SEIMBANG
"Dalam banyak perumpamaan yang semacam itu Ia memberitakan firman kepada mereka sesuai dengan pengertian mereka"
Markus 4:33.
1. SEIMIBANG BERARTI SESUAI,
SERASI, PANTAS
Bukan hanya mengacu kepada tidak berliku-liku atau tidak menyerong, lebih-lebih mengacu kepada yang sepatutnya, sesuai, adil, tidak miring sebelah.
A. Terhadap Sesama Manusia
Dalam hal mengasihi orang, tidak berlebihan; membenci orang juga tidak keterlaluan. Demikian pula dalam hal sikap, hangat atau dingin, percaya atau ragu-ragu, tidak melampaui batas.
Menghormati atau menyegani seseorang cukup sampai batas yang pantas saja. Hormati orang yang patut dihormati, takuti orang yang patut ditakuti (Roma 13:7). Tapi jangan sampai menjadi penjilat dan pengekor.
Mengajar atau berbicara harus pantas, seimbang. "Perkataan yang diucapkan tepat pada waktunya adalah seperti buah apel emas di pinggan perak" (Amsal 25:11). "Alangkah baiknya perkataan yang tepat pada waktunya!" (Amsal 15:23). Mengajar orang atau menasihati orang, harus tepat pada situasi maupun musimnya. "Salju dimusim panas dan hujan pada waktu panen . . tidaklah layak" (Amsal 16:1). "Menyanyikan nyanyian untuk hati yang sedih adalah seperti orang menanggalkan baju di musim dingin, dan seperti cuka pada luka" (Amsal 25:20). Semua ini menunjukkan tata tutur kita wajib sesuai dengan keadaan.
Pembicaraan kita harus seimbang dengan tingkat penerimaan sesama kita. Sejauh mana kemampuan penerimaan, sejauh itulah kita utarakan. Sampai di mana jangkauan mereka, sampai di situlah kita ungkapkan. Tuhan Yesus berkhotbah kepada orang banyak menurut daya serap mereka (Markus 4:33).
Saudara Lee pernah mengisahkan, di Tiongkok Utara, saudari-saudari yang mengajar anak-anak benar-benar "hebat." Saat itu, sidang kita dibagi dua : yang dewasa di lantai atas, sedang anak-anak di lantai bawah. Di lantai atas mengkhotbahkan kesia- siaan di atas kesia-siaan, di bawah memakai judul yang sama. Di atas mengkhotbahkan penumpasan daging, di bawah juga menceriterakan perihal yang sama. Setelah mengetahui hal itu, saudara Lee mengatakan, "Ini tidak betul." Kalau demikian halnya, anak-anak tersebut kelak akan menjadi buah yang gugur sebelum masak. Setelah mereka dibaptis, mereka sudah tak mungkin lagi mendengarkan khotbah. Karena sebelum mereka diselamatkan, mereka sudah mendengarkan pembinaan dasar. Bimbingan seperti itu tidaklah sesuai. Mereka yang hanya mampu minum susu, janganlah diberi makanan kering atau makanan keras. Kepada mereka yang menolak mentah-mentah, tak perlulah Anda paksakan dengan kata-kata Anda. Jangan sekali-kali mengajak berdebat, sehingga merah wajah dan panas telinga.
Berbicara di dalam sidang secukupnya saja. Seandainya yang duduk di samping Anda mendapat wahyu, maka Anda yang bicara duluan janganlah meneruskan pembicaraan Anda (I Korintus 14:30). Berkhotbah tak pantas terlalu panjang lebar, karena mudah membuat penat roh kaum imani. Isi pembicaraan wajib menolak pikiran yang terlampau biasa dan ungkapan yang rendah. Hindari perumpamaan-perumpamaan yang kurang dewasa, atau dasar alasan yang terlalu biasa, sehingga orang menganggapnya kurang dewasa. Belajar menuangkan intisarinya dalam waktu setengah jam. Jangan mengira asal yang mengasyikkan lidah kita pastilah firman Allah. Demikian kata saudara Watchman Nee, "Roh Allah tak dapat dipaksakan dalam gereja. Anda wajib menaatiNya, kalau tidak, begitu Ia tidak menyuplaikan urapan minyakNya, niscayalah gereja akan penat, bahkan akan jemu. Asal roh Anda kuat, pasti bisa "menerobos" dan "menawan" pendengar Anda dalam sepuluh menit. Sebaliknya, apabila, roh Anda lemah, "suara keras" dan "kata-kata ancaman" atau "mengulur waktu", takkan juga menolong, malahan merugikan saja. Godaan sidang berdoa adalah berbicara. Sidang berdoa semestinya berdoa. Banyak mulut akan membuat nurani berat, sehingga berdoa menjadi gagal."
