Daftar isi Karakter · bab 6/30

CERMAT

"Aku hendak mengajar dan menunjukkan kepadamu

jalan yang harus kau tempuh;

Aku hendak memberi nasihat, mata-Ku tertuju kepadamu."

Mazmur 32:8

"Kenallah baik-baik keadaan kambing dombamu,

perhatikanlah kawanan hewanmu."

Amsal 27:23

1. HARUS LAPANG NAMUN CERMAT

Orang yang berkarakter lapang mudah menjadi kasar, sedang orang yang berkarakter cermat atau halus mudah menjadi kerdil. Karena itu kedua karakter ini harus diseimbangkan satu dengan yang lain. Harus berlatih menjadi orang yang lapang, harus pula berlatih menjadi orang yang cermat; lapang namun cermat.

a. Hati yang Tidak Lapang Membatasi Tuhan

Hati yang tidak lapang akan membatasi Tuhan, menurunkan hasil pelayanan, dan akan merugikan dalam mengelola gereja. Ketidak cermatan merupakan kebocoran, akan kehilangan berkat.

"Janganlah terburu-buru dengan mulutmu, dan janganlah hatimu lekas-lekas mengeluarkan perkataan di hadapan Allah ..." (Pkh. 5:1). "Jangan terburu-buru kau buat perkara pengadilan . . ." (Ams. 25:8). Ini menunjukkan bahwa setiap orang yang melayani Allah tidak boleh sembrono, tidak boleh terburu-buru. Ketika imam masuk ke tempat mahakudus, ia tidak boleh berjalan dengan terburu-buru sehingga genta-gentanya berdentangan.

Paulus tidak menguasai diri di hadapan Allah, namun di hadapan manusia ia sangat menguasai diri (2 Kor. 5:13). Pada satu aspek ia gagah berani, pada aspek lainnya ia bersikap cermat dan lemah lembut. Ia melakukan perkara-perkara yang baik, bukan hanya di hadapan Tuhan, tetapi juga di hadapan manusia, agar tidak sampai dicela oleh orang lain (2 Kor. 8:20-21).

Injil Lukas ditulis dengan teratur, itu karena Lukas telah menyelidiki segala peristiwanya dengan saksama dari asal mulanya (Luk. 1:3). Ketika kita membaca Injil Lukas, kita dapat merasakan bahwa Lukas adalah seorang yang cermat, ia menyelidiki dengan saksama, lalu menulisnya dengan saksama pula. Karena itu, setiap kasus yang ia catat mengandung banyak makna dan tinggi nilai rohaninya, bahkan sangat kaya.

b. Membaca Alkitab, Membantu Orang,

Perlu Karakter Lapang dan Cermat

Ingin membaca Alkitab dan membantu orang, perlu karakter yang lapang dan cermat. Orang yang membaca Alkitab dengan cermat, baru bisa menemukan fakta dan mendapatkan terang. Seperti perempuan dalam Lukas 15:8, ia menyalakan pelita, mencari dinar yang hilang dengan teliti sampai menemukannya. Bila pembacaan Alkitab Anda sembrono, pasti banyak fakta akan Anda lewati, dan banyak terang akan Anda bocorkan. Membaca dengan cermat baru dapat mengenal secara mendalam. Orang-orang yang berkarakter kasar, pasti memiliki pengenalan yang dangkal terhadap Alkitab.

Orang yang berkarakter cermat baru dapat memperhatikan dan menjamah kebutuhan orang lain sampai kepada hal-hal yang kecil. Ibarat dokter memeriksa pasiennya, harus teliti, baru dapat mengobatinya dengan tepat. Ingin menjadi dokter yang baik, wajib berkarakter cermat dan berani. Cermat di sini adalah masalah karakter.

2. BERPERASAAN HALUS, CERMAT

a. Sorotan Roh Kudus di Batin Kita

Selalu Halus, Cermat

Perempuan dalam Injil Lukas 15:8 mewakili Roh Kudus, sebab perempuan lazimnya halus, cermat. Laki-laki umumnya lebih kasar, sedang perempuan umumnya lebih halus. Orang yang halus baru dapat menjamah perasaan batin dengan jelas. Roh Kudus di dalam kita tidak seperti angin taufan yang berkecamuk ganas, atau seperti gunung runtuh, atau seperti gempa bumi, atau seperti api yang membakar dengan dahsyat, melainkan "bunyi angin sepoi-sepoi basa" (1 Raj. 19:11-12). Roh Kudus di batin kita seperti urapan minyak (1 Yoh. 2:27), mengurapi atau mengoles dengan halus, lembut. Karena perasaan yang dihasilkan pengurapan itu halus, maka kita harus belajar menjadi orang yang halus untuk menjamah perasaan dalam batin.

