TANYA JAWAB TENTANG INJIL
Tanya: Ketika kita bertemu dengan orang yang sulit beroleh selamat, harus bagaimana? Injil di atas mimbar dengan Injil di bawah mimbar, adakah jalur yang berbeda?
Jawab: Dalam pemberitaan Injil, yang paling penting adalah belajar bekerja sama dengan Roh Kudus. Bagaimana Roh Kudus bekerja, kita harus mengikuti pergerakan Roh Kudus, jangan berlawanan dengan Roh Kudus, ini adalah perkara yang paling penting. Lagi pula, menyelamatkan orang bukan hanya menyelamatkan orang yang mudah beroleh selamat, tetapi juga menyelamatkan orang yang sulit beroleh selamat, karena Anda akan mendapatkan banyak pelajaran dari hal ini. Kalau Anda bisa menyelamatkan seorang yang sulit beroleh selamat, berangsur-angsur Anda bisa menyelamatkan orang yang sulit beroleh selamat yang lainnya.
Memberitakan Injil di bawah mimbar sama dengan memberitakan Injil di atas mimbar. Hanya ada satu hal yang sangat penting, yaitu harus membawa orang berdosa ke hadapan Tuhan, harus membawa dia berlutut berdoa; begitu dia berdoa, bisa segera dibawa ke hadapan Tuhan.
Tanya: Ketika memberitakan Injil, bolehkah hanya memakai salah satu jalur dari lima jalur yang pertama?
Jawab: Jalur memberitakan Injil asalnya ada enam, jalur yang keenam adalah "iman yang hidup", adalah pelengkap dari lima jalur yang di depan. Anda boleh memakai lima jalur yang di depan, tetapi akhirnya Anda boleh berkata, Tuhan adalah sahabat orang berdosa, Anda boleh menurut apa adanya Anda datang kepada-Nya. Yang bisa percaya, boleh datang; yang tidak bisa percaya, juga boleh datang. Yang bisa bertobat boleh datang, yang tidak bisa bertobat juga boleh datang. Karena Tuhan adalah sahabat orang berdosa, bagaimanapun keadaan Anda, boleh datang memohon pertolongan Tuhan. Orang berdosa asal dengan iman menjamah Tuhan, Tuhan akan memberi karunia. Asal Tuhan mau memberi karunia, orang pasti bisa beroleh selamat.
Allah Memberi Karunia
Kepada Orang Yang Rendah Hati
"Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati."
I Petrus 5:5b
"Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri."
Efesus 2:8,9.
Dalam I Petrus 5:5 jelas sekali dikatakan kepada kita, "Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati". Ini berarti, terhadap orang yang sombong, Allah akan menentangnya; terhadap orang yang rendah hati, Allah akan memberi karunia kepadanya. Teman, jika Anda pada hari ini ingin mendapatkan karunia Allah, Anda harus memiliki satu sikap yang mendasar, yaitu rendah hati. Sebab hanya orang yang rendah hati yang bersyarat menerima karunia Allah.
Efesus 2:8-9 menunjukkan kepada kita, bahwa beroleh selamat itu berdasarkan kasih karunia Allah, itu adalah pemberian Allah; bukan dari diri kita sendiri, atau dari perbuatan kita, melainkan mutlak perbuatan Allah. Teman, mungkin Anda bertanya, "Apakah beroleh selamat itu?" Beroleh selamat berarti semua dosa Anda telah diampuni oleh Allah, masalah kedosaan Anda telah terselesaikan. Beroleh selamat berarti roh-jiwa Anda tidak masuk ke dalam neraka, tetapi naik ke sorga. Beroleh selamat pun berarti memperoleh kehidupan (Hayat) Allah, yakni hidup yang kekal selama-lamanya.
Teman, kami memberitakan Injil kepada Anda bukan bermaksud agar Anda mengerti sedikit ajaran dan tatacara agama Kristen, atau mengharap Anda menjadi anggota gereja Kristen, melainkan bermaksud menyelesaikan masalah keselamatan jiwa Anda. Teman, apakah Anda sudah beroleh selamat? Apakah dosa Anda telah diampuni Allah? Apakah persoalan roh-jiwa Anda sudah terjawab? Apakah Anda sudah memiliki hidup yang kekal? Oh, ini adalah persoalan yang sangat serius! Jika Anda masih belum beroleh selamat, maafkan kami disini akan mengajak Anda untuk memperhatikan masalah kesudahan Anda, yaitu yang menyangkut hidup atau binasa kekal itu. Jangan sekali-kali Anda mengabaikannya!
Sebenarnya, jika Anda mau membereskan masalah keselamatan jiwa Anda, itu sederhana dan mudah sekali. Saat ini juga Anda dapat menyelesaikannya. Firman Allah memberitahu kita, bahwa perkara beroleh selamat itu mutlak adalah karunia Allah, itu dilakukan oleh Allah sendiri. Allah mengasihi manusia, sebab itu, sekitar dua ribu tahun yang lalu, Ia telah mengutus AnakNya yang tunggal, Yesus Kristus, datang ke dunia, untuk menggantikan kita menerima hukuman dosa di kayu salib. Asalkan Anda mau menerima Tuhan Yesus menjadi Juruselamat Anda, Anda pasti beroleh selamat; karena kita beroleh selamat berdasarkan kasih karunia. Jadi, kasih karunia tak lain adalah Anak Allah, Yesus Kristus. Sebenarnya Anda harus dihukum, harus mati dan binasa kekal, tetapi sekarang Tuhan Yesus datang menggantikan Anda mati, menggantikan Anda menanggung hukuman dosa. Asal Anda percaya kepadaNya, Anda tidak akan binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.
Teman, kalau beroleh selamat adalah berasal dari karunia Allah, adalah pemberian Allah dan pekerjaan Allah, maka jika Anda ingin beroleh selamat, Anda wajib bersikap rendah hati di hadapan Allah, yaitu mohon Tuhan menyelamatkan Anda. Beroleh selamat bukan berarti Anda menyelamatkan diri Anda sendiri, juga bukan menyuruh Anda memperbaiki diri Anda, melainkan Allah datang menyelamatkan Anda; karunia Allah sebagai air hidup mengalir ke atas diri Anda. Karena itu, Anda harus rendah hati di hadapan Allah. Keadaan rendah hati itulah yang memungkinkan air karunia Allah itu mengalir ke atas diri Anda. Oh, teman, Tuhan Yesus sudah mati bagi dosa Anda, darahNya sudah tercurah bagi Anda, bahkan Dia sudah bangkit dari kematian. Allah telah menyediakan karunia keselamatan yang demikian besar, sekarang hanya menunggu Anda datang menerimanya.
Mengapa hari ini masih ada orang belum beroleh selamat? Mengapa hari ini masih banyak orang yang tidak mendapatkan karunia Allah ini? Tak lain karena "Allah menentang orang yang congkak". Bukan Allah tidak mau memberikan, melainkan karena manusianya yang sombong. Teman, dengan jujur kami katakan pada Anda, kami telah bertahun-tahun lamanya memberitakan Injil keselamatan ini, tetapi kami tidak pernah melihat orang yang sombong di hadapan Allah bisa menerima karunia keselamatan ini! Orang yang sombong selalu tidak mau mengakui bahwa dirinya memerlukan keselamatan; orang yang sombong tidak mau mengakui bahwa dirinya adalah orang dosa. Oh, orang yang sombong di hadapan Allah, adalah orang yang ditentang Allah. Hanya orang yang rendah hati yang bisa memperoleh karunia keselamatan. Allah memberi kasih karunia kepada orang yang rendah hati.
Sekarang mari kita melihat beberapa perumpamaan dari dalam Alkitab yang menunjukkan orang yang bagaimana yang ditentang oleh Allah, sehingga tidak bisa menerima kasih karunia Allah.
1. Orang yang Merasa Puas Diri
Contoh pertama adalah yang dikisahkan oleh Tuhan Yesus di dalam Injil Lukas 14:16-24. Mari kita baca bersama: "Ada seorang mengadakan perjamuan besar dan ia mengundang banyak orang. Menjelang perjamuan itu dimulai, ia menyuruh hambanya mengatakan kepada para undangan: Marilah, sebab segala sesuatu telah siap. Tetapi mereka bersama-sama menolak (meminta maaf). Yang pertama berkata kepadanya: Aku telah membeli ladang dan aku harus pergi melihatnya; aku minta dimaafkan. Yang lain berkata: Aku telah membeli lima pasang lembu kebiri dan aku harus pergi mencobanya; aku minta dimaafkan. Yang lain lagi berkata: Aku baru kawin dan karena itu aku tidak dapat datang. Maka kembalilah hamba itu dan menyampaikan semuanya itu kepada tuannya. Lalu murkalah tuan rumah itu dan berkata kepada hambanya itu: Pergilah dengan segera ke segala jalan dan lorong kota dan bawalah ke mari orang-orang miskin dan orang-orang cacat dan orang-orang buta dan orang-orang lumpuh. Kemudian hamba itu melaporkan: Tuan, apa yang tuan perintahkan itu sudah dilaksanakan, tetapi sekalipun demikian masih ada tempat. Lalu kata tuan itu kepada hambanya: Pergilah ke semua jalan dan lintasan dan paksalah orang-orang, yang ada di situ, masuk, karena rumahku harus penuh. Sebab Aku berkata kepadamu: Tidak ada seorang pun dari orang-orang yang telah diundang itu akan menikmati jamuanKu."
Di sini, Tuhan mengibaratkan karunia Allah (yaitu Injil keselamatan yang kami beritakan) sebagai suatu perjamuan yang besar. Perjamuan besar telah disediakan. Menjelang perjamuan itu dimulai, tuan rumah menyuruh hamba-hambanya berkata kepada orang-orang yang telah diundang, "Marilah, sebab segala sesuatu sudah siap." Kami yang memberitakan Injil, adalah hamba-hamba yang disuruh Allah untuk mengundang orang. Anda adalah orang yang diundang oleh tuan itu, yaitu Allah sendiri. Perjamuan sudah disediakan; segala sesuatu sudah disiapkan oleh tuan rumah (Allah) -- tuan rumah telah mengeluarkan harta dan tenaga, pokoknya segalanya telah diatur beres olehnya. Para undangan tidak perlu melakukan apa-apa lagi, tidak perlu membayar apapun; mereka tinggal datang dan makan saja. Anda diundang menghadiri perjamuan ini, tak lain agar Anda dipuaskan, agar Anda memperoleh sukacita.
Teman yang kekasih, perjamuan Injil Allah sudah disediakan -- Tuhan Yesus sudah mati tersalib untuk Anda; darahNya telah mengalir untuk membasuh dosa Anda, -- ya, segala sesuatu telah siap; sekarang hanya menunggu kedatangan Anda belaka. Jika Anda mau datang makan perjamuanNya ini, tidak saja pikulan dosa, duka dan kesusahan Anda akan terlepas, bahkan ketika Anda pulang, Anda pasti memiliki rasa damai, puas dan sukacita. Tuhan Yesus mau membereskan persoalan dosa Anda, Dia mau memuaskan hati Anda; asal Anda mau datang dan menerima.
Tetapi apa yang terjadi sangatlah megecewakan tuan rumah itu, sebab orang-orang yang telah diundang itu semuanya dengan senada menolak. Orang yang pertama berkata: "Aku telah membeli ladang, dan aku harus pergi melihatnya." Orang yang kedua berkata: "Aku telah membeli lembu lima pasang, aku harus pergi mencobanya." Orang yang ketiga berkata, "Aku baru kawin, sebab itu aku tidak dapat datang." Mereka menganggap perjamuan besar itu tidak ada sangkut-pautnya dengan diri mereka. Mereka merasa, asal ada tanah, lembu, istri, sudahlah cukup. Mereka sudah merasa puas dengan barang-barang itu. Mereka tidak menyadari keperluan roh-sukma mereka. Mereka tidak menghargai keselamatan yang Allah sediakan. Oh, mereka merasa puas diri! Alhasil, tidak seorang pun dari mereka yang dapat menikmati perjamuan besar itu. Sebaliknya, orang-orang yang miskin, cacat, buta, timpang dan orang-orang yang di lorong-lorong dan lintasan jalan, justru telah memenuhi ruangan perjamuan besar itu. Betapa berbahagianya mereka.
Teman yang kekasih, Mengapa orang-orang itu dapat menikmati perjamuan besar itu? Mengapa orang-orang itu bisa mendapatkan karunia Allah? Tak lain karena mereka merasa bahwa diri mereka tidak memiliki sesuatu apapun; mereka memerlukan seorang Juruselamat, yaitu Tuhan Yesus yang telah mengucurkan darah di kayu salib baginya. Teman, apakah hari ini Anda merasa puas diri dan tidak mau menerima karunia keselamatan Allah? Atau Anda dengan rendah hati mengaku bahwa Anda adalah orang yang tidak memiliki apa-apa, dan mau menerima Tuhan Yesus menjadi Juruselamat Anda? Teman, dengarlah sekali lagi, "Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati."
2. Orang yang Membenarkan Diri Sendiri
Mari kita baca Injil Lukas 18:9-14, "Dan kepada beberapa orang yang menganggap dirinya benar dan memandang rendah semua orang lain, Yesus mengatakan perumpamaan ini: Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai. Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepadamu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku. Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini. Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan."
Teman, lihatlah, betapa sombongnya orang Farisi itu. Ia mengira dirinya adalah orang benar. Ia meremehkan orang lain, memandang rendah orang lain. Dia berkata, "Aku tidak sama seperti orang lain." Seolah-olah di dunia ini dirinyalah yang paling benar dan paling baik, tak seorang pun dapat melebihinya. Katanya pula, "Aku berpuasa dua kali seminggu dan aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku." Orang ini bukan mohon keselamatan di hadapan Allah, melainkan memegahkan diri sendiri. Ia bukan berdoa kepada Allah, melainkan melaporkan jasa. Ia merasa dirinya cukup benar. Teman, lihatlah, dapatkah karunia Allah diperoleh orang sedemikian? Pasti tidak! Mengapa? Karena ia menganggap dirinya benar; ia sama sekali tidak memerlukan karunia Allah. Dengan demikian, ia menjadi orang yang ditentang Allah.
Kita lihat orang yang lain, yaitu si pemungut cukai. Orang ini begitu datang sudah mengakui bahwa dirinya berdosa. Dia berdoa, "Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini." Pemungut cukai ini dihina oleh orang Farisi tadi, namun Tuhan berkata, "Orang ini (pemungut cukai) pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak." Ini berarti si pemungut cukai telah beroleh selamat. Mengapa ia dapat beroleh selamat? Sebab ia memiliki sikap yang bisa dikaruniai Allah. Orang ini "Berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit." Ia menyadari dirinya adalah seorang berdosa, berdosa besar, sehingga ia tidak layak datang ke hadapan Allah. Ia merasa berhutang kepada Allah, maka ia hanya menundukkan kepala dan memukul-mukul dadanya, "Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini." Ia menyesali segala dosanya dan ia berduka atas segala kesalahannya.
Teman yang kekasih, pernahkah Anda sekali saja mengucurkan air mata karena dosa Anda? Anda sudah beberapa kali mendengar Injil, mengapa masih tidak mau merendahkan hati di hadapan Allah? Mengapa Anda masih tidak mau menundukkan kepala di hadapan Allah, memukul dada serta bersedih hati di hadapan Allah atas segala dosa Anda? Oh, temanku, betapa kami mengharapkan sekarang juga Anda mau berdoa seperti pemungut cukai itu, "Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini!"
Banyak orang mau mengakui "semua orang adalah orang berdosa," tetapi tidak mau mengakui "aku adalah orang berdosa". Pengakuan "Aku adalah orang berdosa" ini memang tidak menyenangkan pula memalukan. Tetapi teman, jika Anda ingin memperoleh karunia keselamatan, Anda harus berdiri di atas kedudukan orang berdosa, kemudian barulah Anda dapat menerima karunia Tuhan.
Pemungut cukai itu telah diselamatkan Allah, karena ia dengan rendah hati menerima keselamatan itu. Orang Farisi itu justru ditolak Allah, karena ia membenarkan diri sendiri. Celakalah orang yang membenarkan dirinya sendiri di hadapan Allah! Celakalah orang yang sombong di hadapan Allah! Teman, camkanlah perkataan ini: "Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati."
3. Orang yang Merasa Dirinya Mampu
Injil Lukas 18:18-27 mengatakan, "Ada seorang pemimpin bertanya kepada Yesus, katanya: Guru yang baik, apa yang harus aku perbuat untuk memperoleh hidup yang kekal? Jawab Yesus: Mengapa kau katakan Aku baik? Tak seorang pun yang baik selain Allah saja. Engkau tentu mengetahui segala perintah Allah: Jangan berzinah, jangan membunuh, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, hormatilah ayahmu dan ibumu. Kata orang itu: Semuanya itu telah kuturuti sejak masa mudaku. Mendengar itu Yesus berkata kepadanya: Masih tinggal satu hal lagi yang harus kau lakukan: juallah segala yang kau miliki dan bagi-bagikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah kemari dan ikutlah Aku. Ketika orang itu mendengar perkataan itu, ia menjadi amat sedih, sebab ia sangat kaya. Lalu Yesus memandang dia dan berkata: Alangkah sukarnya orang yang beruang masuk ke dalam Kerajaan Allah. Sebab lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum daripada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah. Dan mereka yang mendengar itu berkata: Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan? Kata Yesus: Apa yang tidak mungkin bagi manusia, mungkin bagi Allah."
Orang muda ini adalah seorang pemimpin, juga kaya. Dia memiliki satu keperluan, yaitu ingin membereskan masalah hidup yang kekal. Ia menyadari, suatu hari nanti, ia akan meninggal; sedangkan kedudukan dan hartanya tidak bisa menolong dia menghindarkan diri dari kematian itu. Untuk masalah hidup kekal inilah ia datang mencari Tuhan Yesus. Ia berkata kepada Tuhan, "Guru yang baik, apa yang harus aku perbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?" Pertanyaan ini menyingkapkan bahwa pemuda ini ingin berusaha sendiri; ia mengira dirinya mampu melakukan sesuatu, hanya saja ia tidak tahu harus bagaimana melakukan baru bisa mendapatkan hidup yang kekal. Pemuda itu telah melakukan banyak, seperti tidak berzinah, tidak membunuh, tidak mencuri, tidak bersaksi dusta dan menghormati ibu bapa. Semua itu sudah dilakukannya, bahkan sejak ia masih kecil. Tetapi tentang hidup yang kekal, masih belum terselesaikan. Sebab itu, ia datang kepada Tuhan dan bertanya harus melakukan apa lagi. Tuhan Yesus menjawab, "Masih tinggal satu hal lagi yang harus kaulakukan: juallah segala yang kau miliki dan bagi-bagikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah kemari dan ikutlah Aku." Ternyata, hal ini tidak dapat dilakukan pemuda itu. Akhirnya ia pergi dengan dukacita. Selanjutnya Tuhan mengatakan, "Lebih mudah seekor unta masuk ke dalam lobang jarum daripada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah." Orang-orang yang mendengar perkataan Tuhan ini bertanya, "Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?" Jawab Yesus, "Apa yang tidak mungkin bagi manusia, mungkin bagi Allah."
Teman, beroleh selamat itu bersandar pada karunia Allah, yaitu Allah yang melakukan. Manusia tidak dapat, selamanya tidak dapat! Bagaimanapun kita melakukannya, bahkan sejak kecil sampai tua, Tuhan tetap akan berkata, "Masih tinggal satu hal lagi yang harus kaulakukan." Oh, hidup yang kekal adalah pemberian Allah, yakni diberikan kepada kita dengan cuma-cuma oleh Allah (Roma 6:23). Supaya barangsiapa yang percaya kepadaNya, mendapatkan hidup yang kekal (Yohanes 3:16). Berdasarkan diri sendiri, kita sama sekali tidak mampu mendapatkan hidup yang kekal. Pemuda itu ingin mendapatkan hidup yang kekal. Maksud ini memang baik, tetapi sayang, ia salah jalan.
Tuhan berkata kepadanya, "Masih tinggal satu hal lagi . . ." Ini bukan berarti Tuhan benar-benar menyuruhnya melakukan perkara itu, melainkan untuk menunjukkan ketidak-mampuannya. Maksud Tuhan agar ia nampak, bahwa berdasarkan diri sendiri, ia tidak dapat melakukan apa-apa, juga tidak mungkin melakukan dengan sempurna; bagaimanapun ia melakukan, di hadapan Allah tetap masih kurang satu hal. Tuhan menghendaki orang itu mau merendahkan diri, menyadari ketidak-mampuannya mendapatkan hidup yang kekal, pula menyadari bahwa hidup yang kekal melulu adalah pekerjaan Allah, hanya Allah yang bisa memberinya karunia keselamatan. Jika orang itu mau merendahkan diri, mengakui ketidak-mampuannya dan mohon Tuhan menyelamatkannya, ia pasti beroleh hidup yang kekal. Tetapi kasihan sekali, ia malah pergi dengan amat sedihnya!
Teman-teman yang kekasih, orang yang merasa puas diri tidak bisa beroleh selamat, orang yang membenarkan diri sendiri tidak bisa beroleh selamat, dan orang yang merasa mampu juga tidak bisa beroleh selamat. Pendek kata, semua orang yang sombong di hadapan Allah, tidak mungkin beroleh selamat. Hanya orang yang rendah hati, barulah akan dikaruniai oleh Allah. Teman, semoga Anda mau merendahkan diri di hadapan Allah, mengakui diri Anda sebagai orang yang tidak mampu, mengakui diri penuh dengan dosa, lemah dan tak berdaya melakukan apa-apa. Begitu Anda menerima Tuhan Yesus sebagai Juruselamat Anda, sekarang juga Anda beroleh selamat. Ingatlah, "Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati."
Teman, semoga Anda adalah salah seorang yang bisa mendapatkan kasih karunia Allah.
ALLAH MAU
Pembacaan Alkitab: Yohanes 3:16
"Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal."
Ada satu perkara yang sangat tidak disenangi oleh manusia di dunia ini, yaitu "disalah-pahami" orang. Jelas bermaksud baik, namun disangka bermaksud jahat; jelas melakukan dengan kasih, namun disangka berniat buruk. Di dunia ini, banyak perkara yang tidak disenangi oleh manusia; dan disalah-pahami adalah salah satu dari hal-hal yang paling tidak disenangi oleh manusia. Teman, ijinkan saya berkata, "Di seluruh dunia ini, yang paling disalah-pahami manusia ialah Allah!" Kalau orang lain salah paham, sehingga menaruh syak terhadap kita, itu suatu perkara biasa. Tetapi kalau manusia salah paham, sehingga menaruh syak terhadap Allah, itu suatu perkara yang sangat serius. Kita disalah-pahami, paling banyak hanya oleh beberapa orang atau sekelompok orang; ini masih boleh dikatakan perkara kecil. Tetapi Allah telah disalah-pahami oleh umat manusia, ini benar-benar satu perkara yang amat serius!
Allah yang sebetulnya bermaksud baik dan pengasih terhadap manusia, telah disalah-pahami dan tidak disukai oleh manusia. Mereka malah menganggap Allah bermaksud jahat dan kejam. Inilah satu-satunya kesalah-pahaman terbesar yang ada pada umat manusia terhadap Allah.
Sebelum kita percaya Tuhan, begitu mendengar kata "Allah", segera kita merasa tidak senang. Kita merasa akan dirugikan bila kita mau bergaul dengan Allah. Sama halnya dengan kisah yang pernah saya baca dalam suatu surat kabar. Seorang pemuda bertemu dengan seorang pendeta. Begitu berhadapan muka, pemuda itu segera berkeluh-kesah, "Wah, celaka! Celaka!" Sambil berkata demikian, air matanya pun mengalir deras. Pendeta itu segera bertanya, "Apa yang telah terjadi?" Dengan bercucuran air mata, ia menjawab, "Wah, celaka! Celaka!" Setelah pendeta itu mengulangi pertanyaannya, barulah pemuda itu mengeluarkan sepucuk surat dari dalam sakunya, sambil berkata, "Ini surat dari pengacara." Pendeta itu bertanya, "Sudahkah kamu baca surat ini?" Dia menjawab, "Belum! Aku tak berani membacanya! Isinya pasti hal-hal yang tidak baik. Surat pengacara selalu membawa berita buruk." Pendeta itu berkata, "Cobalah baca lebih dulu, apa sebenarnya maksud surat itu." Dia menjawab, "Tidak! Bagaimanapun aku tidak mau membacanya. Aku sangat benci menerima surat dari pengacara. Isinya pasti kabar yang tidak baik." Kemudian pendeta itu berkata, "Bolehkah saya membaca surat ini untukmu?" "Boleh," jawabnya. Sambil membuka sampul surat itu, pendeta itu bertanya lagi, "Benarkah surat ini belum kaubuka?" "Sungguh, belum," jawabnya lagi. Setelah selesai membaca surat itu, pendeta itu berkata, "Surat ini memberitahukan kepadamu, bahwa salah seorang saudaramu telah meninggal dunia, dan dari harta peninggalannya, ada sebagian yang diwariskan kepadamu. Sekarang orang yang mengurus perkara ini berada di suatu tempat, dan kamu boleh ke tempat itu untuk mengambil harta warisan bagianmu sebesar dua puluh ribu dollar."
Teman-teman sekalian, ketahuilah, sikap kita terhadap Allah sama seperti sikap pemuda itu. Begitu kita mendengar kata "Allah", hati kita segera merasa tidak senang dan merasa kurang enak. Seolah-olah berhubungan dengan Allah itu adalah perkara yang tidak menyenangkan, dan seolah-olah Allah selalu mempunyai maksud tidak baik terhadap manusia.
Manusia dapat dibagi menjadi dua golongan. Golongan pertama ialah orang-orang yang telah mendengar tentang Allah dan telah percaya Tuhan Yesus. Golongan kedua ialah orang-orang yang belum percaya kepada Allah, belum percaya kepada Tuhan Yesus. Saya yakin, orang-orang yang sudah percaya kepada Tuhan Yesus, tentu dapat bersaksi kepada Anda, bahwa sebelum mereka percaya Allah, mereka merasa tidak senang mendengar kata-kata "Allah" atau "Yesus". Sikap mereka sama dengan sikap pemuda yang menerima surat dari pengacara itu. Tetapi begitu percaya, mereka semua berkata, "Betapa baiknya kalau aku sudah percaya sejak dini." Percaya Tuhan Yesus benar-benar lebih baik daripada mendapatkan harta warisan. Firman Allah lebih berharga daripada kata-kata pengacara yang dikatakan kepada pemuda itu. Firman Allah memberitahu kita, "Barangsiapa percaya kepada Tuhan Yesus, ia mendapatkan hidup yang kekal." Saya pun berani bersaksi. Hari ini, hal pertama yang ingin saya katakan kepada Anda, ialah "Janganlah takut mendengar kabar tentang Allah. Janganlah mengira bahwa Allah mempunyai maksud jelek terhadap Anda. Bila Anda mau mendengar dan Anda benar-benar telah mendengar, Anda pasti tahu, bagaimanakah sebenarnya Allah itu.
Beberapa tahun yang lalu, ketika saya mengunjungi beberapa tempat di Asia Tenggara, saya bertemu dengan seorang remaja dan menganjurinya percaya kepada Yesus. Ia menolak anjuran saya dan berkata, "Tuan Nee, kalau tuan mengajakku bersahabat, itu boleh saja. Tetapi kalau tuan menyuruhku percaya kepada Yesus, itu perkara yang tidak baik, itu tak mungkin kulakukan." Selang beberapa waktu, saya berjumpa lagi dengan remaja itu, dan saya menganjurinya lagi. Tetapi ia tetap menolak dengan jawaban yang sama. Saya bertanya kepadanya, apa sebabnya. Dia menjawab, "Aku mempunyai seorang kakak laki-laki. Ketika ia masih berumur enam tahun, ia percaya Yesus. Tapi kemudian ia meninggal. Kalau aku juga percaya Yesus, tentu aku akan mengalami nasib yang sama dengan saudaraku itu. Jika demikian, apakah faedahnya?" Oh, kasihan sekali, anak ini telah salah paham terhadap Allah! Ia salah paham terhadap hati Allah!
Cobalah pejamkan sejenak mata Anda, sambil merenungkan bagaimana tanggapan Anda terhadap Allah. Mungkin Anda mengira, Allah itu berwajah hitam, bengis, kejam, jahat dan menakutkan. Mungkin Anda mengira, Allah sangat senang membiarkan manusia berbuat dosa, hingga kelak manusia masuk neraka. Teman, saat ini, sebenarnya bagaimana pemikiran Anda tentang Allah?
Pada suatu kali, saya menganjuri seorang doktor yang menjadi guru besar di sebuah universitas, agar ia percaya Yesus. Ia menolak anjuran saya itu sambil berkata, "Allah Anda itu sangat buruk. Di sorga Ia tidak mempunyai pekerjaan yang baik, sehingga pekerjaanNya setiap hari hanyalah mengamat-amati manusia dan mencatat nama-nama di antara mereka yang tidak baik. Sesuai dengan catatan-catatan itu, Ia menentukan dosa dan menjatuhkan hukuman kepada mereka serta memasukan mereka ke dalam neraka." Betapa besar salah paham doktor ini terhadap Allah. Boleh jadi Anda juga berpikir, bahwa Allah itu benci kepada Anda, dan Ia tidak suka Anda beroleh selamat. Sebaliknya, Ia senang melihat Anda binasa dalam neraka.
Tetapi saya bisa mengatakan dengan tegas kepada Anda, bahwa Allah tidaklah demikian. Saya akan menyampaikan sebuah berita kepada Anda. Bila Anda sudah mengetahuinya dengan jelas, tentu Anda tidak akan melepaskan Allah ini. Dengarkanlah FirmanNya:
"Begitu besar kasih Allah akan dunia (manusia) ini!" Allah itu Kasih! Perhatikanlah, Allah itu Kasih. Alangkah ajaibnya, Allah tidak hanya memikirkan, memelihara, memperhatikan dan membelaskasihani Anda, bahkan Ia mengasihi Anda juga.
Beberapa hari yang lalu, di sebuah taman, saya bertemu dengan seorang kawan sekolah saya dulu. Dengan segenap hati, saya menganjurinya percaya Yesus. Karena ia selalu menolak, hampir saja saya menangis. Saya berpendapat, betapa baiknya kalau ia mengetahui, bahwa Allah itu benar-benar mengasihinya. Kasih Allah sangat sering dicurigai orang. Dengan penuh prasangka, orang-orang bertanya kepada diri sendiri, "Apakah Allah itu baik, apakah Allah itu mau dan bisa menyelamatkan orang semacam aku?" Dengan tegas saya katakan, janganlah menaruh syak! Allah tidak hanya membelaskasihani Anda, memelihara Anda, memperhatikan Anda, bahkan Ia mengasihi Anda. Sejak dulu hingga sekarang, ada satu perkara yang sangat mengherankan, yaitu Allah mengasihi manusia. Begitu manusia berdosa dan jatuh, kasihlah yang Allah nyatakan pertama-tama. Terhadap manusia, hati Allah penuh dengan kebaikan. Ia senang sekali bila manusia memperoleh keselamatan. Mungkin Anda juga menyangka, bahwa Allah itu bengis dan kejam serta senang kalau Anda menjauhi diriNya. Tetapi Alkitab, yaitu Firman Allah sendiri, mengatakan kepada kita, bahwa Allah itu Kasih. Allah sangat mengasihi Anda yang berdosa dan yang berjauhan dengan Dia. Dengan perantaraan hamba-hambaNya, Allah berulang-ulang mencurahkan isi hatiNya dengan mengatakan, "Dapatkah seorang perempuan melupakan bayinya, sehingga ia tidak menyayangi anak dari kandungannya? Sekalipun dia melupakannya, Aku tidak akan melupakan engkau" (Yesaya 49:15). Oh! Demikianlah kasihNya kepada kita. Lagi pula Ia masih mengambil sebuah perumpamaan yang sangat indah, kataNya, "Jika seseorang menceraikan isterinya, lalu perempuan itu pergi daripadanya dan menjadi isteri orang lain, akan kembalikah laki-laki yang pertama kepada perempuan itu? Bukankah negeri itu sudah tetap cemar? Engkau telah berzinah dengan banyak kekasih, dan mau kembali kepadaKu? Demikianlah Firman TUHAN" (Yeremia 3:1). Betapa lapang hati Allah untuk menerima kita yang berdosa ini! Tetapi, sungguh sangat disayangkan, perkara semacam ini - Allah mengasihi manusia - tidak dipercayai oleh manusia. Manusia selalu mengira Allah itu tidak mungkin sebaik itu. Tetapi saya tegaskan lagi, bahwa Allah benar-benar kasih. Karena tidak ada jalan lain, dan karena kasihNya kepada manusia itu tidak terbatas, maka dibuatlah suatu jalan bagi manusia, yaitu Dia sendiri menjelma menjadi manusia, turun ke dunia, agar dapat memberitakan kasihNya kepada segenap manusia.
Suatu kali, karena kesehatan tubuh, saya beristirahat di suatu pegunungan. Saya senang melihat hijaunya rerumputan dan indahnya bunga-bunga di sana. Saya juga senang melihat burung-burung yang hidup di alam bebas, beterbangan ke sana ke mari dengan riangnya. Saya merasa kasihan melihat burung-burung yang terkurung dalam sangkar. Pada suatu hari terlihatlah oleh saya sekawanan burung sedang memakani sisa makanan yang saya taruh di atas pagar. Karena senang melihat burung-burung itu, saya segera mengambil nasi sepiring untuk diberikan kepada burung-burung itu. Di luar dugaan, begitu saya mendekat, burung-burung itu segera terbang melarikan diri. Padahal, sedikit pun saya tidak bermaksud menangkap burung-burung itu. Pemberian yang timbul karena sayangku kepada mereka tidak diterima, malahan burung-burung itu menjadi takut. Kemudian terpikirlah olehku, bila saya ingin mendekati burung-burung itu, saya harus berusaha agar burung-burung itu bisa mengerti segala isi hati saya. Untuk itu tak ada jalan lain, selain saya bisa berbahasa burung, atau menjelma menjadi burung, lalu berbaur dengan mereka, dan memberitahukan isi hati saya kepada mereka. Dengan demikian tidak akan ada salah paham lagi dalam hati mereka. Tetapi sayang, saya tidak bisa menjelma menjadi burung, sehingga saya tidak dapat mengutarakan isi hati saya kepada mereka. Demikian juga sikap Allah terhadap kita. Allah mengasihi kita, senang kepada kita. Ia merasa senang sekali bila kita mau datang kepadaNya. Sayang sekali, kita tidak tahu maksud hatiNya. FirmanNya mengatakan, sejak dulu, dengan perantaraan hamba-hambaNya, berkali-kali dan dengan berbagai cara, Ia hendak mengatakan apa yang terkandung dalam hatiNya dan kasihNya yang sangat besar. Karena manusia masih tetap tidak mengerti isi hatiNya, maka tidak ada jalan lain bagiNya, kecuali Ia sendiri menjelma menjadi manusia, - manusia inilah yang disebut Yesus, yaitu Kristus. Andaikata hari ini saya menjelma menjadi burung, tentu Anda menganggap saya sangat merendahkan derajat saya. Tetapi, fakta bahwa Allah telah menjelma menjadi manusia, bukankah itu lebih merendahkan derajat? Betapa merendahnya Allah, kalau sampai Allah yang mahamulia itu mau menjadi manusia. Allah yang mengungguli segala sesuatu itu telah merendahkan diriNya menjadi sederajat dengan manusia, berlaku dan bersikap sebagai manusia. Segala perbuatan Yesus di dalam dunia hanya menyatakan kepada kita, betapa Allah sangat mengasihi manusia. Bila Anda telah membaca riwayat hidup Tuhan Yesus di dunia, tentu Anda akan mengetahui, bahwa Tuhan Yesus tidak hanya manusia yang baik, bahkan adalah jelmaan Allah yang datang dari sorga. Karena pada mulanya kita menyangka Allah membenci kita, maka Ia sendiri menjelma menjadi manusia, datang ke dunia untuk menunjukkan kepada manusia bagaimana keadaan Allah yang sebenarnya. Bagaimana keadaan Yesus, begitu pula keadaan Allah. Keadaan Yesus selama tiga puluh tiga setengah tahun di dunia ini hanya menyatakan keadaan Allah semata. Bagaimana sikap Yesus terhadap manusia, demikian juga sikap Allah terhadap manusia.
Pada suatu ketika, seorang yang berpenyakit kusta menyembah Yesus sambil berkata, "Ya Tuhan, kalau Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku." Kemudian Yesus mengulurkan tanganNya serta menjamah dia, kataNya, "Aku mau, jadilah engkau tahir!" Begitu Tuhan bersabda, penyakit itu segera lenyap. Penyakit kusta adalah suatu penyakit yang najis. Kalau kita, pasti tak mungkin mau menjamahnya. Tetapi Tuhan telah menjamahnya. Ini menunjukkan, betapa besar rasa simpati Tuhan kepada orang yang berpenyakit kusta itu. Di sini seakan-akan Tuhan berkata kepada manusia, asal manusia mau datang kepadaNya, tentu Ia akan menjamahnya.
Dalam Alkitab ada kisah tentang seorang perempuan yang tertangkap basah ketika berbuat zinah. Lalu ia dibawa ke hadapan Tuhan. Menurut hukum Taurat, orang semacam itu harus dirajam hingga mati. Meskipun Tuhan Yesus tahu juga, bahwa perempuan itu memang berdosa, namun Ia tidak sampai hati melihat perempuan itu dirajam hingga mati. Karena itu Ia berkata, "Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melempar batu kepada perempuan ini." Hati nurani semua orang yang ada di situ menyatakan, bahwa mereka sendiri pun berdosa. Karena itu, pergilah mereka satu per satu, mulai dari yang tua sampai kepada yang muda. Akhirnya, tinggallah Yesus seorang diri, dan perempuan itu berdiri di tengah-tengah. Kemudian Tuhan berkata, "Hai perempuan . . . tidak adakah seorang yang menghukum engkau?" Jawabnya, "Tidak ada, Tuhan." Kata Yesus kepadanya, "Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang" (Yohanes 8:3-11).
Teman-teman sekalian, bila sampai saat ini Anda belum percaya, maka saya katakan lagi, bahwa Allah sekali-kali tidak membenci Anda, sebaliknya, Ia sangat mengasihi Anda.
Ada seorang pemungut cukai bernama Matius. Suatu hari, ia mengundang makan banyak pemungut cukai dan orang-orang berdosa lainnya. Ia pun mengundang Yesus. Pada waktu itu, pemungut cukai sangat dibenci oleh orang-orang Yahudi, karena mereka dianggap sebagai pengkhianat bangsa, yang memeras bangsa mereka untuk kepentingan diri sendiri dan pemerintah penjajah Roma. Mungkin, kita pun akan merasa benci kepada orang-orang semacam itu, dan tidak sudi bergaul dengan mereka, apalagi makan semeja dengan mereka. Mungkin Anda akan berpikir, "Kalau saya mau makan semeja dengan mereka, kemudian diketahui oleh wartawan, dan hal itu disiarkan dalam surat kabar, tentu saya akan merasa malu sekali." Tetapi tidak demikian halnya dengan Tuhan. Ia mau makan semeja dengan mereka. Ketika mereka sedang makan, sekelompok orang Farisi yang melihat Tuhan berbuat demikian, berkata kepada murid-muridNya, "Mengapa Gurumu makan bersama pemungut cukai dan orang berdosa?" Mendengar celaan mereka, Tuhan berkata, "Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit... karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa" (Matius 9:10-13). Perkataan itu telah membukakan hati Allah dan memperlihatkannya kepada kita. Mungkin Anda masih berpikir, apakah Allah masih suka kepada aku yang sejahat ini. Atau Anda berpikir, apakah Allah masih mau menyelamatkan aku yang pernah menjadi penyamun, pelacur, pendusta dan penuh dengan segala kecemaran. Janganlah bimbang! Tuhan telah membukakan hatiNya dan telah memperlihatkannya kepada Anda. Allah mau! Allah mengasihi Anda. Tuhan mengumpamakan diriNya sebagai seorang tabib yang tidak takut akan orang sakit; tetapi, apakah si penderita itu takut kepada tabib?
Mungkin di antara Anda ada yang berpikir, "Mulai hari ini aku akan bertekad menjadi orang yang baik. Aku tidak mau marah-marah lagi, tidak mau berjudi, tidak mau menonton film." Tetapi ketahuilah, tekad Anda itu hanya bisa bertahan dua, tiga hari saja. Begitu nafsu Anda timbul, Anda segera menjadi jahat lagi. Mungkin ada juga yang berpikir, "Allah tidak menyukai aku. Ia senang kalau aku binasa." Allah sama sekali tidak demikian. Ia senang akan Anda, bahkan mengasihi Anda. Teman-teman, buanglah segera selubung yang menutupi mata hati Anda, supaya Anda nampak, bahwa Allah sekali-kali tidak berniat jahat terhadap Anda. Allah mengasihi Anda!
Ketika pecah perang Eropa, ada seorang gadis yang sempat bertobat dan menerima Tuhan setelah mendapat anjuran dari seorang penginjil. Kemudian, gadis itu menjadi jururawat palang merah di Paris. Entah bagaimana, imannya lemah dan ia kembali menempuh kehidupan yang jatuh/gagal. Pada suatu hari, ia berkunjung ke sebuah gedung gereja. Kebetulan sekali yang berkhotbah pada waktu itu ialah penginjil yang dulu memimpin ia bertobat. Begitu ia nampak penginjil itu, terlintaslah dalam angan-angannya keinginan untuk menyinggung perasaannya dengan kata-kata yang tajam. Baru saja penginjil itu selesai berkhotbah dan turun dari mimbar, ia segera maju ke depan. Sambil menjabat tangan penginjil itu, ia berkata, "Aku akan memberitahukan sesuatu kepada tuan, yang mungkin tuan tidak mempercayainya. Aku bisa hidup dengan tenteram dan sejahtera tanpa Tuhan Yesus." Mendengar kata-kata perempuan itu, penginjil itu menjawab, "Memang, mungkin Anda bisa hidup di dunia ini dengan tenteram dan sejahtera tanpa Tuhan Yesus. Tetapi ketahuilah, Tuhan di sorga tidak akan merasa senang tanpa Anda." Memang benar, setiap orang yang telah mengenal firman Allah, tahu, bahwa Allah baru bisa merasa senang bila kita ada bersamaNya. Karena Allah tidak hanya membelaskasihani kita, memperhatikan kita, Ia juga mengasihi kita. Kasih Allah itu lebih besar daripada kasih seorang ibu terhadap anaknya atau kasih antara suami istri. Kalau dulu mungkin Anda belum tahu, bahwa Allah begitu mengasihi Anda, maka pada kesempatan ini akan saya katakan: Allah mengasihi Anda!
Karena kasihNya kepada kita, maka disediakanlah dua macam karunia yang sangat besar, yaitu:
Satu, Tuhan Yesus datang ke dunia, mati untuk kita, supaya kita mendapat pengampunan dosa.
Dua, Roh Kudus berdiam di dalam diri kita, supaya kita berkekuatan untuk mengalahkan dosa.
Allah tahu, bahwa manusia tidak bisa mengasihiNya, tidak bisa menghampiriNya, dan tidak bisa menyembahNya. Ini disebabkan manusia telah jatuh dan berdosa; sedang orang dosa harus binasa di dalam neraka. Allah sangat benci akan dosa. Betapapun kecilnya dosa itu, mungkin tak berarti dalam pandangan kita, namun bagi Allah sudah sangat najis. Asal sekali saja berdusta, Allah sudah merasa najis. Mungkin ada orang yang dalam seumur hidupnya hanya berbuat dosa dalam satu dua menit saja. Namun itu sudah cukup untuk mengakibatkannya dihukum dalam neraka. Mungkinkah Anda sejak dulu tidak pernah berbuat suatu kesalahan atau mengucapkan sepatah kata yang tidak baik? Boleh jadi dalam semenit atau sedetik saja Anda sudah bisa berangan-angan yang tidak benar. Walaupun hal itu tidak diketahui oleh orang tua Anda atau istri/suami Anda, itu sudah cukup membuat Anda masuk ke neraka. Karena Allah tahu, bahwa segenap manusia berdosa, maka dicariNyalah jalan keluar untuk menanggulangi perkara ini, yaitu dengan jalan Ia sendiri datang ke dunia, menjelma menjadi manusia (Yesus Kristus), dan kemudian mati tersalib menanggung dosa manusia. Inilah perkara besar pertama yang Allah lakukan.
Bersamaan dengan ini, karena Ia juga tahu, meskipun dosa kita telah dibereskan oleh Tuhan Yesus, kita tetap bisa berbuat dosa lagi, maka dikaruniakanNyalah Roh Kudus (Roh Allah sendiri) kepada kita, agar kita beroleh suatu kekuatan untuk melawan dosa. Inilah perkara besar kedua yang Allah lakukan. Dengan kedua perkara itu, Allah menyatakan isi hatiNya kepada kita.
Teman-teman, tahukah Anda, betapa sukarnya mengalahkan suatu dosa? Misalnya saja soal kejujuran. Berapa banyakkah di antara kita yang bisa dianggap orang jujur? Meski sudah banyak tempat-tempat yang saya kunjungi, tetapi sedikit sekali orang jujur yang saya jumpai. Mengurangi sedikit perkataan sudah termasuk berdusta. Sungkan sedikit saja juga sudah termasuk dusta. Bila Anda bertekad hendak menjadi orang yang jujur, akan Anda ketahui, hal itu tidak mudah dilaksanakan.
Sering dalam benak Anda tersirat suatu niat yang kurang baik. Hati Anda membenci orang lain, atau menyimpan dendam, tidak mau mengampuni kesalahan orang lain. Anda suka menceritakan kejelekan orang, suka mengadu domba, suka berdusta, suka menyombongkan kepandaian diri sendiri. Dapatkah Anda terhindar dari semuanya itu? Kalau Anda melakukan satu saja di antara semuanya itu, meski Anda tidak merasakan bahwa Anda telah berbuat dosa, namun Allah mengetahuinya. Tetapi puji syukur kepada Allah, karena Ia tidak hanya mau mengampuni segala dosa Anda, RohNya juga ingin berdiam dalam diri Anda, agar Anda berkekuatan mengatasi dosa, agar Anda menjadi kudus. Inilah kehendak Allah! Apa yang direncanakanNya sudah digenapkan dengan sempurna. Karena itu, kini saya berani mengatakan, bahwa soal keselamatan tidak tergantung pada pihak Allah, tetapi tergantung pada kita. Jadi soalnya sekarang mau atau tidak Anda mempercayaiNya? Banyak kawan saya yang kini sudah berusia enam puluh tahunan, juga berani mengatakan kepada Anda, bahwa Allah benar-benar mengasihi Anda.
Baiklah sekarang kita baca lagi beberapa ayat yang dikatakan Tuhan Yesus sendiri, "Yerusalem, Yerusalem, engkau yang membunuh nabi-nabi dan melempari dengan batu orang-orang yang diutus kepadamu! Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya, tetapi kamu tidak mau" (Matius 23:37). Melalui ayat ini kita dapat mengetahui, bahwa Allah mau, tetapi manusia tidak mau. Yerusalem adalah sebuah kota dan Tuhan menangisinya. Tuhan ingin sekali melindunginya, Tuhan menangisinya, namun mereka tidak mau. Jika hari ini ada pembaca yang sadar, bahwa dirinya adalah orang dosa, Tuhan berkata kepadanya, "Aku mau menyelamatkan kamu." Sekarang maukah Anda? Pada Allah sudah tidak ada masalah lagi, maukah Anda? Pada hari ini, kalau ada pembaca yang telah mendengar berita Injil ini, dan kelak masih juga masuk ke dalam neraka, dapatkah ia menyalahkan Allah? Allah mau, apakah Anda juga demikian? Sekarang saya hanya memberitahukan satu perkara kepada Anda: Allah mau Anda, Allah pun mengasihi Anda. FirmanNya mengatakan, ". . . berkali-kali Aku mau, tetapi kamu tidak mau!"
"Itulah yang baik dan yang berkenan kepada Allah, Juruselamat kita, yang menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran" (I Timotius 2:3-4). Allah mau semua orang beroleh selamat. Inilah kehendak Allah!
"Namun kamu tidak mau datang kepadaKu untuk memperoleh hidup itu" (Yohanes 5:40). Bukannya Allah tidak mau memberi hayat kepada kita, melainkan kitalah yang tidak mau mendapatkannya! Sebab itu teman-teman, jika pada hari ini Anda mempunyai sedikit minat akan keselamatan dan hidup yang kekal, dan ingin mengatasi segala dosa serta ingin masuk ke sorga, ketahuilah, Anda bisa memperolehnya, sebab Allah mau dan berkenan Anda berbuat demikian. Apakah yang Allah kehendaki? Allah menghendaki semua orang bisa mendapatkan hidup yang kekal. Jangan takut, pada pihak Allah tidak ada masalah sedikit pun, tetapi sekarang masalahnya berada pada pihak Anda sendiri.
Di London, dulu ada seseorang bertemu dengan seorang penginjil. Orang itu bertanya kepadanya, "Bukankah tuan pernah memberitakan Injil di Paris? Tahukah tuan, aku sekarang sudah percaya Tuhan Yesus?" Penginjil itu berkata kepadanya, "Baik sekali, jika Anda sudah percaya." Kemudian ia berkata pula, "Pada hari itu, hanya satu perkataan yang menyebabkan aku percaya Tuhan Yesus." "Perkataan apa?" tanya penginjil itu. Jawabnya, "Perkataan yang tuan katakan, bahwa palang pintu sorga berada di luar!" Tepat benar! Palang pintu sorga memang berada di luar. Jika Anda tidak mau masuk, Anda sendirilah yang salah. Andaikata palang pintu sorga ada di dalam, bagaimanapun Anda tidak dapat masuk ke dalamnya. Jika Allah senang membukanya, baru dibukaNya; tetapi jika Ia tidak senang, Ia tidak akan membukanya. Anda hanya dapat mengetuk pintu sorga dari luar. Namun, kalau palang pintu sorga itu berada di luar, persoalannya bukan pada Allah, melainkan Anda mau atau tidak masuk ke dalamnya.
Sekarang pembicaraan saya akan saya akhiri dengan sebuah cerita. Dulu, ada satu orang Kristen yang menjadi guru besar di Universitas Oxford. Orang ini mempunyai beberapa orang anak yang bersekolah di universitas itu juga. Di rumah orang ini, tiap malam diadakan sidang keluarga. Anaknya yang keempat sangat tidak baik. Anak itu selalu dengan macam-macam alasan menghindari sidang keluarga itu. Jika waktu sidang sudah hampir sampai ia selalu pergi ke luar; dan setelah sidang selesai baru ia kembali. Suatu hari, ketika ia pulang, kebetulan sidang itu belum selesai. Seisi keluarganya sedang berdoa bersama. Lalu ia berpikir, "Aku ingin tahu, apa yang mereka doakan?" Ia mendengar, ibunya sedang berdoa untuknya, katanya, "Ya Allah, kasihanilah anakku yang keempat. Ia selalu berada di luar seperti anak hilang. Ia pun suka bermain-main dan menghamburkan uang saja. Ia tak takut kepadaMu . . ." Mendengar ini, panaslah hatinya, dan ia berkata dalam batinnya, "Mengapa ibu selalu berdoa untuk aku saja, tidak berdoa untuk yang lain? Aku tidak suka tinggal di rumah ini lagi." Segera ia naik ke atas loteng, mengemasi barang-barangnya yang ada di kamarnya, mengambil sejumlah uang bapanya, dan menulis sepucuk surat, katanya, "Bapa, ibu, aku tidak layak menjadi anak kalian. Aku pun tidak mau menjadi anak kalian lagi. Sekarang saya ingin pergi. Selamat tinggal . . . !" Maka pergilah anak itu meninggalkan rumahnya. Pada mulanya ia tinggal di sebuah penginapan. Ketika uangnya tinggal sedikit, pergilah ia ke rumah kawannya. Tetapi kawannya itu berkata kepadanya, "Kamu boleh tinggal di rumahku, tapi jangan terlalu lama. Sebab, meskipun kamu kawan sekolahku, tapi ayahmu adalah guruku. Jika hal ini diketahui olehnya, bukankah tidak baik?" Demikianlah, ia tak dapat tinggal lama di rumah kawannya. Sejangka waktu kemudian, ia pergi dari sana dan tinggal di satu penginapan yang kecil. Sampai pada suatu hari, uangnya habis sama sekali, tidak ada makanan, pakaian pun ala kadarnya. Lalu berpikirlah ia, "Lebih baik pulang saja. Dan kalau pulang, sebaiknya malam hari saja, jangan siang hari, sebab malu kalau ketahuan." Pada hari itu, pukul dua belas malam barulah ia pulang ke rumah. Mulanya ia hendak masuk dari jendela, tapi ketika dilihatnya tiap-tiap jendela tertutup dengan baik, apa boleh buat, pergilah ia ke pintu besar. Di luar dugaan, begitu didorong sedikit saja, pintu besar itu sudah terbuka. Pintu itu tidak dipalang, hingga dengan mudah sekali ia masuk ke dalam rumah dan kemudian perlahan-lahan naik ke loteng, menuju kamar tidurnya sendiri. Sampai di depan kamar, perlahan-lahan ia membuka pintunya. Begitu pintu kamar terbuka, ah! Terlihatlah olehnya ayahnya sedang duduk menghadap pintu itu. Anak itu segera mengeraskan raut mukanya, dan berkata kepada ayahnya, "Mengapa malam ini semua orang tidak berhati-hati, sampai pintu besar pun tidak dikunci?" Ayahnya membuka kaca matanya dan memegang tangan anaknya sambil berkata, "Anakku, sejak kamu meninggalkan rumah, hingga hari ini, sudah setahun lebih, pintu rumah ini tidak pernah dikunci."
Oh, teman-teman, ketahuilah, inilah hati seorang bapa! Pintu itu bukan hanya tidak dikunci selama sebulan, atau setengah tahun, melainkan sejak dulu tak pernah dikunci. Inilah hati pengasih seorang bapa! Sering kita berpikir, "Maukah Allah menerimaku, orang berdosa ini?" Tetapi sekarang, ketahuilah, "Allah tidak pernah mengunci pintuNya!" Di pihak Allah sudah tidak ada persoalan lagi, persoalannya ada di pihak Anda. Jika hari ini ada orang dosa ingin datang ke hadapan Allah sambil berkata kepadaNya, "Ya Allah, aku adalah orang yang berdosa. Aku pernah salah paham terhadapMu. Tetapi hari ini Engkau masih mau menerima aku." Ketahuilah, bila Anda percaya sedemikian rupa, Anda sudah beroleh selamat.
Tuhan Yesus pernah memberi perumpamaan, tentang bagaimana anak yang hilang pulang ke rumah. Ketika si anak masih jauh, bapanya sudah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belaskasihan. Bapanya berlari mendapatkan anaknya, memeluk lehernya dan mencium dia. Perumpamaan ini sungguh-sungguh menyatakan hati Allah sendiri. Teman-teman, ketahuilah, "Hari ini Allah pun memanggil Anda pulang." Yesus telah mati untuk Anda, Roh Kudus pun telah dicurahkan. Jadi, tidak ada satu pun pembaca buku ini yang harus turun ke neraka. Anda dapat terhindar dari neraka. Namun, jikalau Anda tidak mau, apa boleh buat. Saya harap hari ini Anda ingat baik-baik, Allah itu kasih! Bila hari ini Anda mau berkata kepadaNya, "Ya Allah, aku adalah orang yang berdosa; aku ingin, aku mau", niscaya Anda diselamatkan. Kalau demikian, tidak saja Allah hari ini bersukacita, kita pun akan bersukacita bersama Allah. Allah itu kasih!
W.N.
DOMBA PASKAH
Teman-teman yang kekasih, bukanlah kebetulan buku ini bisa sampai ke tangan Anda, melainkan karena pengaturan Allah agar Anda memperhatikan keselamatan roh Anda. Kiranya Anda mau dengan rendah hati baik-baik membaca buku ini, sehingga Anda mengerti karunia keselamatan Allah. Saya berdoa kepada Allah, mohon Tuhan dengan RohNya dan melalui firmanNya menggerakkan hati Anda, agar Anda karena percaya, memperoleh hidup yang kekal.
DOMBA PASKAH
Pembacaan Alkitab: Keluaran 12
Bertahun-tahun lamanya, bani Israel, umat Allah, menjadi budak di tanah Mesir. Allah mendengar seruan mereka dan melihat penderitaan mereka, lalu menurunkan sepuluh tulah untuk menghukum orang Mesir; dan menolong bani Israel keluar dari tanah perbudakan. Sembilan tulah telah berlalu, tetapi Firaun, raja Mesir, tetap berkeras hati, tidak mau membiarkan mereka pergi. Karena itu, Allah menurunkan tulah yang kesepuluh, tulah terakhir, untuk menyatakan kuasaNya dan menggenapkan penyelamatanNya.
Hari ini, melalui tulah yang terakhir ini, kita akan melihat cara penyelamatan Allah.
MEMBUNUH ANAK SULUNG
DI TANAH MESIR
Keluaran 11:5 mengatakan, "Maka tiap-tiap anak sulung di tanah Mesir akan mati . . . ." Allah telah menetapkan tiap-tiap anak sulung di tanah Mesir akan mati; tak peduli ia orang Israel atau orang Mesir. Tetapi Allah juga menetapkan satu penyelamatan. Allah berpesan kepada bani Israel: tiap-tiap rumah harus menyediakan seekor domba yang tidak bercela. Pada hari keempat belas bulan pertama, domba itu harus disembelih, darahnya ditaruh di dalam pasu, lalu mengambil seikat hisop dan mencelupkannya ke dalam darah, kemudian mengoleskannya pada ambang atas dan pada kedua tiang pintu. Tengah malam, malaikat Allah akan menjalani seluruh tanah Mesir. Setiap rumah yang pintunya tidak diolesi dengan darah, akan dimasuki oleh malaikat pemusnah itu, dan ia akan membunuh setiap anak sulung dalam rumah itu. Pada hari yang ditetapkan, peristiwa itupun terjadi. Pada hari keempat belas bulan pertama, tengah malam, pada saat bani Israel melewati malam Paskah, Allah membunuh semua anak sulung di tanah Mesir, karena pintu-pintu rumah mereka tidak diolesi darah. Tetapi di setiap rumah orang Israel, karena mereka menuruti perintah Tuhan, menyembelih domba dan mengoleskan darah untuk keselamatan anak sulung mereka, maka setiap anak sulung mereka selamat. Dalam kisah ini, orang yang tidak dibunuh mengacu kepada orang yang beroleh selamat; yang mati terbunuh mengacu kepada orang yang binasa.
Mengapa semua anak sulung di tanah Mesir harus mati? Dalam potongan ayat Alkitab di atas, "anak sulung" mengacu kepada "orang dosa" (1 Korintus 15:46); "Mesir" mengacu kepada "dunia", dan "Firaun" mengacu kepada "Iblis". Setiap orang dosa yang menjadi hamba Iblis di dalam dunia ini, berada di bawah hukuman Allah; semuanya harus mati! Alkitab mengatakan, "Karena semua orang telah berbuat dosa"; "upah dosa ialah maut" (Roma 3:23; 6:23). Teman-teman yang kekasih, jangan lupa, Anda adalah orang berdosa. Orang yang berdosa harus menerima hukurnan, dan hukumannya ialah binasa selama-lamanya. Teman-teman, Anda harus tanggap terhadap dosa Anda! Anda harus memikirkan hukuman yang akan datang! Bagaimanapun diri Anda, jika Anda tidak diselamatkan dari dosa, murka Allah pasti akan menimpa Anda (Yohanes 3:36). Temanteman, jangan memandang remeh dosa-dosa Anda. Allah itu adil. Ia pasti menghukum orang yang berdosa.
ALLAH MENYEDIAKAN PENYELAMATAN
Meskipun demikian, manusia bukannya tidak berpengharapan, juga bukan tidak bisa beroleh selamat, karena Allah telah menyediakan satu penyelamatan bagi manusia. Alkitab mengatakan, "Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia (Tuhan Yesus), sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan" (Kisah Para Rasul 4:12). Allah menyuruh bani Israel mengambil seekor domba, domba itu menjadilah penyelamat bagi mereka; darah domba itu menyelamatkan mereka dari kematian.
"Domba paskah" di sini mengacu kepada "Tuhan Yesus Kristus". Karena ada tertulis dalam Alkitab, "Lihatlah Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia" (Yohanes 1:29). "Sebab Anak Domba Paskah kita . . . yaitu Kristus" (I Korintus 5:7). "Kamu telah ditebus . . . dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tidak bernoda dan tidak bercacat" (1 Petrus 1:18-19). Pada masa itu, Allah menyelamatkan bani Israel melalui anak domba. Hari ini, Allah menyelamatkan manusia melalui Tuhan Yesus. Sebagaimana dahulu bani Israel bersandar anak domba beroleh selamat; demikian juga hari ini kita bersandar Tuhan Yesus baru bisa beroleh selamat.
Jika Anda tahu bahwa diri Anda adalah orang dosa yang berada di bawah hukuman Allah, dan tidak bisa menghindar dari hukuman Allah yang adil, namun Anda mau beroleh selamat, segeralah menerima penyelamatan yang Allah sediakan. Dia dengan senang hati akan menyelamatkan Anda.
Penyelamatan ini ialah: Tuhan Yesus terpaku di kayu salib bagi dosa kita, karunia keselamatan telah genap, barangsiapa mau menerima Dia sebagai Juruselamat, pasti diselamatkan! Bani Israel tidak bisa beroleh selamat dengan cara lain; mereka hanya bersandar darah anak domba. Demikian pula, Anda tidak bisa beroleh selamat dengan cara lain, hanya darah adi Tuhan Yesus yang bisa menyelamatkan Anda.
DOMBA HARUS MATI
Seandainya, Anda dan saya bersama-sama mengunjungi rumah seorang Israel. Melihat dalam rumah ini, ayah dan anak sulungnya dengan tenang-tenang duduk di rumah, lalu bertanya kepadanya, "Kami mendengar, malam ini Allah akan membunuh anak sulungmu, mengapa engkau masih tenang-tenang duduk di sini? Tidakkah engkau takut?" Orang itu menjawab, "Sekarang kami tidak takut lagi, karena Allah telah menyediakan bagi kami seekor anak domba. Anak domba bisa menyelamatkan jiwa anak sulungku. Lihatlah, anak dombaku, betapa gemuk, betapa putih, betapa elok! Dengarlah, betapa indah suara anak dombaku! Anak dombaku paling baik! Anak domba tetanggaku tidak bisa menandinginya. Aku telah mempunyai anak domba yang demikian baik, lembut dan manis, aku takut apa lagi?"
Ya, jawabannya memang cukup baik dan benar. Tetapi, pada tengah malam, ternyata anak sulungnya mati terbunuh oleh malaikat Allah.
Apa sebabnya? Sia-siakah firman Allah? Bukankah di rumah itu telah tersedia anak domba? Benar, dia telah mempunyai anak domba. Tetapi yang Allah kehendaki adalah anak domba yang tersembelih, bukan anak domba yang masih hidup. Demikian pula, Tuhan Yesus yang hidup tidak bisa menyelamatkan kita; hanya Tuhan Yesus yang telah mati yang bisa menyelamatkan kita. Ketika Tuhan Yesus hidup di bumi, Ia tidak bisa menyelamatkan kita. Setelah Dia dipaku dan mati di kayu salib, Ia baru bisa menebus kita. Betlehem, Nazaret dan Galilea adalah tempat yang menghukum dosa kita, hanya Golgota adalah tempat Dia mengaruniakan hayat kekalNya.
BUKAN MENIRU,
MELAINKAN MATI MENGGANTIKAN
Banyak orang selalu mengatakan, "Yesus adalah teladan kita. PerilakuNya baik, budi pekertiNyapun baik. OrangNya gagah perkasa, kekuatanNya besar." Tetapi baiklah saya katakan kepada Anda, "Semakin baik Tuhan Yesus, semakin menyatakan ketidak-baikan Anda! KebaikanNya tidak dapat menyelamatkan Anda; sebaliknya malah akan menyatakan Anda berdosa!" Kita mungkin berusaha dengan sekuat tenaga menyerupai Dia, tetapi semakin kita ingin menyerupai Dia, sifat dosa yang di dalam dan perbuatan dosa yang di luar kita semakin menunjukkan ketidakmampuan kita; semakin kita belajar menyerupai Dia, semakin kita menemukan bahwa sebenarnya kita tidak bisa belajar seperti Dia, juga tidak bisa menyerupai Dia.
Bagaimanapun agungnya pribadi dan budi pekerti Kristus, semua itu tidak ada sangkut pautnya dengan penebusanNya atas manusia. Tujuan Yesus turun ke bumi bukan untuk menjadi teladan manusia, agar ditiru oleh manusia sehingga manusia itu beroleh selamat. Dia datang untuk mati menggantikan manusia yang berdosa, untuk menggenapkan penebusan Allah. Kita tidak perlu berbuat apa-apa lagi, karena Ia telah merampungkan semuanya bagi kita. "Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, . . . tetapi dia tertikam oleh kerena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh" (Yesaya 53:4-5).
Kita semua adalah orang dosa yang harus mati. Jika Tuhan Yesus tidak mati, Ia tidak dapat menyelamatkan kita lepas dari dosa. Tetapi puji Tuhan! Untung Ia datang mati menggantikan kita, menanggung dosa kita, menerima/menanggung hukuman kita. Kalau Ia telah mati untuk kita, kita tidak lagi harus mati, kini kita bisa beroleh selamat!
Tidak seorangpun di bumi ini yang bisa meniru Tuhan Yesus, sebab itu tidak seorangpun yang karena belajar seperti Tuhan Yesus lalu bisa beroleh selamat. Hanya orang yang percaya Dia mati sebagai pengganti baru bisa beroleh selamat. Karena Allah berfirman, "Dan tanpa penumpahan darah tidak ada pengampunan" (Ibrani 9:22).
BUKAN PENGETAHUAN MELAINKAN PERCAYA
Andaikata lagi, kita datang ke rumah yang lain, bertemu dengan ayah dan anak sulungnya, lalu bertanya kepada mereka, "Kami dengar, malam ini Allah akan membunuh anak sulung di tanah Mesir, mengapa Anda masih tenang-tenang duduk di sini, tidakkah kalian takut?
Mereka menjawab, "Kami tidak takut, karena Allah telah menyediakan penyelamatan. Ia menghendaki kami mengambil seekor anak domba, menyembelihnya, darahnya ditaruh dalam sebuah pasu. Lihatlah anak domba kami sudah mati, darahnya sudah berada di dalam pasu. Kami bangsa Israel sebenarnya berdosa, tetapi anak domba ini telah mati menggantikan kami, maka kami tidak takut lagi."
Tetapi pada tengah malam, anak sulung keluarga inipun dibunuh oleh hukuman keadilan Allah!
Di mana letak kesalahan keluarga ini? Pada keluarga yang pertama, anak sulungnya mati dikarenakan tidak ada darah anak domba. Pada keluarga ini, anak domba sudah disembelih, telah berdarah; mengapa anak sulungnya masih tertimpa kematian? Ya, meskipun mereka telah mempunyai darah, tetapi darah itu masih berada di dalam pasu. Jika darah anak domba tidak dioleskan pada ambang dan tiang-tiang pintu, ia tidak bisa menyelamatkan orang terhindar dari kematian.
Dalam agama Kristen hari ini, banyak orang sama seperti keluarga ini. Mereka telah mendengar Injil Yesus, juga sudah mengetahui bahwa Yesus mati menggantikan orang dosa, tetapi mereka tidak dengan sepenuh hati datang ke hadapan Allah, menerima AnakNya menjadi Juruselamatnya, juga tidak menerima dengan iman untuk bersandar kepadaNya. Mereka telah mendengar, mengetahui, namun berhenti di sana, tidak terus mencari kasih karunia Allah, maka ajaran dan pengetahuan yang mereka dengar tidak berkhasiat di atas diri mereka. Jika pemberitaan yang didengar seseorang tidak berbaur dengan imannya, itu sama seperti darah anak domba yang masih berada dalam pasu, tidak dioleskan di ambang dan tiang pintu. Karena itu, darah tersebut tidak dapat menyelamatkannya. Dia tetap seorang yang binasa! Kalau hanya di dalam otak mengetahui Injil Yesus, tetapi hati tidak percaya, apakah gunanya Injil itu terhadap Anda? Sebab itu, beroleh selamat bukan tergantung pada pengetahuan, melainkan tergantung pada percaya (Yohanes 3:16).
DARAH ADI HARUS DIOLESKAN
PADA PINTU HATI
Apakah pintu hati Anda telah diolesi darah? Apakah hati Anda telah menerima Tuhan Yesus sebagai Juruselamat Anda? Saya tidak bertanya berapa umur Anda? Atau bagaimana keadaan ekonomi keluarga Anda? Juga bukan bertanya berapa tinggi ilmu pengetahuan Anda? Tidak pula bertanya sehat atau tidaknya tubuh Anda. Saya hanya bertanya, "Apakah Anda telah beroleh selamat? Apakah Anda telah mendapatkan hidup yang kekal? Apakah Anda telah mengoleskan darah adi di pintu hati Anda? Inilah pertanyaan yang paling penting!
Jika darah dalam pasu tidak dioleskan di ambang dan tiang pintu, darah itu tidak bisa menyelamatkan orang! Malam segera tiba, malaikat penghukum manusia yang berdosa segera datang! Alam kekal telah di hadapan Anda. Teman-teman yang kekasih, jika sekarang tidak cepat-cepat mengoleskan darah, menunggu kapan? Kiranya sekarang juga Anda berdoa, "Ya Tuhan, kasihanilah aku orang berdosa ini. Aku mau menerima Dikau sebagai Juruselamatku. Ampunilah semua dosa-dosaku." Demikian, Tuhan pasti menyelamatkan Anda. Cepatlah datang!
Hisop adalah sejenis rumput yang diremehkan orang. Tetapi pada malam itu, bani Israel mengambil hisop, mencelupkannya ke dalam darah, mengoleskannya pada ambang pintu. Jika kita mau bersandar kepada darah adi Tuhan Yesus, kita juga tidak boleh kekurangan hisop. Artinya, kita harus merendahkan diri. Jika kita tidak melihat kita sebagai orang dosa, tidak berdiri pada kedudukan orang dosa, kita tidak mungkin menerima Tuhan Yesus sebagai Juruselamat kita. Karena itu, janganlah Anda sombong lagi, bersujudlah di hadapan Tuhan Yesus sambil mengakui bahwa Anda adalah orang berdosa. Terimalah karunia keselamatanNya, Anda pasti beroleh selamat!
Jika darah hanya ditaruh dalam pasu, bani Israel belum mendapatkan ketenteraman. Begitu darah dioleskan pada ambang pintu, saat itu juga ada ketenteraman. Hanya mengetahui karunia keselamatan, tetapi tidak menerima dengan iman, orang demikian masih berada dalam keadaan bahaya. Begitu dibasuh oleh darah adi Tuhan Yesus, barulah ada ketenteraman. Sayang sekali, banyak orang yang telah percaya Tuhan Yesus, tetapi tidak mengetahui bahwa dirinya sudah aman, tidak lagi terhukum!
JIKA PERCAYA PASTI SELAMAT
Apakah Anda telah percaya Tuhan Yesus? Apakah Anda telah beroleh selamat? Kedua pertanyaan ini sangat menyentuh perasaan! Banyak orang saleh dapat dengan pasti menjawab pertanyaan pertama, "Kami telah percaya." Tetapi terhadap pertanyaan kedua, mungkin ada orang akan berkata, "Aku tidak tahu." "Aku tidak berani mengatakannya." Atau "Aku berharap aku beroleh selamat."
Jawaban yang demikian itu tidaklah benar. Karena Alkitab mengatakan, "Percayalah kepada Tuhan Yesus dan engkau pasti selamat" (Kisah Para Rasul 16:31 Tl.). Jika Anda telah percaya kepada Tuhan Yesus, Anda pasti selamat. Ini adalah firman Tuhan. Jika telah percaya Tuhan Yesus namun masih tidak beroleh keselamatan, bukankah ini berarti firman Allah sia-sia? Tidakkah Allah berdusta? Alkitab mengatakan, "Sebab demikianlah kesaksian yang diberikan Allah tentang AnakNya. Barangsiapa percaya kepada Anak Allah, ia mempunyai kesaksian itu di dalam dirinya; barangsiapa tidak percaya kepada Allah, ia membuat Dia menjadi pendusta, karena ia tidak percaya akan kesaksian yang diberikan Allah tentang AnakNya. Dan inilah kesaksian itu: Allah telah mengaruniakan hidup yang kekal kepada kita dan hidup itu ada di dalam AnakNya. Barangsiapa memiliki Anak, ia memiliki hidup; barangsiapa tidak memiliki Anak, ia tidak memiliki hidup. Semuanya itu kutuliskan kepada kamu, supaya kamu yang percaya kepada Anak Allah, tahu, bahwa kamu memiliki hidup yang kekal" (I Yohanes 5:9-13). Dalam ayat-ayat ini dikatakan, orang yang percaya Tuhan Yesus, adalah orang yang telah memilikiNya; dan orang yang telah memilikiNya, memiliki hidup yang kekal. Membaca sampai di sini, kita dapat mengetahui dengan pasti, bahwa orang yang percaya kepada Tuhan telah memiliki hidup yang kekal. Orang yang tidak percaya bahwa Allah dapat mengaruniakan hidup yang kekal kepada kita, tidak percaya bahwa jika kita memiliki AnakNya berarti memiliki hidup yang kekal, itu menyatakan bahwa ia menganggap Allah sebagai pendusta! Kita tidak patut menganggap Allah sebagai pendusta. Kalau kita telah percaya, telah memiliki Tuhan Yesus sebagai Juruselamat kita, kita pasti telah beroleh selamat.
Pernah sekali, ketika saya memberitakan Injil di Singapura, saya berkata kepada para hadirin, "Siapa yang dengan sepenuh hati percaya Tuhan Yesus sebagai Juruselamat, silakan angkat tangan." Hampir semua hadirin mengangkat tangannya. Saya bertanya lagi, "Siapa yang mengetahui bahwa dirinya telah beroleh selamat, silakan angkat tangan." Ternyata tak ada seorangpun yang mengangkat tangannya. Di tempat lain, saya juga mengalami hal yang sama.
Orang yang percaya Tuhan Yesus banyak, tetapi yang mengetahui bahwa dirinya telah beroleh selamat sedikit! Saya tidak mengerti, bagaimana mungkin seseorang percaya kepada Tuhan Yesus tapi tidak beroleh selamat. Bukankah Alkitab dengan jelas telah memberitahu kita bahwa "Barangsiapa yang percaya Tuhan Yesus beroleh hidup yang kekal?" Bagaimana mungkin setelah percaya kepadaNya, namun tidak memperoleh hidup kekal? Apakah Allah adalah pendusta? Jika orang mempunyai pikiran demikian saja, ia telah menghujat Allah; terlebih lagi dengan secara terang-terangan mencurigai firmanNya. Dia berfirman, "Barangsiapa percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal" (Yohanes 3:36). Kita percaya, kita pasti beroleh hidup yang kekal. Firman Allah dapat dipercaya!
MENGAPA MASIH BERSEDIH HATI?
Sekarang mari kita datang ke rumah yang ketiga. Baru sampai di pintu luar rumah, nampak ambang pintunya telah diolesi darah anak domba. Masuk ke dalam rumah, terlihat pula anak domba yang tersembelih, pasu dan hisop di sana. Seisi keluarga ini sedang berkerumun dan menangis. Terlebih anak sulungnya, badannya gemetaran, mukanya pucat, menangis pedih seperti akan menghadapi bencana besar. Saya masuk dan bertanya kepada mereka, "Mengapa kalian demikian sedih?" Jawab mereka, ''Tidakkah tuan tahu, bahwa malam ini akan ada bencana besar? Tengah malam ini, Allah akan membunuh semua anak sulung di tanah Mesir. Anakkupun termasuk di dalamnya . . . ." Menjawab sampai di sini, mereka menangis lagi.
Saya segera memberitahu mereka, "Bukankah Allah telah menyediakan satu penyelamatan? Bukankah Ia memerintahkan kalian untuk menyembelih anak domba dan rnengoleskan darahnya pada ambang dan tiang pintu? Kalau kalian telah melaksanakan perintahNya, mengapa kalian masih bersedih hati?"
Jawab mereka, "Memang benar, Allah telah demikian berfirman, kamipun telah melaksanakan perintahNya, tetapi kami belum merasa aman."
