← Daftar isi Filipi (1) · bab 11/20

SUPLAI YANG LIMPAH LENGKAP DARI ROH YESUS KRISTUS UNTUK MEMPERBESAR KRISTUS

Pembacaan Alkitab: Flp. 1:19-20; Kel. 30:23-30

Dalam berita terdahulu kita telah membahas empat istilah penting: anugerah, keselamatan, Roh itu, dan Kristus. Dalam berita ini kita akan maju membahas suplai yang limpah lengkap dari Roh Yesus Kristus untuk memperbesar Kristus.

Seperti telah kita tunjukkan, banyak orang Kristen mempunyai kebiasaan, mungkin tanpa disadari, yaitu menganggap hal-hal dalam Alkitab memang semestinya demikian. Karena mereka hafal dengan kata-kata yang mereka baca, mereka mengira semua itu memang semestinya begitu, dan mengira mereka sudah paham. Tidak banyak yang mengembangkan kebiasaan menanyakan makna berbagai kata, istilah, dan ungkapan. Sebagai contoh, ketika kita menjumpai ungkapan “anugerahku”, kita wajib bertanya kepada Tuhan apakah maknanya. Demikian pula, ketika membaca 1:19 kita wajib bertanya mengapa Paulus mengatakan Roh Yesus Kristus, bukan Roh Kudus atau Roh Allah. Mengapa di sini Paulus mengatakan “suplai yang limpah lengkap” dari Roh itu? (Tl.). Penggunaan kata sandang tentu dalam bahasa aslinya mengandung arti penekanan. Orang Kristen terbiasa mengatakan Roh Kudus atau Roh Allah, tetapi jarang mengatakan Roh Yesus Kristus. Janganlah kita menganggap 1:19 memang semestinya begitu. Kita harus bertanya, mengapa Paulus memakai istilah yang khusus ini untuk menerangkan Roh itu.

Selain itu, ketika membaca ayat 20, kita harus bertanya mengapa Paulus menggunakan istilah memperbesar (magnify). Mengapa ia di sini tidak berkata “Kristus akan diekspresikan”? Mengapa ia mengatakan memperbesar, bukan mewujudkan? Kita semua perlu membina kebiasaan mengajukan pertanyaan-pertanyaan seperti ini ketika kita membaca Alkitab.

Jika kita mengembangkan kebiasaan ini dalam membaca 1:21, kita akan bertanya mengapa Paulus mengatakan “hidup adalah Kristus”. Mengapa ia tidak mengatakan “berperilaku adalah Kristus”, atau “bertindak tanduk adalah Kristus”? Mengapa ia memakai kata hidup? Jangan kita anggap itu memang semestinya demikian, kita perlu mengajukan pertanyaan-pertanyaan seperti demikian.

KESELAMATAN SETIAP HARI

Filipi 1:18-21 adalah kalimat panjang. Titik penting dalam kalimat ini terdapat dalam ayat 19 dan 20, di mana Paulus berkata bahwa dalam segala hal ia tidak akan beroleh malu, melainkan Kristus akan diperbesar di dalam tubuhnya. Paulus tahu bahwa situasinya akan berubah menjadi semacam keselamatan istimewa baginya, yaitu satu keselamatan setiap hari, pribadi, dan seketika. Sama dengan Paulus, kita telah menerima keselamatan kekal. Tetapi selain keselamatan ini, kita masih perlu keselamatan setiap hari, satu keselamatan yang dapat kita alami dari saat ke saat. Sebagai contoh, boleh jadi satu menit yang lalu seorang saudara sangat baik terhadap istrinya, tetapi sekarang ia justru berlawanan; bahkan dapat kita katakan perilakunya seperti setan. Dari pengalaman kita tahu, pada suatu saat kita mungkin menempuh hidup sebagai orang kudus sejati, tetapi pada saat berikutnya tingkah kita seperti tingkah Iblis. Hal ini disebabkan dalam sejangka waktu kita telah kehilangan keselamatan pribadi dan keselamatan setiap hari. Namun kita dapat beralih secepatnya kepada Tuhan dan melanjutkan pengalaman kita atas keselamatan-Nya saat demi saat.

