← Daftar isi Ibrani (4) · bab 11/17

HUKUM TAURAT — KESAKSIAN ALLAH

Seperti telah kita kemukakan, dalam tabut di tempat maha kudus terdapat tiga benda yang penting, yaitu manna yang tersembunyi, tongkat yang bertunas, dan dua loh hukum (9:4). Dalam lima berita terdahulu kita telah membahas sedikit tentang manna yang tersembunyi dan tongkat yang bertunas. Dalam berita ini kita akan membahas masalah kedua loh hukum.

HUKUM TAURAT SEBAGAI KESAKSIAN ALLAH

Dalam Alkitab (bahasa aslinya) sukar kita jumpai istilah “loh hukum”. Kitab Perjanjian Lama sering menyebut “loh kesaksian” (Kel. 31:18 Tl.), dan kitab Perjanjian Baru menyebut loh perjanjian (Ibr. 9:4 Tl.). Mengapa hukum itu disebut loh kesaksian dan loh perjanjian? Sangat mudahlah untuk memahami mengapa hukum itu disebut loh perjanjian, sebab di masa Perjanjian Lama, hukum itu adalah perjanjian yang lama. Namun sulit sekali memahami mengapa hukum disebut pula loh kesaksian. Ketika Allah memerintahkan Musa membuat tabut (Kel. 25:10), Ia berfirman, “Dalam tabut itu haruslah kautaruh loh kesaksian (testimony) yang akan Kuberikan kepadamu” (Kel. 25:16 Tl.). Kata “kesaksian” di sini sudah jelas ditujukan kepada hukum Taurat. Allah tidak mengatakan harus menaruh hukum Taurat di dalam tabut, tetapi menaruh kesaksian di dalam tabut. Karena kesaksian ini ditaruh dalam tabut, maka tabut itu disebut tabut kesaksian (Kel. 25:22 Tl.). Tidak hanya demikian, Kemah Pertemuan juga disebut kemah kesaksian (Bil. 17:8 Tl.). Jadi, kita memiliki loh kesaksian, tabut kesaksian, dan kemah kesaksian. Ketika manna dan tongkat yang bertunas ditempatkan di depan hukum Taurat, berarti benda-benda itu ditaruh di hadapan kesaksian (Kel. 16:34; Bil. 17:10 Tl.). Benda apa saja yang ditempatkan di hadapan kesaksian berarti ditempatkan di hadapan Allah (Kel. 16:33-34); sebab kesaksian tidak mungkin terpisah dari Allah. Ketika sesuatu berada di hadapan kesaksian, ia berada di hadapan Allah, dan ketika ia berada di hadapan Allah, berarti ada di hadapan kesaksian. Apakah kesaksian itu? Kita telah nampak bahwa tabut disebut tabut kesaksian dan Kemah Pertemuan disebut kemah kesaksian. Hukum Taurat disebut kesaksian sebab ia mempersaksikan Allah. Karena itu, hukum Taurat adalah kesaksian Allah.

Kejadian 1:26 menerangkan bahwa Allah menciptakan manusia menurut rupa dan gambar-Nya. Maksud Allah ialah ingin memperoleh satu ekspresi melalui manusia. Ekspresi ini adalah kesaksian-Nya. Jadi, kesaksian Allah adalah ekspresi Allah, adalah Allah yang terekspresikan. Kehendak Allah selalu sama, baik dahulu, sekarang, maupun sampai selama-lamanya, yakni Ia ingin menggarapkan diri-Nya ke dalam manusia, agar Ia dapat diekspresikan dan memiliki satu kesaksian. Tetapi sebelum Allah merampungkan hal ini, manusia sudah jatuh. Dalam sifat kejatuhannya, manusia selalu ingin melakukan kebaikan untuk mencari perkenan Allah. Itulah sebabnya, Allah lalu memberi manusia hukum Taurat. Allah menurunkan hukum Taurat karena manusia tidak menyadari bahwa dirinya telah jatuh, tidak bisa memuaskan dan tidak bisa mengekspresikan Allah. Tetapi, setelah hukum Taurat diturunkan, Allah segera mengganti sebutan hukum itu menjadi kesaksian. Apa yang Allah berikan kepada manusia adalah hukum Taurat, tetapi hukum itu terutama tidak disebut hukum, melainkan kesaksian. Dalam Mazmur 119, istilah “kesaksian” sering dipakai untuk mengacu kepada hukum Taurat (ayat 2, 88, 168; LAI: peringatan). Menurut bahasa aslinya: kesaksian (testimony). Jadi, setiap kali istilah ini dipakai dalam Mazmur 119, selalu mengacu kepada hukum Taurat.

