Daftar isi Karakter · bab 30/30

BOBOT

"Ia harus makin besar (bertambah), tetapi aku harus makin kecil (berkurang).

1. BOBOT

Bobot di sini berarti berwibawa, tidak mengambang, matang dalam hayat, berbobot.

II. HARUS BERBOBOT

1. Orang yang Melayani Allah,

Sebagai Wakil Tuhan, Harus Berbobot

Dalam 1 Timotius 3 dikatakan bahwa para penatua dan diaken harus berbobot; orang yang berbobot baru bisa mewakili Tuhan.

Alkitab tidak pernah mencatat bahwa Tuhan tertawa-tawa ketika la di bumi, ini menunjukkan la berwibawa, berbobot. Bila kita sering tertawa-tawa berarti kita ringan, mengambang. Dulu, Ci Hsiau-Lan sangat pandai mengucapkan kata-kata humor dan sering membuat orang tertawa terbahak-bahak. Pada suatu kali, ia membuat humor di hadapan kaisar Chien-Lung dan para menteri, semua yang mendengar tertawa terkekeh-kekeh, hanya sang kaisar yang fidak. Setelah itu, ada orang bertanya kepada kaisar mengapa tidak tertawa. Kaisar menjawab, "lihat lidahku". Ternyata, kaisar khawatir kalau ia juga tertawa-tawa, hilanglah kewibawaannya sebagai kaisar, karena itu, ia menggigit lidahnya hingga luka, supaya tidak bisa tertawa. Kita bukan ingin menyuruh orang menyiksa diri, tetapi melalui hal ini kita tampak bahwa orang-orang yang melayani Tuhan, sebagai wakil-wakil Tuhan, harus berbobot.

Suatu kali, ketika orang-orang Yahudi menghalau Yesus keluar kota dan membawa Dia ke tebing gunung, untuk melemparkan Dia dari tebing itu, Dia tidak melarikan diri dengan tunggang langgang, melainkan berjalan lewat dari tengah-tengah mereka, lalu pergi, itu adalah berbobot (Luk. 4:28-30). Ketika la diadili Pilatus, sikap-Nya sangat berbobot. Pilatus mengajukan banyak pertanyaan kepada-Nya, bila tidak perfu dijawab, sepatah kata pun tidak dijawab-Nya, sampai Pilatus pun merasa aneh. (Mat. 27:12-14). Ketika Yudas memimpin sepasukan laskar untuk menangkap Dia, Dia tampil ke depan dan berkata kepada mereka, "Siapakah yang kamu cari?" Jawab mereka, "Yesus dari Nazaret." Kata Tuhan, "Akulah Dia." Betapa berbobot sikap-Nya. Orang-orang yang melayani Tuhan adalah wakil-wakil Tuhan, karena itu harus menjadi orang-orang yang berbobot.

2. Mengerjakan Pekerjaan Tuhan,

Perlu Orang-orang yang Berbobot

Berat atau ringannya suatu perkara ditentukan oleh manusianya. Misalkan, menyapu lantai adalah perkara ringan (sepele), tetapi jika itu dikerjakan oleh Presiden, itu menjadi berat. Jika kedudukan Presiden diberikan kepada seorang tukang sapu, itu akan menjadi ringan. Melayani Tuhan adalah mengerjakan pekerjaan yang paling berat dalam alam semesta, maka harus dikerjakan oleh orang-orang yang berbobot. Bila manusianya ringan, pekerjaan Tuhan akan dibuatnya menjadi ringan. Ketika Anda bertugas di kantor diaken, jika sikap Anda santai bersenda-gurau, itu tidak berbobot, tidak boleh demikian. Ketahuilah bahwa perkara yang sedang Anda lakukan adalah perkara yang sangat penting dan serius, karena itu sikap Anda harus berbobot, tidak boleh santai. Orang yang berbobot khotbahnya juga akan berbobot.

