KRISTUS YANG ALMUHIT DALAM EMPAT TAHAPNYA MENURUT EKONOMI PERJANJIAN BARU ALLAH (1)
Pembacaan Alkitab:
Yes. 53:1-10b, 11c, 12c; 1 Kor. 1:24; Yoh. 1:1, 14; 1 Tim. 2:5b; Ibr. 2:14-18; Mat. 1:21; 1 Ptr. 2:24; 3:18; Mat. 26:57, 59, 65-68; Luk. 23:1-12; Yoh. 18:33-38; 19:1-16; Luk. 23:32-33, 34a; Mat. 27:59-60, 45-46; Ibr. 9:14a; Yoh. 10:17-18; Ibr. 9:12; Kis. 10:43; 13:39; Rm. 5:10; 1 Kor. 15:45b; Rm. 8:9b; Flp. 1:19b
Doa: Tuhan, betapa kami bersyukur kepada-Mu bahwa Engkau telah mengumpulkan kami kembali ke dalam nama-Mu. Hari ini seluruh dunia sibuk, namun Engkau telah menyisihkan kami kepada-Mu sehingga kami dapat datang ke sini untuk mengenal Engkau melalui firman-Mu. Kami ingin jelas tentang Engkau, tentang jejak-jejak-Mu, tentang tahap-tahap-Mu, tentang apa adanya Engkau dan apa yang telah Engkau lakukan. Tuhan Yesus, besertalah dengan kami pada malam hari ini. Tudungi kami dengan darah-Mu yang menang terhadap semua penghalang dari kegelapan. Tuhan, kami percaya kepada-Mu bahwa Engkau datang untuk mengurapi setiap orang dari antara kami, dan untuk mengurapi setiap tindakan di dalam sidang ini. Dan Tuhan, kami sungguh memberi tahu Engkau bahwa kami cinta kepada-Mu. Kami damba untuk memperhidupkan Engkau. Karena itu kami ingin mengenal Engkau dalam setiap detilnya. Tuhan, kalahkan si musuh, dan belas kasihanilah setiap orang dari antara kami. Amen.
Dalam berita ini dan dua berita selanjutnya, subyeknya adalah “Kristus yang Almuhit dalam Empat Tahap-Nya menurut Ekonomi Perjanjian Baru Allah.” Jika kita damba untuk mengenal Kristus menurut Yesaya 53, kita harus menyadari bahwa Yesaya 53 dengan jelas membicarakan tentang Kristus dalam empat tahap. Tahap yang pertama adalah tahap inkarnasi Kristus; yang kedua, tahap penyaliban; ketiga, tahap kebangkitan, dan keempat, tahap kenaikan-Nya. Dalam berita ini kita akan melihat dua tahap yang pertama, dan dalam berita selanjutnya kita akan melihat dua tahap yang terakhir.
Yesaya 53 adalah satu pasal yang sangat bermakna. Pasal ini merupakan satu pengakuan yang akan dibuat oleh keluarga Israel yang akan diselamatkan pada kedatangan Tuhan kembali. Zakharia 12 memberi tahu kita bahwa ketika Tuhan Yesus datang kembali, maka keluarga Israel akan diselamatkan pada hari yang sama dan bahkan pada waktu yang sama. Zakharia memberi tahu kita bahwa orang-orang Yahudi akan kembali ke negeri nenek moyang mereka (8:7-8). Pada permulaan dari minggu yang terakhir, yaitu tujuh tahun dari zaman ini, Antikristus akan membuat satu perjanjian dengan Israel, dan di tengah-tengah minggu itu ia akan berubah pikiran (Dan. 9:27). Kemudian selama tiga setengah tahun ia akan menganiaya orang Yahudi sampai pada puncaknya. Menurut Zakharia 13:8, dua pertiga dari orang-orang Yahudi akan dibunuh olehnya; dan hanya tinggal sepertiga lagi yang tersisa. Orang-orang yang tersisa ini mungkin semuanya berada di wilayah Yerusalem. Setelah membunuh banyak orang Yahudi itu, Antikristus ini masih belum puas. Menurut Zakharia 14:2, ia akan menawan Yerusalem, dan setengah dari kota itu akan diasingkan. Orang-orang yang tersisa ini hanya akan berjumlah kira-kira seperenam dari orang-orang Yahudi yang kembali ke negeri nenek moyang mereka. Pada peristiwa itu, Antikristus akan berusaha untuk menerkam, menghancurkan seluruh ras Israel, tetapi Tuhan akan turun untuk mengalahkannya, dan orang-orang Yahudi yang tersisa ini akan melihat Dia dan mengenal Dia sebagai Dia yang dilukai oleh nenek moyang mereka. Kemudian mereka semua akan bertobat dan meratap (12:10-14). Dengan demikian, orang-orang yang tersisa ini akan menerima Kristus. Mereka semua akan diselamatkan di dalam satu rumah tangga keselamatan. Pada waktu itu mereka akan mengingat Yesaya 53, dan bagian dari Firman ini akan menjadi pengencapan yang penuh bagi mereka.
Yesaya 53 ini ditulis hampir dua ribu tujuh ratus tahun yang lalu. Meskipun sepanjang dua puluh tujuh abad ini orang-orang Yahudi telah membaca pasal ini berulang kali, tetapi mereka tidak mengenal apa yang dibicarakannya. Hari ini hampir semua orang yang membaca Alkitab mengapresiasi Yesaya 53 ini, tetapi mereka mungkin tidak benar-benar memahami pasal ini. Saya menemukan bahwa cara yang terbaik untuk membuat pasal ini menjadi jelas bagi Anda adalah dengan membantu Anda untuk melihat empat tahap Kristus yang diwahyukan dalam pasal ini.
