Daftar isi Karakter · bab 27/30

TEKAN

I. TEKAN ADALAH DITEKAN, DITINDAS, DIGENCET

II. YANG PERNAH DITEKAN ALLAH

BARU DAPAT BERGUNA

Di dunia ini, banyak benda, kalau ingin kuat dan kokoh, mempunyai fungsi dan nilai tinggi, harus terlebih dahulu melalui penekanan atau penindasan. Setelah besi baja dibakar dan ditempa, barulah dapat menjadi berbagai macam perkakas. Segenggam pasir mineral terkubur di dalam kedalaman tanah, setelah melalui panas dan tekanan tinggi bertahun-tahun lamanya, barulah dapat menjadi batu krisopras yang baik. Segumpal tanah liat ditaruh di dalam tanah, melalui panas yang tinggi, tekanan tinggi, bertahun-tahun lamanya, barulah dapat menjadi batu kecubung. Sebuah batu arang juga ditaruh di kedalaman tanah, melalui panas yang tinggi dan tekanan yang tinggi bertahun-tahun lamanya, barulah dapat menjadi batu permata yang gemerlapan. Buah zaitun digencet, baru keluar minyaknya yang dapat dioleskan pada tubuh. Buah anggur melalui penggencetan, baru dapat menjadi arak anggur yang menyenangkan manusia. Narwastu setelah melalui diproses, ditekan, barulah menjadi minyak yang harum semerbak.

1. Perkakas dalam Bait Suci Dibuat melalui Penempaan

Banyak perkakas dalam Bait Suci dibuat melalui penempaan. Dua kerub emas dibuat dari emas tempaan (Kel. 25:18). Kaki pelita emas dibuat dari sepotong emas tempaan yang murni (Kel. 25:36). Potongan emas ditempa menjadi lembaran, barulah dapat dipakai membungkus tabut, dan meja roti sajian. Benang emas yang disularnkan pada pakaian kudus yang dipakai oleh Imam Besar juga dari emas murni yang ditempa menjadi lembaran, kemudian digunting menjadi benang. Demikian juga dengan yang lainnya.

2. Orang yang Dipakai secara Besar-besaran

oleh Allah selalu melalui Penekanan

Yesaya 53:5 mengatakan, "Dia (Tuhan Yesus) diremukkan oleh karena kejohatan kita." Ayat 10 mengatakan, "TUHAN berkehendak meremukkan dia." Ini menampakkan kepada kita bahwa Allah berkehendak meremukkan Dia agar Dia menjadi kurban penebus dosa. Allah mau memakai Dia, maka Allah berketetapan untuk menekan, meremukkan Dia.

Di rumah, Yusuf adalah anak kesayangan Yakub, tidak ada orang yang menekan dia. Dia perlu dijual sebagai budak; TUHAN perlu menekan dia; harus dijebloskan ke dalam penjara, menjadi tahanan. Setelah itu, barulah Yusuf dapat menjadi perdana menteri, mengatur seluruh tanah Mesir, bahkan membagi-bagikan makanan kepada orang banyak.

Daud ditekan oleh ayah, ibu, dan kakak-kakaknya, disuruh pergi ke padang belantara menggembala domba; juga bertahun-tahun ditekan di bawah tangan Saul, demikian baru dapat menjadi orang yang sesuai dengan hati Allah, berkuasa bagi Allah, memerintah negara Israel.

Paulus setiap hari ditekan, bahkan begitu berat ia ditekan, baru dapat dipakai Allah secara besar-besaran, menjadi seorang yang menyuplai orang lain, menghibur orang lain (2 Kor. 1:4, 8; 11:28). Dia dapat menyebarkan keharuman pengenalan akan Kristus di mana-mana (2 Kor. 2:14), karena telah mengalami penekanan, bahkan ditekan begitu berat. Tekanan ini menghasilkan bau harum pengenalan akan Kristus.

"Engkau telah membawa kami ke dalam jaring, mengenakan beban pada pinggang kami; Engkau telah membiarkan orang-orang melintasi kepala kami; kami telah menempuh api dan air, tetapi Engkau telah mengeluarkan kami sehingga bebas. Aku akan masuk ke dalam rumah-Mu dengan membawa kurban-kurban bakaran, aku akan membayar kepada-Mu nazarku" (Mzm. 66:11-13). Di sini menunjukkan bahwa hanya orang yang telah melalui penekanan berat yang dapat mempersembahkan kurban bakaran kepada Allah, dapat memiliki pelayanan yang harum, dapat diperkenan Allah (Im. 1:9)

Seorang saudara berkata, "Orang yang dapat di dalam kegelapan, kegersangan, ketawaran, kekacauan, tidak mempedulikan diri sendiri, melainkan menyenangi segala yang dari Allah, adalah orang yang hidup bagi Allah."