Terpisah, ada seorang petani sakit keras. Menyadari dirinya yang sakit parah, ia mengundang seorang pendeta ke rumahnya. Menjelang kematiannya si petani berkata, "Dulu, dua puluh tahun yang lalu, aku pernah mendengar tuan berkhotbah di sebuah gedung gereja. Waktu itu hatiku sangat tergerak, merasa bahwa diriku adalah seorang berdosa yang sangat jahat, kalau tidak bertobat, pasti akan binasa. Selesai kebaktian, dalam perjalanan pulang, secara kebetulan aku dan tuan berjalan ke arah yang sama. Saat itu aku ingin mendekati tuan untuk mengutarakan isi hatiku agar membuka semua selubung yang menutupi diriku. Tetapi, waktu itu tuan sedang berlelucon, bersenda gurau dengan seorang teman tuan. Aku pikir, tentulah apa yang tuan khotbahkan tadi tidak benar. Kalau tidak, bagaimana mungkin perkataan di atas mimbar bisa sangat berkebalikan dengan perkataan di jalan? Akibatnya, aku tidak membereskan hatiku yang takut dan gelisah akan dosa. Namun sekarang ajalku hampir tiba, rasa takut dan gelisah akan dosa kembali muncul. Entah apa yang akan tuan ajarkan kepadaku?" Saudara saudari! Ketika kita berkontak dengan orang, semua perkataan yang kotor, yang kosong, dan lelucon tidaklah patut keluar dari mulut kita. Seharusnyalah kita mengucapkan ucapan syukur, ini baru sesuai dengan martabat orang kudus. Karena sepatah kata yang tidak hati-hati, dapat membuat orang lain tersandung. "... disebut saja pun jangan di antara kamu, sebagaimana sepatutnya bagi orang-orang kudus. Demikian juga perkataan yang kotor, yang kosong atau yang sembrono - karena hal-hal ini tidak pantas - tetapi sebaliknya ucapkanlah syukur" (Ef. 5:3b-4).

Saudara Witness Lee berkata, "Di masa-masa awal, Saudara Watchman Nee dan saya tidak terlalu banyak pekerjaan, karena itu saya sering pergi ke tempat tinggalnya untuk bersekutu. Ketika itu ia banyak membina saya dalam berbagai aspek. Namun saya dapat bersaksi di hadapan Allah bahwa kami berdua tidak pernah santai mengobrol." Tidak mengobrol berarti berbobot.

Seorang saudara bersaksi: ada seorang saudara yang sangat dipakai oleh Tuhan; ia mempunyai seorang teman (saudara dalam Tuhan) yang sangat akrab dengannya, (temannya ini sekarang telah dipanggil Tuhan). Mereka berteman lebih dari dua puluh tahun, sangat dekat, saling mengenal, saling bersimpati, sangat sehati sepikir. Tetapi Tuhan bisa bersaksi bagi mereka bahwa ketika mereka berkumpul bersama, mereka tidak pernah berkata-kata sembarangan, berlelucon. Adakalanya mereka juga berkata-kata humor, namun perkataan yang mengambang, yang tidak takwa kepada Allah, yang terumbar, yang sembrono dan sembarangan, tidak pernah mereka ucapkan. Mereka senantiasa di dalam atmosfer yang takwa kepada Tuhan. Mereka tidak kehilangan suasana ibadah, tidak kendur dan sembarangan.

3. Berbobot Membuat Orang Lain Percaya

dan Membuat Diri Sendiri Terlindung

Orang yang ringan mudah terombang-ambing, goyah, dan tidak mantap, sehingga tidak dapat dipercaya orang dan tidak dapat melayani Allah. Tetapi orang yang berbobot dapat dipercaya dan dapat melayani Allah (1 Tim. 3:4, 8).

Orang yang ringan membuat orang lain meremehkannya, sedang orang yang berbobot akan dihormati dan ditakuti orang.

Berbobot juga merupakan perlindungan bagi diri sendiri. Banyak masalah, godaan, atau rayuan tidak dapat menimpa orang yang berbobot. Lebih-lebih terhadap seorang perempuan muda, berbobot merupakan pelindung bagi dirinya, jika tidak berbobot, ia akan dirugikan. Seorang perempuan muda yang tidak berbobot pasti mudah digoda can dirayu orang. Karena itu, perempuan dianjurkan mengenakan pakaian yang pantas, itu bertujuan supaya mereka tampil berwibawa dan terlindung. Mengepang-ngepang rambut, mengenakan perhiasan emas, berbusana "up to date", belajar bergaya moderen, menonjolnonjolkan bagian tubuh tertentu, terlihat seksi, itu pasti akan dipandang ringan oleh orang dan mengundang risiko.

