Daftar isi Karakter · bab 10/30

MURNI

"Tetapi Kristus adalah semua dan di dalam segala sesuatu"

Kolose 3:1lb

"Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku

dan kenallah pikiran-pikiranku; lihatlah, apakah jalanku serong,

dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!"

Mazmur 139:23-24

1. MURNI BERARTI POLOS, JERNIH

Tidak dititikberatkan pada bersih, melainkan bebas dari campuran. Benda yang bersih, mungkin saja mengandung campuran.

Murni berarti hanya ada satu benda, tidak ada dua benda. Misalkan garam. Air laut dimasak menjadi garam, namun di dalamnya masih terkandung kotoran, serat-serat atau lumpur. Karena itu, larutan garam dari air taut itu perlu disaring dan di masak hingga kering, baru menjadi garam dapur putih yang baik untuk dikonsumsi. Tetapi di dalamnya masih terkandung zat Yodium (I), Kalium (K), Magnesium (Mg) dan unsur mineral lainnya. Walau boleh dimakan, tetapi tidak murni, sebab itu tidak dapat diinfuskan ke dalam pembuluh darah balik (vena), dan perlu diproses dengan cara kimiawi lagi, agar ia menjadi murni, hanya berzat NaCl, baru dapat dianggap benar-benar murni.

Dua Tawarikh 4:20-21 mencatat bahwa kaki dian terbuat dari emas murni; bunga, pelita, kaki dian, sepit-sepitnya semua dibuat dari emas murni. Hanya berunsur emas, tanpa bercampur dengan tembaga, besi, timah, timah hitam, atau lain-lainnya. Sungai air hayat dalam Wahyu 22:1, bening bagaikan kristal, tanpa campuran sedikit pun. Murni tidak sekadar bersih, bahkan polos, jernih, tanpa campuran.

2. GEREJA ITU MURNI

Gereja adalah kaki dian emas, tidak boleh tercampur dengan apa pun, hanya memiliki unsur Kristus. Efesus 5:27 mengatakan bahwa gereja kudus, tak bercacat cela. Bila tercampur dengan sesuatu yang di luar Kristus, itu sudah bercacat cela. Gereja seharusnya adalah "Kristus adalah semua dan di dalam segala sesuatu" (Kol. 3:11).

Saudara Witness Lee mengatakan bahwa awal mula pemulihan Tuhan di tengah-tengah kita benar-benar sangat murni, tanpa latar belakang apa pun, tanpa motivasi apa pun, dan tanpa sangkut-paut apa pun.

Pemulihan Tuhan di Taiwan secara resmi dimulai pada 1 Agustus 1949, ketika itu diadakan sidang istimewa seluruh Taiwan yang pertama. Saat itu banyak sekali orang yang pindah dari daratan China, gedung-gedung kebaktian lain belum didirikan. Mereka mendengar di jalan Ren-ai ada gedung kebaktian, maka mereka datang, sebentar saja balai sidang kita terisi penuh tiga ratus orang. Melihat situasi demikian, Saudara Lee di atas mimbar menyampaikan sebuah khotbah yang "mengherankan". Ia berkata : Dewasa ini "gedung-gedung gereja" dalam kekristenan ibarat restoran-restoran, orang Se Cuan menyukai masakan Se Cuan; orang Hunan menyukaimasakan Hunan; orang Shanghai menyukai masakan Shanghai; orang Beijing menyukai masakan Beijing; orang Fuchow menyukai masakan Fuchow; orang Amoy menyukai masakan Amoy; orang Kanton menyukai masakan Kanton. Hari ini orang-orang yang berkebaktian pergi ke "gereja" yang sesuai dengan selera masing-masing. Yang suka pedas pergi ke restoran Hunan atau Se Cuan; yang suka bakpao pergi ke restoran Shantung. Namun, "restoran" kita di sini hanya menyediakan "nasi putih", tidak ada cita rasa lainnya. Di sini juga tidak ada pendeta yang membantu orang melangsungkan upacara pernikahan. Ada orang datang ke kalangan kekristenan untuk mencari jodoh, di sini kita tidak ada jodoh; jika di sini Anda ingin mencari jodoh, Anda telah salah masuk. Ada yang datang ke "gereja" untuk mencari pekerjaan, namun di sini tidak mencarikan pekerjaan. Ada yang ke "gereja" untuk mendapatkan pertolongan obat-obat atau dokter, tetapi di sini tidak ada dokter dan klinik, lebih-lebih tidak menjual obat-obatan. Apa pun tidak ada. Ada orang yang datang ingin bantuan ekonomi, tetapi kita sama sekali tidak menyedekahi orang. Jika Anda mengharapkan sedekah, kami tidak memberi sedekah; jika Anda tidak mengharapkan sedekah, mungkin kami bisa membantu Anda. Ini perlu kami jelaskan kepada kalian lebih dulu, agar kalian "tidak salah alamat".

