Daftar isi Karakter · bab 16/30

AKRAB

"Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangsilah dengan orang yang menangis!

Roma 12:15

Orang-orang kudus yang ada di tanah ini, merekalah orang mulia yang selalu menjadi kesukaanku.

Mazmur 16:3

I. Arti Akrab

Akrab di sini berarti intim, kasih sayang, lebih-lebih mengacu kepada memperhatikan, menaruh simpati, dan membantu orang dengan rela hati.

1. Memperhatikan Orang Lain

Paulus memperhatikan keselamatan orang Israel; ia sangat berdukacita dan selalu bersedih hati. Keinginan hatinya dan doanya kepada Tuhan ialah supaya mereka diselamatkan (Roma 9:1-3; 10:1). Ia juga memperhatikan keadaan kaum imani, sangat merindukan mereka (Filipi 1:8), dan mengirim Timotius ke Filipi untuk mengetahui hal ikhwal mereka (Filipi 2:19). Mendengar mereka bersehati memberitakan Injil sejak hari pertama sampai sekarang, Paulus bersyukur kepada Allah setiap kali mengingat mereka, dan selalu berdoa dengan sukacita (Filipi 1:3-5). Ketika ia mendengar kaum imani di Efesus taat kepada Allah dan mengasihi seluruh kaum saleh, ia juga bersyukur kepada Allah, dan selalu mengingat mereka dalam doanya (Efesus 1:15-16). Kedua tangannya sering menyuplai keperluan kawan-kawan sekerja (Kisah Para Rasul 20:34). Ketika ia mengetahui bahwa sekerjanya, Filemon, penuh kasih, ia sangat bersukacita dan terhibur oleh hal itu, sehingga senantiasa bersyukur baginya kepada Allah dalam doanya (Filemon 1:4-7). Ketika ia menyinggung Onesimus, ia berkata, "dia, yaitu buah hatiku" (Filemon 1:12). "Jika ada orang tersandung, tidakkah hatiku hancur oleh dukacita?" (II Korintus 11:29). Kesemuanya itu menunjukkan bahwa Paulus adalah orang yang memperhatikan orang lain.

2. Bersimpati Kepada Orang

Kata Paulus, "Bersukacitalah dengan Orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis!" (Roma 12:15). Ini berarti menaruh simpati terhadap orang lain. "Ingatlah akan orang-orang hukuman, karena kamu sendiri juga adalah orang-orang hukuman. Dan ingatlah akan orang-orang yang diperlakukan sewenang-wenang, karena kamu sendiri juga masih hidup di dunia ini" (Ibrani 13:3). Ini juga bersimpati kepada orang; seolah-olah dirinya berada dalam keadaan serupa.

Kita tidak boleh terlampau objektif, terlampau rohani untuk orang lain. Misalkan ada orang lain menderita sakit paru-paru, lalu kita berkata, "Saudara, Anda harus berharap kepada Tuhan." Atau kita melihat seorang saudari menderita sakit lambung, lalu kita berkata kepadanya, "Saudari, Anda harus bersandar kepada Tuhan." Tetapi ketika kita sendiri yang menderita sakit, kita mencari dokter lebih cepat daripada siapapun. Percaya untuk orang lain tidak ada gunanya. Berbicara dengan "sejuk" di atas posisi objektif itupun tidak berguna. Anda harus membawa diri sendiri ke dalam pengalaman orang lain, dan berpikir seolah-olah diri Anda sendiri juga berada di dalam situasi serupa, itu baru ada gunanya.

Andaikata anak Anda digigit anjing, sambil menangis ia berkata kepada Anda, "Papa, kaki saya digigit anjing", mungkinkah Anda berkata kepadanya, "Anakku, berdoalah, Tuhan itu Mahakuasa." Pasti tidak demikian. Memang perlu berdoa, tetapi Anda. tak dapat tidak menghadapi kenyataan yang realistis. Atau andaikata anak Anda pulang dari sekolah berkata. kepada. Anda, bahwa buku catatan hariannya hilang di tengah jalan, dan ia perlu membeli sebuah buku baru. Anda tak mungkin berkata, "Kamu berdoa saja." Bila anak Anda ada masalah, Anda harus membuka jalan untuk mengatasi masalahnya itu.

