← Daftar isi Filipi (1) · bab 18/20

BERBAGIAN DALAM SUPLAI YANG LIMPAH LENGKAP DARI ROH ITU DAN MENIKMATI KEKAYAAN KRISTUS MELALUI MENERIMA FIRMAN ALLAH (2)

Pembacaan Alkitab:

Flp. 1:19-21; 2:12-16; Kol. 3:16; Ef. 5:1819; 6:17-18

Kolose 3:16 mengatakan, “Hendaklah perkataan Kristus tinggal dengan limpahnya di antara kamu, sehingga kamu dengan segala hikmat mengajar dan menegur seorang akan yang lain dan sambil menyanyikan mazmur dan puji-pujian dan nyanyian rohani, kamu mengucap syukur kepada Allah di dalam hatimu.” Di sini Paulus berkata bahwa perkataan Kristus harus tinggal di dalam kita, menghuni kita. Hal ini menyiratkan perkataan Kristus itu hidup. Sesuatu yang dapat tinggal dalam kita atau menghuni dalam kita pasti adalah sesuatu yang hidup.

PERSONA YANG HIDUP

Ungkapan Paulus dalam ayat ini menunjukkan bahwa perkataan Kristus mirip dengan satu persona yang hidup. Paulus nyaris mempersonifikasikan perkataan Kristus. Ia menyuruh kita membiarkan perkataan ini tinggal di dalam kita seperti seorang manusia yang hidup. Perkataan Kristus memang sebenarnya adalah persona Kristus yang hidup. Tidak hanya demikian, menurut Perjanjian Baru, persona Kristus yang hidup ialah Roh itu. Yesus adalah nama persona ini, dan Roh itu adalah realitas persona ini. Karena itu, setiap kali kita memanggil nama Tuhan Yesus, yang datang adalah Roh itu. Kita juga telah menunjukkan bahwa firman dengan Roh adalah satu. Jadi, ketika perkataan Kristus tinggal di dalam kita, Roh itu pun berhuni di dalam kita.

DENGAN SEGALA HIKMAT

Dalam Kolose 3:16 Paulus menyuruh kita membiarkan perkataan Kristus tinggal dengan limpahnya di dalam kita “dengan segala hikmat”. Pernahkah Anda memikirkan apa artinya perkataan Kristus tinggal di dalam Anda dengan segala hikmat? Jika kita ingin mengerti makna ungkapan ini, kita harus membedakan arti hikmat dengan pengetahuan. Pengetahuan terutama berkaitan dengan fungsi pikiran, sedangkan hikmat berkaitan dengan fungsi roh kita. Ini berarti, bila perkataan Kristus ingin tinggal di dalam kita dengan segala hikmat, perlulah kita melatih roh kita. Jika kita menggunakan pikiran kita untuk menghafalkan firman, maka firman akan tinggal dalam kita sebagai pengetahuan. Menghafalkan ayat-ayat Alkitab adalah fungsi pikiran yang berkaitan dengan pengetahuan, bukan fungsi roh yang berkaitan dengan hikmat. Tinggalnya firman di dalam kita dengan segala hikmat ditujukan kepada sedapat mungkin membiarkan firman ini tinggal di dalam kita melalui latihan roh. Hikmat lebih dalam, lebih halus, dan lebih indah daripada pengetahuan. Hikmat berasal dari latihan roh kita.

Perbedaan pengetahuan dengan hikmat dapat diilustrasikan dengan hidup perkawinan. Misalkan istri seorang saudara bersungut-sungut bahkan menyalahkan suaminya. Jika ia membalasnya dengan berbantah-bantah dengan istrinya, berarti ia menggunakan pikiran dengan pengetahuannya. Dalam hal ini, ia tidak memiliki hikmat. Tetapi, andaikata ketika istrinya bersungut-sungut, ia menyeru nama Tuhan Yesus dan berdoa, itulah hikmat. Berbantah-bantahan berkaitan dengan pengetahuan, tetapi berdoa berkaitan dengan hikmat. Doa baca dan berkidung dapat pula berkaitan dengan hikmat. Saudara itu mungkin menunjukkan hikmat melalui melatih rohnya untuk memberikan satu kesaksian yang berguna yang ia dengar akhir-akhir ini dalam sidang. Di sini yang penting ialah: pengetahuan melibatkan latihan pikiran, sedang hikmat melibatkan latihan roh melalui sarana antara lain: berdoa, berdoa-baca, bernyanyi, dan bersaksi.

Ketika Paulus berbicara tentang membiarkan perkataan Kristus tinggal dengan limpahnya di dalam kita dalam Kolose 3:16, ia tidak menyebut pembacaan Alkitab yang merupakan latihan pikiran. Sebaliknya, ia menyebut hikmat yang menyiratkan latihan roh. Hasil latihan roh ialah hikmat, tetapi hasil latihan pikiran ialah pengetahuan.