Menurut konsepsi manusia, hukum Taurat adalah kesepuluh perintah itu. Tetapi kehendak Allah tidak demikian, hukum Taurat bukanlah suatu perintah, melainkan kesaksian-Nya. Ketika saya masih berada dalam “agama” Kristen, saya tidak pernah mendengar orang memakai istilah kesaksian untuk mengartikan hukum Taurat; saya hanya mendengar tentang kesepuluh perintah itu. Dalam kalangan agama Kristen, sewaktu diadakan ujian terhadap orang yang baru untuk menjadi anggota dari apa yang disebut gereja, mereka diharuskan menghafal kesepuluh perintah tadi. Walau mungkin Anda dapat menghafalkan kesepuluh perintah, Anda boleh jadi tidak pernah mendengar bahwa kesaksian dalam Kitab Mazmur adalah hukum Taurat. Kata kesaksian dalam Kitab Mazmur sesungguhnya ditujukan kepada hukum Taurat. Saya katakan sekali lagi, dalam kehendak Allah dan menurut konsepsi Allah, hukum Taurat adalah kesaksian Allah, tetapi dalam konsepsi manusia, hukum itu adalah kesepuluh perintah. Jika Anda mencoba untuk memelihara hukum Taurat, ia akan menjadi kesepuluh perintah bagi Anda. Akan tetapi, jika Anda tahu apa itu hayat, dan jika Anda hanya berjalan dengan Allah, tanpa mencoba melakukan hukum Taurat, niscaya Anda akan nampak bahwa hukum Taurat adalah kesaksian Allah dan ekspresi Allah.

KEDUA ASPEK DARI SETIAP HUKUM

Setiap hukum mempunyai dua aspek: aspek pemelihara hukum dan aspek pembuat hukum. Hukum adalah untuk dipelihara atau diamalkan. Seperti yang telah kita katakan beberapa kali di waktu silam, hukum yang Anda buat menyatakan pribadi Anda sendiri. Kalau perampok-perampok bank dapat membuat hukum, mereka pasti akan melegalkan perampokan bank. Ada beberapa legislator ingin melegalkan hal yang jahat seperti pelacuran; itu menyatakan bahwa mereka sendiri jahat. Pembuat hukum yang jahat tentu akan membuat hukum yang jahat pula. Jadi, hukum yang kita buat akan mengekspresikan kita orang macam apa. Hal ini tidak hanya berlaku untuk satu negara, tetapi juga berlaku untuk keluarga. Misalkan, orang tua di sebuah keluarga setiap hari tidak biasa bangun pagi dan tidak suka membersihkan rumah, maka hukum keluarga yang mereka buat pasti membenarkan anak-anak mereka bangun terlambat dan berantakan. Tetapi jika orang tua itu ketat, rapi, bersih, dan rajin, hukum keluarga mereka akan berbeda. Mereka pasti menghendaki anak-anak mereka bangun pagi, mandi dengan bersih, dan membersihkan atau merapikan kamar mereka. Kalau saya mengunjungi keluarga semacam ini dan melihat peraturan mereka sedemikian, saya segera mengerti bahwa orang tua mereka pasti rajin dan bersih. Tetapi kalau saya masuk ke sebuah rumah di mana segala sesuatu kacau berantakan, anak-anak boleh bangun siang hari, saya mengerti manusia macam apa yang menjadi orang tua dalam keluarga itu. Karena hukum yang kita buat mempersaksikan keadaan kita, maka hukum itu menjadi kesaksian kita. Di pihak pembuat hukum, hukum adalah kesaksian; di pihak pengamal hukum, hukum adalah perintah atau peraturan. Hukum Taurat Allah juga memiliki dua aspek ini. Terhadap kita yang ingin mengamalkan, hukum adalah kesepuluh perintah, tetapi terhadap Allah, adalah kesaksian-Nya.