Demikian juga, orang-orang yang melayani Allah harus menganggap anak-anak Allah seperti anak-anak sendiri, harus mengasuh, memperhatikan mereka dengan akrab, dengan intim. Paulus benar-benar orang yang demikian. Ia berkata kepada orang Tesalonika, ". . sebagai rasul-rasul Kristus, ...kami berlaku ramah di antara kamu, sama seperti seorang ibu mengasuh dan merawat anaknya" (I Tesalonika 2:6-7). Ia menyebut Timotius, "hai anakku" (II Timotius 2:1). Timotius menderita. sakit lambung, pencernaannya tidak normal, Paulus menasihatinya, "Janganlah lagi minum air saja, melainkan tambahkanlah anggur sedikit, berhubung pencernaanmu terganggu dan tubuhmu sering lemah" (I Timotius 5:23). Ini menunjukkan keprihatinan Paulus yang akrab dan mesra terhadap Timotius. Ia tidak berkata, "Kamu berdoa saja kepada Allah, nanti akan sembuh." Tidak. Paulus juga berpesan kepada Titus, "Tolonglah sebaik-baiknya Zenas, ahli Taurat itu, dan Apolos, dalam perjalanan mereka, agar mereka jangan kekurangan sesuatu apa" (Titus 3:13). Itu adalah perhatian dan rawatan yang praktis.

3. Menjadi Anggota Tubuh, Saling Terkait

"Karena itu jika salu anggota menderita, semua anggota turut menderita; jika satu anggota dihormati, semua anggota turut bersukacita" (I Korintus 12:26). Kita yang sama-sama menjadi anggota, memiliki hubungan yang sangat akrab, maka kita harus saling bersimpati dan memperhatikan.

4. Menolong Orang dengan Senang Hati

Mengajar, menasihati, membagi-bagikan sesuatu, menunjukkan kemurahan, dan membantu kekurangan orang-orang kudus . . . yang tercantum dalam Roma 12:8-13, semua mengacu kepada menolong orang dengan senang hati. Menolong orang atas masalah rohani, atau menolong orang atas kebutuhan hidup, harus dilakukan dengan senang hati.

II. Orang-orang yang Melayani Allah

Harus Memiliki Karakter Akrab

1. Mengasihi Semua Orang Saleh Secara Aktif

Gereja di Efesus taat kepada Tuhan Yesus dan mengasihi semua orang imani, karena itulah Paulus bersyukur kepada Allah (Efesus 1:15-16). "Hendaklah kamu saling mengasihi (dengan akrab)" (Roma 12: 10). "Tetapi ada juga sahabat yang lebih karib daripada seorang saudara" (Amsal 18:24). Harus menyayangi mereka, menghampiri mereka, akrab seperti saudara, mesra bagai tangan dengan kaki. Jangan menunggu orang lain datang kepada Anda, Andalah yang harus datang lebih dulu kepada orang. Jangan pula menunggu orang lain mengasihi Anda, Andalah yang harus lebih dulu mengasihi orang.

Seorang saudara bersaksi, "Tiga puluh tahun lebih yang lampau, di atas diri saya ada suatu beban, ingin belajar masuk dalam pengalaman; saya sedikitnya memakai empat hari dalam seminggu untuk mengunjungi orang. Melalui kunjungan-kunjungan itu saya belajar berkontak dengan berbagai jenis orang, dan rahasianya ialah memasuki kondisi dan situasi mereka serta membicarakan beberapa perkara yang menjamah selera mereka. Bila Anda berbuat demikian, orang yang Anda kunjungi pasti segera, bereaksi. Karena Anda menyelami keadaan mereka dan menjamah selera mereka, maka mereka tidak akan menolak Anda."

Ketika membicarakan cara penatua mengelola gereja, seorang saudara berkata, "Hanya ada satu tempat untuk kita menerapkan otoritas, yaitu di dalam kasih. Kasih adalah dasar kita menjadi otoritas, dan kasih adalah batu tumpuan kaki kita untuk memimpin orang. Tanpa kasih, kita tak dapat mencampuri urusan apa pun pada diri orang." Hal ini dapat kita pahami melatui mengamati jiwa seorang gembala. Walaupun ia mengendalikan domba-dombanya dengan tongkat, tapi ia juga dengan penuh kasih sayang merawat mereka. Baik makanan mereka, air minum mereka, tempat istirahat mereka, maupun perlindungan mereka, semua disediakan dengan lengkap. Ini benar-benar menyatakan kasih sayang yang akrab. Maka domba-domba pun menaati perintahnya.

