Daftar isi Karakter · bab 22/30

DERITA

"Bahwa aju ditindas (menderita), itu baik bagiku, supaya aku belajar ketetapan-ketetapanMu."

Mazmur 119:71

"Tetapi sekarang sebagai tawanan Roh aku pergi ke Yerusalem dan aku tidak tahu apa yang akan terjadi atas diriku di situ selain dari pada yang dinyatakan Roh Kudus dari kota ke kota kepadaku, bahwa penjara dan sengsara menunggu aku. Tetapi aku tidak menghiraukan nyawaku sedikitpun, asal saja aku dapat mencapai garis akhir dan menyelesaikan pelayanan yang ditugaskan oleh Tuhan Yesus kepadaku untuk memberi kesaksian tentang Injil kasih karunia Allah."

Kisah Para Rasul 20:22-24

I. TEKAD MENDERITA

Pelayan-pelayan Allah harus mempunyai tekad menderita (I Ptr. 4:1). Tetapi harus terlebih dulu mengenal dengan tepat apa itu menderita.

1. Allah Tidak Menghendaki UmatNya

Menderita Tanpa Makna

Ada semacam filsafat yang menganggap bahwa tubuh manusia harus menderita, tidak seharusnya bahagia, menganggap semua kenikmatan tubuh itu tidak pada tempatnya. Filsafat semacam ini tidak seharusnya ada pada orang Kristen. Dalam surat Kolose 2:23 Paulus berkata tentang "menyiksa diri" sebagai peraturan manusia, pikiran filsafat. Alkitab memperlihatkan dengan jelas kepada kita, bahwa Allah tidak bermaksud menyuruh anak-anakNya menderita tanpa makna. Allah tidak menahan satupun kebaikan yang seharusnya dikaruniakan kepada kita (Mzm. 84:12). Mazmur 23:1 mengatakan, "TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku." Allah tidak bermaksud menyuruh kita kekurangan, sebaliknya Ia menghendaki kita kenyang. Ia tidak menahan satupun kebaikan sehingga tidak mengaruniakannya kepada kita. Mulai dari Perjanjian Lama, Alkitab selalu menunjukkan kepada kita betapa Allah memperhatikan umatNya, mengurangi kesukaran dan penderitaan mereka, dan membuat mereka berbeda dengan orang kafir.

2. Ada Ganjaran dan Ujian

Pada aspek lain Allah ingin mengganjar (mendisiplinkan) dan menguji anak-anakNya. Pada saat-saat biasa, Ia selalu ingin mengaruniai, memperhatikan, menopang, dan menyuplai anak-anakNya. Namun pada saat-saat yang diperlukan, Ia juga menghajar, menguji anak-anakNya. Hanya saja tidak dihajar atau diuji terus-menerus. Dalam pengaturanNya, Ia selalu melakukan perkara-perkara yang biasa Ia lakukan. Allah tidak dengan sengaja menyuruh kita menderita.

3. Jalan Menderita Adalah Man Pilihan

Sebenarnya Tuhan mengatur kita agar menempuh hari-hari yang penuh kasih karunia. Tetapi hari ini demi melayani Allah, menjadi hamba Allah, kita. lebih rela memilih satu jalan menderita ini. Jadi, menderita itu adalah pilihan, bukan ketetapan. Demi melayani Allah, kita rela menderita. Ini berarti kita mempunyai satu tekad untuk menderita.

Saudara Watchman Nee berkata, "Orang yang benar-benar menderita bagi Tuhan, walaupun namanya tak dikenal manusia, Tuhan tahu... Dia selamanya tidak lupa kepada orang yang tak terkenal, atau orang yang tak menonjolkan nama. Siapapun yang menderita karenaNya secara tersembunyi, pasti diketahuiNya, bahkan diingat dalam hatiNya." Tuhan berkata kepada malaikat gereja di Smirna, "Aku tahu kesusahanmu dan kemiskinanmu" (Why. 2:9). Mazmur 56:9 "Sengsaraku Engkaulah yang menghitung- hitung, air mataku Kautaruh ke dalam kirbatMu. Bukankah semuanya telah Kaudaftarkan? "

4. Bukan pada Derita di Luar, Tetapi pada Tekad di Dalam

Tekad menderita berarti mempunyai motivasi rela menderita bagi Tuhan. Batinku dengan sukarela ingin menderita untuk Tuhan. Belum tentu selalu menderita secara faktualnya, tetapi dalam tekadku aku menyerahkan diri untuk menderita dengan sukarela. Walau secara jasmani aku tidak menderita, namun aku bertekad menderita bagi Tuhanku. Jadi masalahnya bukan pada penderitaan di luar, melainkan pada tekad di batin. Belum tentu setiap hari ada penderitaan, tetapi setiap hari tekad menderita itu ada di dalamku.

5. Tekad Menderita Adalah Senjata

Bila tekad itu sudah ada, ketika ujian menimpa, Anda sama sekali tidak merasa heran, sebab Anda sudah menyadari sebelumnya bahwa hal tersebut memang sepatutnya. Ada makanan atau tidak ada makanan, Anda tetap bersikap demikian. Ada pakaian atau tidak, nyaman atau tidak, sehat atau sakit, cerah atau hujan, panas atau dingin, sulit, sengsara, bahkan matipun, sikap Anda tetap demikian. Tekad menderita adalah suatu senjata, dan ini akan membuat Iblis tak berdaya mengalahkan Anda. Mempunyai tekad menderita berarti mempunyai senjata untuk mengatasi dan menaklukkan segala sengsara. Jika tidak demikian, begitu ada ujian atau kesukaran, pekerjaan Anda akan terganggu, bahkan akan berhenti.

