Daftar isi Karakter · bab 8/30

SABAR

“Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesengsaraan,

dan bertekunlah dalam doa”

Roma 12:12

“Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku,

ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku; lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!”

Mazmur 139:23-24

I. SABAR MENUNGGU

Sabar di sini tidak mengacu kepada ketabahan, melainkan mengacu kepada sabar menunggu.

1. Menunggu Hasil Panen

Orang yang melayani Tuhan tidak boleh gugup, tidak boleh tergesa-gesa, harus bisa sabar, bisa menunggu, barulah berguna. Orang yang gugup tidak bisa stabil, orang yang tergesa-gesa tidak bisa menunggu. Setiap hari rajin bekerja, tetapi tidak mengharapkan cepat-cepat mendapatkan hasilnya. Giat bekerja, tetapi tidak tergesa-gesa. Orang yang melayani Allah tidak seharusnya lambat, tetapi harus sabar; sama seperti petani menantikan hasil yang berharga dari tanahnya (Yak. 5:7). Lambat bisa kehilangan kesempatan, tetapi sabar adalah dari tidak ada kesempatan menunggu sampai ada kesempatan.

2. Sabar dalam Penderitaan

(Rm. 5:3; 12:12; Ams. 18:14)

Jika menjumpai kesulitan, jangan tergesa-gesa menghendaki kesulitan itu lewat, harus dengan sabar menunggu, membiarkan waktu bekerja.

Musa di padang belantara teruji selama 40 tahun, baru dapat dipakai oleh Allah untuk memimpin bani Israel. Terhadap bejana yang Allah persiapkan bagi diri-Nya, Allah akan memberikan latihan dan didikan yang memadai. Sampai waktu yang ditentukan oleh Allah, Allah akan memakai mereka untuk memikul pekerjaan-Nya. Yesus, orang Nazaret, juga harus dipersiapkan selama 30 tahun, sampai hikmat, perawakan tubuh-Nya, dan kasih Allah serta manusia bertambah hingga sempurna, barulah mulai melakukan pekerjaan-Nya.

Allah tidak pernah tergesa-gesa, Ia rela menggunakan waktu yang lama demi mempersiapkan bejana yang akan dipakai-Nya. Dia tidak pernah merasakan bahwa waktu yang dipergunakan untuk mempersiapkan bejana itu terlalu lama atau mubazir.

Dalam penderitaan, sering kali yang paling sulit diterima ialah waktu yang terlalu lama. Tetapi lihatlah Yusuf, ia menerima ujian dalam jangka waktu yang panjang. Sampai waktunya, ia menjadi orang yang besar. "Ia akan duduk seperti orang yang memurnikan dan melahirkan perak" (Mal. 3:3). Ia tahu harus memurnikan berapa lama. Sama seperti tukang perak, begitu melihat perak yang dimurnikan sudah bisa memantulkan benda di depannya, segera api dimatikan. Jangan tergesa-gesa lari mendahului Allah, harus belajar menunggu waktu-Nya.

3. Sabar dalam Penganiayaan

(Mat. 10:22; 24:13)

Menjumpai aniaya, janganlah mengira dibuang, melainkan Allah akan melalui diri Anda menyatakan kekuatan-Nya yang besar (2 Kor. 4:7-8). Sampai waktunya, Allah pasti menolong Anda. Sama seperti yang dialami oleh Paulus, "Tuhan telah mendampingi aku ... Dengan demikian aku lepas dari mulut singa. Tuhan akan melepaskan aku dari setiap usaha yang jahat." Meskipun akhirnya ia mati martir, tetapi ia akan masuk ke dalam kerajaan-Nya di surga (2 Tim. 4:17-18). "Tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat" (Mat. 10:22; 24:13).

Saudara Watchman Nee berkata, "Ketika orang menganiaya Anda, membuat Anda menemui jalan buntu, terbentur pada tembok, tapi Anda bisa naik lebih tinggi, ini barulah orang Kristen."

