TENANG
"Sebab beginilah firman Tuhan ALLAH, Yang Mahakudus, Allah Israel : Dengan bertobat dan tinggal diam kanzu akan diselamatkan,
dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu.
Tetapi kamu enggan. "
Yesaya 30:15
1. Tenang Berarti Kalem
Tenang dan kalem sangat mirip dengan stabil. Stabil berarti tidak bergerak, sedang tenang adalah rata. Tenang bukan kalem di luar, melainkan di dalam. Walau ada perasaan, pikiran, atau gejolak riang, namun di batin tenang.
2. Orang yang Melayani Allah
Wajib Memiliki Karakter Tenang
A. Tenang baru dapat menjamah roh
Orang yang tidak tenang, tak tahan gejolak, begitu gejolak datang, ia segera tidak bisa makan enak dan tidur nyenyak, tidak bisa membaca Alkitab, rohnya seolah lenyap, pelayanannya pun berhenti. Sebab itu, seorang pelayan Allah harus berlatih dalam hal tenang. Tenang baru dapat menjamah roh, baru dapat mengerti kehendak Allah, baru dapat bersekutu dan melayani Tuhan.
Permukaan danau yang tenang baru bisa mencerminkan pemandangan. Allah menantikan kesempatan untuk berbicara dengan kita di dalam batin; asalkan kita menenangkan diri, niscaya kita akan mendengar suaraNya. Operasi Roh Kudus di batin kita seperti pengurapan minyak. Hanya orang yang tenang baru dapat menjamah perasaan yang lembut itu, dan mendengar suara yang kecil. Sebab ia tidak seperti suara, tapi juga seperti suara; tidak seperti perasaan, tapi juga seperti perasaan.
Bila hari sudah larut malam dan sunyi senyap, maka stomata (pori-pori kulit) setiap daun dan bunga akan terbuka lebar, dan itulah saatnya mereka menerima butir-butir embun. Demikian pula dengan butir-butir embun rohani. Kalau kita menantikan dengan tenang di hadapan Allah, kita akan beroleh pendirisan. Anda tidak mungkin mendapat apa-apa jika Anda berlaku tergesa-gesa. Menanti dengan tenang baru memungkinkan Anda tergenang dalam penyertaan Tuhan.
Mutiara embun takkan jadi ketika angin bertiup kencang atau udara panas dan pengap. Kecuali cuaca tenang, suhu menurun, barulah mutiara-mutiara embun terjadi di atas daun-daun dan bunga-bunga. Demikian juga, kecuali suhu Anda menurun, roh Anda tenang, barulah embun Allah turun membasahi Anda.
Allah sebenarnya ingin senaniiasa berbicara. dengan kita. Bila roh kita bebas dari bising suara kambing dan lembu, niscaya kita akan mendengar suaraNya.
Bila hati Anda bergejolak kalut, tak mungkinlah Anda mendengar jawaban Allah atas doa Anda. Adakalanya sudah cukup lamanya kita berdoa, tetapi kita tidak mendengar jawaban Allah, itu tak lain karena dalam batin kita banyak dentuman petir, gempa bumi, taufan dan ledakan-ledakan lainnya. Tetapi bila hati Anda tenang dan masuk ke dalam perhentian, maka jawaban Allah pun tiba.
Saudara Watchman Nee berkata, "Alangkah baiknya kalau kaum imani ingat, bahwa Allah tidak memimpinnya dalam kekalutan. Sebab hal itu akan mencegah kaum imani dari berbagai kekhilafan."
Jika roh kita tenang, suara yang dibisikkan Roh Kudus dalam roh kita akan terdengar jelas.
Kita harus memiliki satu roh yang tanpa benda apa pun, baru kita dapat berperang dengan musuh, dan menampilkan hayat Allah.
Smith mengatakan, bahwa satu roh yang tenang sangatlah berguna bagi kehidupan rohani. Sebaliknya, tidak ada satu perkara yang lebih dapat, menghambat kekuatan dan keberhasilan rohani daripada roh yang gelisah dan khawatir. Jika kita tahu bagaimana harus bersandar dan bagaimana tenang, berarti kita sudah mendapatkan segala-galanya. Tidak perlu meronta-ronta, cukup duduk di hadapan Tuhan dengan tenang, maka Roh Kudus akan merampungkan apa yang kita harapkan. Boleh jadi kita tidak tampak dan tidak merasakan Roh Kudus sedang bekerja untuk kita; tapi kita harus percaya, asalkan roh kita tenang, Ia akan merampungkan pekerjaan itu.
