HAMBA YEHOVA
Sebagai Perjanjian bagi Umat itu dan Terang bagi Bangsa-bangsa
UNTUK MENJADI KESELAMATAN PENUH ALLAH
Pembacaan Alkitab:
Yes. 42:5-7; 49:6, 8b-9a; Rm. 10:3; 3:21-22; Gal. 2:16, 21; Rm. 5:16b, 18a, 12, 21a; Yoh. 5:24; Rm. 5:18b; 8:17a; Gal. 3:29b; Kis. 26:18; Ef. 2;5; Yoh. 1:12-13; Rm. 8:15; Tit. 3:5, 2 Kor. 3:18; Rm. 8:29, 30b; Mat. 26:28; Ibr. 7:22; 9:15-17; Yoh. 9:5; 1:4, 9; 8:12; Ibr. 7:16b; 2 Tim. 1:10b; 1 Tim. 6:19, 12; Why. 21:2-3, 9b-11, 18-23; 22:1-5; Zak. 12:1; Rm. 8:4b; Why. 1:10a; 2 Tim. 4:22; Yes. 12:3-4
Dalam berita ini saya ingin membicarakan lebih banyak hal tentang Kristus sebagai perjanjian dan terang bagi umat pilihan Allah. Mengapa Kristus perlu diberikan kepada kita oleh Allah sebagai satu perjanjian? Apakah makna dari hal ini? Kelihatannya, tidaklah sulit untuk menyerap secara logis pemikiran bahwa Kristus adalah terang yang diberikan Allah. kepada bangsa-bangsa. Tetapi pemikiran bahwa Allah memberikan Kristus kepada kita sebagai satu perjanjian itu sulit untuk diserap. Meskipun demikian, kita perlu sadar bahwa dalam dua perkara ini, yaitu perjanjian dan terang, seluruh Alkitab terwujud. Seluruh Kitab Suci yang terdiri dari enam puluh enam kitab ini terwujud dalam dua hal ini—dalam Kristus yang menjadi perjanjian dan dalam Kristus yang menjadi terang.
Ada satu firman yang jelas dalam dua bagian dari Alkitab yang mengatakan bahwa Kristus telah diberikan kepada kita, umat pilihan Allah, yang pertama sebagai perjanjian dan yang kedua, sebagai terang (Yes. 42:5-7; 49:6, 8b-9a). Yesaya 42:6b mengatakan, “Aku telah membentuk engkau (Kristus) dan memberi engkau menjadi perjanjian bagi umat manusia, menjadi terang untuk bangsa-bangsa,” dan Yesaya 49:6b dan 8b mengatakan, “Aku akan membuat engkau menjadi terang bagi bangsa-bangsa, supaya keselamatan yang dari pada-Ku sampai ke ujung bumi…Aku telah membentuk dan memberi engkau menjadi perjanjian bagi umat manusia.”
Kita seharusnya terkesan dengan dalam ketika kita membaca firman ini. Banyak orang Kristen, ketika mereka datang kepada Firman Allah, mereka hanya melihat hal-hal yang dangkal. Ketika mereka membaca satu pasal seperti Efesus 5, mereka lebih suka melihat tentang istri-istri harus tunduk kepada suami mereka dan suami-suami harus mengasihi istri mereka. Ini adalah menurut selera mereka, kesukaan mereka. Meskipun Alkitab mengajar bahwa istri harus tunduk kepada suami dan suami harus mengasihi istri, tetapi ini adalah satu butir yang sangat kecil dalam pengajaran Alkitab. Butir mendasar yang diwahyukan dalam Alkitab adalah ekonomi Allah. Ekonomi Allah adalah membagikan diri-Nya sendiri ke dalam kita sebagai hayat kita, persona kita, dan segala sesuatu kita. Inilah yang diajarkan Alkitab, dan inilah yang diwahyukan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru kepada kita. Tetapi, maaf bila saya mengatakan bahwa hampir semua mata pembaca Alkitab tertutup terhadap perkara ini, sehingga mereka tidak dapat melihat hal ini.
I. KESELAMATAN PENUH ALLAH MENJADI DASAR ATAS KEBENARANNYA DAN RAMPUNG DALAM HAYATNYA
Alkitab memperlihatkan kepada kita bahwa Allah mempunyai satu ekonomi, satu rencana yang kekal, untuk membagikan diri-Nya sendiri ke dalam kita sebagai hayat kita, persona kita, dan segala sesuatu kita. Namun, sayang sekali, setelah manusia diciptakan manusia jatuh. Dalam kejatuhan manusia ini, manusia melanggar tuntutan-tuntutan kebenaran Allah. Akibatnya, manusia dihakimi oleh kebenaran Allah. Sekarang, di antara kita, orang-orang dosa yang telah jatuh ini dengan Allah ada masalah penghukuman. Semua orang dosa, semua keturunan Adam, berada di bawah penghukuman Allah karena tuntutan kebenaran Allah. Maka, kita memerlukan pembenaran Allah untuk menghapus penghukuman Allah ini. Tidak ada jalan lain bagi Allah untuk menghapus penghukuman kita selain dari pembenaran Allah.
