UMUM
"Tetapi jawab pohon anggur itu kepada mereka : Masakan aku meninggalkan air buah anggurku, yang menyukakan hati Allah dan manusia…"
Hakim-hakim 9:13
1. Umum
A. Karakter Umum
Orang yang berkarakter tulus mudah menyendiri, karena itu perlu diimbangi dengan karakter umum.
B. Arti Umum
Umum di sini berarti tidak menyendiri, tidak individualistis, tidak sebatang kara, tidak meluhurkan diri sendiri dan tidak ingin baik sendiri.
Jika Anda hanya bisa berdoa sendirian, membaca Alkitab sendirian, tidak bisa melakukannya bersama orang lain, itu berarti Anda tidak umum. Jika harta kekayaan Anda hanya untuk dinikmati Anda sendiri, tidak memperhatikan orang lain; Anda berkelebihan tetapi tidak mau membantu yang berkekurangan, itu berarti tidak umum. Orang yang menyendiri tictak mudah cocok dengan orang lain, itu pun tidak umum. Seorang diri bersernbunyi, menuntut rohani, bersekutu dengan Tuhan, enggan. berkontak dengan orang lain atau bersekutu dengan sesama orang imani, itu pertanda tidak umum. Hanya tahu diri sendiri, tidak menghiraukan bagaimana keadaan gereja dan saudara saudari, itu tidak umum.
Seorang saudara pernah bertanya, "Di atas bukit, Tuhan pernah mengajarkan, bahwa ketika berdoa, kita harus menutup pintu. Begitu aku menutup pintu kamar, aku bisa berdoa selama dua jam. Tetapi ketika aku berlutut berdoa bersama saudara lain, doaku tidak bisa keluar. Mengapa demikian?" Saudara yang senior menjawab, "Itu tak lain karena Anda sudah terbiasa menyendiri. Anda tak pernah bersandar pada orang lain, Anda tidak merasa memerlukan orang-orang yang bersama-sama menjadi anggota. Anda bisa berdoa sendirian, bisa membaca Alkitab sendirian. Maaf, saya sedikit mengisahkan tentang diri sendiri. Sering kali saya berlutut berdoa sendirian, baru mengucapkan beberapa kata, saya tidak tahan, dan berharap bisa mencari beberapa saudara untuk berdoa bersama. Adakalanya dalam batin saya ada beban, saya perlu beberapa saudara saudari berdoa bersama saya, demikian barulah lega. Berdoa sendirian seolah-olah mustahil. Adakalanya pula saya tidak bisa memahami salah satu pasal Alkitab, sekalipun sudah berusaha keras. Saya sadar, saya perlu membacanya bersama beberapa saudara. Sungguh ajaib, begitu membaca Alkitab bersama mereka, sebentar saja saya sudah dapat memahaminya. Hanya bisa berdoa sendiri, tidak bisa berdoa bersama saudara-saudara, itu berarti menyendiri, dan itu tidak umum. Karakter demikian perlu disingkirkan. Harus umum, harus juga berdoa dan membaca Alkitab bersama saudara saudari lainnya. Karakter umum ini perlu kita bina."
Banyak orang yang menuntut rohani secara individual, akhirnya menjadi orang tua sebatang kara, tidak melahirkan generasi penerus; hampir tidak ada yang terkecuali. Semua orang yang menuntut kerohanian secara pribadi, akhirnya pasti menjadi orang tua sebatang kara, tidak membawa jiwa beroleh selamat, pun tidak membawa orang lain bertumbuh di dalam Tuhan. Kita boleh melihat sejarah, fakta membungkarn setiap bantahan. Hanya yang hidup di dalam Tubuh, menempuh hidup Tubuh, berkoordinasi dengan orang lain, barulah penginjilannya berhasil, bisa membawa jiwa beroleh selamat, ada keturunan rohani, bisa membangun orang lain dan bisa memperoleh berkat Tuhan :
Dalam kitab Hagai, Allah menegur orang yang hanya memperhatikan rumahnya sendiri. Orang yang hanya mengharapkan dirinya sendiri yang bangun, rohani, dan bergairah, pada prinsipnya sama. Allah tidak memberkatinya. Hari ini, jika Anda bisa tidak memperhatikan keadaan diri sendiri, melainkan memperhatikan anak-anak Allah, itu berarti memperhatikan rumah Allah, dan pasti segera tampak berkat Allah tiba.
