LUWES
I. LUWES ADALAH BERKENAN, MERENDAHKAN
DIRI, MENGALAH,
TIDAK MENUNTUT PERKENAN DIRI SENDIRI
1. Berkenan Merendahkan Diri
"Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang tinggi, tetapi arahkanlah dirimu kepada hal-hal yang sederhana"(Rm. 12:16). Janganlah memikirkan hal-hal yang tinggi, mengira diri sendiri tinggi, hebat. Orang lain lebih rendah daripadaku, aku tak perlu merendahkan diri kepadanya. Hal itu rendah, tak patut kukerjakan. Janganlah bersikap "Aku adalah seorang perwira, pantaskah aku menjenguk saudara yang berpangkat prajurit? Aku adalah presiden direktur, patutkah datang ke balai sidang untuk menyapu?" Belajarlah mengarahkan diri kepada orang-orang yang rendah, kepada hal-hal yang rendah.
Ada seorang saudara yang memiliki jabatan yang cukup penting dalam pemerintahan di Provinsi. Pada suatu hari, sopir pribadinya, karena ingin tahu lalu mengintai untuk mengetahui apa yang membuat tuannya begitu tertarik sehingga setiap hari datang ke balai sidang gereja. Ternyata ia menemukan tuannya sedang menyapu lantai balai sidang, ia sangat terkejut melihat fakta itu. Ya, saudara ini berkenan merendahkan diri untuk hal yang rendah.
Syair sebuah Kidung (No. 697) mengatakan, "Meski insan hina dina, Allah mau menerimanya, meskipun insan tak pantas, Allah tidak membuangnya." Tuhan berkenan merendahkan diri untuk orang yang rendah.
2. Mengalah
Mungkin ada orang yang semula tidak Anda senangi, atau perkara yang asalnya tidak Anda gemari, tetapi untuk Tuhan, Anda seharusnya mengabaikan selera Anda, Anda harus mengalah.
3. Tidak Menuntut Perkenan Diri Sendiri
Jangan mempertahankan pendapat sendiri, jangan setelah menetapkan satu tolok ukur yang subjektif, lalu dengan keras kepala mempertahankan pandangan atau kebiasaan diri sendiri. Untuk mendapatkan orang, kita harus luwes. Tidak boleh dengan arah dan tolok ukur diri sendiri menyalahkan orang lain, menolak orang lain, tidak luwes terhadap orang lain.
II. PRINSIP INKARNASI ADALAH LUWES
TERHADAP MANUSIA
1. Allah Datang Menjadi Manusia
Berinkarnasi adalah Allah datang menjadi manusia; Allah datang karena Dia luwes terhadap manusia. Allah yang di surga, Allah yang mulia, datang ke bumi karena luwes terhadap manusia yang rendah. "Sesungguhnya, bangsa-bangsa adalah seperti setitik air dalam timba dan dianggap seperti sebutir debu pada neraca" (Yes. 40:15), tetapi Allah merendahkan diri-Nya menjadi manusia, tinggal di tengah-tengah manusia. Tak heran Daud berkata, "Apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnva? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya?" (Mzm. 8:5).
2. Tuhan Yesus Luwes terhadap Manusia
Tuhan Yesus luwes terhadap manusia. Ia datang ke rumah Simon yang sakit kusta; Ia pergi ke sebuah perigi di Sikhar untuk menunggu seorang perempuan Samaria; Ia pergi ke kolam Betesda untuk menyembuhkan orang yang menderita lumpuh selama 38 tahun; Ia pergi ke rumah pemungut cukai dan makan bersama orang-orang dosa; Ia menumpangkan tangan memberkati anak-anak; semuanya itu menunjukkan Dia luwes terhadap manusia.
3. Menyerahkan Diri kepada Hal yang Rendah
Tuhan Yesus dibesarkan dalam keluarga tukang kayu, menjadi tukang kayu, berkenan mengarahkan diri kepada hal-hal rendah. "Tetapi dia akan berkata : Aku bukanlah seorang nabi, aku ini seorang penggarap ladang, sejak kecilku aku adalah budak orang" (Za. 13:5 Tl.). Jangan mengira karena aku adalah pengkhotbah, berdiri di atas mimbar, maka aku tidak selayaknya membersihkan kamar kecil. Seorang saudara berkata bahwa meskipun ia yang menetapkan penatua gereja, tetapi ia sendiri selama bertahun-tahun telah melakukan pekerjaan membersihkan kamar kecil. Hamba tidak bisa lebih besar daripada tuannya. Tuhan Yesus saja merendahkan diri, mau menangani hal rendah, apa. lagi kita?