Saudari Pearl Wang terbiasa bangun pagi-pagi buta jam 3 dan berdoa. Ketika masih muda, kedua lututnya hitam karena sering berlutut berdoa. Tutur kata dan perilakunya sopan dan serius. Baik ketika ia duduk atau berdiri selalu bersikap mantap dan sopan. la juga menghendaki hal itu ditiru oleh adiknya. Di rumahnya, jika tidak ada saudari lain tinggal bersama, ia pasti ditemani adiknya. Jika ada saudara berkunjung, adiknya pasti duduk mendampinginya. Terkadang pada malam hari, adiknya sudah tidur, ia akan membangunkannya untuk mendarnpinginya menerima tamu.

Saudara Witness Lee berkisah : Saya beroleh selamat melalui pemberitaan Ini Saudari Pearl Wang. Waktu itu usia saya belum genap 20 tahun, ia lebih tua enam tahun daripada saya, masih muda juga. Pada suatu kali ia menginjil di kampung halaman saya. Karena ingin tahu, saya lalu pergi mendengarkan. Ketika ia memberitakan, hati saya sangat terharu. Apa yang diberitakannya semua saya terima dan saya benar-benar beroleh selamat. Tujuh tahun kemudian, Tuhan mendirikan gereja di kampung halaman saya. Pada musim semi, antara Maret dan April, tahun berikutnya, ia mengunjungi gereja kami untuk pertama kali. Di sana ia menjadi tamu seorang saudari. Melihat sikap, tutur kata, dan perilakunya, kami semua salut. Boleh dikata ia adalah salah seorang saudari yang sangat berpengaruh di kalangan kekristenan saat itu. Jangankan ketika ia berdiri berkhotbah, ketika ia duduk di sana pun, sudah dapat membuat orang terpengaruh. Menurut pandangan saya, daya pengaruhnya bukan terletak pada kekuatan rohaninya, melainkan terletak pada kewibawaannya.

Jangan lupa bahwa melayani Tuhan adalah berkontak dengan orang, sedang hal yang paling penting dalam berkontak dengan orang adalah penampilan Anda, yaitu kesan yang Anda berikan kepada orang. Karena itu, sampai-sampai cara atau potongan rambut Anda pun menjadi masalah besar. Model rambut kaum hipis atau model kuno harus dihindarkan. Bagaimana sebaiknya, perlu Anda pelajari.

Pada waktu Saudari Pearl Wang berkunjung ke Cheefoo, ia berlayar dengan kapal dari Shanghai. Kapal tidak dapat merapat di dermaga, karena itu para penumpang dan barang-barang harus diangkut dengan perahu kecil. Banyak sanak keluarga yang menjemput berteriak-teriak dan memanggil orang-orang yang di atas kapal. Saudara saudari dari Cheefoo tidak seorang pun yang mengenal Saudari Pearl Wang, sebab belum pernah melihatnya. Mereka mengamati satu per satu orang-orang yang tiba dengan perahu kecil, tetapi tidak mengenal seorang pun. Akhirnya datang sebuah perahu yang membawa seorang penumpang wanita. Begitu mereka melihat, semua segera merasa bahwa itu pasti dia. Memang, tidak salah, itulah saudari Pearl Wang. Ini tidak lain karena melihat penampilannya yang mantap dan sopan.

III. HARUS ADA TITIK BERAT, PENEKANAN,

HARUS MEMBEDAKAN YANG RINGAN DAN YANG BERAT

Melayani Allah, mengelola gereja, berkhotbah, menginjil, bersekutu, dan bersaksi, semuanya harus ada titik berat atau penekanannya. Harus membedakan mana yang duluan mana yang belakangan, mana yang berat dan mana yang ringan.

1. Mengasihi Allah, Hayat, Inilah yang Penting

Tuhan pernah mencela orang-orang Farisi - "Tetapi celakalah kamu, hai orang-orang Farisi, sebab kamu membayar persepuluhan dari selasih, inggu dan segala jenis sayuran, tetapi kamu mengabaikan keadilan dan kasih terhadap Allah" (Luk. 11:42). Orang-orang Farisi memutarbalikkan yang ringan dan yang berat, mengabaikan yang pokok dan mementingkan yang ranting. Keadilan dan kasih Allah malah mereka abaikan, yang mereka perhatikan adalah persepuluhan dari selasih, inggu, dan segala jenis sayuran. Jika seorang hanya memperhatikan bergairah berbuat ini dan itu bagi Tuhan, tanpa memperhatikan hayat dalam batinnya, itu berarti memutarbalikkan yang ringan dan yang berat. Kita harus memperhatikan hayat yang di dalam, berapa banyak kasih kita terhadap Allah, berapa banyak kita sudah hidup berdasarkan Kristus? Inilah perkara-perkara yang lebih penting.

