LEMBUT
"Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi"
Matius 5:5
"Tetapi perhiasanmu ialah manusia batiniah yang tersembunyi dengan perhiasan yang tidak binasa yang berasal dari roh yang lemah lembut dan tenteram, yang sangat berharga di mata Allah"
I Petrus 3:4
I. LEMBUT ADALAH LEMAH LEMBUT,
RAMAH TAMAH, TIDAK BEREBUT
DENGAN ORANG LAIN,
TIDAK MELUKAI ORANG LAIN
1. Teguh Tanpa Lembut Akan Menimbulkan Masalah
Jika ada teguh tanpa lembut, akan menjadi keras, bisa menimbulkan kesulitan, menimbulkan masalah. Ada teguh tanpa lembut hanya dapat melayani secara individual, tidak dapat berkoordinasi melayani; hanya dapat melakukan pekerjaan perorangan, tidak dapat melakukan pekerjaan gereja. Begitu berkoordinasi dengan orang lain, bekerja bersama orang lain, suara nyaring besinya segera terdengar, sehingga tidak ada damai, timbul kesulitan.
Rehabeam menjadi raja, tidak lemah lembut, dengan kata-kata keras ia menjawab rakyat, sehingga membuat negara Israel terpecah (I Raj. 12:13-17).
2. Teguh dalam Kebenaran, Lembut dalam Tindakan
Teguh terhadap perkara yang benar, tetap mempertahankan, tidak berubah. Lembut adalah di dalam keteguhan masih ada rasa luwes. Paulus sendiri adalah seorang yang membujang, ia mengharapkan kaum saleh dapat melayani Tuhan dengan rajin, tidak bercabang hati, paling baik dengan status membujang, tetapi ia tidak mengharuskan mereka membujang, kalau mau menikah juga baik. Inilah maksudnya, di dalam keteguhan terdapat sifat luwes.
Kita semua harus belajar bersikap luwes. Ketika saudara Witness Lee pergi ke suatu tempat di Amerika, kaum saleh tua dan kaum saleh muda datang kepadanya. Yang tua-tua berkata kepadanya, bahwa mereka tidak tahan lagi, kaum muda terlalu berani, suara mereka terlalu keras, bahkan menjurus ke liar. Mungkin saja keadaan kaum muda begitu. Tetapi saudara Lee menjawab kaum tua itu, "Mungkin kalian benar dan mungkin mereka salah, tetapi Tuhan Yesus tetap mengasihi mereka. Cobalah pikir, mereka demikian memuji Tuhan, bukankah jauh lebih baik daripada pergi ke gedung bioskop?" Saudara Witness Lee menganjuri mereka untuk sedikit luwes, dan ikut sekelompok pemuda yang sedang "tumbuh" ini berseru, "Haleluya". Kemudian Saudara Lee beralih kepada kaum muda. Mereka berkata, bahwa yang tua-tua terlalu mati. Jawab saudara Lee, "Kalian perlu pengimbangan dari kaum tua. Kalau tidak ada orang tua, akan seperti mobil tanpa rem." Mereka juga setuju untuk sedikit luwes, menerima pengimbangan dari kaum tua. Suatu hari saudara Lee menerima pemberitahuan dari tempat itu, bahwa sekarang keadaan hidup gerejanya sangat baik. Kaum tua dan kaum muda rukun. Kedua belah pihak saling belajar luwes.
Saudara Lee berkata, "Inilah belajar sikap luwes Tuhan Yesus. Dia adalah Putera Allah, tentu Dia boleh tidak membayar bea masuk Bait Allah, tetapi Dia telah membayar. Dia tidak saja membayar untuk diriNya sendiri, jugamembayar untuk Petrus, supaya tidak melanggar orang lain. Dalam hidup gereja, kits harus belajar bersikap luwes, tidak mempertahankan pandangan sendiri. Dengan demikian kita tidak akan membentur orang lain. Inilah karakter insani Tuhan Yesus.
