Daftar isi Karakter · bab 24/30

MISKIN

"Berbahagialah orang yang miskin di dalam roh, karena merekalah yang punya Kerajaan Surga."

Matius 5:3, Tl.

"Setiap orang yang karena nama-Ku meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, atau bapak atau ibunya, atau anak-anak atau ladangnya, akan menerima kembali seratus kali lipat dan akan memperoleb hidup yang kekal."

Matius 19:29

I. BERBAHAGIALAH ORANG YANG MISKIN

(Luk. 6:20)

1. Berbahagialah Orang yang Miskin di dalam Roh

"Berbahagialah orang yang miskin di dalam roh, karena merekalah yang punya Kerajaan Surga" (Mat. 5:3, Tl.). Orang yang miskin di dalam roh menganggap dirinya tidak punya apa-apa, tetapi menganggap Kristus Mahaada, hanya Kristus satu-satunya kekayaan di dalam batinnya. Orang yang miskin di dalam roh pasti senantiasa lapar dan haus, ingin mendapatkan Tuhan sendiri. Ia selalu merasa kurang banyak memperoleh Kristus dan kurang limpah mengalami Kristus. Karena itu ia menuntut Kristus dengan sekuat tenaga, seperti yang dilakukan Paulus, "Bukan seolah-olah oku telah memperoleh hal ini atau telah sempurna, melainkan aku mengejar-Nya, kalau-kalau aku dapat juga menangkap-Nya (Flp. 3:12). Orang yang sedemikian sungguh berbahagia, sebab yang ia dapatkan adalah Kristus Sang mustika (Flp. 2:8)

Orang yang miskin di dalam roh tentu tidak bersikap puas diri. Ia tidak merasa puas diri karena mempunyai talenta, kuasa, terang dalam pembacaan Alkitab, atau karena pelayanannya yang berhasil. Ia selalu merasa rohnya kurang dipenuhi, sehingga dengan sekuat tenaga ia mengejar pengenalan akan Kristus, dipenuhi di dalam roh.

2. Berbahagialah Orang yang Hidupnya Miskin

karena Melayani Tuhan

Dalam Lukas 9:3 dan 10:4 dikatakan, ketika Tuhan mengutus murid-murid memberitakan Injil, Ia berpesan kepada mereka agar tidak membawa apa-apa dalam perjalanan, tidak membawa tongkat atau bekal, roti atau uang. Ini memberi tahu kita satu prinsip, yakni orang-orang yang melayani Tuhan harus hidup, miskin. Dalam Lukas 18:22 Tuhan berkata kepada seorang pejabat muda, "...juallah segala yang kaumiliki dan bagi-bagikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di surga, kemudian datanglah kemari dan ikutlah Aku." Dalam Lukas 12:33 kepada murid-murid Tuhan berkata, "Juallah segala milikmu dan berilah sedekah! Buatlah bagimu pundi-pundi yang tidak dapat menjadi tua, suatu harta di surga yang tidak akan habis." Ayat-ayat ini pun menunjukkan bahwa orang yang mengasihi Tuhan, orang yang melayani Tuhan, menempuh hidup yang miskin. Berbahagialah orang-orang yang sedemikian! Tuhan sendiri juga miskin. "Rubah mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya" (Luk. 9:58).

Seorang saudara yang berbobot di dalam Tuhan berkata, "orang-orang yang miskin karena Tuhan akan tampak bahwa dirinya lebih diperkenan Tuhan daripada mereka yang kaya di dunia ini."

a. Bersandar kepada Allah,

Mengalami Pemeliharaan Allah

Orang kaya mudah bersandar kepada harta dan bukan kepada Allah. Miskin membuat orang bersandar kepada Allah, setiap hari mengandalkan Allah, mengalami pemeliharaan Allah, seperti janda yang hidup sendirian dan tak punya sandaran, ia "menaruh harapannya kepada Allah dan bertekun dalam permohonan dan doa siang malam" (1 Tim. 5:5). Dalam doa Tuhan tercatat "Berilah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya" (Mat. 6:11). Bukan diberikan sekaligus untuk setahun, melainkan menengadah setiap hari, diberikan setiap hari.

