Daftar isi Karakter ยท bab 29/30

MURAH HATI

"Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimana mungkin Ia tidak mengaruniakan (dengan cuma-cuma) segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia?"

Roma 8:32

"Berilah dan kamu akan diberi : Suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang diguncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam pangkuanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu"

Lukas 6:38

I. MURAH HATI TERHADAP ORANG

Terhadap orang lain tidak kejam, tidak kikir, tidak ketus, tidak melukai, tidak menyindir orang, melainkan memberikan ruang gerak kepada orang, bahkan memperlakukan orang dengan murah hati.

Murah hati berkaitan dengan lapang dada. Lapang dada berarti besar, tidak kerdil, tidak kejam atau kikir.

II. ALLAH ADALAH ALLAH YANG MURAH HATI

TERHADAP MANUSIA

1. Memberikan Segala Sesuatu untuk Dinikmati

(1 Tim. 6:17)

Allah bukanlah Allah yang kikir, Ia tidak hanya memberikan satu atau dua macam benda kepada manusia, melainkan segala sesuatu diberikan untuk dinikmati manusia. Allah menyatakan diri-Nya dengan berbagai perbuatan baik, yaitu dengan menurunkan hujan dari langit dan dengan memberikan musimmusim subur . . . memuaskan hati dengan makanan dan kegembiraan (Kis. 14:17). Segala sesuatu adalah pemberian-Nya, bahkan diberikan dengan cuma-cuma. Allah memberi manusia sinar matahari, hawa udara, air, dan lain-lain. Jika Ia menyuruh manusia membayar, tidak seorang pun yang mampu membayar. Ladang menghasilkan tuaian yang berlimpah, taut menghasilkan ikan, semua itu disediakan oleh Allah; para petani dan para nelayan hanya mengeluarkan tenaga untuk menggarap. Semua itu diberikan kepada manusia dengan cuma-cuma, dan Allah tidak pernah memperhitungkannya dengan manusia.

Seorang saudara berkisah: Ada seorang anak yang sangat kikir. Setiap melakukan sesuatu, pasti mengadakan perhitungan dulu baru mau melakukannya. Pada suatu hari, setelah makan malam, secara diam-diam ia menyelipkan secarik kertas catatan di bawah bantal ibunya. Dalam kertas catatan itu tertulis : UTANG MAMA KEPADA A (nama si anak) : membantu ibu mengirim surat Rp 750; patuh kepada perkataan ibu Rp 300; belajar pelajaran sekolah Rp 450; lain-lain Rp 600; total Rp 2.100. Keesokan harinya, pagi-pagi, anak ini menemukan sebuah amplop di meja makan; ketika amplop itu dibuka, ia sangat gembira, karena di dalamnya ada sejumlah uang. Namun, di antara uang itu terselip secarik kertas, tertulis : UTANG A KEPADA MAMA : dengan sepenuh hati merawat dan mendidik Rp 0; siang malam melayani dan menjaga A ketika sakit panas yang serius Rp 0; selama 8 tahun, sehari 3 kali menyediakan makanan, Rp 0; lain-lain Rp 0; total Rp 0. Melihat catatan tersebut, si anak merasa bersalah dan malu, kemudian ia mengembalikan uang Rp 2.100 itu kepada ibunya. Sambil menangis ia berkata, "Mama, aku berutang kepadamu, selamanya tidak bisa terbayar." Allah mengasihi manusia (kita), memberikan secara cuma-cuma kepada kita, kita tidak perlu membayar apa-apa.

Roma 8:32 mengatakan, "Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkanNya bagi kita semua, bagaimana mungkin Ia tidak mengaruniakan (dengan cuma-cuma) segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia?" Yesaya 55:1 mengatakan, "Ayo, hai semua orang yang haus, marilah dan minumlah air, dan hai orang yang tidak mempunyai uang, marilah! Terimalah gandum tanpa uang pembeli dan makanlah, juga anggur dan susu tanpa bayaran!"

"Tuhan adalah gembalaku, takkan kekurangan aku ... pialaku penuh melimpah. Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku seumur hidupku ..." (Mzm. 23:1, 5, 6). "Ia tidak menahan kebaikan dari orang yang hidup tidak bercela" (Mzm. 84:12). "Membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan" (Mal. 3:10). Tuhan Yesus pernah membagi-bagikan roti dan ikan kepada lima ribu orang hingga orang-orang itu kenyang, dan masih tersisa dua belas bakul penuh. Semua itu membuktikan bahwa Allah adalah Allah yang murah hati.

