HAMBA YEHOVA SEBAGAI KASIH SETIA YANG TEGUH BAGI DAUD, PENEBUS BAGI SION, DAN TERANG BAGI ISRAEL
Pembacaan Alkitab: Yes. 55:3b-4; 59:20; 60:1-3
Doa: Tuhan, kami tetap menyembah Engkau. Kami menyembah Engkau sebagai Dia yang memiliki semua realitas dari Allah. Tuhan, terima kasih kepada-Mu. Engkau adalah perwujudan dari kepenuhan Allah, Engkau adalah Firman, dan Engkau adalah Roh. Tuhan Yesus, kami memberikan semua kemuliaan kepada-Mu, dan kami bersandar kepada-Mu untuk sidang malam ini. Tuhan, Engkau tahu kami tidak dapat berbuat apa-apa. Kami bersandar kepada-Mu untuk pembicaraan-Mu. Tuhan, Engkau begitu hidup, dan Engkau bahkan hidup di dalam kami sebagai Firman yang hidup dan sebagai Roh pemberi hayat. Tuhan, dipermuliakanlah diri-Mu, dipermuliakanlah nama-Mu, di antara kami. Tuhan, berkati setiap orang yang ada di sini dalam sidang ini. Berikanlah satu hati kepada kami yang mencari Engkau, dan berikanlah mata kepada kami agar kami dapat melihat Engkau. Tuhan, ingatlah musuh-Mu. Kami menuduh dia. Kami menyerahkan dia kepada-Mu. Tudungi kami. Kami menyembunyikan diri kami di bawah darah yang mustika yang menang terhadap si musuh. Amen.
I. KASIH SETIA YANG TEGUH BAGI DAUD
Kristus yang almuhit, Hamba Yehova, adalah kasih setia yang teguh bagi Daud (Yes. 55:3b-4). Sejarah memberi tahu kita bahwa Daud adalah seorang raja yang menakjubkan. Sulit untuk memahami bagaimana seorang raja yang sempurna, menakjubkan, dan agung memerlukan belas kasihan. Menurut konsep kita, orang-orang miskin, orang-orang yang kelas rendah, perlu belas kasihan. Daud dapat dianggap sebagai seorang raja yang top dalam sejarah manusia. Bagaimana mungkin seorang yang tinggi demikian memerlukan belas kasihan?
Daud menulis banyak mazmur yang menakjubkan. Sulit untuk dipercaya bahwa penulis yag demikian ini membunuh seseorang dan mengambil istri orang itu (2 Sam. 11). Pembunuhan dan perzinahan dilakukan oleh raja ini. Tidakkah dia memerlukan belas kasihan? Di antara semua mazmur yang baik yang ditulis oleh Daud, ada Mazmur 51. Ini adalah satu mazmur tentang pertobatan dan pengakuan Daud setelah ia melakukan perzinahan dan pembunuhan. Mazmur ini memperlihatkan bahwa Duad pun adalah seorang yang memerlukan belas kasihan Allah. Ini menunjukkan bahwa setiap orang dalam ras manusia memerlukan belas kasihan Allah.
Kitab 1 dan 2 Samuel, 1 dan 2 Raja-raja, dan 1 dan 2 Tawarikh membicarakan tentang sejarah bani Israel dan raja-raja mereka. Sampai satu tahap tertentu catatan tentang penduduk negara Israel dengan raja-raja mereka ini sangat kasihan. Hanya sedikit raja yang baik; kebanyakan dari antara mereka itu sangat buruk. Dalam situasi yang buruk demikian, perlu ada belas kasihan Allah.
