← Daftar isi Ibrani (4) · bab 10/17

TONGKAT YANG BERTUNAS (2)

Sebagaimana telah kita tunjukkan dalam berita yang lalu, jarang sekali orang Kristen yang menaruh perhatian terhadap masalah tongkat yang bertunas dalam Ibrani 9:4. Penyebabnya adalah karena tongkat yang bertunas itu soal pengalaman. Walaupun kita mungkin memahami lambang Kemah Pertemuan, tetapi kalau kita tidak memiliki pengalaman yang cukup, tidak mungkin kita mengerti makna sesungguhnya dari Kemah Pertemuan. Menyinggung pengalaman atas Kemah Pertemuan, tulisan dan khotbah guru-guru Alkitab dari berbagai aliran hanya mengulas soal mezbah saja. Tetapi begitu kita maju dari mezbah ke tempat kudus, kita tahu tidak banyak orang pernah mencapai pengalaman yang riil di situ. Maka bertahun-tahun lamanya, ke tiga benda dari tabut di tempat maha kudus tetap merupakan suatu rahasia. Sampai-sampai orang yang membicarakannya pun sedikit sekali. Pernahkah Anda mendengar suatu berita yang membicarakan manna yang tersembunyi, tongkat yang bertunas, dan kedua loh hukum yang tersimpan dalam tabut? Kekurangan ini tidak lain disebabkan oleh kekurangan pengalaman.

TONGKAT YANG BERTUNAS

DAN PEMBANGUNAN UMAT ALLAH

Tongkat yang bertunas berkaitan dengan pembangunan umat Allah. Jika kita hanya memiliki Ibrani 9:4, kita tidak dapat melihat hal ini. Namun, bila kita melihat kali pertama tongkat yang bertunas itu disebut dalam Perjanjian Lama, kita akan nampak bahwa itu sepenuhnya berkaitan dengan pembangunan umat Allah. Pada berita terdahulu telah kita tunjukkan bahwa untuk penggenapan kehendakNya, Allah harus mendapatkan sekelompok orang sebagai unit yang korporat. Dalam Perjanjian Lama, orang-orang ini adalah bani Israel. Jumlah mereka yang harus dibangun menjadi satu, paling sedikit berkisar jutaan. Berdasarkan catatan sejarah bani Israel, mereka telah dianggap sebagai satu unit. Alkitab tidak mengatakan mereka beroleh selamat secara perorangan. Tidak, mereka semua diselamatkan secara korporat. Mereka merayakan Paskah bersama-sama sebagai manusia yang korporat, dan mereka semua menyeberang Laut Merah sebagai satu unit. Musa tidak menyeberang Laut Merah sendirian, lalu diikuti oleh Harun beberapa hari kemudian. Bahkan ketika mereka mengembara di padang gurun, mereka pun adalah manusia yang korporat, bukan sekelompok manusia perorangan yang menempuh jalannya masing-masing. Lagi pula, di antara mereka terdapat Kemah Pertemuan, yakni tempat kediaman Allah yang unik. Bukan di halaman belakang Musa ada satu Kemah Allah, lalu ada satu Kemah lagi di halaman Harun. Hanya ada satu Kemah Pertemuan sebagai tempat kediaman Allah yang unik, yang merupakan pusat pembangunan umat Allah. Seperti telah kita ketahui, untuk membangun orang yang sebanyak itu, perlu ada kepemimpinan. Tongkat yang bertunas berkaitan dengan kepemimpinan ini dan untuk pembangunan umat Allah.