Jangan memperhatikan tanda-tanda ajaib, mujizat-mujizat yang di luar, pencurahan Roh Kudus, bahasa lidah, kebangunan rohani, dan sebagainya. Semuanya itu seperti angin dahsyat, yang membelah gunung-gunung dan memecahkan bukit-bukit batu, gempa bumi dan api besar, yaitu yang ramai, gegap gempita di luar. Perhatikan pembicaraan Allah di dalam kita, dengarkanlah suara Roh Kudus di dalam kita. Jangan hanya melakukan pekerjaan gegap gempita di luar saja, harus belajar tenang, membina karakter cermat, menjamah perasaan dalam lubuk batin.

Ketika Saudara Lee masih muda, ia pernah mengikuti perkemahan pada musim panas. Pada suatu sore, semua orang mengikuti kebaktian senja, Saudara Lee tinggal di asrama yang disediakan untuknya, tidak mengikuti kebaktian itu. Ia berbaring di tempat tidur, membaca buku rohani berjudul Jalan Lurus. Ia membaca suatu potongan yang panjang, sampai penutupnya, ada dua patah kata : "Kembalilah kepada-Ku, sebab Aku telah menebus engkau!" (Yes. 44:22). Dua kalimat ini bersinar di dalamnya, seakan-akan setiap hurufnya menjadi besar, sehingga ia merasakan takhta di surga dekat sekali dengan dia. Dari takhta di surga, ada sepasang mata yang memandangnya. Sepasang mata ini memandanginya, juga memanggilnya. Saat itu ia tidak bisa berbaring lagi, ia berkata-kata sendiri, "Ya Tuhan, aku seharusnya kembali kepada-Mu." Ia berulang-ulang mengatakan perkataan ini. Kemudian ia turun dari tempat tidur, berlutut berdoa, mengaku dosa kepada Tuhan, dan berkata kepada Tuhan, "Tuhan, sekarang aku kembali kepada-Mu, meskipun aku diberi seluruh dunia, aku juga tidak mau." Saat itu, suasana di dalam kamar itu sangat istimewa, batin dan lahirnya merasa bersentuhan dengan Allah. Tetapi pada saat itu, kelemahan manusia muncul, kekhawatirannya timbul kembali. Ia sudah mempunyai istri dan dua anak, tentunya tak bisa tidak mempedulikan mereka. Kalau masih bujangan, meskipun seumur hidup menempuh hidup yang miskin, ia akan rela; membawa tas Alkitab, diutus Tuhan ke mana, segera ke mana. Tetapi, bagaimana ia bisa membiarkan istri dan kedua anaknya kelaparan? Tepat pada saat ini, di dalamnya dengan jelas ada sepatah kata, "Bacalah potongan yang di depannya." Lalu ia menuruti dan membacanya, di sana ada dua kalimat yang dikutip dari Perjanjian Lama, "Aku telah membentuk engkau, engkau adalah hamba-Ku; hai Israel, engkau tidak Kulupakan" (Yes. 44:21). Di dalam batin, ia segera paham, inilah janji yang Tuhan berikan kepadanya. Ia segera berkata kepada Tuhan, "Ya Tuhan, Engkau yang membentuk aku, Engkau tidak melupakan aku." Karena Tuhan memberikan kepadanya kata-kata yang tegas, batinnya menjadi sentosa. Selanjutnya timbul satu angan-angan, yang mendesak dia membaca juga Yesaya 44:23. Kembali dua kalimat ayat terakhir menggerakkan hatinya, "Sebab Tuhan telah menebus Yakub, dan ia telah memperlihatkan keagungan-Nya dalam hal Israel." Ia segera memahami, inilah tujuan Allah memanggil manusia. Ia menggabungkan seluruh potongan ayat itu, lalu melihat dengan jelas, ayat yang di depan mengatakan janji Allah, ayat yang di tengah mengatakan panggilan Allah, ayat yang terakhir mengatakan tujuan Allah.

Kita seharusnya sering mengalami Allah berbicara di dalam kita. Kita harus belajar cermat, agar sewaktu Allah berbicara di dalam, kita dapat segera mendengar dengan jelas, segera mengerti. Inilah yang dikatakan oleh Mazmur 32:8, "Aku hendak mengajar dan menunjukkan kepadamu jalan yang harus kautempuh; Aku hendak memberi nasihat, mata-Ku tertuju kepadamu." Juga apa yang dikatakan oleh Mazmur 62:12, "Satu kali Allah berfirman, dua hal yang aku dengar." Kalau kita bisa dengan cermat datang ke depan Allah, kita bisa lebih intim bersekutu dengan Allah (lebih banyak mendengarkan suara-Nya).

Bagi orang yang halus, cermat, begitu seseorang menampilkan sedikit ekspresi, ia segera mengerti. Bagi orang yang kasar, meskipun sudah ditunjukkan, tetap tidak ada perasaan.

b. Allah Cermat Terhadap Kita

Mazmur 139:3, "Engkau memeriksa aku, kalau aku berjalan dan berbaring, segala jalanku Kaumaklumi." Hati Allah cermat, dengan teliti memeriksa segala gerakan kita. Hati kita terhadap Allah juga harus cermat, baik terhadap perkara Allah, maupun terhadap kehendak Allah, harus meneliti dengan cermat, barulah mempunyai pengertian yang dalam. Orang yang cermat baru dapat memahami dan bereaksi terhadap kehendak Allah.