Saya pernah mengunjungi sebuah peternakan besar di Skotlandia. Para peternak melindungi ternak mereka dengan bantuan anjing-anjing yang berperawakan kecil. Anjing-anjing tersebut sangat istimewa. Ketika gembala itu menggiring kawanan domba berjalan di semak-semak, kadangkala ada beberapa domba yang berjalan sembarangan tidak satu arah; ketika gembala menghendaki mereka tinggal di padang rumput, ada yang berlari-lari menuju sungal. Untuk mengumpulkan domba-domba itu dalam satu kawanan, si gembala lalu memberi isyarat kepada anjing tersebut. Seekor anjing segera keluar. Anjing berlari lebih cepat daripada domba dan walaupun domba lebih besar daripada anjing, tapi anjing sangat galak, maka domba-domba itu mau tak mau harus kembali ke tengah-tengah kawanannya. Ketika itu saya melihat tiga domba terpencar, sang gembala tak berdaya, sebab yang satu dikejar, yang lain lari; yang itu dikejar, yang ini lari. Maka gembala itu memerintahkan seekor anjing mengejar domba itu. Anjing itu segera berlari mengejar domba-domba itu, menyalak dengan keras kepada domba-domba yang berlarian itu. Aneh sekali, walau anjing itu sangat galak, sedikit pun ia tidak melukai domba. Akhirnya domba itu kembali ke kawanan. Dalam waktu singkat, semua domba yang terpencar itu dikembalikan kepada kawanannya oleh anjing itu. Memang rupa anjing itu sangat galak, namun terasa ramah. Ketika semua domba sudah kembali, juga sang gembala pun penuh rasa kehangatan, keakraban. Saat itu saya berpikir, ini sungguh bermakna. Sikap galak yang diperlihatkan atas domba pun merupakan pernyataan kasih sayang. Ingatlah, itulah yang disebut pendisiplinan kasih. Itu sepenuhnya adalah ekspresi kasih.

Perasaan anak kecil sangat tepat. Ada orang tua menghajar anaknya sangat hebat, tapi semakin dihajar, anak ltu semakin menghampiri orang tuanya, sebab anak kecil itu tahu bahwa tindakan orang tuanya itu adalah kasih. Ada juga orang tua yang mengucapkan kata-kata yang keras, sehingga orang lain yang mendengarkan merasa luar biasa, tetapi anak-anak mereka tahu, kata-kata yang keras itu mengandung kasih sayang. Adakalanya seorang tamu mengucapkan perkataan yang indah dan manis, tetapi anak-anak pun tahu bahwa perkataan-perkataan indah tersebut sama sekali tidak bersangkut paut dengan mereka. Mengapa orang yang menjadi ibu tiri sering kali tidak ada kedudukan menggunakan wewenangnya atas anak-anak tirinya? Sekalipun ia menerapkan wewenangnya, anak-anak tirinya tidak menerima. Itu tak lain dikarenakan ia tidak memiliki kasih sayang ibu.

Orang-orang yang memimpin harus belajar mengasihi orang lain, berpikir bagi orang lain, dan memperhatikan orang lain. Sebab itu, orang-orang yang melayani Allah wajib secara aktif mengasihi semua orang saleh, dengan demikian baru dapat memimpin mereka, membantu niercka, dan mereka baru mau taat dan mau menerima.

Orang yang melayani Tuhan harus memperhatikan orang lain. Bila Anda memperhatikan orang lain, pasti orang lain akan mencari Anda. Anda tidak tahu, hari ini betapa manusia sangat memerlukan bantuan. Orang-orang yang teguh biasanya tak pernah berpikir, bahwa orang-orang lemah sangat memerlukan bantuan. Jangankan masalah-masalah besar seperti pernikahan, sekolah, atau pekerjaan, bahkan dalam perkara-perkara yang ringan pun, sering kali mereka memerlukan bantuan orang lain. Orang yang sakit juga perlu bantuan. Bila Anda memperhatikan orang lain, membantu orang lain, orang lain pasti akan datang mencari Anda, dengan demikian baru Anda dapat memberikan bimbingan kepada mereka dalam hal rohani.

2. Terhadap Orang Harus Menaruh Minat.

Merasa Orang Patut Disayangi, Dihargai, dan Didekati

"Orang-orang kudus yang ada di tanah ini, merekalah orang mulia yang selalu menjadi kesukaanku" (Mazmur 16:3). Menganggap manusia indah, baik, dan patut disukai; bukan menganggap manusia tidak baik, hingga menaruh rasa benci. "Siapa mengolok-olok orang miskin menghina Penciptanya; siapa gembira karena suatu kecelakaan tidak akan luput dari hukuman" (Amsal 17:5). Manusia diciptakan menurut rupa dan gambarNya, maka patut dianggap berharga, patut dikasihi, jangan diolok-olok dan dihina. Kalau Anda mengolok-oloknya, itu berarti Anda menghina dan mengolok-olok Dia. Hanya boleh memberkati manusia, tidak boleh mengutuk (Roma 12:14; Yakobus 3:9-18).