Korah berasal dari suku Lewi, sesuku dengan Musa dan Harun, karena itu, ia menganggap dirinya sama dengan Musa dan Harun. Korah mungkin berkata, “Musa dan Harun, kalian adalah orang suku Lewi, aku juga orang suku Lewi. Aku sesuku dengan kalian!” Pengikut Korah lainnya, yakni Datan dan Abiram berasal dari keturunan Ruben, putra sulung Yakub. Mungkin Datan dan Abiram mengira suku mereka sebagai suku pertama, maka mereka menganggap dari mereka juga selayaknya menjadi pemimpin. Ketiga orang ini memicu suatu pemberontakan yang besar. Menurut Bilangan 16:2, Korah, Datan dan Abiram “mengajak orang-orang untuk memberontak melawan Musa, beserta dua ratus lima puluh orang Israel, pemimpin-pemimpin umat itu, yaitu orang-orang yang dipilih oleh rapat, semuanya orang-orang yang kenamaan”. Dari Bilangan 16 dikatakan, hampir seluruh jemaat Israel memberontak melawan Musa dan Harun. Tidak usah diragukan, pemberontakan kali itu adalah usaha musuh yang bertujuan merusak pembangunan di antara umat Allah. Hal itu tentu saja menghalangi bani Israel untuk maju mencapai sasaran Allah. Saya mengutarakan perkara ini untuk menerangkan bahwa tongkat yang bertunas berkaitan dengan pembangunan umat Allah.

Banyak orang Kristen ketika membaca Ibrani 9 tidak menaruh perhatian terhadap tongkat yang bertunas ini, sebab di antara mereka tidak ada pembangunan umat Allah. Saya ingin bertanya kepada Anda yang telah bertahun-tahun menjadi orang Kristen: Pernahkah Anda mendengar suatu berita yang memberi tahu Anda bahwa hari ini Allah memerlukan pembangunan umat-Nya? Dalam kekristenan hari ini tidak ada hal ini! Karena kebanyakan orang Kristen tidak memperhatikan masalah pembangunan ini, maka mereka tidak tertarik kepada tongkat yang bertunas. Hari ini banyak orang membicarakan masalah kerohanian, karunia, perilaku, bahasa lidah, tetapi siapa yang memperhatikan pembangunan umat Allah? Tanpa pembangunan umat-Nya, tidak ada jalan bagi Allah untuk menggenapkan kehendak-Nya. Allah menghendaki sekelompok umat Allah yang terbangun menjadi satu unit yang unik. Sebagai Kepala, Kristus memerlukan Tubuh, bukan anggota yang terpisah-pisah. Allah juga memerlukan satu rumah, bukan setumpuk batu. Inilah yang Allah inginkan pada hari ini. Jika kita bukan untuk ini, kita tidak berkedudukan dan tidak layak memahami makna tongkat yang bertunas. Kalau Anda tidak tertarik kepada kehendak Allah yang kekal, dan hidup Anda tetap untuk dunia, maka setiap hal dalam berita ini akan menjadi pembicaraan kosong bagi Anda.

Semoga Tuhan membelaskasihani kita, agar kita nampak bahwa masalah pembangunan inilah yang Allah cari pada hari ini. Bukan soal bagaimana rohaninya kita, bagaimana baiknya kita, atau bagaimana berkarunianya kita. Soalnya ialah apakah kita telah benar-benar terbangun bersama umat Allah. Hari ini terlalu banyak agama, terlalu banyak konsepsi manusia, namun terlalu sedikit wahyu ilahi. Bila kita ingin memahami makna tongkat yang bertunas, kita harus memiliki suatu visi surgawi dan ilahi, yakni hari ini Allah memerlukan pembangunan umat-Nya. Yang dipersoalkan Allah bukanlah berapa banyak orang yang Ia miliki, melainkan sudahkah mereka dibangun bersama. Jika kita di sini hidup untuk kehendak Allah yang kekal, kita harus nampak bahwa apa yang diperlukan Allah ialah pembangunan.

Mari kita melihat lagi Kemah Pertemuan. Di mezbah tidak ada pembangunan, hanya ada kurban bagi penebusan dosa. Walau ini sangat indah, tetapi bukan tujuan Allah. Mezbah itu baru permulaan, bukan yang terakhir. Seperti kita telah lihat, pengalaman atas Kemah Pertemuan berawal dari mezbah dan berakhir pada tabut. Dalam tabut ada tiga benda manna yang tersembunyi, tongkat yang bertunas, dan dua loh hukum. Di mezbah kita tidak nampak sesuatu mengenai pembangunan, di bejana pembasuhan juga tidak ada pembangunan. Pembasuhan oleh Roh pemberi hayat di bejana pembasuhan memang untuk pembangunan, tetapi bukan pembangunan itu sendiri.

