TAAT
I. TAAT BERARTI PATUH, MENURUT
II. PENTINGNYA TAAT
1. Tidak Taat Berarti Memberontak.
Orang yang Memberontak ridak Dapat Melayani Allah
Dunia yang semula diserahkan oleh Allah kepada penghulu malaikat yang saat itu belum memberontak, yakni yang kemuthan memberontak dan menjadi Iblis. Pada waktu itu Iblis masih beribadah kepada Allah dan memimpin malaikat-malaikat lainnya memuji Allah. Tercatat dalam Yehezkiel 28:13, "Ada pula genderang don seruling yang indah padamu" (Tl.). Alat-alat musik tersebut tentu dipakai untuk memuji Allah. Kemudian timbul keangkuhan dalam hatinya, ia ingin meninggikan dirinya setara dengan Allah. Akibatnya, ia diusir dari hadapan Allah, tidak bisa beribadah kepada Allah lagi. Dalam Yesaya 14:13-14 tercantum tentang Iblis, "Engkau yang tadinya berkata dalam hatimu : Aku hendak naik ke langit, aku hendak mendirikan takhtaku mengatasi bintang-bintang Allah, don aku hendak duduk di atas bukit pertemuan, jauh di sebelah utara. Aku hendak naik mengatasi ketinggian awan-awan, hendak menyamai yang Mahatinggi!" Ayat-ayat ini mengacu kepada pemberontakan Iblis terhadap Allah, ia ingin meninggikan dirinya menyarnai Allah. Akibatnya, ia diusir dari hadirat Allah, tidak bisa beribadah kepada Allah. Inilah yang dimaksud Yehezkiel 28:16, "Maka Kubuangkan engkau dari gunung Allah."
Iblis telah memberontak, ia pun menghasut manusia untuk memberontak. Adam terpedaya, ia tidak menaati perintah Allah, memakan buah pohon pengetahuan tentang yang baik dan jahat; akibatnya, ia menyembunyikan dirinya dari hadirat Allah (Kej. 3:8, 17).
Kain mempersembahkan kurban tanpa menuruti wahyu Allah, maka Allah tidak berkenan kepadanya dan persembahannya (Kej. 4:3-5).
Ham membeberkan kejelekan ayahnya, tidak menghon-nati wewenang; akibatnya, ia menerima kutuk (Kej. 9:20-25).
Miryam mengata-ngatai Musa, wewenang yang diangkat oleh Allah; akibatnya, ia terkena kusta dan harus dikucilkan (Bil. 12:1, 10, 14-15).
Pengikut-pengikut Korah, Datan, Abiram, dan kedua ratus lima puluh pemimpin itu, karena. menyerang wewenang yang diangkat Allah, mereka ingin setara dengan Musa dan Harun; akibatnya, mereka ditelan bumi dan terbakar hingga binasa (Bil. 16:1-3, 8-10, 31-35).
Tanpa menurut pesan Allah, Nadab dan Abihu mempersembahkan ke hadapan TUHAN api yang asing, maka keluarlah api dari hadapan TUHAN menghanguskan mereka (Im. 10: 1-2). Memberontak berarti menuruti kemauan din sendiri, sedang taat berarti menuruti kehendak Allah.
Karena berulang-ulang melanggar perintah Allah, maka Saul akhirnya kehilangan takhta kerajaannya (1 Sam. 15:2628).
2. Hanya Orang yang Taat yang Dapat Melayani Allah
Iblis terusir dari hadirat Allah dan tidak dapat melayani Allah karena ia memberontak terhadap, Allah. Semua manusia yang memberontak juga berada di bawah prinsip Iblis, maka semuanya tidak bisa melayani Allah. Hanya orang yang taat baru bisa melayani Allah.
Habel menurut wahyu Allah mempersembahkan lemaklemak dari anak sulung kambing dombanya, maka Allah berkenan kepadanya dan persembahannya (Kej. 4:4). Sebab, setelah Adam berdosa, Allah pernah membuatkan pakaian dari kulit binatang baginya. Kulit binatang itu tentu dari kulit kambing domba yang sudah disembelih. Jadi Habel menurut penebusan yang terwahyu ini meyernbelih anak domba untuk persembahannya, maka Allah berkenan.
Daud seorang yang taat kepada Allah, ia menaati kehendak Allah dalam segala perkara, karena itu Allah mengangkatnya menjadi raja menggantikan Saul (Ks. 13:22).
3. Memberontak dan Tidak Taat
Adalah Dosa yang Paling Berat dan Buruk
Iblis tadinya adalah salah satu dari penghulu malaikat, ia adalah kerub yang terurap untuk menaungi tabut perjanjian, ia penuh hikmat dan maha indah (Yeh. 28:12-14). Karena memberontak, ia lalu menjadi Iblis, diusir dari gunung kudus, terlempar ke atas bumi dan terjerumus ke dalam alam maut, ke jurang yang paling dalam (Yeh. 28:16-17; Yes. 14:15). Ini bukanlah perkara yang sepele, melainkan satu perkara yang sangal besar dan serius.
"Jadi, sama seperti melalui ketidaktaatan satu orang banyak orang telah menjadi orang berdosa" (Rrn. 5:19). Firman Allah, "Tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati" (Kej. 2:17). Ini adalah peringatan yang sangat serius. Namun Adam membangkang, ia makan buah itu. Akibatnya, "...sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia melalui satu orang, don melalui dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepado semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa"(Rrn. 5:12). Memberontak, tidak taat, adalah dosa yang paling berat dan buruk, dan merupakan sumber segala dosa dan maut.
III. TIDAK ADA KETAATAN DALAM
HAYAT ALAMIAH MANUSIA
1. Di Dalam Ada Hayat yang Tidak Taat
"Sebab keinginan daging adalah perseteruan terhadup Allah, karena keinginan itu tidak takluk kepado hukum Allah; hal ini memang tidak mungkin baginya" (Rm. 8:7). Ayat ini menunjukkan bahwa di dalam daging insani kita tidak ada unsur taat. Daging tidak takluk kepada hukum Allah, dan hal ini memang tidak mungkin. Dalam hayat alamiah manusia tidak ada ketaatan kepada Tuhan, hanya ada pemberontakan. Manusia adalah "orang-orang durhaka" dan "orang-orang yang harus dimurkai" (Ef. 2:2-3). Karena Adam makan buah pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, maka hayat durhaka Iblis masuk ke dalam manusia. Apa yang dikatakan Efesus 2:2 tentang "Roh yang sekarang sedang bekeda di antara orang-orang durhaka" itu justru adalah hayat durhaka Iblis. Hayat durhaka ini ada di dalam manusia, sehingga manusia menjadi "orang-orang durhaka." Roma 11:32 juga mengungkapkan "...sebab Allah telah mengurung semua orang dalam ketidaktaatan."
