GAIRAH
"Aku datang untuk melemparkan api ke bumi dan betapakah Aku harapkan, api itu telah menyala!"
Lukas 12:49
"Karena itulah kuperingatkan engkau untuk mengobarkan karunia Allah yang ada padamu oleh penumpangan tanganku atasmu.
II Timotius 1:6
I. GAIRAH BERARTI ANTUSIAS,
BERSEMANGAT
Akrab berarti intim, sedang gairah berarti antusias, bersemangat, yaitu terhadap orang tidak bersikap dingin. Tidak saja memperhatikan orang, bahkan dengan penuh hasrat, semangat, dan antusias memperhatikan orang.
Gairah tidak saja berarti tidak dingin dan tidak suam-suam kuku, terlebih pula membakar, memanaskan, dan mendorong orang. Ibarat alat-alat listrik berkontak dengan listrik, ada yang mengeluarkan suara, ada yang mengeluarkan sinar, ada yang mengeluarkan panas, ada yang mengeluarkan tenaga, dan lain-lain. Gairah terhadap orang akan membuat orang itu panas, mendorong orang itu mencari Tuhan, melayani Tuhan, hidup bagi Tuhan dan gereja. Seperti tujuh obor menyala-nyala di hadapan takhta dalam kitab Wahyu, yang membakar orang untuk kehendak Allah, dan mendorong orang untuk ekonomi Allah. Tuhan Yesus berkata, "Aku datang untuk melemparkan api ke bumi, dan betapakah Aku harapkan, api itu telah menyala!"(Lukas 12:49).
Demikianlah keadaan gereja di Yerusalem pada awal mula. Ketika Roh Kudus turun pada hari Pentakosta, ada lidah-lidah seperti api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing, membakar mereka untuk memberitakan Injil. Tiga ribu, lima ribu orang diselamatkan, dan mereka pun terbakar hingga menjual harta milik mereka, lalu dengan bertekun dan dengan sehati menempuh hidup gereja, bersekutu, memecahkan roti, dan berdoa. Setiap hari, mereka tidak henti-hentinya mengajarkan kepada orang tentang Yesus Kristus. Ketika gereja di Yerusalem dianiaya, murid-murid terpencar ke berbagai tempat. Mereka bukan mengungsi, melainkan melemparkan api Injil ke mana-mana.
Pada suatu kali, ketika gereja di Los Angeles bersidang, ada seorang saudara pewajib yang berasal dari Mansfield, Ohio. Ia adalah seorang anggota pemadam kebakaran di kota tersebut, mungkin sebagai ketuanya. Ia berdiri dan berkata, "Mulai hari ini aku tidak lagi menjadi pemadam kebakaran, aku ingin menjadi pelempar api, aku akan kembali ke Mansfield untuk menyalakan api.
Seorang saudara berkata, "Ya, kita semua memang harus menyalakan api rohani ke mana saja kita pergi. Di dalam setiap sidang, bila ada kesempatan, kita. harus bangkit mengobarkan api. Jangan memperdebatkan doktrin, jangan menggulingkan kekuasaan, jangan menentang gereja, tapi di mana-mana kita harus menyulut api rohani."
Tak lama setelah perang konfrontasi usai, saudara Witness Lee dan beberapa sekerja bekerja dan melayani di beberapa gereja lokal, ternyata sangat diberkati Tuhan, dan sangat berhasil. Ketika mereka kembali ke Shanghai, ada seorang saudara sekerja senior berkata kepada saudara Witness Lee, "Saudara, kita adalah "pembuat kerepotan" (trouble maker). Setelah kita membuat kerepotan di gereja lokal lain, sekarang kita akan membuat kerepotan di gereja di Shanghai. Dengan istilah hari ini, kita adalah penyulut api." Kata saudara Witness Lee, "Jika Anda tidak salah paham, saya dapat bersaksi, saya sering kali sampai tidak berani menggunakan waktu untuk berdoa. Asal saya berdoa setengah jam saja, maka berputarlah roda hayat ini (yakni api Roh Kudus menyala dan berkobar) mendorong saya untuk bekerja (yaitu menyalakan api), sekalipun saya mati di sana, tetap harus saya lakukan (menyalakan api), sebab bila tidak melakukan (tidak menyalakan) saya akan menderita. Saya baru merasa lega bila saya melakukannya (membakar)."
