SYARAT DAN HASIL KESELAMATAN ADALAH PEKERJAAN ALLAH SYARAT DAN HASIL KESELAMATAN ADALAH SATU
Kita akan melihat syarat keselamatan dan hasil keselamatan. Umumnya kita mengira syarat keselamatan dan hasil keselamatan adalah dua hal yang sangat berbeda, karena syarat keselamatan dilakukan oleh kita, sedangkan hasil keselamatan dikerjakan oleh Allah. Di dunia ini tidak ada satu hal yang prosedur dan tujuannya sama. Kita mengetahui beroleh selamat ada syaratnya, misalnya bertobat adalah syarat, mendapatkan pengampunan adalah hasilnya. Demikian juga, percaya adalah syarat, beroleh selamat adalah hasilnya. Orang harus mengenal Tuhan sehingga mendapatkan hayat, mengenal Tuhan adalah syarat, mendapatkan hayat adalah hasilnya. Lagi pula beroleh selamat dan mendapatkan hayat berbeda, beroleh selamat adalah syarat untuk mendapatkan hayat, mengasihi Tuhan adalah hasil dari hayat. Orang harus beroleh selamat, baru bisa menjadi umat Allah. Demikian baru bersyarat menempuh kehidupan anak-anak Allah. Jadi, menjadi umat Allah adalah syarat, kehidupan anak-anak Allah adalah hasilnya. Orang harus beroleh selamat, baru bisa menyingkirkan dosa dalam daging. Maka, beroleh selamat adalah syarat, menyingkirkan dosa adalah hasilnya.
Kita semua menganggap beroleh selamat adalah satu hal, syarat beroleh selamat adalah satu hal yang lain, hasil beroleh selamat adalah satu hal yang lain lagi. Namun dalam Alkitab terdapat satu hal yang sangat ajaib, yaitu syarat beroleh selamat dan hasil beroleh selamat, sepenuhnya berbaur menjadi satu, tidak bisa dipisahkan. Dalam memberitakan Injil, kalau kita ingin menganalisis bagaimana secara terpisah memberi tahu orang syarat beroleh selamat dan hasil beroleh selamat, supaya mereka jelas, kita akan menemukan betapa sulitnya melakukan hal ini. Sebenarnya melakukan hal ini sangatlah bodoh, karena Tuhan tidak bermaksud memisahkan dengan jelas syarat beroleh selamat dan hasil beroleh selamat. Ini tidak saja tidak kacau, sebaliknya adalah hal yang sangat mulia, dan membuat kita mau tak mau menyembah Dia. Syarat beroleh selamat adalah hasil beroleh selamat, hasil beroleh selamat juga adalah syarat beroleh selamat.
BUKTI DALAM ALKITAB
Kita boleh dari Alkitab mencari beberapa tempat untuk membuktikannya. Terlebih dulu mari kita baca Lukas 18 dan 19. Dalam 18:18-27, ada seorang pemimpin bertanya kepada Tuhan Yesus, "Apa yang harus aku perbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?" Pemimpin ini ingin mendapatkan hidup yang kekal, sebab itu ia bertanya syarat untuk mendapatkan hidup yang kekal. Dia ingin mengetahui, apa yang harus terlebih dulu ia lakukan agar ia memperoleh hidup yang kekal. Lalu Tuhan Yesus menjawab bahwa ia harus memelihara semua perintah Allah. Pemimpin itu menjawab, "Semuanya itu telah kuturuti sejak masa mudaku." Kemudian Tuhan Yesus menyuruh dia menjual segala yang dimilikinya dan membagi-bagikannya kepada orang-orang miskin, kemudian datang mengikuti Tuhan, baru bisa mendapatkan hidup yang kekal. Pemimpin itu mendengar perkataan itu, ia menjadi amat sedih, lalu pergi, karena ia tidak bisa melakukannya. Tuhan Yesus melihat dia pergi dengan amat sedih, lalu berkata, "Alangkah sukarnya orang yang banyak harta masuk ke dalam Kerajaan Allah." Tuhan berkata demikian karena Dia menganggap memperoleh hidup yang kekal sejalan dengan memasuki Kerajaan Allah. Sebab itu, murid-murid yang mendengar lalu berkata, "Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?" Ini menyejajarkan ketiganya, memperoleh hidup yang kekal, masuk Kerajaan allah, dan diselamatkan. Pada saat ini Tuhan menjawab murid-murid-Nya, "Apa yang tidak mungkin bagi manusia, mungkin bagi Allah." Maksud firman Tuhan, Allah dapat mengerjakan ketiga hal ini. Diselamatkan, memperoleh hidup yang kekal, dan memasuki Kerajaan Allah, ketiga hal ini adalah hasil, dan salah satu syaratnya adalah menjual segala yang dimilikinya dan datang mengikuti Tuhan.