Kristus berada dalam tahap yang pertama, yaitu tahap inkarnasi, selama tiga puluh tiga setengah tahun; Dia berada dalam tahap yang kedua, yaitu tahap penyaliban, selama kira-kira enam jam; dan Dia telah berada dalam tahap yang ketiga, yaitu tahap kebangkitan, selama dua ribu tahun. Tahap kebangkitan Kristus tidak akan berakhir; tahap ini akan ada sampai selama-lamanya (Why. 1:18). Setelah kebangkitan-Nya, Kristus masuk ke dalam kenaikan-Nya. Dia naik dalam kebangkitan. Kita tidak mungkin memisahkan kebangkitan Kristus dari kenaikan-Nya. Hari ini Kristus berada dalam kebangkitan dan kenaikan. Dia berinkarnasi dan Dia disalib, tetapi sekarang Dia berada dalam kenaikan dan kebangkitan. Dia berada dalam kenaikan berdasarkan kebangkitan-Nya. Kebangkitan-Nya menghasilkan kenaikan-Nya. Dua hal ini tidak akan pernah dapat dipisahkan. Sekarang Dia hidup sampai selama-lamanya dalam kebangkitan dan kenaikan. Dia bukan hanya Kristus yang bangkit, melainkan juga Kristus yang bangkit dan naik.
I. DALAM TAHAP INKARNASINYA
Tahap Kristus yang pertama, yaitu tahap inkarnasi bukanlah bagian dari penebusan-Nya. Kristus adalah Penyelamat kita, dan Dia menebus kita, tetapi inkarnasi-Nya itu sendiri bukanlah penebusan-Nya. Yesaya 53:2 mengatakan, “Sebagai taruk ia tumbuh di hadapan TUHAN dan sebagai tunas dari tanah kering.” Kristus menjadi taruk dan tunas dari tanah kering bukanlah bagian dari penebusan-Nya. Demikian juga, Dia tidak dihargai (ay. 3) bukanlah bagian dari penebusan-Nya.
Yesaya 53:1b-3 mengacu kepada inkarnasi Kristus. Ayat 1 mengatakan, “Siapakah yang percaya kepada berita yang kami dengar dan kepada siapakah tangan kekuasaan TUHAN dinyatakan?” Tangan Yehova adalah tanda yang melambangkan Yehova itu sendiri dalam kuasa-Nya. Jadi, tangan Yehova adalah Allah itu sendiri dalam kuasa penyelamatan-Nya. Tangan Yehova ini telah dinyatakan. Dua ribu tahun yang lalu, ketika Tuhan Yesus keluar dari Nazaret untuk memberitakan injil, itulah saat penyataan tangan Yehova. Kristus sebagai tangan Yehova dinyatakan kepada banyak orang, tetapi mereka tidak menyadari bahwa Dia adalah tangan Yehova. Mereka tidak melihat bahwa Yehova sendiri datang dengan kuasa untuk menyelamatkan mereka.
Berdasarkan wahyu tentang tangan Yehova ini, para rasul memberitakannya (1 Yoh. 1:3). Tetapi siapakah yang percaya kepada pemberitaan mereka? Ketika Tuhan Yesus datang kembali, semua sisa Israel akan bertobat dan meratap. Pada waktu itu mereka akan menceritakan tentang Yesaya 53:1: “Siapakah yang percaya kepada berita yang kami dengar dan kepada siapakah tangan kekuasaan TUHAN dinyatakan?” Kemudian mereka akan melanjutkan mengatakan, “Karena…” Kata karena pada permulaan ayat 2 ini adalah satu kata yang besar. Mengapa tidak ada seorang pun yang percaya kepada pemberitaan dan menerima wahyu tentang Kristus? Karena Dia tidak tumbuh seperti seorang raja melainkan seperti taruk di hadapan Yehova. Karena hal inilah maka mereka tidak percaya kepada pemberitaan rasul. Seringkali dalam empat Injil orang-orang Yahudi menghina Tuhan Yesus, dengan mengatakan kata-kata seperti ini, “Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?” (Yoh. 1:46) dan Bukankah Ia ini anak tukang kayu?” (Mat. 13:55). Bila Yesus keluar dari Betlehem, keluar dari kota keluarga raja, mungkin akan ada banyak orang Yahudi yang percaya kepada-Nya. Tetapi mereka tidak percaya karena Dia tumbuh sebagai taruk di hadapan Yehova, dan seperti tunas dari tanah kering.
Yesaya 53:3 mengatakan, “Ia dihina dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan.” Dalam ayat 1 Kristus ditunjukkan sebagai tangan Yehova, dan dalam ayat 3 Dia disebut seorang yang penuh kesengsaraan. Tangan Yehova adalah Yehova dalam kuasa-Nya, dan seorang yang penuh kesengsaraan adalah Yesus. Bila dua hal ini ditempatkan bersama-sama, maka itu sama dengan inkarnasi. Pada satu hari, Yehova, yaitu Elohim, menjadi seorang manusia yang bernama Yesus. Dalam Yesaya 53 Yehova dilambangkan dengan tangan Yehova, dan Yesus disebut seorang yang penuh kesengsaraan. Inilah inkarnasi.