2. Memberikan kepada Semua Orang dengan

Murah Hati dan Tidak Membangkit-bangkit (Yak. 1:5)

Dalam Yakobus 1:5 dikatakan, jika kita kekurangan hikmat, hendaklah kita memintanya kepada Allah, yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan dengan tidak membangkit-bangkit, maka hal itu akan diberikan kepada kita. Allah hanya memberikan dengan murah hati, tanpa membangkit-bangkit. Jika seseorang kekurangan hikmat, orang lain akan mencelanya, mengatainya bodoh atau berotak kental. Tetapi Allah tidak demikian. Bila Anda meminta kepada-Nya, Ia tidak akan mencela, Ia akan memberi kepada Anda. Andaikata seorang yang miskin minta uang atau meminjam uang kepada orang lain, mungkin sekali ia akan dicela atau diungkit-ungkit; tidak hanya tidak memperoleh, malahan menerima kata-kata yang tidak enak dan melihat wajah yang masam. Namun Allah tidak demikian. Ia mendengar seruan orang miskin.

Ketika Tuhan Yesus hidup di bumi, Ia tidak pernah menolak setiap orang yang datang kepada-Nya, lebih-lebih tidak menghardik orang yang datang kepada-Nya, melainkan memenuhi segala kebutuhan mereka. "Jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki" (Mat. 15:28).

3. Roh Kudus Dilimpahkan-Nya kepada Kita (Tit. 3:6)

Dikatakan dalam Titus 3 bahwa kita dulu hidup dalam kebodohan : tidak taat, sesat, menjadi hamba berbagai-bagai nafsu dan keinginan, hidup dalam kejahatan dan kedengkian, keji, saling membenci. Tetapi Allah tetap melimpahkan Roh Kudus kepada kita. Manusia sendiri tidak hanya patut dibenci, juga saling membenci. Namun Allah tidak membenci manusia. Sebaliknya, Ia memberikan dengan murah hati Roh Kudus yang sangat berharga itu kepada manusia, dilimpahkan-Nya kepada manusia. Tidak diberikan sedikit, melainkan dilimpahkan-Nya kepada manusia.

Allah bermurah hati terhadap manusia, dan yang terbaik diberikan kepada manusia, yaitu Roh Kudus, bahkan diberikan secara berlimpah-limpah

4. Memperlakukan Orang dengan Murah Hati

"TUHAN telah berbuat baik (murah hati) kepadamu" (Mzm. 116:7). Allah sesungguhnya telah memperlakukan kita dengan murah hati. Dia memberikan dengan murah hati segala sesuatu untuk kita nikmati; Dia telah menyelamatkan kita dari kuasa kegelapan; Dia menjadi Roh Pemberi-hayat (1 Kor. 15:45) masuk ke dalam kita menjadi hayat kita, agar kita hari ini dapat menikmati Dia, bersukacita, dan puas oleh-Nya di bumi, dan kelak membawa kita ke dalam kemuliaan. Benar-benar karena dari kepenuhan-Nya kita semua telah menerima anugerah demi anugerah (Yoh. 1:16). Sungguh kita tidak mampu membalas segala anugerah-Nya yang diberikan dengan murah hati ini. "Bagaimana akan kubalas kepada TUHAN segala kebajikan-Nya (kemurahan hati-Nya) kepadaku?" Hanya, "Aku akan mengangkat piala keselamatan, dan akan menyerukan (memuji-muji) nama TUHAN" (Mzm. 116:12-13).

5. Allah Memperlakukan Yakub dengan Murah Hati

Ini merupakan sebuah contoh nyata. Pada mulanya Yakub hanya membawa sebatang tongkat menyeberangi sungai Yordan. Tetapi, ketika ia kembali dari Padan-Aram, ia membawa dua pasukan, dan juga dikawal oleh satu bala tentara surga. Lagi pula Allah berjanji akan memperbanyak anak cucunya seperti pasir di pantai laut, tidak terhitung banyaknya. Pada akhirnya, Yakub menjadi Israel. Ketika ia ke Mesir, hayatnya sudah matang, dan layak memberi berkat kepada Firaun; dan anaknya telah menjadi penguasa Mesir. (Kej. 32:1-12; 35:10; 47:7-10; 41:43).

