← Daftar isi Ibrani (4) · bab 12/17

HUKUM HAYAT BERKEMBANG DALAM SETIAP BAGIAN BATIN KITA KONSEPSI DASAR WAHYU ILAHI

DALAM ALKITAB

Jika kita ingin memahami hukum hayat secara tuntas, kita harus mengerti konsepsi dasar wahyu ilahi dalam Alkitab. Konsepsi dasar dan inti dalam Alkitab ialah bahwa Allah ingin menggarapkan diri-Nya ke dalam kita, agar kita menjadi ekspresi-Nya yang hidup. Allah ingin menggarapkan diri-Nya ke dalam umat pilihan-Nya, supaya mereka terlahir oleh-Nya, menerima-Nya sebagai hayat, lalu menjadi ekspresi-Nya. Inilah keinginan dan tujuan Allah. Jalan satu-satunya bagi Allah untuk memiliki suatu ekspresi hidup yang demikian ialah menggarapkan diri-Nya ke dalam kita. Walaupun konsepsi dasar ini terdapat di seluruh Alkitab, namun hal ini hampir-hampir terhilangkan oleh kekristenan yang fundamental. Mereka mengutamakan masalah penebusan, tetapi penebusan sebenarnya hanya merupakan cara atau prosedur untuk mencapai sasaran, bukan sasaran itu sendiri. Sasarannya ialah Allah menggarapkan diri-Nya ke dalam diri kita, agar kita dapat dilahirkan oleh-Nya dan agar Ia menjadi hayat kita. Ia menjadi Bapa kita dan kita menjadi anak-anakNya. Sebagai anak-anak-Nya, kita semua memiliki-Nya di dalam kita sebagai hayat kita. Pada akhirnya, hayat ini akan mengubah dan menyerupakan kita dengan gambar-Nya, membuat kita menjadi ekspresi-Nya yang hidup di dalam alam semesta ini.

Walaupun konsepsi ini hampir-hampir terhilangkan, tetapi syukur kepada Allah, kini, pada hari-hari terakhir, melalui firman-Nya Ia telah membukakan hal tersebut bagi kita. Selama lebih dari empat puluh tahun ini, kita telah berbeban untuk memberitakan konsepsi dasar ini kepada umat Allah. Karena ini pula kita dituduh mengajarkan ajaran sesat, memberitakan dan mengajarkan sesuatu yang menyimpang dari Alkitab. Penentang-penentang kita mengatakan demikian tidak lain karena mereka kurang mengenal Alkitab. Pengetahuan yang picik itu sangat berbahaya, tidak saja membuat orang menjadi lamur, bahkan membunuh mereka. Terpujilah Allah, di bawah rahmat-Nya kita telah nampak wahyu dasar Alkitab. Ini bukan hanya masalah penebusan, melainkan sesuatu yang lebih dalam dan lebih tinggi daripada penebusan. Sekarang Allah sedang menggarapkan diri-Nya ke dalam kita, agar kita bisa memiliki hayat-Nya, dan bisa bersatu dengan-Nya, sehingga Ia pun bisa bersatu dengan kita.

PUTRA ALLAH MASUK

KE DALAM KITA MENJADI HAYAT

Saya ingin mengatakan sekali lagi bahwa cara Allah merampungkan tujuan-Nya ialah dengan masuk ke dalam kita, agar kita dilahirkan oleh-Nya. Untuk itulah Allah ma-suk ke dalam kita di dalam Putra, yakni Yesus Kristus. Yesus Kristus, yang adalah Putra Allah dan Allah sendiri, adalah gambar Allah. Kolose 1:15 mengatakan bahwa Kristus adalah gambar Allah yang tidak kelihatan. Putra adalah gambar, ekspresi Bapa. Ketika Anda melihat Putra, berarti melihat Bapa. Pada saat kita percaya kepada-Nya, Putra Allah masuk ke dalam kita. Hal ini tidak berarti Ia memberi kita sesuatu, melainkan Ia sendiri masuk ke dalam kita. Kita wajib membuang konsepsi yang mengira ketika kita percaya Tuhan Yesus Kristus, Allah mengaruniakan hayat-Nya kepada kita. Pengertian ini tidak betul. Bukannya Allah memberi kita sesuatu dan memasukkannya ke dalam kita, tidak, melainkan Yesus, Putra Allah, yakni Allah sendiri, masuk ke dalam kita sebagai hayat. Allah tidak mengaruniakan hayat-Nya kepada kita, melainkan Ia masuk ke dalam kita sebagai hayat. Betapa besarnya perbedaan ini!