Rohani sendirian tanpa berkoordinasi dengan orang lain, itu tidak umum, dan tanpa pembangunan. Pernah seorang saudari berkata kepada seorang saudara, "Tahukah Anda, bahwa di tengah-tengah kita ada saudari yang sangat rohani dan sangat baik?" Saudara itu bertanya, "Dari manakah Anda menilainya rohani dan baik?" Saudari tadi menjawab, "Ia tampak begitu rendah hati dan lembut. Ketika berbicara, ia selalu tenang, berjalan pun sopan. Ketika kami bersamanya, tak pernah kami melihatnya gusar atau tergesa-gesa. Ia sungguh seorang yang lemah lembut." Saudara itu bertanya lagi, "Apakah saudari tersebut sering bersama saudari-saudari lain? Apakah ia itu rohani sendirian, atau rohani bersama saudari-saudari lain sambil berkoordinasi?" Saudari itu mengaku, bahwa saudari tersebut rohani sendirian. Namun saudari itu segera membelanya, mengatakan, "Ia begitu rohani sehingga kami tidak dapat mengikuti dia. Itulah sebabnya ia menjadi rohani sendirian." Saudara itu lalu berkata, "Saudari tersebut seharusnya dibawa ke toko permata, menjadi satu barang pajangan yang indah. Gereja tidak memerlukan saudari semacam itu. Yang diperlukan gereja adalah saudari yang bisa berkoordinasi dengan orang-orang yang ada di sekeliling, di atas, dan di bawahnya."
Ada orang terhadap harta benda juga hanya untuk dirinya sendiri, tidak bersikap umum; hanya untuk dirinya sendiri, tidak digunakan untuk gereja. Ketika saudara Witness Lee melayani di daerah utara Tiongkok, ada orang berkata. kepadanya, "Saudara Lee, di denominasi anu ada seorang penatua (ia sangat mengenal penatua tersebut), di belakang Anda ia mengecam khotbah Anda habis-habisan." Saudara Lee berkata, "Penatua itu tidak pernah datang mendengar khotbah saya, bagaimana ia dapat mengecarn khotbah saya?" "Ia diberitahu keluarganya yang mendengar khotbah di sini. Setelah diberitahu, ia lalu mengecam habis-habisan khotbah Anda." Saudara Lee berkata kepadanya, "Saya harap Anda sendiri menyampaikan apa yang ingin saya katakan kepada penatua tersebut. Beritahukan kepadanya begini : Asalkan semua hartanya dihitung dan dijamah oleh Tuhan, ia akan tahu benar tidaknya khotbah saya." Sejak perkataan itu disampaikan kepadanya, hingga hari ini, saudara Lee tidak pernah mendengar penatua tersebut mengecam khotbahnya lagi. Justru perkataan itu yang menutup mulutnya.
Dapatkah Anda membiarkan Tuhan menghitung dan menjamah semua harta Anda? Berapakah yang sudah Anda gunakan untuk "umum"? Ada orang yang tidak rela mengeluarkan sedikit hartanya demi kesejahteraan orang banyak, hanya tahu menimbun harta untuk dirinya sendiri, selamanya tak pernah memberi. Ia hanya mementingkan diri sendiri, tanpa mementingkan umum.
2. Gereja Milik Korporat, Harus Umum
A. Gereja Adalah Kerajaan Allah, Terdiri Dari Seluruh Umat Allah. Kita Adalah Kawan Sewarga Dengan Kaum Saleh, Menjadi Umat Allah, Maka Tidak Dapat Menyendiri (Efesus 2:19).
