STABIL
"Dan katakanlah kepadanya : Teguhkanlah hatimu
dan tinggallah tenang, ianganlah takut dan janganlah hatimu kecut karena kedua puntung kayu api yang berasap ini,..."
Yesaya 7:4
"Tetapi berkatalah Musa kepada bangsa itu : "Janganlah takut, berdirilah tetap dan lihatlah keselamatan dari TUHAN,
yang akan diberikan-Nya hari mi kepadamu."
Keluaran 14:13a
1. ORANG YANG MELAYANI HARUS STABIL
Stabil di sini berarti teguh, mantap, tidak goyah. Lawan dari stabil adalah mudah goyah, sama seperti buluh terkulai, yang bergerak seturut arah angin, pagi begini, sore begitu, tidak ada pendirian yang tetap. Orang yang tidak stabil tidak begitu bernilai di tangan Tuhan. Orang lain juga tidak begitu percaya kepadanya. Stabil adalah satu karakter yang penting bagi orang yang melayani. Stabil tidak mudah goyah, tidak mudah berubah, orang yang demikian baru bisa dipakai oleh Tuhan. Allah menuntut orang yang melayani Dia mempunyai sifat yang teguh, mantap, dapat dipercayai, tidak goyah.
Gereja dibangun di atas batu karang, dan alam maut tidak akan menguasainya (Mat. 16:18-19). Batu karang itu stabit. Rumah yang dibangun di atas batu karang, kalaupun turun hujan, datang banjir, angin melanda, tidak rubuh (Mat. 7:24-28). Orang yang stabil, orang yang telah melalui ujian tetap tidak goyah, tidak berubah, terhadapnya setan tidak berdaya. dereja adalah tiang penopang dan dasar kebenaran (1 Tim. 3:15), tiang penopang dan dasar itu stabil, tidak goyah. Yang stabil, tidak goyah, barulah dapat menopang kebenaran, kalau tidak, akan menyeleweng, akan berub.ih Dasar gereja itu tidak goyah, gereja sendiri juga tidak herubah, sifat hakiki gereja adalah stabil.
Orang yang melayani Allah seharusnya adalah alas yang berpasak (Kel. 26:16, 37), dua tiang tembaga dekat balai ruang besar (1 Raj. 7:15. 21), yang stabil, dapat berdiri tegak, dapat menopang, dapat menahan. Gereja di Filadelfia menuruti firman-Nya untuk tekun, tidak goyah, demikianlah menjadi sokoguru di dalam Bait Suci (Why. 3:10, 12).
Saudara Witness Lee berkata, ia sering bertemu dengan seorang hamba Tuhan, setiap kali bertemu selalu merasakan seolah bertemu dengan sebuah gunung. Saudara Lee tldak dapat mengutarakan ia seberapa limpah, seberapa kuat, seberapa stabil, seberapa teguh; ia seperti sebuah gunung. Ketika ia duduk di sana, sama seperti sebuah gunung tegak berdiri. Anda tidak dapat menjatuhkannya; bila Anda Ingln menjatuhkannya, Anda sendiri yang akan terpukul jatuh. la bagaikan sebuah gunung tinggi, seperti Gunung Sion, selamanya tidak goyah. Ia mengalami banyak terpaan hujan, terjangan angin, tetapi tetap tidak goyah.
Gereja adalah rumah rohani yang dibangun dari banyak batu hidup (1 Ptr. 2:4-5). Gereja adalah satu batu hidup ditumpukkan pada batu hidup yang lain, dari banyak batu hidup terbangun menjadi satu rumah rohani. Bila ada batu-batu yang tidak tersusun pada batu yang lain, ada batu-batu yang tidak stabil, bangunan itu berkemungkinan rubuh. Bila dalam gereja ada sebuah batu yang goyah, kesulitan ini amat besar, entah akan mencelakakan berapa banyak orang, menyebabkan gereja tidak bisa maju ke depan. Ada satu syair kidung mengatakan, "Satu orang menggoyahkan seluruh tentara." Sepuluh pengintai pulang dari Kanaan, membawa kabar buruk, sehingga yang berusia 20 ke atas, selain Kaleb dan Yosua, tidak bisa masuk ke tanah Kanaan. Ini adalah perkara yang serius.