III. ALLAH MENGHENDAKI KITA

MURAH HATI TERHADAP ORANG

1. Allah Menghendaki Kita seperti Dia,

Murah Hati terhadap Orang

"Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di surga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. Karena itu, haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di surga sempurna" (Mat. 5:44-45, 48). Bagaimana Allah bermurah hati terhadap orang, menerbitkan matahari bagi orang yang baik dan orang yang jahat, menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar, Ia pun menghendaki kita bermurah hati terhadap orang. "Tetapi kamu, kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka dan pinjamkan tanpa mengharapkan balasan, maka upahmu akan besar dan kamu akan menjadi anak-anak Allah Yang Mahatinggi, sebab Ia baik (bermurah hati) terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat. Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu murah hati" (Luk. 6:35-36).

Bapa kita di surga ingin kita seperti Dia, itu barulah benar-benar menjadi anak-anak-Nya. Ketika Tuhan di bumi, Ia adalah Anak Tunggal Allah yang ada di pangkuan Bapa, dan menyatakan Bapa (Yoh. 1:18). Ini adalah yang paling diperkenan Allah Bapa. Karena itu ada suara dari langit mengatakan, "Inilah Anak-Ku yang terkasih, kepada-Nyalah Aku berkenan" (Mat. 3:17; 17:5). Sebagai Anak Allah, mengekspresikan Allah, itulah yang dikasihi Allah dan yang akan beroleh upah besar.

"Apabila engkau menuai di ladangmu, lalu terlupa seberkas di ladang, maka janganlah engkau kembali untuk mengambilnya; itulah bagian orang asing, anak yatim dan janda โ€” supaya TUHAN, Allahmu, memberkati engkau dalam segala pekerjaanmu. Apabila engkau memetik hasil pohon zaitunmu dengan memukul-mukulnya, janganlah engkau memeriksa dahan-dahannya sekali lagi. Itulah bagian orang asing, anak yatim dan janda. Apabila engkau mengumpulkan hasil kebun anggurmu, janganlah engkau mengadakan pemetikan sekali lagi; itulah bagian orang asing, anak yatim dan janda. Haruslah kauingat bahwa engkau pun dahulu budak di tanah Mesir; itulah sebabnya aku memerintahkan engkau melakukan hal ini" (Ul.24:19-22). "Pada waktu kamu menuai hasil tanahmu, janganlah kau sabit ladangmu habis-habisan sampai ke tepinya, dan janganlah kau pungut apa yang ketinggalan dari penuaianmu. Juga sisa-sisa buah anggurmu janganlah kau petik untuk kedua kalinya dan buah yang berjatuhan di kebun anggurmu janganlah kau pungut, tetapi semuanya itu harus kau tinggalkan bagi orang miskin dan bagi orang asing: Akulah TUHAN, Allahmu" (Im. 19:9-10). Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa Allah menghendaki kita meninggalkan kemurahan dan kebajikan bagi orang lain.

2. Hayat Kasih dan Murah Hati Ada di Dalam Kita

Hayat mengasihi orang dan bermurah hati terhadap orang sudah ada di dalam kita, maka kita mampu mengasihi orang dan bermurah hati terhadap orang berdasarkan hayat ini.

Setelah Daud menjadi raja, ia bermurah hati terhadap sisa kaum keluarga Saul, dan Mefiboset anak Yonatan. Katanya, "Aku hendak menunjukkan kepadanya kasih yang dari Allah" (2 Sam. 9:3). Allah senang kalau kita hidup oleh hayat-Nya, menjadi anak-Nya, dan bermurah hati terhadap orang sesuai dengan kasih-Nya.

Hayat ini mempunyai satu ciri khas besar, yaitu mengasihi musuh, bermurah hati terhadap orang. Jika Anda makin mengasihi musuh, makin bermurah hati terhadap orang, maka batin Anda makin merasa lega dan nyaman. Ini tidak dimiliki oleh hayat alamiah manusia. Hayat alamiah manusia hanya bisa mengasihi orang yang mengasihi dirinya, hanya bisa memberi salam kepada saudara. Namun hayat Allah ini bisa mengasihi musuh dan bermurah hati terhadap orang. Itulah ekspresi dari hayat ini, dan inilah yang sangat diperkenan oleh Allah. Jikakita berhati kejam dan kikir terhadap orang, itu membuktikan bahwa kita tidak hidup dalam hayat ini. Kita harus hidup oleh hayat ini dan belajar menjadi orang yang mengasihi dan bermurah hati.

