Daftar isi Karakter · bab 28/30

JERNIH

I. JERNIH

Jernih di sini mengacu kepada bening, mengerti, terang, jelas, tidak buram, tidak kabur.

II. ORANG YANG MELAYANI TUHAN

HARUS JERNIH DALAM BATIN

1. Mengerti Kehendak Allah

Dalam Roma 12 setelah menyinggung tentang mempersembahkan tubuh kepada Allah sebagai persembahan yang hidup, selanjutnya menyinggung tentang perlunya perubahan oleh pembaruan angan-angan, hingga dapat membedakan mana kehendak Allah, apa yang baik, yang berkenan kepada Allah, dan yang sempurna. Seorang pelayan Allah wajib dalam batinnya jelas mengenal kehendak Allah, dan melayani Dia menurut kehendak-Nya semata, agar diperkenan oleh-Nya. "Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Surga, me/ainkan orang yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di surga. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata : Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari hadapan-Ku, kamu sekalian yang melakukan kejahatan!" (Mat. 7:21-23). Walaupun orang-orang itu bernubuat demi nama Tuhan, mengusir setan, dan mengadakan mujizat demi nama Tuhan, namun mereka melayani tidak menurut kehendak-Nya, karena itu mereka tidak diperkenan Tuhan. Kain juga melayani Allah, tetapi tidak menurut kehendak Allah. Tanpa wahyu, menurut konsepsinya sendiri, mempersembahkan hasil bumi kepada Allah, sehingga Allah tidak mengindahkan persembahannya. Sebaliknya, Habel melayani Allah menurut kehendak Allah, ada wahyu, mempersembahkan anak sulung kambing domba, yakni lemak-lemaknya; Allah mengindahkan Habel serta kurban persembahannya itu (Kej. 4:3-5). Walaupun bani Israel sungguh-sungguh giat untuk Allah, tetapi tanpa pengertian yang benar; mereka berusaha mendirikan kebenaran mereka sendiri, maka mereka tidak takluk kepada kebenaran Allah (Rm. 10:2-3).

Madame Guyon berkata, "Allah hanya menyukai perintah dan kehendak- Nya sendiri. Dia sekali-kali tidak menyukai pendapat (opini) manusia, sekalipun manusia beralasan dan bijak. Allah menghendaki manusia sebulat hati bagi Dia sendiri. Firdaus tidak lain adalah kepuasan yang tertinggi dari orang beriman terhadap perintah Allah." Karena itu, setiap pelayan Allah sekali-kali tidak dapat melayani Allah menurut opini sendiri. Betapapun cemerlangnya opini Anda, Anda tidak boleh menerapkannya. Kita wajib dengan batin yang cerah, mengenal kehendak Allah, dan melayani Allah menurut kehendak-Nya. Hanya dengan demikian, barulah pelayanan kita mengenai sasaran, tidak sampai sia-sia.

Ada seorang dosen mengisahkan suatu pengalamannya ketika ia mengundang makan seseorang. Ia pernah mengunjungi suatu tempat di mana sulit mendapatkan ikan segar sebagai makanan. Di tempat itu, ikan boleh terbilang sebagai makanan mahal dan mewah. Saat itu, ia mengenal seorang pejabat militer berkebangsaan Inggris, mereka bersahabat. Sejak itu, ia sering berpikir bagaimana mempersiapkan suatu jamuan makan malam dan mengundang sahabatnya itu, untuk bersenangsenang bersama. Suatu hari, ia menemukan seorang koki ahli masakan ikan yang sangat mahir mengolah dan menghidangkan berbagai macam masakan ikan, bahkan sampai belasan macam masakan yang terkenal. Kemudian ia memutuskan untuk mengadakan suatu. "perjamuan ikan" dan khusus mengundang sahabatnya itu. Ia sendiri merasa sangat puas; karena di tempat yang sulit mendapatkan ikan, ia justru menemukan seorang "koki ahli masakan ikan" dan dapat mengadakan "perjamuan ikan" untuk sahabatnya itu. Ini sungguh satu kesempatan yang jarang ada, satu perjamuan yang hebat! Pada malam perjamuan yang telah ditetapkan, selain sahabatnya orang Inggris itu, ia juga mengundang banyak teman yang lain. Ketika memasuki tempat perjamuan, orang-orang memuji bahwa perjamuan ikan ini sungguh luar biasa. Akan tetapi ada satu hal yang sungguh di luar dugaannya, yaitu ia menemukan bahwa sahabatnya itu adalah seorang yang tidak makan ikan! Akibatnya, sahabat Inggrisnya itu hanya makan roti hamburger, yang lainnya sama sekali tidak dimakannya. Demikianlah kemudian dengan terburu-buru ia pulang. Banyak kegairahan dan kegiatan orang Kristen sepertilah dosen yang mengundang makan sahabatnya itu. Mereka hanya menuruti kegairahan alamiah sendiri, melakukan menurut apa yang dipandangnya baik, tanpa bertanya kepada Allah apakah Allah berkenan atau tidak. Akibatnya, walaupun telah melakukan banyak, sedikit pun tidak bisa berkenan kepada Allah!

