← Daftar isi Ibrani (4) · bab 7/17

MANNA DALAM BULI-BULI EMAS

Dalam berita yang lalu kita telah mempunyai pengenalan yang mendasar tentang manna. Dalam berita ini kita akan membahas manna yang tersembunyi, yakni manna yang tersimpan dalam buli-buli emas.

PERINTAH ALLAH TENTANG MANNA

Istilah manna yang tersembunyi dipakai dalam Wahyu 2:17, di sana Tuhan Yesus berfirman, “Siapa yang menang, kepadanya akan Kuberikan dari manna yang tersembunyi.” Kata-kata ini ditujukan kepada gereja di Pergamus yang telah merosot dan menjadi duniawi. Orang yang dapat mengalahkan kekristenan yang telah merosot, akan diberi Tuhan manna yang tersembunyi. Hampir setiap hal yang tercantum dalam Kitab Wahyu, termasuk manna, dapat kita jumpai dalam Perjanjian Lama. Tentang manna, dikatakan dalam Keluaran 16:32-33 “Musa berkata: “Beginilah perintah TUHAN: Ambillah segomer penuh untuk disimpan turun-temurun, supaya keturunan mereka melihat roti yang Kuberi kamu makan di padang gurun, ketika Aku membawa kamu keluar dari tanah Mesir.’ Sebab itu Musa berkata kepada Harun: ‘Ambillah sebuah buli-buli, taruhlah manna di dalamnya segomer penuh, dan tempatkanlah itu di hadapan Tuhan untuk disimpan turun-temurun.’” Tuhan memerintahkan menyimpan segomer manna dalam buli-buli. Segomer ialah sepersepuluh efa (Kel. 16:36). Satu efa ialah satu unit lengkap, jadi segomer berarti sepersepuluh unit itu. Bagian yang kecil ini harus ditaruh dalam buli-buli dan di hadapan tabut hukum (kesaksian) untuk disimpan (Kel. 16:34). Dalam Kitab Keluaran, kesaksian itu ditujukan kepada kedua loh hukum yang ada di dalam tabut. Segomer manna ditempatkan di hadapan kesaksian berarti ia sangat berdekatan dengan tabut itu. Manna bagian inilah yang menjadi manna yang tersembunyi.

Manna turun dari surga, dari Allah, sebagai pemberian kepada umat-Nya; bukan pemberian sementara, melainkan yang bertahan selama empat puluh tahun. Pagi demi pagi, pemberian ini turun dari surga, untuk memberi makan dan memuaskan bani Israel. Setelah mereka makan kenyang, Allah seolah-olah berkata, “Ambillah segomer dari apa yang kalian nikmati dan tempatkanlah di hadapan-Ku sebagai suatu kesaksian dan suatu peringatan, agar generasi yang akan datang mengetahui bahwa kalian pernah menikmati makanan surgawi ini ketika kalian mengembara di padang gurun.” Manna yang terbuka, bagian umat, berasal dari Allah, sedangkan manna yang tersembunyi, bagian Allah, dipersembahkan kembali kepada Allah.