Di hadapan Allah, kita harus hati-hati, begitu tidak hati-hati, begitu mementingkan keuntungan pribadi, terang Allah segera tertudung.

3. CERMAT DALAM KEHIDUPAN

a. Memperhatikan dengan Cermat

Mazmur 48:14 mengatakan, "Perhatikanlah temboknya, jalanilah puri-purinya, supaya kamu dapat menceriterakannya kepada angkatan yang kemudian." Perkara lain boleh tidak kita perhatikan, atau boleh dikatakan, tidak patut kita perhatikan, tetapi visi tentang Kristus dan gereja, tidak saja perlu diperhatikan, juga harus diperhatikan dengan cermat. Perlu dengan cermat memperhatikan dan membaca Alkitab, perlu dengan cermat memperhatikan keadaan gereja, perlu dengan cermat memperhatikan keadaan rohani saudara saudari, perlu dengan cermat memperhatikan keperluan Injil, perlu dengan cermat memperhatikan kehendak Allah yang kekal, perlu dengan cermat memperhatikan terang takhta pengadilan; di hadapan Allah kita seharusnya dengan cermat memperhatikan semuanya itu. Amsal 27:23 mengatakan, "Kenallah baik-baik keadaan kambing dombamu, perhatikanlah kawanan hewanmu."

Tuhan Yesus "melihat orang ban yak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak mempunyai gembala" (Mat. 9:36). Begitu sampai ke Yerusalem, ia langsung ke Bait Allah, "di sana Ia meninjau semuanya" (Mrk. 11:11). Ia menyuruh murid-murid, "Lihatlah sekelilingmu dan pandanglah ladang-ladang yang sudah menguning dan matang untuk dituai" (Yoh. 4:35). Begitu melihat, memperhatikan, lalu timbul beban, mengetahui kebutuhan di mana-mana sangat besar.

Hudson Taylor, pendiri China Inland Mission, datang ke China untuk memberitakan Injil. Semula ia memberitakan Injil di daerah Cekciang. Pada suatu hari, ia naik perahu ke Langsan, dekat Namdong, hilir Sungai Yangtze. Ia bersama seorang sekerja naik ke puncak gunung, mendaki menara, melihat pemandangan yang jauhnya sampai puluhan kilometer, hatinya sangat tergerak. Saat itu ia menerima wahyu Allah, "Jangan memberitakan Injil di tempat yang sudah pernah mendengar nama Kristus, harus masuk ke pedalaman, supaya orang yang belum pernah mendengar Injil, mengetahui karunia keselamatan Allah." Sebab itu, dalam hatinya timbul niat mendirikan China Inland Mission.

Ketika Saudara Lee baru datang ke Taiwan, melihat segalanya masih ketinggalan zaman, tiap hari melihat langit-langit rumah dan mengeluh, demikian berlangsung kurang lebih satu bulan. Pada suatu hari, tiba-tiba di dalamnya ada satu perasaan, boleh dikatakan gagasannya, juga boleh dikatakan pimpinan Roh Kudus : kamu boleh meninjau ke kotakota lain! Kamu naik kereta dari Taipei, pergi melihat-lihat Singcu, Taicung, Jiayi, Tainan, dan Kaoshiung. Lihatlah lebih dulu, jangan cepat putus asa. Lalu ia dengan Saudara Chang U Chen pergi meninjau. Puji Tuhan! Begitu melihat, Tuhan memberinya beban. Di mana-mana ada saudara-saudara. Setelah melihat mereka, begitu kembali ke Taipei, ia merasakan, bagaimanapun masih ada yang dapat dikerjakan. Kemudian ia mengundang saudara pewajib datang. Setelah bersekutu dengan mereka, lalu menetapkan mulai bekerja. Lalu pada tanggal 1 Agustus, secara resmi mulai bekerja di jalan Ren-ai, mengadakan sidang istimewa yang pertama untuk seluruh Taiwan. Sejak itu pekerjaan di Taiwan berkembang dengan pesat.

b. Mendengar dengan Cermat

Ayub 21:2 mengatakan, "Dengarkanlah baik-baik perkataanku dan biarlah itu menjadi penghiburanmu." Amsal 5:1 mengatakan, "Hai anakku, perhatikanlah hikmatku, arahkanlah telingamu kepada kepandaian yang kuajarkan." Harus dengan cermat mendengarkan firman Allah, setiap waktu "menghampiri untuk mendengar" (Pkh. 4:17). Dengan cermat mendengarkan suara Roh Kudus di dalam kita. Harus setiap pagi mendekati Tuhan, dengan cermat mendengarkan perkataan-Nya. "Setiap pagi la mempertajam pendengaranku untuk mendengar seperti seorang murid" (Yes. 50:4).