Ketika Allah masuk ke dalam kita, Ia masuk dengan status-Nya sebagai Putra, bukan sebagai Bapa. Hal ini mencakup masalah tritunggal; dalam hal inilah kita dikecam orang dan dianggap menyebarkan ajaran sesat. Namun kita tidak memberitakan ajaran sesat, melainkan memberi-takan kebenaran menurut firman Allah yang murni. Persona yang masuk ke dalam kita justru adalah Allah sendiri. Namun ketika Ia masuk ke dalam kita, Ia tidak masuk sebagai Bapa, melainkan sebagai Putra. Bapa ialah sumber, dan Putra ialah ekspresi sumber itu. Ekspresi dan sumber sebenarnya satu adanya.

PUTRA SULUNG DAN PUTRA-PUTRA

Karena Allah masuk ke dalam diri kita sebagai Putra, maka kita dilahirkan Allah di dalam Putra dan beroleh hak keputraan (sonship). Ini berarti kita semua telah menjadi putra-putra Allah. Kita tidak hanya menjadi orang-orang berdosa yang diselamatkan, bahkan menjadi putra-putra yang dilahirkan Allah. Ini bukan suatu perkara kecil. Sebelum Yesus Kristus bangkit dari kematian, Allah hanya memiliki seorang Putra, yaitu Dia, yang disebut Alkitab “Anak-Nya yang tunggal” (Yoh. 3:16). Sebelum kebangkitan, Kristus adalah Putra Allah satu-satunya. Tetapi setelah kebangkitan-Nya, Ia bukan lagi Putra tunggal Allah, sebab di dalam kebangkitan Ia telah menjadi Putra sulung di antara banyak saudara (Rm. 8:29).

Berapa banyak anak yang Allah miliki? Di satu pihak, Yohanes 3:16 mengatakan “Putra tunggal”, tetapi di pihak lain, Ibrani 2:10 mengatakan Allah membawa banyak putra (anak) ke dalam kemuliaan, dan Roma 8:29 mengatakan bahwa Kristus ialah Putra sulung di tengah-tengah banyak saudara. Apakah Allah mempunyai dua golongan putra? Tidak, Ia hanya mempunyai segolongan putra. Orang-orang China Hokkian suka sekali mempunyai banyak anak. Jika mereka tidak dapat melahirkan anak cukup banyak, mereka akan membeli beberapa anak. Mungkin orang itu hanya melahirkan dua anak, tetapi ia kemudian membeli 10 anak untuk mencukupi jumlah 12. Jadi, kedua belas anak itu terbagi dalam dua golongan, yang satu adalah anak-anak yang dilahirkan dan yang lain anak-anak yang dibeli. Dalam lubuk hatinya, ia hanya merasa mempunyai dua orang anak yang dilahirkan, yaitu anak sejati, sedang sisanya hanya merupakan anak dalam sebutan saja. Apakah Allah juga memiliki dua golongan anak; golongan pertama Anak tunggal, golongan kedua ialah anak-anak yang lain? Tidak, Alkitab mewahyukan kepada kita bahwa Allah hanya memiliki segolongan anak. Putra sulung itu Putra Allah dan anak-anak yang banyak itu putra-putra Allah. Baik Putra sulung maupun putra-putra, semua berasal dari satu Bapa yang sama (Ibr. 2:11).

KEPERLUAN KRISTUS UNTUK BERKEMBANG

KE DALAM PIKIRAN, EMOSI, DAN TEKAD KITA

Berbicara tentang Allah hanya mempunyai segolongan anak, apakah itu berarti kita, putra-putra, benar-benar serupa dengan Kristus? Kalau Allah hanya mempunyai segolongan putra dan kalau kita juga menjadi putra-putra Allah, bukankah kita serupa dengan Yesus Kristus? Bagaimana kita menjawab pertanyaan ini? Apakah Anda benar-benar serupa dengan Yesus, Putra Allah? Yesus Kristus telah ma-suk ke dalam roh kita (2Tim. 4:22; 1Kor. 6:17). Maka menurut roh, kita sesungguhnya serupa dengan Kristus. Tetapi sebagai manusia, kita masih memiliki satu jiwa yang tersusun dari pikiran, emosi, dan tekad. Walau dalam roh kita serupa dengan putra Allah, namun dalam pikiran, emosi, dan tekad kita masih belum serupa dengan Dia.

