← Daftar isi Ibrani (4) · bab 13/17

DISERUPAKAN DENGAN GAMBAR PUTRA SULUNG MELALUI OPERASI HUKUM HAYAT

PUTRA SULUNG SEBAGAI MODEL

Inti pemikiran seluruh Alkitab terletak pada kehendak Allah yang ingin memperoleh banyak putra menjadi ekspresi-Nya. Untuk mencapai tujuan ini, pertama-tama Allah harus mempunyai satu contoh atau model. Model ini tidak lain ialah Yesus Kristus, Putra Allah. Ketika Kristus datang untuk kali pertama, Ia datang sebagai Putra tunggal Allah yang menjadi manusia sejati di dalam daging. Walaupun Ia adalah manusia sejati dengan sifat insani, Ia tetap sebagai Putra tunggal Allah. Maka sewaktu di bumi, Ia sering menyebut diri-Nya Putra Allah atau Putra Manusia (Yoh. 10:36; 5:25; 1:51; Mat. 8:20). Ketika setan-setan bertemu dengan Tuhan Yesus, mereka menyebut Dia Putra Allah (Mat. 8:29), namun Tuhan melarang mereka menyebut-Nya demikian. Tuhan seolah-olah berkata, “Hai setan-setan pengikut Iblis, kalian harus mengerti Aku sekarang menjadi Putra Manusia. Aku datang menjadi seorang manusia dalam daging, untuk menanggulangi Iblis dan kalian.” Kristus memusnahkan Iblis melalui kematian-Nya di dalam daging (Ibr. 2:14). Maka, yang ditakuti Iblis dan setan-setan ialah Ia menjadi Putra Manusia. Ketika Iblis menggoda Tuhan di padang gurun, ia berkata, “Jika Engkau Anak (Putra) Allah, perintahkanlah supaya batu-batu ini menjadi roti” (Mat. 4:3). Tuhan menjawab, “Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah” (Mat. 4:4). Tuhan seolah-olah berkata, “Iblis, kau harus tahu, Aku di sini sekarang bukan sebagai Putra Allah, melainkan sebagai manusia yang dijanjikan dalam Kitab Kejadian. Aku datang sebgai manusia yang akan meremukkan kepalamu.”

Dalam kekristenan hari ini ada segolongan orang yang disebut kaum modernis. Pada zaman dahulu juga ada golongan itu, yakni orang Saduki. Mereka tidak percaya malaikat, setan, atau kebangkitan (Kis. 23:8). Kaum modernis hari ini juga mengikuti jejak orang Saduki itu. Orang Saduki sama dengan orang Farisi, mengira Tuhan Yesus hanya seorang Yahudi, anak Yusuf dan Maria. Ketika Yesus bertemu dengan orang-orang itu, Ia selalu menegaskan bahwa Ia adalah Putra Allah (Yoh. 5:17-18, 25). Kalau setan-setan merasa takut akan Yesus sebagai Putra Manusia, maka kaum modernis, di bawah hasutan Iblis, menyangkal-Nya sebagai Putra Allah. Begitu setan-setan mengakui Yesus itu Putra Manusia, mereka akan hancur, dan bila seseorang mengakui Yesus itu Putra Allah, ia akan beroleh selamat (Yoh. 20:31). Siapakah sebenarnya Yesus itu? Dialah Putra Allah dan Putra Manusia. Bagi kita, Ia adalah Putra Allah; bagi musuh, Ia adalah Putra Manusia.