Selesai berkhotbah, Saudara Lee berkata kepada saudara-saudara, minggu depan harus disediakan kartu pendaftaran untuk mendaftar orang-orang yang hadir. Ketika tiba hari Minggu berikutnya, hadirin berkurang separuh, yang separuh tidak datang lagi. Ada yang pergi makan sambel, ada yang pergi makan masakan Kanton, sesuai dengan selera masing-masing. Tetapi syukur kepada Tuhan, masih ada sebagian yang datang "makan nasi putih" bersama kita. Nama-nama orang-orang ini lalu dicatat semua, dan kemudian dijenguk satu persatu. Segolongan orang ini lalu dibawa ke dalam gereja. Dari hari pertama kedudukan ini sudah diletakkan dengan jelas dan tegas. Siapa ingin "makan nasi putih" boleh datang, di sini sama sekali tidak tersedia sambel, masakan Kanton, atau lainnya.

Arti khotbah ini ialah, di dalam gereja hanya ada Kristus, hanya menyuplaikan Kristus. Siapa yang hanya ingin "makan roti hingga kenyang" silakan mundur, tetapi yang ingin beroleh "firman yang hidup" silakan datang (Yoh. 6:26, 66-68). Tatkala bani Israel mengembara di padang gurun, Allah hanya menurunkan manna; tidak ada daging, ikan, mentimun, semangka, bawang prei, bawang merah, dan bawang putih (Bil. 11:4-9).

3. ORANG YANG MELAYANI

HARUS MENOLAK CAMPUR ADUK

a. Allah Selamanya Tidak Mengizinkan Campur Aduk

Dalam Ulangan 22:9-11 tercantum perintah tidak boleh menanam dua macam benih di dalam kebun anggur; tidak boleh membajak ladang dengan lembu bersama keledai; tidak boleh mengenakan pakaian yang terbuat dari bahan bulu domba yang teranyam bersama lenan halus. Dala;rm pandangan Allah, campur aduk lebih keji dari pada kenajisan. Ibarat seorang gadis telah dinikahkan kepada seorang laki-laki, tetapi hatinya serong, ini adalah perbuatan yang paling menjengkelkan suaminya. Dua Korintus 11:2-3 mengatakan bahwa orang-orang Korintus berserong hati, dan kehilangan hati yang murni terhadap Kristus. Hal itu telah membangkitkan kecemburuan Paulus, Allah pun cemburu karenanya.

b. Segalanya Krlstus, Tanpa Campur Aduk Apa pun,

Tanpa Maksud Lain

Dipandang dari luaran, lembu, domba, atau merpati dalam bait suci dapat memudahkan orang mempersembahkan kurban, tetapi itu telah dikomersialkan, itu tidak murni. Melayani dalam gereja karena menginginkan kedudukan penatua; mempersembahkan harta demi mendapat pujian orang; ketika berkhotbah, menonjolkan diri sendiri, menyindir atau mengkritik orang lain, semua itu berarti tidak murni.