Dalam Injil Lukas 15 kita tampak, walau si bungsu itu begitu tidak karuan, tetapi ketika ia pulang, sang bapa tetap menyayanginya; sang bapa berlari-lari menyambut anaknya, memeluk lehernya dan menciuminya. Bagaimanapun buruknya manusia, tidak seharusnya dibenci dan ditolak, tetap harus dihargai dan disayangi.

Setiap pekerja Tuhan tidak saja harus mempunyai hati kasih terhadap saudara, juga terhadap semua orang. Jika Anda melihat orang lalu merasa tidak senang, atau meremehkannya, Anda sekali-kali tidak layak menjadi hamba Allah. Semua orang harus dinilai patut disayangi dan berharga. Manusia adalah ciptaan Allah, yang ingin ditebusNya, dan yang ingin digarap sehingga menjadi rupa dan gambar AnakNya. Allah mengasihi orang dunia dan menghendaki semua orang beroleh selamat, serta mengenal kebenaran dengan sempurna, Allah tidak ingin seorang pun binasa (Yohanes 3:16; I Timotius 2:4; I Petrus 3:9). Setiap orang yang melayani Allah harus mempunyai hati yang demikian. Dalam suatu kesempatan, saudara Watchman Nee pernah mentraktir para pengemis. Setelah berbuat demikian, hatinya sangat gembira, dan ia berkata, "Siapa tahu mereka kelak menjadi saudara saudari dalam Kristus?" Paulus berkata, "Aku berutang baik kepada orang Yunani, maupun kepada orang bukan Yunani, baik kepada orang terpelajar, maupun kepada orang tidak terpelajar" (Roma 1:14). Ia melihat setiap orang patut disayangi, dan merupakan sasaran penyelamatan Allah.

Hati kita harus lapang sedemikian rupa, sehingga merasa setiap orang patut dikasihi, dan kita menaruh minat terhadap setiap orang. Asal dia manusia, kita harus merasa dia layak disayangi. Dengan demikian kita baru bisa melayani Allah. Setiap manusia mempunyai roh dan jiwa, Allah memandang satu jiwa lebih berharga daripada seluruh dunia (Matius 16:26).

Pada suatu kali, Hudson Taylor kecurian. Setelah diselidiki dengan cennat, ternyata pencurinya adalah pembantunya sendiri, Yossy. Sebenarnya jika dia ingin menggugatnya, mudah sekali. Banyak orang yang menganjurinya bertindak demikian. Namun semakin memikirkan hal itu, dia semakin merasa tidak mantap. Alasannya: jika Yossy sampai dihukum, dan menderita tekanan di dalam penjara, kemungkinan tidak ada kesempatan baginya untuk beroleh selamat. Apakah barang-barang seharga 40 poundsterling itu lebih mahal daripada jiwa orang? Karena itu Hudson menulis sepucuk surat yang tulus kepada Yossy, isinya antara lain mengatakan, bahwa dia sudah tahu tentang kejahatan yang Yossy lakukan, juga tahu sanksi apa yang akan Yossy terima jika perkara itu dilaporkan kepada yang berwajib. Sebenarnya perkara. itu akan diserahkan kepada yang berwajib, tetapi karena teringat ajaran Kristus, yaitu membalas kejahatan dengan kebaikan, maka dia membatalkan niat itu. Yossy tidak perlu khawatir, sehelai rambut pun yang ada di kepalanya tidak akan dilukai. Hudson juga menyatakan kepadanya, bahwa yang benar-benar dirugikan bukan dirinya, melainkan Yossy sendiri. Hudson memaafkannya tanpa syarat, bahkan menasihatinya agar ia melipat gandakan usahanya untuk membebaskan diri dari murka yang akan datang. Lalu pada catatannya ditambah kata-kata, bahwa ia tidak meminta agar barang-barangnya yang baik dikembalikan, tapi di antaranya ada dokumen-dokumen dan buku-buku terbitan luar, yang pasti tidak ada gunanya untuk dia, namun bagi Hudson sangat berharga, barang-barang itulah yang diminta dikembalikan kepada Hudson. Asalkan hati nuraninya bisa tergerak, dan jiwanya beroleh selamat, itu jauh lebih, penting daripada Hudson menerima kembali barang-barang tersebut. Peristiwa ini kemudian diketahui George Muller. Ia sangat setuju dengan tindakan Hudson tadi. Lalu ia mengirim wesel kepada Hudson yang jumlahnya cukup untuk menambal kerugiannya, bahkan setelah itu ia terus mendoakan dan membantu Hudson.