III. INGIN MENYELAMATKAN ORANG,
MENDAPATKAN ORANG, HARUS LUWES
1. Orang yang Luwes Baru Bisa Menyelamatkan Orang Lain
Melayani Allah adalah untuk menyelamatkan orang, mendapatkan orang. Orang yang luwes, baru bisa menyelamatkan orang, mendapatkan orang. Kalau Tuhan tetap berada di langit yang tinggi, tidak berinkarnasi, tidak datang ke dunia, tidak luwes, Ia tidak akan bisa menyelamatkan orang, tidak akan bisa mendapatkan orang. Kalau Dia tidak berjalan berkeliling melakukan perbuatan baik, luwes terhadap orang lain, menyembuhkan orang yang dikuasai iblis (Kis. 10:38), Dia tidak bisa menyelamatkan banyak orang; tidak bisa mendapatkan banyak orang.
Dalam melayani Allah, kita harus menyelamatkan orang, mendapatkan orang, juga luwes dengan orang. Jangan berada di tempat yang tinggi seperti "Kaisar", yang "disembah" oleh orang, tetapi tidak mau datang kepada orang lain. Kalau demikian, Anda akan menjadi "seorang diri", tidak bisa mendapatkan "banyak orang".
Madame Guyon sering menjenguk orang sakit, membersihkan tempat tidur penderita, membuat salep sendiri, dan mengoleskan ke luka-luka si sakit, mencuci borok orang yang berbau busuk. Mulanya ia memang merasa mual, tetapi akhirnya borok berbau busuk yang menusuk hidung pun tidak merepotkan dia. Bahkan apa saja bisa ia lakukan, karena bukan dia yang melakukan, melainkan Tuhannya yang melakukan. Adakalanya ia juga membantu mereka mengubur orang yang meninggal. Allah juga memakai Madame Guyon untuk menolong banyak gadis terlepas dari kehidupan yang tidak pantas, sehingga mereka mengetahui bagaimana terhindar dari godaan.
Sebelum pergi ke China, Hudson Taylor sering pergi ke daerah kumuh memberitakan Injil; menjenguk orang miskin, memberitakan Injil ke rumah-rumah orang miskin. Inilah luwes terhadap orang lain, menyelamatkan orang. Setelah dia beroleh selamat dengan jelas, dia menjadi orang yang luwes. Setelah dia ke China, untuk menyatakan simpati kepada rakyat China, agar mudah berkontak dengan orang-orang China, ia lalu mencukur dan mengepang rambutnya, serta memakai baju ala China. Pada tanggal 23 Agustus 1855, ia mengundang seorang tukang cukur untuk mencukur rambutnya, menyisakan selingkaran rambut (menurut kebiasaan pemerintah Mancu), membiarkannya bertumbuh menjadi kepang yang panjang, dan menyemir hitam rambut yang tersisa. Sebelum rambutnya bertumbuh panjang, dengan rambut palsu ia membuat kepang dan memakai baju ala China. Ia berbuat demikian untuk memudahkan diri berkontak dengan orang China, memberitakan Injil kepada mereka. Karena orang-orang China pedalaman saat itu, kalau bertemu dengan orang asing, langsung ribut dan berseru-seru, "Setan asing datang! Setan asing datang!" Bahkan adakalanya sampai mengerahkan massa untuk mengusirnya. Ia mencukur rambut, mengepang rambut, memakai baju China, sebisanya belajar menjadi model orang China, sedikit banyak memberi perasaan simpati kepada orang, mudah mendapatkan titik pijak untuk mendekati orang. Ia juga melalui mengobati mereka, berkontak dengan mereka, mengambil kesempatan memberitakan Injil kepada mereka. Ia pernah menulis surat kepada adik perempuannya demikianm: "Dalam seumur hidup, pengalaman mencukur rambut yang pertama kali merupakan pengalaman yang sangat menyakitkan, lebih-lebih bagi orang yang kulit rambutnya tumbuh biang keringat. Setelah mencukur rambut, lalu dibubuhi pewarna rambut, selama enam jam terasa sakit berkelanjutan, ketika tiba waktu menyisir rambut, sengsaranya bukan main. Tetapi kebahagiaan di bawah langit, tidak ada satu pun yang tidak berasal dari penderitaan. Kalau melalui ini bisa menyebabkan orang lebih menghargai barang yang didapatkan dari penderitaan, maka aku akan dengan hati gembira memandang kepang rambutku."