Keselamatan yang dibicarakan Paulus dalam 1:19 bukan keselamatan kekal; bukan keselamatan dari hukuman Allah atau neraka. Sebaliknya, inilah keselamatan setiap hari, keselamatan yang berkesinambungan, yang dapat diterapkan setiap saat. Dengan mengalami keselamatan yang demikian, Paulus berharap tidak peduli keadaan, lingkungan, atau kesengsaraan apa pun yang terjadi, ia tidak akan beroleh malu. Sebaliknya, Kristus akan diperbesar di dalam tubuhnya.

Misalkan seorang saudara dalam sidang dapat berdoa dengan lancar dan bebas mengenai memperhidupkan Kristus dan memperbesar Dia. Tetapi jika saudara itu di depan tamu-tamu yang diundangnya makan malam menyatakan rasa kejengkelan atau kemarahan terhadap istrinya, ia akan beroleh malu. Orang lain tidak mungkin nampak perbesaran Kristus di wajahnya. Tetapi, kalau tidak peduli si-tuasi apa pun yang terjadi di rumahnya, wajah saudara itu berseri-seri karena Tuhan, keadaan ini akan menjadi contoh yang sejati dan mulia dari diperbesarnya Kristus di dalam tubuh saudara itu.

Setiap kali kita gagal memperhidupkan dan memperbesar Kristus, kita akan beroleh malu. Pengharapan Paulus dalam Filipi 1 ialah, agar keadaannya bisa beralih menjadi keselamatannya, sehingga dalam segala hal ia tidak beroleh malu, melainkan Kristus diperbesar dalam tubuhnya. Inilah keselamatan Paulus.

Paulus adalah seorang Yahudi asli, dipenjara oleh penjajah Romawi. Setidak-tidaknya ada sebagian waktu dalam tiap hari ia diborgol bersama seorang sipir. Selain itu, karena dipenjara ia tak dapat bekerja bagi Tuhan. Tidak diragukan, dalam lingkungan semacam itu siapa pun sukar sekali berseri-seri, sebaliknya sangatlah mudah menampilkan air muka yang sedih atau kecewa. Jika Paulus memperlihatkan tanda kesedihan yang demikian, ia akan beroleh malu. Namun ia berharap bahwa ia tidak beroleh malu dalam perkara apa pun. Sebaliknya, semakin ia menderita, wajahnya semakin bercahaya karena Tuhan. Paulus sama sekali tidak beroleh malu, malahan memperbesar Kristus dalam tubuhnya. Inilah keselamatan yang didambakan untuk dialaminya di dalam penjara.

Ada beberapa kali saya merasa dipermalukan ketika saya diundang makan malam di rumah saudara. Bahkan pada waktu makan, saudara tersebut marah terhadap istrinya. Ketika hal itu terjadi, saya merasa malu. Saudara tersebut kekurangan keselamatan Allah yang seketika. Tidak ada keselamatan, yang ada hanya malu.

Dalam hal semacam ini pasti kekurangan Kristus. Namun, kekurangan ini sebenarnya adalah kurangnya suplai yang limpah lengkap dari Roh Yesus Kristus. Jika kita memiliki suplai yang limpah lengkap dari Roh Yesus Kristus, kita akan mengalami keselamatan yang seketika dan tetap. Dengan demikian kita tidak akan beroleh malu dalam segala hal, tetapi kita akan memperbesar Kristus dalam segala hal.

Beroleh malu berarti dikalahkan. Jika wajah Paulus menampilkan kesedihan dan kekecewaan, itu menandakan ia telah dikalahkan oleh para sipir, aniaya, ejekan, dan penderitaan. Jika kondisinya begitu, ia akan beroleh malu. Tetapi sekali lagi saya ingin tunjukkan, Paulus mengumumkan bahwa situasinya akan berubah menjadi keselamatan baginya. Tidak ada satu hal pun yang membuatnya malu, malah Kristus akan diperbesar di dalam tubuhnya.