II. PARA PELAYAN ALLAH HARUS BERGAIRAH
1. Roh Menyala-nyala, dan Melayani Tuhan
(Roma 12:11)
Allah adalah Allah yang gairah (Yesaya 9:6; 37:32). Allah dengan gairah melakukan apa yang hendak Ia lakukan, Ia juga dengan gairah merampungkan perkara bagi umatNya. Karena itu, Allah pun menghendaki kita melayani Dia dengan gairah, bergairah dalam perkaraNya.
Allah tidak ingin kita suam-suam kuku seperti air hangat. Jika demikian kita akan dimuntahkan dari mulutNya (Wahyu 3:15-16, 19). Membaca Alkitab harus dengan gairah, menyelamatkan jiwa harus dengan gairah, menuntut Tuhan harus dengan gairah, membantu orang pun harus dengan gairah. Jangan suam-suam kuku. Jangan seperti dilakukan, tapi tidak dilakukan; seperti tidak dilakukan, tetapi dilakukan.
Paulus adalah orang yang bergairah di dalam roh. Dia tidak menguasai diri di hadapan Allah (11 Korintus 5:13). Dia menginjil dengan roh yang berapi- api. Hatinya bertekun untuk Injil. Kepada siapa saja ia memberitakan Yesus. Baik kepada orang yang dijumpainya di pasar atau kepada orang-orang yang datang mengunjunginya, ia selalu berbincang dengan mereka tentang Yesus. Bahkan ketika diadili atau dipenjara, ia. tetap membicarakan Yesus (Kisah Para Rasul 17:16, 28:30-31; 24:24; 26:28; 16:29-32; Filipi 1:13).
Seorang saudara berkata, "Kristus adalah arak baru yang menjadi hayat di batin kita, yang berdaya penggerak. Hayat ini mendorong kita, sehingga kita bersuka ria, bahkan tidak dapat menguasai diri (gila). Dengan perkataan lain, Kristus membuat kita mabuk. Semua orang Kristen seharusnya "gila" sedemikian."
Pada musim panas tahun 1935, saudara. Watchman Nee tinggal di kampung halaman saudara Witness Lee. Ketika itu diadakan sidang istimewa, dan semua yang hadir seakan-akan "gila". Saudara Watchman Nee tidak merangsang kegairahan orang, namun semua orang sudah menjadi "gila". Melihat kami semua demikian, ia lalu menambah sebuah berita yang menganjuri kami semua harus "gila", tak menguasai diri (II Korintus 5:13). Ia berkata, "Orang Kristen yang selamanya tak pernah "gila", tidak memenuhi standar. Jika Anda selalu begitu baik, sopan, lemah lembut, Anda masih berada di bawah standar. Anda wajib "gila" di dalam Tuhan, seperti orang yang mabuk anggur."
Saudari Peace Wang juga seorang yang dengan roh yang menyala-nyala memberitakan Injil. Keadaannya mirip orang "gila." Saudara Witness Lee diselamatkan melalui pemberitaan Injilnya. Ketika itu saudara Witness Lee baru berusia 20 tahun, dan saudari Peace Wang berumur 26 tahun. Bisa Anda bayangkan, bagi seorang wanita muda belia yang tadinya pernalu, sungguh bukan satu hal yang mudah untuk menginjil di depan orang banyak. Tetapi ajaib sekali, ketika ia naik ke atas mimbar, ia melupakan semua rasa malunya. Di atas mimbar, ia tidak saja memberitakan, adakalanya juga. menyanyi. Tidak sedikit orang yang terharu sampai meneteskan air mata saat mendengar nyanyiannya. Pada mulanya saudara Witness Lee datang hanya karena ingin tahu, tetapi begitu mendengar khotbahnya, ia tertangkap oleh Tuhan, dan saat itu pula ia beroleh selamat, bahkan beroleh selamat dengan sangat jelas.
