Daftar isi Karakter · bab 23/30

RENDAH

"Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati.

I Petrus 5:5b

"Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan, dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.

Lukas 14:11

I. RENDAH ADALAH DI BAWAH

Di bawah berarti mengosongkan diri sendiri, tidak ada diri sendiri, tidak sombong, tidak puas diri. Bukannya tidak memiliki sesuatu, atau menipu diri sendiri, melainkan : ada tetapi seperti tidak ada, berhikmat tetapi seperti bodoh, tinggi tetapi mau merendah. "Ada orang yang berlagak kaya, tetapi tidak mempunyai apa-apa" (Ams. 13:7a). Mempunyai tetapi seolah tidak mempunyai, tinggi tetapi mau merendah.

Meskipun Tuhan Yesus memiliki rupa Allah, tetapi Ia rela mengosongkan dirNya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia, merendahkan diriNya (Flp. 2:6-8).

Meskipun Paulus adalah seorang rasul, tetapi telah "merendahkan diri" (II Kor, 11:7). Tidak peduli bagaimana Allah memakai Anda, tidak peduli berapa besar karunia Anda, berapa besar fungsi Anda, tetap harus berdiri pada posisi merendah, tidak boleh memiliki perasaan tinggi diri. Tidak dapat seperti raja Nebukadnezar yang mendirikan bagi dirinya sendiri sebuah patung emas yang tinggi besar (Dan. 2:31; 2:37; 3:1), menjadi pohon yang tinggi besar mencapai langit (Dan. 4:10,11). Ia berkata, "Bukankah ini Babel yang besar itu, yang dengan kekuatan kuasaku dan untuk kemuliaan kebesaranku telah kubangun menjadi kota kerajaan" (Dan. 4:30). Dalam perasaan Nebukadnezar, dirinya sangat tinggi, besar, begitu tinggi hingga mencapai langit begitu besar hingga mencapai ujung bumi.

Tidak peduli bagaimana Allah menjunjung tinggi Anda, bagaimana manusia menyanjung Anda, pada Anda tetap tidak ada perasaan tinggi. Tidak peduli Anda telah memiliki sesuatu, tetap, tidak boleh memiliki perasaan yang tinggi besar, perasaan yang puas diri.

Suatu kali raja Hizkia gagal, ia membuka gudang harta bendanya dan memperlihatkan segalanya kepada utusan raja Babel. Apa saja yang dimilikinya dikeluarkan dan diperlihatkan, merasa bahwa dirinya memiliki banyak (Yes. 39:1-2).

Seorang saudara berkata, "Suatu kali, aku pergi ke suatu tempat, dan gereja di tempat itu mengatur seorang saudari untuk melayani keperluanku selama di sana. Oh, begitu aku melihat saudari itu, aku tidak dapat melihat gereja di sana. Apa yang kulihat semuanya adalah saudari itu. Aku tidak tahu berapa besarnya saudari itu, dia telah menutupi seluruh gereja di sana. Aku tidak melihat penatua, aku tidak melihat diaken, aku tidak melihat saudara, juga tidak melihat saudari, aku hanya melihat dia. Di mana-mana dia, di dalam rumah dia, di halaman rumah dia, tidak ada tempat yang bukan dia. Anda mendengar suaranya, juga melihat tindakannya, semua dia yang berperan, begitu menonjol. Tuhan kita tidak demikian, Dia sangat besar, sangat mulia, sangat agung, tetapi ajaib sekali, Dia sangat tersembunyi, "Ia tidak akan berbantah dan tidak akan berteriak dan orang tidak akan mendengar suaraNya dijalan-jalan" (Mat. 12:19), Dia sangat merendah, "Mengambil rupa seorang hamba" (Flp. 2:7).