2. Di Luar Ada Lingkungan yang Tidak Taat
Seantero lingkungan hidup dunia ini adalah durhaka. "Kamu hidup di dalamnya, karena kamu mengikuti jalan dunia ini, kamu menaati penguasa kerajaan angkasa" (Ef. 2:2). Jalan dunia ini mengacu kepada zaman dunia ini atau istiadat dunia ini, berasal dari penguasa kerajaan angkasa, yang didalangi oleh Iblis. Mengikuti zaman atau istiadat dunia ini berarti menaati Iblis, melakukan perkara-perkara yang mendurhakai Allah.
3. Memupuk Karakter Durhaka
Selain menjadi hayat durhaka di dalam manusia, bekerja di dalam manusia, Iblis juga menciptakan lingkungan hidup durhaka di luar manusia, setiap hari menjerat manusia ke dalam kedurhakaan, dan memupuk karakter durhaka. Seperti serat kayu yang tidak teratur, yang sulit digarap.
IV. TAAT ADALAH
KARATER ORANG KRISTEN YANG PALING INDAH
1. Kristus Adalah Hayat Taat Kita
"Kristus adalah hayat kita" (Kol. 3:4). Kristus, hayat ini, adalah hayat yang taat. "Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya don toot sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib" (Flp. 2:8). Iblis menyuruh manusia memberontak, sedang Kristus sebagai hayat membawa manusia taat. Tidak taat adalah perbuatan yang paling buruk. Karena durhaka, Iblis dilernpar ke dalam jurang yang paling dalam. Taat adalah perbuatan yang paling indah. Kristus taat sampai mati "Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama" (Flp. 2:9). Durhaka dan tidak taat berarti menempuh jalur Iblis, itu paling buruk. Sedang taat berarti menempuh jalur Kristus, ini paling indah.
2. Harus Lebih Taat kepada Allah daripada
kepada Manusia (Kis. 5:29)
Menaati manusia untuk melakukan perkara-perkara yang durhaka dan tidak menaati Allah, itu adalah tidak patut dan tidak pada tempatnya. Allah adalah Pencipta, manusia adalah ciptaan-Nya. Maka jika manusia menaati manusia yang tercipta, tidak menaati Allah Sang Pencipta, itu berarti memutarbalikkan yang di atas dengan yang di bawah, itu tidak sepatutnya, tidak seharusnya. Kita harus lebih taat kepada Allah daripada kepada manusia.
Ada orang diperalat Iblis untuk menentang Kristus, mereka menyeret orang ke dalam neraka, menderita celaka selama-lamanya. Kita tidak seharusnya menaati orang-orang semacam itu. Allah menghendaki manusia menerima Kristus, mewarisi hidup kekal, dan berbahagia selamanya, maka seharusnyalah kita menaati Allah.
Allah paling senang manusia menerima Kristus. Menolak Kristus adalah perbuatan yang paling membuat Allah murka. Menaati manusia, mencari kesenangan manusia, menolak Kristus, tidak mencari perkenan Allah, dan membuat Allah murka, itu adalah perkara-perkara yang tidak sepatutnya. Sebaliknya, menaati Allah, menerima Kristus, mencari perkenan Allah, itulah yang sepatutnya.
Boleh menuruti, tetapi tidak boleh menaati - Bila suatu perkara bertentangan dengan kehendak Allah, boleh dituruti tetapi jangan ditaati. Boleh dipenjarakan, boleh disesah, tidak melawan; tetapi Yesus tidak dapat tidak diberitakan. Jangan menaati peringatan orang yang "melarang mereka mengajar dalam nama Yesus" (Kis. 5:40).
Menuruti adalah masalah tindakan, itu bersifat relatif; sedang menaati adalah masalah sikap, itu bersifat mutlak.
3. Taat kepada Kristus (2 Kor. 10:5)
a. Menaati Perintah Allah
"Dan inilah perintah-Nya : Supaya kita percaya kepada nama Yesus Kristus, Anak-Nya" (1 Yoh. 3:23). Siapa saja menaati Kristus berarti menaati perintah Allah; inilah yang indah. Siapa saja tidak percaya Kristus, berarti tidak menaati perintah Allah; itulah kedurhakaan.
b. Kristus Itu Tuhan, yang Utama dalam Segala Sesuatu
(Kis. 2:36; 10:36; Kol. 1:18)
Dialah Tuhan atas segala sesuatu, segala sesuatu wajib menaati Dia. Kita harus mendahului dalam hal menaati Dia, agar Dia menjadi yang utama dalam segala sesuatu. Kita wajib berdiri di atas posisi taat, mengesampingkan segala sesuatu yang berasal dari manusia, alamiah, dan daging, agar Dia dapat terekspresikan.
c. Meruntuhkan Benteng Ketidaktaatan (2 Kor. 10:4-5)
Ketidaktaatan manusia kepada Kristus berasal dari keangkuhan manusia. Iblis memberontak terhadap Allah; ia membangun benteng-benteng yang tangguh di dalam pikiran manusia, dengan berbagai tipu muslihat dan perkara merintangi manusia mengenal Allah, membuat manusia meninggikan diri sendiri serta menolak Kristus. Benteng-benteng ketidaktaatan tersebut harus diruntuhkan dengan kuasa Allah. Begitu rintanganrintangan itu tersingkirkan, manusia segera bisa mengenal Allah dan menaati Kristus.
Tidak taat kepada Kristus berarti memihak kepada Iblis, menentang Allah, sedang menaati Kristus berarti mernihak kepada Allah, menanggulangi Iblis.
4. Menaati Roh
"Hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging" (Gal. 5:16) Menuruti keinginan daging atau mengumbar hawa nafsu daging adalah perbuatan yang buruk dan aib; sedang hidup oleh Roh atau menaati Roh akan menghasilkan buah-buah Roh Kudus, ini adalah perkara yang indah dan mulia.
Kita harus memulai dengan menaati perasaan yang paling lembut, begitu ada perasaan, wajiblah menaatinya. Allah selamanya tidak memaksa manusia, Dia pun selamanya tidak mengucapkan firman-Nya dengan murah. Bila ada sedikit saja keengganan pada kita, Roh Kudus seolah "malu", dan Ia segera mundur. Dia tidak mengobral firman-Nya.
"Dan sesudah gempa itu datanglah api ... sesudah api itu datanglah bunyi angin sepoi-sepoi basa" (I Raj. 19:12).
