SULIT
I. KESULITAN, DIPERSULIT
Sulit di sini mengacu kepada kesulitan, kesukaran, dipersulit; bukan penderitaan.
1. Melayani Allah, Membangun Gereja;
Ada Mudahnya, Ada Sulitnya
Setiap perkara, ada yang mudah ada yang sulit. Kecuali Anda tidak melakukan sesuatu apa pun, tetapi jika Anda melakukan sesuatu, sedikit banyak akan ada kesulitan. Semakin besar perkara yang dikerjakan, kesulitan yang dihadapi juga semakin banyak. Melayani Allah, membangun gereja adalah perkara yang paling besar di dunia ini, maka kesulitan yang akan dihadapi, kemungkinan dipersulit, akan banyak. Tuhan berkata kepada murid-murid, "Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, sukar sekali bagi seorang kaya untuk masuk ke dalam Kerajaan Surga ... lebih mudah seekor unta masuk melalui lubang jarum daripada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah" (Mat. 19:23-24). Di sini dikatakan bahwa masuk Kerajaan Allah adalah seperti masuk melalui lubang jarum, sulit sekali. Dan pula, "Karena sempitlah pintu dan sesaklah jalan yang menuju kepada kehidupan" (Mat. 7:14). Masuk melalui pintu yang sempit dan berjalan pada jalan yang sesak tidaklah mudah. Selanjutnya dikatakan, "Kerajaan Surga diperebutkan dengan paksa, dan orang yang merebut dengan paksa mendapatkannya" (Mat. 11:12 Tl.). Karena begitu sulit, maka perlu suatu "perebutan".
Ketika Tuhan Yesus berkata kepada orang banyak, "Sebab daging-Ku benar-benar makanan dan darah-Ku benar-benar minuman," banyak di antara murid-murid setelah mendengar perkataan ini berkata, "Perkataan ini keras, siapakah yang sanggup mendengarkannya?" Mulai saat itu banyak murid-Nya mengundurkan diri dan tidak lagi mengikuti Dia (Yoh. 6:55, 60, 66). Murid-murid yang banyak itu mengundurkan diri, karena tampak kesulitan.
Paulus berkata, "Untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah kita harus mengalami banyak sengsara (kesulitan)" (Kis. 14:22). Ketika kita mau masuk ke dalam Kerajaan Allah, Iblis pasti menimbulkan angin ribut dan ombak, ada penganiayaan, ada halangan, karena itu harus mengalami banyak kesulitan.
2. Harus Mendobrak Sifat Menghindari Kesulitan,
Hanya Mau Mudahnya, dan Berubah Pikiran ketika Ada Kesulitan
Sifat alamiah manusia adalah senang menghindari kesulitan, hanya mau mudahnya, berubah pikiran begitu ada kesulitan. Seperti orang-orang Farisi, "Meletakkan beban-beban yang tak terpikul pada orang, tetapi diri sendiri tidak menyentuh beban itu dengan satu jari pun" (Luk. 11:46). Mulut mudah mengatakan tetapi pelaksanaannya sulit. Terhadap pekerjaan yang mudah berkata, "Akan saya lakukan", tetapi tugas yang sulit, tidak dilaksanakannya. Banyak orang hanya banyak bicara tanpa pelaksanaan, ini berarti menghindari kesulitan, hanya mau mudahnya.
Bani Israel di padang gurun, begitu menjumpai kesulitan dalam perjalanan, lalu bersungut-sungut (Bil. 21:4); begitu menemui peperangan, segera menyesal (Kel. 13:17); begitu menemui kesulitan ingin kembali ke Mesir (Kel. 14:12; Bil. 14:3), semua ini menyatakan sifat manusia yang menghindari kesulitan, mau mudahnya, berubah pikiran begitu. menjumpai kesulitan. Pilihan Lot akan Lembah Yordan (Kej. 13:10-11), menunjukkan sifat alamiah manusia yang menghindari kesulitan, hanya mau mudahnya, demikianlah sifat manusia. Ketika Tuhan di bumi, banyak di antara murid-murid-Nya setelah mendengar perkataan Tuhan yang sulit lalu mengundurkan diri, ini juga sifat alamiah manusia, tahu sulit, lalu mundur.