Menegur orang hanya boleh pada tingkat yang pantas saja (Ulangan 25:3). Setelah Paulus menghukum saudara pelaku dosa di Korintus, selanjutnya ia berkata kepada mereka, "Bagi orang yang demikian sudahlah cukup tegoran dari sebagian besar dari kamu, sehingga kamu sebaliknya harus mengampuni dan menghibur dia, supaya ia jangan binasa oleh kesedihan yang terlampau berat" (II Korintus 2:6-7). Yang menjadi orang tua, janganlah menegur anaknya dengan berlebihan, itu akan membangkitkan amarah di hati mereka (Efesus 6:4).
Roma 12:3 mengatakan, bahwa kita wajib memandang diri sebagaimana adanya, menurut kedudukan dan fungsi yang sebenarnya. Tidak terlalu tinggi pun tidak terlalu rendah. Jangan memandang diri sangat berguna, sehingga lupa daratan. Tapi jangan pula memandang diri terlampau tak berguna, sehingga boleh ada, boleh tidak ada. Sama seperti salah satu anggota tubuh pada tubuh, jangan menganggap diri sebagai anggota tubuh yang penting dan luar biasa, tapi jangan pula menganggap diri sebagai anggota tubuh yang kecil, sehingga merasa rendah diri. Ketahuilah, setiap anggota tubuh mempunyai kedudukan dan fungsinya masing-masing.
Saudara Witness Lee, mengisahkan ketika ia baru diselamatkan, ia bisa membaca Alkitab dan berdoa sendirian, hasrat menuntut pun besar sekali. Namun makin lama makin merasa tidak dapat berdoa sendirian. Ia perlu mencari saudara untuk berdoa bersama. Masa mudanya sangat dinamis, tidak ada yang ditakutkan, menginjil ke mana pun jadi. Tapi sekarang, menginjil ke mana saja pasti minta ditemani saudara. Berhubung merasa dirinya hanya "satu sehasta hasta, harus berkoordinat dengan saudara lain, barulah bisa mantap dan utuh. Di sini kita harus belajar satu pelajaran yang berat. Berapa pun besarnya talenta Anda, berapa pun mantapnya bobot rohani Anda, itu tidak lebih dari satu setengah hasta. Jangan sok luar biasa.
Ada orang yang terlalu rendah diri. Semestinya bisa memikul 100 kilo, namun hanya berani memikul 20 kilo saja. Pembawaannya seperti daun putri malu, tersentuh sedikit sudah tersipu dan mundur. Watak ini perlu dirombak, baru bisa menunaikan fungsi yang sebenarnya.
C. Terhadap Perkara
Pandangan dan keputusan atas suatu perkara tidak berat sebelah, melainkan pas. Pesan Paulus kepada Timotius, berbuatlah tanpa prasangka dan tanpa memihak (I Timotius 5:2 1).
Jangan sekali-kali menggunakan dua jenis anak timbangan atau takaran, selain anak timbangan dan takaran yang adil (Ulangan 25:13-15; Imamat 19:35). Jangan berat sebelah kepada orang miskin, jangan pula meninggininggikan orang yang punya kedudukan. Keputusan kita harus berdasarkan keadilan. Tak boleh melihat dari luar. Menerima gugatan tidak boleh membedakan martabatnya (Imamat 19:15; Ulangan 1:16,17; 16:19).
