MEMPERHIDUPKAN KRISTUS DENGAN MENERIMA FIRMAN MELALUI ROH ITU
Pembacaan Alkitab:
Flp. 1:19-21a; 2:12b-13a, 16a; Yoh. 1:1, 6:63;
Ef. 6:17b-18a; 5:18-20; Ibr. 4:12;
Kol. 3:16-17; 2Tim. 3:16a
Dalam Filipi 1:19-21a kita nampak keselamatan, suplai yang limpah lengkap dari Roh Yesus Kristus, memperbesar Kristus, dan memperhidupkan Kristus. Dalam 2:12, 13a, dan 16a kita nampak perihal mengerjakan keselamatan kita sendiri, Allah beroperasi di dalam kita, dan berpegang pada firman hayat. Dalam kedua bagian dari Surat Filipi ini kita nampak dua jalur: jalur pertama ialah keselamatan, Roh itu, dan Kristus; jalur kedua ialah keselamatan, Allah, dan firman. Perbandingan ini sangat mengandung wahyu.
MENGALAMI KESELAMATAN
Dalam 1:19 Paulus berkata bahwa situasi, lingkungan, dan keadaan sekitarnya akan menghasilkan keselamatan baginya. Tetapi dalam 2:12 ia menyuruh kita mengerjakan keselamatan kita sendiri. Menurut perkataan Paulus dalam 1:19, situasi sulit yang kita hadapi akan menghasilkan keselamatan kita. Dapat tidaknya lingkungan kita menghasilkan keselamatan bagi kita tergantung pada ada tidaknya kita menikmati suplai yang limpah lengkap dari Roh Yesus Kristus. Jika kita tidak menikmati suplai yang limpah lengkap ini, lingkungan kita akan mendatangkan malu bagi kita. Setiap situasi yang kita hadapi akan menghasilkan keselamatan atau malu. Sebagai contoh, misalkan seorang istri mempersulit suaminya. Bagi saudara itu, situasi ini dapat menjadi suatu keselamatan atau malu. Itu sepenuhnya tergantung ada tidaknya ia menikmati suplai yang limpah lengkap dari Roh Yesus Kristus. Jika ia menikmati suplai Roh itu, ia akan mengalami suatu keselamatan yang seketika, dan Kristus akan diperbesar di dalamnya. Jika ia tidak menikmati suplai itu, tetapi memarahi istrinya, ia akan dipermalukan. Saya ulangi, jika situasi saudara itu dengan istrinya menghasilkan keselamatannya, Kristus akan diperbesar. Pada hakikatnya, keselamatan dalam 1:19 adalah Kristus diperbesar.
Dalam 2:12 Paulus sekali lagi membicarakan kesela-matan. Tetapi kali ini ia tidak mengatakan keselamatannya, melainkan menyuruh kaum saleh mengerjakan keselamatan mereka sendiri. Mengenai dirinya sendiri, Paulus berkata bahwa lingkungannya akan menghasilkan kesela-matan. Tetapi mengenai kaum saleh, ia menyuruh mereka mengerjakan keselamatan mereka sendiri.
Kita perlu keselamatan Allah untuk masalah-masalah yang kita hadapi dari hari ke hari, terutama dalam kehidupan keluarga dan hidup gereja kita. Kita perlu keselamatan yang berbeda-beda untuk masalah yang berbeda-beda. Seorang saudara perlu sejenis keselamatan dalam menghadapi kaum saleh yang berbeda-beda. Tetapi ia perlu keselamatan jenis lain dalam hubungannya dengan istrinya. Menurut ketetapan Allah, tidak baiklah seorang laki-laki hidup sendirian. Tiap saudara harus mempunyai seorang istri. Na-mun, adanya masalah dalam kehidupan pernikahan tidak dapat dihindari. Untuk semua masalah itu kita perlu keselamatan Allah. Allah telah menetapkan pernikahan agar kita mendapatkan kesempatan untuk menikmati Dia. Jika kita menikmati Tuhan, kita akan mengalami keselamatan-Nya dalam kehidupan pernikahan kita.
