Daftar isi Karakter · bab 19/30

TEGUH

I. TEGUH ADALAH PERKASA, TANGGUH

Teguh bukan berarti keras, melainkan perkasa, tangguh. Hati keras tidak baik, tapi tekad yang teguh itu. baik. Pantang mundur itulah teguh.

1. Bertahan Demi Kebenaran, Tidak Berubah

Atas perkara yang benar bisa bertahan sampai kepada kesudahannya, sama sekali tidak berubah, itulah teguh. Untuk Tuhan tidak takut penderitaan apapun, bahkan nyawanya tidak disayang, itulah teguh. Paulus berkata, "Tetapi aku tidak menghiraukan nyawaku sedikitpun, asal saja aku dapat mencapai garis akhir dan menyelesaikan pelayanan yang ditugaskan oleh Tuhan Yesus kepadaku untuk memberi kesaksian tentang Injil kasih karunia Allah" (Kisah Para Rasul 20:24). Inilah teguh.

Tiga teman Daniel tidak mau menyembah patung emas. Raja Nebukadnezar mengancam akan melemparkan mereka ke dalam perapian yang menyala-nyala. Mereka tetap tidak mau menyembah patung itu. Mereka menjawab raja, "Tidak ada gunanya kami memberi jawab kepada tuanku dalam hal ini. Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; letapi seandainya tidak hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patting emas yang tuanku dirikan itu" (Daniel 3:16-18). Inilah teguh.

Dulu di Cina, ada seorang sekerja yang sangat akrab dengan saudara Witness Lee. Ia lebih tua belasan tahun daripada saudara Witness Lee. Ketika gereja di Cina mengalami aniaya, ia beberapa kali ditangkap, tetapi ia sama sekali tidak berdoa, "Ya Tuhan, selamatkanlah saya dari tangan orang-orang yang menganiaya. Tuhan, lindungilah saya!" Ia sama sekali tidak berdoa semacam itu. Ketika ditangkap dan diinterogasi, yang memeriksa juga tidak perlu banyak bertanya. Saudara itu sendiri berkata, "Aku memberi kalian tiga jalan : bila ingin membunuh aku, silakan membunuh, bila ingin memenjarakan aku, penjarakanlah; bila ingin melepaskan aku, lepaskanlah aku, dan aku akan segera memberitakan Yesus." Penganiaya-penganiaya menahan dia beberapa waktu, namun sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa terhadapnya, sehingga kemudian melepaskannya.

Masih ada seorang sekerja yang dipenjara tiga belas tahun lamanya. Ketika akan dibebaskan, si penganiaya menggertaknya, "Setelah bebas, kamu tidak boleh memberitakan Yesus lagi." Tetapi dia dengan perkasa menjawab, "Kalau aku tidak memberitakan Yesus lagi, sia-sialah aku dipenjarakan selama tiga belas tahun ini." Boleh di penjarakan, tetapi tetap memberitakan Yesus. Inilah teguh.

Paulus tidak pernah bermulut manis karena loba yang tersembunyi, tidak menganggap ibadah sebagai sumber keuntungan (I Tesalonika 2:5, 1 Timotius 6:5-6). Elisa tidak menerima hadiah dari Naaman. Inilah teguh, perkasa. Hambanya, Gehazi, berlari meminta hadiah, ini adalah lemah (II Raja-raja 5:15-16, 20-24). Banyak pelayan Allah lemah terhadap uang, hal ini harus menjadi peringatan bagi kita. Dalam godaannya terhadap Tuhan, Iblis dengan semua kerajaan dunia dan kernegahannya membujuk Dia untuk menyembahnya, Tuhan Yesus dengan tegas menolaknya.

Iblis menanggulangi orang-orang yang melayani Allah dengan ancaman dan bujukan keuntungan, kita harus teguh berdiri.

2. Teguh Berkaitan Erat dengan Stabil dan Tenang

Teguh sangat berkaitan dengan Stabil dan Tenang. Kalau tidak teguh, sulit stabil, sulit tenang. Teguh baru bisa stabil, baru bisa tenang.

II. JANGAN KERAS HATI

1. Jangan Mempunyai.Roh yang Keras

Raja Nebukadnezar "menjadi tinggi hati dan keras kepala, sehingga berlaku terlalu angkuh, maka ia dijatuhkan dari takhIa kerajaannya dan kemuliaannya diambil dari padanya" (Daniel 5:20). Sikap keras kepalanya berasal dari ketinggian hatinya. Ia berkata, "Bukankah ini Babel yang besar itu, yang dengan kekuatan kuasaku dan untuk kemuliaan kebesaranku telah kuhangun menjadi kota kerajaan." (Daniel 4:30). Ia membuat bagi dirinya sendiri sebuah patung emas yang tinggi besar, mengira dirinya sendiri cukup berkekuatan, berwibawa, dan memiliki kemuliaan, sehingga tidak memandang Allah.

