← Daftar isi Ibrani (4) · bab 8/17

MENIKMATI MANNA YANG TERSEMBUNYI DI HADAPAN ALLAH JARAK ANTARA KITA DENGAN TUHAN

Dalam berita ini kita akan melihat beberapa prinsip tentang makanan rohani. Masalah memakan makanan rohani sepenuhnya tergantung pada jarak antara kita dengan Tuhan. Jarak inilah yang menentukan berapa banyak makanan rohani yang bisa kita makan. Kalau kita berada jauh sekali dari Tuhan, kita tidak bisa memakan makanan rohani apa pun. Ketika bani Israel berada di Mesir, mereka tidak bisa memakan manna, sebab manna adalah makanan rohani bagi umat Allah di padang gurun. Orang-orang yang berada di padang gurun lebih dekat kepada Allah daripada mereka yang tinggal di Mesir. Pada waktu itu, Allah tidak berada di Mesir, melainkan di padang gurun. Kalau ada orang ingin memakan makanan rohani, manna surgawi, ia harus meninggalkan Mesir dan pergi ke padang gurun. Selama bani Israel berada di Mesir, mereka tidak memiliki makanan rohani. Walaupun seorang Israel sudah berada di padang gurun, ia masih harus berada dekat perkemahan orang Israel, barulah bisa mendapatkan manna. Jika ia berada jauh dari perkemahan, tentu ia sulit untuk menikmati manna surgawi tersebut. Siapa yang ingin memakan manna, wajiblah berkemah bersama bani Israel. Dari hal ini kita nampak betapa pentingnya masalah jarak antara kita dengan Tuhan dalam menikmati makanan rohani.

Manna turun di sekitar perkemahan, dan hanya mereka yang telah keluar dari Mesir serta berkemah bersama umat Allah baru mempunyai hak menikmatinya. Setelah bani Israel menikmati manna, Allah lalu memerintahkan mereka mempersembahkan segomer manna itu kepada-Nya (Kel. 16:33). Manna telah turun dari Allah kepada mereka, kemudian mereka mempersembahkan kembali sebagian dari manna itu kepada Allah. Apakah manna yang tersembunyi? Manna yang tersembunyi tidak lain adalah bagian manna yang terbaik yang diberikan oleh Allah dan yang kemudian dipersembahkan kembali kepada Allah. Itulah bagian manna yang khusus. Begitu manna ini dipersembahkan kepada Allah, ia bukan lagi manna yang terbuka, tetapi telah menjadi manna yang tersembunyi; sebab setelah di persembahkan kepada Allah, manna ini ditaruh dalam sebuah buli-buli emas dan ditempatkan di dalam tabut di tempat maha kudus dalam Kemah Pertemuan. Pada awalnya manna berada di bawah langit di tempat terbuka, ia terbuka bagi segala benda maupun manusia. Tetapi setelah bagian yang top ini dipersembahkan kepada Allah, dan ditaruh dalam buli-buli, ia tersembunyi dalam bagian yang terdalam dari Kemah Pertemuan, yakni di tempat maha kudus, di mana ia ditempatkan di depan kesaksian Allah. Di tengah-tengah bani Israel ada Kemah Pertemuan, di dalam Kemah Pertemuan ada tempat maha kudus, di tempat maha kudus ada tabut, di dalam tabut ada buli-buli emas, dan di dalam buli-buli emas ada manna. Jadi, manna benar-benar tersembunyi. Dengan demikian, bagian manna yang top ini menjadi manna yang tersembunyi.