Kasih adalah hukum yang terbesar (Mat. 22:37). Saudara Lawrence berkata, "Jika Anda tidak menggunakan sehari ini untuk mengasihi Allah, Anda sudah kehilangan sehari ini."

"Sebab bersunat atau tidak bersunat tidak ada artinya, tetapi menjadi ciptaan baru, itulah yang ada artinya" (Gal. 6:15). "Dengan apakah aku akan pergi menghadap Tuhan dan tunduk menyembah kepada Allah yang di tempat tinggi? Akan pergikah aku menghadap Dia dengan kurban bakaran, dengan anak lembu berumur setahun? Berkenankah Tuhan kepada nbuan domba jantan, kepada puluhan ribu curahan minyak? ... Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut Tuhan daripadamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?" (Mik. 6:6-8). Allah hanya berkenan bila kita hidup berdasarkan hayat-Nya, berjalan serta-Nya, berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati seperti Dia. Allah menghendaki kita terlebih dulu memperhatikan apakah kita sendiri sudah memperhidupkan Kristus (Flp. 1:21), dan sudah sempurna seperti Allah Bapa (Mat. 5:18). Memberi persembahan adalah perkara nomor dua. Allah menghendaki kita memperhatikan diri kita dulu, kemudian baru memperhatikan pekerjaan kita. Paulus berkata kepada para penatua di Efesus, "Kamu tahu, bagaimana aku hidup senantiasa di antara kamu sejak hari pertama aku tiba di Asia ini . . . Perak atau emas atau pakaian tidak pernah aku ingini dari siapa pun juga. Kamu sendiri tahu bahwa dengan tanganku sendiri aku telah bekerja untuk memenuhi keperluanku dan keperluan kawan-kawan seperjalananku. Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu bahwa dengan bekerja demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah . . . " (Kis. 20:28, 33-35). "Kamu adalah saksi, demikian juga Allah, betapa saleh, adil dan tak bercacatnya kami berlaku di antara kamu yang percaya" (1 Tes. 2:10). Paulus dapat menjadi teladan semua orang, ia dapat berkata, "Ikutilah teladanku, sama seperti aku juga mengikuti teladan Kristus" (1 Kor. 11:1).

2. Mengalami Kristus, Inilah yang Penting

Metode-metode luaran, kebenaran-kebenaran doktrin, tidak begitu penting. Saudara Witness Lee dulu pernah sejangka waktu menjabat sebagai redaktur Bulletin "Warta Pekerjaan". Pada masa itu banyak orang saleh yang beramai-ramai membicarakan hal-hal meninggalkan perpecahan, baptisan selam, pemecahan roti, dan penudungan kepala. Dalam beberapa kali penerbitan, banyak sekali surat semacam itu yang dimuat. Saudara Witness Lee merasa kurang puas, tetapi apa boleh buat, tidak ada pilihan lain. Saat itu Saudara Watchman Nee sedang istirahat karena sakit. Ia berkirim surat mengatakan bahwa ia harap saudara saudari mempersaksikan sedikit tentang pengalaman atas Kristus. Saudara Watchman Nee telah memberitakan banyak tentang "Kristus sebagai Sentralitas dan Universalitas Allah", tetapi reaksi orang-orang tetap hanya berkisar pada masalah meninggalkan perpecahan, baptisan selam, pemecahan roti, dan penudungan kepala belaka. Saudara Witness Lee tidak berdaya lagi, maka surat Saudara Watchman Nee itu dimuat dalam Bulletin. Namun keadaannya tetap tidak berubah. Akhirnya Saudara Watchman Nee menulis sepucuk surat panjang menyatakan menghentikan penerbitan Bulletin itu dan mengatakan bahwa siapa saja yang hanya menekankan keempat masalah itu bukanlah rekan sekerjanya. Kita mengharapkan mereka mengalami Kristus dan mempersaksikan bagaimana mengalami kemenangan. Dengan sangat prihatin dan sangat tegas Saudara Watchman Nee mengatakan hal ini. Saudara Witness Lee juga sangat setuju. Kemudian Saudara Witness Lee memuat surat panjang Saudara Watchman Nee itu dalam Bulletin "Warta Pekerjaan" terbitan terakhir.

