← Daftar isi Filipi (1) · bab 3/20

MENANTIKAN KRISTUS MENTRANSFIGURASI TUBUH KITA

Pembacaan Alkitab: Flp. 3:17-21

Untuk memiliki pengertian yang memadai terhadap Filipi 3:17-21, kita perlu mengetahui pemikiran dasar Paulus dalam ayat-ayat ini. Ini membutuhkan pengalaman dan daya pemahaman yang mendalam.

PEMIKIRAN DASAR PAULUS

Dalam pasal 1 dan 2 Paulus berkeinginan memiliki komunikasi, persekutuan dengan kaum beriman Filipi, agar ia dapat membagi-bagikan pengalamannya akan Kristus, supaya mereka dapat terdorong untuk berbagian sepenuhnya dalam kenikmatannya akan Kristus. Pada permulaan pasal 3, Paulus mengubah penekanannya. Walau kita sulit sekali meraba pemikiran Paulus dalam pasal 3, beban saya dalam berita ini ialah membahas pemikiran dasar Paulus dalam Filipi 3.

Jika kita membaca pasal ini dengan saksama, kita akan nampak bahwa Paulus mengetengahkan kedua kelompok manusia yang menimbulkan pengaruh kuat di daerah Laut Tengah. Kelompok pertama ialah penganut agama Yahudi yang fanatik bagi agama tradisional mereka. Dalam ayat 2 Paulus melukiskan mereka seperti anjing-anjing, pekerja-pekerja yang jahat, dan penyunat-penyunat palsu. Kelompok kedua terdiri atas orang-orang yang berpegang pada filsafat Epikuros (Kis. 17:18). Mereka mempromosikan kegemaran makan dan minum, serta memuaskan diri dengan hal-hal lainnya. Semuanya itu berlawanan dengan salib Kristus (ayat 18-19). Dari ayat 2 kita nampak perusakan yang ditimbulkan oleh para penganut agama Yahudi terhadap kaum beriman Filipi. Dari ayat 18 kita nampak bahwa orang-orang yang hidupnya menurut filsafat Epikuros juga merusak mereka. Yang disebut terdahulu berasal dari orang Yahudi, sedang yang di belakang bersumber pada orang kafir. Pemikiran Paulus yang terkandung dalam pasal ini berkaitan dengan kedua kelompok manusia tersebut. Kita akan nampak, ketika berbicara mengenai para penganut agama Yahudi, Paulus menanggulangi jiwa, terutama pikiran; tetapi ketika berbicara mengenai golongan Epikuros, ia menanggulangi tubuh.

Para penganut agama Yahudi tidak mempromosikan kenikmatan akan hal materi. Sebaliknya, mereka mempromosikan filsafat agama khas mereka dengan gairah sekali. Baik agama maupun filsafat melibatkan pikiran. Para agamawan dan para filsuf sebagian besar tidak diduduki oleh hal-hal materi. Mereka tidak mau melampiaskan kegemaran atau hawa nafsu mereka dalam hal-hal seperti makan dan minum. Sebaliknya, mereka malah mengekang diri dalam hal-hal itu. Seperti pernah kita tunjukkan, hal-hal yang disinggung Paulus dalam ayat 3-7 bukan hal-hal materi, melainkan hal-hal yang berkaitan dengan agama, filsafat, dan budaya, yang erat kaitannya dengan pikiran kita.

Kaum beriman di Filipi telah beroleh selamat dan dilahirkan kembali di dalam roh, tetapi mereka masih perlu memperhatikan jiwa dan tubuh mereka secara wajar. Ketika Paulus menulis pasal 3, dalam lubuk batinnya tersirat suatu keinginan, yaitu ingin mengajar kaum beriman Filipi bagaimana menanggulangi jiwa dan tubuh. Karena itu, pertama-tama ia menyinggung tentang para penganut agama Yahudi, untuk mengajar orang Filipi dalam menanggulangi jiwa. Kemudian ia menyinggung pengikut ajaran Epikuros, untuk mengajar kaum beriman menanggulangi tubuh.