Bangsa Israel, umat Allah ini berada di bawah perjanjan lama, dan berusaha sebaik mungkin untuk mendirikan kebenaran mereka sendiri supaya mereka dapat dibenarkan oleh Allah berdasarkan kebenaran mereka sendiri. Tetapi kebenaran mereka tidak mencapai standar pembenaran Allah (Rm. 9:31; 10:3). Pembenaran Allah adalah menurut standar yang paling tinggi, yaitu standar kebenaran-Nya. Paulus dengan jelas memberi tahu kita bahwa untuk tujuan ini Allah memberikan Kristus kepada kita sebagai kebenaran Allah. Satu Korintus 1:30 mengatakan bahwa Allah memasukkan kita ke dalam Kristus dan membuat Kristus menjadi kebenaran-Nya bagi kita. Jadi, butir yang pertama bahwa Kristus adalah bagi kita adalah kebenaran Allah. Kita tidak perlu mendirikan kebenaran kita sendiri. Tidak perlu dikatakan lagi, hal ini tidak mungkin kita lakukan. Sekalipun kita dapat mendirikan kebenaran kita sendiri, kebenaran itu tidak akan dapat mencapai ukuran standar kebenaran Allah.
Kebenaran kita itu seperti tanah liat kuning, sedangkan kebenaran Allah seperti emas kuning yang bercahaya. Standar kebenaran kita itu terlalu rendah. Maka, jika kita membawa kebenaran kita sendiri kepada Allah, kebenaran ini tidak akan berarti apa-apa. Iinlah sebabnya mengapa Alkitab mengatakan bahwa tidak ada daging, yaitu tidak ada manusia yang telah jatuh, yang dapat dibenarkan oleh Allah menurut perbuatannya sendiri dengan memelihara hukum taurat (Rm. 3:20). Apa saja yang kita lakukan, tidak peduli berapa banyak yang dapat kita genapkan menurut hukum taurat, itu tidak sesuai dengan tuntutan Alah dan tidak mencapai ukuran standar pembenaran Allah. Hanya kebenaran Allah yang dapat mencapai standar yang demikian.
Perjanjian Lama memberikan satu ilustrasi yang baik kepada kita, yaitu ilustrasi Abraham mendapatkan seorang anak, untuk memperlihatkan bahwa kebenaran manusia tidak dapat memenuhi standar pembenaran Allah. Dalam hal yang sesungguhnya, anak Abraham, yaitu Ishak menandakan kebenaran Allah. Allah berjanji kepada Abraham bahwa Abraham akan mempunyai seorang anak dari Allah dan bahwa anak ini akan menjadi satu berkat bagi semua bangsa di bumi (Kej. 15:3-5; 18:10, 14; 22:18). Tetapi Sarah, istri Abraham, mengusulkan agar ia mempunyai seorang anak melalui gundiknya, Hagar, dan Abraham menerima usulan itu (Kej. 16:1-4a, 15). Yang dihasilkan Abraham melalui sarana itu adalah Ismael, yang ditolak oleh Allah. Allah menyuruh Abraham mengusir Ismael (Kej. 21:10-12). Maka, apa yang dihasilkan Abraham ini tidak terhitung. Hanya apa yang diberikan Allah itu barulah yang terhitung. Kejadian 15:6 mengatakan bahwa setelah mendengar firman Allah, Abraham percaya kepada Allah, kepercayaan Abraham itu diperhitungkan Allah sebagai kebenaran.
Jadi, kebenaran Allah dapat dilihat dalam perbandingan antara dua anak laki-laki ini, yaitu Ismael dan Ishak. Tentunya Ismael tidak tidak sesuai dengan kebenaran Allah. Hanya Ishak yang sesuai dengan kebenaran Allah. Satu-satunya jalan di mana Abraham dapat menerima anak yang demikian sesuai dengan kebenaran Allah adalah melalui iman. Rasul Paulus mengatakan hal yang sama. Ia mengatakan bahwa kita tidak boleh berusaha untuk mendirikan kebenaran kita sendiri (Rm. 10:3; Flp. 3:9). Hal itu akan menghasilkan Ismael, dan tidak akan pernah terhitung oleh Allah sebagai apa yang didambakan-Nya. Kita harus percaya kepada Allah; kemudian kita akan menerima sesuatu dari Dia, dan sesuatu ini adalah Kristus sebagai Ishak hari ini. Kristus ini adalah kebenaran Allah yang diberikan kepada kita sebagai kebenaran kita, sebagai penerimaan kita oleh Allah, dan hal ini pada akhirnya akan menjadi berkat. Maksud Allah hari ini adalah memberikan diri-Nya sendiri pertama sebagai kebenaran kita, kemudian sebagai hayat kita, kemudian sebagai persona kita, kemudian sebagai segala sesuatu kita, dan akhirnya sebagai warisan kita.