Andaikata Anda seorang Israel yang telah keluar dari Mesir dan berkemah bersama umat Allah, Anda akan ber-hak memakan manna yang terbuka, tetapi Anda tidak berhak menikmati manna yang tersembunyi. Karena Anda jauh dari bilik terdalam Kemah Pertemuan, maka Anda tidak berhak menikmati manna yang tersembunyi. Di manakah Allah? Ia berada di tempat maha kudus, yakni di bilik terdalam dari Kemah Pertemuan. Kalau dibandingkan dengan orang-orang Mesir dan orang-orang lain di padang gurun, memang Anda lebih dekat dengan Allah. Namun karena Anda berada di luar pelataran luar Kemah Pertemuan, Anda masih belum begitu dekat dengan Dia. Walau kemudian Anda datang ke pelataran luar, Anda masih belum dapat masuk ke dalam tempat kudus, lebih-lebih ke dalam tempat maha kudus. Kalau Anda seorang imam, Anda akan berada dalam tempat kudus dan lebih dekat kepada Allah daripada orang-orang Lewi yang melayani di pelataran luar. Akan tetapi, kalaupun Anda menjadi imam yang melayani di tempat kudus, Anda belum lagi berada di tempat maha kudus. Sebab itu, masih ada suatu jarak antara Anda dengan Allah. Jika Anda ingin menikmati manna yang tersembunyi, harus tidak ada jarak antara Anda dengan Allah. Semua jarak antara Anda dengan Allah harus dilenyapkan.

Dalam berita ini saya tidak bermaksud menjelaskan apakah manna yang tersembunyi itu. Sebab semakin dijelaskan, Anda akan semakin bingung. Namun saya ingin mengajukan sebuah pertanyaan: Seberapa dekat Anda dengan Tuhan? Apakah masih ada suatu jarak antara Anda dengan Dia? Jika masih ada, Anda hanya bisa menikmati manna yang terbuka, tidak bisa memakan manna yang tersembunyi. Kalau kita ingin memakan manna yang tersembunyi, antara kita dengan Tuhan haruslah tidak ada jarak. Masalah jarak ini benar-benar menyingkapkan keadaan kita. Walaupun kita tidak mengerti apakah manna yang tersembunyi itu, tetapi kita mengetahui seberapa jauh kita dengan Tuhan. Di manakah Anda berada? Apakah Anda masih berada di Mesir? Apakah Anda berada di padang gurun atau di jalan yang berhadapan dengan Kemah Pertemuan? Apakah Anda berada di pelataran luar, di tempat kudus, atau di tempat maha kudus? Kalau kita jujur, beberapa orang akan mengaku bahwa dirinya berada di pelataran luar hidup gereja. Dalam hidup gereja pun ada tiga bagian: bagian pelataran luar, bagian tempat kudus, dan bagian tempat maha kudus. Bahkan di tempat kudus pun ada beberapa bagian yang kecil. Jika Anda berada di pelataran luar atau di tempat kudus hidup gereja, Anda tidak bisa menjamah manna yang tersembunyi. Anda hanya bisa memakan kurban-kurban di mezbah atau roti sajian di atas meja. Anda tetap tidak berada dalam tempat di mana manna yang tersembunyi itu berada.

Setelah bani Israel masuk ke tanah permai, mereka memakan hasil tanah permai itu. Kitab Perjanjian Lama menjelaskan kepada kita bahwa seluruh umat Israel yang berada di tanah permai bisa mengambil bagian atas hasil tanah itu setiap waktu. Tetapi siapa saja yang berada di luar batas tanah itu, tidak berhak menikmati hasil tanah itu. Di sini kita sekali lagi nampak masalah jarak. Ketika bani Israel makan bersama dalam perayaan yang diadakan tiga kali dalam setahun, mereka tidak memakan hasil yang biasa, melainkan memakan bagian yang khusus disimpan bagi hari raya itu. Di waktu-waktu biasa, orang-orang Israel menikmati bagian yang biasa, tetapi pada saat perayaan, mereka menikmati bagian yang khusus, yakni bagian sepersepuluh yang terbaik, sebab mereka lebih dekat dengan Allah; mereka datang dan berhimpun di sekitar tempat kediaman Allah, di mana mereka menikmati bagian hasil yang top dari tanah itu yang telah dipersembahkan kepada Allah (Ul. 12:17-18; 14:22-23). Sepersepuluh lainnya dari hasil mereka diberikan kepada para imam dan orang-orang Lewi yang melayani di pelataran luar dan di tempat kudus. Mereka itu lebih dekat dengan Allah daripada kebanyakan umat Allah. Maka bila seorang Israel semakin dekat dengan Allah, ia akan menikmati makanan rohani yang semakin baik. Menurut Bilangan 18:26-28, setelah para imam dan orang Lewi menerima bagian persepuluhan itu, mereka lalu mempersembahkan sepersepuluh dari persepuluhan itu kepada Tuhan. Bagian yang top yang telah dipersembahkan kepada Allah sebagai kurban unjukan inilah yang kemudian diberikan kepada Imam Besar yang melayani Allah di tempat maha kudus. Karena Imam Besar paling dekat dengan Allah, maka ia berhak menikmati bagian hasil tanah permai yang paling top itu.