"Jagalah langkahmu, kalau engkau berjalan ke rumah Allah! Menghampiri untuk mendengar adalah lebih baik daripada mempersembahkan kurban yang dilakukan oleh orang-orang bodoh" (Pkh. 4:17). Terlebih dulu mendengar, lalu melakukan menurut kehendak-Nya, baru dapat diperkenan-Nya. Bila bergairah menurut maksud diri sendiri, itu adalah kurban yang dipersembahkan orang-orang bodoh.

Tuhan Yesus berkata, "Sebab Aku telah turun dari surga bukan untuk melakukan kehendak-Ku melainkan kehendak Dia yang telah mengutus Aku" (Yoh. 6:38). "Aku berbicara tentang hal-hal, sebagaimana diajarkan Bapa kepada-Ku" (Yoh. 8:28). "Aku, seorang yang mengatakan kebenaran kepadamu, yaitu kebenaran yang Kudengar dari Allah" (Yoh. 8:40). Apa yang dikatakan dan yang dilakukan oleh Tuhan Yesus, semuanya didengar-Nya dari Bapa, semua menurut maksud Allah Bapa. Kita yang menjadi hamba-Nya, seharusnya menindik telinga kita pada pintu-Nya, melayani-Nya menurut kehendak-Nya.

Di suatu negara di belahan Timur, ada satu kebiasaan, yaitu kalau suatu rumah kedatangan tamu, dan tuan rumah berbicara dengan tamu itu di dalam ruangan, maka hamba-hamba rumah itu harus berdiri jauh-jauh di salah satu sudut ruangan, melipatkan tangannya, dan matanya terus menatap tuannya. Menurut kebiasaan orang Timur, hamba tidak boleh berbicara, hanya berdiri di pojok, diam seribu bahasa, matanya tidak boleh melihat ke mana-mana, hanya menatap pada tangan tuannya. Begitu tangan tuannya bergerak, hamba segera mengeluarkan minuman. Sejenak kemudian, tangan tuannya melakukan gerakan lain, hamba segera mengerti, dan mengeluarkan makanan. Mulut tuan tidak perlu berbicara, hanya memberi aba-aba dengan tangan, bergerak beini, bergerak begitu, gerakannya halus, tidak diketahui oleh tamunya. Hamba-hamba itu telah terlatih, mata mereka terus menatap pada tuan mereka. Mereka mengerti maksud hati tuan mereka, begitu melihat gerakan tangan tuan mereka, mereka mengerti maksud hati tuan mereka, begitu melihat tangan tuan mereka bergerak sedikit, segera mengetahui harus berbuat apa.

Mazmur 123:1-2 mengatakan, "Kepada-Mu aku melayangkan mataku, ya Engkau yang bersemayam di surga. Lihat, seperti mata para hamba laki-laki memandang kepada tangan tuannya, seperti mata hamba perempuan memandang kepada tangan nyonyanya, demikianlah mata kita memandang kepada TUHAN, Allah kita." Tangan Tuhan kita adalah tangan yang memimpin, juga tangan yang menyuplai. Kita seharusnya seperti hamba yang terlatih, selalu berdiri di sebelah tuan kita, mendengar perintah-Nya, menurut maksud hati-Nya melayani-Nya, juga menengadah kepada-Nya, mohon Dia memberi kita segala yang kita butuhkan.

Di dalam sidang mendengar dengan cermat, menanggapi dengan teliti, menjamah perasaan sidang, menjamah wahyu Roh Kudus (1 Kor. 14:2-30). Jangan sembarangan memilih nyanyian, jangan sembarangan berbicara, harus menjamah perasaan sidang, menurut wahyu Roh Kudus, masuk ke dalam arus sidang.

Jangan menganggap diri sendiri benar, jangan semaunya sendiri, harus mendengar dengan cermat perkataan saudara saudari.

Tanggal 1 Maret 1950, Saudara Watchman Nee menulis surat kepada Saudara K.H. Weigh, di antaranya ada perkataan yang demikian, "Dalam pekerjaan harus belajar mendengar. Pengajaran dalam Kisah Para Rasul 15 adalah mendengar, mendengar maksud semua saudara, kalau-kalau di dalamnya ada suara Roh Kudus. Harus menaruh perhatian, bila tidak bisa mendengar suara saudara-saudara, mana mungkin bisa mendengar suara Roh Kudus. Semua sekerja dan penatua harus duduk mendengarkan mereka, memberi mereka kesempatan berbicara. Harus lunak, lembut, mendengar."