Dalam suatu pembacaan Alkitab, ketika membaca sampai hal manna, seorang pelajar bertanya, "Mengapa Allah tidak sekaligus memberikan suplai makanan selama satu tahun kepada orang-orang Israel?" Pembimbingnya menjawabnya dengan memberikan satu perumpamaan: Seorang raja di suatu kerajaan mempunyai seorang anak. Pada suatu. hari, ia menetapkan sekaligus memberikan suplai keperluan anaknya selama setahun. Alhasil, selama setahun itu, anaknya hanya sekali menghadap kepadanya. Kemudian, sang raja mengubah cara pemberian suplai kepada anaknya, dia membagi-baginya dan memberikan keperluannya itu cukup untuk satu hari saja. Hasilnya, setiap hari anaknya datang menghadap kepadanya.

Allah menghendaki kita menjadi seperti "bunga bakung di lembah" (Kis. 2:1).

Selama melayani Tuhan sepenuh waktu, Saudara Watchman Nee tidak pernah menerima honor tetap, ia juga tidak pernah menyatakan kekurangannya kepada siapa pun. Ia hanya menengadah dan berharap, kepada Allah dengan iman. Ia berkata bahwa kita harus berharap kepada Allah saja, jangan berbuat apa pun yang bisa memalukan Tuhan. Ketika orang memberi kita uang, kita terima sebagai wakil Kristus. Namun jangan sekali-kali mengharap belas kasihan orang. Kita sering meletakkan harapan pada seseorang, tetapi Allah tidak menghendaki kita berharap kepada manusia, sebab Dia adalah Allah Sang Pemberi.

Sejak berkata kepada ayahnya bahwa ia tidak mau lagi memakai uang ayahnya, Saudara Watchman Nee masih sempat menempuh pendidikannya selama dua tahun. Ia sering menerima suplai yang tidak diketahui sumbernya. Saat ada keperluan, Allah pasti menyediakan baginya. Kadang kala situasinya sangat menyulitkan, tetapi Allah tidak pernah lalai terhadapnya. Saat uang yang di tangannya semakin sedikit, saat itu pula Allah memberi lebih banyak kepadanya. Tidak jarang ketika ia menggunakan uangnya yang terakhir, suplai Allah tiba. Setiap kali, Allah selalu ingin diri-Nya dimuliakan.

Seorang saudara pernah bersaksi : Suatu ketika, keluarganya menghadapi kesulitan, beras yang terakhir sudah dimasukkan ke dalam periuk, tidak ada lagi yang tersisa. Syukur Tuhan memberinya seorang istri yang baik, ia benar-benar seorang yang tekun dalam berdoa. Sesudah beras itu dituang ke dalam periuk, ia lalu masuk ke dalam kamar dan berdoa : "Tuhan, beras yang terakhir sudah kumasukkan ke dalam periuk, dan tidak ada persediaan lagi. Jika suamiku seorang yang mengerjakan pekerjaan dunia, dan aku serta anak-anakku sampai kelaparan, aku hanya terima nasib sial, sebab suamiku tidak pandai mencari uang. 0, Tuhan, Engkau tahu bahwa suamiku tidak melakukan usaha lain, ia hanya bekrjda bagi-Mu. Kalau Engkau menghendaki aku dan anak-anakku kelaparan, itu bukan berarti dia yang tidak pandai, melainkan Engkau yang tidak setia." Allah sungguh mendengarkan doanya. Pada sore hari itu. juga, ada seorang membawa sekarung beras dan sekarung tepung gandum, sambil berkata, "Ini persediaan dari Tuhan untuk Anda." Setelah beras dan tepung gandum itu ditaruh, orang itu pergi tanpa banyak bicara.

Saudara ini besaksi lagi: Pernah sekali, anakku sakit demam, berbaring di ranjang. Istriku berkata kepadanya, "Kau ingin makan apa, nak?" Ketika itu aku ada di situ. "Bu, aku ingin makan bakpau," katanya. Istriku berkata, "Anakku, kalau kau suka bubur terigu, aku bisa membuatkannya bagimu. Tepung gandum kita di rumah tidak cukup untuk membuat bakpau. Kalau kau tidak suka itu, baiklah, kau tetap, berbaring, lalu marilah kita berdoa bersama, mohon Tuhan memberimu bakpau." Pada masa itu setiap penduduk memperoleh pembagian tepung gandum dari orang Jepang. Setiap kali, istriku tidak menghabiskan tepung terigu di rumah, ia selaiu menyisakan segenggam. Mengapa? Sebab rumah yang kami sewa itu sehalaman dengan seorang saudara pedagang, ia seorang yang agak berada. Kami tidak tahu apakah ia memperhatikan kami, karena ia sering bertanya kepada istriku, "Masih adakah tepung terigumu?" Kami tidak pernah memberi tahu orang tentang kebutuhan kami. Sebab itu istriku selalu menyisakan tepung terigu segenggam, agar kalau ditanya, boleh dijawab, "masih ada." Allah benar-benar mendengar doa. Sore harinya, bibiku menyuruh anaknya datang dan membawakan dua buah bakpau dengan dua butir telur bacem, dan berkata bahwa ibunya menyuruhnya mengantarkan bakpau untuk anakku yang sedang sakit. Ketika itu kami benar-benar hidup oleh iman, benar-benar berharap kepada Tuhan, sampai-sampai untuk makan bakpau saja harus berlutut berdoa dulu baru ada. Tuhan mengizinkan kita mengalami kesulitan-kesulitan, dengan maksud untuk melatih iman kita, dan juga untuk menyatakan kesetiaan-Nya.