Saudara Watchman Nee pernah berkata, "Aku ingat ada seorang saudara, ia telah lama meninggal, orang lain menilainya demikian : Jika Anda tidak pernah menjadi musuhnya, Anda tidak tahu betapa hebat kasihnya." Perkataan ini sungguh indah. Semakin hebat Anda menganiaya dia, kekuatannya semakin besar. Anda memperlakukan dia semakin buruk, dia akan semakin naik ke atas. Semakin bengis Anda memperlakukan dia, semakin nyata kebesarannya. Pada waktu ia wafat, banyak saudara berkomentar: Jika orang mau mengetahui kekuatan kasihnya, ia harus menjadi musuhnya yang paling kejam. Kita kurang jahat terhadapnya. Semakin jahat terhadapnya, kasihnya semakin besar terhadap kita." Hayat yang sedemikian inilah yang kita peroleh dari Tuhan.

3. Allah Bermurah Hati terhadap

Orang yang Bermurah Hati

Jika Anda bermurah hati terhadap orang, Allah pasti bermurah hati terhadap Anda. "Berilah dan kamu akan diberi: Suatu takaran yang baik; yang dipadatkan, yang diguncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam pangkuanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu" (Luk. 6:38). Bila Anda memberi, Allah akan memberi Anda; sebab ukuran yang Anda pakai untuk mengukur

akan diukurkan Allah kepada Anda. Allah akan membalas Anda dengan cara atau perilaku Anda. "Terhadap orang yang setia Engkau berlaku setia, terhadap orang yang tidak bercela Engkau berlaku tidak bercela, terhadap orang yang suci Engkau berlaku suci, tetapi terhadap orang yang bengkok Engkau berlaku belat-belit" (Mzm. 18:26-27). Berdasarkan prinsip ini kita dapat berkata, "Terhadap orang yang murah hati Engkau berlaku murah hati, terhadap orang yang kejam Engkau berlaku kejam."

"Balaskanlah kepadanya, sama seperti dia juga membalaskan" (Why. 18:6). Bagaimana Anda memperlakukan orang, seperti itu pula Allah memperlakukan Anda.

"Siapa menutup telinganya bagi jeritan orang lemah (miskin), tidak akan menerima jawaban, kalau ia sendiri berseru-seru"(Ams. 21:13). Jika Anda tidak mendengar jeritan orang, Allah pun tidak akan mendengar jeritan Anda. "Siapa ban yak memberi berkat (sedekah), diberi kelimpahan, siapa memberi minum, ia sendiri akan diberi minum" (Ams. 11:25).

"Berbahagialah orang yang memperhatikan orang lemah (miskin)! Tuhan akan meluputkan dia pada waktu celaka. Tuhan akan melindungi dia dan memelihara nyawanya, sehingga ia disebut berbahagia di bumi; Engkau takkan membiarkan dia dipermainkan musuhnya. Tuhan membantu dia di ranjangnya waktu sakit; di tempat tidurnya Kaupulihkannya sama sekali dari sakitnya"(Mzm. 41:1-3). Anda memperhatikan orang, Allah akan memperhatikan Anda; Anda menolong orang, Allah akan menolong Anda.

"Berbahagialah orang yang berbelaskasihan, karena merekaakan beroleh belas kasihan" (Mat. 5:7). "Sebab penghakiman yang tidak berbelas kasihan akan berlaku atas orang yang tidak berbelas kasihan. Tetapi belas kasihan akan memang atas penghakiman" (Yak. 2:13). Bila Anda berbelas kasihan terhadap orang, Allah akan berbelas kasihan terhadap Anda. Bila Anda tidak berbelas kasihan, Anda akan menerima penghakiman yang tanpa berbelas kasihan. Bila Anda menangkap dan mencekik orang, Anda akan membangkitkan murka Tuhan, dan Ia akan "menyerahkan Anda kepada algojo" (Mat. 18:28, 34).

Karena itu, kita harus memperlakukan orang dengan lapang dada dan murah hati, jangan memperlakukan orang dengan kerdil dan kejam. Kita harus bersikap seperti Daud, "Aku hendak menunjukkan kepadanya kasih yang dari Allah" (2 Sam. 9:3), jangan seperti Rehabeam "Ayahku telah memberatkan tanggungan kamu, tetapi aku akan menambah tanggunganmu itu; ayahku telah menghajar kamu dengan cambuk, tetapi aku akan menghajar kamu dengan cambuk yang berduri besi" (1 Raj. 12:13-14).

Kita harus belajar menjadi orang yang murah hati terhadap orang di hadapan Allah, agar Allah juga bermurah hati terhadap kita, sehingga kita dapat menerima anugerah (kasih karunia) yang limpah. Jangan sekali-kali kikir dan kejam terhadap orang; jika demikian, Anda akan kehilangan berkat.

Allah tidak mengizinkan manusia kikir dan kejam terhadap sesamanya. Hal ini sering tercantum dalam Alkitab.