2. Mengerti Kebenaran Alkitab

Paulus menasihati Timotius, "Usahakanlah supaya engkau layak di hadapan Allah sebagai seorang pekerja yang tidak usah malu, yang berterus terang memberitakan perkataan kebenaran itu" (2 Tim. 2:15), dan "Ingatlah juga bahwa sejak kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci …" (2Tim. 3:15). Melayani Tuhan harus mengenal kebenaran Alkitab, dan memberitakan kebenaran itu dengan tepat. Jika tidak, Anda sendiri akan salah jalan, dan membuat orang lain juga salah jalan. Ibarat orang buta menuntun orang buta, kedua-duanya akan jatuh ke dalam lubang (Mat. 15:14).

3. Dengan Pengajaran dan Hukum Allah Sebagai Standar

Orang-orang Lewi wajib mengenal hukum Taurat. Imam Besar mempunyai Urim dan Tumim untuk mengatasi problem. Musa mengenal jalan-jalan Allah (Mzm. 103:7). Semua itu menunjukkan bahwa setiap pelayan Allah wajib dari batin mengenal kehendak Allah dengan jelas. Pelayanan terhadap Allah sekali-kali tidak boleh dilakukan sembarangan, tidak dapat mengandalkan pendapat Anda dan saya, juga tidak dapat mengandalkan tradisi dan cara bangsa-bangsa kafir, melainkan harus menurut kehendak Allah. Bukan Anda dan saya yang berkata dan berbuat, melainkan bagaimana kata Allah di batin Anda dan saya. Pelayan Allah harus ada pengajaran dan hukum Allah di batin. Bukan berkata seperti orang lain, bukan menurut tradisi leluhur, bukan mengajar orang dengan ajaran-ajaran yang berdasarkan pesan manusia.

Seorang saudara berkata : pemulihan di antara kita semula sungguh sangat murni, tanpa latar apa pun, tanpa maksud dan kaitan apa pun. Pokok utama kita ialah menerima firman Allah dengan mutlak serta menganggap Alkitab sebagai wewenang tertinggi. Setiap perkara selalu kita ukur dengan Alkitab, dan setiap masalah diputuskan dengan firman Alkitab, bukan diputuskan berdasarkan pendapat siapa pun. Pada masa itu, kami sering berdebat berdasarkan Alkitab atas setiap problem. Kami mau Tuhan dan Alkitab, kami menolak kekristenan yang telah menyimpang. Kami ingin menemukan prinsip dari Alkitab tentang kebenaran gereja. Sejak itu, gereja mengalami suatu permulaan baru di belahan Timur, yaitu kembali ke firman Tuhan - Alkitab. Pada saat itu firman Tuhan benar-benar sangat mustika. Kaum muda waktu itu sungguh-sungguh mendambakan Alkitab dan membaca (mempelajarinya) dengan cermat. Kami sering duduk bersama memperdebatkan sebuah masalah. Anda mengutip Alkitab, saya pun mengutip Alkitab. Kami semua bicara berdasarkan Alkitab. Namun kami masing-masing sangat rendah hati. Bila apa yang saya tampak tidak memadai, dan tertampak oleh Anda, saya segera menerima tanpa membantah Anda. Demikian pula sebaliknya. Jadi, dalam menghadapi berbagai masalah, kami semua melepaskan pendapat masing-masing, dan menuruti pendapat Tuhan. Segalanya kami putuskan bersama berdasarkan firman Tuhan.