Kita hanya boleh memiliki "Roh pengenalan dan takut akan TUHAN" (Yesaya 11:2), hanya boleh seperti Maria, "Jiwaku memuliakan Tuhan" (Lukas 1:46). Tidak boleh memiliki roh keras hati. Jangan mempunyai sedikitpun perasaan, "Kalau aku demikian, Allah bisa berbuat apa kepadaku? Orang bisa berbuat apa kepadaku?" Itu sama dengan hakim yang tidak benar, yang tidak takut akan Allah dan tidak menghormati siapapun.

Orang-orang Israel meminta kepada Rehabeam, "Ayahmu telah memberatkan tanggungan kami, maka sekarang ringankanlah pekerjaan yang sukar yang dibebankan ayahmu dan tanggungan yang berat yang dipikulkannya kepada kami, supaya kami menjadi hambamu" (IRaja-raja 12:3-4). Rehabeam menuruti nasihat orang-orang muda, menjawab mereka, "Ayahku telah memberatkan tanggungan kamu, tetapi aku akan menambah tanggunganmu itu : ayahku telah menghajar kamu dengan cambuk, tetapi aku akan menghajar kamu dengan cambuk yang berduri besi" (I Raja-raja 12:13-14). Dia mengira "kelingkingnya lebih besar daripada pinggang ayahnya" (I Raja-raja 12: 10). Semuanya itu menyatakan rohnya yang keras. Akhirnya ia kehilangan sepuluh setengah suku Israel.

Saudara Watchman Nee berkata, bahwa begitu roh kaum imani memiliki sikap angkuh, itulah pernyataan kejatuhannya.

Roh yang takut dan gentar bisa menjaga kita tidak gagal, bisa membuat kita sungguh-sungguh mengenal Allah. Allah hanya menolong orang yang rohnya bertobat dan bersedih. Dia tidak bisa menolong orang macam lain, karena Ia memerlukan roh pertobatan untuk mewahyukan kehendakNya. Orang yang menutup-nutupi kesalahannya pasti tidak mempunyai roh pertobatan, Allah tidak bisa menolong orang semacam ini dengan tuntas.

Roh yang keras sering menjadi penghalang bagi pelaksanaan kehendak Allah. Satu roh yang rela/luwes barulah dapat merampungkan maksud hati Roh Kudus (Keluaran 35:21). Kalau kita keras hati, mengukuhkan diri, tidak mau merendahkan diri, pekerjaan Roh Kudus pasti terhalang.

Allah tidak pernah memakai orang yang sombong. Begitu sombong, Allah segera mengesampingkan orang itu. Kalau kita sombong, mengukuhkan diri sendiri, keras hati, kita akan dikesampingkan oleh Allah.

Jangan menganggap diri sendiri paling benar, jangan mengukuhkan diri sendiri, haruslah rendah hati, dalam segala sesuatu bertanya kepada Allah (Mazmur 27:4), mengikuti Roh, dengan takut dan gentar menaati Roh, biar Allah merampungkan kehendakNya yang baik (Filipi 2: 12-13).

Banyak roh kaum imani yang keras, sehingga susah dididik; sering kali, meskipun sudah tahu dirinya salah, tetapi masih mengukuhkan diri. Banyak roh kaum imani terlalu keras, sehingga tidak mau mendengarkan penjelasan orang lain tentang kesalahpaharnannya. Satu roh rendah hati baru mempunyai kapasitas menerima orang lain.

2. Jangan Menjadi Orang yang Keras Kepala

Nabal adalah orang dursila, keras kepala, bebal. Daud mengutus orang dengan rendah hati dan lemah lembut meminta bantuannya. Nabal tidak tergerak, sebaliknya membalas dengan kata-kata yang jahat. Hamba-hamba Daud pernah melindungi para gembala Nabal siang malam, tetapi Nabal dengan kejahatan membalas kebaikan. Nabal keras kepala dan dursila, akhirnya dipukul oleh Allah, ia mati dan badannya membatu. Badannya membatu, menyatakan dia adalah orang yang keras hati, bebal, tidak mendengar anjuran dan pandangan orang lain.

