← Daftar isi Ibrani (4) · bab 9/17

TONGKAT YANG BERTUNAS (1)

Dalam berita ini kita akan membahas masalah tongkat yang bertunas (Ibr. 9:4; Bil. 17:1-10). Jarang sekali orang Kristen memahami makna sepenuhnya tentang tongkat yang bertunas ini. Kebanyakan orang mengira catatan tongkat yang bertunas hanya satu cerita yang menarik dalam Alkitab, yaitu bagaimana sebatang kayu yang sudah kering dapat bertunas, berbunga, dan berbuah dalam waktu semalam. Namun dalam wahyu ilahi, peristiwa ini bukanlah satu hal yang kecil.

Banyak orang Kristen menaruh perhatian atas masalah Kemah Pertemuan. Kita sudah melihat bahwa di pelataran luar Kemah Pertemuan ada mezbah dan bejana pembasuhan; di tempat kudus ada meja roti sajian, kaki pelita, dan mezbah ukupan; dan di tempat maha kudus ada tabut kesaksian. Tabut kesaksian merupakan unit yang unik di tempat maha kudus, yang melambangkan Kristus sebagai kesaksian Allah yang unik. Isi tabut terdiri dari tiga benda: manna yang tersembunyi, tongkat yang bertunas, dan loh hukum. Pada tiga berita terdahulu, kita telah membahas benda yang pertama, yakni manna yang tersembunyi. Banyak orang Kristen dapat mengerti sedikit tentang manna; mereka tahu itu adalah makanan surgawi yang melambangkan Kristus sebagai roti hayat. Namun mereka sulit memahami makna tongkat yang bertunas.

KETIGA LAMBANG PENGALAMAN

Bani Israel memiliki banyak pengalaman di padang gurun, dan Tuhan memerintahkan mereka menempatkan lambang dari ketiga pengalaman mereka di hadirat-Nya. Lambang-lambang itu ialah loh hukum (kesaksian), manna, dan tongkat yang bertunas. Setelah bani Israel menerima hukum Taurat di Gunung Sinai, Tuhan menyuruh mereka menempatkan kedua loh hukum itu ke dalam tabut (Kel. 34:1, 29; 25:21; 40:20). Segomer manna ditaruh dalam buli-buli lalu ditempatkan dan disimpan di hadapan Tuhan (Kel. 16:32-34). Di padang gurun, bani Israel juga pernah mengalami masalah pemberontakan. Bilangan 16 merupakan catatan tentang pemberontakan yang paling serius. Dari pemberontakan kali itu timbullah kisah tongkat yang bertunas. Tongkat itu kemudian ditaruh dalam tabut kesaksian sebagai satu tanda (Bil. 17:10-11). Melalui hal ini kita nampak bahwa setiap benda tersebut berasal dari pengalaman orang Israel. Semua itu bukan ajaran, melainkan hasil dari pengalaman mereka. Karena itu, jika kita mencoba untuk memahami ketiga benda itu dengan pikiran kita, atau hanya bermaksud mempelajari pengetahuan saja, kita akan gagal. Kita hanya dapat memahaminya di dalam, dengan, dan untuk pengalaman kita.

FOKUS WAHYU ILAHI

Bila kita ingin memahami tongkat yang bertunas, kita harus mengetahui sedikit latar belakangnya. Kehendak Allah ialah ingin memperoleh sekelompok manusia menjadi ekspresi-Nya yang korporat untuk mengekspresikan dan mewakili-Nya, agar Ia memiliki suatu daerah kekuasaan, yaitu suatu kerajaan, untuk melaksanakan ekonomi kekal-Nya. Banyak orang mengira kasih Allah berat sebelah terhadap orang Yahudi, sehingga Ia hanya bekerja bagi mereka, atau hanya menguntungkan mereka, tanpa menghiraukan bangsa-bangsa kafir. Itu konsepsi yang agamis, bukan fokus wahyu ilahi. Fokus wahyu ilahi ialah Allah yang kekal mempunyai satu kehendak, yakni ingin memperoleh sekelompok manusia sebagai satu unit korporat untuk menampung diri-Nya, menjadi satu dengan-Nya, dan membiarkan Ia bersatu dengan mereka, supaya mereka menjadi ekspresi hidup dari Allah yang tidak kelihatan, bahkan agar Allah bisa memiliki satu kerajaan di bumi untuk melaksanakan ekonomi-Nya, untuk kemuliaan-Nya, dan untuk menanggulangi musuh-Nya. Inilah tujuan Allah ketika Ia memanggil bani Israel keluar dari Mesir, menjadikan mereka bangsa atau umat yang terpilih dan terpanggil.

