Daftar isi Karakter · bab 9/30

DALAM

"Betapa besarnya pekerjaan-pekerjaan-Mu, ya TUHAN,

dan sangat dalamnya rancanganrancangan-Mu"

Mazmur 92:6

"Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah;

manusia melihat apa yang di depan mata,

tetapi TUHAN melihat hati"

1 Samuel 16:7b

I. DALAM ADALAH TIDAK DANGKAL

Bukan hanya di permukaan; pekerjaan apa pun harus dikerjakan dengan tuntas. Baik menyampaikan perkataan atau mendengarkan perkataan, harus ditelusuri sampai ke akarnya barulah bisa tepat. Tidak memutuskan perkara berdasarkan permukaan. Baik berbicara, melakukan pekerjaan, atau membaca Alkitab, harus dilakukan dengan tuntas.

1. Berakar Dalam

Tidak terpengaruh oleh emosi diri sendiri atau oleh situasi lingkungan. "Berakar pula ke bawah dan menghasilkan buah ke atas" (2 Raj. 19:30). Tidak dangkal, tidak hidup di dalam emosi, melainkan hidup di dalam roh, berakar di dalam Allah, barulah bisa tidak dipengaruhi oleh situasi. Orang yang hidup di dalam pikiran dan emosi adalah orang yang dangkal, mudah dipengaruhi oleh orang, perkara, atau benda dalam lingkungan. Sama seperti benih yang jatuh di tanah berbatubatu, yang tidak banyak tanahnya, cepat tumbuhnya, tetapi sesudah matahari terbit, layulah ia dan menjadi kering, karena tidak berakar (Mat. 13:5-6). Orang yang tinggal di dalam roh, yang tinggal di dalam Tuhan, adalah orang yang dalam, tidak bisa digoyahkan oleh situasi lingkungan. Seperti rumah yang dibangun pada pondasi yang diletakkan di atas batu karang, yang mempunyai pondasi dalam, meskipun diterjang banjir, tidak akan roboh.

Yakub yang tua adalah orang yang dalam. Ketika mendengar Yusuf masih hidup, bahkan menjadi perdana menteri di Mesir, hatinya tetap dingin, tidak terangsang, ia hanya berkata, "Cukuplah itu; anakku Yusuf masih hidup, aku mau pergi melihatnya, sebelum aku mati" (Kej. 45:25-28).

Tuhan Yesus berakar di dalam Allah, tidak terpengaruh oleh situasi luar. "Siapakah yang buta selain dari hamba-Ku, dan yang tuli seperti utusan yang Kusuruh? Siapakah yang buta seperti suruhan-Ku dan yang tuli seperti hamba TUHAN? Engkau melihat banyak, tetapi tidak memperhatikan, engkau memasang telinga, tetapi tidak mendengar" (Yes. 42:19-20). Tuhan dapat melihat banyak hal, juga dapat mendengar banyak perkataan, tetapi tidak terpengaruh olehnya. lbu-Nya berkata kepada-Nya, "Mereka kehabisan anggur" Dia tidak terpengaruh, jawab-Nya, "Mau apakah engkau dari Aku, ibu? Saat-Ku belum tiba" (Yoh. 2:3-4). Saudara-Nya mendesak Dia pergi berhari raya di Yerusalem, untuk memasyhurkan nama-Nya, tetapi Dia berkata kepada mereka, "Waktu-Ku belum tiba ..., Aku belum pergi ke situ, karena waktu-Ku belum genap" (Yoh. 7:2-9). Dia tidak terangsang oleh orang, tidak terpengaruh oleh dunia luar, Dia hanya hidup di dalam roh, dibimbing oleh Allah. Setelah Dia membagikan roti dan ikan kepada 5000 orang, mereka hendak memaksa Dia untuk dijadikan raja. Tetapi Dia tidak menerima rangsangan ini, Dia menyingkir, berdoa seorang diri di gunung (Yoh. 6:5; Mat. 14:2).

2. Mempertimbangkan Matang-matang di Depan Tuhan

Mazmur 92:6 mengatakan, "Betapa besarnya pekerjaan-pekerjaan-Mu, ya TUHAN, dan sangat dalamnya rancangan-rancangan-Mu." Mazmur 36:7 mengatakan, "Hukum-Mu bagaikan samudera raya yang dalam" (Tl.). Terhadap orang, perkara, dan benda, jangan memutuskan berdasarkan permukaan. Manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati (1 Sam. 16:7). Manusia hanya melihat perbuatan yang di luar, tetapi Allah memeriksa hati manusia (1 Tes. 2:4). Ia akan menerangi juga apa yang tersembunyi dalam kegelapan, dan Ia akan memperlihatkan apa yang direncanakan di dalam hati (1 Kor. 4:5).