2. Paulus Adalah Orang yang Luwes
Paulus berkata, "Bagi semua orang aku telah menjadi segala-galanya, supaya aku sedapat mungkin menyelamatkan beberapa orang dari antara mereka" (1 Kor. 9:22). Ia luwes terhadap segala macam orang. Ia luwes terhadap Onesimus, budak yang melarikan diri yang kemudian tertangkap dan dipenjarakan. Itulah sebabnya ia bisa menyelamatkan banyak orang, mendapatkan banyak orang. Ia sebisanya. luwes terhadap semua orang, agar bisa menyelamatkan orang, mendapatkan orang. Ia sebisanya luwes terhadap semua orang, agar bisa menyelamatkan orang, mendapatkan orang.
3. Harus Berlatih Berkarakter Seperti Lem
Bisa mendekati orang, bisa menempel orang. Orang macam apa saja, bisa ia dekati, bisa menempeinya. Ada orang yang sifatnya dingin, kalau ia pergi ke tengah-tengah orang yang bersifat dingin, ia masih bisa bekerja, tetapi kalau bertemu dengan orang yang bergairah, ia mati kutu. Tidak seharusnya demikian. Ada orang bisa bekerja dengan orang yang bergairah, tetapi tidak cocok dengan orang yang dian tenang; ada orang bisa bekeda dengan orang yang serius, tetapi tidak bisa bekerja dengan orang yang santai. Keadaan demikian membatasi pekerjaan Allah. Ada saudara bisa berbicara dengan baik di antara saudara-saudara yang tua, tetapi di antara anak-anak atau remaja, ia sama sekali tidak bisa berbicara. Sifat yang berat sebelah ini juga membatasi pekerjaan Allah.
Tuhan kita menerima orang tua (Nikodemus), juga memberkati anak-anak. Allah menghendaki kita seperti Tuhan Yesus, bisa menerima orang tua, juga bisa memberkati anak-anak. Seperti yang dikatakan oleh Madame Guyon, ketika seseorang benar-benar bersatu dengan Allah, ia bisa menjadi penasihat orang tua, juga bisa menjadi teman anak-anak. Inilah yang perlu kita pelajari, inilah yang perlu kita latih.
Seorang saudara berkata, "Orang yang melayani Tuhan harus mempunyai semacam karakter, yang bisa luwes terhadap semua orang, boleh juga disebut karakter lem. Orang dapat menggunakan lem untuk membubuhi permukaan datar, bisa membubuhi permukaan yang cekung, atau permukaan yang cembung, atau yang naik turun, semuanya dapat ia sesuaikan. Tak peduli Anda itu cekung, cembung, bengkok, lurus, datar, atau. miring, semuanya bisa Anda lapisi. Orang yang melayani haruslah orang yang demikian, bisa menyesuaikan diri dengan semua orang. Meskipun harus; luwes dengan orang, tetapi bukan terpaksa.
Melayani Allah, bekerja untuk Tuhan, adalah menggarapkan Tuhan ke atas diri orang, sebab itu harus; mempunyai sifat lem, terhadap siapa saja bisa menyesuaikan diri, untuk menggarapkan Tuhan ke atas diri orang, sama seperti lem yang bisa menempel pada benda yang berbentuk apa saja.
IV. FAEDAH LUWES BAGI DIRI SENDIRI
1. Rendah Hati
Luwes bisa membuat diri sendiri rendah hati, turun dari takhta, melihat orang lain lebih utama daripada diri sendiri (Flp. 2:3). Orang yang tidak bisa luwes kepada orang lain, makin lama akan makin kaku, makin lama makin merasa tinggi diri dan meremehkan orang lain. Orang yang luwes akan semakin rendah hati, semakin lenyap egonya, semakin melihat orang lain lebih utama daripada dirinya. Semua orang yang menutup pintu, berdoa, dan membaca Alkitab seorang diri saja mudah menjadi sombong, merasa tinggi diri, mudah meremehkan orang lain, serta menganggap orang lain tidak rohani.
