Daftar isi Karakter · bab 13/30

TULUS

"Kecuali Kaleb bin Yefune. Dialah yang akan melihat negeri itu dan kepadanya dan kepada anak-anaknya akan Kuberikan negeri yang diinjaknya itu, karena dengan sepenuh hati ia mengikut Tuhan.

Ulangan 1:36

"Percayalah kepada Tuhan dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. "

Amsal 3:5

1. TULUS BERARTI KHUSUS, SATU-SATUNYA

Tulus berarti sungguh-sungguh, sepenuh hati, bersasaran satu, berinti satu, dan tidak berserakan tanpa tujuan. Orang yang bercabang hati, bimbang tak menentu, takkan memperoleh apa-apa, tidak dapat merampungkan satu perkara pun (Yakobus 1:6-8). Tidak boleh mendua hati terhadap Allah (I Raja-Raja 18:21). Mengedakan apa pun harus tulus, baru bisa sukses.

Tulus menghasilkan ketelitian, sehingga perkara atau pekerjaan yang dilakuan menjadi lebih bernilai. Dengan ketulusan dalam roh, jiwa dan tubuh, kekuatan akan terkonsentrasi, daya ingat pun diperkuat, sehingga hasil pekerjaan akan bernilai tinggi.

2. HARUS MEMILIKI HATI YANG TULUS

TERHADAP ALLAH DAN PERKARA ALLAH

A. Mengikuti Tuhan dengan Tulus

Dalam Ulangan 1:36, Bilangan 14:24, Yosua 14:8, dikatakan, bahwa Kaleb mengikuti Tuhan dengan sepenuh hati (tulus), maka negeri yang diinjaknya akan diberikan kepadanya.

Mengikuti Tuhan dengan tulus, tidak terpengaruh oleh suasana sekitar, bagaimanapun keadaannya tetap mengikuti Tuhan. Apa yang Tuhan kehendaki, itulah yang dilakukannya. Tuhan memimpin dia masuk ke Kanaan, dia ikut Tuhan ke Kanaan. Tidak gentar dan mundur, atau mengubah rencana karena melihat orang-orang Kanaan yang berawak tinggi besar.

Dalam Wahyu 14:1-5 tercatat, di bukit Sion ada 144.000 orang yang berdiri bersama Anak Domba, ke mana Anak Domba pergi, mereka selalu mengikutinya, baik bahagia maupun celaka. Mereka adalah pemenang. Tuhan Yesus berkata, "Barangsiapa melayani Aku, ia harus mengikut Aku, dan di mana Aku berada, di situ pun pelayanKu akan berada. . ." (Yohanes 12:26). Dia berada di palungan, Dia berada di Nazaret yang dihina orang, Dia berada di kayu salib, jatuh ke dalam tanah ... (Yohanes 12:24), kita pun se.harusnya berada di situ, seperti Yohanes berada "Dalam persekutuan dalam kesusahan, dalam kerajaan dan dalam ketekunan Yesus ..."(Wahyu 1:9). Seperti pula yang tercatat dalam sebuah kidung, "Maju laskar Kristus! Maju berperang; panji salib pegang, maju ke depan." Paulus menasihati Timotius, "Ikutlah menderita sebagai seorang prajurit yang baik dari Kristus Yesus... Ingatlah ini : Yesus Kristus, yang telah bangkit dari antara orang mati, yang telah dilahirkan sebagai keturunan Daud, itulah yang kuberitakan dalam Injilku ... Jika kita mati dengan Dia, kita pun akan hidup dengan Dia; jika kita bertekun, kitapun akan ikut memerintah dengan Dia ..." (II Timotius 2:3,8,11-12). Karena mengikuti Tuhan dengan tulus, Kaleb layak masuk ke negeri Kanaan. Hari ini, jika kita mengikuti Tuhan dengan tulus, pada hari itu kita akan masuk kerajaan, meraja bersama Tuhan.

J.N. Darby adalah orang yang mengikuti Tuhan dengan tulus, sampai berusia lanjut tetap tidak berubah. Ia dipakai Tuhan secara besar-besaran pada seabad yang lalu. Jutaan orang menerima bantuan rohani darinya. Ia layak memperoleh nama dan kedudukan, namun ia tidak mau. Pada masa tuanya, suatu hari ia melakukan kerja wisata ke Itali. Ia bermalam di sebuah penginapan yang sederhana. Karena sangat letih, ia meletakkan kepalanya di kedua tangannya, dengan suara lembut ia bersenandung : "Ku tinggalkan segalanya, pikul salib ikut Dia, rela derita hina, papa, ikut Tuhan saja ..." Dalam situasi demikian, ia tidak menggerutu, tidak menyesal; sebaliknya bernyanyi dengan sukacita. Dia benar-benar seorang yang mengikuti Tuhan dengan tulus, seperti kidung yang ia nyanyikan itu.