SUPLAI TUBUH

Dalam berita ini kita akan membahas satu butir yang penting, yaitu bagaimana kita bisa memiliki keselamatan semacam ini. Perhatikan apa yang Paulus katakan dalam ayat 19: “Karena aku tahu bahwa kesudahan semuanya ini ialah keselamatanku oleh doamu dan suplai yang limpah lengkap dari Roh Yesus Kristus” (Tl.). Janganlah menganggap ayat ini memang semestinya demikian. Sebaliknya, pikirkanlah apakah makna istilah “doamu”. Banyak pembaca mungkin mengira ini hanya ditujukan kepada doa-doa kaum saleh yang memiliki kasih dan perhatian terhadap Paulus. Memang betul, doa di sini Paulus tujukan kepada doa-doa kaum saleh untuk dia. Tetapi, perkataan Paulus mengandung arti yang jauh lebih banyak daripada itu. Untuk memahami makna sepenuhnya dari frase ini kita perlu melihatnya di bawah sorotan terang ayat 7, di mana Paulus mengatakan kepada kaum saleh bahwa mereka mengambil bagian dalam anugerahnya pada waktu ia membela dan meneguhkan Injil. Jika kita menghubungkan ayat 7 dengan 19 kita akan nampak bahwa frase “doamu” menunjukkan suplai Tubuh. Kelihatannya Paulus berada di dalam penjara, sebenarnya ia berada di dalam Tubuh. Penjara tidak dapat mengucilkannya dari Tubuh, atau memutuskannya dari suplai Tubuh. Paulus memiliki perasaan yang jelas dalam batin bahwa ia berada dalam Tubuh dan segenap anggota Tubuh menyuplainya, mendukungnya, dan memihaknya.

Patut dicatat bahwa dalam 1:19 Paulus pertama-tama mengatakan doa kaum saleh, lalu suplai yang limpah lengkap dari Roh itu. Mengapa ia tidak mengatakan suplai yang limpah lengkap terlebih dulu? Itu disebabkan Roh berada di atas Tubuh. Mazmur 133 menerangkan hal ini: minyak urapan yang dicurahkan di atas kepala Harun dan mengalir turun ke tubuhnya. Ini menggambarkan fakta bahwa minyak urapan, suplai yang limpah lengkap dari Roh majemuk itu berada di atas Tubuh. Paulus menyadari bahwa ia bukan seluruh Tubuh, melainkan hanya salah satu anggota dari Tubuh. Sebagai satu anggota, ia perlu suplai Tubuh. Jika Tubuh bangun menyuplainya, maka suplai yang limpah lengkap dari Roh itu akan menimpanya melalui Tubuh.

Boleh jadi kita sering meminta kepada seorang saudara untuk mendoakan kita. Namun sekalipun ia mendoakan kita atau kita mendoakan dia, doa itu mungkin sedikit khasiatnya. Penyebab dari kurangnya khasiat itu ialah karena ketika kita berdoa kita telah terpisah dari Tubuh. Setiap kali kita berdiri di luar Tubuh pada waktu kita berdoa, doa kita akan menjadi kering, doa syafaat kita akan tidak berkhasiat. Minyak urapan tidak diberikan kepada kita secara perorangan, melainkan ke atas Tubuh.

Paulus dan kaum beriman di Filipi berada di dalam Tubuh. Karena Tubuh ini universal, walau Paulus jauh dari Filipi, mereka semua berada dalam satu Tubuh. Melalui doa permohonan semua anggota Tubuh, minyak urapan yang ada di atas Tubuh mengalir ke atas Paulus — salah satu anggota tubuh yang khas, dan menyuplai dia. Karena itu, Paulus bisa berkata bahwa melalui doa Tubuh dan suplai yang limpah lengkap dari Roh itu, keadaannya beralih menjadi keselamatannya.