Beberapa waktu yang lalu, ada dua orang pemuda, masing-masing berusia 18 dan 21 tahun, menemui saya dan berkata dengan nada membantah, “Yohanes 3:16 mengatakan Yesus ialah Putra tunggal Allah, dan Ibrani 13:8 mengatakan Yesus itu tetap sama, baik kemarin maupun hari ini, dan sampai selama-lamanya. Bagaimana bisa Anda berkata bahwa Putra tunggal menjadi Putra sulung? Ini berarti Yesus berubah, sedangkan Alkitab mengatakan Ia tetap sama baik kemarin, hari ini, dan selama-lamanya.” Sebelum inkarnasi-Nya Kristus adalah Putra tunggal Allah; Ia bukan manusia. Bukankah inkarnasi-Nya merupakan suatu perubahan yang besar? Yohanes 1:14 mengatakan “Firman itu telah menjadi manusia”, ini jelas menunjukkan suatu perubahan. Jika Kristus tidak mengalami perubahan demikian, kita sekarang tetap sebagai orang dosa yang kasihan. Seandainya Ia selamanya hanya menjadi Putra Allah yang bersifat ilahi, tanpa menjadi manusia, bagaimana kita bisa beroleh selamat? Kristus memang telah berubah. Ia berubah dari status Putra Allah menjadi manusia. Perhatikanlah inkarnasi Tuhan. Sebelum inkarnasi-Nya Ia adalah Putra Allah, tidak bersifat insani. Ia sepenuhnya dan mutlak sebagai Putra Allah, hanya bersifat ilahi, tanpa daging dan darah. Tetapi melalui inkarnasi-Nya, Ia telah berubah secara radikal, hanya saja Ia tidak meninggalkan sifat ilahi-Nya. Jadi, di samping Ia mengandung sifat ilahi, Ia pun mengenakan sifat insani. Karena itu, dalam inkarnasi-Nya, Ia memiliki sifat ilahi dan sifat insani. Hari ini banyak orang Kristen hanya menerima ajaran yang menerangkan Yesus adalah Putra tunggal Allah, tidak pernah mengenal bahwa Putra tunggal Allah kini telah menjadi Putra Sulung.

Yohanes 1:14 mengatakan bahwa Firman itu telah menjadi manusia, sedang 1Korintus 15:45 mengatakan Adam yang akhir menjadi Roh pemberi hayat. Di sini, dalam 1Korintus 15:45, terdapat “menjadi” yang lain. Pada awalnya, Kristus adalah Putra Allah. Dalam inkarnasi-Nya, Ia “menjadi” daging, lalu sebagai manusia dalam daging Ia “menjadi” Roh pemberi hayat. Kita percaya Yohanes 1:14 yang mengatakan Firman menjadi manusia (daging), kita pun percaya 1Korintus 15:45 yang mengatakan Adam yang akhir menjadi Roh pemberi hayat. Saya pernah dikecam orang sebagai bidah karena saya mengajarkan bahwa Yesus telah menjadi Roh itu. Menurut ajaran tritunggal mereka yang usang dan tradisional, penentang-penentang itu mengatakan Bapa adalah Bapa, Putra adalah Putra, dan Roh adalah Roh. Tetapi sekarang mereka bingung, sebab 1Korintus 15:45 mengatakan Kristus telah menjadi Roh pemberi hayat. Sebenarnya Roh ada berapa? Satu. Kristus itu Putra atau Roh? Ia adalah Putra juga Roh, pun Manusia. Hal ini tidak berarti ketika Kristus menjadi manusia, Ia tidak lagi menjadi Putra Allah, juga tidak berarti ketika Ia menjadi Roh, Ia tidak lagi sebagai manusia dan Putra Allah. Dia adalah yang almuhit.

Misalkan, Anda ingin memasukkan teh ke dalam segelas air, tentu Anda tidak membuang air dalam gelas itu. Ketika Anda memasukkan susu, Anda tetap memiliki air dan teh. Air, teh, dan susu terbaur sehingga menjadi minuman “teh susu”. Ketika kita meminum minuman ini, kita pun meminum teh dan susu. Minuman ini asalnya hanya segelas air jernih, tetapi kemudian diperkaya dengan unsur teh dan susu. Siapakah Yesus hari ini? Ia adalah Roh pemberi hayat yang meliputi sifat ilahi dan sifat insani. Hari ini Juruselamat kita berbeda dengan sebelum Ia berinkarnasi, pun berbeda dengan ketika Ia ada di bumi. Sebelum inkarnasi-Nya, juga murni bersifat ilahi, tanpa unsur insani. Sewaktu Ia dilahirkan oleh Maria di palungan di Betlehem, Ia telah berbaur dengan sifat insani, dan mengenakan sifat insani. Ketika di bumi, Ia merangkap sifat ilahi maupun insani. Sebagai Putra Allah dan Putra manusia, Ia menjadi Roh pemberi hayat melalui kebangkitan. Hal ini sama sekali tidak berarti bahwa Ia bukan lagi Putra Allah, atau Putra Manusia, melainkan sebagai Putra Allah, Ia telah membawa Putra Manusia ke dalam Roh.

