← Daftar isi Filipi (1) · bab 17/20

BERBAGIAN DALAM SUPLAI YANG LIMPAH LENGKAP DARI ROH ITU DAN MENIKMATI KEKAYAAN KRISTUS MELALUI MENERIMA FIRMAN ALLAH (1)

Pembacaan Alkitab:

Flp. 1:19-21; 2:12-16; Kol. 3:16; Ef. 5:18-19; 6:17-18

Menurut ekonomi Allah yang diwahyukan dalam Perjanjian Baru, sasaran kehidupan orang Kristen ialah memperhidupkan Kristus. Semasih muda, saya diajarkan bahwa pemikiran utama Alkitab berkaitan dengan Kristus. Sekarang saya memahami bahwa inti pemikiran Alkitab bukan hanya Kristus, tetapi juga memperhidupkan Kristus.

KRISTUS TINGGAL DI DALAM KITA

DAN HIDUP DI DALAM KITA

Hanya mengatakan Kristus adalah pemikiran utama Alkitab itu sangat obyektif. Dalam pengalaman kita Kristus seharusnya sangat subyektif bagi kita. Misalnya, Tuhan Yesus berkata, “Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu” (Yoh. 15:4). Ungkapan ini sederhana tetapi maknanya dalam. Bagaimana kita dapat tinggal dalam orang lain dan orang itu tinggal dalam kita? Ditinjau dari segi manusia, mustahil ada orang yang tinggal di dalam orang lain. Namun, tidaklah mustahil bagi hayat insani tinggal di dalam hayat ilahi, dan hayat ilahi tinggal di dalam hayat insani. Ini berarti Allah dapat tinggal atau berhuni di dalam kita, dan kita dapat berhuni di dalam Allah.

Ada orang mungkin merasa heran, bagaimana manusia yang kecil dapat tinggal di dalam Allah, dan bagaimana Allah yang besar dan Mahakuasa dapat tinggal di dalam kita. Akhir-akhir ini ada beberapa orang berusaha mengatakan kepada kita, karena Allah itu tidak terbatas besar-Nya, sedangkan manusia begitu kecil, maka mustahil Allah tinggal di dalam kita. Mereka bertanya, bagaimana wadah yang sekecil ini bisa menampung isi yang sebesar itu? Perkataan mereka menunjukkan bahwa mereka tidak percaya apa yang Tuhan Yesus katakan dalam Yohanes 15. Mereka menuduh kita bidah, dan memfitnah bahwa kita di satu pihak menurunkan Allah hingga setaraf dengan kita, dan di pihak lain mengatakan kita mengajarkan manusia berevolusi menjadi Allah, dan percaya bahwa manusia benar-benar dapat menjadi Allah itu sendiri. Ketika kita bertanya kepada mereka tentang makna perkataan Tuhan “tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu”, mereka menjawab bahwa ini hanya ditujukan kepada hubungan atau persekutuan yang intim antara kita dengan Tuhan. Jawaban mereka menunjukkan bahwa menurut mentalitas manusia alamiah kita tidak dapat percaya bahwa kita sebenarnya dapat tinggal di dalam Kristus, dan Dia dapat tinggal di dalam kita. Namun, kita wajib percaya firman Tuhan “tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu” dan mengatakan, “Amin” terhadap firman Tuhan ini.

Dalam Galatia 2:19b-20 Paulus berkata, “Aku telah disalibkan dengan Kristus, namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.” Mengatakan Kristus hidup di dalam kita itu lebih hebat daripada mengatakan Dia tinggal di dalam kita. Ketika saya mengunjungi suatu tempat, saya mungkin tinggal di rumah seorang saudara, tetapi saya tidak dapat mengatakan saya hidup di situ. Saya hanya untuk sementara waktu tinggal di sana dengan batasan tertentu. Tetapi, bila saya pulang ke rumah sendiri, saya dapat hidup di sana. Hidup di suatu tempat berarti menikmati kebebasan yang penuh. Apakah Anda tinggal di rumah Anda, atau hidup di sana? Sudah tentu Anda akan menjawab bahwa Anda hidup di rumah Anda. Tetapi Anda tidak dapat berkata bahwa Anda hidup di sebuah motel. Mengatakan Kristus hidup di dalam kita berarti Dia mempunyai kebebasan berbicara, bertindak, dan bergerak di dalam kita, Dia dapat melakukan apa saja yang Dia kehendaki di dalam kita; sebab Dia telah menebus kita, dan menjadikan kita tempat kediaman-Nya.