2. CONTOH-CONTOH STABIL DALAM ALKITAB
a. Kestabilan Tuhan Yesus
Tuhan tidak bertindak karena perkataan saudara-Nya, tetapi setelah mengerti kehendak Allah baru bergerak (Yoh. 7:3-10).
Dalam penganiayaan, dalam bahaya, Tuhan tetap stabil. Orang dalam rumah ibadah mengusir Tuhan keluar dari kota, membawa-Nya ke tebing gunung, untuk melemparkan Dia dari tebing itu, tetapi Dia berjalan lewat dari tengah-tengah mereka, lalu pergi (Luk. 4:28-30).
Sekali lagi mereka akan menangkap Dia, tetapi Dia luput dari tangan mereka (Yoh. 10:39). Di sini tidak dikatakan Tuhan melarikan diri, melainkan luput dari tangan mereka. Dalam Alkitab, selain Injil Lukas 15:20 mencatat bapa itu lari, memeluk, dan mencium anak yang hilang, tidak pernah dicantumkan Allah lari, karena Dia stabil.
Di Getsemani, Dia masih memperhatikan orang lain. Yudas memimpin sepasukan tentara menangkap Dia. Dia tetap tenang, tidak gugup, kata-Nya, "Akulah Dia." Masih bisa mempedulikan murid-murid, kata-Nya, "Biarlah mereka ini pergi" (Yoh. 18:3-8). Mendengar Lazarus sakit, Dia tinggal dua hari lagi di tempat (Yoh. 11:6). Dia tidak gugup, tidak tergesa-gesa.
b. Kestabilan Paulus
Ia bukanlah serentak "ya" dan "tidak" (2 Kor. 1:18). Ia lebih suka mati daripada apa yang dimegahkannya kosong (1 Kor. 9:15). Inilah kestabilannya, sampai mati pun tidak mengubah apa yang ia megahkan, yaitu tidak mempergunakan haknya sebagai orang yang memberitakan Injil, untuk hidup dari pemberitaan Injil itu.
Meskipun orang Yahudi berencana membunuhnya, meskipun mengalami pencobaan, ia tetap tidak mempedulikan jiwanya untuk membuktikan Injil Allah (Kis. 20:19-24). Tidak pernah tidak taat kepada penglihatan (visi) yang dari surga (Kis. 26:19).
c. Yohanes Pembaptis
Ia bukanlah buluh yang digoyangkan angin kian ke mari (Luk. 7:24).
d. Petrus
Asalnya Petrus bukanlah orang yang stabil, sebentar mengucapkan wahyu yang tinggi, "Engkau adalah Kristus, Anak Allah yang hidup." Sebentar lagi, mendengar Tuhan akan pergi ke Yerusalem untuk mati, lalu mengucapkan perkataan yang rendah, berbicara berdasarkan Iblis, "Hal itu sekali-kali tidak akan menimpa Engkau" (Mat. 16:22). Sebentar tertidur karena sedih (Luk. 22:45), sebentar lagi bersemangat, lalu menghunus pedang memotong telinga kanan Malkhus (Yoh. 18:10). Dia bersemangat karena tampak begitu Yesus berkata, "Akulah Dia," lalu mereka jatuh rebah ke tanah (Yoh. 18:6). Sebentar berkata, "Sekalipun aku harus mati bersama-sama Engkau, aku tidak akan menyangkal Engkau" (Mat. 26:35); tetapi tak lama kemudian di hadapan hamba perempuan, tiga kali menyangkal Tuhan (Mat. 26:69-74). Tuhan mau memakai dia, dan Tuhan melatih dia, supaya dia menjadi orang yang stabil, dapat memuliakan Allah, bahkan sampai mati.
3. ASPEK-ASPEK STABIL
a. Stabil Adalah Tidak Gugup/Goyah
Adakalanya ada aniaya, ada tentangan, ada berbagai macam desas-desus datang, janganlah terlalu cepat menerima. Orang yang tidak stabil, akan langsung jatuh begitu ada sedikit angin.