Ketika mengatakan suplai yang limpah lengkap dari Roh itu, Paulus menggunakan sebuah kata Yunani yang istimewa — choragus. Secara harfiah kata Yunani ini mengacu kepada suplai segala kebutuhan kelompok paduan suara zaman dulu oleh pemimpin kelompoknya, yakni choragus. Dalam 1:19 Paulus memakai kata ini guna melukiskan suplai yang limpah lengkap dari Roh Yesus Kristus.

MINYAK URAPAN MAJEMUK

Kita melihat sebuah lukisan suplai Roh itu dalam Keluaran 30:23-30, satu bagian firman yang membicarakan minyak urapan majemuk. Karena hal-hal rohani begitu abstrak dan rahasia, maka kita perlu sesuatu yang di luar perkataan untuk dapat memahaminya. Karena alasan ini, dalam Alkitab, Tuhan menggunakan lukisan-lukisan di samping pernyataan langsung. Dalam Perjanjian Lama kita memiliki lambang-lambang, figur-figur, dan bayangan-bayangan dari hal rohani. Minyak urapan dalam Keluaran 30 adalah satu lambang yang melukiskan Roh itu.

Dalam Kejadian 1:2 kita nampak Roh Allah; dalam Filipi 1:19 kita nampak Roh Yesus Kristus; dan dalam Wahyu 22:17 kita hanya nampak Roh itu. Roh Allah aktif dalam penciptaan. Tetapi sehubungan dengan inkarnasi, Roh Allah disebut Roh Kudus (Mat. 1:20). Roh Kudus membuat unsur insani kudus bagi Allah. Itulah sebabnya istilah Roh Kudus dipakai dalam aspek inkarnasi. Setelah penyaliban dan kebangkitan Kristus, Roh ini disebut Roh Yesus Kristus, Roh dari persona yang menjadi seorang manusia, yang telah mati di atas salib, dan yang kini berada dalam kebangkitan. Roh Yesus Kristus bukan untuk penciptaan atau inkarnasi, melainkan untuk pengalaman kita atas penyaliban dan kebangkitan Kristus. Menurut Filipi 1:19, Roh Yesus Kristus adalah Roh yang limpah lengkap.

Syukur kepada Tuhan, dalam Keluaran 30:23-30 ada lambang minyak urapan kudus. Minyak urapan ini bukan hanya tersusun dari minyak, tetapi dari minyak yang dicampur dengan empat unsur lainnya. Minyak zaitun melambangkan Roh Allah. Minyak urapan kudus merupakan suatu ramuan dari minyak zaitun dengan empat rempah-rempah: mur, kayu manis, tebu, dan kayu teja. Setelah keempat rempah-rempah ini dicampur dengan minyak zaitun, maka minyak itu menjadi minyak urapan.

Rempah-rempah itu masing-masing mengandung makna rohani. Mur melambangkan kemanisan kematian Kristus, kayu manis melambangkan khasiat kematian Kristus, tebu adalah buluh yang bertumbuh dalam lingkungan yang berlumpur, melambangkan kebangkitan Kristus. Kayu teja adalah sejenis rempah-rempah untuk mengusir serangga, melambangkan kuasa kebangkitan Kristus. Karena itu, dalam keempat rempah-rempah ini kita nampak kemanisan dan khasiat kematian Kristus, kebangkitan Kristus, dan kuasa kebangkitan Kristus. Fakta bercampurnya keempat rempah-rempah dengan minyak zaitun melambangkan bahwa sesudah kebangkitan Kristus, Roh Allah menjadi Roh majemuk. Dalam Roh ini kita memiliki kemanisan kematian Kristus, khasiat kematian-Nya, dan kuasa kebangkitan Kristus.