Ketika gereja akan memutuskan satu perkara, selalu harus membiarkan saudara-saudara mengutarakan perasaan masing-masing. Saudara ini merasa begini, saudara itu merasa begitu, setiap saudara mengutarakan perasaannya, yang menjadi penatua seharusnya takwa kepada Allah, tidak subjektif, tidak menyimpang, tidak ada prasangka, dengan baik-baik menjamah perasaan semua saudara, sampai di dalam sudah jelas, juga sangat damai sejahtera, lalu berkata, "Saudara-saudara, kalau demikian, kita menetapkan demikian..." Setiap kali membicarakan masalah, semua harus belajar tidak bertengkar, juga tidak mengabaikan perasaan di dalam. Kalau ada saudara merasakan keputusan itu tidak tepat, boleh mengutarakan perasaan, yang menjadi penatua harus dengan serius mendengarkan perasaan ini, dan mempertimbangkan lagi urusan itu.

Dalam gereja tidak ada demokrasi, juga tidak ada diktator, yang ada adalah semua di dalam Roh Kudus membuka diri sendiri, lalu mempersekutukan apa yang disentuh, apa yang dirasakan, dan apa yang diamati, kemudian seperti Kisah Para Rasul 15, Yakobus memberi keputusan.

Bila saudara saudari ada kesulitan, dan mereka datang mencari Anda, Anda harus mengerti perkataan yang diucapkannya, harus mengerti perkataan yang tidak diucapkannya, juga mengerti perkataan di dalam rohnya. Dengan demikian Anda baru mengetahui kesulitan orang lain, mengetahui di mana keperluannya, baru bisa memberi bantuan yang tepat. Jangan seperti dokter tua dalam dongeng, hanya mempunyai dua macam obat, semacam minyak dan lainnya pil kita. Siapa saja datang kepadanya, kalau tidak diberi minyak itu, pasti diberi pil kita. Kalau demikian, Anda tidak bisa membantu orang lain.

Sering kali, saudara saudari datang ke depan Anda untuk mengutarakan sesuatu, Anda tidak bisa hanya berdasarkan perkataannya percaya kepadanya, Anda perlu masuk ke dalam roh mereka, menjamah perasaan roh mereka. Misalnya ada saudara berkata, "Perkataanku ini sama sekali tidak memfitnah seseorang," tetapi Anda di sana bisa menjamah bahwa ia sedang memfitnah seseorang. Ada orang berkata, "Aku sama sekali tidak menentang seseorang, aku melihat ia sangat baik." Tetapi ketika ia berkata demikian, Anda merasakan roh orang ini mutlak adalah roh penentang, roh mempersalahkan orang. Memang benar orang ini tidak ada hati berbohong, tetapi orang lahiriahnya satu macam, orang batiniahnya lain lagi. Dalam hal ini Anda harus menjamah bagaimana motivasi orang ini, bagaimana rohnya.

c. Berbicara dengan Cermat

Ibrani 9:1-5 mengatakan, "...suatu kemah dipersiapkan, yaitu bagian yang paling depan dan di situ terdapat kaki pelita dan meja dengan roti sajian. Bagian ini disebut tempat kudus. Di belakang tirai yang kedua terdapat suatu kemah lagi yang disebut tempat mahakudus. Di situ terdapat mezbah pembakaran ukupan dari emas, dan tabut perjanjian, yang seluruhnya disalut dengan emas; di dalam tabut perjanjian itu tersimpan botol emas berisi manna, tongkat Harun yang pernah bertunas dan loh-loh batu yang berisi perjanjian, dan di atasnya kedua kerub kemuliaan yang menaungi tutup pendamaian. Tetapi hal ini tidak dapat kita bicarakan sekarang secara terperinci." Paulus berkata, "Sebab aku tidak akan berani berkata-kata tentang sesuatu yang lain, kecuali tentang apa yang telah dikerjakan Kristus melalui aku, yaitu untuk memimpin bangsa-bangsa lain kepada ketaatan, dengan perkataan dan perbuatan" (Rm. 15:18). Perkara lain kita boleh tidak menyinggungnya, tetapi perkara tentang Kristus, harus kita bicarakan dan harus dibicarakan dengan cermat, supaya orang lain mengerti. Membicarakan perkara tentang Kristus harus seperti Lukas, memeriksa, menulis, membicarakan dengan cermat, supaya orang lain dapat mengetahui bahwa segala sesuatu yang diajarkan sungguh benar (Luk. 1:3-4). Paulus berkata kepada penatua gereja di Efesus, " ...Aku tidak pernah lalai melakukan apa yang berguna bagi kamu. Semua kuberitakan dan kuajarkan kepada kamu, baik di depan umum maupun dalam perkumpulan di rumah-rumah; sebab aku tidak lalai memberitakan seluruh maksud Allah kepadamu" (Kis. 20:20, 27).