Meskipun ilmu Darby sangat tinggi, tetapi kerendahan hatinya sangat nyata. Dia selamanya tidak membiarkan ilmunya melampaui pelayanannya. Ada seorang ahli teologi ortodoks berkata, "Kristus tetap mati tersalib dalam bahasa Ibrani, Yunani, dan Latin" tetapi di atas diri Darby tidak demikian, jarang sekali orang mendengar dia berkhotbah memakai bahasa Ibrani atau bahasa Yunani, sampai-sampai banyak orang dengan heran berkata, "Inikah tuan Darby yang tersohor itu?"

Waktu itu di tengah-tengah Kaum Saudara (The Brethren) banyak orang yang mempunyai gelar bangsawan di kerajaan Inggris. Mereka dengan penuh hormat mengembalikan gelar itu kepada kerajaan. Darby adalah seorang yang paling berbobot di antara mereka, tetapi orang sukar sekali menemukan atau melihat selembar pun fotonya. Dia tidak mau meninggalkan fotonya bagi orang lain. Dia berkata, "Mengapa meninggalkan diriku untuk dilihat orang? Apakah supaya orang menyanjungku?" Sampai hari ini, tidak ada buku biografi yang cukup memadai tentang Darby. Ini dikarenakan ia tidak membiarkan orang lain menulisnya; ia tidak ingin kalau orang lain mengetahui tentang dirinya.

Saudara Watchman Nee adalah seorang yang tidak mencari nama, selain untuk hal-hal yang membawa tanggung jawab dalam karya-karya tulis, barulah dicantumkan namanya. Asal dapat dibindari, dia sedapatnya menghindarinya; jika dapat menyembunyikan diri, dia sedapat mungkin menyembunyikan diri. Dia tidak mau terkenal. Ketika dia keluar, dia tidak senang kalau diantar atau dijemput. sering kali seorang diri. Dalam perasaannya, seorang hamba Tuhan seharusnya rendah, tidak menerima kemuliaan dari manusia. Pernah sekali, ketika dia di Shanghai, dan mau membuka dan memimpin suatu sidang istimewa, seorang sekerja terlebih dulu memberitahu dia bahwa ada beberapa orang akan mengantar dia naik kereta api, demikianlah baru ia menyetujuinya. Jika tidak terlebih dahulu mendapat persetujuannya, dia tidak senang diantar oleh orang lain. Pada saat terakhir dia meninggalkan Hongkong, ia tidak mengizinkan orang lain mengantarnya, selain dua, tiga saudara yang membantu dia, tidak ada saudara saudari lain yang mengantarnya. Dengan sendirian ia meninggalkan Hongkong.

Pernah seorang pendeta terkenal dari Skotlandia berkata kepada Hudson Taylor, "Anda pasti sering merasa betapa ajaibnya Allah memberkati pekerjaan Anda, sehingga apapun yang Anda kerjakan berhasil. Mungkin di bawah langit ini tidak ada orang lain yang mengalami kemuliaan berkat sedemikian." Dengan khidmat dan tenang Hudson Taylor menjawab, "Dalam pandanganku tidak begitu. Kadangkala aku berpikir, bahwa Allah mau mencari seorang yang kecil, yang lemah untuk dipakaiNya, supaya kemuliaan itu bagiNya melulu. Aku adalah orang yang demikian." Hudson Taylor telah melakukan pekerjaan yang begitu besar, namun masih tetap menganggap bahwa dirinya adalah kecil dan lemah. Tidak karena keberhasilan yang besar lalu menganggap dirinya besar.

II. MENJADI ORANG YANG MERENDAH,

MELAYANI PEKERJAAN YANG RENDAH/BAWAH

Tuhan Yesus adalah seorang yang merendah, pergi ke rumah pemungut cukai dan orang berdosa untuk menghadiri perjamuan mereka; duduk di tepi perigi di Sikhar menunggu seorang perempuan Samaria yang memiliki lima suami; menjamah orang yang sakit kusta; pergi ke tepi kolam Betesda dan menyembuhkan orang yang telah 38 tahun sakit timpang. Tuhan Yesus sibuk melayani pekerjaan rendah/bawah, menuang air dan membasuh kaki muridmuridNya, sampai-sampai Petrus merasa tidak bisa membiarkannya lalu berkata, "Tuhan, Engkau hendak membasuh kakiku? . . . Engkau tidak akan membasuh kakiku sampai selama-lamanya" (Yoh. 13:6,8).