Keselamatan Allah yang diwahyukan dalam Alkitab terdiri atas berbagai kategori. Hari demi hari, bahkan saat demi saat kita boleh mengalami berbagai aspek keselamatan Allah. Kita perlu mengalami keselamatan dari tahun ke tahun, dari bulan ke bulan, dari minggu ke minggu, dari hari ke hari, bahkan dari saat ke saat. Tanpa keselamatan Allah saya sama sekali tidak dapat hidup.
DISELAMATKAN DARI SUNGUT-SUNGUT
DAN BERBANTAH-BANTAHAN
Ketika Paulus menyuruh kita mengerjakan keselamatan kita sendiri, ia bukan mengatakan keselamatan dari neraka, bukan pula dari hukuman Allah. Kita tidak dapat mengerjakan keselamatan semacam itu. Perhatikan, Paulus menyuruh kaum saleh “mengerjakan keselamatanmu sendiri” (Tl.). Seorang suami tidak seharusnya memperhatikan keselamatan yang dibutuhkan istrinya. Sebaliknya, ia harus memperhatikan mengerjakan keselamatannya sendiri.
Perkataan Paulus tentang mengerjakan keselamatan kita sendiri harus dianggap berkaitan dengan anjurannya dalam 2:14, yakni “Lakukanlah segala sesuatu tanpa bersungut-sungut dan berbantah-bantahan.” Seperti telah kita tunjukkan di depan, bersungut-sungut adalah dari emosi, dan berbantah-bantahan adalah dari pikiran. Saudari-saudari khususnya mempunyai problem bersungut-sungut, sedangkan saudara-saudara dipersulit oleh perbantahan. Saya tidak pernah mendengar seorang istri yang tidak bersungut-sungut. Seorang saudari perlu mengerjakan keselamatan-nya sendiri berkenaan dengan sungut-sungutnya. Ia perlu keselamatan atas hal bersungut-sungut. Demikian pula, saudara-saudara perlu mengerjakan keselamatan mereka berkenaan dengan perbantahan. Jika kehidupan pernikahan dan hidup gereja kita dipenuhi dengan bersungut-sungut dan berbantah-bantah, itu membuktikan bahwa kita kekurangan keselamatan Allah. Kehidupan keluarga dan hidup gereja kita harus dipenuhi oleh keselamatan dan tanpa sungut-sungut dan perbantahan sama sekali. Alangkah ajaibnya jika dalam gereja lokal kita tidak ada sungut-sungut dan perbantahan, melainkan penuh dengan keselamatan!
OPERASI ALLAH DAN KERJA SAMA KITA
Di satu pihak, kita mengerjakan keselamatan kita sendiri; di pihak lain, Allah beroperasi di dalam kita. Dalam ayat 13 Paulus menegaskan, “Karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu.” Allah mengerjakan (beroperasi) di dalam kita, dan kita bekerja sama dengan Dia. Ini berarti kita mengerjakan keselamatan kita menurut operasi Allah. Ketika seorang saudari bersungut-sungut atau seorang saudara berbantah-bantah, Allah beroperasi untuk memungkinkan mereka mengerjakan keselamatan mereka dari sungut-sungut dan perbantahan. Bila kita berpaling kepada Tuhan dan berkata, “O Tuhan Yesus, aku cinta kepada-Mu,” kita akan diselamatkan dari bersungut-sungut dan berbantah-bantah.
Istilah “mengerjakan” atau beroperasi di sini dalam bahasa aslinya dapat juga diterjemahkan “menguatkan” atau “memberi energi”. Allah sedang memberi energi kepada kita dari batin kita. Karena kita tidak mudah mengalami keselamatan Allah dalam berbagai situasi, maka Ia memberi energi kepada kita. Sebagai contoh, boleh jadi seorang saudara sangat perkasa dalam berbantah-bantah. Jika saudara ini ingin mengerjakan keselamatannya sendiri dari perbantahan, ia perlu Allah memberi energi kepadanya.