Anda mempunyai tekad menderita, belum tentu Tuhan menyuruh Anda menderita. Tetapi jika Anda menjumpai penderitaan, dalam batin Anda sudah ada tekad menderita, Anda takkan mundur. Tetapi jika tekad Anda lenyap, asalkan Iblis mendatangkan sesuatu yang Anda takuti, Anda akan ambruk, Anda akan mundur dari pekerjaan Allah dan menjadi tidak berguna. Banyak orang yang mencucurkan air mata untuk dirinya sendiri, itu adalah orang-orang yang lemah. Begitu menghadapi masalah, diri sendiri yang jatuh duluan. Allah tidak dapat memakai orang semacam itu. Hanya tekad menderitalah yang sanggup menghadapi situasi lingkungan yang sulit.

6. Tuhan Memperhatikan Tekad Menderita, Bukan Penderitaannya

Orang yang menderita belum tentu mempunyai tekad menderita. Banyak saudara saudari yang menderita, ketika menjumpai kesulitan, setiap hari berteriak minta tolong, setiap hari mengeluh tidak tahan, dari pagi hingga petang selalu mengharap hari cepat-cepat berlalu, atau menggerutu, memprotes, memanjakan diri atau mengeluh. Mereka sama sekali tidak mempunyai tekad menderita. Mereka hanya menderita tanpa tekad menderita. Perhatikanlah, yang bernilai di hadapan Tuhan ialah adanya tekad menderita, bukan adanya penderitaan yang ada tekad menderita belum tentu menderita di luar, yang menderita di luar belum tentu ada tekad menderita. Jadi masalahnya bukan Anda menderita berapa banyak, melainkan berapa besar tekad menderita yang Anda miliki. Tekad menderita berbeda dengan penderitaan itu sendiri. Tuhan hanya mementingkan tekad menderita.

7. Setia Sampai Mati

Berapa besarnya tekad menderita yang harus kita miliki? Tuntutan Alkitab ialah kita harus "setia sampai mati" (Why. 2:10). Dengan perkataan lain, penderitaan macam apapun harus dapat kita terima, sampai matipun boleh. Jika seseorang sangat memustikakan nyawanya, selalu menggenggamnya erat-erat, orang semacam ini pasti tidak dapat berbuat banyak dalam pekerjaan Allah. Paulus adalah orang yang mempunyai tekad menderita dan setia sampai mati. Ia berkata, "Tetapi sekarang sebagai tawanan Roh aku pergi ke Yerusalem dan aku tidak tahu apa yang akan terjadi atas diriku di situ selain dari pada yang dinyatakan Roh Kudus dari kota ke kota kepadaku, bahwa penjara dan sengsara menunggu aku. Tetapi aku tidak menghiraukan nyawaku sedikitpwi, asal saja aku dapat mencapai garis akhir dan menyelesaikan pelayanan yang ditugaskan oleh Tuhan Yesus kepadaku untuk memberi kesaksian tentang Injil kasih karunia Allah" (Kis. 20:22-24). Paulus setia sampai mati, tidak menghiraukan nyawanya, karena itu ia dapat menyelesaikan perjalanannya, dapat menunaikan ministri yang diamanatkan kepadanya.

Bila Anda setia melayani Tuhan bahkan sampai mati, Iblis tidak akan berdaya terhadap Anda. Tekad menderita harus mencapai tahap yang tak terbatas, bahkan sampai matipun boleh. Jika kurang dari itu, asal Anda digoda sedikit oleh Iblis, Anda akan tidak mampu bertahan. "Dan mereka mengalahkan dia oleh darah Anak Domba, dan oleh perkataan kesaksian mereka. Karena mereka adak mengasihi nyawa mereka sampai ke dalam maut" (Why. 12:11). Jika nuram Anda murni, tidak bercela, mempunyai kesaksian yang menang terhadap Iblis, dan tidak menghiraukan nyawa, maka Iblis tidak akan dapat berbuat apa-apa terhadap Anda. Semua orang yang memanjakan dirinya sendiri tidak mungkin melayani Allah; semua orang yang menderita juga belum memadai dalam melayani Allah; hanya orang yang mempunyai tekad menderita, yang mempunyai tekad tak terbatas, "tidak mengasihi nyawanya sampai ke dalam maut," baru dapat melayani Allah dengan memadai.

8. Tekad Menderita Adalah Tolok Ukur Berkat

Berapa besar tekad menderita yang dimiliki, sebesar itu pula pekerjaan Roh Kudus. Jika tekad menderita kita terbatas, berkat yang kita salurkan kepada orang juga terbatas, dan hasil pekerjaan kitapun terbatas. Untuk mengukur berapa banyaknya berkat yang akan Allah karuniakan kepada kita, tidak perlu dengan hal lain, cukup dengan mengukur berapa besarnya tekad menderita kita. Kalau kita mempunyai tekad menderita yang oleh berkat yang tak terbatas, tak terbatas, niscaya kita beroleh berkat yang tak terbatas.

II. FAEDAH MENDERITA

"Bahwa aku tertindas (menderita) itu baik bagiku" (Mzm. 119:71). Adakalanya Allah menyuruh kita menderita, mengalami penderitaan, itu supaya kita mendapat faedah. Faedah yang kita peroleh dari menderita banyak sekali.

1. Berhenti Berbuat Dosa

"Karena barangsiapa telah menderita penderitaan badani, ia telah berhenti berbuat dosa" (I Ptr. 4: 1). Begitu Adam jatuh dan dosa masuk, maka Allah menetapkan manusia "dengan bersusah payah engkau akan mencari rezekimu dari tanah seumur hidupmu" (Kej. 3:17). Susah payah di sini berfungsi untuk menguasai dan mencegah manusia berbuat dosa. Hidup yang nyaman sering membangkitkan pikiran cabul. Misalnya, Daud. Karena hidup nyaman, ia menjadi kendor dan melakukan dosa besar. Waktu itu Daud sudah bertakhta, negerinya sudah aman, ia istirahat tidur sampai sore, setelah bangun, lalu berjalan-jalan di atas sotoh istana, dan tampak kepadanya dari atas sotoh itu seorang perempuan sedang mandi, perempuan itu sangat elok rupanya. Daud tergoda dan akhirnya ia berbuat dosa (11 Sam. 11:2-5).