Setelah tampak visi tentang gereja, Saudara Watchman Nee dengan berani berbicara. Pada tahun 1920-an, dia menerbitkan dua puluh nomor majalah Orang Kristen. Di dalam majalah itu, Saudara Nee membentangkan visi yang diperolehnya. Orang-orang menertawakan dia. Misionaris, ahli teologi, semuanya lebih tua daripadanya, mereka meremehkan dia, menentang dia. Tetapi dia tetap berbicara. Karena pembicaraannya, karena sangkakala yang dia tiup, juga karena beberapa sekerja yang setia berbicara, maka setelah lewat seperempat abad, visinya tergenapi. Sampai tahun 1948, di seluruh provinsi di China ada kira-kira 500 gereja lokal.

Saudara Witness Lee berkata, "Ketika kami baru tiba di Taiwan, kami menemukan Taiwan adalah satu pulau yang masih ketinggalan zaman. Tidak peduli bagaimana, kami berbicara menurut visi. Sebab itu, kami mendapatkan penentangan. Tetapi pembicaraan kami kuat, kami menerbitkan banyak buku dan juga sebuah majalah yang bernama Ministri Firman. Melalui majalah ini, kami tetap meniup nafiri. Kami terus berbicara, tak peduli orang menentang atau tidak menentang, kami tetap meniup nafiri. Akhirnya misionaris-misionaris itu salut, mengakui bahwa pekerjaan kami di Taiwan adalah pekerjaan yang terbaik."

"Ketika kami di Amerika Serikat membicarakan tentang ‘Kehidupan Gereja yang Mulia’, ada orang yang tidak percaya, menggelengkan kepala, menyangsikan apakah hal ini bisa terwujud di Amerika Serikat. Bahkan ada orang yang berkata bahwa hal ini tidak mungkin terwujud. Tetapi faktanya, hal ini kini telah terwujud."

Sebab itu, kita harus mengutarakan visi yang kita tampak, tidak saja harus mengutarakan, bahkan mengutarakan dengan teliti, mengutarakan dengan tuntas. Harus seperti Paulus, tidak lalai memberitakan seluruh maksud Allah; juga seperti Priskila dan Akwila, "dengan teliti menjelaskan kepadanya Jalan Allah" (Kis. 18:26).

Saudara Lee berkata, "Bertahun-tahun, dan berkali-kali banyak orang berkata kepada saya, ‘Saudara Lee, bagaimana Anda dapat mendapatkan sekian banyak hayat? Setiap kali aku bertemu dengan Anda, Anda selalu segar dan penuh dengan hayat.’" Saya menjawab, "Kesegaran dan hayatku semuanya kudapatkan dari berbicara. Kalau aku ke suatu tempat dan diam seribu bahasa, maka aku siap dikubur. Tetapi begitu aku berbicara, aku dibebaskan, aku mempunyai otoritas, bahkan mempunyai makanan untuk menyuplai orang lain. Aku dapat bersaksi kepada setiap orang, karena aku paling banyak berbicara, maka aku mendapatkan kebebasan yang lebih banyak, mendapatkan kuasa yang lebih banyak, juga mendapatkan makanan yang lebih banyak." Kita semua harus belajar berbicara.

d. Bertanya dengan Cermat

Matius 2:7 berkata, "...dengan teliti bertanya kepada mereka kapan bintang itu tampak." Kalau kita tidak mengerti perkara Allah, harus bertanya, bahkan bertanya dengan teliti, cermat, baru bisa memahami dengan tepat.

Ketika Tuhan Yesus masih kecil, Ia berada di Bait Allah, duduk di tengah-tengah guru agama, mendengarkan dan mengajukan pertanyaan (Luk. 2:46). Yang disebut pengetahuan itu harus mendengar dan bertanya. Daud seumur hidup diam di rumah TUHAN dan bertanya kepada TUHAN (Mzm. 27:4), sebab itu ia dapat mengerti kehendak Allah, dapat melakukan kehendak Allah. Mengerti kehendak Allah adalah satu hal yang mulia. Allah mau merendahkan diri-Nya supaya kita mengetahui kehendak-Nya.

Sebab itu kita harus belajar bertanya dengan cermat, sehingga mengetahui kehendak Allah. Kita harus sembah sujud kepada Allah, menghargai kehendak Allah, dan melakukan kehendak Allah.

Pikiran kita harus seperti seorang penjaga, sering memperhatikan untuk memahami maksud dalam roh, supaya kita mengerti dan melakukannya.

Untuk duri yang terdapat pada dirinya, Paulus tiga kali bertanya kepada Tuhan. Demikianlah dia mengetahui maksud Tuhan, supaya dia mengalami, "Cukuplah anugerah-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna" (2 Kor. 12:7-9).

Di Taman Getsemani, Tuhan Yesus berdoa tiga kali mengenai penyaliban-Nya, bertanya kepada Allah Bapa, sampai mengerti dan akhirnya berkata, "Saatnya sudah tiba ..." (Mat. 26:36-46).