"Ia tidak akan menghakimi dengan sekilas pandang saja atau menjatuhkan keputusan menurut kata orang"(Yes. 11:3), hanya berdasarkan sekilas pandang dan kata orang, itu dangkal. Menjatuhkan keputusan karena melihat roh yang di dalam manusia, melihat hati manusia, barulah dalam. Tuhan berkata kepada murid-murid-Nya, "Bagaimana roh kalian?" (Luk. 9:55 Tl.).

Seorang saudara berkata, "Bila ada orang datang kepada kita untuk membicarakan orang lain benar atau salah, kita tidak boleh berdasarkan perkataan itu, ikut menganggap benar atau salah. Kita harus melihat, roh orang yang berbicara itu bersih atau tidak, hatinya tepat atau tidak. Adakalanya ia mengucapkan kata-kata yang baik, memuji saudara saudari, tetapi di balik kata-kata pujian itu kita menjamah satu roh yang tidak bersih, menjamah hati yang tidak tepat. Sebaliknya mungkin ada saudara datang mengutarakan kekurangan seorang pewajib rumahan, mengutarakan kesalahan saudari yang melayani, tetapi kita menjamah rohnya bersih, motivasinya murni. Sebab itu, tidak dapat berdasarkan pujian atau kritikan menentukan sesuatu, itu adalah dangkal, adalah keputusan di permukaan saja. Harus menjamah batinnya, melihat rohnya murni atau tidak, hatinya tulus atau tidak, harus melihat bagaimana rohnya? Bagaimana hatinya?"

Orang dunia hanya bisa menilai benar salah, menilai siapa yang beralasan, siapa yang tidak beralasan, siapa yang benar, siapa yang salah. Tetapi di dalam gereja, kita harus melampaui benar salah, dan menjamah keadaan orang itu di depan Allah. Sebab itu, tidak bisa berdasarkan benar atau salah menjatuhkan keputusan yang dangkal, harus menjamah keadaan orang itu di depan Allah.

Pernah sekali, seorang saudari menemui Saudara Lee, ingin membujuk Saudara Lee agar percaya bahwa dia yang benar dan suaminya yang salah. Tetapi Saudara Lee tidak mau berkata sepatah kata pun untuk menyatakan bahwa Saudara Lee membenarkan dia. Saudara Lee juga tidak mau berkata bahwa suaminya yang salah. Saudari itu sebisanya membujuk Saudara Lee, supaya yakin bahwa dia yang benar. Akhirnya ia menantang, "Saudara Lee, apakah Anda tidak bisa membedakan benar atau salah?" Saudara Lee berkata, "Saudari, saya tidak mau membicarakan benar atau salah. Saya hanya ingin mengajukan satu pertanyaan : Ketika kamu membenarkan diri sendiri, dan sekuatnya membujuk saya supaya saya mengakui kamu benar, bagaimana keadaanmu di depan Tuhan? Kamu merasakan Tuhan di pihakmu, berdebat untukmu atau tidak? Katakanlah dengan jujur, ketika kamu membela diri, bagaimana hubunganmu dengan Tuhan? Apakah kamu di dalam terang atau di dalam gelap?" Saudari itu dengan jujur berkata, "Aku di dalam gelap, tidak di dalam terang. Aku juga tidak berada di depan Tuhan." Saudara Lee lalu berkata, "Kalau kamu berkata bahwa dirimu berada di dalam kegelapan, tidak berada di depan Tuhan, untuk apa kamu membela diri terus? Apa faedahnya?"

Dalam Mazmur 73, pemazmur itu, tadinya melihat orang jahat sering hidup bersenang-senang, hartanya bertambah, tetapi umat Allah malah tertimpa bencana, terhukum; secara lahir memang susah dimengerti, mengira Allah dengan tidak adil memperlakukan umat-Nya. Ini adalah penglihatan yang dangkal. Tetapi setelah ia masuk ke tempat kudus dan merenungkan hal itu, tahulah dia bahwa kesudahan orang jahat sangat kersang dan binasa, sebaliknya umat Allah yang kelihatannya tertimpa bencana malahan melalui semua itu mengalami Allah sebagai tempat perlindungan mereka, sebagai tenaga batiniah mereka, sebagai berkat mereka yang kekal. Penglihatan yang demikian ini dalam. Bila kita hanya melihat yang di depan mata, yang kelihatan, ini adalah dangkal; bila melihat yang tidak kelihatan, yang kekal, barulah dalam (2 Kor. 4:18).

Paulus melihat sampai dalam sekali, mengetahui "penderitaan ringan yang sekarang ini, akan menghasilkan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya" (2 Kor. 4:17). Dia tidak takut. Dia tahu, meskipun manusia lahiriah semakin merosot, "namun manusia batiniah kami diperbarui dari sehari ke sehari" (2 Kor. 4:16).