Wewangian, semakin ditekan, bau harumnya akan semakin kental; batu permata yang jernih kemilau memerlukan waktu penggosokan yang paling lama di tangan ahli permata; ukiran yang paling berharga mengalami goresan besi ukir paling banyak.

Kobaran api yang paling membara adalah tatkala pada kobaran tersebut sedang ditusukkan tiang sodok untuk merenggangkan kayu-kayu; bau kayu aras yang paling harum adalah tatkala ia dilemparkan ke dalam api dan dibakar. Demikian pula hayat yang paling berlimpah dari orang Kristen adalah melalui penekanan oleh berbagai penderitaan dan ujian. Sebuah hati yang telah ditekan, barulah dapat mengeluarkan bau harum kasih.

Lihatlah kecambah dari jenis kacang-kacangan; misalnya kacang hijau. Mengapa ada yang kurus-kurus dan panjangpanjang, ada juga yang gemuk, padat. Ini dikarenakan ketika proses terjadinya kecambah, di atas biji-bijian itu harus diberi beban yang cukup berat untuk menekan biji-biji tersebut. Ada orang yang menaruh batu besar yang cukup berat di atas biji-biji tersebut. Semakin berat tekanannya, kecarnbah yang bertumbuh akan gemuk, padat; kalau tidak ditekan dengan berat, kecambah yang bertumbuh akan kurus-kurus dan panjang-panjang, rasanya tidak enak. Memang benar, tidaklah nyaman berada di bawah tekanan berat itu; tidak salah, ketidaklancaran keadaan, kesulitan kehidupan, beban keluarga, belenggu penyakit, semuanya tidaklah mengenakkan. Namun, semakin berat tekanannya, semakin gemuk dan padat kecambah yang dihasilkan. Ya, semakin banyak kesulitan, semakin cepat pertumbuhan rohani seseorang. Orang yang ditekan, yang tidak sembarangan, dapat menjadi kokoh, padat.

Saudara Watchman Nee adalah orang yang sangat pandai, dia dengan baik belajar bahasa Inggris dan bahasa Mandarin. Bahkan orang tuanya mengundang seorang pengajar khusus untuk mengajarinya bahasa Mandarin kuno. Begitu ia beroleh selamat, ia mulai mencintai Tuhan, ingin bekeda bagi Tuhan. Lalu ia harus belajar kepada siapa? Kemudian dia memutuskan untuk meninggalkan sekolah dan pergi ke Shanghai, untuk belajar di suatu sekolah Alkitab yang khusus melatih para pemuda, sekolah ini dipimpin oleh Saudari Ie Tze Tu. Ibu Saudara Watchman Nee juga cinta Tuhan, juga sangat menghormati Saudari Ie, ia menyetujui kalau Saudara Watchman Nee pergi belajar di sana. Pernah sekali, Saudari Ie menyuruh Saudara Nee mengirim beberapa surat ke kantor pos (dari pinggiran kota Shanghai ke pusat kota). Tetapi waktu yang dipakai lebih lama sedikit daripada waktu yang telah ditetapkan Saudari Ie. Saudari Ie mengira Saudara Nee pasti mengulur-ulur waktu itu untuk main-main, maka ia ditegur dengan keras dan dikembalikan kepada ibunya. Tetapi Saudara Nee tidak menaruhnya dalam hati, ia kembali ke Fuchow meneruskan sekolahnya, bahkan makin cinta Tuhan. Ia mengenal dengan jelas bahwa pengalaman ini adalah pemberian Tuhan kepadanya.

Seorang saudara berkata, "Saudara saudari muda yang baru keluar melayani Tuhan, harus belajar menerima tekanan. Kalau tidak ditekan, tidak akan menjadi bejana. Saudara Nee adalah satu contoh yang sangat baik.