Pernah sekali, beberapa sekerja melakukan suatu perjalanan dengan disertai seorang anak lelaki yang telah beroleh selamat di Yangchow. Anak laki-laki tersebut terkena penyakit kusta. Seorang sekerja wanita menulis demikian, "Aku merasa bahwa, selimut yang dipakai oleh anak kusta itu sangat bau" keesokan harinya, dibuangnya barang yang sangat bau itu. Tetapi, Hudson Taylor telah tidur sekamar dengan dia.

Pada tahun 1858, di gereja Presbiterian Ningpo, seorang bernama tuan Kwa tiba-tiba sakit cacar, sakit keras sekali. Dia tidak mempunyai sanak keluarga yang dapat merawat dirinya. Adik perempuannya, nyonya Weigh, telah mempunyai beberapa anak, dan tidak dapat melayani dia. Di tempat itu tidak ada rumah sakit yang ada I.C.U nya. Dengan kasih Hudson Taylor menyanggupi untuk tinggal bersama orang sakit itu, mengobati dia, siang malam melayani dia, sampai tuan Kwa itu meninggal dunia. Karena pelayanan itu, seluruh baju Hudson Taylor tertular oleh bakteri penyakit, tidak boleh dipakai lagi, harus dibakar musnah. Tetapi dia tidak memiliki uang untuk membeli kain dan membuat pakaian baru. Karena dia tidak menabung, jika uangnya lebih, ia berikan untuk menunjang sekerja, atau diberikan kepada orang miskin. Tepat waktu itu, seorang temannya mengirimkan kepadanya sekopor pakaian Hudson yang telah tertinggal satu tahun lebih di Siantou ke Ningpo. Sekali lagi dia mengalami "Eben-Haezer", "Tuhan menyediakan"

Pada tahun 1886, ketika Hudson Taylor berada di Hanchung, di sana ada sepasang suaml istri penginjil mempunyai seorang anak perempuan berriama Anni, berumur 5 tahun, tubuhnya sangat lemah. Ayah ibunya menitipkan dia kepada Hudson Taylor supaya dibawa ke pesisir untuk dirawat. Hudson Taylor menyanggupinya. Makanan dan pakaian bagi anak itu, Hudson Taylor sendiri yang memenuhinya; ia merawatnya seperti ibu kandungnya.

Madame Guyon juga adalah seorang yang merendah, melayani perkara yang rendah/bawah.

Jangan hanya berkontak dengan orang kaya, berkedudukan, berilmu saja, harus juga berkontak dengan orang-orang yang dipandang lemah, bodoh., tak mampu (I Kor. 1:26-28). Tuhan berkata, "Tetapi apabila engkau mengadakan perjamuan, undanglah orang-orang miskin, orang-orang cacat, orang-orang lumpuh dan orang-orang buta. Dan Engkau akan berbahagia" (Luk. 14:13-14a).

Seorang saudara berkata, "Banyak pemimpin di kalangan Kekristenan yang menghargai orang-orang kaya. Tetapi saudara Watchman Nee bahkan tidak mau mengeluarkan waktunya bersama dengan orang-orang kaya. Dia lebih senang menghadiri undangan ke rumah saudara yang tidak mampu. Tidak perlu diragukan, sikap saudara Nee dalam hal ini adalah benar."

Jangan berpikir bahwa aku hanya untuk berdiri di atas mimbar, tidak patut menyapu lantai. Jangan mengira karena aku telah menjadi penatua, maka perkara menyapu bukan lagi urusanku.