b. Agar Hati Manusia Berpaling kepada Allah,

Mengasihi Allah

Harta benda selalu menduduki hati manusia. "Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada" (Mat. 6:21). "Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon" (Mat. 6:24). Begitu harta dikeluarkan, hati kita akan bebas, tak diduduki olehnya, dan dapat berpaling kepada Allah serta mengasihi Allah dengan segenap hati. Karena memiliki banyak harta di Sodom, maka hati istri Lot tertambat padanya, tidak sampai hati meninggalkan hartanya, walaupun tubuhnya telah keluar dari Sodom. Akibatnya, begitu ia menoleh ke belakang ke arah Sodom, ia segera menjadi tiang garam. Hal ini patut menjadi peringatan bagi kita semua. Itulah yang dikatakan Tuhan Yesus, bahwa "Alangkah sukarnya orang yang banyak harta masuk ke dalam Kerajaan Allah. Sebab lebih mudah seekor unta masuk melalui lubang jarum daripada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah" (Luk. 18:24-25).

c. Agar Orang Mewarisi Kekayaan Rohani

"Dengarkanlah, hai saudara-saudara yang kukasihi! Bukankah Allah memilih orang-orang yang dianggap miskin oleh dunia ini untuk menjadi kaya dalam iman dan menjadi ahli waris Kerajaan yang telah dijanjikan-Nya kepada orang-orang yang mengasihi Dia?" (Yak. 2:5). Miskin di dunia ini bisa membebaskan hati kita dari segala ikatan, sehingga kita dapat dengan tulus mengasihi Allah dan mewarisi kekayaan surgawi, harta rohani. Tuhan Yesus bersabda, "Setiap orang yang karena namaKu meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, atau bapak atau ibunya, atau anak-anak atau ladangnya, akan menerima kembali seratus kali lipat dan akan memperoleh hidup yang kekal" (Mat. 19:29). Kata Paulus, "Sebagai orang miskin, namun memperkaya banyak orang, sebagai orang tak bermilik, sekalipun kami memiliki segala sesuatu" (2 Kor. 6:10). Dalam hal duniawi, Paulus miskin, tetapi dalam hal rohani, ia kaya, bisa menyuplai orang dengan kekayaan rohani, agar orang lain juga menjadi kaya dalam hal rohani. Di dunia ia seolah tidak bermilik, namun ia memiliki Kristus Sang almuhit. Ia memiliki segala sesuatu di dalam Kristus, bisa memberitakan kepada orang kekayaan Mstus yang tak terduga itu.

Petrus menyuruh orang lumpuh berdiri dan berjalan, katanya, "Emas dan perak tidak ada padaku, tetapi apa yang kupunyai, keberikan kepadamu : Dalam nama Yesus Kristus, orang Nazaret itu, bangkit dan berjalanlah!" (Ms. 3:6). Petrus tidak mempunyai emas dan perak, namun punya Kristus.

Tuhan bersabda kepada gereja di Smirna, "Aku tahu kesusahanmu dan kemiskinanmu - namun engkau kaya" (Why. 2:9). Miskin pada lahiriahnya, namun kaya pada batiniahnya. Miskin dalam hal materi, kaya dalam hal rohani.