PERLUNYA KEPEMIMPINAN BAGI

PEMBANGUNAN UMAT ALLAH

Sebagai umat yang demikian, keluarlah bani Israel dari Mesir dan menjelajahi padang gurun menuju sasaran Allah. Jumlah mereka saat itu paling sedikit satu atau dua juta orang, sebab laki-laki yang bisa berperang saja lebih dari enam ratus ribu orang (Bil. 1:45-46). Karena jumlah orang Israel begitu banyak, maka perlu ada pembangunan umat Allah itu, seperti halnya pada hari ini. Untuk pembangunan umat Allah, perlu ada kekuasaan. Dengan istilah hari ini, perlu ada kepemimpinan. Nanti akan kita lihat bahwa Allah tidak saja membangkitkan kepemimpinan ini, lebih-lebih membangunnya (mendirikannya). Kepemimpinan di antara bani Israel merupakan kepemimpinan korporat yang terdiri dari minimal dua orang: Musa, mewakili aspek kekuasaan dan jabatan raja, Harun mewakili aspek gambar dan jabatan imam.

JABATAN IMAM DAN JABATAN RAJA

Agar umat Allah dapat mengekspresikan Allah dan mewakili-Nya, perlu ada jabatan imam dan jabatan raja. Perjanjian Baru mengatakan dengan jelas bahwa dalam penebusan-Nya, Allah telah menjadikan kita imam dan raja (Why. 1:5-6, 5:9-10). Jadi, kita memiliki jabatan imam dan juga berada dalam jabatan raja. Kita memiliki jabatan imam agar kita dapat mengekspresikan Allah. Hal ini berkaitan dengan gambar Allah. Jabatan raja adalah untuk kekuasaan Allah. Allah menciptakan manusia menurut gambar-Nya dan memberi-Nya kekuasaan atas segala makhluk (Kej. 1:26). Inilah jabatan raja untuk Kerajaan Allah. Dalam gereja hari ini masih perlu ada jabatan imam untuk mengekspresikan Allah dan jabatan raja untuk mewakili Allah. Dalam Kerajaan Seribu Tahun yang akan datang, kita akan menjadi imam-imam yang mengekspresikan Allah, dan raja-raja, yang mewakili-Nya (Why. 20:6). Tidak hanya demikian, di Yerusalem Baru dalam kekekalan kita tetap menjadi imam dan raja (Why. 22:3-5) yang di satu pihak mengekspresikan Allah melalui jabatan imam kita, dan di pihak lainnya mewakili Dia melalui kuasa-Nya dalam jabatan raja kita. Dari Kejadian 1 hingga Wahyu pasal terakhir, pembicaraan Alkitab tentang kedua aspek dari umat Allah yang korporat ini sangatlah konsisten.