III. TELAH MENGALAMI PENEKANAN,

SESUAI BAGI PEMBANGUNAN GEREJA

Orang yang tidak pernah ditekan, pelayanannya kepada Tuhan bisa menjadi liar, perkataan apa pun berani diucapkan, perkara apa pun berani dilakukan, berita apa pun berani dikhotbahkan, mara bahaya apa pun berani diterjang. Hasilnya, di mana-mana menimbulkan kesulitan bagi gereja. Orang yang tidak pernah ditekan adalah orang yang seenaknya, kalau berkoordinasi dengan orang lain sulit terhindar dari pergesekan, tidak mudah bekerja sama. Orang yang pernah ditekan, tidak bertumbuh menurut diri sendiri, tidak berkembang dengan bebas, demikian baru dapat menurut maksud hati Tuhan, digarap menjadi sesuai bagi pembangunan gereja, mudah bekerja sama. Tidak saja tidak akan melampaui batas, menginjak orang lain, bahkan bisa menggenapkan orang lain.

Ketika membangun Bait Suci, tidak terdengar suara perkakas besi, karena bahan-bahan telah dipersiapkan di penggalian di atas gunung, semuanya telah disiapkan dengan memadai (1 Raj. 6:7)

Seorang saudara berkata: Membangun gereja perlu kerja sama yang sehati. Kalau mau memiliki kerja sama yang sehati, tidak bisa kekurangan penanggulangan Tuhan. Meskipun diri sendiri tidak ada kesalahan apa-apa, masih tetap harus ditanggulangi. Ini bagaikan membangun sebuah rumah; ada kayu cendana atau kayu aras, bahannya sungguh baik, tidak ada mata kayu juga tidak ada cela. Namun, ketika diukur, kalau terlalu panjang, kayu ini perlu dipotong sebagian, baru ukurannya cocok dan tepat. Kalau saja kayu itu memiliki perasaan, mungkin ia akan berkata pada tukang kayu, "Mengapa engkau memotong aku? Apakah aku telah berbuat salah? Apakah padaku ada sambungan atau mata kayu? Ada cela? Atau ada masalah apa?" Kalau saya tukang kayunya, saya akan memberi tahu kayu aras itu, "Ini bukan masalah ada tidaknya kesalahan. Akan tetapi coba lihat, berapa panjang dirimu. Kamu tahu, saya mau memakaimu sebagai tiang pintu, tetapi pintu itu hanya setinggi dua meter. Kamu kelebihan panjang beberapa centimeter; bagaimana menurutmu? Perlu saya turun tangan untuk menggergaji, memotongmu sedikit. Kalau tidak, kamu tidak akan berguna dalam pembangunan ini." Ketahuilah, kayu ini hanya bisa menahan sakit dan membiarkan tukang kayu menanggulanginya menurut kemauan tukang kayu itu.

Seorang yang memiliki karunia, kalau tidak membiarkan Kristus menjadi kepala di dalam dirinya melalui penanggulangan salib, maka cepat atau lambat, karunia yang ada padanya akan menjadi kesulitan dalam gereja. Meskipun pada awalnya seolah karunianya itu berfaedah bagi gereja, tetapi pada akhirnya akan merusak pembangunan gereja. Pembangunan gereja yang sejati tidak dititikberatkan pada adanya orang-orang yang memiliki karunia, melainkan terletak pada adanya minister seperti Paulus, yang telah melalui peremukan salib, di dalamnya penuh kadar Kristus. Lihatlah Paulus, ia telah mengalami berkali-kali diukir, ditekan, dipukul, digosok,oleh Allah, sampai akhirnya hancur, dan di atas dirinya penuh dengan susunan Roh Kudus, penuh dengan kadar Kristus. Hanya minister semacam. ini yang dapat mendatangkan pembangunan yang sejati bagi gereja.

IV. TELAH MENGALAMI PENEKANAN,

MENJADI BEJANA YANG BERHARGA,

MENGEKSPRESIKAN ALLAH

Penekanan dapat menghasilkan arak, penekanan dapat menghasilkan minyak, penekanan dapat menghasilkan bau harum yang mengekspresikan Allah, mengalirkan Allah, menyuplai orang.