Dengan sekuatnya saya menganjuri mereka untuk tidak bersedih lagi; tidak perlu menangis, karena mereka telah mengoleskan darah pada tiang pintu, mereka sudah berada di atas kedudukan yang aman. Tetapi bagaimanapun aku menasihati, mereka tetap bersedih hati; mereka tidak bisa mempercayai fakta begitu mengoleskan darah, pasti selamat.
Mungkin Anda berpikir, keluarga ini sebenarnya tidak perlu bersedih hati. Mungkin Anda malah menganggap mereka itu bodoh, karena Anda tahu, begitu darah dioleskan, berarti aman/tenteram! Kalau masih bersedih, gelisah, itu berarti mencari susah sendiri!
Teman-teman, sebetulnya Anda sendiri juga sering demikian. Anda telah percaya Tuhan Yesus, telah menerima Dia sebagai Juruselamat, juga telah mengoleskan darah adiNya pada pintu hati Anda. Anda telah masuk ke dalam kedudukan aman dan damai, Anda telah beroleh selamat, tidak lagi binasa! Masih takut apa lagi? Masihkah Anda bersedih hati? Alkitab dengan jelas mengatakan, "Sesungguhnya barangsiapa mendengar perkataanKu dan percaya kepada Dia yang mengutus Aku, ia mempunyai hidup yang kekal dan tidak turut dihukum, sebab ia sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup" (Yohanes 5:24). Jika Anda masih belum menerima Tuhan Yesus menjadi Juruselamat Anda, Anda patut bersedih, menangis, sebab Anda berada di bawah hukuman dosa (Yohanes 3:18). Tetapi jika Anda telah percaya bahwa Tuhan Yesus telah mati di kayu salib sebagai pengganti, maka tidak ada alasan lagi untuk bersedih hati dan menangis. Anda adalah orang yang telah beroleh selamat! Anda harus bersukacita dan bersorak-sorai, karena Allah telah menyelamatkan Anda. Bukan Anda yang menolong diri Anda sendiri, melainkan Allah yang menyelamatkan Anda. Inilah kasih karunia! Anda harus membuka mulut memuji karunia Allah, jangan bersedih lagi! Anda adalah orang yang telah beroleh selamat!
BEROLEH SELAMAT
TIDAK BERDASARKAN PERASAAN
Banyak orang tidak mengetahui bahwa begitu mereka percaya Tuhan Yesus, mereka segera beroleh selamat. Kesulitan mereka tak lain karena mereka tidak merasa bahwa dirinya telah beroleh selamat. Sering orang berkata kepada saya, "Aku sungguh sudah percaya Tuhan Ye-sus sebagai Juruselamatku, namun di dalamku aku tidak merasa telah beroleh selamat." Untuk menjawab pertanyaan ini, lihatlah kitab Keluaran 12:13, "Apabila Aku melihat darah itu, maka Aku akan lewat daripada kamu. Jadi tidak akan ada tulah kemusnahan di tengah-tengah kamu." Siapa yang melihat darah ini? Allah! Bukan anak sulung. Darah yang dioles di ambang dan tiang pintu, tidak terlihat oleh anak sulung, walaupun terlihat juga tidak ada gunanya. Tetapi Allah berfirman, "Ia akan melihat". Bila Ia melihat darah itu, maka Ia tidak akan memusnahkan kita. Meskipun kita tidak tahu berapa nilai darah Tuhan Yesus, juga tidak tahu bagaimana Allah memandang darah Tuhan Yesus; tetapi Allah berfirman, "Apabila Aku melihat darah itu, maka Aku akan melewatinya." Dia akan menyelamatkan semua orang yang memiliki darah adi AnakNya.
Sebab itu teman-teman yang kekasih, janganlah percaya kepada perasaan Anda yang tak menentu. Percayalah kepada Tuhan Yesus yang telah mengucurkan darah bagi Anda di kayu salib! Begitu Allah melihat darah ini, Ia pasti menyelamatkan Anda. Baik Anda merasakan atau tidak, itu tidak bisa diandalkan, hanya firman Allah yang dapat diandalkan. Siapa dari bani Israel yang berada dalam rumah dapat melihat darah yang mereka oleskan? Meskipun Anda tidak merasakan, namun Allah melihat. Bila Dia melihat Anda telah percaya Tuhan Yesus, Dia pasti menyelamatkan Anda. Anda masih takut apa lagi? Masihkah Anda ragu bahwa Anda telah beroleh selamat?
BEROLEH SELAMAT
BERDASARKAN KARUNIA
Masih ada beberapa orang, meskipun telah percaya Tuhan Yesus, namun karena dirinya sering jatuh dan lemah, lalu merasa gelisah; semakin melihat pada diri sendiri, semakin merasa dirinya tidak bisa beroleh selamat, juga tidak patut beroleh selamat. Mereka benar-benar percaya Tuhan Yesus adalah Juruselamatnya, mereka juga tahu bahwa kasih karunia Tuhan itu besar. Tetapi karena sering mengalami kegagalan, mereka sulit mempercayai bahwa diri mereka telah beroleh selamat. Ketahuilah, perasaan manusia itu sia-sia; firman Allah barulah realitas. Allah berfirman, "Apabila Aku melihat darah itu, Aku akan melewatinya." Mengapa Allah menyelamatkan kita? Apa yang Allah lihat? Tak lain adalah darah! Allah menyelamatkan kita, bukan karena perubahan kita atau kelakuan baik kita, melainkan karena darah adi Tuhan Yesus, yaitu darah adi AnakNya. Allah tidak berfirman, "Apabila Aku melihat kalian telah berubah, aku akan melewati kalian", melainkan berfirman, "Apabila Aku melihat darah ini, Aku akan melewatinya." Jadi, kita harus menghargai darah ini! Allah bukan melihat manusia kita, bukan pula melihat perbuatan baik kita. Yang Allah lihat adalah darah! Perbedaan beroleh selamat atau binasa adalah tergantung pada ada atau tidaknya darah. Kalaupun Anda adalah orang yang terbaik di dunia ini, jika Anda tidak percaya kepada darah adi Tuhan Yesus, Anda tetap adalah orang yang binasa. Sebaliknya, meskipun Anda adalah orang yang terburuk di dunia ini, jika Anda demi iman telah diolesi darah adi Tuhan Yesus, Anda segera menjadi orang yang beroleh selamat. Darah adi dapat menyelamatkan orang dosa! Darah adi khusus menyelamatkan orang dosa!
Alkitab mengatakan, "Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri” (Efesus 2:8-9).
Kita beroleh selamat berdasarkan kasih karunia Allah, sama sekali tidak ada hubungannya dengan kelakuan/perbuatan kita. Bila Anda makin melihat diri sendiri, Anda akan makin merasa diri Anda tidak layak beroleh selamat, dan karenanya Anda kehilangan damai sejahtera. Sebab itu, Anda harus hanya menengadah kepada Tuhan Yesus, bersandar kepadaNya, dengan demikian barulah hati Anda penuh sukacita dan damai sejahtera. Anda memang tidak bisa diandalkan, namun Dia patut diandalkan! Lagi pula, semakin Anda menengadah kepadaNya, Anda akan semakin dikuduskan.
Anak sulung bani Israel beroleh selamat, bukan karena mereka mempunyai suatu jasa, melainkan karena mereka bersandar kepada darah adi anak domba. Sebaliknya, anak sulung bangsa Mesir binasa, bukan karena mereka berkelakuan jahat, melainkan karena mereka tidak mempunyai darah adi anak domba. Kita beroleh selamat atau tidak, itu tergantung pada apakah kita bersandar kepada darah adi. Jika bersandar kepada darah adi, pasti selamat! Jika tidak, pasti binasa!
TIDAK BISA BEROLEH SELAMAT
BERSANDAR KEBENARAN DIRI SENDIRI
Terakhir, marilah kita meninggalkan bani Israel dan melihat orang Mesir.
Begitu kita masuk ke dalam satu rumah orang Mesir, melihat mereka sedang bersenang-senang. Saya bertanya kepada mereka, "Mengapa Anda masih demikian bersenang-senang, bukankah Allah berfirman, bahwa malam Ia akan membunuh anak sulung Anda?"
Ia menjawab, "Tuan, anakku tidak seperti orang lain, dia tidak pernah membunuh, tidak pernah membakar rumah orang, dia jujur dan benar, dalam segala hal ia mengikuti hati nuraninya. Orang yang demikian baik, masihkah Allah akan menghukumnya?"
Aku berkata, "Pada pintu rumah Anda tidak ada darah. Allah pasti tidak akan melewatkan Anda, bahkan akan menghukum."
Mereka berkata, "Orang lain mungkin perlu darah anak domba, tetapi orang yang baik seperti kami ini, tidak perlu darah anak domba." Pada tengah malam, anak sulungnya mati.
lnilah akhir dari orang yang bersandar kepada kebenaran sendiri, dan tidak bersandar kepada darah adi Tuhan Yesus, yaitu binasa selamanya. Teman, meskipun Anda lebih baik dari tetangga Anda, Andapun jujur terhadap orang lain, tetapi dapatkah sedikit kelebihan Anda itu melepaskan Anda dari hukuman keadilan Allah? Semua kebenaran kita tidak terpandang oleh Allah, Allah melihat kita adalah orang berdosa! Semua orang yang tidak tertebus oleh darah anak domba, pasti binasa. Meskipun di antara bani Israel ada yang jahat, namun karena mereka mempunyai darah anak domba yang menebus dosa mereka, mereka beroleh selamat. Walaupun di antara orang Mesir ada yang baik, namun karena tidak ada darah anak domba yang menebus dosa mereka, mereka binasa. Beroleh selamat atau binasa bukan tergantung pada diri sendiri; juga bukan tergantung pada perbuatan kita, melainkan tergantung pada percaya dan menerima Juruselamat yang menggantikan kita mati dan menebus dosa kita. Di dalam kitab Wahyu, kita bisa nampak orang-orang yang beroleh selamat bisa berada di sorga, karena mereka "telah mencuci jubah dan membuatnya putih di dalam darah Anak Domba" (Wahyu 7:14).
MENERIMA FAKTA KEMATIAN PENGGANTI ANAK DOMBA
"Maka pada tengah malam TUHAN membunuh tiap-tiap anak sulung di tanah Mesir" (Keluaran 12:29). Inilah akhir dari orang yang tidak percaya kepada Tuhan Yesus! Lihatlah zaman sekarang ini, betapa gelapnya, seperti tengah malam, saat hukuman Allah akan tiba! Karena itu, saya menganjuri Anda, jangan lagi bersandar pada perbuatan diri sendiri, jangan menolak, jangan menunda, cepat-cepatlah percaya kepada Tuhan Yesus. "Saat inilah saat perkenanan, hari inilah hari penyelamatan!" Mumpung masih ada hari ini, segeralah datang.
". . . kedengaranlah seruan yang hebat di Mesir, sebab tidak ada rumah yang tidak kematian" (Keluaran 12:30). Di setiap rumah orang Mesir ada kematian. Malam itu dalam keluarga Israel dan Mesir ada satu yang mati. Namun yang mati dalam keluarga Israel ialah domba, sedang dalam keluarga Mesir adalah manusia. Di setiap rumah ada yang mati, kalau bukan domba tentu manusia. Betapa mengerikan! Betapa seriusnya perkara ini!
Teman-teman yang kekasih, saya tidak tahu, siapakah yang mati dalam keluarga Anda? Apakah Anda sendiri yang mati menanggung dosa Anda, atau Anda percaya dan bersandar kepada Tuhan Yesus serta membiarkan Dia mati menggantikan Anda? Puji syukur kepada Allah, karena "Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa." (Roma 5:8). Sebab itu, sekarang Anda tidak perlu mati lagi; Anda tidak lagi binasa karena dosa-dosa Anda. Allah telah merampungkan semuanya, sekarang hanya menunggu Anda menerima. Jika Anda masih binasa, itu salah Anda sendiri, karena Anda tidak percaya kepada nama Anak Tunggal Allah (Yohanes 3:18), juga tidak mau datang kepadaNya untuk memperoleh hidup itu (Yohanes 5:40).
Saya sangat mengharapkan Anda sekarang juga datang. Datanglah ke hadapan Allah dengan hati yang percaya dan berdoa, "Ya Allah, aku adalah orang berdosa yang seharusnya binasa, tetapi aku percaya AnakMu telah mati menggantikan aku. Ampunilah semua dosa-dosaku yang dulu, agar aku sejak hari ini menjadi orang yang beroleh selamat."
W.N.
ALLAH MENCARI MANUSIA
Para pemungut cukai dan orang-orang berdosa, semuanya datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia. Lalu bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya, "Orang ini menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka." Lalu Ia menyampaikan perumpamaan ini kepada mereka, "Siapakah di antara kamu yang mempunyai seratus ekor domba, dan jikalau ia kehilangan seekor di antaranya, tidak meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di padang gurun dan pergi mencari yang sesat itu sampai ia menemukannya? Kalau ia telah menemukannya, ia meletakkannya di atas bahunya dengan gembira, dan setibanya di rumah ia memanggil sahabat-sahabat dan tetangga-tetangganya serta berkata kepada mereka: Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab aku telah menemukan dombaku yang hilang itu. Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita di surga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih daripada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan."
"Atau perempuan manakah yang mempunyai sepuluh dirham, dan jika ia kehilangan satu dirham, tidak menyalakan pelita dan menyapu rumah serta mencarinya dengan cermat sampai ia menemukannya? Kalau ia telah menemukannya, ia memanggil sahabat-sahabat dan tetangga-tetangganya serta berkata: Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab aku telah menemukan dirhamku yang hilang itu. Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita pada malaikat-malaikat Allah karena satu orang berdosa yang bertobat."
Yesus berkata lagi, "Ada seseorang mempunyai dua anak laki-laki. Kata yang bungsu kepada ayahnya: Bapa, berikanlah kepadaku bagian harta milik yang menjadi hakku. Lalu ayahnya membagi-bagikan harta kekayaan itu di antara mereka. Beberapa hari kemudian anak bungsu itu menjual seluruh bagiannya itu lalu pergi ke negeri yang jauh. Di sana ia memboroskan harta miliknya itu dengan hidup berfoya-foya. Setelah dihabiskannya semuanya, timbullah bencana kelaparan di dalam negeri itu dan ia pun mulai melarat. Lalu ia pergi dan bekerja pada seorang warga negeri itu. Orang itu menyuruhnya ke ladang untuk menjaga babinya. Lalu ia ingin mengisi perutnya dengan ampas yang menjadi makanan babi itu, tetapi tidak seorang pun yang memberikan sesuatu kepadanya. Lalu ia menyadari keadaannya, katanya: Betapa banyaknya orang upahan bapaku yang berlimpah-limpah makanannya, tetapi aku di sini mati kelaparan. Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap surga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebut anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa. Lalu bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya. Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia. Kata anak itu kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap surga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebut anak bapa. Tetapi ayah itu berkata kepada hamba-hambanya: Lekaslah bawa kemari jubah yang terbaik, pakaikanlah itu kepadanya dan kenakanlah cincin pada jarinya dan sepatu pada kakinya. Ambillah anak lembu yang gemuk itu, sembelihlah dan marilah kita makan dan bersukacita. Sebab anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali. Lalu mulailah mereka bersukaria.
Lukas 15:1-24
Tetapi kebenaran berdasarkan iman berkata demikian, "Jangan katakan di dalam hatimu: Siapa yang akan naik ke surga?", yaitu: Untuk membawa Kristus turun, atau: "Siapa yang akan turun ke jurang maut?", yaitu: Untuk membawa Kristus naik dari antara orang mati. Tetapi apa katanya? Demikian, "Firman itu dekat kepadamu, yakni di dalam mulutmu dan di dalam hatimu." Itulah firman iman, yang kami beritakan. Sebab jika engkau mengaku dengan mulutmu bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka engkau akan diselamatkan. Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan.
Sebab, "Siapa saja yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan."
Roma 10:6-10, 13
Dalam Lukas 15 ada tiga perumpamaan yang menceritakan tentang hal yang hilang. Perumpamaan yang pertama menceritakan tentang domba yang hilang, perumpamaan kedua menceritakan tentang dirham yang hilang dan perumpamaan yang ketiga menceritakan tentang anak yang hilang. Ketiga perumpamaan ini memberi tahu kita domba yang hilang, dirham yang hilang, anak yang hilang, juga memberi tahu kita domba ditemukan kembali, dirham ditemukan kembali, dan anak pun didapatkan kembali. Melalui tiga perumpamaan ini Tuhan Yesus menampakkan kepada kita, bagaimana kita di hadapan Allah adalah orang yang hilang, bagaimana pula kita yang hilang dapat kembali ke rumah Allah.
MANUSIA YANG HILANG
Sebelum meneruskan pembicaraan kita, kita perlu membaca satu ayat Alkitab yang cukup terkenal. Kami harap kiranya Allah melalui ayat Alkitab ini membuat Anda beroleh selamat. Ayat ini ialah Lukas 19:10, "Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang." Orang yang hilang adalah orang yang tersesat. Seorang ayah yang kehilangan anaknya, ia akan mencarinya ke mana-mana. Kita pernah melihat dalam majalah atau koran-koran ada berita tentang mencari orang yang hilang. Teman, tahukah Anda bahwa Anda adalah orang yang hilang? Tahukah Anda bahwa ada Seorang yang sedang mencari-cari Anda? Mungkin Anda tidak percaya, dan berkata, "aku ada di rumah." Ya, memang benar Anda berada di rumah, namun Allah kehilangan Anda. Dari sudut pandangan Allah, Anda telah hilang, Anda telah tersesat, Anda telah meninggalkan rumah, tidak berada pada kedudukan yang seharusnya. Mohon Allah membelaskasihani Anda, agar nampak bahwa Anda adalah seorang yang hilang. Jika Anda telah merasakan bahwa Anda adalah seorang yang tersesat, adalah seorang yang menjauhi Allah, kiranya Allah mengaruniai Anda, agar Anda tahu bagaimana pulang ke rumah.
Seorang yang mengetahui bahwa dirinya tersesat, ia akan mencari satu jalan untuk pulang. Tetapi dia mungkin berpikir: aku sudah meninggalkan Allah entah berapa jauh, jika kembali kepada Allah, entah harus mengeluarkan berapa banyak tenaga, berapa banyak waktu, harus menempuh berapa jauh baru bisa ke sana. Aku mau kembali kepada Allah, tetapi aku tidak tahu harus melakukan berapa banyak kebajikan baru bisa mengubah hati Allah. Aku tidak tahu harus melakukan sampai batas mana, baru Allah memandang aku cukup lumayan dan mau menerima aku.
Banyak orang mengira, jika manusia hendak menuju Allah, ia harus menempuh jalan yang sangat jauh; untuk sampai kepada Allah, entah harus mengeluarkan berapa banyak waktu dan tenaga. Banyak orang merasa: aku ingin beroleh selamat, tetapi aku tidak tahu harus bagaimana baru bisa beroleh selamat, harus mengeluarkan berapa banyak tenaga baru bisa beroleh selamat. Seolah-olah Allah jauh sekali meninggalkan aku. Kalau mau dari pihakku datang ke pihak Allah, entah harus berapa kali bernazar, harus berapa kali bertekad, harus melakukan berapa banyak hal, harus mengeluarkan berapa banyak tenaga, baru bisa membuat aku yang hilang ini kembali kepada Allah. Jalan untuk kembali kepada Allah sungguh sangat panjang! Sangat jauh! Kapan baru bisa sampai! Inilah pemikiran orang pada umumnya.
Banyak orang berpikir: aku sendiri mau Allah, tetapi apakah Allah mau aku atau tidak; aku mau beroleh selamat, tetapi Allah mau atau tidak menyelamatkan aku; hatiku mendambakan keselamatan, tetapi aku tidak tahu bagaimana baru bisa beroleh selamat. Ada orang berpikir: kalau aku mau beroleh selamat, paling cepat tiga tahun lagi. Benar-benar ada orang yang berkata demikian: Kalau aku mau beroleh selamat paling sedikit harus menghabiskan waktu tiga tahun, membenahi diriku sendiri baru bisa beroleh selamat. Dia lupa, bagaimana kalau tidak ada waktu selama tiga tahun? Bagaimana kalau ia sudah meninggal dalam waktu tiga tahun itu? Ah, betapa jauhnya jalan dari bumi ke surga! Ah, betapa jauhnya jalan dari kedosaan menuju kekudusan! Ah, dari pihakku ke pihak Allah entah harus menghabiskan berapa banyak waktu dan tenaga! Banyak orang yang benar-benar mau Allah, benar-benar mau beroleh selamat, benar-benar mau mendapatkan hidup kekal, namun mereka berpikir, jalan ini sangat jauh, harga ini sangat besar, mau mencapai itu sungguh sangat sulit, sungguh tidak berdaya.
SEMUA ADALAH PEKERJAAN ALLAH
Teman, jika Anda mau beroleh selamat, tetapi tidak tahu apakah Allah mau menyelamatkan Anda atau tidak; Anda mau mendapatkan hidup kekal, tetapi tidak tahu apakah Allah mau atau tidak mengaruniakan hayat-Nya kepada Anda; Anda mau terlepas dari maut, terlepas dari penghakiman, terlepas dari hukuman, tetapi Anda tidak tahu apakah Allah mau mengampuni Anda; baiklah kami memberi tahu Anda bahwa apa yang dikatakan Alkitab sangat berbeda dengan apa yang Anda pikirkan. Yang dikatakan Alkitab, bukan orang yang tersesat yang menemukan rumah, melainkan Tuhan datang mencari orang yang tersesat. Kita telah membaca tiga perumpamaan dalam Lukas 15, perumpamaan pertama memberi tahu kita, seorang gembala yang kehilangan seekor dombanya. Gembala itu meninggalkan domba-domba lainnya dan pergi mencari seekor domba yang tersesat itu sampai menemukannya. Inilah Injil yang kami beritakan. Bukan domba tersesat itu dengan otaknya mengingat-ingat jalan mana yang harus ditempuh, atau ia menggambar sebuah peta dan menurut peta itu menemukan jalan di mana ia keluar dari kawanan domba, kemudian menurut jalan itu pula ia kembali. Alkitab memberi tahu kita, bukan domba mencari gembala, melainkan gembala mencari domba; gembala yang mencari dan menemukan kembali dombanya.
Inilah Injil kami: Bukan Anda yang mencari Juruselamat, melainkan Juruselamat yang datang mencari Anda. Dari pihak Anda menuju pihak sana, jalannya sangat jauh; bila kita ingin dari pihak kita pergi ke pihak Allah, jalannya sangat jauh. Tetapi jalan yang sedemikian jauh itu ditempuh oleh Tuhan, bukan oleh Anda. Bukan Anda yang mencari Allah, tetapi Allah yang mencari Anda; bukan Anda yang datang kepada Allah, melainkan Allah yang datang kepada Anda. Inilah Injil!
Dalam Lukas 15 ada tiga perumpamaan: perumpamaan pertama mengisahkan bagaimana gembala yang baik mencari dombanya; perumpamaan kedua mengisahkan bagaimana seorang perempuan mencari dirhamnya, menyalakan pelita, dengan cermat mencarinya; perumpamaan ketiga mengisahkan bagaimana seorang ayah berlari menyambut anaknya. Dari hal gembala yang baik kita nampak bagaimana Tuhan Yesus menjadi gembala yang baik mencari domba yang sesat; dari hal perempuan menyalakan pelita mencari dirham, kita nampak bagaimana Roh Kudus dengan sorotan terang-Nya mencari orang dosa; dari hal seorang ayah berlari menyambut anaknya, kita nampak seorang yang mendapatkan penebusan gembala, mendapatkan terang Roh Kudus, mempunyai hati yang berpaling kepada Allah, maka Bapa dengan sukacita menyambut dan menerima dia. Sekarang mari kita melihat perumpamaan ini satu demi satu.
PENEBUSAN KRISTUS
Yang perlu kita perhatikan dalam perumpamaan yang pertama ialah mengapa harus ada Tuhan Yesus, atau dengan kata lain, untuk apa Tuhan Yesus datang ke bumi. Lukas 19:10 mengatakan, "Sebab Anak Manusia datang untuk mencari . . . " Anak Manusia datang untuk mencari. Anda mau beroleh selamat, Anda mau mendapatkan hidup kekal, Anda sangat damba menjadi anak Allah, Anda sangat mengharap tidak dihukum melainkan beroleh hidup kekal; tetapi Anda mempunyai satu persoalan yang besar, yaitu: siapa yang akan menyelamatkan aku? Anda berpikir, siapa yang bisa naik ke surga? Aku tidak tahu siapa yang bisa naik ke surga dan mendatangkan Juruselamat? Aku tidak tahu siapa yang bisa mengetuk pintu surga untuk mengundang Juruselamat turun? Aku tidak tahu siapa yang bisa naik ke surga dan berkata kepada Allah bahwa orang-orang di dunia perlu Juruselamat, mohon Allah mengutus seorang Juruselamat datang. Aku memerlukannya, tetapi siapa yang bisa pergi? Apakah aku bisa? Aku tidak bisa. Apakah di antara teman-temanku ada yang bisa pergi? Juga tidak seorang pun bisa. O, siapa yang bisa naik ke surga mengundang Juruselamat datang? Teman, Anda tidak perlu naik ke surga mengundang, karena Tuhan Yesus telah datang; tidak perlu Anda ke sana memohon "Aku perlu seorang Juruselamat"; tidak perlu Anda naik ke surga dan berdoa, "Ya Allah, Engkau tidak bisa tidak memberi karunia kepada kami," tidak ada hal demikian. Tuhan sendiri datang, bukan kita yang membawa Dia datang. Inilah Injil!
Tuhan Yesus datang, Ia mati bagi kita, menanggung dosa kita, kemudian bangkit dari kematian. Melalui kesaksian mati dan bangkit, Allah menampakkan kepada kita bahwa kematian-Nya bisa diandalkan; kematian-Nya yang menggantikan kita, pekerjaan menanggung dosa kita adalah yang diperkenan Allah. Jika Tuhan Yesus mati dan tidak bangkit, lalu bagaimana dengan kita? Apakah kita akan turun ke alam maut untuk mengundang-Nya keluar? Tidak, kita tidak perlu berbuat demikian. Roma 10:6-7 memberi tahu kepada kita, "'Jangan katakan di dalam hatimu: Siapa yang akan naik ke surga?', yaitu: Untuk membawa Kristus turun, atau: 'Siapa yang akan turun ke jurang maut?', yaitu: Untuk membawa Kristus naik dari antara orang mati." Tidak ada seorang pun yang naik ke surga, mengetuk pintu surga untuk membawa turun Tuhan Juruselamat, juga tidak ada seorang pun akan turun ke alam maut untuk membawa Kristus naik. Dia sendiri yang turun dari surga, juga Dia sendiri yang naik dari alam maut. Kedatangan Tuhan Yesus adalah Dia datang sendiri; kebangkitan Tuhan Yesus juga adalah Dia sendiri yang bangkit; semuanya bukan hasil pekerjaan kita.
Penebusan adalah pekerjaan yang dilakukan Tuhan Yesus, bukan pekerjaan Anda. Gembala kita yang baik datang sendiri dari surga. Gembala kita yang baik datang sendiri untuk menanggung dosa kita, mati bagi kita, bangkit bagi kita supaya kita oleh nama-Nya memperoleh pengampunan dosa. Bukan Anda yang mencari Dia, melainkan "Anak Manusia datang". Teman, apakah Anda tidak merasakan betapa mustikanya kata-kata "Anak Manusia datang"? Kita merasakan kata-kata ini sangat mustika. Bukan aku yang pergi, melainkan Dia yang datang; bukan aku naik ke tempat Allah, melainkan Allah yang merendahkan diri-Nya datang kepadaku. Inilah Injil! Arti Injil ialah: bukan aku yang berusaha menuju ke pihak Allah, melainkan Allah bekerja mendatangi. Kita beroleh selamat adalah demi pekerjaan Tuhan Yesus, yaitu gembala yang baik yang mencari kita. Ia sendiri datang menggenapkan penebusan. Apakah Anda bisa beroleh selamat atau tidak, ini mutlak bersangkutan dengan Tuhan Yesus. Mungkin Anda masih berpikir: Bagaimana baru bisa beroleh selamat? Ini tidak perlu. Cara untuk beroleh selamat telah digenapkan oleh Tuhan Yesus sejak dulu. Mungkin Anda masih berpikir: Apakah Allah menyelamatkan aku atau tidak? Ini pun tidak perlu. Jika Allah tidak mau menyelamatkan Anda, untuk apa Dia mengutus Tuhan Yesus datang? Untuk apa Dia menyuruh Kristus bangkit dari kematian, untuk apa ada Injil? Allah telah datang kepada kita, bukan kita yang datang kepada Allah. Inilah Injil!
PENERANGAN ROH KUDUS
Mungkin ada orang akan berkata: Tuhan Yesus telah menggenapkan penebusan bagiku, tetapi aku tidak tahu apakah penebusan Tuhan Yesus berkhasiat bagiku, aku tidak tahu apakah penebusan Tuhan Yesus sesuai dengan keperluanku. Ini sama seperti seorang yang sakit, meskipun ada obat mujarab yang bisa menyembuhkan penyakitnya, tetapi tidak tahu dirinya sakit apa, juga tidak tahu harus makan obat apa, perlu ada orang lain yang memberi tahu dia sedang sakit apa dan harus makan obat apa. Teman-teman, apakah Anda mempunyai kesulitan ini? Penebusan Tuhan Yesus telah genap, tetapi bagaimana bisa bersangkutan dengan Anda? Untuk inilah maka firman Allah memberi tahu kita. Tidak hanya Tuhan Yesus menjadi Juruselamat datang mencari kita, menyelamatkan kita, lagi pula Allah masih melakukan perkara yang kedua yaitu melalui Roh Kudus menerangi kita.
Perumpamaan yang kedua ditujukan pada penerangan Roh Kudus. Di sini dikatakan perempuan itu menyalakan pelita dan mencari. Untuk apa menyalakan pelita? Agar bisa melihat. Menyalakan pelita berarti Roh Kudus menerangi Anda, agar Anda nampak bahwa diri Anda adalah orang dosa, menampakkan pada Anda bahwa pekerjaan Tuhan Yesus bisa menyelamatkan Anda. Kita memuji syukur kepada Allah, Roh Kudus telah datang! Kedatangan Roh Kudus juga bukan Anda yang naik ke surga, dan mengetuk pintu surga dan berkata kepada Allah, "Aku adalah orang yang sangat kasihan, mohon Engkau cepat menyuruh Roh Kudus turun untuk membukakan mataku agar aku bisa melihat. Aku ini orang yang bagaimana, aku sendiri tidak tahu, mohon Engkau menyuruh Roh Kudus datang agar aku mengetahui cara penebusan-Mu. Aku tidak tahu, mohon Engkau menyuruh Roh Kudus datang dan menampakkan kepadaku." Teman, penerangan Roh Kudus juga bukan Anda yang pergi mencari, tetapi Dia yang datang menyalakan pelita, agar Anda bisa melihat.
Hari ini Roh Kudus sedang mencari manusia, Roh Kudus melalui semua anak Allah di mana-mana mencari manusia, inilah Injil! Injil bukan manusia mencari Allah, melainkan Allah mencari manusia. Tidak hanya Yesus orang Nazaret turun dari surga mencari manusia, bahkan pada hari Pentakosta ada Roh Kudus yang turun mencari manusia. Yesus berinkarnasi adalah Injil, karena Ia datang mencari orang berdosa. Orang yang menemukan obat mujarab itu perlu, tetapi orang yang memperkenalkan Anda pada obat mujarab itu juga perlu. Hari ini Allah juga berbuat demikian, mengutus manusia ke segala penjuru untuk mencari orang dosa. Sampai hari ini, terhadap para murid-Nya Tuhan Yesus masih berkata dengan firman yang sama, "Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk" (Markus 16:15). Hari ini ada berjuta-juta orang Kristen di atas bumi, Allah menyuruh mereka bersandarkan Roh Kudus memberitakan Injil kepada manusia. Tuhan Yesus tidak hanya berkata kepada murid-Nya, pergilah, bahkan di dalam Lukas 14 dikatakan lebih tegas lagi. Dia berfirman: Pergilah ke semua jalan dan lintasan dan paksalah orang-orang yang ada di situ masuk. Sebab itu, teman, janganlah Anda heran, mengapa umat Kristen tidak takut repot, bertemu dengan Anda selalu menganjuri Anda, sampai pada satu hari Anda beroleh selamat. Ini dikarenakan Allah datang mencari Anda, sehingga Anda datang ke sini bertemu dengan orang Kristen yang datang mencari Anda, ke sana juga bertemu dengan orang Kristen yang datang mencari Anda; Anda sendiri tidak mencari Allah, melainkan Allah yang mencari Anda. Melalui orang sekeluarga Anda Allah mencari Anda, melalui teman Anda Allah mencari Anda, melalui selebaran Injil dan lainnya Allah mencari Anda. Anda harus tahu, Allah mencari manusia di seluruh bumi. Allah mencari manusia secara besar-besaran! Roh Kudus mencari manusia secara besar-besaran! Anda mendengar Injil, sekali demi sekali Anda mendengar Injil, Allah tidak melewatkan Anda. Pekerjaan Tuhan Yesus telah genap, hari ini Roh Kudus akan menerangi Anda, akan datang mencari Anda.
Teman, alangkah baiknya jika Anda nampak Allah mencari Anda. Bukan Anda yang datang kepada Allah, melainkan Allah yang datang kepada Anda, melalui Anak-Nya Allah datang kepada Anda, melalui Roh Kudus Allah datang kepada Anda; gembala yang baik datang mengorbankan nyawa-Nya, Roh Kudus datang menerangi; Dia selalu mengikuti Anda, Ia datang mencari Anda, bukan Anda yang mencari Dia. Beroleh selamat bukan persoalan bagaimana Anda harus berbuat, melainkan apakah Anda mau atau tidak. Anda tidak dapat berkata, karena tenaga Anda tidak cukup atau Anda tidak berdaya, maka Anda tidak bisa beroleh selamat. Anda tidak bisa berkata, karena Anda tidak bisa melakukan maka Anda tidak bisa beroleh selamat. Sama sekali tidak ada hal Anda tidak berdaya atau tidak bisa melakukan, karena ini bukan pekerjaan Anda, melainkan pekerjaan yang dikerjakan Allah.
JALAN UNTUK BEROLEH SELAMAT ITU DEKAT
Tuhan Yesus telah datang, Roh Kudus pun telah datang, asal Anda mau menerima. Maka Roma 10:6 demikian menuliskan, "Tetapi kebenaran berdasarkan iman berkata demikian:" Nampakkah Anda? Ini adalah perkataan yang sangat mustika. Apa yang dipikirkan manusia selalu bagaimana berbuat, tetapi di sini dikatakan iman. Mungkin Anda akan bertanya, "Kalian yang percaya Tuhan Yesus, selalu menganjuri orang lain untuk percaya, apakah faedah percaya itu?" Anda perlu tahu, yang kami beritakan adalah kebenaran karena iman, yang berasal dari iman, bukan perbuatan kita tetapi yang dikerjakan Tuhan Yesus, oleh sebab itu percayalah saja. Apakah yang dikatakan kebenaran karena iman? "'Jangan katakan di dalam hatimu: Siapa yang akan naik ke surga?', yaitu: Untuk membawa Kristus turun, atau: 'Siapa yang akan turun ke jurang maut?', yaitu: Untuk membawa Kristus naik dari antara orang mati." Siapa yang bisa naik ke surga, menempuh perjalanan yang demikian jauh? Iman tidak memerlukannya, tidak perlu menempuh jalan sedemikian jauh. Siapa yang akan turun ke jurang maut? Juga tidak perlu, tidak perlu berjalan sedemikian jauh. Asal percaya, cukuplah. Kebenaran karena iman menyatakan bahwa kita tidak perlu menempuh sedemikian jauh.
Lalu harus berbuat apa? "Tetapi apakah katanya? Demikian, 'Firman itu dekat kepadamu, yakni di dalam mulutmu dan di dalam hatimu.' Itulah firman iman, yang kami beritakan." Allah datang pada sisi mulut Anda, dekat atau tidak? Allah mencari sampai ke hati Anda, bukankah dekat? Asal Anda mempunyai mulut, asal Anda mempunyai hati, maka firman itu ada di dalam mulut Anda dan ada di dalam hati Anda. Jika Anda mengaku dengan mulut bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hati bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka Anda akan diselamatkan. Asal Anda mau percaya dan mengaku, Anda segera beroleh selamat. Anda sedikit pun tidak perlu meninggalkan tempat duduk Anda untuk beroleh selamat, tidak perlu Anda menempuh jalan 3 kilometer untuk beroleh selamat, juga sedikit pun tidak perlu mengeluarkan waktu pergi ke suatu tempat baru beroleh selamat. Hati Anda di sini, mulut Anda juga di sini, maka sekarang juga Anda bisa beroleh selamat. Karena hal penebusan adalah pekerjaan Allah, adalah Tuhan Yesus yang menggenapkannya, adalah Roh Kudus yang mengutus hamba-Nya memberi tahu Anda; pekerjaan ini telah digenapkan. Roh Kudus datang untuk menginsafkan Anda akan dosa, kebenaran, dan penghakiman (Yohanes 16:8). Ia datang memberi tahu Anda bahwa persoalan dosa sudah beres, persoalan pembenaran sudah beres, persoalan penghakiman pun sudah beres. Tidak perlu Anda melakukan sesuatu. Allahlah yang datang mencari manusia. Ini adalah satu perkara yang paling mulia, yaitu tidak perlu manusia melakukan sesuatu, tetapi percaya, asal menerima, bisa beroleh selamat.
KISAH TENTANG DUA ORANG YANG BEROLEH SELAMAT
Pernah seorang pendeta menceritakan satu pengalaman pribadinya. Dia berkata, dulu, meskipun ia disebut pendeta, tetapi sebenarnya ia sendiri masih belum mengenal karunia keselamatan Tuhan. Pada satu malam, ketika ia hendak tidur, tiba-tiba ada orang yang mengetuk pintu, mengetuk dengan terburu-buru. Begitu ia membuka pintu, ternyata terlihat seorang perempuan muda. Ia bertanya apa maksud kedatangannya. Perempuan itu berkata, "Ibuku sakit keras dan hampir mati, ia memintaku mencarikan seorang pendeta." Ia berkata, "Apakah tidak ada seorang pendeta yang lebih dekat tempatnya daripada saya, kau boleh mencarinya." Perempuan itu menjawab, "Kalau ada, aku sudah mengundangnya, sungguh susah mencari seorang pendeta, kalau pun sudah berjumpa dengan Anda, maka tidak bisa tidak mengundang Anda datang." Karena tidak berdaya menolak, maka pergilah ia dengannya.
Tiba di tempatnya, begitu ia melihat, ia tahu bahwa tempat itu adalah tempat yang kurang baik, tetapi apa boleh buat, ia sudah sampai di situ, terpaksa ia masuk mengikutinya. Sampai di loteng, ia melihat seorang perempuan berbaring di sana, sakitnya parah, hampir mati. Melihat ada seorang pendeta datang, perempuan yang sakit ini sangat gembira dan berkata, "Aku adalah seorang yang berada di luar Allah, aku ingin masuk, beritahukanlah kepadaku bagaimana aku dapat masuk." Setelah berpikir sebentar, ia memberi tahu kepadanya, "Seseorang sejak kecil harus berbuat baik, harus jujur, bersih; ketika Tuhan Yesus di bumi, tidak seorang pun yang lebih baik daripada Dia. Dialah teladan kita, kita harus meneladani Dia, kita harus sekuatnya belajar berbuat baik, harus mengasihi orang, harus bergairah membantu orang; jika kita benar-benar bisa mengikuti teladan Tuhan Yesus, maka kita bisa masuk." Perempuan itu berkata, "Perkataanmu sudah sedemikian banyak, boleh dikatakan kepada orang-orang yang masih sehat, kepada orang-orang yang masih mempunyai banyak waktu, tetapi aku adalah orang yang berbaring di ambang pintu maut, aku tidak mempunyai waktu lagi, aku tidak mempunyai waktu untuk belajar teladan Tuhan. Anda berkata harus berbuat baik, jujur, harus mengasihi orang, jalan ini sangat jauh, aku yang hampir mati ini tidak berdaya menempuhnya. Pak pendeta, tolong beri tahu aku, apakah ada satu jalan di mana aku bisa segera masuk. Aku mau masuk." Karena pendeta ini adalah pendeta yang sedemikian, maka ia tidak bisa berkata yang lain. Dengan mata penuh air mata dan putus asa perempuan itu berkata kepada pendeta itu, "Tuan, terhadap seorang perempuan yang seumur hidupnya berdosa, yang kini berbaring di ambang pintu maut dan segera akan ke sana, Anda tidak mempunyai perkataan untuk dikatakan kepadanya, agar ia bisa masuk ke dalam karunia Allah?"
Di kemudian hari pendeta ini bersaksi, pada hari itu saya pertama kali nampak bahwa yang selama ini saya beritakan sesungguhnya bukanlah Injil. Di sini ada seorang perempuan, yang dalam beberapa menit lagi, setengah jam, paling lama satu jam segera menuju ke alam maut, tetapi saya tidak bisa memberi tahu kepadanya bagaimana keluar dari maut dan masuk ke dalam hidup, bagaimana bisa tidak binasa dan beroleh selamat. Saya berhadapan dengan orang yang sangat mengharapkan bisa masuk, namun saya tidak berdaya memberi tahu dia bagaimana bisa masuk. Saat itulah, pertama kali saya merasa bersalah, merasakan semua khotbah saya salah, saya membawa orang menempuh jalan yang salah, jalan itu sangat jauh. Sekarang ada seorang mau masuk, tetapi saya tidak bisa membawanya masuk.
Saya duduk di sana, kurang lebih 10 menit lamanya, menundukkan kepala, tidak bisa berkata apa-apa. Saya tidak berbicara, ia pun diam, hanya menangis, sangat putus asa. Kemudian saya teringat ketika saya masih kecil, ibu saya pernah memberi tahu saya bahwa Allah mengasihi kita semua, mengasihi sedemikian rupa sehingga mengaruniakan Anak-Nya kepada kita, supaya kita yang percaya kepada-Nya, tidak dihukum, melainkan beroleh hidup kekal. Tadinya saya mengira bahwa perkataan ini adalah untuk anak kecil saja, terhadap orang seperti saya ini tidak berguna. Tetapi pada saat itu, saya teringat perkataan ibu saya ini, lalu saya menyampaikan perkataan ini kepada perempuan itu. Saya berkata kepadanya, Allah mengasihi kita, sehingga mengaruniakan Anak-Nya kepada kita, bagi dosa kita terpaku dan mati di atas salib, hari ini kalau manusia percaya kepada-Nya, menerima karunia keselamatan-Nya, ia tidak akan binasa, melainkan beroleh hidup kekal. Masih penuh dengan air mata perempuan itu tersenyum riang dan berkata, "Mengapa engkau tidak pagi-pagi memberi tahu kepadaku, inilah yang kuinginkan. Aku telah berdosa seumur hidupku, tidak hanya aku sendiri, bahkan aku juga telah menyeret anak perempuanku, aku orang berdosa, aku mau diselamatkan." Hari itu, perempuan itu telah masuk, saya sendiri juga masuk; perempuan ini beroleh selamat, saya sendiri juga beroleh selamat.
Teman, kisah ini terbentang di hadapan Anda, agar Anda nampak bahwa cara penyelamatan Allah atas diri kita tidak jauh. Jika hari ini Anda mau beroleh selamat, asal Anda mau membuka hati Anda menerima Tuhan Yesus, asal Anda membuka mulut Anda, mengaku Tuhan Yesus, maka Anda segera beroleh selamat. Mari kita baca lagi Roma 10:8-9, "Tetapi apakah katanya? Demikian, 'Firman itu dekat kepadamu, yakni di dalam mulutmu dan di dalam hatimu.' Itulah firman iman, yang kami beritakan. Sebab jika engkau mengaku dengan mulutmu bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka engkau akan diselamatkan." Apakah Anda nampak jalan beroleh selamat? Dengan mulut Anda mengaku Yesus adalah Tuhan; Anda mengatakan, "Yesus benar-benar adalah Tuhan", berkata demikian sudahlah cukup. Bagaimana dengan hati? Hati Anda percaya bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati. Kita baca lagi ayat 13, "Sebab, 'Siapa saja yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan.'" Hari ini jika Anda sungguh ingin beroleh selamat, Anda tidak perlu berbuat apa-apa, asal Anda datang ke hadapan Tuhan dengan hati percaya akan pekerjaan Tuhan Yesus, mulut mengaku Yesus adalah Tuhan, cukuplah.
HARAPAN JAUH DARI SEORANG BAPA
Dengan demikian kita segera berhubungan dengan perumpamaan ketiga dalam Lukas 15. Setelah anak yang hilang itu sadar, bagaimanakah dia? Dia berkata, "Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku." Begitu hati anak yang hilang ini berpaling, cukuplah! Mengapa? Karena Alkitab menyatakan, "Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia." Lihatlah ayat ini betapa menghibur hati. Anak yang hilang itu meninggalkan ayahnya pergi ke mana? Pergi ke tempat yang jauh. Kemudian, bagaimana ayahnya menerimanya kembali? Ketika masih jauh, ayahnya telah melihat dia. Ketika masih jauh dari rumah, ayahnya sudah keluar. Sang ayah berlari keluar menyambutnya, bukan anaknya yang mengetuk pintu, bukan ia yang mencari akal untuk masuk ke rumah, melainkan sang ayah berlari keluar menyambutnya.
Dari ketiga perumpamaan ini kita nampak apakah karunia keselamatan itu. Karunia keselamatan adalah Allah di dalam Tuhan Yesus sedang mencari kita. Allah di dalam Roh Kudus melalui anak-anak-Nya di seluruh bumi mencari kita, jika di dalam kita sedikit saja mau Allah, maka Allah akan berlari keluar menyambut kita. Ia yang membawa kita masuk, bukan kita sendiri yang masuk. Bukan kita yang menolong diri kita sendiri, tetapi Dia yang menyelamatkan kita. Syukur kepada Allah! Tuhan Yesus telah menyelamatkan kita! Teman, bukan Anda yang bisa menyelamatkan diri Anda, tetapi Allah yang menyelamatkan Anda. Karena itu, asal hati Anda percaya kepada-Nya, mulut Anda mengakui Dia, cukuplah. Jalan ini tidak jauh, tetapi dekat sekali. Dia datang dengan menempuh jalan yang jauh. Dari surga Dia turun ke bumi, melintasi gunung, lembah dan lautan untuk mencari kita, kita tidak perlu menempuh jalan yang jauh, jalan kita sangat dekat sekali. Teman, sekarang adalah saatnya Allah berkenan kepada kita, hari ini adalah hari Allah menyelamatkan kita. Jangan lewatkan kesempatan ini, terimalah Dia sekarang juga.
BAPAKU MENGASIHI AKU
Dalam suatu pemberitaan Injil, seorang penginjil sedang memberitakan perumpamaan tentang anak yang hilang, mengatakan: Allah mengasihi orang dosa di dunia dan menyambut mereka kembali. Ada seorang teman, setelah mendengar ini, sangat terharu. Ternyata ia dilahirkan dan dibesarkan dalam keluarga yang miskin, ayahnya seorang buruh tambang. Ketika berumur belasan tahun ia pernah meninggalkan rumah ayahnya, pergi dan menempuh kehidupan yang sangat bobrok. Suatu hari ia sakit keras, karena tidak ada keluarga, terpaksa ia pulang ke rumah. Lambat laun badannya mulai pulih. Tetapi saat itu ayahnya yang tua juga baru sembuh dari penyakit berat. Karena nafkah keluarga, ia terpaksa bekerja. Keadaan itu membuat anak tadi berkeputusan untuk pergi merantau. Ayahnya berusaha menahan, tetapi tidak bisa. Pada hari kepergiannya, sang ayah mengantarnya, kemudian berkata kepadanya, "Anakku, karena di rumah sangat miskin, maka kau mau meninggalkan kami. Tetapi badanmu belum benar-benar pulih, mengapa tergesa-gesa berangkat? Asal di rumah masih ada semangkok nasi, maka masih ada bagianmu; asal di atap rumah masih ada sepotong genting, maka masih ada tempat bagimu untuk berteduh, bisakah engkau tidak pergi?" Tetapi anaknya tetap bertekad pergi. Akhirnya dengan menangis ayahnya berkata, "Selamat jalan anakku, semoga Allah memberkati kamu." Ayahnya pergi dan baru berjalan beberapa langkah, tiba-tiba ayahnya berbalik kembali memanggilnya, menyalami tangan anaknya, lalu pergi meninggalkannya tanpa mengucapkan satu kata pun. Saat itu sang anak merasakan ada sesuatu dalam tangannya, dibuka dan dilihatnya ternyata ada uang lima ketip. Oh, dia tahu, ini adalah hasil darah dan keringat ayahnya! Uang lima ketip ini adalah seluruh harta ayahnya, tetapi sekarang diberikan kepadanya! Dengan menahan air mata ia memandang sosok tubuh ayahnya yang kian jauh dan hilang dari pandangan. Saat itu angin dan salju menerpa wajahnya, tetapi ia hanya merasakan hatinya membara. Kasih ayahnya membara dalam hatinya. Sambil berjalan ia berseru, "Bapaku mengasihi aku! Bapaku mengasihi aku!"
Kejadian ini sudah berlalu puluhan tahun. Kini ketika ia mendengar kisah Tuhan Yesus mengatakan tentang Bapa yang penuh kasih menyambut pulang anaknya yang hilang, dia teringat kepada kasih ayahnya, ia juga merasakan kasih Bapa surgawi. Allah telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal yang dikasihi-Nya kepadanya, mengorbankan diri-Nya untuk menebus dosanya, betapa besar karunia ini! Pada hari itu kasih Allah telah menggerakkan hatinya. Ia menerima Tuhan Yesus sebagai Juruselamatnya.
Kidung :
Domba hilang kini di mana? Jurus'lamat sedang mencari!
Seekor domba telah hilang, mungkinkah engkau?
Mungkinkah engkau? Mungkinkah engkau?
Seekor domba telah hilang, mungkinkah engkau?
Yang terhilang di mana kini? Rohul-kudus sedang mencari!
Dirham telah hilang sekeping, mungkinkah engkau?
Mungkinkah engKau? Mungkinkah engkau?
Dirham telah hilang sekeping, mungkinkah engkau?
Yang berk'lana, kau sentosakah? Di dalam rumah banyak berkat!
Bapa Allah sedang menunggu, mungkinkah engkau?
Mungkinkah engkau? Mungkinkah engkau?
Bapa Allah sedang menunggu, mungkinkah engkau?
TIDAK HAUS SELAMA-LAMANYA
Ketika Yesus mengetahui bahwa orang-orang Farisi telah mendengar bahwa Ia memperoleh dan membaptis lebih banyak murid daripada Yohanes -- meskipun Yesus sendiri tidak membaptis, melainkan murid-murid-Nya -- Ia pun meninggalkan Yudea dan kembali lagi ke Galilea. Tetapi Ia harus melintasi daerah Samaria. Lalu sampailah Ia ke sebuah kota di Samaria, yang bernama Sikhar dekat tanah yang diberikan Yakub dahulu kepada anaknya, Yusuf. Di situ terdapat sumur Yakub. Yesus sangat letih karena perjalanan, sebab itu Ia duduk di pinggir sumur itu. Hari kira-kira pukul dua belas. Lalu datanglah seorang perempuan Samaria hendak menimba air. Kata Yesus kepadanya, "Berilah Aku minum." Sebab murid-murid-Nya telah pergi ke kota membeli makanan. Kata perempuan Samaria itu kepada-Nya, "Masakan Engkau, seorang Yahudi, minta minum kepadaku, seorang Samaria?" (Sebab orang Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria.) Jawab Yesus kepadanya, "Jikalau engkau tahu tentang karunia Allah dan siapa Dia yang berkata kepadamu, 'Berilah Aku minum!' niscaya engkau telah meminta kepada-Nya dan Ia telah memberikan kepadamu air hidup." Kata perempuan itu kepada-Nya, "Tuan, Engkau tidak punya timba dan sumur ini amat dalam; dari manakah Engkau memperoleh air hidup itu? Apakah Engkau lebih besar daripada bapak leluhur kami Yakub, yang memberikan sumur ini kepada kami dan yang telah minum sendiri dari dalamnya, ia serta anak-anaknya dan ternaknya?" Jawab Yesus kepadanya, "Siapa saja yang minum air ini, ia akan haus lagi, tetapi siapa saja yang minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai pada hidup yang kekal." Kata perempuan itu kepada-Nya, "Tuan, berikanlah aku air itu, supaya aku tidak haus dan tidak usah datang lagi ke sini untuk menimba air."
Perempuan itu meninggalkan tempayannya di situ lalu pergi ke kota dan berkata kepada orang-orang yang di situ, "Mari, lihatlah orang yang mengatakan kepadaku segala sesuatu yang telah kuperbuat. Bukankah Dia Kristus itu?"
Yohanes 4:1-15, 28-29
Kisah di atas, yang tercatat dalam Alkitab, adalah satu kisah yang ajaib, yaitu Tuhan Yesus memberitakan Injil kepada seorang perempuan Samaria, dan perempuan itu percaya kepada-Nya. Pada siang hari, ketika perempuan itu datang menimba air, Tuhan Yesus berkata kepadanya, "Siapa saja yang minum air ini, ia akan haus lagi, tetapi siapa saja yang minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya." Haus adalah satu keadaan yang sangat tidak menyenangkan. Hanya air yang bisa meleraikan masalah haus. Tidak saja jasmani perempuan itu haus sehingga perlu air untuk diminum, batinnya pun haus. Di dalam lubuk hatinya tidak ada kepuasan, di dalamnya ada satu keperluan; dia perlu hiburan, dia perlu belas kasihan, dia perlu simpati dari orang lain. Perempuan ini memerlukan air sumur Yakub untuk meleraikan rasa hausnya, tetapi ia lebih memerlukan air hidup yang dikaruniakan Tuhan untuk meleraikan kehausan hatinya.
Teman, apakah hati Anda haus? Kami tahu, banyak orang meskipun di luarnya mengatakan tidak haus, tetapi sesungguhnya hatinya merasa sangat haus. Sekarang marilah kita dari kisah seorang perempuan Samaria yang beroleh selamat, membereskan persoalan haus ini.
Tuhan Yesus meninggalkan Yudea dan kembali ke Galilea. "Tetapi Ia harus melintasi daerah Samaria. Lalu sampailah Ia ke sebuah kota di Samaria, yang bernama Sikhar . . . Di situ terdapat sumur Yakub. Yesus sangat letih karena perjalanan, sebab itu Ia duduk di pinggir sumur itu. Hari kira-kira pukul dua belas. Lalu datanglah seorang perempuan Samaria hendak menimba air" (ayat 4-7). Perhatikanlah di sini dikatakan, "Hari kira-kira pukul dua belas. Lalu datanglah seorang perempuan Samaria hendak menimba air."
Bila kita membaca kitab-kitab Perjanjian Lama, kita akan menemukan bahwa orang-orang yang menimba air, umumnya adalah orang-orang perempuan; waktu menimba air, kalau bukan pada pagi hari tentu pada sore hari. Tetapi di sini, sedang teriknya matahari, ada seorang perempuan datang menimba air. Apakah ia tidak mempunyai teman? Apakah ia tidak mempunyai tetangga? Apakah tidak ada perempuan lain yang mau menemaninya menimba air? Ya, perempuan ini tidak mempunyai teman. Mengapa demikian? Kisah selanjutnya menyingkapkan sejarah hidup perempuan ini. Ternyata ia adalah seorang perempuan yang tidak baik atau amoral.
Perempuan ini menimba air pada siang hari, saat teriknya matahari. Hal ini menunjukkan bahwa ia adalah seorang perempuan yang terkucil. Karena ia adalah orang yang demikian berdosa, maka perempuan-perempuan lain tidak mau menimba air bersamanya. Lagi pula, tidak hanya orang lain takut kepada dia, dia pun takut kepada orang lain. Bila ia juga menimba air di pagi hari, ia takut kalau orang-orang menunjuk-nunjuk sambil berkata, "Bukankah dia ini seorang perempuan yang amoral!" Demikian juga bila ia menimba air pada sore hari. Karena itu, terpaksa ia menimba air pada siang hari, di bawah terik matahari, saat orang lain tidak menimba air. Ia sendirian menimba air; ia adalah seorang perempuan yang terkucil, tidak seorang pun yang membelaskasihaninya. Tetapi pada hari itu, ketika ia datang ke sumur dan menimba air, ia bertemu dengan Juruselamat yang penuh belas kasihan dan simpati. Ia beroleh selamat!
Kata Yesus kepadanya, "Berilah Aku minum" (ayat 7). Betapa akrab pernyataan ini. Sering kali, Anda takut kepada Allah, Anda menganggap Allah maha besar dan dahsyat, tidak dapat didekati. Tetapi jika Anda tahu bahwa orang yang duduk di tepi sumur dan meminta air kepada Anda itu adalah Allah, Anda pasti akan mendekati Dia, Anda akan percaya kepada-Nya. Di sini, Tuhan bersahabat dengan manusia, Ia bisa didekati.
"Kata perempuan Samaria itu kepada-Nya, 'Masakan Engkau, seorang Yahudi, minta minum kepadaku, seorang Samaria?' . . . Jawab Yesus kepadanya, 'Jikalau engkau tahu tentang karunia Allah dan siapa Dia yang berkata kepadamu, 'Berilah Aku minum!' niscaya engkau telah meminta kepada-Nya dan Ia telah memberikan kepadamu air hidup" (ayat 9-10). Perempuan Samaria itu berkata demikian, karena orang Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria. Tetapi jawab Tuhan, "Jikalau engkau tahu tentang karunia Allah dan siapa Dia yang berkata kepadamu: Berilah Aku minum! Niscaya engkau telah meminta kepada-Nya, dan Ia telah memberikan kepadamu air hidup." Yang dikatakan Tuhan Yesus adalah satu Injil, Tuhan memberitakan Injil kepada perempuan itu, agar dia mengetahui karunia Allah, dan mengetahui siapakah Dia. Sayang sekali, banyak orang tidak mengetahui Injil ini. Sebab itu, teman, sekarang saya akan memberitakan Injil ini kepada Anda.
KARUNIA ALLAH
Pertama, saya akan memberi tahu Anda, apakah karunia Allah itu? "Karunia" berarti "hadiah". "Karunia Allah" berarti "hadiah yang Allah berikan kepada manusia". Jika Anda mau, maka diberikan kepada Anda, bila Anda tidak mau, maka tidak bisa diberikan kepada Anda. Bila Anda mau, maka karunia Allah ini bisa diberikan kepada Anda dengan cuma-cuma. Teman, jika hari ini Anda mau mendapatkan kepuasan, Anda bisa mendapatkannya. Menyiapkan satu hidangan itu cukup merepotkan, tetapi makan satu hidangan tidaklah repot. Menyiapkan sebuah baju itu memerlukan banyak tenaga dan waktu, tetapi memakai baju tidak memerlukan banyak tenaga dan waktu. Jika Anda mau mendapatkan kepuasan, hari ini pun Anda bisa mendapatkannya. Anda tidak perlu berbuat apa-apa. Dia telah menyiapkannya bagi Anda. Dia datang dan memberikan kepada Anda. Oh, karunia Allah diberikan dengan cuma-cuma. Anda bisa segera mendapatkannya.
Dalam Injil Lukas 15 tercatat kisah seorang anak yang hilang. Ketika ia lapar, ia ingin mengisi perutnya dengan ampas yang menjadi makanan babi, tetapi tidak seorang pun yang memberikannya kepadanya. Tetapi, ada satu tempat yang mau memberikan makanan yang enak kepadanya, yaitu rumah bapanya. Maka jalan yang terbaik ialah pulang ke rumah bapanya. Anak itu pernah berkata kepada bapanya, "Bapa, berikanlah kepadaku bagian harta milik kita yang menjadi hakku." Lalu ayahnya membagi-bagikan harta kekayaan itu kepadanya. Tetapi saat dia kembali lagi ke rumah bapanya, apakah ia masih berhak mendapatkan satu hidangan makanan? Patutkah ia diberi sebuah baju? Tidak! Sekarang semua itu telah merupakan karunia, karena apa yang menjadi haknya telah diambilnya dan dihabiskannya. Teman! Karunia Allah adalah sama seperti perlakuan bapa yang menyambut kembali anaknya yang hilang. Itu diberikan kepada Anda secara cuma-cuma, bukan karena Anda telah berjasa melakukan sesuatu.
Apakah kasih karunia Allah itu? Mari kita baca Injil Yohanes 3:16, "Karena Allah begitu mengasihi dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal." Inilah karunia! Karunia bukan yang lain, tetapi Anak Allah. Allah mengutus Anak-Nya mati bagi kita, semua dosa kita ditanggungkan di atas diri Anak-Nya. Inilah karunia yang Allah berikan kepada kita.
Kita baca lagi Injil Yohanes 1:12, "Namun semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya." Dalam Yohanes 3:16 dikatakan, "Allah mengaruniakan Anak-Nya kepada kita"; di sini dikatakan, "Kita menerima-Nya." Ia memberi, kita menerima. Jika hari ini Anda masih belum mengerti bagaimana bisa beroleh selamat, baiklah saya beri tahu Anda, asal Anda mau menerima Anak Allah, cukuplah! Alkitab mengatakan, "Sebab, 'Siapa saja yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan'" (Roma 10:13). Asal Anda mau berseru kepada Tuhan, Anda akan beroleh selamat. Alkitab juga mengatakan, "Siapa saja percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal" (Yohanes 3:36). Asal Anda percaya, Anda pasti beroleh selamat. Inilah Injil Allah.
Teman, yang mengatakan, "Berilah Aku minum" ini adalah karunia Allah. Yesus yang duduk di pinggir sumur, yang ramah tamah dan lemah lembut ini adalah karunia Allah. Jika Anda hanya mengetahui bahwa karunia Allah itu diberikan secara cuma-cuma, itu tidaklah berguna. Anda harus mengetahui bahwa Kristus Yesus ini adalah karunia Allah. Jika Anda mengenal Yesus ini, Anda pasti memohon kepada-Nya, "Engkaulah karunia Allah. Berilah aku air hidup, agar aku mendapatkan kepuasan."
CARA MENDAPATKAN AIR HIDUP
Orang yang bagaimana baru bisa mendapatkan air hidup? Tuhan Yesus berkata, "Niscaya engkau telah meminta kepada-Nya dan Ia telah memberikan kepadamu air hidup." Teman, asal Anda mau meminta kepada-Nya, "Berilah aku air hidup," Anda pasti mendapatkannya. Banyak orang hanya berkata sepatah kata kepada Allah, "Ya Allah, tolonglah aku," mereka segera beroleh selamat.
Injil Lukas 18 mengisahkan seorang pemungut cukai. Di hadapan Allah, ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan memukul diri sendiri dan berkata, "Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini." Perkataannya ini, kalau diperpanjang paling lama hanya satu menit. Tetapi bagaimana tanggapan Tuhan Yesus? Tuhan berkata, "Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah." Dengan kata lain, orang ini telah beroleh selamat, orang ini telah mempunyai hidup yang kekal.
Dalam Lukas 23 juga tercatat tentang seorang yang karena berdosa dipaku di atas salib. Saat itu, Tuhan Yesus juga dipaku di atas salib. Mendengar Tuhan Yesus di salib berdoa bagi orang-orang yang mencelakai-Nya, hatinya tergerak lalu memohon kepada Tuhan, "Yesus, ingatlah aku, apabila Engkau datang sebagai Raja." Doa ini, kalau diperpanjang pun paling lama hanya satu menit. Doanya hanya, "Saat Tuhan datang sebagai Raja, mohon Tuhan ingat aku." Itu sudah cukup. Apa kata Tuhan? Tuhan berkata kepadanya, "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus." Oh, jiwanya tertolong, ia mendapatkan hidup yang kekal.
Jika Anda mau meminta kepada Tuhan, asal Anda mengatakan satu kalimat saja, Anda bisa beroleh selamat! Tuhan mengatakan, "Niscaya engkau telah meminta kepada-Nya dan Ia telah memberikan kepadamu air hidup." Jika Anda meminta, Anda mendapatkan air hidup. Beroleh selamat bukan bersandarkan pekerjaan kita, melainkan bersandarkan pekerjaan penebusan Tuhan. Kuncinya ialah Anda mau atau tidak meminta kepada-Nya.
KESULITAN PEREMPUAN INI
Bagaimana dengan perempuan ini? Ia berkata, "Tuan, Engkau tidak punya timba dan sumur ini amat dalam; dari manakah Engkau memperoleh air hidup itu?" Perempuan ini memiliki dua kesulitan. Pertama, Tuhan tidak mempunyai timba. Kedua, sumur ini amat dalam. Maksudnya, hai Tuan, tidakkah Anda tahu sumur ini dalam? Lagi pula Anda tidak mempunyai timba. Kalau demikian, dari mana Anda memperoleh air hidup itu? Inilah kesulitan setiap orang yang mau beroleh selamat. "Oh, aku mau mendapatkan air hidup untuk meleraikan hausku, tetapi entah berapa dalam sumur ini. Bukankah aku tidak bisa menjangkaunya? Aku ingin mendapatkan keselamatan, mendapatkan hidup yang kekal, memperoleh Roh Kudus untuk meleraikan hausku, tetapi karunia keselamatan itu jauh dariku, hidup yang kekal dan Roh Kudus juga sangat jauh dariku, bagaimana aku bisa mendapatkan semuanya itu? Oh, sumurnya amat dalam, timba pun tidak ada! Entah berapa jauh Allah dariku. Yesus juga demikian. Keselamatan pun amat jauh dariku!"
Tetapi dengarkanlah firman Allah ini, "Firman itu dekat kepadamu, yakni di dalam mulutmu dan di dalam hatimu . . . sebab jika engkau mengaku dengan mulutmu bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka engkau akan diselamatkan" (Roma 10:8-9). Di sini memberi tahu kita, "Firman itu dekat kepadamu!" Jika demikian firman Allah, mengapa Anda katakan bahwa sumur itu amat dalam? Firman itu tidak jauh, ia ada di dua tempat: di dalam mulutmu dan di dalam hatimu. Apakah Anda tidak mempunyai mulut? Apakah Anda tidak mempunyai hati? Ada! Oh, di sini! Ya, di sini! Sumur itu tidak dalam! Asal Anda mengaku dengan mulut bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hati bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka Anda akan mendapatkan air hidup. Airnya ada di sini, yaitu di dalam mulut Anda dan di dalam hati Anda. Anda mengaku, Anda percaya, Anda pasti mendapatkan! Jika Anda dengan mulut mengaku bahwa Yesus adalah Tuhan, dan Anda percaya dalam hati Anda bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka Anda akan diselamatkan. Firman Allah mengatakan, "Jika engkau mengaku dengan mulutmu bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka engkau akan diselamatkan." Masakan firman Allah tidak bisa diandalkan?
AIR INI
Jawab Yesus kepadanya, "Siapa saja yang minum air ini, ia akan haus lagi" (ayat 13). Perempuan ini telah minum air dari sumur Yakub, namun ia masih haus lagi, setiap hari ia masih harus menempuh jarak yang jauh, mengeluarkan banyak tenaga untuk menimba air. Setelah mendapatkan air, meminumnya, masih akan haus lagi, masih harus menimba lagi. Air sumur Yakub tidak bisa meleraikan persoalan hausnya. Teman, tahukah Anda apa yang dimaksud dengan rasa haus? Orang yang sering menempuh perjalanan di padang gurun tentu tahu betapa menderitanya menanggung rasa haus itu. Dokter sering berkata, "Haus itu lebih sengsara daripada lapar." Sungguh menderita, perempuan ini tidak bisa meleraikan rasa haus jasmaninya, lebih-lebih ia tidak mampu meleraikan rasa haus dalam batinnya. Kehidupannya menyingkapkan kehausan dalam hatinya. Ia telah bersuamikan lima orang. Itu menyatakan betapa ia menderita di dalam kehidupannya, ia tidak memiliki kepuasan. Teman, adakah rasa haus di dalam Anda? Mungkin di dunia ini Anda telah memiliki banyak, tetapi hati Anda masih merasa tidak puas.
Dulu, ada seorang datang ke dokter untuk berobat. Ia berkata bahwa dirinya mengidap suatu penyakit, yaitu setiap hari merasa susah hati, sangat sumpek. Setelah memeriksa dengan teliti, sang dokter berkata bahwa ia tidak menderita sakit apa-apa, lalu menganjurinya berekreasi, membaca buku, menonton agar sumpeknya hilang. Setelah berkata demikian, sang dokter memandang wajah pasiennya. Terlihat bahwa pasiennya menunjukkan wajah yang tidak percaya akan anjurannya. Sang dokter segera menyambung, "Baru-baru ini, di kota ini datang seorang pelawak yang terkenal, setiap kali pertunjukan, selalu membuat orang tertawa; segala susah, sumpek pasti lenyap. Cobalah Anda pergi menonton pertunjukan pelawak itu." Tetapi dengan wajah yang semakin sedih pasien itu menjawab, "Dokter, pelawak yang dokter katakan itu sebenarnya adalah saya sendiri. Saya bisa membuat orang gembira, tetapi saya tidak bisa membereskan penderitaan saya sendiri."
Ada orang, dari luarnya nampak seperti selalu riang, tetapi sebenarnya hatinya sedang menderita. Ia selalu memaksa diri untuk tersenyum, tetapi sebenarnya hatinya sangat sedih. Teman, bukankah ada rasa haus di lubuk batin Anda? Bukankah rasa haus itu hingga saat ini belum terleraikan? Bukankah Anda telah berusaha dengan berbagai cara agar Anda mendapatkan kepuasan, tetapi hasilnya tetap nihil? Teman, ketahuilah, yang Anda minum hanyalah air sumur, setelah minum satu kali, Anda masih harus minum lagi. Tuhan berfirman, "Siapa saja yang minum air ini, ia akan haus lagi."
AIR HIDUP
Lalu, apa yang bisa memuaskan manusia? Tuhan Yesus berfirman, "Tetapi siapa saja yang minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai pada hidup yang kekal" (ayat 14). Tuhan Yesus dengan jelas memberi tahu kita, siapa saja yang minum air yang Ia berikan, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya; ia akan mendapatkan kepuasan. Mengapa setelah minum air yang diberikan Tuhan manusia tidak haus lagi untuk selama-lamanya? Karena air yang diberikan Tuhan akan menjadi mata air di dalam diri manusia. Apakah air hidup itu hanya membuat Anda merasa puas selama 3 atau 5 hari? Tidak, ia terus memancar sampai hidup yang kekal. Inilah yang Tuhan Yesus berikan kepada kita. Jika Anda menerima Kristus, Ia akan menjadi mata air di dalam Anda, agar Anda setiap hari mendapat kepuasan.
Teman, kekurangan kita ialah kepuasan yang di dalam. Hanya Kristus yang mampu memuaskan hati kita. Dialah air hidup. Dialah karunia Allah. Hanya Dia yang bisa membuat kita tidak haus lagi untuk selama-lamanya. Teman, tahukah Anda bagaimana keadaan Anda hari ini di hadapan Allah? Ah, setelah kita menjauhi Allah, di dalam kita tidak ada kepuasan, tidak ada damai sejahtera, kita bahkan adalah orang-orang yang mati di dalam dosa. Karena itu, Tuhan Yesus memberi tahu kita, "Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu" (Matius 11:28). Ia datang untuk membereskan persoalan kepuasan hati kita. Ia berkata pula, "Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup" (Yohanes 10:10). Ia datang agar kita yang telah mati di dalam dosa bisa hidup kembali. Oh, Dialah air hidup, hanya Dia yang bisa membuat Anda tidak haus lagi. Hanya Dia yang mampu membuat Anda memiliki hidup yang kekal.
Oh, teman, Anda perlu air hidup! Bagi orang yang menderita kehausan dan hampir mati, hidangan lezat apa pun tidak bisa menolongnya, hanya air yang bisa menyelamatkan dia. Teman, keperluan di dalam Anda hanya bisa dileraikan oleh Tuhan Yesus.
Dulu, ada seorang anak kecil dititipkan ke rumah neneknya (karena ibunya mengidap satu penyakit menular yang ganas), agar ia tidak ketularan penyakit ibunya. Tetapi malang, ibunya meninggal, lalu dikubur. Setelah rumahnya disterilkan, barulah anak itu dibawa pulang ke rumah. Begitu masuk pintu rumah, anak kecil itu langsung berteriak memanggil-manggil mamanya. Tetapi tidak ada jawaban. Ia menangis keras-keras. Orang-orang memberinya kue, ia tidak mau; memberinya mainan, ia menolak; cara apa pun tidak bisa menghibur dia, karena yang ia perlukan bukanlah kue atau mainan, tetapi ibunya.
Teman, Anda perlu Tuhan Yesus. Hanya Tuhan Yesus yang bisa membereskan kehausan di dalam Anda. Banyak orang telah percaya kepada Tuhan Yesus. Mereka mempunyai sukacita, bukan karena keadaan luarnya lebih baik daripada orang lain, tetapi karena di dalam dirinya ada yang memuaskannya, yaitu Kristus. Di dalam dirinya ada sesuatu yang bisa membuatnya berkidung, membuatnya bersukacita. Di dalamnya ada satu sumber kepuasan yang membuat dia tidak haus selama-lamanya.
KEPUASAN PEREMPUAN INI
Sekarang perempuan ini meminta kepada Tuhan. Ia berkata, "Tuan, berikanlah aku air itu, supaya aku tidak haus dan tidak usah datang lagi ke sini untuk menimba air" (ayat 15). Apakah ia mengerti? Sedikit pun ia tidak mengerti. Meskipun ia sedikit pun tidak mengerti, tetapi karena ia telah meminta, maka Tuhan memberikan kepadanya. Tuhan telah berfirman, "Niscaya engkau telah meminta kepada-Nya dan Ia telah memberikan kepadamu air hidup." Begitu perempuan itu meminta, ia segera mendapatkannya. Bukan setelah Anda mengerti dengan otak Anda baru terhitung mendapatkan, melainkan Anda meminta menurut firman-Nya, maka tidak bisa tidak akan diberikan kepada Anda.
"Perempuan itu meninggalkan tempayannya di situ lalu pergi ke kota dan berkata kepada orang-orang di situ, 'Mari lihatlah orang yang mengatakan kepadaku segala sesuatu yang telah kuperbuat. Bukankah Dia Kristus itu?" (ayat 28-29). "Bukankah Dia Kristus itu?" Perkataan ini membuktikan bahwa perempuan ini telah mendapatkannya. Walau sedikit pun ia tidak mengerti, tetapi ia mengenal Kristus ini, maka ia puas. Teman, bila dalam hati Anda terasa letih dan haus, asal Anda percaya dan meminta kepada-Nya, semuanya akan terleraikan.
Dulu, ada seorang perempuan setengah baya datang mendengarkan Injil. Semula, rumah tangganya tidak harmonis, ia merasa sangat menderita, setiap hari ia menghabiskan waktunya di tempat-tempat judi dan mengisap ganja, menempuh kehidupan yang buruk, bahkan pernah ingin bunuh diri. Pada hari itu, Roh Tuhan menggerakkan dia, dan ia bertobat, menerima Tuhan Yesus sebagai Juruselamatnya. Sejak ia beroleh selamat, tidak ada orang yang menganjuri dia untuk tidak mengisap ganja, dengan sendirinya ia tidak lagi ingin mengisap ganja; tidak ada orang yang menganjurinya untuk tidak berjudi, ia sendiri tidak ingin berjudi. Sebelum ia percaya Tuhan, jika orang menyuruhnya berhenti mengisap ganja atau berjudi, itu seperti hendak mengambil nyawanya; ia membius dirinya dalam ganja dan judi, agar dapat melupakan diri sendiri, melupakan penderitaannya. Tetapi sejak ia percaya Tuhan, ia sering berkata kepada orang bahwa di dalam hatinya ada sukacita yang tak terkatakan. Penyakitnya sembuh, badannya pun sehat dan menjadi gemuk. Oh, ia telah minum air hidup, di dalamnya sudah puas.
Oh Teman, Tuhan Yesus bisa memuaskan hati Anda, membuat hati Anda tidak haus lagi. Jika hari ini Anda mau berkata kepada Tuhan, "Tuhan aku mau percaya kepada-Mu. Aku datang ke hadapan-Mu dengan membawa hati yang letih lesu dan haus. Aku mau menerima Engkau sebagai Juruselamatku", Anda segera beroleh selamat. Teman, marilah dengan iman meminum air yang Ia berikan, sekarang juga!