Putra Allah yang ada di dalam kita bukan yang sebagian tetapi seluruhnya. Putra Allah di dalam kita merupakan persona yang lengkap. Ia bukan membagi diri-Nya menjadi beberapa bagian, lalu menaruh sebagian ke dalam kita. Kristus, Putra Allah, telah masuk ke dalam kita sebagai satu persona yang sempurna dan menyeluruh. Walau seluruh persona Kristus berada dalam roh kita, namun dari saat ke saat pikiran kita bukan berasal dari Kristus yang berada dalam roh itu, melainkan berasal dari pikiran kita yang jelek. Mungkin sampai hari ini Anda tetap memikirkan seorang saudara, dan berkata dalam hati, “Aku tidak suka saudara itu, ia seharusnya dipecat saja.” Tetapi selama ia adalah seorang saudara, tidak peduli baik atau buruk, Anda tidak boleh mengatakan Anda tidak menyukainya. Pikiran semacam itu muncul dari angan-angan Anda yang jelek, bukan dari Kristus yang berada dalam roh Anda.

Bagaimana dengan emosi Anda? Ketika Anda mengasihi, apakah Anda mengasihi dari roh yang di dalamnya terdapat Putra Allah, atau Anda mengasihi dari emosi Anda? Saya tidak menanyakan apa yang Anda kasihi, tetapi dari mana Anda mengasihi, dari emosi alamiah Anda atau dari Kristus yang berhuni di batin? Kalau kita, seperti Kristus, adalah putra-putra Allah, mengapa emosi kita berlainan dengan emosi-Nya? Ini dikarenakan Kristus hanya berada dalam roh kita, Ia belum berkembang ke dalam emosi kita, karena itu emosi kita masih merdeka terhadap-Nya.

Sekarang kita lihat lagi bagaimana dengan tekad kita. Entah liar atau jinak, itu tetaplah tekad Anda. Ketika Anda pergi berbelanja, haruslah Anda memeriksa sumber keinginan berbelanja itu, dari Kristus yang berhuni di batin Anda atau dari tekad alamiah Anda? Saudari, sewaktu Anda berniat pergi berbelanja, berapa kalikah keputusan itu berasal dari Kristus, dan berapa kalikah itu berasal dari tekad Anda? Mungkin dalam sepuluh kali tidak ada satu kali pun yang berasal dari Kristus yang berhuni di batin.

Itu menunjukkan bahwa keinginan Anda untuk berbelanja tidak murni, melainkan merupakan keinginan campuran yang sebagian besar muncul dari tekad Anda sendiri. Bagaimana dengan keputusan-keputusan yang Anda ambil dari hari ke hari? Berapa kalikah Anda mengambil keputusan yang berasal dari Kristus, bukan dari tekad Anda sendiri? Sebagai seorang putra Allah, apakah yang menjadi sumber keputusan Anda, Kristus atau tekad Anda sendiri? Saya tidak membicarakan soal baik dan buruk, juga tidak membicarakan soal agama. Saya hanya bertanya apakah keputusan yang Anda ambil berasal dari roh Anda, tempat Putra Allah berada, atau berasal dari tekad Anda sendiri. Meskipun kita adalah anak-anak Allah, kita harus mengakui bahwa sebagian besar keputusan kita berasal dari tekad kita, bukan dari Putra Allah, Yesus Kristus, yang di dalam roh kita. Ketika kita menyanyi dalam sidang kita menyatakan satu corak, tetapi ketika kita mengambil keputusan dalam kehidupan yang nyata, kita menyatakan corak lain, yakni corak dari sumber yang bukan Kristus. Karena itu, walaupun kita memiliki Kristus dalam roh kita, kita tidak dapat mengekspresikan Allah, karena Kristus terkurung di dalam kita. Setelah masuk ke dalam kita, Ia lalu tertawan di dalam kita, sebab Ia tidak memiliki kebebasan untuk berkembang dari dalam roh kita.