Kejatuhan manusia yang paling besar adalah jatuh ke dalam dirinya sendiri, duduk di atas takhtanya sendiri, khusus menuntut perkenan diri sendiri, tidak mau luwes.
2. Mendapatkan Suplai
Luwes bisa membuat orang mendapatkan suplai, sekalipun dari saudara yang paling kecil atau yang paling lemah. Allah melalui Ananias menumpangkan tangan atas Paulus agar Paulus menerima Roh Kudus (Ms. 9:17). Allah juga bisa melalui saudara yang paling kecil, yang paling lemah, yang mana pun, untuk menyuplai Anda. Inilah yang dibicarakan oleh 1 Korintus 12:22-24, anggota-anggota yang tampaknya paling lemah, justru yang paling dibutuhkan; yang kurang terhormat, diberi penghormatan khusus; yang tidak elok, diberi perhatian khusus. Paulus memerlukan Ananias menumpangkan tangan ke atas dirinya, baru Ia menerima Roh Kudus. Ini menyatakan, anggota tubuh yang paling kecil, yang paling lemah, tetap dibutuhkan. Sesungguhnya Allah memberi penghormatan dan perhatian khusus kepada anggota tubuh yang paling kecil pun.
Tentang Onesimus, Paulus berkata kepada Filemon, "Dahulu memang dia tidak berguna bagimu, tetapi sekarang sangat berguna baik bagimu maupun bagiku" (Flm. 11). Sekarang dia beroleh selamat menjadi anggota Tubuh, sangat berguna baik terhadap Paulus maupun terhadap Filemon.
3. Mendapatkan Anugerah
Luwes, melayani orang, orang lain mendapatkan anugerah (kasih Karunia), diri sendiri juga mendapatkan anugerah. Orang Kristen mendapat anugerah karena dua ujung, yang satu mengarah kepada Allah, yang lainnya mengarah kepada manusia. Ada orang kehilangan anugerah karena ujung yang mengarah ke Allah ada masalah; ada orang kehilangan anugerah, karena ujung yang mengarah ke manusia ada masalah. Kalau Anda tidak luwes, tidak menyelamatkan orang, tidak mendapatkan orang, Anda akan kehilangan banyak kasih karunia. Semakin luwes, semakin melayani orang, semakin menerima banyak anugerah. Paulus berkata, "Supaya anugerah, yang semakin besar berhubung dengan semakin banyaknya orang yang menjadi percaya ..." (2 Kor. 4:15). "Supaya banyak orang mengucap syukur atas karunia yang kami peroleh berkat banyaknya doa mereka untuk kami" (2 Kor. 1:11). Semakin Anda luwes, semakin mendapatkan orang, semakin mendapatkan anugerah karena banyak orang.
Seberapa banyak bejana yang kosong yang ia (janda) pinjam, sebanyak itu juga ia dipenuhi (2 Raj. 4:1-7).
Lima roti dan dua ikan mengenyangkan lima ribu orang; tujuh roti dan beberapa ekor ikan mengenyangkan empat ribu orang, semuanya makan kenyang. Seberapa banyaknya orang, sebanyak itu pula roti dan ikan.
V. LUWES HARUS ADA PERBEDAAN
1. Terhadap yang Sakit, Lemah, atau Mundur
Terhadap saudara saudari yang sakit, lemah atau mundur, harus mendekati mereka. Dua murid Tuhan turun ke Emaus karena lemah, Tuhan Yesus sendiri datang mendekati mereka, bedalan bersama mereka (Luk. 24:15).
Syair Kidung (No. 414) mengatakan, "Ku mau mirip Kau, demikian ramah, penuh ampunan, serta rahmat; bantu yang papa, hibur yang duka, cari yang dosa, dengan gairah."
2. Terhadap Orang yang Mengasihi Tuhan
Terhadap orang yang mengasihi Tuhan, jangan menuruti mereka, tetapi harus memimpin mereka, menggenapi mereka, supaya mereka lebih maju, lebih berguna di tangan Tuhan.
Dalam khotbah di bukit, Tuhan Yesus berkali-kali berkata, bahwa kamu telah mendengar firman "begini, begini"; tetapi Aku berkata kepadamu, "begitu, begitu". Ini berarti bukan menuruti keadaan orang yang "begini", melainkan menuntut dengan senus menurut keadaan-Nya yang "begitu", untuk menggenapi mereka.