HUKUM TAURAT SEBAGAI LAMBANG KRISTUS

Saya pernah membaca sejumlah buku yang mengatakan bahwa hukum Taurat merupakan lambang Kristus. Dalam waktu yang cukup lama saya tidak paham terhadap hal ini. Bagaimana mungkin hukum Taurat yang berkedudukan sebagai gundik (Gal. 4:24) bisa menjadi lambang Kristus? Dari aspek hukum Taurat sebagai perintah yang kita pelihara memang posisinya seperti gundik. Tetapi dari aspeknya sebagai kesaksian Allah, hukum adalah lambang Kristus. Kesaksian Allah yang riil, hidup, penuh, dan memadai, justru adalah Kristus sendiri. Maka hukum Taurat melambangkan Kristus sebagai kesaksian Allah yang hidup (Yoh. 1:17). Pada mulanya ada Firman, dan Firman itu adalah Allah (Yoh. 1:1). Lalu, Firman itu menjadi manusia, penuh dengan anugerah dan realitas (Yoh. 1:14), untuk menjadi ekspresi Allah. Karena Allah terwujud di dalam Kristus, maka Kristus adalah kesaksian Allah yang hidup, penuh, dan memadai.

Kita telah nampak bahwa hukum Taurat adalah kesaksian Allah dan ekspresi Allah. Jika Anda ingin mengetahui Allah adalah Allah yang bagaimana, Anda harus membaca hukum-hukum yang dibuat-Nya. Kalau Anda membaca kesepuluh perintah, Anda akan nampak bahwa Pembuat hukum-hukum itu tentu kudus, benar, pengasih, dan terang. Jadi, kesepuluh perintah membuktikan bahwa Allah itu kudus dan benar, kasih dan terang. Allah adalah Allah yang kasih dan terang. Diri-Nya sendiri adalah kasih dan terang (1Yoh. 1:5; 4:8), dan Ia kudus dan benar. Hukum Taurat mempersaksikan bahwa Ia adalah Allah yang sedemikian. Namun hukum hanya sekadar kesaksian yang harfiah. Ketika Kristus tiba, kesaksian Allah menjadi hidup. Ia bukan lagi huruf, melainkan satu Persona hidup. Ketika Yesus di bumi, Dialah kesaksian Allah yang hidup. Ke mana saja ia pergi, Ia selalu mengekspresikan Allah. Apa pun yang Ia lakukan, katakan, dan pikirkan, selalu mengekspresikan Allah. Karena Dialah perwujudan Allah, Dialah ekspresi dan kesaksian Allah. Kalau pada masa Perjanjian Lama Anda ingin tahu Allah adalah Allah yang bagaimana, Anda harus menghubungi hukum Taurat. Tetapi hari ini kalau Anda ingin mengetahui bagaimana keadaan Allah, Anda harus datang kepada Yesus Kristus. Kalau pada masa Perjanjian Lama hukum Taurat menjadi kesaksian Allah, maka pada hari ini, Yesus Kristus adalah kesaksian Allah yang hidup, penuh, dan memadai.

BENDA YANG PALING AKHIR DAN PALING INTI DALAM KEMAH PERTEMUAN

Berpegang pada konsepsi bahwa hukum Taurat adalah kesaksian Allah akan membantu kita untuk memahami Ibrani 9. Ibrani 9:4 mengatakan tentang loh-loh perjanjian, yaitu loh-loh kesaksian hukum Taurat. Menurut Ibrani 9, loh-loh perjanjian ialah benda paling akhir yang berkaitan dengan Kemah Pertemuan. Di pelataran luar terdapat mezbah dan bejana pembasuhan; di tempat kudus terdapat meja roti sajian, kaki pelita, dan mezbah ukupan; dan di tempat maha kudus terdapat tabut yang di dalamnya ada manna yang tersembunyi, tongkat yang bertunas, dan loh-loh perjanjian. Di sini kita nampak bahwa benda yang paling akhir ialah loh-loh perjanjian, yaitu kesaksian Allah. Dalam tabut ada tiga benda yang lebih dalam daripada benda-benda yang terdapat dalam tempat kudus. Benda-benda dalam tempat kudus hanyalah permulaan, tetapi yang di dalam tabut adalah perampungan sempurnanya. Perampungan sempurna dari roti sajian adalah manna yang tersembunyi, perampungan sempurna dari mezbah ukupan adalah tongkat yang bertunas, dan perampungan sempurna dari kaki pelita adalah kesaksian. Di antara semua benda yang berhubungan dengan Kemah Pertemuan, loh kesaksianlah yang paling puncak. Tidak saja merupakan benda paling puncak, bahkan yang paling inti, sebab ia berada di tempat yang paling pusat dalam Kemah Pertemuan.