MAKNA HUKUM HAYAT

Ini sekali lagi membawa kita ke hukum hayat. Pada berita-berita di depan telah kita tegaskan bahwa hukum hayat adalah Kristus itu sendiri. Kristus yang diam di dalam roh kita adalah hayat kita. Apakah arti hukum hayat? Hukum hayat adalah hayat yang berfungsi. Suatu hukum ialah suatu peraturan yang tidak berubah dan yang otomatis. Kapan saja Anda melempar suatu benda ke angkasa, pasti ia jatuh ke bawah. Inilah hukum gravitasi, hukum yang tidak berubah dan yang otomatis.

Setiap hayat memiliki hukumnya masing-masing. Saya sering memakai perumpamaan tentang pohon persik. Kalau di halaman belakang rumah Anda ada sebatang pohon persik, Anda tidak perlu khawatir ia akan menghasilkan buah semangka, juga tidak perlu berkata, “Aku suka dengan bentuk dan keindahan buah persik, aku tidak menghendaki pohon ini menghasilkan buah semangka. Karena aku khawatir kalau-kalau buah pohon ini tidak berbentuk persik, maka akan kubuatkan beberapa cetakan persik, dan menggantungnya di dahan-dahan pohon, lalu memerintahkannya untuk berbuah menurut contoh itu, jangan mengubah bentuknya.” Perbuatan yang demikian tentu sangat menggelikan. Namun itulah yang sesungguhnya dilakukan kekristenan dewasa ini. Para pendeta dan pengajar kekristenan tertentu membuat beberapa cetakan, lalu menaruhnya di atas anggota mereka dan menyuruh mereka hidup menurut cara tersebut. Itu sungguh perbuatan yang bodoh. Kalau Anda berbuat demikian atas pohon persik, dan seandainya ia dapat berbicara, ia pasti berkata, “Singkirkanlah cetakanmu dari dahanku. Aku tidak perlu peraturan luaran yang mana pun, aku sendiri mempunyai satu peraturan yang hidup, yang olehnya aku dapat bertumbuh dan menghasilkan buah persik. Hayatku ini akan membuat bentuk buah persik.” Inilah hukum. Pohon persik setiap tahun pasti menghasilkan buah yang berbentuk persik. Demikian pula pohon apel. Hayat apel memiliki hukum apel. Ketika pohon apel bertumbuh, dengan spontan ia akan menghasilkan buah yang berbentuk apel. Inilah akibat dari peraturan hukum dalam hayat pohon apel. Tetapi masalah ini tidak terdapat dalam kalangan kekristenan dewasa ini.

TIDAK PERLU PENGAJARAN

Baik dalam Yeremia 31:33-34 atau Ibrani 8:10-11 kita diberi tahu bahwa kita tidak perlu diajar oleh siapa pun. Kalau Anda mencoba mengajar sebatang pohon persik untuk menghasilkan buah persik, ia akan berkata, “Tidak ada orang yang setolol Anda. Bagaimana Anda dapat mengajar aku? Lagi pula aku tidak perlu pengajaran Anda.” Sejak saya datang ke negara ini, khususnya pada dua tahun pertama, ke mana saja saya pergi, saya selalu memberi tahu orang bahwa mereka tidak perlu diajar. Saya berkata, “Kalian tidak perlu pengajaran, sebab di dalam kalian ada hayat, dan hayat itu tidak usah diajar.” Coba katakan, siapakah yang mengajar Anda bernafas? Tidak ada seorang ibu pun yang mengajar anak-anaknya bernafas, sebab bernafas adalah perkara hayat. Demikian juga, tidak ada seorang pun yang menyuruh sebatang pohon apel menghasilkan buah apel, sebab menghasilkan apel adalah fungsi hayat pohon apel. Ketika pohon apel berfungsi, buah apel dihasilkan. Selama dua tahun pertama di negeri ini, ke mana saja saya pergi, saya berbeban memberi tahu orang bahwa mereka harus membuang ajaran-ajaran mereka dan membiarkan hayat bekerja. Namun di setiap tempat saya selalu ditolak, tanpa suatu tempat yang terkecuali. Banyak yang datang kepada saya dengan membawa Alkitabnya dan berkata kepada saya, “Saudara Witness Lee, dalam berita Anda, Anda selalu mengatakan kita tidak perlu ajaran apa pun, tetapi bukankah kata ajaran justru terdapat dalam Alkitab?” Saya tidak mau berbantah-bantah dengan mereka, saya hanya berkata, “Kalau kalian menyukai ajaran itu, terserah kalian. Tetapi aku tidak suka ajaran, aku suka hayat. Puji Tuhan, aku memiliki hayat, dan hayat sedang bertumbuh di dalamku. Kalau kalian menyukai ajaran, carilah dalam huruf-huruf yang mati.” Di beberapa tempat, saya bahkan berani berkata kepada orang, “Kalian sungguh mati dan beku. Kalian terbunuh oleh ajaran. Karena ajaran meluapi kalian, maka kalian mati.”