Dari bejana pembasuhan kita maju ke meja roti sajian, di mana terdapat banyak makanan untuk kita makan. Akan tetapi makan tidak seharusnya melulu untuk makan, juga untuk pembangunan. Istilah manna yang tersembunyi hanya dipakai sekali dalam Perjanjian Baru, yaitu dalam Wahyu 2:17 yang mengatakan, “Siapa yang menang, kepadanya akan Kuberikan dari manna yang tersembunyi; dan Aku akan mengaruniakan kepadanya batu putih . . .” Ayat ini menunjukkan bahwa makan manna yang tersembunyi akan mengubah kita menjadi batu putih yang diperkenan, dan pengubahan (transformasi) ini adalah untuk pembangunan Allah. Pada akhirnya, seperti dikatakan dalam Wahyu 3:12, orang-orang yang memakan manna akan dibangun menjadi Bait Allah. Dari hal ini kita nampak bahwa makan adalah untuk pembangunan. Tetapi, di meja roti sajian kita masih tidak dapat nampak adanya pembangunan. Karena itu, kita tidak boleh berhenti di sini; kita harus maju terus ke sasaran kita.

Dari meja roti sajian kita pergi ke kaki pelita, dan dari situ kita pergi ke mezbah ukupan. Di kedua tempat ini kita belum nampak pembangunan. Kemudian kita masuk ke tempat maha kudus, menjamah tabut, dan menemukan tongkat yang bertunas di dalamnya. Mengapa tongkat yang bertunas tidak kita temukan di mezbah? Jika ia berada di mezbah, Anda tidak akan dapat memiliki pengalaman tabut. Jika Anda masuk ke tempat maha kudus dan mengalami tabut, Anda akan menemukan bahwa di dalam tabut terdapat satu benda yang mendasar, yaitu tongkat yang bertunas. Selanjutnya, kita harus tahu makna tongkat yang bertunas, yaitu ia berkaitan dengan pembangunan Allah. Jika Anda mau mencari Tuhan, Anda harus tahu bahwa tujuan Allah ialah membawa Anda ke tongkat yang bertunas dalam tabut di tempat maha kudus.

Telah kita melihat bahwa tongkat yang bertunas melambangkan Kristus, Persona yang bangkit, harus menjadi hayat, hidup, dan hayat kebangkitan di dalam kita; dan hayat ini harus bertunas, berkembang, serta berbuahkan buah badam. Apakah Kristus yang ada di dalam Anda telah bertunas? Jangan mengatakan ya secara teoritis, tetapi jawablah berdasarkan pengalaman Anda. Apakah Kristus Anda bertunas, berbunga, dan berbuahkan buah badam, yaitu buah kebangkitan?

AMBISI TERHADAP KEDUDUKAN

Akhir-akhir ini ada seorang saudara bersaksi tentang ditetapkannya dia dalam kelompok pelayanan. Sewaktu didengarnya bahwa ia telah ditetapkan dalam kelompok pelayanan, ia penasaran tentang kedudukannya dalam kelompok tersebut, yang pertama atau yang terakhir. Setelah diketahui bahwa ia bukan nomor satu, ia merasa agak kecewa. Kesaksiannya itu memperlihatkan kepada saya bahwa di antara kita pun masih tetap ada ambisi terhadap kedudukan. Setiap orang suka menjadi nomor satu. Di antara kita tidak hanya ada ambisi terhadap kedudukan, juga ada ambisi terhadap promosi (kenaikan pangkat). Dalam pelayanan gereja, orang nomor dua mengharapkan kenaikan pangkat menjadi nomor satu. Sementara itu, mereka yang telah menjadi orang nomor satu, khawatir sekali kehilangan kedudukannya sebagai pemimpin. Ketika saya mendengar hal ini, dalam batin saya timbul perkataan, “Apakah Anda mengira semua orang kudus dalam pemulihan Tuhan begitu rohani, sehingga mereka tidak mempermasalahkan kedudukan maupun promosi? Apakah Anda kira mereka hanya mengasihi Tuhan saja, tanpa ada ambisi terhadap hal yang lain? Anda terlampau rohani. Di sini tidak ada keadaan yang demikian rohani.” Ambisi untuk kedudukan dan naik pangkat tetap ada di antara kita.