Saya dapat bersaksi bahwa selama setengah abad ini kita senantiasa setia kepada Tuhan. Kita menderita aniaya, tentangan, fitnah, dan dilukai, karena kita tidak mau kehilangan jabatan imam. Jabatan imam inilah yang menyebabkan adanya Urim dan Turnim pada kita, dan inilah sebabnya kita selalu beroleh terang dari Alkitab. Setiap kali kita membuka firman Allah, kita selalu menerima sorotan terangnya. Inilah pengalaman Urim dan Turnim, dan hal ini adalah berkat besar bagi orang yang memelihara jabatan imam Allah.

III. ALLAH TIDAK MEMAKAI ORANG YANG KABUR

1. Orang Buta Atau yang Bular Matanya Tidak Dapat Menjadi Imam

Keturunan Harun yang buta atau bular matanya tidak layak menjadi imam, tidak boleh mendekati Allah dan mempersembahkan santapan kepada Allah (Im. 21:17-20). Lembu dan kambing buta tidak boleh dipersembahkan kepada Allah sebagai kurban bakaran di atas mezbah (Im. 22:21-22). "Buta"di sini berarti tanpa terang dalam batin, tidak dapat melihat. "Mata bular" berarti keruh dalam batin, tidak jernih, dan tidak jelas. Orang-orang semacam ini tidak dapat dipakai Allah sebagai imam untuk melayani Dia. Keempat makhluk di hadapan takhta penuh dengan mata di sekelilingnya dan di sebelah dalamnya (Why. 4:8). Maka yang buta dan yang bular matanya tidak layak berdiri di hadapan-Nya.

"Bila tidak ada wahyu, menjadi liarlah rakyat" (Ams. 29:18) "Umat-Ku binasa karena tidak mengenal Allah karena engkaulah yang menolak pengenalan itu, maka Aku menolak engkau menjadi imam-Ku, ... Makin bertambah banyak mereka, makin berdosa mereka kepada-Ku, kemuliaan mereka akan Kutukar dengan kehinaan" (Hos. 4:6-7). Pelayanan yang tanpa terang dan wahyu adalah pelayanan yang sembarangan dan liar, itu berdosa kepada Allah.

2. Mengusir Orang-orang Buta

Ketika Daud mengepung Yerusalem, orang-orang Yebus yang menghuni di sana berkata kepadanya, "Engkau tidak sanggup masuk kemari, jika engkau tidak mengenyahkan orang-orang buta dan orang-orang timpang" (2 Sam. 5:6-7 Tl.). Yerusalem adalah tempat Bait Suci didirikan. Arti rohani perkataan itu ialah, jika kita ingin membangun gereja, maka orang-orang buta dan timpang harus diusir. Jadi orang-orang buta dan timpang tidak dapat dipakai untuk pembangunan gereja.

Di daerah Kaisarea Filipi, Tuhan Yesus bertanya kepada murid- murid-Nya, siapakah Anak Manusia? Jawab Petrus, "Engkaulah Mesias (Kristus), Anak Allah yang hidup." Tuhan lalu memuji Petrus dan berkata, "Berbahagialah engkau Simon anak Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di surga." Selanjutnya, Tuhan berkata kepadanya, "... di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku" (Mat. 16:13-18). Orang yang mempunyai wahyu dan pengenalan terhadap Kristus, baru bisa berguna bagi pembangunan gereja.

Surat Efesus merupakan sejilid kitab yang membahas masalah gereja. Pasal 1:17-18 tercantum, "Dan meminta kepada Allah Tuhan kita Yesus Kristus ... supaya Ia memberikan kepadamu Roh hikmat dan wahyu untuk mengenal Dia dengan benar. Dan supaya Ia menjadikan mata hatimu terang, . . . " Orang yang buta berarti tidak ada wahyu terhadap Kristus, tidak jelas terhadap perkara-perkara rohani, karena itu tidak bisa bagi pembangunan gereia. Mata hati kita harus terang dan Kristus terwahyu dalam hati kita. Demikian, barulah kita bisa bagi pembangunan gereja (Gal. 1:16). Paulus mempunyai "pengertian akan rahasia Kristus" (Ef. 3:4) karena itu ia bisa "menjadi pelayan gereja" (Kol. 1:25).