Saudara Witness Lee berkata, "Pada tahun 1943, kami berada di China Utara, pekerjaan kami sangat diberkati Tuhan. Ketika keadaan sedang memuncak, tiba-tiba muncul suatu desas-desus ke telinga kami. Kalau tidak berlatih stabil, tidak usah dikatakan satu orang, sepuluh orang pun akan terkejut dan jatuh." Mengenai perkara semacam ini, sikap kita harus tidak gugup. Karena, gugup tidak saja tidak bisa meringankan kesulitan, bahkan bisa menambah kesulitan. Bila gereja menghadapi semakin banyak kesulitan, harus lebih stabil. Tak peduli kesulitan dari dalam atau dari luar, begitu menimpa kita, harus belajar stabil. Begitu stabil, situasi akan dengan sendirinya menjadi jernih.
Sering kali, kesulitan dalam gereja timbul karena karakter orang yang melayani tidak stabil. Semestinya perkara itu tidak begitu serius, tetapi karena karakter Anda kurang stabil, perkara itu semakin lama semakin kacau, berita yang disebarkan semakin lama semakin banyak. Sebaliknya, kalau Anda stabil, tidak cerita ke sana sini, lama kelamaan Anda tampak, berita-berita yang beredar itu akan surut. Bila ada seorang saudara jatuh, Anda jangan bingung, jangan cepat-cepat memberi tahu orang lain, saudara anu adalah pewajib rumahan, tetapi ia pergi menonton bioskop. Mungkin ia hanya menonton sekali, tetapi Anda berkata kepada orang 100 kali, sehingga menjadi berita yang hangat. Anda tidak perlu berbuat demikian, Anda akan dipimpin oleh Tuhan, mengetahui bagaimana membantunya. Semua pimpinan, perasaan, dan beban yang tepat, didapatkan karena kestabilan orang itu di hadapan Allah.
Perkara yang paling disenangi oleh Iblis adalah ketidakstabilan kita. Perkara yang paling Iblis senangi adalah menimbulkan kekacauan. Semakin hebat Anda bertengkar, Iblis semakin senang. Anda semakin gugup, ia semakin gembira; Anda semakin menyebarkan desas-desus, ia semakin girang. Pewajib A mengetahui seorang saudara menonton bioskop, lekas-lekas memberitahu pewajib B. Lalu pewajib B berkata, "Wah, celaka sekali." Semestinya menonton bioskop itu tidak sebegitu jelek, kejelekan itu justru disebabkan oleh beberapa pewajib yang membantu setan melempar batu, akhirnya semua orang tidak tenteram. Sebab itu, dalam menghadapi hal seperti ini, kita harus belajar melawan pengacauan dari musuh. Tak peduli Anda melempar berapa banyak batu kepada saya yang sebagai "danau" ini, tetapi air danau saya ini tetap tenang. Meskipun Anda terus mengacau, saya tetap stabil, ribuan perkataan pun tidak bisa menggerakkan saya. Kita tidak seharusnya keras hati, tegar tengkuk, tetapi harus belajar stabil, teguh. "Teguhkanlah hatimu dan tinggallah tenang, janganlah takut dan janganlah hatimu kecut karena kedua puntung kayu api yang berasap ini" (Yes. 7:4).
Ketika Firaun membawa tentara mengejar orang Israel, Musa berkata kepada orang Israel, "Janganlah takut, berdirilah tetap dan lihatlah keselamatan dari TUHAN, yang akan diberikan-Nya hari ini kepadamu; sebab orang Mesir yang kamu lihat hari ini, tidak akan kamu lihat lagi untuk selama-lamanya. TUHAN akan berperang untuk kamu, dan kamu akan diam saja" (Kel. 14:6-9; 13-14). Ada kesulitan apa pun, terjadi kekacauan apa pun, janganlah gugup, janganlah bingung, harus teguh. Asal kita tenang, berdiri teguh, Allah akan bekerja, menenangkan gejolak.