George Muller memberi catatan samping pada Mazmur 37:23, "Langkah-langkah orang benar ditetapkan oleh Tuhan."
Gordon berkata, "Hanya dalam ketenangan barulah kekuatan roh kita dapat mencapai puncaknya."
Roh adalah sesuatu yang sangat lembut, ibarat tanaman putri malu (sikejut), begitu tersentuh segera menyusut. Begitu pula roh segera lenyap ketika kita bergejolak. Pelayanan kita sama sekali tergantung pada roh, sebab itu harus ada karakter yang tenang. Ketika para imam masuk ke tempat kudus untuk melayani, mereka hanya diperbolehkan mengenakan baju, lenan halus, tidak boleh mengenakan baju bulu domba, yang bisa menyebabkan keluar keringat, (Yehezkiel 44:17-18). Masuk ke bait Allah harus hati-hati (Pengkhotbah 4:17). Semua itu mengacu kepada perlunya tenang bagi setiap orang yang melayani.
Seorang sekerja mengatakan, "Setiap orang yang ingin beroleh bantuan saudara Watchman Nee, selalu disuruh tinggal dengan tenang sejangka waktu." Sekerja itu pada tahun 1935 diminta datang ke Shanghai untuk banyak belajar. setiba di Shanghai, ia ditampung di atas loteng balai sidang di Jl. Hardoon. Selama satu bulan di sana, ia tidak pernah bertemu dengan saudara Watchman Nee, ia adakalanya, hanya bersekutu dengan saudari Lee Yuan Ru. Biasanya ia hanya tenang seorang diri. Pada mulanya ia merasa tidak tahan diperlakukan demikian. Namun ia percaya, pengaturan saudara pasti baik, dan pimpinan Allah tidak keliru. Karena itu, ia pun rela belajar tenang dan menanti dengan sabar. Kemudian baru ia tahu, bahwa itu merupakan kesempatan belajar yang paling berharga. Ada seorang saudara lain, asainya sebagai ketua tim penginjilan Dr. John Sung. Orang tersebut datang dari Fuchow, ingin memperoleh bantuan saudara Nee. Saudara Nee lalu menampungnya di kamar sebelah tempat saudara tadi. Begitu ditempatkan di situ, ia segera saja ingin bersekutu dengan saudara Nee. Ketika itu, saudara Nee tidak sempat ditemui olehnya, ia lalu merasa kecewa. Lagi pula ia tidak diberi kesempatan untuk bekerja. Ia tidak tahan dengan keadaan yang demikian dingin dan sunyi. Beberapa hari kemudian, ia angkat kaki, kembali ke Fuchow.
Maksud pimpinan saudara Nee itu tak lain supaya orang belajar tenang. Ia sendiri adalah orang yang bisa tenang di hadapan Allah, maka ia ingin agar orang-orang yang mau bekerja bagi Allah belajar tenang.
Seorang sekerja yang pernah mengikuti latihan pertama di Kuling berkata, "Selama masa latihan, selain mengikuti sidang-sidang, waktu-waktu selebihnya dipakai untuk menghampiri Tuhan secara pribadi. Ada yang tenang di kamar, ada yang tenang bersekutu, berdoa, membaca Alkitab di bawah pohon atau di padang rumput." Pada suatu hari, ketika ia bersekutu dengan Tuhan di bawah pohon, ia bertemu dengan Tuhan. Dan ia mirip dengan Ayub : Dahulu mendengar Dia, sekarang melihat Dia. Karena itu, ia pun menyadari betapa saudara Nee sangat mementingkan menghampiri Tuhan dengan tenang seorang diri, agar beroleh wahyu dan penerangan langsung dari Tuhan. Ia juga memberikan pimpinan demikian kepada sekerjanya.
Wahyu besar dan dua doa besar yang tercantum dalam surat Efesus tak lain adalah yang Paulus peroleh dalam ketenangan, ketika ia ditawan dalam penjara. Dalam ketenangan ketika dibuang di pulau Patmos, Yohanes tampak visi-visi yang tercantum dalam kitab Wahyu. Tuhan pernah membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes naik ke puncak gunung, dan Tuhan berubah rupa di hadapan mereka, kasus tersebut terjadi dalam keadaan tenang. Tuhan juga baru mewahyukan siapa Dia dan kehendakNya membangun gereja, ketika Dia membawa murid-murid ke Kaisarea Filipi, suatu tempat yang sunyi dan tenang.