Allah menetapkan penderitaan untuk mengendalikan manusia. Banyak dosa yang pertu ditanggulangi dan dihentikan melalui penderitaan. Untuk mencegah supaya Paulus tidak tinggi hati, Allah membiarkan sebuah duri senantiasa menusuk dirinya (11 Kor. 12:7).

Setelah menikah, nyonya Guyon diremehkan, dihina, dan diperlakukan dengan buruk di rumah suaminya. Mertuanya selalu mencari-cari kesalahannya, supaya ia dipermalukan dan menjadikan dia seperti pembantu yang terendah. Ia dicemooh di hadapan setiap orang dan dihina dengan cara yang paling kasar. Mertuanya juga sering menghasut suaminya untuk menyiksa dia. Tetapi ia dengan sukacita menyadari bahwa penderitaan yang tidak beralasan itu adalah perju bagi dirinya, sebab jika ia disanjung-sanjung di rumah suaminya, seperti halnya di rumah orang tuanya sendiri, ia tentu akan menjadi orang yang tak terbayangkan congkaknya.

2. Agar Menjadi Orang yang Padat dan Berguna

Ingin mengemban tugas berat harus menerima gemblengan/tempaan lebih dulu. Pepatah kuno mengatakan, bahwa jika seseorang ingin ditugasi dengan tugas besar, maka fisiknya harus terlebih dulu menahan lapar, dan seluruh tulang dan otot-ototnya harus terlebih dulu bekerja keras. Karakter menderita mutlak diperlukan oleh setiap pelayan Allah. Orang yang dapat menderita, susah baru. dapat mengemban tugas besar. Orang yang sudah mengalami ujian baru bisa melakukan perkara, besar, dan berhasil. "Selama umurmu kiranya kekuatanmu" (Ul. 33:25).

Musa baru sanggup mengemban tugas besar, memimpin bani Israel keluar dari Mesir melalui padang belantara, setelah ia mengalami hidup susah 40 tahun di padang gurun.

Pohon tarbantin baru, bisa berakar dalam, berbatang tinggi, kokoh dan menjadi "raja rimba", karena hidup di bawah terpaan angin dan hujan.

Saudara Watchman Nee berkata, "Tidak ada sepotong emas yang tidak melalui pembakaran, tidak ada sebutir permata yang tidak mengalami api, dan tidak ada sebuah mutiara yang tidak mengalami penderitaan.

Setiap pengaturan Allah yang istimewa di masa lampau selalu berguna untuk masa kelak yang juga istimewa. Camkanlah baik-baik, tiada duri, tiada pula kasih karunia, tiada pula kekuatan; maka lingkupan pelayanan Anda akan sangat kecil.

Kita tidak seharusnya takut akan penderitaan. Kita tidak seharusnya, mendambakan jalan yang datar. Hari-hari yang menderita bisa membuat kita bersinar.

3. Agar Manusia Bersandar Erat kepada Allah

Kenyamanan dan kelancaran mudah membuat orang kendor; penderitaan membuat orang bersandar erat kepada Allah. "Apabila engkau dalam keadaan terdesak dan segala hal ini menimpa engkau di kemudian hari, maka engkau akan kembali kepada TUHAN, AllahMu, . . ." (Ul. 4:30).

Dalam sebuah kidung karangannya, J.N. Darby menulis : "Walau orang menindasku, membuatku menderita, itu hanya mendorongku ke hadiratMu. Semakin tertekan derita dunia, semakin manis damai surga. Tiada duka dapat menyerang, bila wajah mullaMu kupandang" (Kidung No. 201).

4. Agar Manusia Mengalami Kuasa Kebangkitan Kristus

Paulus berkata, "yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkilanNya dan persekutuan dalam penderitaanNya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematianNya, supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan dari antara orang mati" (Flp. 3:10-11). Di sini menunjukkan kepada kita, bahwa penderitaan dapat membuat kita mengalami kuasa kebangkitan Kristus. Kuasa kebangkitan Kristus baru dapat dinyatakan di dalam penderitaan manusia. Banyak bagian dalam II Korintus yang memperlihatkan kepada kita, Paulus dalam penderitaan mengalami kuasa kebangkitan Kristus. Ia berkata, "Sebah sama seperti kami mendapat bagian berlimpah-limpah dalam kesengsaraan Kristus, demikian pula oleh Kristus kami menerima penghiburan berlimpah-limpah ... kamu tahu akan penderitaan yang kami alami di Asia Kecil. Beban yang ditanggungkan atas kami adalah begitu besar dan begitu berat, sehingga kami telah putus asa juga akan hidup kami, . . . Tetapi hal itu terjadi, supaya kami jangan menaruh kepercayaan pada diri kami sendiri, tetap hanya kepada Allah yang membangkilkan orang mati " (II Kor.1:5-9). Juga dikatakan, ".. sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku. Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat" (II Kor. 12:9-10). Kasih karunia Tuhan cukup bagi kita. Semakin ada penderitaan, semakin ada kasih karunia (II Kor. 12:9). "Salib takkan melampaui kasih karunia" (Kidung 341).

