MEMPERHIDUPKAN KRISTUS MELALUI ROH ITU
Pembacaan Alkitab:
Flp. 1:19-21; Yoh. 14:17-20; 6:57, 63; 2Kor. 3:6b, 17a; Gal. 5:25; 1Tes. 5:17-19
Pada waktu saya baru menjadi orang Kristen, tidak ada seorang pun yang memberi tahu saya apakah sasaran menjadi orang Kristen. Tentu saja saya menerima ajaran bahwa kita diselamatkan supaya bisa masuk surga. Kesan yang saya terima tentang menjadi orang Kristen tidak lain hanya masuk surga belaka. Kita menganggap surga itulah nasib yang ditakdirkan Allah bagi semua orang yang percaya kepada Kristus. Akan tetapi, akhirnya saya nampak bahwa sasaran menjadi orang Kristen adalah memperhidupkan Kristus. Tidak hanya demikian, nasib yang ditakdirkan Allah bagi kita dalam ekonomi-Nya juga adalah agar kita bisa memperhidupkan Kristus. Kristus adalah jalan kita, sasaran kita, nasib kita, dan tujuan kita.
MEMPERHIDUPKAN KRISTUS
Saya tidak yakin sampai pada tahun 1970-an, orangorang Kristen sudah mengenal istilah “memperhidupkan Kristus”. Istilah ini bahkan tidak diketahui pula di kalangan kita dalam pemulihan Tuhan. Kita pernah mendengar tentang hidup bagi Kristus, menyatakan Kristus, dan hidup oleh Kristus, namun bukan memperhidupkan Kristus. Ini adalah sebuah istilah baru. Hidup oleh (bersandarkan) Kristus, hidup bagi Kristus, dan menyatakan Kristus, sedikit berbeda dengan memperhidupkan Kristus.
Kita dapat lebih mudah mengenal apa artinya mem-perhidupkan Kristus melalui membaca Injil Yohanes. Injil ini mewahyukan bahwa Kristus, Firman itu, adalah Allah (1:1). Pada suatu hari Firman itu menjadi daging (1:14), yakni Allah telah berinkarnasi. Mengenai Firman yang telah menjadi daging, Yohanes Pembaptis menerangkan, “Lihatlah Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia” (1:29). Injil Yohanes 3 membicarakan kelahiran kembali. Di sini kita nampak bahwa kita harus dilahirkan oleh Allah melalui Roh dalam roh kita.
Dalam Yohanes 14 Tuhan Yesus berkata, “Siapa saja yang telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa” (ayat 9). Tuhan juga berkata selanjutnya, “Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku” (ayat 11). Tuhan Yesus esa dengan Bapa. Melihat Dia berarti melihat Bapa. Dalam pasal ini Tuhan Yesus juga membicarakan Roh realitas dan memberi tahu para murid bahwa Roh realitas itu akan tinggal bersama-sama dengan mereka dan akan diam di dalam mereka (ayat 17). Tuhan Yesus menunjukkan, bila Roh realitas itu datang, Ia sendiri yang akan datang. Ayat 19 mengatakan, “Sebab Aku hidup dan kamu pun akan hidup.” Ayat 20 melanjutkan, “Pada waktu itulah kamu akan tahu bahwa Aku di dalam Bapa-Ku dan kamu di dalam Aku dan Aku di dalam kamu.” Di sini kita hidup bersama dengan Kristus. Kita berada dalam Kristus, dan Kristus berada dalam kita. Ini berarti kita dengan Dia hidup bersama. Dia hidup, kita pun hidup. Kita hidup di dalam Dia, oleh Dia, bersama Dia, bahkan memperhidupkan Dia.
Dalam Yohanes 15 Tuhan memberikan ilustrasi yang sangat mengesankan tentang pokok anggur dan ranting-rantingnya. Tuhan berkata, “Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya” (ayat 5). Ranting-ranting justru adalah kehidupan pokok anggur itu.
MENERIMA NAFAS KUDUS
Setelah Tuhan Yesus memasuki kebangkitan, Ia datang kepada murid-murid-Nya. Menurut Yohanes 20:22, “Ia menghembusi mereka dan berkata, ‘Terimalah Roh Kudus.’” Kata “roh” dalam bahasa Yunaninya adalah “pneuma”, juga berarti “nafas” atau “udara”. Ini menunjukkan bahwa Tuhan Yesus menyuruh murid-murid menerima nafas kudus. Injil Yohanes memulai dengan Firman dan berlanjut membicarakan Anak Domba dan pokok anggur. Terakhir, dalam Yohanes 20:22, kita nampak bahwa Dia yang adalah Firman, Anak Domba, dan pokok anggur ini juga adalah nafas atau udara untuk kita terima. Di satu aspek, Ia terhembus ke luar, di aspek lain, para murid menghirup ke dalam.