Saudara Watchman Nee pernah bersama beberapa saudara mengunjungi Yerusalem dan Kaisarea Filipi. Ternyata memang suasana agamawi di Yerusalem begitu keruh dan mengerikan. Baik pada aspek material, spiritual atau agama, benar-benar diliputi oleh suasana yang pengap dan keruh. Di sana yang terlihat hanyalah suasana hiruk pikuk dan membuat orang tidak senang, jemu. Pada suatu hari mereka menuju ke daerah utara, ke Kaisarea Filipi. Di sini udaranya segar. Ada sumber air yang menjadi salah satu sumber sungai Yordan. Di sana mereka berkeliling sejenak, lalu bersantap siang, sungguh nyaman rasanya. Tuhan membawa murid ke Kaisarea Filipi, di sinilah Tuhan baru mewahyukan tentang diriNya dan gereja. Sebab itu, adalah hal yang sangat penting bila kita dapat menghampiri Tuhan, bersua dengan Tuhan secara individu dengan ketenangan lahir dan batin.
Dewasa ini kehidupan menghampiri Tuhan dengan tenang secara individu di kalangan kaum muda sangat kurang. Saudara Lee pernah berkomentar atas hal ini. Ia berkata, "Pada tahun-tahun belakangan ini, kita memang berulang kali menitikberatkan, mungkin terlampau menitik beratkan, aspek kehidupan Kristen korporat. Kita sangat menekankan perihal berdoa dan membaca Alkitab dalam persidangan. Namun saya sangat prihatin, dalam kehidupan korporat, terutama bagi kaum muda, banyak orang muda yang tidak memiliki waktu berdoa dan membaca Alkitab secara individu. Mereka hanya memiliki waktu berdoa secara korporat. Saya akui, bahwa waktu berdoa secara individu tidak dapat diganti dengan berdoa secara korporat, dan berkat bantuan dan suplai yang kita peroleh dalam kelompok, tak mungkin diperoleh di tempat lain. Namun, hendaknya kita ingat, hayat selalu beraspek ganda. Dalam kehidupan kristiani kita ada dua aspek : individu dan korporat, keduanya tak dapat saling menggantikan. Kedua aspek ini kita perlukan. Bahkan kedua aspek ini harus berimbang! Bila Anda sendiri tidak langsung atau secara pribadi menjumpai Tuhan, akan tidak riil, dan tidak mendalam. Hal ini bisa mempengaruhi pertumbuhan hayat Anda.
Tak sedikit orang yang suka bekerja beramai-ramai, tidak sedikit orang yang senang berkhotbah di hadapan orang banyak; tetapi berapakah yang bisa menghampiri Tuhan di tempat mahakudus? Kebanyakan orang takut terasing sendirian di dalam kamar yang gelap dan tidak tahan dikunci seorang diri. Kalaupun ia berada di dalam kamar, tetapi hatinya sudah pergi dari ruangan itu. Ia tak dapat menghampiri Tuhan dan tak dapat belajar berdoa dengan tenang dan sunyi sendirian di hadapan Allah. Ini menunjukkan bahwa pelayanan kita hanya pelayanan yang seperti kegemaran, bukan melayani Allah dengan sungguh-sungguh. Pelayanan yang seperti kegemaran hanya bisa memuaskan manusia. Hanya pelayanan yang mengasihi dan menghampiri Tuhan barulah dapat memuaskan Allah.
Ketika Tuhan masih hidup di bumi, Ia senang menghampiri Allah sendirian (Matius 14,23; Markus 1:35; Lukas 5:16; 6:12). Jika Tuhan demikian, apalagi kita. Kalau Tuhan tak mungkin bekerja terus-menerus tanpa waktu tenang, maka orang lain pun pasti tak mungkin demikian.
Waktu bagi kita adalah faktor utama untuk berjumpa dengan Allah. Kita wajib menghabiskan banyak waktu untuk menunggu dengan tenang di depan kaki Allah, baru Allah dapat menyatakan kehadiranNya dalam hati kita.
B. Roh yang Tenang
Bersekutu dengan Tuhan di dalam roh. Seperti Maria duduk di depan kaki Tuhan, mendengarkan firman Tuhan. Tidak saja lahiriahnya duduk, batiniahnya juga duduk (Lukas 10:39). Matius 6:6 mengatakan, bahwa ketika hendak berdoa, kita perlu masuk ke dalam kamar, dan menutup pintu. Semua manusia, perkara, dan benda harus ditinggal di luar pintu, agar ada ketenangan dalam batin. Mazmur 27:4 mengatakan tentang menengadah di bait Allah sambil bertanya. Semua itu berarti bersekutu dengan Allah dengan ketenangan di dalam roh.