B. Bersandar Kepada Tuhan dengan Tulus

"Percayalah kepada Tuhan dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri" (Amsal 3:5). Hanya bersandar kepada Dia, lain tidak.

Tuhan Yesus tidak dapat mengedakan sesuatu dari diriNya sendiri, jikalau tidak Ia melihat Bapa mengerjakannya (Yohanes 5:19). Tuhan tidak berbuat apa-apa dari diriNya sendiri, tetapi Ia berbicara tentang hal-hal sebagai

mana diajarkan Bapa kepadaNya (Yohanes 8:28). Setiap saat dalam seumur hidupnya, baik bicara maupun melakukan sesuatu, Ia selalu bersandar kepada Allah. "… Engkau yang membuat aku aman pada dada ibuku. KepadaMu aku diserahkan sejak aku lahir, sejak dalam kandungan ibuku Engkaulah Allahku" (Mazmur 22:1-11).

Melayani Allah tidak dapat bersandar kepada diri sendiri, harus bersandar kepada Allah, "Bukan dengan keperkasaan dan bukan dengan kekuatan, melainkan dengan RohKu, firman Tuhan semesta alam" (Zakharia 4:6). Firman Tuhan, "... sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa" (Yohanes 15:5b). Segalanya harus dilakukan dengan bersandar kepada Allah. "Tetapi barangsiapa melakukan yang benar, ia datang kepada terang, supaya menjadi nyata, bahwa perbuatan-perbuatannya dilakukan dalam (bersandar kepada) Allah" (Yohanes 3:21). Jika tidak, semua yang dilakukan akan sama dengan nol. J.N. Darby berkata, "Semua pelayanan yang sejati, berasal dari pengenalan terhadap Kristus. Hanya yang hidup mengarah kepada Kristus dalam batin, baru dapat hidup bagi Kristus pada lahimya. Jika tidak, semua aktivitas di lahir hanya membuat kita kehilangan Kristus dan menyuburkan diri sendiri." Saudara Watchmam Nee pernah bersekutu dengan beberapa saudari lanjut usia. Ia menemukan, meskipun mereka kurang begitu melek huruf, namun mereka memiliki pengenalan yang cukup dalam terhadap Tuhan. Atas kenyataan itulah ia mengetahui satu hal, yakni banyak orang yang dapat membaca Alkitab, tetapi mereka tidak mengenal Allah; banyak oratig yang bisa mengerti Alkitab, tetapi mereka tidak memahami kuasa Allah. Ada yang pandai berkhotbah, tetapi tidak mengerti apa yang ia bicarakan. Mengapa demikian? Karena Tuhan tidak menyatakan diriNya kepadanya; Tuhan tidak mewahyukan diriNya kepadanya. Hal ini membuat saudara Watchman Nee tak dapat tidak merendahkan diri, dan mengenal sebuah hukum rohani : "Di luar Aku, kamu tak dapat berbuat apa-apa" (Yohanes 15:5b).

Pada suatu hari, saudara Nee bertemu dengan seorang pemuda. Walau usianya muda, pengenalannya terhadap Tuhan cukup dalam. Tuhan telah memimpinnya mengalami banyak sengsara, sehingga ia mengenal diri Tuhan sendiri. Ketika berdialog, saudara Nee bertanya, "Saudara, pelajaran apakah yang akhir-akhir ini Anda peroleh dari Tuhan?" Jawabnya, "Hanya satu : di luar Dial aku tidak dapat berbuat apa-apa." Saudara Nee bertanya lagi, "Apakah itu berarti bahwa Anda tidak dapat berbuat apa-apa?" "Tidak," jawabnya, "Aku dapat berbuat banyak, inilah yang justru menjadi kesulitanku. Aku sering begitu

percaya diri, bahwa aku dapat berbuat banyak." Saudara Nee bertanya lagi, "Kalau begitu, apa maksud Anda dengan berkata : di luar Dial Anda tak dapat berbuat apa-apa?" "Ya", jawabnya, "Tuhan telah memperlihatkan kepadaku, bahwa aku bisa melakukan banyak, namun Dia pernah berkata, "Di luar Aku, kamu tidak dapat berbuat apa-apa", maka semua yang kulakukan di luar Dia, adalah sia-sia belaka!"

Dalam khotbahnya, Paulus bukan bersandar pada kata-kata hikmat yang berasal dari dirinya sendiri, melainkan bersandar pada keyakinan akan kekuatan Roh (I Korintus 2:4). Hidupnya di dunia ini bukan oleh hikmat duniawi, tetapi oleh kekuatan kasih karunia Allah (II Korintus 1:12).