Kalau kita ingin mendapatkan perawatan Allah, kita harus berada dalam ruang lingkup di mana Ia merawat umat-Nya. Jika tidak, kita tidak bisa menikmati makanan rohani apa pun. Jika kita tinggal dalam ruang lingkup ini, kita pasti berhak menikmati makanan rohani. Namun, jika kita hanya dekat pada perbatasan ruang lingkup ini, hanya bagian yang biasalah yang akan kita miliki. Jika kita datang ke pusatnya, yaitu ke hadapan Allah, kita akan menikmati bagian makanan rohani yang lebih baik. Kalau saya seorang Israel yang berada di tanah permai, saya berhak menikmati bagian biasa dari hasil tanah itu. Tetapi kalau saya mencari Allah, yaitu pergi ke Bait Allah pada saat perayaan tahunan, saya akan lebih dekat dengan Tuhan, dan akan berhak menikmati sesuatu yang lebih baik tiga kali setiap tahun. Itu bukan bagian yang biasa, melainkan bagian yang istimewa dari hasil tanah tersebut. Kalau saya adalah seorang Lewi yang berada di pelataran luar, atau seorang imam di tempat kudus, saya dapat menikmati bagian hasil tanah itu yang lebih baik setiap hari. Jika saya adalah Imam Besar yang melayani di hadirat Allah, karena begitu dekat dengan Allah, maka saya berhak menikmati bagian yang terbaik, yaitu bagian yang paling top dari hasil tanah permai. Jadi, bagian makanan rohani kita tergantung pada jarak di antara kita dengan Tuhan.

MANNA YANG TERSEMBUNYI

DIJANJIKAN KEPADA PARA PEMENANG

Mungkin ada orang akan mengatakan bahwa manna yang tersembunyi itu hanya disimpan sebagai suatu peringatan, tidak untuk dimakan. Kalau tidak ada Wahyu 2:17, pendapat itu bisa diterima. Akan tetapi dalam ayat tersebut Tuhan berjanji bahwa segomer manna yang disimpan di hadirat Allah sebagai peringatan itu akan diberikan kepada para pemenang untuk dimakan. Ini bukan dijanjikan kepada orang Kristen yang duniawi, yaitu mereka yang sudah beroleh selamat, namun masih tinggal di Mesir, juga bukan bagi mereka yang mengembara di padang gurun, melainkan kepada para pemenang dalam gereja di Pergamus. Gereja di Pergamus telah menikah dengan dunia. Itulah suatu gereja yang telah kembali ke Mesir, dan membuat rumah Allah lebih duniawi daripada rumah orang Mesir. Janji untuk makan manna yang tersembunyi ini diberikan kepada para pemenang yang berada dalam gereja yang sedemikian duniawi itu. Hal ini berarti kalau kita dapat mengalahkan keduniawian, kita akan berada di hadirat Allah, dan berhak makan manna yang tersembunyi. Manna ini telah tersembunyi berabad-abad lamanya, tetapi kini Tuhan seolah-olah berkata, “Karena kamu membenci dunia ini, membenci situasi yang duniawi, membenci gereja yang duniawi, serta membenci hubungan duniawi antara gereja dengan dunia, dan karena kamu begitu dekat dengan-Ku, maka Aku akan memberimu makan dari manna yang tersembunyi, yang tersimpan di hadirat-Ku ini.” Sebelum Tuhan mengatakan janji ini kepada para pemenang dalam Wahyu 2:17, Ia berkata, “Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat.” Semoga kita semua bertelinga mendengarkan kata-kata ini.