Sampai Lukas 19:1-10, membicarakan keselamatan Zakheus. Begitu Zakheus beroleh selamat, ia segera berkata bahwa setengah dari miliknya akan ia berikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang ia peras dari seseorang, akan ia kembalikan empat kali lipat. Di dalam pasal 18 ada pemimpin yang bermoral, di dalam pasal 19 ada kepala pemungut cukai yang tidak bermoral. Syarat beroleh selamat dalam pasal 18, menjadi hasil beroleh selamat dalam pasal 19. Dalam pasal 18, menjual segala sesuatu adalah syarat beroleh selamat; tetapi dalam pasal 19 kita nampak, menjual segala sesuatu adalah hasil beroleh selamat, dengan kata lain adalah keselamatan itu sendiri. Karena itu, Lukas 18 berkebalikan dengan Lukas 19. Kita mengetahui, syarat harus dilakukan sendiri oleh orang itu, dan hasil adalah dikerjakan oleh Allah. Tuhan berkata bahwa syarat memasuki Kerajaan Allah adalah menjual segala miliknya. Tuhan juga berkata bahwa apa yang tidak mungkin bagi manusia, mungkin bagi Allah. Artinya bukan aku sendiri yang bisa menjual segala sesuatu, tetapi Allah yang bagi aku menjual segala sesuatu. Ini memperlihatkan kepada kita bahwa syarat beroleh keselamatan adalah keselamatan itu sendiri. Kita berpikir: syaratnya harus aku yang melakukan sendiri, anugerah keselamatan harus Allah yang mengerjakan. Tetapi Tuhan berkata bahwa Allah bisa melakukan syarat keselamatan itu. Kalau kita sendiri yang dituntut melakukan syarat keselamatan, kita semua tidak bisa menerima karunia. Tuhan berkata bahwa apa yang tidak mungkin bagi manusia, mungkin bagi Allah. Ini menggabungkan syarat keselamatan ke dalam keselamatan, yaitu segalanya Allah yang melakukan. Ini bukan berarti yang bisa dilakukan manusia perlu dikerjakan oleh manusia, apa yang tidak bisa dilakukan oleh manusia, biar Allah yang melakukan; melainkan manusia tidak perlu melakukan sedikit pun, segalanya biar Allah yang melakukannya.
Kita lihat lagi Kisah Para Rasul 5:31-32: "Dialah yang telah ditinggikan oleh Allah dengan tangan kanan-Nya menjadi Perintis dan Juruselamat, supaya Israel dapat bertobat dan menerima pengampunan dosa. Kamilah saksi dari peristiwa-peristiwa itu, kami dan Roh Kudus, yang dikaruniakan Allah kepada semua orang yang menaati Dia." Di sini dengan jelas mengatakan, pertobatan dan pengampunan dosa adalah pemberian Allah. Orang sering mempunyai pemikiran yang salah, mengira bertobat adalah perbuatan kita, pengampunan dosa adalah pemberian Allah. Ternyata Alkitab mengatakan bahwa pertobatan dan pengampunan dosa adalah pemberian Allah, tidak menyisakan sedikit pun untuk kita lakukan. Jadi, ketika kita memberitakan Injil, jika bertemu dengan orang yang mengira sulit melakukan pertobatan, kita boleh memasukkan pertobatan ke dalam pengampunan dosa, memberi tahu orang bahwa Allah telah memberikan pertobatan dan pengampunan dosa kepada kita. Asalnya bertobat adalah syarat untuk menerima pengampunan, jika Roh Kudus memberi pertobatan kepada orang, itu sangat baik; jika orang itu sendiri tidak bisa bertobat, gabungkanlah pertobatan ke dalam pengampunan dosa. Di sini Allah melakukan bersama dua hal itu; Allah memberikan pertobatan sama seperti Dia memberikan pengampunan dosa.