Ketika dalam gereja timbul masalah, ketika menangani masalah, dan Anda harus menyelesaikannya, janganlah gugup, janganlah tergesa-gesa, seharusnya memantapkan diri, kemudian baru menyelesaikan masalah. Ketika Anda belum mantap, janganlah membereskan masalah. Khususnya di gereja lokal yang besar, orang-orang yang melayani harus melatih karakter stabil. Setiap urusan yang lewat tangan Anda, janganlah dibereskan dengan tergesa-gesa, haruslah dipertimbangkan lebih dulu baru dibereskan.
Dulu di Taiwan, ketika orang-orang yang mempunyai opini lain menimbulkan keributan, ada orang bertanya kepada Saudara Witness Lee, bagaimana tanggapan dan sikapnya? Saudara Lee menjawab, "Biarlah saudara-saudara ini berkesempatan melakukan apa yang mereka inginkan. Saya menaruh pekerjaan di Taiwan ke tangan Tuhan, saya tidak akan berkata harus bagaimana membereskan mereka. Hampir setiap minggu dua saudara Chang menulis surat kepada saya, saya selalu membalasnya, Biarlah mereka berbuat sesuatu!... yang berasal dari Tuhan, tidak bisa dibongkar; kalau dapat dibongkar, itu memang patut dibongkar. Kalian tenanglah, kecaplah perhentian!"
Saudara Lee berkata pula, "Tak peduli ada kesulitan apa pun dalam gereja, istri saya dapat bersaksi bahwa saya selalu bisa tidur dengan nyenyak. Saya sangat yakin bahwa Iblis selamanya tidak bisa mengalahkan Tuhan Yesus, sebaliknya Tuhan pasti selalu menang."
b. Tidak Sembarangan Menetapkan Sesuatu;
Bila Telah Menetapkan, Tidak Mudah Mengubahnya
Dalam gereja, yang paling ditakutkan adalah keadaan tidak stabil, paling takut kalau pagi begini, malam begitu. Jika belum jelas melihat suatu urusan, lebih baik pelan sedikit, jangan terlalu cepat menetapkannya. Kalau sudah ditetapkan, sulit untuk diubah.
Anda tidak bisa setelah menetapkan seorang saudara sebagai pewajib rumahan, lewat dua minggu lagi membatalkan putusan itu. Atau Anda telah menetapkan urusan itu hams begitu, ketika terbentur kesulitan lalu goyah. Semua ini karena tidak stabil. Orang yang stabil tidak demikian. Ia tidak dengan ceroboh mempercayai seseorang, tetapi begitu percaya, ia tidak sembarangan mengubahnya. Ia tidak sembarangan menetapkan satu perkara; dan bila sudah menetapkannya, meskipun menjumpai kesulitan, masih dengan mantap menghadapinya, sedikit pun tidak goyah.
Kalau ada satu perkataan sampai kepada Anda, Anda boleh menerimanya, tetapi harus mempertimbangkannya baik-baik, setelah memperhatikan setiap aspeknya, barulah mengambil keputusan. Sama seperti bila Anda ingin menulis sebuah karangan, setelah menulis naskahnya, sebaiknya diletakkan dulu, lewat beberapa hari diperiksa lagi, mungkin keadaan sudah berubah, jalan pikiran Anda juga bisa lebih jelas, pengamatan Anda lebih akurat dari yang lalu. Pengalaman memberi tabu kita, menghadapi perkara yang lebih besar, kita harus lebih mantap, kalau coroboh, pasti mendatangkan kerugian yang besar, bahkan bisa terjadi malapetaka.
Perkara apa saja yang lewat tangan Anda, janganlah tergesa-gesa menanganinya, perlu dipertimbangkan masak-masak. Meskipun mempercayai saudara 100%, tetapi sambil mempercayai, perlu juga mempertimbangkan; bukannya langsung memberikan kepercayaan itu kepada orang, melainkan memberikan sebagian demi sebagian kepada orang. Ada yang perlu diuji dulu, dilihat prestasinya, kemudian sedikit demi sedikit memberikan kepercayaan kepadanya. Kalau kelihatan ada yang tidak mantap, segera ditarik kembali. Kita harus belajar pelajaran stabil.