3. Tuhan Mencelikkan Orang Buta

Ketika Tuhan melalui Yerikho, ada dua orang buta duduk sambil meminta-minta di pinggir jalan. Mereka mendengar bahwa Tuhan melalui jalan itu, lalu memohon belas kasihan Tuhan agar mereka dapat melihat. Tuhan tergerak lalu menjamah mata mereka, dan mereka segera dapat melihat serta bangkit mengikuti Yesus. Sebelum mata mereka tercelik, mereka pinggir jalan dan mengemis, tak berguna Kini, mata mereka sudah tercelik, dan dapat mengikuti Tuhan menempuh jalan hayat, baru berguna dalam tangan Tuhan.

IV. JANGAN MENJADI ORANG YANG KABUR

I. Harus Mengerti Kehendak Tuhan

"Sebab itu janganlah kamu bodoh (kabur), tetapi usahakanlah Supaya kamu mengerti kehendak Tuhan" (Ef. 5:17). Kehendak Tuhan ialah agar gereja dipenuhi oleh Dia dan mengekspresikan Dia. Kita wajib mengerti kehendak Allah, dan menuntut kepenuhan Roh Kudus. Tubuh kita bukan untuk menjadi kantong anggur, melainkan untuk dipenuhi oleh Roh Kudus, mengekspresikan Allah dan memuliakan Allah. Jika seseorang itu kabur, tidak mengerti kehendak Allah, ia akan menghamburkan waktu, menuntut kesenangan dan kebahagiaan dunia, dipenuhi oleh anggur duniawi, sehingga tidak berguna untuk kehendak Allah. Jika ia mengerti kehendak Allah, ia akan menyayangi waktu, menggunakan kesempatan untuk menuntut kepenuhan Roh Kudus, hingga berguna untuk kehendak Allah.

2. Harus Tahu Bagaimana Hidup dalam Rumah Allah

Paulus berkata kepada Timotius, "Jadi, jika aku terlambat, engkau sudah tahu bagaimana orang harus hidup sebagai keluarga Allah, yakni jemaat (gereja) dar! Allah yang hidup. . . Dia yang telah menyatakan diri-Nya dalam rupa manusia..." (1 Tim. 3:15-16). Allah berkehendak membangun gereja, agar semua orang saleh dipenuhi Roh Kudus, menjadi tempat kediaman-Nya di dalam Roh dan mengekspresikan Dia. Karena itu, orang yang melayani Dia harus tahu, bagaimana mengatur gereja, memimpin saudara saudari mengenal kebenaran, berlatih dalam ibadah, bagaimana menempuh hidup yang diperkenan Tuhan, bagaimana melayani dengan berkoordinasi dan dibangun bersama. Semua hat ini harus diketahui dan dimengerti dengan sejelas-jelasnya.

Saudara Witness Lee pernah mencontoh Salomo meminta hikmat. Ia berkata, "Ketika saya di Shanghai, saya menerima banyak tugas dari saudara Watchman Nee, dan hal itu membuat saya sungguh takut dan gentar. Sebab saat itu saya boleh dikata tidak pernah bekerja sama dengan orang lain, tidak pernah memimpin pelayanan dengan baik. Saya hanya seorang pelayan di Chefoo, sebuah gereja kecil yang baru berdiri. Sekarang, tiba-tiba saya diamanati kewajiban atas sebuah gereja besar. Saya selamanya tidak lupa, setiap hari saya selalu berdoa untuk satu hat, yakni mencontoh Salomo meminta hikmat dan kepandaian, agar saya tahu bagaimana mengatur gereja-Nya dan mengasuh anak-anakNya. Saya berdoa demikian selama kurang lebih dua sampai tiga tahun. Syukur kepada Tuhan, Tuhan sungguh merahmati saya. Dalam menangani banyak perkara gereja yang penting-penting, Dia telah menjadi hikmat dan kepandaian saya. Saya dapat bersaksi bahwa permohonan seperti itu sangat disenangi Tuhan.