Madame Guyon mengasihi Tuhan, rela menjadi miskin seperti Tuhan. Kekayaan dunia tidak terbilang apa-apa dalam pandangannya. Kerabatnya mengusulkan agar harta miliknya dibagi-bagikan kepada anak-anaknya, dan ia akan mendapat uang pensiun tahunan yang sangat besar jumlahnya. Usul yang demikian bagi orang lain tentu tidak menggembirakan, tetapi tidak demikian bagi Madame Guyon. Ia rela menjadi miskin, sengsara, dan terbuang seperti Tuhan. Mereka lalu membuat surat perjanjian, dan ia pun membubuhi tanda tangannya. Namun ketika menandatanganinya, ia tidak memperhatikan beberapa kalimat yang tidak menguntungkan dirinya. Kalimat itu ialah : Jika anak-anaknya meninggal dunia, maka harta milik itu akan diwariskan kepada kerabatnya, dan ia sama sekali tidak ada bagian. Selain itu masih ada beberapa kalimat lagi yang tidak menguntungkan dia. Akan tetapi, hatinya lebih bersukacita daripada orang-orang yang akan beroleh harta miliknya itu. Hatinya tidak merasa sedih karena hal tersebut, dan ia selamanya tidak menyesal. baginya alangkah manis meninggalkan segala-galanya demi Tuhan. Dan ia beroleh damai sejahtera yang besar oleh karena mencintai kemiskinan.

Ada sejangka waktu ia tinggal di sebuah loteng yang mirip gua, lantainya dilapisi rumput kering, untuk naik dan turun perlu tangga. Di atas loteng itu, kecuali tempat tidur tidak ada benda panjang lainnya. Namun ia sangat puas tinggal di situ, sebab keadaan itu persis seperti yang dialami oleh Tuhan pada masa-Nya. Di dalam "gua" itu ia sering diumpat orang, tetapi ia malah menikmati kepuasan yang manis dan sejati. Ia merasa tinggal di situ lebih mulia daripada raja-raja dunia yang mana pun. Tempat tinggalnya mirip sarang burung. Tuhan senang kalau tempat tinggalnya bisa seperti tempat tinggal-Nya. Ia menganggap kehilangan segala-galanya namun memperoleh Allah merupakan "keuntungannya" yang terbesar. Sebaliknya, kehilangan Allah namun memperoleh segala-galanya itulah kerugiannya yang paling menderita. Ia meninggalkan segala-galanya demi mengasihi Tuhan. Dalam segala kesulitan Allah selalu meneguhkan dia, dan dalam kepungan badai Allah selalu memberinya ketenangan yang sempurna. Allah pun memberinya kebebasan yang luas dan sukacita yang tak terkatakan pada waktu ia ditahan di dalam penjara.

Seorang saudara berkata : Pada tahun-tahun pertama Saudara. Watchman Nee bekerja di Shanghai, terkadang seharian ia hanya makan bakpau tanpa isi, kecuali itu tidak punya makanan lain. Itu terjadi bukan sekali saja, bahkan adakalanya. makanan berikutnya tidak tahu harus diperoleh dari mana. Ketika mereka berada di China di masa silam, setiap hari harus mengalami ujian penghidupan. Hari demi hari sering hanya bersandar pada uang satu yuan, dan uang itu hanya cukup untuk sekadar tidak kelaparan. Tetapi pada hari-hari ujian itu, ketika taraf penghidupan menurun secara drastis, mereka selalu kenyang menikmati Allah dan firman-Nya. Selama masa-masa ujian itu sering kali pagi tidak menjamin sore. Mereka tidak memiliki banyak makanan jasmani, namun mereka sangat kenyang menikmati makanan rohani yang berlimpah.

John Wesley pernah menolong banyak orang dalam hal rohani selama hidupnya. Tetapi ketika ia meninggal dunia pada usia 88 tahun, harta peninggalannya hanya sebuah teko perak, dan dua buah anak kunci perak, yang saat ini tersimpan di museum gedung kebaktian daerah perkataan London sebagai kenang-kenangan.

J.N. Darby adalah seorang tokoh rohani yang dipakai Tuhan secara besar-besaran pada abad yang lalu. Orang-orang yang beroleh bantuan rohaninya tidak kurang dari ratusan ribu. Hal ini memungkinkan dia untuk memperoleh reputasi dan kedudukan. Tetapi semua itu ia tolak. Suatu ketika, pada usianya yang lanjut, ia mengadakan tur pelayanan ke Italia. Di sana ia bermalam di sebuah losmen. Tubuhnya sangat letih. Sambil menopang kepalanya di antara kedua tangannya, ia bernyanyi dengan suara lembut, "kukorbankan segalanya, pikul salib ikut Dia, derita hina, miskin, cerca ... Namun ku amat bahagia, Allah, Kristus bagianku."

