ANUGERAH, KESELAMATAN, ROH ITU, DAN KRISTUS
Pembacaan Alkitab: Flp. 1:7b, 19-21a
Dalam berita ini kita akan membahas empat istilah yang sangat penting yang dipakai Paulus dalam Surat Filipi: anugerah, keselamatan, Roh itu, dan Kristus. Dalam 1:7 Paulus berkata pada orang Filipi, “... oleh karena kamu semua turut mendapat bagian dalam anugerah yang diberikan kepadaku, baik pada waktu aku dipenjarakan, maupun pada waktu aku membela dan meneguhkan Berita Injil.” Kata-kata “anugerah yang diberikan kepadaku”, dalam bahasa aslinya seharusnya “anugerahku”. Perhatikan di sini Paulus membicarakan “anugerahku”. Kemudian dalam ayat 19 ia melanjutkan, “Karena aku tahu bahwa kesudahan semuanya ini ialah keselamatanku oleh doamu dan suplai yang limpah lengkap dari Roh Yesus Kristus” (Tl.). Dalam ayat ini Paulus membicarakan keselamatan dan Roh itu. Kemudian dalam ayat 20-21 ia berkata, “...demikian pun sekarang, Kristus dengan nyata dimuliakan di dalam tubuhku... karena bagiku hidup adalah Kristus.”
Dalam ayat-ayat ini anugerah, keselamatan, Roh itu, dan Kristus tidak didefinisikan secara doktrinal. Sebaliknya, semua itu berkaitan dengan pengalaman. Ketika Paulus berkata, “anugerahku”, ia mengacu kepada anugerah yang menjadi pengalamannya. Demikian pula, ketika ia mengatakan baginya hal itu akan menjadi keselamatannya, itu bukan ditujukan kepada keselamatan yang obyektif atau yang doktrinal semata, melainkan suatu keselamatan yang sangat subyektif dalam pengalamannya. Tambahan pula, ketika ia mengatakan Roh itu, ia pasti mengatakan Roh itu yang dialaminya. Sudah tentu perkataannya tentang memperbesar Kristus dan memperhidupkan Dia sangatlah subyektif dan berupa pengalaman. Dalam ayat 20 dan 21 kita tidak menjumpai Kristus yang obyektif, melainkan Kristus yang subyektif dalam kehidupan Paulus.
BERBAGAI JENIS KESELAMATAN
Sayang sekali, banyak orang Kristen ketika membaca Alkitab menganggap firman Tuhan memang semestinya demikian. Karena mereka hafal dengan istilah-istilah seperti anugerah, keselamatan, Roh itu, dan Kristus, maka mereka menganggap mereka sudah paham. Namun, jika mereka diminta menjelaskan hal-hal tersebut, mereka akan menemui kesukaran. Sebagai contoh, apakah yang dimaksud Paulus dengan “anugerahku”? Apa pula yang dimaksud Paulus dengan “keselamatanku”? Ketika Paulus menulis Surat Kiriman ini, ia telah diselamatkan bertahun-tahun lamanya, dan telah menjadi seorang rasul. Kalau demikian, mengapa ia menyatakan dirinya masih perlu keselamatan? Kalau kita telah diselamatkan, mengapa kita masih perlu diselamatkan? Apakah maksud Paulus dengan mengatakan segala yang terjadi atas dirinya: aniaya, pemenjaraan, bahkan penginjilan yang berbeda yang dilakukan karena persaingan, pada akhirnya akan menjadi keselamatannya? Keselamatan macam apakah yang dibicarakan?