Saudara Witness Lee berkata, ketika ia masih muda, pernah bertemu dengan sekelompok orang Kristen yang khusus membicarakan masalah keterangkatan sesudah malapetaka besar. Mereka sering menyatakan bahwa mereka tidak dapat bergaul dengan orang-orang Kristen yang percaya pada keterangkatan sebelum malapetaka. Mereka seolah tidak mengerti yang lain, dan tidak mau tahu apakah orang percaya kepada Tuhan Yesus, apakah orang sudah diselamatkan. Begitu mereka berkhotbah, yang ditanya pasti soal keterangkatan sebelum atau sesudah malapetaka. Jika Anda tidak percaya terangkat sesudah malapetaka, mereka akan sangat kecewa dan tidak bersedia berkumpul atau bergaul dengan Anda. Dengan terus terang mereka menyatakan bahwa mereka terpanggil oleh Tuhan justru untuk memperjuangkan kebenaran keterangkatan sesudah malapetaka. Saudara saudari, kita di sini dibangkitkan Tuhan untuk memperjuangkan kebenaran apa? Untuk penudungan kepala? Untuk pembaptisan selam? Tidak! Yang kita saksikan tidak lain adalah Kristus itu sendiri. Kita tidak mempersoalkan apakah orang bertudung kepala atau tidak, menerima baptisan selam atau bukan. Memperjuangkan kebenaran apa? Untuk penudungan kepala? Untuk yang kita persoalan ialah berapakah kedudukan Kristus dalam diri kita. Kita tidak peduli akan masalah keterangkatan sebelum atau sesudah malapetaka, kita hanya peduli akan berapakah kadar Kristus di dalam kita. Kita pun tidak mementingkan satu cawan atau roti tak beragi, melainkan berapa unsur Kristus di antara kita. Kesaksian gereja adalah Kristus semata, gereja adalah rahasia Kristus. Ini tidak berarti kita boleh sembarangan terhadap masalah penudungan kepala, baptisan, dan pemecahan roti. Maksud kita ialah kita mempunyai satu perkara yang lebih penting, yaitu mempersaksikan Kristus. Ada satu yang lebih penting dan besar entah berapa kali lipat, yaitu Kristus.

Hudson Taylor pernah menasihati rekan-rekan sekerjanya demikian : "Kalian harus berpusat pada Kristus. Rumah sakit dan sekolah hanya sebagai sarana untuk memimpin orang kepada Tuhan. Jadi menginjil adalah yang primer, mendirikan rumah-rumah sakit atau sekolah-sekolah itu sekunder. Jangan diputarbalikkan. Jika kita mengganti Injil dengan rumah sakit, mengganti kuasa rohani dengan usaha pendidikan, menyelamatkan orang dengan cara pendidikan, atau bertakhayul pada uang, pengetahuan, dan petah lidah, tanpa dengan tekun bersandar pada Allah, itu adalah kesalahan yang teramat besar. Semoga kita semua dengan tulus ikhlas menjunjung tinggi Injil yang mulia ini, dan percaya bahwa Injil adalah kuat kuasa besar Allah untuk menyelamatkan orang; maka yang lainnya patut ditempatkan pada posisi sekunder. Dan jika kita dapat menyadari dengan tuntas bahwa apa yang dapat kita tanggung semua berasal dari Kristus, kita selamanya takkan kecewa." Ia juga berkata, "Segala yang tidak kita kerjakan di dalam Kristus, itu adalah pekerjaan daging. Allah lebih memperhatikan apa adanya kita daripada apa yang kita kerjakan."