Ketika Petrus menurut pikirannya sendiri, ia segera dihardik oleh Tuhan. Inilah pimpinan yang diberikan Tuhan kepada Petrus. Hal itu memperlihatkan kepadanya, tidak seharusnya mengikuti maksud manusia, tetapi harus mementingkan maksud Allah.
Nikodemus datang menjumpai Tuhan Yesus, menganggap Tuhan sebagai guru yang mengajar orang berbuat baik. Tuhan memperlihatkan kepadanya bukan mengajar orang supaya menjadi baik, melainkan supaya orang dilahirkan kembali. Pimpinan Allah terhadap orang berbeda-beda, sebab itu keluwesan kita terhadap tiap-tiap orang juga tidak bisa sama. Ada yang perlu diberi sikap mengalah, ada. yang perlu dibina, dipimpin, atau dituntut dengan serius.
Paulus berkata kepada Timotius dan Titus, harus bagaimana terhadap orang tua, harus bagaimana terhadap perempuan tua, harus bagaimana menganjuri orang-orang muda, juga menyatakan bimbingan terhadap orang tua, orang muda, lelaki, dan perempuan, masing-masing berbeda.
Untuk memperlengkapi kaum saleh bagi pembangunan, perlu ada bagian yang digergaji atau dipotong. Allah dengan darah adi Putra-Nya membeli kita, menolong kita, sama seperti tukang yang telah membeli bahan bangunan, bahan-bahan itu perlu ditatah, dibubut, dipasrah, dibor, barulah sesuai untuk pembangunan gereja.
3. Hanya Bisa Luwes kepada Orang,
Namun tidak Bisa Memimpin, Juga Kurang
Tujuan luwes kepada orang adalah untuk mendapatkan orang, menyelamatkan orang, menggenapi orang. Sebab itu harus berlatih dalam hal luwes untuk bisa membina orang, memimpin orang.
Ada pepatah mengatakan, "Ada murid sarjana, tidak ada guru sarjana." Artinya, seseorang mungkin membawa orang lain sehingga menjadi lebih tinggi daripada dirinya sendiri. Meskipun Anda tidak meraih sarjana, tetapi Anda bisa membawa orang lain hingga menjadi sarjana. Dalam prinsip yang sama, meskipun Anda tidak mempunyai fungsi yang besar, tetapi bisa membawa seseorang hingga fungsinya lebih besar daripada Anda, Sebab Itu, kita perlu setiap hari memperhatikan hal membina orang. Begitu ada urusan yang disampaikan kepada Anda, cepat-cepat bagikan kepada orang lain, jangan terus dipegang dalam tangan Anda. Bila Anda tidak memberi aba-aba, orang lain tidak berani bergerak.
Saudara Witness Lee berkata : Selamanya aku tidak dapat melupakan pembinaan yang diterimanya dari Saudara Watchman Nee. Ketika baru berkontak dengannya, tak lebih dari setengah tahun, dari tempat yang jauh ia mengirim sebuah Alkitab kepadaku, sebuah Alkitab terjemahan baru versi J.N. Darby, Alkitab terjemahan baru ini memberi banyak bantuan kepadaku. Aku mengakui, dulu tidak pernah tahu ada Alkitab terjemahan baru ini. Setelah aku melepaskan pekerjaanku untuk melayani Tuhan sepenuh waktu, pada tahun 1933 aku pergi ke Shanghai. Pada suatu hari, ia membawa dua set buku. Begitu bertemu langsung berkata, "Buku-buku ini untukmu," selesai berkata, ia segera turun tangga dan pergi. Ketika kulihat, satu set buku itu ternyata adalah Perjanjian Baru dari Dean Alford, buku yang berbobot dalam dunia saat itu tentang arti bahasa asli Perjanjian Baru; satunya lagi adalah uraian Alkitab dari J.N. Darby. Saat itu, sangatlah berharga bagiku mendapatkan kedua macam buku itu Ketahuilah, selama tiga hari aku tidak bisa makan enak, bukan karena sedih, melainkan karena terlalu gembira. Setiap kata-kata dalam kedua buku itu benar-benar seperti emas, memberi bantuan yang sangat besar dalam tahun-tahun itu. Hari ini aku benar-benar mengerti pembinaannya atas diriku pada waktu itu.