3. Jangan Mengucapkan Kata-kata Nista, Keras

(Yudas 15)

Semua kata-kata yang melawan Allah adalah kata-kata yang nista, keras, kata-kata yang melawan orang juga kata-kata yang keras.

Jangan mempunyai roh yang keras, jangan menjadi orang yang keras kepala, jangan mengucapkan kata-kata keras, jangan ada keadaan yang keras macam apapun.

III. JANGAN BERSIKERAS/KAKU

1. Jangan Bersikeras Tidak Tunduk

Allah berkali-kali memukul Firaun, tetapi ia tetap hbersikeras, tidak mau tunduk (Keluaran 7:13; 8:19,32; 9:35).

Terhadap pengajaran (ganjaran) Allah dalam situasi lingkungan kita, janganlah kita bersikeras, tidak mau tunduk. "Karena itu rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat, supaya kamu ditinggikanNya pada waktunya" (I Petrus 5:6). Harus mengenal tangan pengaturanNya dalam situasi, harus taat kepada pengajaranNya.

2. Jangan Bersikeras Tidak Percaya

Di padang belantara, orang-orang Israel sekali demi sekali melihat mujizat, tetapi tetap keras hati, tidak percaya (Ibrani 3:7-19). Hati yang tidak percaya adalah hati yang keras. Tuhan mencela murid-murid yang tidak percaya, yang hatinya degil, karena mereka tidak percaya kepada orang-orang yang telah melihat Dia sesudah kebangkitanNya (Markus 16:14). Terhadap orang yang mengamati diriNya, Tuhan berdukacita karena kedegilan hati mereka (Markus 3:5).

Satu-satunya penyebab kegagalan umat Allah adalah ketidakpercayaan mereka. Penghidupan iman ialah penghidupan yang bagaimanapun harus percaya kepada Allah. "Orang benar akan hidup oleh iman " (Roma 1:17).

Iman adalah menghentikan aktivitas diri sendiri, menunggu Allah yang melakukan. Perbuatan paling besar dari iman ialah menengadah kepada Roh Kudus yang dian di dalam roh kita untuk membimbing kita; percaya Dia hidup di dalam kita, menjadi segala sesuatu kita.

Allah bukannya menghitung kebenaran manusia sebagai kebenaran manusia, melainkan menghitung iman manusia sebagai kebenaran manusia. "Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia" (Ibrani 11:6).

Percaya Tuhan, bukan berarti percaya Dia memberi kita sesuatu, melainkan percaya Dia melakukan apa yang tidak bisa kita lakukan.

Meskipun sekeliling kita gelap, tetapi iman kita tampak adanya tangan Sang kekal yang bekerja untuk kita.

Iman adalah satu-satunya jalan yang mengubah fakta menjadi pengalaman. Terhadap janji Allah, kita harus menerimanya dengan iman. Terhadap fakta Allah., kita tidak saja harus menerima dengan iman, bahkan harus menikmati dan memakai fakta yang telah Allah genapkan.

Semoga kita. semua demi iman mengalami perbuatanNya, juga demi iman memperhidupkan diriNya. Jangan berhati degil, jahat, tidak percaya. dan murtad kepada Allah yang hidup (Ibrani 3:12), sehingga kehilangan pengenalan dan pengalaman terhadap Allah.

Percaya kepada Allah tergantung pada percaya kepada firman Allah. Penghidupan orang Kristen tidak lain adalah memegang erat firman Allah, menempuh hidup olehNya; yakni percaya bahwa Allah itu setia dan adil.

Percaya kepada firman Allah berarti : Allah berkata apa, begitulah kita percaya. Pada suatu kali.. saudara Watchman Nee menghadapi satu masalah yang tidak bisa diatasi, tidak terpikirkan jalan keluarnya. Saat itu dia teringat firman Tuhan, "Janganlah kamu khawatir tentang apapun juga." Kemudian ia pergi ke suatu tempat (tanah kosong) di Husie untuk berdoa. Setelah berdoa puluhan kali, hatinya tetap tidak merasa damai sejahtera. Ia berpikir, "Apakah ayat ini hanya bisa diberitakan kepada orang lain, tetapi tidak bisa dipraktikkan untuk diri sendiri?" Saat itulah Allah berkata kepadanya, "Aku berkata : Janganlah kamu khawatir tentang apapun juga, maka kamu pasti memiliki damai sejahtera. Sekarang bagaimana mungkin kamu berkata bahwa kamu tidak memiliki damai sejahtera? Segera saudara Watchman Nee melompat dan berkata, "Ya Allah, Engkau berkata, bahwa aku memiliki damai sejahtera, aku pasti memiliki damai sejahtera, aku sendiri tidak akan berkata apa-apa lagi." Demikianlah ia percaya, lalu pulang. Saat itu hatinya segera memiliki damai sejahtera, dan damai kali itu adalah damai yang jarang ia alami dalam seumur hidupnya.