TRANSFORMASI DAN PEMBARUAN PIKIRAN

Jika kita ingin menanggulangi jiwa, kita harus meng-anggap segala hal dari agama, filsafat, dan budaya sebagai sampah. Unsur utama dari agama, filsafat, dan budaya adalah hal-hal yang sangat menarik orang-orang pemikir. Hal ini menunjukkan bahwa agama, filsafat, dan budaya erat sekali hubungannya dengan jiwa dan dunia kejiwaan (psikologis).

Dulu kita sering membicarakan tentang transformasi (pengubahan). Kita bahkan mempunyai sebuah kidung yang berjudul transformasi (Kidung No. 546). Akan tetapi, mungkin masih banyak orang yang tidak mengetahui bahwa transformasi mencakup pembaruan pikiran. Menurut Roma 12:2, pembaruan pikiran adalah aspek utama dari transformasi. Transformasi jiwa kita sebagian besar tergantung pada pembaruan pikiran kita. Jika pikiran kita tidak diperbarui, jiwa kita akan tetap tidak berubah.

Pembaruan pikiran berarti perubahan dalam cara kita berpikir. Pikiran kebanyakan orang beriman masih tetap diduduki oleh hal-hal agama, filsafat, dan budaya, yaitu hal-hal yang disebut oleh Paulus dalam 3:7-8. Hal-hal ini berkaitan dengan dunia psikologis, dunia jiwa. Banyak pula yang dikuasai oleh cara berpikir yang alamiah. Kaum saleh yang demikian itu mungkin baik sekali, tetapi jiwa mereka hari ini tetap sama dengan jiwa yang mereka miliki beberapa tahun yang lampau. Penyebab utama dari kurangnya transformasi kita ini ialah adanya sebuah batu besar, yakni ciri-ciri nasional yang menduduki jiwa kita, dan yang mengambil alih kedudukan Kristus. Dalam kasus setiap orang di antara kita, ciri-ciri nasional menduduki jiwa kita. Jiwa kita telah diambil alih oleh batu ini.

PERLUNYA PEMBEDAHAN ATAS JIWA KITA

Kita boleh juga mengibaratkan ciri-ciri nasional yang menduduki jiwa kita itu sebagai tumor yang bertumbuh sedemikian rupa dalam lambung seseorang sehingga tidak ada ruang untuk benda lain. Ada semacam tumor bertumbuh dalam lambung psikologis kita dan nyaris menduduki seluruh ruang yang seharusnya kita sisihkan untuk Kristus. Karena alasan ini manusia batiniah kita tidak mampu menampung banyak makanan rohani dan tidak dapat berfungsi dengan normal. Kaum beriman dari setiap negara, bahkan dari berbagai daerah di negara tertentu, memiliki sebuah tumor ciri-ciri mereka masing-masing. Tumor itu terutama bertumbuh dalam pikiran alamiah kita. Ia bertumbuh sedemikian rupa sehingga menjadi bagian dari penyusun diri kita.

Dari pengalaman saya bertahun-tahun ini saya dapat bersaksi bahwa setiap orang beriman tanpa kecuali pasti memiliki sebuah tumor yang demikian di dalam lambung psikologis mereka. Satu-satunya perbedaan di antara kita ialah ukuran tumor itu. Hanya Ahli Bedah yang tercakap — Tuhan Yesus itu sendiri — yang mampu melenyapkan tumor yang tersembunyi di dalam batin kita.

Dalam Filipi 3:1-16 Paulus menanggulangi tumor ini, ia mengoperasi jiwa kita, terutama pikiran kita. Ketika ia masih sebagai Saulus dari Tarsus, Paulus memiliki sebuah tumor besar dalam jiwanya. Tumor itu mempengaruhi pikirannya terhadap agama Yahudi, hukum Taurat, sunat, dan tradisi orang Yahudi. Tetapi pada suatu hari Tuhan Yesus, Sang ahli bedah agung, mengoperasi Paulus, dan tumor besarnya itu telah diambil dari pikirannya. Tetapi kebanyakan di antara kita masih belum menjalani operasi demikian. Tumor itu masih tetap bercokol dalam jiwa kita.