PENGHAKIMAN ALLAH

ATAS PEMBERONTAKAN

Berambisi tidak saja tidak menghasilkan apa-apa, sebaliknya hanyalah mendatangkan penghakiman Allah di atas diri kita pada aspek negatifnya. Dalam berita di depan telah kita tunjukkan bahwa kita tidak boleh menganggap Musa, Korah, Datan, dan Abiram sebagai persona individual yang terpisah, tetapi mereka adalah bagian dari persona yang korporat. Demikian pula halnya, Anda jangan mengira diri Anda hanya seperti Musa. Walau saya tidak tahu apakah Anda Musa, tetapi saya sungguh yakin bahwa Korah, Datan, dan Abiram juga ada di dalam Anda. Di dalam batin kita semua terkandung unsur pemberontakan, sebab kita dilahirkan bersamanya; sejak dilahirkan, kita adalah Korah. Tetapi karena rahmat dan anugerah Allah, unsur Musa yang sejati juga sedang digarapkan di dalam kita. Tanpa belas kasihan dan anugerah-Nya, kita hanya menjadi Korah. Jika dalam Bilangan 16 Korah, Datan, dan Abiram tidak aktif, mungkin tidak akan terjadi apa-apa. Namun mereka begitu berambisi dan seolah-olah berkata, “Hai Musa dan Harun, hanya kalian sajakah yang bisa menjadi pemimpin? Bukankah kami juga bisa?” Karena itu, terjadilah penghakiman Allah. Bumi membuka mulutnya dan menelan Korah, Datan, dan Abiram (Bil. 16:31-33), dan “keluarlah api, berasal dari pada Tuhan, lalu memakan habis kedua ratus lima pu-luh orang yang mempersembahkan ukupan itu” (Bil. 16:35).

DUA TANDA PERINGATAN

Setelah penghakiman atas pemberontakan, Allah memerintahkan agar perbaraan-perbaraan tembaga dari kedua ratus lima puluh orang yang terbakar itu ditempa tipis-tipis menjadi salut mezbah “menjadi suatu tanda peringatan bagi orang Israel” (Bil. 16:36-40). Pelat tembaga di atas mezbah ini menjadi tanda peringatan penghakiman Allah atas pemberontakan. Di sini kita nampak bahwa mezbah bukan hanya tempat penebusan kita, juga tempat penghakiman kita. Di atas mezbah, unsur alamiah di dalam kita telah dihakimi, dan penghakiman itu tertinggal sebagai satu tanda, satu peringatan, juga sebagai satu petunjuk bahwa hayat dan unsur alamiah kita harus dihakimi dan dibakar.

Dalam Bilangan 16 dan 17 terdapat dua tanda, satu berada di mezbah, satu lagi berada di tabut. Tanda di mezbah ialah penghakiman unsur alamiah (Bil. 16:38), sedang tanda di tabut adalah kebangkitan dari hayat yang telah dibangkitkan (Bil. 17:10). Dalam Bilangan 17 Allah menyuruh Musa mengambil dua belas tongkat mati, sebatang untuk tiap suku, lalu ditempatkan di hadirat-Nya semalaman. Setiap tongkat adalah sebatang kayu mati yang melambangkan bahwa pemimpin dari kedua belas suku itu tidak lain hanyalah batangan kayu yang mati. Keesokan harinya, satu dari kedua belas tongkat itu bertunas, berbunga, bahkan berbuahkan buah badam. Tongkat ini bukan hidup dengan sendirinya, melainkan oleh hayat kebangkitan. Hal ini menunjukkan bahwa terutama unsur hayat alamiah kita harus dihakimi dan dibakar. Ambisi kita untuk kedudukan dan naik pangkat harus dibakar. Setiap kali kita masuk ke dalam Kemah Pertemuan, pertama, kita harus datang ke mezbah dan melihat satu tanda dari penghakiman Allah terhadap unsur alamiah kita. Baik dosa maupun unsur alamiah kita harus dihakimi di atas mezbah tembaga itu. Setelah mengalami penghakiman di mezbah, barulah kita boleh maju ke bejana pembasuhan, meja roti sajian, kaki pelita, mezbah ukupan, dan masuk ke tabut di tempat maha kudus. Di tabut inilah kita dapat melihat tongkat yang bertunas. Inilah tanda peringatan kedua.