Kristus telah dikaruniakan dari surga sebagai manna yang terbuka lebih dari dua puluh abad lamanya. Tetapi, dalam ekonomi-Nya, Allah tetap menyimpan bagian yang istimewa dari Kristus ini di hadirat-Nya, dan siapa saja yang masih mempunyai suatu jarak di antara dirinya dengan Allah, tidak berhak memakannya. Banyak orang Kristen telah menikmati Kristus sebagai manna mereka yang terbuka. Bila Anda membaca sejarah atau biografi orang kudus, Anda akan nampak bahwa mereka kebanyakan telah menikmati Kristus sebagai manna yang terbuka. Namun bagian Kristus yang terbaik itu tetap tersimpan di hadirat Allah dan masih di situ hingga sekarang, disediakan bagi mereka yang tidak mau mengikuti gereja ketika gereja itu menjadi duniawi dan kawin dengan dunia. Dalam pandangan Allah, gereja yang telah merosot telah melakukan pernikahan rohani dengan dunia. Kristus seharusnya menjadi suami gereja, tetapi hari ini gereja telah menikah dengan dunia, tidak menganggap Kristus sebagai suaminya. Maka kepada kaum saleh terkasih yang tidak menyetujui pernikahan tersebut, dan yang tetap tinggal dengan ketat di hadirat Allah, Tuhan berjanji akan memberi mereka hak untuk memakan bagian Kristus yang tersimpan di hadirat Allah itu. Inilah manna yang tersembunyi.

MELAYANI TUHAN DI HADIRATNYA

Dalam sebuah buku kecil yang berjudul “Melayani Bait atau Melayani Allah”, saudara Watchman Nee menganjuri kita melayani Allah, jangan melayani apa-apa yang baik yang bukan Allah. Tetapi lihatlah situasi orang Kristen ha-ri ini, hampir setiap orang Kristen melayani sesuatu yang bukan diri Allah sendiri. Mereka bekerja di bidang misi, memberitakan Injil, mencari jiwa, dan mengajarkan Alkitab. Banyak pekerjaan seperti itu yang ditujukan kepada Allah, tetapi bukan diri Allah sendiri. Semua yang melakukan pekerjaan seperti itu berhak menikmati Kristus yang terbuka, manna yang terbuka. Tetapi masih ada bagian Kristus yang terbaik yang tersimpan dalam hadirat Allah, yang tersimpan khusus bagi mereka yang tidak melayani apa pun kecuali diri Allah sendiri. Hari ini kita berada dalam situasi seperti gereja di Pergamus. Kekristenan telah meninggalkan hadirat Allah. Jangankan kekristenan yang telah menyeleweng, bahkan yang disebut kekristenan fundamental pun telah jauh dari hadirat Allah. Memang kekristenan telah berbuat banyak bagi Allah, tetapi semuanya itu bukanlah diri Allah sendiri. Maka, ada bagian Kristus yang istimewa yang tersimpan di hadapan Allah bagi mereka yang mengatasi situasi gereja di Pergamus itu. Mengatasi kondisi gereja di Pergamus berarti memisahkan diri Anda dari praktek-praktek umum kekristenan hari ini dan tetap berada di hadirat Allah langsung hanya melayani Dia, tidak melayani yang lainnya. Di sini kita akan menikmati manna yang tersembunyi, yaitu bagian Kristus yang istimewa. Di sini kita menikmati sesuatu yang berasal dari Kristus, yang tidak dapat dikecap oleh mereka yang jauh dari hadirat-Nya.