Dua Petrus 1:1 mengatakan, "Dari Simon Petrus, hamba dan rasul Yesus Kristus. Kepada mereka yang bersama-sama dengan kami memperoleh iman karena keadilan Allah dan Juruselamat kita, Yesus Kristus. Anugerah dan damai sejahtera melimpahi kamu oleh pengenalan akan Allah dan akan Yesus, Tuhan kita." Di sini dikatakan, iman kita terima bersama-sama dengan semua orang Kristen. Seluruh Alkitab mengatakan dengan jelas bahwa syarat beroleh selamat, semuanya berada pada iman. Tetapi di sini juga dikatakan, bukan kita yang memberikan iman kepada Allah, sebaliknya Allah yang memberikan iman kepada kita. Iman adalah salah satu pemberian Allah, kita memperoleh iman dari Allah. Sebab itu orang bisa percaya, karena Roh Kudus memberi iman kepadanya. Ketika kita memberitakan Injil, meskipun mengatakan orang harus percaya baru bisa beroleh selamat, tetapi jika orang itu tidak bisa percaya, tidak menjadi masalah, karena iman juga tercakup dalam anugerah keselamatan.
Dalam Lukas 10:25-37, ada seorang ahli Taurat bertanya kepada Tuhan, "Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?" Ahli Taurat ini ingin mengetahui apa syarat untuk mendapatkan hidup kekal. Tuhan Yesus menjawab, pertama kasihilah Tuhan, Allahmu; kedua kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri; berbuat demikian bisa mendapatkan hidup yang kekal. Jadi, di sini kasih adalah syarat beroleh selamat. Kemudian ahli Taurat itu bertanya lagi, "Siapakah sesamaku manusia?" Lalu Tuhan dalam ayat 30-35 mengisahkan satu cerita. Kemudian bertanya kepadanya, "Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?" Perkataan Tuhan Yesus ini untuk memperlihatkan kepada ahli Taurat bahwa dia adalah orang yang jatuh ke tangan penyamun; dan sesama manusianya adalah orang Samaria yang baik, yaitu diri Tuhan Yesus sendiri. Yohanes 4:9 mengatakan bahwa orang Samaria dan orang Yahudi selamanya tidak berhubungan, mereka saling tidak bertegur sapa; artinya, Tuhan adalah orang luar dari persekutuan dunia ini. Dalam Yohanes 8:48-49 orang Yahudi memaki Tuhan Yesus adalah orang Samaria, juga kerasukan setan; meskipun Tuhan Yesus tidak mengakui Dia dirasuk setan, tetapi Dia tidak menyangkal diri-Nya adalah orang Samaria. Sebab itu, kita boleh melihat dengan jelas bahwa di sini orang Samaria yang baik mengacu kepada Tuhan Yesus sendiri.
Potongan Alkitab dalam Lukas 10:25-37 dengan jelas terbagi menjadi dua bagian: ayat 25-28 adalah potongan pertama, ayat 29-37 adalah potongan kedua. Mengasihi sesama manusia sehingga mendapatkan hidup yang kekal adalah potongan pengajaran yang pertama; tetapi potongan yang kedua berbalik mengatakan, Juruselamat adalah sesama manusia, Dia terlebih dulu mengasihi orang berdosa. Sebab itu hidup yang kekal dan mengasihi sesama manusia kelihatannya bercampur aduk. Tetapi ini adalah fakta yang mulia! Di satu pihak, mengasihi Dia bisa mendapatkan hidup yang kekal; di pihak lain, Dia mengasihi kita, supaya kita mendapatkan hidup yang kekal. Dia terlebih dulu mengasihi kita, menyelamatkan kita, barulah kita bisa mengasihi Dia. Kita semua tidak bisa mengasihi Tuhan, hati yang mengasihi Tuhan adalah pemberian Tuhan. Sebab itu, yang memberi hidup yang kekal adalah Dia, yang memberi hati yang mengasihi Tuhan juga Dia. Anugerah keselamatan adalah pemberian Tuhan, syarat menerima anugerah keselamatan juga pemberian Tuhan. Manusia hanya percaya saja, hanya menerima saja. Semuanya adalah pemberian Allah, sebab itu yang bisa percaya boleh datang, yang tidak bisa percaya juga boleh datang; yang mau boleh datang, yang tidak mau juga boleh datang, karena Tuhan yang melakukan semua.