Ketika bani Israel keluar dari Mesir, mereka menjadi umat Allah, dan kerajaan yang dikuasai Allah (Mazmur 114:1-2). Setiap langkah mereka, baik berangkat maupun berkemah, dipimpin oleh tiang awan yang menyertai mereka (Bilangan 9:15-23). Semua bergerak bersama-sama, tidak bertindak sendiri-sendiri.
Demikian pula, di dalam gereja, setiap orang harus menerima pimpinan minister, untuk ministri itu, dan maju bersama. Gereja semula justru "bertekun dalam pengajaran rasul-rasul ..." (Kisah Para Rasul 2:42). Tidak dapat bertindak menurut kemauan diri sendiri.
B. Gereja adalah Kawanan Domba Allah (Yohanes 10:16; 1 Petrus 5:2; Kisah Para Rasul 20:28).
Bergabung menjadi sekawanan, namun menjadi milik satu Gembala. Hanya ada satu Gembala, hanya ada satu kawanan. Karena itu kita tidak dapat memisahkan diri, menjadi rohani sendirian, melainkan harus mengikuti "jejak-jejak domba" (Kidung Agung 1:8). Jangan beterbangan kian ke mari sendirian seperti kupu-kupu.
C. Gereja adalah Keluarga Allah (Efesus 2:19; 1 Timotius 3:15)
Orang yang percaya Tuhan bukan menjadi anak tunggal, melainkan menjadi salah satu anak di antara laksaan anak-anak. Kita tidak dapat tidak bergaul dengan anak-anak Allah lainnya, dan bersama-sama menjadi anak-anak dari seorang Bapa, bersama-sama untuk keluarga Allah, bersama-sama menikmati kekayaan dalam keluarga Allah. Kalau keluarga jasmani di bumi harus begitu, terlebih lagi keluarga Allah. Seorang saudara berkata, "Pada tahun-tahun yang lampau, saya bertemu dengan banyak anak Allah. Mereka penuh dengan perasaannya sendiri-sendiri. Mereka hanya memikirkan kesejahteraan, keamanan dan keuntungan masa depan dunianya sendiri." (Itu namanya egois). Saya masih ingat, sewaktu saya masih muda dan baru mulai melayani Tuhan, saya sering membicarakan perihal mengasihi Tuhan dalam khotbah saya. Suatu kali seseorang bertanya, "Jika seseorang hanya percaya kepada Tuhan tanpa mengasihi Tuhan, apakah ia bisa beroleh selamat?" Saya jawab, "Kalau. Anda percaya Tuhan, seharusnyalah mengasihi Tuhan." Katanya, "Bagi saya, percaya Tuhan itu mudah, tapi mengasihi Tuhan itu susah. Kalau begitu apakah saya bisa beroleh selamat?" Pertanyaan tersebut agak sukar dijawab. Lalu saya berkata kepadanya, "Setelah Anda beroleh selamat, Anda wajib mengasihi Tuhan. Jika tidak, ketika Tuhan datang kelak, Anda tidak dapat beroleh pahalaNya." Ia berkata, "Saya tidak perlu pahala, masuk ke surga pun tidak terialu perlu, yang saya ingini hanya dapat berdiri di depan gerbang surga dan tidak terjerumus ke neraka. Itu sudah cukup." Peristiwa itu terjadi pada tahun 1935. Konsepsi dan perasaannya sama sekali tertuju kepada kesejahteraan dan keamanan dirinya sendiri. Sungguh kasihan!
Hari ini Tuhan membelaskasihani kita. Ia telah mencelikkan mata hati kita, sehingga kita tampak Allah mempunyai suatu kebutuhan yang sangat mulia dan besar da)am alam semesta. Ia membutuhkan satu rumah (keluarga), bait yang hidup, tempat kediaman yang hidup nyata di bumi. Ia menyelamatkan manusia, tidak hanya menghendaki manusia mengasihi Dia, menuntut kerohanian, bahkan menghendaki manusia terlepas dari kerohanian yang individual, sendirian dan sebatang kara, agar dapat bersama semua anak Allah membangun rumah Allah, dan bersama-sama menikmati kekayaan keluarga Allah.