Aku juga masih ingat, suatu hari aku datang ke ruang tamunya. Ia turun dari loteng, begitu duduk di kursi goyang, ia langsung bertanya, "Apakah sabar itu?" Aku cukup terkejut, terasa hampir seluruh tubuhku gemetar, karena. aku sama sekali tidak bisa menjawab. Ia duduk di kursi goyang, sambil bergoyang ia bertanya, "Apakah sabar itu?" Aku menjawab, "Bukankah sabar berarti sewaktu orang lain menyulitkan Anda, Anda tetap bisa menahannya?" Ia berkata, "Sabar ialah Kristus." Kemudian dia berdiri dan mengajakku keluar. Ia mengajakku bersama-sama naik mobilnya. Ketika pulang, di dalamku sungguh terbuka dan jelas. Ya, apakah sabar? Kristus itulah sabar! Perkataan ini entah berapa banyak membantu aku.
Dua hari kemudian, aku berkunjung ke rumahnya lagi. Ia berkata, "Beberapa hari ini, kamu membaca kitab apa?" Aku menjawab, "Membaca Kisah Para Rasul." "Selain itu, membaca kitab apa lagi?" "Aku juga merasa surat Kolose sangat menarik." Ia berkata, "Kedua buku ini sulit dipadukan, tetapi sesungguhnya hanya surat-surat tersebut yang bisa dipadukan. Kisah Para Rasul memperlihatkan kepada kita, bagaimana Dia menjadi Kepala kita. Surat Kolose memperlihatkan kepada kita, bagaimanakah sebenarnya Kepala ini." Aku ingin mendengarkan lebih lanjut, tetapi ia tidak melanjutkannya. Aku pulang dan membaca lagi kedua kitab itu, sungguh mendapatkan terang, benar-benar hanya surat Koloselah yang bisa dipadukan dengan Kisah Para Rasul. Kisah Para Rasul memperlihatkan kepada kita Sang Kepala yang bangkit dan naik ke surga; surat Kolose memperlihatkan kepada kita, bagaimana kaya limpahnya Sang Kepala ini dan begitu, almuhit. Aku harus mengakui bahwa aku telah dibina olehnya, pengaruh itu sangat besar, hasilnya juga sangat besar.
Pada awalnya, Saudara Watchman Nee dan aku tidak mempunyai terlalu banyak pekerjaan, sebab itu aku sering datang ke rumahnya untuk berbincang- bincang dengannya. Pada saat-saat seperti itulah, dia membina aku dalam berbagai aspek. Aku dapat bersaksi di depan Tuhan, saat-saat itu kami tidak pernah berkata-kata yang sia-sia. Saudara Nee adalah karunia istimewa pemberian Allah untuk membina orang lain. Dia memakai kesempatan-kesempatan yang ada untuk membina aku. Tentunya dia tahu keperluanku. Dia menuntutku untuk memahami dengan tepat sejarah gereja mulai abad pertama sampai kini. Dia memberitahuku biografi pendiri setiap, denominasi selain itu dia juga, membina aspek hayat batini, hidup gereja dan pergerakan Tuhan.
Kita semua seharusnya mempunyai minat dan tenaga untuk mengadakan pemuridan. Di Taipei selalu ada beberapa murid, belajar menjadi penatua. Setiap, kali ada pelatihan penatua, selalu ada beberapa saudara muda, bahkan ada yang masih berusia dua puluh tahun lebih. Ada beberapa penatua atau sekerja yang masih memiliki semacam konsepsi, mengira mereka tidak berkutik terhadap orang-orang yang dipandangnya tidak ada harapan. Adakalanya saya bertanya kepada penatua suatu gereja lokal, mengapa mereka tidak menghasilkan orang-orang yang berguna. Kekurangan ini karena mereka tidak melatih orang, tidak membina orang. Empat puluh tahun yang lalu, di Chefoo, kampung halaman saya, kami melatih banyak saudara saudari. Kami seperfi tukang kayu, membuat perabotan kayu, kalau tidak ada bahan yang unggul, pakai saja bahan yang bisa dipakai. Kalau tidak ada papan kayu, pakai saja papan yang dari kertas. Demikian juga, kalau kita tidak mempunyai orang yang berkualitas unggul, harus melatih orang yang ada saat ini. Kalau tukang kayu mengetahui rahasia ini, ia bisa memakai bahan apa saja untuk membuat meja. Dalam pemulihan Tuhan, kita harus demikian.