MENDIRIKAN KEPEMIMPINAN

Musa mewakili jabatan raja, Harun mewakili jabatan imam, keduanya telah disiapkan bagi kepemimpinan Allah. Seperti telah kita bahas, mereka berdua bersama-sama dibangkitkan dan dibangunkan. Setelah Musa menyelesaikan pendidikannya di istana Firaun, Allah tidak segera mengangkatnya menjadi pemimpin. Tidak, setelah Musa terdidik, Allah membawanya ke padang gurun, dan di situlah Allah mendirikan kepemimpinannya. Musa dilahirkan dalam keluarga Yahudi dan menerima ajaran tentang Allah. Namun, karena ia belum menerima pendidikan duniawi, Allah lalu membangkitkan keadaan sekitar untuk memungkinkannya menerima pendidikan tertinggi di istana Firaun (Kis. 7:22). Saya yakin pendidikannya mungkin lebih tinggi daripada seorang yang bertitel Doktor. Walau ia berpendidikan baik, ia masih tidak cukup syarat menjadi seorang pemimpin. Selama 40 tahun yang pertama dalam hidupnya, Musa belajar mengenal Allah dan memperoleh pendidikan dunia yang terbaik. Setelah itu, ia perlu melalui 40 tahun berikutnya di padang gurun, agar dapat terbangun menjadi seorang pemimpin. Alkitab tidak memberi kita catatan yang jelas tentang kepemimpinan Harun, tetapi pada prinsipnya, Harun juga perlu mengalami tangan pembangunan Allah. Sewaktu Musa berkata kepada Allah, ia tidak “pandai bicara” (Kel. 4:10). Allah lalu mengatakan bahwa Harun, kakaknya, pandai bicara, dan dialah yang akan menjadi “penyambung lidah” nya, sedang Musa akan “menjadi seperti Allah baginya” (Kel. 4:14, 16). Hanya setelah Musa dan Harun dibangunkan menjadi pemimpin, barulah mereka dapat memimpin orang.

PEMBERONTAKAN DI PADANG GURUN

Perjalanan di padang gurun merupakan suatu ujian bagi bani Israel. Ketika Tuhan mengutus Musa pergi kepada bani Israel, Ia mengatakan kepadanya untuk berbicara kepada umat itu bagi diri-Nya, demikian: “Aku akan menuntun kamu keluar dari kesengsaraan di Mesir . . . ke suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya.” (Kel. 3:17). Ini suatu janji yang indah. Bani Israel akan diselamatkan dari negeri Mesir, dan akan dibawa masuk ke negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya. Tetapi dikarenakan ketidakpercayaan, yang tercatat dalam Bilangan 14, mereka tidak dapat memasukinya. Akhirnya, dalam Bilangan 16, pemberontak-pemberontak itu menyalahkan Musa dan Harun, bukan menyalahkan ketidakpercayaan mereka sendiri, karena mereka tidak dapat masuk ke tanah permai. Mereka berkata, “Belum cukupkah, bahwa engkau memimpin kami keluar dari suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya untuk membiarkan kami mati di padang gurun, sehingga masih juga engkau menjadikan dirimu tuan atas kami? Sungguh, engkau tidak membawa kami ke negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya . . .” (Bil. 16:13-14). Bilangan 17:10 menyebut pemberontak-pemberontak itu orang-orang durhaka atau anak-anak durhaka. Anak-anak durhaka ini seolah-olah berkata kepada Musa dan Harun, “Kalian berjanji akan membawa kami ke negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya, namun kalian tidak menepatinya. Tidakkah kalian tahu bahwa negeri yang darinya kalian mengeluarkan kami, justru suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya. Kalian tidak menggenapi janji kalian.” Anak-anak durhaka itu bahkan mengatakan Mesir adalah negeri yang berlimpah-limpah susu dan madu. Alangkah durhaka mereka itu!

Siapa saja yang menjadi pemberontak atau pendurhaka? Yang pertama ialah Korah. Korah seorang Lewi (Bil. 16:1), menganggap dirinya sama dengan Musa dan Harun, yang juga orang Lewi. Mungkin Korah berkata dalam hati, “Kalian berdua orang Lewi. Bagaimana dengan aku? Bukankah aku juga orang Lewi? Mengapa hanya kalian dapat memimpin, tetapi aku tidak?” Dua pemberontak lainnya adalah Datan dan Abiram, keturunan Ruben, putra sulung Yakub. Mereka mengira diri mereka sebagai suku yang memiliki hak kesulungan; mungkin mereka berkata, “Kalian orang Lewi adalah nomor tiga, tetapi kami, anak-anak Ruben, putra sulung Yakub, adalah nomor satu. Kalau kalian baru ada setelah kami, mengapa kalian berdua saja yang dapat menjadi pemimpin?” Pada akhirnya mereka semua berkata kepada Musa dan Harun, “Sekarang cukuplah itu! Segenap umat itu adalah orang-orang kudus, dan TUHAN ada di tengah-tengah mereka. Mengapakah kamu meninggi-ninggikan diri di atas jemaah TUHAN?” Inilah bantahan dan kecaman yang licik dan jahanam (setani) dalam batin para pemberontak itu. Di sini kita lihat akar pemberontakan!