PENDERITAAN SALIB
Setiap kali saya tergerak oleh Roh Kudus, memikirkan Tuhan Yesus Kristus mati bagi saya (orang dosa) supaya saya terhindar dari hukuman dosa, supaya saya bisa mendapatkan hidup yang kekal, saya tak dapat tidak mengucurkan air mata, berterima kasih atas rahmat-Nya. Betapa sengsara penderitaan yang dialami Tuhanku di atas kayu salib! "Ya Tuhanku, Engkau betapa kasihan, karena Engkau mati demikian bagi dosaku di gunung Golgota yang terpencil." Tuhan Yesus asalnya adalah Allah yang mulia di surga, Dia adalah Sang Kudus, Dia tidak usah mati, dan tidak bisa mati. Tetapi karena mengasihi orang dunia, Dia datang ke dunia yang penuh dosa, mengambil rupa manusia, berdiri di atas kedudukan orang berdosa, menerima hukuman yang harus diterima orang dosa. Dia telah mati, supaya Anda dan saya bisa mendapatkan hidup. Betapa besar kasih ini! Anda dan saya yang berbuat dosa, Anda dan saya yang berbuat jahat, tetapi hukuman dosa, penderitaan neraka telah menimpa diri Tuhan Yesus. Apakah ini? Inilah penggantian! Inilah kasih! Inilah anugerah! Hai orang dosa! Tahukah Anda bahwa dosa Anda telah menyalibkan Tuhan Yesus yang terkasih di atas kayu salib. Saya sangat mengharapkan Anda tahu, saya sangat mengharapkan Anda sekarang karena dorongan kasih Tuhan Yesus, datang dan percaya kepada Juruselamat yang penuh kasih ini.
Ketika Tuhan Yesus terlahir di dunia, Ia lahir di palungan, karena di penginapan tidak ada tempat untuk Dia. Oh betapa kasihannya! Tetapi, hari ini masih banyak orang yang hatinya tidak memberikan tempat untuk Kristus. Alkitab mengisahkan, ketika Dia lahir, Dia dibungkus dengan kain dan ditaruh di palungan. Kain betapa dingin! Palungan betapa keras! Apakah perlakuan ini yang selayaknya diterima oleh tamu agung surgawi dari tangan manusia? Tuhan Yesus yang Mahaagung, seharusnya tidak perlu datang secara demikian. Tetapi karena mengasihi Anda, mengasihi saya, Dia menerima kelahiran yang sangat menderita ini. Oh, dosa kita telah mencelakakan Dia!
Selama tiga puluh tiga tahun lebih hidup-Nya di bumi, tidak ada satu hari pun yang tidak berada di bawah bayang-bayang salib. Tidak ada tempat tinggal yang tetap, makan tidak menurut waktu yang tertentu, tiap hari prihatin, untuk membimbing agar orang dunia percaya akan kematian-Nya yang akan datang dan karenanya mendapatkan bahagia yang kekal. Ketika Dia di bumi, tidak ada perkara yang menyenangkan hati. Meskipun adakalanya murid-murid-Nya memberi Dia sedikit seberkas terang sukacita, tetapi keragu-raguan dan kebodohan mereka, ketidakpercayaan dan penentangan orang dunia, sering membuat Tuhan Yesus sedih dan mengeluh. Akhirnya, Dia tahu bahwa kekerasan hati orang dunia tidak bisa dipulihkan. Itu menyebabkan Dia menangis untuk Yerusalem. Dia tidak hanya menangis untuk kota dosa pada saat itu, lebih-lebih menangis untuk hati orang yang murtad pada hari ini. Ya Tuhan, karena dosaku, Engkau sampai berada dalam keadaan yang demikian. Kalau Engkau tidak mengasihi aku, mengapa selalu dilawan oleh orang-orang dosa. Tidak hanya demikian, srigala ada lubangnya, burung-burung ada sarangnya, tetapi Anak Manusia yang mengasihi kita tidak ada tempat untuk meletakkan kepala-Nya. Mengapa Dia "terjerumus" ke dalam keadaan yang demikian? Karena mengasihi Anda dan saya, karena dosa Anda dan saya yang menyebabkan Dia demikian. Oh, Dia, karena ingin menyelamatkan kita, menderita kelaparan, menderita kedinginan, menderita penghinaan. Karena kita, Dia sering lapar, sering dahaga, pergi ke mana-mana, akhirnya mati di atas kayu salib. Oh, inilah anugerah yang betapa besar. Ya, Juruselamat yang kasihan, dosaku sungguh besar, Engkau benar-benar adalah Juruselamatku, aku mau percaya kepada-Mu.
Penderitaan Tuhan di atas bumi, meskipun sulit diutarakan, kalau dibandingkan, masih belum apa-apa. Ia menderita bagi kita adalah untuk memikul dosa kita di atas kayu salib. Penderitaan dalam kehidupan-Nya, hanya merupakan bayang-bayang kecil dari Golgota. Dia datang adalah untuk mati, bukan untuk hidup. Dia datang adalah untuk mati bagi kita, supaya kita mendapatkan hidup. Hai orang dosa! Ketahuilah: kalau bukan untuk dosa Anda, Tuhan Yesus tidak akan mati, juga tidak perlu mati. Tetapi kasihan, Anda dan saya adalah orang dosa, sebab itu, Dia datang mati untuk kita. Hai orang dosa yang keras hati! Masihkah Anda tidak mau menerima Tuhan Yesus sebagai Juruselamat Anda? Dia mati untuk Anda. Apakah Anda tidak mempedulikan-Nya?
Anda seharusnya merenungkan situasi Tuhan Yesus di taman Getsemani pada malam itu. Malam itu cuaca sangat dingin, banyak orang duduk berdiang dekat api (Mrk. 14:54). Tetapi di malam yang begitu dingin, Juruselamat Anda di tempat terbuka berdoa dengan sungguh-sungguh. Bahkan “peluh-Nya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah" (Luk. 22:44). Gambaran apakah ini? Anda jangan tertawa, Anda jangan merasa tidak ada apa-apa, Anda jangan sembarangan, Anda jangan keras dan tegar tengkuk! Tuhan Yesus berada dalam keadaan yang demikian dikarenakan dosa Anda, juga dikarenakan dosa saya. Sepertinya, di taman itu Allah mulai menaruh dosa kita ke atas diri-Nya. Bayang-bayang salib saat itu seluruh-Nya meliputi Kristus. Sebab itu, Dia sangat sedih, sangat letih, sangat menderita, sehingga mengucurkan peluh bagaikan titik titik darah. Oh, saya ingin Anda mengetahui penderitaan berpeluh bagaikan titik-titik darah. Saat itu Ia seolah-olah melihat dosa manusia yang bertumpuk-tumpuk dan murka Allah yang bertubi-tubi. Dia justru berada di antaranya. Saat itu Ia menanggung dosa manusia dan menerima hukuman Allah. Karena itu, Dia menderita sekali. Namun itu hanya merupakan bayang-bayang salib yang tidak lama lagi Dia akan mati di atasnya. Meskipun bayang-bayang, ya Tuhan, penderitaan-Mu sudah sangat besar!
Lihatlah, orang yang ingin menangkap Dia telah datang. Meskipun Dia memiliki kemampuan untuk mohon kepada Bapa agar mengutus dua belas pasukan malaikat datang menyelamatkan Dia, tetapi karena ingin menyelamatkan kita, Dia rela ditangkap. Dalam Perjanjian Lama, seorang malaikat membunuh 185.000 orang Asyur. Satu pasukan terdiri atas lebih dari 6.000 orang. Dua belas pasukan malaikat, bukankah itu suatu jumlah yang sangat besar? Kekuatan dua belas pasukan malaikat bukankah sangat besar? Apakah mereka tidak cukup untuk membunuh semua orang yang ada di Yerusalem? Tetapi karena Dia mau menjadi Juruselamat Anda dan saya, maka Dia menderita penghinaan dan penangkapan supaya diri-Nya mati. Allah ditangkap oleh manusia? Ya! Karena Dia mau menyelamatkan manusia, maka terjadilah demikian. Allah yang di surga, karena mau menyelamatkan orang dunia, dibawa pergi oleh manusia sama seperti membawa seorang penyamun (Mat. 22:55). Semuanya itu karena dosa Anda dan saya.
Lihatlah, Anak Allah sudah ditangkap orang. Pertama-tama Dia dibawa ke hadapan Imam Besar Hanas. Di sana Tuhan Yesus dipukul oleh seorang pengawal yang tidak mengerti apa-apa. Mengapa Dia menerima penganiayaan dari orang dosa? Karena mau menyelamatkan Anda dan saya agar terhindar dari binasa yang kekal. Karena dosa Anda dan saya, Dia berada dalam keadaan demikian.
Dari tempat Hanas, orang-orang dunia membawa Kristus ke tempat Kayafas. Alkitab mencatat, Dia dibawa dengan tangan dibelenggu sama seperti orang kriminal. Ia berdiri di atas kedudukan orang dosa, menerima apa yang seharusnya diterima oleh orang dosa, untuk menyelamatkan orang dosa. Di tempat Imam Besar, mereka meludahi muka-Nya dan meninju-Nya, orang-orang lain memukul. Apakah Dia tidak berbuat dosa? Tidak! Siapa pun tidak dapat membuktikan Dia berbuat dosa. Oh, tidak ada yang lain! Karena dosa Anda dan saya, Dia baru berada dalam keadaan demikian.
Kemudian orang-orang membawa Tuhan Yesus yang mengasihi kita ke pengadilan Mahkamah Agama. Di sana Dia menderita banyak penganiayaan jahat dari orang dosa. Oh, penderitaan yang susah ditanggung. Tetapi Dia, karena mau menyelamatkan Anda dan saya, Dia menderita demikian. Kitalah yang mencelakakan Dia. Orang dunia begitu tanpa alasan menganiaya Dia, masih kurang, mereka bahkan berusaha membunuh-Nya, mereka tidak mau berhenti sebelum membunuh-Nya. Ia dibawa lagi ke hadapan gubernur Pilatus, memfitnah-Nya dengan kesalahan memberontak. Tetapi Allah melalui Pilatus membuktikan bahwa Anak Allah ini tidak berdosa. Gubernur ini berkali-kali membuktikan Dia tidak bersalah. Akan tetapi, mengapakah Dia disalib oleh orang? Dia tidak berdosa, mengapa menerima penghukuman karena dosa? Tidak lain karena semua orang dunia telah berdosa; karena dosa semua orang dunia, “Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah" (2 Kor. 5:21). Yesus Kristus yang tidak berdosa, karena dosa Anda, baru mati di kayu salib. Apakah Anda masih mengeraskan hati tidak mau menerima Dia sebagai Juruselamat Anda? Ya Tuhan, semoga Engkau membelaskasihi kami.
Pilatus karena ingin melepas tanggung jawab, mengirim Tuhan Yesus ke Herodes. Di sana Dia kembali dihina dan diolok-olok oleh pengawal-pengawal. Mereka mengenakan jubah kebesaran kepada-Nya (Luk. 23:11). Apakah mereka menghormati Tuhan Yesus? Tidak! Alkitab berkata bahwa mereka mengolok-olok Dia. Oh, Tuhan Yesus, Juruselamat, dosaku telah mencelakakan Engkau. Karena mengasihi aku, Engkau menderita penghinaan dan olok-olok. Sekarang aku mau percaya kepada-Mu, mengasihi-Mu. Terakhir, Tuhan Yesus kembali dibawa ke tempat kerja gubernur. Semalam suntuk, sampai pagi hari, Ia tidak sempat memejamkan mata untuk beristirahat. Dia dibelenggu, dibawa ke sana, ke sini, semalaman itu Dia berjalan sejauh sepuluh kilometer lebih. Penderitaan yang Dia terima betapa besar! Akan tetapi, Dia menanggung semuanya, karena Dia mengasihi Anda, juga mengasihi saya. Meskipun Pilatus mengakui bahwa Dia tidak salah, tetapi akhirnya dia dengan sewenang-wenang menyalibkan Dia di atas kayu salib.
“Yesus dicambuknya lalu diserahkannya untuk disalibkan" (Mrk.15:15). Kalimat ini kedengarannya sangat biasa, namun betapa hebat penderitaan yang terkandung di dalamnya! "Dicambuk"; cambuk orang Romawi berupa satu tongkat kayu, pada ujung tongkat itu diikat beberapa tali kulit dan pada ujung-ujung tali kulit ada metal yang berat. Orang yang dipukul, bertelanjang dada, diikat pada suatu tiang. Dengan alat cambuk sedemikianlah pelaksana pencambukan melakukan tugasnya. Tiga kali mencambuk sudah cukup membuat darah daging orang yang dipukul berhamburan. Kristus yang mulia, karena dosa kita, menderita pencambukan bagi kita. Tentara Romawi yang kejam, apakah mereka tidak mempedulikan Tuhan Yesus? Ya! Mereka sama seperti orang-orang dosa yang lainnya. “Kaki mereka cepat untuk menumpahkan darah" (Rm. 3:15). Betapa kasihan Tuhan Yesus di tangan mereka! Tetapi puji syukur kepada Allah, "Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh" (1 Ptr. 2:24). Hai orang-orang yang sakit dan terluka dalam jiwa, Dia telah menderita pencambukan, cepat-cepat datang kepada-
Nya untuk mendapatkan penyembuhan!
“Mereka mengenakan jubah ungu kepada-Nya, menganyam sebuah mahkota
duri dan menaruh-Nya di atas kepala-Nya, kemudian mereka mulai memberi hormat kepada-Nya, katanya, ‘Salam, hai raja orang Yahudi!"' (Mrk.15:17-18). Inilah satu penghinaan dan olok-olok. Sungguh sulit diterima. Yang diberikan orang dunia kepada Tuhan Yesus bukan mahkota mulia, melainkan mahkota yang teranyam dari duri. Tuhan Yesus, bagi kita menanggung kutukan, kepala-Nya bermahkotakan mahkota duri (yang tumbuh karena kutukan terhadap orang yang berdosa). Mahkota itu betapa tajam, betapa lancip. Kepala yang tidak bercacat, mengapa harus tertusuk demikian? Ya, Dia mau menderita sengsara, Dia mau berdarah, karena Dia tahu, kalau Dia tidak menderita, kita akan binasa selama-lamanya.
“Mereka memukul kepala-Nya dengan buluh" (Mrk. 15:19). Kepala Tuhan Yesus bermahkota duri, ditambah lagi dipukul dengan buluh, bukankah duri itu akan lebih masuk ke dalam daging-Nya. Penderitaan-Nya yang menusuk tulang ini belum pernah dialami oleh Yesus Kristus yang sebagai Allah. Dia, karena mengasihi manusia, mau menggantikan manusia mati di atas kayu salib, menyelamatkan manusia terlepas dari penderitaan kekal lautan api. Karena itu, Ia baru menerima penderitaan yang tidak bisa diucapkan. Serdadu-serdadu — alat-alat orang dunia yang berdosa, ikut berperan dalam penderitaan jasmani Kristus, diteruskan lagi membuat hati Tuhan sakit dengan meludahi-Nya dan berlutut menyembah-Nya (Mrk. 15:19). Setelah mereka mengolok-olok Tuhan Yesus, mereka membawa-Nya ke luar untuk disalibkan. Ada prajurit yang membawa anggur yang dicampur dengan mur untuk diminum Tuhan Yesus. Konon, setelah meminum minuman campuran itu, ketika dipaku, tidak terasa sakit. Tetapi Juruselamat kita tidak mau minum, Dia tidak mau melarikan diri dari penderitaan. Sebelum Dia datang, Dia sudah "menghitung-hitung lebih dulu". Dia sepenuh hati mengasihi semua orang dosa di dunia. Dia mau menerima kematian bagi orang dosa. Dia mau menerima semua penderitaan, semua penghukuman dosa, supaya orang dosa mendapatkan hidup yang kekal. Dia sendiri menggantikan orang dosa, merasakan segala kepahitan hukuman dosa, supaya orang dosa bisa mendapatkan sukacita kebenaran-Nya.
Sampai di Golgota, orang menyalibkan Dia. Apakah hanya prajurit Roma yang menyalib mati Yesus Kristus? Apakah hanya majelis agama Yahudi? Sesungguhnya, dosa-dosa Anda dan saya yang menyalibkan Dia! Salib hanya terbuat dari kayu palang. Prajurit-prajurit merebahkan Tuhan Yesus di atasnya, merentangkan tangan-Nya, dengan paku besar memaku tangan-Nya di atas kayu. Daging terbelah! Darah teralir! Sakit menyengat tulang! Tangan yang satunya dan dua kaki-Nya juga demikian. Kemudian kayu salib itu ditegakkan. Seluruh beban berat tubuh Tuhan Yesus tergantung di beberapa titik paku. Apakah Allah menghukum Tuhan Yesus terlalu kejam? Tidak! Tidak! Betapa besar dosa orang dunia! Betapa banyak dosa Anda dan saya! Hukuman yang harus diterima oleh dosa adalah penderitaan neraka yang kekal. Tuhan Yesus dengan penderitaan yang Ia alami di atas kayu salib adalah penderitaan yang harus diterima oleh kita, orang dosa. Allah demikian menghakimi Dia, tidaklah kejam, karena itulah yang harus diterima oleh orang-orang dosa. Jasa Tuhan Yesus mati bagi orang dosa sekarang telah rampung. Karena itu, “Siapa saja yang percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum, siapa saja yang tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah" (Yoh. 3:18). Dosa kita seperti paku besi yang memaku Tuhan Yesus sampai mati. Ketika Tuhan Yesus dipaku, darah yang Ia cucurkan membasahi paku besi. Sesungguhnya paku dosa kitalah yang mematikan Dia. Tetapi darah-Nya menutupi dosa kita. Inilah karunia penyelamatan! Inilah karunia penyelamatan yang betapa besar! Satu Yohanes 1:7, “Darah Yesus, Anak-Nya itu, menyucikan kita dari segala dosa."
Sekarang Tuhan Yesus telah diangkat. Hai orang dosa, lihatlah peluhnya yang menetes seperti darah! Lihatlah darah yang menetes dari dahi-Nya yang bermahkota duri! Lihatlah darah yang menetes dari punggung-Nya yang telah disesah! Lihatlah darah yang tercucur dari kedua tangan dan kedua kaki! Lihatlah darah yang dibawah rusuk-Nya! Lihatlah darah dari seluruh tubuh-Nya! Oh, lihatlah darah-Nya! "Tanpa penumpahan darah tidak ada pengampunan" (Ibr. 9:22). Juruselamat yang mengucurkan darah ini bisa mengampuni dosa Anda, mengapa Anda ragu-ragu. Anda jangan tertipu mengira bahwa penumpahan darah-Nya, penderitaan-Nya yang banyak itu adalah untuk teladan manusia. Tuhan Yesus sendiri berkata, "Sebab inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa-dosa" (Mat. 26:28). Jangan salah paham, penumpahan darah-Nya adalah penumpahan menggantikan kita. Penyaliban-Nya adalah tersalib menggantikan Anda. Penderitaan-Nya adalah menanggung dosa Anda. "Sebab juga Kristus telah mati sekali untuk dosa-dosa kita, Ia yang benar untuk orang-orang yang tidak benar, supaya Ia membawa kita kepada Allah ... Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib" (1 Ptr. 3:18; 2:24). Hai orang dosa yang tertekan oleh dosa! Di manakah dosa Anda? Apakah dosa Anda masih Anda pikul sendiri, atau telah Anda serahkan kepada Kristus? Ingatlah, kematian Kristus adalah mati bagi Anda. Dia mengasihi Anda. Anda jangan mengeraskan hati, Anda harus memikirkan penderitaan-Nya, supaya Anda di satu aspek mengetahui kasih-Nya, di aspek lain juga mengetahui, kalau Anda tidak percaya, hukuman atas dosa di kemudian hari adalah sangat sengsara.
Kita sudah mengatakan tentang penderitaan jasmani-Nya. Sekarang mari kita melihat penderitaan batin-Nya yang tidak lebih ringan daripada penderitaan jasmani-Nya. Ada murid-murid-Nya yang melarikan diri, ada yang menyembunyikan diri, ada yang menjual Dia, ada yang tidak mengakui Dia. Betapa Dia sendirian di atas kayu salib! Ia sendirian mengirik anggur, tidak ada orang yang bersimpati kepada-Nya. Keadaan yang gelap! Dia dan Allah, yang paling suci, paling benci dosa; namun sekarang Dia sedang menanggung dosa orang dunia, menjadi dosa bagi orang dunia. Keadaan demikian, tidak ada orang yang dapat memahaminya dengan tuntas. Di satu pihak, Iblis dan setan-setan menertawakan, "Hai Anak Allah, Engkau juga memiliki hari seperti ini. Mengapa Engkau tidak turun dari salib?" Di pihak lain, Allah meninggalkan Dia, “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?" Keadaan yang menyedihkan! Teman-teman, Allah paling membenci dosa. Dosa yang di atas diri Anak-Nya pun Dia benci (meskipun Anak-Nya hanya menanggung dosa orang lain). Allah tidak bisa toleran terhadap dosa, tidak bisa bersamaan dengan dosa. Atas diri Anak-Nya yang memikul dosa orang lain saja Ia tinggalkan, apalagi atas dosa orang berdosa. Kalau Anda tidak menerima Kristus menjadi Juruselamat Anda, Anda akan selamanya ditinggalkan oleh Allah. "Tuhan Yesus, penderitaan-Mu di atas kayu salib, sungguh-sungguh tidak dapat saya mengerti. Tuhan, Engkau sungguh menderita! Engkau sungguh kasihan! Hari ini aku mau menerima Engkau sebagai Juruselamatku."
Mazmur 22, menggambarkan penderitaan Tuhan Yesus di atas kayu salib. Daud dalam pengalamannya, menubuatkan penderitaan Tuhan. Ayat 12-19, ia mengatakan, "Sebab kesusahan telah dekat, dan tidak ada yang menolong." Ini mengacu kepada murid-murid yang melarikan diri. "Banyak lembu jantan mengerumuni aku; banteng-banteng dari Basan mengepung Aku; mereka mengangakan mulutnya terhadap aku Seperti singa yang menerkam dan mengaum." Ini mengacu kepada Iblis dan tenteranya yang sewenang-wenang kepada Tuhan; mungkin dilampiaskan melalui manusia. "Seperti air aku tercurah." Inilah yang digambarkan oleh Yesaya 53:12, “Ia telah menyerahkan (menuangkan) nyawa-Nya ke dalam maut." Menuangkan nyawa-Nya adalah sangat menderita! “Dan segala tulang-Ku terlepas dari sendinya; hatiku menjadi seperti lilin, hancur luluh di dalam dadaku." Ini mengacu kepada penderitaan-Nya yang tergantung di atas kayu salib. Hati-Nya hancur! "Kekuatanku kering seperti beling, lidahku melekat pada langit-langit mulutku; dan dalam debu maut Kauletakkan aku." Inilah penderitaan-Nya di atas kayu salib menerima api murka penghakiman Allah, menanggung penderitaan lautan api yang seharusnya diterima oleh manusia. Saat ini Ia berkata, "Aka haus." Kalau Anda membandingkan penderitaan kehausan orang kaya di alam maut, Anda akan mengetahui penderitaan Tuhan Yesus. “Sebab anjing-anjing mengerumuni aku, gerombolan penjahat mengepung aku." Inilah keadaan di bawah kayu salib. “Mereka menusuk tangan dan kaki-Ku." Ini mengacu kepada tangan dan kaki Tuhan yang dipaku. Anak Allah dipaku di atas kayu salib. "Segala tulangku dapat kuhitung." Inilah penderitaan dipaku di atas kayu salib. “Mereka menonton, mereka memandangi aku. Mereka membagi-bagi pakaianku di antara mereka, dan mereka membuang undi atas jubahku." Semuanya ini telah tergenapi di atas gunung Golgota. Hai orang-orang yang membaca ayat-ayat ini, saya harap Anda merenungkan ayat-ayat ini. Kiranya Tuhan Yesus yang tersalib dengan hidup terwujud di hadapan Anda. Oh, kematian-Nya adalah kematian yang paling menderita di dunia ini! Tidak ada orang yang mati seperti mati-Nya. Penuh dengan hati kasih mau menyelamatkan orang dunia. Demikianlah Dia mati bagi orang dunia. Pembaca! Sekalipun Anda tidak takut hukuman lautan api belerang, kiranya Anda tergerak oleh kasih-Nya di atas salib dan menerima Dia.
Sekarang karunia keselamatan sudah rampung, tidak perlu Anda melakukan sesuatu atasnya. Tuhan Yesus telah merampungkan karunia keselamatan bagi Anda. Dia telah mengeluarkan semua harga, supaya Anda bisa dengan cuma-cuma beroleh selamat, Anda tidak perlu mengeluarkan harga apa pun.
Dia turun dari surga, supaya Anda bisa naik ke surga.
Dia ditentang orang dosa, supaya Anda diterima oleh Allah.
Dia sementara dibuang oleh Allah, supaya Anda selamanya diterima oleh Allah.
Dia menjadi miskin, supaya Anda menjadi kaya.
Dia mati di atas kayu salib, supaya Anda bisa selamanya hidup di surga.
Adakah kasih yang lebih besar daripada ini. Hai orang dosa! Jangan mengeraskan hati, jangan menunggu-nunggu, datanglah segera. Dia tidak pernah putus asa terhadap Anda.
"Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah. Tetapi Dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh. Kita sekalian sesat seperti domba, massing-masing kita mengambil jalannya sendiri, tetapi TUHAN telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian" (Yes. 53:4-6).
"Tuan-tuan, apa yang harus aku perbuat supaya aku diselamatkan? Jawab mereka, ‘Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu"' (Kis. 16:30-31).
W.N.
KESELAMATAN BAPTISAN
Ketika manusia itu mulai bertambah banyak jumlahnya di muka bumi, dan bagi mereka lahir anak-anak perempuan, maka anak-anak Allah melihat bahwa anak-anak perempuan manusia itu cantik-cantik, lalu mereka mengambil istri dari antara perempuan-perempuan itu, siapa saja yang disukai mereka. Berfirmanlah TUHAN, “Roh-Ku tidak akan selama-lamanya tinggal di dalam manusia, karena manusia itu adalah daging, tetapi umurnya akan seratus dua puluh tahun saja." Pada waktu itu orang-orang raksasa ada di bumi, dan juga pada waktu sesudahnya, ketika anak-anak Allah menghampiri anak-anak perempuan manusla, dan perempuan-perempuan itu mel.ahirkan anak bagi mereka; inilah orang-orang yang gagah perkasa di zaman purbakala, orang-orang yang kenamaan. Ketika dilihat TUHAN bahwa kejahatan manusia besar di bumi dan bahwa segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata, maka menyesallah TUHAN bahwa Ia telah menjadikan manusia di bumi, dan hal itu memilukan hati-Nya. Berfirmanlah TUHAN, "Aku akan menghapuskan manusia yang telah Kuciptakan itu dari muka bumi, baik manusia maupun hewan dan binatang-binatang melata dan burung-burung di udara, sebab Aku menyesal bahwa Aku telah menjadikan mereka." Tetapi Nuh mendapat kasih karunia di mata TUHAN. Inilah riwayat Nuh: Nuh adalah seorang yang benar dan tidak bercela di antara orang-orang sezamannya; dan Nuh itu hidup bergaul dengan Allah.
Kejadian 6:1-9
Maka Allah mengingat Nuh dan segala binatang liar dan segala ternak, . . . Dalam bulan yang ketujuh, pada hari yang ketujuh belas bulan itu, terkandaslah bahtera itu pada pegunungan Ararat. Sampai bulan yang kesepuluh makin berkuranglah air itu; dalam bulan yang kesepuluh, pada tanggal satu bulan itu, tampaklah puncak-puncak gunung.
Kejadian 8:1a, 4-5
Dalam tahun keenam ratus satu, dalam bulan pertama, pada tanggal satu bulan itu, sudahlah kering air itu dari atas bumi; kemudian Nuh membuka tutup bahtera itu dan melihat-lihat; ternyatalah muka bumi sudah mulai kering. Dalam bulan kedua, pada hari yang kedua puluh tujuh bulan itu, bumi telah kering. Lalu berfirmanlah Allah kepada Nuh, "Keluarlah dari bahtera itu, engkau bersama-sama dengan istrimu serta anak-anakmu dan istri anak-anakmu; segala binatang yang bersama-sama dengan engkau, segala yang hidup; burung-burung, hewan dan segala binatang melata yang merayap di bumi, suruhlah keluar bersama-sama dengan engkau, supaya semuanya itu berkeriapan di bumi serta berkembang biak dan bertambah banyak di bumi." Lalu keluarlah Nuh bersama-sama dengan anak-anaknya den istrinya dan istri anak-anaknya. Segala binatang liar, segala binatang melata dan segala burung, semuanya yang bergerak di bumi, masing-masing menurut jenisnya, keluarlah juga dari bahtera itu. Lalu Nuh mendirikan mezbah bagi TUHAN; dari segala binatang yang tidak haram dan dari segala burung yang tidak haram diambilnyalah beberapa ekor, lalu ia mempersembahkan kurban bakaran di atas mezbah itu. Ketika TUHAN mencium persembahan yang harum itu, berfirmanlah TUHAN dalam hati-Nya: "Aku takkan mengutuk bumi ini lagi karena manusia, sekalipun yang ditimbulkan hatinya adalah jahat dari sejak kecilnya, dan Aku takkan membinasakan lagi segala yang hidup seperti yang telah Kulakukan.
Kejadian 8:13-21;
Yaitu kepada roh-roh mereka yang dahulu pada waktu Nuh tidak taat kepada Allah, ketika Allah tetap menanti dengan sabar waktu Nuh sedang mempersiapkan bahteranya, di mana hanya sedikit, yaitu delapan orang, yang diselamatkan melalui air bah itu. Juga kamu sekarang diselamatkan oleh kiasannya, yaitu baptisan — maksudnya bukan untuk membersihkan kenajisan jasmani, melainkan untuk memohonkan hati nurani yang baik kepada Allah — melalui kebangkitan Yesus Kristus.
1 Petrus 3:20-21;
Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum.
Markus 16:16
Kisah bahtera Nuh adalah kisah yang dikenal oleh banyak orang, terlebih lagi oleh orang-orang yang ada di dalam gereja. Kita sering mendengar orang bercerita tentang bahtera. Hari ini kita akan melihat apakah yang sesungguhnya Alkitab perlihatkan kepada kita tentang bahtera. Alkitab membicarakan tentang keselamatan kita dalam beberapa bagian. Ada yang membicarakan kedudukan kita di hadapan Allah, ada yang membicarakan kita diperkenan di hadapan Allah, ada yang membicarakan persekutuan kita dengan Allah, ada yang membicarakan kedudukan kita di dalam dunia. Semua ini seolah-olah tidak begitu enak didengar, seolah-olah agak kacau. Tetapi saya akan mengambil beberapa perumpamaan untuk menjelaskan, supaya kita bisa jelas.
PERNYATAAN BEBERAPA MACAM
KARUNIA KESELAMATAN
Pakaian dari kulit dalam Kejadian 3:21 — “Dan TUHAN Allah membuat pakaian dari kulit binatang untuk manusia dan untuk istrinya itu, lalu mengenakannya kepada mereka"— menyatakan karunia keselamatan. Menyatakan karunia keselamatan apa? Menyatakan kita bisa dibenarkan di hadapan Allah. Kurban yang dipersembahkan Habel dalam Kejadian 4 juga menyatakan karunia keselamatan. Kurban yang dipersembahkan Kain, tidak diperkenan oleh Allah; kurban yang dipersembahkan Habel, diperkenan Allah. Karena kurban yang dipersembahkan Kain dilakukan berdasarkan diri sendiri, maka Allah tidak berkenan. Kurban yang dipersembahkan Habel adalah berdasarkan Anak Domba penebus dosa, mereka diperkenan Allah. Semua kurban dalam Alkitab juga menyatakan perkenan Allah. Kisah anak yang hilang dalam Lukas 15 juga menyatakan Allah berkenan kepada orang dosa. Efesus 1 juga berkata bahwa Allah di dalam Anak-Nya yang terkasih berkenan kepada kita. Jadi, Kejadian 4 menyatakan karunia keselamatan perkenan Allah kepada manusia. Kejadian 5, Henokh diangkat, juga menyatakan karunia keselamatan Allah. Perkara ini menyatakan karunia keselamatan mengalahkan maut.
Kejadian 3 menyatakan dibenarkan, pasal 4 menyatakan perkenan Allah, pasal 5 menyatakan mengalahkan maut. Bahtera di sini juga menyatakan karunia keselamatan. Tetapi berbeda dengan yang dinyatakan dalam Kejadian 3, 4, 5. Yang pertama menyatakan dibenarkan di hadapan Allah, yang kedua menyatakan diperkenan di hadapan Allah, yang ketiga menyatakan mengalahkan maut, memiliki hidup yang kekal. Yang dibicarakan dalam pasal 6 adalah hubungan orang Kristen dengan dunia. Bagaimana orang Kristen bisa terlepas dari segala yang dihukum Allah? Bagaimana bisa terlepas dari aegala yang berada di bawah penghakiman Allah? Tergantung kita bagaimana menerima karunia keselamatan Allah untuk terlepas dari penghukuman dan penghakiman Allah. Pelepasan di sini sama seperti seorang terlepas keluar dari satu lingkaran.
Dosa itu berbeda-beda. Kejadian 3, 4, 5, dan 6 membicarakan berbagai macam dosa yang berlainan. Dosa yang dibicarakan pasal 3 adalah berdosa kepada Allah, adalah dosa di hadapan Allah, dosa murtad kepada Allah. Pasal ini juga memberi tahu kita bahwa dosa manusia di hadapan Allah memerlukan Allah dengan kulit binatang membuat pakaian untuk dikenakan kepada manusia agar manusia dibenarkan di hadapan Allah. Dosa yang dibicarakan dalam pasal 4 adalah berdosa kepada Allah, juga berdosa kepada sesamanya. Kain membunuh saudaranya. Ia sekaligus melanggar dua perintah Allah, yaitu "kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu", dan "kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri". Dosa ini memerlukan kurban persembahan, supaya bisa diperkenan di hadapan Allah. Sekalipun suatu dosa dilakukan terhadap manusia, juga memerlukan diperkenan di hadapan Allah, kalau tidak, tidak bisa lewat. Dosa yang dibicarakan dalam pasal 5 berbeda dengan dosa yang dibicarakan dalam pasal 3 dan 4. Dosa dalam pasal 5 adalah dosa melupakan Allah. Mereka tidak mempedulikan Allah, mereka bertindak semaunya sendiri. Sehari lewat sehari makan makanannya sendiri, menempuh hidupnya sendiri. Tetapi di sini kita nampak ada seorang yang hidup bergaul dengan Allah. Saat itu, seluruh dunia penuh dengan kematian, manusia tidak mau Allah. Kemudian Allah menebus dengan sempurna Henokh dari dunia yang mati supaya dia tidak merasakan kematian. Dosa yang dibicarakan dalam Kejadian 6 adalah dunia berdosa menentang Allah. Dosa dalam Kejadian 3 adalah dosa pribadi; dosa dalam Kejadian 4 adalah dosa manusia terhadap manusia yang lain; dosa pasal 5 adalah dosa orang banyak; dosa pasal 6 adalah dosa korporat. Dosa pasal 6, menurut perhimpunan, organisasi, dan ruang lingkup dunia, adalah seluruh umat manusia secara korporat berdosa kepada Allah. Jadi, pasal 6 membicarakan bagaimana dunia berdosa menurut ruang lingkup dunia.
PENGHAKIMAN AIR BAH
Sekarang kita akan lihat pasal 6. Pada permulaan pasal 6 kita nampak bagian Alkitab ini tidak membicarakan yang lain, hanya membicarakan bagaimana malaikat yang berdosa dengan manusia yang berdosa bergabung berbuat dosa. Sebab itu, kita tidak perlu bertanya bagian Alkitab ini memiliki arti khusus apa? Asal memikirkan tentang anak-anak Allah (yaitu malaikat yang berdosa) dengan anak-anak perempuan manusia (yaitu manusia yang berdosa), keduanya adalah ciptaan Allah, sama-sama mempunyai roh. Ketika mereka bergabung berdosa, dunia ini sampai pada akhirnya. Dalam dunia yang pertama, yang berdosa adalah malaikat. Dalam dunia yang kedua, yang berdosa adalah manusia. Maka kita melihat, malaikat dan manusia bergabung berdosa, itulah saatnya akhir zaman segera tiba. Malaikat yang berdosa dengan manusia yang berdosa segera akan dihakimi oleh Allah.
Sekarang kita nampak bahwa manusia sangat bersifat daging. Tak perduli melakukan kebaikan daging atau kejahatan daging, manusia adalah milik daging. Sebab itu Allah tidak berebut(Tl.) dengan mereka. Tadinya Roh Allah berebut dengan mereka, sekarang manusia tidak mau mendengarkan firman Allah, jatuh sampai satu taraf sehingga Roh Allah tidak bisa berebut dengan manusia. Dengan kata lain manusia telah bejat sekali, sampai-sampai Roh Allah tidak bisa berebut dengan manusia. Dengan kata lain lagi, manusia sudah rusak sedemikian rupa sampai-sampai Roh Kudus tidak bisa mengubahnya lagi. Dengan kata lain lagi, karena manusia adalah milik daging, maka Roh Kudus tidak bisa memperbaikinya, apalagi cara manusia! Sebab itu, Roh Kudus tidak bisa tidak mundur, membiarkan dunia ini melalui penghakiman. Ingatlah, daging kita hari ini tidak lebih baik daripada zaman Nuh. Kalau hari ini manusia tidak menyalibkan daging dan nafsu daging di atas salib, Roh Kudus juga tidak bisa bekerja. Roh Kudus tidak menganjuri orang untuk berbuat baik, karena manusia tidak bisa berbuat baik. Roh Kudus hanya menganjuri orang untuk dilahirkan kembali. Berbuat baik dan tidak berbuat jahat adalah hal-hal yang tidak termasuk dalam kamus daging. Hanya orang yang dilahirkan kembali, yang mendapatkan hayat, baru bisa berbuat baik. Karena itu, dilahirkan kembali bukanlah menangis mengaku dosa, bergairah, menjadi anggota gereja yang baik, bisa membaca Alkitab, bisa berdoa. Dilahirkan kembali adalah mendapatkan satu hayat yang baru yang berasal dari Allah. Dilahirkan kembali adalah dari Allah mendapatkan satu hayat. Dilahirkan kembali adalah lahir untuk kedua kalinya.
Begitu dunia penuh dengan dosa dan kejahatan, sebelum Roh Kudus bekerja, harus melakukan satu pekerjaan lebih dulu. Setelah manusia berdosa, kalaupun Roh Kudus bekerja, tidak ada gunanya. Setelah manusia berdosa, perkara yang pertama ialah, Allah mengutus Tuhan Yesus datang. Ketika manusia berubah menjadi orang dosa, Tuhan Yesus datang bekerja lebih dulu. Kalau Roh Kudus datang lebih dulu, tidak berguna. Tuhan Yesus harus menghakimi manusia lebih dulu, baru kemudian Roh Kudus bisa bekerja. Sebab itu dalam perumpamaan pertama Lukas 15 adalah gembala — Tuhan Yesus mencari domba yang hilang. Perumpamaan yang kedua adalah perempuan — Roh Kudus menyapu ruangan mencari dinar yang hilang. Kalau tidak ada pekerjaan penebusan Kristus, Roh Kudus tidak bisa bekerja. Sebelum pekerjaan Tuhan Yesus rampung, pekerjaan Roh Kudus tidak bisa dimulai. Karena pekerjaan Kristus sudah rampung, maka Roh Kudus bisa melakukannya. Jadi di sini (dalam Kejadian 6) terlebih dulu ada pekerjaan penebusan, sampai merpati dalam Kejadian 8, baru menyatakan pekerjaan Roh Kudus. Harus menunggu Allah melakukan satu pekerjaan lebih dulu baru Roh Kudus datang bekerja. Kejadian 6:13 mengatakan “Aku telah memutuskan untuk mengakhiri hidup segala makhluk, sebab bumi telah penuh dengan kekerasan oleh mereka. Jadi Aku akan memusnahkan mereka bersama-sama dengan bumi." Allah melihat seluruh dunia penuh dengan dosa, penuh dengan kekerasan, sudah rusak. Allah berkata bahwa kesudahan mereka sudah tiba, akhir mereka sudah sampai. Kalau tidak membawa mereka sampai kepada kesudahannya tidak ada cara lain. Karena itu ketika Allah melihat manusia penuh dengan dosa dan kekerasan, Ia menghakimi mereka. Allah membawa semua manusia dan makhluk hidup melewati penghakiman air bah dan memusnahkan mereka.
Hari ini banyak orang Kristen tidak jelas akan kedudukan dunia di hadapan Allah. Hari ini kalau ada orang menganjuri saudara saudari meninggalkan dunia, itu seperti seorang ibu mencoba mengambil coklat dari mulut anaknya yang kecil. Mengapa perkara ini demikian sulit? Tidak lain karena mereka tidak melihat kedudukan dunia di hadapan Allah. Beroleh selamat bukan hanya pandangan pribadi, tetapi juga pandangan korporat. Dosa bukan saja milik perorangan, tetapi juga milik korporat. Yang menyalibkan bukan orang Yahudi saja, tetapi juga seluruh dunia. Yang bermusuhan dengan Allah bukan orang Yahudi saja, tetapi juga seluruh dunia. Misalnya, satu negara bermusuhan dengan negara lain, itu musuh pribadi atau musuh bersama. Kita mengetahui itu bukan masalah pribadi. Meskipun ada beberapa orang di negara musuh itu berlaku baik dengan orang-orang di negara ini, itu hanya hubungan pribadi saja. Tetapi, masalah hari ini bukan perorangan dalam negara musuh itu baik atau tidak baik, melainkan seluruh negara musuh melawan negara ini. Bukan karena orang tua perorangan negara ini dibunuh orang negara musuh lalu membenci musuh, melainkan karena hubungan negara dengan negara. Jadi; tidak saja menurut perorangan dunia adalah musuh Allah, bahkan semua ruang lingkup organisasi, adat istiadat, sistem dalam dunia ini juga adalah musuh Allah. Sebab itu, kalau Anda ada bagian dalam ruang lingkup, organisasi, adat istiadat, atau dalam sistem itu berarti Anda sudah bermusuhan dengan Allah. Berarti Anda belum tertolong dari dunia. Kalau Anda nampak ini, Anda tidak perlu menganjuri orang untuk berbuat ini itu, tidak perlu menganjuri orang berubah, tidak perlu menganjuri orang melepaskan kebiasaan yang jelek, tidak perlu menganjuri orang untuk rialat, berbuat baik, tidak perlu menganjuri orang lain mendapat kelepasan, semuanya itu tidak berguna. Allah berkata bahwa dari sudut pandang-Nya seluruh dunia telah rusak. Karena itu, Allah bermusuhan dengan dunia. Dunia bermusuhan dengan Allah. Siapa saja yang mengasihi dunia, tidak mengasihi Allah. Siapa saja yang mengasihi dunia, hati mengasihi Allah tidak ada di dalamnya. Siapa saja yang mau berteman dengan dunia, adalah bermusuhan dengan Allah. Inilah cara pandang Allah.
Saudara saudari, saya ingin bertanya, "Maukah Anda terlepas dari lautan api neraka?" Kita mau terlepas dari lautan api, kita mau masukYerusalem baru. Banyak orang mengharapkan beroleh selamat supaya terlepas dari neraka, yaitu lautan api, dapat masuk surga yaitu Yerusalem Baru. Keselamatan semacam ini diinginkan oleh banyak orang. Tetapi saya memberi tahu Anda, dalam Alkitab keselamatan semacam ini tidak banyak. Dalam Alkitab keselamatan semacam ini disebut dibenarkan, diperkenan Allah. Dalam Alkitab masih ada keselamatan yang lain, yaitu terlepas dari dunia. Kalau kita tidak terlepas dari dunia, kita tidak bisa terlepas dari lautan api.
Ketahuilah, bagian Alkitab ini mengatakan bahwa Allah hanya mendapatkan satu Nuh. Orang pertama, Adam, telah rusak, telah tidak ada harapan, telah tidak berdaya. Maka Allah di luar orang pertama mencari orang kedua, yaitu Nuh, orang yang diperkenan Allah, untuk melambangkan Kristus. Allah melalui Nuh menetapkan satu cara penyelamatan supaya orang beroleh selamat dari dunia. Karena itu Allah menyuruh dia dengan kayu gofir membuat bahtera dan membawa masuk ke dalam bahtera segala makhluk hidup, burungburung, binatang melata dan binatang liar masing-masing menurut jenisnya. Lalu Allah menurunkan hujan ke atas bumi; di bumi terjadi air bah. Seluruh bumi tenggelam. Siapa yang beroleh selamat? Yaitu orang-orang yang terlepas dari dunia, yang ada di dalam bahtera. Orang yang terlepas dari dunia adalah orang yang terlepas dari air bah. Orang yang terlepas dari dunia adalah orang yang terlepas dari lautan api. Bukan orang dosa masuk neraka, melainkan orang dunia masuk neraka. Penginjil-penginjil sering berkata bahwa orang dosa akan masuk neraka! Sesungguhnya ia harus berkata, orang dunia akan masuk neraka. Asal Anda adalah orang dunia, Anda pasti masuk neraka.
Pernah sekali, saya bertemu dengan seseorang di sebuah kapal. Dia bertanya kepada saya, "Orang macam apa yang bersyarat masuk neraka?" Saya berkata, "Anda adalah orang itu, seharusnya masuk neraka." Semua orang, asal ia manusia, seharusnya masuk neraka. Arti beroleh selamat ialah diselamatkan dari kelompok orang-orang yang binasa, yaitu diselamatkan dari ruang lingkup yang binasa. Meskipun saya bukan pelaku kriminal, tetapi kita masing-masing adalah orang dosa. Kita bukan orang-orang yang tersangkut perkara kriminal, tetapi kita adalah orang dosa. Alkitab berkata bahwa semua orang adalah orang dosa. Misalnya, Saudara A tidak melakukan dosa tertentu, tidak melanggar hukum, dia bukan orang yang melakukan kriminal. Jadi, bukan setiap orang dunia adalah orang yang melanggar hukum. Tetapi, setiap orang dunia masing-masing berbuat dosa. Sebab itu, beroleh selamat diselamatkan dari dunia. Beroleh selamat adalah menyelamatkan orang dari dunia yang dihukum oleh Allah.
KESELAMATAN BAHTERA
Saat itu, Nuh dan makhluk hidup — burung, hewan, binatang melata— semua beroleh selamat. Nuh melambangkan Juruselamat, bahtera juga melambangkan Juruselamat. Nuh melambangkan Anak Allah, bahtera melambangkan Anak Manusia. Karena bahtera terbuat dari kayu gofir, menyatakan sifat insani Tuhan Yesus. Orang-orang ini beroleh selamat, menyatakan mereka beroleh selamat dari dunia. Saat itu, terbelahlah segala mata air samudra raya yang dahsyat dan terbukalah tingkap-tingkap di langit. Ini berarti tidak saja perorangan dihukum, tetapi juga seluruh dunia. Karena itu beroleh selamat adalah diselamatkan dari kelompok dunia. Siapa saja ada di dalam bahtera, ia adalah orang yang beroleh selamat, yang keluar dari dunia. Seorang yang beroleh selamat, tidak bisa di satu pihak beroleh selamat, di pihak lain masih tinggal di dunia. Tidak bisa menjadi orang yang naik duduk di atas tembok. Tidak bisa satu kaki masuk bahtera, satu kaki tinggal di dunia. Setiap orang yang masuk bahtera, begitu masuk bahtera, ia akan terkunci di dalam bahtera. Sebab itu, orang yang telah beroleh selamat tidak bisa di satu pihak mengasihi dunia, dan di pihak lain mengasihi Tuhan. Meskipun Anda bisa sembunyisembunyi melakukan itu, tetapi di hadapan Allah, Allah sama sekali tidak mengijinkan itu. Karena itu orang yang percaya Tuhan harus mutlak menolak dunia. Harus sepenuhnya tidak mengasihi dunia. Kita jangan menganggap sesuatu perkara terlalu dunia, lalu kita berusaha mengubahnya sedikit, memperbaiki sedikit. Sesungguhnya Allah telah mengambil Anda keluar dari dunia. Beroleh selamat adalah Allah mengambil Anda keluar dari dunia. Karena Anda sudah di luar dunia, maka Anda harus menempuh hidup di luar kehidupan dunia. Hal ini berlainan dengan di luar menganjuri orang jangan mengasihi dunia. Orang-orang negara ini membenci orang-orang negara musuh bukan karena wajahnya pernah ditampar oleh orang-orang negara musuh itu, melainkan karena hubungan negara dengan negara. Demikianlah semua masalah di tengah-tengah kita.
Kita sudah terlepas dari dunia. Bagaimana cara kita terlepas dari dunia? Allah memperlihatkan kepada kita bahwa dunia telah diduduki oleh manusia, manusia melawan Allah, maka Allah menolong kita terlepas dari dunia. Demikianlah Allah membuat satu bahtera, menolong manusia keluar dari dunia untuk masuk bahtera. Allah menyuruh semua makhluk hidup di dunia ini harus melalui mati; tetapi Allah membawa orang dan makhluk hidup yang ada di dalam bahtera melewati (melampaui) kematian. Kemudian Allah membebaskan mereka dari bahtera, supaya mereka memenuhi dunia ini (dunia ini adalah dunia yang baru). Artinya, Adam, kepala yang lama, dan segala yang ada di dalam Adam, telah ditolak Allah. Hanya Nuh, kepala yang baru, dan segala yang ada di dalam Nuh, haruslah mengekspresikan hayat baru supaya anak cucunya memenuhi seluruh bumi. Orang-orang yang ada di bumi yang baru melambangkan orang-orang yang kelak di dalam Kristus mendapatkan langit baru dan bumi baru. Orang-orang yang ada di dalam bahtera melambangkan orang-orang yang ada di dalam Kristus. Karena itu, orang-orang yang ada di dalam Kristus adalah orang-orang yang kelak berada di langit baru dan bumi baru. Orang-orang yang tidak di dalam bahtera melambangkan orang-orang yang kelak dihukum oleh Allah. Orang-orang yang di dalam bahtera melambangkan orang-orang yang di dalam Kristus, mempunyai hayat baru, bisa masuk ke dalam langit baru dan bumi baru. Jadi, orang-orang yang dilahirkan dari hayat baru ini adalah orang-orang yang memenuhi bumi. Siapa saja yang masuk bahtera, akan dibawa oleh Allah melewati penghakiman air dan memasuki tanah yang baru. Ini melambangkan Kristus akan memenuhi langit baru dan bumi baru.
"Terkandaslah bahtera itu pada pegunungan Ararat" (Kej. 8:4). Arti "ararat" adalah "tempat kudus". Ini menyatakan kebangkitan — keluar dari kematian, juga menyatakan kenaikan surga Tuhan. Bahtera terkandas pada pegunungan Ararat, pada puncak yang bisa dilihat. Hari ini kita juga berhenti di pegunungan Ararat, telah melihat puncak gunung hanya menunggu tanah kering. Karena Tuhan kita telah mati, telah bangkit, telah terangkat. Kita telah berhenti di gunung Ararat, menunggu tanah kering, artinya menunggu Allah menghakimi bumi ini.
BAHTERA DAN BAPTISAN
Hari ini yang kita perhatikan bukan semua yang diuraikan di atas. Yang kita perhatikan secara khusus adalah masalah baptisan. Kita sudah melihat apa yang dikerjakan Nuh dan bagaimana ia melewati kematian. Kita juga telah melihat air bah dan bagaimana mereka masuk bahtera melewati kematian sampai pada tanah yang baru. Dalam 1 Petrus 3, bahtera Nuh melewati air melambangkan baptisan. Air dari air bah pada waktu itu melambangkan air baptisan. Satu Petrus 3:20-21 mengatakan, "Yaitu kepada roh-roh mereka yang dahulu pada waktu Nuh tidak taat kepada Allah, ketika Allah tetap menanti dengan sabar waktu Nuh sedang mempersiapkan bahteranya, di mana hanya sedikit, yaitu delapan orang, yang diselamatkan melalui air bah itu. Juga kamu sekarang diselamatkan oleh kiasannya, yaitu baptisan." Apa subyek kalimat ini? Subyek kalimat ini adalah kiasannya, yaitu baptisan. Apa predikatnya? Yaitu diselamatkan. Apa yang bisa menyelamatkan kita? Baptisan yang bisa menyelamatkan kita. Anda merasa heran? Benarkah baptisan bisa menyelamatkan orang? Saya beri tahu Anda dengan terus terang, kalau Anda tidak dibaptis, Anda tidak bisa beroleh selamat. Petrus juga berkata demikian, kamu sekarang diselamatkan oleh kiasannya yaitu baptisan, tetapi adalah melalui kebangkitan Tuhan Yesus. Tidak saja demikian, Markus 16:16 juga berkata, "Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan.”
Namun kita sering mengubah Markus 16:16 menjadi, "Siapa yang percaya dan beroleh selamat harus dibaptis." Alkitab berkata bahwa baptisan berada di depan beroleh selamat. Kitalah yang ceroboh, kabur, mengira orang yang sudah beroleh selamat baru boleh dibaptis. Alkitab mengatakan: tidak dibaptis, tidak bisa beroleh selamat. Begitu dibaptis, beroleh selamat. Kalau ada orang yang beroleh selamat, itu karena ia sudah dibaptis. Jika ada ribuan orang naik surga, itu karena mereka semua telah dibaptis. Kalian jangan salah paham akan arti keselamatan baptisan. Alkitab membicarakan karunia keselamatan dalam banyak aspek. Karunia keselamatan di aspek dibenarkan, khusus membicarakan kedudukan manusia di Allah. Karunia keselamatan diperkenan di depan Allah khusus membicarakan dari setiap orang Kristen orang yang percaya dengan orang yang berdosa. Karunia keselamatan di aspek pengampunan, khusus membicarakan dosa-dosa yang lampau telah mendapat penebusan. Karunia keselamatan di aspek mendapat hidup yang kekal, khusus membicarakan perbedaan kita dengan kematian. Karunia keselamatan di aspek beroleh selamat, khusus mengacu pada hubungan kita dengan dunia. Beroleh selamat tidak hanya ditujukan kepada kita kelak tidak masuk neraka. Menurut cara pembicaraan Alkitab yang serius, beroleh selamat mengacu pada hari ini kita terlepas dari dunia. Siapa yang bisa mengetahui bahwa Anda sudah beroleh selamat? Siapa yang bisa mengetahui bahwa Anda milik Kristus? Anda berkata bahwa, Anda telah beroleh selamat, tetapi Anda tidak bisa membelah tubuh Anda untuk memperlihatkan hati Anda kepada orang lain. Kita juga tidak bisa melihat iman orang lain. Siapa yang bisa melihat iman orang lain? Allah yang bisa melihat. Allah mengetahui Anda telah dibenarkan, Anda telah diperkenan Allah, dosa Anda telah diampuni, Anda telah mempunyai hidup yang kekal, tetapi manusia tidak mengetahui. Yakobus berkata bahwa manusia tidak bisa melihat iman, hanya bisa melihat perbuatan. Perbuatan yang pertama dari setiap orang Kristen di hadapan manusia adalah dibaptis. Perbuatan Anda yang pertama di hadapan Allah ialah percaya, perbuatan Anda yang pertama di hadapan manusia ialah dibaptis. Dibaptis adalah keluar dari dunia masuk ke dalam Kristus. Dibaptis, adalah keluar dari rumah masuk ke dalam bahtera. Baptisan, sama seperti Nuh pada hari itu mengumumkan kepada orang dunia bahwa penghakiman Allah, murka Allah akan menimpa ke atas diri kalian, karena kalian melawan Allah, menolak Allah, menentang Allah. Kita tidak mau menjadi perantara kalian, hari ini kita akan keluar dari antara kalian ke dalam bahtera yang Allah sediakan untuk kita. Jadi, dibaptis bukan berarti dengan air memerciki kepala, juga bukan sekadar dicelupkan ke dalam air. Dibaptis adalah memproklamirkan kepada dunia bahwa aku dengan dunia sudah tidak ada hubungan, aku sudah lepas dari dunia. Jadi, makna sesungguhnya dari baptisan adalah diri Anda asalnya adalah seorang yang hidup di dalam dunia, sekarang melalui penghukuman yang diterima oleh Tuhan Yesus Kristus, Anda sudah mati, selamanya tidak bangun lagi. Meskipun Anda di dalam air hanya satu dua menit saja, tetapi makna baptisan adalah selamanya tidak keluar dari air lagi. Sejak hari ini di pandangan orang dunia Anda selamanya sudah terlepas dari dunia. Anda dengan dunia selamanya tidak ada bagian, Anda selamanya tidak akan keluar lagi. Bagi orang dunia, ibu, bapak, istri, anak, adalah orang-orang yang paling akrab, tetapi kalau orang yang mereka kasihi meninggal dunia, mereka tidak mau orang itu lagi. Mereka tidak akan mengambil orang yang telah mati dari kuburan dan menaruhnya di rumahnya untuk tinggal bersamanya. Orang Kristen dalam pandangan orang dunia seharuanya juga demikian, seharusnya dipandang seperti orang mati, seperti mengubur orang dalam kuburan.
Di dunia ada dua kelompok besar, yang satu adalah orang dunia, yang satu lagi adalah orang yang beroleh selamat dalam Kriatus. Beroleh selamat adalah keluar dari kelompok besar dunia yang melawan Allah, yang berdosa, yang najis, dan masuk ke dalam kelompok Kristus. Itulah sebabnya kita harus dibaptis. Dibaptis baru bisa beroleh selamat. (Tetapi Anda harus percaya Tuhan lebih dulu, orang yang tidak percaya Tuhan, pasti tidak beroleh selamat). Markus 16:16 berkata, “Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan." Baptisan adalah pelepasan yang besar. Baptisan adalah terlepas dari segala sesuatu yang milik dunia. Baptisan tidak saja adalah kelepasan, tetapi juga masuk, adalah satu langkah masuk yang besar. Baptisan adalah masuk ke dalam Kristus. Baptisan adalah masuk dalam kematian Kristus.
Semua orang yang percaya bisa mendapat hidup yang kekal dikarenakan darah Tuhan Yesus, hal ini tidak bisa kita sangkal. Tetapi kita terlepas atau diselamatkan dari orang dunia karena kita masuk ke dalam bahtera. Baptisan adalah menyatakan kita keluar dari kelompok orang dunia. Misalnya, ada orang bertanya kepada Anda, apakah Anda benar-benar percaya Tuhan? Anda akan menjawab, "Aku benar-benar percaya kepada Tuhan. Aku mendapat pengampunan oleh darah Tuhan Yesus. Alkitab berkata: Siapa yang memiliki Anak Allah mempunyai hidup. Aku bertanya kepada diri sendiri, aku tahu bahwa aku sudah mempunyai hidup. Semua ini aku jelas. Aku tahu, aku percaya, Anak Allah menjadi Juruselamatku." Tetapi jika Anda datang ke sini, lalu Anda marah-marah dan bertengkar dengan dua atau tiga saudara. Setelah peristiwa itu terjadi, Anda tahu bahwa Anda tetap percaya Tuhan Yesus, Anda juga tahu bahwa Anda telah beroleh selamat, Anda sedikit pun tidak bimbang. Tetapi orang lain akan meragukan keselamatan Anda. Apa yang telah terjadi? Ketahuilah, banyak orang memenuhi syarat untuk masuk surga, tetapi kurang memenuhi syarat hidup di dunia. Banyak orang bersyarat hidup di depan Allah, tetapi tidak bersyarat hidup di dalam keluarga. Banyak orang bersyarat hidup di surga, tetapi tidak bersyarat hidup di bumi. Sebab itu Anda tidak bisa berdasarkan "percaya" yang Anda katakan sendiri itu lalu membiarkan orang menaruh Anda ke dalam air, dibaptis. Anda harus tahu apa itu baptisan, baru bisa dibaptis. Anda harus tahu bahwa Anda sudah terlepas dari dunia. Baptisan adalah satu proklamir yaitu pemberitahuan atau pengumuman kepada orang dunia bahwa kini kita tidak lagi bersatu dengan orang dunia. Tidak berdiri bersama dengan orang dunia di pihak dunia. Kita telah terlepas dari dunia. Baptisan adalah satu pengumuman bahwa sejak kini kita berdiri di pihak Kristus.
Saya tidak mendesak kalian untuk dibaptis, melainkan sebelum Anda dibaptis, Anda perlu nampak kelompok dunia dengan Kristus adalah dua kubu yang berlawanan. Di antara dua kelompok ini tidak bisa disatukan. Pada waktu zaman Nuh, Allah mengumumkan bahwa dunia adalah musuh Allah, dunia bermusuhan dengan Allah, hari ini Allah menetapkan penyelamatan. Semua yang masuk bahtera, berarti berada di pihak Allah; semua yang masuk bahtera, berarti berserah kepada Allah. Itulah sebabnya Alkitab dengan ajaib berkata bahwa masuk bahtera melewati air bah menyatakan baptisan. Karena itu saya tidak hanya berkata kepada orang-orang yang akan dibaptis, tetapi juga berkata kepada saudara saudari: Hari ini banyak orang sudah dibaptis, di tengah-tengah kita juga banyak orang sudah dibaptis. Mengapa kalian dibaptis? Apakah karena ini adalah satu prosedur dalam gereja? Apakah karena ini adalah liturgi dalam gereja? Atau perintah Alkitab? Atau untuk menyatakan sikap orang Kristen? Atau karena orang Kristen lain berbuat demikian, lalu kita juga berbuat demikian? Baptisan adalah membelakangi dunia, menghadap kepada Kristus. Baptisan adalah terlepas dari kelompok dunia masuk ke dalam kelompok Kristus. Di antara dunia dan Kristus tidak ada tempat yang netral. Di bahtera Nuh ada satu pintu yang menyekat — pintu dalam adalah Kristus, pintu luar adalah dunia. Ketika Anda dibaptis, kalau Anda nampak ini, tidak perlu orang datang memberi tahu Anda bahwa dalam perkara ini Anda harus berubah, dalam perkara itu Anda harus mengoreksi. Anda tahu Anda harus berbuat apa. Pelepasan Anda terhadap dunia tidak seperti mencabut rambut, harus dicabut satu per satu, melainkan harus dipotong semuanya. Sayang sekali banyak orang di tengah kita tidak melihat hal ini.
Kita ingin mengubah dunia, tetapi Allah memberi kita satu dunia yang baru. Tidak ada satu pun cara manusia, misalnya teologi, iptek, filsafat, ajaran budi pekerti, dan lain sebagainya bisa mengubah dunia ini. Allah memperlihatkan kepada kita, meskipun dunia itu indah, dunia bisa dinikmati, tetapi dunia ini adalah musuh Allah. Anda hidup dalam dunia, karena Anda mengira dunia ada harapan, bisa diubah. Tetapi Allah tidak berharap mengubah dunia. Selain menghukum dunia, tidak ada cara yang lain. Puji Tuhan, kalau dengan cara mengubah dunia, memperbaiki dunia entah akan membuang berapa banyak waktu. Puji Tuhan, asal dilewati (dicuci) dengan air, dunia akan menjadi dunia yang baru. Hari itu, Allah dengan air mencuci dunia ini; kelak, akan dengan api membakar dunia ini. Hari ini apakah kita seperti Lot berkelana di Sodom dan Gomora menunggu dibakar dengan api? Atau kita terhadap dunia tidak tertarik. Sayang sekali banyak orang seperti istri Lot, hidup di dalam dunia. Sebenarnya kita adalah orang-orang yang hidup di dalam dunia ini, atau membiarkan semuanya lewat sambil mengharapkan langit baru dan bumi baru yang di tengah-tengahnya ada kebenaran?
Di atap bahtera ada satu jendela, ada satu "tempat untuk sinar masuk". Istilah "tempat sinar masuk" dalam Perjanjian Lama dipakai sebanyak 24 kali, ada 23 kali diterjemahkan sebagai "tengah hari" (pukul 12). Hanya di sini diterjemahkan sebagai "jendela", tempat sinar masuk. Karena itu, terang yang melewati jendela ini bukan sedikit terang, melainkan terang yang penuh yaitu hidup di dalam terang Allah.
BEBERAPA PATAH KATA
TERHADAP ORANG YANG BELUM JELAS BEROLEH SELAMAT
Saya ingin mengucapkan beberapa patah kata untuk orang-orang yang belum beroleh selamat. Kita tidak bisa memperbaiki dunia. Allah akan menghakimi dunia adalah satu perkara yang pasti. Bagaimana Anda, apakah sudah mempersiapkan diri terlepas dari hukuman Allah? Bagian luar dan dalam dari bahtera diberi pakal (gala-gala). "Pakal" dalam bahasa aslinya satu kata dengan "penebusan dosa". Jadi pakal di sini berarti penebusan dosa, menutupi dosa. Luar dan dalam bahtera diberi pakal, melambangkan penebusan Tuhan Yesus. Luar dan dalam bahtera ada pakal berarti melalui darah Kristus untuk menebus, maka supaya semua makhluk hidup di dalam bahtera beroleh selamat. Asalnya di luar bahtera (di dunia) ada air bah, semua orang dunia mati karena air bah. Tetapi di dalam bahtera bersih, semua hukuman tertimpa pada bahtera — Kristus — tidak tertimpa pada diri kita. Semua orang yang ingin beroleh selamat, ingin mendapatkan penebusan dosa, ingin diselamatkan, ingin mendapatkan damai, hanya ada satu cara, yaitu masuk ke dalam bahtera. Kalaupun orang dunia membuat ribuan kapal, tetap tidak ada gunanya.
Meskipun dunia dipenuhi dengan penghakiman Allah, tetapi ketahuilah, dalam bahtera telah diberi pakal, melambangkan pekerjaan penebusan Kristus; luar bahtera juga diberi pakal, juga melambangkan pekerjaan penebusan Kristus. Di dalam bahtera, penghakiman Allah sama sekali tidak akan menimpa diri Anda. Misalnya, ada seorang, mungkin istri Yafet atau istri Nuh menangis di dalam bahtera. Bagaimana kalau bahtera bocor, kalau bahtera tenggelam? Kita bisa menertawakan dia. Saya ingin bertanya, kalau Anda mengakui pekerjaan penebusan Kristus itu benar, kalau Anda juga percaya Tuhan Yesus tersalib untuk menebus Anda, kalau Anda mengakui semuanya itu, mengapa Anda tidak berani mengatakan bahwa diri Anda telah beroleh selamat? Anda selalu tidak tenteram. Anda berpikir, kalau darah TuhanYesus tidak berkhasiat, bagaimana dengan aku? Saat ini, Anda harus bertanya kepada diri sendiri: Apakah Anda benar-benar percaya Tuhan? Apakah Anda bersandar pekerjaan yang telah dirampungkan Tuhan? Saya bertanya, "Apakah bahtera bisa bocor?" Ada seseorang menemui Moody dengan bercucuran air mata. Moody bertanya, "Mengapa Anda demikian?" Ia berkata, "Aku takut binasa, aku sudah percaya Tuhan, apa yang harus kuperbuat supaya tidak binasa?" Moody berkata, "Alkitab mengatakan: Orang yang percaya mempunyai hidup yang kekal. Siapa saja yang datang kepada-Ku tidak akan Kubuang. Siapa saja yang bersandar Dia datang kepada Allah, ia akan diselamatkan sampai kesudahannya." Moody menggunakan ayat-ayat Alkitab yang serupa dan berbicara dengan orang itu selama 2 sampai 3 jam, namun orang itu masih belum bisa menyelesaikan masalahnya. Ia berkata, "Aku sungguh-sungguh percaya Tuhan, tetapi takut binasa." Moody berkata, "Saya tahu sekarang, Anda seperti salah satu menantu Nuh, menangis di dalam bahtera karena takut bahtera bocor." Ia menjawab, "Tuan, itu tidak mungkin terjadi, bahtera tidak bisa bocor." Moody berkata, "Anda sama dengan orang yang menangis dalam bahtera. Anda takut bahtera bocor." Mendengar ini, orang itu segera mengerti.
Tuhan bisa menyelamatkan setiap orang yang bersandar Tuhan Yesus datang kepada Allah sampai kesudahannya, sampai selama-lamanya. Hal ini tidak ada sangkut pautnya dengan pandai atau bodoh. Perbedaan beroleh selamat dengan tidak beroleh selamat tergantung pada apakah Anda di dalam bahtera, tidak tergantung pada pandai atau bodoh, juga tidak tergantung pada kaya atau miskin. Semuanya itu tidak ada hubungan dengan beroleh selamat. Hanya ada satu masalah, apakah Anda di dalam bahtera? Hanya orang yang bersandar pekerjaan Kristus masuk ke dalam bahtera baru bisa beroleh selamat. Oh, seberapa banyak orang yang masuk bahtera, sebegitu banyak juga orang yang keluar dari bahtera. Seberapa banyak hayat yang ada di dalam bahtera, kelak sebegitu banyak juga hayat yang terpelihara di hadapan Allah.
Kalau Anda ingin menjadi orang Kristen yang sejati, Anda harus di dalam bahtera, Anda tidak bisa di bumi. Kita tidak bisa beroleh selamat bersandar perbuatan diri sendiri. Kita harus berkata kepada Tuhan, "Segala yang milik dunia, bukan milikku, aku berdiri di pihak-Mu." Oh, beroleh selamat, asal masuk pintu kita sudah beroleh selamat. Namun sayang sekali, banyak orang hanya percaya Tuhan, tetapi tidak memutuskan segala sesuatu yang berasal dari dunia. Kini, kita tidak saja harus setia melayani Allah, tetapi juga setia kepada apa yang kita lakukan pada baptisan.
Baptisan tidak bisa menyelamatkan orang, harus melalui kematian dan kebangkitan Tuhan Yesus baru bisa beroleh selamat. Baptisan hanya menyatakan keselamatan Anda. Darah Tuhan Yesus membuat Anda beroleh selamat datang ke depan Allah. Air baptisan menyelamatkan Anda keluar dari dunia. Kalau Anda melupakan semua yang kita bicarakan hari ini, hanya ingat dua perbedaan ini, sudahlah cukup.
ADA ALLAH
Mazmur 14:1 -- Orang bebal berkata dalam hatinya: "Tidak ada Allah."
Ibrani 11:6 -- Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab siapa yang berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia.
Roma 3:19-20 -- Tetapi kita tahu bahwa segala sesuatu yang tercantum dalam Kitab Taurat ditujukan kepada mereka yang hidup di bawah hukum Taurat, supaya tersumbat setiap mulut dan supaya seluruh dunia berada di bawah penghakiman Allah. Sebab tidak seorang pun yang dapat dibenarkan di hadapan Allah karena melakukan hukum Taurat, karena justru oleh hukum Taurat orang mengenal dosa.
Sebenarnya terhadap perkara ada atau tidak ada Allah tidak perlu dibicarakan, Alkitab tidak pernah mempermasalahkan hal ini. Alkitab menganggap setiap orang harus percaya ada Allah, tidak ada sedikit pun alasan untuk mengatakan tidak ada Allah; sepertinya masalah ini sudah lama dibereskan. Tetapi sekarang di dunia ini ada sekelompok orang yang menganggap dirinya ateis, mengatakan tidak ada Allah, tidak mengakui bahwa ada satu Allah yang mengatur segala sesuatu. Nada semacam ini sekarang boleh dikatakan sangat modern, dan sangat disambut oleh orang. Orang yang mengatakan perkataan semacam ini sepertinya otaknya lebih baru daripada orang lain, kepandaiannya lebih hebat daripada orang lain, sebab itu berani mengatakan demikian. Sebelum kita menyingkapkkan mereka, marilah kita terlebih dulu melihat orang-orang yang ateis dapat dibagi menjadi berapa golongan, atau boleh dikatakan sebenarnya ada berapa macam orang ateis. Salah satu macam, sungguh tidak layak kita berkontak atau berdebat dengan mereka, menganggukkan kepala kepada mereka saja tidak perlu. Ada macam lainnya yang masih ada sedikit nilainya, kita boleh berbincang-bincang dengan mereka.
GOLONGAN ORANG-ORANG ATEIS
Secara garis besar kita dapat membagi orang-orang ateis menjadi beberapa golongan:
1. GOLONGAN ATEIS MORAL
Terhadap ateis golongan ini, tidak perlu berbicara apa-apa dengan mereka, juga tidak perlu berdebat apa-apa dengan mereka, asal melihat perbuatan mereka sudah cukup. Meskipun banyak orang tidak mengakui bahwa mereka adalah ateis, tetapi dari perbuatan mereka sudah dapat diketahui bagaimana keadaan mereka. Tidak perlu dibicarakan lagi, juga tidak ada syarat untuk dibicarakan lagi, karena moral mereka berbicara lebih jelas, lebih tepat daripada perkataan mereka. Mengapa mereka menjadi ateis? Bukan karena mereka mempunyai alasan yang cukup untuk mengatakan tidak ada Allah, tetapi karena perbuatan mereka menuntut mereka mengatakan tidak ada Allah. Moral mereka tidak mengizinkan mereka mengatakan bahwa di antara langit dan bumi ada Allah. Seorang perampok pasti senang kalau tidak ada polisi; seorang murid yang nakal pasti senang kalau tidak ada guru; seorang bawahan yang malas pasti senang kalau tidak ada atasan; seorang yang jahat pasti senang kalau tidak ada hukum; semua ini bukan karena benar-benar tidak ada hal-hal itu, melainkan perbuatan mereka yang membuat mereka mau tidak mau harus berkata begitu. Kalau seseorang berkata, "Aku tidak percaya ada Allah, dalam otakku tidak ada perihal Allah." Anda boleh menjabat tangannya dan berkata, "Teman, apakah Anda bermoral baik?" Tidak perlu membicarakan yang lain, cukup bertanya apakah ia bermoral baik. Manusia boleh tidak percaya ada Allah, tetapi manusia tidak bisa tidak percaya ada moral. Meskipun usia saya belum terlalu tua, tetapi dengan sejujurnya saya berkata bahwa yang saya jumpai dalam seumur hidup saya, boleh dikatakan, di antara seratus orang ateis, ada sembilan puluh sembilan orang yang moralnya tidak bisa dipercayai. Saya tidak pernah melihat seorang pun yang ateis yang moralnya bisa dipercayai. Di antara kita, ada banyak orang yang usianya lebih tua daripada saya, apakah kalian pernah berjumpa dengan orang ateis yang moralnya bisa dipercayai? Sebenarnya orang-orang ateis itu, baik di antara teman sekolah, teman kerja, sanak famili, dikarenakan moral mereka terlalu buruk, maka mereka tidak percaya ada Allah. Izinkan saya mengucapkan perkataan yang tulus, kapan Allah keluar dari diri seseorang, saat itu juga amoral masuk ke dalam orang tersebut.
R.A. Torey, seorang penginjil yang sangat berpengalaman di Amerika Serikat, pernah sekali mengabarkan Injil di suatu tempat. Seorang mahasiswa berkata kepadanya, "Dulu aku percaya ada Allah, tetapi akhir-akhir ini aku tidak percaya lagi." Tuan Torey berkata kepadanya, "Mengapa akhir-akhir ini Anda tidak percaya ada Allah?" Dia menjawab, "Aku telah masuk Perguruan Tinggi, pengetahuanku lebih banyak. Karena itu, aku tidak percaya lagi. Aku membaca buku ini, membaca buku itu, akhirnya Allah pun hilang." Tuan Torey berkata kepadanya, "Tidak, Anda jangan menipu saya. Saya telah lulus dari Perguruan Tinggi, tidak sedikit buku yang telah saya baca, saya bahkan telah meraih gelar doktor, tetapi tidak karena itu Allah menjadi hilang. Anda pasti mempunyai suatu penyebab lain, kalau tidak, tak mungkin hanya karena membaca banyak buku lalu Allah menjadi hilang." Tuan Torey berkata lagi, "Izinkan saya bertanya kepada Anda, setelah Anda tidak percaya ada Allah, bagaimana dengan moral Anda?" Mahasiswa itu dengan terus terang berkata, "Aku mengakui bahwa moralku sekarang lebih jelek daripada yang dulu." Dengan sangat bijak Tuan Torey berkata, "Saya tidak perlu berdebat dengan Anda, tidak perlu mengajukan banyak argumentasi untuk membuktikan ada Allah. Kalau Anda tidak melakukan hal-hal yang buruk, kalau moral Anda sedikit lebih meningkat, Allah segera datang kepada Anda." Ini adalah fakta. Banyak orang tidak percaya ada Allah, bukan karena alasan-alasan yang lain, melainkan karena ada banyak dosa yang menghalangi mereka untuk percaya kepada Allah, membuat mereka menjadi orang yang ateis.
