← Daftar isi Bagaimana Memberitakan Injil (1) · bab 7/9

PERKARA YANG PERLU DIKETAHUI DAN DILAKUKAN OLEH ORANG BERDOSA YANG TELAH SADAR

Terhadap seorang berdosa yang telah sadar, Anda perlu membawa dia mengerti berapa banyak kebenaran, juga perlu menyuruh dia melakukan berapa perkara agar dia menerima anugerah keselamatan? Dalam bab ini kita akan melihat dua aspek ini.

KEBENARAN YANG PERLU DIKETAHUI

OLEH ORANG BERDOSA YANG TELAH SADAR

Karunia Allah

Kalau seorang berdosa telah sadar, pertama yang Anda lakukan adalah membawa dia mengetahui karunia Allah. Yohanes 4:10 mengatakan, "Jikalau engkau tahu tentang karunia Allah . . . niscaya engkau telah meminta kepada-Nya dan Ia telah memberikan kepadamu . . ." Apakah karunia Allah itu? Ayat 14 memberi jawabannya, yaitu air hidup yang memuaskan manusia. Ketika kita memberitakan Injil, kalau melihat ada orang telah sadar, asal mendorong sedikit lagi, dia segera bisa beroleh selamat. Kalau kita meneruskan berkhotbah kepadanya, malah tidak bisa mendorong dia ke hadapan Tuhan, ini bersalah kepada Tuhan. Misalnya, ada orang takut kepada penghukuman di kemudian hari, Anda harus segera memberi tahu dia bagaimana terhindar dari penghukuman di kemudian hari. Jika Anda memberikan Matius 11:28, memberi tahu dia bahwa semua yang letih lesu dan berbeban berat boleh datang kepada Tuhan untuk mendapatkan kelegaan, Anda telah melakukan perbuatan yang bodoh. Misalnya, ada orang merasa dunia sia-sia, Anda malah menyampaikan masalah penghukuman di kemudian hari kepadanya, ini pun perbuatan yang bodoh. Misalnya lagi, kalau ada orang berdosa merasakan terbelenggu oleh dosa, merasakan kekuatan dosa, Anda malah menceritakan kesia-siaan kepadanya, ini juga sangat bodoh.

Orang yang memberitakan Injil harus mengetahui orang berdosa memerlukan apa; dia ingin mendapatkan apa, lalu Anda harus segera memberikan keperluannya kepadanya, tidak seharusnya membiarkan dia berputar-putar. Ketika kita memberitakan Injil, bukan kita yang menentukan orang mempunyai kesulitan apa; melainkan melihat apa kesulitan riil yang ada padanya, kemudian kita boleh membereskan kesulitannya. Kalau kita, orang yang memberitakan Injil, mempunyai pandangan yang subyektif, menentukan keperluan dan kesulitan orang, itu sangat berdosa terhadap Tuhan. Kalau kita subyektif, tidak bisa menyelamatkan orang. Sebab itu dalam memberitakan Injil harus belajar tidak subyektif, harus belajar menjamah perasaan batin orang. Keadaan orang berdosa bisa dibagi menjadi dua macam, tetapi sebenarnya setiap orang tidak sama. Karena itu, apa yang perlu kita kerjakan adalah memberikan karunia Allah kepada orang, karena karunia Allah adalah keperluan orang. Anda sekali-kali jangan mendesak memberi apa yang tidak diperlukan orang kepadanya; melainkan orang sadar akan apa, merasakan perlu apa, Anda memberikan itu kepadanya.

Di pihak lain, kita harus memperhatikan, pikiran alamiah manusia selalu condong kepada hukum Taurat, selalu mengira Allah tidak bisa memberikan kepada manusia dengan cuma-cuma, manusia harus melakukan sesuatu, harus berbuat kebajikan, barulah bisa diperkenan Allah, barulah Allah mau memberi karunia. Manusia selalu mengira untuk mendapatkan apa yang dia senangi, harus membelinya dengan uang. Tetapi anugerah keselamatan Allah diberikan dengan cuma-cuma, adalah karunia. Lagi pula Tuhan bisa secara khusus memenuhi keperluan manusia, karunia yang Dia berikan selalu tepat dan bisa memuaskan keperluan manusia.