Kita yang mau melayani Allah, membangun gereja, kalaupun sukar menghindari kesulitan, sukar menghindari perlakukan yang menyusahkan, maka. kita harus; mendobrak sifat alamiah ini, jangan menghindari yang sulit dan hanya mau mudahnya, jangan begitu menjumpai kesulitan segera berubah pikiran.
Menghindari kesulitan, hanya mau mudahnya, berubah pikiran begitu ada kesulitan, akan membuat orang kehilangan kekuatan. "Sebagai mana harimu, demikian pula seharusnya kekuatanmu" (Ul. 33:25 Tl.). Ada orang bertanya kepada Gladstone, Perdana Menteri ternama di Inggris, di manakah rahasia keberhasilannya? Dia memakai sebuah cerita menjawabnya, "Dulu ada sebuah jalan yang menuju ke London, tetapi kuda-kuda penarik kereta pada jalan itu lebih cepat mati, akhirnya ditemukan sebabnya, yaitu karena jalan itu terlalu datar, terlalu lancar, maka kuda-kuda mudah berlari di atasnya, sehingga tidak ada kesempatan untuk mengembangkan kekekaran dagingnya dan kekuatannya, akhirnya cepat mati." Dengan ini Perdana Menteri itu berkata kepada orang yang bertanya, "Dalam perjalanan hidup manusia, banyak kesulitan, sehingga membuat manusia mau tak mau harus berjuang, bergumul, demikianlah baru mempunyai kesempatan untuk mengembangkan bakatnya, bertambah kekuatannya."
Dalam jalan melayani Allah juga demikian, semakin ada kesulitan, semakin dapat menguji kita, sehingga membuat kita makin berkekuatan.
Hari ini jalan pemulihan yang kita tempuh adalah jalan yang telah dibuka oleh saudara-saudara di depan kita dengan pengalaman yang sulit, dengan keringat dan darah. Sebagaimana pelopor, demikian pula penerusnya, tidak takut sulit, tidak menghindari kesulitan; wajib menyingkirkan semak duri, dengan berani maju ke depan.
II. HARUS PERCAYA ALLAH DAPAT
1. Bagi Allah Segala Sesuatu Mungkin
Menjumpai perkara. sulit, merasa bagi diri sendiri sulit, tidak mampu, tetapi harus percaya : "Bagi manusia hal ini tidak mungkin, tetapi bagi Allah segala sesuatu mungkin" (Mat. 19:26).
Ketika Abraham menjelang umur 100 tahun, tubuhnya seolah mati, rahim Sara telah tertutup. Dalam pandangan manusia sudah tidak mungkin mempunyai anak lagi, tetapi dia percaya bahwa apa yang Allah janjikan pasti akan tergenapi; demikianlah Ishak terlahir. Karena pada Allah segala sesuatu adalah mungkin (Rm. 4:19-21).
2. Bagi Allah Tidak Ada Satu Perkara pun yang Sulit
Ketika Allah berjanji kepada Abraham bahwa istrinya, Sara, akan melahirkan seorang anak, Sara mendengar ini dan tertawa dalam hatinya. Mereka berdua, suami istri, telah tua dan lanjut umumya, bagaimana mungkin hal ini akan terjadi? maka Allah berkata : "Adakah sesuatu apa pun yang mustahil untuk TUHAN?" (Kej. 18:9-15). "Allah adalah Allah yang Mahakuasa " (Kej. 17: 1). Allah adalah "Allah yang menghidupkan orang mati dan menjadikan dengan firman-Nya apa yang tidak ada menjadi ada" (Rm. 4:17). "Sebab Dia berfirman, maka semuanya jadi, Dia memberi perintah, maka semuanya ada" (Mzm. 33:9). Bagi Dia tidak ada perkara yang mustahil.