A. Sebagai Allah yang Lengkap untuk Menjadi Manusia yang Sempurna
Sebagai Allah yang lengkap, yang dilambangkan oleh tangan Yehova, kekuatan Allah (ay. 1b; 1 Kor. 1:24), Kristus menjadi seorang manusia yang sempurna, yang dilambangkan oleh seorang manusia yang penuh kesengsaraan (ay. 3a; Yoh. 1:1, 14; 1 Tim. 2:5b). Istilah Perjanjian Lama adalah tangan Yehova, sedangkan istilah Perjanjian Baru adalah kekuatan Allah. Satu Korintus 1:22-24 mengatakan, “Orang-orang Yahudi menghendaki tanda dan orang-orang Yunani mencari hikmat, tetapi kami memberitakan Kristus yagn disalibkan: untuk orang-orang Yahudi suatu batu sandungan dan untuk orang-orang bukan Yahudi suatu kebodohan, tetapi untuk mereka yang dipanggil baik orang Yahudi maupun orang bukan Yahudi, Kristus adalah kekuatan Allah dan hikmat Allah.” Dalam ayat-ayat ini Kristus yang disalibkan berhubungan dengan seorang yang penuh kesengsaraan dalam Yesaya 53:3, dan kekuatan Allah sama dengan tangan Yehova dalam Yesaya 53:1. Jadi, dalam dua bagian dari Firman ini, inkarnasi dengan jelas disinggung.
B. Sebagai seorang Manusia yang Sempurna untuk Menempuh satu Kehidupan Insani yang Rendah dan penuh Kesengsaraan
Sebagai seorang manusia yang sempurna, Kristus menempuh satu kehidupan insani yang rendah dan penuh dengan kesengsaraan. Kelahiran-Nya hina, dan keluarga-Nya juga berada pada kedudukan yang rendah. Penghidupan-Nya juga penuh dengan kesengsaraan.
1. Sebagai Taruk Tumbuh di Hadapan Yehova dan sebagai Tunas dari Tanah Kering
Pertama, Dia tumbuh sebagai taruk (sebagai seorang yang kecil, dan lembut) di hadapan Yehova (Yes. 53:2a). Taruk di sini sebenarnya mengacu kepada tunas, yang sangat lunak, kecil dan lembut. Kristus tidak tumbuh seperti sebuah pohon yang besar, melainkan seperti sebuah tunas yang kecil dan lembut. Karena Dia demikian, maka tidak ada seorang pun yang menaruh perhatian kepada-Nya. Dia juga tumbuh sebagai tunas dari tanah kering, yang berarti bahwa Dia lahir di sebuah keluarga yang miskin. Ibu-Nya, Maria, dan suaminya, Yusuf, hidup di satu kota yang hina yang bernama Nazaret, di satu wilayah, yaitu Galilea. Memang benar bahwa mereka adalah keturunan Daud, tetapi Daud memerintah hampir seribu tahun yang lalu sebelum Yesus lahir. Ketika Maria dan Yusuf ada, keluarga raja ini sudah tidak ada artinya. Dalam Yesaya 11:1 keluarga raja Isai itu seperti taruk dari sebuah pohon. Dari taruk itu tumbuh tunas, yaitu Kristus keluar. Maka, kelahiran-Nya itu sangat hina.
2. Tidak Tampan dan Semarak pun Tidak Sehingga Orang-orang Memandang Dia
Kedua, Tuhan Yesus tidak tampan dan semarak pun tidak sehingga orang-orang memandang Dia, dan rupa yang elok pun tidak sehingga orang-orang mendambakan-Nya (53:2b). Jika Yesus sangat tampan dan menarik, sangat agung dan penuh dengan kuasa, maka setiap orang pasti akan tertarik kepada-Nya. Tetapi Yesus tidak menarik ataupun agung, Dia juga tidak memiliki penampilan yang elok. Bukannya agung, Dia malah miskin, bukannya elok penampilan-Nya, Dia malah memiliki rupa yang buruk dan jelek (52:14).
3. Dihina dan Dihindari Orang, Orang Menutup Mukanya Terhadap Dia, dan Bagi Mereka Dia tidak Masuk Hitungan
Ketiga, Kristus dihina dan dihindari orang, orang menutup mukanya terhadap Dia dan bagi mereka Dia tidak masuk hitungan (53:3). Seringkali ketika orang-orang Yahudi melihat Dia, mereka menyembunyikan muka mereka. Ketika Dia dipaku di kayu salib, banyak orang menutup muka mereka terhadap-Nya. Selain itu, mereka tidak menganggap atau menghargai Dia. Inilah penghidupan insani Kristus.
4. Hidup sebagai Seorang yang penuh Kesengsaraan dan yang Biasa Menderita Kesakitan
Keempat, Kristus hidup sebagai seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan (53:3a). Sebagai seorang manusia dalam penghidupan insani-Nya, Kristus tidak memiliki kekayaan; sebaliknya, Dia sengsara. Selain itu, Dia biasa menderita kesakitan. Dia tidak tahu apa-apa selain sengsara dan kesakitan. Ini bukanlah bagi penebusan; melainkan bagian dari kelayakan Kristus untuk menggenapkan penebusan.