Sewaktu masih muda, saya hanya mendengar orang mengatakan Yesus Kristus adalah Putra Allah. Saya tidak pernah mendengar kalau manusia-Allah yang ajaib ini telah menjadi Roh pemberi hayat melalui kebangkitan-Nya. Saya hanya mendengar Ia telah mati di atas salib karena dosa-dosa kita, bangkit dari kematian, dan naik ke surga, dan di situ Ia duduk sebagai Juruselamat yang hidup, berkuasa, dan dapat menyelamatkan kita dengan sempurna (Ibr. 7:25). Tetapi, sebagai orang muda yang banyak pikiran, saya merasa ragu, bagaimana Yesus dapat menyelamatkan saya dengan sempurna. Saya berkata dalam batin, “Mana mungkin hal itu terjadi? Ia sekarang duduk di takhta di surga, sedangkan aku berada di bumi yang jauh dari Dia. Bagaimana mungkin Ia menyelamatkan aku dengan sempurna?” Walau saya ingin beroleh jawaban atas masalah ini, tetapi saya tidak bisa. Memang tidak dapat diragukan bahwa Yesus sekarang duduk di atas takhta di surga. Lalu bagaimana Ia dapat menyelamatkan kita dengan sempurna? Ia dapat melakukannya karena Ia bukan hanya di surga, tetapi juga di dalam roh kita. Persona ajaib ini ada di surga juga di dalam roh kita pada waktu yang sama. Saya sering menggunakan perumpamaan listrik. Listrik yang kita pakai di rumah kita juga berada di pusat pembangkitnya. Jadi satu listrik yang sama berada di dua tempat dalam waktu yang sama.

Kristus adalah Roh pemberi hayat. Dalam Roh ini terdapat sifat ilahi yang perkasa, yang tidak dapat binasa, juga terdapat sifat insani yang tepat, yang ditinggikan. Tidak ada sifat insani yang lebih benar dan tepat seperti yang dimiliki Yesus. Sifat ilahi yang ajaib dan sifat insani yang ditinggikan ini kini berada dalam Roh, sama halnya dengan teh dan susu ada dalam air. Ketika kita meminum air, kita pun menerima teh dan susu. Demikian pula, ketika kita menyeru nama Tuhan Yesus, yang adalah Roh pemberihayat, kita pun beroleh sifat ilahi dan sifat insani-Nya.

Cara Allah yang pertama ialah memperoleh satu contoh, satu model. Model ini ialah Allah Putra yang datang menjadi manusia. Manusia yang adalah perwujudan Allah ini hidup di bumi selama tiga puluh tiga setengah tahun, merasakan dan mengalami semua penderitaan hidup sebagai manusia. Kemudian Ia mati di atas salib. Melalui kematian-Nya, ciptaan lama telah diakhiri, masalah dosa telah dibereskan, dan semua musuh Allah telah dihancurkan. Kematian-Nya di atas salib merupakan kematian yang almuhit yang menggenapkan segala sesuatu bagi ekonomi Allah. Tetapi ini bukan yang terakhir, sebab Ia telah dibangkitkan beserta sifat ilahi dan insani-Nya. Sifat ilahi-Nya telah diekspresikan dan dinyatakan sepenuhnya di dalam kebangkitan-Nya, sedang sifat insani-Nya telah diubah dari bentuk jasmani ke dalam bentuk rohani. Ini suatu perkara yang sangat misterius, dan tidak ada perkataan manusia yang dapat menjelaskannya. Sesudah kebangkitan-Nya, Ia menjadi Persona yang ajaib itu. Saya tidak dapat menjelaskan sepenuhnya setiap aspek dari Persona yang ajaib ini. Hari ini dalam Persona yang ajaib ini, yakni dalam Juruselamat kita, kita memiliki sifat ilahi yang kekal, perkasa, dan tak terbatas; juga memiliki sifat insani yang ditinggikan, diubah; memiliki kehidupan insani yang tepat; memiliki kematian yang almuhit, yang membereskan masalah dosa, yang menaklukkan musuh, dan yang mengakhiri ciptaan lama; dan memiliki kebangkitan. Alangkah kayanya yang kita peroleh di dalam Dia! Hari ini Ia mengekspresikan Allah dalam sifat insani yang tepat. Dosa berada di bawah kaki-Nya, Iblis telah dikalahkan, dan ciptaan lama telah diakhiri. Inilah contoh model dari ekspresi Allah.