III. SASARAN TEKAD HARUS TINGGI,

TINDAKAN HARUS RENDAH

Harus tampak kehendak Allah yang kekal, ekonomi Allah dalam alam semesta, dan menceburkan diri ke dalamnya. Harus melihat sasaran yang di depan, yaitu pahala kerajaan. dan sekuatnya berlari ke arahnya. Harus memiliki sasaran tekad sedemikian tinggi, tetapi dalam tindakan harus rendah. Jangan mengira bahwa kalau tidak berdiri di mimbar tidak terhitung; jangan menyangka begitu mengadakan sidang istimewa langsung mengejutkan orang. Sasaran telah ditetapkan, tekad telah mantap, asal menjamah pada sasarannya, sekalipun pelayanan itu kecil, juga harus dikerjakan. Ke pelosokpun pergi, jangan hanya memilih pelayanan yang besar, tempat yang besar.

IV. ALLAH MEMBERKATI ORANG

YANG RENDAH HATI (I Ptr. 5:5)

1. Segala Sesuatu Adalah Pemberian Allah,

Manusia Harus Rendah Hati

Orang Korintus sombong, merasa tinggi diri, Paulus menulis surat menegur mereka, "Sebab siapakah yang menganggap engkau begitu penting? Dan apakah yang engkau punyai, yang tidak engkau terima? Dan jika engkau memang menerimanya, mengapakah engkau memegahkan diri, seolah-olah engkau tidak menerimanya?" Jika segalanya adalah pemberian Allah, Anda terima dari Allah; kepandaian dan hikmat Anda adalah pemberian Allah, bakat Anda adalah pemberian Allah, kekayaan Anda adalah pemberian Allah, talenta Anda adalah pemberian Allah, lalu ada apa yang bisa Anda megahkan? Anda harus tampak, Anda bisa berdiri teguh karena belaskasihan Tuhan, kalau Allah mengambil belaskasihanNya dari Anda, Anda segera jatuh, gagal, jadi tetap tidak ada yang patut dimegahkan. Orang yang mengenal karunia Allah tidak bisa tidak rendah hati.

2. Segala Sesuatu Tergantung pada Allah

"TUHAN mematikan dan menghidupkan, Ia menurunkan ke dalam dunia orang mati dan mengangkat dari sana. TUHAN membuat miskin dan membuat kaya; Ia merendahkan, dan meninggikan juga" (I Sam. 2:6-7). Allah membuat Nebukadnezar meninggalkan kedudukan rajanya, sehingga makan rumput seperti lembu, Allah juga yang memulihkan kepandaiannya, memulihkan kedudukan rajanya (Dan. 4: 28-37). Segala sesuatu tergantung pada Allah. "yang dari padaNya semua turunan yang di dalam surga dan di atas bumi menerima namanya" (Ef 3:15). "Jadi hal itu tidak tergantung pada kehendak orang atau usaha orang, tetapi kepada kemurahan hati Allah" (Rm. 9:16). Karena itu, setiap orang harus merendahkan diri, siapapun tidak seharusnya sombong, tinggi hati.

3. Allah Memberkati Orang yang Rendah Hati

(I Ptr. 5:5)

"Ia menegakkan orang yang hina dari dalam debu, dan mengangkat orang yang miskin dari lumpur" (I Sam. 2:8). "Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat, dan apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, dipilih Allah, bahkan apa yang tidak berarti, dipilih Allah untuk meniadakan apa yang berarti, supaya jangan ada seorang manusia pun yang memegahkan diri di hadapan Allah" (I Kor.1:27-29). "Bukankah Allah memilih orang-orang yang dianggap miskin oleh dunia ini untuk menjadi kaya dalam iman dan menjadi ahli waris Kerajaan yang telah dijanjikanNya kepada barangsiapa yang mengasihi Dia?" (Yak. 2:5). "TUHAN itu tinggi, namun Ia melihat orang yang hina, dan mengenal orang yang sombong dari jauh" (Mzm.138:6). "Bahwa yang Mahatinggi berkuasa atas kerajaan manusia dan memberikannya kepada siapa yang dikehendakiNya, bahkan orang yang paling kecil sekalipun dapat diangkaiNya untuk kedudukan itu" (Dan. 4:17). Semua ayat di atas menyatakan betapa Allah memberkati orang yang rendah hati.