Kitab Yesaya penuh dengan penghakiman Yesaya terhadap bani Israel. Ia membandingkan mereka dengan penduduk Sodom dan Gomora yang fasik (1:9-10; 3:9). Yeremia juga tegas dalam penghakimannya terhadap Israel. Yeremia memperlihatkan kepada kita betapa raja-raja dari keluarga Daud memerlukan belas kasihan Allah. Yeremia membicarakan tentang Zedekia, raja Yehuda yang terakhir. Ia diperingatkan oleh Yeremia sampai pada puncaknya tetapi ia tidak mau mendengarkan. Akhirnya, ia ditawan. Setelah Yerusalem jatuh, ia berusaha untuk menyelamatkan diri, tetapi ia ditawan oleh tentara Babel dan dibawa ke hadapan Nebukadnezar, raja Babel. Kemudian Nebukadnezar membunuh anaknya, mencungkil matanya, membelenggunya dengan rantai, dan membawanya ke Babel (Yer. 39:1-7; 52:1-10). Ini memperlihatkan situasi umat Tuhan yang sangat kasihan pada waktu itu. Dalam situasi yang sangat kasihan ini, mereka memerlukan belas kasihan Allah.
A. Kristus Adalah Kasih Setia/Belas Kasihan Allah bagi Daud
Ketika Yesaya sampai ke pasal lima puluh lima, setelah menulis begitu banyak pasal mengenai Kristus, ia membicarakan satu aspek tentang Kritsus yang belum pernah kita impikan atau bayangkan. Aspek tentang Kristus ini adalah bahwa Dia adalah “kasih setia yang teguh yang dijanjikan/ditunjukkan Allah kepada Daud” (ay. 3b). Kata ditunjukkan bukanlah teks bahasa Ibrani dari Yesaya 55:3. Banyak terjemahan yang mengatakan “kasih setia/belas kasihan yang teguh bagi Daud,” tetapi ini dapat ditafsirkan bahwa Daud memiliki banyak belas kasihan. Ini tidak tepat. Belas kasihan ini ditunjukkan kepada Daud atau dijanjikan kepada Daud.
Kita telah menunjukkan bahwa enam puluh enam pasal dari Yesaya ini dibagi menjadi dua bagian. Bagian yang pertama yang terdiri dari tiga puluh sembilan pasal sesuai dengan tiga puluh sembilan kitab dalam Perjanjian Lama; dan bagian yang terakhir yang terdiri dari dua puluh tujuh pasal sesuai dengan dua puluh tujuh kitab dalam Perjanjian Baru. Isi dari dua bagian ini juga sesuai dengan pemikiran dari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Bagian yang kedua, yang sesuai dengan Perjanjian Baru ini, mutlak merupakan satu firman penghiburan. Tidak ada penghukuman atau teguran lagi. Dalam firman penghiburan ini, ada satu bagian yang mengatakan bahwa Kristus, Dia yang almuhit ini, adalah belas kasihan yang teguh yang ditunjukkan Allah kepada Daud dan dijanjikan kepada Daud. Allah berjanji bahwa Kristus, yang akan keluar dari keturunan Daud ini, akan menjadi belas kasihan yang teguh dari Allah terhadap keluarga raja Daud.
Tidak ada seorang pun yang dapat menghapuskan keluarga raja Daud karena ada belas kasihan yang teguh dari Allah, yaitu Kristus. Kristus, sebagai salah satu keturunan Daud, menjadi belas kasihan yang teguh dari Allah kepada Daud. Yeremia mengatakan sama seperti ketentuan bahwa matahari sebagai terang untuk siang hari, bulan dan bintang sebagai terang untuk malam hari tidak akan pernah berubah, demikian juga dengan keturunan Israel dan Daud tidak akan berhenti menjadi satu bangsa di hadapan-Nya sampai selama-lamanya (Yer. 31:35-36; 33:24-26). Dengan kata lain, tidak ada seorang pun yang dapat menghapuskan perasaan Allah terhadap keluarga raja Daud. Banyak raja dari keturunan Daud yang disinggung dalam 1 dan 2 Raja-raja. Raja yang terakhir dari keluarga raja Daud adalah Yesus Kristus, yaitu perwujudan dari belas kasihan yang teguh dari Allah. Dia adalah belas kasihan yang teguh bagi keluarga Daud. Belas kasihan ini mencakup banyak hal dan berkat yang mustika dari Allah terhadap keluarga Daud.