"Dengan diri kami sendiri kami tidak sanggup untuk memperhitungkan sesuatu seolah-olah pekerjaan kami sendiri; tidak kesanggupan kami adalah pekerjaan Allah. Ialah membuat kami juga sanggup menjadi pelayan-pelayan dari sualu perjanjian baru, yang tidak terdiri dari hukum yang tertulis, tetapi dari Roh . . ." (II Korintus 3:5-6). Bukan memberikan huruf, teori, cara; melainkan hayat, roh, Kristus. Karena itu, tak dipat tidak bersandar kepadaNya.

Seorang saudara mengatakan, "Jalan hayat adalah jalan bersandar. Sering kali saya merasa sangat berat terhadap beban sidang yang akan datang, tapi tidak tahu apa yang harus dibicarakan. Pernah sekali saya berdoa sepanjang sore dan malam. Saya berdoa kepada Tuhan : Ya, Tuhan, berilah saya perkataan. Tuhan, apakah yang menjadi bebanMu? Saya memang mempunyai beban dalam batin, namun saya tidak jelas isi dan maksudnya. Sedangkan malam itu saya harus naik ke mimbar untuk berbicara. Sampai masuk ke dalam balai sidang, saya belum. Beroleh perkataan, bahkan setelah hadirin berkidung dan berdoa, tetap, tidak ada. Saya berdoa terus : Ya, Tuhan, apakah bebanMu, apakah beritaMu? Tuhan, perkataan apakah yang harus saya sampaikan? Pada saat harus naik mimbar dan menyampaikan berita, saya masih tidak tahu apa yang harus saya katakan. Saya berkata: Mari kita membaca Alkitab... saya masih tidak tahu kitab mana yang harus; saya baca. Kemudian saya berkata.... Kejadian pasal 3, . . . ayat berapa, saya masih tidak jelas. Tetapi ketika saya membaca dalam Kejadian 3:15 tentang keturunan perempuan akan meremukkan kepala ular, barulah berita keluar, dan saya baru jelas. Demikianlah ada sebuah berita yang hidup malam itu. Jadi, dari awal hingga akhir, saya bersandar kepada Tuhan. Saya tidak ada pengetahuan, hanya dapat bersandar kepada Tuhan yang hidup. Inilah prinsip pohon hayat.

Pada tahun 1928, waktu pekerjaan dimulai di Shanghai, ada seorang saudara sekerja yang dulu pernah menjabat kepala Kantor Pos; suatu. kali, ia diundang bekerja di suatu tempat. Karena tidak tahu bagaimana bekerja, ia datang minta petunjuk kepada saudara Watchman Nee. Saudara Watchman Nee menjawab, "Anda hanya perlu belajar berkata: Aku tidak tahu. Kapan saja ada orang bertanya kepada Anda, jika Anda menjawabnya demikian, Anda adalah seorang pekerja yang paling baik." Jika Anda tidak tahu, tentu Anda akan bersandar kepadaNya. Itulah pohon hayat, prinsip bersandar. Jika Anda tahu, Anda akan bekerja bersandar diri sendiri. Itulah pohon pengetahuan. Prinsip merdeka.

Ketika Barnabas tiba di Antiokhia, ia menasihati mereka supaya mereka semua tetap setia kepada Tuhan (Kisah Para Rasul 11:23). Kita perlu berlatih senantiasa bersandar kepada Tuhan. Seorang saudara berkata, "Segala yang kita ucapkan dan lakukan haruslah bersandar kepadaNya. Jika kita demikian, kita baru benar-benar hayat "seorang perempuan", yang menempuh hidup bersandar. Sejarah gereja membuktikan, kapan saja ada "perempuan"semacam ini, Allah bisa melakukan sesuatu demi mencapai kehendakNya. Martin Luther, misalnya, adalah seorang yang telah belajar bersandar kepada Allah. Tidak diragukan, sejak lahir Luther mempunyai tekad baja, tetapi ia belajar bersandar kepada Tuhan. Hidup dan perbuatannya bukan seperti "laki-laki,"yang perkasa, melainkan seperti seorang "perempuan" yang bersandar."

Rasul Paulus juga seorang "perempuan"yang demikian. Fakta ini terbukti dari tulisan-tulisannya. Paulus tidak pernah melakukan apa pun dengan cara mandiri terhadap Allah, sebab ia seorang "perempuan."Pekerjaan, perbuatan, dan tindak tanduknya, semua berasal dari hayat yang bersandar kepada Allah.