Tuhan Yesus merendahkan diriNya sendiri, maka Allah meninggikan Dia sebagai yang Mahatinggi (Flp. 2:6-11). "Dan kerendahan hati mendahului kehormatan" (Ams. 15:33b)

Madame Guyon berkata, "Semakin matang hayat seseorang, maka ia akan semakin rendah hati." Mayang gandum yang makin matang, makin tunduk ke bawah. Rendah hati adalah pernyataan dari kematangan hayat. Dia melihat orang lain lebih kuat daripada dirinya sendiri. Dia melihat orang lain sedikitpun tak bersalah, tetapi melihat diri sendiri sedikitpun tak ada moral baik. Orang lain bermoral, maka ia menghargainya. Kalau mendengar orang memujinya, itu seperti memukul dirinya. Dia berkata, "Ini karena mereka tidak tahu keadaan kejatuhanku, dan tidak tahu penderitaan dalam batinku." Kalau ada orang memaki dia, dia merasa makian itu benar, kalau dia sedikit saja merasa tidak enak terhadap orang lain, dia segera mengaku salah kepada mereka, mohon mereka memaafkan. Demikian pula terhadap pembantu rumah tangganya. Ini membuat dia tidak marah-marah, tidak sombong. Dia berkata, marah-marah sesungguhnya adalah anak kesombongan. Seorang yang benar-benar rendah hati tidak akan membiarkan setiap perkara apapun membuatnya marah. Dalam diri manusia, kesombongan adalah yang paling akhir. Pada penampilan di luar, amarah adalah yang paling akhir mati. Seseorang yang benar-benar mati terhadap diri sendiri berarti tidak ada amarah lagi. Dia rela merendah di dalam kehendak Allah, menerima tentangan orang, menang terhadap pilihan diri sendiri dan karenanya mendapatkan takhta.

Sebelum saudari Peace Wang berpaling ke jalan pemulihan, dan setelah selesai belajar di sekolah Teologi serta siap keluar bekerja bagi Tuhan, ia pergi menjumpai seorang pendeta tua di Nanching. Pendeta tua tersebut mempunyai persekutuan yang baik dengan Tuhan, berkata kepadanya, "Ketika kamu keluar bekerja, jika ada orang yang menentang, menolak, menyerang, menindas, itu adalah berfaedah bagimu, bahkan akan menjadi berkat bagimu. Kalau orang menyambut, memuji, menjunjung tinggi kamu, memberi banyak yang baik kepadamu, itu adalah kerugian bagimu, yang akan menjadi perangkap bagimu, hati-hatilah dan menghindarlah terhadap hal itu." Kemudian ia membawa saudari Peace Wang ke balkon atas, di sana menghadap hamparan sawah. Saat itu tepat tuaian sudah matang, menjelang masa menuai. Dia menunjuk ke arah hamparan sawah itu dan berkata., "Lihatlah butir-butir padi yang telah masak itu, karena di dalamnya penuh kelimpahan, maka mereka semua tunduk ke bawah. Tetapi bulir-bulir yang belum masak, karena dalamnya masih kosong, kurang berisi, maka mendongak ke atas. Demikian pula dalam perkara rohani. Setiap orang Kristen yang matang, karena di dalamnya limpah, maka tidak ada yang tidak rendah hati. Hanya yang belum matang. di dalamnya masih kosong, kurang berisi, mereka bisa sombong." Perkataan ini sangat membantu, mengesankan hatinya. Kemudian, ketika ia bekerja bagi Tuhan, perkataan ini terus mengingatkan dia.

Rendah (bawah) baru bisa masuk ke dalam jalan hayat Allah -- Jalan masuk ke dalam hayat Allah sangatlah sempit, maka orang harus merendah, kecil, mati terhadap ego, baru bisa melalui jalan ini. Daud berkata, "Ia membawa aku keluar ke tempal lapang" (Mzm. 18:20). Dia bisa mencapai tempat yang lapang, karena terlebih dulu telah mengosongkan diri, merendahkan diri ke bawah.

