TEKUN
"Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Aku pun bekerja juga."
Yohanes 5:17
"Di atas tembok-tembokmu, hai Yerusalem, telah Kutempatkan pengintai-pengintai. Sepanjang hari dan sepanjang malam, mereka tidak akan pernah berdiam diri. Hai kamu yang harus mengingatkan TUHAN kepada Sion, janganlah kamu tinggal tenang dan janganlah biarkan Dia tinggal tenang sampai Ia menegakkan Yerusalem dan sampai Ia membuatnya menjadi kemasyhuran di bumi."
Yesaya 62:6-7
I. TEKUN ADALAH KONSTAN,
TERUS-MENERUS, BERKESINAMBUNGAN
1. Tekun Baru Dapat Merampungkan Perkara yang Berharga
a. Hayat tumbuh-tumbuhan dan hayat hewan yang pertumbuhannya lebih lama, lebih lambat, hayatnya lebih tinggi dan lebih berharga.
b. Bangunan yang lebih tinggi, besar, megah, mengagurnkan, jangka waktu pembangunannya lebih lama. Inilah arti pepatah kuno : Roma bukan terbangun dalam satu hari. Bait Suci orang Yahudi tinggi, besar, dan megah, dibangun selama 46 tahun (Yoh. 2:28). Nuh membangun bahtera, tidak mempedulikan ejekan orang lain, setiap hari menggarap tidak tahu berapa tahun bani bisa selesai.
c. Pepatah mengatakan, "Tekun adalah modal kesuksesan." Tetesan air membuat batu berlubang, sebatang besi diasah menjadi jarum, semuanya itu terjadi karena ada ketekunan. Nehemia membangun tembok kota, meskipun mengalami banyak kesulitan, ia tetap membangun kembali dengan tekun, sehingga akhirnya pekerjaan besar itu rampung (Neh. 5:16; 6:1).
Seorang saudara, ketika remaja, pernah mendaki sebuah gunung bersama dengan teman-temannya. Di gunung itu terdapat suatu tebing yang rimbun; mereka beristirahat di tebing yang rimbun itu. Dalam ketenangan alam, terdengar suara "tung, tung, tung" yang jelas, kira-kira setengah menit sekali. Karena terdorong rasa ingin tahu, mereka menuju ke arah suara itu, mencari sumber suara itu. Akhirnya mereka menemukan bahwa dari atas gunung itu ada air yang terus-menerus menetes. Setelah bertahun-tahun, tetesan-tetesan air itu membentuk suatu rongga yang dalam pada batu cadas yang di bawahnya. Ditambah suara gaung dari tebing, timbullah suara yang merdu. Mereka sangat tertarik akan pendengaran itu dan tinggal agak lama di tempat itu. Tetesan air yang lembut, lewat kurun waktu yang panjang, bisa melubangi batu cadas yang keras. Orang yang tekun baru bisa sukses. Kalau tidak konstan, sering berhenti di tengah jalan, pasti tidak akan berhasil.
Ada seorang anak, karena kurang cerdas, sering ketinggalan dalam banyak hal. Orang tuanya sering memarahinya. Lama kelamaan, karena tidak tahan, ia lalu meninggalkan rumah dan berkelana. Ketika merasa lelah, ia duduk di dekat sebuah sumur. Ia melihat di pinggir sumur itu ada sebuah batu yang bagian tengahnya seperti tergores melekuk ke dalam cukup besar. Seorang perempuan yang kebetulan lewat menjelaskan kepadanya, "Ketika kami menimba air, kami sering mengikat tali timba pada batu ini, lama kelamaan batu ini tergores oleh tali itu dan meninggalkan bekas yang besar." Anak itu berpikir, "Tali yang kecil, karena terus-menerus menggesek, dapat menggores batu yang keras dan menimbulkan sebuah bekas yang besar. Kalau aku tekun, bukankah aku akan mengatasi ketinggalan karena kekuranganku?" Lalu ia pulang ke rumah, dengan tekun belajar, akhirnya ia menjadi orang yang berpengetahuan tinggi dan menguasai banyak keterampilan.
"606" adalah semacam obat dari persenyawaan arsenik yang bisa membunuh kuman tetapi tidak berbahaya bagi tubuh manusia. Obat ini ditemukan oleh seorang dokter muda. Sebelumnya ia telah mencoba 605 macam persenyawaan arsenik, tetapi tidak berhasil. Sampai tahun 1910, ia mencoba persenyawaan arsenik yang ke-606, barulah berhasil. Sebab itu, obat itu disebut "606" karena telah melewati 605 kali kegagalan dan baru berhasil pada percobaan yang ke-606. Karena dokter muda itu tekun mengadakan percobaan, akhirnya ia berhasil menemukan obat tersebut.