Ada seorang saudari yang pesat sekali kemajuannya dalam memahami kehendak Allah. Ketika orang bertanya kepadanya tentang rahasia kemajuannya itu, ia menjawab dengan sangat sederhana namun tegas : "Perhatikanlah larangan dalam batin." Suara Roh Kudus memang lembut. Suara lembut tentu tak mudah terdengar, tetapi Allah bisa membuat Anda merasakannya - membuat Anda merasa bahwa di dalam batin Anda ada suatu daya tekan yang mantap namun lembut, ibarat angin sepoi-sepoi di pagi hari yang berhembus di wajah Anda. Jika Anda dengan baik-baik memperhatikan suara lembut itu, maka ia akan semakin jelas dan semakin mudah terdengar. Ketika kita mencurahkan segenap perhatian kita pada diri kekasih kita, maka sepatah bisikannya yang sangat lembut pun akan segera kita pahami. Suara Roh Kudus justru seperti suara bisikan sang kekasih. Tetapi jika kita tidak memberi respon kepada-Nya, tidak menghiraukan-Nya, dan tidak percaya kepada-Nya, Ia tidak akan berbicara apa-apa lagi. Allah itu kasih, supaya kita mengenal Dia dan suara-Nya, wajiblah kita menaruh perhatian senantiasa. Ketika kita berdialog dengan orang, jika dalam batin kita terasa ada larangan, kita wajib segera berdiam diri. Ketika kita sedang bersiap-siap melakukan sesuatu, namun dalam roh kita terasa tidak damai, wajiblah kita segera mengubah rencana kita. Walaupun ditinjau dari hikmat manusia hal itu mungkin merupakan kebodohan yang sangat besar.
Selain perlu memperhatikan larangan dalam batin, perlu pula belajar menantikan Allah menyingkapkan kehendak-Nya. Kta wajib membiarkan Allah merencanakan dan melaksanakan bagi kita dalam segala perkara. Jangan bersandar pada kepintaran diri sendiri. Kadangkala pelaksanaan Allah seolah bertentangan dengan rencana-Nya; seolah Dia bertentangan dengan diri-Nya sendiri. Namun asalkan Anda taat, patuh, dan bersandar kepada-Nya, walaupun perkaranya kelihatannya sangat bodoh, tetapi pada akhirnya Dia akan, "turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia" (Rm. 8:28).
Karena itu, jika kita ingin mengenal suara Allah, kita harus terlebih dulu memiliki satu motivasi taat yang mutlak - tanpa menghiraukan akibat dan tanpa mempedulikan sukses atau gagal. Sekalipun Allah menyuruh kita bergerak ke depan dalam kegelapan, kita tetap mau taat, sebab Allah sendiri merupakan sinar cahaya kemuliaan dalam batin kita. Jika demikian, kita pasti lebih mengenal Allah dan lebih dekat dengan Allah. Bahkan dalam ujian yang paling dahsyat dan di bawah tekanan yang paling mengerikan pun, kita dapat menikmati penyertaan Allah.
"Roh lemah lembut" (Gal. 6:1). Inilah suatu kondisi penting yang harus dimiliki roh kita. Lemah lembut berlawanan dengan tegar atau degil. Roh lemah lembut adalah tuntutan Allah pada kita. Roh yang tidak lembut sering akan kehilangan pimpinan Allah. Roh yang lemah lembut dapat mengorbankan kehendak diri sendiri guna menaati Allah dalam waktu yang paling singkat. Dan roh lemah lembut inilah yang justru pada saat-saat pekerjaan sedang semarak, segera bisa menghentikannya begitu mendapatkan pimpinan, walau tanpa pemberitahuan dini oleh Allah. Seperti yang dilakukan oleh Filipus di Samaria - ia tiba-tiba dipanggil Tuhan untuk pergi ke padang gurun guna menginjil kepada seorang sida-sida. Roh lemah lembut dapat dikuasai Tuhan dalam tangan-Nya dan digerakkan kapan saja sesuai kehendak-Nya. Roh lemah lembut tidak mengenal bagaimana menentang Allah, dan bagaimana menuruti kemauan diri sendiri. Allah memerlukan roh yang taat kepada-Nya sedemikian demi merampungkan kehendak-Nya.
5. Mengaruniakan Roh Kudus kepada Orang
yang Taat kepada-Nya (Kis. 5:32)
Allah memberkati orang-orang yang taat kepada-Nya; Allah akan mengaruniakan hadiah yang terbaik dan termustika kepada mereka. Dalam Ibrani 12:9 dikatakan bahwa kita akan hidup (beroleh hayat) jika kita taat kepada Allah.
V. ANAK-ANAK ALLAH
WAJIB MEMILIKI KETAATAN
1. Taat Adalah Prinsip Dasar Gereja
Dalam gereja, anak-anak Allah sangat dituntut untuk taat. Dalam Surat Kiriman yang paling tinggi standar rohaninya, misalnya Surat Efesus dan Kolose, tercantum perintah bahwa istri harus taat kepada suami, anak harus taat kepada orang tua, hamba harus taat kepada tuannya. Itu berbeda dengan keadaan mereka dulu ketika menjadi orang-orang durhaka, dan berbeda dengan keadaan seluruh dunia.
2. Gereja Menampilkan Kesaksian Taat
Wewenang Allah ditolak di seluruh tempat di bumi ini. Ketidaktaatan memenuhi seluruh dunia. Itulah sebabnya disebut dunia yang bengkok dan durhaka. Gereja harus bangkit menampilkan kesaksian taat. Setiap anak Allah harus belajar taat, tidak hanya taat kepada wewenang Allah secara langsung, juga kepada wewenang Allah secara tidak langsung, atau yang disebut wewenang perwakilan Allah. Dapat dikatakan bahwa sebagian besar ketaatan kita ditujukan kepada ketaatan kepada wewenang perwakilan ini.
3. Sasaran untuk Ditaati
a. Taat kepada Pemerintah yang di Atas (Rm. 13:1)
Wewenang pemerintah berasal dari Allah, dan pemerintah-pemerintah yang ada, ditetapkan oleh Allah; mereka adalah wewenang perwakilan yang ditentukan oleh Allah. "Sebab itu siapa yang melawan pemerintah, ia melawan ketetapan Allah" (Rm. 13:2). Dari ayat ini kita tampak jelas bahwa siapa yang tidak taat kepada wewenang perwakilan, berarti tidak taat kepada wewenang Allah. Karena itu, kita wajib taat kepada wewenang perwakilan. Hal ini juga tercatat dalam Perjanjian Lama - "Janganlah engkau menyumpahi seorang pemuka (pembesar) di tengah-tengah bangsamu" (Kel. 22:28). Setelah Daud memotong punca jubah Saul (orang yang diurapi Allah) hatinya segera berdebar-debar, dan menyesali diri sendiri atas perbuatan tersebut (1 Sam. 24:4-5).