Setiap orang yang melayani Allah wajib berlatih selalu bersekutu dengan Tuhan dengan tenang di dalam roh. Jangan hanya sibuk di luar, jangan dirisaukan oleh banyak perkara; melainkan harus dapat tenang di dalam roh, dapat bersekutu dengan Tuhan. Pelayanan, pekerjaan dan penghidupan kita, seharusnya terbit dari perselcutuan kita dengan Tuhan.
Kaum imani wajib senantiasa berjaga-jaga; jangan membiarkan rohnya berjalan di luar rel Allah, tidak bersekutu dengan Allah dalam roh yang tenang, sehingga tak dapat bekerja sama dengan Allah. Pekerjaan kita seharusnya merupakan hasil dari persekutuan kita dengan Allah.
Tatkala makhluk-makhluk hidup berdiri, diam tenang dan menurunkan sayapnya, maka di.atas mereka terdengar suara Sang Mahakuasa (Yehezkiel 1:24-25). Begitu pula bila kita menghentilcan diri dengan tenang, kita akan mendengar suara Allah, menerima pimpinanNya. Jika demikian, maka kita dapat ". . berjalan lurus ke depan; ke arah mana roh itu hendak pergi, ke sanalah mereka pergi, mereka tidak berbalik kalau berjalan" (Yehezkiel 1:12). Ketahuilah, semua aktivitas di luar kehendak Allah, hanyalah pemborosan belaka.
Seorang saudara berkata, "Tiga puluh tahun yang silam, jika ada saudara bertanya kepada saya, bagaimana seharusnya menjadi seorang penatua, saya akan memaparkan beberapa hal sebagai persyaratan penatua. Saya akan menjawabnya : Saudara silakan buka Alkitab, dan saya tunjukkan kepadanya hal-hal tersebut. Tetapi tidak demikian yang saya lakukan sekarang. Jika ada orang bertanya tentang menjadi- penatua, saya akan berkata kepadanya : Jadilah seorang imam, tunaikan tugas imamat itu, maka Anda akan bisa menjadi penatua yang baik. Waktu saya muda, jika ada saudari menanyakan tentang hidup keluarga yang wajar, saya pun bisa membeberkan teorinya dari yang pertama, kedua, ketiga dan seterusnya, hingga yang kedua belas. Namun sekarang saya hanya dengan sederhana menasihatinya untuk datang kepada Tuhan, menjamah dan dijamah Tuhan. Begitu ia diresapi Tuhan, ia akan mengerti bagaimana menjadi seorang istri yang baik. Bukan dengan keseputuh perintah, sebab semua perintah tidak berguna. Hanya satu yang berguna, yaitu datang ke hadapan Tuhan, bersekutu dengan Tuhan dan membiarkan Dia menjenuhi Anda. Dengan demikian, Tuhan akan benar-benar menjadi isi dan realitas, Anda, sehingga Anda pun menjadi ekspresiNya di luar, terekspresi sebagai isteri, suami, diaken dan penatua yang baik."
"Hati nurani saya boleh bersaksi, jika tidak bersandar kepada Allah, apa pun tidak dapat saya kerjakan. Setiap perkara yang saya lakukan tidak mendatangkan damai sejahtera, jika tidak melalui doa. Saya berdoa untuk setiap perkara dalam pemulihan Tuhan, hingga saya beroleh damai sejahtera dan keyakinan penuh. Sebelum saya menyampaikan satu berita, saya berdoa senantiasa, hingga ada inspirasi dan kekuatan penuh."
"Setiap kali saya ingin naik ke atas mimbar, yang paling saya takuti ialah batin saya tidak berkontak dengan Allah." Adakalanya saya cukup menggunakan tiga atau lima menit saja untuk menyiapkan berita yang akan saya sampaikan, namun untuk datang dan berkontak dengan Allah, saya sering menghabiskan waktu yang sangat panjang. Saya paling khawatir bila saya berdiri di atas mimbar, batin saya tidak berkontak dengan Allah. Itu merupakan perkara yang paling susah dan pahit bagi saya di atas mimbar. Bila batin seorang Kristen terputus dengan Allah, itulah saat-saat yang paling pahit, lemah dan payah. Bila kita dengan Allah terputus, habislah. segala-galanya. Allah itu segala sesuatu kita. Apa yang kita perlukan, Dialah jawabannya. Maka kita wajib melatih roh, agar roh dapat tenang bersekutu dengan Tuhan dari waktu ke waktu. Bagi orang-orang yang melayani Allah, hat ini mutlak, tidak boleh kurang.