Ada seorang pekerja yang bekerja di Shanghai. Ia sangat mendambakan memiliki pengalaman menderita bekerja di pedalaman. Suatu hari ia pergi ke pedalaman bersama seorang penginjil pedalaman untuk bekerja di sana. Kebetulan saat itu di pedalaman terjadi kelaparan, kekurangan makanan, dan mereka harus memasak sendiri semua keperluan makan mereka. Pekerja yang dari Shanghai itu sering berebut untuk menanak nasi, berebut untuk menyalakan api, dan berkata kepada penginjil pedalaman, "Izinkanlah aku bekerja lebih banyak, supaya aku mendapatkan beberapa pengalaman guna dipersaksikan." Tidak lama kemudian, pekerja ini kembali ke Shanghai. Di dalam khotbahnya, sering mengutarakan bagaimana dia menderita di pedalaman, bagaimana menghadapi bahaya, berbagai macam kisah, kedengarannya sangat menarik dan menakjubkan pendengar; ia sangat memuliakan diri sendiri. Banyak orang yang menuntut pencurahan Roh Kudus juga seperti pekerja tadi. Melihat orang lain mendapatkan pencurahan Roh Kudus, ia juga berharap menerima pencurahan Roh Kudus, agar dirinya seperti orang lain itu, supaya banyak orang melihat pengalamannya yang hebat; memuliakan diri sendiri.

Seorang saudara berkisah: Ada seorang anak meminta sebuah bola kepada neneknya. Tetapi setelah sejangka waktu yang lama, neneknya belum juga memberinya bola. Kemudian, dalam suatu sidang keluarga, si anak berdoa dengan nyaring, "Tuhan, berilah aku sebuah bola." Ibunya lalu berkata kepadanya, "Telinga Allah tidak tuli, mengapa kamu berdoa berteriak demikian?" Si anak menjawab, "Telinga Allah tidak tuli, tetapi telinga nenek tuli!" Hari ini, banyak orang berdoa, namun mereka berdoa bukan untuk didengar oleh Allah, melainkan untuk didengar manusia. Bukan meminta kepada Allah, melainkan memberi isyarat kepada manusia. Seperti seorang saudara. Karena kekurangan dalam penghidupannya, pada tengah malam ia berdoa dengan suara keras, "Ya, Tuhan, aku sudah tidak mempunyai beras lagi. Aku tidak mempunyai makanan lagi. Mohon Engkau memberi aku." Saudara ini sengaja berdoa dengan nyaring supaya suaranya didengar oleh saudara lainnya di sebelah rumah. Keesokan harinya, saudara tetangga tersebut datang mengantarkan beras kepadanya. Doa yang licik sedemikian ini berasal dari daging, sangat tidak patut.

Begitu tidak murni, mengandung maksud lain, itu seperti seekor lalat mati yang dapat membuat minyak wangi menjadi bau (Pkh. 10:1).

Pada masa lampau, di China, pernah ada banyak saudara yang mempunyai apa yang disebut "karunia", datang berkontak dengan Saudara Watchman Nee. Mereka adakalanya dengan terus terang bertanya kepada Saudara Watchman Nee, "Jika kami meninggalkan denominasi, menempuh jalan ini, kedudukan apa yang akan kami peroleh?" Saudara Watchman Nee menjawab, "Saya sendiri tidak tahu kedudukan apa yang saya miliki. Lalu kedudukan apa yang akan saya berikan kepada Anda?" Hal semacam ini sering terjadi. Kita tidak dapat mengatakan mereka tidak tampak jalan ini, mereka sungguh telah tampak sedikit, tetapi mereka menginginkan satu kedudukan.

Saudara Witness Lee berkata, "Selama 40 tahun terakhir ini, di Amerika, di tengah-tengah kita, ada orang-orang yang berambisi menjadi penatua. Bila di suatu tempat mereka tidak diangkat menjadi penatua, mereka pindah ke tempat lain. Semakin mereka berambisi menjadi penatua, semakin ternyata pula bahwa mereka tidak seharusnya menjadi penatua. Dari satu kota ke kota lainnya, mereka selalu tidak bisa memperoleh jabatan penatua. Akhirnya mereka beralih dan meninggalkan gereja." Gereja benar-benar menjadi batu ujian motivasi kita lebih daripada yang lain. Gereja adalah satu kaki dian emas, campur aduk apa pun tidak dapat ditolerir. Kita harus diuji dan dibersihkan. Kita perlu berdoa, "Tuhan, ujilah dan tahirkanlah aku. Sekarang aku berada dalam pemulihan-Mu, ujilah aku!"

"... Sebab Ia seperti api tukang pemurni logam dan seperti sabun tukang penatu. Ia akan duduk seperti orang yang memurnikan dan melahirkan perak; dan Ia melahirkan orang Lewi, menyucikan mereka seperti emas dan seperti perak" (Mal. 3:2-3). Sabun untuk membersihkan kenajisan, pentahiran untuk membersihkan campuran. Sabun untuk membersihkan, pemurnian untuk membuat sesuatu menjadi murni.