Sebelum Madame Guyon menikah, ia hidup serba enak dan nyaman di dalam rumah orang tuanya; semua tersedia, penuh kasih. Tetapi setelah ia menikah, tinggal di rumah mertuanya, sama sekali berkebalikan. Orang-orang di sana menentang dia, memperlakukan dia dengan tidak baik, membuat dia mengalami tekanan yang berat. Tadinya dia memiliki sifat bawaan yang lincah, namun karena ditekan sedemikian rupa, ia menjadi seperti seekor domba yang akan digunting bulunya. Hasilnya, dari dirinya mengalir berkat dan kasih karunia Allah, di atas dirinya hanya ada bau harum yang mengekspresikan Allah, sehingga banyak orang mendapatkan bantuan rohani. Dia juga pernah sejangka waktu dipenjarakan. Sering kali, karena terkurung dalam sangkar, burung kecil justru bisa berkicau dengan lebih merdu, enak didengar. Demikian juga sukacita dalam hatinya menggema ke luar tembok penjara, sehingga mengusir penderitaan dan kesedihan banyak orang. Kitab Wahyu yang ditulis Yohanes di pulau Patmos, Surat-surat Kiriman yang ditulis oleh Paulus, telah memberikan betapa banyak suplai rohani kepada orang. John Bunyan, dalam penjara selama 12 tahun, telah menulis buku Perjalanan Seorang Musafir yang sangat membantu banyak musafir surgawi. Gandum pembuat roti digiling dengan penggiling sampai hancur (Yes. 21:28). Dari dalam Alkitab kita tampak bahwa orang-orang yang memiliki suplai rohani yang limpah, sebelumnya telah mengalami peremukan, penindasan, kemudian baru bisa menjadi suplai bagi orang lain.

Pernah sekali seorang saudara bercerita : kira-kira tiga puluh tahun yang lalu, di bagian utara Provinsi Chiangshu saat itu sedang dalam keadaan paceklik. Ada seorang perempuan muda yang hidup dalam keluarga miskin. Pada suatu hari, ia jatuh sakit. Dalam sakitnya, dia mendapatkan rahmat dan percaya Tuhan. Di bawah tentangan yang hebat dari seluruh keluarganya, ia mengalami kemajuan hayat rohani yang pesat. Pada waktu itu pula, suaminya meninggal, sehingga ia yang sudah tertekan makin tertekan lagi. Dia bagaikan keluar dari alat pemeras anggur yang satu, segera masuk ke dalam pemeras anggur yang lain. Dia sedikit seka.1i tahu teori-teori, tetapi dia benar-benar telah di dalam roh mengalami Kristus. Hari demi hari dia menikmati Kristus, bahkan mempersaksikan bahwa Kristus adalah hayatnya. Semakin hebat keluarganya menentang dia, dia semakin rajin bersidang; semakin mertua perempuannya memukulnya, menganiaya dia, dia semakin menyanyikan kidung pujian. Dia semakin gembira, sebaliknya, mertua perempuannya semakin memuncak amarahnya, dan semakin memukuli dia. Tetapi dia tidak dapat dihentikan oleh ancaman. Pukulan mertua perempuannya malahan semakin membuat dia mempersembahkan pujian. Pada suatu hari, pulang dari sidang, dia sambil menyanyi pulang ke rumah, mertua perempuannya sangat marah dan berteriak kepadanya, "Sebenarnya kau ini bagaimana? Kita demikan melarat, kau masih bisa menyanyi!" Sambil kembali memukul dia. Saudari muda ini masuk ke kamarnya, mengunci pintu, lagi-lagi menyanyikan kidung pujian, bahkan berdoa dengan suara nyaring. Mendengar ada suara lagi, mertua perempuannya datang mendekat ke pintu kamar, ingin mendengar dan mengetahui apa yang sebenarnya telah terjadi; ia mengira jangan-jangan menantunya telah gila. Dengan serius mertua perempuannya mendengar, ternyata saudari muda ini sedang berdoa, katanya, "Oh, Tuhan, aku memuji-Mu, aku bersyukur kepada-Mu, aku sungguh bersukacita. Ampunilah mertua perempuanku, selamatkan dia, terangilah dia, dan berilah sukacita yang telah kudapat kepadanya! Ya Tuhan, berkatilah dia!" Mendengar ini mertuanya merasa sangat heran, tadinya ia mengira bahwa menantunya ini pasti sedang mengutukinya, ternyata malah berdoa bagi dirinya. Kemudian mertuanya mengetuk pintu kamar. Saudari muda ini mengira mertuanya akan memukul dia lagi, siapa tahu, mertuanya bertanya kepadanya, "Anakku, bagaimana kamu ini? Aku memukulmu, mengapa kamu masih berdoa untukku, memohon Allahmu memberkati aku, mengaruniakan sukacita kepadaku? Kamu sebenarnya bagaimana?" Dia segera menjawab, "Oh ibu, Kristus telah memuaskan aku, aku sungguh puas, aku penuh dengan kemanisan. Ya ibu, tahukah engkau, semakin engkau memukulku, aku semakin mendapatkan kemanisan dan kepuasan." Mertuanya masuk ke dalam kamar, memegang tangan menantunya dan berkata, "Anakku, marilah kita berlutut, ajarlah aku berdoa, aku mau menerima Yesusmu menjadi Yesusku."