Di Kemah Pertemuan kita dapat melihat sejumlah lapisan. Lapisan pertama ialah tirai yang memisahkan Kemah Pertemuan dan pelataran luar dari segala sesuatu, lapisan kedua adalah dinding Kemah Pertemuan; dan ketiga adalah tirai yang memisahkan tempat maha kudus dengan tempat kudus. Tabut kesaksian yang di dalamnya terdapat kesaksian Allah adalah lapisan keempat. Jadi, kesaksian merupakan pusat dari seluruh Kemah Pertemuan.

HUKUM HAYAT BERADA DALAM KRISTUS

Sebagai orang yang beroleh selamat, kita adalah bait Allah (1Kor. 3:16). Tubuh kita adalah pelataran luar, jiwa kita adalah tempat kudus, dan roh kita adalah tempat maha kudus. Hukum hayat bukan di pelataran luar atau di tempat kudus, melainkan di tempat maha kudus. Namun, hanya mengatakannya di dalam tempat maha kudus saja masih tidak cukup, sebab ia sebenarnya berada dalam tabut, yaitu dalam lapisan yang keempat. Hukum Hayat berada dalam tabut, tabut berada dalam tempat maha kudus, tempat maha kudus berada dalam Kemah Pertemuan, dan Kemah Pertemuan di dalam tirai pemisah di pelataran luar. Kita telah nampak bahwa pelataran luar adalah tubuh kita, tempat kudus adalah jiwa kita, dan tempat maha kudus adalah roh kita. Kalau begitu apakah tabut? Tabut adalah Kristus. Karena Kristus adalah tabut, maka kita tidak boleh mengatakan hukum hayat itu berada dalam roh kita secara langsung. Walaupun kita mempunyai roh, bila dalam roh kita tidak ada Kristus, hukum hayat juga tidak berada dalam roh kita. Hukum hayat bisa berada dalam roh kita dikarenakan ia berada dalam Kristus, sedang Kristus berada dalam roh kita.

Mengapa Allah tidak menyuruh umat-Nya menaruh hukum Taurat di mezbah, melainkan di tabut? Jika Allah menaruh hukum Taurat di mezbah, tentu Dia keliru. Sebab Allah bukan menghendaki manusia memelihara hukum Taurat. Menurut konsepsi Allah, hukum Taurat ialah kesaksian-Nya. Karena itu, Ia menaruh hukum-Nya dalam tabut di tempat maha kudus.

Apakah Anda kira Anda bisa serupa dengan Allah? Mustahil. Walaupun Anda membaca kesepuluh perintah setiap hari, berdoa dan berpuasa untuknya, serta berusaha untuk memeliharanya, Anda tetap tidak dapat memeliharanya dengan sempurna. Anda selamanya tidak dapat membuat diri Anda sesuai dengan hukum Taurat Allah, apalagi mengekspresikan Dia. Kehendak Allah tidak menyuruh kita berusaha mematuhi hukum Taurat atau mencoba mengekspresikan-Nya. Pertama-tama, Ia bermaksud menunjukkan siapa Dia. Bagaimanapun kita menyukai hukum Taurat, kita tidak akan mungkin memenuhi permintaannya. Lalu apa yang harus Allah lakukan? Ia berkata, ‘Inilah perjanjian yang Kuadakan dengan kaum Israel sesudah waktu itu,’ demikianlah firman Tuhan. ‘Aku akan menaruh hukum-Ku dalam akal budi mereka dan menuliskannya dalam hati mereka, maka Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Ku’” (Ibr. 8:10). Kehendak Allah ialah menaruh hukum-Nya di dalam kita, yaitu bagian batin kita, bahkan dalam hati kita. Hal itu tidak berarti kita harus mengamalkan hukum Taurat. Tidak, melainkan berarti hukum itu akan menggarapkan dirinya sampai ternyata dari dalam kita. Inilah sebabnya Allah menaruh hukum di dalam tabut dan menaruh tabut di dalam tempat maha kudus. Bagaimana hukum Taurat ini dapat masuk ke dalam kita? Hanya melalui Kristus. Ketika Kristus masuk ke dalam kita, hukum itu pun masuk ke dalam kita. Ketika kita menerima Kristus, kita pun menerima hukum Taurat. Hukum Taurat ada dalam Kristus, sedang Kristus ada dalam roh kita. Maka Roma 8:2 mengatakan, “Hukum Roh hayat di dalam Kristus Yesus” (Tl.). Tidak saja hukum Taurat ini ada dalam Kristus, ia pun Kristus itu sendiri. Ketika Anda percaya Kristus dan menerima-Nya sebagai Juruselamat Anda, Anda pun menerima hukum hayat ini.