Angka-angka yang dipakai dalam menakar minyak urapan kudus juga sangat bermakna. Dalam minyak urapan tersirat angka lima — minyak ditambah empat macam rempah-rempah. Satu adalah angka Allah, dan empat adalah angka manusia sebagai makhluk ciptaan. Angka lima melambangkan tanggung jawab; angka satu (Allah) ditambah dengan angka empat (manusia sebagai ciptaan Allah). Angka tiga tersirat oleh fakta keempat rempah-rempah adalah dalam tiga unit dari lima ratus syikal: lima ratus syikal mur; lima ratus syikal terdiri atas kayu manis dan tebu masing-masing dua ratus lima puluh syikal; dan lima ratus syikal kayu teja. Rempah-rempah yang kedua dan ketiga, kayu manis dan tebu, membentuk satu unit, sedangkan rempah-rempah yang pertama dan keempat, mur dan kayu teja, masing-masing merupakan satu unit yang lengkap. Ketiga unit tersebut menunjukkan Sang Tritunggal: Bapa, Putra, dan Roh. Unit kedua terbagi dalam dua takaran masing-masing dua ratus lima puluh syikal, fakta ini menunjukkan bahwa yang kedua dari Tritunggal, Sang Putra, telah terbelah di atas salib. Sebab itu, dalam penakaran rempah-rempah dan angka yang berkaitan dengan minyak urapan kita nampak manusia dan Allah Tritunggal, bahkan kita nampak wahyu tentang terbelahnya persona kedua dari Sang Tritunggal. Di sini kita memiliki sifat ilahi, sifat insani, penyaliban, kemanisan kematian Kristus, khasiat kematian-Nya, kebangkitan Kristus, dan kuasa kebangkitan-Nya. Inilah Roh majemuk.

MENERAPKAN ROH ITU

Pengertian sejati tentang Roh itu sangat kurang di kalangan orang Kristen hari ini. Sekalipun banyak di antara kita yang telah mendengar berita-berita mengenai Roh majemuk tetapi mungkin itu hanya pengetahuan yang doktrinal saja. Kita mungkin belum menerapkan Roh itu dalam situasi kita dari hari ke hari.

Andaikata seorang saudara mengundang saya ke rumahnya untuk makan siang, tetapi ia tidak memberi tahu istrinya terlebih dulu bahwa tamu akan datang. Saat itu istrinya bukan hanya tidak siap, anak-anaknya juga merepotkan dia, sehingga dia kesal dan jengkel. Bagaimana situasi ini bisa beralih menjadi keselamatan bagi saudara ini? Saudara ini hanya perlu menerapkan minyak urapan majemuk, yakni Roh majemuk itu. Roh majemuk berada dalam roh insaninya yang telah dilahirkan kembali. Ia tidak perlu membahas situasi itu dengan istrinya dan tidak perlu memandang lingkungan yang sulit itu, melainkan ia harus beralih ke roh, menerapkan Roh majemuk itu dan memandang Tuhan dengan wajah yang tidak berselubung. Kemudian ia akan memantulkan Tuhan. Jika saudara ini menerapkan Roh majemuk dan memandang Tuhan, maka unsur minyak urapan akan tergarap ke atas dirinya. Baik kematian maupun kebangkitan Kristus akan beroperasi di dalamnya, dan ia akan diurapi oleh Roh majemuk itu. Dalam Roh ini terkandung semua hal yang ia perlukan: kematian Kristus dan khasiatnya, kebangkitan Kristus dan kuasanya, serta sifat ilahi dan sifat insani-Nya. Melalui menerapkan Roh majemuk ini, saudara ini akan mengalami keselamatan Allah yang seketika. Kemudian, ia tidak akan beroleh malu, melainkan akan memperbesar Kristus. Selain itu, orang-orang yang bersama dengan dia, ketika melihat diperbesarnya Kristus sedemikian, akan bersuka-cita di dalam Tuhan.