Kapan saja Anda menemui pencobaan atau ujian, Anda harus percaya bahwa firman Allah, fakta Allah, selalu lebih dapat diandalkan daripada perasaan Anda. Asal Anda percaya dengan sepenuhnya kepada firman Allah, Dia akan bertanggung jawab memberi Anda pengalaman.

Iman yang sejati adalah hanya percaya kepada firman Allah, tidak percaya kepada pengalaman diri sendiri, tidak percaya perasaan diri sendiri, tidak gelap gulita.

3. Jangan Bersikeras Tidak Mau Bertobat

(Roma 2:5)

Terus hidup dalam dosa, dalam kesalahan, tidak mau bertobat dan mengaku dosa, ini adalah bersikeras. Sama seperti saudara yang bersalah dalam Matius 18, ada seorang menganjurinya, tidak mau mendengar, membawa seorang saudara yang lain menganjuri lagi, masih tidak mau mendengar, terakhir memberitahu gereja. Bila gereja pun tidak didengarnya, tidak mau bertobat, itulah bersikeras.

Ada dosa, harus diakui, ada salah, harus diperbaiki. Kalau terus bersikeras tidak mau bertobat, akhirnya akan menjadi tebal muka, hati nurani tumpul, kehilangan segala perasaan, terputus dari hayat yang Allah berikan kepada kita (Efesus 4:18-19), kehilangan terang muka Allah, tidak dapat menjamah hayat.

4. Jangan Bersikeras

Tidak Mendengarkan Firman Allah

Tuhan mencela orang Israel tidak mau mendengar firmanNya, selalu memalingkan kepalanya, menutup telinganya, sehingga hatinva keras seperti batu berlian, tidak mendengarkan hukum Taurat dan firman Allah yang disampaikan oleh Roh melalui nabi-nabi.

Mendengar firman Allah berarti melakukan menurut apa yang dikatakan oleh Allah. Telinga hamba harus ditusuk di tiang pintu tuannya, artinya ia harus mengerjakan seturut pesan tuannya. (Keluaran 21:5-6).

Hudson Taylor sering berkata, "Ada satu Allah yang hidup, dan Allah yang hidup ini berbicara di dalam Alkitab. Setiap perkataanNya terhitung. Apa yang dijanjikan oleh Allah, tidak ada yang tidak digenapi. Allah yang hidup ini tetap hidup. Alkitab adalah firman hidup yang diucapkan oleh Allah yang hidup, apa yang diucapkan oleh Allah, semuanya dapat dipercayai." Dalam pandangannya, mempelajari Alkitab tergantung pada melaksanakan firman Alkitab; sebab itu ketika menelaah Alkitab, ia selalu mementingkan aspek pelaksanaannya. Setelah tahu, segera melaksanakannya; semakin melaksanakan, semakin mengerti. Sebab itu, ia bisa memakai firman Allah menyuplai orang lain, membantu orang lain.

5. Hati Batu Menjadi Hati Daging

Yehezkiel 36:26 memberitahu kita, ketika manusia betoleh selamat, Allah memberi mereka satu hati yang baru. Sebelum beroleh selamat, hati kita adalah hati batu, melawan Allah, tidak mau Allah, terhadap Allah keras seperti batu. Ketika beroleh selamat, hati kita menjadi lunak terhadap Allah, hati batu menjadi hati daging, mau Allah, mengasihi Allah, taat kepada Allah. Begitu kita beroleh selamat, Allah memperbarui hati lama kita, hati batu menjadi hati baru, hati daging. Selanjutnya, Allah menghendaki hati kita di hadapan Allah selalu dalam keadaan hati daging, mau Dia, mengasihi Dia, lunak terhadapNya, taat kepadaNya.

IV. HARUS TEGUH, PERKASA

Jangan keras hati, jangan bersikeras; tetapi harus teguh, tidak lemah, tidak takut, perkasa seperti singa.

Melayani Tuhan, bekerja untuk Tuhan, bisa membuat musuh tidak terima, sehingga ia menimbulkan berbagai macam penganiayaan kesulitan, halangan, dan ancaman, sebab itu harus perkasa.