KRISTUS BERUMAH DI DALAM KITA

DAN TERBENTUK DI DALAM KITA

Berdasarkan Efesus 3, Paulus berdoa supaya Bapa menguatkan kita dengan Roh dalam manusia batiniah kita, agar Kristus dapat berumah di dalam hati kita. Pertama-tama Kristus tinggal di dalam kita, kemudian Dia hidup di dalam kita, dan selanjutnya Dia menetap, berumah di dalam seluruh manusia batiniah kita. Di satu aspek, Kristus hidup di dalam roh kita, tetapi di aspek lain, mungkin kita tidak memberi-Nya banyak ruang untuk hidup dalam pikiran, tekad, atau emosi kita. Dari pengalaman kita tahu, kadangkala kita mengekang atau membatasi Kristus di dalam roh kita. Ketika Dia mencoba menyebar dari roh kita ke dalam emosi kita, mungkin kita tidak mengizinkan Dia berbuat demikian. Sebagai contoh, seorang saudara mungkin berdoa pada pagi hari, menikmati Tuhan, dan mengatakan, “Haleluya, Tuhan Yesus hidup di dalam rohku!” Tetapi tidak lama berselang, ia tergoda untuk melakukan suatu hal. Sekalipun Tuhan yang hidup dalam rohnya tidak setuju, saudara yang hidup menurut emosi itu tetap melakukan hal itu. Dia beralasan dengan Tuhan, mencoba untuk membujuk Tuhan tetap tinggal dalam rohnya sambil memberinya kebebasan untuk hidup menurut emosinya. Bahkan ia berjanji, besok ia akan memberi Tuhan kebebasan untuk menyebar ke dalam emosinya. Tetapi, esoknya ia memungkiri janjinya. Jadi, Tuhan tidak diberi kebebasan untuk berumah dalam emosi saudara tersebut.

Karena kita tidak mudah memberikan kesempatan kepada Tuhan untuk berumah di dalam hati kita, maka Paulus merasa perlu berdoa supaya Bapa menguatkan kita dalam manusia batiniah kita oleh Roh itu, supaya Kristus dapat berumah di dalam hati kita. Menurut Alkitab, hati terdiri atas pikiran, tekad, emosi, dan hati nurani. Hati mengelilingi roh dan mencakup lebih besar daripada roh. Ketika kita menerima Tuhan Yesus, Dia masuk ke dalam roh kita, dan kini Dia hidup di dalam roh ini. Pada mulanya, kita bahkan tidak memberikan kebebasan kepada Tuhan untuk hidup di dalam roh kita. Kita hanya mengizinkan Dia tinggal di situ. Tetapi lambat laun kita memberi-Nya kesempatan untuk hidup dalam roh kita. Namun, kita tetap tidak mau memberi-Nya jalan masuk yang leluasa ke dalam manusia batiniah kita. Itulah sebabnya manusia batiniah kita, roh kita yang dilahirkan kembali perlu dikuatkan. Kemudian, Kristus dapat berumah dalam hati kita. Dia tidak hanya tinggal di dalam kita dan hidup di dalam kita, melainkan menyebar ke dalam setiap bagian dari manusia batiniah kita dan menetap di situ.

Walau saya sudah bertahun-tahun lamanya mengalami Tuhan dengan limpahnya, tetapi saya tidak yakin bahwa Kristus telah menetap dengan leluasa di dalam manusia batiniah saya. Mungkin saya telah memberi-Nya kebebasan penuh untuk menduduki pikiran atau emosi saya, namun saya masih menyisakan sebagian dari tekad saya untuk diri saya sendiri.

Penting sekali kita memahami bahwa Kristus seharusnya subyektif bagi kita dalam pengalaman kita. Dia tinggal di dalam kita, Dia hidup di dalam kita, dan Dia ingin berumah di dalam kita untuk menetap dalam seluruh manusia batiniah kita.

Dalam Galatia 4:19 Paulus berkata, “Hai anak-anakku, karena kamu aku menderita sakit bersalin lagi, sampai rupa Kristus terbentuk di dalam kamu” (Tl.). Kristus terbentuk di dalam kita berarti Dia tinggal, hidup, menetap dan kemudian meresapi tiap bagian diri kita.