4. Sabar Menunggu dalam Keadaan

(Rm. 8:22-23)

Meskipun pada hari ini, di dalam daging, banyak keluhan, letih lesu, tetapi kita mempunyai pengharapan yang mulia, menunggu mendapatkan keputraan, yaitu tubuh tertebus. Pengharapan ini dapat membuat kita sabar menunggu.

Keadaan, ujian, dan godaan pada hari ini tidak lain adalah latihan untuk menjadi raja pada zaman yang akan datang. Apakah kita bersyarat, apakah kita mempunyai standar itu, apakah kita berkekuatan, semuanya akan ternyata lewat perkara-perkara itu. Syair sebuah kidung Kristen berbunyi, "Muliaku di kelak hari, ku sabar menanti."

Paulus berkata, "Tetapi, jika kita mengharapkan apa yang tidak kita Mat, kita menantikannya dengan tekun" (Rm. 8:25). Jika kita bertahan, kita pun akan ikut memerintah dengan Dia (2 Tim. 2:12).

5. Menderita Kehinaan Tekun Memikul Salib

(Ibr. 12:2-3)

Setelah menderita kehinaan memikul salib, Tuhan Yesus duduk di sebelah kanan takhta Allah. Hari ini kita mungkin karena Tuhan menderita penghinaan atau penentangan, tetapi di depan kita tersedia sukacita, yang mendorong kita supaya tidak letih, tidak putus asa.

Saudara Watchman Nee berkata, "Semua perkara yang terjadi atas diri kita adalah buah dari pekerjaan salib Kristus, janganlah mengabaikan setiap aspeknya."

Salib Kristus harus bekerja sangat dalam, sehingga membuat Anda dengan rela dan senang hati menerima bagian yang Allah berikan kepada Anda, serta membiarkan Allah memelihara kemuliaan-Nya sendiri. Orang yang setelah naik salib, menolak minum anggur asam, barulah orang yang mengenal Tuhan.

Setiap kali kita menjumpai masalah, tidak pedull betapa sulitnya bagi daging, betapa tidak menyenangkan secara lahiriah, Anda harus tahu bahwa semuanya itu sesungguhnya menyuruh Anda belajar. Kita seharusnya menundukkan kepala serta berkata, "Ini adalah satu kesempatan lagi, satu kesempatan yang sulit didapat, satu kesulitan yang langka. Ya Tuhan, aku berterima kasih kepada-Mu."

Kata-kata pujian bukan hanya berasal dari mulut orang yang selalu lancar, kata-kata pujian kepada Tuhan lebih sering berasal dari orang yang mengalami penghajaran, yang mengalami pengolahan.

Terhadap banyak kejadian, saat ini kita menggerutu, tetapi lewat dua tahun kemudian, kita malah memuji Tuhan karena kejadian-kejadian tersebut. Oleh sebab itu, lebih baik pada hari ini juga kita memuji Tuhan, jangan menunggu kelak baru memuji-Nya.

6. Untuk Pertumbuhan Hayat,

Perlu Menunggu dengan Sabar

"Yang jatuh di tanah yang baik itu ialah orang-orang yang setelah mendengar firma» itu, menyimpannya dalam hati yang baik dan mengeluarkan buah dalam ketekunan" (Luk. 8:15). Agar hayat bertumbuh besar dan berbuah, perlu waktu yang cukup. Asal rajin menabur, menyiram dan mengelola, sampai waktunya, pasti ada hasilnya. Paulus berkata, "Karena kamu aku menderita sakit bersalin lagi, sampai rupa Kristus menjadi nyata di dalam kamu" (Gal. 4:19). Agar hayat Allah di dalam kita bertumbuh dewasa, agar rupa Kristus terbentuk di dalam kita, juga memerlukan waktu, perlu banyak jerih lelah, perlu menunggu dengan sabar.

Bila jatuh ke dalam berbagai pencobaan, anggaplah semuanya itu sebagai suatu kebahagiaan, usahakan untuk sabar; bila bisa sabar, pasti ada pertumbuhan hayat, diperlengkapi hingga menjadi sempurna, tidak kekurangan sesuatu apa pun, dan akan menerima mahkota kehidupan (Yak. 1:2-4, 12).