Selama beberapa tahun ini batin saya selalu diganggu oleh satu pertanyaan, dan selalu tidak dapat menemukan jawabannya. Mengapa ada sekelompok orang Kristen yang benar-benar mengasihi Tuhan dan menuntut-Nya dengan tulus dari tahun ke tahun, namun mereka tidak bertumbuh dalam hayat? Sekalipun mereka membaca Alkitab dengan setia dan tekun, mereka tidak nampak wahyu apa pun. Sekarang saya setidak-tidaknya telah mendapat sebagian jawabannya. Kekurangan pertumbuhan hayat mereka dan kekurangan wahyu dalam membaca firman disebabkan adanya tumor dalam lambung psikologis mereka. Menyadari kegawatan hal ini, saya berbeban untuk berulang-ulang menitikberatkan bahwa dalam Filipi 3:7-8 Paulus tidak menyinggung hal-hal materi, melainkan agama, filsafat, dan budaya, teristimewa pikiran-pikiran, konsepsi-konsepsi, dan ide-ide yang menduduki jiwa kita. Karena hal-hal yang sedemikian ini bertumbuh di batin kita seperti sebuah tumor, maka kita perlu sekali dibedah. Kita perlu dengan tuntas menanggulangi jiwa kita, terutama pikiran kita.

Dalam Filipi 3:15 Paulus berkata, “Karena itu, marilah kita, yang sempurna, berpikir demikian.” Jika kita ingin berpikir demikian, haruslah kita memiliki pikiran yang tanpa tumor, pikiran yang dipenuhi oleh Kristus, dan diduduki oleh perihal menuntut, mendapatkan, dan menikmati Kristus. Untuk memiliki pikiran yang demikian, kita perlu dioperasi oleh Tuhan untuk mengangkat tumor psikologis kita itu. O, semoga Tuhan memperlihatkan kepada kita betapa kita memerlukan pikiran yang demikian!

TUBUH JASMANI DAN KENIKMATANNYA

Setelah menanggulangi jiwa dalam 3:1-16, Paulus selanjutnya menanggulangi tubuh dalam 3:17-21. Kelima ayat ini menanggulangi kenikmatan jasmani, terutama seperti yang dipraktekkan oleh golongan Epikuros. Selaku penuntut-penuntut Kristus sejati, kita perlu dioperasi untuk me-lenyapkan pikiran-pikiran kita yang agamis dan filosofis, kita pun perlu menanggulangi tubuh jasmani kita dengan tepat. Dalam ayat 19 Paulus berkata, “Tuhan mereka ialah perut mereka”; tetapi dalam ayat 20-21 ia berkata bahwa kita menantikan Tuhan Yesus Kristus “yang akan meng-ubah tubuh kita yang hina ini, sehingga serupa dengan tubuh-Nya yang mulia.” Dalam ayat-ayat ini Paulus menanggulangi tubuh jasmani serta kenikmatannya. Janganlah kita mengira Paulus hanya menanggulangi jiwa dan membiarkan tubuh bebas menghamburkan keinginannya dalam hawa nafsunya. Dalam menanggulangi jiwa, Paulus tidak menyinggung hal-hal jasmani, tetapi dalam menanggulangi tubuh, ia benar-benar menyinggung hal-hal tersebut.

Saya ingin menunjukkan sekali lagi, setelah bersekutu dengan kaum beriman dalam pasal 1 dan 2, Paulus mengajar mereka dalam pasal 3 mengenai menanggulangi jiwa dan tubuh. Untuk menanggulangi jiwa, mereka harus menganggap semua hal yang agamis, filosofis, dan budaya itu sebagai sampah, dan tidak memustikakan semua itu. Tidak ada sesuatu yang agamis yang patut dimustikakan. Tidak ada sesuatu yang filosofis yang dapat dibandingkan dengan Kristus, dan tidak ada unsur budaya yang patut dibiarkan menjadi pengganti Kristus. Kita harus mengecam semua hal yang agamis, filosofis, dan budaya, dan menganggapnya sampah untuk mendapatkan Kristus dalam jiwa kita dan dipenuhi oleh Dia dalam jiwa kita, terutama dalam pikiran kita. Inilah jalan untuk menanggulangi jiwa kita.