TIDAK MUNGKIN MENIRU KRISTUS

Dapatkah Anda meniru Persona yang sedemikian? Membuat teh tiruan saja kita tidak bisa. Kita tidak perlu mencoba membuat teh tiruan, dengan sederhana kita minum saja teh yang sejati. Semua barang tiruan adalah barang palsu. Orang-orang dalam kekristenan diajar untuk meniru Kristus, namun tidak mungkin orang meniru Dia. Kita semua mengenal bunga plastik. Bunga plastik yang meniru bunga sejati mempunyai warna dan bentuk yang mirip. Kali pertama kali bunga itu dibuat orang, saya menyukainya juga. Tetapi tidak lama kemudian saya tidak menyenanginya karena ia tidak memiliki hayat. Manusia dapat meniru, tetapi tidak dapat mencipta. Puji Tuhan, kita tidak dapat meniru Kristus, namun Ia mempunyai cara untuk mereproduksikan diri-Nya di dalam kita.

PERKEMBANGAN MODEL ITU

KE DALAM DIRI KITA

Sebuah perusahaan biasanya terlebih dulu membuat satu model di dalam pabrik, lalu produksi besar-besaran dilakukan menurut model tersebut. Dilihat dari suatu segi, Kristus yang ajaib adalah satu model. Cara Allah ialah menempatkan model ini ke dalam kita. Model yang hidup ini ialah Persona hidup yang mencakup sifat ilahi, sifat insani, kehidupan insani, penyaliban, dan kebangkitan. Model yang ajaib ini, yang tersusun dari unsur-unsur ajaib, telah masuk ke dalam kita. Cara manusia yang agamis adalah memperbaiki atau mengoreksi kita dari luar. Cara Allah ialah memasukkan Kristus ke dalam kita. Siapakah Kristus? Ia adalah Putra Allah, Putra Manusia, dan Roh pemberi hayat. Allah telah meletakkan Persona yang ajaib ini ke dalam inti diri kita. Jika kita menyetujui dan bekerja sama dengan Persona yang ajaib ini, yakni membuka diri kita terhadap-Nya, Ia akan berkembang dari roh kita ke jiwa kita. Ini bukan tiruan (imitasi), melainkan perkembangan model di dalam kita. Inilah yang disebut Alkitab hak keputraan (sonship). Kristus telah masuk ke dalam kita sebagai Putra, menjadi hayat Putra di dalam kita. Menurut Roma 8:15, kita memiliki roh keputraan. Dengan hak keputraan ini kita menjadi putra-putra sejati. Sebenarnya hak keputraan ini adalah model ajaib dari diri-Nya sendiri, yakni Putra sulung Allah. Kita memiliki hayat Putra, Roh Putra dan hak keputraan di dalam kita.

Perhatikanlah kembali perumpamaan teh. Sebungkus teh kita letakkan ke dalam segelas air. Semakin kita mengaduk air itu, ia akan semakin berbaur dengan teh. Teh akan tersebar dalam air dan bercampur dengan air, hingga menjadi air teh. Tidak seorang pun dapat meniru Yesus. Kalau kita bisa meniru Yesus, tentu seekor kera juga bisa meniru seorang anak kecil. Kristus ialah Persona yang demikian ajaib. Bagaimanakah kita bisa meniru-Nya? Ini bukan masalah meniru Yesus, melainkan masalah dipenuhi oleh hak keputraan, seperti air dipenuhi oleh teh. Putra telah masuk ke dalam kita, menjadi hak keputraan kita. Sebagai hak keputraan, Dia memiliki hayat, Roh, kedudukan, dan hak Putra. Hak keputraan ini kini sedang menunggu kerja sama kita agar Ia dapat berkembang dan memenuhi seluruh diri kita.