Ketika Ny. Guyon dipenjarakan di Venas, ia melewati hari-hari dengan sangat damai sejahtera. Ia menyanyikan kidung sukacita, semua pelayan wanita di penjara. yang melayani dia sampai hafal kidung-kidung tersebut. Dan adakalanya mereka malah menyanyi bersama. Batu-batu penjara baginya seolah batu-batu permata yang jauh lebih berharga daripada kemuliaan di dunia. Hatinya penuh dengan semacam sukacita, yakni sukacita yang Allah berikan kepada. orang-orang yang mengasihiNya pada saat mereka menderita. Demikian juga yang dialami Paulus dan Silas ketika mereka ditahan dalam penjara di Filipi. Mereka bisa berdoa, berkidung dan memuji Tuhan (Kis. 16:22-23). Mereka sungguh telah mengalami kuasa kebangkitan Kristus.

5. Agar Hayat Manusia Bertumbuh Dewasa

"Dengan yang terbaik (buah) dari yang dihasilkan matahari" (Ul. 13:14). Matangnya buah memerlukan sinar dan panas matahari. Kematangan dan kedewasaan hayat memerlukan penderitaan. Dalam Perjanjian Lama, Yakublah yang banyak menderita dalam seumur hidupnya. Ia pernah berkata, "Tahun-tahun hidupku itu sedikit saja dan buruk (menderita) adanya" (Kej. 47:9). Ketika Yakub sudah tua dan datang ke Mesir, hayatnya sudah dewasa dan matang. Dua Korintus 4:16 memberitahu kita, "Sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari." Penderitaan membuat manusia lahiriah kita merosot, namun membuat manusia batiniah kita diperbarui dari sehari ke sehari; demikian hayat kita menjadi dewasa. dan matang. Pada masa tuanya, Yakub benar-benar menyatakan keadaan hayat yang dewasa dan matang. Walau tubuh dan jiwanya renta dan lemah, perlu ditunjang dengan tongkat, namun batinnya penuh kekuatan, ia tetap dapat menyembah Allah, bahkan dengan sangat lemah lembut dan rendah hati memohon Yusuf Walau mata jasmaniahnya sudah kabur, namun mata batiniahnya tetap jelas. Ia dapat menyilangkan tangannya ketika memberkati Efrairn dan Manasye, dan memberkati anak-anaknya menurut urutan mereka (Kej. 48). Seperti yang tercantum dalam Mazmur 73:26 -- "Sekalipun hatiku dan dagingku habis lenyap, tetapi Allah adalah kekuatan dalam hatiku, juga bagian berkatku, sampai selama-lamanya" (Tl.).

6. Agar Manusia Mendapatkan Kemuliaan

"Dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan" (Roma 5:4-5). Pengharapan di sini adalah pengharapan akan kemuliaan. "Jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama- sama dengan Dia Sebab aku yakin, bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita" (Roma 8:17-18). Allah menyuruh kita menderita agar beroleh kemuliaan, hal ini boleh kita tinjau dari dua aspek:

a. Pahala Keadilan Allah

Tuhan Yesus menderita dulu baru mendapatkan kemuliaan. "Yesus ... yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah" (lbr. 12:2). Ini adalah pahala. Paulus berkata kepada Timotius, "Jika kita bertekun, kita pun akan ikut memerintah (meraja) dengan Dia" (II Tim. 2:12). Bila kita bisa tekun menderita karena Dia, kelak pasti akan meraja bersama Dia dalam kemuliaan. "Sebab itu janganlah kamu melepaskan kepercayaanmu, karena besar upah (pahala) yang menantinya. Sebab kamu memerlukan ketekunan, supaya sesudah kamu melakukan kehendak Allah, kamu memperoleh apa yang dijanjikan itu" (Ibr. 10: 35-36).

b. Bertumbuh ke dalam Kemuliaan

Penderitaan membuat hayat bertumbuh dewasa dan matang, bertumbuh ke dalam kemuliaan. Ibarat ulat bertumbuh. akhirnya Ia berubah menjadi kupu-kupu, terbang di angkasa. "Penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segalanya, jauh lebih besar dari penderitaan kami" (II Kor. 4:17). Dengan membaca konteks ayat di atas, kita tahu, bahwa penderitaan ini bertujuan mendewasakan hayat kita, sehingga kita bertumbuh sampai mencapai kemuliaan.

7. Agar Manusia Mengalami Firman Allah

Melalui penderitaan barulah firman Allah menjadi pengalaman hayat kita. Jika tidak, firman itu hanya merupakan pengetahuan dan doktrin belaka.

Yusuf yang dijual menjadi budak. "Mereka mengimpit kakinya dengan belenggu, lehemya masuk ke dalam besi, sampai saat firmanNya sudah genap, dan janji TUHAN membenarkannya" (Mzm. 105:17-19). Penderitaan Yusuf adalah ujian firman Allah kepadanya, agar ia mengalami terpenuhinya firman Allah secara riil. Jangan seperti gereja di Laodikia, yang merasa puas dengan memiliki pengetahuan saja. Ia harus "membeli emas yang telah dimurnikan dalam api" (Why. 3:18). Perlu mengalami firman Allah dalam penderitaan, dimurnikan dalam api, baru firman Allah menjadi realitas hayat.