Miss Barber meninggal pada tahun 1930 dalam usia 64 tahun. Dalam surat wasiatnya tercantum bahwa segala miliknya ia wariskan kepada Watchman Nee. Segala miliknya yang ia maksud itu tak lain berupa sejilid Alkitab yang penuh dengan catatan; kecuali itu tidak ada apa-apa yang ia tinggalkan. Pada lembaran kosong dalam Alkitabnya itu sejak dulu sudah ia tulisi : "Untuk diriku aku tidak ada tuntutan apa-apa, untuk Tuhan. aku menuntut segala-galanya." Ia tidak meninggalkan apa-apa yang materi, tetapi ia meninggalkan banyak sekali yang rohani.

II. MEMILIH MISKIN

DEMI MENGASIHI TUHAN DAN GEREJA

1. Bukan Miskin karena Malas

Bukan miskin karena malas bekerja dan senang makan enak, pun bukan karena kita sendiri miskin lalu menyalahkan orang kaya; melainkan bisa hidup kaya tetapi rela memilih miskin karena Tuhan. Ada kesempatan memperoleh harta, tetapi rela melepaskannya demi Tuhan. Kemiskinan alamiah tidak ada gunanya, tetapi bisa tidak miskin namun menjadi miskin karena Tuhan baru ada gunanya.

2. Memilih Miskin demi Mengasihi Tuhan dan Gereja

Demi mengasihi Tuhan, Maria rela mencurahkan minyak narwastu murni yang mahal, yang bernilai 300 dinar, yang ia beli dengan tabungannya bertahun-tahun, ke atas diri Tuhan (Yoh. 12:3-5). Perempuan-perempuan yang mengikuti Tuhan melayani rombongan Tuhan dengan kekayaan mereka (Luk. 8:1-3). Mereka mempersembahkan harta dan rela miskin demi mengasihi Tuhan. Setelah beroleh selamat, Zakheus rela memberikan setengah dari miliknya kepada orang-orang miskin, dan mengembalikan empat kali lipat kepada orang-orang yang pernah diperasnya. Perbuatannya itu pasti mengakibatkan hartanya tak tersisa seberapa. Hal itu pun disebabkan oleh kasihnya terhadap Tuhan. Ia rela menjadi miskin karena Tuhan (Luk. 19:8).

Dalam keadaan yang sangat miskin, kaum saleh di Makedonia masih bisa menyatakan kemurahan hati mereka dalam memberi sumbangan kepada orang-orang kudus (2 Kor. 8:1-2). Karena mengasihi gereja, mereka rela menyumbangkan harta kepada orang-orang miskin di Yerusalem, sekalipun mereka sendiri di dalam kemiskinan. Ini berarti mereka rela menjadi lebih miskin. Ketika pada hari Pentakosta Roh Kudus dicurahkan dan gereja yang pertama terbangun, ada tiga dan lima ribu orang beroleh selamat, dan demi mengasihi gereja mereka rela menjual harta milik mereka lalu membagi-bagikan kepada orang-orang sesuai keperluan masing-masing, serta kepunyaan mereka menjadi kepunyaan bersama. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa (Kis. 2:44-47; 4:32-35).

3. Diri Sendiri Miskin Baru Bisa Membuat Orang Lain Kaya

"Karena kamu telah mengenal anugerah Tuhan kita Yesus Kristus bahwa sekalipun ia kaya, oleh karena kamu Ia menjadi miskin, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya" (2 Kor. 8:9). Ayat ini menunjukkan kepada kita bahwa Tuhan Yesus menjadi miskin karena kita, maka hari ini kita baru bisa menerima rahmat dan karunia, dan menjadi kaya di dalamNya. Jika Ia tidak meninggalkan kemuliaan surga bagi kita, tidak menjadi manusia serta hidup miskin sebagai tukang kayu bagi kita, mustahillah hari ini kita bisa beroleh rahmat.

Elisa juga menempuh hidup yang miskin, ini terbukti dari sesaknya tempat tinggal para muridnya (2 Raj. 6: 1). Tetapi justru karena ia miskin, maka ia bisa menjernihkan air Yerikho, membangkitkan anak janda yang sudah mati, dan melahirkan kusta Naaman. Jika ia memperkaya dirinya sendiri, menerima perak dan pakaian dari Naaman, lalu membeli kebun anggur, kebun zaitun, lembu, kambing, hamba, dan sebagainya, ia pasti tidak bisa melakukan bagitu banyak mujizat, dan membuat orang beroleh kasih karunia Allah (2 Raj. 5:15-16, 26).