Firman Allah

Setelah orang mengenal karunia Allah, selanjutnya perlu diberi sepatah kata firman Allah. Tidak boleh karena orang percaya sedikit perkataan kita, lalu kita membiarkan dia tetap tinggal di sini. Baik di atas mimbar, maupun di bawah mimbar, kita harus menunjukkan firman Allah kepadanya. Kita harus memberi orang ayat Alkitab yang jelas. Tetapi jangan memberi terlalu banyak ayat Alkitab, asal membuka ayat Alkitab yang diperlukannya, mendorong dia untuk membaca. Anda perlu menjelaskan satu per satu, memberi tahu kepadanya, inilah karunia Allah, terus menuntut dia berulang-ulang melihatnya, supaya dia merasakan perkataan-perkatan ini benar-benar ia perlukan.

Orang berdosa tidak cukup hanya mengetahui karunia Allah, Anda harus membawa dia datang ke hadapan Allah, Anda harus membirkan dia mengetahui Allah adalah Bapa manusia. Anda boleh memakai Matius 7:11 memberi tahu dia, "Apalagi Bapamu yang di surga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya." Tentu, tidak ada yang percaya bahwa Allah adalah Bapa dari orang pada umumnya. Namun terhadap orang berdosa masih boleh berkata, "Allah adalah Bapa orang berdosa." Dari sudut pandang kita, kalau Bapa belum melahirkan aku, aku bukan anak-Nya; tetapi dipandang dari sudut kasih Allah, Allah melihat orang dunia sama seperti anak-anak-Nya, tidak peduli orang sudah beroleh selamat atau belum. Karena Allah memakai kasih Bapa, memberikan Anak-Nya yang tunggal kepada semua orang berdosa; Allah tidak sulit menjadi Bapa manusia, sebaliknya orang berdosalah yang sulit menjadi anak Bapa. (Kesulitan ini kita bicarakan di kemudian hari). Tetapi kalau kita mau meminta, Allah pasti memberikan karunia-Nya. Sebab itu, ketika kita memberitakan Injil kepada orang berdosa, boleh berkata kepada mereka, Allah mengasihi orang dunia, sama seperti bapa mengasihi anak-anaknya, hanya belum terjalin hubungan dalam hayat saja. Bagaimanapun, perumpamaan ini boleh dipakai, karena Tuhan Yesus juga memakai perumpamaan ini (Luk. 15:11-24).

Kita memberikan sepatah kata firman Allah kepada orang, supaya orang mau datang ke hadapan Allah, bersentuhan dengan Allah. Kita menyuruh orang berdosa berdoa kepada Allah adalah satu hal yang sulit. Tetapi orang yang memberitakan Injil harus membawa orang berdosa ke hadapan Allah, supaya mereka mau memohon kepada Bapa yang di surga. Kita boleh membacakan Matius 7:11 untuk mereka. Ketika orang berdosa sudah mengerti firman ini, sampai akhirnya kita yang memberitakan Injil, harus membawa orang ke hadapan Allah, supaya mereka bersentuhan dengan Allah. Anda perlu menunjukkan Matius 7:11 kepada mereka, memberi tahu mereka, tidak ada bapa yang tidak memberikan barang yang baik kepada anak. Allah sama seperti bapa yang di dunia, dengan sukarela secara cuma-cuma memberikan barang yang baik kepada kita. Kemudian kita mendoakan dia selama lima menit. Demikian lebih berguna daripada menyuruh dia mendengarkan khotbah lima menit lagi. Kita memberitakan Injil, harus berdasarkan firman Allah memberi tahu orang, Allah adalah Allah yang memberi karunia, dan Allah juga sangat rela memberikan karunia kepada orang.

Halangan oleh Dosa

Di depan kita berkata bahwa tidak ada kesulitan bagi Allah untuk menjadi bapa orang dunia, tetapi kita, orang berdosa, mempunyai kesulitan menjadi anak-anak Allah. Allah dengan sukarela memberi karunia kepada orang dunia, tetapi Allah tidak bisa langsung memberikannya, karena manusia berdosa. Dosa bisa menghalangi Allah memberi karunia kepada manusia. Kita boleh membaca Yesaya 59:1-2: "Sesungguhnya, tangan TUHAN tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaran-Nya tidak kurang tajam untuk mendengar; tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu." Baca lagi Yohanes 9:31: "Kita tahu bahwa Allah tidak mendengarkan orang-orang berdosa." Anda perlu membacakan ayat-ayat ini kepada mereka, ini adalah langkah ketiga.