Kitab Suci membicarakan tentang kasih Allah, kasih karunia Allah, dan belas kasihan Allah. Lukas 15 mengatakan bahwa ketika anak yang hilang itu pulang kembali, bapanya, yang menantikan dia, tergerak oleh belas kasihan/rahmat (ay. 20). Rahmat merupakan sesuatu yang lembut dari belas kasihan. Belas kasihan bapa yang lembut ini terjamah karena kembalinya anak yang hilang itu yang berada dalam keadaan yang miskin, sama seperti seorang pengemis. Ia sungguh tidak layak bagi kasih bapa. Kasih bapa begitu tinggi, sedangkan anaknya telah jatuh sampai tingkat yang paling dasar. Jadi, belas kasihan bapa tergerak.
Rasul Paulus dalam Roma 12 menasehatkan kaum saleh menurut rahmat, dan belas kasihan Allah (ay. 1). Mengapa Paulus tidak menasehati kaum saleh menurut kasih Allah yang besar? Ini disebabkan karena kasih Allah yang besar ini terlalu jauh dari kita yang berada dalam keadaan dan situasi kita yang kasihan. Kasih dan kasih karunia ini terlalu tinggi bagi kita untuk menjangkaunya dalam keadaan kita yang rendah ini. Tetapi, haleluya, Allah memiliki atribut lainnya yang disebut belas kasihan. Belas kasihan ini menjangkau hal yang paling jauh. Kita sangat rendah, tetapi belas kasihan Allah dapat mencapai kita dalam situasi kita yang kasihan dan kedudukan kita yang malang. Seringkali dalam doa saya sebelum meministrikan firman, saya memberi tahu Tuhan, “Kami bersandar kepada belas kasihan-Mu.” Saya tidak berani memberi tahu Tuhan bahwa kita bersandar kepada kasih-Nya. Jika saya begitu miskin, maka saya berada dalam tingkatan yang tidak sesuai dengan kasih Allah. Tetapi Allah mencapai kita pada tingkat yang paling dasar melalui belas kasihan-Nya.
Banyak orang Kristen yang dapat membicarakan tentang kasih Allah yang besar di dalam Kristus, tetapi saya prihatin karena apa yang mereka katakan itu tidak begitu menyeluruh. Jika mereka menyeluruh dalam mengenal Allah dalam atribut-atribut-Nya dalam tingkatan yang berbeda-beda, maka mereka akan membicarakan banyak hal tentang belas kasihan Allah. Ini adalah karena situasi kita hari demi hari tidak sesuai dengan tingkatan kasih Allah. Situasi praktis kita yang sesungguhnya sangat sesuai dengan tingakatan yang paling rendah dari atribut Allah, yaitu, belas kasihan Allah.
Kasih Allah dan kasih karunia Allah berada pada tingkatan yang lebih tinggi daripada belas kasihan-Nya. Kasih karunia adalah satu pemberian. Allah memiliki satu hati yang mengasihi kita, dan beranjak dari hati itu Allah mempersiapkan satu pemberian bagi kita. Pemberian itu adalah kasih karunia. Karena kita tidak layak untuk pemberian ini, maka Allah turun untuk mencapai kita dalam belas kasihan-Nya. Dalam atribut belas kasihan-Nya ini Allah dapat mencapai kita pada tingkat yang paling rendah. Namun, sangat sedikit anak-anak Allah yang sadar bahwa mereka memerlukan belas kasihan Allah. Dalam doa saya pada saat pertama saya menjadi seorang Kristen, saya membicarakan tentang kasih Allah. Namun, hari ini setelah bertahun-tahun pengalaman, saya bersandar kepada belas kasihan Allah. Ini disebabkan karena situasi saya yang rendah yang tidak sesuai dengan tingkatan kasih Allah yang tinggi.
Kita mungkin menganggap bahwa kita ini ladies and gentlemen, tetapi sebenarnya kita adalah “kalajengking” dan “tikus tanah.” Orang-orang menganggap Daud adalah seorang raja yang luhur, tetapi ia menganggap dirinya sebagai seekor ulat (Mzm. 22:7). Inilah sebabnya mengapa ia memberi tahu Allah bahwa ia memerlukan belas kasihan-Nya (51:1; 52:8b). Akhirnya, keturunan Daud ini akan menjadi Raja di atas segala raja di bumi ini untuk menjadi belas kasihan yang teguh bagi seluruh keluarga raja Daud.