Dalam Yohanes 20:22 Tuhan Yesus menyuruh murid-murid menerima nafas kudus, Roh Kudus. Kita tidak seharusnya menganalisis nafas, tetapi menerimanya melalui menghirupnya ke dalam kita. Sangat disayangkan, banyak orang Kristen hari ini hanya tahu menyelidiki dan mempertimbangkan, mereka tidak mempunyai pengalaman bernafas atau “menghirup udara” ini. A. B. Simpson adalah orang yang mengetahui pengalaman bernafas di dalam Kristus. Satu dari kidungnya dimulai dengan kata-kata: “Padaku hembuslah Roh-Mu, ajarku menghirup-Mu” (Kidung No. 210).
Dalam Injil Yohanes kita nampak satu catatan tentang proses ilahi. Firman yang adalah Allah telah menjadi daging. Akhirnya, setelah melalui penyaliban dan kebangkitan, Dia menjadi nafas kudus agar kita dapat menghirupnya.
Jika kita melihat langkah-langkah proses ini, kita akan memiliki satu pengertian yang tepat dan tuntas atas Injil Yohanes. Menurut Yohanes 1:1 dan 14, Firman yang pada mulanya bersama-sama dengan Allah dan yang adalah Allah, telah menjadi daging. Dalam ayat 29 kita nampak bahwa Firman yang menjadi daging adalah Anak Domba Allah. Di satu pihak, Dia adalah Anak Domba bagi penggenapan penebusan, di pihak lain, Dia adalah pohon bagi penyaluran hayat. Karena itu, kita boleh mengatakan Dia adalah sebagai Pohon-Anak Domba. Menurut Yohanes 15, ranting-ranting pokok anggur adalah kehidupan pokok anggur itu. Terakhir, Pohon-Anak Domba itu menjadi nafas kudus. Haleluya! Dalam pengalaman kita, kita memiliki Kristus sebagai Firman, Anak domba, pohon dan nafas. Firman untuk ekspresi, Anak Domba untuk penebusan, pohon untuk penyaluran hayat, dan nafas untuk kehidupan kita.
Kita tidak dapat hidup tanpa nafas. Untuk menyebut orang mati, kelompok orang tertentu mengatakan bahwa orang itu telah putus nafas. Sudah tentu, putus hayat berarti mati; namun hidup berarti bernafas terus-menerus. Tak peduli kita telah lulus dari berapa sekolah, kita tidak pernah lulus dari bernafas. Tidak ada orang yang dapat berkata karena ia sudah banyak pengetahuan atau matang, maka ia tidak perlu bernafas lagi. Sebaliknya, orang yang semakin berusia semakin memperhatikan pernafasannya. Alangkah ajaibnya, untuk hayat rohani kita, kita memiliki nafas kudus untuk eksistensi kita!
KEHIDUPAN YANG SALING HUNI
Injil Yohanes mewahyukan, sebagai orang-orang yang percaya kepada Kristus, kita perlu memperhidupkan Kristus. Yohanes 6:57 mengatakan, “Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga siapa saja yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku.” Seperti halnya Tuhan Yesus hidup oleh Bapa, kita pun harus hidup oleh-Nya. Seperti telah kita tunjukkan, Tuhan Yesus berkata tentang hari kebangkitan-Nya, “Pada waktu itulah kamu akan tahu bahwa Aku di dalam Bapa-Ku dan kamu di dalam Aku dan Aku di dalam kamu” (Yoh. 14:20). Dia juga berkata bahwa karena Dia hidup, maka kita juga akan hidup (ayat 19). Berdasarkan Yohanes 14:19 dan 20, kita hidup di dalam Kristus secara timbal balik atau saling huni. Dia hidup di dalam Bapa, kita hidup di dalam Dia, dan Dia hidup di dalam kita. Kita tidak saja eksis bersama (coexist) dengan Kristus, kita pun saling huni (coinhere) dengan-Nya. Ini berarti Dia hidup di dalam kita dan kita hidup di dalam Dia. Alangkah ajaibnya kehidupan yang saling huni ini!