Beralih kepada hal kenikmatan jasmani, Paulus berkata dalam ayat 17, “Saudara-saudara, ikutilah teladanku dan perhatikanlah mereka, yang hidup sama seperti kami yang menjadi teladan bagimu.” Teladan di sini tidak ditujukan kepada apa yang telah Paulus ungkapkan pada beberapa ayat sebelumnya, melainkan kepada teladan yang didirikan oleh orang-orang yang menanggulangi tubuh jasmani dengan tepat. Bagaimana kita mengetahui bahwa ayat 17 tidak ditujukan kepada hal-hal jiwa, tetapi kepada hal-hal tubuh? Kita mengetahuinya melalui kenyataan diawalinya ayat 18 dengan kata “karena”, ini menunjukkan bahwa ayat tersebut merupakan penjelasan dari ayat 17. Ayat 18 mengatakan, “Karena, seperti yang telah kerap kali kukatakan kepadamu, dan yang kunyatakan pula sekarang sambil menangis, banyak orang yang hidup sebagai seteru salib Kristus.” Mereka adalah seteru-seteru salib Kristus, yakni salib Kristus yang telah mengakhiri pelampiasan nafsu tubuh jasmani (Gal. 5:24).

Seperti telah kita tunjukkan, golongan Epikuros mem-perhatikan pelampiasan hawa nafsu dalam kenikmatan makan dan minum. Paulus menyinggung hal ini dalam ayat 19, yang mengatakan, “Kesudahan mereka ialah kebinasaan, Tuhan mereka ialah perut mereka, kemuliaan mereka ialah aib mereka, pikiran mereka semata-mata tertuju kepada perkara duniawi.” Orang-orang Epikuros adalah orang-orang yang memuja perut mereka dan melayani lambung mereka. Dalam menawarkan kenikmatan makan dan minum, mereka lebih memperhatikan pemuasan dan kenikmatan jasmani daripada etika atau moralitas. Perut mereka menjadi allah mereka. Hari ini tidak sedikit orang yang mengambil jalan golongan Epikuros, yakni melampiaskan hawa nafsu dalam kenikmatan jasmani. Pada akhir pekan banyak yang melakukan olah raga dan kesenangan-kesenangan jasmani, sehingga melupakan hal-hal lainnya. Tentang golongan Epikuros ini Paulus pun berkata bahwa “pikiran mereka semata-mata tertuju kepada perkara duniawi.” Perkara duniawi yang dimaksud ialah perkara jasmani, perkara materi, perkara makan dan minum.

Menurut Surat Kolose, Paulus tidak setuju dengan pertapaan yaitu praktek mengekang tubuh dengan kejam. Tetapi ia pun tidak setuju dengan praktek golongan Epikuros yang melampiaskan hawa nafsu dengan kenikmatan jasmani. Kita perlu benda-benda seperti makanan dan pakaian; tanpa itu, kita tidak dapat hidup. Akan tetapi, kita tidak seharusnya melampiaskan keinginan kita dalam hal-hal itu.

Dalam Filipi 4:11 Paulus berkata, “Aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan. . .” Istilah “mencukupkan” dalam bahasa aslinya merupakan istilah yang khusus dipakai oleh orang-orang Stoa (Kis. 17:18) yang mengajarkan bahwa seseorang harus mencukupkan diri dalam segala keadaan. Merasa cukup berlawanan dengan praktek orang Epikuros yang disinggung dalam Filipi 3:18-19. Paulus menggunakan ungkapan ini dalam mempersaksikan betapa ia telah belajar rahasia untuk mencukupkan diri. Pada prinsipnya, kita orang Kristen tidak menyetujui baik golongan Epikuros maupun pertapaan. Ditinjau dari satu aspek, kita mungkin agak menyetujui golongan Stoa.