Ketika mencoba membuat kawat pijar dalam bola lampu, Thomas Alfa Edison pernah memakai ribuan macam bahan, semuanya tidak cocok, namun akhirnya ia menemukan bahan yang paling cocok dan tahan lama, yaitu kawat wolfram.
Webster adalah orang Amerika yang menyusun kamus Webster yang dipakai secara luas di dunia. Kamus itu ia susun dengan bersandar Allah dan ketekunan. Ia mulai menyusun kamusnya pada tahun 1800, meskipun pernah mengalami kegagalan, akhirnya berhasil dirampungkan. Sekitar tahun 1806, ia menerbitkan edisi yang pertama. Di dalamnya ada 5.000 kata yang belum pernah dijelaskan oleh penyusun kamus sebelumnya. Kamus itu terus dikritik orang, tetapi ia tidak mundur, terus melakukan perbaikan. Dua puluh tahun selanjutnya, ia tetap dengan tekun duduk di meja setengah lingkaran yang mengitarinya, mencurahkan segala kemampuan menggumuli perbaikan itu. Di meja itu tertumpuk banyak macam buku tata bahasa, dan berbagai macam versi kamus. Ia membacanya dengan teliti satu per satu, memeriksa dengan teliti setiap kata, kemudian dengan kata-katanya sendiri menulis arti kata itu. Akhirnya pada tahun 1828, ia merampungkan karya besar itu, kamus besar Webster, mengumpulkan 70.000 kata, lebih banyak 12.000 kata daripada kamus Yohanes; Samuel edisi yang terakhir. Ketika ia selesai menyusun kata yang terakhir dari kamus itu, ia meletakkan pena bulunya, lalu menggandeng tangan istrinya, bersama-sama berlutut bersyukur kepada Allah yang memberinya hikmat dan kekuatan, sehingga ia bisa menyelesaikan karya besar itu. Sampai sekarang kamus Webster masih digemari orang, dipandang sebagai jawaban terakhir dari semua definisi arti kata. Dengan bersandar Allah dan ketekunan, Webster merampungkan karya itu.
Di setiap negara, banyak tedemahan Alkitab yang dikerjakan oleh orang yang tekun, misalnya J. N. Darby. Allah memakainya menerjmahkan Alkitab ke dalam bahasa Italia, Prancis, Inggris, dan Jerman. Untuk menerjemahkan Alkitab dan mempertimbangkannya, setiap ayat memerlukan waktu belasan jam. Alkitab bahasa Mandarin setiap ayatnya rata-rata menghabiskan waktu. sebelas jam. Kalau tidak dikerjakan dengan tekun, bagaimana bisa merampungkannya? Ketika Cruden membuat konkordansi Alkitab, ia menemui banyak kesulitan. Setelah melakukan sejangka waktu, karena otaknya tidak tahan, ia menjadi gila, Setelah beristirahat 6 tahun, ia berangsur-angsur sembuh, lalu mulai mengerjakan lagi. Akhirnya ia menyelesaikan konkordansinya. Konkordansi Cruden adalah konkordansi yang pertama, konkordansi yang lainnya dibuat berdasarkan konkordansi Cruden.
2. Membangun Gereja Adalah Pekerjaan yang Besar,
Perlu Waktu dan Ketekunan
Membangun gereja adalah satu-satunya. karya besar Allah dalam alam semesta ini. Selama beribu-ribu tahun Allah terus mengerjakan hal ini, sampai kota Yerusalem Baru datang, baru selesai. Allah melakukan dengan tekun, sampai kehendak-Nya selesai. Tuhan Yesus berkata, "Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Aku pun bekerja juga" (Yoh. 5:17).
Hari ini, di dalam gereja kita dibangunkan bersama-sama menjadi tempat kediaman Allah di dalam roh, tidak ada kursus kilat, tidak ada jalan pintas, tidak ada untung-untungan. Pada mulanya, gereja terbangun pada hari raya Pentakosta, orang-orang yang beroleh selamat bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. "Mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa" (Kis. 2:42). "Dengan bertekun dan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergiliran ..." (Kis. 2:46). Membangun gereja perlu dengan tekun, perlu dikerjakan setiap hari. Jangan mengharapkan bisa segera melihat hasilnya.