TERSUSUN DARI KRISTUS

Sebagai orang Kristen, ukuran Kristus yang ada dalam batin kita masing-masing tidak sama. Ada orang yang memberi Kristus kedudukan yang lebih banyak, ada juga yang memberi-Nya ruang yang sempit untuk Dia bertumbuh di dalamnya. Tidak diragukan, ukuran Kristus dalam Paulus memang penuh. Ini berarti Kristus telah terbentuk sepenuhnya di dalam dirinya. Dalam Filipi 1:21 Paulus bahkan dapat mengumumkan, “Bagiku hidup adalah Kristus.” Kristus telah tergarap ke dalam Paulus dan telah benar-benar menjadi susunannya. Karena itu, Paulus adalah orang yang seluruhnya tersusun dari Kristus. Itulah sebabnya ia dapat berkata bahwa baginya hidup adalah Kristus.

Para ahli gizi sering mengatakan bahwa kita adalah apa yang kita makan. Makanan-makanan yang kita makan akhirnya menjadi susunan kita. Makanan-makanan itu diserap ke dalam jaringan-jaringan kita bahkan ke dalam sel-sel kita. Jika seseorang makan makanan tertentu dalam jumlah besar, akhirnya ia akan disusun oleh makanan itu.

Ketika Paulus menulis Surat Filipi, ia telah menjadi orang yang percaya kepada Kristus hampir tiga puluh tahun lamanya. Selama tahun-tahun itu Kristus banyak tergarap ke dalam manusia batiniahnya. Paulus memakan Kristus dan menikmati Dia terus-menerus. Akhirnya, setelah ia tersusun dari Kristus, ia menjadi manusia-Kristus. Selaku manusia yang tersusun dari Kristus, ia dapat bersaksi, “Bagiku hidup adalah Kristus.”

Hari ini kita pun seharusnya menjadi penerus kesaksian Paulus. Di sini kita sekarang memperhidupkan Kristus, mengalami Kristus menggarapkan diri-Nya ke dalam kita, hingga pikiran, emosi, dan tekad kita disusun oleh-Nya.

PERUBAHAN METABOLIS

Dalam Roma 12:2 Paulus menasihati kita jangan men-jadi serupa dengan zaman ini, sebaliknya perlu berubah oleh pembaruan pikiran. Diserupakan dengan zaman ini berarti lahiriah kita serupa dengan gaya, model, atau arus zaman ini. Berubah (transformasi) berarti diperbarui secara organik dan batiniah. Ada sementara orang memfitnah kita, menuduh kita membengkokkan pikiran orang. Kita sama sekali menyangkal tuduhan yang palsu itu. Dengan anugerah Tuhan kita berusaha melayankan sesuatu yang ilahi dan rohani, yang dapat mengubah pikiran seseorang. Membengkokkan pikiran adalah akibat dari pengaruh luar atas pikiran seseorang, tetapi pembaruan pikiran mengandung transformasi dalam hayat yang batiniah, organik, dan metabolis. Dengan otomatis pikiran kita akan diperbarui dan ditransformasi. Hal ini terjadi karena adanya unsur baru yang ditambahkan ke dalam diri kita untuk mengikis unsur usang dan menggantikannya. Inilah transformasi. Dari hari ke hari dan dari sidang ke sidang, ada sesuatu yang ilahi, rohani, kudus, dan surgawi terinfus ke dalam kita. Unsur ini adalah Kristus dengan kekayaan-Nya yang tidak terduga. Ketika kekayaan Kristus terinfus ke dalam kita, kekayaan itu akan menjadi unsur baru di batin kita, yang mengikis keusangan dan menghasilkan perubahan metabolis yang hakiki dan batiniah.

Semakin diubah, kita semakin memberi ruang kepada Kristus untuk menetap di dalam kita. Pada hakikatnya proses transformasi adalah proses diduduki dan dimilikinya kita oleh Kristus. Transformasi pikiran kita berarti Kristus telah memilikinya dan menjenuhinya dengan diri-Nya sendiri. Demikian pula, bila emosi dan tekad kita dijenuhi dengan Kristus, Dia akan menjadi susunan dari bagian-bagian batiniah kita tersebut. Dengan jalan demikianlah Kristus menjadi subyektif bagi kita.