2. GOLONGAN ATEIS EMOSI
Apakah emosi? Emosi adalah salah satu bagian dalam jiwa yang berhubungan masalah senang atau tidak senang, mengasihi atau membenci, sukacita atau dukacita, berkenan atau tidak berkenan, dan sebagainya. Ada orang, mereka tidak mau ada Allah, tidak senang ada Allah. Mereka ingin tidak ada Allah, lalu berkata tidak ada Allah. Di Afrika ada sejenis burung yang disebut burung unta, tubuhnya besar, tinggi, bahkan bisa dinaiki oleh manusia. Tetapi burung ini sangat bodoh. Kalau ingin menangkap burung ini, cukup dengan puluhan orang mengejar dan mengepungnya, sampai ia letih. Tubuh burung unta sangat besar, tetapi kepalanya kecil. Apa yang dilakukan burung ini ketika ia melihat begitu banyak orang mengejar dan mengepung dirinya? Ia segera dengan kakinya menggali sebuah lubang kecil, lalu memasukkan kepalanya ke dalam lubang itu. Dengan demikian, ia mengira sudah tidak ada masalah, karena sekarang tidak melihat lagi orang-orang yang mengepungnya. Ia tidak sadar, meskipun kepalanya sudah masuk ke dalam lubang, tetapi orang-orang itu masih ada di sana, tubuhnya yang besar masih berada di luar, tidak tersembunyikan. Demikian juga, hari ini ada sekelompok orang, mereka mengira sebaiknya tidak ada Allah. Apakah dengan berpikir atau berharap begitu lalu itu sudah terhitung benar? Apakah Allah benar-benar tidak ada?
Pernah sekali saya memberitakan Injil di suatu tempat. Di sana ada seorang yang sangat tidak baik kelakuannya datang kepada saya dan berkata, "Jangan membicarakan Yesus, Alkitab, dan Injil kepadaku, semua itu tidak perlu dibicarakan, karena pokok masalahnya sama sekali belum beres. Perkara yang paling penting, yaitu apakah ada Allah, belum Anda jelaskan kepadaku, bagaimana bisa membicarakan tentang Injil?" Saya bertanya, "Teman, apakah Anda tidak percaya ada Allah?" Dia menjawab, "Aku berkata tidak ada Allah, bagaimana Anda bisa mengatakan ada Allah? Coba Anda jelaskan." Saya berkata kepadanya, "Tentu saja Anda tidak percaya ada Allah." Dia berkata, "Mengapa aku berkata tidak ada Allah, tetapi Anda berkata ada Allah?" Saya berkata, "Hal ini Anda sendiri yang tahu." Dia seolah-olah tidak mengerti lalu menjawab, "Bagaimana aku bisa tahu?" Saya berkata, "Batin Anda sendiri mengetahuinya." Dengan agak kesal dia berkata, "Apa yang disebut batin sendiri mengetahuinya?" Lalu saya berkata kepadanya, "Anda sangat mengharapkan tidak ada Allah, jadi tidak perlu banyak bicara lagi, karena batin Anda sendiri mengetahuinya." Dia sepertinya mengerti sedikit, karena itu dia kemudian merasa tidak enak sendiri. Ya, terhadap orang semacam ini, tidak perlu menjelaskan banyak kepadanya, tidak perlu berdebat dengannya, sebenarnya dia tidak terhitung sebagai ateis. Dia hanya di dalam emosinya tidak senang ada Allah.
3. GOLONGAN ATEIS KERAS KEPALA
Kelompok orang ini, selain bersikeras berkata tidak ada Allah, mereka tidak ada alasan lain lagi. Mulut mereka sangat keras, benar-benar tidak ada jalan untuk berbicara dengan mereka. Kalau Anda bertanya kepadanya mengapa tidak percaya ada Allah, dia tidak memiliki alasannya, hanya berkata, "Aku tidak percaya." Orang semacam ini benar-benar keras kepala. Mereka hanya bersikeras dalam mulut dan berkata, "Tidak ada Allah, ya tidak ada Allah." Kalaupun Anda selama tiga hari tiga malam berbicara dengannya, dan dia tahu dirinya tidak benar, tetapi masih tetap bersikeras, masih keras kepala. Kalaupun alasannya banyak, tetapi itu hanya semau diri sendiri. Mulut mereka benar-benar keras, tetapi sebenarnya otak mereka kosong. Karena itu, saya juga menyebut mereka sebagai golongan keras kepala.
Tiga golongan ateis di atas ini tidak mau mendengarkan penjelasan yang logis. Masih ada satu golongan lagi, yang mungkin ada sedikit harapan, sayang jumlahnya sangat sedikit. Saya menyebut mereka sebagai
4. GOLONGAN ATEIS RASIO
Apakah yang disebut golongan ateis rasio? Artinya, golongan ini berbicara tentang alasan. Kalau Anda bisa dengan penjelasan yang beralasan membuktikan kepada mereka, mereka masih mau menerima. Terhadap golongan ateis ini, masih ada sedikit keperluan untuk berdebat, masih ada sedikit nilai untuk berdebat. Tetapi di dunia ini, ada berapa banyak orang yang termasuk golongan ini? Mungkin sangat sedikit. Saya tidak mengatakan mutlak tidak ada, tetapi sangat sedikit. Hari ini saya tidak mau mengajukan banyak alasan untuk membuktikan bahwa di alam semesta ini ada Allah, karena Alkitab tidak mengatakan masalah ada atau tidak ada Allah, sebaliknya mengatakan tentang Tuhan Yesus, Roh Kudus, dan lain-lain, ini menyatakan masalah ada atau tidak ada Allah, tidak perlu disinggung, karena semua orang sudah mengetahuinya. Keberadaan Allah adalah satu fakta yang tidak bisa digoyahkan, sebab itu tidak perlu dibicarakan lagi.
Bagaimana Anda Berani Mengatakan Tidak Ada Allah
Kalau hari ini ada seorang yang ateis datang hendak membicarakan tentang Allah -- hal ini sering kita jumpai ketika berbincang-bincang tentang firman Allah -- dia pasti berkata tidak ada Allah. Saat ini Anda boleh bertanya kepadanya, "Mengapa tidak ada?" Mungkin dia mengajukan satu atau dua alasan. Tetapi setiap kali saya menghadapi situasi demikian, saya selalu tidak memberinya kesempatan untuk meneruskan pembicaraannya. Saya akan berkata kepadanya, "Orang seperti Anda ini, bagaimana berani mengatakan tidak ada Allah?" Mungkin dia masih ada alasan untuk berbicara lagi, namun saya akan tetap membendungnya dan bertanya, "Orang seperti Anda ini, bagaimana berani mengatakan tidak ada Allah?" Dia masih ada satu atau dua alasan, tetapi saya masih berkata kepadanya, "Orang seperti Anda ini, bagaimana berani mengatakan tidak ada Allah?" Mungkin dia akan dengan heran bertanya, "Mengapa Anda selalu mengatakan perkataan yang sama?" Lalu saya akan berkata, "Pertama, saya harus jelas terhadap syarat atau kualifikasi orang yang berkata tidak ada Allah. Orang seperti Anda ini, bagaimana berani mengatakan tidak ada Allah?"
Atau mungkin ada orang akan berkata bahwa cara saya bertanya ini agak "membingungkan". Memang, kelihatannya menyebabkan orang tidak bisa mengerti. Tetapi yang ingin saya tanyakan ialah Anda ini siapa? Menurut pribadi Anda, apakah Anda memenuhi syarat untuk berkata tidak ada Allah. Atau, secara lebih tegas, tahukah Anda, barang apakah diri Anda itu? Mengapa begitu berani mengatakan tidak ada Allah? Orang seperti Anda di dunia ini ada beberapa miliar, Anda terhitung apa? Lagi pula, Anda bahkan tidak tahu atau tidak mengerti hal-hal yang berkaitan dengan diri Anda sendiri dan kehidupan sehari-hari, lalu bagaimana Anda bersyarat mengatakan tidak ada Allah? Anda tidak tahu bagaimana caranya kuku Anda bertumbuh, bagaimana jantung Anda berdenyut; Anda tidak tahu apakah besok akan turun hujan atau tidak; Anda tidak tahu apakah besok bisa makan atau tidak. Perkara yang kecil saja Anda tidak tahu, bagaimana Anda berani mengatakan tidak ada Allah? Saya hanya belajar mengenai kimia selama dua tahun, sebab itu saya tidak berani bercerita tentang kimia, takut nanti orang-orang yang lebih pandai dalam kimia, yang mempelajarinya lebih lama akan menertawai saya. Diri Anda ini, hanya salah satu dari beberapa miliar orang di dunia ini, bagaimana Anda bisa berani mengatakan tidak ada Allah? Sebab itu, saya berkata bahwa orang sebesar Anda ini, atau benda sebesar Anda ini, apakah bersyarat mengatakan tidak ada Allah. Ketahuilah Anda begitu kecil; orang seperti Anda ini, sekarang di atas bumi ini masih ada beberapa miliar lagi. Apakah Anda mengetahui berapa besar bumi ini? Mungkin pengetahuan Anda lebih khusus daripada yang lain, mengira bumi tidak begitu besar. Lalu apakah Anda mengetahui seberapa besar tata surya? Mungkin Anda mengira tidak besar, izinkan saya bertanya, apakah Anda mempunyai kemampuan mengambil matahari dan meletakkan depan Anda untuk dilihat seberapa besar matahari itu? Kalau mungkin, galilah inti matahari, sisakan kerak yang di luar, lalu masukkan barang sebesar bumi, coba lihat ada berapa banyak bumi yang harus dimasukkan baru bisa memenuhi matahari. Ketahuilah, satu bumi tidak penuh, dua juga tidak penuh, memasukkan lagi seratus, seribu, masih kosong, memasukkan lagi sepuluh ribu, seratus ribu, satu juta, masih longgar. Matahari ini bisa memuat benda-benda sebesar bumi ini lebih dari satu juta tiga ratus ribu. Di antara bintang-bintang, entah ada berapa banyak yang sebesar galaksi. Ahli astronomi mengatakan bahwa gugus bintang yang sebesar galaksi ini dalam alam semesta ada banyak. Lalu, seberapa besarkah Anda? Bagaimana Anda bisa berani mengatakan tidak ada Allah?
Saya ambil satu contoh, saya mempunyai seorang adik laki-laki. Ketika berumur enam tahun, ia lulus dari Taman Kanak-kanak. Saat pulang membawa Surat Tanda Tamat Belajar Taman Kanak-kanak ke rumah, ia merasa senang sekali, sepertinya dirinya sudah mendapatkan sesuatu yang luar biasa. Ia sangat bangga, berjalan menghampiri saya dan berkata, "Hari ini aku sudah lulus." Saya bertanya kepadanya, "Lulus dari apa?" Ia menjawab, "Lulus dari Universitas Taman Kanak-kanak." O, di dunia ini, orang yang lulus dari Universitas Taman Kanak-kanak itu terlalu banyak! Doktor yang lulusan Taman Kanak-kanak itu terlalu banyak!
Mari kita lihat lagi, para ahli mengatakan bahwa kecepatan cahaya adalah 299.000 km per detik. Dalam waktu satu detik, cahaya sudah mencapai sejauh 299.000 km, lalu, berapa kilo meter yang dapat ditempuh oleh cahaya dalam waktu satu menit, satu hari, satu bulan, satu tahun? Kecepatan ini mungkin tidak mudah kita hitung. Meskipun kecepatan cahaya demikian hebat, tetapi ahli astronomi mengatakan bahwa ada cahaya dari bintang tertentu yang sudah berjalan 2.000 tahun, belum juga mencapai bumi. Kalau demikian, entah berapa besar alam semesta ini! O, seorang yang tingginya hanya 180 cm, yang jika berdiri hanya menempati tempat seluas beberapa centi meter persegi, namun berani mengatakan bahwa di dunia ini tidak ada Allah, benar-benar ia adalah seorang yang paling sewenang-wenang dan paling menggelikan. Orang yang sekecil Anda ini, ternyata dengan begitu gagah, begitu berwibawa, sepertinya sangat beralasan, mengatakan tidak ada Allah. Coba Anda pikir, mungkinkah itu? Saya tidak perlu berkata apa-apa, kita semua pasti mengetahuinya sendiri.
Siapa yang Mengatur Alam Semesta
Saya benar-benar tidak menyangka ada orang yang begitu berani berkata bahwa di alam semesta ini tidak ada Allah. Untuk sementara kita kesampingkan hal ini. Sekarang mari kita melihat lagi alam semesta. Alam semesta sangat besar, tidak ada orang yang tahu berapa besarnya; kalau membicarakan kecilnya, sungguh kecil sekali, bahkan ada yang sangat sulit dilihat sekalipun dengan mikroskop. Namun, entah itu besar atau kecil, setiap benda mempunyai susunan tertentu, hukum tertentu, urutan tertentu. Ini ajaib sekali. Tidak peduli benda apa saja yang Anda lihat, semuanya demikian. Dulu orang mengatakan atom itu sangat kecil, kemudian orang menemukan, neutron lebih kecil, sekarang ada yang menemukan partikel yang lebih kecil lagi. Meskipun kecil, tetapi mempunyai prinsip tertentu, mempunyai hukum tertentu, urutan tertentu. Kalau tidak ada Allah, lalu siapa yang menentukan semuanya ini? Kalau tidak ada Allah, bagaimana hal-hal ini bisa terjadi secara kebetulan dan secara baik sekali? Jadi, pasti ada satu Allah yang mengatur dan menetapkannya. Kalau tidak, bagaimana mungkin hari ini ada keadaan yang demikian rapi dan indah? Menurut keadaan ini, hanya ada dua kalimat: kalimat pertama ialah semuanya ini terjadi secara kebetulan, kalimat kedua ialah pasti ada yang menentukan dan mengaturnya. Kalau bukan terjadi secara kebetulan, pasti ada yang menentukan; kalau bukan ditentukan, pasti terjadi secara kebetulan. Di antara kedua ini, pasti ada salah satu yang benar.
Apakah Terjadi Secara Kebetulan
Kita tahu, hal kebetulan ini tidaklah menentu, terjadi secara tiba-tiba tanpa diketahui penyebabnya; sedangkan hal ketentuan, terjadi karena adanya suatu inisiatif seseorang yang yang kemudian menentukan. Kalau mengatakan bahwa dalam alam semesta tidak ada yang menentukan, segala sesuatu terjadi secara kebetulan, maka kita sungguh-sungguh tidak akan mengetahui, tidak akan mengerti. Ada orang mengatakan bahwa suatu benda berbenturan dengan benda yang lain, lalu menghasilkan berbagai macam benda, demikian terjadilah alam semesta. Yang demikian ini, saya sungguh tidak mengerti. Saya belum pernah melihat di dunia ini ada satu benda yang terjadi oleh karena berbenturan secara kebetulan. Sapu tangan saya bukan terjadi karena beberapa ranting berbenturan, lalu menghasilkan kapas; tumpukan kapas berbenturan lalu menghasilkan benang; benang-benang berbenturan, lalu terjadilah sebuah sapu tangan. Saya sungguh-sungguh tidak mengetahui, apakah dalam alam semesta ada satu benda yang terjadi karena benturan yang secara kebetulan sedemikian.
Izinkan saya menceritakan satu kisah nyata, semoga melaluinya kita bisa mengetahui apakah satu benda bisa terjadi melalui benturan yang secara kebetulan. Pada suatu kali, seseorang pergi ke pabrik mesin penggiling daging sapi di Amerika Serikat untuk mengunjungi pemilik pabrik tersebut. Mesin penggiling daging yang kecil buatan pabrik ini hampir dipasarkan di setiap toko daging sapi atau kios penjual daging sapi di Shanghai. Mesin ini dipakai untuk menggiling daging sapi menjadi sayatan daging yang seperti mie. Pabrik ini khusus membuat mesin kecil ini. Mereka pun bertemu dan salah satu perbincangan mereka adalah tentang bagaimana terjadinya alam semesta. Pemilik pabrik itu berkata, "Alam semesta ini pasti ditentukan oleh satu Allah yang penuh hikmat dan kuasa." Temannya itu berkata, "Dalam alam semesta tidak ada Allah. Alam semesta terjadi secara kebetulan." Pemilik pabrik ini tidak berdebat dengannya, hanya berkata kepadanya, "Mari kita bersama melihat mesin penggiling daging sapi yang membuat sayatan daging sapi seperti mie." Ia juga berkata, "Mesin kecil ini terbentuk dari delapan komponen. Sekarang kita menaruh delapan komponen ini bersama beberapa mur di dalam sebuah kotak kayu, lalu tolong Anda goyang-goyangkan kotak kayu ini, siapa tahu komponen-komponen itu bisa terakit menjadi mesin penggiling daging sapi. Kita tahu, tidak peduli bagaimana cara menggoyangkan, tidak akan bisa terakit menjadi satu mesin. Pemilik pabrik ini berkata kepada temannya itu, di pabrik ini ada ratusan pekerja, di antaranya yang paling pandai dalam sehari bisa merakit dua ratus mesin. Sekalipun seorang perempuan desa yang paling bodoh, tidak pernah melihat mesin ini, asal diajar beberapa hari, pasti bisa merakitnya. Tetapi menurut cara Anda, sekalipun digoyang sampai satu bulan, satu tahun, pasti tidak terakit menjadi mesin penggiling. Itu adalah perkara yang mustahil. Sebuah mesin kecil yang bernilai tiga dolar tujuh ketip saja tidak bisa terakit secara kebetulan, apa lagi alam semesta yang sekian besar ini, apakah bisa terjadi secara kebetulan? Alam semesta beraneka ragam, apakah terjadi secara kebetulan? Hari ini kursi yang kita duduki, perlu seorang tukang kayu mengeluarkan setengah jam baru bisa selesai memasangnya. Kalau terpasang secara kebetulan, mungkin hari ini kita tidak memiliki kursi untuk duduk. Alam semesta memiliki banyak barang, kalau terjadi secara kebetulan, sungguh terlalu ajaib. Alam semesta bisa demikian teratur, tertib, pasti ada pengaturnya, baru bisa demikian. Orang yang paling bodoh dan tak berpengetahuan dalam dunia juga bisa percaya akan hal ini. Jadi, kalau seseorang tidak bodoh, ia pasti percaya ada Allah. Kalau tidak, otaknya pasti bermasalah. Bagaimanapun, Allah pasti ada. Kalau ada orang tidak percaya ada Allah, itu tidak beralasan. Kalau tidak percaya ada Allah, otaknya pasti bermasalah.
Kesaksian dari Hati Nurani
Pembahasan di atas hanya dari luar membuktikan ada Allah. Sekarang mari kita dari sudut lain, yaitu dari sudut kejiwaan orang dunia melihat apakah ada Allah. Di Amerika ada Perkumpulan Geografi Nasional, organisasi ini cukup besar. Mereka pergi ke berbagai tempat untuk mengadakan survei tentang kebudayaan dan geografi. Hasil dari survei mereka menyatakan bahwa setiap suku bangsa di dunia, baik yang berbudaya atau yang tidak berbudaya, baik yang maju atau yang belum maju; semua memiliki satu kesamaan, yaitu percaya ada Allah. Sungguh, tidak peduli orang suku apa, bahkan yang masih primitif, juga tahu ada Allah. Orang yang tolol sekalipun, yang tidak bisa berpikir dengan baik, tidak bisa mengutarakan alasan, ia bisa bertanya kepada hatinya. Hatinya bisa memberi tahu apakah ada Allah atau tidak. Banyak orang di mulutnya saja yang bersikeras, dan itu telah melanggar hati nuraninya sendiri.
Pada tahun 1925, di Amerika Selatan terjadi suatu peristiwa. Pada suatu hari, ada seorang penginjil berjalan melewati suatu hutan. Tiba-tiba ia mendengar suara teriakan orang minta tolong. Penginjil ini segera berlari menuju ke sumber suara itu, dan tiba di tepi sebuah sungai. Terlihat olehnya ada seseorang sedang menaiki sebuah kano, dan meluncur ke bawah terbawa arus sungai. Saat itu aliran sungai cukup deras, dan tidak jauh dari sana ada sebuah air terjun. Kalau tidak ada yang menolongnya, orang itu pasti akan terbawa arus dan jatuh ke dalam air terjun itu. Saat inilah orang itu dengan sekuatnya berseru, "Ya Allah, ya Allah, tolonglah aku, tolonglah aku!" Melihat keadaan ini, penginjil tadi segera berusaha menyelamatkan dia, dan berhasil.
Keesokan harinya, penginjil ini melewati hutan itu lagi. Terlihat olehnya di tepi sungai itu ada beberapa ratus orang sedang berkumpul, dan ada seseorang yang sedang berpidato di atas sebuah panggung kecil. Penginjil ini datang mendekat untuk mendengarkan apa yang sedang mereka bicarakan. Ternyata pembicaranya sedang membicarakan tentang Allah, mengutarakan banyak alasan untuk membuktikan tidak ada Allah. Setelah orang itu selesai berpidato, ia bertanya kepada para pendengar, "Aku sudah mengetengahkan begitu banyak alasan, kalau ada orang yang tidak bisa menerima, ingin mendebat, boleh mendebat." Penginjil itu naik ke atas panggung dan berkata, "Saya tidak bisa berdebat, hari ini saya juga tidak akan menengahkan alasan, tetapi saya boleh menceritakan satu kisah nyata kepada kalian. Kemarin, ketika saya melewati hutan di sebelah sana, saya mendengar seseorang berteriak, 'Ya Allah, tolonglah aku! Ya Allah, tolonglah aku!' Suara teriakan ini terus diserukan, dan saya pun berlari menuju ke arah suara itu, berlari hingga ke sisi sebuah sungai. Tampak olehku seseorang berada di atas sebuah kano dan sedang terbawa arus sungai yang deras, bahkan sudah tidak jauh dari air terjun. Nyawanya sungguh terancam bahaya. Saya berusaha menolongnya dan berhasil. Kemudian saya mengantar dia pulang. Hari ini saya perkenalkan orang yang terbawa arus itu kepada kalian. Kemarin yang berteriak-teriak, "Ya Allah, tolonglah aku! Ya Allah, tolonglah aku!" adalah tuan yang mengajukan banyak alasan untuk mengatakan tidak ada Allah ini. Apa yang saya katakan apakah beralasan, tanyalah kepada orang ini sendiri."
Benar, banyak orang yang hati nuraninya tertutup, belum bangun, karena itu mereka dapat mengajukan banyak alasan untuk mengatakan tidak ada Allah. Tetapi begitu ia berada dalam keadaan yang tidak berdaya, segera menghampiri maut, terpikir akibat yang akan datang, hari nuraninya akan memberi tahu dia bahwa ada Allah. Hari ini boleh lewat, hari ini masih muda, tidak ada masalah; tetapi pada suatu hari begitu tiba di alam kekekalan, hati nurani yang tertidur akan bersuara. Saya sering mengatakan, hati nurani tidak bisa mati, sampai waktunya, pasti akan berbicara. Namun, kalau hari itu baru mengetahui ada Allah, sudah terlambat.
Dulu di Inggris ada dua orang, ayah dan anak, yang sangat giat dan aktif sebagai orang ateis. Hingga suatu hari, sang ayah mendekati ajalnya, berbaring bolak balik di atas ranjang, terlihat sangat tidak tenang. Melihat keadaan ini, sang anak takut kalau kepercayaannya goyah, lalu mendorong ayahnya, "Ayah, peganglah teguh!" Dengan mengucurkan air mata sang ayah berkata, "Pegang teguh apa?" Karena mereka tidak memiliki Allah, apa yang akan mereka pegang teguh? Namun kita bersyukur kepada Allah, kita memiliki Allah untuk dipegang dengan teguh, kita tidak sia-sia, di belakang kita ada sandaran. Kita tahu siapa yang kita percayai.
Teman, silakan mendengarkan suara yang ada di dalam batin kalian. Di dalam otak kita sering muncul banyak pikiran yang salah, menerima berbagai pengaruh dari luar; tetapi suara di dalam kita dapat dipercayai, dapat mewakili "aku" yang sejati. Marilah kita semua dengan teliti mendengarkan suara yang dari dalam.
Saya pernah meneliti, di dunia ini tidak ada orang yang sejak lahir sudah menjadi ateis, semuanya karena pengaruh di kemudian hari. Sebab itu, bagaimanapun, hati nurani kita sangat berharga, sangatlah baik kalau kita bisa mengikuti petunjuk hati nurani.
Kesaksian Doa
Kita telah melihat besarnya alam semesta, susunan alam semesta, dan kejiwaan orang dunia, semuanya membuktikan bahwa dalam alam semesta ini pasti ada Allah. Marilah kita melihat aspek yang lain, yaitu bagaimana hubungan orang Kristen terhadap Allah. Orang Kristen boleh dikatakan orang dunia yang paling mengenal Allah. Pengalaman orang Kristen boleh membuktikan ada Allah. Dari jawaban terhadap doa kita, anugerah pengampunan dosa, perlindungan terhadap kejadian yang tidak terduga, semuanya bisa membuktikan ada Allah. Kalau tidak ada firman Allah, tidak akan ada kita sebagai orang-orang yang percaya.
Hari ini, saya memberi tahu kalian sedikit pengalaman doa saya. Saya tidak begitu suka memberi tahu orang lain tentang pengalaman doa saya, tetapi hari ini saya bercerita sedikit.
Pada bulan pertama tahun baru Imlek di tahun 1926, saya sedang berada di sebuah desa. Saat itu kebetulan dari Foochow ada beberapa saudara sedang bersiap-siap untuk mengadakan pemberitaan Injil; mereka adalah Saudara Wang Lien Chuin, Saudara Simon Meek, Saudara Faithful Luke, dan lain-lain. Mereka juga mengundang saya untuk membantu mereka. Saya berpikir, jumlah mereka sudah cukup banyak, saya tidak perlu ikut, lebih baik saya memberitakan Injil ke desa lainnya. Demikianlah saya lalu mengundang enam saudara bersama pergi ke desa. Di antaranya ada dua orang yang sekarang di Taman Kuen San kota Shanghai membantu Tuan Wilkes, seorang sekarang di White Teeth Rock Hokkian, dua orang di Amoy belajar mengenai pesawat terbang, dan satu lagi di Lien-chiang. Saya menyebut nama-nama mereka, karena mereka berhubungan dengan perkara ini, dan mereka bisa bersaksi untuk perkara ini. Kami naik kapal dan tiba di desa Mei-hwa. Tempat ini adalah penghasil ikan, sebab itu para nelayan mendapatkan banyak uang dari nafkahnya. Di antara kami berenam, ada seorang saudara muda yang berusia enam belas atau tujuh belas tahun; dia dikeluarkan oleh sekolahnya, ibunya tidak bisa mengatasinya, lalu membawa anaknya itu ke tempat saya. Pada bulan pertama, saya benar-benar tidak berdaya; pada bulan kedua, ia beroleh selamat. Setelah beroleh selamat, ia senang bekerja. Sampai bulan ketiga, ia mengikuti kami memberitakan Injil ke desa Mei-hwa. Kami tadinya sudah berjanji dengan seorang guru yang telah kami kenal bahwa begitu tiba di Mei-hwa, kami akan tinggal di sekolahnya. Tetapi setelah tiba di sana, ia menolak kami, tidak mengizinkan kami tinggal di sekolahnya, karena mengetahui kami ke sana untuk memberitakan Injil. Kami berjalan menyusuri jalanan, sampai malam hari, belum juga mendapatkan tempat tinggal. Akhirnya sampai ke suatu toko obat, dan mereka mau menerima kami. Kemudian kami tinggal di ruang atas tempat tinggal mereka.
Tanggal 7 malam, pertama kali kami memberitakan Injil di sana. Ada satu suasana, semua orang terlihat seperti sungkan, tetapi perkataan mereka tidak terus terang, berkata setengah kalimat sudah pergi. Kami mengucapkan beberapa kata, sudah ditolak oleh mereka. Kami bertanya mengapa demikian, mereka tidak mau berkata dengan tulus. Sungguh membuat kami tidak mengerti. Malam hari ketika kami pulang, semua mengatakan perkataan yang sama, semua menemui keadaan yang sama. Kami bertanya kepada pemilik toko obat, dia lebih berpengalaman, katanya, "Kalian jangan mempedulikan hal itu." Keesokan harinya, kita kembali keluar menjual Alkitab, memberitakan Injil. Saudara yang muda itu tidak tahan dengan keadaan yang tidak menyenangkan itu, akhirnya ia menarik seorang desa, memaksa dan bertanya kepadanya sebenarnya ada masalah apa. Orang desa itu berkata kepadanya, "Kalian tidak tahu, di sini kami mempunyai banyak dewa, sebab itu kami tidak menerima dewa yang lain. Di sini kami memiliki dewa Ta-wang, setiap bulan pertama, ada perayaan perarakan Ta-wang. Kalian datang tidak pada waktu yang tepat, karena tanggal 11 akan ada perayaan perarakan Ta-wang, semua sedang sibuk, tidak bisa mendengarkan kalian memberitakan Yesus. Dewa Ta-wang ini sejak zaman Kerajaan Ming sampai sekarang terus manjur, bahkan dari zaman Manchuria sampai sekarang sudah 200 tahun lebih, setiap kali diadakan perayaan perarakan Ta-wang, cuaca pasti cerah, tidak pernah turun hujan." Mendengar penjelasan ini, saudara muda ini sangat marah, lalu berkata, "Tahun ini, perayaan perarakan pasti hujan." Saat itu di sana ada banyak pemuda, sebentar saja, mereka sudah berseru-seru, "Ada sekelompok penginjil berkata bahwa tahun ini, ketika Ta-wang diarak, akan turun hujan." Tidak sampai dua jam, seluruh penduduk desa Mei-hwa semua tahu bahwa ada penginjil yang berkata tahun ini pada perayaan perarakan Ta-Wang, akan turun hujan. Lalu tersebarlah perkataan: Kalau hujan, Allah yang manjur; kalau tidak hujan, Ta-wang yang manjur. Setelah kami kembali ke tempat kami menginap, semua saudara tahu bahwa ini bukan perkara yang dapat sembarangan diucapkan. Saya berkata kepada saudara muda itu, "Langit tidak diatur olehmu, bagaimana kamu bisa berkata begitu?" Saudara muda ini berkata, "Mari kita berdoa." Saya berkata, "Betul, kita boleh berdoa, tetapi apakah Allah menjawab doa kita? Apakah ini sesuai dengan kehendak Allah?" Kemudian kami semua berdoa. Tadinya makanan sudah disiapkan untuk kami, tetapi kami tidak makan, melainkan terus berdoa, berdoa sampai semua tidak lagi merasa cemas, sebaliknya merasa damai, tenteram, dan bahkan setiap orang di antara kami sepertinya sangat mantap, barulah kami makan. Ketika makan, kami berkata kepada pemilik toko obat bahwa kami semua tahu nanti tanggal 11, ketika Ta-wang diarak keluar, akan turun hujan. Pemilik toko obat itu berkata, "Menurutku tidak akan turun hujan, kalian jangan sembarangan berbicara. Pertama, desa Mei-hwa dihuni oleh lebih dari dua ribu keluarga, hampir setiap orang laki-laki dari antara mereka bermata pencaharian sebagai nelayan; apakah mereka tidak bisa melihat cuaca? Beberapa hari sebelumnya mereka sudah tahu keadaan cuaca. Kedua, mohon kalian juga mempedulikan toko kecilku ini. Aku hidup bersandarkan toko ini, jangan merepotkan aku." Tetapi kami semua merasa sangat damai, merasa sangat mantap, tahu bahwa Allah telah mendengarkan doa kami. Keesokan harinya, yaitu tanggal 10, kami keluar lagi. Hari ini kami keluar, bukan hanya saudara muda itu berkata bahwa tanggal 11 akan turun hujan, saya sendiri juga berkata bahwa tanggal 11 akan turun hujan; kami semua mengatakan demikian. Kami berusaha menjual buku-buku Injil kepada orang-orang, tetapi mereka tidak mau membeli, juga tidak mau mendengarkan pemberitaan Injil, mereka berkata, "Tunggu saja sampai tanggal 11, baru berbicara lagi. Kalau hari itu hujan, berarti Yesus adalah Allah, kalau tidak hujan, berarti Ta-wang yang manjur."
Menakjubkan sekali, sebelumnya, pada tanggal sembilan malam, kami mendapatkan satu janji, yaitu, "Di manakah Allahnya Elia?" Karena ini menyangkut kemuliaan Allah, keadaannya tidak jauh berbeda dengan keadaan di zaman Elia. Demikianlah pada malam harinya, yaitu pada tanggal 10 malam, kami memohon lagi kepada Allah, karena kalau besok tidak turun hujan, 10.000 lebih penduduk desa Mei-hwa tidak bisa menerima Injil lagi, pintu Injil untuk desa Mei-hwa akan tertutup, Injil tidak bisa masuk lagi. Di antara kami ada satu dua saudara yang imannya agak lemah berkata, "Mohon Allah memberi hujan lebih dulu, sebaiknya malam ini sudah turun hujan." Kemudian, kami pun tidur. Begitu tertidur, kami bahkan sampai terlambat bangun. Saya terbangun karena terkena sorotan sinar matahari; karena saya tidur di samping jendela kecil. Saya terbangun dan berpikir, "Wah, matahari telah terbit dan menyorot demikian terang, bagaimana sekarang? Segera saya bangun dan berlutut berdoa (bahkan tidak sempat merapikan pakaian). Kemudian satu per satu bangun, kami semua berlutut berdoa, "Ya Allah, hari ini adalah waktunya Engkau menyatakan kemuliaan-Mu, mohon Engkau menurunkan hujan untuk membuktikan hanya Engkau sebagai Allah. Kami semua berdoa dengan tekun. Akhirnya kami semua berkata bahwa diri kami yang tidak benar, karena Allah sudah mendengarkan doa, untuk apa memohon dengan cara demikian lagi? Lalu kami semua turun untuk makan pagi. Saat itu saya adalah penanggung jawab di sana, maka saya sengaja memperbesar semangat mereka, berkata kepada saudara yang mengurusi konsumsi, "Hari ini jangan menyediakan makanan kering, karena hari ini akan turun hujan. Kita tidak bisa keluar." Demikianlah kami kemudian bersyukur atas makanan kami. Selesai mengucap syukur, tiba-tiba ada seorang saudara kembali meneruskan berdoa, "Mohon Allah menjaga iman kami, untuk membuktikan bahwa Engkau adalah Allah." Dengan spontan doa ini menyambung doa ucapan syukur atas makanan. Lalu kami mengambil bubur dan mulai makan. Saya kebetulan duduk menghadap ke jendela, baru habis mangkok pertama, tiba-tiba dari atas atap rumah terdengar suara-suara yang lembut, kami semua saling berpandangan, namun dalam batin kami semua mengerti apa yang sedang terjadi. Kami semua menambah bubur untuk mangkok yang kedua. Saya bertanya, "Perlukan berdoa lagi?" Seorang saudara menjawab, "Mengapa tidak berdoa lagi? Kita lihat hujan ini masih terlalu kecil, perlu hujan yang besar, barulah menyatakan bahwa Allah sendirilah yang menurunkan hujan, bukan terjadi secara kebetulan." Lalu kita pun berdoa lagi. Selesai berdoa, benar, langit menjadi gelap, hujan turun dengan lebat, genteng pun mengeluarkan suara yang keras. Hujan turun makin lama makin lebat. Selesai makan pagi, kami semua berdiri di depan pintu toko kecil itu untuk melihat perarakan Ta-wang. Asalnya Ta-wang akan diarak pada pukul 09.00, tetapi hujan turun mulai pukul 09.00 sampai pukul 11.00, tidak juga berhenti. Karena mereka merasa tidak boleh terlambat lebih dari tiga jam, maka mereka memaksa mengusung Ta-wang keluar. Tak disangka hujan kali ini sangat lebat, curah hujan sangat tinggi. Ta-wang diusung keluar dari kuil, berjalan tidak berapa jauh, orang yang mengusung Ta-wang satu per satu jatuh terpelesat masuk ke dalam genangan air. Sampai Ta-wang sendiri juga jatuh, tiga jarinya putus, salah satu bahu, dan bahkan kepalanya terkilir. Mereka mengangkat Ta-wang, menegakkan lagi kepalanya, lalu terus maju. Di belakang ada banyak pemuda berteriak, "Tahun ini Ta-wang sial, tahun ini Ta-wang sial." Demikianlah mereka sambil berjalan sambil berteriak. Ternyata hujan kali ini benar-benar sangat lebat, sehingga membuat mereka tidak bisa maju lagi. Mereka lalu mengusung Ta-wang ke dalam tempat sembayang di rumah keluarga bermarga Chen. Ada beberapa orang tua sesepuh di desa itu bertanya kepada Ta-wang, mengapa tahun ini turun hujan? Mereka sungguh ada akal, tidak tahu bagaimana, akhirnya mereka berkata, "Ta-wang tidak semestinya hari ini diarak keluar, kalian yang salah menghitung hari. Ta-wang berkata bahwa dia seharusnya keluar pada tanggal 14 bulan pertama pukul 20.00 malam, hari ini baru tanggal 11. Orang-orang tua itu mengira Ta-wang seharusnya pada tanggal 14 baru diarak keluar. Tetapi pemuda-pemuda itu berkata, "Mengapa hari ini Ta-wang sendiri juga jatuh, bahkan sampai tangan dan jarinya patah?"
Sampai waktu makan siang, kami berdoa lagi mohon Allah memberi kami cuaca yang cerah, supaya sore hari kami bisa keluar bekerja, sehingga kami bisa makin beriman. Kami juga memohon kepada Allah, supaya pada tanggal 14 malam turun hujan lagi. Setelah selesai makan, kami pergi keluar memberitakan Injil. Sore itu cuacanya sangat cerah, bertumpuk-tumpuk buku terjual habis dengan cepat.
Karena tanggal 15 pagi kami harus pulang ke rumah kami masing-masing, maka kami mohon kepada Allah supaya tanggal 12, 13, 14 diberi cuaca yang cerah, supaya kami dapat bekerja dengan lancar. Namun tanggal 14 malam harus turun hujan, supaya semua orang tahu bahwa Ta-wang bukan Allah. Ternyata benar, tanggal 12, 13, 14 cuacanya cerah. Kami telah menetapkan pada tanggal 14 malam akan mengadakan pemberitaan Injil di toko obat itu. Saat itu pemilik toko obat itu juga sudah percaya Tuhan (dan sampai sekarang masih sebagai seorang saudara yang baik). Pada tanggal 14 malam, sudah mulai turun hujan, di depan toko sudah banyak orang menunggu. Kami naik lagi ke ruangan atas untuk berdoa, mohon Allah menurunkan hujan lebih lebat lagi. Puji Tuhan, hujan benar-benar turun lebih lama lebih lebat. Malam itu sejumlah orang desa masih berusaha mengarak Ta-wang keluar dari kuil. Di antara mereka yang ikut mengusung Ta-wang, ada tujuh belas atau delapan belas orang, sedikitnya jatuh terpeleset lima atau enam kali. Banyak orang muda berseru-seru: "Ada Allah, tidak ada Ta-wang." Di desa ini, kami telah melakukan pekerjaan yang sangat baik. Tanggal 15 pagi hari, sebelum matahari terbit, kami sudah berkemas dan pulang ke rumah masing-masing. Sungguh puji Tuhan.
Doa kami yang terjawab sangatlah banyak, ini cukup membuktikan ada Allah. Dalam pengalaman rohani kami, sangat bisa membuktikan bahwa Allah adalah Allah yang hidup.
Bagaimana Manusia Bisa Bertemu dengan Allah
O, kita tidak bisa lewat begitu saja. Kalau benar ada Allah, apa yang harus kita perbuat? Kita tidak cukup hanya percaya ada Allah. Marilah kita membaca satu ayat Alkitab, yaitu Amos 4:12, "Bersiaplah untuk bertemu dengan Allahmu." Teman, apakah Anda telah siap bertemu dengan Allah? Kalau Anda mengetahui ada Allah, bukan berarti Anda boleh membiarkannya lewat dengan begitu saja. Pertama, perlu dengan baik-baik mempersiapkan diri untuk bertemu dengan-Nya. Teman, apakah Anda bisa bertemu dengan Allah? Saya harap di antara kita, tidak ada lagi orang yang dibingungkan oleh pengajaran ateis.
Kalau ada Allah, apa yang harus kita perbuat agar kita bisa bertemu dengan Dia? Satu-satunya cara adalah percaya Tuhan Yesus. Mengapa? Karena Allah memberi anugerah di dalam Kristus. Di luar Kristus, semuanya akan dihukum.
Efesus 2:16-18, "Dan untuk memperdamaikan keduanya, di dalam satu tubuh, dengan Allah melalui salib, dengan melenyapkan perseteruan pada salib itu. Ia datang dan memberitakan damai sejahtera kepada kamu yang 'jauh' dan damai sejahtera kepada mereka yang 'dekat', karena melalui Dia kita kedua pihak dalam satu Roh beroleh jalan masuk kepada Bapa." Perhatikan pula secara khusus Efesus 3:12, "Di dalam Dia kita beroleh keberanian dan jalan masuk kepada Allah dengan penuh kepercayaan melalui iman kita kepada-Nya." Bagaimana kita bisa bertemu dengan Allah? Alkitab memberi tahu kita: hanya percaya Yesus, baru beroleh keberanian bertemu dengan Allah.
Ada satu hal yang menghalangi kita bertemu dengan Allah, yaitu dosa. Kalau ada dosa, tidak bisa bertemu dengan Allah. Dosa membuat kita tidak bisa bertemu dengan Allah. Sebab itu, Allah mempersiapkan satu cara untuk menyelesaikan dosa, yaitu di atas salib Tuhan memikul dosa bagi kita. Dia mati adalah untuk dosa kita; Dia disesah untuk kita. Dia dipaku di atas salib adalah untuk dosa Anda dan saya. Karena Tuhan Yesus telah mati dan bangkit dari kematian, maka setiap orang yang percaya kepada-Nya boleh dengan berani bertemu dengan Allah. Tembok yang menyekat di tengah telah dibongkar, masalah dosa sudah dibereskan; karena itu bisa dengan berani berjumpa dengan Allah. Pada suatu hari, kita semua akan berjumpa dengan Allah. Yang akan kita alami, kalau tidak diterima sebagai umat Allah, pasti ditolak karena dianggap sebagai musuh Allah. Tuhan Yesus sudah mati, segala masalah dosa sudah dibereskan. Marilah kita pada hari ini datang ke hadapan Allah menerima keselamatan. Siapa saja yang mau datang ke hadapan Allah, harus tidak ada penghalang. Orang macam apa yang tidak bisa datang kepada Allah? Teman, apakah Anda orang Kristen? Apakah Anda orang ateis? Saya menganjuri Anda, percayalah Tuhan Yesus. Hari ini adakah orang yang mau menerima Yesus Kristus menjadi Juruselamat?
Teman, ingatlah, pada suatu hari, Anda akan berjumpa dengan Allah, Anda tidak bisa menyembunyikan diri, Anda pasti akan berjumpa dengan Allah. Hanya ada satu cara, yaitu bersembunyi di dalam Tuhan, selain itu, tidak ada cara yang lain. Pada hari itu, ketika Anda berhadapan dengan Allah, Anda baru berusaha menyembunyikan diri, itu sudah terlambat. Karena itu, siapa saja yang mau menerima Tuhan, sekarang juga terimalah Dia, jangan berlambatan.
Mungkin banyak orang tidak begitu jelas terhadap penebusan Tuhan, sepertinya ada satu pertanyaan, bagaimana darah Tuhan bisa membawa saya ke hadapan Allah? Tanyalah kepada hati nurani Anda sendiri, pasti akan mengetahuinya. Sekarang ada satu kasus, yaitu dosa yang diletakkan di hadapan kita; di samping itu ada satu saksi, yaitu hati nurani dalam batin kita, yakni hati nurani yang paling berharga sebagai bukti yang mengatakan bahwa kita berdosa. Banyak orang karena dalam hati nuraninya memiliki kasus ini, lalu tidak berani memikirkan tentang Allah, takut terhadap Allah, tidak mau Allah. Teman, semoga Anda tidak takut lagi, karena Tuhan Yesus telah menjadi pembela kita.
Tuhan kita, telah meninggalkan surga yang indah dan mulia, tujuannya supaya menyelamatkan kita. Dia menerima hukuman, supaya kita mendapatkan kedamaian. Dia mati, supaya kita mendapatkan hayat (kehidupan); dia ditolak, supaya kita diperkenan. Jadi, sekarang beban dosa Anda dan saya bisa kita letakkan, karena Allah telah menghakimi Tuhan Yesus. Asal kita percaya kepada-Nya, kita dapat mendekati Allah. Kalau tidak percaya Tuhan sudah memikul segala dosa Anda, ini benar-benar menakutkan. Semoga hati kita semua terbuka untuk menerima Tuhan. Demikian, ketahuilah, hari ini bagi Anda Allah bukan lagi sebagai Hakim, tetapi sebagai Bapa yang penuh kasih.
W.N.
PENGHAKIMAN
"Sama seperti manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi."
Ibrani 9:27
Ayat Alkitab ini adalah satu ayat yang sangat serius dalam seluruh Alkitab; membuat orang yang membacanya merasa tidak nyaman, membuat orang yang mendengarnya merasa tidak enak. "Manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi". Inilah judul yang akan kita bicarakan hari ini. Ketetapan ini memiliki dua bagian: pertama, semua orang bisa mati; kedua, setelah mati akan dihakimi. Kalau Anda bisa terlepas dari ketetapan Allah yang pertama -- mati, Anda juga bisa terlepas dari ketetapan yang kedua -- penghakiman. Menurut ketetapan Allah, setiap manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja; sesudah mati, akan dihakimi. Kalau ketetapan yang pertama -- mati, bisa tergenap; maka ketetapan yang kedua -- dihakimi, juga akan tergenap.
Teman, Anda tidak perlu lebih dulu bertanya apakah Anda akan dihakimi, tetapi bertanyalah, apakah Anda bisa mati. Judul yang akan saya bicarakan hari ini adalah dihakimi. Anda tidak senang mendengarkan, saya juga tidak senang membicarakan. Tetapi apa boleh buat, Anda tidak senang mendengarkan tetap harus mendengarkan; saya tidak senang membicarakan juga tetap harus membicarakan. Karena kalau kematian itu benar-benar ada, maka penghakiman juga pasti benar-benar ada. Kalau Anda bisa mati, Anda pasti akan dihakimi. Kalau Anda bisa terlepas dari kematian, maka Anda juga bisa terlepas dari penghakiman.
Alkitab memberi tahu kita beberapa perkara sebagai fakta. Anda mempercayai kebenarannya, itu adalah fakta; Anda tidak mempercayai kebenarannya, itu tetap adalah fakta. Suatu fakta, tidak bisa karena Anda tidak percaya lalu menjadi bukan fakta. Fakta selamanya adalah fakta.
Alkitab memberi tahu kita satu fakta, yaitu ada Allah. Anda percaya atau tidak percaya kepada Allah, keberadaan Allah tetap adalah satu fakta. Misalnya, matahari bersinar di langit, tak peduli seorang yang buta percaya atau tidak percaya ada matahari, keberadaan matahari tetap adalah satu fakta.
Alkitab tidak hanya memberi tahu kita fakta adanya Allah, memberi tahu kita fakta adanya dosa, Alkitab juga memberi tahu kita fakta adanya kematian. Semua ini adalah fakta. Alkitab membicarakan kematian lebih banyak daripada orang pada umumnya. Anda percaya ada kematian? Kematian itu pasti ada; Anda tidak percaya bisa mati, kematian tetap pasti ada.
Alkitab memberi tahu kita satu fakta yang berkaitan dengan masa yang akan datang. Karena fakta ini berkaitan dengan masa yang akan datang, maka banyak orang tidak memperhatikannya. Sesunggunya fakta ini sama dengan tiga fakta yang di atas. Fakta ini adalah penghakiman. Anda percaya ada penghakiman, penghakiman itu ada; Anda tidak percaya ada penghakiman, penghakiman itu tetap ada. Dosa besar atau dosa kecil, dosa halus atau dosa kasar, dosa berpenampilan baik, atau dosa berpenampilan jelek, dosa yang dikecam masyarakat, atau yang diterima masyarakat, dosa yang bagaimanapun, semuanya akan dihakimi oleh Allah. Semua akan dihakimi oleh Allah, perkara ini adalah satu fakta. Anda percaya atau tidak percaya, bagaimanapun, penghakiman adalah satu fakta. Tanpa sungkan, saya berterus terang kepada Anda. Saya tidak perlu mengeluarkan tenaga untuk memberi contoh guna membuktikan adanya penghakiman; fakta tidak perlu dinyatakan dengan bukti-bukti. Alkitab mengatakan ada Allah, pasti ada Allah; Alkitab sejak awal sudah mengatakan tentang Allah, tidak perlu mengeluarkan bukti untuk menyatakan ada Allah. Fakta tidak perlu bukti, kalau itu fakta, tidak perlu dibuktikan. Alkitab tidak perlu membuktikan bahwa Anda berdosa, karena Anda memang berdosa. Alkitab tidak perlu membuktikan bahwa Anda bisa mati, karena Anda memang bisa mati. Demikian juga, Alkitab tidak perlu membuktikan ada penghakiman, karena penghakiman adalah satu fakta.
Teman, saya ingin mengajukan satu pertanyaan, apakah dosa Anda sudah dibereskan? Mungkin Anda pernah beberapa kali mendengarkan Injil, tetapi Anda belum membereskan masalah dosa Anda, Anda belum beroleh selamat. Teman, kalau kematian itu pasti ada, penghakiman juga pasti ada. Anda tidak tahu kapan Anda akan mati, Anda juga tidak tahu kapan Anda dihakimi. Sebab itu, hari ini Anda harus membereskan masalah dosa Anda. Kalau tidak, Anda dalam keadaan sangat bahaya. Banyak orang berpikir bahwa penghakiman adalah masalah yang tidak penting, tetapi kalau hari ini Anda tidak membereskan masalah dosa Anda, tidak membereskan masalah penghakiman, kelak penghakiman tanpa kenal ampun akan menimpa Anda. Kalau masalah dosa Anda belum dibereskan, saya anjuri Anda, hari ini jangan cepat-cepat makan, jangan cepat-cepat tidur; masalah ini sangat penting, hari ini juga Anda harus membereskannya di hadapan Allah, kalau tidak, ketika penghakiman datang, tidak ada kesempatan lagi.
APA KESUDAHAN DIHAKIMI?
Alkitab tidak hanya memberi tahu kita ada penghakiman, Alkitab juga memberi tahu kita kesudahan dari penghakiman. Kelak Allah akan menghakimi dosa seluruh orang di dunia, Dia akan memberi balasan kepada orang yang tidak mau mengenal Allah dan yang tidak menaati Injil Tuhan Yesus. Mereka akan menerima penghukuman, yaitu kebinasaan yang kekal (2 Tesalonika 1:8-9), yaitu masuk ke dalam neraka. Alkitab memberi tahu kita, Allah mengasihi manusia, ini adalah benar. Bersamaan itu, Alkitab memberi tahu kita tentang api neraka, ini juga benar. Kalau kita tidak mendapatkan anugerah pengampunan dosa, ini sangat berbahaya. Karena orang yang tidak percaya akan meninggalkan muka Tuhan, masuk ke dalam neraka, tidak bisa terhindar dari kebinasaan yang kekal.
KETIKA DIHAKIMI, SIAPA YANG BISA BERDALIH?
Mungkin ada orang berpikir, kelak ketika aku berdiri di depan takhta penghakiman, aku akan berkata kepada Allah, "Engkau tidak bisa memasukkan aku ke dalam neraka, karena ketika aku mendengarkan firman, aku tidak mengerti." Teman-teman, mungkin ada orang berkata, "Aku tidak mengerti, aku tidak jelas, ketika dihakimi, aku akan mengajukan banyak alasan kepada Allah, mungkin bisa diterima oleh Allah." Tetapi, teman, Allah sejak dini sudah menyediakan jawaban untuk Anda, dan Anda tidak bisa berdalih lagi.
Dengarlah: "Pada waktu penghakiman, orang-orang Niniwe akan bangkit bersama orang-orang zaman ini dan menghukumnya juga. Sebab orang-orang Niniwe itu bertobat setelah mendengar pemberitaan Yunus, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih daripada Yunus!" (Matius 12:41). Di sini Tuhan Yesus membicarakan satu hal, yaitu penghakiman. Kelak, di depan takhta penghakiman, apakah Allah sendiri yang akan menghakimi dosa mereka? Allah hanya duduk di sana, menyuruh orang Niniwe bangkit menghukum mereka.
Niniwe adalah satu kota kuno yang besar dan ternama. Orang-orang dalam kota ini semuanya berdosa. Lalu Allah mengutus seorang nabi bernama Yunus pergi ke sana memberitahukan mereka bahwa empat puluh hari lagi, Niniwe akan ditunggangbalikkan. Setelah mendengar berita yang disampaikan Nabi Yunus, orang-orang Niniwe mengumumkan untuk berpuasa, dari yang paling besar sampai yang paling kecil, semua mengenakan kain kabung, dengan sungguh-sungguh memohon pengampunan kepada Allah. Allah mengamati perbuatan mereka, melihat bahwa mereka telah meninggalkan perbuatan mereka yang jahat, kemudian Allah tidak menurunkan bencana kepada mereka, mereka telah mendapatkan anugerah pengampunan dosa. Tuhan Yesus mengutip fakta ini untuk menyatakan bahwa orang-orang Niniwe akan menghukum dosa orang zaman ini.
Orang-orang Niniwe, begitu mendengar perkataan Yunus, mereka segera bertobat. Lihatlah, di sini ada satu orang yang lebih besar daripada Yunus! Sekarang, ada Anak Allah sendiri yang berbicara kepada orang-orang yang hidup pada hari ini. Hari ini siapa yang belum pernah membaca Alkitab? Siapa yang belum pernah membaca Injil Yohanes? Hari ini, siapa yang berani berdalih belum pernah mendengar perkataan Anak Allah? Kalau Anda belum pernah mendengar bahwa Anak Allah telah mati bagi Anda, apa boleh buat; tetapi kalau Anda pernah mendengarkan, kelak ketika dihakimi, Anda tidak bisa mengelak. Ketika dihakimi, orang Niniwe akan berdiri berkata, "Aku, setelah mendengar perkataan Yunus, segera bertobat, mengapa kamu, setelah mendengarkan Injil Anak Allah, masih tidak bertobat? Apakah kamu bisa menghindar dari akibat dosa?"
Mungkin ada orang berkata, "Ya, Yunus benar-benar pergi ke Niniwe memberitakan firman, maka orang-orang Niniwe memiliki kesempatan untuk bertobat. Tetapi aku adalah orang yang tinggal di pedesaan, di tempatku tidak ada orang yang memberitakan Injil kepadaku. Orang yang seperti aku ini mungkin tidak dihakimi oleh Allah." Tetapi Tuhan mengatakan satu hal lagi, sehingga orang yang semacam ini juga tidak bisa berdalih.
"Pada waktu penghakiman, ratu dari Selatan itu akan bangkit bersama orang-orang zaman ini dan ia akan menghukumnya juga. Sebab ratu ini datang dari ujung bumi untuk mendengar hikmat Salomo, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih daripada Salomo!" (Matius 12:42). Ketika penghakiman, ratu dari Selatan akan bangkit menjawab perbantahan orang-orang yang demikian, untuk menghukum dosa zaman ini.
Ratu dari Selatan adalah seorang ratu dari Syeba. Negeri Syeba adalah Etiopia hari ini, terletak di selatan Mesir. Ratu Syeba ini karena mendengar nama Raja Salomo, mengetahui Salomo memiliki hikmat yang besar, dia benar-benar tidak peduli akan jauhnya jarak yang harus ditempuh, dia datang untuk melihat Salomo. "Sesungguhnya yang ada di sini lebih daripada Salomo". Tuhan Yesus kita lebih besar daripada Salomo! Yang Dia ucapkan lebih hikmat dan pandai daripada Salomo. Yang Dia ucapkan berkaitan dengan yang lebih besar dan lebih dalam, berkaitan dengan kehidupan dan kematian kekal manusia. Seorang ratu dari Selatan, mau dari tempat yang jauh datang untuk mendengar perkataan hikmat Salomo; Anda yang tinggal tidak lebih dari dua puluh kilometer dari kota, apakah tidak bisa masuk ke dalam gedung tempat pemberitaan Injil untuk mendengarkan Injil? Ratu dari Selatan akan menghukum Anda. Dia bisa datang dari tempat yang begitu jauh, tidak dapatkah Anda dari rumah Anda pergi ke tempat pemberitaan Injil? Sebab itu, setiap orang yang tidak beroleh selamat, ketika dihakimi, tidak akan dapat berdalih lagi.
KETIKA DIHAKIMI, SIAPA YANG BISA MELARIKAN DIRI?
Mungkin ada orang berpikir, kalaupun ada penghakiman, aku akan mencari jalan untuk melarikan diri. Mungkin tidak ada seorang pun yang demikian bodoh, tetapi siapa tahu ada juga orang yang demikian, sebab itu saya menyinggungnya di sini. Mungkin ada orang berpikir, setiap manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi. Setelah aku mati, masuk ke dalam alam maut, aku akan menyembunyikan diri di alam maut, tidak keluar lagi. Yang berbuat baik bangkit mendapatkan hidup, yang berbuat jahat bangkit dihukum; aku lebih baik tidak bangkit, aku akan bersembunyi di alam maut saja. Tetapi cara ini juga tidak berguna.
Silakan Anda mendengarkan firman Allah: "Sekalipun mereka menembus sampai ke dunia orang mati, tangan-Ku akan mengambil mereka dari sana" (Amos 9:2a). Anda berpikir bahwa Anda dapat bersembunyi di alam maut dan menghindari penghakiman? Akan tetapi tangan Allah akan mengambil Anda dari sana. Sekalipun Anda dapat menembus sampai alam maut, menembus sangat dalam sehingga tidak dapat lebih dalam lagi, tangan Allah tetap akan mengambil Anda dari sana.
Ada orang, mungkin adalah ahli teknologi hari ini, ahli pesawat luar angkasa, mereka mungkin berpikir, ketika hari penghakiman tiba, aku akan naik pesawat angkasa luar, pergi ke tempat yang sangat tinggi, paling tinggi, berhenti di sana, demikian tentu terhindar dari penghakiman. Tetapi ketahuilah, cara ini juga tidak manjur. Dengarlah firman Tuhan: "Sekalipun mereka naik ke langit, Aku akan menurunkan mereka dari sana" (Amos 9:2b). Sekalipun Anda naik, Allah akan menurunkan Anda. Anda naik dengan susah payah, tetapi Allah menurunkan Anda dengan mudah.
Mungkin orang berpikir, kalau aku melarikan diri ke hutan lebat di pegunungan yang luas, siapa yang bisa menemukan aku? Tetapi firman Allah berkata, "Sekalipun mereka bersembunyi di puncak gunung Karmel, Aku akan mengusut dan mengambil mereka dari sana" (Amos 9:3a). Anda pikir pegunungan yang luas banyak pepohonan, Anda bersembunyi di sana masih lebih terhindar dari penghakiman. Tetapi Allah akan mengusut, mencari, Anda pasti ditemukan.
Mungkin ada orang berpikir, kalau tidak bisa bersembunyi di alam maut, tidak bisa terbang ke langit, tidak bisa bersembunyi di pegunungan yang luas, maka lari saja ke dasar laut. Tetapi firman Allah berkata, "Sekalipun mereka menyembunyikan diri terhadap mata-Ku di dasar laut, Aku akan memerintahkan ular untuk memagut mereka di sana" (Amos 9:3b). Anda menyembunyikan diri ke dasar laut, Allah memerintahkan ular untuk memagut Anda, Anda tidak bisa melarikan diri.
Beberapa keadaan di atas, hanyalah beberapa gambaran yang Allah lukiskan untuk memperlihatkan kepada Anda. Baik di alam maut, langit, gunung yang luas, maupun dasar laut, Anda mungkin bisa melarikan diri dari tangan manusia, tetapi Anda tidak bisa melarikan diri dari tangan Allah. Menurut Alkitab, Anda tidak mungkin bisa melarikan diri, juga tidak mungkin bisa berdalih.
KETIKA DIHAKIMI, MASIH ADA KEADAAN APA?
"Celakalah engkau Khorazim! Celakalah engkau Betsaida! Karena jika di Tirus dan di Sidon terjadi mukjizat-mukjizat yang telah terjadi di tengah-tengah kamu, sudah lama mereka bertobat dan berkabung. Tetapi Aku berkata kepadamu: Pada hari penghakiman, tanggungan Tirus dan Sidon akan lebih ringan daripada tanggunganmu. Dan engkau Kapernaum, apakah engkau akan dinaikkan sampai ke langit? Tidak, engkau akan diturunkan sampai ke dunia orang mati! Karena jika di Sodom terjadi mukjizat-mukjizat yang telah terjadi di tengah-tenagah kamu, kota itu tentu masih berdiri sampai hari ini. Tetapi Aku berkata kepadamu: Pada hari penghakiman, tanggungan negeri Sodom akan lebih ringan daripada tanggunganmu" (Matius 11:21-24). Teman, dengarlah, semakin banyak mendengarkan Injil semakin baik, kelak di depan takhta pengadilan, semakin tidak bisa banyak bicara. Kalau Anda hari ini masih berbuat dosa, masih hidup untuk dunia, masih mencari kesenangan diri, masih berkecimpung dalam dosa, saya mempersilakan Anda memperhatikan masalah penghakiman. Anda tidak bisa tidak mati, juga tidak bisa tidak dihakimi, penghakiman itu pasti ada, sama seperti kematian pasti ada.
Saya sering berkata kepada orang-orang yang tinggal di kota-kota yang besar bahwa mereka akan mengalami nasib seperti Tirus dan Sidon. Tirus dan Sidon yang dulunya begitu mewah dan semarak, hari ini hanya menjadi tempat untuk menjemur pukat. Sodom dan Gomora yang dulu begitu berkubang dalam dosa, akhirnya dimusnahkan oleh Allah dengan api belerang. Dua tahun yang lalu ada arkeolog dari Amerika menyelidiki bekas tempat sejarah, menemukan tempat itu banyak bekas belerang. Dulu Tuhan belum lahir di bumi, Anak Allah belum mati menanggung dosa manusia, manusia masih belum tahu ada dosa dan ada penghakiman, mungkin masih bisa berdalih. Tetapi hari ini Anda semua sudah mendengar bahwa Anak Allah telah mati bagi Anda. Kalau hari ini Anda tidak membereskan masalah dosa Anda, dan kalau saya memiliki air mata yang cukup banyak, akan saya alirkan bagi Anda! Kalau kami, orang-orang yang memberitakan Injil, memiliki air mata yang cukup banyak, juga akan kami alirkan bagi Anda! Karena penghakiman yang akan datang sangatlah mengerikan! Dunia akan lewat, Anda juga akan lewat, kesenangan dunia pun akan lewat, tetapi penghakiman tidak bisa lewat.
BAGAIMANA BARU BISA TERLEPAS DARI PENGHAKIMAN?
Sekarang saya akan menceritakan sedikit bagaimana baru bisa terlepas dari penghakiman. Kalau kita ingin terlepas dari penghakiman, terlebih dulu kita perlu bertanya mengapa kelak ada penghakiman. Karena setiap orang adalah orang berdosa, maka setiap orang harus dihakimi. Kalau Anda bisa terhindar dari dosa, Anda juga bisa terhindar dari dihakimi.
Bagaimana cara Allah menyelamatkan kita terlepas dari dosa? Kita berdosa, kita harus dihakimi, kita harus masuk neraka. Tetapi Alkitab Allah memberi tahu kita bahwa Anak Allah telah mati bagi dosa kita. Anak Allah menggantikan kita mati di atas salib. Sebutan "Anak Allah" ini, di mulut saya terasa sangat manis; di telinga saya terasa lebih merdu daripada musik; di angan-angan saya terasa lebih puitis daripada puisi.
Anak Allah datang untuk menggantikan saya mati di atas salib, Anak Allah di atas salib memikul dosa saya, menggantikan saya menerima hukuman dosa. Karena itu, saya telah beroleh selamat, saya telah dibebaskan. Inilah Injil! Tujuan saya bukanlah ingin membawa kabar celaka kepada Anda, yang memberi tahu Anda bahwa Anda akan mati, Anda akan dihakimi. Mengapa saya lebih dulu memperlihatkan kepada Anda tentang penghakiman, yaitu supaya Anda tahu bahwa Anda mempunyai satu keperluan -- perlu seorang Juruselamat yang menanggung dosa Anda.
Saya ceritakan satu kisah: Sewaktu pecah perang saudara di Amerika, ada dua kakak beradik, seorang tinggal di Amerika Utara, seorang lagi tinggal di Amerika Selatan; mereka sama-sama dipanggil untuk wajib militer. Pada suatu kali tentara Amerika Selatan kalah, banyak yang ditawan oleh tentara Amerika Utara. Di antara orang-orang yang menjaga para tawanan, salah seorang adalah sang kakak. Kakaknya ini melihat bahwa di antara para tawanan terdapat seseorang yang adalah adiknya. Pada siang hari, ia tidak berani berkata apa-apa. Sampai malam hari, ia melepaskan pakaiannya untuk dikenakan kepada adiknya, kemudian menyuruh adiknya cepat-cepat melarikan diri (karena waktu itu perlakuan terhadap tawanan adalah ditembak mati pada keesokan harinya); ia sendiri mengenakan pakaian adiknya, menggantikan adiknya menjadi seorang tawanan. Keesokan harinya, kakak ini ditembak mati. Meskipun akhirnya ada orang menemukan bahwa yang ditembak mati bukan orang yang tepat, namun juga tidak ada kemampuan untuk menangkap orang yang telah lolos itu. Tetapi menurut prosedur hukum, kakaknya sudah mati menggantikan adiknya, dan satu orang tidak bisa mati dua kali. Demikianlah terpaksa membiarkan perkara ini dianggap selesai. O, ini adalah satu penjelasan kecil tentang salib.
Anda jangan salah mendengar, mengira Yesus adalah seorang pekerja sosial, memberitakan doktrin persaudaraan universal, persamaan hak, datang menjadi teladan manusia. Sedikitnya saya telah membaca Perjanjian Baru seratus kali, dalam pembacaan Alkitab saya, saya tidak pernah menemukan hal-hal semacam itu. Itu bukan Injil. Itu adalah berita celaka yang berasal dari Iblis, dari neraka. Alkitab memberi tahu kita bahwa Yesus datang untuk menggantikan kita menerima penghakiman. Asalnya kita yang harus mati, tetapi Yesus mati menggantikan kita. Tuhan Yesus di atas salib berkata, "Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?" (Matius 27:46). Karena Yesus menanggung dosa kita, maka saat itu Allah tidak bisa tidak meninggalkan Dia. Dia datang dari surga, supaya kita dapat pergi ke surga; Dia meninggalkan Allah datang ke dunia, supaya kita bisa datang kepada Allah; Dia menjadi miskin, supaya kita menjadi kaya; Dia datang ke bumi, supaya kita bisa terlepas dari bumi; Dia datang menanggung dosa menggantikan kita, supaya kita bisa terlepas dari dosa; Dia menggantikan kita menerima penghakiman, supaya kita begitu percaya Dia, kita terhindar dari penghakiman. Teman, ketika Anda mendengarkan Injil, Anda sering mendengar kata "salib". Kata ini tak lain mengatakan bahwa Tuhan Yesus telah dihakimi karena menanggung dosa kita, telah menerima penghukuman bagi kita.
Saya ceritakan satu kisah lagi: Ketika Amerika belum begitu berkembang, penjajahan Inggris dan Perancis selalu mengarah ke daerah timur Amerika. Suatu hari, ada orang menemukan bahwa di San Francisco ada emas, bahkan emas yang digali di sana adalah emas murni. Begitu berita ini sampai ke timur Amerika, banyak orang berdatangan ke San Francisco untuk menambang emas. Ada sepasang suami istri, berunding hendak menjual hartanya untuk pergi menambang emas dan mengharapkan menjadi kaya. Kemudian suaminya pergi lebih dulu; lewat satu tahun lebih belum ada kabar. Tiba-tiba, suatu hari, sang istri menerima telegram dari suaminya, "Emas, datanglah." Artinya, sudah menemukan emas, kalian boleh datang. Istrinya sangat gembira, lalu membawa anaknya naik kapal berangkat ke San Francisco. Saat itu transportasi masih sangat sulit, terusan Panama belum dibuka, juga belum ada kereta api, sebab itu dari timur ke barat menghabiskan banyak waktu. Pada suatu hari, di atas dek kapal terjadi keributan, dia mengira ada perompak laut, ia segera menutup dan mengunci pintu kamar, duduk di dalam tidak keluar. Namun tak lama kemudian, tercium bau dan asap api, ia merasa keadaan tidak baik, mungkin terjadi kebakaran, begitu membuka pintu, ternyata benar ada kebakaran. Ia segera menggendong anaknya dan naik ke dek, terlihat semua sekoci sudah diturunkan. Sekoci yang terakhir juga sudah penuh dengan orang. Memang kalau terjadi kecelakaan di kapal, harus mendahulukan perempuan dan anak; karena dia terlambat keluar, maka ada orang lain yang lebih dulu turun ke sekoci. Dia terus meminta tolong, akhirnya awak kapal mengizinkan menerima satu orang. Teman, saat ini terjadi satu kesulitan, membiarkan anak hidup, ibu akan mati; membiarkan ibu hidup, anak akan mati. Saat ini mati bersama tidak diinginkan, hidup bersama juga tidak mungkin. Kalau bukan ibunya yang mati, pasti anaknya yang mati, di antara keduanya pasti ada satu yang mati, barulah yang lainnya bisa hidup. Akhirnya, ibunya menulis nama dan alamat suaminya, diberikan kepada awak kapal, menitipkan kepada mereka untuk mengirim anaknya kepada suaminya. Waktu itu ibunya berkata kepada anaknya, "Anakku, saat kamu bertemu ayahmu, katakan kepadanya bahwa ibu telah mati bagimu di dalam api, di dalam air! Supaya kamu bisa bertemu dengannya." Teman, inilah miniatur dari matinya Tuhan Yesus bagi kita. Semoga hari ini kita mendengar Tuhan Yesus berkata kepada kita, "Orang berdosa, Aku mati bagimu di atas salib, supaya kamu bisa berjumpa dengan Allah Bapa di surga. Aku mati, kamu hidup. Percayalah dengan tulus hati."
Hari ini saya di sini tidak menginginkan apa-apa, kecuali ingin agar Anda nampak ada kematian, juga ada penghakiman. Tetapi Allah mengasihi kita, telah mempersiapkan penyelamatan bagi kita. Anak-Nya telah mati bagi kita. Teman, silakan hari ini juga Anda menerima Yesus Kristus menjadi Juruselamat Anda.
Silakan Anda mendengarkan ayat Alkitab ini, "Siapa saja yang percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; siapa saja yang tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah" (Yohanes 3:18). Perhatikan kata "dihukum", bahasa aslinya adalah "dihakimi". Dengan kata lain, "Siapa saja yang percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihakimi; siapa saja yang tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman." Bukan saya yang mengatakan ayat Alkitab ini, tetapi Allah yang mengatakannya, Tuhan Yesus yang mengatakannya.
Silakan mendengarkan satu ayat Alkitab lagi, "Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Siapa saja yang mendengar perkataan-Ku dan percaya kepada Dia yang mengutus Aku, ia mempunyai hidup yang kekal dan tidak turut dihukum, sebab ia sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup" (Yohanes 5:24). Ayat ini memberi tahu kita bahwa seorang yang mendengar perkataan Yesus dan percaya kepada Dia yang mengutus-Nya: (1) mempunyai hidup yang kekal, (2) tidak turut dihakimi, (3) sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup.
Teman, hari ini saya bertanya kepada Anda, sudahkah Anda percaya kepada Anak Allah? Kalau Anda belum percaya, silakan sekarang juga menerima Dia menjadi Juruselamat Anda. Saya pernah duduk di samping orang yang akan mati. Kalau Anda duduk di samping orang yang akan mati, apa yang Anda pikirkan? Pada suatu hari, saya pergi ke suatu tempat untuk memberitakan Injil. Seseorang datang kepada saya dan berkata, "Ada seorang dokter sudah hampir meninggal, meminta saya memberitakan Injil kepadanya. Dia mengetahui sedikit tentang masalah gereja, sekarang dia sakit paru-paru yang parah." Saya pergi ke tempatnya. Dokter itu berkata, "Aku pernah mendengar tentang Yesus, tetapi aku selalu menolak." Saya menganjuri dia untuk beristirahat dengan baik. Tetapi dia berkata, "Aku adalah dokter, aku tahu kondisi kesehatanku sudah mencapai taraf hampir meninggal dunia. Aku pernah menjadi dokter militer, banyak berhubungan dengan orang-orang di tempat dinas, juga telah melakukan banyak dosa. Aku menyesal, aku tidak berdaya, aku sudah berdosa, sekarang hatiku tidak tenteram. Setelah aku mati, tidak bisa bertemu dengan Allah." Kemudian saya membacakan firman dalam Injil Yohanes 5:24 kepadanya. Setelah dia mendengar firman ini, dan mengetahui Allah akan memberikan hayat kepada manusia; asal manusia percaya, akan beroleh hidup yang kekal, tidak turut dihukum, sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup, ia pun menjadi tenteram. Sebelum dan sesudah menerima firman Allah, keadaan dokter ini sangat berbeda. Ketika saya datang, ia mencucurkan air mata; ketika saya pergi, ia bisa menjabat tangan saya sambil mengucapkan terima kasih. Saya tahu, kelak di surga saya pasti bertemu dengannya lagi. Tetapi teman, janganlah sampai hari itu Anda baru percaya, jangan menunggu kesempatan yang terakhir baru percaya. Silakan Anda sekarang juga berkata kepada Allah, "Ya Allah, sekarang juga aku menerima Anak-Mu." Ya, Anak Allah sudah mati bagi Anda, sudah dihakimi bagi Anda; karena itu, hai orang dosa, datanglah kepada-Nya!
APAKAH ORANG BEROLEH SELAMAT
KARENA BERBUAT BAIK?
Apakah orang beroleh selamat karena berbuat baik? Orang dunia akan menjawab, "Ya." Tetapi Allah dalam Alkitab menjawab, "Tidak." Kuasa yang menentukan kita beroleh selamat atau tidak berada di tangan Allah, bukan menurut kemauan kita. Masalah keselamatan kita berkaitan dengan Allah, bukan kita sendiri yang bisa menentukan. Bukan karena diri kita mengira bisa beroleh selamat, lalu kita bisa beroleh selamat; atau kita mengira tidak bisa beroleh selamat, lalu kita tidak bisa beroleh selamat. Teman, Anda harus mendengarkan suara Allah, apa yang Allah katakan kepada Anda, harus Anda dengar. Jangan mengira bahwa kalau Anda bisa berbuat baik, Anda bisa beroleh selamat. Anda harus mengetahui bahwa Allahlah yang berkuasa dalam hal ini.
Apakah moral bisa menyelamatkan orang? Tidak bisa. Orang yang mengetahui hal ini sangatlah berbahagia. Hari ini banyak orang mengira bahwa tujuan dari menganjuri orang "percaya Yesus", tidak lain adalah menganjuri orang untuk berbuat baik. Siapa tahu, menganjuri orang percaya Yesus justru membuktikan bahwa manusia tidak bisa berbuat baik. Banyak orang beriman yang masih tidak mengetahui bahwa berbuat baik tidak bisa menyebabkan orang beroleh selamat. Mereka mengira: harus sekuatnya memelihara firman, berkebaktian, memberi sedekah, membantu urusan gereja -- sekuatnya berbuat baik, mengharapkan Allah berkenan, demikian baru bisa beroleh selamat. Siapa tahu, semuanya itu sia-sia! Sama sekali tidak bisa membantu dia beroleh selamat! (Maksud saya bukan berarti kita tidak perlu memelihara firman, bersedekah, dan lain-lain, tetapi kita tidak bisa beroleh selamat melalui hal-hal itu).
Berdebat, berdalih dengan perkataan manusia hanyalah sia-sia belaka. Mari kita melihat firman Allah. Apa yang Allah katakan, itulah yang dapat diandalkan.