C. Layak Sepenuhnya Menjadi Penyelamat untuk Menyelamatkan Orang-orang yang telah Jatuh dari Setan, Dosa, Maut, dan Ego
Kristus yang menjadi seorang manusia dan menempuh kehidupan insani yang rendah dan penuh kesengsaraan demikian layak sepenuhnya menjadi Penyelamat untuk menyelamatkan orang-orang yang telah jatuh dari empat hal: Setan, dosa, maut, dan ego (Ibr. 2:14-18; Mat. 1:21). Semua butir sebelumnya tidak berhubungan secara langsung dengan penebusan atau keselamatan. Hanya inilah prasyarat-prasyarat yang melayakan Kristus menjadi Penebus kita dan Penyelamat kita.
II. DALAM TAHAP PENYALIBANNYA
A. Sebagai seorang Manusia-Allah Penyelamat untuk Mengalami Kematian bagi Orang-orang Dosa
Sebagai seorang manusia-Allah Penyelamat, Kristus mengalami kematian bagi orang-orang dosa (Yes. 53:4-5, 8, 11c, 12c; 1 Ptr. 2:24; 3:18a).
1. Menanggung Penyakit Kita dan Memikul Kesengsaraan Kita
Dalam kematian-Nya bagi kita, orang-orang dosa, Kristus menanggung penyakit kita dan memikul kesengsaraan kita (Yes. 53:4). Kelihatannya Dia melakukan hal ini sewaktu Dia melayani di bumi, karena pada waktu Dia menyembuhkan orang sakit, Matius 8:17, mengutip firman dalam Yesaya 53:4, yang mengatakan, “Dialah yang memikul kelemahan kita dan menanggung penyakit kita.” Sebenarnya, Kristus menanggung penyakit kita pada waktu Dia dihakimi oleh Allah di kayu salib, pada waktu ketika Allah menaruh semua kejahatan kita kepada-Nya. Dia menanggung penyakit kita dan memikul kesengsaraan kita ketika Dia menanggung perbuatan-perbuatan jahat kita, perbuatan-perbuatan yang salah, kesalahan-kesalahan, pemberontakan-pemberontakan, pelanggaran-pelanggaran, dan dosa-dosa kita di kayu salib.
2. Tertikam oleh karena Pemberontakan Kita, Diremukkan oleh karena Kejahatan Kita, Diputus dari Negeri Orang-orang Hidup karena Pemberontakan Kita, dan Menanggung Dosa-dosa Kita, agar Kita Memiliki Damai Sejahtera dan Disembuhkan
Dalam kematian-Nya bagi kita, Kristus ditikam oleh karena pemberontakan-pemberontakan kita, diremukkan oleh karena kejahatan-kejahatan kita, dan diputus dari negeri orang-orang hidup karena pemberontakan kita, dan Dia menanggung dosa-dosa kita, agar kita dapat memiliki damai sejahtera dan disembuhkan (Yes. 53:5, 8b, 11c, 12c). Ada satu kidung yang terkenal yang ditulis oleh Charles Wesley (Kidung, bait 3) yang membicarakan tentang Kristus yang tertikam karena menanggung pemberontakan kita. Bahasa Ibrani yang menterjemahkan tertikam dalam Yesaya 53:5 berbeda dengan kata untuk tikam dalam Zakharia 12:10. Kristus ditikam oleh paku pada tangan-Nya dan kaki-Nya, oleh tombak yang menikam lambung-Nya, dan oleh mahkota di atas kepala-Nya. Dia tertikam karena pemberontakan kita. Anda mungkin merasa bahwa karena Anda belum pernah membunuh siapapun atau membunuh perampok, Anda adalah seorang yang baik. Anda mungkin adalah seorang yang baik, tetapi tidak pernahkah Anda kehilangan temperamen Anda kepada ibu Anda sekali saja? Bukankah itu merupakan satu pemberontakan? Kita mungkin tidak menghitung pemberontakan yang kecil, tetapi Allah menghitungnya. Apakah kita berhutang satu juta dollar atau sepicis saja, kita tetap adalah orang-orang yang berhutang.
Kristus bukan hanya ditikam oleh karena pemberontakan kita, Dia juga diremukkan oleh karena kejahatan kita, yaitu perbuatan kita yang jahat. Selain itu, Dia diputus dari negeri orang-orang hidup karena pemberontakan kita. Bukan hanya kejahatan kita, pemberontakan yang kecil pun menuntut Kristus diputus dari kita. Bukan hanya demikian, Kristus juga menanggung dosa kita. Yohanes 1:29 mengatakan, “lihatlah, Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia!” Dalam ayat ini dosa mengacu kepada totalitas dari perbuatan-perbuatan jahat, kejahatan-kejahatan, pelanggaran-pelanggaran, perbuatan-perbuatan salah, dan pemberontakan-pemberontakan. Semua hal ini berada dalam satu kategori, yang disebut dosa. Kristus menanggung dosa kita, termasuk perbuatan-perbuatan kita yang salah, kesalahan-kesalahan, kejahatan-kejahatan, perbuatan-perbuatan yang jahat, pelanggaran-pelanggaran, dan pemberontakan-pemberontakan kita, agar kita memiliki damai sejahtera dan disembuhkan.
Karena pada zaman Matius 8 Kristus belum mati untuk menaggung penyakit-penyakit orang lalu bagaimanakah orang-orang dapat disembuhkan oleh Kristus pada zaman itu? Hal ini dapat terjadi karena bagi Allah tidak ada elemen waktu. Allah adalah kekal, dan bagi Dia segala sesuatu adalah kekal. Di mata Allah, kematian Kristus itu kekal. menurut sejarah manusia, Kristus dibunuh hampir dua ribu tahun yang lalu. Tetapi Wahyu 13:8 mengatakan bahwa Dia telah tersembelih sebelum dunia ini dijadikan. Di mata Allah tidak ada elemen waktu; yang ada adalah fakta yang kekal. Kematian Kristus adalah fakta yang kekal. Meskipun Kristus belum mati secara fisik, tetapi dalam Matius 8 fakta tentang penyaliban-Nya telah ada di sana. Melalui kematian yang demikian ini kita dapat disembuhkan dan memiliki damai sejahtera.