Sekarang kita perlu melihat bagaimana Kristus dapat menjadi kebenaran kita yang diberikan kepada kita oleh Allah. Pertama, sebagai kebenaran Allah dan sebagai Pengganti kita, Kristus harus mati. Kebenaran Allah menuntut Kristus untuk mati bagi kita., dan Kristus melakukan hal ini. Pada malam hari sebelum kematian-Nya, Dia mendirikan satu perjamuan bagi murid-murid-Nya agar mereka dapat mengingat Dia dan menikmati Dia. Dalam mendirikan perjamuan Tuhan itu, Dia mengambil cawan dan berkata kepada murid-murid-Nya, “Cawan ini adalah perjanjian baru yang didirikan oleh darah-Ku, yang dicurahkan bagi kamu” (Luk. 22:20). Firman ini menghubungkan pemikiran kebenaran Allah dengan darah Kristus. Melalui darah Kristuslah kita dapat menerima dan mendapatkan pengampunan Allah, dan pengampunan Allah ini sama dengan pembenaran Allah. Ketika Allah membenarkan kita, Dia mengampuni kita, dan ketika Allah mengampuni kita, Dia membenarkan kita. Menurut perkataan Tuhan Yesus, pengampunan ini, atau pembenaran ini, sepenuhnya berdasarkan kematian Kristus, yang telah memenuhi semua tuntutan kebenaran Allah.
Dalam perjanjian yang baru, kelihatannya kita menerima banyak hal, tetapi sebenarnya kita hanya memperoleh satu hal—Kristus. Perjanjian lama yang didirikan oleh Musa hanya memberikan satu hukum kepada umat itu. Tetapi wasiat yang baru, perjanjian yang baru ini, didirikan oleh Kristus melalui kematian-Nya, dan memberikan Kristus kepada kita. Pertama-tama, Kristus ini mati bagi dosa-dosa kita untuk memecahkan semua masalah yang berhubungan dengan kebenaran Allah. Kemudian, setelah kematian ini Kristus masuk ke dalam kebangkitan. Dalam kebangkitan-Nya Dia menjadi Roh pemberi hayat agar Dia dapat masuk ke dalam kita untuk menghidupkan kita, menunaskan kita, menganimasi kita, dan membuat kita menjadi hidup. Meskipun kematian Kristus membenarkan kita, kita tetap adalah orang-orang mati. Kematian Kristus itu sendiri tidak dapat menyalurkan hayat kepada kita untuk membuat kita hidup agar kita dapat menikmati semua hasil dari pembenaran Allah. Setelah Allah membenarkan kita, Dia damba untuk memberikan banyak berkat kepada kita; tetapi jika kita tetap adalah orang-orang mati, maka kita tidak mungkin dapat menikmati semua berkat-Nya sebagai warisan kita. Maka, Kristus perlu mengambil langkah lebih jauh, yaitu langkah kebangkitan. Dalam kebangkitan yang mengikuti kematian-Nya ini, Kristus menjadi Roh pemberi hayat. Adalah benar bila kita mengatakan bahwa Dia menjadi satu Roh yang menyalurkan hayat, bahkan Roh pendispensi hayat, karena memberi hayat adalah menyalurkan hayat, dan menyalurkan hayat adalah mendispensikan hayat. Sebagai Roh yang demikian, Kristus masuk ke dalam kita untuk menghidupkan kita, membawa hayat masuk ke dalam kita, menyalurkan hayat ilahi ke dalam kita untuk membuat kita hidup. Dengan cara ini kita dilahirkan kembali menjadi anak-anak Allah, tidak hanya menjadi orang-orang dosa yang dibenarkan melainkan juga menjadi anak-anak Allah.
Mulanya, hayat ada di dalam Allah, tidak berhubungan dengan kita.Tetapi melalui kematian Kristus, kita dibersihkan; kita dibenarkan; kita diampuni. Namun kita tetap adalah orang-orang mati. Kemudian Kristus menjadi Roh pemberi hayat dalam kebangkitan untuk menyalurkan, mendispensikan, hayat yang ada di dalam Allah ke dalam kita, untuk menghidupkan kita, melahirkan kita kembali, membuat kita menjadi anak-anak Allah, membuat kita menjadi orang-orang yang dilahirkan dari Allah dan bukan lagi hanya menjadi satu mayat yang dibenarkan saja.