Bukan banyak aktivitas baru diperkenan Allah, melainkan bersandar kepada Allah. Seorang pelayan Allah wajib menengadah kepada Allah dengan tulus, tidak menengadah kepada manusia. "Jika seseorang tidak dapat mengatur hartanya/uangnya dengan wajar, ia pasti gagal dalam perkara-perkara lainnya," demikian kata saudara Watchman Nee. Kita wajib berharap kepada Allah dengan tulus, dan tidak melakukan perkara apa pun yang memalukan Tuhan. Bila ada orang memberi uang, kita terima sebagai wakil Kristus, namun jangan sekali-kali minta belaskasihan dari orang lain. Kita sering meletakkan harapan pada manusia, tetapi Allah tidak menghendaki kita berharap kepada manusia. Allah itu Allah pemberi. Dulu Allah pernah melalui burung gagak memberi makan Elia, hal itu tidak mustahil terjadi sekarang. Jika hamba. Allah tidak dapat sepenuhnya bersandar kepada Allah, lebih baik mencari pekerjaan lain, mencari nafkah dengan halal. Janganlah mengharap-harap belaskasihan orang lain, melainkan harus memiliki iman berharap kepada Allah.

Di sisi meja dalam kamar saudara Watchman Nee tertulis beberapa kata, "Seorang satria tidak minta belaskasihan orang lain." Ia memerlukan belaskasihan Allah, tapi tidak ingin mendapat belaskasihan manusia. Dalam seumur hidupnya melayani Tuhan, ia dengan tulus senantiasa menengadah kepada Allah, tidak menengadah kepada manusia. Pernah sekali ia berlayar dari Shanghai ke Hongkong. Di kapal itu juga menumpang seorang saudari tua asal Hongkong. Ia sangat kaya, dan juga senang membantu para sekerja. Saudara Watchman Nee berkata kepada seorang sekerja, "Walau saya tahu, ia sekapal dengan saya, sewajarnya saya menjenguknya, tetapi karena ia kaya, pula banyak sekerja lain yang mengunjunginya, maka saya enggan mendatanginya, agar ia tidak berkesan buruk, yaitu mengira pelayan Tuhan semuanya begitu."

Pada tahun 1923, saudara Watchman Nee diundang oleh saudara Weigh menginjil di kota Kien-Ou. Sehabis bekerja ia harus kembali. Ketika itu di sakunya hanya ada beberapa ketip. Keadaannya sangat menyulitkan. Beberapa hari menjelang akhir sidang-sidang, ia terus-menerus berdoa. Suatu hari, datanglah tuan Phillip Luke (salah seorang di antara tujuh alumni Universitas Cambridge) mengundangnya makan. Sewaktu makan bersama tuan Luke berkata, "Saudara Nee, kedatangan Anda kali ini sangat membantu kami. Bolehkah kami menanggung ongkos perjalanan pulang Anda?" Mendengar kata-kata ini, saudara Nee merasa gembira, tapi juga merasa tidak benar. Kemudian ia menjawab, "Sudah ada yang menanggungnya." Mendengar jawaban ini tuan Luke meminta maaf dan tidak menyinggung perkara itu lagi.

Pada hari ia berangkat, dalam sakunya tetap hanya ada beberapa ketip, tidak cukup untuk membeli tiket kapal; sungguh sangat menyulitkan. Ketika itu saudara Weigh dengan keluarganya ikut mengantar. Saudara Weigh sendiri berjalan bersamanya. Barang-barang bawaan saudara Nee sudah lebih dulu dipikul orang. Ia lalu berdoa, "Tuhan, Engkau sudah membawa aku ke sini, masakan tidak membawa aku pulang ? Engkau bertanggung jawab atasku. Janganlah biarkan manusia masuk dalam hal ini." Sampai di tengah jalan, datanglah seorang utusan tuan Luke dan menyerahkan sebuah amplop kepada saudara Nee. Ketika amplop itu dibuka, terlihat ada sejumlah uang dan secarik surat yang mengatakan, "Meskipun sudah ada orang yang menanggung ongkos perjalanan Anda, namun Allah membuat aku merasakan, bahwa aku harus mengambil bagian dalam pekerjaan Anda kali ini di sini. Sudilah kiranya Anda membiarkan aku seorang saudara yang sudah tua ini mengambil bagian. Kiranya Anda mau menerima sedikit pemberian ini." Pada saat itu, saudara Nee mau menerima uang tersebut. Ia berkata kepada Allah, "Ya, Allah, uang kali ini baru benar." Demikian ia memakai u,ang itu untuk biaya perjalanan dan masih tersisa cukup untuk mencetak buletin "Kesaksian Masa Kini" satu nomor.

Anak Allah hanya boleh bersandar kepada Allah, jangan bersandar kepada harta. Paulus menyuruh Timotius memperingatkan orang kaya di dunia hari ini, "Jangan berharap (bersandar) pada sesuatu yang tidak tentu seperti kekayaan, melainkan kepada Allah, yang dalam kekayaanNya memberikan kepada kita segala sesuatu untuk dinikmati" (I Timotius 6:17).

Jadilah "bunga bakung" (Matius 6:28-29) dan "janda yang ditinggalkan seorang diri", yang menaruh harapannya kepada Allah, dan bertekun dalam permohonan dan doa siang malam (I Timotius 5:5).