Ketika menciptakan langit dan bumi Allah cukup ber-firman saja. Tetapi untuk menolong kita dari sungut-sungut dan perbantahan, Ia perlu memberi kita energi. Ini menunjukkan bahwa menyelamatkan kita dari sungut-sungut dan perbantahan jauh lebih sulit daripada menciptakan bumi. Ketika Allah menciptakan sesuatu, Ia cukup berfirman, dan benda itu jadi. Namun, jika Ia menyuruh kita tidak bersungut-sungut atau berbantah-bantah, mungkin kita tidak memperhatikan. Maka, terjadilah suatu pergumulan dalam batin antara kita dengan Allah. Bukankah Anda sering bergumul dengan Allah? Pergumulan itu merupakan suatu bukti bahwa Allah sukar menolong kita. Untuk menolong kita tanpa merusak kita, maka Dia memberi energi di batin kita. Kehidupan kristiani adalah kehidupan pergumulan, yakni suatu kehidupan bergumul dengan Allah yang beroperasi di dalam kita.
Allah yang beroperasi di dalam kita ialah Roh penyuplai itu. Kita telah menunjukkan berulang-ulang, dalam 1:19 Paulus berkata bahwa lingkungannya akan menghasilkan keselamatan baginya melalui suplai yang limpah lengkap dari Roh itu. Jika Allah tidak beroperasi dalam kita, tidak mungkin kita mengalami suplai dari Roh itu. Allah beroperasi di dalam kita dengan maksud membawakan suplai yang limpah lengkap dari Roh itu kepada kita. Hal ini bukan doktrin semata-mata; melainkan suatu fakta pengalaman rohani.
KRISTUS DIPERBESAR
Melalui suplai yang limpah lengkap dari Roh itu, Kristus diperbesar di dalam kita. Apa yang dibicarakan Paulus dalam 1:20 adalah diperbesarnya Kristus, tetapi dalam 2:16 ia berbicara tentang menyatakan pada firman hayat (Tl.). Menyatakan firman hayat sama dengan memperbesar Kristus. Kristus sendiri adalah firman hayat. Kita menyatakan firman hayat, firman ini adalah Kristus.
ROH ITU, ALLAH, KRISTUS, DAN FIRMAN
Saya sangat menyukai kedua bagian dari Surat Filipi ini. Di satu aspek, kita nampak dari pasal 1 bahwa lingkungan kita memang mungkin menghasilkan keselamatan bagi kita. Di aspek lain, kita nampak dari pasal 2 bahwa kita perlu mengerjakan keselamatan kita melalui bekerja sama dengan Allah dalam hal pemberian energi-Nya. Namun, menurut watak kita yang telah jatuh, kecenderungan kita selalu bertentangan dengan keinginan Allah. Kita perlu Allah beroperasi di dalam kita. Bila kita bekerja sama dengan Dia, kita akan mengerjakan keselamatan kita yang seketika dan berpegang pada firman hayat.
Kita perlu terkesan dengan fakta bahwa Roh itu dalam 1:19 sama dengan Allah dalam 2:13, dan Kristus dalam 1:20 dan 21 sama dengan firman hayat dalam 2:16. Sebenarnya Roh itu, Allah, Kristus, dan firman hayat adalah satu.
FIRMAN DAN ROH ITU
Kita telah nampak bahwa untuk memperbesar Kristus dan memperhidupkan Kristus, kita perlu suplai yang limpah lengkap dari Roh itu. Sekarang kita harus maju melihat bahwa suplai yang limpah lengkap ini tersimpan di dalam firman. Menurut Alkitab, Roh dan firman adalah satu. Dalam Yohanes 6:63, Tuhan Yesus berkata, “Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup.” Ini menunjukkan bahwa firman adalah Roh. Efesus 6:17-18 menunjukkan bahwa Roh itu adalah firman. Dua Timotius 3:16 mengatakan bahwa seluruh Kitab Suci adalah hembusan (nafas) Allah. Setiap kata dalam Alkitab adalah nafas Allah. Kita telah menunjukkan bahwa nafas ini adalah pneuma, Roh itu. Jadi, karena firman dan Roh keduanya adalah nafas Allah, maka mereka benar-benar adalah satu. Roh itu adalah nafas Allah dan firman juga nafas Allah. Lagi pula, nafas Allah adalah pneuma-Nya, Roh itu. Di satu pihak, firman Allah adalah Roh itu; di pihak lain, Roh Allah itulah firman.