PUTRA TUNGGAL MENJADI PUTRA SULUNG

Masalah hak keputraan dibahas dalam Surat Ibrani maupun Surat Roma. Dalam Surat Ibrani dikatakan, setelah kedatangan-Nya kali pertama dan melalui kebangkitan, akhirnya Kristus menjadi Putra sulung (1:5-6). Sebelum inkarnasi-Nya, Ia adalah Putra tunggal Allah, namun melalui kebangkitan, Ia dilahirkan menjadi Putra sulung Allah. Pada tahun-tahun yang lampau, ketika saya membaca Mazmur 2:7 saya selalu merasa sulit mengerti. Ayat tersebut mengatakan, “Anak-Ku Engkau! Engkau telah Kuperanakkan pada hari ini.” Ayat ini dikutip dalam kitab Kisah Para Rasul 13:33 dan Ibrani 1:5. Karena tidak paham, saya bertanya-tanya sendiri, “Bukankah Kristus telah menjadi Putra Allah? Kalau Ia sudah menjadi Putra Allah, mengapa Ia harus diperanakkan (dilahirkan) Allah untuk menjadi Putra Allah?” Kemudian, saya nampak bahwa sebelum berinkarnasi, Ia adalah Putra Allah tanpa sifat insani. Tetapi ketika Ia berinkarnasi, Ia mengenakan sifat insani. Unsur ilahi-Nya memang Putra Allah, tetapi unsur insani-Nya bukan. Karena itu, Ia harus melalui kebangkitan, agar unsur insani-Nya juga dilahirkan oleh Allah. Melalui kelahiran ini, Putra tunggal Allah menjadi Putra sulung. Dengan kata lain, Putra tunggal tidak memiliki sifat insani yang dilahirkan Allah. Ketika Ia menjadi Putra sulung Allah, barulah sifat insani-Nya dilahirkan Allah. Dengan jalan ini Ia menjadi Putra sulung Allah, dan Putra sulung inilah yang menjadi model atau contoh. Inilah yang dimaksud Kristus menjadi Putra sulung di antara banyak saudara (Rm. 8:29). Putra sulung ialah modelnya, sedang banyak saudara ialah produksi massalnya. Hari ini model ini ialah Persona yang hidup, Tuhan Yesus Kristus, yaitu totalitas keputraan yang ilahi. Ketika Persona hidup ini masuk ke dalam kita, kita pun mendapatkan hak keputraan, menjadi putra-putra Allah. Sekarang kita semua adalah putra-putra Allah, dan Tuhan Yesus sebagai model sedang bekerja dan beroperasi di dalam kita.

MASALAH PENJENUHAN DALAM BATIN

Walaupun kita telah menjadi putra-putra Allah melalui mendapatkan hak keputraan, kita masih belum mirip dengan Putra Allah. Misalkan saya memasukkan sebungkus teh ke dalam sebuah tempayan yang berisi 5 galon air, teh itu mungkin berada di pusat tempayan, tetapi airnya masih belum berwarna teh. Teh itu harus tersebar dan menjenuhi air. Perlahan-lahan seluruh air diresapi oleh teh dan menjadi air teh. Demikian pula, kita telah dilahirkan Allah melalui Kristus masuk ke dalam roh kita. Tetapi setelah Ia masuk, Ia belum mempunyai banyak kesempatan untuk mengembangkan diri-Nya ke dalam kita. Ini bukan masalah perbuatan lahiriah, melainkan masalah penjenuhan dalam batin.

Surat Ibrani menerangkan bahwa Putra tunggal telah menjadi Putra sulung. Putra sulung ini telah melahirkan kembali banyak putra, dan kini Ia adalah model dalam kesempurnaan, kelengkapan dan kemuliaan. Walaupun Ia sempurna dan lengkap, namun kita, putra-putra yang memiliki hak kesulungan dalam batin, masih belum disempurnakan, dilengkapi, dan dimuliakan dalam keputraan ini. Sekarang kita sedang berada dalam proses penyempurnaan, kelengkapan, pengubahan, dan pemuliaan.