Sekarang marilah kita melihat lagi kisah dalam Lukas 7:36-48. Dalam akhir ayat 47, Tuhan berkata kepada Simon, dosanya yang banyak itu telah diampuni, sebab ia telah banyak mengasihi; tetapi orang yang sedikit diampuni, sedikit juga ia mengasihi. Dalam kalimat ini, mengampuni lebih dulu, mengasihi Tuhan di belakang. Bukan mengasihi berapa, baru diampuni berapa; melainkan mendapat pengampunan berapa, baru mengasihi berapa. Tetapi dalam ayat 48 Tuhan Yesus berkata kepada perempuan itu, "Dosamu telah diampuni." Ini berarti perempuan itu mengasihi Tuhan lebih dulu, baru diampuni. Ini mengubah hasil anugerah keselamatan menjadi syarat anugerah keselamatan. Asalnya mengampuni dosa adalah anugerah keselamatan, dan hasilnya adalah mengasihi Tuhan. Tetapi di sini Tuhan Yesus membaliknya, memberi tahu kita, kasih perempuan itu banyak, sebab itu dosanya yang sebesar apa pun mendapatkan pengampunan. Jadi, hasil dan syarat anugerah keselamatan terbaur menjadi satu, karena yang mengampuni dosa adalah Tuhan, yang membuat perempuan itu mengasihi Tuhan juga adalah Tuhan. Anugerah keselamatan adalah pemberian Tuhan, hasil dari anugerah keselamatan juga pemberian Tuhan. Di sini syarat dan hasil dari anugerah keselamatan tidak ada masalah yang mana yang di depan, yang mana yang di belakang.
Karena itu, setiap perkara dari awal sampai akhir, semuanya Allah yang melakukan, inilah Injil. Allah tidak saja di Golgota merampungkan anugerah keselamatan bagi kita, Dia juga di dalam kita merampungkan anugerah keselamatan. Anugerah keselamatan yang obyektif dan anugerah keselamatan yagn subyektif, semua dirampungkan oleh Tuhan. Lukas 8:15 mengatakan, "Yang jatuh di tanah yang baik itu ialah orang-orang yang setelah mendengar firman itu, menyimpannya dalam hati yang baik dan mengeluarkan buah dalam ketekunan." Kita tidak mempunyai hati yang baik, hati yang baik adalah pekerjaan Allah. (Pkh. 7:29). Orang berdosa harus mempunyai hati yang baik baru bisa beroleh selamat. Puji Tuhan, Dia memberi kita hati yang baik, untuk menerima anugerah keselamatan-Nya. Allah mempunyai permintaan, tetapi Dia sendiri yang datang menggenapkannya. Inilah Injil.
Yohanes 17:3 mengatakan, "Inilah hidup yang kekal, yaitu bahwa mereka mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus." Tetapi Matius 11:27 mengatakan, "Tidak seorang pun mengenal Bapa selain Anak." Sebab itu mengenal Yesus Kristus adalah petunjuk Bapa, manusia harus datang kepada Anak baru mendapatkan hayat. Hanya orang yang kepadanya Bapa berkenan menyatakan, baru mengenal Anak; hanya orang yang mengenal Anak, baru bisa datang kepada Tuhan; orang yang datang kepada Tuhan, baru bisa mendapatkan hayat. Sebenarnya, setelah mengenal Tuhan baru datang atau setelah datang baru mengenal Tuhan? Sebenarnya datang dulu kepada Tuhan baru mendapatkan hidup kekal atau mendapatkan hidup kekal dulu baru datang kepada Tuhan? Puji Tuhan, bagaimanapun boleh, ini adalah perbuatan Allah, manusia sama sekali tidak dapat membuat syaratnya; karena Allah membaurkan syarat dan hasil menjadi satu.
Dalam Yohanes 10:11 Tuhan Yesus berkata, "Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya." Domba Tuhan adalah orang yang percaya kepada-Nya, ayat 26 mengatakan, "Kamu tidak percaya, karena kamu tidak termasuk domba-domba-Ku." Artinya, kita adalah domba Tuhan, barulah percaya kepada-Nya. Orang yang percaya adalah domba Tuhan, dan Tuhan memberikan nyawa-Nya bagi mereka. Kita semua berkata, "Tuhan mati bagiku, barulah aku bisa percaya." Tetapi ayat 26 mengatakan bahwa kita tidak percaya, karena kita tidak termasuk domba-domba Tuhan. Jadi, harus percaya dulu baru menjadi domba Tuhan. Ini berkebalikan. Sepertinya setelah aku percaya Tuhan, barulah Tuhan mati bagiku. Selamanya belum pernah ada Injil yang demikian. Tetapi Tuhan benar-benar demikian. Ini memperlihatkan kepada kita bahwa Tuhan adalah Allah yang tidak terbatas oleh waktu, mana yang lebih dulu, mana yang kemudian. Tuhanlah yang melakukan "percaya", Tuhan juga yang melakukan "mati penggantian", semuanya Tuhan yang melakukan.