C. Mencari dengan Tulus (I Tawarikh 30:19)

Mencari Allah dengan sepenuh hati, ingin memperoleh Allah sendiri, niscaya akan diperkenanNya.

"…telingamu memperhatikan hikmat, dan engkau mencenderungkan hatimu kepada kepandaian, ya, jikalau engkau berseru kepada pengertian, dan menujukan suaramu kepada kepandaian, jikalau engkau mencarinya seperti mencari perak, dan mengejarnya seperti mengejar harta terpendam, maka engkau akan memperoleh pengertian tentang takut akan Tuhan" (Amsal 2:2-5). Kalau manusia bisa begitu serius dan tekun mencari perak dan permata; sedangkan nilai Tuhan kita jauh melampaui emas murni, maka kita lebih-lebih harus mencariNya dengan segenap hati.

Tuhan Yesus berfirman, "Carilah dulu kerajaanNya dan kebenarannya . . . " "Mintalah, maka akan diberikan kepadamu, carilah, maka kamu akan mendapat, ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu" (Matius 6:33; 7:7). Barangsiapa mencari Allah, niscaya akan memperoleh Allah itu sendiri.

Daud mencari Allah dengan gairah, ia merenungkan Allah sepanjang jaga malam; jiwanya seperti dikenyangkan dengan lemak dan sumsum, sehingga bersorak sorai (Mazmur 63:2,6-7). Rut adalah seorang wanita Moab, ada atau tidak ada suami ia tidak peduli, ia hanya ingin Allah dan kerajaanNya. Ia tidak mau suami baru, ia hanya mau Allah; ia pun tidak mau negerinya sendiri, ia hanya mau kerajaan Allah. Akhirnya ia menjadi buyut raja Daud. Asalnya ia orang Moab yang dilarang masuk jernaah Tuhan sampai selama-lamanya (Ulangan 23:3), namun ia mengambil bagian dalam silsilah Kristus (Matius 1:15). Allah dan kerajaan Allah adalah miliknya.

Saudara Watchman Nee dikurung dalam penjara selama 20 tahun, dari tahun 1952 hingga 1972, dan meninggal dunia dalam penjara. Ia mengalami banyak ujian dan pencobaan, tapi ia tidak pernah mengubah pilihannya, sebab Tuhannya terarnat indah, mustika dan menarik. Karena terpanggil oleh kemuliaanNya, dan tertarik oleh keindahan budiNya, maka kita rela menerimaNya (II Petrus 1:3). Tak peduli orang memberikan apa kepada kita, Tuhan Yesus takkan kita tolak, sebab Dia terlampau indah, mustika dan menarik. Kita hanya memilih Dia, mencari Dia dengan tulus.

Dalam mengisahkan pengalaman pribadinya, saudara Witness Lee berkata, "Saya selamanya tidak lupa keadaan ketika saya diselamatkan, walau waktu itu saya belum pernah mendengar pengalaman orang berjumpa dengan Tuhan, dan tidak memahami perkara tersebut. Ketika saya mengenangkan masa lalu, saya tidak dapat tidak mengaku, bahwa pada hari itu saya benar-benar telah berjumpa dengan Tuhan. Waktu itu saya masih muda. Saya mencintai dunia, ini, dan mencintai masa depan saya. Saya juga memiliki kesukaan saya sendiri. Tetapi Tuhan benar-benar telah menjumpai saya dan menyelamatkan saya. Saya ingin diselamatkan Tuhan, bukan karena takut akan neraka dan senang naik ke surga, melainkan karena saya tampak dengan jelas, jika saya tanpa Allah, hidup saya akan tidak bermakna. Jika dalam hidup saya tidak ada Allah, sekalipun saya bisa memperoleh seluruh dunia, saya akan tetap hampa. Hari itu, saya mendengarkan Injil yang mengatakan, bahwa manusia di dunia terbelenggu dan terkekang; dunia ini menduduki manusia, membuat manusia tidak berpaling kepada Allah. Namun hasil yang diperoleh manusia dari penolakannya terhadap Allah adalah kekosongan/ kesia-siaan belaka. Pada hari itu, Tuhan benar-benar mencelikkan mata saya. Belum habis mendengarkan khotbah, saya sudah berkata kepada Allah, "Ya Allah, jika demikian, saya tidak mau dunia ini. Saya mau mencari/ menuntut Engkau dengan tulus." Saya tidak tahu apakah itu berdoa atau bemazar, saya hanya tahu, setelah berkata begitu, suasana dalam batin saya berubah sama sekali. Ke luar dari tempat penginjilan itu dan bedalan pulang, sekujur manusia saya terasa sangat ringan, seolah terbang melayang di angkasa. Sepanjang jalan tak henti-henti saya mengulangi perkataan itu. "Saya tidak mau dunia ini, saya mau menuntut Allah dengan tulus!"