3. Lembut Tanpa Teguh Akan Lemah, Tak Berhasil
Lembut tetapi tidak teguh, akan menjadi lemah, gembur lembek, tidak pernah berhasil dalam pekerjaan. Itu adalah sifat tabu atau adonan; tidal( dapat melayani Tuhan. Orang berkata 'begini', dia mengiyakan; orang lain berkata 'begitu', dia juga mengiyakan. Seperti rumput ilalang yang mengikuti arah tiupan angin, jika demikian bagaimana dapat mempertahankan kebenaran? Apakah yang dapat Tuhan amanatkan kepadanya? Kalau hanya mencari disenangi orang, memenuhi kehendak• hati orang, bagaimana dapat diperkenan Tuhan? Bagaimana dapat melaksanakan kehendak Tuhan?
4. Lembut Tidak Subjektif, Tidak Kaku,
Tidak Mempertahankan Pendapat Sendiri
Subjektif, kaku, mempertahankan pendapat diri sendiri, adalah meminta orang lain mendengarkan dirinya, tetapi ia sendiri tidak mau mendengarkan orang lain; mau supaya orang lain menurut dia, tetapi ia sendiri tidak mau menurut orang lain. Orang yang lemah lembut tidak subjektif, tidak kaku terhadap pendapat sendiri, tidak bersikeras supaya orang lain mendengarkan dia, tidak menekan orang lain untuk mengikuti dia. Orang yang lembut dapat mendengar orang lain, dapat menerima pendapat orang lain.
Orang yang tidak subjektif, tidak kaku terhadap pendapat sendiri, baru dapat mendengar perkataan Allah, menerima pimpinan Allah. Orang yang subjektif, kaku terhadap pendapat sendiri, telah memutuskan sendiri, bagaimana dapat menerima keputusan Allah? Telah mempunyai pendapat sendiri, bagaimana dapat mengerti kehendak Allah?
5. Orang yang Lembut Tidak Berebut
dengan Orang Lain, Tidak Melukai Orang Lain
"Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi" (Mat. 5:5). Orang yang lemah lembut mengalah, tidak berebut dengan orang lain, tetapi ia akan memiliki bumi. Orang Filistin selalu merebut sumur, tetapi Ishak selalu mengalah, tidak berebut, akhirnya Allah memberinya tanah yang luas dan di atas tanah itu ia dapat beranak cucu (Kej. 26:18-22). Makin mengalah, makin ada; makin merebut, makin habis. "...lemah lembutMu telah membesarkan aku" (Mzm. 18:36b; Tl). Tuhan Yesus dengan lemah lembut menerima penderitaan yang tidak beralasan; dimaki, tidak membuka mulut; dicelakai, tidak mengeluarkan kata-kata ancaman; disalib, masih dapat berdoa untuk pengampunan dosa bagi orang-orang yang menyalibkan Dia. Dia lemah lembut, tidak melukai manusia, akhirnya Allah mengangkat Dia menjadi Tuhan dan Kristus, meninggikan Dia.
Dua tahun setelah gereja di Foochow didirikan, karena sangat gigih menentang hal pentahbisan pendeta, saudara Watchman Nee telah dipecat oleh beberapa sekerja yang sekoordinasi. Banyak orang yang tidak terima, mereka berdiri di pihak saudara Nee, minta supaya saudara Nee membuat suatu pernyataan yang tidak menerima terhadap pemecatan itu. Tetapi saudara Nee mengalah, tidak berebut. Dia berkata, bahwa satu-satunya perkara yang dapat ia lakukan ialah mengemasi barang-barangnya dan meninggalkan tempat ini, mereka semua perlu tenang. Tetapi, setelah ia melepaskan pekerjaan di Foochow, Allah malah membuatnya maju, lapang, dan melalui dia, pemulihan Tuhan sampai ke seluruh pelosok negara. Hari ini pemulihan Tuhan telah tersebar ke seluruh bumi.
Satu ayat kidung berbunyi : Ku mau mirip Kau, demikian sabar, kudus dan merendah; tidak melukai orang, dengan lemah lembut menerima perlakuan derita yang tak beralasan, rela menolong orang lain, diriMu sendiri jadi korban.