D. Terhadap Kebenaran
Terhadap kebenaran harus seimbang. Melihat dari aspek sini, juga melihat dari aspek sana; melihat dari semua aspek baru bisa seimbang, dan tidak pincang. Setiap kebenaran diletakkan pada porsinya.
Ada dibenarkan oleh iman, ada pula dibenarkan oleh perbuatan (Yakobus 2:22-26). Ada perkara makan dan minum, ada pula perkara puasa makan dan puasa minum (Matius 11:18,19). Ada doa dengan menumpangkan tangan, sehingga penyakit disembuhkan, ada pula saran untuk meminum sedikit anggur karena pencernaan terganggu (Kisah Para Rasul 28:8; 1 Timotius 5:23). Ada lebih baik mengucapkan lima kalimat dengan kesadaran yang dapat mengajar orang lain, daripada mengucapkan beribu-ribu kata dengan bahasa roh. Ada juga janganlah melarang orang mengucapkan bahasa roh (I Korintus 14:19, 39). Ada aspek menaati dan berbakti kepada orang tua, ada pula aspek "barangsiapa mengasihi Tuhan tanpa melebihi kasih terhadap orang tuanya sendiri, tidak layak menjadi muridNya" Dan "barangsiapa yang meninggalkan bapanya, ibunya... karena Tuhan" (Ef. 6:1-3; Luk. 14:26; Mat. 19:29). Ada segi mendekati Tuhan secara perorangan, ada pula secara korporat, yakni bersidang (Matius 6:6; Kisah Para Rasul 2:41,42). Ada tidak menguasai diri di hadirat Allah, ada pula menguasai diri di depan manusia (II Korintus 5:13). Ada Kristus sebagai pondasi gereja, ada pula lokalitas sebagai tumpuan keesaan gereja (I Korintus 3:11; Wahyu 1:11).
E. Seimbang bukan kompromi
Seimbang adalah pantas, sesuai, tetapi bukan kompromi. Sesuai adalah serasi; sedang kompromi adalah mengalah agar sesuai.
2. ORANG YANG MELAYANI ALLAH HARUS SEIMBANG
A. Mengurus Gereja Harus Seimbang,
Berat Sebelah Akan Kering, Miring akan Runtuh.
Aliran mistik condong kepada menyepi dan menyendiri atau tirakat, karena itu akhirnya tidak mempunyai generasi penerus. Aliran kharismatis condong kepada pencurahan Roh Kudus, berbahasa, roh, tidak menempuh jalan hayat. Ada yang condong kepada kesibukan administrasi, sehingga mengabaikan berkomunikasi dengan Tuhan. Ada yang condong kepada penginjilan tanpa pembinaan, jumlah orang bertambah, namun hayat tetap hijau. Sebaliknya, hanya pembinaan tanpa penginjilan, jumlah tidak bertambah, akhirnya pasti susut. Melulu mempelajari Alkitab (Bible study) dan berkhotbah tanpa pelayanan yang berkoordinat, pengetahuan menumpuk tanpa pembangunan, pastilah terjerumus ke dalam keadaan ekstrem dan akhirnya runtuh.
Ada orang, begitu merasa sudah mengerti sedikit kebenaran, lalu mengira asal mengajar saudara saudari memahami kebenaran saja, sudahlab cukup. Ketahuilah, itu baru sebagian. Tubuh bertumbuh, tidak hanya membutuhkan vitamin A, bahkan segala macam vitamih; Tubuh membutuhkan suplai yang bermacam-macam. Mata mempunyai seluk-beluknya, telinga mempunyai seluk- beluknya sendiri, hidung juga demikian; masing-masing anggota mempunyai seluk-beluknya sendiri. Syukur kepada Allah yang telah mengaruniakan karunia dan amanat kepada Anda. Tetapi, janganlah puas dengan itu saja. Ada yang telah menempuh pelajaran atas hayat rohani, itu memang penting. Namun kebutuhan gereja bermacam-macam, Anda harus memberikan tempat kepada orang lain, agar mereka bisa menyuplaikan bagiannya. Gereja sebagai Tubuh membutuhkan suplai yang bermacam-macam.