Tidaklah benar sama sekali jika Anda mencoba menjawab pertanyaan ini dengan menyatakan bahwa keselamatan itu tidak lengkap. Sebaliknya, kita harus menunjukkan, menurut Alkitab, keselamatan tidak hanya satu jenis. Keselamatan Allah menyelamatkan kita dari hukuman-Nya. Sebagai orang berdosa, kita dihukum oleh Allah yang adil menurut hukum Taurat-Nya yang benar. Karena itu, kita perlu keselamatan. Puji Tuhan, kita telah diselamatkan dari hukuman Allah melalui penebusan Kristus! Lagi pula, sebagai orang berdosa, kita tadinya berada di bawah tangan perampas Iblis, berada di bawah kuasa maut, dan ditentukan untuk masuk neraka. Karena itu, kita perlu satu keselamatan yang dapat menyelamatkan kita dari neraka. Tetapi, selain diselamatkan dari hukuman Allah dan neraka, kita pun perlu keselamatan jenis lain. Sebagai contoh, kita perlu diselamatkan dari watak atau temperamen kita. Kaum muda dan kaum tua sama-sama perlu dilepaskan dari temperamen buruk. Selain itu, para suami dan istri perlu mengalami keselamatan dalam kehidupan pernikahan mereka. Para istri perlu sejenis keselamatan, dan para suami perlu sejenis keselamatan lain, sebab masing-masing menghadapi kesukaran dan problem yang berbeda. Dengan contoh-contoh ini kita dapat mengetahui adanya lebih dari satu jenis keselamatan yang tercantum dalam Alkitab. Ketika Paulus menulis kepada orang Filipi, ia memerlukan sejenis keselamatan tertentu.
DUA ASPEK KESELAMATAN
YANG DIPERLUKAN PAULUS
Jenis keselamatan yang kita perlukan tergantung pada situasi kita. Jika kita berada di bawah hukuman Allah, kita perlu keselamatan yang menyelamatkan kita dari hukuman. Jika kita berada di bawah tangan Iblis, kita perlu keselamatan yang sesuai dengan keadaan itu. Begitu pula, jika kita dirongrong oleh temperamen kita atau menghadapi kesukaran dalam kehidupan pernikahan kita, kita perlu keselamatan macam lain. Karena Paulus sebagai tawanan, ia perlu satu keselamatan yang berguna bagi situasinya dalam penjara. Paulus, seorang Yahudi, bukan ditawan dalam penjara biasa, melainkan ditawan dalam penjara pengawal kerajaan Kaisar. Kasus perkara Paulus adalah kasus luar biasa. Ia tidak pernah melakukan kejahatan apa pun. Ia dipenjara karena ia memberitakan Kristus. Karena memberitakan Kristus, Paulus ditangkap, dan akhirnya dijebloskan ke dalam penjara. Setidak-tidaknya ada sejangka waktu dalam sehari ia diborgol bersama seorang sipir. Sudah tentu Paulus sangat menderita di dalam penjara itu. Ia pasti diremehkan dan menerima perlakuan yang pahit, karena itu ia benar-benar memerlukan keselamatan yang khusus. Saya tidak mengatakan ia memerlukan pembebasan dari penjara. Tidak, ia perlu mengalami keselamatan di dalam penjara.
Dalam ayat 20 ia mengatakan, “Sebab yang sangat kurindukan dan kuharapkan ialah bahwa aku dalam segala hal tidak akan beroleh malu, melainkan seperti sediakala, demikian pun sekarang, Kristus dengan nyata dimuliakan (diperbesar) di dalam tubuhku, baik oleh hidupku, maupun oleh matiku.” Di sini kita nampak bahwa kerinduan Paulus ialah agar dirinya tidak dipermalukan. Andaikata Paulus menangisi situasinya, bukankah itu memalukan? Jika ia menangis, itu menunjukkan ia sudah kalah dan sudah kehilangan iman, pegangan, dan sandaran pada Tuhan. Atau kalau Paulus memarahi sipir-sipir itu dan berbantahan dengan mereka, itu pun satu hal yang memalukan. Akan tetapi, jika Paulus dapat bersukacita, tidak peduli bagaimana dirinya diperlakukan, itu adalah kemuliaan. Untuk mempertahankan kedudukan yang menang sebagai rasul Kristus, Paulus perlu keselamatan yang istimewa.
Dalam ayat 20 kita nampak dua aspek keselamatan yang dibutuhkan Paulus. Aspek pertama ialah dalam segala hal Paulus tidak dipermalukan; kedua, Kristus akan selalu diperbesar di dalam tubuh Paulus. Paulus berharap agar situasinya menjadi keselamatannya, supaya dalam segala hal ia tidak dipermalukan, melainkan Kristus selalu diperbesar di dalam tubuhnya. Di sini Paulus seolah-olah berkata, “Aku perlu keselamatan supaya aku tidak dipermalukan karena penderitaan-penderitaan atau aniaya-aniaya ini; sebaliknya, Kristus Tuhanku akan diperbesar di dalam tubuhku.”