C. Jiwa yang Tenang
Pikiran (angan-angan), emosi, tekad dan urat saraf semua harus tenang. Mazmur 131 melukiskan ketenangan jiwa bagai anak yang disapih berbaring dekat ibunya. Menghentikan usaha dan kegiatan diri, tanpa rencana atau ide sendiri, tanpa ketegangan dan tanpa tekanan. Pikiran kita tidak melayang-layang dan terombang-ambing. Emosi kita tidak berhamburan, melainkan terkonsentrasi bulat pada Tuhan. Hati harus mengikuti Tuhan dengan ketat, tidak membiarkannya mendambakan perkara-perkara lain.
Pikiran dan emosi hendaknya tidak terhasut hingga naik pitam, bersungut- sungut dan berselisih (I Timotius 2:8; Filipi 2:14). Paulus menganjurkan agar orang laki-laki tanpa marah dan tanpa perselisihan, yakni tanpa beralasan. Alasan akan semakin banyak jika Anda senang beralasan. Misalkan suami isteri bercekcok, semakin beralasan semakin banyak pula alasan yang diajukan masing-masing pihak, sehingga percekcokan tak kunjung henti. Akhirnya orang ketiga berkata, "Tenang, tenang, sudah, jangan berkata lagi." Jangankan di gereja, di antara orang kafir pun, jika suami isteri bertengkar sampai klimaksnya, mereka,
pun dianjuri untuk tenang, jangan bicara lagi, dan akhirnya alasan pun sirna.
Seseorang baru bisa mengikuti roh bila ia meme lihara satu pikiran yang tenang. Ketenangan yang mutlak dalam emosi merupakan syarat yang mutlak pula untuk mengikuti roh. Naik turunnya emosi tidak saja menghambat kaum imani untuk mengikuti roh, bahkan akan mendorong kaum imani untuk langsung bertindak menurut daging.
Sebab itu, kita wajib melatih jiwa, agar ia tenang, tidak terpancing oleh manusia, perkara atau benda apa pun. Kita wajib mengangkat tangan yang kudus untuk berdoa di mana saja, menyeru; nama Tuhan, kembali ke dalam roh. Allah adalah Allah yang menghendaki orang tenang (I Ko rintus 14:33). Allah Sang damai sejahtera (I Tesalonika 5:23), yang menghendaki orang memiliki kondisi hati yang tenang dan damai sejahtera. Itulah yang tercantum dalam Filipi 4:7, "Damai sejahtera Allahyang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus." Bila Anda berdoa, menyeru nama Tuhan, maka Anda akan kembali ke dalam roh, berkontak dengan Allah, sehingga damailah hati Anda. Jangan khawatir, duka dan risau sendiri, melainkan beritahukan saja keinginan Anda kepadaNya lewat berdoa.
Di kedalaman lautan, konon ada satu inti yang paling tenang, yang disebut "Bantalan laut." Tak peduli betapa besarnya ombak di permukaan laut karena hembusan angin taufan, "Bantalan laut" tersebut sama sekali tak terganggu. Fakta ini dibuktikan melalui fosil-fosil fauna dan flora yang dikeruk dari dasar laut. Walau benda-benda itu telah terbenam ribuan tahun di dasar laut, tak pernah terganggu . sama sekali. Damai sejahtera Allah ibarat "Bantalan laut" itu, dalam lubuk batin kita, tak tersentuh oleh kesukaran-kesukaran atau pergolakan-pergolakan di luar. Barangsiapa masuk ke dalam Allah, pasti akan menikmati damai sejahtera ini.
Sering ada kaum saleh berkata kepada saudara Witness Lee, "Saudara Lee, tentunya Anda memikul banyak beban berat Kami heran, bagaimana Anda bisa menahannya?" Saudara Lee menjawab, "Saudara, saya tidak mempunyai beban apa-apa. Saya hanya tahu mengerjakan sedikit pekerjaan. Bila pekerjaan saya selesai, saya pulang dan istirahat. Saya bisa makan enak maupun tidur nyenyak."