3. Allah Membereskan Perkara
yang Dianggap Manusia Tidak Mungkin
Allah yang "membuat jalan melalui laut dan melalui air yang hebat" (Yes. 43:16). "Ia datang, melompat-lompat di atas gunung-gunung, meloncat-loncat di atas bukit-bukit"(Kid. 2:8). Dia mau berjalan melalui laut dalam, dia mau melewati gunung dan bukit. Dia mau bedalan pada jalan yang dalam pandangan manusia mustahil, Dia akan membereskan perkara-perkara yang oleh manusia dianggap sulit atau mustahil.
Miss Barber menulis sebuah kidung (No. 506) yang menyinggung tentang Allah kita khusus membereskan perkara yang dianggap manusia mustahil. Adakah gunung tinggi yang tidak dapat Ia daki; adakah laut dalam yang tidak dapat Ia seberangi, Dialah yang membuat mata kapak besi mengapung (2 Raj. 6:1-7); Dialah yang membuat taut menjadi tanah kering (Kel. 14:21-22); Dialah yang membuat matahari tidak bergerak di tengah langit (Yos. 10:12-13); Dialah yang membuat pantai pasir sebagai perbatasan bagi laut, sehingga biarpun gelombanggelombangnya ribut, mereka tidak dapat melampauinya! (Yer. 5:22). Mta harus karena percaya dengan riang bernyanyi, "Dia tidak lalai padaku, karena Dia adalah Allah."
4. Iman Dapat Memindahkan Gunung,
Dapat Menggenapkan Perkara
Tuhan Yesus berkata, "Sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini : Pindah dari tempat ini ke sana, - maka gunung ini akan pindah, dan tidak akan ada yang mustahil bagimu" (Mat. 17:20). Dalam 1 Korintus 13:2 dikatakan, "Sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung." Iman dapat memindahkan gunung, iman dapat membereskan kesulitan. Asal kita memiliki iman, kita tidak takut segala macam kesulitan, asal kita memiliki iman, juga tidak ada perkara yang tidak mungkin.
Orang Israel, karena takut kepada suku Enak yang berperawakan tinggi besar dan kota-kotanya yang berkubu, lalu kehilangan iman, tidak dapat masuk tanah Kanaan. Tetapi Yosua dan Kaleb, dua orang, beriman, maka mereka dapat masuk (Bit. 14-15).
Yairus, kepala rumah ibadah, karena anaknya perempuan hampir mati, datang mohon Tuhan Yesus menyembuhkan. Dalam perjalanan, datanglah seseorang dari keluarga kepala rumah ibadah itu dan berkata, anakmu sudah mati, jangan lagi engkau menyusah-nyusahkan Guru! Mereka mengira telah mati, tidak ada harapan lagi. Tetapi Tuhan Yesus berkata kepada kepala rumah ibadah itu, "Jangan takut, percaya saja." Akhirnya anak perempuannya dibangkitkan. Inilah dalam keadaan yang tadinya tidak berpengharapan, namun karena iman, menjadilah berpengharapan (Rm. 4:18).
Nehemia membangun tembok kota, pekerjaan yang besar dan luas (Neh. 4:19), dari dalam dan dari luar menerima banyak kesulitan, sampai-sampai orang Yehuda berputus asa dan berkata, "Kekuatan para pengangkat sudah merosot dan puing masih sangat banyak. Tak sanggup kami membangun kembali tembok ini" (Neh. 4:10). Tetapi Nehemia terus berdoa, bersandar pada bantuan tangan Allah Sang Perahmat (Neh. 1:4; 2:4, 8, 18; 4:4, 9, 14, 19; 5:19; 6:19). Pekerjaan besar itu pun selesai (Neh. 7:1).
Ibrani 11:29-35 mengatakan bahwa banyak perkara yang tergenapi karena iman : ... Gideon, Simson, Yefta, Daud, Samuel, dan perkara-perkara para nabi.... karena iman mereka menaklukkan kerajaan-kerajaan, mengamalkan kebenaran, memperoleh apa yang dijanjikan, menutup mulut singa-singa, memadamkan api yang dahsyat, luput dari mata pedang, beroleh kekuatan dalam kelemahan, menjadi kuat dalam peperangan, memukul mundur pasukan-pasukan tentara asing. Wanita-wanita telah menerima kembali orang-orangnya yang telah mati . . .