Ketika jumlah saudara saudari di gereja di Shanghai bertambah banyak, balai sidang di jalan Hardoon tidak cukup untuk menampung, dan perlu sebuah balai yang lebih besar, yang bisa menampung 500 orang. Mereka lalu berdoa untuk ini. Pada tahun 1936, ada seorang saudari tua yang sangat kaya, yang memiliki beberapa bidang tanah warisan. Lokasi tanah warisan itu sangat dekat dengan balai sidang. Usia saudari itu kurang lebih 70 tahun. Ia mengasihi Tuhan, sering mengikuti sidang-sidang. Ketika ia mendengar gereja perlu sebidang tanah, ia berminat mempersembahkan tanahnya itu kepada Tuhan untuk balai sidang. Tetapi ia pun prihatin terhadap anak-anaknya. Padahal anak-anaknya semua sudah dewasa, juga sangat kaya. Setelah melalui mufakat keluarga, mereka setuju mempersembahkan separuhnya. Dengan kata 1ain, gereja cukup membayar separuh harga. Segalanya sudah dibicarakan dengan baik, gereja juga sudah membayarnya dan sertifikatnya pun sudah diserahkan kepada gereja. Ketika gereja akan mulai membangun gedungnya, tiba-tiba anak perempuan saudari itu datang meminta kepada gereja, agar bila pembangunan balai itu selesai, dibuatkan sebuah monumen batu dengan mengukir kata-kata : tanah ini separuhnya adalah persembahan saudari anu (ibunya). Walau hal ini sudah berulang-ulang diajukan, Saudara Watchman Nee sama sekali tidak mentolerir. Ia tidak bisa mengalah, dan memberinya kesempatan untuk memamerkan kekayaannya. Anak perempuan saudari itu pun tidak mau mengalah. Akhirnya perjanjian dibatalkan, sertifikatnya dikembalikan, uang gereja pun ditarik kembali. Gereja itu murni, hanya ada Kristus, tidak boleh membiarkan pameran kekayaan manusia masuk ke dalamnya.

Seorang saudara berkata : Adakalanya selesai berkhotbah, pulang ke rumah, aku harus mengaku dosa. Ketika aku beroleh selamat, aku sangat damba berkhotbah. Aku merasa alangkah indahnya jika aku bisa berkhotbah seperti saudara anu. Aku pun belajar berkhotbah. Adakalanya hayat kebangkitan beroperasi dalam khotbahku, sehingga aku sadar bahwa aku menonjolkan diri, mengutarakan pendapatku, bahkan menyindir orang. Itu tidak murni. Adakalanya selesai berkhotbah ada orang berkata, "Saudara, khotbah Anda kali ini lebih baik daripada khotbah saudara anu." Hatiku segera merasa bangga. Tetapi setelah aku menerima terang, aku segera berkata, "Hai setan, enyahlah dari diriku!"

c. Harus Bermotivasi Murni

"Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku, lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!" (Mzm. 139:23-24). Demi pemulihan Tuhan dan melayani dalam hayat, kita harus bermotivasi murni.

Saudara Watchman Nee telah memetik pelajaran melalui menerima banyak serangan atau kritik, hingga motivasinya menjadi murni. Pada waktu diserang orang, khususnya diserang para misionaris Barat, ia sering bertanya kepada diri sendiri, "0, boleh jadi aku sudah salah, kalau tidak mengapa begitu banyak hamba Tuhan menyerang aku?" Justru karena diserang sedemikian rupa, ia terlindung, dan selalu bertanya kepada diri sendiri, apakah motivasinya murni atau tidak. Di sini ia memperoleh pelajaran bermotivasi murni. Ia juga memimpin rekan-rekan sekerjanya belajar pelajaran ini.