Saudari Peace Wang adalah anak bupati Mashing, provinsi Cekiang. Ia disekolahkan di sekolah putri Kristen Hangchow. Sebelum lulus SLTA ia sudah didapatkan Tuhan. Setelah beroleh selamat, ia bergairah memberitakan Injil ke mana-mana. Ayahnya sangat keberatan atas perbuatannya, katanya, "Kamu seorang anak pejabat. Ayah tidak melarangmu masuk agama Kristen, tapi mengapa kamu harus memberitakannya kepada orang lain? Itu membuat ayah sangat malu!" Tetapi batin saudari Peace Wang tetap berkobar-kobar, semuanya tak dihiraukannya. Ia berkata kepada ayahnya, "Ayah, aku ingin memberitakan Yesus seumur hidupku." Waktu itu ia sudah bertunangan. Calon suaminya lulusan sekolah di Jerman. Karena Tuhan, maka akad nikahnya itu dibatalkannya. Orang tuanya bertanya, "Sebenarnya apakah yang kauinginkan?" Ia menjawab, "Aku hanya ingin memberitakan Yesus, lainnya aku tak mau." Bagaimanapun nasihat orang tuanya, ia tidak mengubah sikapnya. Pada suatu hari ia "pamitan" kepada orang tuanya, untuk pergi memberitakan Injil. Orang tuanya tidak berdaya menahannya. Ketika mengantarnya ke depan pintu, orang tuanya berkata, "Kamu begitu sampai hati meninggalkan ayah ibumu. Kamu meninggalkan segalanya. Kamu hanya mau Yesusmu." Saudari Peace Wang berkata dengan meneteskan air mata, "Ya, aku hanya bisa mengikuti Yesus." Begitulah sedikit kisah tentang ia pergi memberitakan Injil Tuhan. Maka tidak heran penginjilannya begitu penuh kuasa. Setiap kali ia berkhotbah di atas mimbar, banyak orang terhani sampai mencucurkan air mata.
Demikian juga Dr. John Sung, ia sudah menyala-nyala di dalam roh sebelum meninggalkan Amerika. Tingkah lakunya mirip "gila", sampai-sampai dianggap benar-benar gila, yang membuatnya ditahan selama 193 hari di rumah sakit jiwa. Dalam perjalanan pulang ke Cina, ia membuang ijazah-ijazah, medali-medalinya, dan kunci-kunci penghargaan yang diperolehnya ke dalam Lautan Teduh, kecuali ijazah doktornya untuk menyenangkan hati ayahnya saja.
Dr. John Sung sangat berkuasa dalam penginjilannya. Pada suatu kali, ia memberitakan Injil di Tiancin, Cina Utara. Kota tersebut sangat dingin dan ketika itu turun sa1ju. Dr. John Sung mengenakan baju katun. Sehabis berkhotbah, baju katunnya basah oleh ketingat. Begitu melihat ribuan manusia di hadapannya, rohnya menyala-nyala, ia tak tahan diri dan berseru-seru seperti orang "gila". Ketika berkhotbah, adakalanya sambil berbicara, ia meloncat ke bawah, meloncat lagi ke atas mimbar, berteriak dan menangis. Sering kali balai sidang dipenuhi oleh pengunjung, di dalam maupun di luar, sebelum waktunya sudah penuh orang. Bila Dr. John Sung datang, ia bukan masuk dengan diam, hening, dan tenang. Dari luar pintu ia sudah menyanyikan sebuah lagu yang nadanya diambil dari lagu tentara revolusioner Cina, "Ganyang si kuat! Ganyang si kuat! Kuasa perang! Ganyang Setan! Ganyang Setan! Singkirkan dosa!" Ia masuk ke dalam ruang sidang sambil bernyanyi. Dengan bernyanyi demikian, rohnya mernbara, sehingga mudah membangkitkan dan menyentuh roh orang lain, akibatnya ratusan, bahkan ribuan jiwa bertobat dan diselamatkan.