Perhatikanlah pelayanan di sekitar Kemah Pertemuan dalam Perjanjian Lama. Orang-orang Lewi melayani di pelataran luar, para imam melayani di pelataran luar dan di tempat kudus, di mana mereka menata roti sajian, menyalakan pelita, dan membakar ukupan. Tetapi ketika Imam Besar masuk ke tempat maha kudus, di situ hampir tidak ada pekerjaan apa-apa yang dilakukan. Di tempat maha kudus Imam Besar melayani secara langsung di hadirat Allah. Di tempat maha kudus ini sang pelayan menikmati manna yang tersembunyi. Apakah manna yang tersembunyi itu? Itulah bagian Kristus yang kita nikmati di hadirat Allah ketika di antara kita dengan Dia tidak ada jarak.

Sebagaimana kita semua dapat bersaksi, sering kali kita tahu bahwa diri kita tidak begitu dekat dengan Tuhan. Tetapi, walaupun di antara kita dengan Tuhan terdapat suatu jarak, kita masih bisa menikmati sesuatu dari Dia. Namun, kita juga merasa bahwa kenikmatan kita terhadap-Nya itu tidak begitu manis. Pada kesempatan lain, kita agak dekat dengan Tuhan, dan kita merasa kenikmatan kita terhadap-Nya lebih manis. Beberapa orang muda mungkin tetap tergoda untuk ke bioskop. Jika seorang saudara muda pergi ke bioskop, di satu pihak mungkin ia tetap bisa menikmati Kristus di situ, tetapi ketika ia menonton, Kristus mungkin akan mengganggunya dan berkata, “Apakah yang kaulakukan di sini? Keluarlah dari sini, dan jangan datang lagi ke sini.” Ini pengalaman apa? Inilah suatu pengalaman terhadap Kristus sebagai bagian yang paling terbuka dari manna yang terbuka. Kadang-kadang ketika suami istri Kristen saling cekcok, mereka masih merasa dapat menikmati Kristus. Tetapi pada saat sang suami mendebat istrinya, Tuhan mungkin berkata kepadanya, “Berhenti! Apa yang kaulakukan di sini? Engkaulah yang memperburuk situasi. Jangan berdebat lagi. Pergilah ke kamarmu, berlutut, dan berdoalah kepada-Ku.” Ini juga suatu kenikmatan terhadap Kristus sebagai manna yang terbuka. Namun di saat-saat lain, ketika di antara kita dengan Tuhan tidak ada jarak, kita dapat menikmati Kristus secara paling intim dan tersembunyi. Inilah kenikmatan atas manna yang tersembunyi, yaitu bagian Kristus yang tersembunyi.

Banyak di antara kita yang dulunya berkecimpung dalam berbagai pekerjaan kekristenan, kemudian beroleh terang, dan nampak bahwa kita tidak seharusnya berpartisipasi lagi dalam pekerjaan semacam itu. Kita lalu meninggalkannya dan menempuh jalan yang sempit. Dari luar mungkin orang akan mengecam kita, “Kalian sedang membunuh diri.” Memang betul, meninggalkan pekerjaan berarti membunuh diri. Tetapi pada saat itu juga, setelah kita untuk diri Tuhan sendiri meletakkan pekerjaan kita, bahkan tidak membiarkan pekerjaan menyelamatkan jiwa atau mengajarkan Alkitab menjadi jarak di antara kita dengan Tuhan, kita segera masuk ke hadirat Tuhan secara langsung dan menikmati manna yang tersembunyi. Mengapa saya tidak dapat melakukan pekerjaan-pekerjaan itu? Karena pekerjaan-pekerjaan itu jauh dari hadirat Allah, bersifat keduniawian, tanda dari gereja yang telah menikah dengan dunia serta penuh dengan keduniawian. Ketika kita menanggalkan pekerjaan itu, bahkan harus mengorbankan hidup kita, barulah kita langsung dibawa ke hadirat Tuhan. Banyak di antara kita mempunyai pengalaman demikian.