Pada tahun 1935, Saudara Witness Lee memimpin sidang istimewa di Hangchow beberapa hari. Setelah kembali, Saudara Watchman Nee membawanya ke suatu tempat dan tiba-tiba bertanya kepadanya, "Untuk apa kamu ke Hangchow?" Saudara Witness Lee terkejut sekali dan menjawab, "Saya merasa di Hangchow ada saudara-saudara yang perlu bantuan saya, maka saya pergi ke sana membantu mereka." Saudara Watchman Nee dengan tegas berkata, "Itu adalah cara kerja politikus." Saudara Lee tak mengerti dan mohon Saudara Nee menjelaskan maksud perkataan itu. Saudara Nee berkata, "Karena kamu pergi dengan suatu tujuan tertentu." Saudara Lee menyahut, "Tujuan saya tidak jelek, saya bermaksud membantu mereka." Saudara Nee berkata, "Ya, tidak salah, itulah politik." Saudara Lee berkata, "Saudara Nee, kalau begitu saya tidak bisa melayani Tuhan lagi." Kemudian Saudara Nee membantu Saudara Lee memahami maksud tersebut, katanya, "Bila kamu pergi ke suatu tempat, kamu tidak boleh memiliki satu tujuan. Mengapa kamu ingin ke sana? Seharusnya karena Tuhanlah yang memimpin demikian. Tuhan menginginkan kamu pergi, karena itu kamu pergi. Apa yang harus kamu lakukan, kamu sendiri tidak tahu, Dialah yang tahu." Di kemudian hari Saudara Lee berkata, "Ini benar-benar satu pelajaran." Hingga kini ia masih mempelajari pelajaran tersebut, yaitu pelajaran bermotivasi murni.

Saudara Nee juga berkata, "Segalanya tergantung pada motivasi." Pada orang yang bersih, segalanya bersih; pada orang yang kotor, segalanya juga kotor. Tuhan tidak saja menilik pekerjaan kita, tetapi juga menilik motivasi pekerjaan kita bekerja untuk apa. Tuhan tidak bertanya berapa besarnya pekerjaan kita yang di luar, melainkan apakah lubuk hati kita murni. Bila hati kita di dalam gereja tidak murni, pada suatu hari pasti akan timbul masalah dan kesulitan.

Ketika Saudara Lee, mengenangkan kembali sejarah kita di daratan China, ia berkata, "Selama 20 tahun saya bergaul dengan pelayan-pelayan Tuhan. Orang-orang yang murni dan bersih dalam perasaan hati nurani, dewasa ini semua meringkuk dalam penjara, sedangkan mereka yang ada masalah dalam perasaan hati nurani, hari ini semua telah murtad. Karena itu, jika motivasi batin kita tidak murni, cepat atau lambat, pasti akan menimbulkan masalah, sekalipun kita sudah jelas tampak visi ini."

Ada pepatah mengatakan, "pohon besar mengundang angin". Pada aspek lain, menurut kenyataannya, memang tidak ada seorang pemimpin yang tidak ditentang orang. Bahkan orang yang di bawah pimpinan Anda pun mungkin dengki atau iri hati terhadap Anda. Semuanya itu merupakan ujian bagi kita untuk menyatakan apakah motivasi kita murni. Ini bukan masalah ada tidaknya kekhilafan pada saudara-saudara yang senior, melainkan bagaimana motivasi kita. Atau kita hanya mengambil kesempatan untuk mengada-ada saja? Pihak lain mungkin memiliki beberapa kelemahan, tetapi kita mengambil kesempatan mengada-ada, itu membuktikan motivasi batin kita tidak murni. Jika Anda dan saya tidak dapat menempuh jalan ini sampai ke garis akhir, itu bukan masalah visi, tetapi mutlak masalah motivasi. Kalau kita masih menghitung-hitung untung rugi dalam motivasi; merasa tenang jika beroleh lebih banyak dan merasa tidak tenang jika beroleh lebih sedikit, ini adalah perkara yang sangat berbahaya. Kalau demikian, pada suatu hari, pasti akan timbul masalah. Kalau diutus bekerja di tempat baik, Anda senang pergi, tetapi kalau diutus ke tempat yang kurang baik, Anda segera merasa gelisah. Nah, rasa gelisah yang sedikit itu pada suatu hari akan menimbulkan masalah. Itu membuktikan bahwa hati Anda kurang bersih dan murni.