KEPUTRAAN DAN PENYERUPAAN

Surat Roma, khususnya pasal 8, membicarakan hal yang sama. Banyak pemimpin Kristen menulis banyak pembahasan tentang Roma 8. Namun mereka terutama menekankan Roh. Mereka sedikit banyak telah mengabaikan hukum hayat dan penyerupaan dengan gambar Putra sulung Allah. Sulit menemukan sebuah buku Kristen yang membahas tentang penyerupaan. Namun, penyerupaan perlu untuk penyempurnaan keputraan, untuk penyempurnaan banyak saudara Putra sulung. Walaupun kita adalah saudara-saudara Putra sulung Allah, kita tidak begitu mirip Dia. Hari ini mungkin kita tidak seperti Dia, tetapi kita dalam proses diserupakan dengan gambar-Nya. Berapa banyak keputraan tergarap ke dalam kita tergantung pada berapa besar kesediaan kita diserupakan dengan gambar Kristus. Ini bukan soal perbuatan di luar, melainkan soal kesediaan kita diserupakan dengan gambar Putra sulung.

KEPUTRAAN DAN KESAKSIAN ROH ITU

Jika kita ingin mengetahui bagaimana kita dapat diserupakan dengan gambar Kristus, kita harus membaca Roma 8 berulang-ulang. Pasal ini merupakan peti harta dalam gudang harta karun. Semua kekayaan terdapat di sini. Dalam pasal ini kita memiliki hukum hayat, keputraan, dan penyerupaan. Ayat 14-16 dengan jelas sekali membicarakan tentang keputraan. Ayat 14 mengatakan, “Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah.” Ayat 15 mengatakan bahwa kita telah menerima roh keputraan sebab “Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita bahwa kita adalah anak-anak (putra-putra) Allah” (ayat 16). Dalam lubuk kita, ada satu kesaksian yang kuat, yang mempersaksikan bahwa kita adalah putra-putra Allah. Banyak di antara kita dapat berkata dengan yakin, “Meskipun aku tahu bahwa aku tidak seperti Kristus, tetapi aku berkeyakinan penuh bahwa aku adalah putra Allah. Aku tidak peduli berapa banyak Anda mengeritik dan meremehkan aku, aku tidak ragu bahwa aku telah dilahirkan oleh Allah.”

Kesaksian ini ada di dalam roh kita, bukan di dalam pikiran kita. Jika Anda berbalik ke pikiran Anda, Anda akan ragu-ragu, dan berkata, “Mungkin aku belum dilahirkan kembali. Kalau aku telah dilahirkan kembali, mengapa aku masih seperti dahulu? Aku masih perlu berkata, ‘O Tuhan, belaskasihanilah aku. Kalau aku belum dilahirkan kembali, lahirkanlah aku kembali sekarang juga.’” Dahulu, saya juga pernah berbuat demikian. Tetapi ketika kita sedang bimbang di dalam pikiran, justru di lubuk roh kita ada kesaksian yang meyakinkan bahwa kita dilahirkan oleh Allah. Ini bukan pengajaran, melainkan pengalaman kita. Siapa saja yang pernah menyeru nama Tuhan Yesus, ia telah dilahirkan kembali, dan roh keputraan itu, yakni Kristus itu sendiri akan bersaksi dalam rohnya bahwa ia benar-benar putra Allah. Betapapun buruknya kita, dan betapapun gagalnya kita dalam hidup kekristenan kita, kita tetap memiliki kesaksian ini dalam roh kita, bahwa kita adalah putra-putra Allah. Ini adalah fakta, dan tak seorang pun dapat membantahnya. Dilahirkan kembali sekali-kali bukan hal yang sepele.