MENGAJAR DAN MENEGUR

SEORANG AKAN YANG LAIN

Dalam ayat ini Paulus juga membicarakan “mengajar dan menegur seorang akan yang lain sambil menyanyikan mazmur dan puji-pujian dan nyanyian rohani, kamu mengucap syukur kepada Allah di dalam hatimu”. Di sini Paulus tidak mengatakan mengajar dan menegur dengan cara biasa, melainkan mengajar dan menegur dengan mazmur, puji-pujian, dan nyanyian rohani. Lagi pula, Paulus menunjukkan bahwa dengan bernyanyi kita perlu membiarkan perkataan Kristus tinggal dengan limpahnya di dalam kita. Kita juga dapat mengajar dan menegur dengan bernyanyi.

BERNYANYI KEPADA TUHAN

Karena kebanyakan dari kita dilahirkan dalam kekristenan, dibesarkan dalam kekristenan, bahkan tersusun dari kekristenan, maka harus kita akui bahwa kita sedikit banyak masih berada di bawah pengaruh agama Kristen; terutama dalam cara kita bersidang. Dalam Perjanjian Baru tidak ada sebuah ayat yang menunjukkan bahwa ketika bersidang kita harus duduk dengan tenang, dan menunggu seseorang membuka atau memulai sidang itu. Berdasarkan Kitab Mazmur, ketika bani Israel berkumpul untuk berhari raya tiga kali setahun, perhimpunan mereka bukan dimulai dari Bait Suci, melainkan dari kaki Gunung Sion. Ketika mereka mendaki gunung itu, mereka menyanyikan nyanyian ziarah (Mzm. 120—134). Demikian pula, sidang-sidang gereja tidak seharusnya dimulai di balai sidang, tetapi dari rumah masing-masing atau dari perjalanan kita menuju tempat sidang. Sidang harus menjadi suatu pameran dari kehidupan kita sehari-hari, yaitu dari cara hidup kita di rumah, di sekolah, atau di tempat kerja. Sidang kita harus penuh dengan nyanyian dan puji-pujian, karena kita berkidung dan memuji Tuhan setiap hari. Saya sangat menaruh apresiasi atas koor sebuah kidung: ‘nilah b’ritaku dan kidungku, pujilah pada Jurus’lamat (sepanjang hari)’ (Kidung No. 265). Namun, di manakah Anda dapat menemukan seorang Kristen yang memuji Tuhan sepanjang hari? Kebanyakan orang Kristen yang menyanyikan kidung ini tidak memuji Juruselamat mereka dalam kehidupan mereka sehari-hari. Tetapi dalam kehidupan kita sehari-hari seharusnya dipenuhi dengan nyanyian kepada Tuhan.

Banyak di antara kita yang telah bertahun-tahun membaca Alkitab tanpa mengetahui bahwa kita dapat menerima firman Allah melalui bernyanyi. Apakah Anda mempraktekkan menerima satu ayat Alkitab tidak saja melalui membacanya, tetapi juga melalui menyanyikannya? Orang Kristen selalu diajarkan untuk mempelajari Alkitab dan membacanya, tetapi tidak menyanyikannya. Kita bersyukur karena terpulihnya doa baca firman. Sekarang, kita harus maju untuk “menyanyi-bacakan” firman Allah. Kita harus membiarkan perkataan Kristus tinggal dengan limpahnya di dalam kita dengan segala hikmat dengan bernyanyi. Ini bukan ajaran saya, ini adalah pesan Rasul Paulus dalam Kolose 3:16.

Walaupun kita telah bertahun-tahun membaca Surat Kolose, kita belum lagi menaruh perhatian yang memadai untuk menerima firman melalui bernyanyi. Banyak orang Kristen menyatakan dirinya alkitabiah, tetapi mereka tidak menjadi alkitabiah seluruhnya, malah bersikap formal dan agamis saja. Menyanyikan firman Allah pasti alkitabiah.

Kita tidak saja harus menyanyikan firman dalam sidang, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari. Khususnya kita harus menyanyikan firman di rumah. Ketika Anda sendirian di kamar, atau duduk bersama orang lain mengitari meja makan, nyanyikanlah firman Allah. Menyanyikan firman Allah adalah cara yang paling baik untuk melatih roh. Berdoa memang melatih roh, tetapi menyanyi adalah cara yang lebih baik untuk melatih roh.