Jangan sekali-kali menjadi orang plin-plan dalam pemulihan Tuhan. Harus jelas terhadap kebenaran, visi pun harus tepat. Pada aspek lain, walau kebenaran sudah jelas, visi sudah tepat, tetapi jika hati Anda tidak bersih, motivasi Anda tidak murni, cepat atau lambat pasti akan timbul masalah. Hati Anda harus ditanggulangi hingga bersih, jika tidak, ketika suatu hal menguntungkan Anda, tidak ada masalah, tetapi jika tidak memuaskan Anda. masalah akan timbul. Seorang saudara berkata, "Walau aku juga keturunan Adam, tetapi selama 30 tahun ini, hatiku dirahmati oleh-Nya dan senantiasa terpelihara bersih." Hati Anda harus bersih, manusia Anda harus benar. Jalan ini tetap benar, baik menguntungkan maupun tidak menguntungkan. Anda tetap menempuh jalan ini, baik disenangi maupun tidak disenangi. Kalau benar tetap benar, jangan karena unsur untung rugi lalu mengubah nada.

Berperang demi kebenaran, delapan puluh sampai sembilan puluh persen adalah alasan belaka. Jangan sekali-kali beralasan untuk berdebat. Kalau memang itu bidat, hakimilah; kalau itu kebenaran, terimalah. Jangan menghakimi dengan alasan ini dan itu, berbuat demikian berarti tidak bersih.

Harus mengasihi Tuhan dan menuntut visi kebenaran-Nya, hati harus bersih, motivasi harus murni. Hanya ingin Tuhan, lain tidak. Tidak sekali-kali berkata ini dan itu dengan alasan. Tidak bersungut-sungut karena ambisi kita tidak tercapai. Ujian gereja berjangka panjang, yakni seumur hidup. Gereja adalah ujian Anda.

Saudara Witness Lee pertama kali ke Shanghai pada tahun 1933, dan sejak saat itu pula ia melibatkan diri dalam pelayanan. Ketika itu kondisi kesehatan Saudara Watchman Nee kurang baik, tidak dapat selalu mengikuti sidang. Ia menangani pekerjaan literatur, juga memimpin Sidang Istimewa, sehingga tidak dapat mengikuti sidang-sidang rutin lainnya. maka tugas sidang-sidang itu diserahkan kepada Saudara Lee. Pada saat itu ada seorang saudara yang sangat gairah dan lincah, sangat agresif, menonjol sekali ekspresinya dalam mengasihi Tuhan. Mulanya Saudara Lee sangat mengaguminya. Biasanya, tiap hari Minggu diadakan 3 kali sidang. Pada suatu kali, dalam sidang Minggu sore, Saudara Lee menugaskan saudara tersebut menyampaikan berita. Setelah diketahui Saudara Watchman Nee, ia memperingatkan Saudara Lee, "Kamu tidak seharusnya menugaskan saudara itu menyampaikan berita." Mulanya Saudara Lee tidak mengerti apa sebabnya, kemudian barulah ia tahu bahwa saudara itu berambisi menjadi penatua, padahal dia bukan orang yang layak untuk kedudukan itu. Itulah sebabnya Saudara Nee tidak mengizinkan Saudara Lee mengatur demikian. Saudara tersebut pindah dari China Inland Mission ke dalam gereja pada tahun 1927. Ia selalu berambisi menjadi penatua. Ia sendiri berkata kepada orang, "Saudara Anu yang pertama datang ke gereja, kini sudah menjadi penatua. Saudara Anu, yang ketiga datang ke gereja, ia pun telah menjadi penatua. Ada lagi saudara Anu, ia yang kedua puluh lebih datang ke gereja, kini ia pun sudah menjadi penatua. Aku adalah yang kedua, mengapa aku tidak diangkat menjadi penatua?" Sejak Saudara Lee mengenal dia pada tahun 1933, ia selalu membicarakan masalah penatua. Dalam sejangka waktu, ia masih sangat gairah, tidak bermasalah dengan saudara-saudara lainnya, di mana saja ia selalu menghakimi denominasi. Namun di samping itu ia selalu berambisi menjadi penatua. Pada tahun 1940, ia tetap tidak diangkat. Sejak itu ia mulai rnenggerutu, mengecam ini dan itu. Pada tahun 1948, setelah ia masuk dalam hidup gereja, dua puluh satu tahun kemudian, ia meninggalkan gereja, mengadakan sidang di rumahnya sendiri dan membayar seorang pendeta. Kecuali itu, ia sering mengecam kita dalam sebuah majalah yang ia terbitkan, antara lain mengatakan bahwa pandangan kita keliru dalam beberapa kebenaran. Ketika Saudara Lee membaca nrajalah itu, saudara kita tertawa dalam hati dan berkata, "Kalau memang ada yang keliru, hanya satu saja, yaitu tidak rnengangkatnya menjadi penatua."