b. Taat kepada Setiap Lembaga Manusia (I Ptr. 2:13)
Harus taat kepada wewenang di atas dalam negara dan taat kepada hukum negara. Harus pula taat kepada lembaga-lembaga di setiap tempat di mana kita tinggal. Anak-anak Allah wajib mencari kesempatan untuk menaati wewenang di mana saja ia berada. Ada seorang saudara berkata bahwa ke mana saja ia pergi, ia selalu bertanya apakah di situ ada peraturan yang wajib ia taati.
c. Istri Taat kepada Suami, Anak Taat kepada Orang Tua,
Hamba Taat kepada Tuan (Ef. 5:22, 6:1-3, 5-7)
Hidup manusia di bumi ini pasti tidak dapat terlepas dari tiga macam hubungan ini, yakni suami dan istri, orang tua dan anak, tuan (majikan) dan hamba. Kita wajib belajar taat dalam ketiga macam hubungan ini, sebab itulah perintah Allah. Taat adalah satu perintah yang tidak dapat dibantah. Seorang hamba wajib tunduk kepada tuannya, sekalipun tuannya itu bengis.
d. yang Muda Taat kepada yang Tua, juga Saling Taat
(1 Ptr. 5:5; Ef. 5:21)
Saling taat adalah tanda kerendahan hati. Orang yang angkuh pasti enggan taat kepada orang lain. Itulah prinsip Iblis. Iblis justru angkuh, sombong, tidak mau tunduk kepada Allah, ingin berada di atas semua manusia, tetapi tidak mau di bawah seorang pun.
Saling taat juga merupakan tanda menaati Tuhan. Orang yang takwa kepada Tuhan pasti tidak berani menyimpan sesuatu yang mengandung unsur congkak pada dirinya. Antara seorang dengan yang lain, ketaatan bukan timbul karena siapa takut kepada siapa, melainkan karena takwa kepada Tuhan. Bukan karena orang itu tidak terpandang maka ia boleh tidak ditaati, melainkan karena Anda takwa kepada Tuhan, maka Anda menaatinya.
e. Taat kepada Kebenaran (1 Ptr. 1:12)
Kebenaran itu mutlak, hanya dapat dilindungi, tidak dapat diselewengkan. Hanya dapat ditaati dengan mutlak, tidak dapat diselewengkan dengan mencampurkan emosi atau hubungan manusia apa pun ke dalamnya, sehingga membuat kebenaran menjadi kabur.
f. Taat kepada Wakil Wewenang dalam Gereja
Taat kepada para penatua dan saudara-saudara pewajib, saudara-saudara yang senior (1 Kor. 16:15-16), kepada saudara-saudara. yang dengan jerih lelah berkhotbah dan mengajar, yang baik pimpinannya dalam mengatur gereja (1 Tim. 5:17), kepada mereka yang memimpin kita (lbr. 13:17), serta kepada mereka yang bekerja keras dan yang menegur kita di dalam Tuhan (1 Tes. 5:12-13).
Dalam gereja, kita wajib taat kepada orang-orang tersebut di atas, dan di sini ada beberapa prinsip yang perlu kita pegang:
1) Wajib Menaati Segala Wewenang yang Ditetapkan Allah
Orang-orang yang disebut di atas semuanya merupakan wewenang yang ditetapkan Allah di dalam. gereja, yang wajib kita taati. Jangan hanya taat kepada orang-orang yang kita senangi saja. Jangan menuruti keinginan pribadi, melainkan menuruti ketetapan Allah. Setiap wewenang yang Allah tetapkan dalam gereja, wajib ditaati.
2) Jangan Memilih Sasaran untuk Ditaati
Banyak orang memiliki satu kesalahan yang sangat mendasar, yakni memilih sasaran untuk ditaati. Mereka mengira bahwa yang perlu mereka taati adalah orang-orang yang sempurna. Tetapi Tuhan selamanya tidak pernah membuat ketetapan demikian. Kita bukan taat kepada orang yang sempurna, melainkan taat kepada wewenang Tuhan pada dirinya. Jika Anda memilih orang yang patut Anda taati, Anda tak mungkin mendapatkannya. Sebab terhadap siapa saja, Anda pasti bisa menemukan kekurangannya. Banyak orang yang menggunakan pilihannya untuk menutupi kedurhakaannya yang ilegal, itu sangat bodoh. Allah bersabda bahwa kita harus menghormati dan menaati orang-orang yang patut dihormati dan ditaati.
3) Setiap Waktu Mencari Orang yang Harus Ditaati
Misalkan, ada beberapa saudara berkumpul bersama, walaupun hanya beberapa jam, maka dengan spontan pasti ada seorang yang Allah jadikan pemimpin, dan kepadanya Anda harus taat. Misalkan ada 10 atau 20 orang saudara duduk bersama, dengan sendirinya akan diketahui siapakah yang berada di depan, dan semuanya harus taat kepadanya. Kita wajib setiap waktu menemukan orang yang harus kita taati.
Saudara Witness Lee berkata : Di dalam gereja benar-benar ada perkara wewenang. Hal itu sudah kita alami sejak semula, baik di daerah utara maupun selatan. Pada masa awal di daerah utara, saya sungguh telah menyaksikan fakta itu. Bukan suatu konferensi atau diskusi, tetapi dengan spontan timbul suatu wewenang di sana. Misalkan ketika mempersekutukan masalah menata kursi, saudara dan saudari berkumpul bersama, bukan untuk berunding, terlebih pula bukan berdebat, melainkan dengan spontan mengutarakan sedikit perasaan. Selesai berbincang-bincang, maka ada satu dua orang saudara yang menjadi wewenang berkata, "Baiklah, demikian kita menata kursi sidang ini." Mendengar keputusan tersebut, maka semua orang tidak berbicara apa-apa lagi. Ketika akan mengadakan pembaptisan, semua saudara saudari diberi kesempatan untuk menyatakan perasaan mereka. Ada yang berkata paling baik dilakukan di laut, dan ada pula yang berkata lebih baik di rumah. Pada akhirnya pasti ada saudara yang bangkit berkata, "Menurut Situasi dewasa ini, kita cukup menyediakan air di kolam rumah untuk pembaptisan." Pada saat demikian, baik yang mengatakan dibaptis di sungai atau yang mengatakan dibaptis di laut, semua tidak berbicara lagi; semuanya datang dengan sukacita melayani pembaptisan kali itu. Di sini Anda tampak ada perkara wewenang. Saya hanya sekadar memberi satu contoh kepada Anda. Tanpa wewenang, segalanya akan kacau; begitu ada wewenang, segalanya akan bedalan di atas rel. Ingin ada gereja, harus ada pengaturan; tentu, seiring dengan ini harus pula ada wewenang.