Gereja juga adalah "rumah tangga. " Kebutuhan suatu rumah tangga juga beragam. Perlu ada yang di dapur, atau yang mencuci pakaian. Anak yang besar membantu pekerjaan, yang menengah belajar di sekolah, dan anak yang kecil bermain-main. Perlu ada yang membetulkan lampu-lampu, yang menjahit pakaian, yang mengatur/merawat tanaman, pendeknya bermacam-macam. Jangan menyangka asal bagianku beres cukuplah. Masih perlu bagian orang lain barulah takkan pincang.
Hendaklah selalu menerima pengimbangan orang lain. Jika Anda adalah tenaga penjenguk, terimalah pengimbangan dari tenaga administrasi. Jika Anda adalah tenaga administrasi, terimalah pengimbangan dari pembawa firman. Jika Anda adalah pembawa firman, terimalah pengimbangan dari tenaga pengaturan. Jika Anda ini tenaga yang khusus dibidang pembimbingan rohani terhadap saudara, saudari, terimalah pengimbangan dari bidang penginjilan. Jika Anda, ini tenaga. yang rajin menginjil, terimalah pengimbangan dari bidang pembinaan dan pengaturan gereja. Di dalam koordinasi hendaknya selalu menerima pengimbangan. Jangan sampai berbuat seperti Marta, yang mengadukan Maria ke depan Tuhan, bahwa semuanya dikerjakan sendirian, sedangkan Maria tidak mau tahu apa-apa, kecuali duduk mendengar di depan kaki Tuhan. Pengimbangan merupakan unsur pokok di dalam koordinasi. Menerima pengimbangan barulah tak pincang.
Dulu, di salah satu kabupaten di Shantung, saudara Lee bertemu dengan seorang penginjil. Penginjil itu adalah seorang saudagar, dan sebelum beroleh selamat adalah seorang pecandu berat, mengisap madat siang dan malam, sampai-sampai badannya kurus kering. Suatu hari ia benar-benar beroleh selamat, terlepas sama sekali dari ketagihan candu, sehingga badannya makin lama makin sehat dan gemuk. Kemudian ia keluar menginjil, dari hari ke hari membawa dua lembar potret, yang satu gambarnya sebelum diselamatkan, kelihatan kurus kering, dan yang lain gambarnya sesudah diselamatkan, kelihatan gemuk sehat. Kedua foto tersebut disimpan serta ditaruh di dalam tasnya untuk dibawa ke mana-mana. Dia mengakui dirinya selaku iklan Injil. Namun itu sekadar kurus menjadi gemuk, di tambah kebiasaan buruk lahirnya telah terlucut. Namun, bila Anda berjumpa dengan dia, niscaya akan menemukan betapa. ia tak paham sama sekali apa itu Allah menjadi hayat. Penginjilannya memang dinamis tapi setelah usai menginjil, temperamennya tetap amat menakutkan. Kali itu saudara Lee memimpin serangkaian sidang di sana hingga belasan hari. la pun datang mendengar tiap hari. Anehnya, sebelum dan sesudah sidang, ia duduk di kamar saudara Lee seraya membahas perkara menginjil, bukan main asyiknya. Tetapi begitu sidang dimulai. Saudara. Lee memberitakan tentang hayat, selalu tidak bisa masuk.
Kalau membicarakan hal menginjil, sampai larut malam pun masih belum juga putus. Semakin ia meneruskan, semakin jelaslah saudara, Lee, bahwa di hidupnya terdapat orang Kristen yang berapi-api, yang hidup di luar dan tak mengenal sama sekali perkara hayat batini. Inilah keadaan yang pincang.
I Petrus 5:2-3 mengatakan bahwa, yang menjadi penatua hendaklah mengembalakan kewanan domba Allah menurut kehendakNya. Bukan karena tamak kepada harta, melainkan dengan suka rela; bukannya mengekang, melainkan menjadi teladan. Begitu tamak atau mengekang, itu sudah miring, pasti akan roboh.