V. BAGAIMANA BARU BISA JERNIH

1. Hidup di Dalam Roh

Dua Timotius 1:7 mengatakan bahwa Allah mengaruniakan kepada kita roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban (Jernih). Kita baru bisa jernih, jika kita hidup di dalam roh. Jika kita hidup di dalam pikiran atau emosi, kita akan terjerumus ke dalam kekeruhan dan kegelapan. Sebab "manusia duniawl (jiwani) tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah, karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan ..." (1 Kor. 2:14). "Ia (Tuhan) yang menangkap orang berhikmat dalam kecerdikannya. Dan lagi : Tuhan mengetahui pikiran-pikiran orang berhikmat; sesungguhnya semuanya sia-sia belaka" (1 Kor. 3:1920). Allah bersabda kepada Ayub, "Siapakah dia yang menggelapkan keputusan dengan perkataan-perkataan yang tidak berpengetuhuan" (Ayb. 38:2). Bila kita hidup dalam pikiran, kita akan terkena tipu muslihat Iblis, sehingga kehendak Allah menjadi kabur, tidak jelas. Ketika Tuhan Yesus berkata kepada murid-murid bahwa Ia pergi ke Yerusalem untuk menerima sengsara dan maut, Petrus berkata menurut pikiran manusia, tanpa menurut pikiran Allah, "Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali tidak akan menimpa Engkau. Lalu Yesus berpaling dan berkata kepada Petrus, ‘Enyahlah Iblis…’" (Mat. 16:21-23).

Imamat 2:11 mengatakan, "Suatu kurban sajian yang kamu persembahkan kepada TUHAN, janganlah diolah beragi, karena dari ragi atau dari madu tidak boleh kamu membakar sesuatupun sebagai kurban api-apian bagi Tuhan." Madu mengacu kepada emosi. Kita tak dapat hidup oleh emosi alamiah. Bila kita hidup oleh emosi alamiah, kita akan terjerumus ke dalam kekaburan. Ulangan 33:8-9 membicarakan suku Lewi. Mereka layak memiliki Urim dan Tumim, justru karena mereka mau menumpas emosi alamiah mereka. "... yang berkata tentang ayahnya dan tentang ibunya : aku tidak mengindahkan mereka; ia yang tidak mau kenal saudara-saudaranya dan acuh tak acuh terhadap anak-anaknya." Semua emosi daging harus dikesampingkan, barulah layak memiliki Urim dan Tumim, baru dapat mengenal kehendak Allah, dan baru dapat menuruti firman Allah. Pikiran dan emosi sering membuat kita kabur. Allah memerintahkan Saul menumpas habis orang Amalek serta semua harta milik mereka, tetapi Saul mengasihani raja Agag dan menyelamatkan kambing domba dan lembu-lembu yang terbaik dan tambun dan segala yang berharga, tidak mau menumpas semuanya itu. Hal ini telah melanggar perintah Allah (1 Sam. 15:3, 9; 13:13). Emosi selalu membuat orang menjadi kabur. Hanya dengan hidup di dalam roh, baru orang bisa jernih.

Seorang saudara berkisah : Dulu, di suatu tempat saya berjumpa dengan seorang sekerja. Ia benar-benar orang yang baik. Tetapi ia hidup di dalam pikiran. Karena itu, ia sukar memahami perkara rohani. Setiap kali saya bersekutu tentang pelayanan dengannya, saya paling khawatir melihat bola matanya berputar, sebab begitu bola matanya berputar, semua perkara yang nyans dimengertinya itu menjadi kabur kembali. Bola matanya berputar menunjukkan pikirannya sedang bekerja. Ia hanya menanggapi dengan pikirannya, tanpa menjamah perkara-perkara Allah dengan rohnya. Karena itu, sangatlah sukar ia memahami perkara-perkara rohani.

Saudari-saudari sering berteriak sewaktu bercakap-cakap, itu menunjukkan percakapan mereka berasal dari emosi. Ketika seorang saudari menangis, ia menyatakan emosinya. Para saudari tidak perlu menyatakan emosi mereka melalui berbicara dengan suara keras, sebab dengan air mata mereka mudah diketahui bahwa mereka bicara dari emosi. Bila saudari-saudari itu tenang, berhenti menyatakan emosi mereka, maka dapatlah mereka mulai berbicara dari dalam roh.

2. Sering Mengharnpiri Tuhan, Bersekutu dengan Tuhan

"Allah adalah terang dan di dalam Dia sama sekali tidak ada kegelapan" (1 Yoh. 1:5). Semakin kita menghampiri Allah, bersekutu dengan Allah, membiarkan air hayat menyuplai kita, niscaya batin kita akan semakin terang dan jernih.