7. Untuk Mendapatkan Orang, Harus Sabar

Paulus berkata kepada Timotius, "Sedangkan seorang hamba Tuhan tidak boleh bertengkar, tetapi harus ramah terhadap semua orang. Ia harus pandai mengajar, sabar dan dengan lemah lembut dapat menuntun orang yang suka melawan" (2 Tim. 2:24-25). Ia berkata pula, "Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegurlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran" (2 Tim. 4:2). Terhadap firman Allah, belum tentu seseorang bisa segera menerimanya, adakalanya malah menentang, melawan. Janganlah Anda tergesa-gesa berdebat, jangan putus asa sehingga melepaskan orang itu, perlu dengan lemah lembut mengajar dan menganjuri, dengan sabar menantikan dia sadar dan bertobat. "Dengan kesabaran seorang penguasa dapat diyakinkan dan lidah lembut mematahkan tulang" (Ams. 25:15). Asal sabar, penguasa dapat diyakinkan, apalagi orang biasa; asal lemah lembut, orang yang keras bagaimanapun dapat ditaklukkan. Sebab itu, orang yang melayani Allah, hamba Tuhan, harus belajar lemah lembut, sabar menunggu.

Spurgeon berkata : Saya ingat, ada seorang hamba Tuhan yang menjenguk seorang pekerja (tukang) yang sakit dan menjelang ajal. Orang yang dijenguk itu bukan hanya tidak menerima, bahkan dengan penuh kebencian berkata, "Beri tahu dia, aku tidak ingin melihat orang semacam ini mengganggu aku." Hamba Tuhan itu tetap datang, namun tetap ditolak dengan disertai kata-kata kasar dan tanpa simpati sedikitpun. Demikian hamba Tuhan itu mendatanginya hingga 21 kali. Pada kali ke-21, orang yang sakit itu berkata, "Baiklah, kalau sudah demikian meminta bertemu, persilakan dia masuk." Demikianlah, pada hail itu juga orang yang sakit itu diselamatkan.

Orang yang dapat sabar menunggu baru bisa mendapatkan orang, orang yang tidak bisa sabar menunggu, akan kehilangan orang. Yang bisa sabar menunggu akan sukses, yang tidak bisa sabar menunggu akan gagal.

8. Menggenapkan Orang Perlu Sabar

Selamanya tidak putus asa terhadap saudara saudari. Meskipun mereka buruk, tidak kelihatan ada perubahan, aku harus tetap menjenguk dia, berdoa untuk dia, mengingat dia, entah keadaannya bagaimana, tidak putus asa.

Saudari yang piket di kantor pelayanan gereja tidak bisa menulis surat, diajari berkali-kali masih tidak bisa, jangan putus asa, harus mengajari dia lagi. Seorang saudara tidak bisa membersihkan jendela dengan baik, harus mengajari dia membersihkannya lagi. Di samping mengawasi dia membersihkan, juga tahan dengan perkara itu. Meskipun dia tidak pandai melakukannya, masih menyuruhnya lagi, jangan berkata, "Aku tidak ingin engkau bekerja di sini. Pergilah." Meskipun dia sendiri yang mau pergi, janganlah membiarkan dia pergi.