Hudson mementingkan kuasa Roh Kudus jauh melampaui kuasa uang. Pernah sekali, misinya menghadapi kebutuhan khusus, ia dengan tekun berdoa untuk hal tersebut. Allah mengabulkan doanya, dan menyuplainya dengan uang dalam jumlah besar. Hudson merasa gembira bercampur khawatir, sebab ia tahu kapan uang berlimpah-limpah, pasti berbahaya. Lagi pula uang tidak dapat menyelamatkan jiwa orang, hanya orang yang dipenuhi Roh Kuduslah yang dapat menyelamatkan jiwa. Karena itu ia dengan tekun mohon Allah mengaruniakan Roh Kudus, agar para sekerjanya semua memiliki kasih Golgota dan kuasa Pentakosta.

3. Jangan Mementingkan Karunia (talenta)

Melebihi Diri Allah Sendilri

Seorang saudara berkata, manusia selalu mengabaikan Allah sendiri di dalam karunia Allah. Namun hal itu tidak diperkenan-Nya.

Bahaya kita yang terbesar di hadapan Allah ialah sebelum kita beroleh karunia, tangan kita kosong dan kita bisa bersekutu dan bergaul dengan Allah, tetapi begitu kita beroleh karunia, tangan kita menjadi penuh dan kita tidak dapat lagi bersekutu dan bergaul dengan Allah. Ketika tangan kita hampa, kita bersekutu dengan Allah dengan tangan yang hampa itu, tetapi ketika tangan kita menerima karunia, kita akan merasa puas, sehingga tidak mau bersekutu dengan Allah lagi. Maka di sini Allah ingin memberi kita satu pelajaran : Kita harus mengesampingkan karunia dan dengan mutlak tinggal di dalam Allah. Allah akan menyelamatkan kita sedemikian rupa sehingga apa yang kita inginkan hanya Allah semata, bukan pekerjaan yang Ia ingin kita kerjakan.

Semoga kita semua bisa seperti syair kidung yang dikarang oleh A.B. Simpson :

"Dulu mau berkat, kini Dia sendiri;

Dulu mau sembuh, kini Penyembuh;

Dulu mau kumia, kini Sang Pemberi;

Dulu cari kuasa, kini Penguasa."

4. Kerajaan dan Kebenaran Allah, Inilah yang Penting

"Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya. maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu" (Mat. 6:33). Allah menghendaki kita mencari Kerajaan dan kebenaran-Nya, maka harta, sandang, pangan, dan lain-lainnya akan ditambahkan kepada kita. Sebab itu kita harus mementingkan perkara-perkara melayani Dia, menuntut Dia, pertumbuhan hayat, dan bekerja bagi Dia dengan sekuat tenaga, maka Dia akan menambahkan kebutuhan hidup kita. Sebab semua yang belakangan itu ringan dan sekunder, tidak perlu kita khawatirkan.

5. Kesaksian Keesaan Gereja dan Kesatuan Roh,

Inilah yang Penting

Doktrin-doktrin, ajaran-ajaran, metode-metode, corak penampilan yang di luar, dan lain sebagainya, adalah yang sekunder. Jangan karena mementingkan yang kecil, lalu kehilangan yang besar. Jangan bulu sapi dianggap sapi. Jangan pula menyaring nyamuk, tetapi menelan unta (Mat. 23:23-24).

Diberkatinya sebuah gereja lokal tidak tergantung pada talenta berkhotbah, bukan pula tergantung pada teknik bekerjayang lebih unggul daripada orang lain, melainkan tergantung pada keesaan. Bukan kepandaian dan kemampuan manusia yang bisa mengelola gereja dengan sukses, melainkan kesehatian kita menanggung satu kuk, bekerja sama, senasib dan sepenanggungan. Bukan dilakukan asal jadi secara luaran, sedangkan dalam batin penuh dengan kesemuan, melainkan dengan berdoa bersama, saling berbaur di dalam roh. Segala hal dikerjakan lewat persekutuan dan di dalam roh yang harmonis. Dengan demikian, berkat Allah pasti datang. Inilah perkara yang penting.

Terkadang ada saudara memberi tabu Saudara Witness Lee bahwa di gereja lokalnya tidak ada saudara yang pandai berkhotbah. Saudara Witness Lee sering menjawab demikian: Kalau di antara kalian ada orang yang pandai berkhotbah, itu mungkin malah celaka. Sebab yang bisa mendatangkan berkat Allah bukan khotbah yang menarik, melainkan terbangunnya semua orang saleh. Dalam Efesus 2:22 dikatakan bahwa di dalam Dia kita juga turut dibangunkan menjadi tempat kediaman Allah, di dalam Roh. Jadi tempat kediaman Allah berada di dalam terbangunnya bersama ini. Jika kalian tidak terbangun bersama, Allah takkan datang dan tinggal, tetapi jika kita terbangun bersama, Allah akan datang dan tinggal. Apalagi kekurangan kita, jika Allah telah datang dan tinggal di antara kita?