Belas kasihan ini agak mirip dengan kebaikan dan rahmat. Belas kasihan Allah (kebaikan dan rahmat), sebagai permulaan dari kasih karunia Allah dalam kasih-Nya ini mencapai kita sangat jauh. Belas kasihan adalah permulaan dari kasih karunia Allah yang datang bersama dengan kasih Allah. Kasih karunia Allah tidak dapat dipisahkan dari kasih-Nya. Belas kasihan-Nya membawa kita masuk ke dalam kasih karunia Allah. Ketika kita masuk ke dalam kasih karunia ini, kita memiliki kasih-Nya. Belas kasihan Allah mencapai kita sangat jauh. Seringkali dalam pengalaman kita, kita jauh dari Allah. Kita tidak begitu dekat dengan Allah. Maka, kita memerlukan atribut belas kasihan Allah untuk mencapai kita.
Yeremia dan Ratapan benar-benar memperlihatkan kepada kita situasi Israel yang kasihan. Allah tidak bisa datang kepada mereka dalam kasih-Nya atau dalam kasih karunia-Nya. Allah perlu melaksanakan belas kasihan-Nya. Tanpa belas kasihan ini, Allah tidak akan dapat mencapai umat-Nya. Menurut Yeremia, bani Israel pada waktu akan diasingkan ke Babel berada dalam situasi yang rendah yang sangat kasihan. Bahkan sulit untuk menggambarkan betapa rendahnya keadan mereka itu. Itulah sebabnya mengapa Allah menyerahkan mereka selama tujuh puluh tahun. Tetapi setelah tujuh puluh tahun, Allah kembali kepada mereka dalam belas kasihan-Nya.
Dalam Perjanjian Baru, Tuhan Yesus datang dalam belas kasihan. Dia datang dalam tingkatan yang paling rendah untuk membelas kasihani bangsa Israel yang telah jatuh, tetapi kebanyakan dari mereka menolak-Nya. Akhirnya, Tuhan menangis untuk mereka dan meratap untuk mereka. Dalam Matius 23:37-38 Tuhan berkata, “Yerusalem, Yerusalem, engkau yang membunuh nabi-nabi dan melempari dengan batu orang-orang yang diutus kepadamu! Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya, tetapi kamu tidak mau. Lihatlah rumahmu ini akan ditinggalkan dan menjadi sunyi.” Tuhan meramalkan bahwa Yerusalem akan dihancurkan. Dalam referensi untuk pembangunan bait Allah, Dia memberi tahu murid-murid, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya tidak satu batupun di sini akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain; semuanya akan diruntuhkan” (24:2). Hal ini digenapkan pada tahun 70 M pada waktu Titus dan pasukan Roma menghancurkan Yerusalem. Josephus dalam sejarahnya, memberi tahu kita tentang penghancuran atas Yerusalem yang menggenaskan oleh Titus.
Dalam Injil keluarga Israel menyakiti Putra. Dalam Kisah Para Rasul mereka menyakiti Roh itu. Roh itu ada bersama dengan para rasul, terutama dengan Paulus. Tidak lama setelah Paulus mati martir, Titus pangeran Roma datang dengan satu pasukan untuk menghancurkan Yerusalem. Itu adalah pengasingan yang terakhir dan rampung bagi bangsa Israel. Mereka tercerai berai selama hampir dua puluh abad. Pengasingan yang pertama adalah oleh bangsa Babel yang berakhir hanya selama tujuh puluh tahun, tetapi pengasingan yang terakhir ini berakhir selama dua ribu tahun. Oleh belas kasihan Allahlah bahwa pada tahun 1948 ada sejumlah kecil dari bangsa Israel yang kembali untuk memulihkan negara Israel.