D. Gereja adalah Tempat Kediaman Allah, yang Terbangun dari Semua Batu-batu Hidup (Efesus 2:22; 1 Petrus 2:5).
Kita adalah batu-batu hidup yang dibangun Allah menjadi rumah rohani. Sebuah rumah sudah pasti tersusun dari satu batu di atas batu. lain; ia baru menjadi sebuah rumah, setelah semua (banyak) batu itu tersusun menjadi satu. Satu batu yang ditaruh sendirian tidak berguna sama sekali, jangan-jangan ia menjadi batu sandungan, bukan batu hidup.
Seorang saudara berkisah, 20 tahun lebih yang lalu, ia pernah membaca sebuah buku yang membahas perihal persembahan. Dalam buku itu dikatakan, bahwa hari ini Tuhan menyelamatkan kita dengan maksud bekerja di atas diri kita, agar kita menjadi batu-batu permata, dan kelak dipajang di surga, ibarat permata-permata yang dipajang di rumah orang kaya atau istana raja, untuk dikagumi dan dipuji orang. Sebab itu, hari ini kita jangan takut akan gesekan kesengsaraan. Kita harus mempersembahkan diri kita ke dalam tangan Tuhan, sehingga berangsur-angsur berubah menjadi permata mustika, dan kdak dipajang di surga. Alangkah terhormat dan mulia! Setelah membaca buku tersebut, pada saat itu, ia merasa isi buku itu cukup logis, karena itu kemudian ia menyampaikan pula dalam khotbahnya kepada orang lain. Namun, lambat laun ketika ia membaca Alkitab dengan cermat, ia tampak bahwa tafsiran demikian tidak ditemukan dalam Alkitab. Sebaliknya, yang ditemukan adalah : hasil pekerjaan Allah dari abad ke abad ialah mengambil bahan-bahan yang diproses menjadi mutiara dan permata untuk membangun sebuah kota kudus.
Kehendak Allah ialah agar kita menjadi seorang yang dibangun. Jika ingin dibangun, pertama-tama Anda harus meninggalkan sifat menyendiri, belajar bersatu dengan saudara saudari yang berdekatan. Tak peduli bagaimana berbedanya selera, watak dan pandangan mereka dengan Anda, bagaimanapun kita semua wajib bersatu. Memang hal ini membuat orang merasa sangat tidak bebas, tapi ini adalah keharusan.
Pada tahun 1958, beberapa saudara melancong ke Yerusalem. Di sana mereka bertanya dan ingin tahu, apakah di gunung Libanon masih terdapat pohon aras. Orang di sana memberitahu, bahwa sekarang pohon itu sangat sedikit, hanya tersisa 200 batang lebih. Jika ingin melihat pun harus naik gunung dengan mobil. Seorang saudara lalu berpikir, "Andaikata hari ini kita menjadi sebuah pohon aras di atas gunung Libanon, maka banyak orang akan datang dari seluruh dunia, melihat-lihat kita. Dan kita akan merasa mulia. Ketika kita dipuji orang, pasti batin kita akan merasa bangga. Namun, Allah tidak mengizinkan adanya hal demikian. Allah tidak menghendaki pohon aras ini tetap berada di puncak Libanon. Allah akan mengambilnya, menanggulanginya, bekerja di atasnya. Hingga suatu hari, ketika ia menjadi sebatang papan dalam bait suci, dan orang masuk ke dalam bait menyembah Allah, hanya merasa ada Allah, tidak merasa yang lain."
Hari ini, kita ingin menjadi pohon aras di atas gunung Libanon, atau menjadi sebuah papan yang tersusun di bait suci? Untuk apakah kita sebenarnya? Untuk Tuhan atau diri sendiri? Di sini kita harus mengorbankan pribadi demi umum, demi Kristus dan gerejaNya.