Ketika masih muda, Saudara Watchman Nee sudah terkena penyakit jantung. Adakalanya, sewaktu ia menyampaikan firman, rasa sakitnya kambuh sedemikian rupa sehingga ia harus bersandar pada mimbar baru bisa bertahan. Meskipun sebelum umur 20 dia sudah terkena penyakit jantung, tetapi kemudian ia masih hidup 40 tahun lebih lagi. Ia tahu bahwa setiap saat penyakitnya bisa kambuh dan ia bisa sewaktu-waktu meninggal, tetapi ia menerima kehendak Allah, tidak pernah khawatir. Karena ia tahu, penyakit itu adalah duri yang Allah berikan kepadanya untuk menggenapkan tujuan Allah.

Ada sejangka waktu ia sakit TBC yang berat. Ia seperti Paulus, untuk duri ini ia berdoa tiga kali kepada Tuhan. Suatu hari, ketika ia berbaring di tempat tidur, dalam batinnya seperti ada perasaan demikian : di sini ada sebuah perahu, perlu air yang dalamnya 10 kaki baru bisa lewat. Tetapi di dasar sungai ada sebuah batu yang muncul setinggi 5 kaki. Allah bertanya kepadanya, "Kamu menghendaki batu itu dipindah atau airnya ditambah tinggi 5 kaki lagi?" Ia menjawab, "Lebih baik airnya ditambah setinggi 5 kaki lagi." Saudara Watchman Nee jelas bahwa hari ini Allah bekerja di atas diri kita, bukannya di pihak negatif menghapus kelemahan kita, juga tidak di pihak positif tanpa alasan memberi kita kekuatan, melainkan semua kekuatan-Nya ternyata di dalam kelemahan, sama seperti mustika ditaruh di dalam bejana tanah liat.

3. Orang yang Dangkal, Mudah Puas dan Suka Pamer

Bila orang yang dangkal melayani Tuhan, ia ingin cepat-cepat mendapatkan hasil, mencari penampilan yang tahan hanya sesaat saja, untuk memamerkan diri sendiri, supaya mendapat kemuliaan dari manusia. Orang-orang yang disebut dalam Matius 6, ketika memberi sedekah, mencanangkan hal itu; suka mengucapkan doanya dalam rumah-rumah ibadah dan pada tikungan-tikungan jalan raya; ketika berpuasa, mereka mengubah air mukanya supaya kelihatan kusam. Mereka berbuat demikian untuk dipuji manusia, semuanya itu adalah perbuatan orang yang dangkal. Ada sedikit kesuksesan, sudah merasa puas, ada sedikit karunia, sudah memamerkan petah lidahnya, semuanya ini adalah perbuatan orang yang dangkal.

II. BERKARAKTER DALAM, MELAYANI ALLAH

Bila orang yang dalam melayani Allah, dampak hasilnya dalam dan jauh; gereja yang dibangun juga dalam.

1. Persekutuannya Dalam

Persekutuan orang yang dalam dengan Tuhan sangat dalam, persekutuannya dengan orang beriman juga dalam. "Samudera yang dalam berespons dengan samudera yang dalam" (Mzm. 42:8 Tl.). Di kedalaman roh bersekutu dengan Allah; masuk ke dalam tempat mahakudus, menghadap kepada Allah. Persekutuannya dengan kaum beriman juga merupakan perbauran roh dengan roh, bukan saja berjabatan tangan di luaran, bukan hanya di bibir saja, melainkan dengan roh yang di dalam, roh dengan roh berkontak, samudera yang dalam berespons dengan samudera yang dalam.

2. Orang yang Dalam Itu Kaya

Dalam Lukas 5:4-7, Tuhan berpesan kepada Petrus untuk bertolak ke tempat yang dalam. Setelah menebarkan jala, dia menangkap sejumlah besar ikan, mengisi penuh dua kapal. Persekutuan yang dalam menghasilkan kekayaan rohani yang limpah.

Roma 11:33 mengatakan, "0, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah!" Allah itu dalam, hikmat; pengetahuan-Nya juga dalam dan kaya.

"Berakar ke bawah dan menghasilkan buah ke atas" (2 Raj. 19:30). Akar menjulur dalam, menghisap sari lebih banyak, menghasilkan buah yang limpah.

Miss Barber adalah seorang yang bersekutu sangat dalam dengan Tuhan. Setiap hari ia bangun pukul 04.00, mengambil manna, membaca Alkitab, berdoa, dan bersekutu dengan Tuhan. Sebab itu, kerohaniannya sangat dalam dan kaya. Syair yang ditulisnya sangat dalam. Saudara Watchman Nee pernah berkata, "Kalau Miss Barber masih hidup, keadaan kita hari ini akan jauh lebih baik." Ia berkata pula, "Saudara, tahun 1932 saya pergi ke Eropa, menjenguk beberapa orang yang tersohor. Terus terang, di antara orang yang saya temui, hampir tidak ada seorang pun yang kerohaniannya melebihi Miss Barber." Pernah sekali, Saudara Watchman Nee berkunjung ke rumahnya; saat itu ia sedang mengerjakan sesuatu. Saudara Watchman Nee menunggu di ruang tamunya. Saudara Watchman Nee berkata, "Saat saya menunggunya, saya benar-benar merasakan adanya penyertaan Tuhan."