B. Tak boleh ekstrem atau memaksakan.
Orang yang hanya melulu membimbing orang mengkaji nubuat serta menelaah macam-macam lambang dalam kitab Wahyu, itu seolah ingin menerobosi tanduk sapi yang runcing. Barang yang besar diabaikan, barang yang sepele malah digenggam.
Ada orang beranggapan, menjadi orang Kristen tentulah kaya, kenyang dan berkelebihan. Yang lain mengira orang Kristen hendaklah rendah, lapar dan kekurangan. Itu semua sudah ekstrem. Kita perlu seperti Paulus, dihormati boleh, dihina pun boleh; berlebihan boleh, kekurangan pun boleh; kenyang boleh, lapar pun boleh.
Menyiksa diri tapi berkatabahwa itu adalah memikul salib. Rumah bocor malas memperbaiki, hanya duduk di ranjang mengembangkan payung sambil menangis, lalu berkata, bahwa ini sudah jauh lebih baik daripada Anak Manusia, karena Dia tidak ada tempat untuk membaringkan kepalaNya. Duduk di ranjang dengan berpayung itu termasuk ekstrem.
Berdoa mengunci pintu, keluarga mengundang makan tak dipedulikan, hingga larut malam tidak juga tidur, ini sudah . ekstrem, tidak menguasai diri di depan Allah.
Tidak memenuhi tanggung jawab atas keluarga, tapi mengaku meninggalkan segala bagi Tuhan. Pada tahun 1936, saudara Witness Lee menunaikan pelayanannya di Tienching dan tinggal balai sidang di lantai dua. Suatu hari, terdengar ketukan pintu yang gencar dan keras. Saudara Lee segera turun membukakan pintu. Di hadapannya. ber diri seorang yang sedang menjinjing sebuah tas, seolah orang udik yang baru masuk kota. Begitu melihat saudara Lee, ia langsung bertanya, "Apakah Anda ini si Polan yang bermarga Lee?" Jawab saudara Lee,"Ya, benar!" Segera ia menyambung, "Tuhan telah mengutus aku datang kemari. Aku telah meninggalkan semua bagiNya, mengikut Dia demi kemuliaanNya di bumi... berbicara panjang lebar." Tanya saudara Lee, "Apakah Anda tidak punya keluarga?" "Sudah kutinggalkan semuanya, orang tua, isteri dan anak-anak." Jawabnya karena. beginilah pesan Tuhan Yesus di dalam kitab Injil.
"Lalu Anda mau apa," tanya saudara Lee lagi. "Entahlah, saya hanya mengikuti bimbingan Roh Kudus. Hari ini Allah memimpin ke sini, ke sinilah aku datang. Besok Allah memimpin ke tempat lain, ke tempat itulah aku pergi." "Jadi orang tua Anda, isteri Anda dan anak-anak Anda tidak perlu dirawat?" sambung saudara Lee. Tiba-tiba saja ia naik pitam seraya membentak, "Kamu manusia karnal (milik) daging. Tuhan menghendaki aku meninggalkan semua ini, perkara ini pun kau tak mengerti?" Saudara Lee bertanya, "Anda mau mengikuti Tuhan, bagaimana, dan ke mana Anda. mengikuti Tuhan?" Atas pertanyaan-pertanyaan yang beruntun ini, bertambah gusarlah ia, maka omelnya, "Sudahlah, sudahlah, kamu memang karnal. Aku tidak jadi tinggal di sini." Kemudian ia pergi. Inilah sebuah contoh keadaan ekstrem.
Prinsip inkarnasi adalah Allah masuk ke dalam manusia, menghendaki manusia tetap sebagai manusia, bahkan manusia yang standar dan unggul. Allah menghendaki kita menjadi anak yang lebih baik daripada anak-anak yang lain; menghendaki kita menjadi orang tua yang lebih baik daripada orang tua yang lain.