ANUGERAH PAULUS DAN ANUGERAH KITA
Sekarang mari kita membahas makna dari kata “anugerahku”. Jika kita melihat ungkapan ini dalam konteks keseluruhan Surat Filipi, kita akan nampak bahwa anugerah yang dimiliki Paulus tidak lain adalah Allah Tritunggal yang Paulus nikmati dan alami, dan yang menjadi bagiannya. Jadi, anugerah Paulus bukanlah Allah yang obyektif, melainkan Allah yang subyektif dan yang dialaminya, yakni Allah Tritunggal yang telah melalui proses menjadi bagiannya. Paulus benar-benar telah menikmati dan mengalami Allah Tritunggal yang telah melalui proses ini. Ia kaya dalam pengalamannya akan Bapa, Putra, dan Roh. Allah Tritunggal yang telah melalui proses ini adalah anugerah Paulus.
Kita sangat mengenal kidung yang berjudul “Amazing Grace” (Anugerah yang Mengagumkan). Walau kidung itu sebuah kidung yang baik, tetapi kidung itu tidak menyinggung Allah Tritunggal sebagai bagian kita untuk kita nikmati. Ketika kidung itu ditulis, pengenalan umat Tuhan atas Allah yang berdasarkan pengalaman belum sampai ke tahap ini. Bahkan tahun 1930-an, orang-orang Kristen masih belum juga mengerti anugerah sebagai Allah Tritunggal yang kita alami dan nikmati. Tetapi dengan berdiri di atas bahu orang-orang yang mendahului kita, kita mulai memahami anugerah jauh lebih dari sekadar berkat yang tidak patut kita terima. Anugerah tidak lain adalah Allah Tritunggal — Bapa, Putra, dan Roh — yang telah melalui proses untuk menjadi pengalaman dan kenikmatan kita.
Hari ini Allah Tritunggal bukan lagi Allah yang belum melalui proses, atau Allah yang “mentah”. Sebaliknya, Dia telah melalui proses inkarnasi, penyaliban, dan kebangkitan. Mungkin orang-orang yang berlatar belakang teologi sistematis akan merasa resah dengan ungkapan-ungkapan “Allah yang melalui proses” atau “Allah yang mentah”. Mereka mungkin akan membantah kita, sebab istilah-istilah ini tidak pernah dipakai dalam Alkitab. Meskipun istilah-istilah ini tidak pernah dipakai dalam Alkitab, tetapi faktanya ada di dalamnya. Seperti halnya istilah “trinitas” dan “Allah Tritunggal” tidak terdapat dalam Alkitab, namun tidak dapat disangkal bahwa Alkitab benar-benar mewahyukan adanya fakta bahwa persona Allah itu Tritunggal. Begitu pula, kita tidak dapat menyangkal bahwa inkarnasi merupakan suatu proses. Tambahan pula, penyaliban yang mendatangkan kebangkitan, dan kebangkitan yang mendatangkan kenaikan, itu juga merupakan langkah-langkah dari proses Allah tersebut. Allah tidak saja melalui proses dalam menebus dosa kita, tetapi juga memungkinkan kita menikmati-Nya sebagai anugerah. Hari ini Allah yang kita nikmati sebagai anugerah kita adalah Allah Tritunggal yang telah melalui atau mengalami inkarnasi, penyaliban, dan kebangkitan. Sebagai Allah yang demikian, Dia telah siap untuk kita terima dan nikmati.
Yohanes 1:17 mengatakan bahwa hukum Taurat diberikan melalui Musa, tetapi anugerah datang melalui Yesus Kristus. Ketika anugerah ini menjadi milik kita dalam pengalaman kita, kita akan menikmati Allah Tritunggal dan kita akan dapat mengatakan itulah anugerahku, anugerah kita. Anugerah kita justru adalah Allah Tritunggal yang kita nikmati.
Belakangan ini saya dengan istri saya berdoa, bersyukur kepada Tuhan atas segala kenikmatan akan diri-Nya sendiri yang telah Ia berikan kepada kita. Alangkah baiknya Tuhan terhadap kita! Kita dapat bersaksi bahwa kita sangat sering mengalami dan menikmati Dia. Karena kita telah mengambil bagian atas Dia, maka Dia benar-benar telah menjadi anugerah bagi kita. Anugerah ini sekarang adalah anugerah kita.