Saudara Watchman Nee berkata pula, "Di atas dirinya ada satu ciri khas, yaitu setiap kali Anda bertemu dengannya, Anda tampak di atas dirinya ada pekerjaan yang baru, Anda bertemu dengan hayat yang segar. Sering kali, ketika Anda sepertinya tidak menjamah penyertaan Tuhan, letih dalam kerohanian, begitu bertemu dengannya, duduk di depannya beberapa menit, keletihan itu segera hilang. Anda merasakan ada sesuatu yang memancar dari dalam dirinya, Anda merasakan hayat." Ada orang bertanya kepada Saudara Watchman Nee, "Apa kelebihan Miss Barber?" Saudara Watchman Nee menjawab, "Setiap kali bertemu dengannya, selalu menyebabkan saya merasakan Allah."

3. Mempunyai Pandangan yang Hebat,

Melakukan Pekerjaan yang Besar

Bila orang yang dangkal membaca Alkitab, ia tidak bisa mendapatkan terang yang hebat. Orang yang dangkal tidak dapat melakukan pekerjaan yang besar; berdoa tidak bisa menjamah tempat yang hebat; berbicara dengan orang tidak bisa menjamah kesulitan orang lain. Orang yang dalam baru bisa mendapatkan terang yang hebat, baru bisa melakukan pekerjaan yang besar, baru bisa menjamah doa yang hebat, baru bisa dalam pembicaraan dengan orang lain, menjamah kesulitan orang lain.

Paulus adalah orang yang dalam, ketika membaca Alkitab, ia tampak : berkat Abraham adalah Roh itu; keturunan itu ditujukan kepada Kristus (Gal. 3:14-16). Laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging, mengacu kepada Kristus dan gereja, ini adalah terang yang hebat. Doa dalam Efesus 1 dan 3 adalah doa yang hebat. Ia menjadi rasul orang kafir, mengemban pelayanan Perjanjian Baru, menjadi pelayan gereja, ini adalah pekerjaan yang besar.

Evan Robert mendatangkan kebangunan besar di Wales. la mempunyai doa yang hebat, terus berdoa, "Tuhan, taklukkan gereja, supaya orang dunia beroleh selamat." ("Lord, benda the church to save the world"). Ia adalah buruh tambang batu bara yang berusia 20 tahun. Setelah beroleh selamat, sering berdoa di dalam tambang yang tidak terpakai. Doanya hanya satu, yaitu : "Tuhan, taklukkan gereja, supaya orang dunia beroleh selamat." Orang di sekitarnya merasa heran, juga terharu, lama kelamaan banyak orang yang berdoa bersama dia. Tak lama kemudian banyak orang tambang terpengaruh, sehingga mendatangkan kebangunan besar di Wales. Dalam kebangunan itu, ada beberapa tempat yang seluruh penduduknya beroleh selamat, sampai tidak ada sasaran untuk mengabarkan Injil. Ini memperlihatkan kepada kita bahwa pekerjaan kebangunan rohani yang dilakukan Roh Kudus adalah melalui sekelompok orang yang ditekan sampai "bengkok", yang ditaklukkan. Kita tidak perlu meminta Allah memberikan kebangunan rohani, asal meminta Dia lebih dalam menundukkan kita, menaklukkan kita, kesudahannya dengan sendirinya ada hayat yang mengalir dari diri kita. Karena Evan Robert mempunyai doa yang demikian hebat, maka terjadilah kebangunan yang besar.

4. Tekad dan Rencana yang Besar, Pandangan yang Jauh

Hati orang yang dalam menetapkan tekad yang besar, membuat rencana besar, mempunyai pandangan yang jauh (Hak. 5:15-16) Seorang saudara berkata, "Hari ini, dalam mengerjakan pekerjaan Tuhan, memimpin gereja, kita harus mempunyai satu pandangan yang luas, juga perlu ada keberanian dan nyali yang besar, sama seperti orang Amerika membuka jalan raya. Orang Amerika membuka jalan raya selalu lurus, kalau bertemu bukit, lalu diratakan; bertemu lembah, lalu ditimbun. Mereka tidak menuruti kondisi tempat itu; misalnya bertemu sebuah gunung, lalu dibuat jalan yang melingkari gunung itu. Membuka jalan menuruti kondisi tempat itu memang jauh lebih mudah, tetapi orang yang memakai jalan itu akan tidak nyaman, akan timbul banyak kecelakaan. Orang Amerika tidak demikian, mereka harus membuat yang lurus, yang rata, tidak mempedulikan kesulitan apa pun. Sebab itu, sekarang orang-orang memuji jalan raya Amerika, karena jalannya lurus, tidak kelihatan ujungnya, sangat lurus dan rata. Orang-orang yang membuka jalan itu pandangannya jauh, untuk kepentingan umum, harus ada korban, harus mengeluarkan korban yang besar, tetapi setelah dibangun, semua memakai dengan nyaman, semua memujinya."