Kisah ini memperlihatkan kepada kita penindasan malah membuat seseorang lebih mengalami kemanisan dan kepuasanNya, sehingga mengekspresikan dan mengalirkan Allah.

V. PENEKANAN ADALAH SIKSAAN DARI KASIH TUHAN

1. Bisa Dipakai Allah

Penekanan dapat menjadikan orang dipakai oleh Allah, penekanan dapat membuat orang mengekspresikan Allah, mengalirkan Allah. Semua ini berasal dari kasih Tuhan, seolah-olah adalah siksaan, tetapi sebenarnya adalah penggenapan. Kidung No. 458 berbunyi :

Tanpa buah zaitun digencet, takkan ngalir minyak,

Tanpa buah anggur dikilang, takkan jadilah arak

Tanpa narwastu menjadi 'raksi, takkan bersemerbak;

Jugakah diriku ini, Kau bolehkan terluka?

Kalau situasi menekan Anda dengan hebat, janganlah menghindar darinya, karena inilah tangan Sang Penjunan. Baik batu permata maupun kecubung, selalu tersembunyi dalam batu-batu yang kasar dan jelek. Tabernakel di padang gurun, di luarnya terlihat kulit lumba-lumba yang jelek, tetapi di dalamnya terdapat benda yang mustika. Allah dapat mengirimkan benda-benda yang sangat berharga kepada Anda, walaupun kotak atau bungkus luarnya sangat jelek, tetapi yang terkandung di dalamnya adalah benda mustika yang berasal dari kasih dan wahyuNya. Kita menerima pangkasan (pemotongan dahan) dari Tuhan, meskipun pisau-Nya memotong cukup dalam, menyakitkan, tetapi begitu memikirkan "Bapa-Kulah pengusahanya" (Yoh. 15: 1), kita segera mendapatkan hiburan yang tidak terkatakan.

Banyak doa keluar karena penekanan. Manusia mudah kendur, begitu situasi lancar, tidak ada kesulitan apa-apa, damai, maka doanya menjadi kendur. Penekanan situasi membuat orang tidak dapat tidak berdoa kepada Tuhan, "Berserulah kepada-Ku pada waktu kesesakan, Aku akan meluputkan engkau, dan engkau akan memuliakan Aku" (Mzm. 50:15). "Apabila engkau dalam keadaan terdesak dan segala hal ini menimpa engkau di kemudian hari, maka engkau akan kembali kepada TUHAN, Allahmu, ..." (Ul. 4:30).

Banyak pengalaman terhadap Tuhan juga dihasilkan karena penekanan. Seperti yang Paulus katakan, "… penderitaan yang kami alami di Asia Kecil. Beban yang ditanggungkan atas kami begitu besar dan begitu berat, sehingga kami telah putus asa juga mengenai hidup kami.... supaya kami jangan menaruh kepercayaan pada diri kami sendiri, tetapi hanya kepada Allah yang membangkitkan orang-orang mati" (2 Kor. 1:8-9). Penekanan ini membuat Paulus tidak bersandar pada din sendiri, melainkan bersandar kepada Allah, mengalami Dia.

Banyak penekanan dapat membuat kita terlepas dari dosa-dosa yang mudah menyusahkan kita.

Saudara Witness Lee berkata, "Beberapa puluh tahun yang lalu, banyak orang yang dengan tergesa-gesa menyelamatkan diri dari China daratan ke Taiwan, demikianlah keadaannya waktu itu, dan orang tidak memiliki banyak waktu. Kalau kita berlambat-lambatan, kita akan menemukan bahwa tidak ada transportasi lainnya. Kita pun dipaksa meninggalkan banyak benda. Sebelum masa itu, kami yang mengemban pelayanan firman Tuhan, berusaha membantu beberapa orang menyingkirkan kehidupan "beragi" yang ada di tengah-tengah mereka, tetapi mereka tidak mau mendengarkan, bahkan sebaliknya, memegang erat barang-barang dosa, yaitu barang-barang yang dalam pandangan Allah sebagai "beragi." Ketika mereka dipaksa/ditekan sehingga meninggalkan China daratan, tidak ada pilihan lain, mereka harus meninggalkan semua "ragi" itu. Ketika kami tiba di pulau Formosa, kami merasa sangat gembira karena banyak "ragi" telah tersingkirkan. Kadangkala Allah bahkan memakai kelemahan tubuh atau penyakit supaya kita terpisah dari "ragi." Mungkin Anda masih ingin melakukan dosa atau kejahatan tertentu, tetapi karena kelemahan tubuh, Anda tidak dapat melakukannya lagi. Melalui situasi sekeliling, Allah bekerja menekan Anda sehingga Anda meninggalkan "ragi."