Saudara Muller adalah seorang yang sangat beriman, karena iman dia telah melakukan banyak perkara bagi Allah. Mendirikan panti asuhan anak yatim, menerima anak-anak yatim piatu, pada mulanya hanya 20-30 orang, kemudian mengelola lima tempat panti asuhan yang sangat besar. Jumlah anak yatim yang ditampung yang paling banyak pernah mencapai 2.000 orang lebih. Dengan turun tangan sendiri merawat anak-anak yatim, mendidik mereka, jumlahnya puluhan ribu lebih orang. Selama kurang lebih 65 tahun, telah mengeluarkan 30 juta lebih Poundsterling. Pada masa tuanya, sekali lagi ia membangun beberapa panti asuhan yatim piatu di suatu daerah yang menampung lebih dari 2.000 anak-anak yatim. Selain itu masih membuka seratus lebih sekolah-sekolah gratis yang menampung 9.000 murid. Setiap tahun mencetak dan menyebarkan lebih dari 4 juta lembar traktat Injil, ribuan jilid Alkitab. Memberi tunjangan kepada seratus lebih penginjil-penginjil yang menginjil ke daerah-daerah. Tidak pernah minta sumbangan, tidak pernah berutang, tidak ada fondasi keuangan, dan tidak ada orang lain yang menjadi penunjang di belakangnya, hanya berdasarkan iman, mutlak menengadah kepada Allah. Dia hanya berdasarkan iman, mutlak menengadah kepada Allah. Dia berkata, "Aku telah rela mempersembahkan jiwa raga dan segalaku, untuk membuktikan bahwa berdasarkan iman memohon kepada Allah, pasti dapat menggenapkan betapapun perkara."
Pada tahun 1948, ministri Saudara Watchman Nee terpulihkan. Saudara Watchman Nee berkata, "Mengenai perkara membangun tempat sidang, kita tak dapat tidak harus mencapainya." Di jalan Nanyang ada sebidang tanah yang luasnya sekitar 12.000 M2, seharga US$ 105,000.00 atau 2.100 tail emas. Situasi sekeliling tempat itu baik, tempatnya strategis, semua setuju; tetapi tidak beriman. Apalagi bersamaan itu juga harus membangun tempat sidang yang mampu menampung 3.000 orang, halaman bisa menampung 2.000 orang, ini perlu US$ 100,000.00 lagi. Semua dana ini bersamaan diperlukan, sungguh satu beban yang sangat besar. Waktu itu Saudara Witness Lee sangat beriman. Dia berkata, "Aku adalah anak sapi yang baru lahir, tetapi tidak takut harimau." Sambungnya lagi, "Beli!" Akhirnya karena iman tercapailah, tanah itu dibeli dan bangunan tempat sidang pun didirikan.