Misalnya berkhotbah, kalau karena malas lalu tidak ingin berkhotbah, itu adalah kerugian yang besar. Tetapi kalau rajin berkhotbah, hanya karena hati-hati lalu menunggu sejenak, bisa mendapat faedah yang besar. Karena malas, hingga tidak berkhotbah itu satu hal; karena hati-hati lalu menunggu sejenak, itu perkara yang lain. Pergi menjenguk pun tidak bisa terlalu tergesa-gesa, perlu menunggu sebentar, menguji perasaan ini berubah atau tidak. Pengalaman memberi tahu kita, kalau Anda sedemikian mantap menjenguk, sering kita menemukan waktu yang tepat dan penyertaan Allah dalam batin.
Misalkan sepasang suami istri bertengkar dan mau bercerai, hal ini diketahui oleh penatua. Penatua itu ingin pergi menjenguk, membantu mereka. Tetapi kapan harus menjenguk mereka? Ingatlah, waktu itu sangat menentukan. Penatua harus mempelajari dan mempertimbangkan, apakah sekarang perkara itu sudah terbuka, apakah tepat secara formal melihat mereka? Mungkin perlu menunggu seminggu lagi, melihat perkembangan perkara itu bagaimana. Kalau waktunya tidak tepat, malah merusak mereka, jadi perlu pertimbangan, supaya waktu kepergian itu tepat.
Misalnya seorang saudara ada kesalahan, atau dengan gereja ada masalah, atau jatuh ke dalam suatu dosa, Anda tidak bisa begitu mendengar berita itu, langsung mencari seorang saudara untuk menjenguknya. Anda harus mempertimbangkan persoalan waktu, melihat waktu apa yang paling cocok untuk pergi ke sana. Mungkin ada perkara yang waktunya sudah lewat, Anda tidak bisa melakukan lagi, kalau tidak akan makin ruwet. Anda hanya bisa mohon Tuhan mengampuni, karena perasaan Anda tumpul, tidak bisa menangani pada waktu yang tepat. Adakalanya pada saat itu lebih baik Anda tidak pergi, perlu menunggu beberapa hari lagi, atau menunggu sepotongan waktu lagi, harus melihat keadaannya bagaimana, atau hasilnya bagaimana, barulah pergi berkontak dengannya.
Perkara yang tidak mantap, yang tidak jelas, jangan dilakukan dengan sembarangan (Mzm. 131:1). Kalau tidak jelas kehendak Allah, janganlah bergerak. Setelah jelas kehendak Allah, barulah bergerak. "Janganlah engkau terburu-buru menumpangkan tangan atas seseorang" (1 Tim. 5:22), harus mantap, stabil.
Saudara Watchman Nee berkata, "Dalam kehidupan orang Kristen, boleh dikatakan tidak ada satu hal yang lebih penting daripada hidup menurut Roh. Kalau kita mau hidup menurut Roh, tidak boleh terburu-buru. Allah selamanya tidak pernah terburu-buru, sebab itu, Ia tidak mengaruniakan kekuatan kepada orang yang terburu-buru."
c. Tidak Sembarangan Memuji Orang,
Tidak Sembarangan Menyalahkan Orang
Ketika Anda mengira seseorang itu baik, ingatlah, dia juga keturunan Adam; sebaik-baiknya dia, masih ada kadar yang tidak baik. Ketika Anda menganggap seseorang itu jelek, ingatlah, dalam penciptaan Allah, dia mempunyai bagian yang baik, tambahan pula dia adalah orang yang telah ditebus oleh Allah. Sebab itu, siapa pun tidak ada yang mutlak baik, juga tidak ada orang yang mutlak jelek.
Ketahuilah, pengamatan Anda terhadap seseorang belum tentu tepat. Sebelum Anda melihat dengan tepat, jangan sembarangan menilai orang. Ketahuilah, apakah pujian Anda bisa membawa faedah baginya? Anda demikian mempersalahkan dia, apakah tidak keterlaluan atau kurang tepat? Apakah bisa menimbulkan efek yang negatif? Kesemuanya ini harus dipertimbangkan.