Hari ini ada satu hal yang kontroversial di antara Israel dan negara-negara tetangga Arab tentang berapa besar tanah yang seharusnya dimiliki oleh Israel. Israel mendapatkan kembali Golan Heights dalam peperangan selama enam hari pada tahun 1967. Sekarang ada orang yang ingin agar Israel menyerahkan Golan Heights ini. Namun, menurut nubuat alkitabiah, kita tidak dapat menyetujui hal ini. Tempat itu merupakan satu bagian dari negeri yang baik itu. Menurut Kitab Suci, negeri yang baik ini meluas dari pantai Laut Tengah sampai Sungai Efrat (Ul. 11:24; Yos. 1:4), yang adalah Irak pada hari ini. Negeri yang baik ini demikian luas! Menurut ketentuan Allah, Israel tentu akan menjaga Golan Heights ini. Ini adalah belas kasihan Tuhan terhadap Israel. Selain itu, keluarga raja akan dipulihkan. Siapakah yang akan menjadi raja yang terakhir dari keluarga raja Daud? Tuhan Yesuslah yang akan menjadi Raja itu. Dia adalah belas kasihan yang teguh yang dijanjikan dan ditunjukkan oleh Allah kepada Daud.
Belas kasihan ini dijanjikan. Ini berarti bahwa ada satu kontrak yang dibuat untuk belas kasihan ini. Perjanjian itu bukan hanya satu perjanjian melainkan juga satu kontrak, dan perjanjian ini adalah Kristus. Yesaya memperlihatkan bahwa Kristus adalah satu perjanjian yang kekal (Yes. 55:3b; 61:8b) dan perjanjian damai sejahtera (54:10) bagi umat itu. Kristus juga adalah Pembuat perjanjian itu. Ini berarti bahwa Kristus menggaransi diri-Nya sendiri untuk menjadi belas kasihan yang sesungguhnya. Satu persetujuan lisan atau janji yang tertulis tidak teguh, sedangkan satu perjanjian itu sangat mengikat. Allah bukan hanya menjanjikan belas kasihan yang teguh bagi Daud kepada Israel. Dia membuat satu perjanjian. Yesaya 55:3b mengatakan, “Aku hendak mengikat perjanjian abadi dengan kamu, menurut kasih setia yang teguh yang Kujanjikan kepada Daud.” Perjanjian abadi ini adalah belas kasihan yang teguh.
Kita tahu bahwa belas kasihan ini mengacu kepada Kristus melalui perkataan Paulus dalam Kisah Para Rasul 13:34-39 (lihat catatan 1 dari ayat 34 dalam Versi Pemulihan). Di sana Paulus menunjukkan bahwa belas kasihan yang teguh yang dijanjikan kepada Daud adalah Kristus yang bangkit, yang tidak akan pernah melihat kebinasaan. Kata Yunani yang sama dengan kata Ibrani untuk belas kasihan, chesed, diterjemahkan sebagai ha-hal yang kudus (jamak) atau Sang Kudus (tunggal) dalam Kisah Para Rasul 13. Ayat 34 mengatakan, “hal-hal yang kudus yang dapat dipercayai bagi Daud.” Hal-hal yang kudus yang dapat dipercayai bagi Daud ini adalah belas kasihan yang teguh bagi Daud. Sang Kudus ini adalah Kristus Anak Daud, yang di dalam-Nya belas kasihan Allah berpusat dan disampaikan. Kristus adalah belas kasihan yang teguh, dan Dia juga adalah Sang kudus. Ini memperlihatkan bahwa belas kasihan yang teguh ini akan melakukan satu pekerjaan untuk menguduskan semua orang yang menikmatinya.
Menurut perumpamaan dalam Lukas 15, belas kasih Bapa menguduskan anak yang kembali itu. Anak yang hilang itu pulang kembali ke rumah seperti seorang pengemis, tetapi belas kasih Bapa memisahkan dia dari dunia ini. Belas kasih Bapa menguduskan anak yang kembali itu, dan membuat dia menjadi kudus, dan memisahkan dia sepenuhnya kepada Bapa.
Meskipun saya memang mengatakan bahwa kita semua mungkin adalah “tikus tanah” dan “kalajengking,” saya tetap ingin mengatakan bahwa kita adalah orang-orang kudus (1 Kor. 1:2). Kita telah kudus secara posisi di hadapan Allah. Kita adalah orang-orang telah dikuduskan. Kristus adalah belas kasihan yang teguh, dan belas kasihan ini telah menguduskan kita. Kristus membuat kita menjadi orang-orang kudus oleh belas kasihan-Nya. Hari ini saya dapat membicarakan firman kudus kepada umat kudus Allah. Saya dapat mengumumkan semua hal yang kudus ini. Ini adalah pekerjaan belas kasihan Allah yang teguh.