Ada satu syair kidung yang sangat indah, "Yang aku tuntut Allah melulu, bukanlah senang bukanlah bahagia . . satu yang kubuat, cari Dia melulu, Setiap waktu Allah yang kuperlu, Allah muliaku itu upahku. "

D. Menaati Allah dengan Tulus

Daud dengan tulus mengikuti (menaati) Tuhan (I Raj. 11:6b). Allah mengatakan, "Aku telah mendapat Daud bin Isai, seorang yang berkenan di hatiKu" (Kisah Para Rasul 13:22).

Allah menghendaki kita menaati Dia dengan tulus; dalam segala perkara taat kepadaNya, bekerja sesuai dengan kehendakNya. Kita wajib berlatih mencari tahu dan mendapatkan perintah Allah untuk ditaati. Tuhan Yesus berkata, "Barangsiapa memegang perintahKu dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku" (Yohanes 14:2 1). Kita harus menerima pengaturan dan perintah Allah sebagai prinsip dari setiap aspek kehidupan kita. Allah hanya berkenan kepada perintah dan kehendak-Nya sendiri. Allah menghendaki manusia dengan tulus hidup bagiNya. "… sebab TUHAN telah menebus Yakub, dan Ia telah memperlihatkan keagunganNya dalam hal Israel" (Yesaya 44:23). Terhadap kehendak Allah, harus bagaikan daun-daun pohon tarbantin yang bergoyang mengikuti hembusan angin; tanpa opini diri sendiri, hanya untuk kehendak Allah. Dan juga "hati raja seperti batang air di dalam tangan Tuhan, dialirkanNya ke mana Ia ingini " (Amsal 21:1).

Ada seseorang yang milik Allah berkata, "Aku selamanya tidak menerima pengaruh keinginan pribadiku untuk memerintahkan batu-batu ini menjadi roti. Lebih baik mati daripada berbuat demikian." "MakananKu ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaanNya" (Yohanes 9:34). Mazinur 119 memperlihatkan betapa pemazmur menaati perintah Allah dengan sukacita.

E. Bekerja Bagi Tuhan dengan Tulus (Nehemia 4:6)

Nehemia adalah seorang yang bekerja dengan tulus. Pada malam hari ia bangun dan menyelidiki tembok (Nehemia 2:12-15). Tak peduli orang mengolok-olok dia (Nehemia 4:1-6), tanpa berunding atau berkompromi dengan musuh, tidak menyia-nyiakan waktu, tidak takut ancaman musuh, tidak pula melarikan diri atau menghindar, melainkan bekerja dengan tulus (Nehemia 6:1-14). Sambil bekerja sambil membawa senjata (Nehemia 4:16-23). Karena Nehemia dan umat itu bekerja dengan tulus, maka akhirnya perbaikan tembok Yerusalem rampung. Hanya orang yang tulus baru dapat merampungkan perkara besar.

Prinsip membujang justru supaya orang dapat melayani Tuhan dengan sepenuh hati, dengan tulus, tanpa terganggu hal-hal lain (I Korintus 7:32-35).

Petrus berkata, ". . . supaya kami sendiri dapat memusatkan pikiran dalam doa dan pelayanan firman" (Kisah Para Rasul 6:4). Wajib banyak berdoa, bahkan berdoa dengan tulus, tidak dengan angan-angan melayang memikirkan ini itu.

Seorang saudara bersaksi, "Setiap kali saya akan naik ke atas mimbar, saya tidak begitu senang berkontak dengan siapa pun, tidak senang diberi surat oleh siapa pun, tidak senang menelpon atau ditelpon orang, atau orang menanyakan sesuatu kepada saya. Mengapa? Sebab pada saat itu saya tidak ingin kontak batin saya dengan Tuhan Yesus terputus. Iblis sangat mengetahui ini. Misalnya, jam 7.30 malam nanti saya harus berkhotbah. Iblis mempunyai banyak sekali utusan, ada yang besar, ada pula yang kecil. Mereka semua berdatangan. Telepon atau telegram juga berdatangan, surat-surat pun datang. Yang ingin bertemu dengan saya untuk membicarakan hal ini atau itu, satu persatu datang. Ketahuilah, muslihat Iblis justru ingin menyeret saya keluar dari dalam roh. Asal saya tidak berada di dalam roh, Iblis sudah sukses. Bila saya tidak berada di dalam roh, yang berbicara adalah saya sendiri, Tuhan tidak berbicara dalam saya, dan jika demikian, semua yang saya beritakan sia-sia belaka."