Seorang saudara pernah bersaksi, "Dari luaran kelihatannya saudara Watchman Nee tidak tampan, memakai jubah, sangat sederhana, bersih, tinggi besar, tetapi dalam dirinya penuh dengan hayat Kristus. Ketika Anda menjamah orang ini, terasa seperti menjamah Kristus sendiri. Dia benar-benar seperti apa yang dikatakan Alkitab : dimaki tidak membuka mulut, dianiaya tidak mengucapkan kata-kata ancaman. Pernah sekali, salah seorang karyawannya yang kedudukannya sangat rendah, karena masalah gaji memaki-maki dia sambil memukul meja. Begitu kerasnya ia memukul meja sehingga tas kulit kantor yang ditaruh di atas meja terjatuh. Karyawan ini terus memaki saudara Watchman Nee selama 4 jam. Tetapi saudara Nee tidak membalas sepatah kata pun, ia hanya mengambil koran dan membacanya.
Ketika untuk kali pertama saudara Witness Lee berkumpul bersama saudara Watchman Nee beberapa bulan lamanya, suatu hari, mereka berdua membicarakan sesuatu. Saudara Nee berkata, "Bagaimanapun, kita harus mengalah, kita tidak ingin memenangkan perkara ini. Kalaupun menang, maka aliran yang di dalam akan terhenti." Inilah prinsip tidak berebut dengan orang lain.
Seorang saudara berkata, bahwa ia tidak pernah melihat ada sekelompok orang yang saling berebut, berdebat, bertengkar, bisa berada di dalam ruang Mahakudus. Selamanya jangan berebut dengan isteri, suami, anak-anak, ayah, ibu, atau dengan saudara saudari dalam gereja. Semakin kita berebut, semakin banyak penderitaan. Mungkin ketika beperkara Anda menang, tetapi dia akan dengan mantap berkata, bahwa Anda telah kehilangan takhta belaskasihan. Bagi orang Kristen, yang paling menyedihkan adalah telah kehilangan hati belaskasihan.
Hidup gereja adalah di dalam Roh Kudus, dan Roh Kudus digambarkan seperti burung merpati. Dalam Alkitab, Dia tidak seperti seekor harimau, melainkan seperti seekor burung merpati yang lemah lembut. Begin' kita berebut, bertengkar, saling menyerang, maka burung merpati itu akan terbang, hati yang penuh belaskasihan juga hilang, penyertaan Tuhan juga tidak ada. Betapa ruginya ini.
II. HARUS MEMILIKI HATI
YANG LEMAH LEMBUT
1. Hati Lemah Lembut
Firman Tuhan dalam I Korintus 4:21, I Tesalonika 2:7, Galatia 6:1; semua menyinggung tentang memilikihati yang lemah lembut. Dalam pandangan Allah, hati yang lemah lembut itu indah, berharga. "Tetapi perhiasanmu ialah manusia batiniah yang tersembunyi dengan perhiasan yang tidak binasa yang berasal dari roh yang lemah lembut dan tenteram, yang sangat berharga di mata Allah" (I Ptr. 3:4). Keindahan orang Kristen tidak tergantung pada perhiasan di luar, melainkan pada adanya hati yang lemah lembut di dalam. Kita harus memperhatikan keindahan yang di dalam, menganggap hati yang lemah lembut dan tenteram sebagai perhiasan. Allah melihat hati yang demikian adalah indah, sangat berharga.
2. Hati yang Lemah Lembut
Dapat Menerima Perkataan Allah, Hayat Bertumbuh
"...Terimalah dengan lemah lembut firman yang tertanam di dalam hatimu, ..." (Yak. 1:21). Orang yang berhati keras, tidak dapat menerima firman Allah; orang yang hatinya tidak cukup gembur, masih ada batu-batu kecil, bisa menerima firman tertentu, dan tidak menerima firman yang lain. Orang yang lemah lembut dapat menerima semua firman Allah, bisa berkata, "Amin." Dalam finnan Allah ada kadar gizi hayat dan vitamin. Dapat menerima semua firman Allah berarti dapat menyerap semua macam vitamin, gizi hayat yang limpah, sehingga hayatnya bertumbuh subur.