KRISTUS YANG DAPAT DIALAMI

Selama berabad-abad, Kristus yang subyektif telah diabaikan oleh kaum beriman. Banyak orang Kristen yang setia telah menunjukkan kasih mereka kepada Kristus yang obyektif. Mereka percaya kepada-Nya, menghormati-Nya, menjunjung-Nya, dan menerima Dia sebagai obyek penyembahan mereka. Namun, dalam banyak kasus, mereka menganggap Dia sebagai persona yang jauh di surga. Walaupun mereka mengasihi Dia, mereka tidak mengalami Dia ting-gal dalam mereka. Mereka bekerja dengan giat bagi Kristus, tetapi tidak memahami bahwa Kristus tidak saja berada di surga, juga tinggal di batin mereka. Ada beberapa bahkan menerima ajaran yang keliru, yang mengatakan Kristus tidak tinggal dalam kaum beriman, tetapi Ia hanya diwakili di dalam mereka oleh Roh Kudus. Mereka mengira Roh Kudus adalah agen yang diutus Kristus sebagai wakil-Nya untuk bekerja, bergerak, dan mengilhami mereka. Tetapi, menurut firman Allah, Roh yang menghuni dalam batin itu bukanlah agen Kristus, Ia sebenarnya Kristus itu sendiri. Menurut pengalaman orang Kristen, Kristus yang tinggal dalam kita identik dengan Roh yang berhuni di dalam kita. Roh yang berhuni dalam batin inilah Kristus yang riil, Kristus yang subyektif, dan yang dapat kita alami. Jika kita mempunyai pemahaman yang tepat terhadap hal ini, kita tidak akan mencoba memisahkan Roh dari Kristus. Tiga dari ke-Allahan itu adalah satu. Bapa di dalam Anak, dan Anak terealisasikan sebagai Roh. Ketika Roh itu mencapai kita dan hidup di dalam kita, maka tiga dari ke-Allahan itu semuanya berhuni di dalam kita. Alangkah ajaibnya Kristus kini ada di dalam kita! Kristus kita bersifat subyektif dan dapat kita alami.

Jika kita ingin memperhidupkan Kristus, kita harus memahami bahwa Dia tidak saja obyektif, tetapi juga subyektif. Sebagai Allah yang Mahakuasa, Tuhan atas segala-galanya, persona yang telah naik ke surga, dan yang telah bertakhta serta dimahkotai dengan kemuliaan, Kristus bersifat obyektif. Kita tidak boleh meragukan hal ini. Tetapi Kristus juga subyektif. Dia tinggal di dalam kita, Dia hidup di dalam kita, Dia berusaha menetap dalam kita, dan Dia juga sedang bekerja untuk menjenuhi seluruh diri kita dengan diri-Nya sendiri.

KRISTUS YANG DIPERBESAR

Sekarang mari kita melihat Filipi 1:19-21. Dalam ayat 19 Paulus berkata bahwa keadaannya akan menghasilkan keselamatan melalui doa kaum saleh dan suplai yang limpah lengkap dari Roh Yesus Kristus. Menurut ayat 20, kita nampak keselamatan yang diharapkan Paulus untuk dialami ialah agar ia tidak dipermalukan, melainkan dalam segala hal Kristus dapat diperbesar dalam dirinya. Jadi, berhasilnya keadaan Paulus menjadi keselamatannya berarti keadaannya menyebabkan diperbesarnya Kristus di dalam tubuhnya. Karena itu, keselamatan di sini sebenarnya adalah Kristus diperbesar di dalam dirinya. Ungkapan “bagiku hidup adalah Kristus” dalam ayat 21 adalah penjelasan dari apa yang dimaksud dengan memperbesar Kristus. Memperbesar Kristus berarti memperhidupkan Dia. Di segi negatifnya, Paulus berharap agar ia tidak dipermalukan, dan di segi positifnya, ia berharap Kristus diperbesar di dalam dirinya.

Berdasarkan konteks ayat-ayat ini, keselamatan di sini bukanlah keselamatan dari neraka. Sebaliknya, ini adalah keselamatan dari dipermalukan. Jika Paulus berdukacita dan putus asa ketika ia berada di dalam penjara, ia akan dipermalukan. Misalnya, Timotius datang menjenguknya dan melihatnya menangis karena situasinya yang sulit itu, betapa memalukan bagi dirinya! Tetapi, andaikata Paulus bersukacita di dalam Tuhan, menyanyi dan memuji Tuhan, sekalipun ia sebagai tawanan di Roma, Kristus benar-benar akan diperbesar di dalam tubuhnya. Inilah keselamatan yang dikatakan di sini.