Pada tahun 1932, kami mulai mengadakan hidup gereja di kampung halaman saya. Setelah hampir setahun, tentangan-tentangan mulai datang. Asalnya saya sangat dihormati di antara orang Kristen di situ, dan hampir setiap orang menyukai saya. Tetapi karena hidup gereja, sampai-sampai beberapa orang yang akrab dengan saya tidak mau menyapa saya ketika bertemu di jalan. Saya sangat dipersulit oleh semua tentangan dan serangan itu, sehingga mengira mungkin saya telah keliru mengikuti Tuhan dengan cara demikian, dan juga merasa heran mengapa saya diperlakukan demikian buruk oleh anak-anak Allah itu. Namun, ketika saya membawa hal ini ke hadirat Tuhan, saya merasa betapa intim dengan Dia! Saya tidak dapat melukiskan hal ini dengan kata-kata. Mengenang hal itu, saya tahu bahwa itulah kenikmatan atas manna yang tersembunyi.

Manna yang tersembunyi itu sebenarnya sama dengan manna yang terbuka, tetapi berbeda dalam situasinya. Ketika manna berada di tempat terbuka, ialah manna yang terbuka, tetapi ketika ia berada di hadirat Tuhan, tertutup di bawah beberapa lapisan, ia menjadi manna yang tersembunyi. Pada sifat, fungsi, dan setiap aspek lainnya, manna yang tersembunyi sama dengan manna yang terbuka. Tidak ada perbedaan dalam sifat dan fungsi, yang ada ialah perbedaan posisi. Manna yang terbuka itu terbuka kepada umum, sedangkan manna yang tersembunyi itu tertutup. Kita semua harus bertanya kepada diri sendiri, apakah kita ingin mengikuti orang Kristen yang duniawi atau mengikuti Allah? Jika kita ingin mengikuti orang Kristen yang duniawi, kita hanya dapat menikmati manna yang terbuka, yaitu Kristus yang terbuka; tetapi kita tidak mungkin menikmati Kristus yang tersembunyi; sebab Ia selalu tersembunyi di dalam Allah.

Semakin jauh dari Allah, semakin sedikit pelayanan kita kepada-Nya; tetapi semakin dekat dengan-Nya, semakin banyak pelayanan kita bagi-Nya. Pada akhirnya, ketika kita masuk ke dalam tempat maha kudus di hadapan ke muliaan ilahi, segala pelayanan akan berhenti. Di sini kita hanya memiliki penyertaan Tuhan dan menikmati Kristus yang tersembunyi, manna yang tersembunyi. Di sini kita bisa langsung bersekutu dengan Tuhan, mengerti maksud hati-Nya. Di sini kita bisa memperoleh bagian dalam Dia dan kehendak-Nya, dan apa yang dikehendaki-Nya untuk kita lakukan. Demikianlah kita menjadi orang yang mengenal maksud hati dan kehendak-Nya. Ketika kita menjadi orang yang demikian, amanat-Nya akan menjadi amanat kita. Mengapa kita bisa memiliki amanat Allah? Karena kita berada di hadirat-Nya. Bagaimana kita tahu bahwa kita berada di hadirat-Nya? Kita mengetahuinya dari dalam dan demi memahami bahwa di antara kita dengan Allah tidak ada jarak. Kita pun mengetahui hal ini melalui perasaan batin yang terdalam bahwa kita sedang menikmati Kristus yang tersembunyi, sebagai bagian yang top dari hasil tanah permai itu. Inilah manna yang tersembunyi. Terpujilah Tuhan!