Firman Allah seperti benih, dan hati kita seperti tanah. Kalau kita ingin benih bertumbuh dan berbuah, perlu tanah yang gembur, perlu tanah yang baik. Jika tanahnya keras dan berbatu-batu, benih itu tidak akan bertumbuh dengan subur. Yesaya 5:2 mengatakan, bahwa menggarap kebun anggur perlu mencangkul dan membuang batunya.
Hati lemah lembut baru dapat membuat firman Allah bertumbuh dan berbuah. Mazmur 65:11 mengatakan, "Engkau mengairi alur bajaknya, Engkau membasahi gumpalangumpalan tanahnya, dengan dirus hujan Engkau menggemburkannya; Engkau memberkati tumbuh-tumbuhannya." Ini juga memberitahu kita, bahwa hati perlu lemah lembut, sehingga hayat bisa berkembang. Terhadap finnan Allah, mempercayai setiap kata, mengaminkan setiap kata. Bagaimana finnan Allah mengatakan, Anda bisa membuat diri Anda agar sesuai dengan firman Allah. Jika memiliki hati sedemikian, maka firman Allah dapat bertumbuh dan berbuah di dalam kita, ada yang tiga puluh kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang seratus kali lipat. Tuhan Yesus berkata, "Karena Aku lemah lembut dan rendah hati" (Mat. 11:29). Kita harus memiliki hati yang demikian.
Dalam Alkitab Miss Barber, di ayat "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu, dan dengan segenap jiwamu, dan dengan segenap akal budimu" (Mat. 22:37) tercatat kata-kata demikian : "Ya Tuhan, aku bersyukur kepadaMu, karena Engkau memberikan perintah sedemikian." Jika dapat berkata demikian terhadap setiap firman Allah, itu menyatakan satu hati yang lemah lembut untuk menerima finnan yang ditanam.
Ketika keluar, Hudson Taylor pasti membawa korek api, lilin, dan Alkitab. Sebelum fajar menyingsing, dia pasti bangun untuk membaca Alkitab dan berdoa. Bagaimanapun kotor dan ramainya tempatnya, ia tetap tidak terganggu. Dia berkata, "Mana ada terlebih dahulu menyelenggarakan sebuah konser musik, baru kemudian mencocokkan alat-alat musiknya? Setiap hari membaca Alkitabdan berdoa, terlebih dahulu berbaur dengan Allah, baru kemudian bertemu dengan manusia, menangani pekerjaan." Dalam pandangannya, membaca Alkitab tidak saja merawat hayat rohaninya, bahkan menjadi petunjuk dalam pekerjaan dan kehidupannya. Baginya Alkitab benar-benar adalah "pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku." Dia sering berkata, "Ada satu Allah yang hidup, Allah yang hidup ini berbicara dalam Alkitab. Allah berbicara satu kata, terhitunglah satu kata. Apa yang dijanjikan Allah, tidak ada yang tidak digenapi. Allah yang hidup tetap hidup, Alkitab adalah firman hidup dari Allah yang hidup. Setiap kata yang diucapkan Allah dapat diandalkan." Baginya, meneliti Alkitab tergantung pada melaksanakan firman Alkitab; karena itu menelaah Alkitab, berkhotbah, semua dititikberatkan pada pelaksanaannya. Setelah mengetahui, melaksanakan, makin melaksanakan makin mengetahui. Keadaan ini juga menunjukkan bahwa ia adalah orang yang dengan hati yang lemah lembut menerima firman yang ditanamkan.
3. Hati yang Lemah Lembut
Bisa Menghasilkan Banyak Buah Kebaikan
"Siapakah di antara kamu yang bijak dan berbudi? Baiklah ia dengan cara hidup yang baik menyatakan perbuatannya oleh hikmat yang lahir dari kelemah-lembutan. . . ditaburkan dalam damai untuk mereka yang mengadakan damai" (Yak. 3:13,18). Memiliki hati yang lemah lembut adalah hikmat yang dari atas, dapat menghasilkan banyak buah kebaikan. Begitu hati lemah lembut, hayat segera dapat bertumbuh, menampilkan perbuatan-perbuatan kebaikan, membuahkan buah kebenaran. Hati yang lemah lembut adalah tanah yang subur, pepohonan akan banyak berbuah, menghasilkan banyak perbuatan baik, buah-buah indah.