3. Bekerja Berarti Menggarap Manusia

Tuhan begitu menaruh minat terhadap manusia, sehingga Ia sendiri datang menjadi manusia. Tuhan sering berkata, "Anak Manusia datang." Itu menunjukkan bahwa Tuhan menaruh minat terhadap manusia. Tujuan bekerja justru menggarap manusia. Bagaimana kita bisa bekerja, jika kita tidak ada minat terhadap manusia. Jika seorang dokter takut melihat pasien, dan menganggap pasien itu merepotkannya, sehingga ia membencinya, bagaimana mungkin ia menjadi dokter?

4. Tugas Ini Adalah Tugas

Untuk Memperhatikan Orang

Paulus berkata, "Memang kamu telah mendengar tentang tugas penyelenggaraan kasih karunia Allah, yang dipercayakan kepadaku karena kamu" (Efesus 3:2). Tugas ini tak lain bertujuan monggarapkan kekayaan Kristus yang tak tcrduga itu ke dalam manusia. Yang kita perhatikan adalah manusia. Seperti hainya seorang dokter, yang diperhatikannya adalah pasien. Jika tidak, apakah tugas dokter? Jika ingin memperhatikan manusia dan bekerja di atas manusin. haruslah mendekati manusia, mencari manusia, berkontak dengan manusia. Harus seperti gembala mencari domba, sepcrti perempuan mencari uang perak, dan seperti bapa mcnantikan anak hilang di depan pintu, berharap melihatnya dan menemukannya. Bila sudah ditemukan segera dijinjing di atas bahu; bila sudah melihat, segera berlari menyongsong lalu merangkul lehernya sambil menciumi. Itulah sikap yang harus dimiliki orang-orang yang bekerja bagi Tuhan.

Terhadap orang harus berperasaan, jangan bersikap, dingin. Harus seperti Tuhan Yesus, "Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala" (Matius 9:36). Seperti pula kata Allah kepada Yunus, "Bagaimana tidak Aku akan sayang kepada Niniwe, kota yang besar itu, yang berpenduduk lebih dari seratus dua puluh ribu orang, yang semuanya lak tahu membedakan tangan kanan dari tangan kiri, dengan ternaknya yang banyak?" (Yunus 4:11).

5. Tidak Meremehkan Orang Lain

Anda tidak patut meremehkan orang lain yang tidak sebaik diri Anda. Anda harus tampak, jika tidak ada kasih karunia Allah, Anda dan orang itu adalah sama yang membuat Anda berbeda dengan dia adalah kasih karunia Allah; bukan diri Anda sendiri.

6. Memperhatikan Urusan Orang Lain

Orang-orang yang melayani Allah harus mau memperhatikan urusan orang lain. Ini tidak berarti mencampuri urusan orang lain, melainkan memperhatikan, dan senang membantu orang. "Dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingan sendiri, letapi kepentingan orang lain juga" (Filipi 2:4). Tuhan datang justru untuk kepentingan orang. Tuhan berkata, "Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayan dan untuk memberikan nyawaNya menjadi tebusan bagi banyak orang" (Markus 10:45). Paulus juga demikian, ia berkata, "Sungguhpun aku bebas terhadap semua orang, aku menjadikan diriku hamba dari semua orang, supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang" (I Korintus 9:19); "Karena tak ada seorang padaku, yang sehati dan sepikir dengan dia dan yang begitu bersungguh-sungguh memperhatikan kepentinganmu" (Filipi 2:20), dan "Tetapi lebih perlu untuk tinggal di dunia ini karena kamu" (Filipi 1:24).