2. Wajib Bergairah Menyelamatkan Jiwa
Paulus adalah orang yang bergairah merebut jiwa orang. Ia berkata, ". . . supaya aku sedapat mungkin memenangkan (menyelamatkan) beberapa orang dari antara mereka" (I Korintus 9:22). ". . . keinginan hatiku dan doaku kepada Tuhan ialah, supaya mereka (orang Israel) diselamatkan" (Roma 10: 1). Sekujur dirinya penuh dengan kuman Injil, dalam pandangan orang, ia seperti penyakit sampar (Kisah Para Rasul 24:5).
DL. Moody juga memiliki antusias yang penuh dalam menolong jiwa-jiwa yang terhilang. Kecuali menginjil di atas mimbar, ia setiap hari paling sedikit memberitakan Injil kepada satu orang; ini ia praktikkan seumur hidup, tanpa terputus atau kendor.
Seorang saudara berkata, begitu seseorang percaya Tuhan, ia harus sedapat mungkin menceritakan Tuhan kepada orang lain. Kendatipun hal itu dirasa tidak mudah, atau tidak senang berbicara di hadapan orang, tetap harus dilakukan. Kesaksian Injil harus berkesinambungan di atas diri kita hingga kedatangan Tuhan. Jangan sekali-kali kita sendiri telah dinyalakan, tapi tidak menyalakan orang lain. Kita wajib mendoakan mereka seorang demi seorang di
hadapan Allah, dan kemudian memimpin mereka kepada Tuhan. Kita harus tiap hari berdoa di hadapan Tuhan, bila ada kesempatan, pergilah bersaksi. Jika kita semua menjadi penginjil demikian, tak sampai berapa tahun lamanya, hayat rohani kita akan bertumbuh dengan subur.
Begitu seseorang percaya Tuhan, ia harus mempunyai satu tekad di hadapan Allah, yaitu mencari orang bila ada kesempatan. Ini merupakan perkara yang harus dilakukan seumur hidup. Barangsiapa tidak mempunyai tekad dan tidak berminat membawa orang kepada Tuhan, mungkin ia sendiri masih perlu bertobat kepada Tuhan. Harus mementingkan sidang penginjilan, dan dalam sidang itu setiap orang bertanggung jawab dengan aktif, dengan sehati memajukan Injil.
Saudara Witness Lee berkata, bahwa para penatua harus memimpin saudara saudari bergairah dalam hal menginjil. Jika satu gereja lokal tidak bergairah menginjil, gereja itu pasti ada penyakitnya. Tak peduli gereja lokal yang besar atau yang kecil, harus memiliki gairah menginjil. Para penatua wajib menumbuhkan gairah menginjil ini dalam hati setiap saudara saudari.
Jika gereja di bumi menginginkan Putra Allah terekspresi, maka gereja tidak boleh mengabaikan perkara penginjilan. Gereja harus memberitakan Injil Putra Allah kepada orang-orang dosa dalam kegelapan. Jika ingin kesaksian gereja menjadi lebih kuat dan terbangun, haruslah melalui Injil mendapatkan lebih banyak jiwa baru. Gereja harus bergairah, berkuasa dalam hal menginjil dan juga berhasil.
3. Bergairah Membantu Orang
(1) Bergairah Membantu Orang dalam Hal Materi
"Berbahagialah orang yang memperhatikan orang lemah (miskin) (Mazmur 41:2). "Ia membagi-bagikan, Ia memberikan kepada orang miskin; kebajikannya tetap untuk selama-lamanya . . ." (Mazmur 112:9).
Paulus bergairah dalam melakukan hal ini. Ia sering membawa uang bantuan ke Yerusalem untuk menolong orang-orang yang miskin (Galatia 2:10; Kisah Para Rasul 11:29-30; 1 Korintus 16:1-3; II Korintus 8:19; Roma 15:25-26).