E. Gereja adalah Tubuh Kristus, yang Tersusun Melalui Koordinasi Semua Anggota (I Korintus 12:12-31; Roma 12:4-5; Efesus 4:12,15-16)
Kita masing-masing adalah satu anggota dari Tubuh Kristus. Anggota mana saja tidak dapat terpisah dari anggota lainnya. Semua harus hidup di dalam Tubuh, saling berkoordinasi. Bila satu anggota menyendiri, meninggalkan Tubuh, itu adalah bunuh diri rohani, ia tidak akan hidup. Ia tidak saja kehilangan kelimpahan, juga kehilangan kehidupan (hayat).
Saudara Witness Lee berkata, "Selama puluhan tahun ini, demi kasih karunia Tuhan, saya dapat bersaksi, bahwa saya benar-benar bersatu dengan saudara-saudara lain. Jika Anda atau setan bertanya kepada saya, dengan siapakah saya bersatu, saya dapat segera menyebutkan nama beberapa saudara dan saudari. Saya dapat berkata, soya benar-benar dan dengan riil telah bersatu dengan saudara saudari di dalam. Tuhan itu. Hal ini akan mengancam musuh, dan merupakan satu kesaksian."
3. Harus Menanggalkan Manusia Lama dengan Perbuatannya,
yaitu Menanggalkan Kehidupan Masyarakat Lama,
dan Mengenakan Manusia Baru, yakni Menempuh Hidup Gereja
A. Menempuh Kehidupan yang Bersekutu Bersama-sama
Dalam Kisah Para Rasul 2:42 tercatat, pada mulanya semua orang yang beroleh selamat meninggalkan zaman yang bengkok ini. Mereka berhimpun di satu tempat, saling bersekutu, memecahkan roti dan berdoa, saling heroleh suplai. Tidak hanya berdoa secara perorangan, juga berdoa bersama-sama. Anda berdoa, saya mengaminkan; saya berdoa, Anda mengaminkan; maka saling bergernalah batin dengan batin, dan saling berbaurlah roh dengan roh.
Roti untuk memperingati Tuhan terbuat dari banyak biji gandum. Setelah melalui proses penggilingan, menjadi tepung, tetapi tanpa berbaur, tidak mungkin menjadi roti. Jika masing-masing menyendiri, tak mungkin ada gereja. Hanya melalui saling bersekutu dan saling berbaur di dalam roh, baru ada gereja. Dalam hal ini tidak boleh menyendiri, harus bersama-sama.
B. Melayani Harus Bersama-sama, Harus Berkoordinasi
Bukan menjadi imam sendirian, melainkan. menjadi suatu kelompok imamat (I Petrus 2:5). Bukan melayani Allah sendirian, melainkan pelayanan Tubuh; setiap, anggota berkoordinasi dan menunaikan fungsinya masing-masing. Bukan sebuah instrumen musik yang bermain sendirian, melainkan sebuah konser musik besar, yang dimainkan oleh banyak alat musik dengan harmonis.
Dalam kitab Pengkhotbah dikatakan beberapa manfaat koordinasi yang dapat saling menopang dan membantu. Jika seorang terjatuh, yang lain dapat memapahnya, dapat saling mendorong, saling membangkitkan gairah kasih. Jika tidur berdua. akan saling menghangatkan. Musuh tak dapat mengalahkan. Tali yang berangkap, tiga tidak mudah putus. Gereja yang terbangun tak dapat dikalahkan oleh kuasa alam maut.
C. Prisip Umum yang Tanpa Individualistis
Dalam gereja sebermula, semua orang yang percaya bersatu, segala milik mereka menjadi milik bersama; ada yang menjual ladang dan harta miliknya, lalu dibagi-bagikan kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing (Kisah Para Rasul 2:44-45). Dan mereka sehati, sejiwa, tak seorang pun berkata, bahwa sesuatu dari kepunyaannya adalah miliknya sendiri, melainkan segala sesuatu itu milik mereka bersama (Kisah Para Rasul 4:32). Itulah prinsip umum yang tanpa individualistis.