Roma 8:17 mengatakan bahwa sebagai anak-anak Allah, kita juga adalah ahli-ahli waris Allah untuk mewarisi Allah sebagai warisan kita. Ini berarti bahwa kita akan mewarisi Allah sebagai warisan kita. Seringkali dalam Perjanjian Lama, terutama dalam kitab Yeremia, mengatakan bahwa Israel akan menjadi umat Allah dan Dia akan menjadi Allah mereka. Dalam Perjanjian Baru, yaitu dalam 2 Korintus 6:16, mengutip firman ini. Bagi kita menjadi umat Allah itu berarti bahwa kita adalah warisan Allah, dan Allah menjadi Allah kita itu berarti bahwa Dia adalah warisan kita. Sebelum warisan ini ada, Allah dan kita, kita dan Allah, miskin. Sebelum kita memiliki Allah, kita tidak memiliki apa-apa, dan sebelum Allah memiliki kita, Dia tidak memiliki anak. Itulah sebabnya mengapa Dia damba untuk mendispensikan diri-Nya ke dalam kita, untuk membuat kita semua menjadi anak-anak-Nya; dan semua anak-anak-Nya ini adalah warisan-Nya. Sekarang Allah sudah kaya. Melalui hal ini kita dapat memahami makna dari firman yang sederhana ini: “Aku akan menjadi Allahmu, dan kamu akan menjadi umat-Ku.” Hari ini sebagai anak-anak Allah kita memiliki Kristus, dan Kristus adalah perwujudan Allah. Allah yang terwujud dalam Kristus ini adalah hayat kita, persona kita, dan warisan kita. Demikian juga, Allah memiliki satu warisan. Kita adalah warisan-Nya.
Semuanya ini adalah karena dua hal ini: Kristus sebagai perjanjian kita dan Kristus sebagai terang kita. Kristus sebagai perjanjian kita memperhatikan kebenaran Allah, dan Kristus sebagai terang kita melepaskan hayat Allah ke dalam kita. Kita memiliki Kristus sebagai perjanjian kita; maka, kita tidak memiliki masalah dengan kebenaran Allah. Kita juga memiliki Kristus sebagai terang kita; maka kita kaya dalam hayat ilahi. Sekarang berdasarkan kebenaran Allah dan hayat Allah, kita menikmati Allah sebagai warisan kita. Hal ini, secara keseluruhan adalah keselamatan penuh Allah bagi kita.
Enam puluh enam kitab dari seluruh Alkitab mewahyukan banyak hal kepada kita. Bila semua hal ini diwujudkan bersama-sama menjadi satu kesatuan; maka hal itu adalah Yerusalem Baru. Enam puluh enam kitab dari Alkitab ini rampung dalam Yerusalem Baru. Di satu pihak kita dapat mengatakan bahwa Alkitab menyingkapkan garis sentral wahyu ilahi kepada kita, yang adalah ekonomi Allah dan dispensi Allah. Di pihak lain, kita dapat mengatakan secara singkat bahwa totalitas dari apa yang diwahyukan Alkitab kepada kita adalah Yerusalem Baru. Yerusalem Baru adalah komposisi total dari seluruh wahyu dalam Alkitab.
Pondasi Yerusalem Baru terdiri dari dua belas lapisan batu-batu yang berharga (Why. 21:14, 19-20). Beberapa buku-buku fundamental yang menulis tentang pondasi Yerusalem Baru menunjukkan bahwa warna dari dua belas lapisan batu-batu yang berharga yang ada di dalam pondasi Yerusalem Baru ini terlihat seperti sebuah pelangi. Menurut Kejadian 9:8-17, pelangi adalah satu tanda yang mengingatkan kita akan kesetiaan Allah dalam memelihara firman-Nya. Kesetiaan Allah berdasarkan kepada kebenaran-Nya. Jika tidak ada kebenaran, maka tidak akan ada kesetiaan. Jadi, pondasi Yerusalem Baru ini adalah kebenaran Allah dengan kesetiaan Allah.
Di dalam Yerusalem Baru ada sebuah sungai hayat, yang mengalir, atau seperti spiral, dari puncak kota itu sampai ke dasarnya, hingga mencapai kedua belas pintu gerbangnya (Why. 22:1). Aliran sungai hayat ini menjenuhi seluruh kota itu. Pada kedua sisi sungai itu tumbuh pohon hayat. Jadi, isi Yerusalem Baru adalah hayat. Dalam kota itu sungai hayat mengalir dan pohon hayat bertumbuh seperti sebuah pohon anggur di sepanjang tepi sungai itu, untuk menyuplai seluruh kota itu. Ini menunjukkan bahwa seluruh Yerusalem Baru adalah perkara hayat yang dibangun di atas pondasi kebenaran. Hayat adalah perampungan dari kebenaran, dan kebenaran adalah dasarnya, yaitu pondasi dari hayat ini.