Untuk membangun rumah, perlu menyusun batu bata satu per satu. Untuk membangun tempat kediaman Allah yang demikian besar, perlu satu per satu batu hidup disusun menjadi satu (1 Ptr. 2:5). Hal ini tidak bisa terjadi dalam sekejap mata; ini memerlukan waktu yang lama dan dikedakan dengan tekun. Bait Suci yang sebagai lambang saja perlu 46 tahun baru bisa selesai; apa lagi Bait Suci rohani yang sesungguhnya, memerlukan kurun waktu dari zaman ke zaman baru bisa rampung.
Dalam Efesus 4:11-16 Paulus membicarakan pembangunan gereja, "Dialah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar, untuk memperiengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan Tubuh Kristus, sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus ... Dari Dialah seluruh Tubuh - yang rapi tersusun dan diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya, sesuai dengan kadar pekeijaan hap-tiap anggota - menerima pertumbuhannya dan membangun dirinya dalam kasih." Setiap orang kudus perlu diperlengkapi, setiap orang kudus perlu rapi tersusun; ini perlu waktu, perlu dikedakan dengan tekun. Pengalaman memberi tahu kita bahwa untuk membangun satu orang kudus mengenal Anak Allah, membawa orang kudus masuk ke dalam koordinasi, itu bukanlah perkara yang gampang, memerlukan banyak waktu, dan juga perlu mengeluarkan banyak tenaga. Sebab itu Paulus berkata, "Hai anak-anakku, karena kamu aku menderita sakit bersalin lagi, sampai rupa Kristus menjadi nyata di dalam kamu" (Gal. 4:19). Ada begitu banyak orang kudus perlu diperlengkapi, dan itu memerlukan waktu sangat banyak juga memerlukan tenaga dan perhatian yang sangat besar! Mana mungkin tercapai apabila tidak dikerjakan dengan tekun?
Kita harus tampak, membangun gereja adalah perkara yang paling tinggi, paling mulia, dan paling berharga dalam alam semesta, karena. itu patut kita pertaruhkan segalanya, dan bertekun melakukannya.
3. Pertumbuhan Hayat Rohani
Memerlukan Waktu dan Ketekunan
Kita adalah ladang Allah (1 Kor. 3:9), yang Allah garap dengan tekun; dibajak, dirawat, disirami, menunggu bertumbuh, masak, dan dituai. Sama seperti petani menantikan hasil yang berharga dari tanahnya (Yak. 5:7). Jangan sekali-kali tergesa-gesa di dalam daging, jangan terburu-buru. Yakub berkata kepada Esau, "Tuanku maklum, bahwa anak-anak ini masih kurang kuat dan bahwa beserta aku ada kambing domba dan lembu sapi yang masih menyusui, jika diburu-buru, satu hari saja, maka seluruh kumpulan binatang itu akan mati ... aku mau dengan hati-hati beringsut maju menurut langkah hewan, yang berjalan di depanku dan menurut langkah anak-anak ..." (Kej. 33:13-14). Pertumbuhan hayat memerlukan waktu, tergantung pada kita dengan tekun menuntut, sering menyirami, memberi makan, merawat, dengan sendirinya bertumbuh sehari demi sehari. Jangan membantu tunas tumbuh-tumbuhan dengan mencabutnya.
4. Tuhan Adalah Tuhan yang Tekun
"Bapa-Ku bekerja sampai sekarang" (Yoh. 5:17). Allah sangat tekun, Ia tidak pernah berhenti di tengah jalan. Meskipun Iblis mengganggu, Ia tetap bekeda sampai sekarang, sampai kehendak-Nya rampung. Ia telah menetapkan kehendakNya, Ia pasti melakukannya, sampai kehendak itu rampung.
Tuhan Yesus berkata, "Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Aku pun bekerja juga" (Yoh. 5:17). Ketika di bumi Tuhan bekerja, sampai sekarang di surga Ia tetap bekerja. "Melayani ibadah di tempat kudus, yaitu di dalam pernah sejati" (Ibr. 8:2). Setiap hari Ia berdoa untuk kita. "Sebab Ia hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara mereka" (Ibr. 7:25). "Yesus Kristus tetap sama, baik kernarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya" (Ibr. 13:8).