3. Dianiaya, Ditindas dan seperti Anak Domba yang Dibawa ke Pembantaian dan seperti Induk Domba yang Kelu di Depan Orang-orang yang Menggunting Bulunya
Dalam kematian-Nya bagi orang-orang dosa, Kristus dianiaya, ditindas dan seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian dan seperti induk domba yang kelu di depan orang-orang yang menggunting bulunya (Yes. 53:7). Pertama-tama, Kristus dianiaya; kemudian Dia ditindas. Penindasan itu lebih serius daripada penganiayaan. Kemudian, ketiga, Dia di bawa ke pembantaian.
Pada malam hari pada waktu Dia dikhianati, Dia berdoa di Getsemani. Kemudian pasukan-pasukan datang dan menangkap Dia dan mengikat Dia. Itu adalah satu penganiayaan. Sebagai seorang manusia, Kristus mendapatkan gelar untuk hak azasi manusia tertentu. Dia tidak berbuat sesuatu yang salah. Karena itu, orang-orang yang datang dan menangkap Dia merupakan satu penganiayaan. Setelah ditangkap, Dia dihakimi, pertama oleh tua-tua bangsa Yahudi menurut hukum agama mereka, dan kedua, oleh pejabat Roma menurut hukum Roma. Sewaktu mereka menghakimi Dia, orang-orang meludahi Dia dan mengolok-olok Dia. Ini adalah penindasan. Setelah semuanya ini, mereka memutuskan untuk menyalibkan Dia. Kemudian mereka membawa Dia seperti seekor anak domba yang dibawa ke pembantaian dan seperti induk domba yang kelu di depan orang-orang yang menggunting bulunya. Kristus bukan hanya dibawa ke pembantaian; Dia bahkan digunting seperti induk domba oleh orang-orang yang menggunting bulunya, yaitu oleh orang-orang Yahudi. Namun, Dia tidak bereaksi terhadap semuanya ini. Dia tidak berdebat, membela diri-Nya, atau membenarkan diri-Nya; sebaliknya, Dia diam saja. Hal ini mengejutkan Pilatus (Mat. 27:13-14).
4. Diambil oleh Penahanan dan Penghukuman
Yesaya 53:8 mengatakan bahwa Kristus diambil oleh penahanan (tua-tua bangsa Yahudi yang munafik—Mat. 26:57, 59, 65-68) dan oleh penghkuuman (pejabat Roma yang tidak adil—Luk. 23:1-12; Yoh. 18:33-38; 19:1-6). Pertama, Kristus ditahan; kemudian dihakimi. Melalui dua hal ini Dia diambil. Semua hal ini termasuk dalam penyaliban-Nya dan menghasilkan penyaliban-Nya.
5. Terhitung di antara Pemberontak-pemberontak dan Berdoa untuk Pemberontak-pemberontak
Menurut Yesaya 53:12c, ketika Kristus disalibkan di kayu salib, Dia terhitung di antara pemberontak-pemberontak (Luk. 23:32-33) dan Dia berdoa untuk pemberontak-pemberontak itu (ay. 34a). Kristus disalibkan di antara dua orang penjahat, yang satu di sebelah kiri-Nya dan yang satu lagi di sebelah kanan-Nya. Maka, Dia terhitung di antara pemberontak-pemberontak. Dalam membicarakan tentang penyaliban Kristus, urutan tulisan Yesaya berawal dari Kristus dianiaya sampai Dia terhitung di antara pemberontak-pemberontak. Sewaktu Dia di salib, Kristus bukan hanya berdoa bagi mitra-mitra-Nya, yaitu pemberontak-pemberontak, yang ada di samping-Nya, melainkan juga bagi orang-orang yang membunuh Dia. Dia berdoa bagi pemberontak-pemberontak.
6. Menempatkan Kubur-Nya di antara Orang-orang Fasik, tetapi dengan Seorang Kaya dalam Kematian-Nya
Menurut Yesaya 53:9, kubur Kristus ditempatkan di antara orang-orang fasik, tetapi dengan seorang kaya dalam kematian-Nya, meskipun Dia tidak berbuat kekerasan, dan tipu daya tidak ada dalam mulut-Nya. Orang-orang yang menyalibkan Dia berencana untuk menguburkan Dia dengan dua pemberontak itu, yaitu orang-orang fasik; tetapi pada akhirnya Allah dalam kedaulatan-Nya membuat Kristus dikuburkan di dalam kuburan seorang kaya. Setelah Kristus mati, ada seorang kaya, yang bernama Yusuf dari Arimatea, datang untuk meminta tubuh-Nya, dan ia menempatkan tubuh itu ke dalam satu kuburan yang baru (Mat. 27:57-60). Kristus tidak berbuat kekerasan, dan tipu daya tidak ada dalam mulut-Nya, namun orang-orang memperlakukan Dia dengan cara lain. Tetapi Allah dalam kedaulatan-Nya datang untuk melaksanakan keadilan-Nya. Allah segera mengambil Dia dari segala macam penderitaan itu dan menaruh-Nya di dalam kuburan seorang kaya.