"Karena kami yakin bahwa manusia dibenarkan karena iman, bukan karena melakukan hukum Taurat" (Roma 3:28). "Melakukan hukum Taurat" yang dikatakan di sini, berarti berbuat baik. Hukum Taurat ditetapkan oleh Allah. Hukum Taurat menunjukkan apa yang harus dilakukan manusia. Kalau manusia bisa melakukan hukum Taurat Allah, dia adalah orang yang paling baik di dunia. Tetapi di sini Allah melalui rasul berkata bahwa rasul sudah nampak dengan pasti, sudah mengetahui dan sangat memahami bahwa manusia dibenarkan bukan karena melakukan hukum Taurat atau berbuat baik. Apakah artinya dibenarkan? Artinya, Allah tidak hanya mengampuni dosanya, tetapi juga membenarkannya. Dengan kata lain, dibenarkan berarti beroleh selamat. Orang yang dibenarkan adalah orang yang beroleh selamat. Di sini Allah mengajar kita bahwa kita tidak bisa beroleh selamat, dibenarkan, karena melakukan hukum Taurat atau karena berbuat baik. Sebab itu, teman yang terkasih! Jangan bersandar kepada perbuatan Anda, jangan mengira melalui berbuat baik Anda bisa beroleh selamat. Hentikan perbuatan Anda! Akuilah diri Anda adalah orang yang tidak dapat diperbaiki! Terimalah Tuhan Yesus menjadi Juruselamat Anda, dan Anda pasti beroleh selamat.
Allah seharusnya dipuji oleh manusia. Karena Dia menyelamatkan manusia bukan karena manusia berbuat baik, Dia berkata, "Tetapi di mana dosa bertambah banyak, di sana anugerah menjadi berlimpah-limpah" (Roma 5:20). Pembaca! Tahukah Anda bahwa Anda adalah orang berdosa? Bukankah hati nurani Anda mendakwa Anda? Bukankah Anda menganggap diri Anda adalah orang yang demikian, yang tidak dapat diobati lagi? Jangan tertipu oleh orang yang mengira bahwa dengan berbuat baik bisa membuat orang beroleh selamat, mengira dengan masuk ke dalam gedung gereja, bernyanyi, berdoa, berkebaktian, lalu bisa beroleh selamat. Jangan berusaha dengan cara manusia untuk menutupi dosa-dosa Anda. Anda adalah orang dosa, tidak peduli bagaimana Anda menutupinya, Anda tetap adalah orang dosa. Sama seperti seorang negro, tidak peduli bagaimana diberi bedak, atau dicat putih seluruh tubuhnya, dia tetap orang negro. Jangan bersandar perbuatan Anda! Meskipun dosa Anda banyak, darah adi Tuhan mau dan dapat membasuhnya. Marilah datang kepada Tuhan!
Di Inggris, ada seorang yang bernama Spurgeon; ia adalah orang yang dipakai secara besar-besaran oleh Tuhan. Ia pernah berkata bahwa kalau Tuhan menuntut dirinya berbuat baik untuk bisa beroleh selamat, ia tidak akan mau menjadi orang Kristen. Ia lalu memberikan satu perumpamaan: setelah dia banyak berbuat kebaikan, kemudian ia seolah-olah membawa perbuatan baiknya itu ke hadapan Allah, dan bertanya kepada Allah, "Aku telah berbuat baik sekian banyak, apakah aku bisa beroleh selamat?" Allah adalah Allah semua kebaikan, tentu dalam pandangan-Nya kebaikanku sangat tidak memadai; Dia akan menggelengkan kepala dan berkata, "Apa yang kamu perbuat masih kurang!" Lalu aku dengan kepala tertunduk dan lunglai kembali berusaha berbuat baik. Lewat beberapa tahun, aku membawa lagi kebaikanku kepada Allah, bertanya kepada-Nya, "Sebenarnya kebaikanku sudah cukup atau belum, apakah aku sudah bisa beroleh selamat?" Allah akan menjawab lagi, "Yang kamu perbuat masih belum cukup, kamu masih belum bisa beroleh selamat." Kalau berkali-kali Allah masih tidak puas, bagaimana aku bisa tahu bahwa pada akhirnya aku akan beroleh selamat? Jika Allah benar-benar menuntut aku harus berbuat baik baru beroleh selamat, mungkin sampai aku meninggal dunia, Allah masih belum puas, dan aku belum juga beroleh selamat, bukankah ini sangat kasihan! Kalau Allah menghendaki aku berbuat baik baru beroleh selamat, aku pasti tidak bisa menjadi orang Kristen; karena kalaupun aku telah dengan susah payah berbuat baik beberapa puluh tahun, Allah masih juga belum puas, bukankah yang kulakukan itu sia-sia belaka? Tetapi aku bersyukur kepada Allah Bapa, karena aku tidak perlu berbuat baik, asal aku percaya Anak-Nya, aku bisa beroleh selamat.
Ya, meskipun Allah tidak puas terhadap semua perbuatan kita, meskipun kita tidak mempunyai kebaikan yang bisa memuaskan Dia, tetapi Allah berkenan kepada Anak-Nya, Tuhan Yesus; Allah sudah puas terhadap kebenaran yang Tuhan Yesus genapkan di atas salib. Meskipun kita sendiri tidak bisa berbuat baik dan yang kita lakukan juga tidak baik, tetapi begitu kita percaya kepada Anak-Nya, begitu kita menerima penebusan oleh darah Anak-Nya di atas salib, kita beroleh selamat.
Pembaca yang terkasih! Jangan biarkan Iblis menipu Anda, mengira bahwa dengan berbuat baik Anda bisa beroleh selamat. Ketahuilah, sebagaimana Anda tidak bisa mendirikan tangga yang mencapai ke surga, demikian juga Anda tidak bisa melalui berbuat baik memperoleh anugerah keselamatan Allah. Kita bukan karena telah mempunyai perbuatan yang baik lalu dibenarkan oleh Allah, namun "Oleh anugerah telah dibenarkan dengan cuma-cuma melalui penebusan dalam Kristus Yesus. Jika hal itu terjadi berdasarkan anugerah, maka bukan lagi berdasarkan perbuatan, sebab jika tidak demikian, maka anugerah bukan lagi anugerah" (Roma 3:24; 11:6). Betapa jelasnya ayat-ayat Alkitab ini! Kita dibenarkan oleh Allah, diselamatkan oleh Allah, bukan karena perbuatan, tetapi karena anugerah Allah. Anugerah dan perbuatan adalah dua prinsip yang sangat berlawanan. Arti anugerah ialah tidak peduli orang tersebut baik atau jahat, bagaimanapun keadaannya, Allah mau menyelamatkannya. Orang tersebut asalnya tidak layak beroleh selamat, tetapi karena belas kasihan, dengan cuma-cuma Allah memberikan anugerah keselamatan kepadanya. Perbuatan sangat berbeda. Arti perbuatan ialah orang baik baru bisa beroleh selamat, orang jahat harus binasa. Dengan kata lain, manusia harus berbuat baik untuk menyelamatkan dirinya sendiri; kalau tidak bisa menyelamatkan dirinya sendiri, akan binasa. Kita tahu bahwa kita semua adalah orang berdosa; walau mungkin kita tidak mempunyai dosa membunuh orang, membakar rumah orang, namun sifat bawaan kita sudah rusak, pikiran dan perbuatan kita sudah penuh dengan kelicikan. Kita adalah orang yang berdosa! Bagaimana kita bisa melalui perbuatan beroleh selamat? Puji syukur kepada Allah! Sebab Dia menyelamatkan kita bukan karena perbuatan kita, melainkan karena anugerah, anugerah yang cuma-cuma, anugerah yang sebenarnya kita tidak pantas menerimanya.
Sekarang banyak orang mengira bahwa meskipun beroleh selamat adalah berdasarkan anugerah Allah, tetapi masih harus ada perbuatan manusia. Anugerah Allah harus ditambah dengan perbuatan kita, baru kita bisa beroleh selamat. Kalau tidak, kita tetap akan binasa. O! Orang yang berada dalam daging, selalu ingin beroleh selamat bersandarkan diri sendiri. Kita perlu mengingat perkataan Tuhan dalam Roma 11:6, "Jika hal itu terjadi berdasarkan anugerah, maka bukan lagi berdasarkan perbuatan (anugerah tidak berdampingan dengan perbuatan; kalau bukan anugerah, pastilah perbuatan; kalau bukan perbuatan, pastilah anugerah; tidak mungkin ada anugerah, juga ada perbuatan), sebab jika tidak demikian, (rasul sekarang berbalik berkata, jika menggabungkan anugerah dengan perbuatan) maka anugerah bukan lagi anugerah." (Anugerah Allah yang panjang, lebar, tinggi, dan dalam, karena dicampuri oleh perbuatan manusia yang rusak dan tidak layak, malah menjadi sesuatu yang tidak berbentuk). Perbuatan manusia tidak hanya tidak bisa menggenapkan anugerah Allah, sebaliknya akan membuat anugerah Allah menjadi "bukan lagi anugerah". Sebab itu, hai orang dosa, kalau Anda ingin beroleh selamat, jangan mengira Anda harus berbuat baik, harus membantu diri sendiri, baru bisa beroleh selamat. Anda harus rendah hati, menyadari bahwa diri sendiri adalah orang dosa yang tidak mampu berbuat apa-apa, dengan hati yang percaya dan bersyukur datang menerima anugerah yang Allah rampungkan melalui Anak-Nya di atas salib, demikian Anda akan beroleh selamat. Anugerah yang ajaib! Dengan cuma-cuma dianugerahkan kepada orang dosa!
Berbuat baik tidak bisa membuat orang beroleh selamat, kita dapat melihat lagi bagaimana firman Allah berkata, "Tidak seorang pun yang dibenarkan karena melakukan hukum Taurat, . . . bukan karena melakukan hukum Taurat . . . Tidak ada seorang pun yang dibenarkan karena melakukan hukum Taurat . . . Karena semua orang, yang hidup dari pekerjaan hukum Taurat, berada di bawah kutuk . . . Tidak ada orang yang dibenarkan di hadapan Allah karena melakukan hukum Taurat" (lihat Galatia 2:16-19; 3:10-11). Saya sudah mengatakan kepada Anda bahwa arti dari melakukan hukum Taurat ialah berbuat baik; kalau ingin dibenarkan karena melakukan hukum Taurat, artinya akan beroleh selamat melalui perbuatan. Lihatlah ayat-ayat Alkitab ini, apa yang dikatakan? Orang beroleh selamat bukan karena berbuat baik. Tidak saja berbuat baik tidak bisa membuat orang beroleh selamat, bahkan siapa saja yang ingin beroleh selamat melalui berbuat baik, dia berada di bawah kutuk! Alkitab dengan jelas memberi tahu kita bahwa selamanya tidak ada orang yang beroleh selamat karena berbuat baik, untuk apa Anda dengan susah payah mencoba sesuatu yang "selamanya tidak"? Teman-teman! Di sini sudah ada pekerjaan yang telah dirampungkan oleh Tuhan Yesus, Dia telah mengeluarkan semua harga, Dia telah mati tersalib bagi Anda, sekarang Anda tidak perlu dengan memelas memohon untuk mendapatkan anugerah keselamatan, karena Dia telah menggenapkannya. Jika Anda mau menerima penebusan yang Ia genapkan bagi Anda, Anda akan beroleh selamat; mengapa Anda harus bersusah payah memakai cara Anda sendiri? Percayalah kepada Dia! Setelah percaya kepada-Nya, pujilah Dia! Karena Dia begitu mengasihi Anda, mempersiapkan anugerah keselamatan bagi Anda.
Ada dua ayat Alkitab yang membicarakan masalah keselamatan dengan sangat jelas, mari kita lihatnya: "Sebab karena anugerah kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu, supaya tidak ada orang yang memegahkan diri" (Efesus 2:8-9). Setelah kita membaca dua ayat Alkitab ini, kita tahu bahwa ayat-ayat ini membicarakan tentang keselamatan. Kalimat pertama mengatakan, "Kamu diselamatkan," ini jelas sekali membicarakan tentang keselamatan.
Bagaimana Anda diselamatkan? Apakah karena berbuat baik? Bukan. Apakah karena Anda lebih kuat daripada orang lain? Bukan. Dengan apa manusia bisa beroleh selamat? Alkitab memberi tahu kita karena dua hal: anugerah Allah, dan iman manusia. "Sebab karena anugerah kamu diselamatkan oleh iman." Anugerah adalah pemberian Allah kepada kita. Allah menyediakan satu Juruselamat bagi kita, "TUHAN telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian" (Yesaya 53:6), menyuruh Dia mati di atas salib, menanggung segala hukuman dosa kita, menderita, tersiksa, dan minum habis cawan murka kebenaran Allah bagi kita, merampungkan satu anugerah keselamatan yang sempurna bagi kita. Anugerah ini sangat dalam! Inilah anugerah Allah, inilah dasar anugerah keselamatan Allah. Dalam hal ini manusia tidak bisa membantu apa pun; Dialah yang merampungkan bagi kita. Sekarang Allah sudah merampungkan anugerah keselamatan, dan kemudian diletakkan di hadapan kita. Anugerah keselamatan sudah diletakkan di hadapan setiap orang dosa -- di hadapan Anda.
Kita telah melihat bahwa anugerah Allah ternyatakan di atas salib, di Golgota. Namun, apa yang harus kita lakukan baru kita bisa beroleh selamat? Bukan berbuat baik, bukan mengekang diri, bukan memperbaiki kelakuan, bukan berkebaktian. "Karena anugerah kamu diselamatkan oleh iman." Sekarang kita sampai pada aspek lain dari anugerah keselamatan. Tidak salah, Allah memberi anugerah, tetapi kita masih harus percaya. Meskipun Allah sudah memberi anugerah, jika kita tidak percaya, kita tidak bisa beroleh selamat. Allah sudah menyediakan bagi kita satu anugerah keselamatan kematian pengganti di atas salib, di Golgota. Kita harus percaya kepada-Nya, barulah kita bisa beroleh selamat.
Apa artinya percaya? Percaya berarti menerima (Yohanes 1:12). Allah telah menyediakan anugerah, kita menerimanya, demikian kita beroleh selamat. Ada orang memberi Anda sebuah benda yang berharga, setelah Anda menerimanya, benda itu menjadi milik Anda. Allah memberi anugerah keselamatan ini kepada Anda, setelah Anda menerimanya, anugerah ini menjadi milik Anda -- Anda beroleh selamat. Janganlah Anda menunda-nunda, terimalah sekarang juga. Saya harap Anda segera dengan iman menerima anugerah besar yang Allah berikan kepada Anda.
Di sini kita boleh memakai satu perumpamaan: Dulu ada seorang yang sangat kaya, karena melihat banyak orang miskin yang kedinginan bahkan sampai ada yang hampir mati, pada saat salju turun di musim dingin, lalu ia memutuskan untuk pergi dan mengadakan semacam survei. Setelah ia mendapatkan banyak nama dan alamat orang-orang yang miskin, ia lalu menyuruh para pembantunya memuat banyak batu bara ke atas kereta kuda, dan mengantar sejumlah batu bara kepada mereka. Demikianlah para pembantunya itu mengendarai kereta kuda dan pergi ke rumah-rumah mereka. Sampai di rumah yang pertama, diajukanlah pertanyaan kepada penghuninya apakah nama jalan, nomor rumah, dan nama penghuninya betul? Penghuni rumah itu membuka pintu dan berkata, "Betul." Pembantu itu memberi tahu maksud kedatangannya bahwa tuannya menyuruh dia datang untuk mengirimkan batu bara. Orang miskin itu mengira salah kirim! Ia merasa tidak mempunyai teman yang sebaik itu, setelah berkata demikian ia menutup pintu dan menolak untuk menerima. Si pembantu tidak berdaya, terpaksa melanjutkan ke rumah yang kedua. Penghuni rumah yang kedua juga merasa tidak memiliki teman yang begitu baik hati. Meskipun pembantu itu dengan banyak perkataan menyatakan tidak salah kirim, tetapi penghuni rumah tetap merasa ragu dan tidak mau menerima. Si pembantu itu terpaksa pergi lagi dan menuju ke rumah yang lain. Berturut-turut beberapa rumah, selalu bertemu dengan orang yang tidak percaya, mengira tidak mungkin ada orang yang demikian baik hati yang mau dengan cuma-cuma mengirim batu bara kepada orang lain; orang-orang itu tetap tidak mau menerimanya. Kemudian sampailah si pembantu ke rumah seorang janda, begitu janda itu mengetahui maksud kedatangan pembantu itu, segera dengan sukacita menerima batu bara itu, dan mengirimkan ucapan terima kasih kepada tuan itu. Demikianlah kemudian janda itu memakai batu bara tersebut dan melewati musin dingin yang sangat buruk pada tahun itu. Teman, anugerah Allah juga demikian, dengan cuma-cuma diberikan kepada kita. Sekarang pembantu-pembantu Tuan itu sudah mengantarkan anugerah keselamatan Tuhan ke pintu hati Anda, kalau Anda mau menerimanya, Anda akan menikmati sukacita anugerah keselamatan ini. Jangan mencontoh orang-orang yang ragu-ragu itu, mereka mencari susah sendiri, sehingga binasa selamanya! Hanya menerima, tidak perlu yang lain. Begitu menerima, segera menjadi milik Anda.
Efesus pasal 2 tidak hanya mengajar kita bahwa karena anugerah kita diselamatkan, tetapi juga mengajar bahwa oleh iman kita diselamatkan. Selanjutnya Efesus pasal 2 mengajar kita sifat anugerah keselamatan: "itu (1) bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, (2) bukan hasil pekerjaanmu, supaya tidak ada orang yang memegahkan diri." "Itu" -- mengacu kepada anugerah besar keselamatan, karena di atasnya membicarakan tentang anugerah keselamatan. Di sini mengatakan, diselamatkan ada dua "bukan": (1) bukan hasil usahamu; (2) bukan hasil pekerjaanmu. Ini jelas sekali! Perhatikan! Diselamatkan bukan hasil dari usahamu, atau bukan berasal dari Anda sendiri. Tak peduli Anda lebih pandai daripada orang lain, atau lebih bodoh daripada orang lain; tak peduli moral Anda lebih baik dari orang lain, atau moral Anda lebih buruk daripada orang lain; tak peduli Anda paling kaya, atau Anda sama sekali miskin; semuanya sama sekali tidak berkaitan dengan keselamatan Anda. Kalau Anda mau menerima anugerah Allah, meskipun Anda pandai, bodoh, saleh, murtad, Anda bisa beroleh selamat. Kalau Anda tidak mau menerima, tak peduli bagaimana keadaan Anda, Anda pasti akan binasa. Diselamatkan bukan karena bagaimana diri Anda, tetapi itu adalah pemberian Allah yang cuma-cuma. Perhatikan! Diselamatkan bukan berasal dari perbuatan. Diri Anda berarti bagaimana "manusia" Anda. Perbuatan berarti bagaimana "perilaku" Anda. Allah tidak berkata bahwa berbuat baik bisa menyelamatkan; Allah berkata, diselamatkan bukan hasil usahamu atau pekerjaanmu. Meskipun Anda adalah orang yang paling baik di dunia ini, Anda tidak bisa karena kebaikan Anda lalu beroleh selamat; meskipun Anda adalah orang yang paling jahat di dunia ini, juga tidak bisa karena kejahatan Anda lalu binasa. Beroleh selamat atau binasa tidak tergantung pada bagaimana perbuatan Anda, melainkan tergantung pada apakah Anda mau menerima anugerah Allah. Teman yang terkasih! Jangan selalu memikirkan kebaikan Anda, renungkanlah dosa dan kesalahan Anda! Mengapa Anda tidak dengan sedih hati datang ke hadapan Allah, mengaku bahwa Anda adalah orang dosa, tidak ada kebaikan yang bisa dimegahkan, tidak ada jasa yang bisa diandalkan, hanya bersandar pada anugerah yang Allah berikan melalui salib Anak-Nya? Marilah secepatnya datang, ketika Anda membaca sampai di sini, silakan berlutut dan berdoa, beritahukanlah kepada Allah bahwa sekarang juga Anda menerima Tuhan Yesus menjadi Juruselamat Anda, mohon Dia mengampuni dosa Anda, demikian Anda menjadi seorang yang diselamatkan!
Mengapa Allah tidak mau menyelamatkan manusia karena perbuatan manusia? Tentu banyak sekali alasannya; tetapi di sini mengatakan salah satu alasannya, "supaya tidak ada orang yang memegahkan diri". Kalau manusia diselamatkan karena perbuatannya, manusia pasti memegahkan diri dan tidak memuliakan Allah. Dosa manusia yang terbesar ialah meninggalkan Allah, ingin merdeka, tidak mau bersandar kepada Allah. Dalam hal keselamatan juga demikian: ingin diselamatkan karena perbuatan, tidak mau menerima anugerah keselamatan yang Allah sediakan. Mengapa demikian? Karena manusia sombong. Bersandar kepada Allah sangatlah merendahkan diri, tidak ada yang bisa dimegahkan! Manusia ingin diselamatkan karena perbuatannya, supaya bisa memegahkan diri. Tetapi Allah tidak mau manusia beroleh selamat dengan cara itu, supaya tidak ada orang yang bisa memegahkan diri. Kalau masih bisa memegahkan diri, maka keselamatannya bukanlah keselamatan.
Mari kita melihat lagi satu ayat Alkitab: "Dia telah menyelamatkan kita, bukan karena perbuatan benar yang telah kita lakukan, tetapi karena rahmat-Nya" (Titus 3:5). Setelah membaca ayat ini, kita tahu, meskipun kita menganggap diri kita telah melakukan banyak perbuatan benar, Allah tidak menyelamatkan kita karena perbuatan benar itu. Perbuatan benar? Alkitab mengatakan, "Demikianlah kami sekalian seperti seorang najis dan segala kesalehan (kebenaran) kami seperti kain kotor" (Yesaya 64:6). Kita memandang kesalehan atau kebenaran kita sepertinya sangat berharga, tetapi dalam pandangan Allah, itu tidak terhitung apa-apa! Kalau Allah menyelamatkan kita berdasarkan kebenaran kita, maka kita semua akan binasa! Karena semua kebenaran kita -- tidak ada satu yang terkecuali -- seperti kain kotor. Kebenaran yang demikian, apakah masih terhitung sebagai kebenaran? Tidak. Syukur kepada Allah, karena Dia memberi anugerah kepada kita, karena belas kasihan-Nya kita diselamatkan, bukan karena kebenaran kita. Kalau tidak demikian, kita tidak bisa beroleh selamat. Kita tidak bisa diselamatkan kerena perbuatan baik! Belas kasihan berarti: seseorang asalnya tidak pantas mendapatkan, namun karena belas kasihan, tidak peduli orang ini layak atau tidak, ia diberi anugerah. Kita adalah orang dosa, asalnya tidak pantas menerima anugerah keselamatan Allah. Tetapi dengan tanpa alasan Allah mengasihi kita, tidak mempedulikan dosa kita, menyuruh Tuhan Yesus mati bagi kita di atas salib, dan memberi anugerah kepada kita. "Dia telah menyelamatkan kita . . . karena rahmat-Nya."
Jadi, teman yang terkasih, janganlah Anda mengira berbuat baik bisa membuat orang beroleh selamat. Anda harus segera percaya Tuhan Yesus. Dia tidak meminta Anda berbuat baik. Dia mau menyelamatkan Anda. Dia hendak menyelamatkan Anda. Anda tidak perlu berbuat baik, asal percaya kepada-Nya, meskipun Anda tidak bisa berbuat baik, meskipun Anda sangat berdosa, tetapi Dia mati di atas salib menggantikan Anda, menanggung dosa Anda yang tidak berbuat baik dan tidak bisa berbuat baik. Jadi, sekarang silakan Anda datang ke hadapan-Nya menurut apa adanya Anda, yang asalnya tidak bisa berbuat baik. Terimalah Dia menjadi Juruselamat Anda. Dia pasti menyelamatkan Anda, Dia akan mengubah Anda.
Mungkin Anda berkata bahwa Anda telah menjadi "anggota gereja", atau Anda telah dibaptis, menerima perjamuan suci, atau Anda bahkan telah menjadi salah seorang pengurus gereja tertentu. Ketahuilah, semua itu tidak bisa menyebabkan Anda beroleh selamat. Kalau Anda tidak percaya kepada Juruselamat yang mati menanggung dosa menggantikan Anda, tak peduli apa perbuatan baik Anda, tak peduli apa kedudukan Anda, Anda masih sebagai orang yang binasa, tidak berbeda dengan orang lain! Di hadapan Allah, tidak ada satu barang yang bisa menutupi dosa manusia agar terluput dari murka Allah; hanya darah adi Tuhan Yesus. Perkara baik apa pun akan gagal, hanya penebusan salib Tuhan Yesus yang bisa diandalkan. Semua cara yang bersandarkan perbuatan diri sendiri adalah berasal dari jurang maut, yang akan pergi ke neraka. Allah hanya menetapkan satu cara penyelamat, yaitu menerima anugerah yang Dia berikan melalui salib. Kalau ingin beroleh selamat, hanya satu jalan, lakukanlah menurut cara Allah.
Akhirnya, izinkan saya memberikan satu ayat untuk Anda: "Aku tidak menolak anugerah Allah. Sebab sekiranya ada pembenaran melalui hukum Taurat, maka sia-sialah kematian Kristus" (Galatia 2:21). Beroleh selamat bukan karena berbuat baik. Kalau karena berbuat baik bisa beroleh selamat, sia-sialah kematian Kristus. Kalau manusia bisa berbuat baik sendiri, hingga memuaskan hati Allah, Allah pasti tidak sebodoh ini, yakni mengutus Anak-Nya datang ke dunia, mati dengan percuma! Kalau Anda mengira berbuat baik bisa membantu Anda beroleh selamat, berarti Anda menghapus anugerah Allah. Hai orang dosa! Andaikata Allah dianggap bodoh, Allah masih jauh lebih pandai daripada Anda. Kalau manusia bisa berbuat baik sehingga beroleh selamat, Allah pasti tidak mau dengan sia-sia menyerahkan Anak terkasih-Nya. Sebab itu, kalau Dia menyuruh Anak-Nya mati menggantikan kita, menanggung dosa kita, itu membuktikan bahwa kita tidak bisa berbuat baik, tidak bisa diselamatkan karena berbuat baik. Dia sudah menetapkan cara penyelamat-Nya, kalau Anda mau menerima Tuhan Yesus menjadi Juruselamat, Anda akan beroleh selamat. O! Kita benar-benar adalah orang yang berdosa! Allah benar-benar mengasihi kita! Dia mau menerima kita! Meskipun kita tidak memiliki kebaikan untuk dimegahkan, namun anugerah keselamatan-Nya tidak akan berkurang karena itu, sebaliknya, malah semakin ternyata jelas. Ini ajaib sekali! Semoga Anda karena tergerak oleh kasih-Nya, dengan iman datang ke hadapan-Nya dan berkata, "Ya Allah! Aku benar-benar adalah orang yang berdosa, aku mengetahui segala perbuatan baikku di hadapan-Mu tidak terhitung apa-apa, sekarang aku mohon Engkau karena Juruselamat Tuhan Yesus Kristus mati menggantikan aku, menerima aku, menyelamatkan aku." "Siapa saja yang datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang" (Yohanes 6:37).
W.N.
TERPISAHNYA JIWA DAN ROH
“Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam daripada pedang bermata dua mana pun; ia menusuk sangat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup menilai pikiran dan niat hati kita. Tidak ada suatu makhluk pun yang tersembunyi di hadapan-Nya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungjawaban.”
Ibrani 4:12-13
I. PENTINGNYA TERPISAHNYA JIWA DAN ROH
Terpisahnya jiwa dan roh merupakan suatu perkara yang sangat penting. Ini bersangkut paut dengan dapat tidaknya hayat rohani seorang Kristen bertumbuh. Kalau seorang Kristen tidak mengetahui perbedaan antara jiwa dan roh, bagaimana dia dapat menuntut perkara-perkara rohani? Lagi pula, sering kali ia akan menganggap perkara jiwani sebagai perkara rohani, sehingga terus-menerus hidup di dalam kehidupan jiwani, tanpa menuntut perkara-perkara rohani.
Firman Allah berkali-kali mengatakan jiwa itu demikian-demikian, juga berkali-kali mengatakan Roh itu demikian-demikian. Misalnya, dalam Alkitab tercantum ada orang bersedih di dalam jiwa, juga ada orang bersedih di dalam roh. Alkitab mengatakan, ada orang bersukacita di dalam jiwa, juga ada orang bersukacita di dalam roh. Kemudian ada orang menggabungkan ayat-ayat tersebut dan mengambil suatu kesimpulan, kalau fungsi roh dan fungsi jiwa sama, itu berarti roh adalah jiwa. Pendapat demikian seolah seperti: Anda bisa makan, saya juga bisa makan; jadi Anda adalah saya. Tetapi Ibrani 4:12 mengatakan, “Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam daripada pedang bermata dua mana pun; ia menusuk sangat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum.” Kalau jiwa dan roh bisa dipisahkan, itu berarti jiwa adalah jiwa, dan roh adalah roh; jiwa tidak sama dengan roh.
Kejadian 2 memperlihatkan kepada kita, pada mulanya Allah dengan debu tanah menciptakan manusia, kemudian Allah menghembuskan nafas hidup ke dalam lubang hidung manusia. Begitu nafas hidup ini berkontak dengan tubuh daging manusia, muncullah jiwa (Kej. 2:7; kata “makhluk yang hidup”, menurut bahasa aslinya seharusnya diterjemahkan “jiwa yang hidup”. Sebab itu, jiwa adalah keistimewaan manusia). “Nafas hidup” ini adalah roh manusia, ia berasal dari Allah. Dalam roh ada perasaan ilahi yang bisa mengetahui suara ilahi, bisa bersekutu dengan Allah. Tetapi setelah Adam jatuh, rohnya mati terhadap Allah. Selanjutnya roh Adam (dan anak cucunya) tertekan oleh jiwa, sehingga roh dan jiwa bercampur menjadi satu. Ketika seorang beroleh selamat, roh orang itu hidup terhadap Allah. Tetapi karena roh dan jiwanya telah cukup lama bercampur jadi satu, maka perlu firman Tuhan untuk memisahkan jiwa dan rohnya.
II. JIWANI ATAU ROHANI
Meskipun fungsi jiwa dan roh itu mirip, tetapi lingkupannya tidak sama. Ini juga dikarenakan sumber keduanya tidak sama. Hari ini Anda bersukacita, mungkin sukacita itu berasal dari jiwa, mungkin juga berasal dari roh. Samasama bersukacita, tetapi sukacita itu berasal dari mana, di sinilah perbedaannya. Hari ini Anda merasa sedih, mungkin kesedihan itu berasal dari jiwa, mungkin juga berasal dari roh. Sama-sama bersedih tetapi dari mana sumber kesedihan itu, di sinilah perbedaannya. Dari mana asalnya masalah, inilah pertanyaan yang diajukan oleh Allah.
Misalnya, Allah berjanji kepada Abraham bahwa ia akan melahirkan seorang putra. Saat itu Abraham sudah tua, kelihatannya sudah tidak berpengharapan lagi. Menunggu cukup lama, namun janji Allah belum terpenuhi. Istrinya mengajukan satu cara, mendorong dia mengambil Hagar, sehingga lahirlah Ismael. Empat belas tahun kemudian, Allah membuat dia melalui istrinya, Sara, melahirkan Ishak. Kalau kita membaca Kejadian 15, 16, 17, 21, kita belum nampak Ishak dan Ismael mewakili apa. Sampai kita membaca Perjanjian Baru, Galatia 4, barulah kita nampak apa sebenarnya arti Ishak dan Ismael. Di sana Paulus memberi tahu kita, yang satu dilahirkan berdasarkan janji dan yang lain berdasarkan darah daging. Apakah Anda melihat perbedaan ini? Orang mengira asal ada anak sudah terhitung dan beres. Tetapi Allah akan bertanya, bagaimana proses terlahirnya anak itu? Kita mengira asal ada anak sudah beres, tidak peduli dia itu Ishak atau Ismael. Tetapi firman Allah berkata, “Ismael mewakili darah daging, Ishak mewakili rohani.” Yang diwakili Ismael adalah manusia berdasarkan kepandaiannya, berdasarkan kekuatannya mendapatkan sesuatu. Yang diwakili oleh Ishak adalah yang diberikan oleh Allah, yang berasal dari Allah.
Jadi, apakah yang disebut jiwani? Jiwani adalah melakukan sesuatu bersandar diri sendiri. Apakah yang disebut rohani? Rohani adalah melakukan sesuatu bersandar Allah. Keduanya mutlak berbeda. Yang satu tidak perlu menunggu Allah sudah bisa bekerja, tidak perlu bersandar Allah sudah bisa mengerjakan; ini adalah milik darah daging, inilah yang disebut jiwani. Yang satunya lagi, harus menunggu Allah berbicara, baru bisa berbicara, harus menunggu Allah bergerak, baru bisa bergerak, perlu menengadah kepada-Nya, perlu menunggu Dia, perlu bersandar kepada-Nya; inilah yang disebut rohani.
Kita harus bertanya kepada diri sendiri, apakah semua yang kukerjakan berasal dari Roh Kudus? Ini adalah persoalan yang penting. Sering kali perkara yang kita kerjakan memang tidak salah, tetapi di dalam kita ada perasaan yang mempersalahkannya. Bukan karena secara luaran kita kurang baik melakukan hal itu, melainkan apa yang kita kerjakan bukan berasal dari Allah. Bukan hasil operasi Roh Kudus di dalam roh kita.
III. MUTLAK BERBEDA
Dalam 1 Korintus 3, dibicarakan perkara pembangunan, itu mengacu kepada persoalan pekerjaan. Ada orang dengan emas, perak, dan batu permata membangun bangunannya. Ada orang dengan rumput, kayu, dan jerami membangun bangunannya. Pekerjaan apa yang disebut dengan emas, perak, dan batu permata? Pekerjaan apa yang disebut rumput, kayu, dan jerami?
Dalam firman Allah, emas, perak, dan batu permata mengacu kepada sesuatu yang berasal dari Allah. Emas mewakili kemuliaan, berasal dari Bapa. Perak mewakili penebusan, berasal dari Putra. Batu permata adalah campuran yang terbentuk melalui tekanan dan panas di dalam tanah, itu mewakili pekerjaan Roh Kudus. Ada kemuliaan Allah yang kekal, ada salib Putra, ada pembinaan Roh Kudus. Kesemuanya itulah yang disebut emas, perak, dan batu permata. Lalu rumput, kayu, dan jerami menggambarkan apa? Rumput, kayu, dan jerami adalah sesuatu yang berasal dari diri orang itu. Kemuliaan manusia seperti rumput dan bunga rumput; sifat manusia seperti kayu, hasil pekerjaan manusia adalah jerami. Jadi, emas, perak, dan batu permata mewakili yang berasal dari Allah; sedangkan rumput, kayu, dan jerami mewakili yang berasal dari diri manusia.
Emas, perak, dan batu permata bukan barang yang tumbuh dari tanah. Kesemuanya itu bisa didapat karena telah menggali sampai dalam. Rumput, kayu, dan jerami semuanya tumbuh di atas tanah, mudah mendapatkannya. Sebab itu, apa saja yang berasal dari tempat yang dalam, yang tersembunyi, mengandung pekerjaan Allah. Apa saja yang dilakukan berdasarkan daging, berasal dari diri manusia, itu tidak berharga. Yang terlalu mudah bisa, yang terlalu mudah mampu, jarang mengandung nilai rohani, karena semua itu berada di luar. Yang berasal dari tempat yang dalam, yang berasal dari Allah, baru ada nilai rohaninya.
Baik berkhotbah atau memberitakan Injil, semua memiliki perbedaan semacam ini. Ada orang memberitakan Injil perlu menunggu Allah, menengadah di depan Allah, setelah ada beban baru melakukan. Sama seperti yang lahir dari kandungannya. Inilah pekerjaan emas, perak, dan batu permata. Ada orang memberitakan Injil karena otaknya cepat, petah lidahnya, daya ingatnya tajam dan kuat, dia bisa berdiri memberitakan; akibatnya ia sangat sibuk bekerja. Tetapi di hadapan Allah, itu adalah rumput, kayu, dan jerami, tidak ada nilai rohaninya.
Ada seorang saudara berkhotbah di suatu tempat. Menurut pandangan manusia, keadaan luarnya cukup baik, karena itu seharusnya dia bersukacita. Tetapi aneh sekali, semakin ia melakukan semakin merasakan kempis, seolah kehilangan tenaga. Di luar mungkin melakukan dengan sangat giat, tetapi di dalam semakin lama semakin lapar, semakin melakukan semakin kering, semakin melakukan semakin kempis. Setelah melakukan, ia malah mengaku dosa di depan Allah, ia mengakui bahwa semuanya itu dilakukan bersandar dirinya sendiri. Sebab itu masalahnya bukan keadaan luar dari pekerjaan, melainkan siapa yang melakukan.
Perbedaan di sini tidak tergantung pada bagaimana perkataan yang di luar, juga tidak tergantung pada hasil di luar. Perbedaannya hanya satu, yaitu berasal dari mana? Oleh karena ada perbedaan ini, maka meskipun ada orang telah belajar perkataan yang sama, telah memberitakan khotbah yang sama, namun setelah itu, orang lain merasakan bahwa orang ini adalah orang yang pandai. Seorang lainnya juga mengatakan kata-kata yang sama, memberitakan khotbah yang sama, namun setelah itu, orang lain merasakan bahwa orang ini adalah orang yang mengenal Allah. Ada orang ketika kita berjumpa dengannya, kita akan menundukkan kepala dan berkata, “Allah ada di sini.”
Ada orang ketika kita bertemu dengannya, kita hanya bisa mengatakan bahwa ia pandai, ia petah lidah. Kalau Anda menjamah Allah, Anda juga bisa membuat orang lain menjamah Allah. Kalau Anda menjamah jiwa, Anda hanya bisa membuat orang lain menjamah diri Anda sendiri. Hal ini mutlak berbeda.
IV. TUHAN YANG MELAKUKAN
Bukan hanya dalam hal melayani Allah, dalam kehidupan pribadi kita juga demikian.
Ada seorang Kristen berbicara dengan seorang hamba Allah. Karena dia merasa takut dikritik orang, maka dalam pembicaraan itu sebisa-bisanya dia merendahkan diri dan sekuat-kuatnya merendahkan diri. Sikapnya sangat rendah hati, perkataannya juga sangat rendah hati. Tetapi ketika dia merendahkan diri demikian, orang yang duduk di sampingnya merasakan tidak enak. Seorang yang benar-benar rendah hati, tidak perlu menggunakan begitu banyak tenaga. Di sana dia berpurapura merendahkan diri, sebab itu perbuatannya itu sangat melelahkan. Kalau Anda mengatakan dia tidak rendah hati, ia ada sedikit rendah hati, tetapi rendah hatinya itu adalah rendah hati buatan manusia. Itulah yang disebut jiwani. Sebaliknya kalau Allah pernah bekerja di dalamnya, dengan sewajarnya dia sudah rendah hati. Ia sendiri tidak merasakan bisa rendah hati, tetapi orang yang ada di sampingnya bisa melihat bahwa di atas diri orang ini ada pekerjaan Allah.
Orang yang membubuhkan bedak di mukanya, perlu sering melihat cermin. Tetapi ketika wajah Musa bercahaya, Musa sendiri tidak mengetahuinya. Ada orang karena Allah bekerja di dalam dirinya, maka pekerjaannya membuahkan suatu hasil. Inilah yang dimaksud dengan rohani. Ada orang bersandar dirinya sendiri bekerja, ia sendiri yang melakukan, sebab itu dia merasa menjadi orang Kristen sangatlah berat. Sebenarnya menjadi orang Kristen tidak perlu sekuat tenaga melakukan sesuatu. Kita selalu berpikir asal penampilan luar kita baik, itu sudah cukup. Tetapi di pandangan Allah, sumbernya berbeda. Yang satu berasal dari Allah, yang satu lagi berasal dari gairah darah daging. Ada orang berusaha untuk sabar, tetapi Anda yang ada di dekatnya merasa susah atas kesabarannya. Ada orang bersabar, namun dia sendiri tidak merasakannya, dan Anda akan menundukkan kepala dan berkata bahwa Allah telah bekerja di atas diri orang ini. Anda nampak itu berasal dari diri manusia sendiri, dan ini berasal dari Allah. Perbedaan ini bukan tergantung pada lahiriahnya, melainkan tergantung pada sumbernya.
Tidak saja demikian, ada juga hal-hal yang berasal dari hayat alamiah, yang dilakukan dengan spontan. Tetapi meskipun dilakukan dengan spontan belum tentu itu berasal dari Roh. Ada orang sejak lahir sudah lemah lembut, tetapi pada suatu hari dia akan nampak bahwa lemah lembut bawaan itu berbeda sekali dengan lemah lembut pemberian Tuhan. Ada orang sejak lahir mempunyai kasih terhadap orang lain, tetapi pada suatu hari dia akan nampak bahwa kasih bawaan itu berbeda sekali dengan kasih pemberian Tuhan. Ada orang sejak lahir sangat rendah hati, pada suatu hari dia akan nampak bahwa rendah hati yang diberikan Tuhan berbeda sekali dengan rendah hati yang ia miliki. Ingatlah, hal yang ada sejak lahir lebih mudah menggantikan hal rohani daripada hal yang dibuat-buat yang disebut di atas. Sering kali orang menganggap apa yang ada sejak lahir sebagai pekerjaan Tuhan di atas dirinya. Sesungguhnya yang berasal dari jiwa tidak ada hubungannya dengan Allah. Yang berasal dari roh barulah berhubungan dengan Allah.
Pada suatu hari, orang yang paling lemah lembut akan nampak bahwa pencobaan itu lebih hebat daripada lemah lembut alamiahnya. Pada suatu hari, lemah lembutnya akan habis terpakai, sabarnya akan habis terpakai. Ia hanya bisa bersabar sampai taraf itu, ia hanya bisa lemah lembut sampai taraf itu. Inilah alamiah, kekuatan alamiah manusia terbatas. Tetapi kekuatan yang Tuhan berikan kepada kita tidak terbatas; kekuatan yang Tuhan berikan kepada kita mutlak berbeda dengan kekuatan alamiah kita. Apa yang bisa Tuhan kerjakan, adalah apa yang tidak bisa kita kerjakan. Bukan kita yang melakukan, melainkan Tuhan di dalam kita yang melakukan sehingga kita dengan wajar melakukannya. Setelah itu, kita akan dengan heran berkata, “Bagaimana mungkin ada perkara itu? Siapa yang melakukannya?” Kita hanya bisa menundukkan kepala dan berkata, “Saya tidak mempunyai kesabaran. Tuhan, Dikaulah yang bekerja di dalamku.” Inilah yang rohani.
V. FIRMAN TUHAN DAN TERANG
Tetapi kita harus tahu, tidak mudah membedakan perkara tersebut dari luar. Membedakan apa yang jiwani dan apa yang rohani saja sudah tidak mudah. Kita bisa mengenal kesungguhan suatu perkara, bukan tergantung pada setiap hari kita bertanya, “Aku berbuat demikian ini rohani atau jiwani?” Kalau setiap hari kita bertanya demikian, itu malah tidak akan ada nilai rohaninya. Kalaupun kita bertanya, juga tidak bisa menghasilkan jawaban apaapa; kita menganalisis, juga tidak bisa menghasilkan apa-apa. Anda tidak bertanya, Anda tidak tahu. Anda bertanya, Anda tetap tidak tahu. Hasil analisis kita sendiri terhadap perkara rohani tidak akan bisa membuahkan penglihatan yang sejati. Bahkan sebaliknya, malah bisa mendatangkan kelumpuhan rohani, menimbulkan suatu penyakit rohani.
Penglihatan yang sejati tergantung pada penerangan Allah. Begitu terang menyoroti Anda, dengan sendirinya Anda bisa nampak. Sebab itu, kita tidak perlu bertanya. Kita hanya mohon Allah dengan firman-Nya masuk ke dalam kita. Firman ini adalah firman yang hidup, lebih tajam daripada pedang bermata dua mana pun. Begitu tajamnya sehingga dapat menusuk sampai ke dalam tulang manusia. Begitu firman ini masuk ke dalam Anda, Anda segera nampak apa yang rohani dan apa yang jiwani.
Di dalam Anda ada satu pertimbangan yang lebih hebat daripada pertimbangan siapa pun. Begitu Anda bergerak, di dalam Anda segera berkata, “Ini tidak benar.” Begitu Anda bergerak, di dalam Anda segera memberi tahu, “Ini kurang dalam.” Begitu Anda bergerak, di dalam Anda memberi tahu, “Andalah yang bekerja di sini, Anda yang mempengaruhi orang di sini.” Oh, kekuatan membedakan berasal dari dalam, bukan dari luar. Begitu di dalam Anda melihat, itulah penglihatan yang sejati. Orang lain berkata kepada Anda, “Anda berbuat demikian mungkin berasal dari diri Anda sendiri.” Anda juga mengangguk-anggukkan kepala dan berkata, “Ya, mungkin berasal dari diriku sendiri.” Tetapi semua itu belum tentu berguna. Hanya ketika di dalam Anda memperlihatkan kepada Anda, barulah berguna.
Semoga Allah membelaskasihani kita, agar kita mempunyai terang batini, mempunyai visi batini dan mempunyai daya pembeda batini. Terpisahnya jiwa dengan roh adalah dasar kekuatan untuk membedakan bagi orang Kristen.
Kita mempunyai daya pembeda atau tidak, itu bukan berasal dari belajar, melainkan dari dalam mendapatkan terang. Apa yang kita harapkan di depan Allah, ialah firman-Nya masuk ke dalam kita dan memancarkan terang, sehingga kita nampak pekerjaan dan kehidupan kita yang mana yang jiwani, dan mana yang rohani.
TANDA AJAIB TERJADI DENGAN SENDIRINYA
Pembacaan Alkitab:
“Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: Mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka, mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun yang mematikan, mereka tidak akan mendapat celaka; mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh.”
Markus 16:17-18
“Terpujilah TUHAN, Allah Israel, yang melakukan perbuatan yang ajaib seorang diri!”
Mazmur 72:18
Dalam Injil Markus 16:17-18 Tuhan Yesus berkata kepada kesebelas murid-Nya, “Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: Mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka, mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun yang mematikan, mereka tidak akan mendapat celaka; mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh.” Kedua ayat di atas membicarakan perbuatan mujizat atau tanda ajaib. Bagaimana seharusnya kita memandang masalah tersebut?
I
Di sini ada satu perkara yang perlu kita perhatikan, yaitu tidak ada satu bagian pun dari Firman Allah yang boleh digunakan orang untuk didemonstrasikan atau dipertontonkan, dan memang tidak seorang pun bisa mempertontonkannya. Bukan saja firman Allah dalam Markus 16 tadi tidak bisa dipertontonkan, bahkan setiap firman Alkitab mana pun tidak bisa dipertontonkan. Allah mau mengabulkan doa Elia di atas Gunung Karmel untuk menurunkan api, itu membuktikan hanya TUHAN (Yehova) adalah Allah; Baal bukan Allah (1 Raj. 18:30-39). Allah mau melalui tanda ajaib membuktikan diri-Nya sendiri; membuktikan bahwa Dialah Allah, tetapi Allah tidak mau manusia mempertontonkan atau mendemonstrasikan tanda ajaib. Banyak orang ingin mempertontonkan firman Allah yang tercantum dalam Markus 16 tersebut, namun Allah tidak menanggapi mereka, Allah membiarkan mereka gagal. Anda tidak bisa mengatakan, mereka gagal karena mereka tidak percaya terhadap ayat-ayat itu. Mereka benar-benar percaya, tetapi Allah tidak menyatakannya bagi mereka, Allah tidak membuktikannya bagi mereka. Karena Allah adalah Allah, Dia hanya mau melakukan apa yang dikehendaki-Nya, Dia tidak mau melakukan menurut kemauan manusia.
II
Kita harus ingat satu prinsip rohani, yakni iman adalah sesuatu yang sangat wajar, iman tidak memerlukan kekuatan. Ketika seorang Kristen belum mengenal kebenaran tentang iman, baginya jawaban Allah seolah-olah harus diperoleh melalui berdoa dengan sekuat tenaga. Setiap kali ingin memperoleh jawaban Allah, ia harus mengeluarkan banyak iman, ia harus memiliki iman yang sangat besar, sehingga nyaris ia berseru, “Ya Tuhan, aku sungguh-sungguh percaya! Ya Tuhan, aku benar-benar percaya!” Meskipun kemudian ia memperoleh jawaban Allah, tetapi ia sudah cukup letih untuk percaya. Setelah ia mendapatkan pelajaran yang cukup banyak, ia tetap berdoa, juga percaya dan memperoleh jawaban Allah, namun kini ia tidak perlu mengeluarkan tenaga yang begitu besar lagi. Dia dengan sangat wajar berdoa, dan Allah juga dengan sangat wajar mengabulkan doa-doanya. Dulu ia harus percaya dengan sekuat tenaga yang sangat berat sehingga ia merasa letih, tetapi kini imannya sangat wajar, tanpa bersusah payah lagi.
III
Iman itu wajar adanya, demikian pula perbuatan mujizat. Orang yang melakukan tanda ajaib itu tidak merasa kalau ia sedang melakukan tanda ajaib. Perbuatan mujizat bagi seorang yang percaya adalah perkara yang biasa sekali. Orang yang berjauhan dengan Allah barulah merasa hal itu aneh atau mengherankan. Setiap orang yang hidup di hadirat Allah, yang dekat dengan Allah, tidak akan merasa bahwa tanda ajaib itu suatu perkara yang mengherankan.
Saudara saudari, Anda pasti pernah membaca kisah bani Israel menyeberangi Laut Merah! Kali pertama kita membacanya, kita merasa kagum sekali. Begitu banyak orang menyeberangi Laut Merah, sungguh satu peristiwa yang bukan main hebatnya! Tetapi kita dapat membaca bagaimana keadaan orang-orang Israel pada waktu itu. Alkitab tidak mengatakan bahwa mereka melewati laut itu sambil berteriak-teriak, “Oh, alangkah ajaibnya, air laut terbelah!” atau berkata, “Lihatlah, ini sungguh satu mujizat yang besar sekali!” Setelah mereka sampai di seberang laut itu, barulah mereka membuat syair dan bernyanyi-nyanyi, ketika mereka menoleh ke belakang, barulah mereka merasa itu sungguh satu mujizat yang besar. Hari ini, orang-orang yang percaya kepada Tuhan seharusnya juga demikian. Ketika Allah sedang menyatakan tanda ajaib di atas diri mereka, mereka tidak merasakannya sebagai suatu keajaiban. Tetapi ketika mereka menoleh ke belakang, barulah mereka merasakan bahwa itu adalah satu mujizat. Saudara saudari, cobalah renungkan, beberapa kali Allah telah menyembuhkan sakit Anda, tetapi ketika itu Anda tidak merasakannya sebagai suatu peristiwa yang besar. Bukankah demikian? Beberapa kali Anda menjumpai kesulitan, Anda mendapatkan penyelesaian dari Allah, apakah pada saat itu, Anda merasa telah terjadi suatu perkara yang besar? Tentu tidak. Tetapi ketika Anda menoleh ke belakang dan mengenangnya, barulah Anda merasa telah terjadi satu peristiwa yang besar di atas diri Anda. Dalam hal menoleh ke belakang atau mengenang kembali sedemikian ini pun adalah wajar, bukan sengaja terus-menerus menoleh ke belakang.
Ada orang menyalahartikan firman dalam Markus 16 tersebut. Mereka memandang ayat-ayat itu dari pihak manusia, maka mereka merasa semua itu sangat istimewa dan mengherankan. Namun bila Anda teringat akan Allah, perkara itu sedikit pun tidaklah aneh. Kalau perkara itu kita bandingkan dengan perkara bani Israel menyeberangi Laut Merah, tentu sangat kecil. Itu tidak berarti setiap orang yang percaya Tuhan, meskipun setiap hari minum racun, ia tidak akan mati. Bukan demikian. Kalau orang dengan sengaja minum racun, ia tentu akan mati. Jika Anda mengenal Allah, jika Anda mengenal kuasa Allah, Anda akan nampak bahwa bagi-Nya tidak ada perkara yang mustahil. Mujizat bukan terjadi karena manusia telah percaya dengan sekuat tenaga, mujizat adalah ekspresi kuasa Allah. Allah adalah Allah yang melakukan tanda ajaib dengan sendirinya; ketika Ia menggerakkan tangan-Nya, saat itulah mujizat terjadi. Ketika Allah menggerakkan tangan-Nya atas diri Anda, sedikit pun Anda tidak merasa bahwa tanda ajaib itu sulit dilakukan. Kesulitan manusia hari ini ialah memandang tanda ajaib dari tempat yang jauh terpisah dari Allah, karena itu mereka merasa itu adalah perkara yang bukan main hebatnya. Namun orang yang dekat dengan Allah akan nampak bahwa tanda ajaib dan mujizat di dalam rumah Allah adalah perkara yang sangat wajar.
Dahulu ada seorang gadis yang tinggalnya di tepi laut; keluarganya adalah keluarga nelayan. Kemudian, ia menikah dengan seorang laki-laki yang tinggalnya di pegunungan. Orangorang yang tinggal di daerah pegunungan, karena transportasi tidak mudah, sering kekurangan benda-benda material dan bahan-bahan makanan, sehingga hidupnya cukup sulit. Suatu hari mertua laki-lakinya marah-marah kepada perempuan itu, karena ia dianggap boros sekali, tidak bisa berhemat; sebab dalam tiga hari saja ia sudah menghabiskan seekor kepiting. Dengan menahan amarah, si mertua pergi ke rumah ayah perempuan itu dengan maksud mengadukan perkaranya. Tetapi setelah ia tiba di rumah besannya dan diundang makan bersama, ternyata di atas meja tersedia banyak kepiting rebus yang lezat sekali. Setelah selesai makan, ia malah melihat banyak batok kepiting di belakang rumah itu, bertumpuk-tumpuk entah berapa puluh buah banyaknya. Melihat kenyataan ini, ia tidak jadi mengadukan “keborosan” menantunya itu, ia pulang tanpa mengatakan apa-apa. Banyak orang memandang tanda ajaib seperti halnya mertua dari gunung itu memandang kepiting laut. Mereka mungkin baru mengalaminya sekali dalam 10 tahun, bahkan mungkin 30 tahun sekali, sebab itu mereka menganggap tanda ajaib itu sangat aneh dan sangat mengherankan. Bagi orang yang senantiasa hidup di hadapan Allah, tanda ajaib adalah sangat biasa. Tangan Allah adalah sumber tanda ajaib dan Allah terus-menerus melakukan tanda ajaib-Nya.
IV
Karena itu, tanda ajaib tidak perlu kita lakukan dengan mengerahkan segenap kekuatan kita. Begitu kuasa Allah dinyatakan di atas diri kita, segera tanda ajaib itu terjadi. Ketika Paulus di pulau Malta, ia pernah digigit ular berbisa. Tetapi Paulus mengibaskan ular itu ke dalam api (Kis. 28:3-5). Anda dapat nampak bagaimana tanda ajaib telah terjadi pada hari itu di atas diri Paulus. Paulus tidak berkata kepada orang-orang Malta, “Mari lihat, aku akan menyatakan suatu tanda ajaib yang besar.” Tidak. Ia hanya dengan diam-diam mengibaskan ular berbisa itu ke dalam api. Sedikit pun ia tidak menggembargemborkan perbuatannya itu. Hanya orang-orang yang tidak mengenal Allah baru menggembar-gemborkan tanda ajaib. (Tentu ini bukan berarti orang yang tidak menggembar-gemborkan tanda ajaib adalah orang yang mengenal Allah. Orang yang tidak percaya kepada Allah, dengan sendirinya tidak percaya kepada tanda ajaib). Orang yang mengenal Allah pasti tidak mau menggembar-gemborkan tanda ajaib, sebab tanda ajaib baginya sangat wajar. Saudara saudari, jika doa Anda mendapat jawaban Allah, lalu Anda merasa sudah melakukan suatu perkara yang sangat besar, ini membuktikan bahwa iman Anda masih terlalu hijau. Bila Anda benar-benar percaya kepada kuasa Allah, tanpa disadari Anda telah menerima pengabulan doa, tanpa disadari Allah telah menyatakan suatu tanda ajaib di atas diri Anda. Dalam keadaan demikian, tanda ajaib terjadi dengan sendirinya, sedikit pun tidak perlu memeras tenaga dan tidak terasa aneh atau mengherankan.
Kita harus ingat, tanda ajaib itu terjadi tanpa terasa oleh kita. Bila kita merasakan bahwa kita sedang melakukan tanda ajaib, pasti akan gagal. Dengan perkataan lain, saat kita bertekad ingin melakukan tanda ajaib, tanda ajaib itu akan menjauh dari kita, sama seperti saat kita bertekad melakukan kebajikan, kita tidak berdaya melakukannya. Tetapi ketika kita hidup di hadapan Allah, dan kita mempercayai Allah, saat itulah tanda ajaib terjadi dengan sendirinya di luar kesadaran kita. Demikianlah keadaan Paulus ketika ia menyatakan tanda ajaib tidak mengalami bahaya sedikit pun oleh gigitan ular berbisa itu. Kalau ada orang menyuruhnya menyatakan tanda ajaib tersebut sekali lagi, tentu ia tidak dapat mengulanginya. Kalau ada orang menyuruh saya belajar melakukannya menurut teladan Paulus, itu pun tidak mungkin. Kita tidak dapat mencontoh perbuatan orang lain, kita pun tidak dapat menunjukkan kembali pengalaman kita.
Kita telah menjamah satu prinsip penting dalam pengalaman orang Kristen. Dalam pengalaman kita sebagai orang Kristen, ada satu prinsip utama bagi pengabulan doa dan tanda ajaib dari Allah, yakni hal itu terjadi di luar pengetahuan dan perasaan kita, terjadi dengan sendirinya. Memang, pada mulanya kita merasa diri kita memiliki kekuatan yang lebih, kita merasa diri kita mempunyai iman yang cukup, tetapi kalau kita telah mendapat sedikit kemajuan rohani, kita tidak lagi terlalu merasakannya. Anda pun tidak mengetahui bagaimana Anda percaya, Anda hanya tahu menyerahkan semuanya ke dalam tangan Allah, dan perkara itu terjadi atas diri Anda.
V
Banyak tanda ajaib yang terjadi di atas diri Paulus, namun Paulus mengatakan, bahwa ia “lemah, sangat takut dan gentar” (1 Kor. 2:3). Allah mau bekerja melalui manusia, namun Ia tidak menghendaki manusia merasa bahwa dirinya bisa berbuat sesuatu. Orang yang tidak mengenal Allah baru mengatakan bahwa ia dapat melakukan perkara ini dan dapat melakukan itu. Orang yang benar-benar mengenal Allah hanya akan mengatakan, “Aku tidak tahu aku bisa berbuat apa.” Orang yang benar-benar dapat dipakai Allah tidak merasa dirinya bisa melakukan ini atau melakukan itu, ia hanya dengan wajar melakukannya. Oh, syukur kepada Allah! Kuasa-Nya begitu besar sehingga perkara apa saja dapat dilakukan-Nya sendiri. Kita tidak perlu melakukan apa-apa. Semakin lama kita menjadi orang Kristen, kita akan makin menjadi sederhana. Siapa yang menjadi rumit atau ruwet, ia pasti berpenyakit rohani. Semakin kita mengenal Allah, kita akan semakin sederhana, sampai beriman pun tidak lagi harus ngotot (tekun) seperti dulu. Kita hidup di hadapan Allah, sehari lewat sehari, kita akan menjadi makin sederhana, akhirnya kita akan berkata dari dalam hati, “Allahlah segala-galanya, bukan aku.” Saudara saudari, jika Anda benar-benar mengenal Allah, pasti perbuatan dan pekerjaan-Nya akan ternyata dengan sendirinya di atas diri Anda.
BOCOR DAN HANYUT
Karena itu kita harus lebih teliti memperhatikan apa yang telah kita dengar, supaya kita jangan hanyut dibawa arus. Sebab kalau firman yang dikatakan dengan perantaraan malaikat-malaikat tetap berlaku, dan setiap pelanggaran dan ketidaktaatan mendapat balasan yang setimpal, bagaimana kita akan luput, jikalau kita menyia-nyiakan keselamatan yang sebesar itu, yang mulamula diberitakan oleh Tuhan dan ditegaskan kepada kita oleh mereka yang telah mendengar-Nya? Allah juga meneguhkan kesaksian mereka dengan tanda-tanda dan mujizat-mujizat dan dengan berbagai-bagai penyataan kuasa dan pemberian Roh Kudus, yang dibagi-bagikan-Nya menurut kehendak-Nya.
Ibrani 2:1-4
Dalam Kitab Ibrani ada beberapa kata-kata peringatan. Setiap kali ada peringatan, selalu dikarenakan ada bagian firman yang sangat penting yang dikatakan sebelum atau sesudahnya. Terlebih dulu ada bagian firman yang sangat penting, kemudian disusul oleh kata peringatan; atau jika di bawahnya ada bagian firman yang sangat penting, maka sebelumnya ada kata peringatan. Inilah ciri khas Kitab Ibrani. Bagian pertama dari Kitab Ibrani pasal 2 adalah peringatan yang pertama. Peringatan ini diletakkan di antara pasal 1 dan pasal 2. Pasal 1 menyinggung tentang kemuliaan; pasal 2 menyinggung tentang penderitaan. Pasal 1 membicarakan siapakah Kristus dalam kekekalan; pasal 2 membicarakan Kristus dalam waktu telah menggenapkan manusia yang bagaimana bagi kita. Pasal 1 membicarakan status Kristus; pasal 2 membicarakan pekerjaan Kristus. Di antara kedua pasal inilah tersisip sebuah kata peringatan. Peringatan ini berkenaan dengan sikap apa yang seharusnya kita miliki terhadap status dan pekerjaan Kristus.
Sebelum kita melihat peringatan ini, terlebih dulu kita harus jelas apakah latar belakang penulisan kitab ini.
Kita tahu bahwa Kitab Ibrani ditulis untuk orang Ibrani. Ada sekelompok orang Yahudi telah beroleh selamat, mereka mengerti Perjanjian Lama, Bait Allah, dan perkara penyembahan dalam Bait Allah, selain itu mereka juga sudah mengerti Perjanjian Baru dan perkara penyembahan dalam Perjanjian Baru. Mereka telah mengenal Kristus, percaya kepada-Nya, menerima Dia, mereka telah beroleh selamat. Mereka memiliki pengetahuan Perjanjian Lama, juga memiliki pengetahuan Perjanjian Baru; orang-orang ini adalah orang-orang Kristen. Surat Kiriman ini bukan ditujukan kepada orang kafir, juga bukan ditujukan kepada orang yang belum mengenal karunia keselamatan, melainkan ditulis untuk orang Ibrani yang telah mengenal karunia keselamatan.
“Ibrani” berarti “menyeberangi” atau “menyeberang sungai”. Orang Ibrani pertama adalah Abraham. Dulu Abraham tinggal di sebelah timur sungai, kemudian ia menyeberangi Sungai Efrat dan sampai di sebelah barat sungai, karena itu ia adalah orang Ibrani. “Orang Ibrani” berarti “Orang yang menyeberangi sungai”. Rasul menulis Surat Ibrani adalah untuk orang-orang yang telah menyeberangi sungai, yaitu orang-orang yang telah meninggalkan sesuatu di belakang dan telah mendapatkan sesuatu di depan. Di belakang, mereka memiliki dunia lama yang harus ditinggalkan; di depan, demi firman Allah mereka akan menuju ke tempat yang baru. Sekarang Allah melalui rasul menulis surat kepada sekelompok orang yang demikian.
HARUS LEBIH TELITI MEMPERHATIKAN
Ada satu perkara yang mengherankan, yaitu terhadap sekelompok orang tersebut dikatakan perkataan demikian, “Karena itu kita harus lebih teliti memperhatikan apa yang telah kita dengar, supaya kita jangan hanyut dibawa arus.” (Menurut bahasa aslinya, “apa” seharusnya diterjemahkan sebagai “perkara”). Inilah peringatan pertama. Peringatan ini mengatakan, kita harus lebih teliti memperhatikan, jika tidak, akan ada bahaya, yaitu hanyut dibawa arus. Adanya peringatan ini dikarenakan ada bahaya di depannya. Bahaya ini ialah hanyut dibawa arus, kehilangan karunia keselamatan yang begitu besar. Siapakah yang mengerjakan keselamatan yang begitu besar? Allah, Tuhan, dan Roh Kudus yang mengerjakannya. Karena keselamatan ini betapa besar, maka kita harus lebih teliti memperhatikan, jangan sampai hanyut dibawa arus.
Kata “karena itu”, adalah kata sambung dari kalimat di atasnya. Karena Tuhan Yesus betapa tinggi, betapa mulia, betapa unggul, dan di atas semua manusia, bahkan malaikat menyembah Dia, seperti yang dikatakan dalam pasal 1, maka kita harus lebih teliti memperhatikan perkara yang telah kita dengar. Perkara yang tercantum dalam Injil Yohanes tidak sama dengan yang tercantum dalam ketiga kitab Injil lainnya. Matius, Markus, dan Lukas boleh digabungkan menjadi satu kelompok, tetapi Anda tidak dapat menggabungkan mereka dengan Yohanes.
Misalnya peristiwa Maria melahirkan Tuhan Yesus, dalam Injil Yohanes peristiwa ini tidak ditulis. Karena Injil Yohanes dimulai dari alam kekekalan, maka yang ditulis adalah yang dalam kemuliaan, yang jauh melampaui segalanya, yang ada sebelum awal waktu. Sebab itu, Injil yang kita beritakan, baik terhadap orang dosa maupun terhadap orang yang telah beroleh selamat, bukan untuk memperlihatkan seseorang yang berjalan di tepi Laut Galilea pada lebih dari dua ribu tahun yang lalu; bukan untuk memperlihatkan seseorang yang pernah tinggal di Nazaret pada lebih dari dua ribu tahun yang lalu; bukan untuk memperlihatkan seorang manusia Yesus yang lahir dari Maria; melainkan untuk memperlihatkan kepada manusia bahwa Tuhan Yesus telah ada sebelum segala sesuatu ada, sudah ada dalam kemuliaan. Kita menyinggung hubungan Dia dengan kita dari sebermula itu. Sebab itu kita harus lebih teliti memperhatikan; lebih teliti memperhatikan perkara yang kita dengar.
Kita telah mendengar banyak perkara mengenai Tuhan Yesus, kita harus lebih teliti memperhatikannya.
“Kita” harus lebih teliti memperhatikan. Di sini rasul juga mencakupkan dirinya di dalam. Siapa sebenarnya yang menulis Surat Ibrani? Ada yang mengatakan Paulus, ada yang mengatakan Lukas. Kalaupun kitab ini tidak mencantumkan siapa penulisnya, maka kita tidak perlu menentukan siapa-siapa, kita pastikan saja kitab itu ditulis oleh rasul. Di sini kita melihat betapa hatihatinya rasul. Rasul mengatakan “kita”, rasul tidak mengatakan “kamu”. Bahaya hanyut dibawa arus juga berlaku atas diri rasul.
“Hanyut dibawa arus” dalam bahasa aslinya mengandung dua arti. Arti pertama adalah “hanyut”, dan arti lainnya adalah “bocor”. “Hanyut” berarti juga “hanyut”; “dibawa arus” berarti “bocor”. Orang yang menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia menggabungkannya menjadi satu rangkaian yaitu “hanyut dibawa arus”.
BOCOR
Apakah yang dimaksud dengan bocor itu? Misalnya ada sebuah tong air yang berlubang di bawahnya. Jika Anda ingin membawa air dalam tong ini dari sumur ke dapur, Anda harus berlari membawanya, kalau tidak airnya akan habis karena bocor. Rasul mengatakan kita jangan bocor, artinya setelah kita mendengar begitu banyak perkara mengenai Tuhan Yesus Kristus, sekali-kali jangan sampai bocor habis.
Jika Anda bertanya kepada seorang saudara, apakah ia ingat nama anaknya? Dia akan segera menjawab Anda, “Bagaimana mungkin aku bisa melupakan nama anakku!” Tetapi jika Anda bertanya Matius pasal 1 membicarakan apa? Markus pasal 16 membicarakan apa? Mungkin dia telah lupa. Bahkan banyak orang yang lupa apa yang dibicarakan Yohanes pasal 1 sampai pasal 3. Pagi hari mendengarkan khotbah, sore hari mungkin sudah banyak yang dilupakan. Terhadap banyak perkara lainnya selalu ingat, tetapi terhadap perkara Kristus selalu bocor. Ini menunjukkan di manakah sebenarnya hati kita. Di mana rumah kita, kita selalu ingat, tetapi terhadap perkara yang betapa besar dalam Alkitab kita malah lupa. Banyak perkara mengenai Kristus telah kita dengar, tetapi kita telah habis membocorkannya. Ini tidak dapat kita sangkal di hadapan Allah. Anda tidak dapat menyangkal bahwa Anda telah melupakan perkara tentang Kristus. Anda tidak dapat mengatakan bahwa otak Anda tidak mampu. Kalau otak Anda tidak mampu, mengapa ketika membicarakan perkara lain Anda ingat?
Kesulitan di antara orang Kristen ialah membocorkan firman Allah, membocorkan perkataan Kristus. Bocor adalah perkara yang sangat berbahaya. Tidak saja kita menghadapi bahaya ini, rasul pun menghadapinya. Sering kali ketika pencobaan datang, ingin mencari sebuah ayat Alkitab, tetapi bagaimanapun mencarinya tidak juga menemukannya. Karena telah “bocor”, maka ketika memerlukan firman Allah, tidak dapat menemukannya. Ada orang yang jatuh ke tangan Iblis dikarenakan hal ini. Jika mereka tidak bocor, pasti dapat dengan segera memiliki firman untuk menanggulangi Iblis. Anda tidak dapat berkata, “Iblis, aku tahu bahwa engkau mencobai aku, tetapi tunggu dulu, biarkan aku mencari Alkitab dulu.” Kalau demikian, sebentar saja Anda telah gagal. Anda lihat, ketika Tuhan Yesus menanggulangi Iblis, Dia dapat segera memakai ayat-ayat Alkitab, sampai tiga kali Dia tetap tidak gagal. Kesulitan kita adalah membocorkan. Semua perkara lainnya dapat diingat, tetapi perkara mengenai Kristus telah dibocorkan habis. Keadaan ini tak lain membuktikan bahwa hati kita tidak di sana. Hati kita hanya memperhatikan perkara kita sendiri, dan membocorhabiskan perkara Kristus.
Bocor berarti pasti ada lubangnya. Jika berlubang, baik lubang itu besar maupun kecil, pasti akan bocor. Perkara, benda yang lebih diperhatikan seseorang itu merupakan lubang yang membuat dia bocor. Ada orang yang lubangnya lebih besar, seperti orang-orang yang selamanya tidak pernah dengan tuntas menghakimi dosa, orang-orang yang selalu tidak jujur, selalu berbohong. Tidak menghakimi dosa, tidak jujur, berbohong, semua itu adalah lubang yang membuat dia bocor. Kita masing-masing harus menemukan di mana lubang kita. Kalau mengatakan kita tidak berlubang, maka pertanyaan selanjutnya adalah apakah kita membocorkan perkara-perkara Kristus atau tidak?
Ada seorang saudara telah percaya Tuhan enam tahun lamanya, dia pelupa, tetapi dia tidak berlubang. Terhadap perkara lainnya dia bisa melupakannya, tetapi terhadap perkara Tuhan sedikit pun ia tidak bocor.
Kalau Anda berkata tentang Tuhan kepadanya, ingatannya sangat baik. Karena itu, jangan mengira orang yang pandai, yang ingatannya baik dapat dengan mudah mengingat perkara-perkara rohani, lalu memandangnya lebih bernilai daripada orang yang bodoh. Orang pandai dan orang bodoh dalam perkara dunia memang ada bedanya, tetapi dalam perkara rohani tidak ada bedanya. Bukan dengan daya ingat menilai seseorang bisa bocor atau tidak.
Seperti misalnya, saudara yang menulis buku “Keselamatan, Kepastian, Sukacita” ketika dia mencapai umur sembilan puluh tujuh tahun, daya ingat otaknya sudah pudar, terhadap perkara-perkara lain dia telah bocor, tetapi terhadap perkara Tuhan dia tidak bocor. Dia selalu berkata, “Aku tidak bisa tanpa Dia, Dia juga tidak bisa tanpa aku.” Terhadap semua perkara lainnya dia telah lupa, tetapi terhadap perkara Tuhan dia tidak bocor. Kita harus menanggulangi penyebab yang membuat kita bocor.
Anda dapat mengetahui seseorang itu bocor melalui bagaimana dia menggunakan uangnya. Alkitabnya yang telah robek dibiarkan, tetapi kalau membeli ini dan itu ada uang. Ini menunjukkan perkara apa saja yang dia ingat dan perkara apa saja yang dilupakannya; ini menyatakan di manakah hatinya. Ada saudara-saudari, ketika Anda berbicara dengan mereka, mereka selalu bisa menjawab perkara apa saja, mereka tahu seluk-beluknya; tetapi begitu menyinggung masalah rohani, mereka segera diam seribu bahasa, seolah telah berbicara di luar topiknya. Ini suatu gejala yang sangat tidak baik. Oh! Di sini ada lubang, begitu banyak perkara yang telah kita dengar mengenai Kristus itu, kita letakkan di mana? Semoga Allah membelaskasihani kita!
HANYUT
Apakah yang dimaksud dengan hanyut? Hanyut adalah keadaan yang tidak perlu memakai tenaga. Mendayung perahu memerlukan tenaga, tetapi jikalau Anda hanyut mengikuti arus aliran air, itu tidak memerlukan tenaga. Hanyut artinya terbawa arus; ke mana arah air mengalir, Anda juga ke mana. Keadaan itu dalam Alkitab disebut “hanyut”. Jika seseorang ingin pergi ke suatu tempat, ia harus mengendalikan perahunya, sekuatnya mengemudikan dan tidak boleh membiarkan perahunya hanyut. Hanyut membuat Anda tidak dapat mencapai tempat tujuan. Jika Anda ingin mencapai tempat tujuan tertentu, Anda harus mengeluarkan tenaga khusus untuk menentang arus. Sebaliknya hanyut paling tidak memerlukan tenaga, karena ia terbawa arus air. Air mengantar aku ke sana, ke sanalah aku pergi, inilah hanyut.
Saudara saudari, perkara rohani, kehidupan rohani, dan semua perkara yang berhubungan dengan Kristus perlu dipegang erat-erat di hadapan Allah, dan selain itu masih perlu kita memakai tenaga untuk maju ke depan. Jika Anda ingin melawan Iblis, Anda harus menolak daging, menolak diri sendiri. Apakah Anda mengira di mana saja Anda bisa damai sejahtera? Apakah Anda mengira menjadi orang Kristen sedemikian mudah? Apakah Anda mengira kita boleh dengan seenaknya hanyut terbawa arus? Tidak semudah ini. Hati kita harus memiliki satu tujuan khusus, tidak boleh hanyut. Hari ini kita perlu bertanya kepada diri sendiri demikian, “Apakah sebenarnya tujuanku menjadi orang Kristen?” Kalau aku ingin menuju ke utara, tetapi perahuku hanyut ke selatan, maka hatiku akan sangat gelisah karenanya. Sebab ini berarti aku tidak akan mencapai tempat tujuan. Kalau aku tidak berminat menuju ke utara, dan memang tidak mempunyai tujuan tertentu, maka aku akan hanyut terbawa arus, ke tempat arus itu mengalir.
Setiap orang Kristen harus memiliki satu ambisi untuk mencari perkenan Allah. Kalau mau mencari perkenan Allah, maka tidak dapat dengan seenaknya mengikuti arus. Harus memiliki satu sasaran di depan, dan harus berlari mengarah ke sasaran itu, melupakan apa yang di belakang, giat maju ke depan. Ada orang yang tidak memiliki belakang, juga tidak memiliki depan, karena dia sama sekali tidak memiliki tujuan. Kalau tidak memiliki tujuan, tentu saja tidak ada belakang dan depan, sehingga semua tempat baik baginya. Seperti kerbau petani yang menarik kincir air. Kerbau itu dengan tanpa arah terus menarik kincir air, berkeliling di tempatnya mulai pagi sampai petang tetap saja di sana. Semuanya adalah permulaan tetapi juga adalah akhir, semuanya tanpa awal juga tanpa akhir. Dia diatur oleh situasi sekeliling, mengikuti kincir air terus berputar.