Kita memiliki kehidupan yang saling huni dengan Kristus karena Dia bukan hanya Firman, Anak Domba, pohon, juga nafas, Roh itu. Kalau Dia hanya sebagai Firman, Anak Domba, dan pohon, kita tak dapat hidup di dalam Dia, dan Dia pun tak dapat hidup di dalam kita. Puji Tuhan, hari ini Dia tidak hanya sebagai Firman, Anak Domba, dan pohon, tetapi juga sebagai pneuma, nafas, Roh itu!
BERDOA DENGAN TIDAK HENTI-HENTINYA
Dalam 1Tesalonika 5:17 Paulus menyuruh kita untuk tetap berdoa (tidak henti-hentinya berdoa). Apakah artinya tidak henti-hentinya berdoa? Walaupun kita bisa makan beberapa kali setiap hari dan minum beberapa kali dalam sehari, namun tidak seorang pun yang dapat makan dan minum tanpa berhenti. Tetapi kita benar-benar bernafas dengan tidak henti-hentinya. Pesan Paulus untuk berdoa dengan tidak henti-hentinya menyiratkan bahwa berdoa dengan tidak henti-hentinya itu seperti pernafasan. Namun, bagaimanakah doa kita dapat menjadi pernafasan rohani? Bagaimana kita dapat mengalihkan doa menjadi pernafasan? Caranya ialah berseru kepada nama Tuhan. Kita wajib berseru kepada nama Tuhan secara terus-menerus. Inilah jalan untuk bernafas, berdoa dengan tidak henti-hentinya. Karena kita tidak biasa melakukan hal ini, maka kita perlu berlatih berseru kepada nama Tuhan sepanjang waktu. Hidup adalah bernafas. Secara rohani, bernafas adalah berseru kepada nama Tuhan Yesus dan berdoa. Dengan menyeru nama Tuhan Yesus kita akan menghirup Roh itu.
Setelah Paulus menyuruh kita berdoa dengan tidak henti-hentinya dan mengucap syukur dalam segala hal, ia lalu menyuruh kita untuk tidak memadamkan Roh itu (1Tes. 5:19). Ini menunjukkan jika kita tidak berdoa dan mengucap syukur, berarti kita memadamkan Roh itu. Berhenti berdoa berarti berhenti bernafas. Jadi, memadamkan Roh itu berarti berhenti bernapas.
Dalam 1Tesalonika 5:19 Paulus membicarakan Roh itu, tidak membicarakan Roh Allah atau Roh Kudus. Kita telah mengetahui, menurut Perjanjian Baru, Roh itu adalah Allah Tritunggal yang telah melalui proses menjadi Roh pemberi-hayat. Jika kita tidak menyeru nama Tuhan, kita akan memadamkan Roh itu.
BERNAFAS UNTUK MEMPERHIDUPKAN KRISTUS
Sebagaimana untuk hidup secara jasmani kita harus bernafas, kita pun harus bernafas secara rohani, agar kita dapat memperhidupkan Kristus. Jalan untuk bernafas secara rohani ialah menyeru nama Tuhan. Dari pengalaman saya telah belajar bahwa jalan untuk memperhidupkan Kristus ialah berseru kepada-Nya secara terus-menerus. Tidaklah cukup kalau kita hanya berdoa beberapa kali saja pada pagi, siang, sore, atau malam. Jika kita berdoa pada waktu-waktu itu saja, tanpa berseru kepada Tuhan secara terus-menerus, kita akan memadamkan Roh itu. Kita perlu berseru kepada Tuhan sehari suntuk, tidak peduli di mana kita berada dan apa yang sedang kita lakukan. Apa pun yang sedang kita lakukan, kita harus berseru kepada Tuhan Yesus. Saya dapat bersaksi bahkan pada saat saya berbicara bagi Tuhan, saya pun berseru kepada Tuhan dan menghirup Dia dalam lubuk batin saya.
Dalam setiap situasi, bahkan ketika Anda hampir ma-rah, Anda wajib menyeru nama Tuhan. Melalui berseru kepada Tuhan, Anda akan memperhidupkan Kristus. Namun, jika Anda mengambil keputusan untuk tidak marah, Anda akan gagal. Temperamen Anda akan menjadi lebih buruk. Janganlah mencoba mengontrol temperamen Anda, beralih saja kepada Tuhan dan berseru kepada-Nya, “Tuhan Yesus, aku cinta kepada-Mu. Tuhan, aku hampir marah-marah. Bersatulah denganku pada saat ini.” Jika Anda berbuat demikian, Anda akan diselamatkan dari temperamen Anda, dan Anda akan memperhidupkan Kristus.