Jika Anda benar-benar berjalan maju dalam hal mengikuti dan melayani Tuhan, cepat atau lambat Tuhan pasti akan membawa Anda menjumpai wewenang. Anda boleh memprotes dalam perkara apa saja, tetapi ketika Anda menjamah (menentang) wewenang, Anda akan tahu sendiri; begitu Anda protes, Anda akan tak berdaya maju dalam hayat rohani Anda, dan Anda akan tak berdaya menempuh hidup di hadapan Allah. Boleh jadi Anda masih bisa memaksakan diri melayani, tetapi Anda tahu bahwa betapa tak sedap rasanya. Boleh jadi pula Anda masih bisa membaca Alkitab, berdoa, dan berkhotbah, tetapi hanya Anda sendiri yang tahu bagaimana perasaan saat itu. Boleh dikata itu adalah citarasa maut semata.
Jika kita ingin mengikuti Tuhan dengan setia, dan ingin benar-benar menempuh jalan Tuhan, cepat atau lambat, di rumah Tuhan, di dalam Kerajaan Tuhan, kita akan menjumpai satu hal yang riil, yakni wewenang. Maafkan saya bersaksi: Walau saya cukup lama menjadi anggota suatu denominasi, dan saya sangat memahami seluk beluk cerita dalam denominasi, tetapi di sana saya tidak pernah menjumpai wewenang. Baru setelah saya menempuh jalan ini, dalam waktu yang singkat saja, saya sudah berjumpa dengan wewenang, dan saya tidak bisa menjamahnya. Begitu saya menjamahnya, saya segera mati di hadapan Allah. Wewenang ini, tidak bisa dijamah. Jika Anda tunduk di bawahnya, Anda akan hidup, damai sejahtera, beroleh berkat, dan menikmati penyertaan Allah. Namun, jika Anda melawannya, membangkanginya, celakalah Anda.
Dari pengalaman beberapa puluh tahun yang lalu, melalui perkara wewenang ini saya menyadari bahwa dalam alam semesta ini benar-benar ada Sang Penguasa, yakni Allah sendiri. Andaikata yang kita layani hanya sebuah sebutan, atau sebuah istilah doktrinal, di antara kita tidak mungkin ada realitas wewenang. Namun karena Allah yang kita layani adalah Allah yang benar dan hidup, yang ada di tengah-tengah kita, maka ada perkara wewenang itu. Karena itu, jika orang-orang kafir boleh rnernperjuangkan demokrasi dan memperbincangkan sistem musyawarah, maka tidaklah demikian di dalam gereja. Di dalam gereja yang ada adalah penyertaan Allah, pergerakan Allah, dan pekerjaan Allah. Demokrasi tidak pada tempatnya diperjuangkan di dalam gereja. Tetapi bukan pula totaliterisme. Totaliterisme adalah masalah individual. Dalam gereja, bukan masalah orang banyak, juga bukan masalah pribadi, melainkan masalah penyertaan Allah dan masalah wakil penyertaan Allah. Jika ada dua tiga orang sebagai wakil, dua tiga orang itulah; jika sepuluh orang, sepuluh orang itulah; jika hanya seorang, seorang itulah. Wakil penyertaan Allah itulah wewenang Allah sendiri. Anda jangan sekali-kali membenturnya, dan Anda mau tak mau harus tunduk di bawahnya.
4. Harus Melayani Allah di bawah Prinsip Taat
a. Jangan Melayani Allah dengan Prinsip Durhaka
Memang, di dalam gereja setiap anak Alah wajib melayani Allah, tetapi janganlah melayani di bawah prinsip durhaka. Kedua ratus lima puluh pemimpin yang mengikuti Korah adalah sebuah contoh yang jelas. Mereka bangkit menyerang Musa dan Harun, wewenang yang diangkat Allah, tetapi mereka masih memegang dupa membakar kemenyan. Akibatnya, mereka hangus terbakar api dari langit. Dalam gereja, Anda wajib menaati wewenang yang ditetapkan Allah. Jika Anda menentang wewenang, tidak tunduk kepada wewenang, itu berarti melayani Allah di bawah prinsip durhaka. Jika tidak ada seorang pun yang Anda taati, itu berarti durhaka, memberontak, tidak taat kepada wewenang. Setiap tindakan yang dilakukan sendirian dim menurut kemauan sendiri, adalah penampilan dari kedurhakaan. Bertindak sendirian tidak saja berarti tidak taat kepada gereja juga tidak taat kepada Tuhan.
Pelayanan gereja wajib ada ketaatan seorang terhadap yang lain, saling menaati, barulah dapat berkoordinasi. Jika saya dan Anda saling tidak taat, mustahillah ada koordinasi, dan kalau demikian, tidak ada gereja.
Persembahan api asing yang dilakukan Nadab dan Abihu bukanlah yang diperintahkan TUHAN, karena itu, turunlah api dari hadapan TUHAN yang menghanguskan mereka (Im. 10:1-2).
Karena tidak sabar menanti kedatangan Samuel, Saul memaksakan diri untuk mempersembahkan kurban kepada Allah, akibatnya, takhta kerajaannya tersingkir (1 Sam. 13:8-14).
Raja Uzia dengan kemauannya sendiri masuk ke dalam bait dan membakar ukupan kepada TUHAN. Akibatnya, timbul penyakit kusta pada dahinya (2 Taw. 26:16-21).
Semua itu adalah contoh dari orang-orang yang melayani Allah di bawah prinsip tidak taat. Karena. itu, lebih baik taat tanpa berbuat sesuatu, daripada melakukan sesuatu dalam ketidaktaatan.
b. Hanya Dapat Melayani Allah di bawah Prinsip Taat
"Apakah TUHAN itu berkenan kepada kurban bakaran dan kurban sembelihan sama seperti kepada mendengarkan suara TUHAN? Sesungguhnya, mendengarkan lebih baik daripada (mengalahkon) kurban sembelihan, memperhatikan (taat) lebih baik daripada lemak domba-domba jantan" (1 Sam. 15:22).
Ketika Musa membuat Kemah Suci beserta segala perabotannya, semua disesuaikan dengan contoh yang TUHAN tunjukkan di atas gunung (Kel. 25:9). "Tepat seperti yang diperintahkan TUHAN kepada Musa, demikianlah dilakukan orang Israel segala pekerjaan melengkapi itu. Dan Musa melihat segala pekerjaan itu, dan sesungguhnyalah, mereka telah melakukan seperti yang diperintahkan TUHAN, demikianlah mereka melakukannya" (Kel. 39:42-43). Inilah melayani Allah dengan prinsip taat.