4. Allah Menentang Orang yang Congkak

Karena sombong ingin meningglkan takhtanya menyamai Allah, akibatnya iblis diturunkan ke dalam dunta orang mati, ke tempat yang paling dalam di liang kubur (Yes. 14:12-15). Anda ingin menjadi yang paling tinggi, Allah akan memukul Anda jatuh ke tempat yang paling rendah. Sekali tidak rendah hati, sekali tidak merendah, maka akan jatuh dari kasih karunia, jatuh ke dalam prinsip Iblis yang meninggikan diri. Ketika Tuhan Yesus di bumi, suatu hari, Ia melihat para undangan memilih tempat duduk, talu berkata, "Sebab barangsiapa meninggikan dirt, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan" (Luk. 14:11). Injil Lukas 1:51-53 mengatakan, "Ia memperlihatkan kuasaNya dengan perbuatan tanganNya dan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya; Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah; Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa." Orang yang tinggi hati dan sombong pasti akan mendapat malu. "Kecongkakan mendahului kehancuran, dan tinggi hati mendahului kejatuhan" (Amsal 16:18). Karena sombong dan tinggi hati, raja Nebukadnezar dilepaskan dari kedudukan rajanya, diusir dari umat manusia, makan rumput seperti lembu, sampai dia mengetahui bahwa yang Mahatinggi berkuasa atas kerajaan manusia dan mau merendahkan diri, barulah kedudukan rajanya dipulihkan. Karena berkata, "Kelingkingku lebih besar daripada pinggang ayahku," akibatnya Rehabeam membuat negara Israel terpecah, kehilangan sepuluh setengah suku Israel, hanya tertinggal satu setengah suku (I Raj. 12).

V. GEREJA YANG DIBERKATI

1. Hayat yang Merendah

a. Hayat Tuhan Yesus Adalah Hayat yang Merendah

Yesus, orang Nazaret, adalah Allah menjadi manusia, mengambil rupa seorang hamba. Dia terlahir dan diletakkan dalam palungan, dibesarkan dalam keluarga tukang kayu, naik keledai muda masuk ke Yerusalem. hatiNya sangat lembut, sangat rendah hati, buluh yang terkulai tak dipatahkanNya, sumbu yang berasap tidak dipadamkanNya. semuanya ini menunjukkan bahwa hayatNya adalah hayat yang merendah.

b. Prinsip Gereja Adalah Merendah

Prinsip gereja yang mendasar adalah taat, juga adalah merendah. Ada merendah baru ada taat. Gereja seharusnya seperti sebutir biji sesawi, tidak boleh bertumbuh menjadi pohon. Hayat yang kita peroleh adalah hayat yang merendah, membuat orang rendah hati, membuat orang kecil. Arti nama "Paulus" adalah "kecil". Kita hanya dapat menganggap diri sendiri kecil dan rendah, tidak dapat tinggi diri. Masyarakat mencari kekuasaan dan keuntungan, memperebutkan siapakah yang terbesar, siapa yang teratas, siapa yang berkuasa. Dalam gereja, yang mau menjadi besar, harus menjadi yang kecil yang mau menjadi terkemuka harus menjadi hamba semua orang (Mat. 20:26-27).

2. Gereja yang Diberkati

Dalam gereja, setiap orang haruslah penuh karunia, tetapi tidak ada seorangpun yang sombong. Setiap orang selalu memohon karunia Tuhan, tetapi tetap dalam kedudukan merendah. Dalam gereja tidak ada perdebatan mengenai siapa yang terbesar, tidak ada seorangpun sebagai kepala atau memperebutkan kepala (III Yoh. 9; II Kor. 11:20), semuanya melihat diri sendiri rendah, menjadi hamba dari semua orang (I Kor. 9:19; II Kor. 4:5), melayani orang; inilah gereja yang paling mendapat berkat. Paulus memuji Stefanus dan keluarganya, "Saudara-saudara, kamu tahu, bahwa Stefanus dan keluarganya adalah orang-orang yang pertama-tama bertobat di Akhaya, dan bahwa mereka telah mengabdikan diri kepada pelayanan orang-orang kudus " (I Kor. 16:15).