SATU HUKUM MENJADI BEBERAPA HUKUM

Kita telah nampak bahwa Kristus ada di dalam kita. Kristus ini adalah hayat, dan hayat ini memiliki hukumnya. Jadi, di dalam kita ada Kristus, hayat, dan hukum. Kristus yang tinggal di dalam roh kita adalah hayat, dan hayat ini mempunyai satu hukum. Dalam Yeremia 31:33 Tuhan berkata, “Aku akan menaruh Taurat-Ku dalam batin (setiap bagian dalam batin Tl.) mereka dan menuliskannya dalam hati mereka.” Tetapi dalam Ibrani 8:10 yang mengutip Yeremia 31:33 dikatakan, “Aku akan menaruh hukum-hukumKu dalam pikiran mereka dan menulisnya dalam hati mereka”(Tl.). Perhatikan, hukum dalam Yeremia 31:33 menjadi hukum-hukum dalam Ibrani 8:10. Tidak hanya demikian, dalam 8:10 kata “pikiran” telah dipakai sebagai pengganti kata “setiap bagian dalam batin”. Ini menunjukkan bahwa pikiran adalah salah satu bagian batin. Bagian batin sedikitnya mencakup pikiran, emosi, dan tekad. Apa sebabnya terjadi perubahan demikian? Yeremia 31:33 dan Ibrani 8:10 mengatakan Allah menaruh hukum atau hukum-hukum-Nya ke berbagai bagian batin kita, atau pikiran kita, dan menuliskan hukum atau hukum-hukum-Nya dalam hati kita. Hati tersusun dari pikiran, emosi, tekad, dan hati nurani. Ibrani 8:10 tidak mengatakan Allah menaruh hukum-hukum-Nya dalam hati kita dan menuliskannya dalam pikiran kita. Tidak, melainkan Allah menaruh hukum-hukumNya ke dalam pikiran kita dan menuliskannya dalam hati kita. Ini berarti Kristus pertama-tama masuk ke dalam roh kita. Kristus ini adalah hukum yang harus berkembang ke dalam pikiran kita. Perkembangan hukum yang tinggal di batin kita ke dalam pikiran kita adalah ditaruhnya hukum tersebut ke dalam setiap bagian batin kita. Hukum ini juga harus berkembang ke dalam emosi dan tekad kita. Melalui berkembang ke dalam setiap bagian batin kita, maka hukum yang satu ini menjadi beberapa hukum. Setiap kali kita memberi kesempatan kepada hukum ini, ia akan berkembang di dalam kita. Perkembangan ini adalah menaruh; dan menaruh berarti menuliskan. Dengan demikian Tuhan menaruh hukum-Nya ke dalam setiap bagian batin kita dan menuliskannya dalam hati kita. Ketika Tuhan terus berkembang, menaruh, dan menuliskan, maka gambar Kristus akan diekspresikan dalam jiwa kita, dan kita akan diserupakan dengan gambar Putra sulung Allah.