Terhadap Tuhan, kita seharusnya bertanya, "Apa yang harus aku lakukan?" Dalam gereja, ketika menangani pelayanan juga harus bertanya, jangan semaunya sendiri. Ke mana saja harus bertanya, "Di sini ada peraturan apa yang harus aku lakukan?" Banyak orang tidak bertanya, lalu berkata, berbuat, akhirnya hanya melakukan menurut maksud dan pandangan diri sendiri; berbicara tidak teratur, bekerja namun mengerjakan yang tidak Allah kehendaki, mengerjakan yang tidak diperlukan oleh orang. Harus belajar menjadi orang yang bertanya dengan cermat, harus bertanya dengan teliti sampai mengerti dengan sesungguhnya, sampai memahami dengan tuntas.

e. Bekerja dengan Cermat

Kolose 3:23 mengatakan, "Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia." Bekerja dengan segenap hati seperti untuk Tuhan, berarti bekerja dengan cermat.

Yakobus 1:25 mengatakan, "Tetapi siapa yang meneliti hukum yang sempurna, yaitu hukum yang memerdekakan orang, dan bertekun di dalamnya, jadi bukan hanya mendengar lalu melupakannya, tetapi sungguh-sungguh melakukannya, ia akan berbahagia oleh perbuatannya." Melihat dengan teliti, bekerja dengan cermat, pasti bahagia. Bukannya setelah mendengar lalu lupa, juga bukan setelah mengatakan lalu tidak mengerjakan, melainkan melakukan dengan sungguh-sungguh, melakukan dengan cermat, semuanya dikerjakan dari dalam hati seperti untuk Tuhan.

Saudara Hudson Taylor, ketika berumur 68 tahun, pernah bersaksi : selama 40 tahun ia telah membaca Alkitab dari Kejadian sampai Wahyu sebanyak 40 kali. Setiap kali bepergian, ia selalu membawa korek api, lilin, dan Alkitab. Sebelum matahari terbit, ia pasti bangun membaca Alkitab dan berdoa. Tak peduli tempatnya seberapa kotor, atau seberapa ramai, ia tak pernah berhenti membaca. Ia berkata, mempelajari Alkitab tergantung pada melaksanakannya. Sebab itu, baik menjelaskan Alkitab maupun berkhotbah, ia selalu memperhatikan aspek pelaksanaannya. Kalau tahu bagaimana melaksanakannya, semakin melakukannya semakin mengerti. Sebab itu ia dapat menyuplai orang dengan firman Allah, membantu orang, sehingga semua orang suka mendengarkan dia menjelaskan Alkitab.

Ketika meninggal dunia, Miss Barber mewariskan Alkitab yang tiap hari dibacanya kepada Saudara Watchman Nee. Alkitab itu penuh dengan catatan pembacaan Alkitabnya. Ia adalah orang yang membaca Alkitab dengan cermat. Dalam Alkitab itu, terhadap ayat "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu" (Mat. 22:37), ia memberi catatan : "Ya Tuhan, aku berterima kasih kepadamu, karena Engkau memberi perintah yang demikian." Jadi ia juga seorang yang suka melaksanakan perintah Allah. Ia berkali-kali bertanya kepada Saudara Nee, "Apakah kamu menyukai kehendak Allah?" Ia membaca dengan cermat, juga melakukan dengan cermat.

4. CERMAT DALAM KOORDINASI

DAN PELAYANAN

Keluaran 30:36 mengatakan, "Sebagian dari ukupan itu haruslah kaugiling sampai halus, dan sedikit dari padanya kau letakkanlah di hadapan tabut hukum di dalam Kemah Pertemuan, di mana Aku akan bertemu dengan engkau; haruslah itu maha kudus bagimu." Imamat 2:1 mengatakan, "Mempersembahkan persembahan berupa kurban sajian ... hendaknya persembahannya itu tepung yang terbaik ..." Imamat 6:10 mengatakan, "Imam haruslah mengenakan pakaian lenannya ..." Kesemuanya ini menyatakan pelayanan di hadapan Allah harus halus, cermat.

Jubah yang dipakai Tuhan Yesus tidak berjahit, dari atas ke bawah hanya satu tenunan saja. Ini adalah pekerjaan yang halus (Yoh. 19:23). Pakaian jabatan yang dipakai oleh Imam Besar dibuat dengan sangat cermat, halus, dan teliti (Kel. 31:10). Syair dalam Mazmur juga ada "sela"nya.

Saudara Witness Lee berkata, tahun 1940, Cheefo melaksanakan praktik menurut cetak biru pembangunan gereja. Mengadakan pelayanan kantor penatua dan kantor diaken, sampai kursi, meja, sofa yang dipakai dalam kantor, semua dirancangnya, juga merancang gambar "di dalam Kristus". Ruang akomodasi juga dirancang sangat baik. Barang-barang dan alat-alat tulis dalam kantor diaken diatur rapi sekali, sampai-sampai malam hari tanpa terang lampu juga bisa mengambil barang yang diperlukan. Ruang persekutuan kaum beriman juga sangat lengkap. Setelah dilaksanakan, faedahnya sangat besar. Pertama-tama mengadakan pengabaran Injil gerejawi, kemudian satu persatu dilaksanakan. Koordinasi pelayanan ini mendatangkan kebangunan rohani besar padatahun 1942. Pada tahun 1950, Saudara Lee di Taipei dengan seorang saudara mengonsep tata tertib kantor diaken, sedikitnya menulis seratus lebih tata tertib, sangat teliti.