Bukankah dalam pengalaman Anda, Anda juga memiliki anugerah Anda? Boleh jadi Anda telah mengalami Allah Tritunggal sebagai anugerah Anda dalam hidup gereja atau dalam kehidupan sehari-hari Anda. Seorang saudara mungkin bersaksi bahwa dalam hal membantu menata kursi-kursi di balai sidang, ia pun mengalami Allah sebagai anu-gerahnya. Seorang saudari yang telah menikah dapat juga bersaksi bahwa dalam kehidupannya di rumah bersama suami dan anak-anaknya, ia juga mengalami Tuhan sebagai anugerahnya. Mengalami Tuhan sedemikian dan bersaksi sedemikian adalah satu hal yang sangat baik. Tetapi situasi yang demikian hampir tidak dapat dibandingkan dengan apa yang dialami Paulus dalam penjara.
PEMBELAAN DAN PENEGUHAN INJIL
Paulus mengalami Allah baik dalam pemenjaraannya maupun dalam pembelaan dan peneguhan Injil. Dalam 1:7 Paulus berbicara tentang “membela dan meneguhkan Injil”; di sini ia tidak mengatakan memberitakan Injil. Memberitakan Injil bukan hal yang luar biasa, tetapi membela dan meneguhkan Injil adalah hal yang luar biasa. Di aspek negatif, pembelaan terhadap Injil adalah untuk menentang bidah yang menyimpang dan menyesatkan, seperti ajaran Yudaisme yang ditanggulangi dalam Surat Galatia, dan ajaran Gnostik yang ditanggulangi dalam Surat Kolose. Di aspek positif, peneguhan berita Injil adalah untuk memberitakan wahyu rahasia Allah mengenai Kristus dan gereja, seperti yang diungkapkan dalam Surat-surat Kiriman Paulus. Pada masa Paulus, Injil telah diputarbalikkan dan diselewengkan oleh Yudaisme dan filsafat Yunani. Karena ia membela Injil, maka ia dianiaya. Pemeluk agama Yahudi dan filsuf-filsuf Yunani tidak menyukainya. Selain itu, Paulus juga meneguhkan Injil. Secara positif ia memperjelas tujuan Injil kepada semua orang.
Tujuan Injil adalah Kristus dan gereja. Paulus menyampaikan berita demi berita kepada semua orang tentang ekonomi Allah. Ia mengajarkan bahwa Kristus adalah rahasia Allah dan gereja adalah rahasia Kristus. Dengan cara ini, ia meneguhkan Injil melalui memperjelas tujuan Injil secara positif kepada semua orang yang menerimanya.
Hari ini juga ada keperluan yang mendesak bagi pembelaan dan peneguhan Injil. Tidak banyak orang Kristen sudi membicarakan gereja. Akibatnya, walaupun mereka memberitakan Injil, tetapi banyak yang tidak mengenal tujuan Injil. Tujuan mereka dalam memberitakan Injil hanya sekadar menyelamatkan orang yang berdosa, mendapatkan jiwa-jiwa. Karena itu, kita perlu meneguhkan Injil melalui memberi tahu orang tentang tujuan Injil. Tetapi, jika kita berbuat demikian, kita akan menghadapi banyak tentangan. Baik pembelaan maupun peneguhan Injil, keduanya merupakan tugas dan beban yang sulit dan berat.
ANUGERAH DALAM PENGALAMAN
Karena pembelaan dan peneguhan Injil, Paulus dianiaya, ditangkap, dan dipenjara. Kewajiban yang diberikan kepadanya untuk membela dan meneguhkan Injil memerlukan suplai ilahi. Hal itu tidak mungkin terlaksana melalui cara biasa. Paulus perlu kekuatan dan energi ilahi. Kekuatan dan energi ilahi itu adalah Allah Tritunggal sendiri. Ketika Paulus membela dan meneguhkan Injil, Allah menyertainya dan menyuplainya. Selain itu, Paulus juga menderita aniaya, diolok-olok, dan diejek. Tanpa suplai ilahi yang khusus, tidak ada manusia biasa yang dapat menanggung perlakuan demikian. Tetapi di dalam penjara, Paulus dapat menikmati dan mengalami Allah. Pada akhirnya, Allah Tritunggal yang telah melalui proses dan yang dialami Paulus itu menjadi anugerahnya. Kaum beriman Filipi sangat berbahagia, mereka dapat mengambil bagian dalam anugerah Paulus. Itu berarti mereka mengambil bagian atas Allah Paulus, Allah yang dialaminya.