Seorang saudara pernah meninjau sebuah ke perusahaan keramik. Dia melihat tukang keramik membentuk banyak pot bunga, cawan, atau mangkuk. Kemudian melukis gambar-gambar di atasnya, menulisinya dengan huruf-huruf, terakhir memasukkannya, ke dalam oven pembakaran. Saudara. ini lalu bertanya, "Bolehkah keramik ini tidak melalui pembakaran?" Tukang keramik menjawab, "Bejana yang telah melewati api, dapat menampung air, mewadahi bunga. Tapi yang tidak melewati api, segera hancur bila dituangi air. Jadi, tak dapat tidak harus dibakar." Demikian juga pengalaman kita terhadap kebenaran. Sering kali kita mengira kita sudah mengerti, dan segalanya sudah beres, sudah dilukisi gambar bunga dan ditulisi huruf-huruf. Tetapi begitu tersenggol sedikit saja, sudah remuk; begitu dicuci dengan air, segera hancur. Ini dikarenakan kebenaran-kebenaran itu belum menjadi milik kita, hanya kita mengerti dalam pikiran atau merasa senang dalam perasaan saja, kita terlalu dini bersukacita. Setiap kebenaran pada diri kita harus mengalami banyak ujian, baru dapat menjadi realitas hayat kita, baru semua gambar dan huruf-huruf itu melekat teguh dan bersatu dengan kita; benar-benar menjadi milik kita, tidak dapat dihapus, tidak luntur. "Bahwa aku tertindas (menderita), itu baik bagiku, supaya aku belajar ketetapan-ketetapanMu"(Mzm. 119:71 ).

Saudara Watchman Nee berkata, "Setiap benda yang belum terbakar lekat pada diri kita, terjamah sedikit saja, sudah rontok. Itu tidak ada fungsi rohaninya." Ia juga berkata, "Perkataan para minister firman terbentuk melalui ujian-ujian dan penanggulangan-penanggulangan yang Allah atur setiap hari dalam lingkungan hidup mereka. Berapa banyak penanggulangan, sebanyak itu pula firman yang dimiliki. Berapa banyak pengalaman yang dialami, sebanyak itu pula firman yang dimiliki." Allah akan mengasah dan mengukir diri Anda, agar manusia Anda bersatu dengan firmanNya.

8. Agar Manusia Belajar Taat (Ibr. 5:8)

Ketaatan dapat dipelajari dengan baik dari penderitaan. Taat di bibir saja tidak ada nilainya; belajar taat dalam penderitaan baru bisa. tidak menggerutu, tidak membela diri, tidak melawan, tidak memutar, dan tidak melarikan diri, inilah yang bernilai.

Setelah diurapi Samuel, Daud masih perlu tinggal di padang gurun sejangka waktu, belajar taat dalam berbagai penderitaan. Sesudah itu baru naik takhta secara resmi, herkuasa bagi Allah, memerintab umatNya. Jadi, setelah belajar taat dalam penderitaan, baru dapat memegang kekuasaan.

"Aku hendak mengajar dan menunjukkan kepadamu jalan yang harus kautempuh; Aku hendak memberi nasihat, mataKu tertuju kepadamu. Janganlah seperti kuda atau bagal yang tidak berakal yang kegarangannya harus dikendalikan dengan tali les dan kekang kalau tidak ia tidak akan mendekati engkau" (Mzm. 32:8-9). Terkadang kita juga seperti kuda dan bagal yang tak berakal, harus dikekang dengan tali les, baru mau menurut, baru mau taat.

Lihatlah penggembala kawanan bebek. Ia selalu memegang sebatang kayu panjang untuk mengendalikan arah jalan bebek-bebek itu. Kayu itu kurang lebih 2,5 m panjangnya. Bebek-bebek tak bisa berialan semaunya, melainkan harus menurut pengendalian kayu itu. Sering kali Allah memukul kita dengan kayu penderitaan, agar kita taat, menempuh jalan yang benar.

9. Menderita, Baru Bisa Membantu Orang

Nyonya Guyon berkata, "Siapa yang paling banyak menderita, dialah yang memiliki paling banyak untuk diberikan kepada orang lain."

Yusuf dijual sebagai budak, difitnah hingga harus meringkuk dalam penjara, dengan pengalaman-pengalaman pahit itu baru di kemudian hari dia bisa menyuplai orang dengan makanan.

Paulus banyak menderita karena Kristus, maka ia bisa menghibur orang-orang yang menderita (11 Kor. 1:3-6). Tuhan Yesuspun menjadi sempurna karena penderitaan, maka Ia layak menjadi Panglima Besar keselamatan kita (Ibr. I 10).

Nyonya Guyon berkata, "Walaupun orang dari berbagai sudut menentangnya, tetapi Allah memakai dia untuk menyelamatkan banyak orang berpaling kepadaNya. Ketika ia semakin banyak menderita, Allah semakin banyak memberinya anak-anak rohani, Allah memberi mereka kasih karunia.

Orang-orang yang melayani Allah harus melakukan pekerjaan yang pahit, memikul beban pahit, pergi ke tempat yang pahit, berlatih menderita, seperti halnya Hudson Taylor, baru bisa menghampiri orang, dan membantu banyak orang.

Sebelum berangkat ke Cina, Hudson Taylor sudah berlatih menderita, mempersiapkan diri agar dapat menempuh penghidupan yang menderita di Cina kelak. Bantal bulu bebek dan perabot-perabot mewah lainnya, sedapat mungkin Ia kurangi. Ketika ia belajar kedokteran di rumah dr. Hardy, jarak tempat kerjanya sangat dekat dengan rumah bibinya yang nyaman. Tetapi ia sengaja menyewa sebuah kamar yang sangat sempit. Ia memasak sendiri. Kamar itu tidak sampai 3 meter persegi, di lantai bawah langsung berhubungan dengan dapur, dan dekat dengan sebuah parit. Kondisi di sekitar tempat itu sangat kumuh. Tetangga-tetangganya orang miskin, dan di sekitar tempat itu sepi dan terasa kersang. Pada malam hari kurang lampu penerangan. Makannyapun sangat dihemat, ia tidak lagi minum susu dan makan keju. Makanan utamanya ialah jelai dan nasi, kadang-kadang diselingi makanan lain, agar tidak membosankan. Di samping belajar hidup menderita, iapun bisa menghemat uang untuk disedekahkan kepada orang miskin. Ketika ia kuliah di fakultas kedokteran di London, setiap hari ia harus pulang pergi sejauh 10 km. Makanannya tetap sangat sederhana. Pagi dan petang ia hanya bersantap dengan roti kasar dan air tawar, siang harinya makan dua atau tiga butir buah apel. Setiap sore pulang ke rumah, ia mampir ke sebuah warung, membeli sebuah roti, dan meminta penjualnya memotongkan roti itu men adi dua. Sebab kalau ia sendiri yang memotongnya sering tidak sama, dan setelah yang lebih besar dimakan, tinggal yang kecil, tidak cukup kenyang untuk dimakan esok paginya. Ongkos dapurnya setiap hari dibatasi 1 penny (kurang lebih 6 sen dollar Amerika), padahal keluarga Hudson tidak miskin. Dia rela menempuh hidup miskin, dikarenakan, satu, ia ingin berlatih hidup menderita, dan dua, ia menolak bantuan kerabat, dan belajar menengadah kepada Tuhan, agar di Cina nanti ia boleh menempuh hidup oleh iman.