4. ALLAH MENGHENDAKI KITA MURNI

Roma 12:2 mengatakan bahwa kehendak Allah itu murni, sempurna. Ia menghendaki manusia dipenuhi oleh Allah dan mengekspresikan Allah. Satu Petrus 2:2 mengatakan bahwa firman Allah adalah susu rohani yang murni. Firman Allah adalah hembusan Allah, menyuruh orang menghirup Allah itu sendiri, ini adalah murni dan sempurna. Matius 3:16 mengatakan bahwa Roh Kudus seperti burung merpati, yang hanya bisa melihat satu objek dalam satu waktu. Kehendak Allah itu murni. Semua itu menerangkan bahwa Allah menghendaki kita murni, hanya menghendaki Allah sendiri; seperti Tuhan Yesus yang hanya memikirkan perkara Bapa-Nya (Luk. 2:49), melakukan kehendak Allah (Ibr. 10:7).

Kita harus tahu bahwa Allah tidak menghendaki iman yang campur aduk, melainkan iman yang murni. Allah ingin menyelamatkan kita sedemikian rupa, sehingga yang kita inginkan hanyalah diri Allah. Allah tidak menginginkan pekerjaan kita. Tuhan yang kita layani itu setia, maka yang Ia tuntut adalah hati kita yang murni dan setia. Ia tidak memandang keberhasilan kita. Kita harus berdoa demikian, "Tuhan, bagi diriku apa pun aku tidak ingin, aku ingin segalanya bagi-Mu. Aku ingin apa yang Kau ingini. Segala yang di luar kehendak-Mu, aku tidak mau."

Kemurnian tidak saja menuntut penumpasan dosa dan daging, bahkan yang alami, yang baik; yang tanpa bekas dosa namun yang bukan berasal dari Allah, juga harus ditumpas. Tidak hanya dosa, daging, hayat ego, bahkan benda-benda, manusia, dan perkara-perkara yang menjadi titipan ego pun harus ditumpas. Semua kasih di luar Allah, kasih kecenderungan pribadi, tidaklah murni. Bukan masalah baik atau tidak baik, melainkan murni atau tidak murni. Segala yang berasal dari Allah itulah yang terhitung.

Andrew Murray berkata, "Wadah tembikar dapat dipakai untuk menampung minyak, disebabkan di dalamnya bersih, tidak saja tanpa sampah, benda-benda lain pun tidak ada; seperti selai, kecap dan lain sebagainya." Hari ini Allah ingin melakukan suatu pekerjaan yang sangat dalam di dalam gereja, yakni memimpin anak-anak-Nya menjadi seperti Putra-Nya, yang selain kehendak Bapa, tidak melakukan satu perkara apa pun berdasarkan diri sendiri. Allah menghendaki kita murni, semurni Putra-Nya. Sedikit pun tidak berbuat menurut diri sendiri, dan sama sekali tidak tercampur oleh kehendak pribadi.

Madame Guyon berkata : Tuhan pernah memberi petunjuk kepadanya dengan dua tetes air dalam mimpi. Yang setetes sangat indah sekali, sangat jernih, murni; sedang yang setetes lagi walau kemilau, namun di dalamnya ada garis-garis tanda tidak murni. Kedua tetes air itu memang dapat meleraikan haus, tetapi yang pertama sangat menyegarkan dan nyaman, sedang yang kedua tidak enak rasanya. Air pertama menunjukkan kemurnian, sama sekali tanpa campuran-campuran dari kasih diri atau manja diri; sedang air yang kedua penuh dengan campuran karunia dan emosi. Kemurnian dapat menghasilkan kemuliaan yang lebih banyak kepada Allah, juga lebih banyak memberi manfaat kepada manusia jauh lebih unggul daripada yang berikutnya, dan yang paling bisa menyenangkan Tuhan.