Musa dapat mengenal hukum Allah, menyampaikan hukum dan ketetapan Allah, sebab ia berada di hadapan Allah selama 40 hari 40 malam. Musa dapat menguraikan pola Kemah Pertemuan (tabernakel) dan cara pembuatannya secara rinci, karena ia sekali lagi berada di depan Allah selama 40 hari 40 malam (Kel. 20:21; 24:18; Ul. 10:10). Karena itu, jika kita ingin jernih dan jelas dalam batin, haruslah kita senantiasa menghampiri Tuhan dan bersekutu dengan- Nya. Kita harus menggunakan waktu untuk menghampiri Tuhan, berkontak dengan Tuhan; wajib menggunakan waktu untuk "masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat yang tersembunyi" (Mat. 6:6). Saudara Watchman Nee berkata, "Bila kita mau memberi Allah kesempatan, kita akan sering memperoleh wahyu- Nya."

3. Banyak Mendoa-bacakan Firman Tuhan

Kita harus banyak mendoa-bacakan firman Tuhan dalam hidup sehari-hari, agar roh kita terpilihara, kenyang, dan perkasa, can agar batin kita beroleh terang, menjadi jernih. Melalui doa-baca, firman Tuhan tinggal dengan limpahnya di dalam hati kita, sehingga dapat memancarkan terang pada waktunya untuk memimpin kita. Seperti halnya kedua loh hukum ditaruh di dalam tabut perjanjian, kita pun harus membiarkan firman Tuhan tinggal dengan kaya di hati kita (Kol. 3:16). "Dalam hatiku aku menyimpan janji-Mu, supaya aku jangan berdosa terhadap Engkau" (Mzm. 119:11). "Perintah-Mu membuat aku lebih bijaksana daripada musuh-musuhku, sebab selama-lamanya itu ada padaku" (Mzm. 119:98). "Bila tersingkap, firman-firmanMu memberi terang, memberi pengertian kepada orang-orang bodoh" (Mzm. 119:130).

Tiap kali para imam membakar ukupan, mereka harus menyalakan pelita, dan tiap kali mereka menyalakan pelita, mereka harus membakar ukupan. Itu berarti tiap kali kita membaca Alkitab (menyalakan pelita), kita harus berdoa (membakar ukupan). Membaca Alkitab dan berdoa seharusnya merupakan satu perkara, harus berbaur menjadi satu. Jika kita tidak membaca firman Tuhan, kita akan berdoa dalam kegelapan, berdoa sembarangan, sebab tidak ada terang. Ketika kita membaca Alkitab, pelita itu menjadi nyala, kita akan berada dalam terang, dan dapat mengetahui harus bagaimana berdoa.

Selama berabad-abad, banyak orang beriman mempraktikkan berdoa dengan firman Allah, antara lain adalah George Whitefield. Ia seangkatan dengan John Wesley. Ketika Whitefield berlutut di hadapan Allah, ia berdoa memakai kitab Perjanjian Baru bahasa Yunani. Berdoa dengan memakai firman inilah rahasia kekuatan rohaninya.

George Muller adalah seorang tokoh yang beriman besar. Persekutuannya dengan Tuhan sangat baik. Dalam buku hariannya tercatat bahwa setiap pagi dengan Alkitab di tangan, ia berjalan sambil membaca dan berdoa di halaman rumahnya, itu benar-benar berdoa-baca. Menurut Muller, kita tidak saja harus membaca Alkitab, merenungkan Alkitab, juga harus berdoa dengan Alkitab. Setelah membaca sepotong ayat Alkitab, lalu berdoa dengan ayat-ayat itu.

Cara berdoa-baca sedemikian ini layak dipraktikkan oleh orang-orang yang menghampiri dan menikmati Tuhan dari abad ke abad.

4. Membaca Buku-buku Tulisan Saudara-saudara yang Senior

Di tengah-tengah kita banyak buku yang diwariskan oleh saudara-saudara senior kita, yang berisi terang yang sangat berhorga. Misalnya tentang bagaimana seharusnya kita melayani Allah, membangun gereja, mengelola gereja, bagaimana bertutur kata, berperilaku, bagaimana hidup di dalam roh, menempuh kehidupan orang Kristen yang normal, memberitakan Injil, membina orang-orang yang baru percaya, dan banyak terang lainnya yang perlu kita baca dan manfaatkan. Kita harus mewarisi terang-terang itu, baik yang kita peroleh sendiri atau yang kita peroleh melalui orang lain, agar batin kita semakin terang, berlimpah, dan jernih.