B. Yehova telah menimpakan Kejahatan Kita Semua kepada-Nya
Semua hal yang disinggung di atas dilakukan oleh manusia. Ini adalah manusia yang menganiaya Kristus, menindas Dia, menghakimi Dia, membawa Dia ke pembantaian, dan menaruh-Nya ke atas salib, dan menyalibkan Dia di antara dua pemberontak. Setelah manusia melakukan semua hal ini, Yehova menimpakan semua kejahatan kita semua, yang telah sesat seperti domba dan telah berpaling dari jalan kita sendiri, kepada-Nya (Yes. 53:6). Dalam Yesaya 53:6, frase kita semua mengacu kepada sisa orang Yahudi pada waktu Tuhan Yesus datang kembali. Pada waktu itu semua sisa orang Yahudi akan bertobat dan akan mengucapkan kata-kata dari ayat ini. Yehova telah menimpakan kejahatan kita semua kepada manusia yang dianiaya, dihakimi, ditindas, dan dihakimi ini.
Dengan teliti membaca empat Injil; kita dapat melihat bahwa Kristus tergantung di atas salib selama enam jam, dari jam sembilan pagi sampai jam tiga sore (Mrk. 15:25, 33-37; Mat. 27:45-50; Luk. 23:44-46). Selama tiga jam yang pertama, yaitu dari jam sembilan sampai siang hari, semua yang diderita oleh Kristus diberikan oleh manusia. Kemudian pada siang hari Allah datang untuk menimpakan semua kejahatan umat pilihan-Nya kepada Dia yang mati ini. Langit segera menjadi gelap. Ini adalah tanda dari penanggulangan Allah terhadap dosa umat pilihan-Nya. Kemudian Kristus berseru, “Allah-Ku, Allah-Ku mengapa Engkau meninggalkan Aku?” (Mat. 27:46). Ini adalah satu fakta bahwa Allah meninggalkan Dia pada peristiwa itu. Allah selalu menyertai Kristus sampai pada waktu itu. Dalam Yohanes 16:32 Tuhan berkata, “Namun Aku tidak seorang diri sebab Bapa menyertai Aku.” Tetapi pada siang hari pada hari penyaliban-Nya, Allah menimpakan semua kejahatan umat pilihan-Nya kepada Kristus, dan secara hukum mengambil Dia sebagai Pengganti kita menurut hukum taurat. Allah menyingkirkan semua kejahatan dari kita dan menimpakannya kepada Kristus, membuat Kristus menjadi orang dosa satu-satunya. Kemudian Allah meninggalkan Dia karena pada waktu itu Dia adalah Pengganti kita. Maka, Kristus mati bagi orang lain, yaitu satu kematian yang diakui dan diuji oleh hukum Allah.
Jika seseorang mati ketika berusaha untuk menyelamatkan seseorang yang tenggelam, maka orang yang mati itu dapat dianggap berani mati tetapi bukan mati bagi orang lain. Sesuatu yang bagi orang lain pasti berhubungan dengan hukum. Seorang penyelamat yang berani mati itu bukanlah satu kematian yang dapat diakui oleh hukum Allah. Tetapi Kristus mati bagi orang lain adalah sah menurut hukum Allah dan diakui oleh Allah. Kematian Kristus diakui oleh Allah secara sah, menurut hukum-Nya, sebagai kematian dari Dia yang adalah Pengganti bagi kita, orang-orang dosa.
Ada yang mengatakan bahwa Kristus hanyalah mati martir yang dibunuh karena filsafat-Nya. Mereka mengatakan bahwa kematian Kristus hanya dapat dianggap sebagai mati martir dan bahwa Kristus tidak lebih daripada seorang pahlawan yang mati martir. Ini adalah pembicaraan dari mereka yang disebut kaum modern, yang tidak percaya bahwa Alkitab sepenuhnya adalah ilham, dan bahwa Kristus mati di kayu salib bagi dosa-dosa kita dan mencucurkan darah-Nya bagi penebusan kita dan bahwa Kristus bangkit secara rohani dan secara fisik. Kisah Para Rasul 7:52 mengatakan bahwa Kristus dibunuh. Sewaktu Stefanus berbicara kepada orang-orang yang menganiayanya, ia berkata, “Bahkan mereka membunuh orang-orang yang lebih dahulu memberitakan tentang kedatangan Orang Benar, yang sekarang telah kamu khianati dan kamu bunuh.” Membunuh berarti mematikan. Tidak diragukan lagi bahwa Kristus dibunuh, tetapi kematian-Nya tidak boleh dianggap hanya sebagai pembunuhan karena mati martir.
Kematian Kristus jauh lebih berarti daripada satu pembunuhan. Dalam satu hal, di mata Allah, Kristus bukan dibunuh; tetapi dalam hal lainnya, dalam Kisah Para rasul 7 ketika Allah datang untuk menghakimi orang-orang Yahudi, Dia menuduh mereka membunuh Tuhan Yesus. Dalam tiga jam yang pertama Kristus di kayu salib itu, Dia dibunuh oleh manusia, tetapi dalam tiga jam yang terakhir Dia bukan dibunuh oleh manusia melainkan dihakimi oleh Allah. Allah membunuh Putra-Nya, Yesus Kristus, di kayu salib. Maka, kematian itu bukanlah satu pembunuhan melainkan satu kematian bagi orang lain untuk menggenapkan penebusan bagi kita.