Ketika Yosua hendak memimpin bam Israel masuk ke tanah Kanaan, Allah mendorong dia supaya ia menguatkan dan meneguhkan hatinya (Yosua 1:6). Meskipun tujuh suku bangsa Kanaan tinggi besar, dia harus menguatkan dan meneguhkan hati, tidak takut kepada mereka, tidak merasa gentar.

Satu Tawarikh 11:10 mengatakan, bahwa Daud mempunyai banyak pahlawan yang membantunya mendapatkan kerajaan. Untuk dapat melawan musuh dan memperluas kerajaan Tuhan, harus menjadi pahlawan, teguh perkasa. Satu Tawarikh 11: 11-25 mencatat berbagai contoh kegagahan dan keberanian para pahlawan yang patut ditiru.

Akhir surat Efesus 6 membicarakan tentang peperangan rohani. Gereja adalah laskar/prajurit, harus bersandar Tuhan; menjadi orang yang teguh perkasa, bersandar kuat kuasa Tuhan. Orang yang perkasa baru bisa berperang. Kitab Bilangan memberitahu kita, laki-laki di atas umur dua puluh tahun baru bisa berperang, perempuan, anak-anak, dan yang lemah tidak boleh berperang. Satu Korintus 16:13 berkata, "Berjaga-jagalah! Berdirilah dengan teguh dalam iman! Bersikaplah sebagai laki-laki! Dan tetap kuat!"

Paulus menganjuri Timotius, "Bertandinglah dalam pertandingan iman yang benar" (I Timotius 6:12a). Banyak perkara yang melawan iman yang benar akan timbul, sebab itu kita harus berperang. Bila ingin berperang, harus perkasa.

Paulus adalah orang yang perkasa, dalam perjuangan yang berat memberitakan Injil Allah (I Tesalonika 2:2). Dirajarn dengan batu, setelah bangun memberitakan Injil lagi (Kisah Para Rasul 14:19-21). Yang ia derita adalah penganiayaan dan sengsara (II Timotius 3:11), tetapi ia tidak gentar karena penderitaan itu. Demikianlah musuh tidak bisa menghalanginya, dan pekerjaan Tuhan bisa berkembang, bisa terus maju.

Dalam jalan pemulihan Tuhan hari ini, juga banyak peperangan, sebab itu harus perkasa. Saudara Witness Lee berkata, "Pada tahun 1932, ketika pemulihan di mulai di Cheefoo, dari kalangan Kekristenan sudah ada yang menyerang kita, menuduh kita memberitakan 'ajaran yang salah', ada juga yang menganggap kita seperti anak-anak yang bermain, sebentar saja pasti hilang. Sewaktu di Shanghai, aku di bawah saudara Watchman Nee, payung besar ini, belajar berperang. Ketika kesulitan datang, orang lain mundur, saya malah menunjang. Di Amerika, orang-orang yang menentang terus-menerus menerbitkan buku-buku yang isinya menyerang kita. Dalam keadaan yang begitu rumit, aku masih bisa tidur nyenyak, tentara tua yang sudah lama berperang tidak takut bom."

Ketika Luther pergi ke Worms untuk diadili, ia sangat perkasa. Banyak orang menganjuri dia, "Di Worms banyak kardinal, uskup agung, ... mereka bisa membakar Anda hidup-hidup dengan api, sama seperti mereka memperlakukan John Huss." Luther menjawab, "Meskipun mereka di sepanjang jalan yang menuju Worms dan Wittenberg menyalakan api, ... aku demi nama Tuhan akan melewatinya, . . . aku bisa muncul di depan mereka ... aku akan masuk ke dalam rahang siluman, memukul remuk gerigi mereka, dan mengakui Tuhan Yesus Kristus." Djajuga pernah dengan gagah perkasa berkata, "Lebih baik kehilangan empat ratus kepala, daripada menarik kembali kesaksian."

V. BAGAIMANA MENJADI TEGUH

1. Teguh di dalam Kasih Karunia

Paulus berkata kepada Timotius, "Sebab itu, hai anakku. jadilah kuat oleh kasih karunia dalam Kristus Yesus" (IITimotius 2:1). Bukan bersandar kekuatan alamiah diri sendiri, melainkan bersandar kasih karunia, bersandar kuat kuasaNya. "Akhirnya, hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasaNya" (Efesus 6:10). Kekuatan alamiah manusia tidak bisa diandalkan. Petrus pernah tampak berani dan sekuatnya berkata kepada Tuhan, "Sekalipun uku harus mati bersama-sama Engkau, aku takkan menyangkal Engkau" (Markus 14:31). Tetapi akhirnya sangat lemah, sampai-sampai di depan seorang hamba perempuan saja, menyangkal Tuhan tiga kali.