Pada tahun 1958, saudara Lee pergi ke Denmark. Di sana ia bertemu dengan seorang saudara yang bekerja sepenuh waktu, dan pernah belajar banyak perkara tentang melayani Tuhan. Saudara Lee diundang menyampaikan serentetan berita dalam sidang istimewa di tempatnya. Selesai sidang-sidang itu, saudara tersebut bertanya, "Saudara Lee, apakah ada sesuatu yang membuat Anda khawatir?" Saudara Lee balik bertanya kepadanya, "Mengapa Anda mengajukan pertanyaan demikian?" Jawabnya, "Aku tahu, Anda mempunyai banyak tanggungan, Anda harus menangani pekerjaan Tuhan di Timur Jauh. Anda mempunyai begitu banyak sekerja dan gereja. Pekerjaan Anda sangat besar, dan pasti banyak masalah-masalah yang bersangkutan. Aku ingin tahu, apakah Anda tidak khawatir terhadap semuanya itu?" Saudara Lee berkata, "Saudara, coba Anda lihat wajah saya, apakah menampakkan kekhawatiran?" Saudara itu berkata lagi, "Justru itulah, aku ingin tahu. Sebab menurut perkiraanku, Anda banyak tanggungan, banyak masalah, Anda semestinya sering khawatir, tetapi dari air muka Anda, sedikit pun tak tampak tanda-tanda khawatir. Anda seolah tidak ada kekhawatiran sama. sekali!" "Ya", kata saudara Lee, "Puji Tuhan, saya selamanya tidak pernah khawatir. Ini tak lain karena Kristus semata. Saya senantiasa berada di dalam Kristus yang telah naik ke surga. Saya tidak tahu apa itu khawatir, saya hanya tahu memuji Dia."
Harus menjadi orang yang tenang, tidak mencampuri urusan orang lain, tidak mencari-cari berita (I Tesalonika 4:11; 11 Tesalonika 3:11). Mencampuri urusan orang lain dan mencari berita, dapat membuat jiwa tidak tenang. Banyak perkara yang dapat membuat kita bergejolak. "Orang yang ikut campur dalam pertengkaran orang lain, adalah seperti orang yang menangkap telinga anjing yang berlalu" (Amsal 26:17). "Karena sebagaimana mimpi disebabkan oleh banyak kesibukan" (Pengkhotbah 5:2). Mimpi disebabkan ketidak-tenangan jiwa. Jika ingin jiwa tenang, jangan "mengetahui" terlalu banyak. Iblis menggoda Hawa sehingga. ia terjerumus ke dalam jiwa, membuatnya dapat mengetahui . . . (Kejadian 3:5). Mengetahui ini dan itu, akhirnya jiwanya bergerak, namun rohnya tidak bergerak.
Seorang saudara menganjuri kita dengan sebuah pengalaman, yakni hendaknya kita selama-lamanya tidak berusaba mengetahui urusan orang lain, ini adalah yang paling baik. Tiap kali saudara Lee diundang ke rumah saudara atau saudari, ia selalu suka duduk di ruang tamu, tidak suka masuk ke dapur atau kamar tidur. Dan kalau bisa, bahkan tidak mau masuk ke kamar kecil. Mengapa? Sebab lebih banyak tempat yang ia masuki, lebih banyaklah yang ia ketahui, sehingga lebih banyak pula bahan penilaian yang ia peroleh. Maka jika kita ingin tidak berkata buruk tentang seseorang, cara terbaik ialah tidak mengumpulkan bahan, yakni tidak mengetahui urusan orang lain.
Karena itu, ketika ia ditanya tentang urusan orang lain, ia mempunyai jawaban yang sangat baik, "Saya tidak tahu." Jawaban ini jujur, sebab ia memang tidak tahu. "Saya pernah berkali-kali diundang ke rumah salah seorang saudara, tapi selain ruang tamu dan ruang makannya, lainnya saya tidak tahu. Saya tidak tahu di mana dapurnya, saya tidak suka mengetahui urusan-urusan itu. Saya tidak mau melihat dan mengetahui. Saya hanya ingin tahu beban yang Allah berikan kepada saya." Saudara saudari, kita harus belajar tidak melihat, tidak mengetahui. Kita harus belajar menjadi orang buta dan tuli.
D. Tenang dalam Keadaan
Berangin Ribut, dan Berombak
Ketika Tuhan Yesus membawa murid-murid menyeberangi danau, mengamuklah angin ribut. Tuhan segera menghardik angiin dan gelombang itu dan teduhlah mereka (Matius 8:26). Iblis sering membangkitkan angin dan ombak di sekitar kita. Kita harus percaya Tuhan berada dalam hati kita, Dia pun dapat menghardiknya dan menghentikannya. Sebab Dialah penguasa alam semesta. karenanya kita tidak takut, dan bisa menjadi tenang.