Selain itu, kematian Kristus bukanlah mati martir. Kristus bukan dibunuh oleh musuh-musuh-Nya karena filsafat-Nya atau pengajaran-pengajaran-Nya. Kematian Kristus adalah sesuatu yang dilaksanakan oleh Allah sendiri menurut hukum-Nya. Maka, kematian-Nya adalah kematian dari Dia yang menjadi Pengganti kita bagi orang lain; ini adalah satu kematian bagi orang lain. Kematian ini digenapkan dalam tiga jam yang terakhir ketika Dia berada di atas salib. Pada peristiwa itu, Dia berseru, “Allah-Ku, Allah-Ku mengapa Engkau meninggalkan Aku?” Hari ini, kita sebagai orang-orang dosa yang diselamatkan oleh Dia, semuanya harus menjawab, “Tuhan, itu semua karena dosa-dosaku. Karena dosa-dosaku telah ditimpakan kepada-Mu, maka pada waktu itu Engkau dianggap oleh Allahku sebagai orang dosa satu-satunya; sehingga Allah meninggalkan Engkau karena aku, karena Engkau adalah Penggantiku di sana, dan melaksanakan kematian bagiku yang diakui secara sah oleh Allah menurut hukum-Nya.” Kematian Kristus bukan hanya satu pembunuhan, ataupun mati martir; melainkan, ini adalah kematian bagi penggenapan penebusan, yaitu kematian yang menebus. Kita semua perlu mengenal kebenaran tentang kematian Kristus bagi orang lain ini.
1. Menganggap Dia sebagai Pengganti bagi Orang-orang Dosa dan Meninggalkan Dia sebagai Orang Dosa Satu-satunya pada Saat Itu
Kita telah melihat bahwa selama tiga jam yang terakhir Kristus berada di kayu salib itu, Yehova menganggap Dia sebagai Pengganti bagi orang-orang dosa (1 Ptr. 3:18) dan meninggalkan Dia sebagai orang dosa satu-satunya pada saat itu (mat. 27:45-46). Betapa menakjubkannya bahwa di alam semesta ini ada satu Pengganti yang demikian bagi Anda dan saya!
2. Berkenan untuk Meremukkan Dia, Membuat Dia Menderita Kesakitan
Menurut Yesaya 53:10a, dalam kematian Kristus bagi orang lain sebagai Pengganti bagi orang-orang dosa, Yehova berkenan meremukkan Dia, dan membuat Dia menderita kesakitan.
C. Membuat Diri-Nya Menjadi Kurban bagi Dosa
Yesaya 53:10b mengatakan bahwa Kristus membuat Diri-Nya menjadi satu kurban bagi dosa. Ini berarti bahwa Kristus rela membuat diri-Nya menjadi kurban bagi dosa. Dalam bahasa Ibrani kata yang diterjemahkan diri-Nya dalam ayat ini secara harfiah berarti “jiwa-Nya.” Susunan ayat ini juga dapat mempunyai arti “Ketika jiwa-Nya akan dibuat menjadi satu kurban bagi dosa.” Ini menunjukkan bahwa Kristus rela menjadi kurban bagi dosa. Kurban di sini bukanlah kurban dosa, melainkan satu kurban bagi dosa, yang mengacu kepada dosa secara keseluruhan. Demikian juga, Yohanes 1:29, yang membicarakan tentang Kristus sebagai “Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia,” bukan mengacu kepada kurban dosa (meskipun kurban dosa tercakup di sana) melainkan mengacu kepada satu kurban bagi dosa secara keseluruhan—yaitu bagi perbuatan-perbuatan yang salah, kesalahan-kesalahan, pelanggaran-pelaggaran, pemberontakan-pemberontakan, perbuatan-perbuatan yang jahat, dan kejahatan-kejahatan.
1. Melalui Roh yang Kekal
Ibrani 9:14 mengatakan bahwa Kristus mempersembahkan diri-Nya kepada Allah melalui Roh yang kekal. Allah itu tritunggal. Pada saat Bapa menghukum Dia dan meninggalkan Dia, Roh itu tetap menyertai Dia. Jika Roh yang kekal tidak menyertai Dia, bagaimana Dia dapat mempersembahkan diri-Nya melalui Roh itu? Kita jangan lupa bahwa dalam esensnya Allah itu satu, tetapi dalam melakukan hal-hal, Dia itu tiga. Dia menjadi satu Allah dalam esensnya adalah secara esensial, sedangkan Dia melakukan hal-hal sebagai tiga Persona adalah secara ekonomikal, yaitu bagi ekonomi-Nya. Dalam ekonomi Allah, Bapa menghukum dan meninggalkan Putra, dan Roh itu menyertai Putra untuk menopang dan menguatkan Dia. Ketika Dia mati di kayu salib, Tuhan Yesus adalah seorang manusia dengan darah dan daging. Tentunya Dia merasa sangat sakit ketika Dia tergantung di kayu salib selama enam jam. Dia menderita di sana sebagai manusia, dan karena itu Dia perlu dikuatkan. Maka, ketika Bapa meninggalkan Dia, Roh itu datang untuk menguatkan dan menopang Dia.