Ada seorang saudari, suaminya. bekerja di sebuah perguruan tinggi kenamaan. Pada suatu hari, tiba-tiba saudari itu amat bergairah. Dari kota di sebelah timur ke kota di sebelah barat, kemudian dari kota di sebelah barat ke kota di sebelah timur, beranjangsana (menjenguk) kian ke mari. Akhirnya nasi untuk keluarganya lalai ditanak, suami diabaikan, anak-anak pun tak diurusnya. Seluruh waktunya digunakan untuk kegairahannya. Bahkan ia berkata, "Ah, aku sungguh menyesal karena sudah menikah, seharusnya aku ini tak boleh berkeluarga." Pada suatu kesempatan, seorang saudara bertanya kepadanya, "Coba renungkan, apakah Tuhan menghendaki Anda menjadi seorang isteri atau tidak?" Ia berkata, "Tuhan tidak menghendaki aku menjadi seorang isteri, karena macam-macamlah ikatan seorang isteri. Suami itu ikatan yang besar, anak-anak ikatan yang kecil. Siapa menjadi isteri, dia ditimpa celaka. Menyesal sekali aku terlambat percaya Tuhan. Kalau percaya lebih dini, pasti aku takkan menikah." Ini pun suatu keadaan yang ekstrem.
Mendengar jawaban ini, di dalam saudara. itu, terbitlah perasaan yang dalam sekali, bahwa di sini terdapat seorang yang bergairah mencintai Tuhan, namun bukan prinsip inkarnasi. Entah apa itu namanya, amat ganjil dan aneh. Saudari itu sangat perlu mendaptkan wahyu tentang inkarnasi, agar bisa menjadi seorang isteri yang baik.
Ada orang yang pernah menetapkan tidak perlu ada pertemuan gerejani. Mereka cenderung menikmati Tuhan di rumah saja. Menikmati Tuhan di rumah memang bukan kesalahan. Tapi pengalaman ini jangan dibesar-besarkan sampai ekstrem. Sebaliknya, ada yang hanya memperhatikan bersidang, dalam penghidupan kekristenan mereka, tidak pernah meluangkan waktu untuk berdoa, membaca Alkitab atau menikmati Tuhan di rumah. Yang ada hanyalah pertemuan-pertemuan gereja. Ini pun ekstrem.
C. Mengajar hendaklah Jujur/Lurus (Titus 2:7)
Memberitakan kebenaran berterus terang (II Timotius 2:15). Tidak ngawur juga tidak menyimpang. Tidak untuk mencari muka atau diplomatis, melainkan berterus terang menurut arti yang sebenarnya.
Ajaran yang sehat, ajaran yang lurus ialah ajaran tentang ekonomi Perjanjian Baru Allah. Ini tak boleh ditinggalkan.
3. KRISTUS ITULAH LURUS DAN SEIMBANG
TANPA KRISTUS, TIDAK AKAN LURUS DAN SEIMBANG.
A. Tanpa Kristus BerartI Telah Menyimpang
Roma 3:12 mengatakan, "Semua orang telah menyeleweng, mereka semua Tidak berguna" Manusia menerima Kristus, hidup bagi Kristus dan berdasarkan Kristus, barulah berguna di tangan Allah. Inilah yang benar dan tepat. Kecuali ini adalah penyimpangan. Bukan cuma berbuat dosa atau kejahatan baru disebut menyimpang. Mabuk kekayaan dan kedudukan itu pun sudah menyimpang. Mabuk agama dan tirakat juga penyimpangan. Melulu menggarap otak dan pengetahuan tanpa menjamah hayat adalah penyimpangan.
Di Yen Thai, dulu ada sebuah tempat pemahaman Alkitab (Bible study), yang khusus menyelidiki Alkitab. Salah seorang gurunya dijuluki "Konkordansi hidup" Mau mencari ayat apa saja tak perlu pakai konkordansi, cukup menanyakan kepadanya saja. Ia sanggup memberitahu langsung pasal dan ayatnya. Demikian hebat daya hafalnya terhadap Alkitab. Mereka mendengar Dr. John Sung menginjil tentang darah adi Yesus mencuci hatiku, lalu mengkritk : "Pembicaraan Dr. Sung ngawur." Perkataan usil itu masuk ke dalam telinga. John Sung. Pada suatu pertemuan, dia muncul dari belakang mimbar, di balik jubahnya tersimpan sebuah Alkitab, sambil bergaya sambil berkata, "Periksa dan periksa Alkitab, makin periksa makin tahu banyak, perut semakin besar, besar, akhirnya menjadi Yudas." Kejadian itu seolah sebuah lelucon, namun setelah puluhan tahun, jika kita renungkan, ternyata, ada hikmahnya. Menyelidiki Alkitab benar-benar dapat membesarkan benak otak. Alkitab mengungkapkan, bahwa pengetahuan itu membuat orang tinggi hati; huruf itu mematikan. Tuhan berkata, "Kamu menyelidiki Alkitab, tetapi tidak mau datang kepadaKu untuk mendapatkan hayat" "Sekadar mengkaji pengetahuan tanpa memperoleh hayat, tidaklah tepat."