Ketika bala tentara Firaun yang mengejar orang Israel sudah mendekat, Allah berjanji akan berperang bagi mereka, dan memerintahkan mereka tenang, jangan bersuara (Keluaran 14:14). Bila tertimpa situasi sulit yang bagaimanapun, kita harus tenang, jangan takut, melainkan percayalah, bahwa Allah pasti akan berperang bagi kita, melawan musuh. "Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah" (Mazmur 46:11). "Dengan bertobat dan tinggal diam kamu akan diselamatkan, dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu" (Yesaya 30:15). Dalam menghadapi kesukaran apa pun, janganlah takut, tinggal dan diamlah dengan tenang dan biarkan Allah menyatakan perbuatanNya.
Paulus pernah didera di Filipi, dilempar ke dalam penjara, dan dimasukkan ke ruang penjara yang paling tengah dan dibelenggu kakinya dengan pasungan, namun ia tetap dapat berdoa dan menyanyikan puji-pujian kepada Allah (Kisah Para Rasul 16:23-25).
Petrus pun pernah ditahan di dalam penjara, terbelenggu dengan dua rantai, dan siap untuk dibunuh, tetapi ia dapat tidur dengan nyenyak (Kisah Para Rasul 12:6).
Saudara Witness Lee mengatakan, "Janganlah takut akan angin sakal, dan jangan karena itu hati menjadi bingung dan panik. Orang lain dapat bersaksi bagi saya, peristiwa apa pun yang terjadi, saya tidak takut. Isteri saya dapat bersaksi, bahwa setiap malam saya tidur dengan nyenyak, dan setiap sore saya pun bisa beristirahat, tanpa kekhawatiran. Adakalanya isteri saya heran, mengapa saya tidak terganggu oleh masalah-masalah. Banyak perkara yang harus saya lakukan, karena itu saya perlu istirahat baik-baik. Nasib kita ada di tangan Tuhan, kita tidak ada alasan untuk takut akan apa pun. Angin ribut dan tentangan-tentangan, semua ada di bawah kaki Tuhan. Tuhan sedang mendoakan kita di atas gunung, bahkan angin dan ombak pun membawakan kebaikan bagi kita."
Pada akhir tahun 1934 dan awal tahun 1935, nama saudara Watchman Nee dicantumkan di halaman pertama surat kabar terkenal di Shanghai sehubungan dengan pernikahannya; dan selebaran yang berisi fitnah pun disebar di kalangan orang Kristen. Waktu itu saudara Lee kebetulan meninggalkan Shanghai, dan kembali ke daerah utara. Mendengar berita itu, ia lalu merenungkan masalah tersebut di hadapan Tuhan. Ia teringat kata-kata dalam Ulangan 23:5, "Tetapi TUHAN, Allahmu, tidak mau mendengarkan Bileam dan TUHAN Allahmu, telah mengubah kutuk itu menjadi berkat bagimu, karena TUHAN, Allahmu, mengasihi engkau." Kesan saudara Lee sangat dalam, semua isu mengenai saudara, Nee yang termuat dalam surat kabar, akan berubah menjadi berkat. Mereka mengutuki saudara Nee, tapi Allah mengubahnya menjadi berkat. Maka saudara Lee segera mengirim telegram kepada saudara Nee dengan kata-kata : "Ulangan 23:5." Ketika saudara Lee kembali ke Shanghai, suasananya sudah semakin memburuk, hal itu membuat saudara Nee tak dapat menunaikan ministrinya dalam jangka waktu yang panjang. Tampaknya pekerjaan Tuhan menderita rugi besar, tapi justru pada musim rontok tahun itu juga, terjadi suatu kebangunan rohani di gereja Shanghai.