Setelah tiba di Cina, ketika mengadakan perjalanan Injil, Ia sering tinggal di atas perahu sebagai rumahnya. Adakalanya dengan perahunya sendiri, adakalanya dengan perahu sewaan. Jika turun hujan angin, atap perahu pada bocor, baik duduk maupun berdiri terasa tidak nyaman. Dalam perahu itu ada sebuah meja untuk makan atau untuk menulis, juga ada sebuah lemari panjang, di samping untuk menyimpan barang, juga untuk tempat tidur pada waktu malam.

Ketika menginjil di luar kota, adakalanya penginapan tidak mau menerima dia. Ada orang yang menaruh belaskasihan kepadanya, menerimanya dan membiarkannya tidur di atas tumpukan merang. Pernah sekali ia bermalarn di sebuah penginapan kecil, karnarnya sangat kotor. tempat tidurnya terbuat dari dua lembar papan diletakkan di atas dua buah bangku kayu, tanpa selimut, kelambu, maupun bantal. Ia lalu menggunakan payung dan sepatunya sebagai pengganti bantal. Demikianlah ia melewatkan malam di situ. Terkadang tidak mendapatkan tempat menginap, terpaksa ia tidur di atas tangga di depan sebuah kuil.

Ketika Hudson bekerja di Swatow, ia menyewa sebuah rumah, tempat tidurnya terbuat dari beberapa lembar papan, dan mejanya terbuat dari sebuah tutup kas yang di alasi dengan dua bungkus buku. Dalam suratnya kepada adik perempuannya yang kecil, ia berkisah : "Di sini banyak nyamuk, lalat, kecoa sebesar dua inci, beterbangan di sekeliling. Pula ada lipan, cecak, jangkrik dan kutu, serta serangga lain yang mengganggu aku.... Saat aku sedang menulis ini, aku sudah harus tiga kali memukul kutu-kutu loncat, sekali sukses dua kali gagal. Dari sini dapat kaubayangkan betapa banyaknya kutu itu. Terkadang baru aku menulis setengah kalimat, aku harus berhenti dan menangkap tiga sampai empat ekor tamu tak diundang itu: beberapa kecoa, setelah kubunuh, baru aku bisa melanjutkan tulisanku. Beberapa hari yang lalu, ketika malam tiba, aku merasa dalam bajuku ada suatu benda. aneh. Begitu kubalikkan ternyata ada seekor lipan sepanjang 3 inci, aku digigitnya hingga luka dan bengkak, sakitnya bukan main. Aku segera membubuhi luka tersebut dengan penawar racun. Tetanggaku sangat bingung, mereka datang dengan membawa seekor ayam, entah untuk apa. Aku lalu mengembalikan ayam itu dan menjelaskan khasiat obat putih yang kupakai tadi. Setelah mendengar penjelasanku, mereka merasa sangat kagum. . . ."

Suatu kali, ia bekeda di kota Ciuchiang, ia menulis surat kepada isteri penerusnya, dalam surat itu kita bisa mengetahui betapa menderitanya ia saat itu. Ia menulis : "Saat ini angin berhembus kencang dan cuaca sangat dingin. Aku duduk di kamar sebuah loteng rendah, sambil menulis surat. Kursi yang kududuki tidak lebih dari tiga pulub senti tingginya, tetapi meski hanya duduk di situ, kepalaku dapat mencapai atap rumah. Malam harinya turun salju dan masuk menembus sela-sela atap, pagi harinya disapu oleh pekerja, setiap tiga puluh senti, tebalnya 2 inci. Aku menulis terus sampai jam 3 sore. Jari-jari tanganku nyaris beku. Sifat alamiah manusia tidak menyukai pengalaman semacam itu, tetapi hatiku bergembira, sebab itu adalah pengaturan Allah Bapa."

Hingga tahun 1933, "China Inland Mission" telah mempunyai 'gereja' pusat sebanyak 328 buah, 'gereja' cabang 2.325 buah. Dan memiliki misionaris Barat sebanyak lebih dari 1.300 orang. Sejak mendirikan 'gereja', mereka telah membaptiskan kurang lebih 150.000 orang. Pekerjaan yang begitu besar, begitu banyak yang diselamatkan, semuanya dihasilkan dari Hudson yang bisa berdoa dan rela menderita. Dan ini telah membuktikan kalimat : "Siapa paling banyak menderita, ia akan mempunyai paling banyak untuk diberikan kepada orang lain."

Seumur hidupnya, saudara Watchman Nee juga tidak melewatinya dengan kenyamanan. Ia menerima banyak penderitaan. Penderitaan-penderitaan itu berguna bagi ministrinya. Karena ia banyak menderita, maka ia dapat menyuplai banyak orang. Karena saudara Watchman Nee, hingga tahun 1948, telah bangkit gereja lokal sebanyak 500 buah di Cina. Sekarang gereja lokal telah meluas ke seluruh dunia.