Saudara-saudara pendahulu kita sudah menjadi perintis untuk pemulihan Tuhan. Pandangan mereka jauh, berani mengorbankan segala, membuka jalan pemulihan yang lurus dan datar bagi kita, sungguh-sungguh menjadi teladan kita yang baik.

5. Lebih Dalam Mengasihi Tuhan

Lebih dalam mengasihi Tuhan, mempunyai hayat yang lebih dalam, juga membawa orang lain lebih dalam mengasihi Tuhan, mempunyai hayat yang lebih dalam, mempunyai pertumbuhan yang lebih besar.

Dalam Injil Yohanes 21:15, kita tampak Tuhan menghendaki Petrus lebih dalam mengasihi Tuhan, dan merawat domba-domba-Nya.

Paulus adalah orang yang dalam. Dalam Roma 8:38, ia sangat yakin. Ia sangat paham terhadap rahasia Kristus (Ef. 3:4). Pengalaman rohaninya dalam. Semakin dalam duri di atas dirinya menusuk, semakin dalam pula pengalaman rohaninya. la lebih banyak menderita sengsara, lebih banyak masuk penjara, didera di luar batas; kerap kali dalam bahaya maut (2 Kor. 12:7; 11:23-27). Ia mengetahui persekutuan dalam penderitaan-Nya, mengetahui kuat kuasa kebangkitan-Nya (Flp. 3:10). Ia mengejar dengan sekuatnya (Flp. 3:12). Orang yang demikian baru bisa membawa orang lain juga yakin, sangat paham, dan mempunyai pengalaman rohani yang dalam. Sampai hari ini, orang yang membaca surat rasulinya selalu mendapatkan banyak bantuan rohani; hasilnya sangat dalam dan jauh. Demikian juga dengan Saudara Watchman Nee. Meskipun ia sudah meninggal dunia, tetapi ia tetap berbicara, dari buku-buku rohaninya, banyak orang mendapatkan bantuan yang limpah.

Saudara Lee pernah berkata, "Bila orang yang berhayat limpah menghadiri sidang, walaupun ia duduk saja, sudah ada hayat yang teralir dari dirinya. Saya ingat pada tahun 1930-an, saat itu Saudara Watchman Nee baru 29 tahun, lebih besar dua tahun dari saya. Ia duduk dalam balai sidang gereja di Shanghai. Meskipun tidak berbicara, tidak berdoa, bahkan tidak menyanyi dengan baik, tetapi ia penuh dengan hayat. Kalau di waktu-waktu sidang, karena ke luar kota, ia tidak bisa datang, kami merasa ada kekurangan. Meskipun kami bersidang dengan sungguh-sungguh, tetap merasa kekurangan hayat. Demikianlah hayat di dalam satu orang, dapat menimbulkan perbedaan yang sekian besar."

Saudara Watchman Nee pernah bertanya kepada Miss Barber, "Bagaimana membuat orang merasakan perlu hayat? Bagaimana membuat orang mempunyai kedambaan rohani?" Ia menjawab : Perkara ini meskipun berada di tangan Allah, tetapi juga ada aspek manusia. Kita tidak menyinggung aspek Allah. Dari aspek manusia, apakah ia bisa membuat orang mempunyai rasa kedambaan rohani, tergantung pada ia adalah orang yang bagaimana. Ketika orang yang maju berkumpul bersama orang yang tidak maju, orang yang tidak maju dengan sendirinya bisa merasakan dirinya terbelakang; orang yang taat berkumpul bersama orang yang tidak taat, orang yang tidak taat itu bisa tampak ketidaktaatannya; demikian pula halnya dengan orang yang suci berkumpul dengan orang yang tidak suci, dengan sendirinya orang yang tidak suci itu bisa melihat ketidaksuciannya. Kalau diri Anda sendiri bukan orang itu, Anda tidak bisa membuat orang lain mempunyai kehausan itu.

III. ORANG YANG DALAM,

MENANGGULANGI DIRT DENGAN DALAM

Menerima penanggulangan salib, orang lahiriah semakin merosot, orang batiniah semakin baru. Pikiran diperbarui, Kristus menjadi pribadinya. Dari 2 Korintus 4 kita dapat tampak, Paulus adalah orang yang dalam sekali. Kalau kita maudalam, harus menerima penanggulangan salib, setiap hari menaruh diri kita di atas salib. Hanya tahu Kristus dan Dia tersalib (1 Kor. 2:2). Tidak membuat salib menjadi sia-sia (1 Kor. 1:17).

Madame Guyon adalah seorang yang dalam, ia senang menerima salib, sehingga hayatnya mencapai taraf dewasa, limpah, dan matang. Setelah pohon anggur dibersihkan, malah dapat berbuah banyak (Yoh. 15:1-2). Banyak melewati urusan, malah mendapat kelimpahan rohani yang lebih banyak.