Pernah sekali para pewajib gereja di Taipei menyampaikan satu kabar gembira, yaitu setelah gereja di Taipei dibagi dalam beberapa sidang rumahan (kelompok), ada beberapa sidang rumahan yang sungguh baik keadaannya. Walau di sana tidak ada saudara yang pandai berkhotbah, tetapi sangat menakjubkan, jumlah peserta sidang yang tadinya sedikit sekarang bertambah banyak. Mereka sama sekali menampilkan suasana kebangkitan baru. Mengapa? Tidak lain karena di sana ada keserasian, ada kesatuan koordinasi, dan ada saling mengasihi. Dengan istilah sekarang; mereka ada pembangunan. Bila kita terbangun, pasti berkat Allah tercurah di tengah-tengah kita.

Di tahun-tahun yang lampau gereja di Taipei mengadakan penginjilan di beberapa balai sidang. Ada beberapa penginjil dari denominasi khusus pergi ke beberapa balai sidang itu untuk meninjau keadaan. Setelah menijau beberapa malam, seorang di antaranya datang bertanya kepada Saudara Witness Lee, "Ada satu hal yang kami tidak mengerti, beberapa malam yang lalu kami sudah meninjau ke balai sidang kalian. Kami heran, mengapa bisa ada begitu banyak orang yang datang mendengarkan Injil. Kalian tidak memasang iklan di surat kabar, juga tidak mempropagandakan penginjil-penginjil kalian, mengapa bisa datang orang sebanyak itu?" Saudara Witness Lee berkata sambil tersenyum, "Penginjil-penginjil kami tidak punya reputasi, tanpa titel, maka tidak layak diiklankan. Terus terang, kami tidak saja tidak pasang iklan, terkadang pada waktu sidang sudah hampir dimulai, bahkan hampir tiba saatnya berkhotbah, saudara saudari belum juga tahu siapa yang akan berkhotbah. Tak jarang pula orang-orang yang bertugas menerima tamu dan yang membagi-bagikan selebaran di jalan tidak tahu siapa yang akan berkhotbah malam itu. Kami sama sekali tidak memperhatikan siapa yang berkhotbah. Siapa pun boleh." Orang itu berkata, "Itu sungguh satu hal yang mengherankan. Kalian tidakpasang iklan, juga tidak punya penginjil yang tenar, bahkan kalian tidak tahu siapa yang akan berkhotbah sebelum sidang. Tetapi mengapa bisa datang pendengar sebanyak itu? Bagaimana orang-orang itu bisa datang bersidang?" Jawab saudara Witness Lee, "Itulah keanehannya. Bagi kalian hal itu memang aneh, tetapi bagi kami itu tidak ada anehnya. Itu ibarat kita menyusun kayu-kayu atau papan-papan yang tidak begitu berguna hingga menjadi sebuah rumah, itu tidak aneh." Yang dapat mendatangkan berkat bukan siapa yang berkhotbah, melainkan semua berkoordinasi dan membangun.

Pernah sekali lagi, seorang misionaris Barat mengunjungi Saudara Witness Lee, katanya, "Saudara Witness Lee, Anda tahu bahwa di Taiwan banyak penginjil Barat (kemungkinan waktu itu ada lebih dari 400 orang). Tetapi kami mengakui bahwa pekerjaan kami tidak bisa dibandingkan dengan pekerjaan gereja Anda. Padahal kami mempunyai pengalaman yang cukup banyak, kami juga mempunyai tenaga-tenaga yang cukup berpengetahuan, dan dana kami pun cukup, tetapi pekerjaan kami tak dapat dibandingkan dengan pekerjaan kalian. Kalian tidak mempunyai tokoh yang terkenal, dan tidak ada raksasa rohani, apa sebenarnya rahasia Italian?"