Seorang saudara yang senior pernah ditanya oleh seorang saudara lainnya, "Saudara, aku sekarang sangat dingin, tidak mengasihi Tuhan. Menurut Anda aku harus bagaimana?" Jawab saudara itu, "Ada satu hal yang pasti, yakni kalau Anda terus mengharapkan diri sendiri yang bergairah, dan diri sendiri yang mengasihi Tuhan, akhirnya Anda pasti menjadi dingin dan merosot. Itu adalah satu proses yang harus dialami orang Kristen. Barangsiapa mengharapkan dirinya sendiri bergairah dan mengasihi Tuhan, cepat atau lambat pasti akan merosot. Namun, jika Anda tidak begitu menghiraukan kegairahan diri sendiri, melainkan lebih banyak memperhatikan orang lain, menjenguk saudara, Anda pasti akan menjadi membara. Jika Anda menunggu sampai Anda sendiri bersidang; mungkin hingga tahun depan Anda belum tentu bisa. Tetapi, jika Anda dengan keadaan dingin Anda seperti sekarang ini, menjenguk seorang saudara dan berkata kepadanya, 'Saudara, aku sudah sangat lama tidak bersidang, tapi Tuhan justru menginginkan aku yang lama tak bersidang ini untuk datang menjengukmu'. Anda boleh juga mengatakan, bahwa Atida sudah setengah tahun lamanya tidak berdoa. Kalau Anda mau memberitahu saudara itu demikian, pada saat itulah, Anda bisa membuka mulut berdoa, dan sekembali Anda ke rumah, Anda pasti dapat memulihkan doa Anda; bahkan minggu berikutnya Anda akan datang bersidang." Ini memang benar-benar perkara yang ajaib.

Ini adalah prinsip Allah mencela orang yang hanya mementingkan rumahnya sendiri dalam kitab Hagai. Barangsiapa hanya mengharapkan dirinya sendiri bangkit, dan dirinya sendiri rohani, dan dirinya sendiri gairah, pada prinsipnya adalah orang-orang yang berlari-lari demi kepentingan rumahnya sendiri. Orang demikian tidak akan diberkati Allah. Hari ini bila Anda tidak menghiraukan diri sendiri, tetapi menghiraukan anak-anak Allah, memperhatikan saudara saudari, itu berarti memperhatikan rumah Allah, Anda akan segera tampak berkat Allah menimpa Anda.

Kita harus memperhatikan orang atas penghidupan, keluarga, profesi, studi, pernikahan, dan sebagainya. Itu tidak bertujuan lain, melainkan demi mengasihi Allah, manusia, dan gereja.

Saudari Peace Wang benar-benar memperhatikan orang. Walaupun ia seorang saudari, yang diperhatikan tidak saja saudari, juga saudara. Ia sering berkata kepada saudara Witness Lee, "Saudara Anu sudah lama tidak kelihatan, bagaimana pendapat Anda? Si Anu bisa menerima karyawan, sekarang kebetulan ada seorang saudara menganggur, apakah Anda mau menelepon dia, menanyakannya apakah dapat menolong saudara tersebut?" Hampir tiap hari ia mengajukan masalah seperti ini kepada saudara. sekerja. Ia sering berkata kepada saudara Witness Lee, "Coba Anda telepon saudara ini, atau menyurati saudara itu. Undanglah ia makan sekali. Kami sebagai saudari tidak leluasa, apakah Anda mau menemani?" Karena dorongan saudari Peace Wang, banyak pekerjaan yang bisa dikerjakan, dan banyak orang yang dipulihkan.

Kita memang tidak minta derma/sumbangan, hal itu tidak benar. Tetapi adakalanya Anda mengetahui saudara Anu sangat kaya, tetapi ia jarang bersidang. Pada suatu hari, Anda harus menasihati dia, berkata kepadanya, "Saudara, saat ini ada sekeluarga saudara saudari kena musibah, rumahnya terbakar, semua miliknya ludes. Saya tahu Anda. ada kemampuan, tapi saya tidak bermaksud minta sumbangan. Saya hanya membentangkan hal ini di hadapan Anda. Anda boleh berdoa kepada Tuhan, apakah Anda berbeban menolongnya atau tidak." Sering kali, justru karena perkara semacam ini, saudara tersebut terpulihkan. Boleh jadi ia akan borkata, "Ya, aku mau, biarlah aku membantu keluarga saudara tersebut." Ia membantu saudara itu dengan benda material, tapi ia sendiri terbangun pada aspek rohani. Hal ini berbeda dengan bederma. Bederma adalah usaha sosial, yang hanya mengalihkan uang dari tangan orang kaya kepada orang miskin. Kita tidak berbuat demikian. yang kita lakukan bertujuan membantu saudara saudari pada aspek rohani. Misalkan, ada seorang saudara ittau saudari yang tawar; ia adalah guru sekolah, mahir dalam ilmu matematika. Anda boleh mencarinya dan berkata kepadanya, "Saudara, pelajaran matematika anak saudara Anu sangat kurang, dapatkah Anda membantunya seminggu dua kali?" Anda seolah-olah mengurusi kursus matematika, padahal Anda mencari kesempatan membimbing dia. Melalui hal itu Anda dengan sendirinya ada persekutuan dengan saudara ini, dan Anda berkesempatan memulihkan dia. Inilah bekerja. Dengan berbuat demikian, Anda. akan menggarap setiap saudara saudari, sehingga setiap orang bangkit melayani Tuhan.