"Ada orang muda, yang pada waktu itu hanya memakai sehelai kain lenan untuk menutup badannya, mengikuti Dia. Mereka hendak menangkapnya, tetapi ia melepaskan kainnya dan lari dengan telanjang" (Markus 14:51-52). Orang muda, emosinya kuat, mengira dirinya kuat, siapa tahu, begitu mau ditangkap, langsung melarikan diri. Ini juga menyatakan kekuatan alamiah tidak bisa diandalkan. Hanya kuat kuasaNya yang dapat diandalkan selama-lamanya. "Orang-orang muda menjadi lelah dan lesu, dan teruna-teruna jatuh tersandung, tetapi orang-orang yang menanti- nantikan Tuhan mendapat kekuatan baru; mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya : mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah" (Yesaya 40:30-31).

Di Asia Kecil, Paulus mengalami penderitaan, beban yang ditanggungnya sangat besar, sehingga telah putus asa akan hidupnya. Hal itu. terjadi supaya ia tidak menaruh percaya kepada diri sendiri, tetapi hanya kepada Allah yang membangkitkan orang-orang mati (11 Korintus 1:8-9). Ia mengenal "Harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami" (II Korintus 4:7). Begitu lemah, maka ia kuat. Kelemahannya memberi kesempatan bagi Kristus untuk menudunginya (11 Korintus 12: 9-10).

Saudara Watchman Nee berkata, "Setelah Anda tampak diri Anda tidak mampu, maka Anda akan tampak Allah mampu. Jika Anda tidak dapat melihat kelemahan Anda, Anda juga tidak dapat melihat kekuatan Kristus. Anda harus bersyukur kepada Allah atas kelemahan Anda. Karena kelemahan Anda justru untuk menyatakan kekuatan Kristus."

Meskipun sejak dilahirkan, Martin Luther sudah mempunyai tekad yang kuat, tetapi ia belajar bersandar Tuhan, kuat bersandar Tuhan. Pernah sekali ia merasa bahwa di depannya terdapat banyak bahaya, sehingga hatinya penuh duka dan kegentaran. Pada saat itu, ia sangat menyadari bahwa ia harus memegang erat kekuatan yang dari atas, baru bisa menanggulanginya. Kemudian ia dengan jarinya menulis di atas meja, "Dia hidup selama-lamanya!" Saat ini, ia mendapatkan sukacita, batinnya memiliki kekuatan.

"Dia hidup selama-lamanya!" juga. adalah kekuatan kekal kita. Manusia bisa lewat, hanya Dia yang ada sampai selama-lamanya. Manusia adalah pelita yang menyala sementara, hanya Dialah terang yang sejati, sumber segala terang, tetap tinggal sampai selama-lamanya.

2. Manusia Batiniahnya Kuat

Bukan kuat di luar, melainkan kuat di dalam manusia batiniahnya. Yang Allah berikan kepada kita adalah roh yang membangkitkan kekuatan (I Timotius 1:7). Melalui RohNya, manusia batiniah kita menjadi kuat dan teguh (Efesus 3:16).

Perkasa di mulut tidak ada gunanya, tetapi bersandarkan Roh yang perkasa, manusia batiniah menjadi perkasa, ini baru perkasa yang sejati. Tadinya mulut Petrus mengucapkan kata-kata. yang perkasa, namun akhirnya di depan hamba perempuan, menyangkal Tuhan tiga kali. Setelah hari raya Pentakosta, Roh Kudus datang, manusia batiniahnya menjadi perkasa, mampu di depan mahkarnah agama, di depart pembesar-pembesar, berkata, "Kita harus lebih taat kepada Allah daripada kepada manusia" (Kisah Para Rasul 5:29). "Rasul-rasul itu meninggalkan sidang Mahkamah Agama dengan gembira ... Dan setiap hari mereka melanjutkan pengajaran mereka di Bait Allah dan di rumah-rumah orang dan memberitakan Injil tentang Yesus Kristus yang adalah Mesias" (Kisah Para Rasul 5:40-42).