Kita jangan memberitakan Injil yang membuat orang tidak berdoa sudah berjumpa dengan Allah. (Mungkin tidak pernah ada Injil semacam ini). Kita harus membawa orang datang ke hadapan Allah. Allah mau memberi karunia, Allah juga pasti memberi karunia; tetapi karena manusia berdosa, Allah tidak bisa mendengarkan doa, permohonan manusia. Inilah dari perasaan perlu datang ke perasaan berdosa. Sebab itu, memberitakan Injil sedikitnya harus membawa orang dosa melihat karunia Allah, lalu membawa dia melihat Allah itu bagaimana, kemudian membawa dia mengetahui tentang dosa. Asal Anda bisa membawa orang datang ke hadapan Allah, masalah keberadaan Allah akan beres. Ini lebih mudah daripada Anda bercerita tentang keberadaan Allah. Kemudian, Anda akan membawa dia merasakan berdosa. Setelah Anda membawa dia merasakan berdosa, kita datang pada langkah keempat.

Salib Tuhan Yesus

Langkah keempat adalah supaya orang mengenal salib Tuhan Yesus. Hanya salib yang bisa membereskan masalah orang berdosa. Anda boleh membaca Ibrani 9:27-28, 1 Petrus 2:24; 3:18, dan lain-lain. Anda bersama mereka membaca beberapa ayat ini saja sudah cukup. Anda tidak perlu terlalu banyak menyampaikan firman tentang salib, asal mereka mengetahui bagaimana Tuhan Yesus memikul dosa kita, sudahlah cukup. Asal Anda dengan sederhana memberitakan, sudah cukup. Orang yang memberitakan Injil jangan mengacaukan dirinya sendiri, jangan menjadi orang yang serba tahu, ingin menjelaskan apa saja. Anda cukup berkata sekian banyak, jangan supaya orang yang mendengar berbelok ke lain arah. Anda perlu memakai perkataan yang sederhana, juga boleh mamakai kesaksian Anda sendiri.

Tentang Tuhan Yesus tersalib bagi kita, Anda boleh memakai beberapa contoh dalam Alkitab. Pertama, Tuhan Yesus seperti bahtera, membiarkan penghukuman Allah jatuh ke atas diri-Nya, supaya kita, orang-orang yang di dalam-Nya terhindar dari hukuman Allah. Kedua, Tuhan Yesus seperti anak domba, terbunuh bagi dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan kita, mengalirkan darah adi-Nya untuk menebus dosa kita. Ketiga, Tuhan Yesus juga seperti ular tembaga, bagi kita, orang-orang dosa, tergantung di atas tiang. Kita, orang-orang dosa, asal memandang Dia, bisa beroleh selamat. Tuhan Yesus terpaku di atas salib, sama seperti kurban dalam Perjanjian Lama; Dia adalah Anak Domba Allah untuk menebus dosa kita. Kita memberitakan Injil, asal membuat orang berdosa dengan sederhana mengetahui salib Tuhan Yesus; asal dia mau percaya, dia akan beroleh selamat oleh karena menerima penebusan salib.

POKOK-POKOK DALAM MEMBERITAKAN INJIL

Empat langkah di atas adalah jalur pemberitaan Injil kepada orang berdosa yang sadar, adalah jalan yang lurus, mudah membawa orang datang ke hadapan Allah. Ini adalah kebenaran-kebenaran yang dasar, juga kebenaran yang sederhana. Kita mengharapkan supaya orang mengetahui paling sedikit kebenaran, namun, sudah bisa membawa mereka beroleh selamat. Mengapa kita perlu membawa orang mengetahui empat hal yang di atas? Karena pikiran orang berdosa sama sekali gelap, pengertian mereka bukan untuk Allah, emosi mereka tidak damba kepada Allah, dalam keputusan mereka tidak ada hati mau Allah. Sebab itu, perlu memakai empat langkah di atas untuk membawa orang mendambakan dan memutuskan mau Allah. Inilah yang disebut kait. Tujuan kita memberitakan Injil adalah supaya orang berdosa mempunyai hati yang mau.