Alkitab mewahyukan bahwa Kristus telah melalui proses inkarnasi, penyaliban, dan kebangkitan. Hasilnya, sekarang Roh Allah menjadi Roh Yesus Kristus, Roh yang mencakup unsur ilahi, insani, kematian, dan kebangkitan. Itulah Roh yang almuhit. Ketika kita melatih roh kita untuk menyeru nama Tuhan Yesus, Roh almuhit yang berhuni dalam batin kita ini akan terterapkan ke dalam manusia batiniah kita, menjamah diri kita dengan segala unsur Roh majemuk. Kemudian kita akan menjadi orang-orang yang mengalami keilahian, keinsanian, kematian, dan kebangkitan Kristus. Pengurapan Roh majemuk ini adalah keselamatan kita. Semakin kita terurap dengan Roh ini, kita akan semakin diselamatkan. Kita bukan diselamatkan oleh doktrin atau ajaran, melainkan oleh pengurapan Roh majemuk.

Para pendeta pada umumnya menggunakan perkataan Paulus dalam Efesus 5 untuk menasihati sepasang mempelai dalam upacara pernikahan. Mempelai laki-laki berjanji mengasihi istrinya, dan mempelai perempuan berjanji menaati suaminya. Namun, dalam situasi kehidupan pernikahan yang sesungguhnya, ajaran-ajaran atau nasihat itu tidak bermanfaat. Akan tetapi jika seorang saudara dan istrinya bersama-sama belajar bagaimana mengalami suplai yang limpah lengkap dari Roh itu, mereka pasti akan memiliki kehidupan pernikahan yang normal. Kita semua perlu lebih banyak mengalami suplai yang limpah lengkap dari Roh itu.

ROH MAJEMUK BAGI TUBUH DAN

BAGI PELAYANAN TERHADAP ALLAH

Menurut lambang dalam Keluaran 30, minyak urapan majemuk itu dipakai untuk mengurapi Kemah Pertemuan, tempat kediaman Allah, juga untuk mengurapi semua perabot dan perkakas dalam pelayanan di Kemah Pertemuan. Selain itu, para imam pun diurapi dengan minyak urapan majemuk itu. Hal ini menunjukkan bahwa Roh majemuk adalah untuk Tubuh, gereja, rumah Allah, juga untuk melayani Allah. Jika kita tidak berada dalam Tubuh, atau jika kita tidak memperhatikan pelayanan kepada Allah, sangat sulitlah kita mengambil bagian dalam Roh majemuk ini. Untuk menikmati Roh itu kita perlu menjadi bagian dari Kemah Pertemuan dan imamat, bagian dari tempat kediaman Allah dan pelayanan terhadap Allah. Lalu kita akan spontan terurap dengan minyak urapan, dan menikmati suplai yang limpah lengkap dari Roh itu.

Dari pengalaman kita mengetahui, jika kita mempunyai suatu problem dengan gereja atau enggan mengambil bagian dalam pelayanan gereja, kita tidak dapat menikmati Roh almuhit itu. Walau kita sering berdoa, doa kita tidak efektif. Karena kita percaya pada realitas Roh majemuk itu, mungkin kita berseru mohon belas kasihan Tuhan, dan mengatakan kepada-Nya betapa kita membutuhkan-Nya. Tetapi, kita tetap tidak dapat mengalami suplai Roh itu. Ini disebabkan kita memutuskan diri kita sendiri dari Tubuh dan tidak berbagian secara riil dalam Kemah Pertemuan. Selain itu, kita tidak mengambil bagian serta dalam pelayanan imamat. Berdasarkan Keluaran 30, minyak urapan majemuk itu adalah untuk mengurapi Kemah Pertemuan dan para imam. Perlu sekali kita pahami bahwa Roh majemuk, Roh Yesus Kristus, adalah untuk Tubuh, Kemah Pertemuan Allah, dan bagi pelayanan Allah, imamat. Karena begitu banyak orang Kristen hari ini telah terlepas dari Tubuh dan pelayanan imamat, maka mereka sulit sekali mengambil bagian dalam suplai yang limpah lengkap dari Roh itu.

Kita telah menunjukkan bahwa Paulus hidup di dalam Tubuh. Walaupun ia seorang rasul yang luar biasa, ia tetap membutuhkan doa dan permohonan kaum saleh. Ini suatu petunjuk yang jelas bahwa Paulus memiliki hubungan yang benar dengan Tubuh. Lagi pula, Paulus juga mengambil bagian dalam keimaman. Karena ia berada dalam Tubuh, Kemah Pertemuan, dan karena ia mengambil bagian dalam keimaman, yakni melayani Allah, maka ia berada dalam posisi yang tepat untuk menerima aliran minyak urapan yang ada di atas Tubuh.