Saudara Witness Lee berkata, "Saya tahu persis, banyak orang yang melayani gereja-gereja lokal seperti revolusioner, tidak pernah sabar." Dua bulan setelah seorang saudara diangkat menjadi diaken ternyata kelihatannya tidak cocok, apa yang harus dilakukan? Kebetulan saudara ini sakit, tidak bisa memenuhi undangan berhimpun bersama, lalu orang-orang itu berkata : "Kebetulan sekali, lain kali tidak usah datang lagi." Ini adalah main politik. Sebenarnya memang menginginkan dia tidak datang lagi, hanya sungkan memberhentikan dia. Sekarang, kebetulan dia sakit. Puji Tuhan, Tuhan telah membukakan jalan. Ketahuilah, berbuat demikian adalah berpolitik. Kalau orang-orang itu telah belajar sabar, tentu tidak demikian. Mereka akan berkata kepada saudara itu: "Saudara, Anda sedang sakit? Mari kita berdoa! Setelah sembuh, datanglah melayani lagi. Dalam dua bulan ini, kami tidak puas dengan keadaan Anda, tetapi kami masih mengharap Anda datang lagi." Jenguk dan doakanlah dia. Anjurkan dia untuk tidak putus asa. Setelah ia sembuh, harus mengajar dia bagaimana melayani, membawa dia melayani. Bila demikian terus sabar, mungkin setelah dua atau tiga tahun lagi, ia sudah mahir. Kesabaran menggenapkan saudara tersebut.

9. Bekerja Harus Sabar

Bila Anda telah melewati banyak kesulitan, telah melakukan berapa banyak pekerjaan, tetapi tetap nihil, tidak ada hasilnya, janganlah putus asa, tetap kerjakan dengan tekun.

Pada tahun 1934 seorang pekerja (Sdr. Chang Tze Chiek) menerima pimpinan Tuhan agar bekerja di Pulau Ching. Setelah tinggal di pulau tersebut selama setengah tahun, belum ada hasilnya, setahun juga belum ada hasilnya. Pada tahun 1935, Saudara Watchman Nee datang mengunjunginya, melihat keadaan di sana sangat gersang, tidak ada hasilnya. Semua berkata kepadanya, "Lebih baik pindah ke tempat lain." Tetapi Saudara Chang tetap bertahan di sana. Tiga tahun kemudian, baru ada sedikit perubahan; ia mendapatkan satu tempat untuk bersidang di atas sebuah bukit. Saat itu, Saudara Witness Lee baru berumur tiga puluh tahun lebih. Setelah berkunjung ke sana dan melihat keadaannya, ia berkata,"Anda menyuruh orang bersidang, atau menyuruh orang naik gunung? Hasil dari tiga tahun hanya ini saja." Tetapi Saudara Chang tetap bekerja dengan semangat, sedikit pun tidak kendur. Lewat dua tahun kemudian, tempat sidang dari puncak bukit pindah ke dataran. Sampai musim semi tahun 1942, sudah ada 130 orang bersidang; lewat dua bulan kemudian, melalui beberapa kali baptisan, bertambah lagi 200 orang. Sampai akhir tahun 1942, jumlahnya telah mencapai 600-700 orang. Pada musim semi tahun 1949, sekali baptisan membaptis 700 orang lebih.

10. Ketika Belum Jelas terhadap Orang, Perkara,

atau Kehendak Allah, Harus dengan Sabar Menunggu

Ketika kita belum jelas terhadap orang atau perkara, kita harus menunggu, biar waktu yang menyatakannya. Mengenai orang-orang yang menyelusup dan menentang kebenaran, Paulus berkata, "Tetapi sudah pasti mereka tidak akan lebih maju, karena . . . kebodohan mereka pun akan nyata bagi semua orang" (2 Tim. 3:6-9). Biarlah waktu yang menyingkapkan keadaan mereka. Ada pepatah mengatakan, "Urusan yang berkepanjangan (lama) membongkar hati orang, perjalanan yang jauh membuktikan kekuatan kuda." Artinya, biar waktu yang menyatakan bagaimana sebenarnya.

Ketika kita tidak jelas mengenai kehendak Allah, kita perlu menunggu. Untuk mengetahui kehendak Allah, tiga hal ini harus terpenuhi: Pertama, pengaturan situasi lingkungan; kedua, perasaan batiniah atau pimpinan Roh Kudus; ketiga, pengajaran Alkitab. Bila ketiga hal ini bisa selaras, bisa terletak pada satu garis, dapat dipastikan itu adalah kehendak Allah. Kalau dari ketiga hal ini ada satu yang tidak bisa serasi dengan yang lainnya, maka perlu menunggu sampai ketiga hal ini serasi, baru boleh dilakukan.