Saudara Watchman Nee dapat menerima kekayaan rohani yang diwariskan dari abad ke abad. Saudara Witness Lee berkata : Dalam hidup saya, saya belum pernah menjumpai orang Kristen yang dapat dibandingkan dengan Saudara Watchman Nee. Saya benar-benar telah mendapat bantuan yang paling besar dan paling tinggi darinya. Ia telah menyerap butir-butir yang baik dari antara pelaksanaan orang Kristen dari berbagai aliran. Misalnya dari bapak-bapak gereja kuno, dari gereja ortodoks Yunani, bahkan dari Roma Katholik. Ada pula dari golongan Presbyterian, Baptis, atau aliran Pentakosta. Boleh dikatakan, hampir semua hal yang baik dari setiap aliran dan setiap praktik orang Kristen dikumpulkan olehnya. Ia benar-benar layak disebut seorang kolektor yang ulung. Padanya nyaris serba ada. Segala yang baik dari praktik orang Kristen dari berbagai aliran, diambilnya dan disatukan dalam hidup gereja. Ketika untuk kali pertama saya berkumpul dengannya pada tahun 1933, saya menemukan, betapa ia bertumpu di atas pundak orang banyak.

Saudara Watchman Nee benar-benar mengenal Alkitab. Saya belum pernah menemukan orang yang pengenalan Alkitabnya sedalam ia. Ia mengenal hayat dan Tuhan, juga sangat mengenal sejarah gereja. Ketika baru berusia dua puluh lebih, ia sudah mengoleksi paling sedikit 3.000 lebih jilid buku. Buku-buku tentang praktik hidup orang Kristen yang diterbitkan pada abad pertama pun ia miliki. Di masa itu, jika orang masuk ke dalam ruang tidurnya, boleh dikata tidak ada benda lain kecuali buku. Sampai-sampai di atas tempat tidurnya terjejer dua baris buku, dan hanya tersisa sedikit tempat di tengah-tengah untuk ia berbaring. Buku, buku, ya, di sana sini buku. Terkadang orang mengatakan bahwa ia seolah-olah terbenarn dalam tumpukan buku.

Ketika ia menyinggung berbagai perkara dalam sejarah gereja, ia tidak perlu memeriksa lagi buku-buku yang pernah dibaca. Ia dapat memberi tahu orang, apa yang ditulis dalam buku ini, apa yang ditulis dalam buku itu. Ia sangat mengenal sejarah gereja.

Saudara Watchman Nee mengatakan bahwa kebenaran Allah tidak menyangkal apa yang ada dari dulu, melainkan mengumpulkannya. Jadi, kebenaran Allah di masa silarn merupakan dasar kebenaran-Nya yang sekarang. Apa yang tampak oleh kita hari ini adalah wahyu yang dikumpulkan Allah. Ketika Allah mencelikkan mata kita dan membuat kita tampak fakta ini, barulah kita menemukan bahwa hari ini kita hidup dalam arus kehendak Allah. Dan arus ini maju terus ke depan, melanjutkan pekerjaan Allah di masa-masa lalu.

5. Belajar dan Mengalami

Mengelola gereja harus mempunyai daya pembeda rohani. Dalam suatu gereja lokal, mungkin banyak kesulitan, banyak masalah benar atau salah. Jika kita tidak memiliki daya pembeda, mustahil kita bisa mengatasinya; kita hanya akan membiarkannya berlarut-larut. Itulah penyebab utama kelemahan dan ketidaksehatan di dalam gereja; segalanya seolah menempuh jalan buntu, tanpa penjelasan, dan serba kabur. Jika kita ingin gereja perkasa, setiap aspek berada di atas relnya, kita perlu memiliki daya pembeda. Itu bukan pandangan yang duniawri, atau kearifan dan hikmat manusia, melainkan yang diperoleh melalui belajar, menerima penanggulangan, mempunyai pengalaman, dan menghabiskan banyak waktu menuntut kebenaran di hadapan Tuhan.