TIDAK MARAH

Musa dan Harun saat itu bukan orang muda. Umur mereka kurang lebih seratus tahun. Menurut Mazmur 90 yang ditulis oleh Musa, umur seorang manusia ialah 70 tahun, jika sehat bisa mencapai 80 tahun. Maka menurut tulisan Musa sendiri, ia seharusnya telah mati. Tetapi setelah usia kematiannya, ia masih dapat melayani Allah; Harun bahkan lebih tua daripada Musa. Apakah kebaikan dari usia mereka yang demikian lanjut? Kebaikannya ialah mereka tidak mudah marah. Pemberontakan dalam Bilangan 16 sangat serius dan mengerikan, tetapi tidak membuat Musa marah. Ketika para pemberontak berhimpun menentang Musa dan Harun, Musa hanya “bersujud” (Bil. 16:4). Pada berita selanjutnya kita akan nampak, Allah segera datang menghakimi pemberontakan kali ini.

PERNYATAAN KEPEMIMPINAN YANG TEPAT

Dalam Bilangan 17 Allah seolah-olah berkata kepada Musa, “Anak-anak durhaka itu bertengkar denganmu soal kepemimpinan. Beritahukanlah kepada mereka bahwa Aku akan berbuat sesuatu untuk menyatakan masalah kepemimpinan ini, supaya mereka tahu siapa yang sebenarnya menjadi pemimpin, dan supaya mulut mereka tertutup.” Dalam Bilangan 17:2 Tuhan berfirman kepada Musa, “Katakanlah kepada orang Israel dan suruhlah mereka memberikan kepadamu satu tongkat untuk setiap suku. Semua pemimpin mereka harus memberikannya, suku demi suku, seluruhnya dua belas tongkat. Lalu tuliskanlah nama setiap pemimpin pada tongkatnya.” Sebatang tongkat ialah sebatang kayu yang mati dan kering; adalah kayu mati. Apakah guna tongkat itu? Untuk menguasai orang lain. Tongkat kayu di sini berbeda dengan tongkat penyangga. Sebuah tongkat penyangga ialah untuk menolong dan memapah orang yang lemah dan cacat, yang sulit berdiri atau berjalan. Tetapi tongkat kayu di sini bukan untuk memapah, melainkan untuk menguasai dan memukul. Menurut Kitab Amsal, seorang ayah harus mendidik anak-anaknya dengan rotan (Ams. 23:13-14).

Allah kita sangat berhikmat, Ia mempunyai cara terbaik untuk menyatakan siapa yang cocok menjadi pemimpin. Allah tidak berbantah-bantah dengan mereka, tetapi Ia seolah-olah berkata kepada mereka, “Karena kalian berbantah-bantah tentang kepemimpinan, Aku minta kalian membawa tongkat kalian dan menaruhnya di hadapan tabut kesaksian. Kalian mengira kalian memiliki tongkat dan dapat menguasai orang lain, dan mengira Musa dan Harun meninggikan diri untuk berkuasa. Kalian mengatakan bahwa karena kalian semua adalah umat Allah, maka kalian mempunyai otoritas yang sama. Apakah kalian memiliki otoritas? Setiap suku memiliki satu tongkat. Bawalah tongkat kalian kepada-Ku dan taruhlah di hadapan tabut kesaksian semalam, lihatlah apa yang akan terjadi.” Dalam Bilangan 17:5 Tuhan berkata, “Dan orang yang Kupilih, tongkat orang itulah akan bertunas; demikianlah Aku hendak meredakan sungut-sungut yang diucapkan mereka kepada kamu, sehingga tidak usah Kudengar lagi.”