2. Telah ditakar-Nya

Tuhan memperlakukan kita menurut tingkatan hayat kita. Semua tekanan telah melalui penakaran-Nya, tidak melampaui apa yang dapat kita tanggung. "Siapa yang menakar air lout dengan lekuk tangannya dan mengukur langit dengan jengkol, menyukat debu tanah dengan takaran, menimbang gunung-gunung dengan dacing, atau bukit-bukit dengan neraca?" (Yes. 40:12). Segalanya telah melalui penakaran, telah melalui penimbangan-Nya, kita harus percaya, tidak bimbang. Semuanya telah melalui penelitian yang sangat dalam dan memakai hitungan yang sangat matang, untuk bagaimana menghadapi dan menanganinya.

3. Tidak Jatuh, Tidak Patah

Hati-Nya betapa lemah lembut dan rendah hati, gandar yang dipasang-Nya adalah menyenangkan dan beban-Nya pun ringan (Mat. 11:29-30). Tidak akan ditekan hingga jatuh terluka, Dia tidak mematahkan (Mat. 12:20).

VI. HARUS MENERIMA PENEKANAN

Jangan terlalu bebas, jangan enak-enakan, harus menerima penekanan. Hakim-Hakim 9:8-13 mengatakan, "Sekali peristiwa pohon-pohon pergi mengurapi yang akan menjadi raja atas mereka. Kota mereka kepada pohon zaitun : Jadilah raja atas kami! Tetapi jawab pohon zaitun itu kepada mereka : Masakan aku meninggalkan minyakku yang dipakai untuk menghormati Allah dan manusia, dan pergi melayang di atas pohon-pohon? Lalu kata pohon-pohon itu kepada pohon ara : Marilah, jadilah raja atas kami.! Tetapi jawab pohon ara itu kepada mereka : Masakan aku meninggalkan manisanku dan buah-buahku yang baik dan pergi melayang di atas pohon-pohon? Lalu kata pohon-pohon itu kepoda pohon anggur : Marilah, jadilah raja atas kami! Tetapi jawab pohon anggur itu kepada mereka : Masakan aku meninggalkan air buah anggurku, yang menyukakan hati Allah dan manusia, dan pergi melayang di atas pohon-pohon?" Jangan melayang-layang, jangan bebas, jangan berada di atas pohon-pohon; harus menerima penekanan, baru bisa mempunyai arak, baru bisa mempunyai pelayanan yang memuaskan Allah, baru bisa mendatangkan suplai hayat kepada orang.

Saudara Watchman Nee berkata, "Bagaimana keadaan hayat seorang beriman, dapat dilihat dari bagaimana sikapnya terhadap penekanan atas dirinya."

1. Menerima Penekanan dalam Gereja

Gereja adalah kebun anggur Tuhan; di sana ada tempat pemerasan anggur. Dalam gereja, Tuhan akan menekan orang agar ia mengeluarkan air anggur. Dalam gereja ada aspek kenikmatan, yaitu menikmati kelimpahan Kristus, mendapatkan suplai hayat, berbuah. Dalam gereja juga ada aspek "penekanan", yaitu menekan buah-buah anggur agar mengeluarkan air anggur. Ada kalanya gereja bisa membuat Anda penuh kenikmatan, sukacita, dan menyanyi haleluya. Ada kalanya gereja juga menekan sedemikian rupa sehingga Anda tidak dapat mengangkat kepala Anda. Karena itu di dalam gereja, kita tidak saja menikmati suplaian, juga menerima penekanan.

Semua wewenang, susunan, pengaturan, koordinasi dalam gereja merupakan suatu kesempatan untuk ditekan. Dalam gereja ada wewenang, susunan, juga ada pengaturan, koordinasi; semua ini belum tentu kita senangi, belum tentu sesuai dengan maksud kita. Di sini kita harus taat, menerima penekanan, tidak dapat memberotak. Kalau kita memberontak, kita akan habis; dalam kerohanian akan menderita kerugian dan tidak berguna dalam gereja.