Pada suatu hari, dalam doanya Muller merasa bahwa Allah menyuruhnya kembali sekali lagi ke Jerman. Ia pun berkata kepada Allah, "Ada tiga hal yang sementara ini membuatku tidak bisa kembali ke Jerman : Pertama, jika kembali bersama istri, ketiga anakku tidak ada orang yang mengasuh; kedua, kekurangan biaya perjalanan; ketiga, perlu ada satu orang yang menggantikanku mengurus panti asuhan. Aku tidak tahu apakah kehendak-Mu menginginkan aku kembali. Jika ya, mohon atas ketiga hal ini Engkau yang memenuhi." Setelah itu, suatu hari ada seorang datang kepada Muller, dan Muller merasa bahwa orang tersebut sangat cocok untuk diserahi tugas mengurus panti asuhan. Kemudian ia berkata kepada Allah,"Sudah satu hal yang terpenuhi, bagaimana dengan dua hal lainnya?" Beberapa lama kemudian, ada seorang saudari yang hendak tinggal di rumahnya beberapa bulan lamanya, tepat untuk merawat anak-anaknya; hal kedua juga sudah ada. Terakhir, datang seseorang menyerahkan kepadanya sejumlah uang yang cukup dipakai dalam perjalanan (ia selamanya tidak pernah memakai uang pekerjaan); hal ketiga pun terpenuhi. Kemudian Muller bertanya kepada Allah, apakah sekarang ia boleh pergi. Setiap kali mencari kehendak Allah, harus terus mencari, memeriksa sekali demi sekali, harus belajar bagaimana membereskannya beserta Allah, baik-baik berdoa, baru bisa mengenal Allah.

Saudara Watchman Nee berkata, "Semua pekerjaan kaum beriman harus didahului oleh percaya dan menunggu Allah, dengan mendapat wahyu di dalam roh. Kalau tidak, mudah disusupi oleh daging."

Orang yang tidak bisa menunggu Allah bekerja, orang yang tidak bisa membiarkan Allah bekerja, orang yang tidak bisa mendapatkan Allah bekerja, hanya bisa mengulurkan tangan mereka sendiri untuk mendapatkan Ismael.

Harus menunggu sampai suatu hari, Anda sendiri tidak berdaya lagi, Anda sendiri kehabisan cara, Anda sendiri terbentur jalan buntu, Anda sendiri habis, barulah Kristus bisa dengan sempurna terekspresi di atas diri Anda, barulah tujuan Allah bisa tercapai.

11. Harus Percaya

Percaya, bahwa Tuhan itu mahakuasa; juga percaya, bahwa waktu dapat bekerja. Tuhan Yang Mahakuasa sering bekerja di dalam waktu, juga sering menggunakan waktu untuk bekerja. Sebab itu, manfaatnya sabar ialah berkoordinasi dengan waktu. Kalau tidak sabar, akan kehilangan daya guna waktu, juga akan kehilangan Allah yang berada dalam waktu. Atas urusan yang kecil tidak bisa sabar, akan mengacaukan rencana yang besar.

Allah bekerja menurut waktu-Nya, Allah mempunyai waktu-Nya sendiri. Sebab itu, kita harus belajar menunggu. Lazarus sakit, dua kakaknya mengutus orang mengundang Tuhan Yesus datang, Tuhan tidak segera pergi, tetapi tinggal dua hari lagi, karena Ia mempunyai waktu-Nya sendiri (Yoh. 11:1-6). Tuhan berjanji akan menurunkan Roh Kudus, tetapi masih menyuruh murid-murid-Nya menunggu di Yerusalem (Luk. 24:49). Tuhan Yesus berkata, "Waktu-Ku belum tiba, tetapi bagi kamu selalu ada waktu" (Yoh. 7:6). Ia berkata pula, "Mau apakah engkau dari Aku, ibu? Saat-Ku belum tiba" (Yoh. 2:4). Dari sini kita dapat tampak bahwa Allah bekerja menurut waktu-Nya sendiri. Dalam Alkitab ada banyak tempat yang mengatakan tentang waktu. "Karena itu, rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat; supaya kamu ditinggikan-Nya pada waktunya" (1 Ptr. 5:6). "Tetapi setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya yang lahir dari seorang perempuan ..." (Gal. 4:4). "Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah" (Gal. 6:9).