"Janganlah kautindas atau kautekan seorang orang asing, sebab kamu pun dahulu adalah orang asing di tanah Mesir. Seorang janda atau anak yatim janganlah kamu tindas. Jika engkau memang menindas mereka ini, tentulah Aku akan mendengarkan seruan mereka, jika mereka berseru-seru kepada-Ku dengan nyaring. Maka murka-Ku akan bangkit dan aku akan membunuh kamu dengan pedang, sehingga istri-istrimu menjadi janda dan anak-anakmu menjadi yatim. Jika engkau meminjamkan uang kepada salah seorang dari umut-Ku, orang yang miskin di antaramu, maka janganlah engkau berlaku sebagai seorang penagih utang terhadap dia: janganlah kamu bebankan bunga uang kepadanya. Jika engkau sampai mengambil jubah temanmu sebagai gadai, maka haruslah engkau mengembalikannya kepadanya sebelum matahari terbenam. Sebab hanya itu saja penutup tubuhnya. Itulah pemalut kulitnya โ€” pakai apakah ia pergi tidur? Maka apabila ia berseru-seru kepada-Ku, Aku akan mendengarkannya, sebab Aku ini pengasih" (Kel. 22:21-27).

"Janganlah mengambil kilangan atau batu kilangan atas sebagai gadai, karena yang demikian itu mengambil nyawa orang sebagai gadai"(Ul. 24:6).

"Apabila engkau meminjamkan sesuatu kepada sesamamu, janganlah engkau masuk ke rumahnya untuk mengambil gadai daripadanya. Haruslah engkau tinggal berdiri di luar, dan orang yang kauberi pinjaman itu haruslah membawa gadai itu ke luar kepadamu. Jika ia seorang miskin, janganlah engkau tidur dengan barang gadaiannya; kembalikanlah gadaian itu kepadanya pada waktu matahari terbenam, supaya ia dapat tidur dengan memakai kainnya sendiri dan memberkati engkau. Maka engkau akan menjadi benar di hadapan TUHAN Allahmu. Janganlahengkau memeras pekerja harian yang miskin dan menderita, baik ia saudaramu maupun seorang asing yang ada di negerimu, di dalam tempatmu. Pada hari itu juga haruslah engkau membayar upahnya sebelum matahari terbenam; ia mengharapkannya, karena ia orang miskin, supaya ia jangan berseru kepada TUHAN mengenai engkau dan hal itu menjadi dosa bagimu" (Ul. 24:10-15).

Yakobus mencela orang-orang yang kaya tanpa belas kasihan, "kekayaanmu sudah busuk, dan pakaianmu telah dimakan ngengat! Emas dan perakmu sudah berkarat, dan karatnya akan menjadi kesaksian terhadap kamu dan akan memakan dagingmu seperti api. Kamu telah mengumpulkan harta pada hari-hari terakhir. Sesungguhnya telah terdengar teriakan besar, karena upah yang kamu tahan dari buruh yang telah menuai hasil ladangmu, dan telah sampai ke telinga Tuhan semesta alam keluhan mereka yang menyabit panenmu" (Yak. 5:2-4).

IV. BELAJAR BERMURAH HATI TERHADAP ORANG

Terhadap orang harus "akrab", "gairah", "tenggang rasa", dan juga ditambah dengan "murah hati".

Murah hati berkaitan dengan lapang dada. Orang yang murah hati dapat memaafkan orang. Walau orang yang bersalah kepadanya tidak mengaku dosa, ia tetap memaafkan. Kita boleh mengucapkan kata-kata keras terhadap orang, tetapi tidak boleh mengucapkan kata-kata yang ketus dan kejam. Menegur orang boleh keras, tetapi harus murah hati, dan memberi ruang kepadanya. Seperti sikap Paulus terhadap orang-orang Korintus, di samping dengan cambuk juga dengan kasih dan hati yang lemah lembut (1 Kor. 4:21).

Kita boleh menahan derita bagi diri sendiri, tetapi terhadap orang lain harus murah hati. Terhadap diri sendiri boleh berhemat, tetapi terhadap orang lain tidak boleh kikir. "Ada yang menyebar harta, tetapi bertambah kayo, ada yang menghemat secara luar biasa, namun selalu berkekurangan" (Ams. 11:11:24).

Saudari Pearl Wang bertekad hidup sederhana. Agar tidak repot bila bepergian, ia selalu hanya membawa sebuah koper. Ia berkata, "Kehidupan berkemah, tidak boleh karena barang-barang bawaan sehingga mengganggu pekerjaan." Barang-barang yang ia bawa, paling banyak tiga perangkat pakaian. Jika ada orang memberinya pakaian, sepatu, atau kaos kaki hingga berlebihan, ia segera membagi-bagikannya kepada orang yang kekurangan.