Berapa banyak daya pembeda yang kita miliki tergantung pada berapa banyaknya kita belajar dan mengalami. Dalam hat ini tidak ada jalan pintas, tidak ada jalan lain. Jika Anda belum diselamatkan, Anda selamanya tidak dapat mengetahui orang yang beroleh selamat; jika Anda tidak pernah mempersembahkan diri, Anda tidak akan mampu membedakan orang yang sudah atau belum mempersembahkan diri. Berapa tinggi tingkat pelajaran Anda di hadapar Allah, dan berapa tinggi tingkat pengalaman Anda, setinggi itu pulalah tingkat daya pembeda Anda. Daya pembeda yang paling hebat berasal dari penanggulangan yang paling hebat pula. Jika Anda di hadapan Allah selalu menghakimi motivas Anda atas setiap perkara, yakni segera menghakimi motivasi yang tidak murni, maka Anda mudah sekali menjamah motivasi saudara saudari. Demikian pula, jika Anda belajar menghakimi daging, begitu Anda berjumpa dengan orang yang hidup dalam daging, Anda mudah merasakan kedagingannya. Ada indra pencium rohani yang hebat pada diri Anda, itulah daya pembeda Anda. Dalam Alkitab, kita membaca bahwa seorang imam yang melayani Allah tidak boleh berhidung pesek. Itu berarti tidak memiliki perasaan rohani, atau daya pembeda rohani.

Jika Anda pernah menempuh pelajaran konsikrasi secara hebat dan Anda tunduk mutlak di bawah wewenang Tuhan, maka indra pencium rohani Anda pada aspek ini sangat hebat. Ketika Anda berkontak dengan siapa saja, Anda segera tahu apakah ia sudah menyerahkan hak miliknya di hadapan Allah atau belum. Walau ia sudah menjadi penginjil, hak miliknya belum diserahkan kepada Tuhan; walau ia telah menjual harta dan membagi-bagikannya kepada orang lain, hak miliknya belum diserahkan kepada Tuhan; walau ia telah merelakan diri bagi orang lain, bahkan rela menjadi martir untuk Tuhan, tetapi hak miliknya masih digenggam dalam tangannya sendiri. Kalau Anda pernah berlatih dalam hat konsikrasi, perasaan Anda dalam hat ini akan sangat peka sekali. Orang lain tidak bisa menipu Anda. Perasaan yang peka itulah daya pembeda Anda.

Misalnya, dalam hal kebenaran, jika Anda tidak mengkajinya dengan saksama, tidak mempelajari dengan sungguh-sungguh, saat Anda menghadapi masalah kebenaran, dengan sendirinya Anda tidak mampu membedakannya; semuanya Anda anggap hampir sama. Namun, bagi orang yang pernah bergumul dalam kebenaran, yang pernah menerapkan kebenaran, ia akan sangat mahir dalam kebenaran dan memiliki daya pembeda atas kebenaran.

Saudara Witness Lee berkata, "Ketika saya masih muda, saya pernah mendengar seorang saudara senior menjelaskan masalah kebenaran. Saya tak dapat tidak salut. Ada seseorang mengajukan satu pertanyaan atas dua hal yang sangat mirip, sukar untuk dibedakan. Namun saudara senior tersebut dapat membedakannya dengan jelas dan gamblang. Tidak peduli di dalam masalah itu ada berapa banyak tabir asapnya, begitu diajukan, sudah jelas baginya. Demikian tajam daya pembedanya, sehingga begitu Anda bertanya, ia sudah tahu apa yang terselip di balik pertanyaan Anda. Banyak orang bersaksi : sebenarnya aku ingin mengajukan pertanyaan selanjutnya, tetapi ketika ia menjawab pertanyaanku yang pertama, mulutku telah tersumbat, dan aku merasa tidak perlu bertanya lagi. Begitu mendalamnya daya pembedanya, sehingga Anda tidak mungkin bertindak ceroboh di hadapannya."

6. Melatih Pikiran dan Penyampaian

Kita harus berlatih agar pikiran kita lancar, tidak membiarkan pikiran berliku-liku fidak jelas. Apa saja dapat dibereskan. dengan baik. Dalam mengungkapkan perkataan harus jelas, begitu dituturkan keluar orang segera mengerti maksud Anda. Jangan meniup nafiri tanpa nada (1 Kor. 14:8). Jangan sudah bicara banyak, tetapi pendengar Anda belum menangkap maksudNya, malah membuat orang bingung. Bahkan, ketika Anda berdiri untuk menyampaikan pengumuman dalam sidang, Anda pun harus berlatih menyampaikannya dengan kata-kata yang sederhana, padat, jelas, dan tepat, agar semua pendengar mengerti pokok pengumuman Anda, dan terkesan dalam hati mereka.