Sekarang kita mengerti makna ungkapan “anugerahku”. Ungkapan ini ditujukan kepada Allah yang dinikmati, dialami, dan dimiliki Paulus. Ini bukan anugerah obyektif, melainkan anugerah yang subyektif, anugerah dalam pengalaman. Anugerah yang demikian sangat berbeda dengan sesuatu yang hanya terbatas pada berkat yang tidak layak diterima. Seperti yang telah kita tunjukkan berkali-kali, anugerah ini pada hakikatnya adalah satu persona yang hidup dan ilahi, yakni Allah Tritunggal yang telah melalui proses menjadi anugerah kita.
BERSUKACITA DI DALAM TUHAN
Anugerah yang Paulus alami telah menjadi keselamatannya. Apa saja yang Paulus nikmati dari Allah Tritunggal telah menjadi keselamatannya. Paulus pasti adalah orang Yahudi yang patriotis, orang yang mencintai bangsanya, dan yang sangat benci kepada penjajah Romawi. Karena memberitakan Tuhan Yesus Kristus, ia sempat menjadi tawanan di bawah pengawasan penjajah Romawi. Sebenarnya yang menangkapnya dan yang menyerahkannya kepada orang Romawi adalah orang-orang sebangsa dan setanah-airnya sendiri. Sudah pasti, ketika Paulus menderita aniaya di dalam penjara, ia memikirkan pekerjaannya. Sebelum ia dipenjara, pekerjaannya sangat menakjubkan dan penuh kuasa, bahkan telah menyebar ke Eropa. Namun, sekarang pekerjaannya terhenti. Beberapa orang yang sezaman dengannya, yakni orang-orang yang bersaingan dengannya, bergembira karena Paulus dipenjara dan tidak bisa melaksanakan pekerjaannya. Kalau dalam keadaan demikian Paulus menangis, ia akan kalah dan mendapat malu. Namun, dari Surat Filipi kita tahu bahwa ia tidak menangis, melainkan bersukacita di dalam Tuhan. Dalam kitab yang pendek ini Paulus berkali-kali menyatakan sukacitanya. Ini menunjukkan, ketika ia berada di dalam penjara ia tetap bersukacita di dalam Tuhan. Pengawal-pengawal itu tidak mendengar dia menangis, melainkan mendengar dia bersukacita. Dalam hal itu Paulus mengalami dan menikmati Allah Tritunggal sebagai anugerah, dan anugerah itu menjadi keselamatannya. Apa pun yang dia alami, pada akhirnya menjadi keselamatannya.
Ketika Paulus dipakai Tuhan untuk membawa orang-orang Filipi kepada Kristus, ia pasti dipenuhi oleh sukacita. Tetapi, jika Paulus hanya dapat bersukacita dalam keadaan itu saja, tidak dapat bersukacita di dalam penjara, ia bukanlah pemenang yang sejati. Paulus bersukacita tidak saja sewaktu pekerjaannya berjalan lancar di Filipi, dia pun bersukacita di dalam penjara, yakni ketika pekerjaannya bagi Tuhan terbatas. Di sini kita nampak kemenangan yang sejati. Kemenangan ini adalah keselamatan, keselamatan Paulus. Lagi pula, seperti yang telah kita tunjukkan, keselamatan Paulus adalah anugerahnya, yakni Allah sendiri sebagai kenikmatannya. Karena itu, anugerah Paulus adalah keselamatannya, dan keselamatannya ialah Allah Tritunggal yang selalu menopangnya dalam keadaan yang sangat sulit itu. Keselamatan sedemikian ini bukan keselamatan yang obyektif, melainkan yang sangat subyektif dan dapat dialami. Itulah alasan Paulus tidak membicarakan Allah secara teologis dan doktrinal obyektif dalam Surat Filipi, melainkan secara langsung, subyektif, pribadi, dan berupa pengalaman. Paulus dapat berkata, “Anugerahku tidak lain adalah Allahku. Allah itulah anugerahku, dan Tuhan Yesus adalah keselamatanku yang subyektif dan dapat dialami.”
MENGALAMI ROH ITU
Allah Tritunggal dapat menjadi keselamatan Paulus dalam pengalaman karena hari ini Allah adalah Roh itu. Karena itu, dalam konteks pembicaraan tentang keselamatan, Paulus juga mengatakan Roh itu.