Kedua belas tongkat itu ditaruh di hadapan Tuhan dalam kemah hukum (kesaksian) Allah (Bil. 17:7). Bilangan 17:8 menerangkan, “Ketika Musa keesokan harinya masuk ke dalam kemah hukum itu, maka tampaklah tongkat Harun dari keturunan Lewi telah bertunas, mengeluarkan kuntum, mengembangkan bunga dan berbuahkan buah badam.” Ini menunjukkan bahwa kepemimpinan yang sejati, kuasa yang sejati, berada dalam hayat yang bertunas. Hayat ini tidak saja bertunas, bahkan berkuntum, berbunga, dan berbuah, sehingga kita dapat memberi makan orang lain, bukan untuk memukul orang. Walaupun tongkat untuk penguasaan, tetapi penguasaan ini untuk memberi makan, bukan untuk memukul.

Kepemimpinan di antara umat Allah berbeda dengan yang kita jumpai di antara orang kafir. Semua raja orang kafir menggunakan tongkatnya hanya untuk menguasai. Tidak pernah mereka menggunakannya untuk memberi makan, sebab tidak ada tongkat yang hidup di antara mereka. Setiap tongkat mereka hanyalah sebatang kayu yang mati. Hanya pada kepemimpinan yang tepat di antara umat Allah baru ada tongkat yang bertunas dengan hayat kebangkitan, dan dapat menghasilkan buah untuk memberi makan orang lain.

Pohon badam adalah pohon yang pertama berbunga dalam setahun, ia berbunga pada bulan Januari atau Februari. Buah badam juga merupakan buah yang pertama masak. Ini melambangkan kebangkitan. Jadi, tongkat yang bertunas, berbunga, dan berbuah melambangkan hayat kebangkitan Kristus. Kepemimpinan di antara umat Allah seharusnya adalah Kristus sendiri sebagai hayat kebangkitan yang bertunas, berbunga, dan berbuahkan buah badam, untuk memberi makan umat Allah.

AMBISI MENJADI PEMIMPIN

Ada orang berkata, “Aku bukan penatua dan aku tidak mau menjadi pemimpin di antara anak-anak Allah. Aku ingin bebas merdeka, tanpa dipusingkan oleh hal-hal semacam itu.” Walau mungkin Anda berkata demikian, tetapi saya tidak percaya, sebab setiap orang senang menjadi pemimpin. Kalau Anda berkata bahwa Anda tidak mau menjadi pemimpin, Anda berdusta. Dalam lubuk hati, Anda sebenarnya senang menjadi pemimpin. Ketika kelompok pelayanan terbentuk, Anda senang menjadi nomor satu, tidak suka menjadi yang terakhir. Saudari-saudari mungkin berkata, “Kita ini kaum wanita, kita tidak memikirkan masalah kepemimpinan.” Saudari, janganlah berkata demikian. Andai kata sebuah kelompok pelayanan piano terbentuk dengan anggota lima saudari, setiap saudari dalam kelompok itu tentu akan memperhatikan nomor urut nama mereka pada daftar. Ketika saudari yang namanya ada pada urutan kelima mendengar namanya disebut paling akhir, ia mungkin sangat kecewa sehingga tidak dapat berdoa seminggu lamanya. Mungkin ia berkata, “Kalau aku tidak bisa menjadi nomor satu, setidak-tidaknya aku nomor tiga, tetapi nyatanya nomor empat saja tidak. Aku telah diselamatkan lebih dari lima belas tahun. Mengapa aku dijadikan yang terakhir! Apakah yang dilakukan para penatua? Bukankah mereka bisa membedakan?” Inilah suatu ambisi menjadi pemimpin.