Yang kelebihan mencukupkan yang kekurangan… Agar yang mengumpulkan banyak tidak kelebihan, dan yang mengumpulkan sedikit tidak kekurangan (11 Korintus 8:14-15). Harus membantu orang-orang kudus yang dalam kekurangan (Roma 12:13). Harus memperhatikan orang lain; harus menanggung kelemahan orang yang tidak kuat. Harus mencari kesenangan sesama orang imani demi kebaikan untuk membangunnya (Roma 15:1-2). Harus berusaha menyenangkan hati semua orang dalam segala hal, bukan kepentingan diri sendiri, tetapi kepentingan orang banyak, supaya mereka beroleh selamat (I Korintus 10:33). Semuanya itu adalah keadaan yang umum dan tanpa individualistis.
Paulus adalah seorang yang berjiwa umum, tanpa individualistis. Ia rela pergi (meninggal dunia) dan diam bersama-sama dengan Kristus, sebab itu jauh lebih baik, tetapi lebih perlu tinggal di dunia ini karena orang-orang Filipi (Filipi 1:23-24). Sebagai pelayan gereja, ia rela menderita bagi semua orang demi menggenapkan dalam dagingnya apa yang kurang pada penderitaan Kristus untuk gereja (Kolose 1:24-25). Sungguhpun ia bebas terhadap semua orang, tapi ia rela menjadi hamba semua orang, supaya boleh memenangkan sebanyak mungkin orang (I Korintus 9: f9). Ia juga rela mengorbankan miliknya, bahkan mengorbankan dirinya demi jiwa orang (11 Korintus 12:15); dan dengan tangannya sendiri bekerja untuk memenuhi keperluan kawan-kawan seperjalanannya (Kisah Para Rasul 20:34), dan bukan saja rela membagi Injil Allah dengan orang, tetapi juga nyawanya sendiri (I Tesalonika 2:8).
Paulus benar-benar berjiwa tidak egoistis, baik dalam hal rohani, harta, fisik, bahkan nyawanya sendiri pun rela dikorbankan untuk umum. Ia berkata, "Bahkan, aku mau terkutuk dan terpisah dari Kristus demi saudarasazdaraku, kaum sebangsaku secara jasmani" (Roma 9:3).
Musa juga seorang yang hidup untuk umat, tidak untuk dirinya sendiri. "Karena ia lebih suka menderita sengsara dengan umat Allah daripada untuk sementara menikmati kesenangan dari dosa" (Ibrani 11:25). Demi memimpin umat Allah keluar dari Mesir, ia rela mengorbankan kesenangan dalam istana raja. Ketika umat Allah menyembah patung anak lembu emas dan itu mengundang murka Allah, Allah berkata kepada Musa, bahwa Ia akan memusnahkan mereka, dan kemudian menjadikan keturunannya (Musa) kerajaan besar. Namun Musa tidak egoistis, tidak ingin keturunannya menjadi bangsa besar, malahan dia mohon Allah mengampuni mereka, demi mereka, ia merelakan dirinya sendiri menjadi domba penebus dosa mereka. Ia berkata kepada Allah, "Tetapi sekarang, kiranya Engkau mengampuni dosa mereka itu -- dan jika adak, hapuskanlah kiranya namaku dari dalam kitab yang telah Kautulis" (Keluaran 32:32).
Pada tangal I Maret 1950 saudara Watchman Nee menulis sepucuk surat kepada saudara K.H. Weigh, yang di antaranya memuat kalimat demikian : "Orang yang memimpin, harus belajar mengasihi orang lain, memikirkan orang lain, memperhatikan orang lain, berkorban bagi orang lain, dan rela memberikan segala-galanya kepada orang lain. Jika tidak dapat berkorban diri untuk orang lain, ia tidak layak menjadi pemimpin. Belajarlah memberikan segalanya kepada orang lain, sekalipun kamu tampaknya tidak memiliki apa-apa, maka Tuhan akan mencurahkan berkatNya."