Dalam Kisah Para Rasul 18, Paulus berencana tinggal di Korintus untuk memberitakan Injil, malam itu Tuhan Yesus menyatakan diri kepadanya dan berkata, "Jangan takut! Teruslah memberitakan firman dan jangan diam! . . . Sebab banyak umat-Ku di kota ini" (ayat 9-10). Jadi, manusia percaya lebih dulu baru menjadi umat Allah, atau menjadi umat Allah dulu baru percaya? Di sini Anda menemukan, jika kita membawa masuk masalah waktu, akan terjadi kesulitan. Puji Tuhan, Dia melampaui waktu. Karena kita terbatas oleh waktu, sebab itu sering ada perbedaan di depan atau di belakang. Akan tetapi bagi Allah tidak ada perbedaan di belakang atau di depan, karena Dia tidak terbatas oleh waktu, maka Dia bisa mengubah syarat menjadi hasil, hasil menjadi syarat; keduanya dilakukan oleh Allah. Dari luaran kelihatan manusia yang melakukan, tetapi sebenarnya semuanya itu dikerjakan oleh anugerah Allah. Bagaimana kita bisa menerima karunia, bagaimana kita mengerjakannya, semuanya Allah yang mengerjakan. Manusia tidak bisa berbuat apa-apa.
Roma 9:23 mengatakan, kita adalah "Bejana-bejana belas kasihan-Nya yang telah dipersiapkan-Nya untuk kemuliaan." Kita terlebih dulu menjadi bejana, kemudian mendapatkan kemuliaan. Allah mempunyai kemuliaan-Nya, lalu menciptakan satu bejana, menaruh kemuliaan diri-Nya ke dalam bejana yang diciptakan. Jadi, Allah menciptakan kita menjadi bejana yang dipersiapkan untuk kemuliaan, kemudian memberi kita kemuliaan. Bukan kita sendiri yang bisa mendapatkan kemuliaan; kita bisa mendapatkan kemuliaan karena Allah yang mengerjakan, bukan kita yang mengerjakan. Haleluya! Allah telah menciptakan kita menjadi bejana yang mulia.
MENURUT APA ADANYA DATANG KEPADA YESUS
Sebab itu, siapa saja boleh menurut apa adanya datang ke hadapan Tuhan. Tuhan adalah teman orang berdosa, asal hati manusia "keluar", Allah bisa menyelamatkan dia. Meskipun manusia bisa salah berdoa, tetapi Tuhan yang mendengarkan doa selamanya tidak akan salah. Asal manusia ada sedikit hati terhadap Allah, ini sudah benar; permintaan manusia bisa salah, tetapi jawaban Allah selamanya tidak bisa salah. Apalagi hari ini Roh Kudus sudah turun, di mana saja asal ada orang berdoa, Roh Kudus akan bekerja. Tidak ada satu tempat yang tidak terjangkau oleh Roh Kudus, asal hati manusia ada sedikit celah, Roh Kudus langsung bekerja. Mungkin pengenalan manusia tidak cukup, tetapi asal bertemu dengan Tuhan, akan diselamatkan. Tidak hanya demikian, Allah telah membaurkan syarat dan hasil Injil. Manusia tidak perlu berbuat apa-apa, asal datang ke hadapan Allah, berdasarkan pekerjaan Allah, sudah bisa beroleh anugerah keselamatan.
DUA ASPEK DARI BELAJAR
Dua aspek Injil: satu aspek adalah teknik (kiat) Injil, satu aspek lagi adalah isi Injil. Kalau kita telah belajar dua aspek ini, kita sudah bisa menyelamatkan banyak orang. Ke mana saja, ketika kita bertemu dengan orang yang menuntut maju, berilah mereka kebenaran yang jelas; kalau Anda bertemu dengan orang yang mencari Injil, berikanlah Injil yang benar. Kita harus seimbang dalam dua aspek ini, demikian barulah baik.