Miss Barber memberi bantuan rohani yang sangat besar kepada Saudara Watchman Nee. Ketika Saudara Watchman Nee berkenalan dengannya, usianya sudah 50 tahun lebih. Ia adalah orang Inggris. Ketika berusia 30 tahun lebih, ia diutus oleh misi Methodis ke China, bekerja di daerah Hinghwa, Provinsi Hokkian. Karena ada yang iri hati, ia difitnah oleh sesama anggota misi. Pengurus misi memanggilnya pulang ke Inggris untuk diselidiki kebenarannya. Ia adalah seorang yang mengenal Tuhan, juga mengenal salib, senantiasa belajar pelajaran salib, sebab itu ia menetapkan tidak mau membela dirinya. Ia tinggal di Inggris beberapa tahun, sampai suatu hari pengurus misi mengetahui bahwa saat itu ia difitnah oleh orang, lalu menyuruhnya menjelaskan keadaan yang sebenarnya, barulah ia mengutarakan perkara yang sesungguhnya. Dengan demikian, perkaranya menjadi jelas, pengurus misi segera memutuskan untuk mengutusnya kembali bekerja di China lagi. Sebelum ini, ia sudah mengetahui jalan Tuhan, mengetahui kesalahan denominasi, lalu dalam kesempatan itu, ia mengajukan pengunduran diri, terlepas dari misi, tidak menjadi misionaris lagi. Lewat doa sejangka waktu yang panjang, ia dengan jelas mengetahui bahwa Tuhan akan mengutusnya kembali ke China, tetapi tidak melalui misi yang mana pun. Ia kembali lagi ke China, tinggal di danau Gading Putih, seberang kecamatan Pagoda Losing, di pinggir Fuchow. Ia hanya hidup bersandar iman, tidak ada yang menunjang ekonominya. Ia tidak berkeliling ke mana-mana, juga tidak mengabarkan Injil ke mana-mana, hanya tinggal di rumah, berdoa siang dan malam. Secara luaran, kelihatannya ia tidak mempunyai aktivitas yang besar, tetapi di kemudian hari Saudara Watchman Nee berkata, "Dalam waktu-waktu ia bersekutu dengan Miss Barber, Allah dengan riil memakainya."

Miss Barber sendiri belajar pelajaran salib, juga memimpin Saudara Watchman Nee belajar pelajaran salib. Ketika Saudara Watchman Nee masih muda, begitu mulai melayani Tuhan, langsung belajar pelajaran salib. Saat itu mereka mempunyai tujuh sekerja, setiap hari Jumat berkumpul, tetapi sebagian besar waktu dipakai untuk berdebat dengan seorang sekerja yang lainnya. Sekerja itu lebih tua dua tahun daripada Saudara Watchman Nee. Walau bagaimana Saudara Watchman Nee berdebat, sekerja itu tidak menerima, bahkan sengaja tidak mendengarkan. Satu-satunya alasan adalah sekerja itu lebih tua dua tahun daripadanya. Saat itu, hampir setiap hari Sabtu Saudara Watchman Nee pergi ke tempat Miss Barber. Hatinya tidak bisa menerima,lalu mengeluh kepada Miss Barber, mengadu bahwa sikap saudara itu salah, menceritakan perkara yang mereka ributkan kepadanya, minta dia menilai siapa yang salah? Tetapi Miss Barber tidak berkata benar atau salah; ia menatap Saudara Watchman Nee dan berkata, "Lebih baik kamu mendengar perkataannya." Saudara Watchman Nee tidak bisa menerima, lalu menjawab, "Kalau saya salah, katakanlah salah; kalau saya benar, katakanlah saya benar, mengapa berkata, Lebih baik mendengar perkataannya?" Ia berkata, "Di dalam Tuhan, yang muda harus mendengarkan yang tua." Saudara Watchman Nee dengan kesal menjawab, "Di dalam Tuhan, jika yang muda benar, apakah ia harus mendengar yang tua di dalam Tuhan tetapi salah?" Miss Barber dengan senyum berkata, "Kamu lebih baik mendengar perkataannya." Saudara Watchman Nee lalu membela diri, "Kalau demikian saya tidak sanggup. Karena orang Kristen juga seharusnya bertindak menurut aturan." Miss Barber berkata, "Bukan salah benarnya alasan, melainkan melihat Alkitab berkata bagaimana. Alkitab berkata, orang-orang muda, tunduklah kepada orang-orang yang tua." Setelah mendengar ini, Saudara Watchman Nee hanya bisa pulang sambil menangis, merasa kesal mengapa dirinya tidak lebih dulu lahir daripada saudara itu.