Saudara Watchman Nee sendiri juga adalah seorang yang mengorbankan diri demi orang banyak. Untuk memasok keperluan sekerja, ia mengusahakan sebuah pabrik farmasi "Sen Hua", menjadi seperti seorang janda yang menikah lagi demi menghidupi anak-anaknya. Akhirnya ia malah menderita disalah pahami dan dikucilkan. Dari hasil usaha tersebut, ia pernah menyerahkan emas sebanyak 37 batang untuk membangun balai sidang besar di Shanghai.
Hudson Taylor juga seorang yang mengorbankan segala-galanya demi penginjilan dan penyelamatan jiwa di Cina. Ia berkata, "Jika aku ada seribu ponsterling (mata uang Inggris), boleh diambil seluruhnya untuk Cina, dan jika aku ada seribu nyawa, tidak kusisakan satu nyawa pun yang tidak untuk Cina."
D. Mendahulukan Umum
Segala yang bermanfaat bagi gereja, lakukanlah; yang tidak bermanfaat bagi gereja, jangan dilakukan. Jangan mendahulukan pribadi, melainkan umum (orang banyak), dan terutama dahulukanlah gereja. Yang baik, berikan kepada gereja, yang kurang baik, tinggalkan untuk pribadi. Itulah artinya mendahulukan gereja.
Di dalam gereja, lebih baik mengucapkan lima kata yang dapat dimengerti untuk mengaJar orang lain, daripada beribu-ribu kata dengan bahasa roh. Tanpa ada yang menerjemahkan, bahasa roh tidak akan membina orang, maka tidak seharusnya. diucapkan. Semua itu berarti mengutamakan umum, dalam hal ini gereja.
Jangan hanya berdoa untuk diri sendiri, tapi harus berdoa dulu untuk kepentingan Allah, gereja dan semua orang. Itu pun berarti mengutamakan umum. Dalam doa yang diajarkan Tuhan Yesus, dikatakan, "Bapa kami yang di surga, dikuduskanlah namaMu, datanglah kerajaanMu, jadilah kehendakMu di bumi seperti di surga... " (Matius 6:9- 10). Pesan Paulus kepada Timotius, "Pertama-tama aku menasihatkan : Naikkanlah permohonan, doa syafaat dan ucapan syukur untuk semua orang, untuk raja-raja, dan untuk semua pembesar,.." (I Timotius 2:1-2). Paulus berpesan kepada kaum imani Efesus, "Dalam segala doa dan permohonan. Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak paulus-putusnya untuk segala orang kudus, juga untuk aku . . . " (Efesus 6:18-19).
Daud berdoa untuk Yerusalem, agar Allah memberi damai sejahtera dan berkat bagi baitNya (Mazmur 122:6-9). "Sesungguhnya aku tidak akan masuk ke dalam kemah kediamanku, tidak akan berbaring di ranjang petiduranku sesungguhnya aku lidak akan membiarkan mataku tidur atau
membiarkan kelopak mataku terlelap, sampai aku mendapat tempat untuk TUHAN, kediaman untuk Yang Mahakuat dari Yakub" (Mazmur 132:3-5). Seorang saudara berkata, "Barangsiapa ingin berguna di tangan Tuhan, ia harus sering berlutut di hadapan Allah, dan dengan air mata serta jiwa yang torcurah. berdoa bagi gereja."
E. Rela Mengorbankan Diri Sendiri
Seorang pemimpin harus rela mengorbankan diri sendiri. "Hatiku tertuju kepada para panglima Israel, kepada mertkayang menawarkan (mengorbankan) dirinya dengan sukarela di antara bangsa itu ..." (Hakim 5:9). Tuhan Yesus berkata, "Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi tekemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawaNya menjadi tebusan bagi banyak orang" (Matius 20:26-28). Barangsiapa ingin menjadi besar dan terkemuka, hendaklah ia menjadi pelayan orang, dan harus berkorban; bahkan rela mengorbankan nyawa.