Takut bukanlah rendah hati. Rendah hati adalah sama sekali melupakan diri sendiri -- melupakan kelemahan dan kekuatan diri sendiri. Takut adalah ingat akan kelemahan diri sendiri, sehingga ingat akan diri sendiri. Menghadapi setiap hal selalu ketakutan, demikian tidak diperkenan Allah. Allah menghendaki kita, di satu pihak, karena diri sendiri kosong lalu takut dan gentar; di pihak lain, karena kuat kuasaNya, dengan berani maju ke depan. Berani bersaksi untuk Tuhan, berani menderita dan dipermalukan, berani kehilangan segala sesuatu. Bersandar Tuhan, memandang kasih, hikmat, kekuatan, kesetiaan, dan janjiNya dapat dipercayai, inilah yang Tuhan minta atas diri kita. Begitu kita tampak diri kita takut bersaksi bagi Tuhan, kita harus segera sadar, bahwa roh kita sudah meninggalkan keadaannya yang layak. Kita harus menjaga roh kita agar selalu dalam keadaan "Tidak takut".

3. Karena Iman, Lemah Menjadi Kuat

(Ibrani 11:34)

a. Percaya Allah Itu Mahakuasa

Kalau tidak seijin Tuhan, sehelai rambutpun tidak akan hilang (Matius 10:29-31; Kisah Para Rasul 27:34). Dia dapat melepaskan kita dari segala penganiayaan (II Timotius 3:11). Dia dapat menolong kita terlepas dari mulut singa, terlepas dari berbagai kejahatan (II Timotius 4:17-18).

Dalam Perjanjian Lama Yakub berkata, bahwa Allah adalah Allah yang menggembala dirinya seumur hidupnya, dan melepaskan dia dari segala penganiayaan (Kejadian 48:15-16). Daniel dilemparkan ke dalam gua singa, tetapi Allah menyumbat mulut singa (Daniel 6:21). Tiga teman Daniel beriman, menolak menyembah patung emas, lalu dilemparkan ke dalam perapian yang menyala-nyala, tetapi api tidak bisa membakar tubuh mereka, rambut mereka tidak terbakar, pakaian mereka tidak berubah warna, bahkan bau kebakaranpun tidak ada pada mereka (Daniel 3:27).

b. Percaya Kristus di dalam Kita Adalah Kekuatan Kita

Karena iman, Kristus diam di dalam kita (Efesus 3:17); di batin ada kekuatan, bisa perkasa. Percaya bahwa kuat kuasa kebangkitan diam, di dalam kita, bisa membuat kita melintasi gunung-gunung (Kidung Agung 2:8; Filipi 3: 10). Dua Korintus 4 membicarakan bahwa Paulus dalam segala hal ditindas, kehabisan akal, dianiaya, dihempaskan, tetapi karena iman dia dapat berkata, "Sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari."

c. Iblis Bisa dengan Berbagai Kesulitan Menggoyahkan Kita

Kita harus dengan iman yang teguh melawan Iblis (I Petrus 5:8-9). Tuhan Yesus berkata kepada i-nurid-murid, bahwa Iblis akan menampi mereka seperti gandum, supaya mereka goyah, tetapi Tuhan telah berdoa untuk mereka, supaya iman mereka tidak gugur (Lukas 22:31- 32). Demi iman, kita. bisa teguh, kukuh, tidak bisa digoyahkan oleh Iblis.

d. Tidak Menurut Perasaan Diri Sendiri

Kita harus menolak perasaan diri sendiri. Emosi diri kita sebentar menyuruh kita ke kiri, sebentar menyuruh kita ke kanan; sebentar menyuruh kita ke atas, sebentar menyuruh kita ke bawah. Orang yang paling lemah, barulah menurut perasaan diri sendiri. Orang yang perkasa adalah orang yang matanya tercelik, tidak percaya perasaan diri sendiri. Berdasarkan perasaan diri sendiri bisa naik turun, terhuyung-huyung. Tidak berdasarkan perasaan diri sendiri baru bisa tidak goyah, baru bisa teguh.

4. Harus Teguh Atas Kebenaran

Kebenaran adalah mutlak, tidak bisa disuruh mengalah. Harus berdiri teguh di atas kebenaran. Sama seperti kayu penaga, teguh, lurus, lebih baik patah daripada bengkok. Nyawa boleh tidak dihiraukan, namun kebenaran tidak boleh dikalahkan. Paulus berperang bagi kebenaran, meskipun akan dibunuh oleh orang Yahudi, ia tetap teguh, tidak takluk. Ketika Petrus di Antiokhia lemah terhadap kebenaran, mengundurkan diri dari antara orang-orang bukan Yahudi, melakukan perbuatan yang tidak sesuai dengan kebenaran Injil, Paulus dengan tegas mencelanya di muka umum. Atas kebenaran kita harus menjadi tiang yang melawan arus.