Dalam gereja banyak saudara saudari, karenanya banyak pula masalah yang terjadi. Ada masalah pekerjaan, ada masalah pernikahan, ada masalah kesehatan, ada masalah keluarga . . . Kita tidak dapat bersikap seperti penonton, dengan nada rohani berkata, "Saudara, berdoalah. Kasih karunia Tuhan cukup untuk Anda pakai." Kata-kata sepertl itu tak dapat membantu orang. Ini tidak. berarti kita tidak perlu bersandar kepada Allah, namun ada perkara yang harus dilakukan manusia, harus membantu saudara saudari mengatasi masalah mereka.

Saudara Witness Lee berkata, "Saudara-saudara yang lama melayani bersamaku di daerah utara Tiongkok dapat bersaksi bagiku mengenai bagaimana kami membantu saudara saudari. Jika Anda tidak bisa membantu saudara saudari, pada suatu saat, bila menjumpai kesulitan, maka jerih lelah Anda yang sudah-sudah akan menjadi sia-sia. Hal itu ibarat Anda melahirkan seorang anak, Anda sudah memeliharanya hingga ia berusia belasan tahun. Tiba-tiba anak ini menderita sakit demam yang sangat gawat. Selaku orang tua, Anda tentu sangat prihatin, dan cepat-cepat mengobatinya. Mengapa? Sebab di sini ada satu persoalan, jika tidak dibereskan, boleh jadi anak itu akan mati. Demikian pula seharusnya sikap Anda terhadap masalah diri saudara saudari. Anda harus mengatasi masalahnya. Jika. tidak, saudara atau saudari tersebut akan jatuh.

7. Mendekati dan Memperhatikan Orang yang Tertimpa Kesulitan Khusus,

Orang yang Menderita Sakit, Orang yang Aneh

Firman Tuhan, "Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang" (Lukas 19:10). "...Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit..." (Markus 2:17). Orang sakit memerlukan tabib, maka tabib harus mendekati, memperhatikan, dan menyembuhkan orang sakit. Dikatakan pula, "Tetapi apabila engkau mengadakan perjamuan, undanglah orang-orang mishin, orang-orang cacat, orang-orang lumpuh dan orang-orang buta. Dan engkau akan berbahagia (Lukas 14:13-14). Orang-orang itu masing-masing memiliki kesulitan yang khusus, mereka sedang memerlukan perhatian dan pertolongan Anda. "Demikianlah TUHAN adalah tempat perlindungan bagi orang yang terinjak, tempat perlindungan pada waktu kesesakan" (Mazmur 9:10); "Bapa bagi anak yatim dan Pelindung bagi para janda ..." (Mazmur 68:6). Manusia semakin ada kesulitan, semakin ada keperluan, Allah semakin memperhatikan dan memberikan kasih karunin. Tuhan Yesus adalah teman pemungut cukai dan orang dosa.

III. Laki-laki dan Perempuan Harus Ada Jarak,

Harus Ada Batas, Harus Ada Perbedaan Waktu dan Tempat

Paulus berkata, "... Adalah baik bagi laki-laki, kalau ia tidak kawin, tetapi mengingat bahaya percabulan..." (I Korintus 7:1-2). Untuk menghindari pencobaan, godaan, serta percabulan, maka di antara laki-laki dengan perempuan harus ada jarak atau batasan. Saudara dan saudari tidak boleh berada di satu tempat hanya berdua saja. Jangan gairah dibalas dengan gairah. Jangan menganggap diri Anda kuat, tak mungkin timbul masalah apa-apa. Ketahuilah, kita semua masih ada di dalam tubuh daging. Kalau Daud dalam hal ini bisa mengalami kelemahan dan kejatuhan, apalagi Anda dan saya!