III. HARUS MEMILIKI KEHIDUPAN
DAN PELAYANAN YANG LEMAH LEMBUT
1. Harus Memperlakukan orang dengan Lemah Lembut
"Sedangkan seorang hamba Tuhan tidak boleh bertengkar, tetapi harm ramah terhadap semua orang. Ia harus cakap mengajar, sabar." (II Tim. 2:24). "Janganlah mereka memfitnah, janganlah mereka bertengkar, hendaklah mereka selalu ramah dan bersikap lemah lembut terhadap semua orang" (Titus 3:2). Yang menjadi penatua "bukan peminum, bukan pemarah melainkan peramah, pendamai" (I Tim. 3:3).
Hamba Allah tidak boleh berebut dengan orang lain, tidak boleh ribut dengan orang lain, tidak boleh memfitnah, hanya dapat dengan penuh kelemah-lembutan memperlakukan semua orang. Ketika Tuhan Yesus hidup di bumi, "Ia tidak akan berbantah dam tidak akan berteriak dan orang tidak akan mendengar suaraNya di jalan-jalan" (Mat. 12:19). Dia tidak melukai orang. "Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskanNya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkanNya" (Mat. 12:20). Ia "membalut luka-luka orang, sesudah menyiraminya dengan minyak dan anggur" (Luk. 10:34).
"Roh lemah lembut" (Gal. 6:1) adalah Roh Anak Domba, adalah Roh salib, "Ketika Ia dicaci maki, Ia tidakmembalas dengan mencaci maki; ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam" (I Ptr. 2:23), inilah Roh lemah lembut, rela menanggung derita; meskipun ada kekuatan untuk melawan, meskipun ada hukum yang dapat melindungi, tetap tidak mau memakai tangan darah daging untuk membela diri sendiri. Inilah yang disebut, menerima derita dan celaka tanpa adanya roh yang melukai, yang merugikan orang. Dia mengukur diri sendiri dengan keadilan, tetapi tidak mengukurkannya pada orang lain. Dia dipenuhi dengan hati kasih dan karunia, sehingga dapat menerima orang-orang yang merepotkan Dia.
Suatu kali seorang saudara naik sebuah angkong (kereta tarik), sudah disetujui ongkosnya 5 Yuan. Ketika tiba di tempat tujuan, dia memberikan satu lembaran 10 Yuan. Kemudian ia menunggu uang kembaliannya. Si penarik angkong pura-pura membuka-buka semua kantongnya dan berkata bahwa hanya ada 4 Yuan untuk kembaliannya. Saudara ini tahu, bahwa tindakan tersebut adalah muslihat penarik angkong itu, mulailah ia bertengkar. Saat itu, saudara ini tiba-tiba teringat bahwa dirinya adalah seorang anak Allah, segera ia berhenti bertengkar dan berkata, "Baiklah satu Yuan tidak jadi soal."
Suatu kali Hudson Taylor berpiknik ke tepi sebuah sungai di Cina. Ia menyewa sebuah perahu untuk menyeberang. Setelah membicarakan ongkosnya dengan pemiliknya, perahu itupun siap menyeberang. Saat itu, tiba-tiba datang seseorang yang berpakaian perlente ke tepi sungai itu, tanpa mempedulikan Hudson Taylor, ia juga hendak menyewa perahu itu. Pemilik perahu itu tidak mau menerima dan menyatakan telah berjanji dengan tuan orang asing itu. Orang itu memelototi Hudson Taylor, menjulurkan tangannya, langsung memukul, tepat pada hidung Hudson Taylor, sehingga ia berkunang-kunang. Saat itu orang itu menghadap dia dan membelakangi air. Kalau Hudson Taylor mendorong sekali saja, pasti ia akan jatuh ke dalam air. Ia mengangkat tangannya, tetapi tiba-tiba menurunkannya lagi, dan berkata kepada orang itu, "Lihatlah, aku dapat dengan sekali dorongan mendorong Anda jatuh ke dalam air, tetapi Tuhan Yesus yang kulayani tidak mengizinkan aku berbuat demikian. Anda tidak seharusnya memukul aku. Aku lebih dulu menyewa perahu ini, perahu ini adalah hakku. Walaupun sudah menjadi hakku, baiklah aku mempersilakanmu menumpang perahu ini menyeberang." Mendengar ini, orang itu merasa malu dan salah, kemudian ia naik perahu itu menyeberang bersama Hudson Taylor. Hudson Taylor memakai kesempatan ini memberitakan Injil kepadanya.