Kitab terpanjang dalam Alkitab adalah Kitab Mazmur, yang terdiri atas 150 pasal. Kitab ini tidak saja disusun untuk dibaca, juga untuk dinyanyikan, bahkan untuk dimazmurkan. Mazmur lebih tinggi daripada nyanyian. Dalam Kolose 3:16 Paulus menyebut mazmur, puji-pujian, dan nyanyian rohani. Nyanyian rohani biasanya pendek, puji-pujian itu sedang, dan mazmur biasanya merupakan karangan yang panjang. Kita perlu menyanyikan dan memazmurkan firman Allah. Mazmur lebih tinggi dan lebih dalam daripada nyanyian.

DIJENUHI DENGAN FIRMAN MELALUI BERNYANYI

Jika kita sungguh-sungguh ingin dijenuhi dengan firman hidup sehingga kita dapat memperhidupkan Kristus, haruslah kita mengikuti praktek yang disebutkan Paulus dalam Kolose 3:16. Ini berarti kita harus membiarkan perkataan Kristus tinggal dengan limpahnya di dalam kita, tidak saja dengan pengetahuan pikiran, tetapi juga dengan segala hikmat dari roh kita, termasuk nyanyian dan mazmur. Oh, kita perlu menyanyikan dan memazmurkan firman Allah! Menyanyikan firman lebih baik daripada membacanya, dan memazmurkan firman bahkan lebih baik daripada menyanyikannya. Memazmurkan firman termasuk merenungkan dan menikmatinya. Ketika kita memazmurkan firman, kita akan memikirkannya, merenungkannya, dan menikmatinya. Dengan demikian kita akan memberikan lebih banyak kesempatan kepada firman untuk menjenuhi kita.

Jika kita hanya membaca firman, sedikit sekali kesem-patan bagi bagian-bagian yang kita baca untuk membenam kita dan menjenuhi diri kita. Namun, jika kita menyanyikan firman, khususnya bila kita memazmurkannya, kita akan membuka diri kita lebih penuh kepada firman, dan memberinya kesempatan untuk masuk ke dalam kita dan menjenuhi kita. Sebagai contoh, jika kita menyanyikan Mazmur 1, kita akan menikmati kekayaan-kekayaan yang terdapat dalam mazmur yang pendek ini. Marilah kita me-nyanyikan dan memazmurkan firman Allah bukan dalam sidang saja, melainkan menyanyikan dan memazmurkannya setiap hari dengan seluruh diri kita. Dalam menyanyikan dan memazmurkan firman Allah, hendaklah kita melatih atau menggunakan suara, pikiran, hati, dan roh kita.

Selain itu, saya harap mulai sekarang dan seterusnya, dalam sidang-sidang gereja ada lebih banyak waktu untuk menyanyikan firman secara spontan. Mungkin dalam sidang tertentu kita akan menyanyikan atau memazmurkan seluruh Surat Efesus. Tidak usah diragukan, kalau kita memakai seluruh sidang untuk melakukan hal ini, kita akan menjamah kekayaan dalam Surat Kiriman tersebut.

Memang mengherankan sekali dalam Kolose 3:16 Paulus tidak mengatakan membaca, sebaliknya ia menitikberatkan bernyanyi. Memang, boleh jadi kita membaca firman tanpa menggunakan roh dan berkontak dengan Allah. Tetapi dengan berdoa, bernyanyi, dan bermazmur, kita pasti terbawa ke dalam Roh itu. Cara terbaik untuk menerima firman hayat dan dijenuhi dengan unsur Kristus ialah menyanyikan firman.

DIPENUHI DI DALAM ROH

Efesus 5:18-19 sejajar dengan Kolose 3:16. Dalam ayat-ayat ini Paulus berkata, “Janganlah kamu mabuk oleh anggur, karena anggur menimbulkan hawa nafsu, tetapi hendaklah kamu penuh dengan Roh, dan berkata-katalah seorang kepada yang lain dalam mazmur, kidung puji-pujian dan nyanyian rohani. Bernyanyi dan bersoraklah bagi Tuhan dengan segenap hati.” Perhatikan bahwa dalam Kolose 3:16 Paulus mengatakan hendaklah perkataan Kristus tinggal dengan limpahnya di dalam kita, namun dalam Efesus 5:18 ia mengatakan hendaklah kita dipenuhi di dalam roh. Ketika kita menjajarkan ayat-ayat ini, kita nampak bahwa kita harus dipenuhi di dalam roh dengan perkataan Kristus. Kedua bagian firman ini mempunyai tujuan yang sama, yaitu kita harus memiliki roh yang dipenuhi dengan firman.