Ketika ia memberitakan Injil di Thailand, di samping menerima aniaya dari luar, ia pun menerima persembahan yang sangat limpah dari saudara saudari yang mengasihi Tuhan. Antara lain ada ikat pinggang dari emas dan perak, ada sandal yang dihias dengan mutiara, ada pula kancing yang terbuat dari berlian, dan lain-lain. Semuanya sangat mahal harganya. Secara diam-diam, benda-benda itu dijualnya dan uangnya dibagi-bagikan kepada saudara saudari yang miskin di tempat itu. Dan ia sendiri membeli beberapa bola kristal dan mainan keramik yang tidak begitu mahal untuk dibawa pulang sebagai cinderamata untuk adik-adiknya.

Sebelum peristiwa Pearl Harbour, ia berada di Singapura dan hendak kembali ke Shanghai. Gereja setempat menyediakan tiket kelas VIP kapal pesiar untuknya, dan berpesan kepadanya ketika bersantap malam di atas kapal harus mengenakan pakaian yang rapi. Tetapi sebelum berangkat, dengan diam-diam ia menukar tiket itu dengan tiket kelas ekonomi, sisa uangnya dipersembahkannya kepada saudara saudari miskin di gereja setempat. Setiba di Shanghai hal itu diberitahukannya kepada adik perempuannya, dan ia merasa sukacita atas perbuatannya itu.

Setelah peristiwa Pearl Harbour, semua orang Inggris dan Amerika dimasukkan ke kamp konsentrasi. Di antaranya tidak sedikit orang Kristen dan misionaris. Saudari Pearl Wang baru kembali dari Asia Tenggara ke Shanghai; setiap satu atau dua pekan, dengan menyerempet bahaya, membantu orang-orang itu dengan makanan dan pakaian. Ayah dan kedua adiknya bertubuh tinggi besar, tidak kalah dengan perawakan orang barat. Saudari Pearl Wang mengumpulkan pakaian bekas mereka dan diberikan kepada orang-orang barat yang di !camp konsentrasi itu, bahkan jubah yang terbuat dari kulit yang mahal pun diberikan kepada seorang saudara tua yang tubuhnya lemah guna menangkal dinginnya cuaca.

Ia juga memperhatikan anak yatim dan para janda. Selama masa perang konfrontasi, ia pernah menampung tiga janda tua serta seorang janda lainnya yang mempunyai delapan anak. Ia tidak saja menyuplai kebutuhan hidup mereka dalam jangka waktu panjang, bahkan atas persetujuan ibu tirinya, ia menampung ibu dengan kedelapan anaknya tinggal di rumahnya, dan membiayai anak-anak itu, ada yang ikut keterampilan, ada yang disuruh belajar bekerja di toko, ada pula yang disuruh bekerja di perusahaan. Ia rela menderita, sabar dan berjerih lelah, namun diam seribu bahasa, memikul beban hidup dan kebutuhan banyak orang yang terlantar itu di hadapan Allah.

Saudara Watchman Nee berkata, "Saya sangat suka membaca biografi Hudson Taylor. Ketika ia ke luar mengadakan pemberitaan Injil, kamar yang paling buruk pasti bagiannya, dan ranjang yang paling jelek pasti juga bagiannya."

Sejak jauh-jauh hari Hudson Taylor sudah belajar memberikan barang-barang yang ia rasa lebih kepada orang yang kekurangan; ia juga memberi persembahan persepuluhan. Pernah sekali, ia menghitung pakaian dan barang-barangnya, selain yang menjadi keperluannya, sisanya diberikan kepada tetanggatetangganya yang miskin. Hal ini dipraktikkan setiap ada kesempatan. Menurut pandangannya, jika ia menyimpan barang-barang yang dapat digunakan orang lain, menyimpannya tanpa dipakai, itu berarti berutang kepada orang, bahkan tanpa disadari sudah terjerumus ke dalam kondisi yang berbahaya, hal ini perlu diwaspadai.