2. Dengan Menyerahkan Nyawa-Nya kepada Maut
Yesaya 53:12b mengatakan bahwa Kristus menyerahkan nyawa-Nya kepada maut. Kata Ibrani untuk nyawa secara harfiah berarti “jiwa.” Maka, Tuhan menyerahkan jiwa-Nya kepada maut. Ini berhubungan dengan perkataan Tuhan di dalam Yohanes 10:17-18: “Aku memberikan nyawa-Ku untuk menerimanya kembali. Tidak seorangpun mengambilnya daripada-Ku, melainkan Aku memberikannya menurut kehendak-Ku sendiri. Aku berkuasa memberikannya dan berkuasa mengambilnya kembali. Inilah tugas yang Kuterima dari Bapa-Ku.” Dalam kematian Tuhan Dia menyerahkan nyawa-Nya dan dalam kebangkitan-Nya Dia menerimanya kembali.
Kristus menyerahkan hayat insani-Nya menjadi satu persembahan. Setiap persembahan, jika persembahan itu merupakan satu kurban, maka harus dibunuh, dan darahnya dicurahkan. Tidak ada kurban yang masih hidup yang dapat menjadi satu persembahan kepada Allah. Setiap kurban harus dibunuh, dan darahnya harus dicurahkan. Kemudian baru dapat menjadi satu persembahan yang diterima oleh Allah. Dalam kematian-Nya Kristus menyerahkan nyawa-Nya secara demikian.
Sejauh ini, kita dapat melihat bahwa dalam penyaliban Kristus, manusia melakukan sesuatu, Allah melakukan sesuatu, dan Kristus sendiri melakukan sesuatu. Penyaliban Kristus tidak dapat digenapkan tanpa partisipasi dari salah satu dari ketiga kelompok ini. Manusia melakukan pembunuhan, tetapi Allah melaksanakan penghakiman yang sah untuk membunuh-Nya sebagai Pengganti yang sah agar Dia dapat melaksanakan satu kematian bagi orang-orang yang bagi mereka Dia mati sebagai satu Pengganti. Selain itu, Dia sendiri rela untuk menjadi satu persembahan yang demikian. Dia membuat diri-Nya menjadi persembahan itu, dan Dia menyerahkan nyawa-Nya untuk tujuan itu.
D. Untuk Menggenapkan Penebusan Kekal Allah, agar Kaum Beriman dalam Kristus Dapat Ditebus kepada Persatuan Hayat dalam Kebangkitan-Nya, dan Realitas dari Hal itu Adalah Roh Pemberi Hayat
Penyaliban Kristus adalah bagi penebusan kekal Allah (Ibr. 9:12), agar kaum beriman dalam Kristus dapat ditebus (diampuni dosa-dosanya—Kis. 10:43, dibenarkan—Kis. 13:39, dan diperdamaikan dengan Allah—Rm. 5:10) kepada persatuan hayat dalam kebangkitan-Nya, dan realitas dari hal itu adalah Roh pemberi hayat (1 Kor. 15:45b; Rm. 8:9b; Flp. 1:19b). Penebusan Kristus meliputi pengampunan dosa-dosa, pembenaran, dan pendamaian dengan Allah. Sebagai orang-orang dosa, kita semua memerlukan pengampunan dan pembenaran. Kita bukan hanya orang-orang dosa, melainkan juga musuh-musuh Allah; maka, kita juga memerlukan pendamaian. Penebusan Kristus melakukan semua hal ini bagi kita. Penebusan Kristus menggenapkan pengampunan dosa-dosa dan pembenaran bagi kita, orang-orang dosa, penebusan ini juga menggenapkan pendamaian bagi kita, musuh-musuh Allah. Tiga hal ini ditambahkan bersama-sama menyusun penebusan Kristus.
Penebusan adalah kepada persatuan hayat dalam kebangkitan Kristus. Roma 5:18 mengatakan bahwa pembenaran adalah “pembenaran hayat.” Ini berarti bahwa pembenaran adalah bagi hayat, atau kepada hayat. Kita dibenarkan agar kita dapat memiliki hayat. Hayat ini adalah persatuan hayat dalam kebangkitan Kristus. Dalam kebangkitan Kristus, yang mengikuti penyaliban-Nya, kita memiliki hayat dan hayat ini adalah satu persatuan. Kita masuk ke dalam persatuan ini melalui ditebus. Melalui penebusan Kristus, kita dibenarkan kepada persatuan hayat dalam kebangkitan-Nya ini, dan realitas dari hal itu adalah Roh pemberi hayat.
Kematian Kristus bukan hanya satu pembunuhan, ataupun mati martir; melainkan merupakan satu penebusan yang dilaksanakan oleh sang Penggati bagi umat pilihan Allah. Kristuslah yang menanggung dosa kita secara total di hadapan Allah. Melalui kematian yang demikian kita ditebus, diampuni dosa-dosa kita, dibenarkan, dan bahkan diperdamaikan dengan Allah. Penebusan ini membawa kita masuk ke dalam persatuan hayat dalam kebangkitan Kristus, dan realitas dari kebangkitan itu adalah Kristus sendiri sebagai Roh pemberi hayat.
Kita semua perlu meluangkan beberapa waktu untuk mengenal Kristus dalam empat tahap-Nya. Karena kita percaya kepada-Nya sebagai Penyelamat kita, telah menerima Dia sebagai Penebus kita, dan bersandar kepada-Nya sebagai hayat kita, maka kita harus mengenal Dia. Terima kasih kepada Tuhan bahwa ada satu pasal, yaitu Yesaya 53, yang memberitahukan kepada kita semua hal mengenai Kristus ini, dan terima kasih kepada-Nya bahwa Dia telah membukakan pasal ini kepada kita secara demikian.