Jangan seperti Saul, melihat orang Filistin datang menyerang, segera gugup dan gelisah; menunggu Samuel belum juga datang, daging tergesa-gesa lalu mempersembahkan kurban. Begitu mempersembahkan kurban, Samuel datang (1 Sam. 13:8-10). Kita harus menunggu dengan sabar, menunggu sampai menit yang terakhir, menunggu sampai Allah bekerja. "Nantikanlah TUHAN! Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu! Ya, nantikanlah TUHAN" (Mzm. 27:14). "Berdiam dirilah di hadapan TUHAN dan nantikanlah Dia" (Mzm. 37:7). Harus percaya Allah pasti bisa membuka jalan. "Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu la tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai la akan memberikan kepadamu jalan keluar, sehingga kamu dapat menanggungnya" (1 Kor. 10:13). Harus percaya bahwa semua pencobaan yang menimpa diri kita telah diukur oleh Allah, yang sanggup kita tanggung. Pada waktunya Allah pasti membukakan jalan bagi kita. Dia setia, kalau berjanji mengasuh kita, Dia pasti tidak meninggalkan kita.

Andrew Murray berkata bahwa Allah seperti petani yang pandai, "menantikan hasil yang berharga dari tanahnya" (Yak. 5:7). Kalau hasil bumi belum tnatang, Ia tidak bisa menuainya. la tahu, kapan roh kita bisa menerima berkat untuk memuliakan Dia. Menunggu di bawah sinar matahari kasih-Nya, bisa membuat kita makin lama makin matang, demikian juga menunggu di bawah awan gelap pencobaan. Sebelum Allah mengutus Anak-Nya datang ke dunia, Ia sudah menunggu empat ribu tahun untuk menunggu waktu yang tepat, Dia bangkit untuk membantu kita pada waktunya, Dia tidak pernah menunda-nunda, sehingga kita menunggu terlalu lama.

12. Sabar Diterapkan pada Orang yang Ketat

Ada orang tidak tergesa-gesa, ia acuh tak acuh, tidak memperhatikan ekonomi Allah, demikian tidak benar. Sabar tidak seperti orang Israel; "Kecapi dan gambus, rebana dan suling, serta anggur terdapat dalam perjamuan-perjamuan mereka, tetapi perbuatan TUHAN tidak dipandangnya dan pekerjaan TUHAN tidak dilihatnya" (Yes. 5:12). "Orang-orang kafir memakan habis hasil jerih payahnya, tetapi ia sendiri tidak mengetahuinya; juga ia sudah ban yak beruban, tetapi ia sendiri tidak mengetahuinya" (Hos. 7:9, Tl.). "Yang minum anggur dari bokor, dan berurap dengan minyak yang paling bail, tetapi tidak berduka karena hancurnya keturunan Yusuf!" (Am. 6:6).

Sabar bukan berarti tidak ada perasaan, seperti sebatang kayu; sebaliknya malah lebih peka; bukan buta, malahan pandangannya terang; bukan tidak mengetahui apa-apa, melainkan menguasai semuanya; bukan ceroboh terhadap situasi lingkungan, malahan mengamati dengan cermat keadaan sekelilingnya. Orang yang rohani dapat menembus segala sesuatu (1 Kor. 2:15), dapat mengetahui apa manfaat perkara yang menimpa dirinya, tetapi bisa tidak tergesa-gesa, dengan sabar menunggu waktunya

Sabar adalah meskipun merasa sakit tetapi bisa tidak bergerak. Dalam berbagai pencobaan dapat tidak berubah, tidak menggerutu, tidak membuka jalan untuk dirinya sendiri, tidak ada tuntutan mengenai waktu.