III. MIENDERITA ADALAH JALAN YANG BENAR

1. Jalan Derita Salib Adalah Jalan Benar

Jalan yang kita tempuh adalah jalan salib, yakni menderita dulu, kemudian baru mendapatkan kemuliaan. Tuhan Yesus adalah perintis jalan ini. Dia "… tekun memikil salib ... sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah" (Ibr. 12:2). Sebagai pengikut-pengikutNya, kitapun harus menempuh jalan ini. Inilah jalan benar yang wajib kita tempuh. "Dan walaupun Tuhan memberi kamu kesukaran sebagai roti dan penderitaan sebagai air . . . telingamu akan mendengar perkataan ini dari belakangmu. Inilah jalan yang benar, berjalanlah mengikutinya" (Yes. 30:20-21 Tl.). Penghidupan rohani adalah penghidupan menderita, selalu berjaga-jaga, berjerih payah, lelah, sengsara, kesesakan, dan bergumul (II Kor. 6:3-5).

Paulus berkata, "Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia" (Flp. 1:29), juga, "Untuk masuk ke dalam kerajaan Allah kita harus mengalami banyak sengsara" (Kis. 14:22).

2. Hidup Nyaman Adalah Jalan Menyesatkan

Saudara Watchman Nee dalam sebuah kidung karangannya menulis : "Bila ku jalan menyimpang, aku segera mendapatkan kenyamanan." Kita hanya bisa menempuh jalan derita salib ini, tidak bisa menyimpang. Jalan yang nyaman bukan jalan kita, itu adalah jalan menyesatkan. Mazmur 119:67 mengatakan. "Sebelum aku tertindas (menderita), aku menyimpang." Ayat itu menunjukkan kepada kita, bila kita hidup enak nyaman tanpa menderita, kita sudah menyimpang atau tersesat; kita akan terlepas dari tangan Allah dan menjadi tidak berguna. Allah tidak menghendaki kita menempuh jalan enak. Ia tidak ingin kita seperti Moab, "Hidup aman dari sejak masa mudanya, dia hidup lenang seperti anggw di atas endapannya, tidak dituangkan dari tempayan yang satu ke tempayanyang lain"(Yer. 48:11).

Saudara Watchman Nee berkata, "Kebanyakan orang Kristen hidup dengan aman dan tenang, akibatnya, kerohanian mereka miskin." Kita jangan memohon Allah dengan kuat kuasaNya campur tangan, menghentikan situasi yang menindas kita, melainkan memohon kepadaNya agar dengan kekuatanNya melindungi kita. supaya kita sanggup menahan ujian penderitaan itu.

Lebih baik menderita dan mendapatkan hiburan Tuhan daripada tidak ada hiburan Tuhan, pun tidak ada penderitaan. (Siapakah yang bisa memahami sepenuhnya kemanisan penghiburan Tuhan?)

IV. NILAI MIENDERITA

1. Menderita Karena Dosa Adalah Memalukan

"Sebab dapatkah disebut pujian, jika kamu menderita pukulan karena kamu berbuat dosa? ... Janganlah ada di antara kamu yang harus menderita sebagai pembunuh atau pencuri atau penjahat atau pengacau. Tetapi, jika ia menderita sebagai orang Kristen, maka janganlah ia malu, melainkan hendaklah ia memuliakan Allah dalam nama Kristus itu" (I Ptr. 2:20; 4:15-16). Kalau orang Kristen menderita karena berbuat dosa, itu tidak ada harganya, tidak patut dibanggakan, malah merupakan perkara yang memalukan dirinya dan memalukan nama Tuhan.

2. Menderita Karena Kristus dan Gereja,

Karena Kebaikan, Baru Bernilai

"Tetapi jika kamu berbuat baik dan karena itu kamu harus menderita, maka itu adalah kasih karunia pada Allah. Berbahagialah kamu, jika kamu dinista karena nama Kristus, sebab Roh kemuliaan, yaitu Roh Allah ada padamu" (I Ptr. 2:20; 4:14). "Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya kerajaan surga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya, dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di surga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu" (Mat. 5:10-12). Beberapa ayat di atas memperlihatkan kepada kita, bahwa menderita karena Kristus, kebaikan, dan kebenaran itu patut dihargai, hal yang mulia dan berbahagia, memiliki upah yang besar dan yang paling bernilai.

Melihat kemustikaan menderita bagi gereja, dengan gembira Paulus berkata, "Sekarang aku bersukacita bahwa aku boleh menderita karena kamu, dan menggenapkan dalam dagingku apa yang kurang pada penderitaan Kristus untuk TubuhNya, yaitu gereja" (Kol. 1:24). Ketika menyinggung gereja adalah "sesuatu" yang ada dalam kehendak kekal Allah, ia mendorong orang Efesus, "Sebab itu aku minta kepadamu, supaya kamu jangan tawar hati melihat kesesakanku karena kamu, karena kesesakanku itu adalah kemuliaanmu" (Ef 3:13).

Dalam Mazmur 132, Daud memohon Allah mengingat segala penderitaan yang ia alami. Sebab segala penderitaan itu adalah demi tempat kediaman Allah. Hal ini memang diingat Allah, dan mengandung nilai abadi.