Gereja-gereja di Makedonia dipuji Paulus dalam, hal memberi bantuan material kepada kaum saleh, meskipun mereka dalam keadaan miskin, namun mereka kaya dalam kemurahan (memberi bantuan), dan mereka beroleh kasih karunia untuk mengambil bagian dalam pelayanan (pemberian) kepada orang-orang kudus (II Korintus 8:1-4). Paulus pun mendorong orang-orang di Akhaya supaya bergairah melakukan hal serupa (II Korintus 9:1-3).
Saudara Watchman Nee berkata, "Barangsiapa hanya memperhatikan dirinya sendiri, ia pasti menjadi orang yang miskin; barangsiapa belajar memberi, ia pasti kaya. Jika kasih karunia tidak ada pada diri Anda, maka kasih karunia Allah pun tidak ada pada diri Anda. Jika Anda tidak ada kasih karunia terhadap orang, Allah pun demikian terhadap diri Anda. Banyak sedikitnya harta milik kita tidak dipandang dari pernasukan kita, melainkan dipandang dari pengeluaran kita. Lebih baik membiarkan uang kita keluar untuk menyatakan tanda-tanda mujizat, dan lebih baik membiarkan uang kita keluar untuk terkabulnya doa, daripada uang kita malas, tidak berguna."
Andrew Murray berkata, "Di dunia, yang ditanya adalah berapakah simpanan uang seseorang, tapi orang Kristen bertanya, bagaimanakah ia menggunakan uangnya demi Kerajaan Surga? Dunia memperhatikan memperoleh keuntungan uang, sedangkan Kristus memperhatikan memberikan uang ke luar."
(2) Bergairah Membantu Orang dalam Perkara Rohani
Titus bergairah terhadap orang-orang di Korintus, dengan suka rela ia pergi ke sana untuk membantu mereka (11 Korintus 8:16).
Apolos menerima pengajaran dalam Jalan Tuhan. Dengan bersemangat ia berbicara dan dengan teliti ia mengajar tentang Yesus (Kisah Para Rasul 18:24-25).
(3) Kegairahan Dapat Merangsang Orang
Kegairahan orang Akhaya telah merangsang banyak orang (II Korintus 9:2). Air yang suam-suam kuku tidak dapat memberikan perasaan apa-apa kepada orang, tidak dapat mempengaruhi orang. Tapi air yang panas akan segera merangsang orang. Bila Anda dengan gairah mempersembahkan harta Anda, itu dapat merangsang orang lain mempersembahkan hartanya juga. Demikian juga jika Anda bergairah melayani Tuhan, orang lain akan terangsang untuk berbuat serupa.
Saudari Barber selama puluhan tahun, setiap hari selalu bangun pada pukul 04.00 untuk menghampiri Tuhan dan membaca Alkitab, memungut manna. Hal ini telah mendorong saudara Watchman Nee, sehingga ia pun berlatih bangun pagi membaca Alkitab.
Jika khotbah Anda seperti air yang suam-suam kuku, itu tidak mungkin menggerakkan orang. Tapi bila batin Anda berapi-api, perkataan Anda akan membakar dan mengharukan pendengar. Pada waktu hari Pentakosta, Petrus dipenuhi Roh Kudus dan berdiri mengatakan beberapa kata saja, semua pendengar merasa sangat terharu (Kisah Para Rasul 2:37).
Dalam sebuah sidang, James McKendrick mendengar khotbah seorang penginjil. Karena hatinya terdesak untuk menyelamatkan jiwa orang, ia mohon penginjil itu mengizinkan dia berbicara sebentar. Mulanya, ia tidak dapat mengucapkan sepatah kata pun, hatinya dipenuhi api kegairahan menyelamatkan jiwa, maka air matanya mengucur keluar bagaikan aliran air. Akhirnya ia hanya mengucapkan beberapa patah kata sambil berseru, tapi setiap pendengar merasakan keadaan dirinya yang berdosa dan tersesat.
III. BERGAIRAH NAMUN TIDAK CEROBOH
"Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah : apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna" (Roma 12:2). Wajib bergairah, tapi perlu pula mengenal kehendak Allah; bergairah menurut kehendak Allah, jangan bergairah dengan ceroboh.