Dalam Yerusalem Baru, hayat dihasilkan dari terang. Menurut Wahyu 21:23, dalam Yerusalem Baru tidak perlu ada cahaya sinar matahari atau bulan, karena kemuliaan Allah menyinarinya, dan Anak Domba adalah lampunya. Ini berarti bahwa Kristus adalah lampunya, dan Allah yang terwujud dalam Kristus adalah terangnya. Maka, dalam pondasi Yerusalem Baru kita dapat melihat kesetiaan berdasarkan kebenaran. Kita juga dapat melihat bahwa terang dalam Yerusalem Baru menghasilkan hayat. Jadi, Yerusalem Baru adalah perwujudan dari keselamatan penuh Allah, dan keselamatan penuh Allah adalah satu komposisi dari kebenaran Allah sebagai dasarnya dan hayat Allah sebagai perampungannya. Inilah wahyu Alkitab.
Akhirnya, keselamatan penuh Allah adalah Kristus sebagai perjanjian ditambah Kristus sebagai terang, dan ini adalah komposisi dari Yerusalem Baru. Keselamatan penuh Allah berdasarkan kepada kebenaran Allah dan dirampungkan dalam hayat-Nya. Kristus sebagai perjanjian memperhatikan kebenaran Allah. Maka, perjanjian itu adalah pondasi keselamatan Allah. Kemudian Kristus sebagai terang melaksanakan keselamatan Allah ini untuk merampungkan keselamatan Allah dalam hayat. Jadi, Kristus sebagai perjanjian ditambah Kristus sebagai terang sama dengan keselamatan penuh Allah.
A. Kebenaran Allah Membenarkan Kita melalui Kematian Kristus
Kebenaran Allah membenarkan kita melalui kematian Kristus (Rm. 10:3; 3:21-22; Gal. 2:16, 21). Ini adalah untuk menyelamatkan kita, orang-orang dosa, dari penghukuman Allah (Rm. 5:16b, 18a) dan juga dari maut Satan (Rm. 5:12, 21a; Yoh. 5:24). Sebagai orang-orang dosa, kita memiliki penghukuman atas kita dari Allah dan juga maut di dalam kita dari Setan. Penghukuman Allah dibereskan oleh Kristus sebagai perjanjian, dan maut yang berasal dari Setan dihapuskan oleh Kristus sebagai terang yang menghasilkan hayat (Yoh. 8:12). Ini adalah untuk membawa kita, kaum beriman, masuk ke dalam hayat ilahi supaya kita dapat menjadi ahli-ahli waris Allah untuk mewarisi Allah dengan segala kekayaan-Nya sebagai warisan ilahi kita (Rm. 5:18b; 8:17a; Gal. 26:18b). Butir-butir ini menyusun substansi injil menurut ministri rasul Paulus dalam tiga kitab yaitu Roma, Galatia, dan 1 Korintus.
B. Hayat Allah Menunaskan Kita oleh Kristus sebagai Roh Pemberi Hayat
Hayat Allah menunaskan kita oleh Kristus sebagai Roh pemberi hayat (Ef. 2:5; 1 Kor. 15:45b). Ini adalah untuk memperanakan kita kepada keputraan, agar kita dapat memiliki keputraan Allah dan menjadi putra-putra Allah (Yoh. 1:12-13; Rm. 8:15). Sebagai putra-putra Allah, kita juga adalah ahli-ahli waris yang akan mewarisi Allah (Rm. 8:17a; Ef. 1:13-14a). Bagi kita untuk mewarisi Allah sebagai warisan kita, kita memerlukan Kristus untuk memuaskan tuntutan-tuntutan kebenaran Allah. Juga, kita perlu Kristus menjadi terang yang menghasilkan hayat ilahi supaya kita dapat dilahirkan kembali menjadi ahli-ahli waris Allah untuk mewarisi Dia sebagai warisan kita.
Hayat Allah juga menunaskan kita untuk memperbaharui kita, manusia lama ini (Tit. 3:5). Kita bukan hanya penuh dengan dosa dan mati, melainkan juga usang. Maka, kita perlu diperbaharui. Kita perlu diperbaharui bukan hanya oleh pembasuhan melainkan juga dengan ditunaskan oleh hayat Allah.
Hayat Allah juga menunaskan kita untuk mentransformasi dan menyerupakan kita ke dalam gambar Putra sulung Allah yang mulia, membuat kita menjadi banyak putra Alla, seperti Putra sulung. Hal ini digenapkan oleh hayat. Memperanakan, memperbaharui, transformasi, dan penyerupaan semuanya dilaksanakan oleh hayat.
Akhirnya, hayat Allah menunaskan kita untuk memuliakan kita dengan kemuliaan ilahi (Rm. 8:30b). Kemuliaan ilahi adalah ekspresi hayat ilahi Allah. Ketika hayat Allah diekspresikan, maka hayat ini menjadi kemuliaan yang bercahaya.