MEMBIARKAN KRISTUS HIDUP

MELALUI DIRI KITA

Ketika Allah memberikan hukum Taurat kepada Musa, Ia bukan menghendaki umat-Nya memeliharanya. Maksud pemberian hukum Taurat kepada mereka ialah untuk memperlihatkan kepada mereka bahwa Ia adalah Allah yang bagaimana, dan menyatakan kepada mereka apa yang dikehendaki-Nya. Karena Ia menghendaki manusia menjadi ekspresi-Nya, maka Ia menghendaki mereka serupa dengan-Nya, yaitu menjadi sama seperti Dia. Walaupun Allah berkeinginan demikian, tetapi belum tergenapkan. Malahan manusia mencoba meniru Allah, mencoba membuat dirinya serupa dengan Allah. Namun manusia telah gagal. Pada suatu hari, Kristus, hukum Taurat yang sejati, hukum Taurat yang hidup, realitas kesaksian Allah itu tiba, dan kita menerima-Nya ke dalam kita. Hasilnya, hukum Taurat yang sejati, realitas hukum ini telah tergarap ke dalam inti diri kita. Kini dalam bagian terdalam diri kita terdapat sesuatu yang ajaib, yakni Kristus sendiri sebagai realitas hukum Taurat. Telah kita lihat bahwa benda yang paling dalam di Kemah Pertemuan ialah hukum Taurat. Hari ini, benda yang paling dalam di batin kita ialah Kristus di dalam roh kita sebagai realitas hukum Taurat. Sekarang, karena kita memiliki hukum ini dalam batin kita, maka masalahnya bukan lagi bagaimana memelihara hukum Taurat, melainkan bagaimana membiarkan Kristus hidup melalui diri kita. Janganlah kita mencoba mengamalkan hukum Taurat dari luar, tetapi hendaklah kita membiarkan Kristus memperhidupkan diri-Nya sendiri dari dalam kita.

Kehendak Allah ialah menaruh hukum Taurat ke dalam bagian kita yang terdalam dan menghendaki kita mematuhinya, bukan mencoba mengamalkannya. Walaupun kita tidak dapat mengamalkan hukum Taurat, kita tetap harus mematuhinya dan membiarkannya memperhidupkan dirinya melalui kita. Ajaran yang mengajar orang mengamalkan hukum Taurat sungguh bertentangan dengan kehendak Allah. Ketika orang Kristen membaca Alkitab, mereka sering memilih ayat-ayat untuk diamalkan sebagai perintah. Misalnya, saudara-saudara yang telah menikah, tetapi bukan suami yang baik, selalu memilih perintah yang mengatakan bahwa para istri harus tunduk kepada suami mereka. Tetapi para suami yang agak lebih baik memilih perintah yang mengatakan bahwa suami harus mengasihi istri. Saudara-saudara ini berkata, “O Tuhan, aku tidak dapat mengamalkan perintah ini. Datanglah menolongku. Tuhan, dulu aku tidak menjadi seorang suami yang menga-sihi istri. Ampunilah aku, dan jadikanlah aku seorang suami yang paling baik.” Walaupun Anda bisa berdoa demikian, Anda pasti tidak berhasil. Suami yang demikian harus menyadari bahwa kasih yang sejati untuk mengasihi istri adalah Kristus sendiri. Karena kasih ini ada di dalam kita, tidak perlu kita berusaha untuk mengasihi. Kita cukup dengan sederhana mematuhi kasih ini, yaitu mematuhi Kristus, dan membiarkan Dia memperhidupkan diri-Nya dari dalam kita.