Dalam pelayanan terhadap Tuhan, pergerakan secara pribadi tidaklah sesuai dengan prinsip ilahi. Hari ini, dalam ekonomi Perjanjian Baru, individualisme bertentangan dengan prinsip Tubuh. Kita tidak seharusnya bergerak secara individu, sebaliknya, kita harus bergerak menurut prinsip korporat, paling sedikit ada satu anggota lainnya yang bekerja sama dengan kita. Makin banyak anggota Tubuh yang bekerja sama, makin baik. Individualistis tidak dapat mewakili Tubuh. Menurut prinsip ilahi, perwakilan Tubuh yang tepat selalu adalah anggota Tubuh yang berkoordinasi dengan orang lain.

Hari ini Tuhan sering menyediakan bagi kita teman koordinasi yang "sulit", tetapi teman koordinasi sedemikian sebenarnya adalah suatu bantuan yang sangat besar. Kalau tidak ada teman koordinasi ini, tidak akan ada kekangan, perlindungan, dan pengamanan bagi kita.

2. Menerima Penekanan dalam Situasi Sekeliling

Mungkin Anda sebagai hamba, Tuhan mengatur seorang tuan yang antik untuk menekan Anda. Mungkin Anda sebagai karyawan, Tuhan mengatur seorang pimpinan yang tak mau lahu untuk menekan Anda. Mungkin Anda sebagai bawahan, Tuhan mengatur seorang atasan yang hebat untuk menekan Anda. Mungkin dalam hidup Anda, Tuhan mengatur banyak orang, perkara, benda, yang semuanya tidak seturut selera Anda. Dalam pandangan Anda semuanya tidak lancar dan menekan Anda. Anda perlu menerima penekanan ini dari tangan Tuhan. Perlu menderita, perlu rendah, perlu miskin, perlu tekun, perlu sulit, semua ini adalah untuk menekan diri sendiri.

Pada bulan Juli 1940, Saudara Watchman Nee berkata kepada para sekerja : Ada kalanya kita mungkin merasa bahwa kita telah dilahirkan dalam keluarga yang salah. Tetapi Allah telah menetapkan kita masing-masing untuk menjadi anak siapa. Di atas diri Yusuf Allah memiliki pekerjaan yang khusus. Bisa saja kita mengira seharusnya dia mempunyai saudara-saudara yang agak baik, tetapi Yusuf malah berkata, "Tetapi sekarang, janganlah bersusah hati dan janganlah menyesali diri, karena kamu menjual aku ke sini, sebab untuk memelihara kehidupanlah Allah menyuruh aku mendahului kamu. Memang kamu telah mereka-rekakan Yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa Yang besar" (Kej. 45:5; 50:20).

Seluruh hidup kita, tidak hanya dimulai sejak kita bertobat, bahkan sejak dari awal sampai akhir, Allah telah mempersiapkan semuanya bagi kita demi mencapai tujuan-Nya yang paling tinggi. Samuel, Yesaya, Yeremia.... juga Paulus, adalah orang-orang yang telah dipersiapkan oleh Allah sebelum Allah memakai mereka. Yesaya berkata, "TUHAN telah memanggil aku sejak dari kandungan, telah menyebut namaku sejak dari perut ibuku... yang membentuk aku sejak dari kandungan untuk menjadi hamba-Nya"(Yes. 49:1, 5). Yeremia berkata, "Firman TUHAN datang kepadaku, bunyinya : "Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau, aku telah menetapkan engkau menjadi nabi bagi bangsa-bangsa" (Yer. 1:4-5). Paulus juga mengucapkan kata-kata yang senada, "Tetapi sewaktu Allah, telah memilih aku sejak kandungan ibuku dan memanggil aku oleh anugerah-Nya" (Gal. 1:15). Daud berkata, "Mata-Mu melihat selagi aku bakal anak, dan dalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satu pun dari padanya" (Mzm. 139:16).

Pernah suatu hari, seorang saudari muda yang baik dan yang rohani, datang menemui seorang saudara yang berbobot. Saudari muda itu lahir dalam keluarga kaya dan kemudian menikah dengan seorang saudara. Saudara ini perlu merawat ibunya. Ibu ini terhadap anak laki-lakinya sangat baik dan ramah, berbeda kalau menghadapi menantu perempuannya. Saudari muda itu datang untuk bersekutu, melihat apakah pengalamannya selama ini boleh dibilang benar. Dia mempersekutukan bahwa hari demi hari dirinya dipersulit oleh ibu mertuanya. Bagaimana sebaiknya ia datang ke hadapan Tuhan dan mohon Tuhan bekerja? Tentu, ia tidak berani mohon Tuhan mengambil mertuanya, tetapi dia memohon kepada Tuhan agar dirinya boleh terlepas dari situasi itu. Ia berkata bahwa ketika ia berdoa kepada Tuhan, Tuhan segera. menampakkan kepadanya : Orang yang bagaimanakah diri Tuhan selama Ia hidup di bumi. Selama 30 tahun Ia tinggal dalam keluarga yang kecil, menjadi tukang kayu, menerima banyak pembatasan. Ketika ia tampak ini, sambil menangis ia berkata, "Tuhan, aku memuji Engkau. Hayat-Mu ada di dalamku. Aku telah puas akan keadaanku sekarang ini. Aku tidak meminta Engkau mengubah sesuatu, aku hanya mau memuji-Mu!" Saudari ini bertanya kepada saudara yang berbobot itu, apakah benar pengalamannya ini. Saudara itu menjawabnya bahwa itu sangat tepat.