Pada musim semi tahun 1923, ada 18 orang muda yang baru percaya akan dibaptiskan. Ada tiga orang membicarakan soal baptisan. Di antaranya Saudara Watchman Nee yang paling muda, Saudara Wang lebih tua lima tahun daripadanya, dan Saudara Wu lebih tua tujuh tahun daripada Saudara Wang. Saudara Watchman Nee berpikir, Saudara Wang lebih besar daripada saya lima tahun, sebab itu, terhadap semua urusan dalam pelayanan sehari-hari, saya harus mendengarkan dia; sekarang Saudara Wu lebih besar tujuh tahun daripada dia, apakah dia mau mendengar Saudara Wu? Tetapi setelah mereka berembuk, Saudara Wang tidak mendengarkan apa yang dikatakan Saudara Watchman Nee, juga tidak mendengar apa yang dikatakan Saudara Wu. Bagaimanapun mereka menjelaskan, ia sama sekali tidak mempedulikan. Sampai akhirnya Saudara Wang berkata, "Kalau kalian tidak mau, aku saja yang akan melakukan." Saudara Watchman Nee berpikir, kalau demikian, di dunia ini tidak ada benar dan salah. Lalu Saudara Watchman Nee pergi menemui Miss Barber, bertanya kepadanya, "Sekarang ada perkara yang demikian, bagaimana pendapat Anda; yang membuat saya jengkel, dia sama sekali tidak ada benar dan salah." Sambil berdiri Miss Barber berkata, "Mengapa sampai sekarang kamu belum tampak apa hayat Kristus? Beberapa bulan ini, kamu terus berkata bahwa dirimu benar, saudaramu salah, apakah kamu pernah memikirkan, ketika mengutarakan perkara ini, dirimu sendiri benarkah? Bagaimana keadaan batinmu? Apakah kamu belum mengetahui salib? Yang kamu persoalan adalah benar salahnya perkara, tetapi yang aku persoalan adalah salib, hayat." Ia bertanya pula kepada Saudara Watchman Nee, "Kamu kira, kamu berbuat demikian itu benar; kamu kira, kamu demikian memberitahuku itu benar; dari segi aturan memang benar, tetapi aku bertanya, dalam batinmu bagaimana? Perasaan dalam batinmu bagaimana?" Saudara Watchman Nee mau tidak mau harus mengakui bahwa dari segi aturan memang ia benar, tetapi dari segi hayat batiniah, ia benar-benar salah.

Di kemudian hari Saudara Watchman Nee berkata, "Pelajaran pertama dari salib, adalah menyuruh kita tidak beralasan. Kita sama sekali bukan berdasarkan benar atau salah berurusan dengan orang. Semua yang beralasan, tidak berada dalam wilayah orang beriman. Kalau Anda sampai beralasan dengan orang lain, Anda sudah meninggalkan kedudukan sebagai orang Kristen."

Miss Barber tampak bahwa Watchman Nee yang remaja ini harus ditekan, sebab itu dalam segala hal ia selalu ditaruh di bawah saudara yang lebih tua lima tahun daripadanya. Saudara Watchman Nee tidak tahan, tetapi semakin ia tidak tahan, semakin ditekan oleh Miss Barber; ia dipaksa tunduk. Pada suatu hari, ada beberapa orang beroleh selamat, mereka semua diselamatkan lewat Saudara Watchman Nee, ia membawa mereka ke depan Saudari Barber untuk dibaptis. Mula-mula Saudara Watchman Nee mengira : orang-orang ini diselamatkan karena pemberitaan Injilku, dengan sendirinya akulah yang akan membaptiskan mereka. Tetapi Miss Barber menunjuk saudara yang lebih tua daripadanya itu untuk membaptis. Saudara Watchman Nee tidak bisa menerima, lalu bertanya, "Mengapa demikian?" Miss Barber menjawab, "Karena dia lebih tua daripadamu." Saudara Watchman Nee tidak bisa berkata apa-apa. Pada suatu kali, di tempat yang lain ada baptisan, dan saudara yang ada di sana lebih kecil dua tahun daripada Saudara Watchman Nee. Saudara Watchman Nee merasa, kali ini pasti dia yang membaptis, tetapi Miss Barber tidak menunjuknya, malah menunjuk saudara yang lebih kecil dua tahun itu untuk membaptis. Saudara Watchman Nee bertanya, "Mengapa demikian? Bukankah dia lebih kecil dua tahun daripadaku?" Miss Barber menjawab, "Tidak ada apa-apa, aku hanya menghendaki dia yang membaptis." Saat-saat itu Saudara Watchman Nee benar-benar ditekan untuk belajar pelajaran rohani. Lewat beberapa waktu, setelah situasi berubah, seumur hidupnya, Saudara Watchman Nee tidak lupa akan faedah yang ia terima dari pelajaran itu.

Begitu mulai belajar melayani, Saudara Watchman Nee sudah belajar pelajaran salib. Ia benar-benar memahami bahwa perkara ini menduduki tempat yang penting dalam pelayanan. Sebab itu di kemudian hari, ia sangat memperhatikan pelajaran salib atas diri sekerja-sekerjanya. Dari suratnya yang ia kirim dari Inggris, kita dapat melihat sedikit tentang ini. Di bawah ini adalah beberapa kutipan dari suratsuratnya :

"Saya sudah belajar pelajarn salib… Saya mohon kepada Allah sekiranya sekerja muda bisa mengetahui bagaimana salib menanggulangi daging dan hayat alamiah."