Belas kasihan yang teguh ini telah dijanjikan dengan satu perjanjian yang kekal. Perjanjian ini adalah Kristus (Yes. 42:6b; 49:8b), dan perjanjian damai sejahtera (54:10). Damai sejahtera berarti bahwa semua masalah telah dipecahkan. Bila saya mengatakan bahwa saya adalah seorang kudus, ini menunjukkan bahwa saya tidak memiliki masalah. Kita harus memiliki damai sejahtera yang memudahkan kita untuk berkata, “Aku tidak memiliki masalah karena aku adalah seorang kudus.” Jika kita memiliki satu masalah kecil pun, maka kita tidak kudus demikian.
B. Kristus yang Bangkit Tidak Akan Melihat Kebinasaan dan telah Menjadi Dasar dari Pembenaran Allah terhadap Kaum Beriman-Nya
Belas kasihan Allah yang teguh ini adalah Kristus yang bangkit yang tidak akan melihat kebinasaan dan telah menjadi dasar dari pembenaran Allah terhadap kaum beriman-Nya. Bahasa surgawi ini dikatakan dalam Kisah Para Rasul 13:34-39. Kita perlu mempelajari enam ayat ini berulang kali. Jika tidak demikian, maka kita tidak akan dapat masuk ke dalam pemahaman yang tepat terhadapnya. Kita semua telah dikuduskan, tetapi pengudusan ini memerlukan satu dasar, dan dasar dari pengudusan ini adalah pembenaran. Jika Anda belum dibenarkan, maka Anda tidak akan pernah dapat dikuduskan.
Kristus adalah belas kasihan Allah yang teguh bagi pembenaran kita. Karena hal ini Dia juga menjadi dasar dari pembenaran dalam kebangkitan-Nya. Paulus mengatakan dalam Kisah Para Rasul 13 bahwa oleh Manusia inilah, yaitu Yesus, yang adalah belas kasihan Allah yang teguh, bahwa kita dapat dibenarkan. Jadi, pembenaran berdasarkan kepada Kristus yang bangkit yang tidak akan pernah melihat kebinasaan. Kisah Para Rasul mengatakan bahwa kematian tidak akan dapat menahan Dia. Itu berarti bahwa kematian ini tidak akan dapat menjamah Dia yang bangkit ini. Dia yang bangkit ini, yaitu Yesus adalah pondasi, dasar, dari pembenaran kita. Berdasarkan pembenaran dalam kebangkitan Kristus ini, maka kita menikmati Kristus sebagai belas kasihan yang menguduskan kita.
Kita tidak boleh lupa bahwa Kristus yang bangkit hari ini adalah belas kasihan Allah yang teguh bagi kita. Dia telah menjadi dasar dari pembenaran kita, dan di atas pembenaran ini ada sesuatu yang telah dibangunkan, yaitu, pengudusan. Selain itu, pengudusan adalah sesuatu yang dibangun dengan dan oleh belas kasihan Allah yang teguh. Belas kasihan yang teguh ini adalah Kristus.
C. Telah Ditetapkan Menjadi Saksi bagi Banyak Orang (Bangsa-bangsa)
Kristus sebagai belas kasihan Allah yang teguh ini telah ditetapkan menjadi Saksi bagi banyak orang, yaitu bangsa-bangsa (Yes. 55:4a). Wahyu 1:5a mengatakan bahwa Kristus, persona kedua dari Trinitas Ilahi, adalah Saksi Allah yang setia. Dia adalah Saksi dari seluruh Keallahan. Wahyu 3:14a juga mengatkaan bahwa Dia adalah Saksi yang setia dan yang benar. Kristus adalah Saksi untuk memperaksikan Allah yang benar.