2. Perkataan Harus Ramah
"Hendaklah kata-katamu senantiasa penuh kasih, jangan hambar, sehingga kamu taint, bagaimana kamu harus menjawab kepada setiap orang"(Kol. 4:6). Kita tidak seharusnya cepat marah, berbantahan, mengomel, mengeluarkan kata-kata tajam, seharusnya hanya ada kata-kata ramah. Tidak boleh dengan kata-kata keras menjawab kata-kata keras, hanya boleh dengan kata-kata ramah menghadapi kata-kata keras. "Jawaban yang lemah lembut meredakan kegeraman, tetapi perkataan yang pedas membangkitkan marah" (Ams. 15:1). "Lidah lembut adalah pohon kehidupan, tetapi lidah curang melukai hati" (Ams. 15:4). Perkataan yang lembut dapat menyuplaikan hayat. Allah hanya dapat melalui perkataan yang ramah menyatakan diriNya. "Sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah" (Yak. 1:20).
3. Menganjuri dengan Lemah Lembut
"Dan dengan lemah lembut dapat menuntun orang yang suka melawan, sebab mungkin Tuhan memberikan kesempatan kepada mereka untuk bertobat dan memimpin mereka sehingga mereka mengenal kebenaran, dan dengan demikian mereka menjadi sadar kembali, karena terlepas dari jerat Iblis yang telah mengikat mereka pada kehendaknya" (II Tim. 2:25-26). Perdebatan yang bodoh dan tidak berpengetahuan harus ditolak, tidak berbantahan dengan orang lain, dengan lemah lembut membimbing orang yang melawan. Allah dapat melalui anjuran kita yang lemah lembut menggerakkan mereka sehingga bertobat. Allah hanya dapat memakai kata-kata yang lembut, tidak dapat memakai kata-kata kita yang berbantahan, berdebat. Hanya lidah yang lembut, perkataan yang ramah, yang dapat menyuplaikan hayat, menelan maut.
Ketika Hudson Taylor masih belajar kedokteran di London, walaupun setiap hari sibuk dengan pelajarannya, ia tetap memperhatikan pekerjaan menyelamatkan jiwa orang. Suatu kali ia diberi tugas memperhatikan seorang tua yang sakit Gangrin (pembusukan jaringan tubuh). Saat itu orang tua tersebut belum tahu bahwa ia akan segera meninggal. Dia berasal dari keluarga yang percaya Tuhan, tetapi dirinya sendiri tidak percaya kepada Allah, bahkan sangat menentang. Dulu pernah ada orang yang tanpa persetujuannya mengundang orang lain untuk membacakan Alkitab baginya. Ia sangat marah dan mengusir orang yang membaca Alkitab itu. Pernah pula seorang penginjil datang menjenguknya, berkhotbah kepadanya. Ia meludahi muka penginjil itu, melarangnya berbicara. Hudson Taylor sangat memperhatikan jiwanya. Dua hari pertama ia tidak menyinggung tentang keselamatan jiwa dengannya, hanya dengan sangat hati-hati membersihkan, membalut kakinya yang membusuk, sekuat tenaga meringankan penderitaannya. Orang tua itu sangat berterima kasih kepada Hudson. Pada suatu hari, ketika ia mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada Hudson Taylor, Hudson Taylor menggunakan kesempatan itu untuk berkata kepadanya, mengapa ia demikian rajin melayaninya. Pula berkata, bahwa keadaan penyakitnya sangat gawat, perlu bersandar Kristus, mendapatkan belaskasihan Allah. Tetapi dia dengan kekuatan