Saudara Watchman Nee menulis sebuah syair, yang antara lain mencantumkan kalimat-kalimat demikian, ". . . mencurahkan hayat (kehidupan) demi kebahagiaan orang lain, mengorbankan ketenangan diri demi kenyamanan orang lain ... dengan sukacita menderita segala rugi, agar orang yang berdekatan dengan Tuhan menerima kelegaan... belajar mengenal Engkau adalah hiburanku, dan agar orang lain berkenan, sepanjang usiaku."
Kristus adalah pokok anggur. Buah anggur diperas menjadi arak, untuk menyenangkan manusia. Dalam kitab Hakim-Hakim 9:13 tercantum, "Tetapi jawab pohon anggur itu kepada mereka : Masakan aku meninggalkan air buah anggurku, yang menyukakan hati Allah dan manusia ..." Kita harus mengalami Kristus sebagai pohon anggur yang menghasilkan air anggur, mengalami pengorbananNya, sehingga menyukakan hati Allah dan manusia.
Saudara Watchman Nee berkata, bahwa bertahun-tahun yang lalu, ketika ia di Taipei, Taiwan, banyak saudara saudari yang bersama-sama menerima bantuan rohaninya. Di antaranya ada seorang saudari yang selalu menggerutu. Waktu mandi ia menggerutu karena airnya kurang hangat; waktu makan, ia menggerutu nasinya terlalu dingin. Sepanjang hari ia selalu mengeluh mengapa begini, mengapa begitu. Ia membuat orang-orang yang tinggal bersamanya pusing, sebab menurut dia tak seorang pun dapat menyukakannya. Hal demikian disebabkan saudari itu sama sekali tidak pernah belajar mengorbankan dirinya sendiri. Ia tak pernah belajar bagaimana menerapkan Kristus yang berkorban dalam keadaan sekitarnya. Ia sendiri adalah seorang yang tanpa sukacita, ia juga tak dapat membuat siapa pun bersukacita. Ia tak pernah mengalami Kristus sebagai penghasil anggur, yang mempersembahkan diriNya, yang menghasilkan anggur, bagi Allah dan manusia.
Orang yang paling sukacita adalah orang yang paling tidak individualistis. Orang yang paling individualistis adalah orang yang paling sengsara. Mereka selalu berseru, "Kasihanilah aku! Berlakulah baik sedikit terhadapku!" Mereka mirip pengemis, selalu meminta-minta. Orang yang berkorban adalah orang yang bersukacita. Kehidupan (hayat) alamiah kita adalah kehidupan yang egoistis. Hanya mengalami kehidupan pengorbananNya, baru memungkinkan Anda berkorban bagi Allah dan manusia. Kalau demikian, Anda akan menjadi orang yang paling bersukacita. Setiap orang yang berkontak dengan Anda akan merasa sukacita karena Anda, Anda pun akan membawakan sukacita kepada Allah.
Saudara Watchman Nee berkata, "Hendaknya Anda ingat akan satu perkara yang pantang Anda lakukan, yaitu orang lain berkorban, merugi untuk Anda, supaya Anda beroleh pelayanan mereka, dan dengan egoistis mendapat suplai mereka."
Orang yang hanya melindungi diri sendiri, tanpa menghiraukan saudaranya, sangat dibenci Allah, dan akibatnya malah ia sendiri akan "binasa".
Hati yang mengasihi saudara berarti mengabaikan diri sendiri demi kepentingan semua saudara saudari, melayani mereka, juga berarti rela mengorbankan diri sendiri untuk membina (memperlengkapi) mereka, bahkan rela mengorbankan nyawa sendiri untuk mereka.
Barangsiapa hanya memperhatikan diri sendiri, pasti menjadi orang miskin; sebaliknya, barangsiapa belajar memberi, pasti akan berlimpah.
Nyonya Penn Lewis berkata, "Rahasia kehidupan yang berbuah ialah rela mencurahkan segalanya untuk orang lain, sedangkan untuk dirinya sendiri tidak menuntut apa-apa." Serahkanlah diri Anda sepenuhnya ke dalam tangan Allah, dan jangan pedulikan perkara-perkara apa pun yang menimpa diri Anda.