klemens dan kawan-kawan sekerjaku yang lain, yang nama-namanya tercantum dalam kitab kehidupan.” Kata “berjuang” dalam bahasa aslinya adalah istilah atletik, artinya berjerih payah bersama, bergumul bersama, bergulat bersama, seperti satu tim atlet. Kedua saudari ini pernah membantu Paulus dan kawan-kawan sekerja lainnya, dan berjuang bersama mereka dalam Injil. Akan tetapi, bahkan saudari-saudari ini pun perlu dibantu untuk memikirkan hal yang sama di dalam Tuhan, sehingga dapat menjadi satu. Menurut pasal-pasal terdahulu, memikirkan hal yang sama berkaitan dengan mengejar atau menuntut Kristus untuk mendapatkan Dia dan menikmati Dia dengan sepenuhnya. Euodia dan Sintikhe tidak menuntut Kristus dengan sepenuhnya. Siapa yang tergoda hingga berselisih harus memperhatikan perkataan Paulus kepada kedua saudari ini, yakni harus memikirkan perkara yang sama.
BENAR-BENAR BERSAMA MEMIKUL SATU KUK
Dalam 4:3 Paulus menggunakan istilah “bersama me-mikul satu kuk” (Tl.). Pada zaman dulu petani-petani memakai dua ekor lembu untuk menarik satu bajak. Jadi bersama memikul satu kuk berarti memikul kuk dengan orang lain, bersama memikul beban. Dalam menulis surat kepada orang-orang Filipi, Paulus mencari seorang yang benar-benar bersama memikul satu kuk, seorang yang mau memikul beban yang sama seperti dia, yang berada di bawah kuk yang sama. Jika kita tidak menuntut Kristus sepenuhnya, kita belum lagi mengenakan kuk. Sebaliknya, kita tetap masih sangat bebas dalam pikiran kita. Bila kita benar-benar telah memikul kuk, kita akan memikirkan hal yang sama seperti Paulus. Orang-orang yang belum memikul kuk bersama Paulus tidak dapat membantunya menolong Euodia dan Sintikhe. Paulus berbeban menolong kedua saudari tersebut untuk memikirkan hal yang sama — mengejar atau menuntut Kristus, agar mereka dapat mendapatkan dan mengalami Dia. Namun karena Paulus ketika itu berada dalam penjara di Roma, jauh dari Filipi, maka ia memerlukan seseorang di Filipi untuk memikul kuk bersama dia, menanggung beban tersebut. Paulus berharap supaya di tengah-tengah kaum saleh di Filipi setidak-tidaknya ada seorang yang seperti dia dalam mengejar Kristus. Karena Paulus telah memikul kuk, maka ia tidak mempunyai kemerdekaan dalam pikiran atau konsepsinya. Pikirannya telah memikul kuk untuk memikirkan satu hal saja.
Berapa pun harganya dan bagaimanapun, Paulus bertekad mengejar Kristus sekuatnya. Inilah pikiran Paulus. Karena itu mentalnya telah semutlaknya dikenakan kuk oleh Kristus. Di luar atau selain Kristus, ia tidak leluasa untuk memikirkan apa pun. Pikirannya telah dikenakan kuk sepenuhnya oleh Kristus, memikul kuk di dalam Kristus, dan dengan Kristus sebagai kuk. Ketika ia menyurati orang-orang Filipi, ia mencari setidak-tidaknya satu orang kudus yang dapat bekerja sama dengan dia untuk menolong kedua saudari yang berselisih itu, supaya mereka memikirkan hal yang sama. Ini adalah perkataan yang sangat riil untuk menyimpulkan Surat Kiriman ini.
Ketika membicarakan “benar-benar bersama memikul satu kuk”, Paulus seolah-olah berkata, “Aku telah menulis Surat Kiriman ini kepada kalian, tetapi aku tidak yakin kalau suratku ini dapat melaksanakan urusannya dengan baik. Aku memerlukan seseorang di antara kalian yang benar-benar memikul satu kuk denganku, dan sepikir dalam menuntut Kristus. Orang yang demikianlah yang dapat menolong kedua saudari tersebut untuk memikirkan hal yang sama. Siapa saja yang ingin menolong mereka, pertama-tama harus memikul satu kuk dan berpikiran sama seperti aku.” “Berpikir demikian” dan “memikirkan hal yang sama” berarti benar-benar bersama memikul satu kuk.
Hari ini kita pun membutuhkan seorang yang benarbenar bersama memikul satu kuk. Ministri Tuhan dibenci dan ditolak oleh banyak orang. Anda mungkin menerima ministri ini, bahkan mencintainya. Tetapi mencintainya adalah satu hal, memikul kuk di bawah pemikiran untuk mengejar Kristus adalah hal lain. Kita perlu “berpikiran demikian” untuk memikul kuk.
Ketika merenungkan perkataan Paulus tentang benar-benar bersama memikul satu kuk, hal ini seharusnya meng-ingatkan kita untuk tidak membaca Alkitab dengan cara yang dangkal, dan tidak menganggapnya memang semesti-nya demikian. Ungkapan Paulus “benar-benar bersama memikul satu kuk” tampaknya tidak begitu berarti, tetapi sebetulnya luar biasa pentingya, sebab ia berkaitan dengan pesan Paulus kepada kaum beriman Filipi untuk mempunyai pikiran demikian, memikirkan hal yang sama, bahkan memikirkan satu hal. Setelah menyampaikan pesan demikian, ia lalu menyebut kedua saudari yang saling berselisih itu. Kemudian, ia menasihati agar ada orang yang berjerih payah bersamanya, benar-benar bersama memikul satu kuk, guna menolong Euodia dan Sintikhe untuk memikirkan hal yang sama, meninggalkan perselisihan mereka dan mengarahkan pikiran mereka pada usaha mengejar Kristus.
PENTINGNYA BERSUKACITA DI DALAM TUHAN
Dalam 4:4 Paulus berkata, “Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!” Entah kaum beriman berselisih atau tidak, mereka semua harus bersukacita. Orang-orang yang tidak mau bersukacita itu keliru, dan orang-orang yang mau bersukacita itu benar. Namun, saya tidak percaya bahwa orang-orang yang saling berselisih dapat sering bersukacita. Menurut perkataan Paulus di sini, kita harus bersukacita senantiasa di dalam Tuhan. Sukacita memberi kita kekuatan untuk keesaan yang disebutkan dalam ayat 2 dan 3. Kalau Euodia dan Sintikhe ingin memikirkan hal yang sama, mereka perlu belajar bersukacita. Bersukacita dalam Tuhan adalah rahasia memiliki kebajikan yang unggul yang disebutkan dalam ayat 5-9. Jika kita ingin memiliki kebajikan yang tercantum dalam ayat-ayat ini, kita perlu bersukacita di dalam Tuhan. Bersukacita dalam Tuhan adalah satu perkara yang sangat penting.