Jika Allah Tritunggal ingin menjadi pengalaman dan kenikmatan kita, Ia harus menjadi Roh itu. Roh dalam 1:19 sebenarnya adalah Allah Tritunggal itu sendiri. Yohanes 7:39 mengatakan, “. . . sebab Roh itu belum ada, karena Yesus belum dimuliakan” (Tl.). Dalam ayat 37 Tuhan Yesus berdiri dan berseru: “Siapa saja yang haus, baiklah ia datang kepada-Ku dan minum!” Tuhan juga berkata, “Siapa saja yang percaya kepada-Ku . . . dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup” (ayat 38). Berdasarkan ayat 39, “Yang dimaksudkan-Nya ialah Roh itu.” Sebab-musabab belum adanya Roh itu ialah belum dimuliakannya Yesus, yakni Dia belum melalui proses sepenuhnya. Tetapi, karena sekarang Tuhan Yesus sudah dimuliakan, yakni telah melalui proses sepenuhnya, Roh itu ada di sini, dan siap untuk kita nikmati. Roh itu adalah Allah Tritunggal yang telah melalui proses ilahi menjadi suplai yang limpah dan lengkap yang mudah dan praktis bagi kita.
Kita dapat mengalami Roh itu cukup hanya dengan berseru, “O, Tuhan Yesus.” Kita dapat bersaksi dalam pengalaman kita, ketika kita berseru kepada nama Tuhan Yesus, kita akan minum Roh itu. Seperti halnya kita merasa segar dalam batin ketika kita menarik napas dalam-dalam di tempat terbuka pada pagi hari, kita pun akan memiliki perasaan batini yang segar bila kita menerima Roh itu melalui berseru kepada Tuhan Yesus.
Menerima Roh itu dengan cara berseru kepada Tuhan bukan praktek dari golongan mistik. Tidak, ini adalah suatu realitas rohani yang ajaib, dan yang begitu manis, segar dan penuh kenikmatan. Kita tidak mungkin mengalaminya dengan memanggil nama-nama seperti George Washington, Abraham Lincoln, Plato, Konghucu, dan sebagainya. Namun, alangkah bedanya ketika kita berkata, “Tuhan Yesus, aku cinta kepada-Mu!” Ini sekali-kali bukan takhayul atau sekadar gejala psikologis, melainkan melatih roh kita yang sudah dilahirkan kembali untuk menikmati Tuhan.
Puji Tuhan, Dia kini berada dalam roh kita! Karena begitu subyektifnya Allah terhadap kita, maka Dia menyertai kita di mana saja kita berada. Asalkan kita menyeru nama-Nya, kita akan menerima Dia, menikmati Dia, dan mengalami Dia. Melalui menyeru nama Tuhan, atau berdoa dengan beberapa kata dalam Alkitab, kita akan menikmati Roh itu serta suplai-Nya yang limpah lengkap. Roh itu adalah Dia yang sebenarnya menjadi keselamatan kita. Kita telah menunjukkan bahwa keselamatan kita adalah anugerah kita, dan anugerah kita adalah kenikmatan kita akan diri Allah.
MENIKMATI ROH ITU
DAN MEMPERBESAR KRISTUS
Ketika kita menikmati Roh itu dan mengambil bagian dalam Dia, Kristus akan dinyatakan dan diperbesar. Di satu aspek, kita menikmati Roh itu; di aspek lain, Kristus adalah Dia yang diperbesar. Ini sesuai dengan Alkitab maupun pengalaman kita. Ketika kita berseru, “Tuhan Yesus,” kita akan menikmati Roh itu dalam batin kita. Tetapi, sebagai akibat dari kenikmatan akan Roh itu, Kristus diperbesar. Dia akan menjadi ekspresi kita.
Dalam pengalaman kita, anugerah, keselamatan, Roh itu, dan Kristus sebenarnya adalah satu. Anugerah kita adalah keselamatan kita, keselamatan kita adalah Roh itu, dan Roh itu adalah Kristus yang telah diperbesar. Kita boleh juga mengatakan bahwa Kristus yang diperbesar itu adalah Roh yang berhuni di batin, Roh yang berhuni di batin kita adalah keselamatan kita, dan keselamatan adalah anugerah kita, yakni Allah Tritunggal yang kita nikmati dan alami.