II. DALAM KEHIDUPAN, PEKERJAAN, DAN PELAYANAN BERLATIH MEMPUNYAI KARAKTER TEKUN
1. Tekun Membaca Alkitab
Untuk pertumbuhan hayat, manusia perlu setiap hari makan, setiap hari makan tiga kali. Pertumbuhan hayat rohani juga perlu setiap hari makan firman Allah, makanan rohani. Tidak bisa makan kenyang sehari, lalu lapar enam hari.
Ingin mendapatkan terang dari Alkitab, perfu dengan tekun membaca Alkitab, tidak hentinya. membaca, berkali-kali membaca, demikian baru akan mendapatkan terang. Banyak hal yang sulit dipahami dalam Alkitab, tetapi karena dengan tekun membaca Alkitab, akhirnya mendapatkan terang yang baru.
Hudson Taylor sejak remaja telah membaca Alkitab dengan berurutan. Sampai usia 68 tahun ia bersaksi, selama 40 tahun ia sudah membaca Alkitab, dari kitab Kejadian sampai kitab Wahyu, sebanyak 40 kali. Kira-kira setiap hari membaca 3 pasal Perjanjian Lama, I pasal Perjanjian Baru, dan 1 pasal Mazmur.
George Muller seumur hidup membaca Alkitab seratus kali.
Ketika Martin Luther masih muda, ia sudah membaca Alkitab berkali-kali, bahkan sangat hafal. Asal Anda menyebut salah satu perkataan, ia segera tahu di mana tempat perkataan itu. Orang-orang di atas adalah contoh yang baik dalam hal membaca Alkitab.
Orang di Berea lebih baik hatinya daripada orang di Tesalonika, karena mereka menerima firman itu dengan segala kerelaan hati dan setiap hari mereka menyelidiki Kitab Suci (Ms. 17:11). Mereka bertekun, setiap hari menyelidiki; bukan sehari menyelidiki, lalu beberapa hari tidak menyelidiki. Bukannya panas sehari, namun dingin sepuluh hari.
2. Tekun Berdoa
Banyak tempat di dalam Alkitab yang berbicara mengenai tekun berdoa. "Bertekunlah dalam doa" (Rm. 12:12); "Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya" (Ef. 6:18); "Bertekunlah dalam doa" (Kol. 4:2); "Tetaplah berdoa" (1 Tes. 5:16-17). Tuhan Yesus juga, dengan perumpamaan seorang janda minta pembelaan, mendorong orang untuk tekun berdoa. "Menegaskan bahwa mereka harus selalu berdoa tanpa jemujemu" (Luk. 18:1-8).
Berdoa seperti orang bernapas, tidak boleh terputus. Madame Guyon berkata, berdoa adalah sumber segala kebajikan; meninggalkan berdoa sama dengan meninggalkan sumber air hidup. Allah meninggalkan kita, karena kita terlebih dulu meninggalkan Dia.
Dalam Kidung No. 201 dikatakan, "Berdoa bagaikan menggali perigi, terus menerus digali sampai air memancar dari sumbernya."
Ketika Anda melihat keadaan rohani di tempat Anda gersang, janganlah tawar hati, melainkan berdoalah dengan tekun, bekerjalah dengan tekun, berserulah kepada Tuhan, sampai Allah datang memberi berkat, Roh Kudus bekerja hingga padang gurun menjadi telaga, tanah kering memancarkan air, hayat berkembang biak, timbul suatu kebangunan rohani.
Menjadi penjaga pembangunan gereja, harus tak hentinya berseru. "Di atas tembok-tembokmu, hai Yerusalem, telah Kutempatkan pengintai-pengintai. Sepanjang hari dan sepanjang malam, mereka tidak akan pernah berdiam diri. Hai kamu yang harus mengingatkan TUHAN kepada Sion, janganlah kamu tinggal tenang dan janganlah biarkan Dia tinggal tenang, sampai Ia menegakkan Yerusalem dan sampai Ia membuatnya menjadi kemasyhuran di bumi" (Yes. 62:6-7).
Tuhan di surga senantiasa berdoa untuk kita (Ibr. 7:25). Samuel tidak henti-hentinya berdoa untuk umat Allah (1 Sam. 12:22). Menghadapi perkara besar, harus tidak henti-hentinya berdoa sampai Allah merampungkan hal itu.