Ketika Paulus menulis surat kepada orang-orang Filipi, dalam lubuk batinnya ia menyadari bahwa baik para peng-anut agama Yahudi maupun golongan Epikuros, kedua-duanya merupakan perusak hidup gereja. Kaum beriman menghadapi bahaya disesatkan oleh golongan Epikuros ke dalam hal melampiaskan kenikmatan jasmani. Seperti telah kita tunjukkan, Paulus menulis Filipi pasal 3 untuk membantu kaum beriman menanggulangi jiwa dan tubuh. Hari ini kita pun memerlukan kata-kata ajaran sedemikian. Mengenai jiwa, kita tidak boleh berpegang pada hal-hal yang agamis, filosofis, dan budaya. Sebaliknya, kita harus bersedia menumpas tumor ciri-ciri nasional kita. Semoga kita mengizinkan ahli bedah surgawi mengoperasi jiwa kita, dan membuang tumor apa pun. Penanggulangan atas jiwa kita sedemikian adalah hal yang sangat penting. Mengenai tubuh kita, kita perlu makan dengan tepat dan terpelihara dengan baik supaya kita panjang umur untuk mengekspresikan Tuhan. Akan tetapi, kita harus menghindari pelampiasan hawa nafsu atau kenikmatan yang berlebihan atas hal-hal jasmani. Kita tidak boleh mempraktekkan ajaran golongan Epikuros. Kita perlu pakaian, rumah, dan kenda-raan, tetapi janganlah kita melampiaskan hawa nafsu dalam hal-hal tersebut. Pada satu aspek kita harus menolak para penganut agama Yahudi, pada aspek lain kita harus pula menghindari golongan Epikuros. Dalam hal-hal ini kita wajib mengikuti Paulus, dan meneladani dia serta orang-orang yang hidup dan berperilaku seperti dia.

KEWARGAAN DALAM SURGA

Dalam ayat 20 Paulus berkata, “Karena kewargaan kita terdapat di dalam surga dan dari situ juga kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat.” Istilah “kewargaan” dapat juga diterjemahkan “negara”, dalam bahasa asli-nya mengacu kepada persemakmuran, suatu asosiasi kehidupan. Kehidupan negara kita bukan berada dalam negara manapun di bumi, melainkan di dalam surga. Kewargaan kita yang sejati, persemakmuran kita yang sebenarnya berada di surga. Kadang kala ketika saya bepergian ada orang bertanya kepada saya dari mana saya datang. Walau saya mengatakan saya berasal dari China, saya lebih senang berkata bahwa saya berasal dari surga, dan kewargaan saya adalah di surga.

Karena kewargaan kita ada di surga, maka kita tidak seharusnya diduduki oleh hal-hal duniawi atau hal-hal materi bagi eksistensi kita. Kita jangan menilai hal-hal materi terlampau tinggi. Ini tentu tidak berarti bahwa kita tidak boleh memperhatikan makanan, pakaian, perumahan, dan transportasi kita yang pantas. Kita benar-benar memerlukan hal-hal tersebut, tetapi apa pun yang melampaui kebutuhan, termasuk dalam kategori menuruti hawa nafsu. Pelampiasan hawa nafsu yang sedemikian ini harus dihakimi. Jika kita mencintai hal-hal duniawi yang diperlukan bagi kehidupan manusia, itu berarti kita tidak memustikakan kewargaan surgawi kita. Semoga kita semua ingat bahwa kewargaan kita ada di dalam surga dan kita adalah umat surgawi yang menumpang tinggal di bumi. Jika kita mempunyai makanan, pakaian, rumah, dan kendaraan untuk mempertahankan hidup kita, kita sudah harus merasa puas. Janganlah melampiaskan keinginan diri kita di dalam hal-hal duniawi atau materi yang mana pun.

TRANSFIGURASI TUBUH

Dari surga kita menantikan seorang Juruselamat, yaitu Tuhan Yesus Kristus, yang “akan mengubah tubuh kita yang hina ini, sehingga serupa dengan tubuh-Nya yang mulia, menurut kuasa-Nya yang dapat menaklukkan segala sesuatu kepada diri-Nya.” Transfigurasi (pengubahan bentuk) tubuh kita adalah perampungan akhir dari keselamatan Allah. Dalam keselamatan-Nya, Allah pertama-tama melahirkan kembali roh kita (Yoh. 3:6), dan sekarang Ia sedang mengubah (mentransformasi) jiwa kita (Roma 12:2), dan terakhir, Ia akan mentransfigurasi tubuh kita, membuat kita sama dengan Kristus dalam ketiga bagian diri kita.