Tanda pertama, lempengan tembaga di atas mezbah, mengartikan bahwa unsur alamiah kita harus dihukum dan dibakar. Unsur negatif ini tidak ada bagian dalam pembangunan Allah. Dalam pembangunan Allah, setiap hal alamiah tidak ada kedudukannya. Jika Anda ingin mendapat bagian dalam kepemimpinan, maka Korah, Datan, dan Abiram dalam alamiah Anda harus dihakimi dan dibakar, dan penghakiman itu harus meninggalkan satu tanda peringatan bagi Anda. Kapan saja Anda datang melayani Allah, Anda akan melihat tanda peringatan itu di atas mezbah. Jika kita ingin mengambil bagian dalam pelayanan kepada Allah, kita harus tahu bahwa unsur alamiah kita harus dihakimi. Tidak peduli Anda ingin menjadi yang pertama atau yang terakhir, Anda tetap harus dihakimi dan dibakar di atas mezbah. Hal yang pertama dalam pembangunan Allah ialah penghakiman-Nya.

Meskipun Anda mungkin mengasihi Tuhan dan memperhatikan kesaksian-Nya, tetapi di dalam Anda terdapat unsur Korah, Datan, dan Abiram. Pada saatnya Tuhan akan berkata kepada Anda, “Unsur alamiah ini harus dihakimi. Kamu mengasihi Aku dan memperhatikan kesaksian-Ku, itu memang baik, tetapi unsur alamiahmu harus ditanggulangi dan harus dihukum.” Bila hal ini tidak terjadi setiap bulan, paling sedikit harus terjadi sekali tiap enam bulan.

Semakin Anda mengalaminya, tembaga Anda di atas mezbah akan semakin bersinar sebagai tanda peringatan bahwa alamiah Anda harus dihukum. Haleluya karena kedua tanda peringatan ini! Satu tanda berada di atas mezbah, dan satu lagi di dalam tabut. Dalam tabut ada tongkat yang bertunas yang melambangkan Kristus yang bangkit di dalam roh kita. Tongkat yang bertunas ini ialah kekuasaan.

Misalkan, dua orang saudara yang berambisi saling berebut untuk menjadi pemimpin, dan hanya seorang yang pernah mengalami pengalaman Bilangan 16, serta pernah dihakimi dan ditanggulangi. Tembaga di atas mezbah mengingatkannya bahwa penghakiman ada di atas dirinya. Akibat pengalamannya ini, ia lalu memiliki tongkat yang bertunas. Sebenarnya, tongkat yang bertunas muncul dari mezbah tembaga. Demikian pula, hayat kebangkitan muncul dari penghakiman Allah atas hayat alamiah kita. Tetapi manusia alamiah saudara yang satunya lagi belum melewati penanggulangan. Saudara yang telah mengalami penghakiman mezbah dan tongkat yang bertunas di dalam tabut mungkin lebih kecil dan kurang pandai, maka saudara yang belum melewati penanggulangan itu akan berkata, “Bukankah aku lebih pandai daripadanya? Aku memang lebih pandai. Tetapi mengapa yang kuperbuat selalu mengakibatkan kematian. Inilah yang dihasilkan dari sebatang kayu mati. Aku hanya sebatang kayu mati. Namun saudara itu, meskipun ia tidak sepandai aku, ia malah dapat bertunas, berkembang, dan berbuahkan buah badam.” Jika Anda menyerahkan suatu perkara kepada saudara yang alamiah, hasilnya sering kali adalah maut, sebab ia adalah sebatang tongkat mati yang tidak bisa menghasilkan apa-apa, hanya bisa membunuh orang. Tetapi jika Anda menyerahkan suatu perkara kepada saudara yang memiliki tongkat yang bertunas, hasilnya ialah bertunas, berkembang, dan berbuah. Jika seseorang yang mati tinggal (berkumpul) bersamanya sejangka waktu, niscaya orang yang mati itu akan dihidupkan. Akhirnya, saudara yang alamiah itu hanya bisa berkata, “Aku tidak mengerti, mengapa setiap hal yang menimpa diriku dalam hidup gereja menjadi mati, sedang setiap hal yang menimpa saudara itu menjadi begitu hidup. Allah sungguh tidak adil.” Tetapi sebenarnya Allah itu sangat adil.