Seorang saudara berkata, "Dari pengalaman kita tabu, memarahi seseorang belum tentu mendatangkan banyak bantuan." Dulu kita pernah melakukan demikian, tetapi hasilnya tidak memadai. Kita memarahi orang belum tentu bisa mendapatkan banyak basil. Yang dia perlukan adalah juga yang kita perlukan, yaitu menikmati Kristus dengan sungguh-sungguh. Kalau kita lebih banyak menikmati Kristus, membagikan Kristus yang kita nikmati kepada orang lain, orang lain akan lebih terawat, juga lebih banyak terbangun. Memarahi dan membetulkan mungkin mendatangkan hasil sementara, tetapi tidak begitu banyak membantu dalam hayat. Bantuan terhadap hayat, selalu berasal dari kenikmatan yang tepat terhadap Kristus.
d. Tidak Sembarangan Mengeluarkan Pendapat,
Tidak Sembarangan Mengambil Keputusan
Sebagai saudara pewajib di dalam gereja, Anda boleh menerima banyak saran, tetapi jangan terlalu cepat mengeluarkan keputusan, selain Anda sudah melihat dengan tepat, janganlah Anda buru-buru berkomentar. Terhadap betul atau salahnya satu perkara, jangan terlalu cepat Anda putuskan. Bukan karena perkara itu sulit, melainkan karena karakter Anda yang mantap. Jangan menganggap urusan itu sederhana, harus belajar hati-hati, mempelajari urusan itu sampai tuntas, barulah mengambil satu keputusan. Kalau dengan gegabah mengambil keputusan, ternyata di kemudian hari menemukan kesalahan, lalu Anda ingin mengubahnya, entah akan timbul berapa banyak kesulitan dan berapa banyak kerugian.
e. Stabil Berbeda dengan Pelan
Stabil adalah memberi kesempatan untuk waktu bekerja, pelan adalah sudah ada waktu, tetapi tidak bekerja. Dalam Yohanes 7:6-10, Yesus berkata, "Waktu-Ku belum tiba". la membiarkan Allah menuntun pergerakan-Nya.
f. Stabil Berhubungan Erat
dengan Mengerti Kehendak Allah
Stabil baru bisa mantap, tenang; tenang baru bisa memantulkan kehendak Allah. Begitu stabil, begitu mengerti kehendak Allah tidak akan mengingkarinya. Kalau tidak, akan menjadi orang yang keras, orang yang kaku.
4. BAGAIMANA BARU BISA STABIL
a. Berdiri Teguh dalam Tuhan (Flp. 4:1)
Dalam setiap aspek kehidupan dan pelayanan, melatih karakter stabil bersandarkan Tuhan. Dia adalah kekuatan kestabilan kita. "Allah TUHANku itu kekuatanku : Ia membuat kakiku seperti kaki rusa, la membiarkan aku berjejak di bukit-bukitku" (Hab. 3:19). Orang yang bersandar kepada-Nya, barulah dapat teguh. "Orang-orang yang percaya kepada TUHAN adalah seperti Gunung Sion yang tidak goyang, yang tetap untuk selama-lamanya" (Mzm. 125:1).
Seorang saudara berkata, "Kalau kita mengenal Tuhan adalah Allah yang hidup sampai selama-lamanya, barulah kita dapat di dalam roh tak henti-hentinya merasakan penyertaan Tuhan yang sejati. Tidak ada hal lain yang bisa menguatkan kita selain penyertaan Tuhan yang sejati".
Saudara lainnya berkata, "Ketika Allah di dalam satu kota, Ia dapat membuat kota itu teguh seperti Gunung Sion, tidak goyang sama sekali. Ketika Dia di dalam kita, meskipun sekitar kita ada ombak menggelora, ada hujan badai, tetapi dalam batin kita tetap ada ketenteraman yang kekal. Ketenteraman ini tidak bisa didapat dari dunia, juga tidak bisa direbut oleh dunia. Yang ada di dalam kita itu Allah, sebab itu kita mempunyai damai; ketika ada angin ribut, kita tidak seperti daun yang tertiup, tidak menentu arahnya."
Hidup dalam Roh, melekat pada Kristus Sang Kepala, tidak diombang-ambingkan oleh angin pengajaran (Ef. 4:14-15).