D. Telah Ditetapkan Menjadi seorang Pemimpin/Raja dan Pemerintah/Komandan bagi Suku-suku Bangsa
Dia telah ditetapkan menjadi seorang Pemimpin dan Pemerintah bagi suku-suku bangsa (Yes. 55:4b; Kis. 5:31a) Dia adalam Pemimpin di atas semua raja, Pemimpin di atas semua penguasa. Ini adalah bagi administrasi-Nya. Dia juga telah ditetapkan menjadi Pemerintah/Komandan. Dia adalah Jendral untuk berperang dalam peperangan. Ketika Dia datang kembali, Dia akan berperang dalam peperangan di Harmagedon (Why. 19:11-21). Dia akan menjadi Komandan, Jendral yang berperang, untuk mengalahkan pasukan yang terbesar di bumi bersama dengan Antikristus sebagai komandan penentangnya.
II. PENEBUS BAGI SION
Sebagai Hamba Yehova, Kristus juga akan menjadi seorang Penebus bagi Sion (Yes. 59:20). Dia akan dan dapat datang sebagai Penebus bagi Sion pada kedatangan-Nya kembali karena Dia adalah belas kasihan yang teguh. Tanpa menjadi belas kasihan Allah, Kristus tidak akan pernah dapat menjadi seorang Penebus bagi bani Israel yang busuk dan bobrok ini. Hanya Allah yang penuh belas kasihan dengan semua belas kasihan-Nya dapat menebus mereka. Maka, Kristus bukan hanya belas kasihan Allah yang teguh melainkan juga Penebus Allah yang akan datang untuk menebus Sion pada kedatangan-Nya kembali.
Dia akan menjadi Penebus yang demikian bagi sisa Israel yang akan kembali kepada-Nya dari pemberontakan mereka. Dalam Zakharia 12 ada satu catatan tentang pertobatan dari sisa Israel pada kedatangan Tuhan kembali (ay. 10-14).
II. TERANG ISRAEL
Kristus akan menjadi terang Israel (Yes. 60:1-3). Dia akan datang sebagai terang (kemuliaan Yehova) kepada Israel pada kedatangan-Nya kembali (ay. 1). Hari ini seluruh bumi berada di bawah kegelapan, termasuk Israel. Tetapi ketika Kristus datang sebagai Penebus bagi Israel, maka Dia akan menjadi terang untuk menerangi mereka, dan terang itu adalah kemuliaan Allah. Hari ini terang kita dalam rumah kita berasal dari aliran listrik, tetapi terang mereka pada waktu Tuhan datang kembali adalah kemuliaan Yehova. Terang ini bukanlah cahaya matahari atau terang buatan manusia, terang ini adalah Allah itu sendiri dalam kemuliaan-Nya. Israel akan memiliki terang yang demikian oleh Kristus yang menjadi belas kasihan Allah yang teguh.
Ketika Kristus datang sebagai terang bagi Israel pada waktu kedatangan-Nya kembali, maka kegelapan akan menutupi bumi dan kegelapan yang sangat gelap akan menutupi banyak orang, yaitu orang-orang Kafir (ay. 2a). Semua bangsa Kafir akan ditutupi oleh kegelapan. Hanya Israel yang akan memiliki terang, dan terang itu adalah penampilan Allah dalam kemuliaan-Nya. Kristus sebagai Yehova akan bangkit kepada Israel, dan kemuliaan-Nya akan terlihat kepadanya (ay. 2b). Hari ini bangsa Israel menderita di bawah tekanan bangsa-bangsa, tetapi ketika Kristus datang kembali, Israel akan bangkit.
Bangsa-bangsa, yaitu orang-orang Kafir, akan datang kepada terang Israel, dan raja-raja akan datang kepada cahaya terbitnya Israel (ay. 3). Bangsa-bangsa akan damba diterangi oleh terang Israel karena mereka berada dalam kegelapan. Pada hari itu Israel akan “terbit,” tetapi hari ini mereka ditekan oleh bangsa-bangsa. Israel telah ditekan selama lebih dari dua ribu tahun. Terutama hari ini, mereka sedang menderita, tetapi ketika Kristus kembali mereka akan bangkit.
Karena kita kaum beriman memiliki Kristus di dalam kita, maka kita akan bangkit. Kita tidak akan ditekan. Hari ini Kristus adalah belas kasihan ilahi kita; Dia adalah Penebus kita; dan Dia adalah terang kita. Berdasarkan Dia, kita akan bangkit.