Seorang penginjil bernama Verls berkata, "Kita harus berdoa bagi orang berdosa, percaya bagi orang berdosa, menerima bagi orang berdosa." Perkataan ini benar. Maksudnya, kita harus merasakan dosanya orang berdosa, sepertinya dosanya adalah dosa kita, seolah-olah kita bersama dengan dia berdosa kepada Tuhan, bersama-sama dengan dia tidak mengenal Tuhan; kemudian seolah-olah kita mengaku dosa bagi dia; selanjutnya seolah-olah kita bersama-sama dia percaya -- dia percaya, kita juga percaya; kita bertobat, dia juga bertobat. Dua orang seperti satu orang. Kita menolak dunia, sama seperti dia menolak dunia; kita menerima, juga menerima bagi dia; sepertinya kita di sini berdoa, percaya, menerima bersama dia. Demikian akan dengan mudah membawa orang datang ke hadapan Allah.

Orang yang memberitakan Injil, pertama, hatinya harus membara. Pemberitaan Injil yang dingin tidak bisa membawa orang beroleh selamat. Sebab itu, pemberita Injil harus terlebih dulu membakar diri sendiri, kemudian baru bisa membakar orang lain. Harus berdiri dalam keadaan seolah-olah Anda bersama-sama dia beroleh selamat, barulah dapat menyelamatkan orang lain.

Selain itu, kita harus memberitakan Injil hari ini, jangan memberitakan Injil dua ribu tahun yang lalu. Injil Allah sama seperti manna, harus setiap hari segar, lincah, baru benar.

Ketiga, kita juga menggiling diri kita sampai halus, sehingga cukup halus menjamah perasaan orang lain; kita harus mempunyai perasaan yang sama dengan orang berdosa, kita harus memikul orang berdosa hingga beroleh selamat. Meskipun perkataan kita harus ada kaitnya, tetapi kita sendiri juga perlu sebagai kait. Kita harus mempunyai satu kekuatan yang ajaib, bisa menyalurkan "listrik". Kita harus tersambung dengan listrik, dan menyambungkan diri kita ke atas diri orang berdosa, menyalurkan listrik ke atas diri orang berdosa. Kita harus tersambung dengan listrik, bisa membuka saklar, bisa menutup saklar. Kita harus mengorbankan jiwa kita, baru bisa menyelamatkan orang. Paulus mengorbankan segalanya untuk Injil, dia suka mengorbankan miliknya, bahkan mengorbankan dirinya untuk orang (2 Kor. 12:15). Dia mengorbankan dirinya, dia tidak hanya berkhotbah saja. Paulus adalah teladan kita yang baik.

PERKARA YANG PERLU DILAKUKAN

OLEH ORANG BERDOSA YANG TELAH SADAR

Kita memberitakan Injil sampai taraf ini, orang berdosa mulai bertanya, mereka harus berbuat apa baru bisa beroleh selamat? Ini juga ada empat hal.

Mengaku Dosa

Hal pertama, kita harus menganjuri orang yang sudah sadar untuk mengaku dosa. Kita boleh membaca 1 Yohanes 1:9, "Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan." Meskipun ayat Alkitab ini ditujukan kepada orang Kristen, tetapi pada prinsipnya, asal seorang mengaku dosa kepada Allah, pasti bisa mendapatkan pengampunan Allah. Di sini kita harus memperhatikan apa yang disebut mengaku dosa. Arti mengaku dosa adalah berdiri di pihak Allah, mengakui dosa adalah dosa. Banyak orang hanya memohon pengampunan tetapi tidak mengaku dosa. Misalnya, ada orang hanya berkata kepada Allah, "Aku sombong, iri hati, berzina, membenci orang, . . ." lalu memohon pengampunan Allah; tetapi dia tidak mengakui dosa-dosa ini adalah dosa. Sebenarnya orang berdosa asal mengaku dosa adalah dosa, Allah akan mengampuninya. Mengaku dosa kepada Allah adalah mengaku kepada Allah bahwa dosa itu adalah dosa. Kita membawa orang berdosa tidak saja mohon pengampunan, tetapi juga mengakui dosa adalah dosa.