Banyak di antara kita yang dapat bersaksi, sebelum kita masuk ke dalam gereja, kita sama sekali tidak memi-liki kenikmatan atas suplai yang limpah lengkap dari Roh itu. Tetapi setelah kita masuk ke dalam hidup gereja dalam pemulihan Tuhan, dan mulai mengambil bagian dalam pelayanan gereja, kita mempunyai perasaan bahwa kita berada di bawah aliran suplai yang limpah lengkap dari Roh itu.

Kalau dalam hidup gereja kita merasa tidak senang terhadap orang kudus tertentu, khususnya terhadap penatua, kita mungkin akan tersekat dari Tubuh dan undur dari pelayanan imamat. Meskipun kita masih bisa berdoa secara pribadi, tetapi doa yang demikian ini tidak ada khasiatnya. Dalam kenyataannya, semakin kita berdoa secara pribadi, kita akan menjadi semakin kering. Kita tidak dapat mengalami urapan dari Roh majemuk. Namun, jika kita bersatu dengan gereja dan tetap tinggal dalam pelayanan imamat, kita akan menikmati urapan yang kaya dari Roh almuhit. Bahkan sebuah doa yang sederhana, atau menyeru nama Tuhan, atau hanya mengatakan “Amin”, itu pun akan membawa kita menikmati minyak urapan ini.

Misalkan seorang saudara tidak senang terhadap istrinya. Tetapi, selama bersidang ia berpaling kepada Tuhan dan mulai berkata, “Tuhan Yesus, aku cinta kepada-Mu.” Karena ia didiris dan diurapi minyak, maka perasaan tidak senangnya lenyap. Ketika ia pulang ke rumah seusai bersidang, wajahnya menjadi berseri-seri. Istrinya memahami bahwa suaminya telah mengalami pengurapan yang segar dari Roh itu. Semula ia melihat wajahnya masam, tidak ceria. Tetapi sekarang wajahnya berseri-seri, dan ia bergem-bira di dalam Tuhan. Ini adalah akibat dari mengalami pengurapan Roh itu.

MENGALAMI KESELAMATAN YANG MULIA

Kita perlu berulang-ulang mengatakan, “Tuhan Yesus, aku cinta kepada-Mu.” Semakin kita berkontak dengan Tuhan sedemikian, kita akan semakin merasakan pengurapan minyak itu, dan menjadi semakin girang dan leluasa. Di Amerika Serikat orang suka berlibur. Saya dapat bersaksi bahwa libur yang terindah adalah menyeru nama Tuhan Yesus dan menikmati pengurapan Roh majemuk dalam roh kita.

Dalam Roh Yesus Kristus ada suplai yang limpah lengkap. Suplai ini adalah “minuman almuhit” yang berisi ber-bagai unsur. Setiap keperluan kita ada di dalam minuman ilahi ini. Keselamatan yang seketika selalu berasal dari suplai yang limpah lengkap dari Roh Yesus Kristus ini. Ketika kita berdoa dengan cara yang benar dan ketika kita menyeru nama Tuhan, minyak urapan majemuk ini akan tergarap ke atas kita dalam situasi kita, dan kita akan menikmati kekayaan yang limpah lengkap dari Roh itu. Kemudian, kita tidak beroleh malu, melainkan mengalami suatu keselamatan yang mulia. Keselamatan ini menyebabkan Kristus diperbesar di dalam kita. Melalui permohonan Tubuh dan suplai yang limpah lengkap dari Roh Yesus Kristus, keadaan kita akan beralih menjadi keselamatan kita. Kemudian, dalam hal apa pun kita tidak akan beroleh malu, melainkan Kristus akan diperbesar di dalam diri kita.