Saat itu, terhadap perawatan saudara saudari juga sangat cermat. Setelah menjamah keadaan saudara saudari, mereka membagi saudara saudari menjadi dua belas tingkat. Yang paling bawah adalah saudara saudari yang rohaninya "mati", yang paling atas yang rohaninya "hidup", di antaranya yang setengah mati juga setengah hidup, ada juga yang mati sudah lama, dan sekarang akan hidup. Setelah dibagi, jangan menggarap yang sudah lama mati, dan yang sudah hidup, melainkan menggarap yang hampir hidup. Mereka mencari orang-orang yang demikian, diajak bersekutu satu persatu, mengundang mereka ke perjamuan kasih, membantu menyelesaikan segala macam kesulitan mereka. Adakalanya mereka tidak bisa mengatasinya sendiri, lalu mengundang saudara yang lain untuk membantu. Setelah berjalan beberapa waktu, orang-orang itu menjadi hidup. Asalnya mereka pada tingkat kesebelas, sekarang maju ke tingkat dua belas. Kemudian mereka menggarap keadaan yang agak kurang, yang dimasukkan ke dalam tingkat kesepuluh, lewat beberapa waktu lagi menjadi tingkat kedua betas. Terus digarap sampai hampir semuanya hidup, sisa beberapa yang tidak hidup juga terbawa hidup, sangat mudah membawa mereka hidup. Inilah kebangunan rohani besar di Cheefo.

Koordinasi satu sama lain harus halus, cermat, tidak melukai orang, tidak menimbulkan masalah, juga tidak berbentrokan dengan orang lain. Harus memikirkan setiap aspek, tidak ada yang terlewatkan. Karena mengabaikan pemberian kepada janda-janda orang Yahudi yang berbahasa Yunani, timbullah sungut-sungut dalam gereja di Yerusalem.

5. GEREJA YANG HALUS DAN INDAH

Mazmur 45:14-15 mengatakan, "Keindahan belaka puteri raja itu di dalam, pakaiannya berpakankan emas. Dengan pakaian bersulam berwarna-warna ia dibawa kepada raja." Pakaian bersulam itu halus dan indah, dibuat dengan cermat. Mazmur 48:3 mengatakan bahwa gereja adalah kota Raja Besar, menjulang permai jauh di sebelah utara, untuk kegirangan bagi seluruh bumi.

Roh dalam gereja seharusnya kuat dan bebas, tetapi kehidupan yang ditampilkan seharusnya halus dan lembut, membuat orang tertarik. "Yesus makin dewasa dan bertambah hikmat-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia" (Luk. 2:52). Gereja di Yerusalem sebermula disukai semua orang (Kis. 2:47).

6. KRISTUS ITU LEMBUT, CERMAT

Ketika Ia berusia dua belas tahun, di samping memikirkan perkara rumah Bapa, juga menurut pada orang tua-Nya, memperhatikan kedua belah pihak (Luk. 2:49-51). Ketika Ia disalibkan, Ia menyerahkan ibu-Nya kepada Yohanes, la memperhatikan ibu-Nya, ini adalah lembut, cermat (Yoh. 19:26-27). Ketika membagi roti dan ikan untuk mengenyangkan lima ribu orang, Ia berpesan kepada murid-murid supaya orang banyak itu duduk sebaris-sebaris di rumput Selesai makan, Ia menyuruh murid-murid mengumpulkan potongan yang tersisa, ini adalah cermat (Mrk. 6:39-42; Yoh. 6:12). Ia memperhatikan orang-orang yang mengikuti-Nya, mengetahui bahwa mereka belum makan, tidak menghendaki mereka pulang dengan kelaparan (Mat. 15:32). Inilah cermat, memperhatikan orang dengan teliti.

Kita harus bersandar kepada Kristus yang cermat, lembut, dan halus, yang tinggal di dalam kita; dalam kehidupan herintih menjadi orang yang cermat. Harus menjadi tepung halus; harus memperhatikan perasaan orang, memperhatikan kemuliaan Allah, memperhatikan kesaksian gereja. "Lakukanlah apa yang baik bagi semua orang" (Rm. 12:17). "Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik" (1 Tes. 5:21). "Karena itu, baik kamu makan atau minum, ataupun melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah Janganlah kamu membuat orang tersandung, baik orang Yahudi atau arang Yunani, maupun jemaat Allah" (1 Kor. 10:31 32). "Tiap-tiap orang harus memperhatikan, bagaimana iu harus membangun di atasnya" (1 Kor. 3:10).