Paulus tidak menginginkan emas, perak, dan pakaian dari siapa pun; dengan tangannya sendiri ia bekerja untuk memenuhi keperluannya dan keperluan kawan-kawan seperjalanannya (Kis. 20:33-34). Ketika tidak punya, ia tidak mengingini dengan serakah, ketika punya, ia memberikannya kepada orang lain. Ia menempuh hidup miskin, karena itu ia bisa "sebagai orang miskin, namun memperkaya banyak orang" (2 Kor. 6:10). Petrus tidak punya emas dan perak, namun ia dapat demi nama Yesus orang Nazaret menyuruh orang lumpuh itu berjalan (Kis. 3:6). Andaikata ia kembali menjadi nelayan, atau menjual karunianya (Kis. 8:18-20), ia tak mungkin menyuruh orang itu berjalan, dan tak mungkin begitu membuka mulut berkhotbah lalu Roh Kudus turun ke atas orang-orang yang mendengarkannya (Fis. 10:44).

III. ORANG YANG MELAYANI ALLAH

HARUS DISELAMATKAN DARI UANG

1. Langkah Kaki Tidak Dipengaruhi oleh Uang

Jika di atas diri orang yang bekerja bagi Tuhan belum terbebaskan dari kuasa uang, maka di tempat ia berada, ia pasti selalu berhubungan dengan uang. Kalau di suatu tempat ada suplai, ia pergi ke sana, jika tidak ada suplai, ia tidak pergi. Tempat yang miskin tidak akan dikunjunginya. Sekalipun dikunjungi, hanya sebentar saja lalu ditinggalkannya. Di tempat yang kaya sering dikunjunginya, bahkan senang tinggal lama di sana. Jadi, jejak kakinya.sangat dipengaruhi oleh suplai suatu tempat, dan mengira itu adalah pimpinan Allah. Kita harus diselamatkan dari pengaruh uang, tidak menjadi pekerja yang "mencari nafkah". Jangan dikendalikan oleh uang, jangan dipengaruhi oleh Mamon.

2. Ajaran Tidak Diatur oleh Uang

Orang yang jalannya diatur oleh uang, maka selang beberapa waktu kemudian, ajaran-ajarannya juga akan diatur oleh uang. Terhadap orang miskin ia memberitakan sejenis ajaran, terhadap orang kaya ia memberitakan ajaran lain. Jadi pola khotbahnya selalu mengikuti uang. Pelayanan yang sejati tidaklah demikian. Ini adalah perkara yang sangat serius. Kita harus diselamatkan sepenuhnya dari uang. Orang yang selalu mengharapkan suplai uang dari orang lain, baik dalam perjalanan maupun khotbahnya, ia tidak layak bekerja bagi Allah, dan ia harus tertutup di luar pintu pekerjaan Allah.

3. Ibadah Disertai Rasa Cukup Adalah Keuntungan Besar

Membonceng ibadah sebagai suatu sumber keuntungan adalah perbuatan yang paling hina dalam seluruh dunia. Para pekerja Tuhan harus membersihkan diri sebersih mungkin dari keuntungan, baru ia layak bekerja. Kita boleh menjual pakaian atau benda-benda kita, namun ajaran dan ibadah kita sekali-kali tidak boleh dijual. "Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar" (1 Tim. 6:6). Di sinilah keuntungan sejatinya, yakni aku sudah merasa cukup dengan ibadah itu, maka aku tidak menuntut apa-apa lagi, aku tidak berharap memperoleh apa-apa lagi. ibadah berarti aku merasa cukup dengan apa yang kumiliki. Inilah suatu keuntungan yang besar.

4. Orang yang Melayani Allah Mutlak Tidak Boleh

Tamak akan Uang

Paulus berkata bahwa orang yang menjadi penatua atau diaken haruslah orang yang bukan hamba uang, tidak tamak akan uang. Orang yang tidak tamak akan uang baru layak menjadi penatua atau diaken (1 Tim. 3:3; Tit. 1:7). Petrus juga berkata, "Gembalakanlah kawanan domba Allah yang ada padamu, jangan dengan paksa ... dan jangan karena mau mencari keuntungan, tetapi dengan pengabdian diri" (1 Ptr. 5:2). Orang yang tamak akan uang atau mencari keuntungan sama sekali tidak mungkin menggembalakan domba Allah. Jika hati yang tamak itu tidak ditanggulangi, cepat atau lambat pasti akan menimbulkan masalah. Orang yang tidak membereskan masalah uang, masalah yang mendasar ini, mustahillah ia mengerjakan pekerjaannya dengan baik. Jika masalah uang tidak dapat dibereskan, perkara-perkara lain pun tidak dapat dibereskan, dan kelak pasti akan timbul masalah, pasti timbul melapetaka. Ketidakbersihan dalam keuangan merupakan perkara yang paling tidak dibenarkan dalam firman Allah.