Manusia berdosa, melakukan beberapa dosa tertentu, bukan melakukan banyak dosa secara umum. Sebab itu mengaku dosa juga harus mengakui beberapa dosa tertentu. Mengaku dosa bukan secara umum, tetapi secara khusus mengaku dosa. Kita tidak berkata kepada Allah, "Aku sombong, aku iri hati, mohon Allah mengampuni aku." Tetapi harus mengaku kepada Allah, "Aku sombong adalah dosa, aku iri hati adalah dosa." Kalau kita dengan demikian mengaku dosa, Allah itu setia dan adil, pasti mengampuni dosa kita.

Kita, orang yang memberitakan Injil, yang paling dikhawatirkan adalah setelah mengundang orang berdosa menghadiri perjamuan, namun tidak membawa dia bertemu dengan "Tuan" rumahnya. Kita bukan membuat orang lain memuji khotbah kita baik, tetapi akan membawa orang datang ke hadapan Allah agar bertemu dengan-Nya. Kalau tidak bisa melakukan ini, semuanya adalah doktrin. Memberitakan Injil harus membawa orang ke hadapan Tuhan, supaya dia bertemu dengan Allah. Setelah dia mengerti empat butir yang perlu dia ketahui yang disebut di depan, harus membawa dia berlutut berdoa di depan Allah. Begitu orang mengaku dosa, berarti dia berdiri di pihak Allah, bersama menghakimi dosa sebagai dosa. Kalau dia tidak mengaku dosa, berarti dia masih tetap berdiri di pihak dosa. Kita harus membuat lutut orang yang keras menjadi lunak, membuat dia berlutut berdoa. Kita harus membawa dia mengaku dosa dan memohon pengampunan, bukan hanya memohon pengampunan saja. Pengakuan dosa yang demikian mempunyai kebaikan yang besar sekali, sehingga tidak akan lupa dalam seumur hidupnya. Begitu memohon, ia pasti tidak akan lari lagi, Allah juga telah menerimanya.

Membaca Firman Allah

Setelah mengaku dosa, perlu memberinya sepatah dua patah firman Allah, supaya dia berdiri teguh dalam anugerah keselamatan. Kalau hati seorang tidak percaya, doanya tidak berguna, pengakuan dosanya juga percuma. Tubuh orang berdosa tidak ada hubungan dengan keselamatan dan kelahiran kembali orang itu, rohnya mati, pengertiannya gelap, emosinya tidak ada kedambaan, ketetapan tekadnya juga menentang Allah. Jika demikian, bagaimana dia bisa percaya? Perlu dari luar memasukkan lebih dulu sesuatu ke dalamnya. Anda memasukkan sesuatu ke dalamnya, setelah dimasukkan tidak bisa keluar lagi; sesuatu ini adalah firman Allah. Hanya firman Allah yang berkhasiat, doktrin tidak cukup, perkataan secara umum juga kurang, perkataan yang biasa juga tidak memadai, hanya firman Allah yang bisa, hanya firman Allah yang bisa bekerja di dalam orang. Sebab itu, langkah kedua adalah membawa orang berdosa yang sadar membaca firman Allah. Anda harus membimbingnya membaca berulang-ulang, supaya firman Allah masuk ke dalamnya. Itulah sebabnya Surat Roma mengatakan bahwa berseru berasal dari percaya, percaya berasal dari mendengarkan firman, mendengarkan firman berasal dari firman Kristus (10:14, 17). Surat Yakobus 1:21 mengatakan bahwa firman Allah yang tertanam di dalam orang, bisa menyelamatkan jiwa orang. Dua Petrus 1:4 mengatakan bahwa manusia bersandarkan janji yang Allah berikan dalam firman-Nya, baru bisa berbagian dengan sifat Allah. Kisah Para Rasul 2:41 mengatakan bahwa pada hari raya Pentakosta, orang beroleh selamat karena menerima firman Alah yang diberitakan oleh Petrus.

Semua pekerjaan Allah adalah melalui firman-Nya. Sebab itu, begitu orang menerima firman Allah, berarti menerima pekerjaan Allah. Isi firman Allah adalah pekerjaan Allah. Orang tidak bisa langsung menjamah pekerjaan Allah, melainkan langsung menjamah firman Allah, kemudian melalui ini menjamah pekerjaan Allah. Sebab itu, orang yang memberitakan Injil harus menghafalkan banyak firman yang berkaitan dengan anugerah keselamatan Allah. Ketika kita memberitakan Injil, harus membacakan satu per satu firman Allah kepada mereka, sampai mereka jelas, sehingga mereka bisa terus mengingatnya.