Saya bersyukur kepada Tuhan karena ambisi yang demikian. Ini suatu ambisi yang baik, jauh lebih baik daripada berambisi menjadi presiden. Bila seorang Kristen mempunyai ambisi yang demikian, itu baik. Jika kita tanpa ambisi, kita akan menjadi seperti kursi dan meja, dan Allah tidak dapat berbuat apa-apa di atas diri kita. Tetapi karena kita begitu berambisi, Allah dapat berbuat sesuatu atas diri kita. Mungkin hanya mereka yang lanjut usia baru tidak berambisi lagi. Seorang saudara yang hampir berusia 80 tahun mungkin tidak berambisi lagi, namun seorang saudara muda mungkin berangan-angan menjadi rasul Paulus hari ini. Saya mendorong semua saudara muda bisa demikian. Saya akan senang sekali bila semua orang muda bercita-cita menjadi Petrus dan Paulus hari ini.

Dalam Pelajaran Hayat Kitab Kejadian, kita nampak bahwa Abraham, Ishak, dan Yakub ditambah Yusuf merupakan berbagai aspek dari satu persona yang lengkap dalam pengalaman hayat. Demikian pula, kita tidak boleh menganggap Korah terpisah dengan Musa. Dalam watak kita, kita memiliki ambisi yang serupa dengan Musa. Ketika Musa berusia 40 tahun, ia berambisi menjadi pemimpin untuk menyelamatkan umat Allah dari penindasan raja Mesir (Kis. 7:23-27). Tetapi, di dalam Musa juga terkandung unsur durhaka dari Korah, Datan, dan Abiram. Saudara-saudara muda, saya tahu bahwa di dalam diri Anda terkandung watak positif dari Musa dan watak durhaka dari Korah. Bahkan lebih buruk lagi, di dalam Anda juga ada unsur negatif Datan dan Abiram. Dalam berita berikutnya, kita akan nampak betapa Allah menghakimi watak durhaka dan membangkitkan unsur yang positif, yaitu unsur hayat kebangkitan.

Jika Anda belum beroleh selamat, tentu Anda tidak berambisi di antara umat Allah. Mengapa Anda demikian berambisi dalam hidup gereja? Tidak lain karena Anda mengasihi Tuhan. Kalau Anda tidak mengasihi Tuhan dan tidak berambisi, Anda akan seperti orang yang di jalan, terlunta-lunta tanpa sasaran, tidak ada ambisi sedikit pun untuk menjadi apa-apa bagi Allah. Tetapi hari ini, sebagai orang yang mengasihi Tuhan dalam gereja, Anda penuh ambisi dan berharap pada suatu hari bisa memenuhi syarat menjadi seorang pemimpin. Ini suatu ambisi yang baik, namun harus melalui kebangkitan. Kita perlu menyadari bahwa di dalam kita masih ada Korah, Datan, dan Abiram, serta semua unsur durhaka. Di samping kita berambisi bagi kehendak Allah, kita juga durhaka. Saya tahu sangat jelas akan hal ini, sebab dalam diri saya sendiri pernah mengidap penyakit tersebut.

JIWA MEMBERONTAK MELAWAN ROH

Di dalam kita tidak saja ada pemberontakan terhadap pemimpin lain, sering kali, jiwa kita pun memberontak melawan roh kita. Pikiran kita sering berkata, “Hai roh, mengapa aku tidak dapat melayani Allah? Mengapa aku, pikiran, tidak dapat berbuat sesuatu bagi Allah?” Tidakkah Anda pernah durhaka semacam ini dalam batin Anda? Jiwa saya sering memberontak melawan roh saya, berkata, “Hai roh, aku tidak menyetujui kamu dalam hal ini. Aku lebih pandai daripadamu, aku juga bisa berbuat banyak sekali. Kamu adalah bagian dari Witness Lee? Bukankah aku, jiwa, juga sebagian dari Witness Lee? Bukankah kita semua anak-anak Allah? Mengapa kamu, roh, selalu meninggikan diri sendiri?” Sering kali sewaktu kita menunaikan fungsi, kita telah menggunakan jiwa kita secara durhaka, untuk menyatakan bahwa jiwa kita dapat berbuat sesuatu bagi Allah, dan bahwa manusia alamiah kita bisa melayani Allah tanpa menggunakan roh. Ini adalah semacam pemberontakan atau kedurhakaan.