Seorang saudara berkata bahwa uang merupakan ujian terbesar untuk menguji siapakah rasul palsu. Orang yang tidak beres dalam hal keuangan, yang tamak akan uang, pasti adalah rasul palsu.

5. Jangan Membuat Orang Tahu bahwa Pekerja Itu Miskin

Seorang pekerja hidup oleh iman, bukan oleh belas kasihan orang. Adalah hal yang memalukan bila membuat orang tahu bahwa dirinya miskin dan mengharapkan suplai dari orang lain. Ketika seorang pekerja menerima suplai dari saudara. lainnya, ia harus memiliki sikap yang benar dan tepat, yaitu mewakili Allah menerima persembahan saudara. Ia berdiri di pihak Allah, mewakili Allah, karenanya ia tidak boleh memberi kesan yang memelas kepada orang. Ketika Paulus menyinggung masalah ini, betapa terhormat dan seriusnya kesan yang diberikan kepada orang. Inilah sikap yang seharusnya dimiliki setiap pekerja Tuhan.

Seorang pekerja jangan sekali-kali meminjam uang. Seorang pekerja Allah harus lebih baik mati daripada meminta uang kepada orang lain. Jika ia tidak beriman untuk mengatasi kebutuhan hidupnya, ia harus mengerjakan pekerjaan lain untuk menghidupi dirinya sendiri. Jika ia beriman, Allah pasti memeliharanya, dan ia tidak perlu mengulurkan tangan kepada orang lain.

Ada satu hal yang tidak pernah dilanggar oleh Hudson Taylor, yaitu seluruh biaya pekerjaannya mutlak berdasarkan doa dengan iman, sepenuhnya bersandar kepada suplai Allah, tanpa meminjam uang atau minta sumbangan. Ia pun tidak membatasi pekerjaannya oleh karena kekurangan biaya. Hal ini dapat kita baca dari setiap suratnya. Berikut ini kita kutip sebuah suratnya tentang hal ini :

Dalam buku karangannya yang berjudul "Keperluan dan Tuntutan Rohani di China" tertulis kata-kata demikian : Selama delapan tahun ini aku melihat betapa Allah menyuplai segala kebutuhan pribadiku dan pekerjaanku, serba cukup, tak pernah lalai ... emas dan perak di dunia ini semuanya milik Allah, lembu dan kambing di gunung juga milik Allah. Kita tidak perlu hidup dengan makan sayur-mayur saja ... Jika kita mau, kita boleh memperoleh uang jaminan. Namun kita merasa itu tidak perlu. Kalau ada uang jaminan, tidak saja tidak berguna, bahkan sebaliknya, mencelakakan. Pengaturan yang tidak tepat atau menggunakan uang yang diperoleh dari sumbangan, semuanya sangat menakutkan, dan harus dihindari. Sekali-kali jangan menggunakan uang yang tidak benar untuk perkara-perkara yang tidak pada tempatnya . . .

6. Cinta Uang Adalah Akar Segala Kejahatan

(1 Tim. 6: 10)

a. Meninggalkan Jalan Benar

Bileam adalah seorang nabi yang tamak akan upah yang tidak halal. Ia tergiur oleh upah penenung, dan ingin mengutuk orang Israel. Karena tidak jadi mengutuk orang Israel, ia lalu mengajar Balak menaruh batu sandungan di hadapan orang Israel, yakni menyuruh mereka memakan sesaji berhala dan berzina. Karena menginginkan keuntungan uang, ia meninggalkan jalan yang benar dan tersesatlah dia (Bil. 22:7, 15-17; 2 Ptr. 2:15; Yud. 11).

b. Terjerat ke dalam Perangkap Iblis

"Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan ... dan karena memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka" (1 Tim. 6:9-10).

c. Tamak Adalah Dosa yang Serius,

Tidak Ada Bagian dalam Kerajaan Allah

Dalam pandangan Allah dosa tamak akan uang sangat najis. Hamba Elisa, Gehazi, mengejar Naaman dan meminta kepadanya pakaian dan perak, lalu penyakit kusta Naaman melekat padanya (2 Raj. 5:20-27). Tamak akan uang adalah satu dosa yang sangat serius, yang identik dengan menyembah berhala, dan yang tidak ada bagian dalam kerajaan Kristus dan Allah (Ef. 5:5; Kol. 3:5).