JALAN UNTUK DISERUPAKAN

DENGAN GAMBAR PUTRA SULUNG

Namun, kita tidak seharusnya berhenti pada fakta dilahirkan kembali. Roma 8:2 menyebut masalah hukum Roh hayat, ayat 14-16 mengatakan tentang hak keputraan, dan masalah penyerupaan dalam ayat 29. Sekarang kita berada dalam proses diserupakan dengan gambar Putra sulung Allah. Bagaimana kita dapat diserupakan? Jalannya terdapat dalam Roma 8:6, yakni melalui meletakkan pikiran di atas roh. Meletakkan pikiran di atas Roh adalah hayat. Apa pun yang kita lakukan dan katakan, kita harus memastikan bahwa pikiran kita berada di atas roh kita. Bila pikiran kita terpisah dari roh, kita akan seperti perabot listrik yang terputus dari aliran listrik. Kalau kita merasa pikiran kita tidak berada di atas roh, kita harus berhenti dan menyeru nama Tuhan Yesus. Banyak di antara kita bisa bersaksi, setelah menyeru nama Tuhan Yesus, kita sungguh merasakan bahwa pikiran kita sekali lagi berada di atas roh kita. Walaupun hal ini sangat sederhana, namun sangat serius.

Saya ingin bertanya kepada saudari-saudari tentang pengalaman mereka ketika mereka berbelanja. Sering kali ketika Anda menuju toserba, Anda merasa bahwa pikiran Anda tidak berada di atas roh Anda, tetapi Anda tetap saja membeli sesuatu. Kalau Anda meninjau kembali pengalaman Anda, Anda akan menyadari bahwa pikiran Anda sepenuhnya keluar dari roh Anda. Kalau ketika Anda ingin berbelanja Anda merasa pikiran Anda berada di atas roh, Anda boleh pergi. Akan tetapi, bila tidak berada di atas roh, Anda seharusnya berhenti. Inilah arti yang sebenarnya dari apa yang disebut hidup dan berperilaku (bertindak) menurut roh.

BERTINDAK MENURUT

PERASAAN HAYAT DALAM BATIN

Hari ini Roh itu tidak jauh di surga; Ia justru berada dalam diri kita. Roma 8:6 menunjukkan bahwa Roh itu di dalam roh kita dapat kita rasakan. Bagaimana kita mengetahui kalau meletakkan pikiran di atas daging itu maut? Kita mengetahuinya melalui perasaan dalam batin. Di batin kita yang terdalam, kita merasa telah terputus dari persekutuan, dan kita seolah mati. Perasaan demikian ada dalam batin kita, tidak usah diberi tahu oleh siapa pun; kita dapat merasakannya sendiri. Boleh jadi seorang saudara berkata kepada istrinya, “Ketika aku cekcok denganmu, aku berada dalam roh, tahu?” Walau mulutnya berkata demikian, tetapi batinnya merasa bahwa ia tidak meletakkan pikirannya di atas roh. Saya tahu benar hal yang demikian, sebab saya sendiri sering mengalaminya. Walau kita bisa mengatakan kepada orang lain bahwa kita benar, tetapi dalam roh kita tahu bahwa kita sudah salah, sebab perasaan hayat tidak memihak kita, dan tidak membenarkan perbuatan kita. Menurut perasaan batin kita, kita telah terputus dari persekutuan dengan Allah. Ini merupakan lampu merah dalam perjalanan rohani kita. Ketika kita melihat lampu merah menyala, kita harus berhenti. Kita baru boleh maju lagi bila lampu hijau dalam perasaan batin kita sudah menyala. Inilah artinya mengikuti Roh yang di dalam, dan seluruh diri kita hidup, bertindak menurut perasaan hayat dalam batin.

Jalan untuk diserupakan dengan rupa Kristus ialah meletakkan pikiran di atas roh. Pikiran orang yang telah jatuh ialah wakil seluruh dirinya, sebab orang yang demikian melakukan setiap hal menurut pikirannya. Itu sama dengan kaum beriman yang tidak bertindak di dalam roh. Jadi, kalau seluruh pikiran kita ada di atas roh, berarti seluruh diri kita berada di atas roh. Dalam hidup kita sehari-hari, dalam apa adanya kita dan apa yang kita perbuat, kita harus memiliki jaminan bahwa pikiran kita ada di atas roh. Meletakkan pikiran kita, seluruh diri kita di atas roh, adalah hayat. Hal ini adalah menurut operasi hukum hayat.