Dalam ayat 21 Paulus mengatakan bahwa tubuh kita adalah “tubuh yang hina”. Ini melukiskan tubuh alamiah kita yang terbuat dari debu yang tidak berharga (Kej. 2:7) dan dirusak oleh dosa, kelemahan, penyakit, dan kematian (Rm. 6:6; 7:24; 8:11). Tetapi pada suatu hari tubuh ini akan ditransfigurasi dan diserupakan dengan tubuh Kristus yang mulia. Tubuh Kristus yang mulia adalah tubuh kebangkitan-Nya yang dijenuhi oleh kemuliaan Allah (Luk. 24:26) dan melampaui perusakan dan kematian (Rm. 6:9).

Tidak peduli bagaimana kita merawat dan mengenakan pakaian pada tubuh kita, atau menumpang mobil jenis apa untuk transportasi kita, ataupun mendiami tempat tinggal yang bagaimana, tubuh kita tetap adalah tubuh yang hina. Anda boleh mengistirahatkan tubuh Anda di atas ranjang yang terindah dan termahal, tubuh Anda tetaplah hina. Akan tetapi, kita tidak boleh membenci atau menyepelekan tubuh kita. Jika kita menyepelekan tubuh kita, kita akan melakukan ajaran pertapaan. Pada hakikatnya, kita harus mengasihi tubuh kita karena Tuhan. Kita harus memperhatikan tubuh, tidak membiarkannya menuruti hawa nafsunya sendiri. Pada suatu hari, Tuhan Yesus akan datang dan akan mentransfigurasi tubuh yang hina ini dan menyerupakannya dengan tubuh-Nya yang mulia.

Dalam ayat 21 Paulus berkata bahwa transfigurasi tu-buh yang hina ini adalah “menurut kuasa-Nya yang dapat menaklukkan segala sesuatu kepada diri-Nya.” Transfigurasi tubuh kita tergenap dengan kuasa besar Tuhan yang menaklukkan segala sesuatu kepada diri-Nya (Ef. 1:19-22). Ini adalah kuasa yang luar biasa dalam alam semesta.

Saya percaya bahwa kita sekarang dapat memahami pemikiran yang mendasar dari Paulus dalam Filipi 3. Dalam pasal ini Paulus mengajar kita baik tentang bagai-mana menanggulangi jiwa dan bagaimana menanggulangi tubuh. Untuk menanggulangi jiwa, kita harus menganggap rugi semua hal yang agamis, filosofis, dan budaya, supaya Kristus dapat menduduki seluruh diri kita, dan supaya kita bisa mendapatkan Dia sepenuhnya. Untuk menanggulangi tubuh, kita harus memperhatikan kebutuhan tubuh, namun jangan melampiaskan nafsu atas kenikmatan jasmani yang berlebihan. Sasaran kita seharusnya adalah memperhatikan tubuh secara tepat, agar tubuh dapat menjadi sehat untuk mengekspresikan Tuhan. Tetapi tujuan kita tidak untuk memuliakan tubuh jasmani kita melalui menikmati hal-hal jasmani secara berlebihan. Tubuh kita bukan untuk dipermuliakan secara demikian, melainkan dipermuliakan pada waktu kembalinya Tuhan kelak. Pada waktu itu, Ia akan mentransfigurasi tubuh kita yang hina ini. Jadi, sekarang kita menantikan kembalinya Kristus, supaya kita dapat dibawa masuk ke dalam kesempurnaan terakhir dari keselamatan Allah — mentransfigurasi tubuh kita.

Sementara kita menantikan kembalinya Tuhan, kita wajib memperhatikan kebutuhan jasmaniah kita, tanpa melampiaskan hawa nafsu dalam hal-hal materi. Pada saat yang sama, kita harus menanggulangi jiwa kita, menganggap rugi semua hal agamis, filosofis, dan budaya, agar jiwa kita dapat ditransfigurasi sepenuhnya. Dari hari ke hari, kita mengalami proses transformasi ini dalam jiwa kita sambil menantikan kembalinya Tuhan untuk mentransfigurasi tubuh kita, dan memasukkan kita ke dalam kesempurnaan terakhir dari keselamatan Allah.