TIDAK ADA PERSAINGAN

DALAM PELAYANAN GEREJA

Dalam pelayanan gereja seharusnya tidak ada persaing-an, sebab persaingan tidak pernah menghasilkan sesuatu. Semakin Anda bersaing untuk menjadi orang pertama, Anda akan semakin tidak layak menjadi yang terakhir sekalipun. Semakin Anda bersaing, Anda makin terjerumus dalam kondisi Anda yang mati. Ini bukan masalah persaingan, melainkan masalah menerima penghakiman, membakar habis, hayat alamiah, dan unsur alamiah Anda. Kemudian akan ada satu tanda peringatan di mezbah bahwa hayat alamiah kita harus ditanggulangi dan dienyahkan. Ratusan orang di antara kita bisa bersaksi bahwa bila kita bersaing dengan orang lain, kita akan terbunuh. Bila kita berkata, “Mengapa Allah memakai dia, tidak memakai aku?” kita akan habis. Semakin kita berkata begitu, Allah akan semakin tidak memakai kita. Semakin bersaing, kita semakin menjadi tidak layak. Selama tahun-tahun yang lampau, saya tidak pernah melihat satu perkecualian di antara umat Tuhan. Kita semua perlu berkata, “Dalam batinku tidak ada yang baik. Aku penuh dengan Korah, Datan, Abiram, dan banyak hal alamiah lainnya yang harus dihakimi di atas mezbah tembaga.” Siapa yang rela dihakimi akan segera dibawa ke dalam tempat maha kudus dan memiliki tongkat yang bertunas, yaitu hayat kebangkitan. Jika Anda adalah orang yang demikian, apa pun yang menimpa diri Anda, sekalipun situasi yang mati, akan menghasilkan hayat.

TONGKAT YANG BERTUNAS

ADALAH PERNYATAAN ALLAH

Banyak organisasi kekristenan tidak senang dengan kita. Mereka mengatakan, “Bagaimana kalian boleh mengakui diri kalian sebagai gereja? Bukankah kami juga gereja?” Gereja atau bukan tidak tergantung pada pengakuan kita, melainkan di mana tongkat yang bertunas itu berada. Orang lain mengapresiasikan kita atau menentang kita tidak ada artinya, yang terpenting ialah ada tidaknya tongkat yang bertunas itu. Kalau kita di sini benar-benar sebagai gereja di Anaheim, yaitu kesaksian Tuhan di Orange County, tentu kita akan bertunas, berkembang, dan berbuahkan buah badam untuk memberi makan orang dengan hayat kebangkitan. Jika tersebar kabar angin tentang kita, atau ada selebaran yang isinya mengecam kita, saya katakan kepada saudara-saudara bahwa kabar angin dan selebaran itu tidak ada artinya, dan kita harus melupakannya. Yang paling penting ialah apakah kita memiliki tongkat yang bertunas atau tidak. Tongkat yang bertunas adalah pernyataan Allah. Dari kedua belas tongkat yang diletakkan di hadirat Tuhan, hanya satu yang bertunas, berkembang, dan berbuahkan buah badam. Bagaimana pendapat Anda tentang ini? Walaupun tongkat Harun bertunas, para pemberontak tetap tidak yakin. Mereka tetap menggerutu. Sebab itu jangan mengira ketika tongkat bertunas itu muncul, setiap orang di Orange County pasti mau percaya dan tunduk. Tidak, semakin tongkat kita bertunas, semakin banyak pula gerutuan yang timbul.

Apa yang kita perlukan dan apa yang gereja perlukan ialah tongkat yang bertunas. Persaingan, kedudukan, promosi, dan ambisi, semua tidak berarti. Mulai sekarang dan seterusnya, dalam pelayanan gereja tidak ada lagi yang nomor satu, nomor dua, dan nomor-nomor lainnya. Kita tidak bernomor, sebab kita bukanlah apa-apa, kita bukan siapa-siapa. Kita semua harus dihakimi, kemudian, kita harus memiliki tongkat yang bertunas.