Raja Saul dalam Perjanjian Lama pernah dua kali melakukan perkara dengan ceroboh. Pertama, dia memaksakan diri mempersembahkan korban bakaran (I Samuel 13:8-14), mengampuni raja Amalek dan mengambil lembu domba yang terbaik (I Samuel 15:14-16); akibatnya kedudukan rajanya dihapus Allah. Kedua, dia bergairah bagi orang Israel dan Yehuda dengan kegairahan daging, membunuh orang Gibeon, dan ingin memusnahkan mereka; tindakan ini telah mengingkari sumpah yang dilakukan orang Israel dengan orang Gibeon, sehingga mengundang bencana kelaparan selama tiga tahun (II Samuel 21:1-2).
Petrus pernah dua kali mengucapkan kata-kata yang ceroboh, "Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau!" (Matius 16:22), dan "Tuhan, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Aka Engkau mau, biarlah kudirikan di sini tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa, dan satu untuk Elia" (Matius 17:4). Kedua kali perkataan Petrus tersebut muncul dari kebaikan hatinya, tapi itu diucapkannya dengan ceroboh.
Orang Israel memang sungguh-sungguh bergairah terhadap Allah, namun tanpa pengertian yang benar (Roma 10:2).
Seorang saudara berkata, "Sukacita orang Kristen tergantung pada melaksanakan kehendak Allah, tidak tergantung pada melakukan menurut kemauannya sendiri. Semua yang dikerjakan untuk Allah belum tentu pekerjaan
Allah. Bekerja untuk Dia saja tidak cukup; masalahnya ialah : siapa yang mengerjakannya. Semua kegairahan yang bersandar pada daging tidaklah berguna. Segala yang Anda lakukan menurut kemampuan diri sendiri tidak ada nilai rohaninya, malahan sebaliknya, mencelakakan. Maka jangan sekali-kali Anda bergairah menurut kemauan diri sendiri.
Pernah di suatu tempat, orang ingin membangun sebuah gedung kebaktian, lalu ada seorang saudara sangat bergairah, pergi ke sana sini mencari dana sokongan. Karena terlampau. lelah, ia kemudian jatuh sakit dan muntah darah. Hal itu dikira berjerih lelah untuk Tuhan, padahal itu adalah kegairahan yang ceroboh, itu berasal dari daging. Tuhan hanya menghendaki kita menuruti pimpinan Roh, mempersembahkan harta dengan suka rela. Ia tidak menghendaki kitaminta sokongan, memaksa orang mempersembahkan uangnya.
Ada orang yang lebih baik jika tidak bergairah, sebab bila ia bergairah, ia akan menyusahkan orang lain, dan merugikan gereja. Itu disebabkan gairahnya adalah gairah yang ceroboh, yaitu gairah yang mentah dan liar.
IV. BAGAIMANA BARU DAPAT BERGAIRAH
1. Gairah Timbul dari Roh dan Kasih
Ketujuh Roh Allah di depan takhta adalah tujuh obor yang menyala-nyala (Wahyu 4:5). Roh Allah adalah Roh yang membakar (Yesaya 4:3-4). Tuhan berkata, "Aku datang untuk melemparkan api ke bumi" (Lukas 12:49). Api ini adalah Roh Kudus yang dapat membakar. Ketika Roh Kudus turun ke atas murid-murid pada hari Pentakosta, tampak kepada mereka lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing (Kisah Para Rasul 2:3). Kita wajib hidup di dalam roh, membiarkan Roh Kudus membakar, barulah roh-kita bisa bergairah.
Paulus hidup di dalam roh, terbakar oleh Roh Kudus, sehingga ia tak dapat menguasai diri di hadapan Allah, dan bersungguh-sungguh dalam hatinya untuk firman.
Dalam hati Yeremia ada sesuatu seperti api yang menyala-nyala, terkurung dalam tulang-tulangnya, sehingga ia tidak sanggup membungkam mulut (Yercmia 20:9).