Entah kita merasakan diri sendiri baik atau tidak baik, asal kita percaya firman Tuhan, kita akan lebih teguh daripada Gunung Semeru.
Kita harus lebih teliti memperhatikan apa yang telah kita dengar, supaya jangan hanyut dibawa arus (Ibr. 2:1).
b. Stabil dalam Kebenaran dan Kehendak Allah
Terhadap Kebenaran, terhadap kehendak Allah, harus stabil, jangan berdasarkan perasaan diri sendiri, harus mempunyal tekad menderita.
Ada tiga faktor yang membuat seseorang bisa goyah. Pertama, karena emosinya mudah tergerak; kedua, karena takut rugi, takut memikul salib, takut menderita; ketiga, karena takut kepada orang, takut orang lain tidak senang, ingin mengambil hati orang, ingin mengambil hati lingkungan. Karena itu, harus menolak emosi diri sendiri, harus tidak berdasarkan penman diri sendiri, harus mempunyai tekad menderita, tidak terhanyut oleh lingkungan, tidak terpengaruh oleh lingkungan. Jangan takut kepada orang. "Takut kepada orang mendatangkan jerat, tetapi siapa percaya kepada TUHAN, dilindungi" (Ams. 29:25). Jangan mencari hati lingkungan. Paulus berkata, "Sebaliknya, karena Allah telah menganggap kami layak sehingga la mempercayakan Injil kepada kami, maka kami berbicara, bukan untuk menyenangkan manusia, melainkan untuk menyenangkan Allah yang menguji hati kita" (1 Tes. 2:4). Ia berkata pula, "Apakah kucari kesukaan manusia atau Allah? Sekiranya aku masih mau mencoba menyenangkan manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus" (Gal. 1:10). Segala sesuatu hanya berdasarkan kebenaran, hanya menurut kehendak Allah, berkenan kepada Allah, disetujui oleh Allah.
Untuk bertahan pada kebenaran, sering kali harus berkorban, kalau takut menderita kerugian dan penganiayaan, pasti goyah.
Pada Tahun 1933, di Provinsi Kiangsu ada dua orang saudara yang benar-benar mengasihi Tuhan, menuntut Tuhan, dan melayani Tuhan. Mereka membaca buku-buku terbitan Perpustakaan Injil, kemudian secara khusus datang ke Shanghai, bersekutu dengan saudara-saudara di Shanghai. Ketika mempersekutukan sampai persoalan gereja, persekutuannya lancar dan jelas. Mereka tidak saja tidak tersinggung, bahkan mutlak amin, mengakui bahwa dalam zaman ini, tidak saja orang-orang yang melayani Tuhan, bahkan setiap anak Allah seharusnya menempuh jalan ini, seharusnya berdiri pada tumpuan gereja yang murni. Saudara-saudara yang berkontak dengan mereka semua yakin, dari sudut kebenaran, kedua saudara itu sama sekali tidak ada masalah, sudah jelas. Tetapi setelah mereka pulang, lewat beberapa waktu, ada berita bahwa salah seorang dari mereka berkata kepada yang lainnya, "Jalan ini memang benar dan baik, tetapi kalau menempuh jalan ini, persoalan hidup kita bagaimana?" Akhirnya karena masalah nafkah, saudara itu tidak dapat berdiri teguh pada kebenaran ini, dan dia tetap tinggal di wilayah yang jelas-jelas dia ketahui, tidak seharusnya dia tinggali.
c. Berdiri Teguh Bersama Orang yang Melayani
(Flp. 1:27)
Kita mempunyai satu tujuan, mempunyai satu visi, mempunyai satu tekad, bersama-sama berdiri teguh, bersama-sama berjuang untuk ekonomi Allah. Empat imam pengangkat tabut perjanjian tetap berdiri di tanah yang kering dalam sungai, sampai semua orang Israel menyeberangi Sungai Yordan (Yos. 3:17).
Menyendiri tidak akan stabil, teguh. Berkoordinat, terikat menjadi satu dengan anggota Tubuh, barulah stabil, teguh (Ef. 4:16).