Dari pengalaman kita tahu bahwa kita dapat berkontak dengan Roh itu dan mengalami operasi Roh itu dalam batin kita melalui berkata, “O, Tuhan Yesus, aku cinta kepada-Mu.” Operasi Roh yang batiniah ini sering muncul berupa perkataan dari Tuhan. Sebagai contoh, misalkan seorang saudara tidak puas kepada istrinya. Tetapi ia berpaling kepada Tuhan dan berkata, “Tuhan Yesus, aku cinta kepada-Mu,” maka Roh itu beroperasi dalam batinnya. Kemudian operasi Roh itu menjadi suatu perkataan baginya: “Janganlah mengira istrimu demikian.” Pertama-tama saudara itu berkontak dengan Roh itu, kemudian Roh itu menjadi perkataan yang dituturkan dalam batinnya. Selain itu, perkataan ini menjadi terang yang berpancar dari batin saudara tersebut, membuatnya menyatakan firman hayat.
Pada kesempatan lain dalam pengalaman kita, pertama-tama kita menerima firman dan kemudian firman itu menjadi Roh yang beroperasi dalam batin kita. Entah kita mengalami Roh itu dahulu kemudian baru firman, atau firman dahulu kemudian Roh, pada hakikatnya Roh dan firman adalah satu.
ALLAH MENCAPAI KITA
Perjanjian Baru memberi jaminan kepada kita bahwa firman dan Roh adalah satu. Yohanes 1:1 mengatakan, “Pada mulanya ada Firman.” Tetapi dalam Yohanes 20:22, Tuhan Yesus menghembusi murid-murid-Nya dan berkata, “Terimalah Roh Kudus.” Pada permulaan Injil Yohanes, Kristus adalah Firman, tetapi pada akhir Injil Yohanes Ia menghembuskan Roh itu. Dalam Yohanes 6:63 Ia berkata bahwa firman itulah Roh. Melalui firman dan Roh itu Allah mencapai kita.
Jika Allah bukan firman dan Roh itu, Ia tidak dapat mencapai kita. Roh itu adalah Allah yang mencapai kita. Setiap kali kita menjamah Tuhan atau Tuhan menjamah kita, kita akan mengalami pencapaian yang ilahi itu. Allah mencapai kita sebagai Roh itu. Namun, menurut konsepsi beberapa orang Kristen, Roh itu hanyalah suatu perantara yang dipakai Allah untuk mencapai kita. Tidak, Roh itu adalah Allah sendiri yang mencapai kita. Kita boleh memakai aliran listrik sebagai ilustrasi. Allah itu ibarat listrik, dan Roh itu ibarat arus listrik. Sungguh keliru kalau mengatakan arus listrik berbeda dengan listrik itu sendiri. Ketika listrik mengalir, ia menjadi suatu arus. Karenanya arus listrik adalah listrik itu sendiri yang bergerak. Ketika arus itu mencapai kita ia tetap sebagai listrik, bukan sesuatu yang di luar listrik. Namun, ada orang-orang Kristen yang mengatakan ketika Roh itu masuk ke dalam kita, Allah Bapa tertinggal di atas takhta di surga. Tidak, ketika Roh itu mencapai kita, itulah Allah sendiri yang mencapai kita.
JARINGAN KAWAT LISTRIK
DAN KABEL BAWAH TANAH
Roh itu misterius, abstrak, dan sukar dipahami. Tetapi bersama dengan Roh itu, kita mempunyai firman. Sekali lagi kita memakai contoh listrik, kita boleh mengibaratkan seperti jaringan kawat listrik dan kabel bawah tanah. Roh itu dapat diibaratkan dengan jaringan kawat listrik dan firman itu ibarat kabel bawah tanah. Melalui jaringan kawat listrik, dan kabel bawah tanah, kita mengalami transmisi listrik. Jika kita mempunyai Roh tanpa firman atau mempunyai firman tanpa Roh, kita tidak mungkin menerima transmisi ilahi ini. Roh itu dan firman itu, jaringan kawat listrik itu dan kabel bawah tanah itu, kedua-duanya kita perlukan.