Misalkan seorang saudara sedang berada dalam situasi yang sangat menyedihkan, dan ada seseorang datang menjenguknya. Kalau saudara itu menangis dan menggerutu atas kesedihannya, ia akan dipermalukan. Saudara itu harus mengalami keselamatan Allah dalam situasinya itu. Kemudian, jika ada seseorang mengunjungi dia, saudara yang menderita itu dapat berkata, “Puji Tuhan! Anugerah Tuhan cukup bagiku. Aku berada di surga tingkat ke tiga. Haleluya!” Alangkah mulianya kesaksian yang demikian! Kita nampak bahwa penderitaan saudara itu telah menghasilkan keselamatan baginya.

Pengharapan Paulus yang sesungguhnya ialah agar ia tidak beroleh malu, melainkan dapat memperbesar Kristus. Alangkah hebatnya keselamatan yang dapat memperbesar Kristus dalam segala keadaan! Para sipir dan narapidana dapat melihat Paulus bersukacita di dalam Tuhan. Di dalam dia Kristus telah diperbesar. Memperbesar Kristus yang sedemikian ini berarti memperhidupkan Dia.

DISELAMATKAN MELALUI ROH YANG BERHUNI

DALAM BATIN DAN ALLAH YANG BEROPERASI

Dalam Filipi 2:12 Paulus menyuruh kita mengerjakan keselamatan kita sendiri dengan takut dan gentar. Dalam 1:19-20 Paulus menyinggung sesuatu tentang menghasilkan keselamatan, tetapi dalam 2:12 ia menyuruh kita mengerjakan keselamatan kita. Dalam ayat 13 ia menjelaskan lebih lanjut, “Karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya.” Dalam pasal 1 keselamatan datang dari suplai yang limpah lengkap dari Roh Yesus Kristus; tetapi di sini keselamatan datang dari Allah yang beroperasi (bekerja) di batin kita. Sekarang kita harus tahu bahwa Allah yang beroperasi sebenarnya adalah Roh Yesus Kristus. Persona yang beroperasi di batin kita, baik dalam kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya adalah Roh Yesus Kristus yang berhuni dalam batin dengan suplai-Nya yang limpah lengkap.

Kita harus berhati-hati, bahkan harus takut dan gentar, agar kita tidak menyalahi atau melanggar Allah yang beroperasi di dalam kita. Itulah alasan Paulus berkata dalam 2:14, “Lakukanlah segala sesuatu tanpa bersungut-sungut dan berbantah-bantahan.” Bersungut-sungut terutama terdapat pada para saudari, sedangkan berbantah-bantahan terutama terdapat pada para saudara. Jika kita bersungut-sungut atau berbantah-bantahan, kita akan merasa dari lubuk batin kita bahwa kita melanggar Allah yang beroperasi dan mendukakan Roh yang berhuni dalam batin kita. Selain itu, kita mungkin merasa bahwa Roh yang berhuni dalam batin kita melarang kita bersungut-sungut dan berbantah-bantahan, melainkan supaya kita mengerjakan keselamatan kita sendiri. Kita telah menerima keselamatan yang almuhit, yaitu Kristus itu sendiri. Tetapi sekarang kita harus mengerjakan keselamatan ini. Allah yang adalah Roh yang memiliki suplai yang limpah lengkap sedang beroperasi di dalam kita. Marilah kita dengan takut dan gentar menghormati Dia dan bekerja sama dengan Dia demi mengerjakan keselamatan kita. Kalau kita berbuat demikian, kita akan diselamatkan dari sungut-sungut dan perbantahan. Ini adalah keselamatan yang riil dan seketika yang dikerjakan menurut operasi Allah dalam batin kita.

BERSINAR SEPERTI BINTANG-BINTANG

DAN MENYATAKAN FIRMAN HAYAT

Dalam ayat 15 dan 16 Paulus melanjutkan, “Supaya kamu tidak beraib dan tidak bernoda, sebagai anak-anak Allah yang tidak bercela di tengah-tengah orang yang jahat dan sesat ini, sehingga kamu bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia, sambil menyatakan firman hayat” (Tl.). Bercahaya seperti bintang-bintang berarti memperbesar Kristus. Ini menunjukkan bahwa keselamatan dalam pasal 2 sama dengan keselamatan dalam pasal 1. Allah yang beroperasi sama dengan Roh yang memiliki suplai yang limpah lengkap, dan bercahaya seperti bintang-bintang sama dengan memperbesar Kristus.