Kita boleh membandingkan roh kita dengan sebuah mobil yang memerlukan bensin, dan firman, Alkitab, ibarat pompa bensin. Ketika kita merasa diri kita kosong, kita harus datang kepada firman untuk dipenuhi olehnya. Dalam firman kita memiliki suplai “bensin” rohani yang tidak kunjung habis. Cara untuk memompakan “bensin” ini ke dalam kita ialah dengan menyanyikan dan memazmurkan firman. Jika kita dipenuhi secara demikian, kita pasti akan berkata-kata seorang kepada yang lain dalam mazmur, kidung puji-pujian, dan nyanyian rohani. Kita juga akan menemukan bahwa menyanyikan dan memazmurkan firman lebih tinggi daripada mendoabacakannya.

Semakin kita menyanyikan dan memazmurkan firman Allah, kita akan semakin diselamatkan dari pengaruh agama, yaitu dari pengaruh yang membuat kita bersidang secara formal. Hendaklah kita membina kebiasaan menyanyikan firman setiap hari, sehingga sidang-sidang kita tidak menjadi satu formalitas. Sidang-sidang kita tidak boleh menjadi satu pertunjukan atau sandiwara, tetapi satu pa-meran dari kehidupan kita sehari-hari. Khususnya kita akan menyanyi dalam sidang, karena kita menyanyikan firman setiap hari.

Mengenai menyanyikan firman Allah, beban utama saya bukan agar sidang menjadi lebih kaya, melainkan agar kita dijenuhi firman yang hidup. Kita akan berbagian dalam suplai yang limpah lengkap dari Roh itu dan menikmati kekayaan Kristus melalui menerima firman Allah.

Di masa lalu saya telah kehilangan banyak kesempatan untuk dijenuhi dengan firman, karena saya tidak tahu harus menyanyikan firman. Saya menghabiskan banyak waktu untuk membaca dan mempelajari Alkitab; memenuhi beberapa jilid Alkitab dengan catatan-catatan, namun saya tidak menyadari bahwa saya dapat menyanyikan dan memazmurkan firman. Membaca Efesus 2 adalah satu hal, mendoabacakannya adalah hal lain. Tetapi saya ingin menekankan sekali lagi, menyanyikan firman jauh lebih baik daripada mendoabacakannya. Kebanyakan orang Kristen hari ini hanya melatih atau menggunakan pikiran mereka dalam membaca dan mempelajari firman. Mereka sama sekali tidak menyanyikan firman, dan sebenarnya ada orang-orang yang menentang praktek doa baca. Saya yakin, semakin kita menyanyikan dan memazmurkan firman, kita akan semakin terbasuh dan dijenuhi oleh unsur Kristus.

MENERIMA FIRMAN UNTUK

MEMPERHIDUPKAN KRISTUS

Mengenai hal-hal yang menjadi keperluan kehidupan, yang penting bukan mengerti, tetapi menerima. Kita mungkin tidak banyak mengerti tentang air yang kita minum dan tentang makanan yang kita makan, tetapi bagaimanapun kita perlu minum dan makan. Melalui makan dan minum, kita akan menerima apa yang kita perlukan untuk mempertahankan hidup. Demikian pula, kita perlu menerima firman ke dalam kita melalui memakannya. Ya, kita memang dapat memakan firman dengan membacanya secara tepat. Lagi pula, dari pengalaman kita mengetahui bahwa kita dapat menerima firman sebagai makanan melalui mendoabacakannya. Tetapi sekarang kita harus maju ke depan dan mengetahui tidak ada jalan yang lebih baik untuk menerima firman itu daripada menyanyikan firman. Semakin kita menyanyikan dan memazmurkan firman Allah, firman itu akan semakin meresap ke dalam lubuk diri kita dan menjenuhi kita. Bila kita mau menggunakan sedikit waktu saja untuk menyanyikan firman, kita akan merasa diri kita dipenuhi dan dijenuhi oleh firman dari dalam. Dengan demikian, kita akan memperhidupkan Kristus dengan spontan.

Ketika unsur Kristus telah terinfus ke dalam kita melalui kita menyanyikan dan memazmurkan firman, kita akan dengan spontan dan otomatis memperhidupkan Kristus. Adakalanya kita mungkin membaca firman tanpa unsur Kristus yang terinfus ke dalam kita. Tetapi ketika kita menyanyikan dan memazmurkan firman, kita akan dijenuhi dengan unsur ilahi yang terkandung dalam firman dan yang disampaikan kepada kita melalui firman. Semakin kita menyanyikan dan memazmurkan firman, kita akan memberikan kesempatan kepada firman untuk lebih banyak menghuni kita, membenam kita, dan menjenuhi kita dengan unsur ilahi. Kemudian, kita akan tersusun dengan unsur Kristus. Dengan otomatis kita akan menjadi apa yang kita makan, serta menyatakan apa yang telah kita serap. Inilah jalan kita memperhidupkan Kristus.