Kita hanya bisa mempertahankan kebenaran Allah, tidak bisa main politik, tidak memakai cara manusia supaya lunak sedikit, bergeser sedikit. Kita harus hanya melihat kehendak Allah, berkata sesuai dengan apa yang harus dikatakan, melakukan sesuai dengan yang harus dilakukan. Tidak bisa memasukkan emosi. Ketika hakim menangani suatu perkara, ia harus mutlak berpegang pada hukum, yang bersalah ditetapkan bersalah, yang tidak bersalah dibebaskan. Tidak bisa karena orang yang diadili itu saudaranya, atau temannya, lalu menganggap yang bersalah sebagai tak bersalah; kalau yang diadili adalah musuhnya, lalu tidak bersalah dinyatakan salah. Hukum itu mutlak, rasa iba manusia tidak bisa dibawa masuk. Kebenaran Allah juga mutlak rasa iba pribadi tidak bisa dibawa masuk.

5. Teguh dan Lembut Saling Menunjang

Paulus di satu pihak teguh, di pihak lain lembut. Dalam I Tesalonika 2, kita tampak Paulus adalah orang yang teguh juga lembut. Di satu pihak ia teguh, dalam peperangan yang besar bersandar Allah, dengan berani memberitakan Injil Allah kepada orang-orang Tesalonika, di samping itu, iapun begitu lembut. Di tengah-tengah mereka berhati lembut, sama seperti ibu menyusui bayinya. Terhadap orang-orang Korintus juga demikian, "Apakah yang kamu kehendaki? Haruskah aku datang kepadamu dengan cambuk atau dengan kasih dan dengan hati yang lemah lembut?"(I Korintus 4:21). Membawa cambuk adalah aspek keras teguh; dengan kasih dan dengan hati yang lemah lembut adalah aspek lembut. Dengan tegas menegur, membereskan saudara yang berzina adalah aspek keras, teguh; tetapi ketika orang itu bertobat, ia menganjuri orang Korintus mengampuninya, menghiburnya, ini adalah aspek lembut. Mau keras bisa keras, mau lembut bisa lembut.

Tuhan Yesus di satu pihak adalah singa suku Yehuda, di pihak lain adalah Anak Domba. Paulus di satu pihak dengan hebat membereskan orang Korintus, di pihak lain di tengah-tengah mereka ia juga dalam kelemahan, takut dan gentar (I Korintus 2:3). Ia menulis surat kepada orang-orang Korintus, "suratnya tegas dan keras." Ketika menyinggung kesaksian di depan Allah, perkataannya tegas dan keras, inilah keteguhannya. Tetapi ketika orang Korintus berhadapan muka dengan Paulus, mereka berkata "sikapnya lemah dan perkataan-perkataannya tidak berarti" (II Korintus 10:10). Paulus tidak kendor terhadap kesaksian yang dipertahankannya, ia sangat teguh, sebab itu perkataannya tegas dan keras. Tetapi ketika Paulus bertemu dengan orang, tampaklah ia adalah seorang yang lemah, tidak begitu hebat. Lebih lanjut, Paulus sendiri tidak menikah. Ini adalah keteguhannya di depan Allah. Tetapi dia tidak menuntut semua saudara saudari harus seperti dia, membujang; ia juga setuju orang lain menikah, inilah kelembutannya. Di satu pihak ia menganjuri Timotius harus kuat di dalam kasih karunia Tuhan, di pihak lain juga menganjuri Timotius dengan lembut memperingati orang yang menentang (II Timotius 2:21,25).

Atas kebenaran harus teguh, tidak takluk, tetapi terhadap orang harus lembut. Kalau hanya keras, entah akan melukai berapa banyak saudara saudari, menyebabkan orang lain takut dan menjauhi. Ada keras, juga ada lembut, bisa mempertahankan kebenaran, juga bisa membawa orang lain mendapat kasih karunia.

Roh "kuat", roh "kasih", roh "tertib", semuanya perlu kita miliki. Roh kita harus kuat, tetapi tidak seharusnya begitu kuat sehingga tidak ada kasih. Tenang, membatasi diri, tidak terangsang., juga penting. Menentang musuh harus ktiat, teguh; terhadap orang roh kita harus penuh kasih, terhadap diri sendiri roh kita harus tertib.