Berdoa dengan tidak henti-hentinya melalui berseru kepada Tuhan berarti memperhidupkan Dia. Melalui berseru kepada Tuhan, dengan otomatis kita akan menerima Dia sebagai hayat kita dan dengan spontan memperhidupkan Dia. Jika kita berdoa, kita tidak akan melakukan sesuatu berdasarkan diri kita sendiri di luar Kristus. Sebaliknya, melalui berdoa yang tidak henti-hentinya, kita akan memperhidupkan Kristus.
Kristus bukan hanya hayat kita, tetapi juga nafas kita. Sudahkah Anda memahami bahwa Kristus adalah nafas Anda? Jika Anda sehari suntuk bernafaskan Dia, Anda akan memperhidupkan Dia. Setelah meraba-raba bertahun-tahun lamanya baru saya mengerti bahwa jalan untuk memperhidupkan Kristus ialah bernafaskan Dia, dan jalan untuk ini ialah berseru kepada-Nya dengan tidak henti-hentinya.
Dalam 1Timotius 6:12 Paulus berkata, “. . . rebutlah hidup yang kekal. Untuk itulah engkau telah dipanggil.” Kita telah dipanggil untuk hayat yang kekal. Sekarang kita wajib merebut hayat ini melalui berseru kepada Tuhan sepanjang hari. Dengan berseru kepada-Nya, kita akan bernafaskan Dia.
Alkitab mewahyukan bahwa Allah kita hari ini sangat ajaib. Ia menciptakan alam semesta dan segala sesuatu yang di dalamnya menurut rencana-Nya. Pada suatu hari, Kristus, Allah sendiri, berinkarnasi, dilahirkan oleh seorang dara. Setelah hidup di bumi tiga puluh tiga setengah tahun, Ia disalibkan untuk menebus kita melalui menghapus dosa-dosa kita. Di atas salib, Tuhan Yesus juga menghancurkan musuh-Nya, yakni Iblis. Kemudian, Ia dikubur dan masuk ke dalam alam maut. Setelah berwisata ke dalam wilayah maut, Ia muncul lagi dalam kebangkitan. Menurut Kisah Para Rasul 2:24, alam maut mengerahkan kekuatannya untuk menahan Dia, tetapi sia-sia belaka. Sebagai hayat kebangkitan, Ia tidak dapat ditahan oleh maut. Ketika Ia memasuki kebangkitan, tubuh jasmani-Nya berubah men-jadi tubuh rohani yang mulia. Dalam kebangkitan, Kristus tetap memiliki satu tubuh. Ini adalah fakta. Namun, Alkitab juga mewahyukan bahwa dalam kebangkitan Ia menjadi Roh pemberi-hayat: “Adam yang terakhir menjadi Roh pemberi-hayat (yang menghidupkan, LAI)” (1Kor. 15:45). Roh ini kini adalah nafas kita.
Dua Korintus 3:6 mengatakan, “Hukum yang tertulis mematikan, tetapi Roh menghidupkan.” Menurut Perjanjian Baru terjemahan Darby, ayat 7-16 adalah kalimat dalam tanda kurung. Ini menunjukkan bahwa Darby menganggap ayat 17 sebagai lanjutan langsung dari ayat 6. Ayat 17 menerangkan, “Sebab Tuhan adalah Roh.” Tuhan adalah Roh yang memberi hayat, dan Roh ini adalah nafas kita.
Di satu pihak, Tuhan kini berada di takhta di surga. Kita menyembah Dia, menjunjung Dia, dan memuji Dia sebagai Tuhan kita yang telah naik ke surga dan dinobatkan. Di pihak lain, Dia kini beserta dengan kita di bumi. Begitu seseorang percaya kepada-Nya, Dia segera masuk ke dalamnya dan memeteraikannya. Meterai ini sebenarnya adalah Tuhan sendiri. Ini berarti bila kita berseru kepada Tuhan dan percaya kepada-Nya, Dia akan melekatkan diri-Nya pada kita dan membuat kita melekat pada-Nya. Mulai saat itu dan seterusnya Dia dengan kita adalah esa. “Tetapi siapa yang mengikatkan dirinya pada Tuhan, menjadi satu roh dengan Dia” (1Kor. 6:17).