AMBISI DAN PEMBERONTAKAN

DALAM BATIN KITA

Janganlah menganggap bani Israel dalam Bilangan 16 itu tercerai-berai. Kita harus memandang mereka sebagai persona kolektif atau persona korporat, yang mencakup Musa, Harun, Korah, Datan, dan Abiram. Di dalam kita terkandung Musa, Harun, Korah, Datan, dan Abiram. Baik ambisi maupun pemberontakan ada di dalam diri kita. Kadang-kadang kita tidak dapat tidak menertawakan diri sendiri, sebab kita begitu berambisi untuk Allah, tetapi kita juga begitu durhaka. Saya percaya, kita masing-masing pernah mengalami, yaitu di satu pihak begitu berambisi dan di pihak lain begitu durhaka. Kalau Anda tidak ada hati terhadap Allah, Anda tentu tidak pernah mengalami hal ini. Begitu Anda mulai ada hati terhadap Allah, Anda akan menyadari bahwa di dalam Anda ada ambisi dan pemberontakan. Pemberontakan pertama adalah pemberontakan jiwa, pikiran, melawan roh Anda sendiri. Pemberontakan kedua adalah pemberontakan Anda terhadap orang-orang yang di atas atau di depan Anda.

Walau mungkin Anda tidak mengakuinya, tetapi pemberontakan ini ada di dalam Anda. Anda boleh berkata, “Saudara A, aku mengasihi Anda, aku mau patuh dan taat kepada Anda.” Tetapi ketika mulut Anda mengatakan mau menyerahkan diri kepada Saudara A, dalam hati Anda tersirat pula pemberontakan, yang berkata, “Saudara A, Anda terlalu meninggikan diri sendiri, Anda sungguh keterlaluan! Padahal dalam beberapa aspek Anda tidak selayak aku. Suatu hari nanti, Allah pasti akan menyatakan kelayakanku.” Itulah pemberontakan yang ada dalam batin Anda.

PENGHAKIMAN DAN PERNYATAAN

Syukur kepada Allah karena ambisi, dan di pihak negatif, syukur pula kepada Allah karena pemberontakan. Pemberontakan dalam Bilangan 16 mendatangkan penghakiman dan pernyataan Allah. Pertama, Allah menghakimi para pemberontak. Setelah menghakimi unsur pemberontakan, Tuhan memerintahkan agar perbaraan-perbaraan tembaga milik pemberontak itu ditempa tipis-tipis, menjadi salut mezbah dan menjadi tanda bagi orang Israel (Bil. 16:36-40). Setelah itu, Allah menyuruh Musa meletakkan dua belas tongkat di hadapan tabut kesaksian-Nya. Ini bukan untuk penghakiman, melainkan untuk pernyataan. Dari pernyataan itu nyatalah tongkat yang bertunas. Allah lalu menyuruh Musa menaruh tongkat Harun di hadapan tabut kesaksian “untuk disimpan menjadi tanda bagi orang-orang durhaka” (Bil. 17:10). Dengan demikian, di sini terdapat dua tanda lempengan tembaga untuk salut mezbah, yang berasal dari akibat penghakiman Allah; dan tongkat bertunas di hadapan tabut kesaksian Allah, yang berasal dari pernyataan Allah.