3. Jangan Menderita dengan Sia-Sia

Ada orang menderita dengan sia-sia. Memang sudah menderita, tetapi tidak memahami penyebabnya. Memang sudah menderita, tetapi tidak mendatangkan hasil apa-apa pada dirinya, derita itu berlalu dengan sia-sia. Mereka tidak mencapai tujuan yang seharusnya dicapai, tidak mendapatkan faedah yang seharusnya diperoleh. Seperti orang-orang Israel, berkali-kali dihajar Allah, tetapi tetap tidak sadar. "Di mana kamu mau dipukul lagi, kamu yang bertambah murka? Seluruh kepala sakit dan seluruh hati lemah lesu. Dari telapak kaki sampai kepala tidak ada yang sehat : bengkak dan bilur dan luka baru, tidak dipijit dan tidak dibalut dan tidak ditaruh minyak. Negerimu menjadi sunyi sepi, kota-kotamu habis terbakar di depan matamu orang-orang asing memakan hasil dari tanahmu. Sunyi sepi negeri itu seolah-olah ditunggangbalikkan orang asing" (Yes. 1:5-7).

Saudara Watchman Nee berkata, "Jika dipukul Tuhan sekali, kita tidak mengerti maksudNya, dipukul dua kali, kita tetap tidak mengerti maksudNya. Setelah dipukul sepuluh tahun, kita tetap seperti kuda dan bagal yang tak berakal, tidak tahu apa maksud Tuhan; ini adalah perkara yang kasihan sekali."

Karena itu dalam penderitaan harus bertanya kepada Allah, mengapa demikian dan apa yang harus dipelajari? Kita harus tahu penderitaan mendatangkan faedah apa, agar tidak menderita dengan sia-sia. Paulus bertanya kepada Tuhan tiga kali untuk duri yang menikarn dagingnya. Kemudian ia tahu bahwa kasih karuniaNya cukup untuk dia pakai, kuasaNya menjadi sempurna di atas kelemahannya, karena itu dia suka bermegah atas kelemahannya, agar kuasa Kristus menaungi dia (11 Kor. 12:9).

Perlu seperti Hizkia; menderita sakit, hampir mati, lalu memohon kepada Allah, dan setel.ah sembuh, ia mengetahui bahwa sakitnya kali itu bertujuan agar dia belajar merendahkan dirinya. "..karena kepahitan hatiku, maka aku akan berjalan perlahan-lahan selama tahun umurku, Ya Tuhan, dengan segala perkara ini hiduplah orang dan dalam sekalian indah hiduplah rohku... Lihatlah, penderitaan yang pahit menjadi keselamatan bagiku" (Yes. 38:15-17 Tl.).

Setidak-tidaknya kita harus mengenal tangan siapakah yang menanggulangi kita. Paling tidak kita harus mengenal bahwa itu bukan manusia, bukan orang dalam keluarga, bukan saudara saudari dalam gereja, melainkan tangan Allah. Ketika Paulus dibelenggu dalam penjara, ia tidak berkata bahwa dirinya telah menjadi tawanan Festus, atau tawanan Kaisar, melainkan "tawanan Kristus." Dalam segala penderitaan itu, ia hanya melihat tangan Allah.

Bukan menerima pengendalian Roh Kudus, melainkan memuji pengendalian Roh Kudus. Tidak saja menerima tangan Tuhan, bahkan memuji tangan Tuhan. Tidak saja menerima hajaran Tuhan, bahkan menerimanya dengan rela hati. Kalau demikian, pasti ada satu pintu yang lurus dan mulia terbuka di hadapan kita.

Kemenangan adalah menundukkan kepala sambil memuji Tuhan, "Tuhan aku memuji jalanMu. Segala pengaturanMu tidak salah. Segala yang Kaulakukan adalah indah dan benar.

4. Jangan Menurunkan Nilai Penderitaan

Jangan sia-sia menderita, jangan pula menurunkan nilai penderitaan. Ada orang bersikap tidak menerima, manja diri., ingin berputar, atau ingin melarikan diri ketika mengalami penderitaan. Akibatnya, ia menurunkan nilai penderitaan. Begitu kita mengetahui penyebabnya, segeralah menerima dengan rela hati, terimalah penanggulangan itu baik-baik, dan belajarlah baik-baik agar tujuan Allah dalam menyuruh kita menderita itu dapat tercapai, dan agar kita beroleh faedah yang seharusnya. Kita harus "kelu, tidak membuka mulut" (Mzm. 39:10). "Dia dianiaya ... tidak membuka mulutNya" (Yes. 53:7). Tidak membela diri, menggerutu, atau memanjakan diri, tapi dengan tenang menyerahkan diri ke dalam tangan Allah Pencipta, menantikan penderitaan itu menyelesaikan pekerjaan pengukiran pada diri kita. Setelah itu, Allah dengan sendirinya tahu memimpin kita keluar dari situasi itu.

Nyonya Guyon berkata, "Anda wajib bekerja sama dengan Allah. menahan penderitaan, jangan sekali-kali berusaha ingin mengurangi atau menambah. Kalau tidak mau sabar, ingin mencari akal menghibur diri, Anda tidak akan maju." Ketika Nyonya Guyon terus-menerus dicaci maki, dihina orang, difitnah nama baiknya melalui selebaran, ia hanya menerima dengan sabar, tidak membela diri, dan tidak menggerutu sepatah katapun. Ia tidak mendendam terhadap orang-orang yang mencelakainya. Ia berkata, "Jika Allah yang memukul, janganlah Anda membenci tangan yang Ia pakai untuk memukul." Ia benar-benar mengasihi mereka, berdoa bagi mereka. Ia hanya membiarkan Allah yang berbicara baginya, menyelamatkannya dari tangan mereka, tidak membiarkan diri sendiri berbuat apapun.

5. Harus Menolak Serangan yang Berasal dari Iblis

Kita boleh menerima penderitaan, tetapi bukan menyambut penderitaan. Penderitaan yang diizinkan dan ditakarkan Allah harus kita terima. Tetapi kita bukan menyambut penderitaan. Sebab menyambut penderitaan bisa mengundang serangan musuh. Setiap serangan yang berasal dari musuh, harus kita tolak.