Setelah Hudson Taylor dipanggil oleh Tuhan "Pergilah ke China bagi-Ku," hanya ada satu hal yang ia lakukan, yaitu mempersiapkan diri untuk pergi ke China guna melaksanakan kehendak Allah. Dia mulai memohon pimpinan Tuhan, berusaha mempelajari hal-hal mengenai China. Dari Tuan Hwee Tek Hwa, seorang pendiri sekolah Minggu, ia meminjam sebuah buku Injil Lukas dalam bahasa Mandarin, dan melalui referensi dari Tuan Hwee juga mendapatkan pinjaman sebuah buku berjudul "China" yang ditulis oleh seorang pengajar bernama Prof. May, dari seorang pendeta. Ketika dia meminjarn buku tersebut, pendeta itu bertanya untuk apa membaca buku itu? Dia menjawab, "Allah memanggil aku ke China untuk menginjil." Pendeta itu bertanya, "Bagaimana Anda pergi?" Dia berkata, "Sedikit pun aku tidak tahu. Apakah kelak harus seperti kedua belas murid Tuhan dan ketujuh puluh murid yang di pinggangnya tidak membawa buli-buli uang, tidak membawa ransel, hanya bersandar pemberian Tuhan yang mengutus; aku untuk memenuhi kebutuhanku." Dengan penuh kasih pendeta itu. berkata kepadanya sambil meletakkan tangannya pada pundak Hudson Taylor, "Ah, Hudson, kalau umurmu makin bertambah, kamu akan lebih berhikmat. Cara seperti itu. pada waktu Tuhan Yesus hidup, memang bisa, tetapi sekarang tidak mungkin." Nyatanya, setelah Hudson Taylor tiba di China, cara ini dapat dilaksanakan. Kemudian ia berkata, "Usiaku sekarang telah bertambah banyak, tetapi aku tidak lebih berhikmat daripada waktu itu. Makin lama aku makin percaya, kalau kita melakukan menurut petunjuk dan jaminan Tuhan kepada murid-murid-Nya, bahkan sampai hari ini tetap sama mungkin dengan sewaktu Tuhan hidup di bumi."
III. DALAM KEHIDUPAN, PELAYANAN,
PERLU BELAJAR KARAKTER TIDAK TAKUT SULIT
1. Jangan Takut Repot
Kalau mau gereja terbangun, pekerjaan berkembang, maka jangan takut repot. Allah paling tidak takut repot, kalau takut repot, Ia tidak perlu menciptakan dunia ini. Betapa banyak orang yang berdoa merepotkan Dia; Dia harus mendengarkannya. Seorang saudara berkata, begitu menjamah urusan-urusan gereja, pastilah datang kerepotan.
Seorang sekerja berkata, ketika gereja di Chefoo dibangunkan, mereka harus bekerja sampai larut malam baru bisa istirahat tidur, esok harinya. masih harus bersidang.
Harus mempunyai kedambaan bahwa di bumi semakin berkembang pekerjaan Allah adalah semakin baik, dengan demikian tidak akan takut repot lagi.
Tuhan melatih murid-murid-Nya supaya tidak takut repot. Banyak orang mengikuti Tuhan Yesus, murid-murid takut repot mengurusi makanan begitu banyak orang, bagaimana menanganinya? Kalau menyuruh mereka pulang bereslah masalahnya. Tuhan Yesus berkata, jangan suruh mereka pulang berilah mereka makan, bahkan menyuruh murid-muridNya mengatur mereka berkelompok-kelompok, kemudian membagi roti dan ikan kepada mereka untuk dimakan, setelah selesai makan sisanya masih harus dikumpulkan (Mat. 14:15-21; Mrk. 6:3940). Orang yang takut repot dapat mengada-ada. Orang yang tidak takut repot dapat menimbulkan banyak perkara. Seorang pekerja yang melayani Tuhan, haruslah seorang yang melahirkan perkara! Harus seperti pengusaha, berusaha terus sampai muncul suatu perkara/pekerjaan.
2. Jangan Takut Sulit
Harus memiliki roh pembuka jalan; menemui gunung membuat terowongan, menemui sungai membangun jernbatan.
Zakheus orangnya pendek, ia pun berlah mendahului orang banyak, lalu mernanjat pohon ara untuk melihat Yesus. Demikianlah keselamatan terjadi pada keluarganya (Luk. 19:1-9). Empat orang datang dengan menggotong seorang yang lumpuh, karena orang banyak, tidak dapat masuk dari pintu depan; mereka membuka atap rumah dan menurunkan si lumpuh. Maka, Tuhan membuat si lumpuh berjalan (Mrk. 2:3-4, 10, 12). Jangan takut repot, harus mernanjat pohon ara, membuka atap rumah, maka, mujizat akan tedadi, kasih karunia akan datang. Semakin sulit semakin ada berkat. "Mengisap madu dari bukit batu, dan minyak dari gunung batu yang keras" (Ul. 32:13).