II. DAPAT MENAHAN

Tahan adalah dapat menerima tekanan

1. Tahan adalah meskipun pisau tajam merajam hati, masih bisa menahan, masih bisa menerima.

2. Menelan saja segala kesulitan dalam lingkungan, lewat sejangka waktu ia akan tercema menjadi faedah. "Selama umurmu kiranya kekuatanmu" (Ul. 33:25). Meskipun ada banyak kesulitan, makan saja mereka, kalau sudah tercema, akan menjadi gizi kekuatan Anda. Bilangan 12 mengisahkan, di antara dua betas orang pengintai, ada sepuluh orang dikalahkan oleh kesulitan, akhirnya mereka mati di padang gurun, tidak bisa masuk ke tanah Kanaan. Tetapi Yosua dan Kaleb memandang kesulitan itu sebagai makanan, akhirnya semua itu menjadi kekuatan mereka untuk masuk Kanaan, menikmati tanah permai (Bit. 14:9, 23-24; 29-30; 36-38). Saudara Watchman Nee berkata, "Kesulitan macam apa pun adalah makanan yang Allah berikan kepada kita. Kalau kita tidak mampu memakannya, kita akan kelaparan; kalau kita mampu memakannya, kita akan menjadi kuat, dan kesulitan itu akan lewat."

3. Kasih itu sabar (1 Kor. 13:4)

"Jadi bekerjalah Yakub tujuh tahun lamanya untuk mendapat Rahel itu, tetapi yang tujuh tahun itu dianggapnya seperti beberapa hari saja, karena cintanya kepada Rahel" (Kej. 29:20). Karena cinta kepada Rahel, Yakub dapat menahan penderitaan.

III. SABAR BERARTI "TEGA", BERARTI "HEBAT"

Matius 25:24 mengatakan, "Tuan adalah orang yang kejam." "Kejam" di sini berarti "tega",berarti "hebat".

1. Terhadap diri sendiri harus "tega", tidak memaafkan diri sendiri, harus dengan hebat menanggulangi diri sendiri. "Siapa saja yang mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi siapa saja yang membenci nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal" (Yoh. 12:25). "Jika matamu yang kanan menyebabkan engkau berdosa, cungkillah dan buanglah itu . . . Jika tanganmu yang kanan menyebabkan engkau berdosa, penggallah dan buanglah itu" (Mat. 5:29-30). Inilah dengan hebat menanggulangi diri sendiri.

Tidak sayang diri sendiri, tidak membelaskasihani diri sendiri. Jangan seperti kata Petrus, "Kasihanilah diri-Mu sendiri" (Mat. 16:22; bahasa Indonesia "Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau". Dalam bahasa aslinya seharusnya "Kasihanilah diri-Mu sendiri"). Harus seperti Paulus, mengatakan bahwa dia di Yerusalem akan dibelenggu, banyak orang menganjurinya supaya tidak pergi ke Yerusalem, tetapi dia tidak mempedulikan nyawanya, meskipun mati di Yerusalem, dia rela. Dengan berani dia menerima salib (Kis. 21:10-13). "Terkutuklah orang yang melaksanakan pekerjaan TUHAN dengan lalai, dan terkutuklah orang yang menghambat pedang-Nya dari penumpahan darah!" (Yer. 48:10). Harus menerima salib, dengan hebat menanggulangi diri sendiri, inilah jalan berkat. Jangan mengasihi diri sendiri, jangan memaafkan diri sendiri.

Saudara Watchman Nee berkata, "Setiap kali ada kesulitan, kalau orang beriman bisa tidak membuka suara, ia akan melihat salib bekerja di sana."