Ketika para penentang beraksi mengacau di Taiwan, mereka membuat tuduhan-tuduhan, antara, lain: "Balai sidang (gereja lokal) adalah Babel besar. Witness Lee adalah pembangun Babel besar"; "Kemuliaan Allah sudah meninggalkan mereka". "Witness Lee adalah tokoh agama yang tak berwahyu". "Witness Lee di Amerika sudah ludes, tak mungkin kembali lagi." Pada tahun 1962, saudara Sun (salah seorang sekerja senior) berbincang dengan seorang penentang beberapa jam, lalu kembali melaporkan, bahwa mereka sudah siap mengadakan kerusuhan. Dalam situasi demikian, hati saudara Lee tetap sangat tenang, ia tidak pernah mengatakan harus bagaimanamenghadapi mereka. Kedua saudara Chang (saudara-saudara pewajib gereja hampir tiap minggu mengirim. surat kepadanya, dan dalam surat balasannya, saudara Lee selalu menasihati mereka)" -- yang berasal dari Tuhan tidak mungkin diruntuhkan, kalau bisa diruntuhkan, itu berarti memang seharusnya diruntuhkan. "Kalian tenanglah!. Damailah!"
Kita harus belajar pelajaran ini. Apa pun yang terjadi, kita harus bisa makan dengan enak dan bisa tidur dengan nyonyak. Dalam badai dan ombak apa pun, kita dapat melaluinya dengan damai seJahtera dan sentosa.
E. Tenang dalam Gejolak Emosional
Ketika Musa memarahi orang-orang Israel, ia tetap dapat berbicara dengan Allah, dan sujud di tanah mendoakan mereka (Bilangan 16:15,22). Kita wajib berlatih tenang sedemikian rupa, walau di luar marah besar, di batin masih bisa tenang. Begitu berlutut dapat segera berdoa.
Ketika Tuhan Yesus mengusir penjual lembu dan domba dalam bait Allah, Ia masih bisa mengajar mereka (Matius 21:12-13). Di samping dengan marah memandang orang-orang Farisi, Ia masih bisa menyembuhkan orang yang mati sebelah tangannya, menyuruhnya mengulurkan tangannya (Markus 3:5).
Sehabis menegur saudara muda, saudara Nee masih bisa duduk dan berdialog dengannya. Sambil marah-marah, Nehemia bisa berpikir masak-masak (Nehemia 5:6-7).
F. Di luar Bergerak, di dalam Tenang
Tenang alamiah tidak berguna. Bukan tanpa perasaan, bukan mati rasa, melainkan berlatih tenang dalam situasi yang tidak tenang. Itu baru berguna. Berlatih tenang dalam kesukaran, ketegangan, masa kritis, dalam bergairah dan kesibukan pelayanan.
Smith mengisahkan sebuah pengalaman pribadi, “Pada suatu hari menghadapi suatu malapetaka. besar, sel-sel sekujur tubuhku seolah bergetar, dan semua pembuluh darah menjadi tegang. Masalahnya harus diatasi segera, tapi keadaan sekeliling tidak mengizinkan saya berkutik sesenti pun. Karena kalutaya batin saya, tubuh pun seolah-olah akan berantakan. Namun waktu ini ada bisikan dalam lubuk batin : 'Kau harus tenang, ketahuilah, bahwa Akulah Allah.' Kata-kata ini mendatangkan kekuatan dan saya lalu menenangkan tubuh, mengendalikan angan-angan yang kalut, dan menyerahkan kesukaran saya yang mendesak kepada Allah, menengadah kepadaNya, menantikan Dia. Saya merasa ada kekuatan berasal dari ketenangan itu, yang mampu menghadapi kesulitan. Akhirnya masalah itu berlalu dengan selamat, dan saya mendapatkan perhentian di dalam Dia. Itulah pengalaman saya yang paling berharga, yang membawa saya lebih mengenal Allah.”
Ketenangan alamiah atau buatan manusia tidak berguna. Dulu ada seorang saudari yang meniru gaya hidup nyonya Guyon. Penampilan luarnya mirip sekali. Ketika menghadapi banyak perkara, ia tidak bingung atau cemas, melainkan tenang dan sabar. Tetapi, pada suatu hari, anak kesayangannya ("Ishak tunggalnya") mendadak sakit keras, semua yang ditirunya itu lenyap; ia lebih khawatir dan cemas daripada orang lain.
Ketenangan nyonya Guyon berasal dari persekutuminya yang intim dengan Tuhan, di dalam roh. Karena itu, baik tinggi atau rendah, besar atau kecil, manis atau pahit, kaya atau miskin, hidup atau mati, dan sebagainya, semua tidak dapat menggoyahkan damai sejahtera dalam batinnya, yakni damai sejahtera penyertaan Tuhan. Batinnya sangat tenang, ia sama sekali tidak mempedulikan pujian atau celaan orang lain terhadap dirinya. Segala yang indah stau yang buruk di dunia ini tidak dihiraukannya, dan tidak dapat mempengaruhinya.