Kasih Kristus menguasai kita, supaya kita hidup bagiNya (II Korintus 5:14) -- Tuhan adalah api kasih yang dapat menghanguskan kita, merangsang kita. Maka tinggallah dalam kasih, niscaya kita akan bergairah.
Nyonya Guyon adalah seorang yang hidup dalam kasih. Kasih antara dia dengan Tuhan ibarat kasih pernikahan. Ia mengasihi Tuhan dengan hati yang tulus, kecuali Tuhan ia tidak mengasihi yang lain. Semua hiburan tawar baginya, tidak ada rasanya. Kecuali Allah, ia tidak punya sesuatu untuk menghibur dirinya. Ia pun tak pernah mengharap beroleh imbalan apapun, atau pemberian dan kasih karunia apapun. Tuhannya adalah satu-satunya "kesayangan hatinya," bahkan semua benda milik Tuhan pun tidak didambakannya. Karena demikian tulusnya ia mengasihi Tuhan, tinggal dalam Tuhan, maka api kasih menyala-nyala di dalamnya, sehingga ia tertarik dan dengan tekun bersekutu dengan Tuhan, berdoa tak berkeputusan. Suhu kasih itu membuatnya tidak dapat membiarkan doanya terputus semenit pun.
Api kasih ini juga membuatnya mengasihi orang lain dengan gairah. Ia sangat mengasihi orang miskin, sering mengunjungi dan rela menolong mereka. Ia sangat rela memberi sedekah, memberikan segala yang ada untuk membantu mereka. Bila ada barang yang paling baik di meja, ia pun rela memberikannya kepada mereka. Sejak menikah, sedekah yang ia amalkan sedikit sekali yang dapat dilakukan orang lain. Karena ia tinggal di dalam kasih, api kasih membara di batinnya, sehingga ia tidak henti-hentinya berdoa, bersekutu dengan Tuhan, dan mengasihi orang dengan gairah.
Seorang saudara. berkata, meskipun doktrin kita sesuai dengan Alkitab dan menarik, itu tidak bisa membuat orang bergairah. Bila kita menghampiri Kristus, mempersembahkan seluruh hati kita kepada Kristus, barulah api kasih itu menyala-nyala.
2. Harus Banyak Berdoa, Menghampiri Tuhan,
Berkontak dengan Tuhan, dan Menyerap Tuhan
Jangan terjerumus ke dalam doktrin harfiah, itu akan membuat orang suam-suam kuku. Seorang saudara berkata, "Pengetahuan rohani memang berharga, tapi banyak orang imani hanya berminat menuntut pengetahuan rohani tanpa berminat menuntut diri Kristus sendiri. Orang-orang Kristen yang seolah panas tapi tidak panas, seolah dingin tapi tidak dingin seperti itu paling tidak disenangi Tuhan. Karena itu kita wajib banyak berdoa, menghampiri Tuhan, berkontak dengan Tuhan, menyerap Tuhan, barulah kita dapat menyala-nyala di dalam roh.
Tujuan utama dalam berdoa adalah berkontak dengan Allah hingga beroleh diri Allah sendiri. Bila Anda meletakkan pakaian Anda di bawah alat setrika, dan menggosoknya sejenak, ia akan panas. Pakaian itu berkontak dengan setrika, akibatnya pakaian itu menyerap panas dari setrika. Dulu di perumahan sekerja di Taipei pernah terjadi suatu insiden yang nyaris menjadi musibah kebakaran. Pasalnya, pada suatu malam seorang saudari, ibu rumah tangga, sesudah memakai setrika listrik lupa mencabut stekernya. Jadi meja tempat ia meletakkan setrika itu semalarn suntuk menerima panas dari setrika itu; timbullah kebakaran, bahkan apinya sempat menjalar ke dinding papan di dekatnya. Ini memang suatu perumpamaan yang kurang sempurna, tapi dapat menerangkan betapa melalui berdoa, menghubungi Allah, menyerap Allah, roh kita bisa berapi-api.