Ambillah kerendahan hati sebagai contoh. Yakobus 4:6 mengatakan, “Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati.” Dahulu setelah membaca ayat ini, saya lalu berdoa, “Tuhan, aku ingin menjadi orang yang rendah hati. Tetapi Engkau tahu, aku sukar menjadi orang yang rendah hati. Maka aku mohon Engkau membantu aku.” Doa ini menandakan saya berada dalam kegelapan agama. Pada suatu hari Tuhan mencelikkan mata saya, dan saya nampak bahwa congkak adalah nama saya, dan saya selamanya tidak mungkin menjadi orang yang rendah hati. Bagaimana congkak bisa menjadi rendah hati? Saya seperti seekor anjing, bagaimana bisa menjadi seekor burung? Itu mustahil. Mata kita harus tercelik dan nampak bahwa kita selamanya tidak mungkin menjadi orang yang rendah hati, dan kerendahan hati yang sejati ialah Kristus. Kita harus dengan sederhana mematuhi-Nya dan berkata, “Tuhan, Engkaulah yang berbuat. Kini bukan lagi aku yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam dan melalui diriku.” Bila Anda mematuhi Kristus dengan sederhana, Ia akan menghidupkan diri-Nya melalui Anda, dan Anda akan menjadi ekspresi dan kesaksian Allah. Inilah ekonomi Allah.

JALAN UNTUK MEMILIKI KRISTUS

SEBAGAI REALITAS HUKUM TAURAT

Bagaimana Kristus sebagai realitas hukum Taurat bisa menjadi riil terhadap kita? Baiklah kita lihat isi tabut sekali lagi. Benda pertama ialah manna, disusul oleh tongkat yang bertunas, dan kemudian kesaksian. Ini menunjukkan bahwa ketika kita memakan dan menikmati Kristus sebagai manna yang tersembunyi, ada sesuatu yang bertunas di dalam kita. Manna yang kita makan akhirnya akan menjadi unsur yang bertunas di dalam kita. Semakin kita makan dan menikmati Kristus, Ia akan semakin menjadi unsur pertunasan kita. Ketika unsur ini berbunga dan berbuah, itulah kesaksian dan ekspresi. Kadang-kadang pada senja hari saya merasa letih dan perut saya kosong. Ini menunjukkan bahwa saya perlu memakan sesuatu. Setelah makan, saya merasa kenyang dan mengalami suatu perubahan yang cepat, sebab apa yang saya makan dalam santapan malam itu mulai berbunga dari diri saya, menjadi “ekspresi” dan “kesaksian” saya. Demikian pula, jika kita ingin mengalami Kristus sebagai realitas hukum Taurat, kita harus terlebih dahulu memakan manna yang tersembunyi. Begitu manna ini masuk ke dalam kita, ia akan menjadi unsur pertunasan, dan unsur pertunasan ini akan mengeluarkan buah, yakni ekspresi dan kesaksian Allah.

Janganlah kita menetap di mezbah, juga jangan berhenti di bejana pembasuhan, atau menetap di tempat kudus memakan makanan yang dangkal. Kita harus maju ke depan ke tempat maha kudus, menyelami tabut, dan memakan manna yang tersembunyi, yakni Kristus yang tersembunyi. Kristus ini akan menjadi unsur pertunasan kita. Ketika bertunas dan berbunga, Ia akan mengeluarkan buah yang menjadi ekspresi dan kesaksian Allah. Ekspresi ini tidak hanya sepadan dengan kesepuluh perintah, bahkan dapat melampauinya. Terpujilah Tuhan, kita sekarang bukan berada di pelataran luar, bukan pula di tempat kudus, melainkan di tempat maha kudus. Sekarang karena kita menjamah tabut dan memakan manna yang tersembunyi, kita akan bertunas, berbunga, dan berbuah. Dengan demikian, kita akan memiliki kesaksian Allah.