Sekarang kita semua tahu apa sebenarnya rahasianya. Rahasianya tak lain adalah pembangunan Bait Allah, pembangunan gereja lokal. Pada zaman ini, hanya gereja yang terbangunlah yang dapat memuaskan hati Allah, yang dapat mendatangkan berkat, yakni penyertaan Allah.

6. Harus Ada Titik Berat, Penekanan

Baik berkhotbah, menginjil, bersekutu, atau bersaksi. haruslah ada titik berat, penekanannya. Jangan seperti mengoceh tanpa tujuan, atau seperti gado-gado. Harus belajar, begitu berbicara, ada titik berat yang mengena pada sasaran bicara Anda. Jangan sudah bicara banyak tanpa sesuatu yang berkesan pada pendengar Anda. Jangan ada sebuah berita yang kita sampaikan berlalu tanpa meninggalkan sesuatu. Jangan sampai khotbah, persekutuan, atau kesaksian Anda seperti masakan tanpa bumbu. Bagaimanapun, harus memberi kesan yang dalam dan mendatangkan faedah bagi pendengar Anda. Ibarat orang meninju, sekali pukul sudah mengenai sasaran.

IV. BAGAIMANA MELATIH AGAR BERBOBOT

Orang-orang yang melayani Allah harus memberi kesan berbobot kepada orang lain. Bukan berbobot dengan pura-pura atau dibuat-buat. Untuk ini harus berlatih dan belajar.

1. Menuntut Perkara Hayat

Rumput, kayu, atau jerami tidak berbobot, tetapi emas, perak dan permata berbobot. Allah Tritunggal itu berbobot.

Harus menerima penghancuran salib, agar elemen-elemen daging, hawa nafsu, dan alamiah manusia berkurang, dan elemen Allah bertambah "Ia harus makin besar (bertambah), tetapi aku harus makin kecil (berkurang)" (Yoh. 3:30). Bila elemen Allah bertambah, Kristus terbentuk dan Roh Kudus memenuhi kita, niscayalah bobot kita akan bertambah. Bila hayat makin matang, kita pasti makin berbobot. Seperti padi, semakin matang, semakin berat dan semakin merunduk ke bawah.

Perabot-perabot dalam Bait Suci ada ukurannya masing-masing, berat dan ringan, semua sudah disesuaikan. (1 Taw. 28:13-18). Ukuran berat atau ringan itu semua tergantung pada tingkatan hayat manusia.

2. Tunduk di bawah Otoritas Kepala

Tidak sembarangan berbicara dan bertindak. Jika seorang saudara berbicara sesuka hatinya, atau mengkritik orang lain dengan seenaknya, akibatnya, ia akan lebih ringan dari pada udara, tanpa bobot. Makin mengkritik, makin tidak berbobot. Sebaliknya, jika seorang saudara tunduk di bawah otoritas Kepala : mulut, angan-angan, hati, dan pekerjaannya, semua tunduk di bawah otoritas Kepala, niscaya ia akan berbobot. Semakin ia menempuh hidup yang demikian, orang lain akan semakin merasakan bobot dan wewenangnya.

Itulah sebabnya kita harus berdoa seperti Daud : "Awasilah mulutku, ya TUHAN, berjagalah pada pintu bibirku! Jangan condongkan hatiku kepada yang jahat ..." (Mzm. 141:3-4). Kita juga harus mempunyai perasaan seperti Daud, "TUHAN Engkau menyelidiki dan mengenal aku; Engkau mengetahui, kalau aku duduk atau berdiri, Engkau mengerti pikiranku dari jauh. Engkau memeriksa aku, kalau aku berjalan dan berbaring, segala jalanku Kaumaklumi. Sebab sebelum lidahku mengeluarkan perkataan, sesungguhnya, semuanya telah Kauketahui, ya TUHAN" (Mzm.139:14). Demikian, kita tidak akan sembarangan berbicara dan tidak akan sembarangan bertindak.

3. Harus Belajar dalam Tutur Kata

a. Tidak sembarangan mengutarakan opini.

b. Tidak sembarangan mengatakan ya atau tidak, baik atau buruk, benar atau salah.

c. Tutur kata harus tepat. Belajar tidak terburu-buru dalam berbicara. "... hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata…" (Yak. 1:19). Tidak berkomentar sebelum memahami suatu perkara dengan tuntas. Bukan tidak berbicara seperti patung, melainkan tutur kata kita harus tepat dan seperlunya.