B. Mengalami Kristus Itulah Jalan yang Tepat dan yang Benar.
"Dan walaupun Tuhan memberi kamu roti dan air serba sedikit, namun Pengajarmu tidak akan menyembunyikan diri lagi, tetapi matamu akan terus melihat Dia, dan telingamu akan mendengar perkataan ini dari belakangmu : "Indah jalan, berjalanlah mengikutinya," entah kamu menganan atau mengiri" (Yesaya 30:20,21). Kenyamanan bisa membuat orang jatuh, itu bukan jalannya. Kesulitan dan tindasan membuat kita lebih banyak mengalami Kristus, itulah jalannya. Setelah disembuhkan dari penyakitnya, Hizkia berdoa, "... maka aku akan berjalan perlahan-lahan sementara lalu segala tahunku karena kepahitan hatiku. Ya Tuhan! Dengan segala perkara ini hiduplah orang dan dalam sekalian ini adalah kehidupan nyawaku, Bahwasannya kesukaranku sudah berubah menjadi selamat bagiku" (Yesaya 38:15-17). Paulus, berkata, "Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat" (II Korintus 12:10).
C. Menempuh Jalan Hayat
Kristus adalah hayat kita, menempuh jalan hayat barulah tepat, sesuai jalan talenta dan emosi adalah condong sebelah. Kita wajib menempuh jalan hayat.
Jalan hayat sajalah yang tepat, pohon pengetahuan baik dan jahat itu jalan serong. Jangan sekali-kali keluar dari jalan hayat. Pohon pengetahuan hanya mengandung segala perihal di luar Allah. Alkitab yang diilhamkan Allah dan hukum Taurat yang diturunkan Allah sekali pun, ada kemungkinan diperalat iblis untuk dijadikan pohon pengetahuan yang harfiah. Sampai-sampai pengalaman kita hari ini terhadap Kristus, bisa juga menjadi pohon pengetahuan esok harinya. Seorang saudara pernah membawakan khotbah tentang Kejadian 3:15 dengan bersandar Tuhan dari awal hingga akhir. Berita kali itu benar-benar hidup. Tetapi seandainya ia diundang berkhotbah ke tempat lain, dan bersikap : "Bukankah aku pernah menyampaikan berita ini dengan mulus, aku sanggup mengulanginya seperti tempo hari." Jika demikian, niscaya khotbah tersebut menjadi pohon pengetahuan. Khotbah itu bisa saja merupakan pohon hayat dua bulan yang lalu, namun kalau dijiplak seturut prinsip, bisa pula menjadi pohon pengetahuan. Pengalaman doa Anda pun mungkin juga mengalami kasus yang sama. Pada suatu malam doa Anda hidup karena bersandar Tuhan. Memang bagus dan amat hidup. Kemudian Anda menetapkan untuk menyampaikannya lagi dalam sidang doa yang akan datang. Ternyata, doa yang semula merupakan pohon hayat, kini malah merupakan pohon pengetahuan.