Spurgeon mempunyai seorang ayah yang baik, yang bergairah melayani Tuhan, juga mempunyai seorang ibu yang sering berdoa untuknya. Pernah sekali ibunya berlutut di depan Allah, dengan kedua tangan memeluk leher Spurgeon, berdoa, "Semoga. anakku hidup di hadapan-Mu." Ayahnya, karena terlalu sibuk melayani tidak bisa merangkum untuk memelihara kerohanian anak-anaknya, sehingga hatinya merasa risau. Tetapi ketika ia pulang, mendengar istrinya di loteng sedang berdoa menyebut satu per satu nama anaknya, ia terharu dan berkata, "Ya Tuhan, saya boleh terus memperhatikan pekedaanMu, karena anak-anak-Mu telah ada yang merawatnya."
Ibu John Wesley mempunyai anak sebanyak 19 orang, setiap hari menggandeng seorang anak masuk ke ruang doa bersama-sama berdoa. Kemudian hari, di antara 19 anak muncul dua orang penginjil yang kenamaan, yaitu John Wesley dan adiknya Charles Wesley.
Orang-orang yang dipakai Allah secara besar-besaran, semuanya karena ibu mereka sering dan tidak henti-hentinya berdoa untuk mereka.
Pada suatu hari di Boston, sebuah surat kabar memuat sebuah iklan: Sebuah perusahaan mencari seorang tenaga kerja yang masih muda. Tetapi isi Man itu tidak jelas, alamatnya hanya nomor kotak pos, tidak ada nomor teleponnya. Seorang pemuda segera menulis surat lamaran, dan menunggu dengan hati yang tidak sabar. Surat pertama tidak mendapat jawaban, lalu menulis surat yang kedua, juga tidak ada balasan. Menulis surat yang ketiga, masih tidak ada kabar. Kemudian ia bertekad pergi ke kantor pos Boston, menunggu pegawai perusahaan itu datang membuka kotak pos, lalu mengikuti pegawai itu pergi ke kantor perusahaan itu untuk menemui direkturnya. Setelah direktur itu mengetahui kisahnya, segera menerima dia sebagai karyawannya, dan berkata kepadanya, "Kami justru mencari orang yang ulet, yang mempunyai ketekunan dan tekad seperti yang Anda miliki." Pemuda ini adalah Roges Babson, yang di kemudian hari menjadi salah satu pakar moneter di Amerika.
"Bertekunlah dalam doa" (Kol. 4:2). Inilah kunci merampungkan perkara Allah dan mencapai tujuan Allah. Kalau kita menghendaki Allah melakukan perkara tertentu, kita. harus mempunyai doa yang tekun. Jangan karena terganggu oleh sesuatu lalu berhenti, melainkan terus berdoa dengan tidak henti-hentinya, sampai urusan itu rampung, dan tujuan tercapai.
Dalam kehidupan berdoa, kegagalan yang umum adalah kurang tekun. Kita mungkin mulai berdoa untuk sesuatu. hal, memohon sehari, seminggu, sebulan; kalau tidak ada hasilnya, lalu kecewa, mengira tidak ada harapan, lalu tidak menyinggungnya lagi dalam doa. Ini adalah kesalahan yang paling besar. Orang yang ada permulaan tetapi tanpa akhir, pasti tidak akan mempunyai hasil. Jika mempunyai kebiasaan ada permulaan tetapi tanpa akhir, ini berarti mempunyai nasib untuk gagal. Berdoa yang berhenti di tengah jalan juga demikian.
Kekecewaan mendatangkan putus asa, putus asa mendatangkan ketidakpercayaan, ketidakpercayaan mendatangkan kegagalan, semuanya ini adalah titik lemah yang mematikan doa.
3. Tekun Berbuat Baik
"Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah. Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada saudara-saudara seiman kita" (Gal. 6:9-10). "Lakukanlah apa yang baik bagi semua orang! Sedapat-dapatnya, kalau hal ini bergantung padamu, hiduplah dalam damai dengan semua orang!" (Rm. 12:17b-18).
Berbuat baik kepada orang, membantu orang, hidup dalam damai dengan semua orang, kalau dikerjakan dengan tekun, pada suatu hari pasti ada buahnya. Mungkin ada orang karena hal-hal itu, lalu percaya Tuhan, didapatkan oleh Anda, mungkin ada orang yang karena hal-hal itu terdorong mengasihi Tuhan, menuntut Tuhan, melayani Tuhan, terbina oleh Anda.