Setiap penerimaannya selalu disisihkan sepersepuluh untuk dipersembahkan. Pada waktu ia menjadi asisten dokter H. Ia tinggal di rumah dokter H. dengan gratis, dan sepersepuluh dari honomya disumbangkan, tanpa merasa sulit. Kemudian, karena dokter H kedatangan familinya dan memerlukan kamar, maka Hudson pindah ke rumah bibinya. Oleh dokter H ia diberi biaya indekos. Ia menganggap uang itu sebagai penerimaan, karena itu harus disisihkan sepersepuluhnya untuk dipersembahkan. Demikian, uang yang tersisa tidak cukup untuk indekos. Setelah melalui banyak berdoa dan mempertimbangkan, ia lalu mengambil keputusan untuk meninggalkan rumah bibinya yang nyaman dan pindah ke sebuah rumah sewaan, ia mengurus sendiri kebutuhan makannya. Demikianlah ia bisa mempersembahkan sepersepuluh dari semua penerimaannya. Setelah pindah, pada mulanya ia merasa agak sulit, tetapi ia memperoleh banyak faedah, yakni bisa mempunyai banyak waktu tenang untuk membaca firman Allah, mengujungi orang miskin, dan pada hari Minggu malam bisa menginjil. Ketika bekerja, ia menjumpai banyak orang yang susah, menderita, dan ia tidak berdaya membantu mereka, hal ini membuat ia makin berhemat. Kemudian ia menemukan bahwa kemampuannya untuk menolong jauh melampaui apa yang direncanakannya semula. Kamar yang disewanya sangat kecil, hanya 3,6 meter persegi, kamar itu berada di lantai dasar yang langsung berhubungan dengan dapur, lagi pula dekat dengan pant, lingkungannya cukup kumuh. Tetangga-tetangganya adalah orang-orang miskin, di sekitar itu sepi dan kersang. Lampu penerangan jalan pada malam hari sangat sedikit, hanya sekadar menyoroti jalan. Ia sangat berhemat dalam hal makan, sampai-sampai ia tidak lagi makan keju dan minum susu sapi. Makanan pokoknya adalah havermut dan nasi, terkadang diganti dengan yang lain sebagai selingan. Biaya hidupnya di bawah biaya hidupnya yang dulu dianggapnya paling rendah, agar dapat menghemat dua per tiga dari penerimaannya untuk disedekahkan kepada orang-orang miskin. Dia berbuat demikian, di samping belajar menempuh hidup yang susah, juga untuk menghemat demi menolong orang-orang miskin. Sesudah mengalaminya, ia berkata, "Semakin sedikit memelihara diri sendiri, semakin banyak membantu orang lain, maka sukacita dalam hati dan bahagia rohani makin berlimpah."

Pernah sekali pada tahun 1879, di Wuchang, Hudson Taylor mengantar sekelompok misionaris Barat yang ingin berangkat ke Szechuan, Kwiechow, dan daerah Barat Laut lainnya. Ia menemani sekelompok sekerja naik ke atas kapal. Di situ ia melihat bahwa di antara para pekerja itu ada yang tidak bisa makan sayur yang dimasak dengan minyak goreng nabati, ia lalu pergi ke tempat yang cukup jauh untuk membeli minyak babi, telur ayam, dan tomat untuk mereka makan. Hal ini tak terlupakan seumur hidup oleh mereka.

D.L. Moody juga seorang yang murah hati. Ia disenangi baik oleh sanak keluarga, tetangga, maupun teman-temannya. Tuan Scoffield memujinya demikian : "Kita boleh berkata tanpa dibesar-besarkan, yaitu dalam Sidang Raya Penginjilan antara tahun 1876 hingga 1881, Moody, baik selaku pengkhotbah maupun seorang manusia, sudah mencapai kedudukan yang tidak ada duanya." Setelah Moody wafat, sebuah surat kabar memuji dia dengan kata-kata: D.L. Moody benar-benar seorang tetangga yang baik hati. Siapa saja yang sakit dan susah, boleh segera beroleh simpati dan bantuan materi darinya. Sayur mayur di kebunnya dan buah-buahan di pohon buahnya sering diberikan kepada banyak keluarga yang miskin. Dan ia punmendorong istri dan anak-anaknya menolong orang-orang sakit dan miskin di berbagai tempat di kota tempat ia tinggal." D.L. Moody juga sangat memperhatikan siswa-siswa yang belajar di Institutnya. Adakalanya, sebelum makan pagi, ia pergi ke dapur asrama siswa Hermon yang terletak sejauh 4 mil dari rumahnya untuk melihat satu per satu menu makan pagi yang disediakan, apakah makanan-makanan itu dibuat sesuai dengan kehendaknya.