Alkitab yang sama bisa saja merupakan dua batang pohon bagi kita. Bila Anda bersandar Tuhan dan menjamah firmanNya dengan roh, maka Alkitab adalah sebatang pohon hayat. Bila Anda mempelajari Alkitab yang harfiah dengan mengandalkan otak Anda, maka ia adalah sebatang pohon pengetahuan. Hanya menyelidiki Alkitab, itu menjurus kepada pohon pengetahuan; menjamah Tuhan melalui firmanNya, itu menjurus kepada pohon hayat. Asalkan Anda tidak bersandar Dia, apa pun yang Anda peroleh, tak lain pohon pengetahuan; sebaliknya, asal Anda bersandar Tuhan, niscaya semua yang Anda peroleh adalah pohon hayat. Bantuan firman yang sekadar menolong pikiran orang lebih jelas dan tahu lebih banyak, itu tak lain barang milik pengetahuan.
4. MEMBAWAKAN DIRI DENGAN PANTAS
(Ibrani 13:18 Tl)
Tidak membawakan diri dengan pantas berarti serong atau menyeleweng. Dikarenakan orang-orang dari rombongan Yakobus tiba di Antiokhia, Kefas lalu mengundurkan diri dari orang kafir. Paulus langsung menegumya dengan berhadapan muka. Sebab kelakuannya tidak benar, tak sesuai dengan kebenaran Injil (Galatia 2:11-14).
Simon mgm membeli karunia Allah dengan uang, Petrus lantas menegurnya hatinya sudah serong (Kisah Para Rasul 8:18-21). Pemberian (karunia) itu dikaruniakan Allah dengan cuma-cuma, mustahil dibeli dengan uang. Simon malah ingin menjadikannya alat pencari untung, hatinya telah serong.
Gayus memberi tumpangan kepada mereka yang bepergian demi Tuhan, membantu mereka melanjutkan perjalanan mereka, bersama-sama bekeda demi kebenaran, itu berarti berlaku dengan pantas. Karena itu, Yohanes sangat senang. Diotrefes berlagak menjadi kepala, menolak mereka yang bekerja demi kebenaran, memfitnah dengan kata-kata yang jahat, melarang orang menyambut mereka, orang yang memberikan tumpangan diusirnya keluar gereja. Perbuatan itu jahat, tidak sesuai kebenaran (I Yohanes 1-12). Kata Paulus, "Karena kami tidak dapat berbuat apa-apa melawan kebenaran; yang dapat kami perbuat ialah untuk kebenaran" (II Korintus 13:8).
5. HATI MENGARAH TEPAT KEPADA ALLAH,
TIDAK ADA ALASAN YANG MENJATUHKAN.
Jika hati Anda hanya mau Allah, tidak mau yang lainnya, niscaya tidak ada satu pun perkara yang dapat menyandung Anda. Sampai pun semua orang menyalah pahami Anda, meremehkan Anda, menentang Anda, Anda tetap takkan tersandung. Sebab Anda tidak mencari dipahami orang, dijunjung orang, disimpati orang, dipuji orang, melainkan hanya mencari Allah belaka. Kalau Anda minta dipahami orang dan dijunjung orang, dengan sendirinya, bila orang menyalahpahami Anda dan meremehkan Anda, Anda akan terantuk hingga jatuh. Apabila hati Anda tulus mau Allah, maka benturan yang lebih berat sepuluh kali lipat pun tak akan mampu menjatuhkan Anda. Hanya semacam orang yang mudah tersandung, yakni orang yang hatinya tidak mengarah kepada Allah, yang masih ada tuntutan dan dambaan di luar Allah. Orang seperti ini tinggal di dalam gelap. Misalkan, pihak Allah itu matahari, dan pihak kita sebuah cermin. Cermin yang memantulkan sinar matahari tentulah menghadap kepada matahari. Bila menyimpang sedikit, segera kehilangan sorotan terangnya. Begitu Anda menyimpang, saat itu pula kata-kata Anda menyimpang, menyengat, menggerutu, mengungkit-ungkit, kritik kanan, kritik kiri, dan lain sebagainya. Itu merupakan bukti yang kuat, bahwa Anda di dalam gelap, bukan di dalam terang. Orang yang di dalam terang, mustahil tersandung jatuh. Ada saudara atau saudari yang sambil berlinangan air mata, sambil memanjatkan puji di mulut. Kendati hatinya pilu, mulut tetap meluncurkan pujian, tak lain karena hati mereka terarah kepada Allah.