Kita harus menyuruh orang bersandar kepada firman Allah, mendapatkan kelegaan di atas firman Allah, sehingga setelah mereka beroleh selamat, bisa mengambil firman Allah seperti bantal untuk meletakkan kepalanya di atasnya.

Hati Percaya

Orang yang telah mengaku dosa, juga telah membaca firman Allah, kemudian hatinya akan percaya. Apa perbedaan mengaku dosa dengan percaya? Mengaku dosa adalah suatu tindakan, setelah mengaku dosa perlu ada firman Allah; sedangkan percaya adalah percaya Allah menurut firman-Nya telah melakukan apa yang dikatakan-Nya. Misalnya, kita memakai 1 Yohanes 1:9. Orang dosa lebih dulu mengaku dosa, ini adalah tindakan; percaya berarti orang berdosa percaya: Allah menurut apa yang Dia ucapkan, memakai darah Anak-Nya mengampuni dosa kita, mencuci bersih segala kejahatan kita. Demikian sudahlah beres. Sebab itu percaya bukan menunggu, melainkan terhadap firman Allah mempunyai satu iman yang hidup. Iman yang hidup dibereskan pada saat itu juga, pengetahuan tentang bukti keselamatan dibereskan kemudian hari. Firman Allah berkata, "Siapa yang percaya beroleh hidup yang kekal"; kita percaya, segera mendapatkan hidup yang kekal. Iman yang kita katakan di sini bukan hanya percaya kepada pekerjaan yang Tuhan lakukan, tetapi juga percaya firman Allah adalah fakta yang telah digenapkan. Begitu saya percaya, segera mendapatkan fakta ini. Inilah langkah pertama, kita harus mendorong orang segera membereskan masalah ini, supaya dia mengetahui dia sekarang sudah mendapatkan.

Mulut Mengaku

Langkah terakhir adalah dengan mulut mengaku. Menguji seseorang percaya atau tidak, jalan yang paling baik adalah menyuruh dia secara terbuka mengakui Tuhan. Kita boleh mengundang dia membaca Roma 10:9-10, 13 mengatakan, "Sebab jika engkau mengaku dengan mulutmu bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka engkau akan diselamatkan. Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan . . . Sebab, 'Siapa saja yang berseru kepada nama Tuhan, akan (pasti) diselamatkan.'" Banyak orang yang keselamatannya tidak kuat, karena tidak dengan mulut mengaku; begitu mengaku, keselamatannya akan kukuh. Sama seperti semen, asal disiram dengan air, segera mengeras, menjadi kuat. Jadi, setelah seseorang percaya, harus memberi dia satu kesempatan supaya dia segera mengaku dengan mulut. Banyak orang asalnya tidak jelas tentang anugerah keselamatan, namun karena membuka mulut mengaku Tuhan, segera menjadi jelas.

Yang kita bahas di atas adalah empat hal yang harus dilakukan oleh orang yang telah sadar. Orang berdosa asal percaya firman Allah, membuka mulut mengaku, rohnya akan dihidupkan, Allah akan menaruh Roh-Nya ke dalam roh orang yang percaya kepada-Nya. Orang dosa mempunyai tindakan iman, Allah memberi dia satu hati yang baru; hasil dari kepercayaannya ialah Allah memberi dia satu hayat yang baru. Dengan demikian dia beroleh selamat, dilahirkan kembali.

Kita perlu mengeluarkan banyak tenaga dan waktu untuk mempelajari hal-hal ini. Orang yang ceroboh dalam memberitakan Injil pasti tidak bisa menyelamatkan orang dengan baik. Kita harus dengan teliti mempelajari hal-hal ini, jangan berbicara seenaknya, jangan seenaknya memakai ayat-ayat Alkitab. Kita harus berhati-hati melakukan setiap langkah ini. Kita memberitakan Injil tidak saja akan menyelamatkan orang, juga akan memberitakan Injil yang bermutu tinggi. Semoga kita mau belajar dengan baik.