Pada suatu hari, ketika Moody sedang membaca Alkitab di ruang bacanya tiba-tiba terlihat seorang siswa sedang menjunjung kopor yang sangat berat, nyaris tidak kuat dibawanya. Saat itu Moody masih meneruskan membaca Alkitabnya, tetapi dalam batinnya terus teringat akan siswa yang membawa kopor berat tadi, sehingga ia tidak dapat tenang duduk di ruang itu. Kemudian, ia bangun dan berlari ke kandang kuda, menarik seekor kuda dan mengejar siswa itu, lalu membawanya serta kopomya ke stasiun. Sekembali ke ruang baca, hatinya seolah terlepas dari beban berat, dan dengan gembira meneruskan pembacaannya.

Pada suatu pagi, seorang teman Moody melihat Moody beserta cucu perempuannya yang berumur 4 tahun mengendarai kereta kuda masuk ke halaman rumah mereka. Anak perempuan itu ternyata tertidur sambil bersandar di sisinya di atas kereta. Moody tidak mau membangunkannya, kemudian dengan perlahan-lahan dilepaskannya kereta depan; mereka tetap di atas kereta. Tidak lama kemudian, ia sendiri juga tertidur di sana.

Ada seorang yang suka mengacau dan sering datang mengikuti sidang doa petang dan sidang terbuka. Pada suatu hari, selesai sidang doa, Moody berdiri di muka pintu menyalami orang-orang yang ikut bersidang. Orang itu pun datang. Berpikir sejenak lalu Moody mengulurkan tangan kepadanya sambil berkata, "Kukira Tuhan toh mau makan bersama pada perjamuan terakhir dengan Yudas Iskariot, maka aku pun seharusnya berjabat tangan dengan Anda."

J.N. Darby pun seorang yang sangat pemurah. Ia sangat prihatin terhadap saudara-saudara yang miskin. Pada suatu kali, ada seorang saudara yang miskin, karena sukar mencari nafkah di Inggris, ia ingin mengadu nasib ke Amerika, tetapi tidak mempunyai cukup biaya untuk berangkat. Mendengar kabar itu, Darby lalu memberinya ongkos jalan sebesar 15 pound sterling. Tetapi kemudian situasi saudara itu membaik dan memutuskan untuk tetap tinggal di Inggris, maka cek itu dikembalikan kepada Darby. Darby lalu berkata, "Kalau Anda sekarang tidak jadi pergi tidak mengapa, tetapi jika Anda ada keperluan, tetap boleh datang ke sini." Teman Darby, J.C. Philpot berkata, "Darby dengan murah hati menghabiskan harta miliknya, ia mempunyai keberanian yang melampaui orang martir."

Walaupun Darby berdiri teguh dan tanpa kompromi dalam berdebat demi kebenaran, tetapi pada saat-saat yang lain ia sangat ramah terhadap orang. Pada waktu bersidang dan berkhotbah, ia pernah melipat jasnya lalu diberikan kepada seorang anak kecil sebagai bantal, sebab ia melihat anak kecil itu gelisah tidak dapat tidur tanpa bantal. Dalam perjalanannya dengankapal yang tak terhitung banyaknya itu, pernah sekali, ada orang yang melihatnya semalam suntuk berjalan kian kemari di atas dek kapal sambil menggendong seorang anak kecil yang tidak mau tenang, supaya ibu anak itu berkesempatan untuk istirahat. Pernah pula, ketika ia pergi ke Amerika, ada seorang saudara miskin sangat mengharap bisa mengundangnya ke rumahnya untuk makan bersama. Anak-anak orang itu memelihara beberapa ekor kelinci. Undangan itu akhirnya ia sanggupi. Darby menolak undangan seorang saudara kaya dan datang ke rumah saudara yang miskin tadi. Seisi rumah bergembira. Hanya anak yang paling kecil dalam rumah itu yang sangat sedih, sebab kelinci piaraan keluarga mereka disembelih untuk jamuan hail itu. Ketika makan, Darby tampak bahwa anak itu sangat sedih, lalu ia menanyakan mengapa ia bersedih. Si anak itu mengutarakan isi hatinya. Darby sangat bersimpati, lalu ia tidak memakan daging kelinci itu. Selesai makan, Darby menuntun anak itu ke pinggir sebuah tempayan besar, dan dari dalam kantongnya ia mengeluarkan dan memberinya beberapa bebek mainan, ia bermain-main dengan anak kecil itu selama satu jam lebih.

Orang yang murah hati selalu mengharap orang lain beroleh kebaikan dan menerima rahmat. Orang yang iri hati pasti adalah orang yang kejam. "Hati yang tenang menyegarkan tubuh, tetapi in hati membusukkan tulang" (Ams. 14:30)