Banyak orang Kristen juga demikian, dari pagi sampai malam terus berputar, tidak ada depan juga tidak ada belakang, terus hanyut. Hanyut karena tidak memiliki tujuan. Kita harus bertanya kepada diri sendiri, “Sebenarnya untuk apakah saya menjadi orang Kristen? Kalau saya mau menuruti apa yang dikatakan Alkitab, yaitu memuliakan Allah, maka saya harus memperhatikan sasaran ini dan berlari menuju sasaran ini. Kalau timbul hal-hal yang menentangnya, saya harus mengeluarkan tenaga untuk menolaknya.” Di depan masih ada sepotong perjalanan, Anda harus melupakan apa yang di belakang dan giat berlari terus ke depan. Kalau tidak, Anda akan terhanyut. Saudara saudari, sebagai orang Kristen, kita terhanyut atau mempunyai sasaran?
Ada orang tidak mengetahui bahaya terhanyut, karena terhanyut adalah kejadian yang tidak begitu terasa. Kalau ada angin ribut datang dan melanda Anda, Anda pasti segera merasakannya, karena perubahannya terlalu besar. Tetapi hanyut berlangsung tanpa disadari, secara perlahanlahan, dari atas menuju ke bawah, dari tinggi menuju ke rendah, pergi mengikuti arah yang menakutkan itu. Hanyut terjadi secara perlahan-lahan, tidak saja tidak perlu tenaga, bahkan tidak terasa. Menit ini dan menit selanjutnya tidak begitu ada perubahan, tiga menit terdahulu dengan tiga menit selanjutnya juga tidak berbeda jauh. Tetapi, justru karena perlahan-lahan, masalahnya telah berbeda jauh. Ada orang tidak melakukan dosa yang besar, masih membaca Alkitab, masih datang mendengarkan khotbah, masih mempersembahkan, seolah sama dengan yang dulu. Tetapi, hari ini berlalu, besok berlalu, bulan depan berlalu, bulan depan lagi berlalu, setelah tiga atau empat tahun, sangat berbeda jauh dengan hari ini.
Dalam perkara rohani selamanya tidak pernah tiba-tiba jatuh, tidak pernah begitu gagal lalu jatuh, melainkan karena terus terhanyut, sampai satu hari barulah ternyata. Hanyut adalah perkara yang paling tidak baik yang akhirnya akan membawa lenyap segala sesuatu. Mungkin Anda tidak berbuat dosa yang besar, tetapi tanpa sadar
Anda telah turun, seolah kehidupan kristiani Anda masih sama dengan yang dulu. Tetapi ingatlah, bahwa hanyut tidak pernah membuat Anda menuju ke atas, hanyut selalu membawa Anda ke bawah. Sehari demi sehari bergeser, sehari demi sehari Anda telah turun. Mungkin Anda masih tidak merasakannya, tetapi orang lain merasakannya. Dulu, ada seorang ahli musik berkata, “Jika aku tidak berlatih musik selama satu hari, aku sendiri akan merasakannya; jika aku tidak berlatih selama dua hari, teman-temanku akan merasakannya; jika aku tidak berlatih selama tiga hari, maka para pendengarku akan merasakannya.” Turun sedikit demi sedikit, akhirnya baru ternyata jelas.
Pada mulanya perbedaannya tidak banyak, tetapi setelah lewat hari dan bulan, maka perbedaannya banyak.
Allah menghendaki kita dengan segenap kekuatan hati dan jiwa berdiri teguh di hadapan-Nya, tidak hanyut. Jika demikian maka kerohanian kita akan maju. Iblis selalu berusaha membuat kita secara perlahan-lahan berhenti, tidak menuntut kemajuan, membuat kita hanyut mengikuti arus, sampai akhirnya timbullah masalah kejatuhan. Iblis tidak dengan sadis dan kasar menyuruh kita berbuat dosa besar. Jika saat ini Iblis tiba-tiba menipu kita untuk mencelakakan seseorang, kita pasti menolaknya. Iblis datang secara perlahan-lahan, hari ini memberi Anda sebuah hati yang membenci orang, besok memberi Anda sebuah hati yang iri kepada orang, setelah beberapa tahun, mungkin dalam Anda telah ada hati yang mencelakakan orang. Sebab itu, setiap hari kita perlu kekuatan rohani, perlu mohon supaya tangan Allah memegangi kita. Jangan karena merasa bahwa hari ini hampir sama dengan kemarin, lalu lengah. Sangat ditakutkan kalau dalam sehari hanya terhanyut sedikit, dengan ukuran yang kecil terus turun ke bawah, sepuluh tahun, dua puluh tahun terus demikian, akhirnya perbedaannya sangat besar.
Semoga Allah membelaskasihani orang Kristen yang tidak memiliki perasaan yang peka terhadap “hanyut”, perkara yang menakutkan ini! Kesimpulan dari hanyut selalu dari atas turun ke bawah, hanyut pasti tidak akan membuat Anda naik ke atas. Jika Anda mengharapkan kemajuan dalam kerohanian, Anda tidak boleh terhanyut. Orang yang tidak rajin menuntut, tidak akan maju. Muller berkata, ia tidak pernah melihat orang yang malas dapat beroleh selamat; tetapi kita mengatakan, tidak pernah melihat orang yang malas dapat maju. Tidak menuntut, tidak akan mendapatkan; tidak lapar dan haus, tidak akan dikenyangkan. Jika dalam hal penuntutan rohani sedikit saja kendor, maka keadaan terhanyut akan muncul.
AKHIR DARI BOCOR DAN HANYUT
Kita perlu nampak betapa berbahaya perkara bocor dan hanyut. Peringatan pertama dalam Surat Ibrani mengatakan, bahaya kita yang paling besar adalah bocor dan hanyut. Marilah kita memandang peringatan pertama ini sebagai peringatan bagi kita. Kita bisa bocor, kita juga bisa hanyut. Kita bisa membocorkan hingga habis segala yang Allah berikan kepada kita; bersamaan dengan itu, karena hanyut, kita tidak mendapatkan apa yang di depan itu. “Hanyut dibawa arus” dalam bahasa aslinya masih ada satu arti lagi yaitu “tergelincir dari samping, tidak dapat menjangkau”. Misalnya, Anda ingin naik ke atas sebuah perahu yang ada di tengah sungai yang lebar dan deras, untuk mencapainya Anda harus naik sebuah sampan kecil. Tetapi karena derasnya arus dan kekuatan Anda tidak cukup melawannya, Anda berusaha namun tetap tidak berhasil, maka Anda tergelincir jatuh dari samping perahu. Inilah arti kata-kata yang diucapkan rasul. Anda hanyut terbawa arus, Anda tidak mampu melawannya, maka Anda tidak bisa mencapai sasaran Anda.
Bahaya kita adalah bocor dan hanyut. Karena itu rasul memperingatkan kita harus lebih teliti memperhatikan, tidak boleh ceroboh. Tidak ada orang yang ceroboh yang dapat menjadi “orang Kristen”. Semua orang Kristen yang ceroboh, tidak akan melihat bahaya hanyut dibawa arus. Hanya mereka yang dengan teliti memperhatikan akan nampak ini; juga, hanya orang yang nampak bahaya ini yang dapat memiliki kemajuan dalam perkara rohani. Sering kali kita kurang teliti memperhatikan, terlalu ceroboh terhadap perkara rohani, maka makin hari kita makin turun ke bawah. Kita harus mengingat apa yang dikatakan rasul, harus lebih teliti memperhatikan apa yang telah kita dengar. Paulus mengatakan, karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar (Flp. 2:12). Dalam perkara rohani, takwa kepada Allah adalah keperluan yang mutlak. Banyak orang Kristen dari pagi sampai malam dengan santai melewati hari-hari mereka, apa pun tidak ditakuti, dengan sembarangan melewatkannya, sedikit pun tidak merasakan perlu takwa kepada Allah. Karena demikian, mereka tidak dapat mengenal betapa bernilainya perkaraperkara rohani, pula tidak dapat nampak bahaya hanyut dibawa arus.
Jika kita bocor, jika kita hanyut, kita akan kehilangan apa? Apakah akhir yang berbahaya itu? Ayat ketiga, “Bagaimana kita akan luput, jikalau kita menyia-nyiakan keselamatan yang sebesar itu?” Kehilangan apa? Kehilangan keselamatan yang sebesar itu. Apakah keselamatan yang dibicarakan dalam Kitab Ibrani? Keselamatan itu adalah keselamatan yang sempurna. Dia hidup selamanya, untuk menyelamatkan kita dengan sempurna, inilah keselamatan yang sempurna. Keselamatan itu tidak hanya bersandarkan darah adi Tuhan yang teralir di kayu salib sehingga kita mendapatkan penebusan dosa, tidak masuk neraka dapat masuk surga; keselamatan ini khususnya menyinggung tentang bagaimana kita dapat menjadi orang yang mutlak beroleh selamat pada hari ini di bumi (dengan sendirinya terlingkup pula salib), dan bahkan mendapat kemuliaan bersama Kristus dalam Kerajaan Seribu Tahun.
Misalnya, Anda sebagai seorang saudara telah berbuat sesuatu yang tidak baik, maka orang lain akan berkata, “Anda, seorang yang percaya Yesus, apakah juga melakukan perkara demikian?” Meskipun dia tidak mengatakan bahwa Anda telah binasa, tidak beroleh selamat, tetapi dia melihat Anda sebagai seorang Kristen yang tidak ada bedanya dengan orang lain, tidak ada ekspresi bahwa Anda adalah orang yang telah beroleh selamat. Atau temperamen Anda mudah bergejolak. Baiklah, Anda telah percaya Tuhan Yesus, juga telah mendengar bahwa Tuhan Yesus menjadi hayat kemenangan Anda, tetapi karena Anda bocor, Anda hanyut, Anda marah-marah. Orang yang tidak percaya akan berkata, “Anda yang percaya Yesus juga marah-marah demikian, apa bedanya dengan kami?” Anda telah kehilangan keselamatan yang demikian besar, Anda tidak membiarkan Tuhan menyelamatkan Anda dari dosa temperamen ini. Jika Anda tidak ada bedanya dengan orang yang tidak percaya, Anda telah kehilangan keselamatan yang demikian besar ini.
Demikian juga pakaian Anda, harta Anda, waktu Anda, kerajinan pelayanan Anda, amal sedekah Anda, haruslah menyatakan kesaksian orang Kristen. Bagaimanapun juga Anda tidak boleh membuat Injil Allah bocor dan hanyut, bagaimanapun juga Anda harus menjaga diri sendiri agar tidak kehilangan keselamatan yang begitu besar ini. Keselamatan Allah tidak hanya mencakup kehidupan di bumi pada masa kini, juga mencakup kehidupan dalam Kerajaan Seribu Tahun bersama Tuhan dalam kemuliaan. Karena kita ingin mendapatkan keselamatan yang sebesar ini, karena kita ingin memiliki bagian dalam kemuliaan kerajaan, maka hari ini kita perlu dikuduskan dalam segala perkara, tidak bocor dan tidak hanyut.
“Karena itu kita harus lebih teliti memperhatikan apa yang telah kita dengar”; dalam perkara-perkara yang kita dengar, yaitu perkara-perkara yang berhubungan dengan Kristus, kita harus lebih teliti memperhatikan jangan sampai kita hanyut, kehilangan, dan
bocor. Mengapa terhadap perkara-perkara mengenai Kristus tidak baik kalau sampai bocor atau hanyut? Karena “firman yang dikatakan dengan perantaraan malaikat-malaikat” — yaitu hukum Taurat, Perjanjian Lama (Kis. 7:53) — “tetap berlaku, dan setiap pelanggaran dan ketidaktaatan mendapat balasan yang setimpal,” (pelanggaran adalah yang positif, ketidaktaatan adalah yang negatif), apalagi jika hari ini kita menyia-nyiakan keselamatan yang sebesar ini? Keselamatan ini bukan diberitakan oleh manusia, melainkan oleh Anak Allah; oleh Anak Allah yang begitu mulia. Kalau kita menyia-nyiakan keselamatan yang sebesar ini, bagaimana kita dapat terluput dari 39 dosa ini? Melanggar hukum Taurat yang disampaikan dengan perantaraan malaikat-malaikat saja akan menerima balasan yang setimpal; apalagi keselamatan kita hari ini, “diberitakan oleh Tuhan sendiri, dan kemudian oleh mereka yang telah mendengarnya, kepada kita dengan cara yang dapat dipercayai, sedangkan Allah meneguhkan kesaksian mereka oleh tanda-tanda dan mujizat-mujizat dan oleh berbagai-bagai penyataan kekuasaan dan karena Roh Kudus, yang dibagi-bagikan menurut kehendak-Nya.” Kalau kita menyianyiakan keselamatan yang sebesar ini, bagaimana kita dapat bebas dari dosa ini? Inilah peringatan yang diberikan rasul kepada kita, menasihati kita supaya tidak bocor, tidak hanyut.
Kiranya Allah memberi karunia kepada kita, supaya dalam perkara rohani yang Allah berikan untuk kita dengar, kita benar-benar tidak sembarangan, tidak kendor, tidak bocor, dan tidak hanyut.
MENYERU NAMA TUHAN
Apakah artinya menyeru nama Tuhan? Sebagian orang Kristen beranggapan bahwa menyeru nama Tuhan itu sama seperti berdoa kepada-Nya. Ya, menyeru nama Tuhan adalah semacam doa, tetapi bukan hanya doa semata. Dalam bahasa Ibrani, kata "menyeru" berarti "memanggil", "menjerit kepada", "berteriak kepada"; dan dalam bahasa Yunani berarti "berteriak kepada seseorang", "memanggil nama seseorang". Dengan kata lain, menyeru berarti memanggil nama seseorang dengan suara yang bisa terdengar. Kalau berdoa bisa dengan diam, tenang; namun menyeru haruslah bisa didengar.
Ada dua nabi dalam Perjanjian Lama yang bisa membantu kita lebih memahami apakah yang dimaksud dengan menyeru nama Tuhan. Nabi Yeremia memberi tahu kita, berseru kepada Tuhan berarti berteriak kepada-Nya dan mengalami pernafasan rohani. "Ya TUHAN, aku menyeru nama-Mu dari dasar lubang yang dalam. Engkau mendengar suaraku! Janganlah Kaututupi telinga-Mu terhadap pernafasanku, terhadap teriak tolongku" (Rat. 3:55-56 Tl.). Yesaya juga memberi tahu kita bahwa berseru kepada Tuhan berarti berteriak kepada-Nya. "Sungguh, Allah itu keselamatanku; aku percaya dengan tidak gemetar, sebab TUHAN ALLAH itu kekuatanku dan mazmurku, Ia telah menjadi keselamatanku. Maka kamu akan menimba air dengan kegirangan dari mata air keselamatan. Pada waktu itu kamu akan berkata, bersyukurlah kepada Tuhan, serulah nama-Nya, . . . Berserulah dan bersorak-sorailah, hai penduduk Sion, sebab Yang Mahakudus, Allah Israel, agung di tengah-tengahmu!" (Yes.12:2-6,Tl.). Bagaimanakah Allah bisa menjadi keselamatan kita, kekuatan kita dan mazmur kita? Bagaimanakah kita dapat menimba air dengan kegirangan dari mata air keselamatan? Caranya yaitu dengan menyeru nama-Nya, memuji Tuhan, bermazmur dan berseru dengan bersorak sorai. Semuanya itu sesuai dengan seruan yang tercantum dalam ayat 4!
MENYERU NAMA TUHAN DALAM PERJANJIAN LAMA
Perihal menyeru nama Tuhan telah dimulai pada generasi ketiga umat manusia, yaitu Enos, putra Set (Kej. 4:26). Sejarah penyeruan nama Tuhan berlanjut sepanjang Alkitab, atas diri Abraham (Kej. 12:8), Ishak (Kej. 26:25), Musa (Ul. 4:7), Ayub (Ayb. 12:4), Yabes (1 Taw. 4:10), Simson (Hak. 16:28), Samuel (1 Sam. 12:18), Daud (2 Sam. 22:4), Yunus (Yun. 1:6), Elia (1 Raj. 18:24), dan Yeremia (Rat. 3:55). Kaum saleh Perjanjian Lama tidak hanya menyeru nama Tuhan, mereka bahkan menubuatkan bahwa orang-orang lainnya juga akan menyeru nama-Nya (Yl. 2:32; Zef. 3:9; Za. 13:9). Meskipun banyak orang sangat hafal dengan nubuat Yoel tentang Roh Kudus, namun tidak banyak yang memperhatikan fakta bahwa untuk menerima pencurahan Roh Kudus, kita perlu menyeru nama Tuhan. Di satu pihak, Yoel menubuatkan bahwa Allah akan menuangkan, mencurahkan Roh Kudus-Nya; di pihak lain, ia menubuatkan bahwa orang-orang akan berseru kepada nama Tuhan. Nubuat ini tergenap pada hari Pentakosta (Kis. 2:17a, 21). Untuk mencurahkan Roh Kudus, Allah memerlukan kerja sama kita; kita harus berseru kepada-Nya.
DIPRAKTEKKAN OLEH KAUM BERIMAN PERJANJIAN BARU
Menyeru nama Tuhan telah dipraktekkan oleh kaum saleh Perjanjian Baru, sejak hari Pentakosta (Kis. 2:21). Ketika Stefanus dilempari dengan batu hingga mati, ia menyeru nama Tuhan (Kis. 7:60). Kaum beriman Perjanjian Baru mempraktekkan menyeru nama Tuhan (Kis. 9:14; 22:16; 1 Kor. 1:2; 2 Tim. 2:22). Saulus dari Tarsus menerima kuasa dari imam-imam kepala untuk menangkapi semua orang yang berseru kepada nama Tuhan (Kis. 9:14). Hal ini menunjukkan bahwa kaum beriman sebermula adalah pemanggil/penyeru Yesus. Memanggil/menyeru nama Tuhan merupakan suatu tanda, suatu ciri bahwa mereka adalah orang Kristen. Jika kita menjadi orang-orang yang menyeru nama Tuhan, maka seruan kita itu akan menjadi tanda bahwa kita adalah orang Kristen.
Rasul Paulus menekankan perkara menyeru sewaktu ia menulis Kitab Roma. Ia berkata, "Sebab tidak ada perbedaan antara orang Yahudi dan orang Yunani. Karena, Tuhan yang satu itu adalah Tuhan dari semua orang dan murah hati kepada semua orang yang berseru kepada-Nya. Sebab, 'Siapa saja yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan'" (Rm. 10:12-13). Paulus juga membahas tentang menyeru nama Tuhan ini dalam 1 Korintus ketika ia menulis kata-kata ini, "dengan semua orang di segala tempat, yang berseru kepada nama Tuhan kita Yesus Kristus, yaitu Tuhan mereka dan Tuhan kita" (1 Kor. 1:2). Berikutnya dalam 2 Timotius ia memberi tahu Timotius untuk mengejar perkara-perkara rohani dengan orang-orang yang berseru kepada nama Tuhan dengan hati yang murni (2 Tim. 2:22). Melalui ayat-ayat di atas kita tahu bahwa pada abad pertama banyak sekali orang Kristen yang mempraktekkan menyeru nama Tuhan. Karena itu, sepanjang Perjanjian Lama dan juga pada zaman orang Kristen sebermula, kaum saleh telah menyeru nama Tuhan. Tetapi sayang sekali, perkara ini justru telah dilalaikan oleh kebanyakan orang Kristen dalam waktu yang sangat lama. Kita percaya, bahwa hari ini Tuhan akan memulihkan perkara menyeru nama-Nya. Tuhan mau kita mempraktekkannya, agar kita bisa menikmati kekayaan hayat-Nya.
TUJUAN MENYERU
Mengapa kita perlu menyeru nama Tuhan? Manusia perlu menyeru nama Tuhan, karena melalui menyeru nama Tuhan, manusia bisa beroleh keselamatan (Rm. 10:13). Cara berdoa yang tenang memang bisa membantu orang beroleh selamat, namun tidak begitu kaya. Berseru dengan suara yang keras dapat membantu orang-orang beroleh selamat dengan lebih kaya dan lebih tuntas. Sebab itu, kita perlu menganjuri, mendorong orang-orang untuk membuka diri mereka dan menyeru nama Tuhan Yesus. Mazmur 116 memberi tahu kita bahwa kita boleh berbagian dalam keselamatan Tuhan melalui menyeru nama-Nya: "Aku akan mengangkat piala keselamatan, dan akan menyerukan nama TUHAN" (ayat 13). Dalam pasal ini, perkara menyeru nama Tuhan tercantum sebanyak empat kali (ayat 2, 4, 13, 17).
Telah kita bahas bahwa cara menggali air dari sumur keselamatan, ialah dengan menyeru nama Tuhan (Yes. 12:2-4). Namun kebanyakan orang Kristen tidak pernah menyeru nama Tuhan. Jika Anda belum pernah berseru atau bahkan berseru dan bersorak-sorai di hadapan Tuhan, saya ragu-ragu kalau Anda telah menikmati Tuhan secara kaya dan limpah. "Panggillah nama-Nya . . . Berserulah dan bersorak-sorailah . . . " (Yes.12:4, 6). Cobalah berseru di hadapan-Nya. Jika Anda tidak pernah berseru tentang apa adanya Tuhan terhadap Anda, saya menganjuri Anda untuk mencobanya. Semakin Anda berseru, "O, Tuhan Yesus! Dikau demikian baik kepadaku!" Anda akan semakin terlepas dari diri Anda sendiri dan semakin dipenuhi Tuhan. Laksaan orang beriman telah dibebaskan dan menikmati kaya limpah Tuhan melalui menyeru nama-Nya.
Alasan lain perlunya menyeru nama Tuhan adalah untuk mendapatkan penyelamatan dari kesulitan dan kesesakan (Mzm. 18:7; 50:15; 86:7; 118:5); dari penderitaan dan penyakit (Mzm. 116:3-4). Orang-orang yang menolak menyeru nama Tuhan, ternyata menemukan diri mereka telah berseru kepada-Nya tatkala mereka menghadapi kesulitan atau penyakit. Ketika hidup kita lancar dan tidak ada kesulitan, kita mungkin menolak untuk menyeru Tuhan. Namun, begitu kesulitan muncul, tanpa seorang pun menyuruh kita untuk berseru kepada-Nya, secara spontan kita akan berseru.
Juga, untuk berbagian dalam rahmat-Nya secara berlimpah, kita harus berseru kepada-Nya. Semakin kita berseru kepada-Nya, kita akan semakin menikmati kasih setia-Nya yang berlimpah (Mzm. 86:5). Alasan lain lagi menyeru nama Tuhan adalah untuk menerima Roh itu (Kis. 2:17a, 21). Cara yang paling baik dan paling mudah untuk dipenuhi Roh Kudus ialah menyeru nama Tuhan Yesus. Roh itu sedah dicurahkan. Untuk menerimanya kita hanya perlu berseru kepada-Nya.
Yesaya 55:1 mengatakan, "Ayo, hai semua orang yang haus, marilah dan minumlah air, dan hai orang yang tidak mempunyai uang, marilah! Terimalah gandum tanpa uang pembeli dan makanlah, juga anggur dan susu tanpa bayaran!" Bagaimanakah cara makan dan minum Tuhan? Yesaya menunjukkan kepada kita caranya, yaitu yang tercantum dalam ayat 6 pada pasal yang sama: "Carilah TUHAN selama Ia berkenan ditemui, berserulah kepada-Nya selama Ia dekat!" Jadi, cara makan makanan rohani untuk kepuasan kita ialah mencari Tuhan dan menyeru nama-Nya.
Roma 10:12 mengatakan, "Tuhan itu murah hati kepada semua orang yang berseru kepada-Nya." Tuhan bukan saja murah hati, Ia juga dekat dan telah tersedia; karena Dia adalah Roh pemberi-hayat (1 Kor. 15:45). Sebagai Roh itu, Ia itu Mahaada. Kita boleh berseru kepada nama-Nya kapan saja dan di mana saja. Begitu kita berseru kepada-Nya, karena Ia adalah Roh itu, Ia segera datang kepada kita, sehingga kita dapat menikmati segala kelimpahan-Nya.
Surat Korintus yang pertama merupakan sebuah kitab tentang kenikmatan atas Kristus. Pada pasal 12, Paulus memberi tahu kita bagaimana menikmati Dia. Cara menikmati Tuhan ialah dengan menyeru nama-Nya (12:3; 1:2). Setiap kali kita berseru, "O, Tuhan Yesus", Tuhan Sang Roh itu segera datang, dan kita pun meminum-Nya, meminum Roh pemberi-hayat (12:13). Ketika Anda memanggil nama seseorang, jika orang itu riil, hidup, dan hadir, orang itu pasti akan bereaksi atau datang kepada Anda. Tuhan Yesus itu riil, hidup, dan Mahaada! Dia selalu tersedia! Begitu kita berseru kepada-Nya, Ia segera datang. Inginkah Anda menikmati hadir Tuhan beserta segala kelimpahan-Nya? Cara terbaik untuk mengalami hadir-Nya beserta segala kelimpahan-Nya ialah menyeru nama-Nya.
Berserulah kepada-Nya sewaktu Anda sedang mengemudikan mobil di jalan raya; berserulah kepada-Nya sewaktu Anda sedang bekerja. Kapan saja dan di mana saja Anda boleh berseru kepada-Nya. Tuhan itu dekat dan kaya bagi Anda.
Menyeru nama Tuhan juga bisa membuat kita bangun/bangkit. Yesaya 64:7 mengatakan, "Tidak ada yang memanggil nama-Mu atau yang bangkit untuk berpegang kepada-Mu." Kapan kita merasa bahwa kita sedang lembam, lesu, atau merosot, kita bisa terangkat dan bangkit kembali melalui menyeru nama Tuhan Yesus.
CARA MENYERU
Bagaimana seharusnya menyeru nama Tuhan? Kita harus berseru kepada Tuhan dengan hati yang murni (2 Tim. 2:22). Hati kita yang merupakan sumber seruan kita, haruslah murni, tidak menuntut yang lain kecuali Tuhan sendiri. Kita juga harus berseru dengan bibir yang bersih (Zef. 3:9). Kita perlu menjaga tutur kata kita, karena tidak ada sesuatu yang lebih mencemari bibir kita daripada tutur kata yang tidak terkendali. Jika bibir kita tidak bersih dikarenakan tutur kata yang kendur, maka sulitlah bagi kita untuk menyeru nama Tuhan. Selain hati yang murni dan bibir yang bersih, kita masih perlu memiliki mulut yang terbuka (Mzm. 81:11). Kita perlu membuka mulut kita lebar-lebar dan berseru kepada Tuhan. Di samping itu, kita perlu menyeru Tuhan secara korporat. Dua Timotius 2:22 mengatakan, "Sebab itu, jauhilah nafsu orang muda, kejarlah keadilan, kesetiaan, kasih, dan damai sejahtera bersama-sama dengan mereka yang berseru kepada Tuhan dengan hati yang murni." Kita perlu berhimpun dengan tujuan menyeru nama Tuhan. Mazmur 88:10 berkata, "Aku telah berseru kepada-Mu, ya TUHAN, sepanjang hari." Karena itu, kita harus menyeru nama-Nya setiap hari dan sepanjang hari. Berikutnya, Mazmur 116:2b mengatakan, "Maka seumur hidupku aku akan berseru kepada-Nya." Selama kita hidup, kita harus menyeru nama Tuhan.
PERLU DIPRAKTEKKAN
Menyeru nama Tuhan bukanlah hanya suatu doktrin. Hal ini sangatlah praktis. Kita perlu mempraktekkannya setiap hari, setiap saat. Janganlah kita sekali-kali menghentikan pernafasan rohani kita. Kita harap lebih banyak anak Allah, terutama kaum beriman yang baru beroleh selamat, bisa mulai mempraktekkan menyeru nama Tuhan. Hari ini, banyak orang Kristen telah menemukan bahwa melalui menyeru nama Tuhan, mereka bisa mengenal Dia, mereka bisa dibawa ke dalam kuasa kebangkitan-Nya, mereka bisa mengalami keselamatan-Nya secara spontan, dan mereka bisa hidup bersatu dengan-Nya. Dalam situasi apa saja dan kapan saja, serulah, "O, Tuhan Yesus! O, Tuhan Yesus!" Jika Anda mempraktekkan menyeru nama Tuhan, Anda akan melihat bahwa inilah jalan yang ajaib untuk menikmati kekayaan Tuhan.
ALLAH BERBICARA MELALUI SITUASI
“Allah berfirman kepada Yakub: ‘Bersiaplah, pergilah ke Betel, tinggallah di situ, dan buatlah di situ mezbah bagi Allah, yang telah menampakkan diri kepadamu, ketika engkau lari dari Esau, kakakmu.’ Lalu berkatalah Yakub kepada seisi rumahnya dan kepada semua orang yang bersama-sama dengan dia: ‘Jauhkanlah dewa-dewa asing yang ada di tengah-tengah kamu, tahirkanlah dirimu dan tukarlah pakaianmu. Marilah kita bersiap dan pergi ke Betel; aku akan membuat mezbah di situ bagi Allah, yang telah menjawab aku pada masa kesesakanku dan yang telah menyertai aku di jalan yang kutempuh.’ Mereka menyerahkan kepada Yakub segala dewa asing yang dipunyai mereka dan anting-anting yang ada pada telinga mereka, lalu Yakub menanamnya di bawah pohon besar yang dekat Sikhem. Sesudah itu berangkatlah mereka. Dan kedahsyatan yang dari Allah meliputi kota-kota sekeliling mereka, sehingga anak-anak Yakub tidak dikejar. Lalu sampailah Yakub ke Lus yang di Tanah Kanaan — yaitu Betel —, ia dan semua orang yang bersama-sama dengan dia. Didirikannyalah mezbah di situ, dan dinamainyalah tempat itu El-Betel, karena Allah telah menyatakan diri kepadanya di situ, ketika ia lari terhadap kakaknya. Ketika Debora, inang pengasuh Ribka, mati, dikuburkanlah ia di sebelah hilir Betel di bawah pohon besar, yang dinamai orang: Pohon Besar Penangisan.”
Kejadian 35:1-8
“Yakub berkata kepada Simeon dan Lewi: ‘Kamu telah mencelakakan aku dengan membusukkan namaku kepada penduduk negeri ini, kepada orang Kanaan dan orang Feris, padahal kita ini hanya sedikit jumlahnya; apabila mereka bersekutu melawan kita, tentulah mereka akan memukul kita kalah, dan kita akan dipunahkan, aku beserta seisi rumahku.’”
Kejadian 34:30
I. MENDAPATKAN PERKATAANMELALUI SITUASI
Meskipun sudah mencapai tingkat rohani tertentu di depan Allah, manusia sering masih memerlukan situasi untuk berbicara kepadanya. Dalam Perjanjian Lama ada contoh yang demikian; dalam Perjanjian Baru juga ada contoh yang demikian. Kalau kita membaca sejarah gereja, membaca pengalaman orang-orang yang mengikuti Tuhan, kita tidak akan mendapatkan satu orang pun yang sama sekali tidak memerlukan perkataan Allah yang disampaikan melalui situasi kepadanya. Boleh dikatakan tidak ada seorang pun yang tidak memerlukan peringatan dari situasi, tidak ada seorang pun yang tidak memerlukan perkataan dari situasi. Banyak contoh memperlihatkan kepada kita, semakin rohani seseorang di depan Tuhan, dia semakin membiarkan situasi berbicara kepadanya. Seorang yang semakin dalam mengikuti Tuhan, akan semakin membiarkan situasi berbicara kepadanya, semakin membiarkan situasi mengingatkannya. Orang-orang yang bermasalah dengan Tuhan, di satu pihak mudah sekali dipengaruhi oleh situasi, di pihak lain tidak mendengar suara Tuhan dalam situasi. Saudara saudari, ada satu perkara yang sangat berharga, yaitu kalau persekutuan seseorang dengan Allah normal, ia bisa tidak terpengaruh oleh situasi, dia bisa membiarkan situasi berbicara kepadanya. Jika seseorang bermasalah dengan Tuhan, putus persekutuan dengan Tuhan, satu situasi yang kecil pun bisa mempengaruhinya; dan dalam situasi yang besar dia tidak mendengar apaapa, tidak mendengarkan perkataan, tidak mendengar suara. Bila ditaruh di depan kita, prinsip ini dapat kita pakai untuk menguji diri kita sendiri. Kalau kita bisa dipengaruhi oleh situasi dan tidak mendengar suara yang ditimbulkan-Nya, itu membuktikan persekutuan kita dengan Tuhan sudah putus, itu membuktikan kita telah jatuh. Situasi apa pun tidak seharusnya mempengaruhi kita, tetapi seharusnya berbicara kepada kita.
Kita tidak percaya bahwa dalam situasi yang ditaruh di depan kita sama sekali tidak ada perkataan; sebaliknya kita benar-benar percaya bahwa satu situasi menimpa kita karena Allah akan melaluinya berbicara kepada kita. Dalam situasi sekeliling tersembunyi perkataan yang akan Allah sampaikan kepada kita. “Kita” yang disebut di sini ditujukan kepada setiap orang dari kita. Kita mutlak percaya bahwa dalam situasi setiap hari pasti ada perkataan untuk masing-masing orang Kristen. Saudara saudari, kalau Anda hidup dalam terang Allah, Anda akan nampak, untuk jalan-Nya di bumi, Allah mengatur satu situasi menimpa kita; untuk mendapatkan sesuatu di atas diri anak-anak Allah, Ia mengatur satu situasi menimpa anak-anak-Nya. Kita jangan hanya bisa melihat satu perkara dari permukaannya saja, kita harus melihat pengaturan Allah di balik tirai. Kalau kita mengenal pengaturan Tuhan dalam situasi, dalam batin kita akan timbul perasaan yang manis. Kita tidak bisa mengatakan bahwa setiap situasi timbul karena takhta Tuhan dengan aktif mengatur, tetapi kita bisa mengatakan semuanya telah disetujui oleh takhta. Kita percaya ada takhta di surga. Setelah bangkit dari kematian, Tuhan kita duduk di atas takhta itu, dan segala sesuatu tunduk di bawah kaki-Nya. Melalui situasi yang diatur-Nya, Allah berbicara kepada anak-anak-Nya. Karena itu, kita seharusnya mendapatkan perkataan melalui situasi yang menimpa kita. Kalau kita dipengaruhi oleh situasi, dan tidak menerima pengajaran dari situasi, ini berarti di depan Tuhan kita ada kesulitan, ada masalah.
II. KEADAAN YAKUB MEWAKILIKEADAAN KITA
Mari kita lihat kisah Yakub. Kita semua tahu, dalam seumur hidup Yakub, ia memiliki satu pengalaman yang sangat dalam, yaitu di Pniel bergulat dengan Allah. Akibat pergulatan itu namanya diubah. Meskipun di Pniel dia sudah mempunyai pengalaman yang dalam, tetapi ketika Allah hendak berbicara kepadanya, Allah masih perlu membangkitkan situasi tertentu. Dalam Kejadian 34, anak perempuannya mengalami musibah, dan anak-anak laki-lakinya membuat onar. Ketika situasi itu terjadi, selanjutnya dalam Kejadian 35, Allah baru berbicara kepadanya. Mungkin ada orang akan berkata, “Dalam Kejadian 35, Allah langsung berbicara kepada Yakub. Mana mungkin Allah berbicara kepada Yakub melalui situasi.” Anda harus lebih dulu membaca Kejadian 34. Allah terlebih dulu menaruh Yakub dalam situasi dalam pasal 34, baru kemudian Allah berbicara kepada Yakub dalam pasal 35. Kali ini Allah mengatakan apa kepada Yakub? Allah berkata, “Bersiaplah, pergilah ke Betel, tinggallah di situ, dan buatlah di situ mezbah bagi Allah, yang telah menampakkan diri kepadamu, ketika engkau lari dari Esau, kakakmu” (ayat 1).
Saudara saudari, kisah apa yang Allah singgung terhadap Yakub? Satu kisah lama, yang terjadi beberapa tahun yang lalu. Karena kakaknya akan membunuh dia, Yakub lalu melarikan diri ke rumah pamannya. Sampai di Betel, karena matahari telah terbenam, Yakub lalu beristirahat di sana. Dengan batu sebagai alas kepalanya ia tidur. Dalam mimpi, Allah menyatakan diri kepadanya. Setelah bangun Yakub bernazar, “Jika Allah akan menyertai dan akan melindungi aku di jalan yang kutempuh ini, memberikan kepadaku roti untuk dimakan dan pakaian untuk dipakai, sehingga aku selamat kembali ke rumah ayahku, maka TUHAN akan menjadi Allahku. Dan batu yang kudirikan sebagai tugu ini akan menjadi rumah Allah. Dari segala sesuatu yang Engkau berikan kepadaku akan selalu kupersembahkan sepersepuluh kepada-Mu” (Kej. 28:20-22). Di depan Allah ia telah bernazar.
Saudara saudari, ketika Anda baru beroleh selamat, tidakkah Anda pernah bernazar di depan Allah? Mungkin Anda juga seperti Yakub, bernazar kepada Allah sambil mengajukan syarat. Tetapi minat Anda itu tetap benar. Ketika Anda baru menempuh jalan ini, minat Anda kepada Allah masih benar. Pada saat bernazar kepada Allah, keadaan Yakub juga adalah keadaan kita. Pagi itu, Yakub bernazar, tetapi kemudian ia melupakannya. Ketika ia pergi ke Timur, sepanjang jalan dia berusaha dengan segala daya upayanya untuk melindungi diri sendiri. Meskipun dia pernah memohon Allah menjaga dia dalam perjalanannya, memberi dia pakaian, memberi dia makanan, tetapi dia tetap bersandar diri sendiri. Dia benarbenar mewakili keadaan kita. Dia menengadah kepada Allah, tetapi juga memakai caranya sendiri. Meskipun demikian, setelah situasi berubah ia tetap harus menundukkan kepala dan berkata, “Semuanya adalah belas kasihan Allah. Kalau aku bersandar diri sendiri, aku tidak bisa mengalahkan Laban.” Yakub licik, namun Allah menyiapkan Laban yang lebih licik untuknya. Yakub dibereskan selama 20 tahun. Akhirnya Allah menarik dia keluar dari tangan Laban. Yakub mengakui ini adalah pemeliharaan Allah. Tetapi Yakub telah melupakan nazarnya kepada Allah. Ketika Yakub pulang dari Padan Aram, dia malah tinggal di Sikhem.
Saudara saudari, mungkin Anda mengira Yakub sudah menerima sekian banyak pemberesan, sudah mempunyai begitu banyak pengalaman, sudah begitu banyak merasakan sengsara, juga sudah mendapatkan begitu banyak harta benda, maka sekarang ia boleh tinggal dengan damai sejahtera di Sikhem. Tetapi tidak. Allah yang dilayaninya tidak membiarkan dia dengan damai sejahtera tinggal di sana. Hati Yakub sudah puas, tetapi Allah belum puas. Apa yang dimintanya telah Allah berikan kepadanya; apa yang harus Allah dapatkan, belum Yakub berikan kepada Allah. Allah perlu berbicara kepadanya dan Allah harus melalui situasi berbicara kepadanya. Allah tahu, kalau Ia tidak lebih dulu melalui situasi memberi pukulan kepada Yakub, Yakub belum bisa mendengar perkataan Allah. Saudara saudari, jangan mengira pengalaman rohani Anda sudah cukup dalam. Asal Anda mendengar suara yang di dalam sudahlah cukup. Tidak. Sering kali Allah perlu melalui situasi berbicara kepada Anda. Perkara-perkara yang Anda alami, baik besar maupun kecil, baik yang berat maupun yang ringan, pasti Allah timbulkan untuk berbicara kepada Anda. Kita tidak percaya ada orang yang begitu rohani sampai tidak perlu situasi berbicara kepadanya. Atas diri setiap orang beriman, Allah masih perlu menimbulkan satu situasi, dan Allah akan berbicara melalui situasi itu. Lihatlah, setelah lewat Pniel, Yakub cukup rohani. Ia bukan lagi Yakub melainkan Israel. Ia sudah banyak mengalami pengolahan dan pemberesan; kali itu ia dibereskan Allah sampai tuntas. Ia sudah cukup rohani. Sampai tingkat yang demikian, Allah masih harus menimbulkan situasi, dan melalui situasi berbicara kepadanya. Yakub ingin tinggal dengan damai di Sikhem, tetapi Allah tidak mengizinkan. Entah dia mengerti atau tidak, Alkitab tidak mencatatnya. Mungkin adakalanya dia nampak sedikit, tetapi sebentar saja lupa lagi, ia tidak memperhatikannya; hal ini tidak kita ketahui. Kita hanya tahu Allah membangkitkan satu situasi untuk berbicara kepada Yakub. Situasi apa? Yaitu anak perempuannya tertimpa musibah, anak-anak laki-lakinya membuat onar, sehingga Yakub tidak bisa damai lagi. Meskipun telah mengalami keadaan demikian, Yakub masih belum menyadari apa yang akan Allah sampaikan kepadanya melalui situasi. Ia malah menyalahkan anak-anaknya, dan kemudian menjadi takut. Pada saat itulah Allah berbicara kepada Yakub. Allah berkata, “Bersiaplah, pergilah ke Betel, tinggallah di situ, dan buatlah di situ mezbah bagi Allah, yang telah menampakkan diri kepadamu, ketika engkau lari dari Esau, kakakmu” (Kej. 35:1). Saudara saudari, situasi yang Yakub alami telah dipersiapkan oleh Allah supaya Ia bisa mengucapkan beberapa kata-kata ini. Yakub mengira, karena ia telah mendapatkan semuanya, ia boleh tinggal di Sikhem dengan damai sejahtera. Tetapi Allah menimbulkan situasi, tidak membiarkan dia dengan damai sejahtera tinggal di sana. Maksud Allah, “Apa yang dulu kau minta dari-Ku, telah Kupenuhi semua. Karena itu, kau pun harus memenuhi nazar yang dulu kauucapkan itu.” Allah menimbulkan situasi itu, dan melalui situasi itu berbicara kepada Yakub. Yakub mendengar suara ini, maka sekali lagi ia membawa dirinya dan keluarganya ke hadapan Allah, mohon TUHAN membersihkan dia dan keluarganya.
III. HARUS KEMBALI KE BETEL
Saudara saudari, lihatlah, kali ini Allah menggarap Yakub mendapatkan hasil apa? Allah menggarap Yakub sehingga berhala yang ada di dalam rumah Yakub tersingkap. Oh, orang yang begitu mengenal Allah, orang yang begitu rohani tidak hanya telah melupakan nazarnya bahkan di rumahnya masih ada berhala! Sering kali kita masih menyembunyikan berhala. Suara yang di dalam belum bisa menyingkapkan berhala kita. Masih perlu situasi yang di luar untuk menyingkapkan berhala kita.
Saudara saudari, bila ingin kembali ke Betel, barang-barang itu harus dikeluarkan! Kalau Anda tidak mempedulikan minat Anda yang semula, membiarkan barang-barang itu tetap tinggal di rumah Anda dan Anda mengatakan, “Aku telah mendapatkan bimbingan yang di dalam, mendengar suara yang di dalam,” maka Allah akan menimbulkan suatu situasi untuk membentur Anda, hingga berhala di rumah Anda tersingkap. Tidak hanya demikian, dari rumah Anda akan terlempar keluar anting-anting emas, hal-hal yang tidak sepatutnya ada. Sering kali, dalam persekutuan kita dengan Allah, kita tidak merasa tertegur, tidak merasa adanya beberapa kesalahan. Tetapi ketika 20 Allah menimbulkan suatu situasi, membentur kita, maka ternyatalah pada kita masih ada berhala yang tersembunyi, yang tidak rela kita lepaskan. Kita masih belum bisa percaya kalau diri kita sudah mencapai tahap tertentu, dan di dalam kita terasa damai, itu berarti benar-benar tidak ada masalah lagi. Tidak salah, kita harus kembali ke dalam, mendengarkan suara yang di dalam. Tetapi saudara saudari, ketahuilah, kita sudah jatuh begitu dalam. Sulit sekali bagi kita untuk berdiri teguh, sebaliknya mudah sekali bagi kita untuk merosot jatuh. Sebab itu, sering kali perasaan batin kita tidak begitu peka, dan teguran yang di dalam tidak begitu dalam; masih perlu Allah menimbulkan situasi untuk berbicara kepada kita.
Saudara saudari, mungkin Anda sudah bertahun-tahun menjadi orang Kristen. Menurut pengalaman hari ini, Anda sudah maju banyak dibanding pertama kali ke Betel. Tetapi menurut minat Anda hari ini, mungkin Anda sudah kehilangan minat persembahan di Betel yang semula. Allah senang kita mempunyai pengalaman; Allah senang melalui pengalaman menyusunkan diri-Nya ke dalam kita; Allah lebih senang lagi kalau kita tetap mempertahankan kesegaran minat kita yang semula. Saudara saudari, tidak peduli Anda sudah seberapa senior, Anda masih perlu kembali ke Betel. Lihatlah Yakub. Dalam pengalamannya, entah sudah berapa banyak kadar Allah yang tersusun, tetapi di atas dirinya malah kehilangan minat mempersembahkan diri di Betel yang semula. Pada saat demikianlah, Allah perlu melalui situasi berbicara kepada Yakub. Lihatlah, Yakub yang begitu rohani masih memerlukan situasi berbicara kepadanya.
Saudara saudari, Anda harus nampak, hanya memiliki suara di dalam masih kurang, adakalanya masih perlu situasi di luar berbicara. Anda ingin dengan nyaman tinggal di Sikhem, tetapi Allah akan menimbulkan situasi yang membuat Anda tidak bisa dengan nyaman tinggal di sana. Allah menghendaki Anda memenuhi minat persembahan Anda yang semula itu. Allah menghendaki Anda kembali ke Betel. Anda lupa akan minat Anda, tetapi Allah tidak lupa. Anda tidak mempertahankan persembahan diri Anda, tetapi Allah mempertahankannya. Saudara saudari, konsikrasi paling bisa membuat kita nampak kesalahan kita. Setiap kali Anda kembali kepada minat yang semula, Anda akan nampak ada barang-barang yang lebih, di beberapa tempat Anda sudah jatuh. Setiap kali Anda kembali kepada minat konsikrasi di Betel yang sebermula, Anda akan nampak sampai hari ini Anda masih mempunyai barang-barang yang tidak seharusnya Anda miliki, Anda masih mempunyai barang yang kelebihan, Anda masih mempunyai banyak aspek kejatuhan.
Saudara saudari, jangan mengira Anda sudah begitu rohani, jangan mengira Anda sudah tidak ada masalah lagi. Berdoalah kepada Tuhan, “Tuhan, tujuh tahun yang lalu ketika aku baru mendapatkan kebangunan rohani, suatu malam aku berdoa, aku mempersembahkan semuanya. Semuanya aku letakkan di atas mezbah, semuanya aku serahkan kepada-Mu. Hari ini, aku masih tetap mempersembahkan semuanya kepada-Mu.” Begitu Anda kembali kepada minat Anda yang semula itu, Anda segera tahu masih banyak barang yang berlebihan, Anda segera tahu bahwa Anda sudah merosot dari minat Anda yang semula. Pengalaman Anda hari ini memang lebih banyak daripada yang dulu. Anda bisa bermegah, “Sekarang aku lebih mengenal Allah, aku lebih kawakan.” Tetapi ketika Anda kembali kepada minat yang semula, Anda akan tahu, meskipun Anda lebih kawakan, Anda sudah jatuh. Meskipun Anda lebih kawakan, Anda masih mempunyai berhala, masih mempunyai anting-anting emas, masih memiliki banyak hal yang perlu dikubur. Berhala dan anting-anting emas perlu dikubur di bawah pohon Tarbantin di Sikhem. Demikianlah Anda baru bisa kembali ke Betel melayani Allah. Saudara saudari, Yakub memang begitu kawakan, tetapi ia baru bisa kembali ke Betel setelah Allah melalui situasi berbicara kepadanya.
Sebab itu kita harus merenungkan, apakah dalam situasi kita ada suara Allah yang memanggil kita kembali ke Betel? Kalau Anda berjalan sampai di sini, apa yang Anda perlukan sudah ada; Anda ingin tinggal dengan tenteram di sini. Bisakah Allah membiarkan Anda tinggal tenang di sini? Anda telah mempunyai perhentian, sudahkah Allah mempunyai perhentian? Apakah Anda membiarkan Allah mendapatkan minat Anda di Betel? Terhadap banyak saudara saudari Allah perlu melalui situasi menyuruh dia kembali ke Betel, yaitu kembali kepada minatnya yang semula. Kalau Anda telah kehilangan minat yang semula, Allah akan mengatur suatu situasi, Allah akan sekali lagi menggoyang Anda sehingga Anda merasa tidak tenteram, dan di dalam Anda ada perkataan. Kita tidak percaya situasi yang diatur oleh Allah hanya membuat kita terpengaruh, tetapi tidak ada perkataan. Saudara saudari, sampai-sampai terhadap Yakub, orang yang rohani ini, Allah masih perlu melalui situasi untuk mengutarakan perkataan-Nya. Sebab itu, jangan sekali-kali mengira asal hati Anda merasa damai sejahtera itu sudah cukup. Adakalanya perasaan damai sejahtera Anda itu mungkin berasal dari menipu diri sendiri. Anda berkata, “hatiku damai”, tetapi dalam beberapa hari ini pernahkah Anda dikoreksi oleh Tuhan? Apakah Tuhan lebih banyak mengingatkan Anda?
Anda membiarkan Allah mendapat berapa? Anda membiarkan Allah mengikis Anda berapa? Saudara saudari ingatlah, dalam situasi sekitar seharusnya ada perkataan yang Tuhan ucapkan kepada Anda. Anda harus dari situasi sekitar mendengar suara Allah, kembali ke Betel, kembali kepada minat konsikrasi yang semula, supaya Allah mendapatkan kepuasan.
W.N.
KEHIDUPAN MEZBAH DAN KEMAH
“Ketika itu TUHAN menampakkan diri kepada Abram dan berfirman: ‘Aku akan memberikan negeri ini kepada keturunanmu.’ Maka didirikannya di situ mezbah bagi TUHAN yang telah menampakkan diri kepadanya. Kemudian ia pindah dari situ ke pegunungan di sebelah timur Betel. Ia memasang kemahnya dengan Betel di sebelah barat dan Ai di sebelah timur, lalu ia mendirikan di situ mezbah bagi TUHAN dan memanggil nama TUHAN.”
Kejadian 12:7-8
“Ia berjalan dari tempat persinggahan ke tempat persinggahan, dari Tanah Negeb sampai dekat Betel, di mana kemahnya mula-mula berdiri, antara Betel dan Ai, ke tempat mezbah yang dibuatnya dahulu di sana; di situlah Abram memanggil nama TUHAN . . . Sesudah itu Abram memindahkan kemahnya dan menetap di dekat pohonpohon tarbantin di Mamre, dekat Hebron, lalu didirikannyalah mezbah di situ bagi TUHAN.”
Kejadian 13:3-4, 18
Kehidupan orang Kristen adalah kehidupan mezbah dan kemah. Mezbah ditujukan kepada Allah dan kemah ditujukan kepada dunia. Allah menghendaki agar anak-anak-Nya mempunyai mezbah di hadirat-Nya dan juga mempunyai kemah di bumi. Ada mezbah, pastilah tinggal di kemah; ada kemah, pastilah tetap datang ke mezbah. Mustahil mempunyai mezbah tanpa kemah, mustahil pula mempunyai kemah tanpa mezbah. Mezbah dan kemah saling berkaitan, mereka tidak dapat dipisahkan oleh siapa pun.
KEHIDUPAN MEZBAH
Kejadian 12:7 mengatakan, “Ketika itu TUHAN menampakkan diri kepada Abram dan berfirman: ‘Aku akan memberikan negeri ini kepada keturunanmu.’ Maka didirikannya di situ mezbah bagi TUHAN yang telah menampakkan diri kepadanya.” Di sini kita melihat bahwa “mezbah” didirikan atas dasar penampakan Allah. Kalau tidak ada penampakan Allah, maka mezbah tidak akan ada. Siapa pun tidak akan dapat mempersembahkan diri kepada Allah, kalau ia tidak mendapatkan penampakan Allah. Hanya apabila Allah menampakkan diri kepada manusia, maka manusia dapat membawa segalanya ke atas mezbah untuk dipersembahkan kepada Allah.
Konsikrasi (persembahan) tidak berasal dari anjuran manusia, bukan pula karena dorongan manusia, melainkan berasal dari Allah. Jika Allah tidak menampakkan diri, maka tidak ada seorang pun yang dapat dengan inisiatif sendiri membawa segalanya ke atas mezbah; tidak ada seorang pun yang dapat dengan inisiatif sendiri mempersembahkan diri kepada Allah. Seandainya manusia hendak mempersembahkan dirinya kepada Allah, sebenarnya berdasarkan diri sendiri, manusia tidak memiliki apa pun yang dapat dipersembahkan kepada Allah. Seperti ada orang mengatakan, “Aku ingin mempersembahkan hatiku kepada Tuhan, namun hatiku tidak mau memenuhinya.” Manusia tidak dapat datang kepada Allah. Tetapi jika pada suatu hari manusia bertemu dengan Allah, maka pertemuan itu secara otomatis akan menghasilkan tindakan persembahan. Asal Anda bertemu dengan Allah, asal Anda melihat Allah — walaupun hanya sekejap, — maka Anda bukan lagi milik Andasendiri. Allah tidak bisa tidak mendapatkan sesuatu dari penampakan diri-Nya kepada manusia! Begitu seseorang bertemu dengan Allah, ia pasti tidak dapat hidup untuk diri sendiri lagi.
Kita harus tahu bahwa kekuatan untuk berkonsikrasi kepada Allah berasal dari penampakan diri Allah. Orang-orang yang sering membicarakan konsikrasi belum tentu merupakan orang-orang yang berkonsikrasi. Orang yang mengajarkan konsikrasi belum tentu adalah orang yang berkonsikrasi. Orang yang telah mengerti doktrin konsikrasi juga belum tentu telah mempersembahkan diri. Hanya orang yang telah melihat Allah adalah orang yang benarbenar dapat berkonsikrasi. Allah menampakkan diri kepada Abraham, dan reaksi langsungnya adalah Abraham membangun sebuah mezbah bagi Allah. Tuhan Yesus menampakkan diri kepada Paulus pada jalan menuju Damsyik, dan segera Paulus bertanya, “Tuhan, apa yang harus kuperbuat?” (Kis. 22:10). Titik peralihan dalam hayat rohani kita tidak berasal dari keputusan atau niat kita untuk berbuat sesuatu bagi Allah, melainkan dikarenakan kita melihat Allah. Hasil dari perjumpaan Anda dengan Allah ialah adanya satu perubahan radikal yang membuat Anda tidak lagi meneruskan jalan Anda yang dulu. Ketika Allah tertampak olehku, aku segera bertenaga untuk mengesampingkan diri sendiri; ketika Allah tertampak olehku, maka aku tidak dapat tidak menyangkal diri sendiri. Penampakan Allah membuat Anda tidak dapat hidup lagi. Dalam penampakan Allah terkandung kekuatan yang tidak terduga dan tidak terbatas besarnya yang akan membuat seluruh jalan hidup Anda berubah. Kekuatan hidup bagi Allah dari umat kristiani tergantung pada penampakan Allah! O, bukan karena aku bertekad melayani Allah maka aku dapat melayani Allah; bukan karena aku ingin membangun mezbah, segera aku dapat membangun mezbah; semuanya harus ada penampakan Allah.
Ketika Allah menampakkan diri kepada Abraham, Dia berfirman, “Aku akan memberikan negeri ini kepada keturunanmu.” Penampakan diri Allah memberi kita satu warisan yang baru. Penampakan diri Allah memperlihatkan kepada kita, hari ini apa yang Roh Kudus berikan di dalam kita adalah jaminan warisan kita kelak; bagian yang kita dapatkan hari ini di dalam Roh Kudus akan kita dapatkan secara sempurna kelak. Tatkala rencana Allah genap, kita akan dengan sempurna menerima warisan kita.
Allah menampakkan diri kepada Abraham dan Abraham mendirikan sebuah mezbah. Mezbah ini bukan untuk mempersembahkan kurban penebus dosa, melainkan mezbah untuk mempersembahkan kurban bakaran. Kurban penebus dosa adalah untuk pengampunan dosa diri sendiri; kurban bakaran adalah mempersembahkan diri sendiri kepada Allah. Mezbah ini bukan ditujukan kepada bagaimana Tuhan mati bagi kita, melainkan bagaimana kita mempersembahkan diri sendiri kepada Allah. Mezbah ini adalah mezbah seperti yang disebutkan dalam Roma 12:1, “Karena itu, Saudara-saudara, oleh kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: Itulah ibadahmu yang sejati.” Kemurahan Allahlah yang menyediakan Tuhan Yesus mati bagi kita; kemurahan Allahlah yang menyediakan salib, tempat kita mati bersama Kristus; kemurahan Allahlah yang menyediakan salib yang menanggulangi Iblis; kemurahan Allahlah yang menyediakan hayat-Nya tinggal di dalam kita; dan kemurahan Allahlah yang akan membawa kita ke dalam kemuliaan. Karena kemurahan Allah yang begitu ragam dan tidak terduga inilah, maka kita perlu mempersembahkan diri sebagai kurban yang hidup kepada-Nya.
Ada satu hal yang sangat bermakna dalam persembahan kurban bakaran, yaitu jika kemampuan Anda besar, Anda boleh mempersembahkan seekor lembu; kalau tidak mampu mempersembahkan seekor lembu, Anda boleh mempersembahkan seekor kambing; kalau tidak mampu lagi, boleh mempersembahkan seekor burung tekukur atau merpati (Im. 1:3, 10, 14). Tetapi, apa pun juga yang dipersembahkan, baik itu lembu, kambing, burung tekukur, atau merpati, haruslah dipersembahkan dengan utuh. Anda tidak bisa mempersembahkan sepotong daging sapi atau sepotong daging kambing. Yang dikehendaki Allah adalah persembahan yang utuh, bukan persembahan yang separuh atau sebagian. Allah tidak menghendaki persembahan yang tidak sempurna.
Apa maksud kurban bakaran diletakkan di atas mezbah? Supaya ia dibakar sampai habis. Orang selalu mengira bahwa mempersembahkan diri kepada Allah adalah untuk melakukan ini atau mengerjakan itu bagi Allah; namun apa yang Allah inginkan bukan pekerjaan kita, melainkan diri kita dibakar habis. Allah tidak menginginkan seekor lembu atau seekor kambing, melainkan lembu atau kambing itu diletakkan di atas mezbah dan dibakar habis. Mezbah bukan berarti bekerja bagi Allah, melainkan hidup oleh Allah. Mezbah bukan berarti sibuk ini dan repot itu, melainkan hidup oleh Allah. Segala aktivitas dan pekerjaan tidak dapat menggantikan mezbah. Aku mutlak hidup oleh Allah, itulah kehidupan mezbah. Kurban persembahan dalam Perjanjian Baru adalah “mempersembahkan tubuh sebagai persembahan yang hidup”, seperti yang tercantum dalam Roma 12; bukan seperti yang terdapat dalam Perjanjian Lama yang sekali dibakar sudah habis. Setiap hari kita dibakar di atas mezbah, namun tetap hidup; tetap hidup, namun juga tetap dibakar sehingga tak tersisa bagi diri sendiri. Inilah kurban persembahan dalam Perjanjian Baru.
Begitu Allah menampakkan diri kepada Abraham, Abraham segera mempersembahkan diri kepada-Nya. Jika Anda berjumpa dengan Allah, Anda pasti juga akan mutlak mempersembahkan diri. Mustahil orang yang telah melihat Allah bisa dengan dingin duduk di sana. Reaksi dari perjumpaan dengan Allah adalah mezbah; setelah mengetahui karunia Allah, pasti disusul dengan mempersembahkan diri; setelah melihat kemurahan Allah, Anda pasti menjadi satu persembahan yang hidup; setelah menerima sorotan terang Tuhan, Anda pasti akan berkata, “Tuhan, apa yang harus kuperbuat?”
Abraham belum mendengar banyak doktrin tentang konsikrasi, ia juga tidak didorong oleh orang lain untuk mempersembahkan diri; tetapi begitu Abraham melihat Allah, ia segera mendirikan sebuah mezbah bagi Allah. O, saudara saudari perkara mempersembahkan diri adalah sesuatu yang spontan. Jika Allah menampakkan diri kepada seseorang, siapa pun dia, maka ia tidak dapat berbuat apa-apa kecuali hidup bagi-Nya. Ini terjadi pada diri Abraham dan juga pada diri setiap orang yang telah berjumpa dengan Allah selama 2.000 tahun sejarah gereja.
KEHIDUPAN KEMAH
Hasil dari mezbah adalah membawa masuk kemah. Kejadian 12:8 mengatakan, “Kemudian ia pindah dari situ ke pegunungan di sebelah timur Betel. Ia memasang kemahnya dengan Betel di sebelah barat.” Sejak saat itu, Abraham tinggal di rumah Allah — Betel; dan sejak hari itu ia memasang kemah. Ini bukan berarti Abraham tidak memiliki kemah sebelum ia dipanggil keluar, melainkan Allah tidak menyinggungnya. Sampai Abraham memiliki mezbah, barulah Firman Allah mewahyukan tentang kemah.
Apakah kemah itu? Kemah adalah sesuatu yang bisa berpindah-pindah, ia tidak menetap. Melalui mezbah Allah akan menanggulangi diri kita; dan melalui kemah Allah akan menanggulangi semua milik kita. Abraham memiliki mezbah, dan ia telah mempersembahkan semuanya kepada Allah. Lalu, apakah sejak saat itu Abraham tidak memiliki lagi bahkan sepotong pakaian pun? Tidak! Abraham masih memiliki ternak, domba, dan barang-barang lainnya; namun dia telah menjadi seorang penghuni kemah. Dengan kata lain, apa yang tersisa dari mezbah hanya dapat disimpan di dalam kemah. Di sini ada satu prinsip, yaitu segala sesuatu Anda harus diletakkan di atas mezbah, barang-barang selebihnya memang boleh Anda pakai, tetapi barang-barang itu bukanlah barang-barang Anda, melainkan barang-barang yang diletakkan di dalam kemah. Kita harus ingat, tanpa melalui mezbah, kemah tidak mungkin ada; namun barang yang diletakkan di atas mezbah belum tentu semua dibakar habis. Banyak barang, begitu diletakkan di atas mezbah segera terbakar habis; banyak barang, begitu dipersembahkan kepada Allah segera diambil oleh Allah, tidak disisakan untuk Anda. Tetapi ada juga barang yang setelah diletakkan di atas mezbah, Allah menyisakan sebagian untuk Anda pakai.
Barang-barang yang tersisa yang ditinggalkan untuk Anda pakai, hanya dapat Anda simpan di dalam kemah.
Kehidupan Abraham adalah satu kehidupan mezbah. Pada suatu hari, bahkan putra tunggalnya pun dipersembahkan di atas mezbah. Tetapi apa yang Allah perbuat? Ia tidak “mengambil” Ishak. Ya, apa yang Anda persembahkan di atas mezbah, benar-benar diterima oleh Allah; Dia tidak dapat membiarkan Anda hidup untuk diri sendiri, Allah tidak dapat membiarkan Anda hidup menurut kesenangan diri sendiri, Allah tidak dapat membiarkan Anda hidup bersandarkan kekuatan diri sendiri. Mezbah menuntut segala sesuatu Anda. Namun apa yang Anda taruh di atas mezbah itu belum tentu semuanya dibakar habis oleh Allah. Banyak barang, seperti Ishak, meskipun telah Anda taruh di atas mezbah, Allah kembali memberikan itu kepada Anda. Tetapi barang-barang yang sekarang ada di dalam tangan Anda itu, tidak lagi menjadi milik Anda, Anda hanya dapat meletakkannya di dalam kemah.
Ada orang yang bertanya, “Jika aku mempersembahkan segala sesuatu kepada Allah, apakah aku harus menjual segala milikku dan menyerahkan seluruh uangku? Jika aku mempersembahkan diri kepada Allah, lalu berapa jumlah perabot yang boleh kumiliki di rumah dan berapa banyak pakaian yang boleh ada dalam lemari untuk kupakai?” Banyak orang yang merasa sulit dengan pertanyaan semacam ini. Kita harus ingat bahwa kita mempunyai dua macam kehidupan; satu kehidupan di hadapan Allah, dan lainnya kehidupan di dalam dunia. Di hadapan Allah, segala sesuatu kita harus benar-benar diletakkan di atas mezbah; tetapi untuk hidup di dunia, kita masih memerlukan banyak benda materi. Untuk hidup di dunia, kita masih perlu sandang, pangan, dan papan. Kita patut mempersembahkan segala sesuatu kita kepada Allah dan hanya hidup bagi-Nya; tetapi jika Allah mengatakan bahwa sesuatu itu boleh tetap tinggal, maka kita pun menyisakannya. Namun demikian, kita harus menerapkan prinsip kemah untuk perkara-perkara yang disisakan-Nya itu, sebab benda-benda itu dikembalikan untuk memenuhi kebutuhan kita di bumi ini. Kalau aku tidak memerlukannya, aku boleh mengesampingkannya. Aku boleh memakai barang-barang itu, tetapi aku tidak terjamah olehnya. Barang-barang itu boleh ada di tanganku, juga boleh tidak ada; boleh ditambahkan, juga boleh dikurangi. Inilah kehidupan kemah.
Sebab itu, kita harus belajar satu pelajaran: kita tidak dapat menggunakan apa pun yang belum diletakkan di atas mezbah; apa yang telah diletakkan di atas mezbah, tidak dapat dengan kemauan diri sendiri menariknya kembali; dan apa yang dikembalikan Allah kepada kita, harus kita perlakukan menurut prinsip kemah.
MEZBAH YANG KEDUA
Kejadian 12:8 mengatakan, “Kemudian ia pindah dari situ ke pegunungan di sebelah timur Betel. Ia memasang kemahnya dengan Betel di sebelah barat dan Ai di sebelah timur, lalu ia mendirikan di situ mezbah bagi TUHAN dan memanggil nama TUHAN.” Inilah mezbah Abraham yang kedua. Mezbah telah mengantar kepada kemah dan kini kemah mengantar kembali kepada mezbah. Setelah ada mezbah, semua barang bukan lagi milik Anda; barang yang tersisa setelah melalui mezbah, haruslah ditaruh di dalam kemah. Tidak lagi ada benda yang patut mencengkeram Anda, hati nurani Anda di hadapan Allah penuh damai sejahtera, dan Anda dapat dengan penuh keberanian berkata kepada Allah, “Padaku tidak ada satu pun yang tidak kuserahkan kepada-Mu.” Jika demikian, kemah kembali akan membawa Anda ke mezbah. Tetapi jika barang-barang Anda telah berakar, dan Anda tidak bisa lagi memindahkannya, tidak dapat melepaskannya, itu berarti Anda telah tercengkeram olehnya, Anda tidak akan dapat memiliki mezbah yang kedua.
Ketika Anda mempersembahkan di atas mezbah, seharusnyalah Anda telah menyerahkan segalanya kepada Allah. Allah memang akan menyisakan beberapa untuk Anda pakai, tetapi Anda tidak bisa memilih apa-apa yang akan ditaruh di dalam kemah, memilih apaapa yang setelah diletakkan di atas mezbah akan kembali lagi kepada Anda. Segala sesuatu Anda hanya dapat diletakkan di atas mezbah. Kemudian apa yang ditinggalkan Allah haruslah Anda taruh di dalam kemah. Setiap benda yang akan ditaruh di dalam kemah, harus terlebih dulu melalui bertanya kepada Allah; jika Allah mengizinkan, barulah boleh. Tidak ada satu benda pun yang atasnya Anda boleh menentukan tinggal atau tidak. Pula, benda-benda yang ada di dalam kemah, setiap saat harus bisa kembali ke mezbah. Kapan Allah berfirman, “Benda ini tidak perlu Anda pertahankan.” Anda dapat dengan segera menyingkirkannya. Kalau Anda menggenggam erat benda itu dan berkata, “Ini kepunyaanku,” maka Anda telah kekurangan sebuah hati mezbah, kekurangan sebuah hati yang mempersembahkan. Jika demikian, Anda tidak akan memiliki mezbah yang kedua. Dan Anda tidak dapat berkata, “Ya, Allah, aku hidup adalah untuk-Mu.”
Allah menghendaki kita meletakkan segalanya di atas mezbah, kemudian kita dapat menaruh apa yang ditinggalkan-Nya untuk kita di dalam kemah. Setelah tindakan ini barulah ada mezbah kedua. Yang paling mustika adalah mezbah kedua. Karena suatu dorongan atau rangsangan, kita mudah sekali bergairah dan mempersembahkan diri. Tetapi setelah lewat tiga tahun, lima tahun, karena di dunia ini kita telah mendapatkan banyak, maka kita tidak bisa kembali ke mezbah. Kalau kehidupan kita tetap adalah kehidupan kemah, kalau kita bisa memiliki mezbah kedua, betapa mustikanya ini! O, benda material bukan masalah, masalahnya adalah bagaimana dengan persembahan Anda itu.
PEMULIHAN MEZBAH DAN KEMAH
Abraham juga pernah gagal. Dia meninggalkan mezbah dan kemah untuk turun ke Mesir. Tetapi kemudian dia memulihkan kembali. Bagaimana dia memulihkan itu? Kejadian 13:3-4 memberi tahu kepada kita, “Ia berjalan dari tempat persinggahan ke tempat persinggahan, dari tanah Negeb sampai dekat Betel, di mana kemahnya mulamula berdiri, antara Betel dan Ai, ke tempat mezbah yang dibuatnya dahulu di sana; di situlah Abraham memanggil nama TUHAN.”
Pemulihan adalah kembali kepada mezbah dan kemah. Hari ini, apakah Anda gagal? Apakah Anda jatuh? Adakah yang telah berubah dan tawar? Adakah yang turun ke Mesir, memiliki selera sendiri, memiliki harapan sendiri, memiliki kedambaan sendiri, memiliki tuntutan sendiri? Jika ada yang mencari jalan pemulihan, kembalilah kepada mezbah dan kemah. Firman Allah memperlihatkan kepada kita bahwa pemulihan Abraham adalah kembali lagi kepada kedudukan mezbah dan kemah yang semula. Jadi pemulihan adalah kembali kepada kemah, kembali kepada mezbah.
Apa yang terjadi setelah pemulihan Abraham? Kejadian 13:18 mencatat, “Sesudah itu Abram memindahkan kemahnya dan menetap di dekat pohonpohon tarbantin di Mamre, dekat Hebron, lalu didirikannyalah mezbah di situ bagi TUHAN.” Hebron berarti persekutuan; di sanalah terdapat persekutuan yang kekal, persekutuan yang terus menerus. Setelah Abraham tinggal di Hebron, ia mendirikan lagi sebuah mezbah di sana bagi Allah. Ingatlah, kalau kita mau memiliki persekutuan dengan Allah, kita tidak boleh meninggalkan mezbah.
Kiranya Allah memberi karunia kepada kita, agar di hadapan-Nya kita melihat betapa pentingnya persembahan itu, sehingga kita memperhidupkan satu kehidupan mezbah dan kemah.
PIKIRAN DAN PERASAAN KRISTUS YESUS
Pembacaan Alkitab:
Jadi, karena dalam Kristus ada nasihat, ada penghiburan kasih, ada persekutuan Roh, ada kasih mesra dan belas kasihan, sempurnakanlah sukacitaku dengan ini: Hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan, tanpa mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama daripada dirinya sendiri; dan janganlah tiaptiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga. Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku, “Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah, Bapa!
Filipi 2:1-11
Bagian ayat Alkitab di atas adalah bagian yang perlu kita perhatikan untuk bertindak sebagai orang Kristen.
Ayat 1, — “Jadi, karena dalam Kristus ada nasihat, ada penghiburan kasih, ada persekutuan Roh, ada kasih mesra dan belas kasihan.” Ayat ini seperti tidak ada apa-apanya, tidak mengandung arti yang dalam. Sebenarnya apakah arti ayat ini? Banyak orang setelah membaca ayat ini menganggapnya tidak berarti; tetapi, saya memberi tahu Anda, ayat ini sangat berarti, mempunyai arti yang sangat dalam sekali. Kalau kita bisa menemukan arti dari ayat ini, maka bisa melaksanakan ayatayat berikutnya dalam bagian ayat Alkitab ini. Boleh dikatakan ayat ini adalah “tanah” bagi ayat-ayat berikutnya. Sebutir benih tidak bisa ditabur di angkasa, karena tidak ada tempat untuk menumbuhkan akarnya. Ia harus ditabur di tanah yang cukup dalam, yang cukup subur, barulah ada harapan untuk bertumbuh. Ayat ini adalah tanah, mineral penyubur dan sumber air bagi sepuluh ayat berikutnya. Bila tidak ada ayat ini sepuluh ayat berikutnya akan sulit dilaksanakan.
Kata-kata “karena dalam Kristus ada . . .” ini sangat penting. Maksud Paulus, kalau dalam Kristus ada nasihat, maka dengan sendirinya timbul sehati sepikir yang disebut di bawahnya. Kalau dalam Kristus ada penghiburan kasih, dengan sendirinya tercapai suatu kasih yang disebut di bawahnya. Kalau dalam Kristus ada persekutuan Roh, ada kasih mesra dan belas kasihan, dengan sendirinya ada satu jiwa, satu tujuan. Kalau di dalam Kristus tidak ada nasihat, maka tidak bisa sehati sepikir. Kalau di dalam Kristus tidak ada penghiburan kasih, tidak ada kasih mesra dan belas kasihan, maka tidak mungkin bisa satu jiwa satu tujuan. Jadi kalau dalam Kristus mempunyai hal-hal ini, barulah dapat menghasilkan semuanya itu; kalau dalam Kristus tidak ada hal-hal ini, tidaklah mungkin ada semuanya itu.
Saudara saudari, apakah dalam Kristus ada nasihat? Apakah ada penghiburan kasih? Apakah dalam Kristus ada persekutuan Roh? Apakah ada kekuatan? Apakah ada kasih mesra dan belas kasihan? Kalau Anda dalam Kristus tidak memiliki apa-apa, bagaimana bisa melaksanakan apa yang dikatakan ayat-ayat yang selanjutnya? Kalau Anda dalam Kristus ada nasihat, penghiburan kasih, persekutuan Roh, hati Anda ada kasih mesra dan belas kasihan, maka mudah sekali untuk sehati sepikir, satu kasih, satu jiwa dan satu tujuan, sehingga sempurnalah sukacita Tuhan.
Paulus mengambil ayat 1 sebagai sumber, sebagai dasar, sebagai pupuk, sebagai suplaian untuk bertumbuh. Kalau tidak ada ayat ini, lalu Paulus menganjuri saudara-saudari di Filipi untuk sehati sepikir, satu kasih, satu jiwa, satu tujuan, tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia, rendah hati, memperhatikan kepentingan orang lain, dan lain-lain, akan bagaimanakah jawaban saudara saudari di Filipi terhadapnya? Mungkin mereka akan berkata, “Saudara, meskipun semuanya ini baik, tetapi kita tidak sanggup melaksanakannya. Kristus sanggup melaksanakannya, tetapi kita tidak mempunyai kekuatan Kristus, kita milik duniawi, bagaimana kita bisa melakukan itu? Kita sanggup mengasihi orang yang patut dikasihi, tetapi sulit mengasihi orang yang tidak patut dikasihi. Aku mempunyai pikiranku, orang lain mempunyai pikirannya sendiri; bagaimana bisa sehati sepikir?” Sebab itu, Paulus terlebih dulu menyelesaikan hal-hal yang menyulitkan, kemudian memberi tahu mereka, “Karena dalam Kristus ada”, sehingga semuanya itu menjadi mudah. Kalau ingin kenyang, harus makan makanan; kalau mau memiliki kekuatan, harus terlebih dulu diberi tenaga.
Ada seorang saudara berkata dengan baik, semua orang selalu menganjuri orang lain harus “mengeluarkan tenaga”, tetapi saya menganjuri orang lain harus “memasukkan tenaga”. Kalau tidak memasukkan tenaga, bagaimana bisa mengeluarkan tenaga? Inilah arti dari satu ayat ini. Paulus memperlihatkan kepada kita bahwa di dalam Kristus ada satu tenaga. Kalimat “di dalam Kristus” ini betapa penting! Karena di dalam Kristus, maka Anda mampu. Di luar Kristus, saya adalah orang berdosa. Di dalam Kristus, saya adalah orang yang beroleh selamat. Di luar Kristus saya kalah, tetapi di dalam Kristus saya menang.