Pengalaman kita dalam berdoa juga demikian. Misalnya, saudari-saudari pagi ini tidak berdoa; telepon juga tidak berdering, anak-anak tidak menangis, tetangga tidak mencari Anda, penagih rekening pun tidak datang. Tapi begitu Anda ingin berdoa dengan sungguh-sungguh, tepat pada saat Anda berdoa ke dalam roh, menjamah roh dan sedang asyik berdoa, tiba-tiba anak-anak Anda membuat gaduh, mereka berkelahi, sehingga mau tidak mau Anda harus keluar mengurusi mereka. Adakalanya mendadak ada orang mengetuk pintu, atau bel pintu berbunyi, tamu Anda datang. Sepuluh tahun yang. lalu, kalau saya menjumpai hal serupa itu, saya mengira tidak benar jika saya tidak membukakan pintu, atau tidak menerima telepon itu. Tetapi sekarang saya mengerti, ada Iblis di belakang perkara-perkara itu. Saya tidak boleh terlalu baik. Maka begitu saya berdoa, saya tidak akan bangun. Saya tidak peduli ada telepon atau ada orang mengetuk pintu. Saya baru menjawab semua itu jika sudah selesai berdoa.

Ketika berkhotbah atau berdoa, hati kita harus tidak bercabang. Jangan mau diganggu oleh apa dan siapa pun. Bila hati kita berkonsentrasi, kita akan berada dalam roh. Sebaliknya hati yang mendua akan membawa kita keluar dari roh.

Dalam hal memberitakan firman juga wajib dilakukan dengan tulus. "Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya" (II Timotius 4:2). Jiwa-jiwa perlu kita selarnatkan, kaum imani perlu kita bina, kebenaran perlu kita jelaskan. Karena itu beritakanlah, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya. Kerjakan dengan tulus. Membaca Alkitab, membangun, mengajar dan mempergunakan karunia dan lain-lain, wajib dilakukan dengan rajin dan tulus (I Timotius 4:15).

F. Melayani dengan Tulus (Roma 12:7-8)

Kasih karunia yang diterima orang tidak sama, maka berbeda pula karunia (talenta) yang diterima orang dari Allah. Tetapi setiap orang yang berkarunia wajib melayani menurut karunia yang Allah berikan kepadanya. Yang bernubuat, bernubuatlah sesuai dengan imannya; yang melayani, melayanilah dengan baik; yang mengajar, mengajarlah dengan baik; yang menasihati, nasihatilah dengan baik, dan yang memberi pimpinan, hendaklah melakukan dengan rajin. Dengan perkataan lain, setiap orang wajib tnelayani, dan melayani dengan tulus, dengan sepenuh hati melakukan perkara yang harus dilakukannya. Tetapi jangan melampaui apa yang harus ia lakukan, yaitu melakukan bagian orang lain. Setiap anggota tidak menduduki posisi anggota lain, pun tidak meninggalkan posisinya sendiri. Semuanya bersama-sama melayani, dan masing-masing melakukan secara khusus.

G. Menyelidiki dengan Tulus (Pengkhotbah 8:9)

Alkitab perlu diselidiki dengan tulus. Paulus metnuji orang-orang di Berea lebih baik (berbudi) hatinya daripada orang di Tesalonika, sebab mereka menerima firman dengan segala kerelaan hati dan setiap hari mereka menyelidiki Alkitab untuk mengetahui (Kisah Para Rasul 17:11). Orang-orang yang melayani Allah sedikitnya harus pernah menyelidiki beberapa kitab secara khusus. Daniel dengan tulus menuntut pengertian tentang perkara-perkara yang akan datang (Daniel 10:12). Menyelidiki Alkitab dengan tulus akan memperoleh wahyu dan terang, sehingga dapat memahaminya.

3. SASARAN YANG KHUSUS -

KRISTUS DAN PAHALA KERAJAAN

Paulus mempunyai sasaran yang khusus, hanya ada satu perkara yang ia lakukan, yaitu berlari-lari menuju sasaran demi meraih pahala kerajaan. Berdasarkan ini, ia mendorong kaum imani, supaya mereka menaruh angan-angan demikian, lain tidak (Filipi 3:13-15). Ia juga berkata, bahwa latihan ibadah berguna dalam segala hal, sebab mengandung janji untuk hidup sekarang dan yang akan datang. Jerih lelah kita justru untuk ini (I Timotius 4:8-10). Janji yang akan datang itu tidak lain adalah masuk ke dalam kerajaan.

Pada tahun 1937, saudara Watchman Nee mengadakan Sidang Pemahaman Alkitab di Shanghai; khusus membahas keselamatan Allah dan masuk kerajaan. Saudara Watchman Nee terlebih dulu tampak para pemenang dalam kitab Wahyu, kemudian tampak kebenaran kerajaan (Wahyu 3:21; Matius 6:10; 19:28; 25:23). Dalam hal ini ia pernah beroleh bantuan dari ajaran saudara Govett dan D.M. Panton. Ajaran tentang kerajaan tersebut sangat sesuai dengan Alkitab, juga. sangat dalam. Namun dalam apa yang disebut teologia fundamental tradisional hari ini, wahyu tersebut ditentang. Menurut ajaran Perjanjian Baru yang wajar, bukan semua orang imani layak masuk ke dalam kerajaan surga dan meraja bersama Tuhan. Hanya pemenang-pemenanglah yang dapat masuk. Dengan perkataan lain, masalah meraja bersama Tuhan Yesus pada zaman yang akan datang bagi para pemenang merupakan semacam pahala. Itu bukan bagian semua orang imani. Kemudian pada tahun 1949, di Taiwan saudara Witness Lee juga menyampaikan serentetan berita tentang kerajaan dengan sangat terperinci, berjudul "Masuk Kerajaan".