Ada sejenis binatang kecil yang disebut "penembus batu", meskipun hanya berwujud binatang yang cukup kecil, tetapi tidak peduli batu apa, batu cadas apa pun dapat diternbusnya. Kita masing-masing, sebagai orang-orang yang melayani Tuhan, haruslah seperti penernbus batu. Anda tidak berdaya? Aku harus berbuat sedemikian rupa sehingga berdaya. Suatu perhimpunan berada dalam suasana. mati, begitu kita hadir di sana, menggarapnya selama 3 bulan, perhimpunan itu menjadi hidup, lincah. Di sini tak berdaya memberitakan Injil, bagi manusia tidak mungkin, tetapi bagi Tuhan segalanya mungkin. Mengapa Tuhan tega hati? Dia tega demikian supaya Anda mengalami Dia sebagai Sang yang mampu melakukan hal-hat yang tidak dapat dilakukan manusia. Jangan berkata bahwa di sini Injil tidak dapat diberitakan. Beritakan, tak dapat tak diberitakan.
Saudara Witness Lee berkata, "Ketika kita baru memulai pekerjaan Literatur di Taiwan, saya menulis naskah-naskah di atas sebuah meja kecil di rumah. Ada meja tulis, menulis naskah; tidak ada meja tulis, tetap menulis naskah. Jangan berkata bahwa Anda tidak dapat menulis naskah karena tidak ada meja tulis, dengan demikian Anda tidak dapat mengerjakan pekerjaan Literatur. Ada meja tulis bisa bekerja, tidak ada meja tulis tetap bisa bekerja. Kita harus memiliki sikap demikian baru dapat bekerja. Jangan memiliki sikap yang menetapkan sesuatu harus lengkap baru bisa bekerja. Dalam pekerjaan kita kalau mau segalanya lengkap tersedia, sangatlah sulit, karena di antara kita tidak ada sistem organisasi, maka tidak mungkin ada keadaan yang serba lengkap. Kita melakukan segala perkara dengan melewati hari-hari yang miskin, bagaimana mungkin Anda berharap segalanya tersedia? Kalau dibandingkan dengan suatu peperangan, dengan jujur kita katakan bahwa sedikit sekali kita benar-benar perang berhadap-hadapan, adalah perang gerilya; kita tidak memiliki tentara untuk langsung berhadapan, kita semua gerilyawan. Ini tergantung bagaimana Anda memakai senjata Anda bergerak, keadaan apa pun boleh, Anda harus bisa dalam keadaan apa pun."
Kita harus bekerja sedemikian rupa sehingga dalam keadaan apa pun dapat bekerja. Hanya dari luar belajar suatu cara tidaklah berguna, harus dari dalam membongkar dan membuang sifat usang kita. Berapa banyak fungsi kita dapat ternyata tergantung pada sifat kita. Kalau kita dapat menanggulangi sifat dan karakter kita, fungsi kita akan berlipat ganda, hasil pekerjaan kita pun akan berlipat ganda.
Selama peperangan Sino-Jepang 8 tahun lamanya, semua perguruan tinggi menghindar ke garis belakang, saat itu tidak ada kampus, rumah-rumah gubuk beratap lalang jadi tempat belajar, bahkan buku catatan pun memakai kertas rumput (merang). Meskipun demikian pendidikan perguruan tinggi tetap berjalan, hingga. adanya China hari ini.
Hari ini, walaupun kita dalam segala hal tidak lengkap, tempat tidak ada, kaki tangan juga kurang, meskipun demikian, kita harus tetap sedapat mungkin bekerja.