VI. LATIHAN TAAT
1. Bermotivasi Taat, Senang Taat
Seperti Tuhan Yesus dalam catatan Filipi 2:8, "Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati." Tuhan sendiri yang mau merendahkan diri-Nya dan taat, bukan terpaksa; itu karena Ia sendiri dengan rela mau demikian. Demikian pula seharusnya ketaatan kita, kita sendiri mau taat, senang taat, memandang taat sebagai hal yang menyenangkan, seperti halnya Tuhan Yesus. "Ya, kesenanganNya ialah takut (takwa) akan Tuhan" (Yes. 11:3). Kita harus senang bertanya kepada Tuhan, "Tuhan, apa yang Kau inginkan untuk kulakukan? Apa yang Kau tidak suka kulakukan?" Kita harus senang mencari perintah Allah untuk ditaati. Seperti yang diucapkan oleh saudari Barber, "0, Tuhan, aku bersyukur karena pada-Mu ada satu perintah yang demikian." Pemazmur berkata, "Aku akan bergernar dalam ketetapan-ketetapan-Mu ... ya, peringatan- peringatan- Mu menjadi kegemaranku" (Mzm. 119:16, 24).
Madame Guyon telah mengambil pengaturan dan perintah Allah sebagai segala prinsip hidupnya. Ia berkata bahwa Allah hanya mengasihi perintah dan kehendak-Nya sendiri. Pendapat orang yang beralasan dan pandangan orang yang memiliki terang pun bukanlah yang Ia senangi. Taman Firdaus justru merupakan kepuasan yang tertinggi dari orang beriman yang menjunjung perintah Allah.
2. Wajib Taat dengan Takut dan Gentar
Melatih taat wajib disertai dengan hati yang takut dan gentar. Paulus berkata kepada orang-orang Filipi, "Saudara-saudaraku yang terkasih, kamu senantiasa taat; karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar, bukan saja seperti waktu aku masih hadir, tetapi terlebih lagi sekarang waktu aku tidak hadir, karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya" (Flp. 2:12-13). Demikian pula ketika ia menyinggung ketaatan seorang hamba kepada tuannya: "Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang di dunia dengan takut dan gentar, dan dengan tulus hati, sama seperti kamu taat kepada Kristus" (Ef. 6:5). Kita wajib bersikap takut dan gentar terhadap masalah taat, yaitu khawatir kalau-kalau ada ketidaktaatan sehingga berdosa kepada Tuhan. Demikian ini tidak saja di hadapan manusia, terlebih pula di hadapan Allah.
Kita wajib memandang ketidaktaatan sebagai satu perkara yang sangat serius. Paulus selalu bersikap takut dan gentar di hadapan Allah. Ia takut kalau-kalau pemberitaannya mengandalkan perkataan yang enak didengar, tidak mengandalkan Roh Kudus dan kuasa Allah (1 Kor. 2:3-5). Saudara Watchman Nee pernah berkata, "Bagaimanapun juga kita, harus dibawa Allah sedemikian rupa sehingga kita menjadi orang yang takut dan gentar, tidak dapat berbuat apa pun di luar Tuhan, barulah kita bisa berguna di tangan Allah."
3. Harus Taat Sepenuhnya dan Semutlaknya
Tuhan Yesus taat sepenuhnya dan sernutlaknya kepada Allah Bapa. Tuhan berkata, "Aku tidak dapat berbuat apa pun dari diri-Ku sendiri; ... melainkan kehendak Dia yang mengutus Aku" (Yoh. 5:30). "Sebab Aku telah turun dari surga bukan untuk melakukan kehendak-Ku, melainkan kehendak Dia yang telah mengutus Aku" (Yoh. 6:38). "Ajaran-Ku tidak berasal dari diri-Ku sendiri, tetapi dari Dia yang telah mengutus Aku" (Yoh. 7:16). "Aku tidak berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri, tetapi Aku berbicara tentang hal-hal, sebagaimana diajarkan Bapa kepada-Ku. Ia, yang telah mengutus Aku, menyertai Aku. Ia tidak membiarkan Aku sendiri, sebab Aku senantiasa melakukan apa yang berkenan kepada- Nya" (Yoh. 8:28-29). Tuhan sepenuhnya berdiri pada posisi seorang utusan dan mutlak taat kepada Allah Bapa. Dia mutlak taat kepada Allah Bapa, bahkan sampai mati di Atas salib (Flp. 2:8). Ya, Ia taat sampai mati, bahkan mati dengan sangat menderita.
Hudson Taylor selalu menaati kehendak Tuhan dalam segala perkara. Ia selalu, menantikan Tuhan sebelum jelas mengerti kehendak Allah. Ia merasa perlu mutlak menaati setiap perintah Tuhmn Bukan menaati sedikit saja; bukan menaati saat hati senang, jika tidak senang lalu menuruti kemauannya sendiri; atau pada waktu merasa mudah, jika sulit lalu malas; atau merasa itu menguntungkan diri sendiri, jika tidak lalu menghindarinya. Bagi Hudson, Tuhan harus mutlak sebagai Majikan, atau sama sekali tidak. Bukan setengah-tengah. Jika kita mutlak taat, niscaya akan dipenuhi Roh Kudus. Seperti halnya pengalaman murid-murid dipenuhi Roh Kudus pada hari Pentakosta. Allah pasti mengaruniakan Roh Kudus kepada orang yang taat. Sumber kekayaan-Nya tanpa batas. Dalam tangan-Nya, miskin akan menjadi kaya. Marilah kita taat kepada-Nya tanpa berbantahan! Dia takkan salah, dan takkan berubah selamalamanya.
4. Harus Belajar Taat dalam Melayani
dan Berkoordinasi
a. Taat kepada Pengaturan Gereja
Tidak melayani menunit kesenangan diri sendiri, melainkan menurut pengaturan gereja. Harus mengorbankan diri, jangan menuruti selera diri sendiri, melainkan menuruti pengaturan gereja.
b. Harus Mengenal Urutan Wewenang dalam Gereja
Harus mengenal urutan wewenang dalam gereja dan tahu siapa yang di atas, di bawah, di kanan, atau di kiri Anda. Dalam keluarga jasmaniah kita ada ayah, ibu, kakak, adik, tua, muda, besar, kecil, masing-masing ada jenjang posisinya, dan sekali-kali tidak dapat dikacaukan. Di rumah Anda tahu siapa yang lebih tinggi atau lebih rendah daripada Anda. Ini sangat jelas. Sebagai ketuarga (rumah) Allah, gereja juga demikian. Masing-masing harus menyesuaikan diri dengan urutannya, mengetahui posisi diri sendiri. Ada saudara di dalam Tuhan yang sangat terampil, sama seperti kakak tertua, bahkan seperti seorang ayah. Ada pula saudari yang sangat terampil, seperti kakak tertua, bahkan seperti ibu. Anda wajib menghormati mereka.
c. Harus Taat kepada Hukum Tubuh
Jangan bekerja sendirian dengan mengandalkan. kemauan sendiri. yang ditampak oleh seluruh tubuh di hadapan Allah, aku juga tampak; yang ditolak oleh seluruh tubuh di hadapan Allah, aku juga menolak; yang diterima seluruh tubuh di hadapan Allah, aku pun menerima. Aku tidak boleh berbuat menurut kemauanku. Jika tidak, itu berarti memberontak, durhaka, tidak tunduk kepada wewenang. Kita wajib belajar menerima keputusan tubuh, menerima pengendalian tubuh, dan belajar menuruti pergerakan seluruh tubuh. Jangan sekali-kali menjadi sel-sel kanker, yang tidak taat hukum pertumbuhan tubuh, yakni bertumbuh dengan liar menurut kemauan diri sendiri.