Ayat 2, “Sempurnakanlah sukacitaku dengan ini: Hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan.” Adanya ayat ini, karena ada suplaian yang terdapat dalam ayat 1. Karena dalam Kristus ada, sebab itudi sini juga ada. Kalau sudah makan nasi tetapi masih tidak kenyang, berarti sia-sia memakannya. Kalau dalam Kristus ada . . . , maka di sini seharusnya juga bisa ada . . . “Hendaklah kamu sehati sepikir”, mengapa harus demikian? Bisakah? “Dalam satu kasih”, mungkinkah? Apakah dapat “satu jiwa satu tujuan”?
Pernah ada seorang sekerja bertanya bagaimana supaya bisa sehati? Apakah harus mengganti hatiku supaya sama dengan hati orang lain, atau mengganti hati orang lain supaya sama dengan hatiku? Kalau masih dua orang saja mudah melaksanakannya, tetapi kalau ada tiga orang, itu sulit. Akan menyuruh dua orang yang mana untuk mengganti hati mereka supaya sama dengan yang satu itu? Kalau ada lima orang, lima ratus orang atau seribu orang pasti lebih sulit lagi. Sekian banyak hati, bagaimana bisa sehati? Kita perlu sehati, dan ini akan mudah sekali kalau kita menuruti seperti yang dikatakan Paulus dalam ayat 5,
“Menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus.” Bukan saya meletakkan diri saya sendiri untuk sama dengan Anda; juga bukan Anda melepaskan diri Anda sendiri untuk sama dengan saya; melainkan menaruh hati (pikiran dan perasaan) Kristus di antara kita. Anda sehati dengan Kristus, saya juga sehati dengan Kristus. Berapa pun banyaknya kita, pasti mudah untuk sehati. Ketika kita melakukan satu perkara, Anda mempunyai irama Anda sendiri, saya memiliki nada saya sendiri; Anda mempunyai opini Anda, saya memiliki pendapat saya. Lalu, Anda yang harus taat pada saya, atau saya yang harus taat pada Anda? Ada orang berpendapat, Anda harus taat pada saya, tetapi ada juga yang berpendapat sayalah yang harus taat pada Anda. Semua ini bukan cara Allah. Cara Allah adalah “menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus”.
Kalau ada seorang saudara atau seorang saudari salah jalan, tidak mau taat kepada Allah, maka betapa Allah akan dirugikan karenanya! Kalau Anda dan saya bisa sehati, ini tidak saja membuat Allah gembira, juga membuat sukacita Allah sempurna. Di sini Paulus mewakili Tuhan. Hati Allah, hati Tuhan, hanya akan puas marem kalau kaum beriman memiliki keadaan seperti ayat tadi! Banyak hal yang bisa membuat Tuhan bersukacita, tetapi sehatinya orang Kristen, tidak saja membuat Tuhan bersukacita, juga membuat sukacita-Nya sempurna. Menyelamatkan manusia bisa membuat Tuhan bersukacita, tetapi sehati akan membuat sukacita Tuhan sempurna. Mulut berkata apa, hati juga berkata apa; mulut berkata demikian, apa yang dilakukan juga demikian; harus sehati sampai taraf demikian. Ayat ini menurut kata-katanya, berkaitan dengan hati. Baik sehati, sepikir, kasih, sejiwa, semuanya ini adalah kisah batin, bukan lahir. Allah dapat menggarap sampai satu taraf supaya kita bisa sehati, tidak saja di mulut, tetapi juga dalam hati.
Ada orang hanya di mulut saja mengatakan sehati, tetapi sesungguhnya di dalam hatinya tidak demikian, bahkan sangat tidak sama; sikap dan penampilannya menyatakan tidak sehati, orang-orang di sekitarnya juga bisa membuktikan ketidaksehatiannya, tetapi orang ini masih bersikeras berkata, kita sehati. Ini bukan sehati yang kita bicarakan di sini. Sehati yang dibicarakan di sini adalah berdasarkan ayat 1, “Karena dalam Kristus ada ...” maka bisa sehati.
Ayat 3, “Tanpa mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang siasia.Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama daripada dirinya sendiri.” Ayat ini menyatakan karena di dalam Kristus ada hal-hal ini, maka jangan ada hal-hal itu, atau seharusnya ada hal-hal yang demikian. Apa yang disebut dengan mencari kepentingan sendiri? (terjemahan lain adalah: bergolong-golongan). Arti dari bergolong-golongan adalah berpilih kasih. Di luar Tuhan ada nama seseorang yang menjadi sasaran Anda. Misalnya, ada perselisihan di antara dua orang, kalau Anda berkata,”aku berdiri di pihak ini,” maka Anda telah tidak benar. Seharusnya Anda hanya bisa karena Tuhan berdiri di pihak Tuhan; kalau tidak demikian, pasti timbul golongan-golongan.
Puji-pujian (atau kemuliaan) yang sia-sia adalah kemuliaan macam apa? Dalam Alkitab ada bagian yang mengatakan, “kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya”. Jadi kemuliaan itu berbobot, tidak mengambang. Kemuliaan yang melebihi segala-galanya ini hanya dapat dilihat oleh Allah. Kemuliaan yang tertampak, yang dapat dilihat oleh banyak orang, adalah kemuliaan yang sia-sia. Apakah yang didapat dalam kemuliaan ini? Tidak mendapat apa-apa, hanya ketamakan hati saja; selama-lamanya tidak mendapatkan apa-apa, siapa yang bisa mendapatkan sesuatu dari yang siasia?
Di antara saudara saudari, kadang kala timbul suatu pertengkaran yang patut disayangkan, yang disebabkan bergolong-golongan, atau karena menginginkan kemuliaan yang sia-sia. Anda ingin menjadi besar, aku juga ingin menjadi besar, kedua belah pihak tidak bisa saling menerima. Sesungguhnya ingin besar pun tidak bisa besar, karena masih ada yang lebih besar.
Ada orang ketika disanjung-sanjung, dipuji-puji, seolah-olah sangat mulia, sebenarnya kakinya berpijak pada kesia-siaan yang mengambang, tidak ada kemantapan. Saudara saudari, ingatlah: bahwa kemuliaan yang berasal dari manusia adalah kemuliaan yang sia-sia.
Ada satu kisah: Ada seorang sastrawan kenamaan Inggris yang menulis sebuah cerita yang sangat terkenal pula. Pada suatu hari, ia diundang oleh seorang bangsawan untuk menghadiri suatu pesta. Dalam pesta itu ia berjumpa dengan bangsawan perempuan yang memuji-muji betapa baiknya buku karangannya. Ia berdiri dan berkata pada perempuan itu, “Anda tidak patut memuji karangan saya.” Bagi dia, pujian perempuan itu adalah sesuatu yang memalukan.
Siapakah yang seharusnya memuji kita? Selain Tuhan, siapa pun seharusnya tidak layak memuji kita! Kita dipuji orang berarti kita telah direndahkan, lalu apakah kita masih menginginkan itu? Kalau kita mengharapkan kelak Tuhan berkata sepatah kata, hai hamba-Ku yang baik; mengharapkan hari itu menerima mahkota, bagaimana kita bisa menerima pujian manusia, tamak akan sanjungan mereka? Apalagi sebenarnya tidak ada seorang pun yang patut memuji kita.
Tidak saja kita tidak boleh menginginkan puji-pujian atau kemuliaan yang sia-sia, bahkan pada pihak positifnya, “hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama daripada dirinya sendiri.” Apakah rendah hati itu? Rendah hati berarti tidak meninggalkan kedudukan bagi diri sendiri. Siapa yang meninggalkan kedudukan bagi diri sendiri, selamanya tidak akan bisa rendah hati. Siapa yang berkata, aku mempunyai kekuasaan ini, aku seharusnya mendapatkan ini; ia selamanya tidak bisa rendah hati. Rendah hati adalah tidak menyisakan sedikit pun kedudukan bagi diri sendiri. Orang yang di mulut mengatakan perkataan yang rendah hati, belum tentu juga memiliki motivasi rendah hati. Banyak perkara boleh lewat melalui mulut seseorang, tetapi belum tentu melalui hatinya.
“Hendaklah dengan rendah hati” harus dinyatakan mulai dari sikap yang bagaimana? Ini dinyatakan dengan “seorang menganggap yang lain lebih utama daripada dirinya sendiri”. Menganggap orang lain lebih utama daripada diri sendiri adalah tanda seseorang rendah hati; ini seperti “merek dagang” dari rendah hati. Betapa sulitnya menganggap orang lain lebih utama daripada diri sendiri!
Saya pernah berjumpa dengan seorang beriman tua yang telah puluhan tahun melayani Tuhan. Ada seorang saudara bertanya kepadanya, “Di antara kebajikan orang Kristen, macam kebajikan apakah yang paling sulit?” Jawabnya, “Dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari dirinya sendiri” yang tercantum dalam Filipi 2:3. Memang benar, paling sulit untuk rendah hati! Dosa apakah yang membuat Iblis mendapat julukan Iblis? Sombong! Karena ia ingin setara dengan Yang Mahatinggi, maka ia jatuh. Dosa apakah yang membuat manusia menjadi orang berdosa? Juga sombong. Karena Adam ingin setelah makan buah pohon itu, maka ia bisa seperti Allah membedakan apa yang baik dan yang jahat. Begitu ia memakannya, ia pun jatuh. Sebab itu rendah hati adalah pekerti yang paling sulit dari segala kebajikan. Mungkin di atas bumi belum ada seorang pun yang bisa melakukannya. Kita masih bisa menemukan orang-orang yang mempunyai kekuatan, fasih lidah, talenta, tetapi sulit sekali menemukan orang yang benar-benar rendah hati.
Bagaimana bisa menganggap yang lain lebih utama daripada diri sendiri? Ada seorang beriman berkata dengan baik sekali, “Kalau melihat diri sendiri, lihatlah orang lama diri sendiri; kalau melihat orang lain, lihatlah orang baru orang lain.” Sungguh! Kalau kita melihat sifat bawaan kita, kebejatan kita; kemudian melihat kasih karunia Allah di atas diri orang lain, perubahan yang ada pada diri orang lain, maka pasti mau tidak mau kita akan menganggap orang lain lebih utama dari diri sendiri. Kaum beriman di Roma seharusnya mendapatkan bantuan rohani dari Paulus, tetapi Paulus masih ingin mendapatkan bantuan dari mereka, karena iman mereka telah tersiar ke seluruh bumi. Paulus ingin mendapatkan bantuan dari pekerjaan baru yang Allah kerjakan di tengahtengah mereka.
Saya pernah membicarakan suatu hal dengan seorang misionaris dari Barat, yaitu “Sebenarnya Tuhan banyak menuntut terhadap kaum beriman, atau kaum beriman banyak menuntut terhadap kaum beriman?” Maksud saya, mungkin Tuhan yang banyak menuntut; ini saya pandang dari kedudukan kita yang rendah, dan Tuhan begitu tinggi, bukankah Ia akan menuntut lebih banyak lagi? Ia menjawab: “Tidak”. Kembali saya bertanya, apa alasannya? Ia menjawab: “Yang kita lihat adalah kegagalan yang nyata dari seseorang, tetapi yang Tuhan lihat adalah kemenangan yang tersembunyi dari seseorang.” Benar. Saya mengakui bahwa ini adalah perkataan orang yang telah memiliki pengalaman yang sangat dalam. Yang kita lihat adalah, si A telah gagal sekali, dua kali, bahkan puluhan kali; tetapi yang Tuhan lihat adalah si A secara tersembunyi telah menang sekali, dua kali, bahkan seratus kali. Mungkin Anda mendapat ujian lima kali; dan Anda gagal lima kali; tetapi orang lain mungkin mendapat ujian tiga kali, hanya gagal sekali. Mungkin juga orang lain secara tersembunyi mempunyai banyak kemenangan yang tidak pernah Anda alami, juga tidak pernah Anda nampak. Anda menempuh sepuluh kali peperangan, Anda gagal sekali; mungkin orang lain malah mempunyai seratus kali peperangan, baru gagal sekali. Kalau kita memahami hal ini, mau tidak mau kita akan melihat orang lain lebih utama dari diri sendiri.
Ayat 4, “Dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga.” Ini bukan perkara yang mudah.Saya sendiri beberapa tahun ini karena kesehatan tubuh kurang baik, sering tidak mampu memperhatikan kepentingan orang lain! Sering kali, kita seolah terhadap urusan sendiri saja tidak bisa mengatasi, bagaimana bisa memperhatikan kepentingan orang lain? Memperhatikan kepentingan orang lain adalah satu kehidupan mengorbankan diri sendiri. Pernah saya berjumpa dengan seorang misionaris perempuan dari China Inland Misionary. Saya bertanya kepadanya, “Apakah dia pernah berjumpa dengan Tuan Hudson Taylor? Keistimewaan apa yang Anda lihat pada dirinya?” Ia berkata, “Menurut pengamatannya, ia mempunyai satu kelebihan yaitu kapan saja bertemu dengannya, ia seolah tidak ada urusan lain kecuali urusan Anda yang paling penting. Sebenarnya dalam sehari ia harus menulis banyak surat, harus menemui banyak orang, tetapi dia seperti tidak ada urusan lain, kecuali untuk memperhatikan kepentingan orang lain.” Inilah yang disebut mengorbankan diri. Oh! Kalau saja Tuhan seperti kita yang berhati dingin, tidak memperhatikan kepentingan orang lain, entah hari ini Anda berada di mana? Saya juga berada di mana? Yang diperhatikan Tuhan, semuanya adalah kepentingan orang lain. Ia mati karena pelanggaran dosa Anda dan saya. Kita harus dididik menjadi orang yang memperhatikan kepentingan orang lain.
Ayat 5, “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus.” Terjemahan lama, “Taruhlah di dalam hatimu ingatan ini yang sudah ada di dalam Kristus Yesus.” Ayat ini merupakan kesimpulan dari ayat 1-4. Di dalam Kristus ada nasihat, . . . dan banyak lagi. Kalau kita menaruh dalam hati kita ingatan yang sudah ada di dalam Kristus Yesus itu, maka semuanya akan beres, apa saja bisa dikerjakan. Mungkin ada orang yang akan bertanya, ingatan apa yang sudah ada dalam Kristus Yesus? Paulus selanjutnya menjawab dalam ayat 6-8 di bawah ini.
Ayat 6-7, “Yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.” Hak yang seharusnya dimiliki oleh Kristus, yang seharusnya didapatkan, yang sepatutnya didapatkan, yang sah menurut hukum, yaitu walaupun Ia dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan; tetapi Ia malahan “telah mengosongkan diri-Nya, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.” Hati Kristus adalah hati yang bagaimana? Ia meninggalkan hak-Nya yang sah, inilah hati Kristus. Mungkin Anda berpikir, si A harus memperlakukan Anda demikian. Tetapi, apa yang seharusnya didapatkan oleh Kristus, tidak Ia dapatkan. Ia setara dengan Allah, tetapi ini tidak dipertahankan, melainkan mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba. Inilah hati Kristus.
Saudara saudari, sering kali saya sangat merasakan bahwa hak yang sah itu paling tidak baik. Kita semua ingin mendapatkan hak yang sah, tetapi Tuhan berkata, “Kamu tahu bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa bertindak sebagai tuan atas rakyatnya, dan para pembesarnya bertindak sewenang-wenang atas mereka. Tidaklah demikian di antara kamu” (Mat. 20:25-26a). Ajaran dalam Injil Matius pasal 5 sampai 7, boleh disimpulkan dengan dua patah kata, yaitu melepaskan apa yang seharusnya Anda dapatkan, dan sebaliknya dengan sukacita menerima apa yang tidak seharusnya Anda dapatkan. Orang lain boleh dengan mata ganti mata, gigi ganti gigi. Tetapi Tuhan berkata, berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Melepaskan apa yang seharusnya didapat dan menerima apa yang seharusnya tidak didapat adalah kalimat yang padanya tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi. Baik di rumah maupun di luar, tidak ada seorang Kristen pun yang boleh berkata sepatah kata untuk haknya. Kalau Tuhan berkata, “Apakah Bapa bisa mengutus Aku,” bagaimana Bapa bisa mengutus-Nya? Tuhan berkata, “Aku dan Bapa adalah satu.” Tetapi Tuhan juga berkata, “Bapa lebih besar daripada Aku” (Yoh. 14:28).Apakah di antara Allah Tritunggal ada perbedaan besar kecil? Tidak ada. Besar kecil di sini bukan berasal dari kelahiran, melainkan dari kemauan. Bapa mengutus Putra, Putra mengutus Roh, inilah kerendahan hati dalam ke-Allahan.
Rupa hamba adalah kerendahan hati Tuhan, rupa manusia adalah Tuhan terbatas oleh manusia. Rupa hamba berlawanan dengan rupa Allah; manusia berlawanan dengan Allah. Allah itu tidak terbatas; tetapi manusia itu terbatas oleh ruang dan waktu, terbatas oleh makanan dan minuman, terbatas oleh tidur. Rupa Allah itu mulia; rupa hamba itu rendah. Hati Kristus rela merendahkan diri, membiarkan diri-Nya terbatas.
Ayat 8, “Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.” Tuhan taat kepada yang setara dengan-Nya, bukan taat kepada yang lebih besar daripada-Nya. Ketaatan Tuhan adalah mutlak taat, bahkan sampai mati di atas salib.
Saudara saudari, sudah seharusnya kalau orang Kristen itu lebih rukun, lebih saling mengasihi. Jalan dalam ayat 6-8 benar-benar adalah jalan salib! Kalau ada seorang saudara atau seorang saudari belum belajar mengorbankan diri, belum mau melepaskan haknya yang sah, belum tahu merendahkan diri kepada orang yang setara dengannya, itu berarti ia belum menempuh jalan salib. Ada seorang berkata, “Ada orang sering kali menganjuri orang lain menempuh jalan salib yang sempit, tetapi saya rasa, ia sendiri belum pernah memasuki jalan itu.” Benar, kalau kita tidak pernah berkorban, itu berarti kita belum pernah memasuki jalan salib. Sering kali kita ingin memilih jalan salib, siapa tahu, sering kali jalan salib berada dalam perkara-perkara seharihari yang menuntut Anda mengorbankan diri — mati.
Ada seorang saudari berjumpa dengan seorang dokter, dia adalah seorang beriman yang sangat lincah dalam The Brethern. Dokter ini berilmu tinggi, juga berpengetahuan dalam Alkitab, kalau berkhotbah sangat menarik. Tetapi, saudari ini berkata kepadanya, “Tuan, khotbah Anda tidak salah, tetapi jalan yang Anda tempuh salah.” Dokter ini menjawab, “Aku memberitakan jalan salib, kita semua harus menyangkal diri dan memikul salib.” Saudari itu berkata, “Tidak salah, tetapi aku melihat Anda belum pernah mati.” Dokter ini dengan rendah hati meminta bimbingan saudari ini. Lalu saudari ini berdasarkan Alkitab dengan terus terang berkata kepadanya. Di kemudian hari dokter ini menulis surat kepada saudari ini, katanya “Setelah Anda pergi, aku berkata kepada Allah, aku tidak tahu apakah salib itu? Apakah menempuh jalan salib itu? Apakah menyangkal diri? Tetapi ya, Allah, dalam ketidaktahuanku ini, aku mempersembahkan diriku, mohon Dikau mengajar aku supaya bisa menyangkal diri sendiri. Demikianlah, kesulitanku segera datang. Ketika istriku menentangku, dan kesabaranku habis, saat itu ada suara berkata, dalam hal-hal inilah kamu harus menyangkal diri, mati. Dulu aku selalu memberitakan salib, memberitakan menyangkal diri, tetapi aku tetap tidak tahu, sebenarnya di mana harus mati? Bagaimana caranya mati? Sekarang aku tahu, semua ini diwujudkan dalam pelaksanaan penempuhan hidup. Setelah aku berkata demikian, banyak orang bangkit menentangku, pasienku juga berubah. Aku baru mengetahui bahwa mati adalah di antara orang yang setara, kita perlu mati.”
Saudara saudari, banyak orang mengetahui kebenaran, mengetahui harus menyangkal diri. Tetapi harus mati di mana? Kita perlu mati di tengahtengah sesama kita, yaitu mati di tengah-tengah orang yang dapat kita lihat dan raba.
Semoga Allah memberkati kita, supaya kita di dalam Kristus sehati sepikir, satu kasih, satu jiwa, satu tujuan, sehingga sukacita Tuhan sempurna.
W.N.
MENGHITUNG HARI-HARI DIRI SENDIRI
“Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.”
Mazmur 90:12
“Dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat. Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan.”
Efesus 5:16-17
“Aku akan memulihkan kepadamu tahuntahun yang hasilnya dimakan habis oleh belalang pindahan, belalang pelompat, belalang pelahap dan belalang pengerip, tentara-Ku yang besar yang Kukirim ke antara kamu.”
Yoel 2:25
Dalam Kitab Mazmur tercantum doa Musa kepada Allah, “Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.” Hari-hari yang kita lalui, kalau dihitung dengan penanggalan umum, memang mudah sekali: sehari tentu terhitung sehari, setahun tentu terhitung setahun. Tetapi dalam pandangan Allah tidaklah demikian; hari-hari itu akan ada yang terhitung dan ada yang tidak terhitung. Hari-hari kita dalam dunia ini sangat terbatas. Bagaimanakah dalam hari-hari yang sangat terbatas ini kita bisa diperkenan Allah, agar sehari dapat terhitung sehari dan setahun dapat terhitung setahun? Masalah inilah yang akan kita perhatikan di sini.
I
Dalam Kejadian 4 dan 5, tercatat dua silsilah dari dua keluarga. Dalam pasal 4 terdapat silsilah keluarga Kain, dalam pasal 5 terdapat silsilah keluarga Set. Cara Alkitab mencatat kedua silsilah ini sangatlah berbeda. Silsilah Kain sangat ringkas, umur Kain dan anak cucunya tidak tercatat. Tetapi silsilah Set sangat jelas, tercatat si anu hidup sekian tahun, lalu memperanakkan si anu dan kemudian hidup sampai sekian tahun, lalu mati, . . . dan seterusnya. Demikianlah umur anak cucu Set, satu keturunan demi satu keturunan tercatat dengan jelas. Dari catatan yang berbeda itu, kita bisa menemukan prinsip perhitungan Allah terhadap hari-hari kita. Silsilah Kain tercatat demikian ringkas, disebabkan Kain telah berdosa terhadap Allah, ia menjauhkan diri dari hadapan Allah, tidak memiliki persekutuan dengan Allah. Sebaliknya, silsilah Set tercatat demikian jelas, karena Set seorang yang menggantikan Habel, yang memiliki persekutuan dengan Allah, diperkenan Allah. Jadi, perhitungan hari-hari kerohanian kita itu berdasarkan keadaan kita di hadapan Allah. Ketika kita menjauhkan diri dari Allah, kita mati dalam dosa dan pelanggaran, maka hari-hari kita tidak dihitung oleh Allah. Sampai kita bertobat dan berpaling kepada Allah, bersekutu dengan Allah, baru mulai saat itu hari-hari kerohanian kita dihitung oleh Allah.
Ketika bani Israel keluar dari Mesir, Allah berpesan kepada mereka, “Bulan inilah akan menjadi permulaan segala bulan bagimu; itu akan menjadi bulan pertama bagimu tiap-tiap tahun” (Kel. 12:2). Bulan pertama adalah bulan permulaan dalam satu tahun, merupakan permulaan dari perhitungan sepanjang tahun. Pada bulan pertama itu, bani Israel telah menyembelih anak domba Paskah, keluar dari Tanah Mesir, terlepas dari perbudakan Raja Firaun, maka Allah berpesan kepada mereka, agar bulan itu mereka jadikan bulan pertama. Mulai bulan itu bani Israel mempunyai satu permulaan yang baru di hadapan Allah.
Saudara saudari, berapa lamakah sejarah kerohanian Anda? Ada orang meskipun sudah berusia lanjut, sudah berusia 50 atau 60 tahun, tetapi usia rohaninya mungkin baru satu tahun atau satu bulan saja. Usia rohani dihitung mulai dari saat Anda diselamatkan, yaitu saat Anda dilahirkan kembali. Hari ketika Anda menerima karunia keselamatan itulah hari permulaan dari sejarah kerohanian Anda. Sebelum hari itu, hari-hari Anda tidak terhitung di hadapan Allah. Bahkan setelah satu tahun Anda percaya kepada Tuhan, belum tentu itu berarti usia rohani Anda juga telah satu tahun. Mungkin, telah lima tahun lamanya Anda percaya kepada Tuhan, tetapi belum tentu Allah melihat Anda sebagai seorang Kristen yang sudah berusia lima tahun. Dengan kata lain, walaupun Anda telah menjadi orang Kristen, masih ada hari-hari Anda yang tidak terhitung di hadapan Allah. Dari Alkitab dapat kita ketahui bahwa ada hari-hari yang dilalui tetapi tidak tercatat, karena hari-hari itu dalam pandangan Allah merupakan hari-hari yang kosong, tidak dapat dihitung. Ada pula hari-hari yang tercatat dalam Alkitab yang bisa menjadi peringatan bagi kita. Sekarang berdasarkan beberapa ayat Alkitab, marilah kita melihat hal-hal yang seharusnya kita pelajari.
II
Terlebih dulu mari kita lihat berapa lamanya sejak bani Israel keluar dari Mesir sampai saat Raja Salomo mulai mendirikan Bait Allah. Ini dapat kita ketahui melalui Kisah Para Rasul 13:18-22 yang mengatakan, “Empat puluh tahun lamanya Ia bersabar terhadap tingkah laku mereka di padang gurun. Setelah membinasakan tujuh bangsa di Tanah Kanaan, Ia membagi-bagikan tanah itu kepada mereka untuk menjadi warisan mereka selama kira-kira empat ratus lima puluh tahun. Sesudah itu Ia memberikan mereka hakim-hakim sampai pada zaman Nabi Samuel. Kemudian mereka meminta seorang raja dan Allah memberikan kepada mereka Saul anak Kish dari suku Benyamin, empat puluh tahun lamanya. Setelah Saul disingkirkan, Allah mengangkat Daud menjadi raja mereka . . .” (Daud menjadi raja empat puluh tahun lamanya, 2 Sam. 5:4). Jadi, berapa tahun lamanya mulai mereka keluar dari Mesir sampai saat Salomo mulai mendirikan Bait Allah? (Salomo mulai mendirikan Bait Allah, pada tahun keempat pemerintahannya). Jadi, 40 tahun ditambah 450 tahun, ditambah dua kali 40 tahun dan ditambah lagi 3 tahun sebelum Salomo mendirikan Bait Allah, sama dengan 573 tahun. Tetapi dalam 1 Raja-raja 6:1 tercatat demikian, “Dan terjadilah pada tahun keempat ratus delapan puluh sesudah orang Israel keluar dari Tanah Mesir, pada tahun keempat sesudah Salomo menjadi raja atas Israel, dalam bulan Ziw, yakni bulan yang kedua, maka Salomo mulai mendirikan rumah bagi TUHAN”. Di sini tercatat 480 tahun, bukan 573 tahun. Ada selisih 93 tahun! Mengapakah hitungan kedua kitab itu bisa terpaut 93 tahun? Apakah satu di antara kedua kitab itu ada yang salah hitung? Tidak, kedua-duanya tidak salah hitung. Hitungan kedua kitab itu berlainan, karena di dalamnya terkandung prinsip rohani yang penting sekali. Kisah Para Rasul tidak salah menghitung lamanya bani Israel mengembara di padang gurun, yaitu 40 tahun; 40 tahun lamanya Saul menjadi raja; 40 tahun lamanya Daud menjadi raja; waktu Salomo mulai membangun Bait Allah adalah 3 tahun setelah ia menjadi raja. Hitungan-hitungan itu sama sekali tidak ada masalah. Jadi masalahnya tentu terdapat pada 450 tahun itu. Hitungan Kitab 1 Raja-Raja dengan hitungan Kitab Kisah Para Rasul terpaut 93 tahun, di manakah penyebab selisih 93 tahun itu? Bila kita memeriksa Kitab Hakim-hakim, di sana kita bisa nampak satu kenyataan, yaitu dalam kurun waktu tersebut bani Israel berkali-kali ditindas oleh bangsa lain sehingga kehilangan kebebasan. Baiklah sekarang kita hitung juga berapa lama sebenarnya mereka teraniaya.
Hakim-hakim 3:8, “Lalu bangkitlah murka TUHAN terhadap orang Israel, sehingga Ia menjual mereka kepada Kusyan-Risyataim, raja Aram-Mesopotamia, dan orang Israel menjadi takluk kepada Kusyan-Risyataim delapan tahun lamanya”. Masa penganiayaan pertama bagi bani Israel adalah 8 tahun. Ayat 14, “Delapan belas tahun lamanya orang Israel menjadi takluk kepada Eglon, raja Moab.” Masa penganiayaan yang kedua adalah 18 tahun. Hakim-hakim 4:2-3, “Lalu TUHAN menyerahkan mereka ke dalam tangan Yabin, raja Kanaan, yang memerintah di Hazor. Panglima tentaranya ialah Sisera yang diam di Haroset-Hagoyim. Lalu orang Israel berseru kepada TUHAN, sebab Sisera mempunyai sembilan ratus kereta besi dan dua puluh tahun lamanya ia menindas orang Israel dengan keras.” Masa penganiayaan yang ketiga adalah 20 tahun. Hakim-hakim 6:1, “Tetapi orang Israel melakukan apa yang jahat di mata TUHAN; sebab itu TUHAN menyerahkan mereka ke dalam tangan orang Midian tujuh tahun lamanya.” Inilah penganiayaan yang keempat, 7 tahun. Sekali lagi pada Hakim-hakim 13:1, “Orang Israel melakukan pula apa yang jahat di mata TUHAN; sebab itu TUHAN menyerahkan mereka ke dalam tangan orang Filistin empat puluh tahun lamanya.” Inilah penganiayaan yang kelima, 40 tahun. Cobalah kita jumlah, berapa lamanya mereka mengalami lima kali penganiayaan dari bangsa lain itu? 8 tahun ditambah 18 tahun, ditambah 20 tahun, ditambah 7 tahun ditambah lagi 40 tahun. Tepat sekali 93 tahun; tidak kurang pun tidak lebih. Sekarang kita sudah menemukan kekurangan hitungan di antara Kitab 1 Raja-raja dengan Kitab Kisah Para Rasul. Jadi, 93 tahun itu terhitung dalam Kisah Para Rasul, disebabkan Paulus sedang mengisahkan sejarah mereka; sedang Kitab 1 Raja-raja menitikberatkan keadaan mereka di hadapan Allah, sebab itu 93 tahun tadi tidak terhitung, yang terhitung hanya 480 tahun.
Tidak terhitungnya 93 tahun itu mengandung arti yang sangat besar. Tahun-tahun itu adalah tahun-tahun yang hilang. Oh, ketika orang Israel kehilangan kebebasan mereka, mereka mengabdi kepada orang kafir dan tidak mempunyai hakim sendiri, maka tahun-tahun mereka tidaklah terhitung di hadapan Allah. Bangsa Israel adalah bangsa milik Allah, dan mereka sudah diselamatkan keluar dari Mesir, tetapi bila mereka berada di bawah pemerintahan musuh, menjadi hamba musuh, terbelenggu sehingga tidak dapat dengan bebas mengabdi kepada Allah, maka hari-hari itu sama sekali tidak terhitung. Saat mereka di luar Allah masih mengabdi kepada yang lain, itulah saat-saat yang hilang, hari-hari itu tidak dapat dihitung oleh Allah. Saudara saudari, kita harus menghitung hari-hari kita. Sejak kita beroleh selamat sampai sekarang, berapa banyakkah hari-hari kita yang terhitung oleh Allah? Boleh jadi Anda sudah 8 atau 10 tahun lamanya percaya kepada Tuhan, namun dalam tahuntahun itu, berapa banyak yang telah Anda lalui dengan sembarangan dan sia-sia? Berapa banyak waktu yang terhilang? Oh, hari-hari yang kita siasiakan itu terlalu banyak! Kalau hari-hari kita yang terhitung di hadapan Allah dijumlahkan, adakah genap satu tahun? Kita harus tahu, bahwa hari-hari yang kita lalui menurut kemauan diri sendiri, hari-hari yang menjauhi Allah, hari-hari yang gagal, hari-hari yang jatuh, itu semua sama sekali tidak terhitung di hadapan Allah. Baiklah kita masing-masing bertanya kepada diri sendiri, telah sekian lama kita menjadi orang Kristen, berapa harikah yang kita lalui dengan sia-sia, berapa pula yang terhitung oleh Allah?
Oh, hari-hari yang tanpa persekutuan dengan Allah, adalah hari-hari yang tidak terhitung oleh Allah. Saudara saudari, di antara kita tidak ada seorang pun yang boleh menyianyiakan waktunya.
III
Jangan mengira bahwa hari-hari yang hilang itu tidaklah terlalu banyak, hanya sedikit saja. Kalau kita melihat perjalanan bani Israel di padang gurun, kita akan nampak betapa seriusnya kesia-siaan waktu itu. Setelah orang Israel keluar dari Mesir, mereka tiba di padang gurun Sinai pada bulan ketiga (Kel. 19:1). Mereka tinggal di padang gurun Sinai selama 10 bulan. Pada tahun kedua, bulan kedua, tanggal dua puluh, mereka meninggalkan Gunung Sinai menuju tempat yang dijanjikan Allah (Bil. 10:11-12). Ulangan 1:2 mengatakan, “Sebelas hari perjalanan jauhnya dari Horeb sampai Kadesy-Barnea, melalui jalan pegunungan Seir.” Kadesy-Barnea terletak di perbatasan Tanah Kanaan. Ini berarti, dari Gunung Sinai sampai ke Tanah Kanaan, hanya memerlukan waktu perjalanan sebelas hari saja. Tetapi setelah mereka tiba di Kadesy-Barnea, mereka tidak percaya kepada Allah, sebab itu mereka tidak dapat masuk ke dalam Tanah Kanaan. Demikianlah mereka terlunta-lunta mengembara di padang belantara selama 38 tahun, barulah kemudian anak cucu mereka dapat masuk ke Tanah Kanaan.
Betapa besar putaran yang mereka kelilingi itu! Bukan hanya 3 atau 5 tahun, tetapi 38 tahun! Sebenarnya perjalanan ke Tanah Kanaan itu tidak sampai dua tahun, namun kini mereka harus berjalan selama 38 tahun! Dalam perjalanan kerohanian kita, entah sudah berapa banyak waktu yang hilang sia-sia. Ada masalah yang sebenarnya dapat diselesaikan tiga atau lima hari, tetapi di atas orang-orang tertentu masalah itu masih juga belum terselesaikan setelah 3 atau 5 tahun lamanya. Ini sama dengan bani Israel terlunta-lunta, menyia-nyiakan banyak waktu di padang gurun. Kerugian ini adalah kerugian yang betapa besar! Jangan sekali-kali kita menganggap ini perkara sepele.
IV
Perkara ini juga dapat kita lihat pada diri Abraham. Dalam seumur hidup Abraham, kita dapat mengetahui hari-harinya yang terhitung dan hariharinya yang tidak terhitung. Menurut Kisah Para Rasul 7:2-3, ketika Abraham berada di Mesopotamia (yakni Ur-Kasdim), Allah menyatakan diri dan bersabda kepadanya, “Keluarlah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan pergilah ke negeri yang akan Kutunjukkkan kepadamu.” Bagaimana sikap Abraham terhadap firman Allah? Jika tidak taat, hatinya merasa tidak tenteram, tetapi ia pun tidak rela taat dengan mutlak. Akhirnya ia taat dengan setengah-setengah. Allah menghendaki Abraham meninggalkan kaum keluarganya, tetapi ia masih bersama keluarganya. Abraham tidak pergi sendirian, ia membawa Lot kemenakannya dan juga bersama Terah, ayahnya. Allah menghendakinya ke Kanaan, tetapi setelah ia tiba di Haran, ia tinggal di sana (Kej. 11:31). Inilah keadaan orang Kristen yang tidak patuh dengan mutlak. Ada orang Kristen, kalau kita katakan ia dingin, tetapi masih mempunyai sedikit rasa panas; kalau kita katakan ia panas, kepanasannya pun tidak riil. Demikianlah keadaan Abraham saat itu. Ia telah meninggalkan Tanah Ur-Kasdim, tetapi belum masuk ke Tanah Kanaan; dia sama dengan keadaan orang Kristen yang berada di tengah jalan.
Setelah Terah, ayahnya, meninggal, Allah sekali lagi memanggilnya (Kej. 12:1). Kali ini Allah memanggilnya dari Haran. Kehendak Allah takkan pernah berubah. Ia telah menetapkan sesuatu, Ia pasti akan menggenapinya. Allah menghendaki Abraham pergi ke Kanaan, tujuan ini takkan berubah oleh berdiamnya Abraham di Haran. Kali pertama Allah memanggil Abraham, Abraham hanya taat setengah, karena itu Allah sekali lagi memanggilnya. Ketika Abraham taat kepada panggilan Allah dan keluar dari Haran, Alkitab segera menyebut saat itu umur Abraham adalah 75 tahun (Kej. 12:4). Alkitab tidak pernah menyebut umur Abraham saat ia masih di Ur-Kasdim atau saat ia di Haran. Tetapi setelah ia meninggalkan Haran, barulah Alkitab mencatat usianya. Ini menyatakan kepada kita saat itu adalah satu permulaan yang lain dalam hidup Abraham. Hari-hari Abraham di Haran, hari-hari ia berhenti di tengah jalan, adalah hari-hari yang hilang dan tidak terhitung oleh Allah.
Saudara saudari, jika kita merenungkan kembali sejarah hidup kita, sungguh banyak waktu kita yang hilang! Ingatlah, seluruh waktu yang di Haran tidak diperhitungkan oleh Allah. Sering kali kita berlaku sesuka hati sendiri, malas, mencari kenyamanan hidup, dan berhenti di tengah jalan, itu semua sama dengan tinggal di Haran, yang demikian tidak terhitung. Jika Abraham ingin mendapat berkat Allah, ia harus keluar dari Haran.
Pada waktu Abraham berumur 75 tahun, yaitu saat ia keluar dari Haran, barulah Allah menganggap hari itu perlu dicatat. Allah menghendaki manusia dengan mutlak taat kepada-Nya.
Tidak hanya sekali itu saja Abraham kehilangan hari-harinya, dalam hal memperoleh anak, ia juga pernah mengalami kerugian yang besar. Allah telah berjanji kepadanya bahwa ia akan mempunyai seorang anak. Tetapi Abraham malah mendengar anjuran istrinya, yaitu mengambil Hagar, hamba perempuan itu, menjadi gundiknya, perbuatan ini adalah satu dosa di hadapan Allah. Walaupun Hagar dapat melahirkan seorang anak baginya, tetapi anak itu bukan diperoleh berdasarkan janji Allah, melainkan berdasarkan usaha tubuh daging sendiri. Sebab itu, kalau kita membaca Kejadian 16, pada akhir pasal itu kita nampak Abraham berusia 86 tahun, tetapi begitu kita meneruskan membaca pasal 17 ayat pertama, kita nampak Abraham sudah berusia 99 tahun. Nyatalah ada kekosongan waktu 13 tahun lamanya. Selama 13 tahun itu tidak tercatat perkara apa yang telah dikerjakannya, tidak terlihat ia mendirikan mezbah untuk Allah, tidak terlihat Allah menyatakan diri kepadanya, juga tidak terlihat bahwa ia mendapat wahyu atau janji yang baru dari Allah. Hari-hari itu kosong, seolah-olah tidak ada hari-hari itu. Hari-hari itu adalah hari-hari bertambah besarnya Ismael, dan hari-hari itu bagi Abraham sama sekali kosong dan hilang.
Saudara saudari, dalam beberapa tahun ini, apakah Anda mendapat pengalaman yang baru, terang yang baru, dan berita-berita yang baru? Dalam beberapa tahun ini, adakah orang yang beroleh selamat karena Anda? Dalam beberapa tahun ini, adakah orang lain mendapatkan bantuan dari Anda? Dalam beberapa tahun ini, adakah pengenalan Anda terhadap Allah bertambah dalam? Terhadap janji Allah, apakah Anda mempunyai jaminan yang makin segar dan baru? Kepada Allah apakah Anda mempunyai persembahan yang baru? Kalau perkara-perkara di atas satu pun tidak ada pada Anda, itu membuktikan bahwa waktu Anda sudah hilang sia-sia. Pernah seorang saudari tua berkata, “Seorang Kristen hidup di dunia, waktu sehari haruslah terpakai semuanya, inilah jalan memperoleh pahala.” Namun sangat kasihan, adakalanya bahkan sering kali waktu sepuluh hari bagi kita ternyata tidak cukup terhitung satu hari! Saudara saudari, betapa baiknya jika tiap hari kita dapat melalui kehidupan kristiani kita dengan cermat dan teliti. Jika kita hidup dengan sembarangan, durhaka, berdosa kepada Allah, dan berlaku menurut kemauan sendiri, dalam pandangan Allah, hari-hari kita itu sama sekali telah terhambur dengan sia-sia. Menyia-nyiakan waktu adalah perbuatan yang sangat disayangkan!
Mengapa Alkitab mencatat lagi umur Abraham ketika ia berusia 99 tahun? Sebab pada tahun itu ia disunat. Satu tahun setelah ia disunat, Ishak, anaknya terlahir. Sunat berarti menyingkirkan tubuh daging. Hari-hari kita berbuat sesuatu demi tubuh daging, hari-hari itu adalah hari-hari yang sia-sia bagi kita. Kiranya mulai hari ini kita dapat menyingkirkan segala sesuatu yang dimiliki tubuh daging, dan mempersembahkan segenap diri kita di atas mezbah, agar tidak ada lagi hari-hari kita yang sia-sia. Jangan sampai setelah kita menempuh hidup selama 50 tahun, tetapi yang 49 tahun hilang sia-sia. Wajiblah kita hitung, berapa waktu yang telah sia-sia dan berapa yang tersisa. Jika kita ingin setiap hari menantikan kedatangan Tuhan, kita harus setiap hari memperhatikan waktu kita!
V
Dalam Matius 20, Tuhan mengatakan satu perumpamaan tentang seorang tuan rumah yang berkali-kali memanggil orang bekerja di kebun anggurnya. Dalam perumpamaan ini harus kita perhatikan kata “menganggur”. “Kira-kira pukul sembilan pagi ia keluar lagi dan dilihatnya ada lagi orang-orang lain menganggur di pasar. Katanya kepada mereka: Pergilah juga kamu ke kebun anggurku. Kira-kira pukul dua belas dan pukul tiga petang ia keluar dan melakukan sama seperti tadi. Kira-kira pukul lima petang ia keluar lagi dan mendapati orang-orang lain pula, lalu katanya kepada mereka: Mengapa kamu menganggur saja di sini sepanjang hari? . . Pergi jugalah kamu ke kebun anggurku.” Perumpamaan ini memberi tahu kita bahwa Allah tidak senang melihat kita menganggur, Ia senang melihat kita bekerja. Perumpamaan ini juga memberi tahu kita bahwa Allah memiliki satu lingkungan pekerjaan yang telah ditentukan-Nya — kebun anggur. Mungkin Anda berkata bahwa Anda selalu sibuk bekerja, sedikit pun tidak menganggur. Tetapi di manakah Anda sibuk bekerja? Jika Anda bukan bekerja di dalam kebun anggur-Nya, tidakkah itu sama dengan Anda sedang menganggur? Tak peduli berapa banyak pekerjaan Anda, jika semuanya itu tidak berada dalam kehendak Allah, dalam pandangan Allah Anda sama seperti menganggur. Boleh jadi Anda sangat sibuk mengerjakan pekerjaan kerohanian, tetapi mungkin Allah akan berkata kepada Anda, “Mengapa kamu menganggur saja di sini sepanjang hari? Pekerjaan yang kamu lakukan di luar kebun anggur, sama sekali bukan milik-Ku!” Meskipun Anda mengira bahwa Anda sangat sibuk bekerja, tetapi dalam pandangan Allah Anda sangatlah kosong. Pekerjaan yang diperkenan Allah adalah pekerjaan yang berada di dalam kebun anggur itu. Pekerjaan di dalam kebun anggur menyatakan bahwa pekerjaan yang Anda lakukan itu berasal dari Allah dan untuk Allah. Kalau pekerjaan Anda di luar kehendak Allah, maka semua waktu yang telah Anda gunakan sia-sia saja, dalam pandangan Allah sama dengan menganggur.
Tuan itu berkata kepada orang-orang itu (pada pukul lima petang), “Mengapa kamu menganggur saja di sini sepanjang hari?” Kata “sepanjang hari” ditujukan kepada “seumur hidup manusia”. Saudara saudari, bagaimana dengan Anda? Anda sedang menganggur atau sedang bekerja di dalam kebun anggur? Janganlah Anda salah mengerti, ini bukan berarti Anda harus meninggalkan pekerjaan Anda lalu pergi menjadi penginjil. Yang penting ialah sewaktu kita mengerjakan pekerjaan apa saja, kita harus jelas bahwa kedudukan kita sekarang adalah di dalam kehendak Allah. Bekerja di dalam kebun anggur berarti bekerja di dalam kehendak Allah. Di dalam kebun anggur itu ada bermacam-macam pekerjaan, mencangkul tanah, menanam benih, ada pula memotong dan merapikan daun-daun dan pepohonan. Tak peduli pekerjaan apa saja yang Anda lakukan dalam kebun itu, asal untuk faedah kebun itu, cukuplah. Sebab itu, janganlah kita berkeinginan bahwa kita harus seperti si anu, barulah terhitung mengerjakan pekerjaan Allah, atau kita harus mengerjakan pekerjaan tertentu baru terhitung mengerjakan pekerjaan Allah. Tidak! Bukan demikian. Asal waktu itu kita pergunakan di dalam kebun anggur, maka waktu kita sudah terhitung oleh-Nya.
Saudara saudari, mungkin Anda telah 3 atau 5 tahun lamanya beroleh selamat, bahkan mungkin sudah 10, 20 tahun, tetapi berapa banyak waktu yang benar-benar Anda gunakan untuk Allah? Memang, Anda sudah banyak bekerja, tetapi semua pekerjaan Anda itu untuk siapa? Asal Anda benar-benar tahu bahwa Anda sedang bekerja sesuai dengan kehendak Allah, maka pekerjaan apa saja yang Anda lakukan, itu semua baik. Allah tidak menghendaki semua orang Kristen meninggalkan pekerjaannya untuk khusus menjadi penginjil. Mungkin orang yang khusus menjadi penginjil justru tidak bekerja sesuai dengan kehendak Allah. Masalahnya tergantung kepada bagaimana hati Anda terhadap kehendak Allah. Sebab itu persembahan adalah satu perkara yang tidak boleh kurang. Sejak Anda beroleh selamat sampai sekarang, jika Anda sedikit pun tidak ada hati untuk Allah, maka Anda adalah seorang yang menganggur dalam seumur hidup Anda.
VI
Ketika Paulus menulis surat kepada orang-orang kudus di Korintus, ia mengatakan, “Susulah yang kuberikan kepadamu, bukan makanan keras, sebab kamu belum dapat menerimanya. Sekarang pun kamu belum dapat menerimanya. Karena kamu masih manusia duniawi (milik daging) . . . “ (1 Kor. 3:2-3). Sesuai dengan yang kita ketahui, sejak kali pertama Paulus pergi ke Korintus memberitakan Injil, sampai saat ia menulis surat yang pertama kepada mereka, hanya terpaut beberapa tahun saja. Tetapi Paulus sudah merasa tidak ada kemajuan rohani atas diri mereka. Paulus tidak mengatakan, “Karena mereka belum berapa lama menjadi orang Kristen, maka wajarlah kalau masih kekanakkanakan.” Maksud Paulus ialah mereka seharusnya sudah bertumbuh dewasa, namun mereka belum juga bertumbuh, mereka sudah banyak membuang waktu mereka dengan siasia. Seharusnya mereka sudah menjadi orang yang tegap perkasa, bisa makan makanan keras, tetapi mereka telah melewatkan hari-hari mereka dengan sia-sia; keadaan mereka tetap masih seperti kanak-kanak yang milik daging. Seharusnya mereka sudah mempunyai pengalaman dalam kepatuhan kepada Tuhan, bersandar kepada Tuhan dan menempuh jalan Tuhan, bahkan seharusnya sudah bisa memimpin orang lain, tetapi sampai sekarang mereka masih belum juga mengerti hal-hal itu. Sudah bertahun-tahun mereka menjadi orang Kristen, tetapi keadaan mereka masih tetap seperti bayi. Rasul Paulus merasa hal ini tidak sepatutnya. Saudara saudari, jika Anda berpikir karena Anda hanya beberapa tahun menjadi orang Kristen, maka wajar jika Anda masih serupa dengan seorang bayi, pikiran demikian ini sangat keliru! Berapa lamakah umur hidup Anda? Berapa lamakah hari-hari Anda menjadi orang Kristen? Jika Anda sudah menjadi orang Kristen 8 tahun atau 10 tahun, tetapi keadaan Anda masih seperti ketika Anda baru dilahirkan kembali, masih milik tubuh daging, masih seperti bayi, itu berarti Anda sudah menyia-nyiakan banyak waktu Anda.
Oh, saudara saudari, berapa tahunkah kita hidup di dunia ini? Tujuh puluh tahun? Delapan puluh tahun? Betapa pendek waktu itu! Dalam tahuntahun yang sependek itu masih harus dipotong waktu-waktu kita belum beroleh selamat, masih ada berapakah sisanya? Tahukah Anda, berapa lama Anda bisa hidup di dunia ini? Anda sudah hidup selama 60 tahun, tetapi mungkin Allah berkata, “Hidupmu di hadapan-Ku tidak sampai 10 tahun.” Anda sudah hidup selama 50 tahun, namun mungkin Allah berkata, “Hidupmu di hadapan-Ku belum ada beberapa hari.” Kalau hari-hari Anda banyak yang hilang, sungguh sangat kasihan.
VII
Saudara saudari, betapa sedihnya hati ini jika teringat akan hari-hari yang kita lalui dengan sia-sia itu. Tetapi puji syukur kepada Allah, Ia masih memberi satu hiburan kepada kita, yaitu yang tersurat dalam Yoel 2:25, “Aku akan memulihkan kepadamu tahun-tahun yang hasilnya dimakan habis oleh belalang . . . .” Puji syukur kepada Allah, Allah masih mempunyai satu jalan. Mungkin Anda sekarang sudah berusia 60 tahun, dan sudah menyia-nyiakan waktu sebanyak 30 atau 40 tahun, mungkin Anda berkata, “Ah, kesempatan sudah lewat, hari-hariku yang kuat dan perkasa itu sudah habis dimakan belalang, hari-hari yang lenyap itu tidak bisa didapat kembali, apa yang harus kulakukan sekarang?” Syukur kepada Allah, Ia dapat memulihkan tahun-tahun kita yang sudah dimakan habis oleh belalang itu. Jika kita menyia-nyiakan waktu kita, mungkin 10 tahun hanya bisa terhitung satu hari saja, tetapi jika kita menyayangi waktu kita, mungkin satu hari dapat menggantikan seribu hari. Daud berkata, “Sebab lebih baik satu hari di pelataran-Mu daripada seribu hari di tempat lain . . . .” (Mzm. 84:11). Hari-hari di surga bukan dihitung dua puluh empat jam. Allah mempunyai hitungan yang lain. Jika pelayanan kita sesuai dengan kehendak-Nya, kita dapat menukar satu hari kita dengan banyak hari, bahkan bertahun-tahun.
Dulu ada seorang muda yang hidup dalam kesenangan dunia dan dosa. Suatu hari ia terkena penyakit paru-paru cukup parah, hampir meninggal dunia. Ada seorang hamba Tuhan yang sudah berusia lanjut memberitakan Injil Tuhan kepadanya. Ia memberi tahu bahwa Tuhan sudah menanggung segala dosanya, lalu menganjurkannya bertobat, mengaku dosa dan menerima Tuhan Yesus menjadi Juruselamat. Pada mulanya orang muda itu merasa susah sekali, ia berpikir, “Seorang dosa seperti aku ini, masihkah Tuhan mau mengampuni?” Tetapi akhirnya ia sungguh-sungguh menerima Tuhan. Ia beroleh selamat dan merasa sangat gembira dan tenteram. Beberapa hari kemudian, hamba Tuhan itu datang lagi menjenguknya, tetapi terlihat olehnya orang muda itu bermuram durja, sangat risau. Ia bertanya, “Apa yang terjadi? Jangan membiarkan Iblis menipumu.” Orang muda itu menjawab, “Tidak, aku tahu bahwa dosaku sudah diampuni.” “Kalau begitu, apakah yang kaurisaukan?” Dengan sedih hati orang muda itu menjawab, hari-hariku di dunia ini sudah hampir habis. Kalau aku berdiri di hadapan Tuhan kelak, apakah yang dapat kubawa kepada Tuhan? Tanganku sama sekali kosong. Bagaimana aku bisa menjumpai Tuhan dengan hampa tangan?” Ternyata orang muda ini sedih dan risau karena ini. Orang tua itu berkata kepadanya, “Jangan khawatir! Saya akan mengarang sebuah nyanyian dengan memakai perkataanmu tadi. Semoga ada orang yang tergerak oleh nyanyian ini sehingga menjadi penginjil dan mendapatkan jiwa-jiwa, hasilnya akan terhitung sebagai hasilmu untuk Tuhan.” Nyanyian ini akhirnya menjadi salah satu nyanyian yang termasyhur, yang berjudul “Bolehkah dengan hampa tangan, kupulang jumpa Tuhan?” Kemudian benar-benar terjadi, banyak sekali orang yang tergerak karena nyanyian ini. Mereka bergairah bekerja untuk Tuhan. Orang muda itu, walaupun telah kehilangan hampir seluruh waktu dalam hidupnya, tetapi menjelang ajalnya, ia memiliki sedikit hati untuk Tuhan, dan Tuhan mau menggenapkan minatnya itu.
Saudara saudari, baiklah kita masing-masing menghitung hari-hari kita sendiri! Semoga hari-hari kita yang hilang dapat diperoleh kembali. Semoga hari-hari kita, sehari dapat ditukar dengan seribu hari. Semoga langkah kita setindak demi setindak tetap berjalan di dalam terang kehendak Allah!
SALAH SATU TANDA
SEBELUM KEDATANGAN TUHAN KALI KEDUA
Salah satu tanda sebelum kedatangan Tuhan kali kedua adalah begitu banyaknya harta benda dan orang yang menimbun harta benda, yang tidak terjadi sebelumnya, dan ini merupakan peringatan bagi orang Kristen untuk mengambil sikap yang tepat!
SALAH SATU TANDA SEBELUM KEDATANGAN TUHAN KALI KEDUA:
MENIMBUN HARTA BENDA
Pembacaan Alkitab : Yakobus 5:1-5
"Jadi sekarang hai kamu orang-orang kaya, menangislah dan merataplah atas sengsara yang akan menimpa kamu! Kekayaanmu sudah busuk, dan pakaianmu telah dimakan ngengat! Emas dan perakmu sudah berkarat, dan karatnya akan menjadi kesaksian terhadap kamu dan akan memakan dagingmu seperti api. Kamu telah mengumpulkan harta pada hari-hari yang sedang berakhir. Sesungguhnya telah terdengar teriakan besar, karena upah yang kamu tahan dari buruh yang telah menuai hasil ladangmu, dan telah sampai ke telinga Tuhan semesta alam keluhan mereka yang menyabit panenmu. Dalam kemewahan kamu telah hidup dan berfoya-foya di bumi, kamu telah memuaskan hatimu sama seperti pada hari penyembelihan".
Pada kalimat pembukaan kitab Yakobus pasal 5 tercantum kata "hai", di sini kata ini bernada keluhan dan jarang sekali dipakai di dalam Perjanjian Baru. Ketika rasul Yakobus menulis sampai di sini, ia mengeluh. Mengeluh pun ia tulis, karena ia menganggap perkara-perkara yang akan diutarakannya pada kalimat selanjutnya, semuanya tidak benar, perkara-perkara itu tidak seharusnya terjadi. Dengan mengeluh ia berkata, "Hai kamu orang-orang kaya, menangislah dan merataplah." Menangis di sini berarti terisak-isak, sedang meratap ialah menangis dengan suara keras. Mengapa semua orang kaya harus menangis, tidak peduli terisak, atau menangis dengan keras? Karena "sengsara akan menimpa kamu", yaitu akan ada sengsara yang ditentukan oleh Allah menimpa atas diri mereka. Sebab itu mereka tidak seharusnya bersukaria, melainkan harus bersedih hati.
Perkara-perkara yang terjadi di beberapa tempat akhir-akhir ini, dalam pandangan kita sebagai orang Kristen, sedikit pun tidaklah aneh. Sebelum Tuhan datang kembali, ada satu tanda yang jelas, yaitu di dalam kurun waktu ini, banyak orang akan menimbun harta dan hal ini tidak pernah terjadi sebelumnya. Dengan kata lain, sebelumnya tidak ada harta atau kekayaan yang begitu banyak, sebanyak menjelang saat kedatangan Tuhan kembali. Pada akhir zaman, orang-orang dunia akan memperhatikan menimbun harta benda. Pengertian orang tentang "banyak uang" atau "sedikit uang" pada lima puluh tahun atau seratus tahun yang lalu, berbeda dengan pengertian mereka pada hari ini tentang hal yang sama. Sepanjang sejarah selalu ada hartawan, namun tidak sebanyak masa kini. Dahulu orang menyebut hartawan itu "Jutawan"; hari ini banyak orang yang tiap detik memperoleh uang puluhan ribu rupiah, tidak sampai dua puluh menit sudah menjadi "Jutawan". Jika hartawan masa lalu dibandingkan dengan hartawan masa kini, hartawan masa lalu tidak lagi terhitung sebagai hartawan.
Juga, dalam sejarah dua ribu tahun ini, tidak ada kurun waktu pengumpulan harta benda seperti hari ini. Hari ini pengumpulan harta benda merupakan hal yang tidak pernah ada sebelumnya, dalam sejarah tidak pernah ada hartawan yang sekaya seperti sekarang ini. Kita perlu nampak, salah satu tanda kedatangan Tuhan kembali adalah pengumpulan harta benda yang tidak pernah ada sebelumnya, hartawan juga sangat banyak. Pengumpulan harta adalah tanda dari akhir zaman. Tanda kedatangan Tuhan kembali, bukan hanya Kerajaan Romawi akan bangkit dan makin kuat, atau Roma Katolik akan berkembang pesat, atau Israel akan membangun Bait Suci, tetapi juga penimbunan harta.
MENIMBUN BERLEBIHAN ADALAH DASAR PENGHAKIMAN ALLAH
Dalam 1 Timotius 6:8 Paulus berkata, "Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah." Akan tetapi, hari ini orang tidak hanya ada makanan dan pakaian, bahkan ada (memiliki) dengan berkelebihan; orang tidak hanya ada makanan dan pakaian, masih ada banyak emas dan perak, banyak kekayaan yang tersimpan di bank. Itulah sebabnya Yakobus mengeluh, orang-orang kaya itu memiliki begitu banyak pakaian hingga dimakan ngengat, memiliki begitu banyak emas dan perak hingga berkarat. Di sini bukan masalah ada pakaian atau tidak, melainkan begitu banyaknya pakaian hingga dimakan ngengat! Dengan kata lain, tidak perlu menasihati orang, ada pakaian, cukuplah; melainkan tidak hanya ada pakaian, bahkan banyaknya sampai tidak terpakai. Karena banyaknya pakaian yang tidak terpakai, maka hanya bisa dikumpulkan di sana untuk memelihara ngengat. Hari ini orang dunia mati-matian mengumpulkan barang, hanya pakaian saja sudah terkumpul cukup untuk dipakai bertahun-tahun, yang tidak terpakai terlalu banyak. Tidak hanya demikian, emas dan perak pun terkumpul begitu banyak, sedemikian banyak hingga rusak dan berkarat.
Karena itu, di sini Yakobus mengatakan, "Pakaianmu dimakan ngengat, emas dan perakmu berkarat". Ini adalah penghakiman terhadap Anda, adalah dasar Anda dihakimi. Ingatlah, kelak setiap orang akan berdiri di hadapan takhta penghakiman Allah, ada orang akan membela diri atas perbuatan menimbun harta bagi dirinya sendiri; namun bagaimanapun Anda berkata, telunjuk Allah akan menunjuk lubang pada pakaian dan karat pada emas perak Anda untuk diperlihatkan kepada Anda, dan bertanya kepada Anda, "Mengapa kamu mengumpulkan begitu banyak sedangkan yang kamu pakai tidak begitu banyak?" Berkaratnya emas dan perak tidak hanya membuktikan ketidak-benaran Anda, bahkan bisa memakan daging Anda, seperti api membakar. Ini mungkin ditujukan kepada pembakaran lautan api. Pembakaran ini akan membuat Anda sakit kepanasan, membuat Anda kurus tinggal tulang, membuat Anda dipanggang.
BERFOYA-FOYA MENGUMBAR HAWA NAFSU,
MENGGEMUKKAN DIRI SENDIRI,
SIAP UNTUK MENERIMA PENGHAKIMAN ALLAH
Pada ayat 5, dikarenakan si hartawan menimbun barang-barang, emas, dan perak, Yakobus mencela mereka. Saya berkata dengan sesungguhnya, di dunia ini tidak ada masa seperti hari ini, begitu banyak orang kaya. Juga tidak ada satu zaman, yang upah buruh ditahan sebanyak hari ini; yang kaya makin banyak dan besar kekayaannya, ini dikarenakan banyak upah buruh yang ditahan. Tidak hanya demikian, kemewahan orang kaya itu juga luar biasa, tidak pernah ada sebelumnya. Pada abad pertengahan, memang ada beberapa bangsawan yang mempunyai kemewahan yang luar biasa. Di Cina, pada satu, dua masa pemerintahan sebelum ini juga hanya beberapa marga yang memiliki kemewahan itu. Dalam sejarah tidak pernah ada satu masa, di mana terdapat begitu banyak orang kaya, barang-barang konsumsi begitu banyak, dan begitu banyak kemewahan yang bisa dinikmati. Manusia tidak hanya menikmati benda material, yang mengumbar hawa nafsunyapun banyak. Asalkan kalian membuka mata sebelah saja, akan terlihat hal-hal itu. Banyak orang kaya, harta bendanya juga banyak, upah buruh yang ditahan pun banyak. Inilah ciri-ciri khas zaman ini.
Yakobus 5:5b mengatakan, "Kamu telah memuaskan hatimu sama seperti pada hari penyembelihan." Kata-kata "memuaskan hatimu" lebih tepat diterjemahkan "memelihara hatimu hingga gemuk." Di sini berarti, seperti seorang pemelihara ternak yang mengupayakan ternak itu gemuk lebih dulu sebelum menyembelihnya. Pernah seorang saudari dari desa ke FooChow membawa tiga ekor ayam dan memberikannya kepada seorang saudara. Saudara tersebut merasa bahwa ayam-ayam itu kurang gemuk, karena itu tidak segera menyembelihnya untuk dimakan, melainkan dipelihara beberapa hari lagi, menunggu ayam-ayam itu lebih gemuk, baru disembelih. Inilah pengertian dari ayat di atas. Hari ini orang-orang yang menimbun kekayaan dan berfoya-foya adalah orang-orang yang menggemukkan hatinya sendiri. Mereka berfoya-foya, mengumbar hawa nafsu, seperti yang tidak pernah terjadi sebelumnya, itu berarti menggemukkan diri sendiri. Sampai suatu hari telah menjadi gemuk, Allah akan datang menghakimi, Allah akan datang menyembelih, itulah hari kebinasaan mereka.
JALAN YANG SEHARUSNYA DITEMPUH ORANG KRISTEN --
MELEPASKAN SEGALA, RELA MENJADI MISKIN
Pengharapan orang Kristen bukan pada perubahan situasi pemerintahan, pengharapan orang Kristen adalah beroleh penyelamatan, terlepas dari penguasaan Mamon. Seluruh kitab Yakobus, dari permulaan pasal 1 sampai akhir pasal 5, tidak mengatakan bahwa orang Kristen boleh menjadi orang kaya, boleh berkelimpahan. Ia terlebih dulu mengatakan bahwa di dalam gereja, orang yang miskin itu kaya dalam iman (2:5). Sampai pasal 5 mengatakan tentang apa yang akan dialami oleh orang-orang kaya. Kecenderungan arus dunia ini adalah orang-orang berusaha menjadi kaya, menimbun harta dunia. Namun Yakobus justru menghendaki orang Kristen "bersabar" (5:7), artinya ialah jangan mengubah keadaanmu yang miskin, jangan mengikuti roh dunia ini. Roh dunia ialah tiap orang memperhatikan harta benda, tetapi kita, orang Kristen, tidak ingin beralih, tidak ingin mengubah keadaan miskin kita. Karena sebagai orang Kristen, kita nampak, pada hari kedatangan Tuhan, segala persoalan akan terselesaikan.
Kali ini saya kembali dari FooChow ke Shanghai, entah berapa banyak saudara saudari yang menangis di hadapan saya dan berkata, "Kalau sejak dulu aku mendengar perkataanmu, tidak hanya saudara saudari, gereja juga akan menikmatinya. Yang aku sedihkan bukan kehilangan barang-barang itu; kesedihanku yang terbesar ialah barang-barang itu disita dan habis begitu saja, saudara saudari dan gereja tidak dapat menikmati sedikitpun, orang miskin tidak mendapatkan apa-apa, Injil pun tidak." Datang juga surat dari saudara saudari mengatakan penyesalan yang sama. Bila kita tidak memegang kesempatan mendengarkan panggilan Roh kudus, saya pikir, pada suatu hari nanti kita akan merasakan, penderitaan yang paling besar ialah Tuhan tidak mendapatkan, gereja tidak mendapatkan, orang miskin pun tidak mendapatkan.
Yakobus pasal 5 adalah tanda-tanda dari akhir zaman, adalah perkara yang pasti terjadi sebelum Tuhan datang, karena itu di sini Yakobus menyuruh kita baik-baik menghitung. Perkara ini sebaiknya kita hitung lebih dini. Perjanjian Baru, dari Matius sampai Wahyu, selalu menyuruh gereja bersahabat dengan orang miskin, beroposisi dengan orang kaya; selalu mengatakan bahwa orang miskin memiliki iman, Injil diberitakan kepada mereka, juga Allah mendengarkan doa orang miskin. Karena itu, hari ini sebagai orang Kristen, kita harus bersiap sedia tidak menjadi hartawan, juga tidak ingin menjadi hartawan. Kita telah lebih dahulu nampak apa yang dikatakan oleh Yakobus, harta benda seperti api, bisa membakar manusia, juga bisa memakan daging manusia. Karena itu, janganlah kita terbakar sambil mendekap harta benda, juga jangan membiarkan dia memakan daging kita. Maka, di satu pihak dikatakan, mempersembahkan; di pihak lainnya dikatakan, melarikan diri. Kita harap, mumpung hari ini harta benda masih ada di tangan kita, kita bisa mengeluarkannya, mempersembahkan untuk saudara saudari, untuk orang miskin. Saya ingin kalian semua bisa berpikiran demikian: Aku mau menempuh jalan "rela miskin", bukannya dipaksa menjadi miskin; hari demi hari aku mau menjadi orang yang sederhana, miskin bersama anak-anak Allah. Sama seperti Musa, karena umat Allah, tidak tinggal di istana, aku pun tidak tinggal di istana. Ketika kalian melakukan ini, gereja akan memiliki kesaksian.
SATU KESAKSIAN
Pada tahun 1952, di Inggris ada seorang saudara yang berusaha di bidang pelayaran. Pada suatu kali dia menerima sebuah telegram yang mengatakan bahwa kapal barangnya yang bermuatan delapan ribu ton lebih itu sepuluh hari lagi akan tiba. Kebetulan ada seorang saudara di rumahnya. Saudara pengusaha tersebut menulis sebuah cek dengan nilai dua ratus poundsterling, menitipkannya kepada saudara itu untuk keperluan pekerjaan Injil. Baru saja saudara itu beranjak pulang, dia menerima satu telegram lagi, mengatakan bahwa kapalnya yang bermuatan delapan ribu ton barang itu terkena musibah dan tenggelam, semua barang dalam kapal itu ikut habis tenggelam. Saudara pengusaha ini segera menyuruh memanggil kembali saudara itu dan berkata kepadanya, bahwa karena kapal barangnya telah musnah, maka dia perlu menulis ulang sebuah cek yang baru. Kemudian dia meminta kembali cek itu dan merobeknya, menggantinya dengan sebuah cek baru yang bernilai lima ribu poundsterling, dan berkata, "Cairkanlah segera. Gunakanlah di atas diri Tuhan." Saudara itu mengira dia mungkin telah kacau pikirannya, kapalnya telah tenggelam, menurut logika, seharusnya diganti dengan nilai yang lebih kecil, dua ratus diganti menjadi lima puluh, itu baru benar. Mengapa bukan hanya ditambah angka nol di belakangnya, bahkan angka di depannya juga diperbesar. Saudara itu bertanya kepadanya mengapa demikian? Dia menjawab, "Kapal barangku tenggelam adalah telegram kilat yang Allah kirim dari surga, yang menghendaki aku tidak menimbun harta benda di bumi! Kalaupun Allah tidak mengizinkan aku mengelola kekayaan itu, maka selagi uang itu masih ada di tanganku, aku harus segera menggunakannya untuk keperluan Tuhan." Sambil meneteskan air mata terharu, saudara itu membawa cek tersebut dan berkata, "Saya tidak pernah melihat ada orang melakukan hal ini."
NAMPAK TANDA-TANDA KEDATANGAN TUHAN,
SEGERA MENJAWAB PANGGILAN PERSEMBAHAN
Saya mengatakan hal-hal ini, bukannya ingin meminta sumbangan kepada kalian, melainkan ingin memberi tahu saudara saudari di seluruh dunia: Kedatangan kembali Tuhan sudah dekat! Mumpung harta benda masih ada gunanya, masih ada di tangan kita, baiklah kita belanjakan di atas diri Tuhan. Dalam potongan kalimatnya ini Yakobus tidak memberi tahu kita hasil dari dengan semrawut menimbun harta itu bagaimana, karena hal itu bukan butir yang ia perhatikan. Ia memberi tahu kita: Tuhan segera datang! Saya pun berseru lantang, "Tuhan segera datang!" Tanda yang lain mungkin tidak kita lihat, tetapi tanda di sini dapat kita lihat. Karena itu kita perlu bersabar, ketika tanda ini muncul, kita bisa segera mempersembahkan harta yang ada di tangan kita. Saya sangat mengharapkan, ketika Tuhan datang kembali, di antara kita tidak ada orang yang terlambat untuk kali kedua. Satu kali terlambat cukuplah, satu kali tertinggal cukuplah, jangan menjadi orang yang terlambat untuk kali kedua, jangan menjadi orang yang tertinggal untuk kali kedua.
W.N.
MELAYANI ALLAH
HARUS MENGENAL PRINSIP KERJA ALLAH
Pembacaan Alkitab: Keluaran 4:2-9, 17
TUHAN berfirman kepadanya: "Apakah yang di tanganmu itu?" Jawab Musa: "Tongkat." Firman TUHAN: "Lemparkanlah itu ke tanah." Dan ketika dilemparkannya ke tanah, maka tongkat itu menjadi ular, sehingga Musa lari meninggalkannya. Tetapi firman TUHAN kepada Musa: "Ulurkanlah tanganmu dan peganglah ekornya" -- Musa mengulurkan tangannya, ditangkapnya ular itu, lalu menjadi tongkat di tangannya -- "supaya mereka percaya, bahwa TUHAN, Allah nenek moyang mereka, Allah Abraham, Allah Ishak, dan Allah Yakub telah menampakkan diri kepadamu." Lagi firman TUHAN kepadanya: "Masukkanlah tanganmu ke dalam bajumu." Dimasukkannya tangannya ke dalam bajunya, dan setelah ditariknya ke luar, maka tangannya kena kusta, putih seperti salju. Sesudah itu firman-Nya: "Masukkanlah tanganmu kembali ke dalam bajumu." Musa memasukkan tangannya kembali ke dalam bajunya dan setelah ditariknya keluar, maka tangan itu pulih kembali seperti seluruh badannya. "Jika mereka tidak percaya kepadamu dan tidak mengindahkan tanda mujizat yang pertama, maka mereka akan percaya kepada tanda mujizat yang kedua. Dan jika mereka tidak juga percaya kepada kedua tanda mujizat ini dan tidak mendengarkan perkataanmu, maka engkau harus mengambil air dari sungai Nil dan harus kaucurahkan di tanah yang kering, lalu air yang kauambil itu akan menjadi darah di tanah yang kering itu." . . . Dan bawalah tongkat ini di tanganmu, yang harus kaupakai untuk membuat tanda-tanda mujizat."
Kita harus tahu, bahwa bekerjanya Allah itu ada ketentuan-Nya. Bagi kita yang melayani Allah, bila kita ingin berguna, haruslah mengenal ketentuan kerja Allah. Karena itu, bila kita berharap bisa berguna di tangan Tuhan, kita harus mengenal ketentuan kerja Allah. Saya berjumpa dengan banyak saudara saudari. Saya tidak mengatakan mereka tidak berdoa, tidak memiliki kasih, tidak beribadah, atau tidak bertalenta, semua itu mereka miliki, namun pekerjaan Allah atas saudara saudari ini kurang sekali. Saya rasa, ini pasti ada sebabnya. Kemudian, saya menemukan, bahwa nampaknya saudara saudari ini tidak mengenal ketentuan kerja Allah.
Misalnya, bila kita menginginkan rumah kita dipenuhi sinar matahari, kita tidak hanya membuat jendela dan membukanya di bagian utara, tetapi juga membuat jendela dan membukanya di bagian timur, barat, dan selatan; demikian baru bisa membuat rumah itu dipenuhi sinar matahari. Makin banyak jendela dibuka, makin banyak sinar yang masuk. Sebaliknya, bila Anda menginginkan sinar matahari masuk, namun Anda tidak membuka jendela, walaupun Anda berdoa mohon sinar matahari masuk, itu sedikit pun tidak berguna. Terhadap pekerjaan Allah juga demikian, kita harus melakukan pekerjaan menurut ketentuan Allah, baru bisa mendapatkan berkat Allah. Kalau tidak, meskipun Anda lebih banyak berdoa, lebih beribadah, itu tidak ada gunanya. Bila kita memiliki pengenalan yang jelas terhadap ketentuan kerja Allah, barulah kita bisa menjadi hamba Allah yang berguna di dalam pekerjaan Allah. Saudara saudari yang telah mengalami bimbingan selama bertahun-tahun, akan sangat jelas terhadap ketentuan Allah memakai kita untuk melakukan pekerjaan-Nya; sedikitnya ada beberapa butir yang harus kita perhatikan, barulah kita bisa melayani Tuhan dengan baik. Tentu saja, pengenalan atas ketentuan kerja Allah tidak hanya berlaku untuk perorangan, ini juga berlaku dalam kalangan sekerja, dan dalam gereja.
Suatu hari, sekitar tujuh, delapan tahun yang lalu, saya di dalam kamar sedang merenungkan masalah ini, yaitu memikirkan sebenarnya apa saja yang tercakup dalam pengenalan terhadap ketentuan kerja Allah. Waktu itu sungguh ajaib, pada saat merenungkan, seolah-olah ada suara berkata, bacalah kitab Keluaran pasal 3 dan 4, mengenai Musa dipanggil oleh Allah, hal Allah memakai dia. Saya segera membaca Keluaran pasal 3, namun tidak memiliki perasaan yang berat; saya teruskan membaca pasal 4, segera terasa bahwa setiap kata ada sorotan terang Allah. Walaupun tidak berani mengatakannya sebagai sorotan terang yang besar, tetapi saya berani berkata, bahwa saya sungguh nampak satu prinsip yang luar biasa.
TIGA PELAJARAN YANG DIPELAJARI OLEH MUSA
Dalam Perjanjian Lama, hamba Allah yang paling standar adalah Musa; dalam Perjanjian Baru, hamba Allah yang paling standar adalah Paulus. Baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, semuanya mengakui Musa sebagai hamba yang setia dalam segenap rumah Allah (Bil. 12:7; Ibr. 3:2). Dalam prinsip rohani, Musa sebagai hamba tidak ada hubungannya dengan masa Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, prinsipnya ialah prinsip sebagai hamba Allah. Kita semua tahu latar belakang Musa, di sini saya tidak ingin menyinggungnya secara panjang lebar. Ia memiliki situasi lingkungan yang baik, diangkat menjadi anak putri Firaun, ia juga memiliki hati ingin melayani Allah, karena itu ia mempelajari segala ilmu pengetahuan di Mesir guna memperlengkapi diri, siap untuk menyelamatkan umat Allah. Walaupun Musa adalah orang yang ditetapkan Allah untuk menyelamatkan umat Israel dan untuk memimpin mereka memasuki tanah permai, tetapi minat hatinya, ilmu pengetahuannya, bakat bicaranya dan lain-lain, semuanya ditambahkan masih belum cukup untuk melayani Allah. Maka Allah, di dalam kedaulatan-Nya, membangkitkan suasana sehingga ia dipaksa melarikan diri ke padang gurun Sinai.