Saudara Witness Lee berkata, "Ketika sava menerima bantuan saudara Watchman Nee di Shanghai, pelajaran atau pengarahan pertama yang dia berikan kepada saya ialah, orang yang melayani Tuhan sekali-kali tidak boleh berkontak sendirian dengan lawan jenisnya. Untuk perlindungan, harus disertai orang ketiga. Nasihat saudara Watchman Nee ini saya pegang terus hingga kini. Pada tahun 1930, di provinsi Shantung, pernah terjadi pergerakan kharismatik. Ada orang-orang yang mengalami baptisan roh menganggap dirinya sudah disucikan dari hawa nafsu daging, sehingga mereka, laki-laki dengan perempuan, tinggal bersama. Akhirnya terjadi percabulan di antara mereka, nama Tuhan sangat diaibkan, dan pintu Injil tertutup dalam jangka waktu yang cukup panjang di daerah itu. Belasan tahun yang silarn, peristiwa serupa terjadi juga di Korea Selatan. Banyak orang Kristen mengaku dirinya memiliki pengalaman Pentakosta, saling berhubungan tanpa ikatan sama sekali. Hal itu pun mengakibatkan percabulan. Hari ini, perkara perceraian dan percabulan menjadi begitu umum, tak lain disebabkan tiadanya batasan wajar di antara laki-laki dengan perempuan.

Ada dua percabulan terbesar dalam hidup manusia, yang pertama ialah hubungan antara laki-laki dengan perempuan. yang kedua ialah harta. Bahaya dari kedua perkara tersebut terus ada, dan terus menguntit Anda, sampai Anda dan saya diangkat Tuhan. Dari abad ke abad, entah sudah berapa banyak pelayan-pelayan Tuhan yang dirusak oleh kedua hal tersebut.

Selama kita hidup di dunia ini, yakni hidup di dalam tubuh daging ini, jangan percaya kepada pendapat yang menganggap batasan laki-laki dengan perempuan ini boleh diabaikan. Itu adalah ajaran Iblis. Di beberapa tempat, ada orang mengajarkan bahwa kita semua sudah rohani. Jika membicarakan batasan laki-laki dengan perempuan, itu adalah pikiran yang najis. Tidak, saudara saudari, sekalipun ada jutaan orang bangkit menyalahkan hal ini, kita harus tetap mempertahankan, bahwa di antara saudara, dengan saudari harus ada batasan; bukan batasan yang menyekat, melainkan batasan yang membedakan. Batasan ini mutlak tak boleh dicabut atau dibongkar. Begitu Anda mencabut batasan ini, saat itu pula Anda akan mengalami malapetaka besar.

Lihatlah pada Ulangan 22:5 Allah menetapkan, "Seorang perempuan janganlah memakai pakaian laki-laki dan seorang laki-laki janganlah mengenakan pakaian perempuan..." Itu justru karena adanya perbedaan antara laki-laki dengan perempuan, supaya campur aduk dan percabulan dapat dihindari. Lihatlah pula dalam penciptaan Allah. Ketika masih kecil, mereka boleh tidak dibedakan, tapi ketika dewasa, keduanya berbeda. Laki-laki berkumis, purempuan tidak; dengan itu Allah menyatakan batasan. Sebab itu, pada waktunya, batasan perlu diperjelas, selangkah pun tak boleh dilanggar.

Waktu dan tempat harus sewajarnya -- Nikodemus mengunjungi Tuhan Yesus pada malam hari, di dalam rumah, sedangkan Tuhan Yesus menunggu perempuan Samaria pada siang bolong, di tempat terbuka.

Pada lahirnya harus ada jarak dan batasan, pada batinnya harus ada kesucian -- Masalah antar lawan jenis, berulang-ulang disinggung oleh Paulus. Setelah disinggung dalam surat I Korintus, dalam II Korintus dikatakan pula, "Berilah salam seorang kepada yang lain dengan cium yang kudus" (II Korintus 13:12). Di antara orang Kristen pernah terjadi masalah percabulan, maka Paulus berkali-kali berpesan kepada mereka, "Berilah salam seorang kepada yang lain dengan cium yang kudus. Paulus juga berpesan kepada Timotius, "Tegorlah ... perempuan-perempuan tua sebagai ibu dan perempuan-perempuan muda sebagai adikmu dengan penuh kemurnian" (I Timotius 5:lb-2). Dalam mengasihi semua orang saleh, antara laki-laki dengan perempuan harus ada jarak dan batasan secara lahiriah, dan ada kemurnian atau kesucian secara batiniah. Ingat baik-baik perkataan Tuhan, "... Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzina dengan dia di dalam hatinya" (Matius 5:28). Jadi dalam hati harus kudus.