Meskipun mungkin kita mendapatkan pimpinan secara individual, tetap harus mencari penyesuaian, persetujuan, dan simpati dari "dua, tiga" orang anggota tubuh lainnya. Bertindak dengan hubungan di dalam "tubuh" sedemikian ini adalah satu perkara yang paling tidak boleh diabaikan dalam pekerjaan rohnni,
Saudara Watchman Nee pernah berkata : tak seorang pun yang boleh sendirian dalam pekerjaan Allah, dan tak seorang pun yang tidak perlu taat. Orang muda harus demikian, orang tua juga tidak terkecuali. Kita semua tidak boieh sendirian. Sekalipun Allah telah menyatakan satu kebenaran baru melalui seorang saudara, saudara itu pun tetap tidak seharusnya bertindak sendirian, ia tetap harus di dalam saling menaati maju ke depan.
d. Harus Belajar Taat Tanpa Beralasan
Taat tidak boleh beralasan; begitu beralasan, pasti tidak dapat taat. Ketika Saudara Watchman Nee masih muda, ia berkoordinasi dengan Saudara Wang yang dua tahun lebih tua daripadanya. Mereka berdua sering berselisih pendapat. Untuk mengatasi masalah yang diperselisihkan, suatu kali Saudara Watchman Nee mencari Miss Barber yang membimbing mereka, agar saudari senior itu mau menilai siapa sebenarnya yang benar. Ternyata Miss Barber tidak menilai siapa yang benar dan siapa yang salah. Ia hanya berkata, "Kamu lebih baik menuruti perkataannya." Saudara Watchman Nee tidak bisa menerima, lalu berkata, "Jika aku benar, katakanlah aku benar; jika aku salah, katakanlah aku salah. Mengapa Anda berkata.; kamu lebih baik menuruti perkataannya?" Miss Barber menjawab, "Di dalam Tuhan, yang muda harus tunduk kepada yang tua." Dengan sangat kesal saudara Watchman Nee berkata, "Di dalam Tuhan, Jika yang kecil benar, apakah juga harus tunduk kepada yang tua tetapi salah?" Miss Barber tetap berkata sambil tersenyum, "Ya, kamu lebih baik menuruti perkataannya."
Pernah sekali, setelah selesai penginjilan, Miss Barber menugaskan Saudara Wang untuk membaptis orang-orang yang sudah percaya. Saudara Watchman Nee kurang bisa menerima; ia merasa bahwa dirinyalah yang memberitakan Injil, mengapa Saudara Wang yang membaptiskan?" Lalu ia bertanya kepada Miss Barber. Jawabnya, "Sebab dia lebih tua daripada kamu." Suatu kali, diadakan lagi pembaptisan. Saat itu hadir seorang saudara yang lebih tua daripada Saudara Wang. Saudara Watchman Nee mengira kali ini pasti bukan saudara Wang yang ditugaskan, melainkan saudara yang lebih tua itu. Akan tetapi ternyata Miss Barber menugaskan Saudara Wang lagi. Saudara Watchman Nee tidak terima; ia mempertanyakan hal tersebut. Miss Barber menegur dia dengan berkata, "Hingga hari ini kamu masih tetap beralasan saja!"
Kemudian, Saudara Watchman Nee memperoleh pelajaran, yaitu mengenal bahwa semua pekerjaan Allah tidak ada alasan. Ia berkata, "Sekalipun apa yang Allah kerjakan itu tidak aku ketahui, aku tetap harus menyembah kepada-Nya. Semua orang vmig mengenal Allah, tidak beralasan. Bila kita benar-benar diterangi oleh sorotan penghakiman, semua alasan akan sirna."
Jika kita beralasan dengan Allah, ini berarti pekerjaan Allah perlu persetujuan kita. Ini adalah perbuatan orang yang paling bodoh. Allah tidak perlu memberi tahu kita apa alasan Dia melakukan suatu pekerjaan. Jalan Allah lebih tinggi daripada jalan kita. Jika kita menurunkan Allah untuk beralasan, kita tidak akan mempunyai Allah, karena itu berarti tidak ada perbedaan antara kita dengan Allah. Jika kita beralasan, ibadah pun lenyaplah. Begitu taat keluar, ibadah segera lenyap. Beralasan dengan Allah, sama dengan tanah liat berdebat dengan Penjunan, mengapa Kau membuatku demikian.
Saudara Watchman Nee berkata bahwa kita harus belajar menerima perlakuan yang tidak beralasan, harus belajar mengenal apa itu taat tanpa alasan. Taat sejati adalah taat yang tanpa alasan. Begitu kita beralasan, lenyaplah ketaatan kita.
Sorotan terang Allah selalu membunuh hayat alamiah manusia. Kita boleh saia mempunyai ribuan alasan, tetapi di bawah sorotan terang Tuhan, semua alasan akan sirna.
e. Dalam Roh yang Taat
Anda boleh dalam roh yang taat mempersekutukan perasaan yang berlawanan atau berbeda, tetapi tidak boleh bersikeras mempertahankan pendapat sendiri. Koordinasi perlu bersekutu. Adakalanya mungkin perasaan Anda bertolak belakang dan berbeda dengan orang lain, di dalam roh yang taat, hal itu boleh Anda kemukakan, namun jangan Anda pertahankan. Diterima atau ditolak boleh saja. Jangan bertengkar, jangan bersikeras.