DUA EKSTREM
Di kalangan orang Kristen hari ini, golongan funda-mental dan golongan Pentakosta masing-masing mewakili satu ekstrem. Golongan fundamental memperhatikan firman, namun mereka sering mengabaikan Roh itu, ini adalah satu ekstrem. Pada aspek lain, kebanyakan pengikut Pentakosta memperhatikan Roh, namun mengabaikan firman, ini adalah ekstrem lain. Kita tidak seharusnya berada pada kedua ekstrem tersebut, tetapi kita harus seimbang: memperhatikan Roh juga firman. Kita memiliki Roh itu dalam batin, dan kita memiliki firman, Alkitab, di tangan kita.
MENERIMA FIRMAN DENGAN DOA
Dalam Efesus 6:17-18 Paulus menyuruh kita menerima pedang Roh itu, yaitu firman Allah, dengan segala doa dan permohonan. Di sini Paulus membahas aspek-aspek baik dari firman maupun dari Roh itu. Selain itu, ia menyuruh kita menerima firman Allah dengan segala doa dan permohonan, berdoa setiap saat di dalam roh. Kita dapat menerima firman Allah dengan berbagai jenis doa; doa bersuara atau doa dalam batin, doa panjang atau pendek, doa cepat atau doa perlahan, doa pribadi atau doa umum.
Menerima firman Allah dengan doa berarti mendoabacakan firman. Setiap kali kita datang kepada firman Allah, janganlah kita semata-mata melatih mata kita untuk membaca atau pikiran kita untuk memahaminya, tetapi harus juga melatih roh kita. Saya dapat bersaksi dari pengalaman, jika kita menyentuh Alkitab tanpa berdoa, hanya memakai mata dan pikiran kita, Alkitab akan menjadi huruf-huruf yang mati bagi kita. Pembacaan Alkitab kita harus dibaurkan dengan doa, inilah yang disebut “doa-baca”. Sebagai contoh, ketika kita mendoabacakan Kejadian 1:1 kita boleh berkata, “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. Pada mulanya, amin. Tuhan, syukur kepada-Mu, pada mulanya. Oh, pada mulanya Allah sudah ada. Tuhan, terima kasih, Dikaulah permulaan, Dikaulah asal usul.” Ketika kita mendoabacakan firman dengan cara demikian, firman bagi kita akan menjadi nafas hidup Allah, yaitu Roh itu. Hasilnya, kita akan didiris, dirawat, disegarkan, dan diterangi. Alkitab sekali-kali tidak menjadi buku yang tertulis dengan huruf-huruf mati, melainkan menjadi Roh yang merawat kita dalam pengalaman kita.
Dalam Efesus 6:17-18 Paulus dengan tegas menyuruh kita menerima firman Allah dengan doa. Ada orang-orang yang menentang praktek doa-baca mengatakan bahwa ayat-ayat itu tidak dapat diterapkan dengan cara demikian. Namun, menurut teks bahasa Yunani, kita harus mengatakan bahwa kita wajib menerima firman Allah dengan doa atau melalui doa. Di sini Paulus menyuruh kita menerima firman Allah sekaligus memberi kita cara untuk menerimanya, yakni dengan doa. Karena itu, kita tidak dapat menyangkal bahwa dalam Alkitab memang ada praktek mendoabacakan firman Allah.
Kita perlu membaca firman dan menerimanya dengan doa. Sepanjang abad banyak orang kudus telah mempraktekkan prinsip ini. Ada orang yang mengatakan bahwa kita perlu berdoa ketika membaca Alkitab. Lainnya menunjukkan bahwa kita harus membaca Alkitab dengan sikap berdoa. Membaca Alkitab dengan sikap berdoa berarti mendoa-bacakan firman. Banyak sekali anak Allah yang telah mempraktekkan doa baca tanpa mengetahui istilah ini. Ketika mereka membaca firman dengan spontan mereka berdoa dengan firman itu atau melalui firman itu. Saya percaya sebelum Anda mendengar istilah doa baca, Anda mungkin sudah mendoabacakan Yohanes 3:16. Anda mungkin telah membaca perkataan “Karena Allah begitu mengasihi dunia ini”, kemudian berdoa, “Ya Allah, terima kasih kepada-Mu karena Engkau mengasihi dunia. Bapa, aku bersyukur kepada-Mu bahwa Engkau mengasihi aku. Bahkan Engkau mengasihi aku sedemikian rupa, sehingga Engkau memberikan Putra-Mu kepadaku.” Inilah doa-baca.