menahan yang paling kuat, mengatupkan bibirnya, membalikkan tubuh, membelakangi Hudson Taylor, tidak berkata sepatah kata pun. Hudson Taylor dengan tekun setiap hari memohon kepada Allah, agar melalui kuat kuasa Roh Kudus ia dapat menyelamatkannya sebelum ia meninggal. Setiap kali sesudah membalut luka kakinya, Hudson Taylor pasti mengucapkan kepadanya beberapa perkataan Injil. Tetapi setiap kali pula ia membalikkan tubuhnya, dan terlihat benci kepada Hudson, hanya ia tidak berkata apapun. Demikian berlalu beberapa hari; Hudson Taylor hampir putus asa, merasa semua kebaikannya malah membuat dia keras hati, makin menambah dosa. Pada suatu hari, setelah ia membalut kakinya, ia tidak seperti biasanya, datang ke tepi pembaringannya untuk berkata-kata dengan dia, ia terus menuju pintu ruangan untuk keluar. Sampai di pintu, Hudson Taylor berhenti sebentar lalu menoleh sejenak. Saat ini, Hudson Taylor tidak tahan lagi, ia berbalik menghampiri dia dan berkata dengan air mata berderai,
"Temanku, tidak peduli Anda mendengar atau tidak, aku tidak dapat tidak mengatakan isi hatiku." Hudson Taylor kembali dengan sangat memberitahunya, betapa ia ingin berdoa bersamanya. Di luar dugaan, kali ini ia tidak membalikkan tubuh. Ia menjawabnya, "Kalau dengan berbuat demikian dapat membuat Anda lega, ya berdoalah!" Segera Hudson Taylor berlutut, mencurahkan isi hatinya di hadapan Allah, memohon baginya. Sejak hari itu, ia tidak pernah sekalipun menyatakan menolak mendengarkan Injil atau berdoa. Beberapa hari kemudian, ia benar-benar menerima Kristus sebagai Juruselamatnya.
4. Dengan Lemah Lembut Memikul Kuk Tuhan
Tuhan Yesus berkata, "Pikullah kuk yang Kupasang, dan belajarlah padaKu, karena Aku lemah lembut dan rendah hati, dan jiwamu akan mendapat ketenangan" (Mat. 11:29). Ketika Allah menghendaki Anda memikul kuk apapun, Anda harus menerimanya dengan lembut, tidak ada rasa tidak terima, tidak menggerutu, tidak melawan. Asal kehendak Allah tergenap, bagaimanapun jadilah, dan berkata, "Jadilah kehendak Tuhan" (Kis. 21:14).
Ketika Tuhan Yesus ditolak, Ia tetap dapat berkata, "Aku bersyukur kepadaMu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepadaMu" (Mat. 11:25-26). Ia berdoa di taman Getsemani, "Ya BapaKu, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dariKu, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki" (Mat. 26:39). Perkataan "janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki," ini berarti Tuhan Yesus berkarakter lembut. Kalau Anda berpikir demikian, lalu harus demikian, apapun tidak dapat mengubah maksud Anda, itu menunjukkan hati Anda tidak lembut. Lemah lembut adalah Anda dapat mengubah maksud Anda dan berbuat menurut maksud Allah. Kita hanya dapat mengubah maksud kita untuk menuruti kehendak Allah, kita tidak dapat memaksa Allah menuruti maksud kita. Janganlah seperti bani Israel yang dicela oleh Tuhan Yesus, "Karena ketegaran hatimu Musa mengizinkan kamu menceraikan isterimu, tetapi sejak semula tidaklah demikian" (Mat. 19:8).