JALAN UNTUK DIUBAH DAN DISERUPAKAN

DENGAN GAMBAR PUTRA SULUNG ALLAH

Kini kita tahu jawaban apa yang harus kita berikan ketika ditanya apakah kita serupa dengan Putra Allah. Kita harus mengatakan demikian: “Putra Allah berada dalam rohku, tetapi pikiran, emosi, dan tekadku belum diserupakan dengan Putra Allah. Walaupun pikiran, emosi, dan tekadku belum diserupakan dengan gambar-Nya, namun aku bersyukur kepada Allah, karena aku kini berada dalam proses penyerupaan. Ketika hukum yang unik itu berkembang ke dalam pikiranku, pikiranku diubah dan diserupakan dengan Dia. Lagi pula, Ia akan berkembang ke dalam emosi dan tekadku, membuat emosi dan tekadku serupa dengan emosi dan tekad-Nya. Pada akhirnya, seluruh diriku akan menjadi serupa dengan Dia. Dengan demikian, aku akan menjadi gambar Allah.”

Begitu kita nampak visi ini, kita akan membenci ajaran-ajaran yang agamis. Jangan lagi mengajar saya berbuat begini dan berbuat begitu. Saya tidak peduli dengan ajaran-ajaran itu. Saya hanya tahu Yesus Kristus, Putra sulung Allah dalam roh saya, yang setiap kesempatan menunggu untuk mengembangkan diri-Nya ke dalam pikiran, emosi, dan tekad saya. Saya hanya mau sederhana, senantiasa terbuka kepada-Nya dan tidak berencana melakukan sesuatu. Saya hanya membuka diri saya dan berkata, “Tuhan Yesus, kembangkanlah diri-Mu ke dalam pikiran, emosi, dan tekadku. Tuhan, biarkanlah hukum yang unik itu menjadi hukum-hukum dalam setiap bagian batinku. Aku ingin Engkau berkembang di dalamku, sehingga Engkau menduduki setiap bagian diriku. Aku tidak mau mengasihi, membenci, atau berbuat apa pun. Aku hanya ingin Engkau mengembangkan diri-Mu ke dalamku.” Dengan cara inilah kita akan diubah dan diserupakan dengan gambar Putra sulung Allah. Inilah yang hendak dilakukan Allah, ini pun pekerjaan yang sedang Ia lakukan di dalam kita hari ini. Hal ini mutlak berbeda dengan ajaran agama, sebab ini adalah pekerjaan hayat. Hayat ini ialah Kristus sendiri beserta hukum yang bekerja di dalam kita, mengatur kita, menguasai kita, dan mengembangkan diri-Nya ke setiap bagian batin kita.

Betapa perlunya kita nampak visi ini, dan mengosongkan diri kita dari setiap konsepsi agama. Saya ingin membuang semua ajaran, dan hanya mengasihi Kristus yang hidup yang ada di dalam saya, sebagai hayat saya dan sebagai hukum yang unik yang mengembangkan diri-Nya ke dalam diri saya. Saya tidak peduli terhadap mengasihi atau membenci, menjadi baik atau buruk, saya tidak peduli segala yang agamis. Saya hanya mempedulikan Kristus yang hidup yang ada dalam roh saya. Terpujilah Dia, karena kini Dia ada dalam roh kita! Sekarang Dia sedang menunggu kesempatan untuk masuk ke dalam pikiran, emosi, dan te-kad kita, agar Ia dapat memenuhi diri kita dengan unsur-Nya, memungkinkan Dia menjadi unsur manusia kita. Dengan jalan inilah Allah membuat kita serupa dengan Dia. Bahkan boleh kita katakan, Allah sedang membuat diri-Nya menjadi diri kita. Inilah operasi hukum hayat. Inilah ekonomi Allah dan juga konsepsi dasar wahyu ilahi dalam Alkitab. Semoga Tuhan merahmati kita, supaya kita dapat nampak visi ini.

JALAN KRISTUS

BERKEMBANG DI DALAM KITA

Bagaimana Kristus dapat berkembang di dalam kita? Hanya melalui memakan Dia sebagai manna yang tersembunyi. Manna yang tersembunyi yang kita makan akan menjadi unsur yang bertunas di dalam kita. Ketika unsur ini bertunas dari bagian kita yang terdalam, ia akan bertunas ke dalam dan melalui pikiran kita. Inilah operasi hukum hayat yang mengubah dan menyerupakan kita dengan gambar Kristus, sehingga kita semua menjadi ekspresi-Nya yang hidup.