MELATIH ROH KITA
Ketika kita mendoabacakan firman, kita melatih roh kita. Sebagai orang-orang yang telah diselamatkan dan dilahirkan kembali, kita memiliki Roh Allah dalam roh kita. Jadi, ketika melatih roh kita pada waktu mendoabacakan firman, kita menerapkan firman untuk kita dan membaurkan firman dan Roh itu. Segera itu pula, kita menerima suplai yang limpah lengkap dari Roh itu.
RESEP DAN DOSIS
Alkitab mewahyukan bahwa Kristus adalah Allah juga perwujudan Allah. Pada suatu hari, Kristus menjadi manusia. Selama hidup-Nya di bumi, Ia menempuh hidup insani yang tertinggi. Melalui penyaliban dan kebangkitan, sifat insani-Nya telah ditinggikan dan dibawa ke dalam sifat ilahi. Setelah menempuh kehidupan yang ajaib dan sempurna di bumi, Tuhan Yesus pergi ke salib dan mati karena dosa-dosa kita, menggenapkan suatu penebusan yang penuh, lengkap, dan sempurna. Pada hari ketiga, Dia telah bangkit. Dalam kenaikan-Nya, Ia dimuliakan, dimahkotai, dan naik takhta; Ia menerima jabatan sebagai Kepala, sebagai Tuhan, dan sebagai Raja. Selain hal-hal yang amat penting ini, Alkitab juga mewahyukan bahwa ketika Kristus dibangkitkan Ia telah menjadi Roh pemberi-hayat (1Kor. 15:45). Sekarang Roh pemberi-hayat ini berhuni di dalam roh kita yang telah dilahirkan kembali.
Roh pemberi-hayat mencakup sifat ilahi Kristus, sifat insani-Nya yang telah ditinggikan dan dibangkitkan, kehidupan insani-Nya yang sempurna yaitu ekspresi Allah, khasiat kematian-Nya yang almuhit untuk penggenapan penebus-an, kuasa kebangkitan-Nya yang memberikan hayat dan sifat ilahi serta sifat insani Kristus yang telah ditinggikan ke dalam kita, juga dan kenaikan-Nya dengan jabatan sebagai Kepala, sebagai Tuhan, dan sebagai Raja. Semua ini adalah unsur-unsur dari Roh majemuk itu. Namun, jika kita tidak memiliki Alkitab, kita tidak dapat mengetahui hal-hal tersebut. Kita tidak mengetahui apakah unsur-unsur yang terdapat dalam “dosis” almuhit ini. Oh, betapa ajaibnya kekayaan yang membentuk suplai yang limpah lengkap dari Roh itu! Kita dapat menerapkan kekayaan-kekayaan dalam suplai yang limpah lengkap atas segala lingkungan kita.
Puji Tuhan kita memiliki Roh dan firman! Seperti telah kita tunjukkan berulang-ulang, Roh dan firman adalah satu. Firman adalah resepnya dan Roh adalah penerapannya. Melalui membaca firman kita mengetahui apa yang kita terima dalam suplai Roh yang limpah lengkap itu. Melalui firman kita mengenal bahwa kita menerima sifat ilahi, sifat insani, kehidupan insani, kematian almuhit, kebangkitan, dan kenaikan Kristus. Selain itu, kita memahami bahwa kita adalah satu dengan Kristus di dalam jabatan-Nya sebagai Kepala, sebagai Tuhan, dan sebagai Raja. Semua unsur ini tercakup di dalam Roh majemuk. Semua adalah aspek-aspek dari suplai Roh yang limpah lengkap. Haleluya, sekarang kita dapat memperhidupkan Kristus melalui menerima firman oleh Roh itu.