Grace, 8 tahun, anak sulung perempuan Hudson Taylor yang paling ia sayangi, sangat elok juga sangat pandai. Ia meninggal di atas sebuah gunung, di Hangchow, karena penyakit Hydrocephalus (otak berair) pada tanggal 23 Agustin 1867. Seminggu sebelum meninggal, ia mengikuti ayahnya naik gunung dan melihat di sana ada seorang yang sedang mengukir kayu berhala. Ia berkata kepada ayahnya, "0 papa, orang itu pasti tidak mengenal Tuhan Yesus. Jika ia mengenal Tuhan Yesus, ia pasti tidak melakukan pekerjaan itu. Tidakkah engkau memberitahu dia?" Ketika berkata demikian, ia memegang erat-erat tangan ayahnya. Hudson Taylor segera memberitakan Yesus kepada orang itu. Grace berdiri di sampingnya, mendengarkan dengan penuh perhatian. Setelah itu mereka duduk di tempat yang teduh, Grace tetap teringat pada perkara tadi. Begitu mendengar ayahnya berkata, "perlu berdoa bagi orang itu", hatinya sangat gembira. Setelah menyanyikan sebuah kidung, Hudson Taylor berkata, "Kamu berdoa dulu." Ia segera berdoa. Hudson Taylor sangat tergerak dan berkata, "Sebelumnya tidak pernah aku berdoa demikian, dan tidak pernah mengalami gerakan Tuhan demikian dalam. Hatiku sujud menyembah di hadapan Allah, aku tidak berdaya menggambarkan bagaimana keadaan batinku waktu itu." Pada tanggal 15 Agustus 1867, ketika penyakit Grace sedang gawat-gawatnya, Hudson Taylor menulis surat kepada saudara Park, "Saudaraku yang kekasih ... saat ini aku duduk di tepi tempat tidur Grace kecil yang sangat kukasihi, yang akan meninggal dunia, dan menulis beberapa bads kepadamu. Dia terkena Hydrocephalus. Saudara yang kekasih, menurut daging, sungguh hati kami tidak tahan menghadapi pukulan ini, tetapi Allah adalah kekuatan dalam hatiku. Sudah jelas tahu bahwa anak isteri dari Inggris cukup sulit menghadapi keadaan dan cuaca di Cina, tetapi aku tetap membawa isteri dan anakku datang ke sini. Ini bukan karena aku bodoh atau melawan perasaan batin, tetapi karena aku rela kalau aku dan seluruh keluargaku dipersembahkan ke atas mezbah Tuhan. Meskipun kami lemah, gagal, tidak layak, tetapi tetap tulus polos. Tuhan yang kami layani dengan sekuat tenaga tidak membuang kami." . . . Tukang bunga berkata, "Siapa yang memetik bunga indah ini?" Pekerjanya menjawab, "Sang tuan yang memetiknya." Tukang bunga itu diam seribu bahasa. Saudari Paula menulis surat kepada teman-temannya dari Hangchow, demikian, "Aku belum pernah melihat keadaan yang indah seperti yang diwujudkan menjelang kematian Grace. Di atas bumi tidak dapat terlihat lagi gambaran yang indah dan manis seperti itu."
Grace seperti sekuntum bunga indah, tuannya -- Allah, telah memetiknya, tukang bunga -- ayahnya, Hudson Taylor, diam seribu bahasa. Hatinya terhadap Allah betapa lemah lembut.
IV. KELEMAHLEMBUTAN YANG TIDAK DAPAT BINASA
Bukan lemah lembut alamiah, bukan lemah lembut karena pendidikan, melainkan Kristus adalah lemah lembut kita. Hidup dalam roh, mengikuti roh, menghasilkan buah-buah kelemahlembutan. Paulus berkata, "Aku, Paulus, . . . aku memperingatkan kamu demi Kristus yang lemah lembut dan ramah" (II Kor. 10:1). Kristus itu "lemah lembut" (Mat. 11:29), juga adalah lemah lembut kita. Lemah lembut adalah buah yang dihasilkan Roh Kudus (Gal. 5:22-23), hidup berdasarkan roh pasti ada buah kelemahiembutan. Lemah lembut alamiah, lemah lembut hasil pendidikan manusia, semuanya bisa rusak binasa. Ada kelemahlembutan saudari-saudari yang alamiah hasil didikan manusia, jika berbicara selalu pelan-pelan, berjalan juga hati-hati, tidak tergesa-gesa. Tetapi sampai saat anaknya panas demam, ia lebih gelisah daripada siapapun. Begitu ada bahaya, ia berlari lebih cepat daripada siapapun.
Kristus adalah lemah lembut kita, lemah lembut yang dihasilkan Roh Kudus baru tahan lama, tidak dapat binasa (I Ptr. 3:4). Kelemahlembutan bukanlah hasil tirakat atau didikan manusia, melainkan hasil dari hidup di dalam roh, tertampil keluar berdasarkan Kristus.