Menurut ayat 16, jalan atau cara kita bercahaya seperti bintang-bintang ialah menyatakan firman hayat. Untuk memahami makna istilah “menyatakan” (berpegang pada, LAI) dengan memadai tidaklah mudah. Istilah ini berarti menyajikan sesuatu kepada orang, mempersembahkan sesuatu kepada orang, bahkan menerapkan sesuatu kepada orang. Menyatakan firman hayat berarti menyajikan firman itu kepada orang, mempersembahkannya kepada orang, bahkan menerapkannya kepada orang. Ini adalah melayan-kan Kristus kepada orang lain, atau mempersembahkan Kristus kepada orang lain. Apakah yang Anda persembahkan kepada keluarga, kerabat, tetangga, teman kuliah, sahabat, atau teman sekelas Anda? Apakah yang Anda sajikan kepada mereka? Jawaban Anda seharusnya: Aku mempersembahkan, menyajikan, dan menerapkan Kristus kepada mereka dalam situasi mereka. Inilah artinya menyatakan firman hayat. Firman hayat sebenarnya adalah ekspresi Kristus yang hidup. Bercahaya seperti bintang-bintang berarti memperbesar Kristus, dan menyatakan firman hidup berarti memperhidupkan Kristus.

DEFINISI MEMPERHIDUPKAN KRISTUS

Filipi 1:19-21 dan 2:12-16 keduanya mengacu kepada satu hal. Dalam pasal 1 Paulus berkata bahwa keadaannya akan menghasilkan keselamatan baginya, sehingga ia tidak beroleh malu, melainkan akan memperbesar Kristus. Itulah artinya memperhidupkan Kristus. Dalam pasal 2 Paulus menyuruh kita mengerjakan keselamatan kita menurut operasi Allah di batin kita, sehingga kita tidak akan bersungut-sungut dan berbantah-bantahan, melainkan akan bercahaya seperti bintang-bintang, dan menyatakan firman hayat. Jadi Filipi2:12-16 adalah definisi 1:19-21. Dalam

1:19 ada suplai yang limpah lengkap dari Roh Yesus Kristus, dan Roh ini adalah Allah yang beroperasi di dalam kita. Tidak hanya demikian, memperbesar Kristus berarti bercahaya seperti bintang-bintang, tanpa bersungut-sungut dan berbantah-bantahan; dan memperhidupkan Kristus berarti menyatakan firman hayat.

DIJENUHI DENGAN FIRMAN HIDUP

Hal ini membawa kita kepada hal yang sangat penting: untuk memperhidupkan Kristus pertama-tama kita harus menerima firman hayat dan disusun olehnya. Sejak kita dilahirkan, kita sudah berangsur-angsur disusun oleh kebudayaan. Kebudayaan telah terinfus ke dalam kita melalui keluarga dan masyarakat kita. Akhirnya, kebudayaan yang terinfus ke dalam kita menjadi susunan kita. Dengan otomatis kita hidup menurut kebudayaan yang telah tersusun ke dalam kita. Kita juga memperhidupkan apa yang telah terinfus ke dalam kita. Anak-anak hidup menurut apa yang telah diinfuskan ke dalam mereka oleh orang tua mereka. Sekarang, karena telah diselamatkan, kita tidak seharusnya memperhidupkan kebudayaan. Sebagai contoh, satu orang beriman dari suku bangsa A tidak seharusnya memperhidupkan kebudayaan, filsafat, atau etika suku bangsa A. Sebaliknya, ia harus memperhidupkan Kristus. Tetapi, bagaimana kita dapat memperhidupkan Kristus? Jika kita ingin memperhidupkan Kristus, kita harus menerima firman ke dalam diri kita, dan mengizinkannya menjenuhi kita. Firman yang menjenuhi kita akan berangsur-angsur menggantikan kebudayaan yang telah terinfus ke dalam kita. Semakin kita terinfus dengan firman, kita akan semakin ditransfor-masi. Dengan spontan pikiran, kasih, keinginan, dan percakapan kita akan menjadi Kristus. Akhirnya kita tidak memperhidupkan kebudayaan, melainkan memperhidupkan Kristus. Satu-satunya cara untuk memperhidupkan Kristus ialah dijenuhi dengan firman hayat-Nya. Firman hayat yang terinfus ke dalam kita akan mengikis bersih segala unsur kebudayaan dan menjadi susunan baru dalam manusia batiniah kita. Dengan demikianlah kita akan memperhidupkan Kristus.