MENERIMA ROH ITU MELALUI
MENYERU NAMA TUHAN
Karena kekurangan pengetahuan, ada orang-orang Kristen yang melakukan hal-hal yang aneh-aneh dengan harapan dapat mengalami Roh itu. Beberapa orang mengajarkan bahwa untuk menerima Roh itu orang harus melompat-lompat, berteriak, gemetar, atau menggoyang-goyangkan kursi (seperti yang dipraktekkan sekelompok orang Kristen di Taiwan). Padahal untuk menerima Roh pemberi-hayat ini tidaklah perlu melakukan hal-hal tersebut. Kita hanya perlu melatih roh kita dan menyeru nama Tuhan Yesus. Kita pun dapat mengambil bagian dalam kenikmatan ini melalui mendoabacakan Firman. Saya ulangi, apa pun yang sedang Anda lakukan, serulah nama Tuhan Yesus. Jika Anda menyeru dengan tidak henti-hentinya, Anda tidak akan memadamkan Roh itu.
Saya dapat bersaksi dari pengalaman saya sendiri, bila saya tidak berseru kepada Tuhan, saya tidak dapat menempuh hidup. Namun, bila saya berseru kepada-Nya, setiap hal akan menjadi beres. Ketika Anda menyapa seseorang dan bertanya apa kabar, sering kali ia menjawab, “Baik-baik saja.” Padahal sebagian besar orang tidak baik. Hanya orang-orang yang berseru kepada Tuhan Yesus dengan tidak henti-hentinya barulah benar-benar dapat berkata bahwa mereka baik. Kita sering dirisaukan oleh hal-hal kecil dalam kehidupan sehari-hari kita. Mungkin mobil kita susah distarter, atau tali sepatu kita putus. Hal-hal seperti ini dapat membuat kita jengkel dan marah. Bila Anda sedang jengkel karena mobil atau tali sepatu Anda, dapatkah Anda berkata dengan jujur bahwa Anda baik? Saya ulangi, hanya orang-orang yang menyeru nama Tuhan Yesus yang benar-benar baik.
Tidak perlu selalu berseru kepada Tuhan secara sengaja, kita boleh berseru kepada-Nya dalam lubuk hati di luar kesadaran, dan tidak secara sengaja. Inilah pernafasan yang sejati. Pernafasan tidaklah disengaja. Mari kita bina kebiasaan menyeru nama Tuhan sampai kita berseru dengan sendirinya, tanpa disengaja.
MENERAPKAN TUHAN DAN MENIKMATI DIA
Kita seharusnya menjadi orang-orang yang tidak memperhatikan teologi sistematis, melainkan memperhatikan kenikmatan yang tepat dan kaya akan Tuhan kita yang hidup. Dialah Allah, Firman, Anak Domba, pohon, dan Roh pemberi-hayat sebagai nafas kita yang seketika dan tersedia. Dia telah menebus kita dengan darah-Nya, kini, sebagai Roh itu, Dia berhuni dalam kita. Kita tinggal dalam dia dan Dia di dalam kita. Sebagai ranting-ranting pokok anggur, kita sehayat dengan pokok anggur dan mengalami hayat pokok anggur yang mengalir dalam batin. Alangkah ajaibnya keselamatan yang kita nikmati hari ini! Allah Tritunggal telah melalui satu proses hingga menjadi nafas kita. Sekarang, melalui menyeru nama Tuhan Yesus, kita menghirup Dia.
Ketika kita menerima Dia melalui menyeru nama-Nya, kita menerapkan Dia ke atas diri kita. Kemudian, kita akan mempunyai perasaan yang dalam bahwa kita sedang menikmati Dia. Saya tidak dapat menyangkal satu fakta, yaitu kapan saja saya menyeru Tuhan Yesus, saya memiliki perasaan yang manis dalam batin. Oh, Dia mendiris, me-nyegarkan, merawat, menguatkan, dan menerangi saya! Alangkah nikmatnya Dia, sehingga saya kadang-kadang lupa diri karena sukacita. Allah yang melalui proses begitu besar, namun Dia begitu mudah dinikmati dan diperoleh.
Saya menganjuri kalian untuk berseru kepada Tuhan, berkatalah kepada-Nya, “Tuhan Yesus, aku cinta kepada-Mu.” Bila Anda menikmati Tuhan dengan cara demikian, Anda akan mencucurkan air mata sambil merasakan kemanisan, kasih, dan kemustikaan-Nya. Ketika kita berseru kepada-Nya, Ia menjamah batin kita. Ini adalah pengalaman yang sesungguhnya akan Kristus yang hidup melalui bernafaskan udara kudus. Semoga kita semua lebih banyak melatih diri kita sendiri untuk menerima dan menikmati nafas kudus ini.