Perkara-perkara di atas adalah substansi injil menurut ministri rasul Yohanes dan Paulus. Pertama-tama, Yohanes meministrikan hayat, dan kemudian Paulus meministrikan kebenaran dan hayat. Dalam Injilnya dan dalam permulaan surat rasulinya, rasul Yohanes tidak menjamah perkara kebenaran. Kemudian dalam 1 Yohanes, ia benar-benar menjamah kebenaran Allah (2:28—3:10). Tetapi Paulus berbeda. Paulus menjamah kebenaran Allah terlebih dahulu, kemudian hayat Allah. Roma 5:18 mengatakan bahwa Allah membenarakan kita kepada hayat. Jadi, pembenaran membawa kita masuk ke dalam hayat. Ketika kita menerima pembenaran Allah menurut Kristus sebagai kebenaran Allah, hasil dari pembenaran ini di dalam kita adalah hayat ilahi. Karena itu, pembenaran adalah kepada hayat.
II. KRISTUS SEBAGAI HAMBA YEHOVA MELAYANI ALLAH DENGAN MENJADI SATU PERJANJIAN DAN TERANG BAGI UMAT ALLAH AGAR DIA DAPAT MENJADI KESELAMATAN PENUH ALLAH
Kristus sebagai Hamba Yehova melayani Allah dengan menjadi satu perjanjian dan terang bagi umat Allah agar Dia dapat menjadi keselamatan penuh Allah (Yes. 42:5-7; 49:6, 8b-9a).
A. Kristus sebagai Perjanjian untuk Menjadi Keselamatan Allah
Konsep kebanyakan orang Kristen adalah bahwa Kristus melayani Allah dengan kasih, dengan lemah lembut, dengan rendah hati, atau dengan ramah. Namun, Yesaya berbeda. Yesaya mengatakan bahwa Hamba Yehova ini melayani Allah dengan menjadi satu perjanjian. Tuhan Yesus mengatakan bahwa Dia melayani kita dengan menyerahkan nyawa-Nya (Mrk. 10:45), yaitu, melalui kematian-Nya. Kristus melayani kita dengan mati bagi kita, dan melayani kita dengan menjadi satu perjanjian. Dia mengatakan bahwa Dia adalah gembala yang baik yang akan menyerahkan hayat jiwa-Nya untuk domba-domba-Nya agar Dia dapat meministrikan hayat kepada mereka (Yoh. 10:10-11). Kristus mati bagi kita agar Dia dapat menjadi hayat bagi kita. Inilah dua hal yang dengannya Dia melayani Allah. Dia melayani Allah dengan meministrikan hayat kepada kita melalui kematian dan kebangkitan-Nya.
Pertama, Kristus mendirikan perjanjian baru menurut kebenaran Allah melalui kematian penebusan-Nya (Mat. 26:28). Kemudian, Kristus adalah kebenaran Allah bagi kita untuk pembenaran kita (Rm. 3:22; Gal. 2:16). Kristus juga telah menjadi wasiat, realitas, jaminan, Pengantara, dan Pelaksana perjanjian baru ini, wasiat baru ini, dalam kebangkitan-Nya, bagi warisan perjanjian kita (Ibr. 7:22; 9:15-17). Dalam perjanjian baru sebagai satu wasiat, ada banyak janji. Semua perjanjian ini adalah wasiat dari warisan itu. Kristus adalah segala sesuatu bagi warisan itu, dan Dia adalah setiap butir dari warisan itu. Akhirnya, Dia adalah warisan itu. Kita seringkali mengatakan bahwa tanpa Kristus, Alkitab itu kosong/hampa. Kristus adalah realitas dari Alkitab. Ini berarti bahwa Kristus adalahAlkitab. Tanpa Kristus, perjanjian yang baru, wasiat yang baru ini, kosong. Kristus adalah realitas dari perjanjian baru; karena itu, Kristus adalah perjanjian baru. Tidak mungkin untuk memisahkan Kristus dari perjanjian baru. Sekarang kita dapat memahami logika Allah menganggap Kristus menjadi satu perjanjian yang diberikan kepada kita. Maka, Kristus menjadi perjanjian baru sebagai wasiat baru menurut kebenaran Allah untuk menjadi dasar dari keselamatan penuh Allah, melalui kematian dan kebangkitan-Nya.