Ingin mempunyai kekuasaan tidak bergantung pada kemampuan kita berbuat sesuatu, melainkan berapa banyak kita dapat bertunas. Anda mungkin berbuat banyak, tetapi tidak berbunga. Tidak saja tidak bertunas, Anda malah mati; tidak saja tidak berbunga, Anda malah membunuh orang lain; tidak saja tidak berbuah, Anda malah mematikan setiap orang yang berhubungan dengan Anda. Semua itu membuktikan bahwa Anda tidak memiliki kekuasaan. Namun bila Anda mempunyai tongkat yang bertunas, walaupun orang mati berkontak dengan Anda, ia akan dibangkitkan dan menjadi hidup. Ini membuktikan Anda memiliki kekua-saan. Kekuasaan bukan terdapat dalam kecakapan atau ketrampilan. Pernyataan yang sejati terdapat dalam pertunasan kita, bukan dalam perbuatan kita. Perbuatan tidak ada artinya, tetapi bertunas adalah segala-galanya. Dalam hidup gereja dan pelayanan gereja, kita semua harus bertunas, berbunga, dan berbuahkan buah badam. Inilah keperluan kita hari ini.

BAGAIMANA BISA MEMILIKI

TONGKAT YANG BERTUNAS

Sekarang kita sampai pada butir yang sangat penting, yaitu bagaimana kita bisa memiliki tongkat yang bertunas. Tongkat yang bertunas disebut setelah manna yang tersembunyi. Ini berarti, jika kita menikmati manna yang tersembunyi, kita akan bertunas, sebab hasil dari menikmati manna yang tersembunyi adalah tongkat yang bertunas. Berapa banyak Anda bertunaskan hayat, tergantung pada berapa banyak Anda memakan manna yang tersembunyi. Kita semua perlu melatih roh kita untuk menghubungi Kristus yang tersembunyi dan menikmati bagian yang top dari Kristus yang tersembunyi ini di dalam sifat ilahi. Semakin banyak kita menikmati Kristus yang tersembunyi sebagai bagian yang tertinggi dalam sifat ilahi, semakin banyak pula tongkat kita bertunas. Anda tidak perlu bersaing untuk posisi apa pun, juga tidak perlu menghiraukan hal lain. Nikmati saja manna yang tersembunyi yang dapat memberi makan dan dan membuat Anda bertunas. Jika Anda telah bertunas, Anda adalah kekuasaan. Jika Anda bertunas, berbunga, dan berbuahkan buah badam, orang lain akan tahu bahwa Anda adalah kekuasaan.

Kekuasaan di antara umat Allah hari ini tidak terletak pada kecakapan atau kedudukan, melainkan pada bertunas, berkembang, dan berbuah. Kita perlu melupakan masa lalu kita yang berkaitan dengan persaingan, kedudukan, atau promosi; kita perlu memiliki satu permulaan yang baru. Dalam pemulihan Tuhan, kita tidak seharusnya memperhatikan kedudukan. Kita seharusnya memperhatikan kenikmatan atas bagian yang top dari Kristus yang tersembunyi, agar kita dapat bertunas, sekalipun dalam kegelapan malam. Meskipun malam sangat gelap, kita tetap bertunas, berbunga, dan berbuahkan buah badam untuk memelihara orang lain. Orang yang bertunas, berbunga, dan berbuahkan buah badam barulah benar-benar sebagai kekuasaan di antara umat Allah.

Dalam Surat Ibrani, kita nampak bahwa kita harus mengalami Kristus di mezbah, di bejana pembasuhan, di meja roti sajian, di kaki pelita, di mezbah ukupan, di tabut dalam tempat maha kudus. Di tempat maha kudus kita menikmati Kristus di hadirat Allah. Kenikmatan ini membuat kita bertunas; bukan dengan kecakapan kita, melainkan dengan hayat kebangkitan. Dengan cara inilah Allah dapat menggunakan kekuasaan-Nya untuk membangun umat-Nya. Saya yakin sepenuhnya bahwa inilah yang sesungguhnya sedang Allah lakukan di antara kita. Ia membuat kita semua menyadari masalah penghakiman atas unsur alamiah dan mengambil bagian dalam hayat kebangkitan, sehingga kita dapat bertunas, berbunga, dan mengeluarkan buah badam.