Musa dibawa ke padang gurun. Ia sendiri juga merasakan bahwa dirinya telah dikesampingkan oleh Allah. Melalui bertahun-tahun di padang gurun, ia telah kehilangan semua iman terhadap dirinya sendiri (Kel. 3:11; lihat 2:11-13). Ia sendiri juga mengakui bahwa umur delapan puluh tahun adalah umur manusia yang paling tinggi (Mzm. 90:10). Dalam pandangannya, seolah-olah tidak ada lagi waktu, tidak ada lagi ruang, dan ia akan mengakhiri hidupnya di padang gurun. Pada waktu ia merasa dirinya tidak berguna sama sekali inilah, di dalam Keluaran pasal 3 dan 4, Allah datang memanggilnya. Ketika Allah di dalam nyala api yang keluar dari semak duri menyatakan diri kepada Musa, memanggilnya untuk bekerja bagi Allah, Musa telah menganggap dirinya tidak layak sedikit pun, itulah sebabnya ia beralasan bahwa ia adalah orang yang tidak pandai bicara, berat mulut dan berat lidah. Akhirnya Allah mempersiapkan Harun dan Miriam menjadi pembantunya. Tetapi dalam Keluaran pasal 4, Musa masih tetap berkata, bahwa umat Israel "pasti tidak percaya kepadaku dan tidak mendengarkan perkataanku, melainkan berkata: Tuhan tidak menampakkan diri kepadamu" (4:1). Ini menyatakan bahwa Musa masih belum terdorong semangatnya dan belum tergerak. Maka selanjutnya Allah mewahyukan tiga mujizat. Semua mujizat itu merupakan bukti kuat bahwa Musa benar-benar dipanggil oleh Allah. Di sini Allah menyuruh Musa melakukan tiga hal: pertama, tongkat berubah menjadi ular; kedua, tangan kena kusta; ketiga, air berubah menjadi darah (Kel. 4:3-9, 17). Semula adalah tongkat, daging, air, tiga benda yang berguna, namun justru berubah menjadi ular, kena kusta, dan darah, tiga benda yang mencelakakan.
1. Pelajaran Tongkat Berubah Menjadi Ular
Terlebih dahulu saya membicarakan mujizat tongkat berubah menjadi ular. Bagi Musa, fungsi utama tongkatnya ialah untuk menggembalakan domba; di kemudian hari, tongkat itu berfungsi dalam memimpin umat Israel keluar dari Mesir. Pada saat itu Musa sudah berumur delapan puluh tahun, tongkatnya adalah sandarannya, adalah benda yang harus ada untuk sandaran hidupnya. Meskipun dalam tangan jasmani kita tidak ada tongkat, namun pada prinsipnya selalu ada benda yang kita sandari. Misalnya, bagi pedagang, transaksi jual-belinya adalah tongkatnya; bagi murid, sekolah dengan buku pelajarannya adalah tongkatnya; bagi istri, suami adalah tongkatnya. Tongkat adalah sandaran kita, yaitu yang kita pakai untuk menunjang kita. Kita memiliki banyak tongkat, mungkin itu adalah orang tua, ilmu pengetahuan, pekerjaan, uang, harta benda, dan lain-lain. Asalnya tongkat itu sangat berfungsi, bahkan bisa untuk melayani Allah; namun begitu kita berjumpa dengan Allah, kita akan nampak bahwa tongkat yang kita sandari itu, harus dilempar ke tanah.
Dalam hal panggilan Allah atas diri saya, juga dalam hal terpanggilnya hamba-hamba Allah yang lain, bisa terlihat, bahwa begitu seseorang ingin dipakai oleh Tuhan, pertama-tama ia harus melemparkan tongkat yang ada di tangannya. Begitu tongkat dilempar ke tanah, ular yang tersembunyi di dalamnya akan tersingkapkan. Sesungguhnya ular itu telah berada di dalam tongkat itu, namun tongkat itu harus dilemparkan ke tanah baru berubah menjadi ular, ternyata wujud aslinya. Mujizat ini mewahyukan, bahwa tongkat yang menjadi sandaran kita, di bawah sorotan terang, kuat kuasa Allah, ternyatalah wujud aslinya sebagai ular. Sejak hari pertama ular sudah muncul dengan menyamar. Ular dari Perjanjian Lama terus sampai kitab Wahyu, selalu menyamar di dalam, di belakang, di bawah berbagai benda dan perkara, untuk menguasai orang-orang yang diciptakan Allah bagi tujuan-Nya. Di pandangan mata Musa, tongkat adalah sandarannya; namun di pandangan mata Allah, tongkat adalah jelmaan Iblis dengan tujuan untuk menguasai manusia.
Begitu Musa nampak tongkat yang ia lempar itu menjadi ular, ia pun takut dan lari, tidak berani mengambilnya. Kemudian Allah menyuruh dia memegang ekornya, di tangan Musa, ular itu kembali menjadi tongkat. Sebelum ini, bertahun-tahun Musa memegang tongkat itu, bagi dia tongkat itu sangat berharga. Namun begitu dia melemparkan tongkat itu, nampaklah bahwa tongkat itu adalah ular. Bertahun-tahun dia terus dikuasai olehnya. Dari sini dia nampak, bahwa tongkat yang dahulu dia sandari sesungguhnya adalah ular yang akan mencelakakan dia.
Perhatikanlah, Allah tidak menyuruh Musa "membuang" tongkatnya, melainkan menyuruhnya "melemparkan" tongkatnya, dengan tujuan untuk menyingkapkan wujud aslinya. Setelah itu Allah berpesan kepada Musa agar mengambil kembali tongkatnya (yang telah berubah menjadi ular) pada bagian ekornya. Di Nanking ada seorang pewajib gereja. Tadinya dia adalah pedagang, kemudian nampak bahwa perdagangan merupakan perkara yang membahayakan, tidak berani lagi menjamahnya. Namun Allah tidak menyuruh dia membuangnya, melainkan menyuruh dia memegangnya secara berkebalikan. Tongkat tetap harus dipegang, namun harus dipegang berkebalikan. Dulu, tongkat adalah intinya, kini Tuhan adalah intinya; dulu berjuang untuk hidup, kini giat untuk Injil.
Di Shantung, ada seorang saudara tua mengatakan, bahwa dia mempunyai seorang teman sebaya yang istrinya adalah ular tua, anak-anaknya adalah ular-ular kecil. Maka teman saudara tua ini tergigit, tidak dapat dengan bebas melayani Allah dan bekerja untuk Injil. Hari ini, karena ia takut kepada ular, maka ia tidak berani memegangnya kembali. Namun Tuhan tidak menyuruhnya melempar dan tidak diambil kembali. Melempar mudah; asalkan pergi ke barat daya memberitakan Injil, istri dan anak-anaknya dibuang semua, ini sangat mudah. Tetapi Tuhan tidak berkata demikian, Tuhan menyuruh kita mengulurkan tangan lagi, memegang ekornya. Ketika ular yang tersembunyi itu tersingkap wujudnya, Anda harus segera memegang ekornya. Inilah cara yang terbaik menghadapi ular. Kalau Anda memegang kepala ular, ia akan menggigit Anda; namun kalau Anda memegangnya secara berkebalikan, yaitu memegang ekornya, ia akan kehilangan kuasanya, ia akan tergantung dengan lunglai. Pada akhirnya, ia malah akan menjadi kuasa Anda, dan tidak bisa menguasai Anda (Kel. 4:4, 17; Luk. 10:19). Kalau Anda tidak memegangnya pada ekornya, Anda tidak akan memiliki kekuasaan.
Dalam kitab Injil dikatakan, jika seseorang ingin mengikuti Tuhan, ia harus meninggalkan bapa ibunya, anak-anaknya, dan lain-lain (Mat. 19:29); namun dalam Surat Kiriman, Paulus mengatakan, bahwa orang harus mengasihi orang tuanya, menghormati mereka (Ef. 6:1-3). "Meninggalkan" dalam kitab Injil adalah melemparkan tongkat, dan dalam kitab Efesus itu diambil kembali, yaitu memegang tongkat itu secara berkebalikan. Tongkat ini ialah tongkat kekuasaan, kemudian Musa mengadakan mujizat di tanah Mesir, dan memimpin umat Israel keluar dari Mesir, semuanya bersandarkan tongkat ini.
2. Pelajaran Mengenal Diri Sendiri
Selanjutnya Allah menyuruh Musa memasukkan tangannya ke dalam bajunya. Musa memasukkan tangannya ke dalam bajunya, lalu menariknya keluar. Ternyata tangannya terkena kusta, putih seperti salju. Inilah pelajaran kedua. Pertama, kita harus melemparkan tongkat yang ada di tangan kita, ternyatalah wujud ular itu, kemudian memegang kembali pada bagian ekornya. Setelah ini masih perlu melakukan perkara yang kedua. Hanya melemparkan tongkat belumlah cukup, masih perlu ada pelajaran kedua, sama seperti Musa memasukkan tangannya ke dalam bajunya, begitu tangan dikeluarkan, ternyata kena kusta. Dada mewakili apa adanya kita, kusta mewakili dosa (Rm. 7:17-18). Ini menunjukkan, bahwa di dalam diri kita tidak ada kebajikan. Kita harus nampak, bahwa diri kita bukanlah apa-apa, tidak memiliki apa-apa. Di dalam gereja, saya sering melihat saudara saudari yang mengkritik, menghakimi, mengerutu terhadap seseorang. Melihat hal ini saya merasa jengkel sekali. Saya merasa bahwa saudara saudari tersebut tidak mengenal dirinya sendiri adalah orang yang terkena kusta. Jika Anda mengenal daging Anda sendiri, ketika Anda ingin mengkritik seseorang saudara, Anda tidak akan berani mengkritik. Karena Anda mengenal bahwa diri Anda sendiri terkena kusta, mengetahui bahwa diri sendiri adalah sejenis, sama seperti orang lain, yaitu orang yang di dalamnya kotor dan najis.
Bahkan segala pujian, kasih, atau simpatik kita, asal itu berasal dari diri sendiri, semua itu adalah kusta. Kidung karangan Newton mengatakan, bahwa dia membenci dosanya sendiri. Begitu seseorang nampak dirinya sendiri, mengenal dirinya sendiri, ia tidak akan berani dengan sembarangan mengkritik orang, karena dirinya merasa tidak layak mengkritik saudara saudari. Mohon Tuhan memaafkan saya berkata demikian, ketika saya ingin membicarakan seseorang saudara atau saudari, Tuhan segera menampakkan kepada saya akan diri saya sendiri yang kena kusta, kotor, dan najis. Saat itulah saya merasakan, bagaimanapun saudara saudari tidak baik, bagaimanapun saya terluka, sedikitpun saya tidak berani mengkritik. Di dalam diri kita sendiri tidak ada sedikitpun yang layak untuk menjadi orang yang terpanggil oleh Tuhan, sesungguhnya semuanya adalah karena kasih karunia Allah (1 Kor. 15:10). Jika kita mengenal diri sendiri sedemikian, kita tidak akan mengadakan perlawanan, kita bisa rendah hati, dengan demikian baru bisa menghapus kusta yang ada di antara anak-anak Allah dalam gereja. Tidak ada ketidak-puasan terhadap orang lain, hanya ada kebencian terhadap diri sendiri. Barangsiapa nampak keadaan yang sesungguhnya dari dirinya sendiri, ia akan menyadari bahwa dirinya sendiri tak lain adalah setumpuk wujud yang kotor, busuk, bobrok, najis, dan jahat. Selain belas kasihan Allah, sesungguhnya tidak layak bekerja bagi Allah. Dengan demikian kita akan sering mengaku dosa, sering berdoa.
3. Pelajaran Mengenal Dunia
Jika kita ingin melakukan pekerjaan Allah, kita tidak hanya perlu mengenal penguasaan dari Iblis, mengenal kebobrokan dari daging diri sendiri, juga perlu mengenal betapa dunia ini patut dibenci. Mujizat ketiga yang Allah berikan kepada Musa adalah sebagai berikut: "Engkau harus mengambil air dari sungai Nil dan harus kaucurahkan di tanah yang kering, lalu air yang kauambil itu akan menjadi darah di tanah yang kering itu." Sungai di sini ialah sungai Nil yang mengairi tanah Mesir, yang melambangkan kenikmatan bumiah yang jatuh. Mesir melambangkan dunia. Menurut Alkitab, karena sungai Nil, Mesir menjadi makmur, menikmati kelimpahan. Sungai Nil adalah sumber hidup dan sumber penghidupan. Darah adalah tanda kematian. Secara luaran, kelihatannya sungai Nil mendatangkan suplaian dan kenikmatan; namun dalam pandangan Allah, itu justru adalah kematian. Anda melihat orang dunia menikmati kelimpahan, kesenangan, lalu membandingkannya dengan diri sendiri, lalu nampak bahwa diri sendiri sangat kasihan, miskin, tidak mempunyai apa-apa. Khususnya bila Anda melihat teman sekolah Anda begitu maju, sukses. Dulu, ketika masih bersekolah, pelajarannya tidak sebaik Anda, namun sekarang justru sangat menikmati dunia, hal ini akan terasa sekali. Namun ketika Anda nampak air menjadi darah, Anda akan nampak bahwa semua kenikmatan atas rumah mewah, mobil mewah, tidak lain adalah sedang makan darah.
Begitu Anda nampak bahwa yang Anda sandari adalah ular, di dalam diri Anda adalah najis, di sekitar Anda adalah darah, batin Anda segera dipenuhi rasa muak. Tuhan berkata, hanya air pemberian-Nya yang dapat membuat orang tidak haus untuk selamanya (Yoh. 4:14). Orang yang haus, tidak akan puas walaupun telah meminum air dunia ini; hanya air pemberian Tuhan, yang bisa memuaskan kehausan orang; juga hanya air pemberian Tuhan, yang bisa menyuplai segala kebutuhan kita dalam melakukan pekerjaan Tuhan. Semoga kita semua ingat akan tiga prinsip ini.
W.L.
ADA WAHYU BARU BISA BEKERJA
Atas tiga pelajaran yang mendasar di atas, hanya ada satu prinsip pokok, yaitu nampak atau tidak nampak. Jika Anda telah nampak, dengan sendirinya Anda akan terpisah dari yang lain. Ketika tidak ada wahyu Allah, yang Anda nampak hanyalah sebuah tongkat, Anda melihat tangan Anda sendiri bersih, Anda melihat yang menyuplai Mesir adalah air sungai. Namun begitu Anda mendapatkan wahyu Allah, Perasaan Anda akan berbeda; Anda akan nampak bahwa yang di tangan Anda adalah ular, tangan Anda najis, dan dunia penuh dengan kematian.
Kitab Keluaran pasal 4 adalah satu pasal yang membandingkan wahyu Allah dengan pandangan manusia. Banyak orang bertanya kepada saya, "Bagaimana dapat mengetahui adanya wahyu Allah?" Persoalannya ialah apakah Anda nampak tongkat itu adalah ular, nampak yang terdapat pada tangan adalah kusta, nampak air itu adalah darah. Kaum muda memiliki ambisi dan mimpi yang muluk, saya mengharapkan Allah dapat membuat Anda siuman dari mimipi yang muluk itu. Allah tidak hanya membuat Musa berbuat demikian, nampak demikian, Allah juga menginginkan Musa mendatangi umat Israel agar mereka juga melakukan hal yang sama, agar orang lain juga nampak. Asalnya Allah memanggil dia untuk menyelamatkan umat Israel, dari pihak Musa, itu adalah suatu masalah yang sangat besar. Namun begitu wahyu Allah diberikan kepadanya, perasaannya segera berubah. Misalnya, di dalam segelas air ini ada seekor cacing, malam ini, karena haus, saya minum air ini. Ketika minum sampai hampir habis, baru menemukan bahwa ada seekor cacing di dalamnya. Esok malam, saya berada di sini lagi, haus lagi, dan akan minum air dalam gelas ini, bagaimana perasaan saya? Mungkin setiap hari akan memiliki perasaan akan adanya cacing itu. Ini adalah perkara yang kita lihat melalui wahyu. Tadinya kita tidak memiliki perasaan apa-apa, sama seperti Musa yang setiap hari memegang tongkat, namun tidak memiliki perasaan apa-apa. Akan tetapi begitu sekali berubah menjadi ular, perasaan Musa terhadap tongkat itu pun berbeda.
Perasaan terhadap daging juga demikian. Kita harus tahu, dosa tidak berada di dalam dunia, melainkan di dalam kita; perkara jahat juga tidak di dalam dunia, melainkan di dalam diri kita; tetapi dahulu kita tidak mempunyai perasaan itu. Sampai suatu hari, ketika dari dalam baju kita mengeluarkan tangan kita, ternyata tangan kita kena kusta. Selanjutnya, setiap kali kita menjamah tangan kita, secara otomatis akan teringat kusta ini. Ada orang yang berpura-pura rendah hati, lemah, taat, namun sedikit pun tidak mirip. Orang yang tidak mendapatkan wahyu, ketika berpura-pura, ia berbuat seolah-olah rendah hati, tetapi begitu lupa, langsung tidak rendah hati lagi, tiap kali melakukan sesuatu harus tetap berwaspada. Hari ini ketika kita memberikan nasihat atau mengatakan perkataan yang keras kepada saudara saudari, kita harus mempunyai perasaan bahwa yang kita keluarkan dari dalam dada kita, mungkin adalah kusta yang keluar. Ingatlah, Allah tidak berdasarkan pada berapa banyak yang Anda keluarkan dan memanggil Anda bekerja, melainkan tergantung pada berapa banyak Anda mendapatkan wahyu. Pernah seorang saudara berkata kepada saya, "Sekalipun aku lebih lemah lagi, aku masih lebih kuat daripada dua saudara itu." Saya pikir, orang ini mungkin seumur hidupnya belum nampak dirinya yang bobrok dan najis.
Orang yang melayani juga harus memiliki perasaan terhadap air dunia. Meleraikan haus adalah untuk memuaskan keinginan kita. Mungkin di antara kita ada yang sudah berdoa bertahun-tahun, ingin mendapatkan jabatan atau rejeki tertentu dalam dunia ini. Semoga selanjutnya kalian dapat nampak dengan jelas, memperoleh wahyu yang hebat dari Allah, mengetahui bahwa segala kepuasan dari dunia ini sesungguhnya adalah darah. Yang dinampak oleh orang yang mendapatkan wahyu, air itu sesungguhnya adalah darah. Bahkan atas hal membeli handuk, kaos kaki pun, mungkin saja terjadi air berubah menjadi darah. Kita yang ingin melayani Allah, tidak seharusnya tinggal di tanah Mesir dan minum air sungai Nil, melainkan harus ke padang gurun dan minum air yang keluar dari batu karang.
Di sini, kita semua perlu nampak yang dulunya belum kita nampak. Barangsiapa memiliki wahyu akan berkata, bahwa benda-benda ini sungguh aneh, di pandangan manusia adalah tongkat, adalah dada, adalah air sungai Nil. Begitu nampak wahyu, visi yang diberikan Allah, nampak jelas bahwa wujud asli mereka ternyata adalah ular, daging dan darah; Anda sendiri akan lari menjauhinya, Anda akan takut, Anda akan meninggalkannya. Hanya wahyu Allah yang bisa membuat kita mengenali wujud sesungguhnya dari benda-benda yang kita sandari, mengenal dosa yang terbesar ialah ego, dan mengenal dunia ini menakutkan. Di dalam dunia, tongkat itu dapat disandari, yang berasal dari ego itu baik, air pun boleh diminum. Tetapi saya di sini bersama Saudara Witness Lee berharap, kiranya kalian mendapatkan wahyu yang jelas di hadapan Allah, nampak wujud sesungguhnya dari dunia, ego, dan situasi sekeliling. Demikian Anda baru dapat melakukan pekerjaan Allah, mendapatkan perkenan Allah.
W.N.
PERSEMBAHAN DALAM KITAB ROMA 12
"Karena itu, Saudara-saudara, oleh kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan (kurban) yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: Itulah ibadahmu yang sejati. Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia (zaman) ini, tetapi berubahlah oleh pembaruan budimu, sehingga kamu dapat membedakan mana kehendak Allah: Apa yang baik, yang berkenan kepada-Nya dan sempurna. Berdasarkan anugerah yang diberikan kepadaku, aku berkata kepada setiap orang di antara kamu: Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi daripada yang patut kamu pikirkan, tetapi hendaklah kamu berpikir sedemikian rupa, sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman, yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing. Sebab sama seperti pada satu tubuh, kita mempunyai banyak anggota, tetapi tidak semua anggota itu mempunyai tugas yang sama, demikian juga kita, walaupun banyak, adalah satu tubuh di dalam Kristus; tetapi kita masing-masing adalah anggota yang seorang terhadap yang lain."
Roma 12:1-5
PENDAHULUAN
Surat Kiriman yang ditulis oleh Paulus kepada kaum beriman di Roma, pasal 1:1-15 merupakan suatu pendahuluan. Pasal 1:16 sampai pasal 11 adalah isi bagian pertama dari Surat Kirimannya; mulai pasal 12 adalah awal yang baru dari isi bagian kedua. Pada bagian pertama, dari pasal 1 sampai 8, Paulus menampakkan kepada kita kelimpahan yang kita peroleh di dalam Kristus; selanjutnya dari pasal 9 sampai 11 menampakkan kepada kita bahwa kelimpahan yang kita peroleh sama seperti yang diperoleh orang Israel pada waktu itu. Mulai dari pasal 12, Paulus menasihati kita tentang apa yang harus kita lakukan. Dari pasal 1 sampai 8, Paulus terus-menerus memberi tahu kita apa yang Kristus lakukan bagi kita, apa yang Roh Kudus lakukan bagi kita; Paulus tidak menekankan apa yang harus kita lakukan sebagai orang Kristen. Dalam sebelas pasal di depan, Paulus terus-menerus mengatakan apa yang telah Allah Tritunggal genapkan bagi kita. Karena Allah telah melakukan sedemikian banyak, maka kita pun harus melakukan sesuatu. Kalau tidak, berarti tidak pantas, tidak tahu diri. Sebab itu, mulai pasal 12, Paulus mengawali dengan kata "karena itu", yang menyatakan bahwa ia sedang menyambung perkataan sebelumnya. Lalu, apa yang harus dilakukan oleh kaum beriman? Paulus mengatakan bahwa kita harus mempersembahkan diri sebagai kurban yang hidup. Hal lainnya tidak dapat kita lakukan, namun paling sedikit kita harus melakukan satu hal, yaitu mempersembahkan diri sebagai kurban yang hidup.
Sebagai orang Kristen, paling sedikit kita harus nampak apa yang telah Kristus lakukan bagi kita, apa yang telah Roh Kudus lakukan bagi kita. Pasal 1 sampai 7 mengatakan apa yang telah Kristus lakukan, pasal 8 mengatakan apa yang telah Roh kudus lakukan, pasal 9 sampai 11 mengatakan otoritas Allah, apa yang telah dilakukan oleh kedaulatan Allah. Dalam pasal 12 Paulus berkata bahwa semuanya ini adalah karena kemurahan Allah. "Kemurahan" dan "Belas kasihan" dalam bahasa aslinya sebenarnya merupakan satu kata yang sama. Kemurahan Allah dan kasih-Nya, belas kasihan-Nya adalah sama.
OLEH KEMURAHAN ALLAH MEMPERSEMBAHKAN TUBUH
Di sini Paulus berkata bahwa karena Allah demikian mengasihi kita, karena Allah demikian membelaskasihani kita, merahmati kita, maka kita perlu mempersembahkan diri. Dengan kata lain, setiap orang yang mau melayani Allah, haruslah terlebih dulu dijamah oleh belas kasihan Allah, dijamah oleh rahmat Allah. Jika seseorang tidak nampak kasih Allah, tidak nampak belas kasihan Allah, ia akan merasa bahwa hal mempersembahkan tubuh adalah hal yang sangat sulit, lebih sulit daripada kerja paksa membakar batu bata di bawah kuasa Firaun. Tetapi jika seseorang telah nampak belas kasihan Allah, maka baginya hal mempersembahkan tubuh adalah hal yang sepatutnya.
Mempersembahkan diri kepada Allah adalah reaksi pertama setiap orang yang mendapatkan belas kasihan Allah. Begitu seseorang menjamah kasih Allah, menjamah belas kasihan Allah, ia tidak akan berdaya lagi hidup untuk dirinya sendiri. Orang yang belum beroleh belas kasihan, belum mendapat sorotan terang, akan memustikakan dirinya, harta-bendanya, dan kehidupannya sendiri. Namun begitu mendapatkan kasih Allah, beroleh belas kasihan Allah, ia tidak akan menganggap semuanya itu sebagai mustika. Begitu Anda beroleh belas kasihan Allah, berada di bawah sorotan terang Allah, Anda akan berpaling dan bertanya kepada Allah, "Apa yang harus kulakukan? Apa yang ingin Kau dapatkan dari diriku?".
KEKUATAN MEMPERSEMBAHKAN
BERASAL DARI SOROTAN TERANG ALLAH
Sebelum Paulus percaya Tuhan, ia menganiaya murid-murid Tuhan; ia meminta surat kuasa dari Imam Besar untuk menangkapi orang-orang yang menyeru nama Tuhan (Kis. 9:1-2). Ketika mengendarai kuda hendak memasuki kota Damsyik, ia kelihatan begitu perkasa. Namun ketika ia sudah dekat kota itu, tiba-tiba cahaya memancar dari langit mengelilingi dia, ia pun rebah ke tanah. Semula ia begitu perkasa, kalau tidak beroleh kasih Allah yang besar dan belas kasihan-Nya, sangatlah mustahil menyuruhnya mempersembahkan diri. Namun begitu cahaya terang memancar, ia tidak dapat lagi duduk dengan mantap, mau tidak mau harus turun dari takhtanya. Saat itu, Paulus berkata, "Tuhan, apakah yang harus kuperbuat?" (Kis 22:10). Bila kita tidak nampak belas kasihan Allah, bagi kita, mempersembahkan diri adalah hal yang paling sulit di dunia ini. Semua orang di dunia ini mencintai dirinya sendiri, tidak ada seorang pun yang tidak memustikakan kehidupannya dan harta bendanya sendiri. Namun hari ini begitu berdiri di hadapan kasih Allah, di hadapan kemurahan Allah, maka hal mempersembahkan diri tidak lagi sulit.
MEMPERSEMBAHKAN DIRI BUKANLAH MEMBALAS BUDI,
MELAINKAN REAKSI TERHADAP PEKERJAAN ALLAH
Dalam kurun waktu dua ribu tahun ini, sepanjang sejarah entah berapa banyak orang yang mempersembahkan diri kepada Allah, walaupun boleh juga dikatakan membalas budi, namun juga tidak berani mengatakan itu adalah membalas budi, karena merasa sesungguhnya tidaklah layak, yang dipersembahkan hanyalah seperti barang yang rombeng dan rusak. Kita ini seperti seorang pengemis, adalah lucu kalau mengatakan mempersembahkan diri kepada Allah. Mazmur 116:12 mengatakan, "Bagaimana akan kubalas kepada TUHAN segala kebajikan-Nya kepadaku?" Banyak orang memiliki keinginan membalas budi, namun tidak berani mengatakannya, mereka hanya bisa berkata, "Ya Allah, di bawah kasih karunia-Mu yang begitu besar dan yang tidak dapat kubalas, paling sedikit aku mempersembahkan diriku kepada-Mu." Roma 12 adalah Surat Kiriman yang sangat istimewa, membicarakan permulaan pekerjaan orang Kristen adalah mempersembahkan diri. Pasal 1 hingga pasal 11 membicarakan pekerjaan Allah telah menggenapkan karunia yang begitu besar bagi kita; maka saat tiba pada pasal 12, kita pun menundukkan kepala dan berkata, "aku di sini mempersembahkan diriku kepada-Mu".
PERSEMBAHAN TUBUH BARULAH PERSEMBAHAN YANG KONKRET
Paulus sangat berhikmat, menghendaki kita mempersembahkan tubuh kita, bukan hati kita. Persembahan yang konkret, yang lebih tuntas, adalah mempersembahkan tubuh; mempersembahkan "hati" itu sangat abstrak. Hati itu sangatlah aneh; saat kejujuran muncul, ia sangat jujur, namun saat ketidakjujuran bangkit, diri sendiri pun ditipu olehnya. Amsal 28:26a mengatakan, "Siapa percaya kepada hatinya sendiri adalah orang bebal." Tidak ada seorang pun yang tahu ketika hatinya lari atau ketika hatinya berubah. Orang yang mempersembahkan sebuah jari kelingkingnya kepada Tuhan lebih konkret, lebih solid, dan lebih dapat diandalkan daripada mempersembahkan hatinya kepada Tuhan; karena jari kelingking bisa ditangkap, tetapi hati orang tidak bisa ditangkap. Karena itu, mempersembahkan tubuh bukanlah omong kosong. Di sinilah hikmat Paulus. Banyak orang juga mengatakan mempersembahkan diri, namun tidak demikian konkret dan riil seperti yang dibicarakan oleh Paulus. Mempersembahkan diri ialah mempersembahkan tubuh beserta hal-hal yang berkaitan dengan tubuh, termasuk harta benda, anggota tubuh, waktu, dan lain-lain. Bila tubuhku telah kupersembahkan, maka hal-hal yang berkaitan dengan tubuhku secara otomatis akan ikut tersembahkan.
PELAKSANAAN PERSEMBAHAN TUBUH
Ada tiga aspek yang berkaitan dengan mempersembahkan tubuh: Pertama adalah waktu, kedua adalah harta, ketiga adalah tenaga. Pertama, persembahan tubuh adalah persembahan waktu. Waktuku harus ada, waktuku tidak boleh sembarangan dihamburkan, harus diserahkan untuk melayani Tuhan. Anda tidak bisa berkata bahwa Anda sudah mempersembahkan diri, namun waktu yang ada Anda gunakan untuk diri sendiri. Ketika waktu Anda ada, tubuh Anda pun ada, karena tubuh berada di dalam waktu. Kemudian, Anda harus mengeluarkan harta benda Anda. Banyak orang miskin, ada saudara saudari yang miskin di sekitar Anda, mereka semua memiliki kebutuhan. Dan lagi, untuk pengabaran Injil, juga memerlukan dana. Kalau Anda hanya mengatakan mempersembahkan hati, namun harta benda tidak datang, ini akan seperti yang dikatakan oleh Yohanes dalam 1 Yohanes 3:17, yaitu menutup pintu hatinya. Hati belas kasihan memang ada, namun kalau tertutup, itu tidak ada gunanya. Anda harus membuang benda yang membuat hati Anda tertutup, barulah Anda bisa mengasihi Allah, melayani Allah.
Ketiga, harus mempersembahkan tenaga tubuh Anda, harus turun tangan sendiri bekerja melayani Tuhan. Semua pekerjaan dalam ruang sidang, misalnya membersihkan lantai, mengelap bangku, mengelap kaca, dan sebagainya, sebaiknya jangan diserahkan kepada pembantu. Hari ini mungkin masih banyak saudara saudari yang belum pernah mengelap bangku ruang sidang, belum pernah membersihkan lantai ruang sidang. Jika di sini hadir seorang yang sangat terhormat (presiden, misalnya), dan ia menghendaki Anda menuangkan teh baginya, Anda pasti merasa bangga (mulia) bila Anda sendiri yang melakukannya. Tentunya Anda tidak akan mengupah orang lain untuk melakukannya. Mungkin di rumah Anda memiliki banyak pembantu, di perusahaan Anda adalah seorang direktur; namun ketika Anda datang ke balai sidang, hendaklah Anda belajar melakukan sesuatu. Berbuat demikian akan menggenapkan diri Anda, supaya Anda mempunyai pelayanan yang riil (walaupun mungkin hasilnya akan lebih baik bila menyuruh pembantu yang melakukannya). Saya ingin bertanya: Membagikan traktat Injil, apakah menyuruh orang lain membagikannya? Kalau menjual obat, Anda boleh saja mengupah orang untuk mendistribusikan obat itu. Pelayanan rohani tidak bisa hanya harta benda yang datang dan tubuh tidak, banyak perkara yang Tuhan kehendaki agar kita sendiri yang turun tangan. Di Shanghai ada seorang saudari yang suaminya pemilik bank, saudari ini sering diantar oleh supirnya datang ke balai sidang untuk membersihkan lantai ruang sidang. Ini adalah kasih karunia Tuhan, karena di tempat lain Anda tidak akan dapat mengupah istri pemilik bank untuk membersihkan lantai. Ada lagi satu dua saudari yang di rumahnya mempunyai pembantu lebih dari empat orang, tetapi ketika makan bersama di balai sidang, mereka khusus menyiapkan teh, menyiapkan makanan, ini adalah perkara yang sangat indah. Mempersembahkan tidak bisa hanya hatinya yang datang. Kita adalah hamba-hamba Tuhan, di dalam gereja Tuhan, setiap perkara hendaklah kita dengan rendah hati turun tangan sendiri melayani. Saya sungguh mendambakan ada beberapa saudara yang berkedudukan tinggi yang datang ke balai sidang untuk mengelap bangku. Ini sungguh merupakan hal yang sangat indah.
Tahun kedua setelah saya percaya Tuhan, saya membaca Alkitab sampai kitab Tawarikh, nampak Daud mempunyai banyak anak buah yang adalah pahlawan-pahlawan yang gagah perkasa. Ketika Daud ingin mempersiapkan pembangunan Bait Allah, mereka ditempatkan di pintu-pintu gerbang sebagai penunggu pintu (1 Taw. 26). Setelah membacanya, saya merasa sangat terharu. Tidak hanya demikian, Daud sendiri adalah orang yang dilayani, ia pun seorang pahlawan yang gagah perkasa, namun ia juga mendambakan menjadi penunggu pintu di Bait Allah (Mzm. 27:4 Tl.). Melayani Tuhan harus diri sendiri datang melayani. Hari ini para sekerja untuk Tuhan adalah sebagai mulut, tetapi kita tidak hanya membuka mulut, juga harus turun tangan. Di sini tidak ada pemikiran kemasyarakatan apa pun atau kebiasaan diri sendiri. Saudari-saudari di Shanghai membentuk kelompok "reparasi" pakaian, setelah pakaian saudara saudari dicuci dan ditambal lalu diserahkan kembali. Hal ini adalah perkara yang tidak mudah. Kalau meminta saudari-saudari mengeluarkan uang untuk membeli baju baru dan diberikan kepada orang miskin, itu perkara mudah. Mereka mengumpulkan baju bekas lalu dicuci, ditambal, dijahit, disetrika, dilipat rapi, dan diserahkan kembali; tentu saja jangan menganggap melayani itu hanya seperti melakukan pekerjaan di atas. Pada prinsipnya ialah: kita harus mengkonkretkan persembahan itu.
TIGA CIRI KHAS PERSEMBAHAN
Persembahan dalam Roma 12 adalah mempersembahkan tubuh sebagai kurban yang hidup, untuk melayani Allah. Pelayanan yang demikian memiliki tiga ciri khas: Pertama, yang kudus, yakni dipisahkan. Saya mempunyai seorang teman, pada masa perang ia menjadi seorang pegawai negeri. Pada suatu kali, saya mengundang dia makan, namun dia berkata, "Tidak, tubuhku telah dijual kepada negara, aku sendiri tidak dapat sembarangan menggunakannya." Inilah yang dimaksud dipisahkan. Orang lain tidak dapat menjamah, tidak dapat menggunakan, hanya bisa digunakan oleh Allah; inilah disisihkan untuk Allah, inilah yang kudus. Kedua, pelayanan yang demikian adalah yang diperkenan Allah. Ketiga, pelayanan yang demikian juga adalah yang sepatutnya, yang sewajarnya. Karena Allah memberi kita tanpa menyisakan sedikit pun, maka ketika kita memberi kepada-Nya juga seharusnya tanpa ada yang disisakan.
Allah bukan mengadakan perhitungan dengan kita, bukan menghitung sudah berapa banyak yang Ia berikan kepada kita; melainkan Ia mempersoalkan prinsipnya. Allah memberi kita tanpa ada kesulitan, tanpa sisa sedikit pun; hari ini kita memberi kepada-Nya juga seharusnya tanpa ada kesulitan, tanpa ada yang disisakan. Persembahan kita, kalau membicarakan "kuantitas", entah berapa banyak kurangnya kita kepada Allah, tetapi akan hal "kualitas" tidak boleh berbeda.
MAKNA SEBAGAI KURBAN YANG HIDUP
Persembahan dalam Roma 12 adalah reaksi dalam kehidupan orang Kristen terhadap pekerjaan Allah; reaksi ini ialah mempersembahkan diri kepada Allah sebagai kurban (persembahan) yang hidup. "Kurban" dalam Perjanjian Lama adalah kurban yang boleh disembelih, yang boleh dimatikan. Setiap kurban yang dipersembahkan di atas mezbah harus mati; dan setelah mati akan berlalu serta tidak ada gunanya lagi. Setiap kurban hanya bisa dipersembahkan satu kali, tidak bisa dipersembahkan dua kali, karena sudah mati. Hari ini kita adalah kurban, karena itu boleh dimatikan. Tetapi syukur kepada Allah, kita juga adalah yang hidup, karena kita adalah kurban yang "hidup". Artinya ialah kita bisa dalam jangka waktu yang lama terus-menerus menyerahkan diri kita ke dalam tangan Tuhan, terus-menerus dipersembahkan kepada Tuhan sebagai kurban yang hidup; Tuhan bisa sewaktu-waktu menggunakan kita. Menjadi kurban yang hidup adalah perkara pertama yang harus dilakukan oleh orang Kristen kepada Allah.
HASIL MEMPERSEMBAHKAN DIRI SEBAGAI KURBAN YANG HIDUP
1. Memiliki Pengertian Rohani
Setelah mempersembahkan diri kepada Allah sebagai kurban yang hidup, selanjutnya di ayat 2 dikatakan ada satu hasil yang terjadi, yaitu memiliki pengertian rohani. Ada atau tidaknya pengertian rohani adalah hal yang sangat penting bagi hayat orang Kristen. Banyak saudara saudari di dalam gereja melayani Tuhan, melayani orang lain, namun kekurangan pengertian rohani. Terhadap perkara dunia sangat jelas, sangat berpengalaman, membicarakan perihal jual beli juga sangat cekatan. Namun ketika di dalam gereja, begitu membuka mulut, perkataan asing yang keluar, mengutarakan perkataan yang tidak dapat di-"amin"-kan oleh roh manusia. Ini semua dikarenakan pikirannya belum diperbarui dan diubah, sehingga kekurangan pengertian rohani. Penyebab seseorang tidak dapat memahami kehendak Allah ialah karena persembahan diri orang itu bermasalah. Ketika di Shanghai, saya sering berkata kepada saudari Lee, banyak orang mengira bahwa kesulitan orang Kristen dalam melayani ialah dikarenakan adanya penyakit dalam otaknya; namun saya percaya bahwa tidak ada seorang Kristen pun di dunia ini yang otaknya berpenyakit. Kalau orang Kristen itu otaknya berpenyakit, itu dikarenakan hatinya berpenyakit. Kalau hatinya tidak jelas, maka akan mempengaruhi otaknya. Dan penyakit dalam hati, kesulitan dalam hati itu dikarenakan persembahan dirinya tidak tuntas, masih ada yang disisakan. Keputusannya selalu salah dikarenakan hatinya berjalan mengikuti harta benda, hatinya dikendalikan oleh harta benda, sebab itu matanya tidak melihat dengan jelas. Begitu persembahan dirinya mutlak, matanya pun teranglah. Jika mata kita hanya mau kemuliaan Allah, hanya mau maksud hati Allah, kita akan dapat melihat kedalaman setiap perkara dan benda. Jika selain Allah masih ada kedambaan yang lain, masih ada harta benda, mata kita tidak akan dapat tulus dan murni, dengan sendirinya kita tidak akan mengerti kehendak Allah. Harta benda dengan mata kita itu sangat erat kaitannya.
2. Tidak Menjadi Serupa dengan Zaman Ini
Dalam bahasa aslinya, Roma 12:2 dimulai dengan kata "dan", ini menunjukkan bahwa hasil konkret dari mempersembahkan diri ialah di dalam aspek negatifnya tidak serupa dengan zaman ini. Maksud Allah ialah kita jangan muncul dari model dunia ini, jangan serupa, jangan mempunyai rupa seperti swipoa (alat hitung). Kita berada di dalam dunia ini tentunya mempunyai model dunia ini. Begitu Anda mempersembahkan diri, di aspek negatifnya Anda melepaskan model dunia ini, di aspek positifnya pikiran kita diperbaharui dan diubah, yaitu memiliki pengertian rohani. Itulah sebabnya mempersembahkan tubuh di depan; pembaruan pikiran di belakang; demikian pengertian rohani datang mengikuti. Tadinya aku bodoh, namun sekarang menjadi pandai, mudah sekali mengerti kehendak Allah.
3. Bisa Mengenal Kehendak Allah
Sekali lagi saya tegaskan, bila Anda ingin memiliki pengertian rohani, ingin mengerti kehendak Allah, Anda tidak boleh bermasalah di dalam hal persembahan diri. Jika dalam hal persembahan diri Anda bermasalah, Anda pasti tidak dapat mengerti kehendak Allah; karena Anda telah menutupi mata Anda sendiri, di dalam banyak hal tidak nampak jelas. Banyak saudara saudari telah nampak, namun Anda masih belum nampak; banyak orang bersedih untuk Anda, namun Anda tidak merasakannya; Anda merasa bahwa sesuatu itu berharga, namun gereja merasa itu sampah. Perkara yang dipandang oleh banyak orang Kristen sebagai hal yang memalukan, Anda malah menganggapnya mulia; sering kali Anda sudah salah begitu rupa, namun masih saja merasa bangga. Karena itu, hendaklah kita belajar jangan terlalu percaya kepada diri sendiri, harus sering bertanya kepada diri sendiri, "Aku sering mengatakan bahwa hal ini benar. Kalau Tuhan merahmati aku, sehingga aku mempersembahkan diri dengan lebih tuntas, apakah aku masih bisa mengatakan hal ini benar?". Persembahan diri kita sangat mempengaruhi pengenalan kita terhadap kehendak Allah.
Di Shanghai pernah ada seorang saudari datang kepada saya dan terus-menerus memperdebatkan hal pembaptisan. Ia mengemukakan satu, lima, dua puluh doktrin yang membuktikan bahwa tidak perlu dibaptis. Setelah ia selesai berbicara, saya tetap diam dan tidak berkomentar apa-apa. Saat itu kami duduk berhadapan, tidak mengatakan apa-apa. Ia pun menunggu, menunggu hingga gelisah, lalu bertanya, "Tuan Nee, mengapa Anda tidak berbicara?" Saya tersenyum dan berkata, "Semua doktrinnya telah habis Anda katakan, tidak ada lagi yang bisa saya katakan." Kemudian saya berkata, "Saya tidak takut Anda mengatakan begitu banyak alasan, saya hanya takut kalau-kalau Anda tidak jelas terhadap hal persembahan. Dapatkah Anda berkata kepada Tuhan, 'Tuhan, apa pun yang Kau ingin aku lakukan, akan kulakukan. Tuhan, Kau menginginkan apa, akan kuberikan'? Di kemudian hari bila persembahan diri Anda sudah lebih baik dari keadaan sekarang, apa yang akan Anda lakukan?". Ia segera menjawab, "Tentu saja aku mau dibaptis". Lihatlah, Anda bisa nampak bahwa orang Kristen itu tidak ada yang otaknya berpenyakit, yang ada ialah dalam persembahan dirinya ada penyakit. Begitu ada masalah dalam hal persembahan diri, otak yang paling baik pun akan menjadi tidak jelas, tidak cocok lagi. Bila persembahan diri tidak tuntas, maka akan mempengaruhi keputusan kita, mempengaruhi pikiran kita, juga mempengaruhi perilaku kita. Karena itu, jika seseorang mempersembahkan diri dengan tuntas, ia tidak akan samar-samar terhadap kehendak Allah. Mengerti atau tidak akan kehendak Allah dapat dilihat dari bagaimana tingkat persembahan diri Anda. Hal ini sangat subyektif, sedikit pun tidak boleh sembarangan.
4. Menghasilkan Koordinasi Tubuh
Ayat 1 adalah persembahan, ayat 2 adalah mengerti kehendak Allah. Karena sepenuhnya mempersembahkan diri, maka dapat mengerti kehendak Allah. Hasilnya ialah koordinasi yang tercatat dalam ayat 3-5. Orang yang mempersembahkan diri adalah orang yang dapat berkoordinasi. Ayat 3 mengatakan agar tidak melihat diri sendiri lebih tinggi daripada yang seharusnya. Banyak anak Allah tidak bisa bersatu dengan yang lainnya, tidak bisa berkoordinasi; mereka mengira penyebabnya ialah perbedaan pandangan. Sesungguhnya bukan karena perbedaan pandangan, karena kehendak Allah hanya satu, bagaimana mungkin jalan Allah bisa berbeda? Menurut prinsip Allah, kehendak-Nya hanya ada satu, mengapa banyak orang Kristen mempunyai pandangan yang berbeda? Hal ini dikarenakan ada perbedaan tingkat persembahan diri. Jika persembahan diri tidak tuntas, maka pandangan akan berbeda; begitu persembahan diri tuntas, maka tidak akan ada lagi pandangan yang berbeda terhadap kehendak Allah.
Persembahan diri kita harus tuntas, pengenalan kita terhadap kehendak Allah pun harus sempurna. Begitu persembahan diri tuntas, maka terhadap hal koordinasi, hal kehidupan Tubuh, tidak akan sembarangan. Jika saya berkata bahwa barang ini milik saya, Anda berkata bahwa barang itu milik Anda, saya memperdebatkan milik saya, Anda memperdebatkan milik Anda. Jika demikian tidak dapat mengekspresikan Allah. Yang paling dihargai oleh orang dunia ialah harta benda, diri sendiri, namun Allah justru mengorbankan semuanya itu. Saya tidak mempersembahkan, berarti saya ingin menaruh barang sendiri di tangan sendiri, supaya diri sendiri bisa dengan bebas mengaturnya. Mengapa banyak orang yang tidak senang hidup bersama? Mereka takut tidak bisa leluasa bertingkah laku; karena jika hidup bersama, tidak ada orang yang dapat berkata bahwa sesuatu barang itu miliknya sendiri. Lihatlah, barang adalah penyebab terhalangnya kesatuan antar saudara saudari. Dalam Kisah Para Rasul 2 dan 4, tidak ada seorang pun di antara kaum saleh yang berkata bahwa suatu barang itu miliknya, juga tidak ada seorang pun yang memegahkan dirinya dengan berkata bahwa dirinya berbeda dengan yang lainnya. Ketika zaman ini sudah mendekati akhir, semua orang yang dalam (lawan dangkal) di dalam Tuhan, yang berpengalaman, akan memperhidupkan kehidupan dan kemuliaan Tubuh. Jika kita tidak mempersembahkan diri sepenuhnya, kita tidak akan memiliki kehidupan koordinasi Tubuh. Jika segala sesuatu kita telah dipersembahkan, maka pikiran, cara kerja, dan rencana kita otomatis tidak akan ada model dunia; pandangan dan motivasi kita otomatis akan sama dengan saudara saudari lainnya; kita pun otomatis akan dapat mengerti kehendak Allah. Kemudian akan ada koordinasi yang riil dalam kehidupan Tubuh.
Semoga Allah berbicara kepada kita. Hari ini kita hanya mempunyai satu pengharapan, yaitu tidak seorang pun yang menyisakan sesuatu bagi dirinya sendiri, supaya Allah ada jalan lancar di tengah-tengah kita. Semoga gereja di zaman akhir ini bisa bereksistensi seperti zaman gereja yang sebermula. Semoga setiap orang di antara kita tidak ada yang hidup untuk diri sendiri. Pekerjaan kita hanya satu, yaitu menjadi orang-orang yang memberitakan Injil; tidak ada seorang pun yang memiliki usaha pribadi di dalam "perusahaan" Injil ini. Semoga kehendak Allah dapat terlaksana di bumi; semoga Allah merahmati kita agar kita belajar melayani Dia. Allah tidak menginginkan kita mendua hati dalam melayani Dia, semoga dalam hal ini kita bisa berjuang sekuatnya.
Kami juga berharap jangan karena kami tidak berlaku baik, lalu menghalangi orang lain mempersembahkan diri, sehingga timbul kesulitan antara saudara saudari dengan Allah. Kehendak Allah adalah mutlak, hanya dengan demikian barulah kita dapat melayani Dia. Semoga tidak ada seorang pun saudara atau saudari yang karena kami tidak berlaku baik, lalu tidak bisa berjalan dengan baik di hadapan Allah. Semoga sejak hari ini, dunia adalah yang ditolak keluar, Tuhan sepenuhnya dijunjung tinggi oleh anak-anak-Nya.
W.N
POTONGAN JALAN YANG TERAKHIR
Pembacaan Alkitab:
Markus 6:45-52: "Sesudah itu Yesus segera mendesak murid-murid-Nya naik ke perahu dan berangkat lebih dahulu ke seberang, ke Betsaida, sementara itu Ia menyuruh prang banyak pulang. Setelah berpisah dari mereka, Ia pergi ke bukit untuk berdoa. Menjelang malam perahu itu sudah di tengah danau, sementara Yesus tinggal sendirian di darat. Ketika Ia melihat betapa payahnya mereka mendayung karena angin sakal, maka kira-kira jam tiga malam Ia datang kepada mereka berjalan di atas air dan hendak melewati mereka. Ketika mereka melihat Dia berjalan di atas air, mereka mengira bahwa Ia hantu, lalu mereka berteriak-teriak, sebab mereka semua melihat Dia dan mereka pun sangat terkejut. Tetapi segera Ia berkata kepada mereka, 'Tenanglah! Inilah Aku, jangan takut!' Lalu Ia naik ke perahu mendapatkan mereka, dan angin pun reda. Mereka sangat tercengang, sebab mereka belum juga mengerti walaupun sudah mengalami peristiwa roti itu, dan hati mereka tetap tidak peka."
Potongan ayat Alkitab ini sering membantu saya, juga terus menerus membantu saya. Di depan potongan ayat Alkitab ini, membicarakan Tuhan Yesus dengan lima ketul roti dan dua ekor ikan mengenyangkan lima ribu orang. Di belakang potongan ini, membicarakan Tuhan Yesus menyembuhkan banyak orang. Tiga perkara ini merupakan satu lambang besar dari sejak Tuhan Yesus mati di atas salib sampai mendirikan Kerajaan; membicarakan bagaimana Tuhan (1) mati bagi kita, (2) naik ke surga menjadi Imam Besar bagi kita, (3) kelak akan datang lagi dan mendirikan Kerajaan.
Injil Yohanes 6 juga mencatat Tuhan dengan lima ketul roti dan dua ekor ikan mengenyangkan lima ribu orang, namun perkataan di sana sedikit lebih banyak. Di sana mengatakan setelah Tuhan Yesus membagi roti dan ikan, lalu ada satu kebenaran yang sangat penting, yaitu "Akulah roti yang telah turun dari surga" (ayat 41). Maksud Tuhan: Sebagaimana hari ini kamu dikenyangkan karena makan roti ini, demikian juga kamu akan dikenyangkan karena makan daging-Ku, minum darah-Ku, dan mendapatkan hidup yang kekal. Sebab itu perkara Tuhan membagikan roti melambangkan Tuhan mati bagi kita, membelahkan Tubuh-Nya, mengalirkan darah adi-Nya.
Markus 6:46 mengatakan, "Ia pergi ke bukit untuk berdoa." Ini melambangkan Tuhan Yesus naik ke surga menjadi Imam Besar, di hadapan Allah berdoa bagi kita.
Markus 6:53-56 melambangkan Tuhan Yesus datang kembali mendirikan Kerajaan-Nya untuk menyembuhkan banyak orang yang sakit.
Yang akan saya bicarakan hari ini adalah perkara Tuhan menyuruh murid-murid menyeberang laut. Perkara ini terselip di belakang salib, dan di depan kerajaan. Ini adalah perkara pada hari ini, yaitu perkara dalam zaman gereja. Artinya, setelah salib dan sebelum kerajaan, ada perkara apa, dan kita harus mempunyai sikap yang bagaimana. Hari ini saya tidak menekankan apa yang Tuhan kerjakan untuk kita, tetapi menekankan kita harus bagaimana.
Ayat 45, "Sesudah itu Yesus segera mendesak murid-murid-Nya naik ke perahu dan berangkat lebih dahulu ke seberang, ke Betsaida, sementara itu Ia menyuruh orang banyak pulang." Saudara saudari, ayat ini memberi tabu kita bahwa kita masing-masing mempunyai jalan-Nya. Kata "memerintah" di sini sama dengan kata "menguasai" dalam 2 Korintus 5:14. Tuhan mendesak murid-murid naik ke perahu. Tuhan mati bagi mereka, Tuhan juga mendesak mereka berjalan. Tuhan mempunyai satu jalan bagi murid-murid, Tuhan memerintahkan murid-murid berjalan. Seumur hidup orang Kristen yang paling penting adalah mencari jalan yang ditetapkan oleh Tuhan, dan dengan setia menempuh jalan itu. Hari ini di antara orang yang percaya Tuhan, terdapat satu perkara yang tidak baik, yaitu banyak orang yang tidak mencari jalan yang ditentukan bagi mereka. Ada orang yang menemukannya, tetapi tidak menempuh jalan itu; sebab itu dalam kehidupan mereka ada sekian banyak kematian dan keterbatasan rohani, dalam pekerjaan Allah ada sekian banyak benturan dan perselisihan. Pekerjaan yang paling penting bagi setiap orang yang beriman adalah dengan tenang menunggu, berdoa, mempersembahkan diri, dan taat menyerahkan diri ke tangan Allah, sepenuh hati mencari petunjuk Allah, mau tunduk kepada-Nya, mau hanya menuruti kehendak-Nya, mohon Dia menunjukkan kepada kita jalan yang ditentukan bagi kita pribadi; kemudian mengeluarkan segala harga dengan sepenuh hati berjalan di atasnya.
Dari Lukas 9:10 kita mengetahui tempat membagi roti adalah Betsaida. Dari peta kita mengetahui ada dua Betsaida, satu di timur laut Kapernaum, yang satu lagi di barat daya Kapernaum. Tuhan memerintahkan mereka dari Betsaida yang di timur laut menyeberang ke Betsaida yang di barat daya.
Ayat 46 berkata, "Setelah berpisah dari mereka, Ia pergi ke bukit untuk berdoa." Ini adalah satu gambar yang menyatakan bagaimana Tuhan meninggalkan murid-murid-Nya, naik ke surga, di sebelah kanan Bapa melakukan pekerjaan doa syafaat; dan muridmurid yang ditinggalkan di bumi, menempuh jalan yang Ia tentukan bagi mereka.
Ayat 47-48 berkata, "Menjelang malam perahu itu sudah di tengah danau, sementara Yesus tinggal sendirian di darat. Ketika Ia melihat betapa payahnya mereka mendayung karena angin sakal, maka kira-kira jam tiga malam Ia datang kepada mereka berjalan di atas air dan hendak melewati mereka." Bagaimana keadaan murid-murid di atas penempuhan ini? "Menjelang malam", hari sudah malam, perahu berada di tengah laut. Kristus adalah terang dunia, tetapi sudah meninggalkan dunia ini. Ketika Ia datang lagi, Dia akan menjadi Bintang Timur dan Matahari. Sejak Kristus naik ke surga sampai datang kembali, dunia ini terus berada dalam masa malam yang panjang. Menurut pandangan manusia, dunia ini semakin lama semakin terang, semakin lama semakin maju. Tetapi menurut firman Allah, "hari sudah jauh malam" (Rm. 13:12). Allah tidak berkata dunia sangat terang, sangat maju, tetapi firman Allah berkata, hari sudah jauh malam. Sekarang kita berada dalam malam yang gelap ini. Sebab itu kita merasakan sekeliling kita semuanya gelap. Apakah Anda merasakan sekeliling semuanya gelap? Kalau Anda tidak mengetahui apa yang disebut gelap, kalau Anda tidak merasakan sekeliling semuanya gelap, mungkin Anda sudah dilebur oleh dunia. Kalau kita berjalan di dalam terang, sering dekat dengan Allah, hidup dalam Kristus, terus-menerus menghakimi pekerjaan daging, dan menurut pimpinan Roh Kudus, dengan sendirinya kita akan memahami bahwa dunia ini benar-benar adalah satu dunia yang gelap.
"Perahu itu sudah di tengah danau". Perjalanan kita belum mencapai tujuan. Meskipun masalah hidup yang kekal dan mati yang kekal kita sudah beres, tidak akan menjadi masalah lagi; namun sejarah kita di dalam dunia ini, apakah kita setia sampai kesudahan atau gagal, setia sampai kesudahan, atau berubah di tengah jalan, ini belum pasti. Perahu masih di tengah danau, belum masuk ke dalam pelabuhan, sebab itu masih ada kerawanan, masih ada kemungkinan terjadi perubahan. Kita tidak boleh terlalu percaya diri, mengira kesudahan kita sudah pasti. Kita sedang dalam perjalanan, meskipun menggembirakan, namun bagaimana penempuhan kita, dan bagaimana kesudahan kita, masih suatu tanda tanya.
Bagaimana penempuhan murid-murid, mereka mengalami apa saja? "Betapa payahnya mereka mendayung karena angin sakal". Saudara saudari, kalau di pihak Anda ada angin sakal, pasti di pihak yang berlawanan dengan Anda ada orang yang mendapat angin buritan. Jika dari timur laut menuju ke barat daya ada angin sakal, dari barat daya menuju ke timur laut pasti ada angin buritan. Kalau jalan yang ditempuh orang Kristen tidak berlawanan dengan arah angin, saya curiga apakah jalan mereka itu adalah jalan yang ditentukan Tuhan. Kita seharusnya menempuh jalan yang ditentukan Tuhan. Tuhan sudah memutuskan kedudukan kita di dunia. Ia berkata, "Sebab itulah dunia membenci kamu." Jalan kita melawan arah angin. Kalau kita tidak pernah ditentang, ditertawai, atau dianiaya orang dunia, kedudukan kita yang ada sekarang pasti bukan pemberian Tuhan. Kita seharusnya mengalami angin sakal, kita tidak seharusnya menumpuh jalan angin buritan. Kalau seseorang menurut jalan yang ditentukan Tuhan, dari timur laut menuju ke barat daya, pasti ada angin sakal. Kalau tidak demikian, saya meragukan apakah jalan yang ia tempuh sudah benar.
"Betapa payahnya mereka mendayung karena angin sakal". Setiap orang beriman yang setia pasti merasakan perkara ini — betapa payahnya mendayung karena angin sakal! Beberapa tahun belakangan ini, pencobaan lebih banyak dan lebih hebat daripada dulu: Orang-orang milik Tuhan, sepertinya banyak perkara, tubuh mereka sering lemah, sering sakit; keluarga mereka banyak urusan, banyak kesulitan; usaha mencari nafkah lebih sulit daripada dulu; masyarakat semakin lama semakin memberi tekanan dan serangan kepada mereka; setan, roh jahat lebih-lebih sekuatnya menimbulkan gelombang, ingin menganiaya orang beriman, ingin membasmi orang beriman. O, semuanya itu adalah angin sakal! Kalau Anda ingin berdiri teguh pada jalan yang ditentukan Tuhan, pasti merasakan angin sakal, sungguh sengsara! Mari kita tinjau bagaimana keadaan gereja beberapa tahun ini? Tidak kelihatan ada orang yang dibangunkan oleh Tuhan dan dipakai secara besar-besaran oleh Tuhan. Berbagai macam bidah lebih banyak daripada dulu. Bujukan roh jahat lebih banyak daripada dulu. Keadaan duniawi lebih hebat daripada dulu. Dalam zaman yang begini, kalau Anda tetap berada pada jalan yang ditentukan Tuhan, sedikit pun tidak membelok, bagaimana bisa mendapatkan angin buritan? Bagaimana bisa tidak merasa sengsara?
Tetapi kita lebih baik menderita daripada berkelana; lebih baik payah mendayung daripada terhanyut; lebih baik menempuh jalan yang sulit, daripada menempuh jalan yang mudah tetapi berkelana. Kalau kita ingin angin buritan, tidak perlu kembali, asal berhenti mendayung, langsung ada angin yang menghantar kita kembali ke tempat asal. Terhanyut tidak perlu tenaga. Kalau kita ingin berdiri teguh, akan merasakan sulit. Asal kita mau sedikit kompromi, sedikit kendur, sedikit santai, sedikit mundur, angin akan menghantar kita kembali, tidak perlu mengeluarkan tenaga. Mengasihi dunia tidak perlu mengeluarkan tenaga. Berdiri bagi Tuhan, setia bagi Tuhan, pasti mengalami angin sakal, akan merasakan mendayung dengan payah.
Saudara saudari, untuk kembali ke tempat asal sangat mudah, Sekarang saatnya kita memilih, saatnya kita setia. Semoga kita menempuh jalan yang ditentukan Tuhan.
Murid-murid sepanjang malam mendayung; mereka terus mendayung sampai jam tiga malam. Kalau mereka kembali, mereka merasa malu; bukankah lebih baik kembali ke Kapernaum menunggu sebentar, dan istirahat sebentar? Tetapi mereka tidak berbuat demikian.
Jam tiga adalah saatnya malam paling gelap, akhir dari malam hari, juga saatnya kita harus bertahan. Saya tahu Anda menghadapi pencobaan, karena saya juga menghadapi pencobaan; saya tahu Anda ada ujian, karena saya juga ada ujian. Sekarang bukan saatnya untuk menegur, karena pencobaan terlalu besar. Sekarang bahaya yang paling besar, pencobaan yang paling besar, adalah sedikit dingin, sedikit kompromi, sepertinya sedikit mengantuk. Sekarang kita memang terlalu letih. Pada mulanya, karena dorongan kasih, masih ada sedikit kekuatan bertahan; sekarang, sepertinya sudah terlalu lama, terlalu sulit, lalu menjadi tawar. Saya melihat banyak orang beriman, beberapa tahun yang lalu penuh semangat, gigih berjuang dalam medan perang, sekarang telah tawar, telah mundur. Karena angin sakal terlalu keras. Sedikit tawar lebih sulit dikalahkan daripada pencobaan apa pun. Kita masih bisa mengalahkan dosa, tetapi dalam perjalanan yang melawan angin sakal sedemikian, karena merasa terlalu letih, lalu condong agak tawar sedikit.
Saudara saudari, kalau semula Tuhan pernah sekali menggerakkan kita, memerintahkan kita menempuh satu jalan; kalau Tuhan pernah memerintahkan kita menyeberang laut ke sisi sana, kita tidak boleh berhenti. Kalau kita berhenti, arus air laut akan menghantar kita ke tempat yang lebih jauh dari Tuhan, angin buritan juga akan menghantar kita ke tempat yang lebih jauh dari Tuhan. Kita lebih baik menderita, tetapi tidak mau terhanyut. Sekarang perlu dorongan yang positif. Paulus berkata kepada Timotius, "Karena itulah kuperingatkan engkau untuk mengobarkan karunia Allah yang ada padamu oleh penumpangan tanganku atasmu." "Mengobarkan" dalam bahasa aslinya berarti diaduk-aduk (khususnya terhadap tumpukan bara api, supaya lebih membara). Saudara saudari, semoga kasih kita yang semula, sekarang diaduk-aduk, sehingga kasih itu dikobarkan lagi. Mungkin Anda telah jatuh, sekarang bangunlah. Penulis Surat Ibrani melihat bahwa di antara saudara-saudara Ibrani "ada yang kelihatannya ketinggalan", hati yang semula untuk Tuhan kelihatannya sudah mundur, sebab itu ia menganjuri mereka "kuatkanlah tangan yang lemah dan lutut yang goyah." Tuan Muller berkata, "Kunci rahasia seseorang bila ingin mendapatkan kesuksesan yang besar di hadapan Allah, tergantung pada tetap bertahan, bahkan sampai pada setengah jam yang terakhir." Saudara saudari pernahkah Anda mengalahkan banyak pencobaan? Meskipun gelap sungguh terlalu pekat, tetapi tidak akan lama lagi. Yesaya 21:12 mengatakan, "Pengawal itu berkata: Pagi akan datang, tetapi malam juga ...." Meskipun sekarang berada pada malam hari, tetapi pagi segera datang. Saya harap, meskipun Anda berada dalam keadaan yang demikian, tetaplah bertahan bahkan sampai pada setengah jam yang terakhir. Mata kita jangan hanya menatap pada malam hari, jangan hanya melihat pada kesulitan. Hari ini kalau Anda tidak berjalan, itu sangatlah rugi; hari ini kalau Anda terlalu kendur atau santai itu sangat disayangkan, karena kita segera akan tiba di seberang.
Nyonya Penn-Lewis berkata, "Banyak orang beriman berkata bahwa mereka menjumpai banyak tekanan. Peperangan hari ini sepertinya sehari lebih hebat dari sehari, sepertinya satu-satunya sasaran serangan Iblis adalah kita saja. Sekarang masalahnya, apakah Anda bisa bertahan pada setengah jam terakhir. Daniel 7:25 berkata, ‘Ia . . . akan menganiaya orang-orang kudus milik Yang Mahatinggi.' Menganiaya, dengan kata lain adalah "mengikis". Sekarang pekerjaan pengikisan Iblis terhadap kaum saleh sudah mulai. Kita lebih sulit mengenal Iblis yang mengikis kaum saleh daripada Iblis yang mengaum seperti singa."
Ketika saya di Kuling, sering berjalan-jalan di pinggir sungai kecil, sering melihat ada batu yang sebesar ember, di tengahnya ada satu lubang. Lubang itu terjadi karena terkikis oleh banyak batu-batu kecil yang terbawa oleh arus air sungai dari sehari ke sehari. Terhadap anak-anak Allah, Iblis juga demikian. Dia tidak sekaligus membunuh Anda, melainkan sehari lewat sehari mengikis Anda.
Saudara saudari, meskipun kita bisa merasa sengara, bisakah bertahan sedikit lagi? Bisakah Anda bertahan pada setengah jam yang terakhir? Bisakah kalian berjaga-jaga bersama Tuhan dalam sejangka waktu yang pendek? O, hari ini adalah waktu kita, waktu kita bertahan. Kalau ada orang belum pernah merasakan angin sakal, ia sangat kasihan! Kalau ada orang tidak pernah merasakan kepahitan dunia, kebobrokan dunia, penganiayaan dunia, berarti ia tidak pernah bergerak! Hanya ketika Anda dengan setia maju, Anda baru merasakan sulit, baru merasakan angin bertiup dari lawan arah. Pada saat inilah akan ada satu suara berkata kepada Anda, "Terlalu sengsara, kendurlah sedikit, istirahatlah sebentar!" Tetapi saya memberi tahu Anda, sekarang tidak boleh istirahat, karena sudah berjalan cukup jauh.
"Yesus tinggal sendirian di darat. Ketika Ia melihat betapa payahnya mereka mendayung karena angin sakal, maka kira-kira jam tiga malam Ia datang kepada mereka berjalan di atas air dan hendak melewati mereka." Tuhan akan melihat apakah kita setia, menjaga diri, atau mengkhianati Tuhan. Tuhan akan melihat kita maju atau mundur. Mata Tuhan sedang melihat saya, juga melihat Anda. Tuhan memperhatikan setiap langkah kita. Tuhan mengetahui seberapa banyak pencobaan kita, seberapa banyak kesulitan yang kita alami. Tuhan tidak akan membiarkan kita mendapatkan kesulitan lewat dari jam tiga. Saat malam paling gelap, Ia datang. Dia sudah mati bagi kita, Dia telah naik ke surga berdoa bagi kita, bersamaan dengan itu Dia juga melihat kesulitan kita, saat malam paling gelap, Ia datang.
Dalam ayat 48 masih ada satu perkara yang paling istimewa, yaitu Tuhan "hendak melewati mereka." Banyak orang membaca sampai di sini merasa heran, seolah-olah Tuhan bukan ingin datang ke tempat murid-murid. Menurut pandangan pada hari ini, kelihatannya tidak ada masalah, kalau Tuhan memerintahkan murid-murid-Nya ke Betsaida, tentu Tuhan turun dari bukit dan pergi ke Betsaida. Tuhan tidak mungkin pergi ke lain tempat untuk menantikan mereka. Tuhan mencari mereka menurut jalan yang diperintahkan kepada mereka. Kalau mereka berubah haluan, ketika Tuhan datang, Tuhan tidak akan bertemu dengan mereka. Jika mereka salah jalan, Tuhan tidak akan berhenti di persimpangan jalan menantikan mereka. Ini sangat serius! Saya sering berpikir, kalau Tuhan memerintahkan saya pergi ke Shanghai, tetapi saya pergi ke Nanking, ketika Dia datang, saya tidak bisa terangkat. Karena orang yang terangkat berada pada jalan yang diperintahkan oleh Tuhan. Kalau tidak di jalan yang diperintahkan Tuhan, akan kehilangan kesempatan terangkat. Setiap orang di antara kita harus memikul tangung jawab kita sendiri, sebenarnya kita berjalan di mana.
Ayat 51 mengatakan, "Lalu Ia naik ke perahu mendapatkan mereka, dan angin pun reda,...." Begitu Tuhan datang, semuanya beres. Puji syukur kepada Tuhan, meskipun angin datang dari lawan arah, tetapi tidak akan selamanya berlawanan arah; meskipun mendayung dengan payah, tetapi tidak akan selamanya mendayung. Tuhan mungkin sudah berada di perjalanan. Saudara saudari, kita bisa tahan menderita di dunia, karena di belakang kita Tuhan sudah mati bagi kita, di depan kita Tuhan akan datang kembali; di belakang ada kasih Tuhan mendorong kita, di depan ada pengharapan Tuhan menarik kita. Ada satu misionaris berkata, "Aku mempunyai Tuhan sebagai bagianku, sebab itu aku bisa meninggalkan segalanya bagi Tuhan." Mata Tuhan sedang memandang kita, janganlah takut penderitaan, kalau hari ini kita karena takut penderitaan lalu berubah arah, maka penderitaan yang dulu sudah kita pikul akan sia-sia semua.
Ada seorang yang sangat berbobot di dalam Tuhan berkata, "Kita membaca 2 Tesalonika 2:3 dan 2 Timotius 3:1-13 akan mengetahui, sebelum Tuhan datang kembali, pasti terjadi murtad, dan masa yang sukar, lagi pula orang jahat dan penipu akan bertambah jahat. Perkara-perkara kemurtadan ini bukan mengacu kepada pendidikan, aktivitas agama, pendeta yang bertalenta, kemewahan gedung kebaktian, kemajuan daya pikir dan material, melainkan mengacu kepada iman dan pengakuan terhadap kuat kuasa Allah. Pada hari ini ada beberapa denominasi yang ternama cenderung kepada apa yang disebut ilmu pengkritikan yang tinggi (sebenarnya adalah ketidakpercayaan yang rendah), menyangkal pekerjaan Allah yang supernatural, seperti dilahirkan kembali, dikuduskan, doa terjawab, melalui Roh Kudus memberi wahyu kepada orang tentang hal-hal rohani, dan lain-lain."
Sebelum hari Tuhan datang, pasti timbul kebohongan besar dan perkara-perkara yang salah, sekiranya mungkin, menyesatkan orang-orang pilihan. Lagi pula perkara "secara lahiriah menjalankan ibadah" pasti semakin bertambah. Iman berkurang, tidak saja karena mencintai dunia dan menyangkal firman Allah, juga karena iman palsu yang dibuat oleh Iblis. Ada seorang saudara berkata, "Pekerjaan-pekerjaan Iblis akan menjadi satu pengaruh yang tidak kelihatan, memenuhi udara di sekitar kita; akan menjadi satu ibadah lahiriah, tetapi di dalam penuh dengan roh jahat, penuh dengan bayang-bayang alam maut. Roh-roh jahat ini akan sekuatnya melukai, mengganggu, dan menekan anakanak Allah. Mereka akan mempengaruhi tubuh kita, menekan situasi hati kita, membutakan pikiran kita. Berbagai perasaan yang aneh dan ujian yang supernatural akan menimpa kita, supaya kita tanpa alasan yang jelas menjadi tidak mempunyai minat dan kekuatan untuk mengarahkan diri kepada Allah; roh menjadi lemah, pikiran tumpul, tekad kabur, secara luar biasa menginginkan perkara yang dilarang oleh Allah, dan dengan heran sekali senang pelesiran dan kebiasaan duniawi. Susah mempunyai khotbah yang bebas dan berkuasa, susah mendengarkan khotbah, dan susah berlutut berdoa dengan tekun dan berkesinambungan. Ketika dunia ini semakin dekat waktunya, suasana atau atmosfir demikian ini harus kita perangi." O, biarlah kita perkasa di dalam Tuhan! Iblis pasti dengan kekuatan yang luar biasa menudungi pikiran dan tekad kita, sehingga kita sulit dengan mesra berjalan bersama Allah, sebaliknya mudah hidup mengikuti daging, sulit setia melayani Allah, sulit berdoa dengan sepenuh hati. Sepertinya yang ada di dalam kita, semuanya bangun menentang kita mengikuti Tuhan Yesus sampai garis akhir, dan membujuk kita mengadakan perjanjian perdamaian dengan dunia.
Atmosfir yang mengitari kita akan menarik kita meninggalkan Allah, akan membuat kita tidak gairah berdoa, membuat kesadaran rohani kita tumpul, tidak bisa nampak arti sungguhnya perkara surgawi, juga tidak nampak penyertaan Tuhan yang mulia, membuat kita mudah mengabaikan persekutuan dengan Allah, dan sulit mempertahankan persekutuan dengan Allah.
Kita sudah merasakan hal-hal ini mulai mempengaruhi kita. Nafsu dunia dengan berbagai cara merajut jaring untuk menjerat kita, bahkan merajut lebih kuat dan kukuh di atas diri banyak orang beriman. Banyak hal yang tidak dapat dilakukan pada satu generasi yang lalu, sekarang bukan saja dilakukan, bahkan dilakukan dengan terang-terangan tanpa merasa malu. Banyak tempat penyembahan kepada Allah, tidak saja menolak perkara rohani, tidak ada kebangunan rohani, bahkan membawa masuk berbagai pelesiran dan perkara yang patut dipertanyakan.
Menurut keadaan umum, di setiap pelosok dunia muncul keadaan kelunturan iman dan penyimpangan dari jalan yang benar. Tentunya kita mengakui, ada juga beberapa tempat yang terkecuali, yang benar-benar diberkati Allah; tetapi secara keseluruhan, keadaan gereja-gereja di dunia memberikan kepada kita satu gambar yang menyedihkan.
Melihat hal-hal ini, mau tak mau harus menggugah gereja Allah bangun, bersemangat, berpaling untuk bersekutu dengan Allah, dalam sisa waktu ini, mencari perkenan Allah,. mempersiapkan diri "menghadap takhta pengadilan Kristus; memberi pertanggungjawaban tentang dirinya sendiri" (2 Kor. 5:10; Rm. 14:12).
Saudara saudari, yang kita bicarakan di atas sungguh-sungguh benar. Saya tidak mengetahui bagaimana perasaan kalian? Saya setiap hari merasakan bahwa seluruh dunia sedang menentang kita. Kita hanya ada dua sikap, bertahan atau kendur. Dunia masih menyambut Anda, Iblis juga menyambut Anda, tetapi Tuhan memerintahkan Anda menyeberang ke Betsaida yang di sisi sana. Kalau sekarang kita tidak setia, selamanya tidak akan setia. Banyak anak-anak Allah rela menderita bagi Tuhan, rela menempuh jalan yang sunyi bagi Tuhan, apakah kita seperti yang dibicarakan oleh syair yang dibuat oleh seorang saudara dari Inggris, "Orang lain menyeberangi lautan darah menuju ke tempat Tuhan, apakah saya ingin ditandu ke tempat Tuhan!" Musa berkata kepada bani Gad dan Ruben, "Masakan saudara-saudaramu pergi berperang, dan kamu tinggal di sini?" (Bil. 32:6). Saudara saudari, orang lain dengan setia menderita, bisakah kita duduk tenang? Memang ada penderitaan, tetapi itu jauh lebih baik daripada terhanyut. Setiap orang harus setia melayani Tuhan, menempuh jalan yang diperintahkan oleh Tuhan, mencapai ke seberang.
W.N.