3. Perlu dengan Sukarela, Tanpa Alasan

Menerima Penekanan

Dengan sukarela menerima penekanan, baru ada damai, baru ada buah-buah kebenaran. Seperti dalam Ibrani 12:11b, "Tetapi kemudian ganjaran itu menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya." Kalau tidak sukarela, di dalam tidak akan ada damai; kalau beralasan, menggerutu, maka tidak mendapatkan pelajaran, tidak menghasilkan buah.

4. Jangan Menolong Diri Sendiri

Harus menekan diri sendiri, jangan meringankan diri sendiri, jangan membuat diri sendiri bebas, jangan memerdekakan diri sendiri, jangan menolong diri sendiri. Harus seperti Paulus, dalam segala perkara ada batasannya, mengendalikan diri sendiri supaya tubuhnya tunduk kepadanya (1 Kor. 9:24-27); menjadi seorang tawanan karena Kristus Yesus (Ef. 3:1). Harus seperti syair suatu nyanyian yang berbunyi : "Kita sekarang merenungkan kehidupan pohon anggur; jalannya tidak mudah, situasinya juga tidak aman; tidak seperti bunga liar di padang yang bertumbuh semaunya, berliku-liku dan beraneka ragam. Pohon anggur tertambat pada tiang rangka (untuk anggur), tidak dapat bertumbuh semaunya; kalaupun ia bertumbuh menjulur, juga masih diikat; demikianlah ia terpaksa memandang ke tanah, mengisap makanan kehidupan; tidak dapat bebas memilih, tidak dapat menghindar dari kesulitan." Kita jangan serupa bunga liar di padang, bertumbuh bebas, seturut maunya sendiri. Kita wajib seperti anggur, tertambat pada rangka, diikat padanya, Lebih baik ditekan, ditambatkan, dikaitkan, jangan bebas, jangan menolong diri sendiri.

Orang muda perlu mencari seorang lain untuk menekan dirinya. "Adalah baik bagi seseorang memikul kuk pada masa mudanya" (Rat. 3:27 Tl). Jangan selalu menunggu orang lain menekan, harus menekan diri sendiri. Ketika masih muda, Saudara Watchman Nee, sering "mengirimkan" dirinya kepada Miss Barber untuk ditanggulangi. Saudara Watchman Nee memberitahu Saudara Witness Lee, saat itu di Fuchow ada banyak orang muda dibangunkan oleh Tuhan, kira-kira ada 20 sampai 30 saudara saudari muda; semuanya pergi ke Miss Barber untuk mendapatkan faedah. Miss Barber adalah seorang yang berbobot dan juga sangat disiplin dan ketat; begitu ketatnya, hampir setiap perkara dikoreksinya, sehingga tidak ada seorang pun yang tidak pernah ditegumya. Ditegur sedemikian (tidak sampai lima tahun), akhirnya semuanya pergi, hanya tinggal Watchman Nee seorang.

Saudara Watchman Nee berkata, "Aku sering mengirim diriku untuk dimarahi. Aku pergi khusus untuk dimarahi." Saudara Watchman Nee pernah memberi tahu Saudara Witness Lee : kapan saja ia bertemu dengan Miss Barber, ia pasti ditegur, tidak ada yang lain. Tetapi semakin dia ditegur, Saudara Watchman Nee semakin mengirimkan dirinya kepadanya untuk ditegur. Melalui hal itu ia mendapat banyak bantuan. Saudara Watchman Nee berkata, meskipun dalam kebenaran ia mutlak mengakui bahwa saudari seharusnya menudungi kepalanya. Namun dia beroleh selamat oleh seorang saudari, mendapat pembinaan juga dari saudari. Dia beroleh selamat melalui Saudari Dora Yu; setelah beroleh selamat, kembali mendapat bantuan paling besar dari Miss Barber.