Semua kesalahpahaman, semua ketidakterimaan, hanya satu penyebabnya, yaitu kita terlalu mengasihi diri sendiri. Orang yang paling bodoh adalah orang yang menggerutu. Semakin menggerutu, semakin terpendam di dalam kesulitrin; semakin tidak terima, semakin terperosok ke dalam, semakin membiarkan kesulitan menekan, semakin tidak bisa bemafas.

Kalau Anda selalu berkata memelas, "Ya Tuhan, tolonglah aku. Ya Tuhan, tolonglah aku," sampai berkali-kali, Anda akan gaga".

2. Bekerja dengan "tega"

Bekerja harus dengan sungguh-sungguh, kerjakan dengan tuntas, kerjakan dengan sempurna, kalau tidak demikian, tidak berhenti.

3. Terhadap orang lain

Dengan kasih menyempurnakan orang lain, adakalanya perlu juga tega. Terlalu bersimpati, terlalu ditoleransi, malah tidak bisa menggenapkan orang itu.

Ada seorang anak Indian yang kelihatannya berperawakan lemah. Demi mengajarinya agar menjadi anak yang berani, ayahnya membawanya ke sebuah hutan, ia diikat di sebuah pohon, meninggalkannya di sana melewati malam. Anak kecil itu takut akan binatang buas, karena itu ia menangis keras. Tetapi sebenarnya, ayahnya tidak meninggalkannya seorang diri, melainkan bersembunyi di balik suatu pohon sambil tangannya memegang senjata, berjaga-jaga kalau-kalau ada binatang buas menyerang anaknya. Demikian juga Allah Bapa melatih iman kita. Sering kali, Ia membiarkan kita berada di dalam situasi yang sulit, namun secara tersembunyi Ia menjaga kita agar kita makin bertumbuh dalam iman.

IV. Bagaimana Melatih Karakter Sabar

1. Kesabaran manusia terbatas, juga bisa menyimpang, atau berubah menjadi kaku, tegar, atau berubah menjadi acuh tak acuh, dengan sembarangan membiarkannya lewat.

2. Allah Tritunggal, kasih Kristus, dan firman Allah adalah kesabaran kita.

a. Allah adalah sumber ketekunan dan penghiburan (Rm. 15:5). Ketabahan Kristus (2 Tes. 3:5), buah-buah Roh Kudus juga mencakup kesabaran (Gal. 5:22). Tiga ayat Alkitab di atas memperlihatkan kepada kita bahwa Allah Tritunggal adalah kesabaran kita.

b. Kasih Kristus, kasih Allah, adalah kesabaran kita. Roma 8:35- 37 mengatakan, "Penindasan atau kesengsaraan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang," semuanya tidak bisa memisahkan kita dari kasih Kristus. Bersandar pada Tuhan yang mengasihi kita, dalam segala ha! ini, kita telah menang. Roma 5:3 mengatakan bahwa dalam kesengsaraan kita dapat bermegah, dapat bertekun, karena kasih Allah telah dicurahkan ke dalam hati kita oleh Roh Kudus. Karena hakiki kasih Allah adalah panjang sabar (1 Kor. 13:4).

c. Firman Allah dapat membuat kita menjadi sabar "Sebab segala sesuatu yang ditulis dahulu, telah ditulis untuk menjadi pelajaran bagi kita, supaya kita teguh berpegang pada pengharapan oleh ketekunan dan penghiburan darl Kitab Suci" (Rm. 15:4). Kitab Suci adalah firman Allah, firman Allah adalah Allah sendiri, dapat menumbuhknn kesabaran di dalam kita dan mendatangkan pengharapan pada kita. Wahyu 3:10 mengatakan tentang menanti finnan Allah dengan tekun, untuk itu perlu kesabaran. Firman Allah dapat membuat kita menjadi sabar.

3. Sebab itu, bila ingin melatih karakter sabar, harus belajar hidup dalnm roh, baik dalam menghadapi berbagai situasi, memghadapi orang, hal, atau benda apa pun; harus tinggal di dalam kasih. Sering menjamah firman Allah, dengan sendirinya dapat menghasilkan kesabaran, lambat laun terbentuk menjadi karakter sabar.