B. Kristus sebagai Terang untuk Menjadi Keselamatan Allah
Kristus juga adalah terang untuk menjadi keselamatan Allah (Yes. 42:6b; 49:6b). Yesaya 49:6b mengatakan, “Tetapi Aku akan membuat engkau menjadi terang bangsa-bangsa supaya keselamatan yang dari pada-Ku sampai ke ujung bumi.” Jadi, Allah memberikan Kristus sebagai terang kepada bangsa-bangsa agar Dia dapat menjadi keselamatan bagi seluruh dunia. Terang ini menghasilkan Kristus sebagai hayat ilahi bagi kita (Yoh. 9:5; 1:4, 9; 8:12). Yohanes 1:4 mengatakan, “Di dalam Dia ada hidup dan hidup ini adalah terang manusia.” Ketika kita membaca ayat ini, kita mungkin bertanya apakah terang datang terlebih dahulu atau hayat yang datang lebih dahulu. Sulit untuk menjawab pertanyaan yang demikian. Ayat-ayat seperti Yohanes 1:4 dan 1 Yohanes 1:1-7 menunjukkan bahwa hayat menghasilkan terang. Tetapi, berdasarkan Kejadian 1, kita juga dapat mengatakan bahwa terang menghasilkan hayat. Pertama-tama, Allah berkata, “Jadilah terang” (ay. 3). Kemudian, terang itu ada, dan setelah itu, ada berbagai macam hayat—hayat tumbuh-tumbuhan, hayat hewan, dan hayat manusia—yang dihasilkan dari terang itu (ay. 4:28). Dalam pengalaman dari seorang dosa, hal pertama yang datang bukanlah hayat melainkan terang. Ketika kita mendengarkan pemberitaan injil, terang datang kepada kita dan menyinari kita (2 Kor. 4:4-6). Kemudian ketika kita menerima terang ini, terang ini menghasilkan hayat, dan kita dilahirkan kembali. Setelah kelahiran kembali kita, terang itu keluar dari hayat. Karena itu, kita menerima terang terlebih dahulu, kemudian kita menerima hayat. Kemudian kita hidup oleh hayat ini, dan hayat ini menghasilkan terang.
Hayat dari terang ini menjadi keselamatan Allah bagi kita dalam kebenaran-Nya (Yes. 49:6b). Kita telah melihat bahwa hayat aalah perampungan dari keselamatan Allah. Tetapi keselamatan Allah ini memerlukan satu pondasi. Pondasi, dasar dari keselamatan Allah adalah kebenaran. Jadi, hayat dari terang ini menjadi keselamatan Allah bagi kita dalam kebenaran-Nya.
Hayat dari terang ini juga menjamin kita, menggaransi kita, menjadi ahli-ahli waris Allah dalam hayat-Nya, yaitu hak untuk mewarisi Allah dengan segala kekayaan-Nya sebagai warisan kekal kita (Kis. 26:18). Jika kita tidak memiliki hayat yang demikian, yaitu hayat yang berasal dari terang, maka kita tidak akan memiliki jaminan bahwa kita dapat mewarisi Allah sebagai warisan kita. Karena kita memiliki hayat yang demikian, maka hayat ini adalah jaminan kita yang menjamin hak kita untuk mewarisi Allah sebagai warisan kita dalam hayat.
Hayat dari terang ini, sebagai hayat yang tidak dapat binasa (Ibr. 7:16b), hayat yang tidak dapat rusak (2 Tim. 1:10b), dan hayat yang riil dan kekal agar kita berpegang kepadanya (1 Tim. 6:19, 12), akan bertumbuh di dalam kita sepanjang waktu, dan menghasilkan kehidupan gereja kita pada hari ini dan rampung dalam Yerusalem Baru sampai kekal (Why. 21:2-3, 9b-11, 18-23; 22:1-5). Hari ini kita menempuh kehidupan gereja oleh hayat ini, dan kita juga akan menikmati Yerusalem Baru oleh hayat ini. Inilah perampungan dari keselamatan penuh Allah.
III. CARA UNTUK MENERIMA DAN MENIKMATI KESELAMATAN PENUH ALLAH YANG DEMIKIAN
Cara untuk menerima dan menikmati keselamatan penuh Allah yang demikian, disusun oleh Kristus, Hamba Yehova, sebagai perjanjian dan terang bagi kita, umat pilihan Allah, adalah dengan melatih roh kita, hidup menurut roh kita, dan tetap tinggal di dalam roh kita, di mana Kristus menyertai kita, melalui berseru kepada nama Kristus Tuhan kita (Yes. 42:5; Zak. 12:1; Rm. 8:4b; Why. 1:10a; 2 Tim. 4:22; Yes. 12:3-4). Yesaya 42:5-6 mengatakan, “Beginilah firman Allah, TUHAN yang menciptakan langit dan membentangkannya, yang menghamparkan bumi dengan segala yang tumbuh di atasnya, yang memberikan nafas kepada umat manusia yang mendudukinya dan nyawa kepada mereka yang hidup di atasnya: “Aku ini TUHAN, telah memanggil engkau untuk maksud penyelamatan, telah memegang tanganmu; Aku telah membentuk engkau dan memberi engkau menjadi perjanjian bagi umat manusia, dan menjadi terang untuk bangsa-bangsa.” Sebelum Allah di dalam ayat 6 ini mengatakan tentang memberikan Kristus sebagai perjanjian bagi umat itu dan terang bagi bangsa-bangsa, Dia mengumumkan bahwa Dia akan memberikan kita satu roh (ay. 5). Pertama, Dia memberi tahu kita bahwa Dia telah menyiapkan satu “perut” (roh) di dalam kita; kemudian Dia memberi tahu kita apakah “bahan makanannya” (Kristus sebagai perjanjian dan terang). Perut rohani kita adalah roh kita, dan Kristus adalah makanan yang akan kita terima ke dalam perut rohani kita. Maka, cara untuk menerima dan menikmati Kristus adalah dengan melatih roh kita, hidup menurut roh kita, dan tetap tinggal di dalam roh kita, di mana Kristus ada. Dua Timotius 4:22 mengatakan, “Tuhan menyertai rohmu.” Karena Kristus menyertai roh kita, maka kita harus melatih roh kita, hidup menurut roh kita, dan tetap tinggal di dalam roh kita untuk menerima dan menikmati Dia.