Ambisi dan pemberontakan kedua-duanya berada di dalam batin kita. Kita semua memilikinya, sebab kita adalah orang Israel yang sejati. Di antara dan di dalam orang Israel terdapat ambisi serta pemberontakan. Pertama-tama, Allah menghakimi dan membakar unsur durhaka atau pemberontakan, setelah itu Allah membuat pernyataan. Sebagai akibat dari penghakiman dan pernyataan ini, muncullah dua tanda satu terdapat di mezbah di pelataran luar, yang lain terdapat di tabut di tempat maha kudus. Tanda-tanda ini menerangkan bahwa watak alamiah kita, sifat pemberontak durhaka harus dihakimi dan dibakar, dan ambisi kita yang telah dibangkitkan harus dinyatakan dan dibuat bertunas, berkuntum, dan berbuah. Dengan demikian barulah kita memiliki kepemimpinan yang tepat.

Dalam tabut di tempat maha kudus kita mengalami Kristus sebagai kepemimpinan kita yang sejati. Mengenai kepemimpinan ini ada dua aspek. Pertama, unsur durhaka yang alamiah harus dibakar di atas mezbah; kedua, di tempat maha kudus, segala sesuatu yang telah dilahirkan kembali ke dalam kita dan segala sesuatu yang milik hayat kebangkitan harus diperkaya, diperkuat, dan dibuat bertunas, berkembang, serta berbuah. Inilah kepemimpinan yang sejati.

SETIAP ANGGOTA SAMA DENGAN YANG

MEMIMPIN, ADALAH ORANG YANG MELAYANI

Seorang pemimpin di antara umat Allah adalah orang yang melayani. Walaupun Anda bukan seorang penatua, juga bukan seorang pemimpin dalam satu kelompok pelayanan, tetapi Anda tetap adalah orang yang melayani. Pada prinsipnya, Anda sama dengan seorang pemimpin dalam pelayanan kepada Tuhan. Setiap anggota gereja adalah orang yang melayani. Pembangunan Allah tergantung pada orang-orang yang melayani ini. Sebagai orang yang melayani, unsur-unsur durhaka di dalam Anda harus dihakimi dan dibakar di mezbah, sebagai suatu tanda dalam alam semesta, menunjukkan bahwa manusia alamiah Anda telah ditanggulangi. Namun dalam Anda juga ada unsur lain unsur kelahiran kembali, unsur hayat yang adalah Kristus sendiri sebagai hayat kebangkitan. Jika Anda masuk ke dalam tabut di tempat maha kudus, dan menjamah Kristus sebagai hayat kebangkitan, unsur ini akan menjadi kepemimpinan Anda dan ia akan bertunas, berkembang, serta berbuahkan buah badam untuk memberi orang makan.

Bahkan saudara saudari yang termuda pun adalah orang yang melayani. Namun watak mereka yang durhaka perlu dibakar, ditanggulangi, dan dihakimi; sedang hayat kebangkitan yang di dalam mereka harus bertunas, berkembang, serta berbuahkan buah badam untuk memberi orang makan. Di dalam batin saudara saudari yang termuda itu juga ada ambisi dan pemberontakan, sebab mereka sudah bisa mengeritik para penatua.

Puji Tuhan karena ambisi kita yang wajar ini. Namun kita harus mengakui bahwa kita pun mempunyai unsur pemberontakan. Selama kedua hal itu ambisi dan pemberontakan masih berperang di dalam kita, pembangunan tidak dapat berlangsung. Karena itu, perlu penghakiman atas pemberontakan dan pernyataan atas ambisi. Unsur Kristus di dalam kita harus dinyatakan, diperkuat, diperkaya, dipertinggi, dibuat bertunas, berkembang, serta berbuahkan buah badam. Durhaka atau pemberontakan harus dihakimi; sedang ambisi harus dinyatakan. Ketika kita menempuh jalan dari mezbah menuju tongkat yang bertunas, unsur pemberontakan harus dienyahkan, tetapi ambisi yang positif harus dibebaskan. Selanjutnya barulah kita memiliki kepemimpinan dan pelayanan yang tepat, sehingga dapat membangun umat Allah. Pembangunan Allah tergantung pada tongkat yang bertunas, dan ini hanya dapat kita alami dalam tabut di tempat maha kudus. Karena itu, kita harus maju dan masuk ke tempat maha kudus, menikmati Kristus ini, yang adalah tabut unik dari kesaksian Allah.