Ada satu kesulitan pada diri anak-anak Allah, yakni bercampurnya roh dan jiwa. Bila rohnya ke luar, jiwanya juga ikut keluar, sehingga bercampur aduk, tidak murni. Syarat utama pelayanan kita adalah bersih tidaknya roh kita, bukan besar kecilnya kekuatan kita. Bila roh seseorang bercampuraduk, pada satu pihak, ia membangun dengan kekuatan dalam roh, pada pihak lain, ia meruntuhkan pula dengan campur-aduknya. Karena itu, Allah tidak bisa memakai Dia.

Di dalam diri kita ada banyak ampas, ada banyak perkara yang bukan berasal dari Allah, tidak dapat memuliakan Allah. Maka Allah membereskannya melalui salib, agar kita menjadi emas murni.

Sebab itu, semua harus diperiksa, apakah telah melalui salib atau belum, masih ada daging atau tidak, apakah masih terdapat unsur alamiah atau tidak? Sebagai contoh, ada orang datang mengatakan, "Saudara, sekarang adalah kesempatan terbaik untuk memberitakan Injil. Hari ini aku memperoleh satu kabar, yaitu sepuluh hari lagi, denominasi anu akan mengadakan serangkaian sidang, maka kita harus mendahului mereka, jangan sampai kesempatan ini direbut mereka." Baiklah ide tersebut? Ya. Namun walau perkara yang dikatakan saudara itu baik, motivasinya juga baik, tetapi Anda dapat menjamah bahwa saudara ini belum melalui penanggulangan salib. Ia masih alamiah, dalam batinnya masih ada keinginan bersaing dengan orang lain.

Misalkan pula, senang menyindir orang dalam berkhotbah, dan mengira dengan demikian dapat membantu orang, itu pun suatu petunjuk bahwa ia belum melalui penanggulangan salib, masih ada daging dalam batinnya. Padahal, itu tidak saja tidak dapat membantu orang, malah sebaliknya. Perkataan yang Anda ucapkan tanpa mengetahui latar belakang orang, malah dapat membantu orang. Sebab itu, orang yang melayani lebih baik tidak suka mengetahui urusan orang lain, agar ketika berkhotbah tidak ada campuran, tidak ada maksud lain. Andaikata Anda mengetahui latar belakang orang, ketika Anda berbicara, haruslah melalui salib, jangan sampai khotbah Anda mengandung campuran, misalnya sindiran.

Ketika seorang pelayan firman berdiri berbicara bagi Allah, tidak saja perkataannya harus bersih, rohnya juga hnrus bersih. Bukan Anda bisa berbicara atau tidak, melainknn ketika roh Anda keluar, bersih atau tidak.

5. MURNI TIDAK BERARTI SEDERHANA

Hanya ada Kristus, lain tidak. Itulah artinya murni. Namun, Kristus itu kaya limpah, kekayaan-Nya tidak terduga, tidak sederhana. Dialah segala-gala kita, yang dapat dinyataknn atas berhagai aspek kita, dinyatakan atas hidup dan perilaku kita, atas pelayanan dan usaha kita; ini jelas tidak sederhana. Seperti kata Paulus, "Sebaliknya, dalam segala hal kami tununjukkan bahwa kami adalah pelayan Allah, yaitu : Dalam menahan dengan penuh kesabaran dalam penderitaan, kesusahan dan kesukaran, dalam menanggung pukulan, dalam penjara dan kerusuhan, dalam berjerih payah, dalam berjaga-jaga dan berpuasa; dalam kemurnian hati, pengetahuan, kesabaran, dan kemurahan hati; dalam Roh Kudus dan kasih yang tulus ikhlas; dalam pemberitaan kebenaran dan kekuasaan Allah : dengan menggunakan senjata-senjata keadilan untuk menyerang ataupun untuk membela ketika dihormati dan ketika dihina; ketika diumpat atau ketika dipuji; ketika dianggap sebagai penipu, tern yata orang benar, sebagai orang yang tidak dikenal, namun terkenal; sebagai orang yang nyaris mati, dan sungguh kami hidup; sebagai orang yang dihajar, namun tidak mati; sebagai orang berdukacita, namun senantiasa bersukacita; sebagai orang miskin, namun memperkaya banyak orang; sebagai orang tak bermilik, sekalipun kami memiliki segala sesuatu" (2 Kor. 6:4-10). Tatkala Kristus menjadi segala-gala kita, itulah artinya murni namun tidak sederhana.