Menyinggung buah sulung, saudara Watchman Nee pernah membuat ilustrasi dengan buah jeruk yang dihasilkan dari kampung halamannya. Ia berkata, "Buah jeruk di kampung halaman saya, Foo-Chow, sangat ternama. Boleh dikatakan saat ini (ini dugaan saya) buah jeruk di seluruh dunia tidak sebaik yang di situ. Ketika musim jeruk tiba, Anda dapat melihat pohon-pohon jeruk yang hijau memenuhi seluruh kebun. Tapi bila Anda menelitinya, Anda tampak di sela-sela pohon jeruk yang rindang itu terdapat buah jeruk yang berwarna kuning emas. Sekelompok jeruk berwama emas tersebut tersebar di tengah daun-daun yang hijau gelap. Sungguh pemandangan yang elok. Tak lama lagi semua jeruk akan masak, dan seluruh pohon akan berubah menjadi keemas-emasan. Namun sekarang, yang dipetik petani hanya buah-buah yang masak duluan. Jeruk-jeruk sulung tersebut dengan hati-hati dipetik, dan harganya di pasar sangat tinggi, umumnya 3x lebih mahal dibanding musimnya tiba. Memang semua buah jeruk bisa masak, tapi ada sebagian yang masak lebih dulu; jerukjeruk itu disebut "buah sulung."

Dalam Wahyu 14 tercantum buah sulung (Wahyu 14:4) dan tuaian yang sudah matang benar (ayat 15). Perbedaan di antara matang dan matang duluan (buah sulung) tidak terletak pada sifatnya, sebab seluruh tuaian sama. Perbedaannya hanya pada waktu masaknya; ada yang masak duluan, ada yang masak belakangan. Yang masak duluan sebagian kecil, sedang yang masak belakangan adalah sebagian besar. Namun, Anak Domba mencari buah sulung.

"Buah sulung" ini adalah segolongan orang yang pertama diangkat ke dalam kerajaan. Itulah sebabnya kita semua harus berlatih ibadah, menuntut Kristus dengan sebulat hati, agar hayat kita bertumbuh dewasa, matang lebih dulu, dan dapat menjadi "buah sulung" untuk beroleh pahala kerajaan di kemudian hari. Itulah yang seharusnya menjadi sasaran unik kita. Hidup dan pelayanan kita adalah untuk itu. Janganlah berlari-lari tanpa tujuan, bertinju memukul angin, melainkan berusaha memperoleh mahkota yang abadi (I Korintus 9:25-26).

Saudara Watchman Nee berkata, kita wajib belajar tidak saja bekerja untuk Tuhan, bahkan untuk diangkat. Perkara yang paling penting bagi setiap orang imani adalah beroleh pahala.

Tidaklah berguna jika kita setiap hari hanya membicarakan kembalinya Tuhan Yesus. Kita perlu mengadakan persiapan yang cukup untuk itu. Karena kernalasan, mengasihi atau memanjakan diri, atau bertindak sekehendak hati kita sendiri, tidak mustahil kita akan kehilangan mahkota. Allah akan merebut mahkota kita dan diberikan kepada orang yang diperkenanNya.

Para pemenang akan memperoleh Tuhan, nama kota Allah akan ditulis di atas dahi mereka, sehingga kemuliaan dan keindahan kota itu terbaca di atas diri mereka.

Sebab itu, barangsiapa karena setia kepada Tuhan mau memisahkan diri dari segala kenajisan, pasti akan beroleh pahala di hadapan Tuhan.

Para pemenang terbentuk oleh situasi. Orang yang damba menjadi pemenang, namun juga ingin menempuh jalan rata, berarti ia tidak mengerti makna pergumulan dan nilai kemenangan. Sekarang waktunya tinggal sedikit, kesudahan sudah di ambang pintu. Kasih karunia Allah sanggup menyuplai segala kebutuhan kaum imaniNya. Setiap orang yang tidak mau memanfaatkan kasih karunia ini, akan gagal.

Kalau orang dunia memberikan pahala kepada olahragawan mereka yang menang dalam perlombaan, maka Tuhan kita akan memberikan pahala kepada para pemenang yang berperang melawan Iblis dan laskar-laskarnya.

Semoga Allah menjadikan kita seorang pemenang demi kerajaanNya.