IV. Allah tidak Menghendaki dan tidak Menyuruh

Anak-anak-Nya Kekurangan

Dari Matius 6:25-33 kita dapat membuktikan betapa Allah berjanji akan memelihara anak-anak-Nya, dan tidak menghendaki mereka kekurangan. Burung-burung di udara saja dipelihara Allah, kita jauh lebih berharga daripada buning-burung itu, karena itu Allah lebih-lebih harus memelihara kita. Orang-orang yang mencari kerajaan dan kebenaran-Nya, pasti dihargai-Nya, dan semuanya itu. akan ditambahkan kepadanya.

1. Allah Adalah Allah yang Kaya,

Ia Mempunyai Suplai yang Melimpah

Baik kekayaan materi maupun rohani, semua adalah milik-Nya untuk menyuplai manusia. Tuhan Yesus pernah mengadakan mujizat dengan lima ketul roti dan dua ekor ikan untuk mengenyangkan 5.000 orang. Roti mengacu kepada kekayaan di bumi, ikan mengacu kepada kekayaan di laut. Dia memang Allah yang Mahakaya, yang menyuplai kebutuhan hidup manusia di bumi dengan kekayaan bumi dan kekayaan laut, kekayaan hayat nabati dan kekayaan hewani. Allah memimpin orang Israel masuk ke negeri yang kaya dengan susu dan madu. Susu dihasilkan oleh lembu yang memakan rumput, sedang madu dihasilkan oleh lebah yang memakan serbuk bunga, keduanya merupakan sari dari perpaduan hayat nabati dan hewani; penuh dengan kekayaan hayat. Dengan kekayaan rohani Ia menyuplai kebutuhan anak-anak Allah. Paulus "memberitakan kepada orang-orang bukan Yahudi kekayaan Kristus, yang tidak terduga itu" (Ef. 3:8).

2. Allah Memiliki Suplai yang Kaya,

Ia Tidak Menghendaki Kita Kekurangan

Dialah Allah yang Mahakaya, yang mempunyai suplai yang berlimpah- limpah. Lima ketul roti dan dua ekor ikan telah mengenyangkan lima ribu orang, dan remah-rumahnya dikumpulkan sebanyak 12 bakul penuh (Mat. 14:20). Suplai-Nya selalu berlimpah ruah, melebihi kebutuhan kita. Kemudian, dengan tujuh ketul roti dan beberapa ekor ikan, Ia mengenyangkan empat ribu orang, sebab Tuhan berkata, "Hati-Ku tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak itu ... Aku tidak mau menyuruh mereka pulang dengan lapar, nanti mereka pingsan di jalan" (Mat. 15:32). Suplai-Nya berlimpah-limpah, Ia tidak menghendaki kita lapar, atau kekurangan. "Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus" (Flp. 4:19).

3. Kekurangan Menguji Kita agar Kita Mengalami Dia

Memang Allah berjanji memelihara anak-anak-Nya, Ia tidak menghendaki anak-anak-Nya kekurangan. Tetapi adakalanya Allah menyuruh kekurangan menimpa diri anak-anak-Nya, itu ada maksud-Nya yang indah. Pertama untuk menguji bagaimana kasih mereka terhadap Dia, kedua agar manusia dalam kekurangan mengalami Dia.

a. Menguji Kasih Orang terhadap Dia

Tidak murtad karena miskin, tidak mengubah haluan-dan memilih kaya karena miskin. Dalam kemiskinan sekalipun masih bisa menyatakan kasih karunia untuk memberi bantuan (2 Kor. 8:2). Dalam kemiskinan masih bisa memasukkan dua peser ke dalam peti persembahan, dan itu adalah seluruh nafkahnya (Luk. 21:1-4). Semua itu tak lain menyatakan kesungguhan kasih orang terhadap Allah.

b. Agar Kita Mengalami Dia

Paulus berkata. "Sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan. Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam setiap keadaan dan dalam segala hal tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam keadaan kenyang, maupun dalam keadaan lapar, baik dalam keadaan berkelimpahan maupun dalam keadaan berkekurangan. Segala hal dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku" (Flp. 4:11-13). Baik kaya maupun miskin, tidak dapat menghalangi Paulus untuk mengalami Kristus sebagai kekuatan di batinnya. Kaya tidak membuatnya angkuh, miskin tidak membuatnya hina. Dalam kemiskinan ia bisa mengalami Kristus sebagai kepuasan dan sukacitanya.