Saya mempraktekkan hal ini setiap hari. Pertama, saya melatih roh saya dengan berseru, “O Tuhan Yesus.” Jika kita hanya menutup mata dan bermeditasi, kita mungkin akan “berkelana’ ke seluruh dunia. Tetapi jika kita berseru, “O Tuhan Yesus,” selama sepuluh menit, kita akan berada di langit tingkat ketiga; yakni kita akan berada di dalam roh kita. Hari ini roh kita adalah langit tingkat ketiga kita, Ruang Mahakudus, tempat di mana kita berjumpa dengan Tuhan.
Kita harus berjalan, hidup dan memiliki diri kita menurut roh ini. Kadang-kadang ketika saya akan berbicara kepada orang-orang tertentu, saya memeriksa: “Apakah Anda akan berbicara dari diri Anda sendiri atau dari Dia yang menyertai Anda di dalam roh Anda. Siapakah persona Anda, Witness Lee atau Yesus Kristus?” Kita mungkin mengatakan hal yang benar, tetapi kita mengatakannya dengan persona yang salah, yaitu, dengan bersandar pada diri kita sendiri. Kita perlu mengatakan hal yang benar dengan persona yang benar, dan kita juga harus melakukan yang benar dengan persona yang benar pula. Seringkali kita membicarakan tentang mengasihi kaum saleh. Namun, kita harus hati-hati dengan persona apakah kita mengasihi orang lain—dengan diri kita atau dengan Kristus. Kita jangan lupa bahwa sebagai kaum beriman dalam Kristus, kita memiliki dua persona: Kita memiliki diri kita, manusia lama, dan kita memiliki Tuhan Yesus, manusia baru. Kita memang perlu melakukan hal yang benar, hal yang baik, hal yang sempurna, tetapi kita harus melangkah lebih jauh untuk memeriksa dengan persona apakah kita melakukan hal-hal itu—dengan diri kita sebagai persona kita, atau dengan Penyelamat kita yang kekasih, Yesus Kristus, sebagai persona kita. Kita tidak boleh hidup dalam persona kita sendiri; sebaliknya, kita perlu hidup menurut roh dan tetap tinggal di dalam roh kita.
Seringkali kita tertawa, tetapi jika tertawa kita terlalu banyak, maka kita keluar dari roh kita. Kemudian, setelah tertawa selama sejangka waktu, kita mungkin menenangkan diri kita dan pergi ke kamar kita untuk berdoa, “Tuhan, ampunilah aku; aku telah terlalu banyak tertawa. Aku ingin kembali ke rohku untuk bersama dengan-Mu.” Kita perlu tetap tinggal di dalam roh secara terus menerus. Pertama, kita perlu berseru kepada-Nya, melatih roh kita; kemudian kita perlu hidup menurut roh kita, dan kemudian tetap tinggal di dalam roh kita. Dalam Wahyu 1:10 rasul Yohanes mengatakan bahwa ia berada di dalam roh pada Hari Tuhan; itu berarti, ia tetap tinggal di dalam roh. Yesaya 12:3-4a mengatakan, “Maka kamu akan menimba air dengan kegirangan dari mata air keselamatan. Pada waktu itu kamu akan berkata: “Bersyukurlah kepada TUHAN, panggilah nama-Nya.” Ayat-ayat dalam Yesaya ini memberi tahu kita bahwa ada keselamatan yang penuh dengan mata air dan bahwa kita perlu menimba air dari keselamatan ini dengan memuji Yehova dan berseru kepada nama-Nya. Ini bukanlah pengajaran saya melainkan wahyu ilahi. Keselamatan penuh Allah tersusun dari Kristus sebagai perjanjian dan sebagai terang, dan keselamatan penuh ini penuh dengan mata air. Kita perlu belajar untuk datang menimba air dari mata air ini dengan berseru kepada nama-Nya. Sesungguhnya ini berhubungan dengan pengajaran Perjanjian Baru (Kis. 2:21; Rm. 10:12-13). Semua pengikut Yesus harus menjadi penyeru-penyeru-Nya. Inilah jalan untuk menikmati Dia sebagai perjanjian kita dan sebagai terang kita agar kita dapat menikmati keselamatan penuh Allah.