"Semuanya tergantung pada mengetahui bagaimana salib menanggulangi kekuatan alamiah."

"Saya semakin merasakan pentingnya membatasi manusia alamiah kita. Kalau kita kehilangan kebebasan, kita akan memiliki kekuatan hayat… Yang menjadi pikiran saya, sekerja-sekerja jarang sekali yang mengetahui apa itu kekuatan alamiah, apalagi menolaknya…"

"Bertahun-tahun yang saya khawatirkan adalah saudara yang masuk belakangan hari, tidak melewati salib, tidak mengetahui betapa bobroknya daging. Mereka kekurangan pengalaman sendi paha Yakub terpelecok. Mereka perlu wahyu dan dijamah oleh Allah, sehingga daging mengalami pukulan yang tidak dapat dsembuhkan – seumur hidup pincang. Saat kita ditanggulangi oleh Allah, mungkin tidak merasakan mustikanya, sekarang melihat kebutuhan di atas diri orang lain, barulah mengetahui kemustikaannya…"

"Keadaan di Eropa sama dengan di China… Mengenai pengenalan terhadap daging dan penolakan terhadap daging, sama dengan China hampir-hampir tidak pernah mendengarkannya…"

Seorang saudara berkata, "Perlu membawa saudara sautiari menerima salib. Alamiah kita, tubuh daging, temperamen, ego, dan lain-lain, sudah ditanggulangi di salib."

Di dalam gereja tidak boleh ada alamiah, karena orang-orang yang di dalam gereja semuanya adalah orang yang tersalib. Di dalam gereja tidak ada rebutan nama, tidak ada rebutan kedudukan, karena orang-orang yang di dalam gereja, semuanya sudah ditanggulangi di atas salib. Semua darah daging, tubuh daging, tujuan ego, dan hati yang ingin dirinya yang besar, semuanya harus ditanggulangi di salib.

Adakalanya ada saudara bertanya kepada Saudara Witness Lee, "Saudara Lee, apakah pewajib rumahan boleh berkata demikian, bertindak demikian?" Saudara Witness Lee berkata, "Bagaimanapun keadaan saudara pewajib rumahan itu, itu adalah soal yang kedua, saya terlebih dulu meminta Anda dengan tenang berpikir tentang motivasi Anda sekarang, sikap dan cara pembicaraan Anda sekarang, di dalam Roh Kudus atau di dalam daging?" Saudara tadi dengan jujur menjawab, "Aku tahu, diriku di dalam daging." Lalu Saudara Lee berkata, "Kalau Anda di dalam daging, maka Anda tidak ada kedudukan berbicara. Asal di dalam daging, kita tidak ada kedudukan berbicara. Asal di dalam daging, kita sudah jatuh ke tangan Iblis." Ia bertanya lagi, "Kalau demikian, apakah kita tidak usah berbicara lagi?" Saudara Lee menjawab, "Saya bukan menyuruh Anda tidak bicara lagi, tetapi Anda berbicara di mana? Di dalam Roh Kudus atau di dalam daging? Kalau Anda berada di dalam daging, perlu menerima salib Kristus. Setelah menerima salib Kristus, Anda baru tabu boleh berbicara atau tidak boleh berbicara, atau berbicara sampai batas apa." Puji Tuhan, lewat beberapa hari lagi, saudara itu kembali menemui Saudara Lee sambil berkata, "Saudara Lee, syukur kepada Tuhan, sekarang aku tahu harus katakan apa." Kata Saudara Witness Lee, "Inilah Kristus dan salib menghapus unsur perpecahan di dalam saudara saudari, inilah yang diperlihatkan kepada kita dalam 1 Korintus."

IV. BEBERAPA HAL YANG TIDAK DALAM

1. Dalam bukanlah berputar-putar di dalam pikiran. Kristus itu dalam; hidup di dalam-Nya, memikirkan dan mempertimbangkan di dalam-Nya, itu adalah dalam.

2. Dalam bukannya menggerutu, bukannya mencari kerepotnn, nrelainkan sungguh-sungguh.

3. Dalam bukanlah menjadi orang yang misterius, supaya terang tidak mengerti maksudnya, melainkan dari dalam roh menyatakan Kristus, bersaksi bagi-Nya, ada sesuatu yanp keluar dari mustika yang di dalam, supaya hidup Yesus menjadi nyata di dalam dirinya (2 Kor. 4:7, 11). Paulus tidak menjadi orang yang misterius, dalam segala hal menunjukkan bahwa dia adalah pelayan Allah (2 Kor. 6,4), supaya orang tahu bagaimana ia hidup di antara mereka sejak hari pertama (Kis. 20:18).