Madame Guyon sangat mengasihi orang-orang miskin, sering melayani mereka, memberi sedekah kepada mereka. Pada suatu musim dingin di tahun yang panennya. gagal, justru memberi kesempatan kepadanya untuk memberikan sedekah. Setiap minggu, roti-roti yang ia berikan kepada orang dari rumahnya. sampai 90 lusin, belum terhitung yang diberikan secara pribadi kepada orang yang menderita, jumlahnya sangat banyak. Tuhan memberkatinya, meskipun memberi sedekah begitu banyak, ia tidak rugi. Ia berkata, "Di dunia ini banyak pengeluaran, kalau bisa digunakan dengan tepat, banyak orang miskin akan mendapat kehangatan, yang memberi sedekah pun tidak akan kekurangan, karena Allah akan memberikan yang lebih kepadanya." Melaluinya, Tuhan menolong banyak orang.
4. Tekun Menuntut Kerohanian
"Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya, yaitu hidup kekal kepada mereka yang dengan tekun berbuat baik, mencari kemuliaan, kehormatan dan ketidakbinasaan" (Rm. 2:6-7). Penuntutan duniawi sifatnya rendah dan bisa binasa; penuntutan rohani baru mulia, terhormat, kekal, dan tidak bisa binasa. Sebab itu, kita harus bertekun menuntut kerohanian, Allah pasti membalasnya. dengan hidup kekal. Harus menuntut dengan tekun, jangan sebentar lesu, sebentar lagi gairah; hari ini mau, besok tidak mau lagi.
5. Tekun Melayani, Tekun Bekerja
"Karena itu, Saudara-saudaraku yang terkasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia" (1 Kor. 15:58). Jerih payah orang dunia bisa sia-sia. "Ya, setiap manusia hanyalah kesia-siaan! Ia hanyalah bayangan yang berlalu! Ia hanya mempeributkan yang sia-sia dan menimbun, tetapi tidak tahu, siapa yang meraupnya nanti" (Mzm. 39:6b-7). Tetapi jerih payah kita di dalam Tuhan tidak sia-sia, tinggal sampai kekal. Sebab itu, berdirilah teguh, jangan goyah, kerjakan dengan tekun. Tekun berarti biarpun urusan itu bagaimana, masih terus dikerjakan, terus dilakukan. Bukan kalau senang lalu mengedakan, tidak senang lalu tidak mengerjakan; lancar talu mengedakan, tidak lancar lalu tidak mengerjakan; siap sedia baik atau tidak baik waktunya (2 Tim. 4:2). Jangan hanya panas-panas tahi ayam. Jangan seperti pejabat baru, bergairah pada permulaan, tetapi tidak ada kelanjutannya. Jangan pertama-tama ketat, kemudian kendur, selanjutnya tidak mempedulikan.
6. Tekun Bersandar Tuhan,
tidak Putus Asa, tidak Patah Semangat
Ketika Tuhan Yesus di bumi, Ia sering diejek, dimaki, ditentang, dan dianiaya karena kehendak Allah atau perkara Allah, tetapi Ia tidak kecewa. "Ia sendiri tidak akan menjadi pudar dan tidak akan patah terkulai, sampai Ia menegakkan hukum di bumi; segala pulau mengharapkan pengajaran- Nya" (Yes. 42:4).
Iblis sering membuat orang putus asa, patah semangat, tetapi kita harus bersandar Tuhan berdiri teguh, tidak putus asa, tidak patah semangat, tidak terkena muslihatnya. Meskipun gagal, jangan putus asa, jangan lesu, kuatkanlah tangan yang lemah dan lutut yang goyah; dan luruskanlah jalan bagi kakimu, bersandar Tuhan maju terus (Ibr. 10:38, 12:12-13). Dia adalah Allah yang menghibur orang yang rendah hati (patah semangat) (2 Kor. 7:6), Ia bisa menghibur kita, mendorong kita, supaya kita tidak karena kegagalan apa pun lalu patah semangat, supaya kita menguatkan tangan yang lemah, meluruskan kaki yang penat.
Tujuan kita sudah pasti, meskipun di jalan ini ada banyak kesulitan, meskipun jalannya semakin lama semakin sempit, tetapi pahala berada di depan kita. Kidung No. 469 berbunyi, "/Tak berapa jauh lagi, lerai penat dan pedih/ ..../Dengar suara-Nya manis," "Maju janganlah jeri! /Sebelum fajar menyingsing, mungkin sudah berakhir/."
Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman dan membawa iman kita itu kepada kesempurnaan; ingatlah selalu akan Dia, supaya jangan kita menjadi lemah dan putus asa (Ibr. 13:2-3).