3. Mengobarkan Karunia
Paulus berpesan kepada Timotius : "Karena itulah kuperingatkan engkau untuk mengobarkan karunia Allah yang ada padamu oleh penumpangan tanganku atasmu" (II Timotius 1:6). Menggunakan karunia seperti api yang dikobarkan, semakin digunakan semakin berkobar. Jika tidak digunakan, ia akan dingin dan padain. Semakin menginjil, semakin mau menginjil; semakin menyelamatkan jiwa, semakin senang menyelamatkan jiwa. Semakin mendekati orang, semakin suka mendekati orang. Semakin membantu
orang, semakin bisa membantu orang. "Karena setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan. Tetapi siapa yang tidak mempunyai, apapun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya" (Matius 25:29).
Ketahuilah, kegunaan seseorang datangnya dari penggunaan. Pernah ada seorang dokter berkata, "Jika seseorang menutupi matanya terus, tidak sampai tiga tahun, ia akan tidak dapat melihat apa-apa. Matanya masih ada, tapi ia tidak bisa melihat. Mengapa? Itu disebabkan matanya tidak digunakan dalam waktu yang sangat panjang. Maka kegunaan berasal dari penggunaan." Saudara Witness Lee sendiri mempunyai sedikit pengalaman dalam hal tersebut. Ketika ia mendekati usia 40, ia menderita sakit yang membuatnya terpaksa berbaring di ranjang dan beristirahat total. Selama 6 bulan ia tak bisa turun ke lantai. Setelah 6 bulan, sakitnya mulai sembuh, tubuhnya sehat kembali. Berat badannya pun bertambah. Namun ia tak menyangka, ketika ia ingin turun dan berjalan di lantai, ia terjerembab ke lantai. Saat itu ia baru menyadari, bahwa kakinya tidak saja tak dapat digunakan untuk berjalan, bahkan berdiri pun tidak dapat. Selama hampir 40 tahun kedua kakinya sangat kuat dan lincah, tidak saja bisa berjalan, bahkan berlari dan meloncat. Tapi sekarang, di luar dugaannya, kakinya menjadi tak berguna. Karena itu ia perlu dipapah oleh dua orang dan berlatih berjalan dari mula. Latihan itu sangat tidak mudah. Mulanya ia berjalan tidak lebih dari satu menit, kakinya sudah terasa letih, perlu duduk dan istirahat sebentar. Ia berlatih terus, dan melalui waktu yang sangat panjang, barulah ia bisa berjalan selama 10 menit. Hal tersebut menunjukkan kepada kita, kemampuan kaki kita untuk berjalan dan kuat berjalan jauh, berasal dari penggunaan. Jika lama tidak digunakan, kegunaannya akan hilang. Sebab itu, Alkitab mengatakan, walaupun tiap bagian dari tubuh kita memiliki kegunaannya, tapi kegunaannya itu harus dipakai menurut ukuran bagian itu sendiri, barulah dapat ternyatakan.
4. Jangan Memadamkan Gerakan Roh Kudus
(I Tesalonika 5:19)
Roh Kudus di dalam kita menggerakkan kita untuk taat. Jika kita tidak taat, itu ibarat menyiramnya dengan air dingin, hingga api itu padam. Semakin kita taat, maka gerakan Roh Kudus akan semakin banyak, dan akan berkobar semakin hebat. Roh Kudus dikaruniakan kepada orang yang taat (Kisah Para Rasul 5:32).
Raja Saul berulang-ulang tidak taat, maka Roh Allah meninggalkan dia; sedang Daud senantiasa taat, Roh Allah menggerakkan dia secara. hebat (I Samuel 16:13-14).
Dalam penghidupan orang Kristen, boleh dibilang tidak ada satu hal yang lebih penting daripada hidup menurut Roh setiap hari.
5. Wajib Menempuh Hidup Gereja
Bila arang ditumpuk bersama, semakin dibakar apinya akan semakin panas berkobar-kobar. Tapi bila satu demi satu diambil, tak lama kemudian, ia akan dingin dan padam.