5. Belajar Taat dalam Segala Situasi
Pekerjaan Roh Kudus di dalam diri kita sangatlah berharga. Pekerjaan Roh Kudus melalui lingkungan kita juga sangat berharga.
a. Belajar Taat melalui Penderitaan (Ibr. 5:8)
Setiap situasi yang sulit dan pahit yang kita alami adalah pengaturan Allah dengan tujuan supaya kita belajar taat dan beroleh rnanfaat darinya. Taat yang sejati adalah taat yang tahan menderita, tidak bersungut-sungut, tidak melawan, tidak mengelak, tidak manja diri. Bukan taat di bibir saja, melainkan taat sejati yang ternyata dalam penderitaan. Melalui ini hayat akan bertumbuh dewasa. Anda tidak terjemur matahari hingga layu (Mat. 13:6), melainkan menjadi matang (Ul. 33:14).
Ketika Daud dikejar-kejar Saul di padang gurun, ia sempat berkelana di sana dan belajar taat dalam penderitaannya itu. Dalam penderitaan bisa "bersyukur dalam segala hal" (Ef. 5:18), dan dapat berkata, "Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi" (Mat. 11:25). Dan dapat berdoa dalam penderitaan, "Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari hadapan-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki" (Mat. 26:39). Itu
artinya sudah belajar taat.
b. Harus Taat ketika Diganjar dan Dihajar
Setelah diselidiki sebab musabab dihajar, terimalah hajaran itu, supaya kita boleh hidup (Ibr. 12:5-13). Pengaturan Roh Kudus seringkali dapat menambal kekurangan ketaatan kita. Jika Anda bisa tunduk di hadapan Allah, pengawasan Roh Kudus akan berguna bagi Anda, dan suplainya akan jauh melampaui suplai firman. Kita wajib mengenal jalan ini.
"Dalam zaman Daud terjadilah kelaparan selama tiga tahun berturut-turut, lalu Daud pergi menanyakan petunjuk Tuhan. Berfirmanlah Tuhan. ‘Pada Saul dan keluarganya melekat utang darah, karena ia telah membunuh orang-orang Gibeon’" (2 Sam. 21:1). Daud menyelidiki penyebab kelaparan dan kemudian menanggulanginya. Allah mengabulkan doa seluruh umat, dan kelaparan tersebut pun berlalu.
Ketika orang Israel gagal merebut kota Ai, Yosua sujud berdoa kepada Allah. Allah menunjukkan kepadanya bahwa di antara umat itu ada yang berdosa, yaitu menyimpan barang-barang yang harus dimusnahkan. Akibatnya, Yosua menanggulangi Akhan. Sesudah itu, kota Ai dapat ditaklukkan (Yosua pasal 7 dan 8).
Kesalahan Daud mengangkut tabut dengan kereta lembu, dan keteledoran Uza mengulurkan tangannya memegang tabut ketika lembu-lembu itu tergelincir, telah membangkitkan murka Allah, yang membunuh Uza di dekat tabut itu. Hal ini membuat Daud terpukul dan sadar. Karena itu, di kemudian hari, tabut itu diangkut oleh orang Lewi dan berkat Allah tercurah kepadanya (2 Sam. 6).
c. Belajar Taat di Mana Saja
Ke mana saja kita. pergi pasti ada pelajaran taat yang dapat kita pelajari. Di jalan raya, ada peraturan lalu lintas yang harus kita taati. Menerobos lampu merah itu artinya tidak taat. Di sekolah wajib menaati peraturan sekolah. Melanggar peraturan sekolah berarti tidak taat. Di negara tertentu, misalnya, orang yang kedapatan sembarangan membuang sampah akan didenda sangat berat. Jangan hanya karena takut didenda, tetapi lebih-lebih karena ingin belajar taat. Di dalam keluarga, istri harus taat kepada suami, anak-anak harus taat kepada orang tua. Di kantor, bawahan harus taat kepada atasan. Di perusahaan, karyawan harus taat kepada pimpinan. Di toko, pelayan harus taat kepada majikan. Di mana-mana, wajib belajar taat. Harus membina karakter taat. Jangan menganggap taat kepada orang adalah suatu hal yang memalukan, dan jika semua orang tunduk kepada kita itu baru mulia. Harus merasa taat itu suatu kemuliaan. Harus mencari kesempatan untuk taat, harus menemukan siapa yang wajib ditaati.
VII. ORANG YANG TAAT KEPADA WEWENANG
BARU BISA MENJADI WEWENANG
1. Wewenang Adalah Perkara yang Sangat Penting
dalam Alam Semesta
Tatkala Allah menciptakan alam semesta, Ia menetapkan wewenang sebagai prinsip-Nya untuk menguasai alam semesta ini. Allah sendiri adalah wewenang yang tertinggi, Dia pun sumber segala wewenang. Di bawah-Nya ada beberapa penghulu malaikat serta banyak malaikat lainnya. Seantero jagat raya, semua bintang, bumi, dan segala makhluk hidup, semuanya ditopang Allah dengan wewenang-Nya. Dengan perintah kekuasaan-Nya, Allah menetapkan hukum-hukum bagi mereka semua, supaya setiap jenis mahluk atau benda, hidup menurut hukumnya. Jika ada satu makhluk atau satu benda ciptaan tidak berada pada hukum yang telah ditentukan baginya, alam semesta akan kacau. Allah pun menetapkan para penguasa untuk memerintah kerajaan-kerajaan di atas bumi ini; jika tidak, juga akan kacau. Karena itu, wewenang adalah suatu perkara yang sangat penting dalam alam semesta.
2. Taat kepada Wewenang Baru Bisa
Menjadi Wewenang
Tuhan Yesus taat sampai mati, maka Allah mengaruniakan kepada-Nya segala kuasa di langit dan di bumi.
Daud taat kepada wewenang, wewenang langsung Allah, ia menaati kehendak Allah dalam segala hal. Daud juga taat kepada perwakilan wewenang Allah, ia tunduk kepada Saul. Walau Saul menganiayanya, ingin membunuhnya, ia hanya melarikan diri, tidak berani mengulurkan tangannya mencelakakan orang yang diurapi Allah. Ketika ia sempat memotong punca jubah Saul di gua bukit En Gedi, hatinya berdebar-debar, menyesali perbuatannya sendiri (1 Sam. 24:1-7). Ia juga melarang Abisai membunuh Saul, ketika Saul sedang berbaring tidur di bukit Hakhila (1 Sam. 26:6-11). Daud begitu taat kepada wewenang, karena itu Allah menetapkan dia menjadi wewenang. Akhirnya dia menjadi raja menggantikan Saul, memerintah umat Israel.
Sang Perwira itu selain taat kepada wewenang, "Aku sendiri seorang bawahan," ia juga menjadi wewenang "dan di bawahku ada pula prajurit" (Mat. 8:9). Bisa taat kepada wewenang, baru bisa menjadi wewenang. Bisa menurut perintah, baru bisa memberi perintah. Orang yang bisa mutlak taat sewaktu bekerja di bawah tangan orang, dialah yang bisa menjadi seorang pemimpin.