Hudson Taylor dapat ke China dan menanggung beban yang begitu. besar, juga tergantung pada karakternya yang tidak takut repot atau sulit. Mari kita lihat dua kejadian di bawah ini :
Dalam hal belajar bahasa Mandarin, dapat diketahui bahwa Hudson adalah orang yang tidak takut sulit. Bahasa Mandarin adalah salah satu bahasa yang sangat sulit di dunia ini. William Milne pernah secara tersirat berkata, "Jika orang mau belajar bahasa Mandarin, tubuhnya harus terbuat dari tembaga, paru-paru terbuat dari besi, kayu besi sebagai kepala, besi per sebagai tangan, memiliki mata elang, hati rasul, umur panjang dari Metusalah." Hudson Taylor ingin ke China, terlebih dulu harus ada persiapan, pertama adalah sebagai belajar bahasa Mandarin. Dia tidak mempunyai pengajar bahasa Mandarin, juga tidak mempunyai kamus Inggris - Mandarin. Bagaimanapun dia tidak takut sulit, dengan susah payah belajar, demikian caranya : terlebih dahulu dari Injil Lukas bahasa Inggris, mencari sepatah kata, memperhatikan satu kata yang sering di pakai, misalnya "kamu", "aku", "Dia", "Allah", "Yesus", dan lain-lain, kemudian mencari kalimat atau ungkapan yang di dalamnya ada kata-kata tersebut. Kemudian dari Injil Lukas bahasa Mandarin yang dipinjam, dalam pasal dan ayat yang sama mencari kata-kata/huruf-huruf yang sama atau yang artinya hampir sama dengan huruf-huruf dalam bahasa Inggrisnya. Huruf-huruf Mandarin ini dia catat pada satu kertas, kemudian ia kembali mengulang dari depan seluruh kitab Injil Lukas, mencari huruf-huruf yang sama dengan yang ditulis di atas kertas tadi. Kalau dalam bahasa Inggrisnya setiap kali juga dijumpai huruf-huruf yang sama, maka dia menulis huruf bahasa Mandarin tersebut dalam kamus ciptaannya sendiri, dengan pensil diberi catatan artinya. Setelah merasa yakin bahwa artinya tepat, barulah memakai pena tinta, dan sekali lagi menulis pada bekas tulisan pensil. Permulaannya sangat lambat majunya, namun kemudian, karena makin banyak pengalaman, kemajuannya pun cepat. Dari melihat caranya belajar bahasa Mandarin, dapat diketahui kesabarannya, tidak takut sulit, dan juga hati yang teguh untuk pergi ke China.
Ketika Hudson Taylor berumur 19 tahun, pernah bertemu dengan seorang pengajar Jerman bernama Robert yang baru pulang dari China dan memberitahunya tentang hal-hal penginjilan di China. Orang ini pernah melalui pengetahuan kedokteran memberitakan Injil di Hongkong Utara dan daerah Kwang Tung Selatan. Dia tidak saja tidak mendorong Hudson Taylor, bahkan menyiramnya dengan air dingin. Dengan suara lantang Tuori Robert berkata, "Kamu mau pergi ke China memberitakan Injil, itu pasti tidak mungkin. Mereka menjuluki aku 'setan bulu merah', kalau melihatmu, mereka akan terkejut dan lari. Kamu tidak mungkin dapat membuat mereka mendengarmu berbicara." Hudson Taylor dengan mantap menjawab, "Tetapi yang menyuruh aku pergi ke China memberitakan Injil adalah Allah, Dia mutlak tahu bahwa rambut dan mataku berwarna." Dari sini pun dapat diketahui bahwa Hudson Taylor bukanlah orang yang segera mengundurkan diri begitu tahu ada kesulitan. Karena itu, Allah dapat melalui dia melakukan perkara besar.
Tidak boleh karena tahu sulit lalu mundur; kalau demikian, pasti tidak akan ada yang jadi. "Siapa senantiasa memperhatikan angin tidak akan menabur, dan siapa senantiasa melihat awan tidak akan menuai" (Pkh. 11:4). Murid-murid itu tahu sulit lalu mundur, tidak lagi berjalan mengikuti Tuhan Yesus, kehilangan jalan hidup kekal, betapa sayang!
3. Tidak Boleh Menghindari yang Sulit
dan Mau yang Mudah Saja
Orang dunia selalu mencari pekerjaan yang mudah, yang sulit diberikan kepada orang lain. Kita, orang-orang yang melayani Allah, harus sebaliknya, harus mencari yang sulit untuk dikerjakan. Tidak mencari yang mudah bagi diri sendiri, harus mempersulit diri, dan menerima dipersulit orang lain.