Tuhan Yesus merendahkan diriNya dan melayani murid-murid. Dia bangun dan menanggalkan jubahNya, mengambil sehelai kain lenan dan mengikatkannya pada pinggangNya, kemudian menuangkan air ke dalam sebuah basi, dan mulai membasuh kaki murid-muridNya, lalu menyekanya dengan kain yang terikat pada pinggangNya (Yoh. 13:1-7). Dia telah meninggalkan teladan, supaya kita juga berbuat demikian, dan mendapatkan berkat bahagia.

Dalam gereja tidak seharusnya ada tingkatan (hirarki). Hirarki adalah bau busuk. (Dalam bahasa Inggris, istilah "rank" berarti "pangkat/tingkatan" juga berarti "busuk"). Apakah Anda masih berpikir untuk mendapatkan suatu kedudukan dalam gereja? Itu berarti Anda telah menajiskan diri sendiri, membuat diri sendiri berbau busuk. Jika Anda ingin menjadi besar, Anda harus menjadi hamba semua orang. Tidak hanya sebagai hamba, bahkan sebagai budak. Kita adalah budak yang melayani saudara saudari, menyuplaikan Kristus kepada mereka.

Seorang saudara berkata, "Dulu, di satu gereja lokal di Hupei, penatua di sana (mohon darah Tuhan menutupi aku) adalah aku yang menetapkan. Tetapi aku bisa memberitahu Anda semua, sampai beberapa tahun kemudian, kamar kecil di balai sidang di sana akulah yang membersihkannya. Kita sama sekali tidak boleh memiliki satu konsepsi, bahwa setelah menjadi penatua maka tidak patut lagi membersihkan kamar kecil. Kita harus membuang konsepsi pejabat yang berkedudukan. Di tengah-tengah kita tidak boleh ada pikiran sebagai pejabat.

Saudara Witness Lee berkata, "Bertahun-tahun lamanya aku bersama saudara Watchman Nee kami belum pernah menganggapnya sebagai pemimpin dalam administrasi (pekerjaan); dia juga tidak pernah menganggap dirinya demikian. Setiap kali ada orang menganggap dia sebagai pemimpin dan menjunjungnya, saudara Watchman Nee selamanya tidak mau berkata apapun. Hanya kalau orang datang kepadanya dan mencari persekutuan, dia baru mau membuka diri dan bersekutu sedikit. Dia tidak pernah menganggap dirinva sebagai pemimpin administrasi. Demikian pula aku, aku tidak mengakui diriku sebagai pemimpin administrasi dalam pemulihan Tuhan."

Muller yang menangani panti asuhan, adalah salah seorang dari kalangan Kaum Saudara. Setiap kali pemecahan roti, dia selalu duduk di bangku paling belakang. Artinya aku sama dengan saudara-saudara lainnya, mengapa harus duduk di barisan terdepan?

3. Rendah Hati Tetapi Tidak Negatif

Seorang saudara berkata, "Jika orang-orang yang melayani ingin berkoordinasi dengan baik, mereka perlu rendah hati, tapi tidak negatif. Kalau Anda adalah orang yang rendah hati, Anda juga harus merupakan orang yang sangat positif Orang yang rendah hati, mudah menjadi negatif; orang yang positif, tidak mudah rendah hati; inilah keadaan sifat manusia. Namun dalam koordinasi harus sering belajar rendah hati, tapi tidak negatif Setiap perkara selalu melalui bertanya dulu, terhadap setiap perkara aku mau berpartisipasi, terhadap setiap perkara aku mau memberi masukan, terhadap segala perkara aku mau mempersekutukan perasaanku, tetapi aku tetap rendah hati. Rendah hati tetapi tetap positif adalah pelajaran yang cukup sulit. Orang positif tidak mudah rendah hati, orang yang rendah hati tidak mudah positif. Bisa rendah hati dan positif perlu karunia, perlu peremukan.