SEPERSEPULUH DARI

HASIL TANAH PERMAI

Sekarang kita perlu membahas masalah sepersepuluh, yakni konsepsi dasar menyisihkan sepersepuluh dari apa yang dihasilkan. Bani Israel diharuskan mengambil sepersepuluh yang terbaik dari hasil tanah permai, yaitu bagian yang terbaik, untuk dipersembahkan kepada Allah (Ul. 14:22-23). Semua hasil tanah permai berasal dari Allah, namun Allah memerintahkan bani Israel agar sepersepuluh dari hasil yang Allah karuniakan itu dipersembahkan kembali kepada-Nya. Bagian terbesar dari hasil itu adalah untuk umat, namun sepersepuluhnya harus dipersembahkan kepada Allah sebagai bagian Allah. Sepersepuluh yang di persembahkan kepada Allah ini diberikan kepada para imam dan orang Lewi (Bil. 18:21). Para imam dan orang Lewi juga harus mengambil sepersepuluh dari persepuluhan itu untuk dipersembahkan kepada Allah. Sepersepuluh dari persepuluhan ini diberikan lagi kepada Imam Besar yang melayani dalam tempat maha kudus (Bil. 18:26, 28-29). Saya ulangi, bani Israel mempersembahkan sepersepuluh dari hasil mereka kepada Allah, menjadi bagian Allah. Setelah persepuluhan itu dipersembahkan kepada Allah, lalu diberikan kepada para pelayan, yaitu para imam dan orang Lewi yang melayani Kemah Pertemuan. Selanjutnya, oleh para imam dan orang Lewi diambil lagi sepersepuluh dari persepuluhan itu untuk dipersembahkan lagi kepada Allah. Bagian itu diberikan kepada Imam Besar yang melayani di tempat maha kudus. Orang-orang Lewi yang melayani di pelataran luar dan para imam yang melayani di pelataran luar dan tempat kudus hanya dapat menikmati sepersepuluh dari yang dipersembahkan oleh bani Israel. Hanya Imam Besar yang melayani di tempat maha kudus baru berhak menikmati sepersepuluh dari persepuluhan itu, yakni bagian yang paling top dari hasil tanah permai. Jadi, semakin kita melayani, kita semakin menikmati bagian yang paling top, yaitu bagian Allah.

MANNA YANG TERSEMBUNYI

ADALAH BAGIAN ALLAH

Ketika bani Israel mengembara di padang gurun, setiap hari Allah mengaruniakan manna dari surga kepada mereka, kecuali hari Sabat. Mereka semua telah menikmati pemberian manna ini. Kemudian seolah-olah Allah berkata, “Ambillah sepersepuluh dari satu efa manna yang Kuberikan, dan taruhlah itu di hadapan kesaksian-Ku.” Bagian ini adalah untuk Allah. Manna yang terbuka adalah bagian umat dan bagian yang dipersembahkan, yang tersembunyi dalam buli-buli di hadapan kesaksian Allah ialah bagian Allah. Prinsip ini sama dengan persembahan hasil tanah itu setelah bani Israel masuk ke tanah permai. Setelah mereka memasuki tanah itu, Allah tidak lagi menurunkan manna dari surga, sebab tanah permai itu dapat menyuplai seluruh keperluan kehidupan mereka. Karena itu, mereka tidak lagi mengumpulkan manna, tetapi menuai hasil tanah permai. Mengenai ini, Allah seolah-olah berkata lagi, “Berilah Aku bagianKu atas sepersepuluh dari seluruh hasil yang kamu tuai.” Bani Israel melakukan hal ini, yakni mempersembahkan sepersepuluh ini kepada para imam dan orang Lewi yang melayani di dalam dan di luar kemah pertemuan. Lalu Allah menyuruh para imam dan orang Lewi mengambil sepersepuluh dari yang mereka terima dan mempersembahkannya kembali kepada Allah. Bagian ini dapat kita sebut bagian yang paling top, kemudian diberikan kepada Imam Besar sebagai bagiannya. Hanya Imam Besar yang melayani dalam tempat maha kudus yang berhak menikmati bagian yang paling top ini.

Berdasarkan prinsip ini, kita nampak bahwa manna yang tersembunyi adalah bagian Allah. Konsepsi dasar tentang manna yang tersembunyi adalah manna itu adalah bagian Allah. Dahulu, setiap kali membaca Keluaran 16:36, saya tidak mengerti. Ayat itu mengatakan, “Adapun segomer ialah sepersepuluh efa.” Saya kira ayat ini tidak perlu, dan heran mengapa Musa menambahkan ayat ini. Saya tidak mengerti makna segomer manna ditempatkan dalam sebuah buli-buli di hadapan kesaksian Allah. Namun baru-baru ini Tuhan menerangi saya, sehingga saya nampak bahwa sepersepuluh itu adalah bagian yang terbaik, yaitu bagian untuk Allah. Manna melambangkan Kristus yang dikaruniakan Allah kepada kita sebagai pemberian. Ketika kita menikmati Kristus sebagai manna, wajiblah kita mengambil bagian yang terbaik dan mempersembahkannya kepada Allah, yaitu mempersembahkan Kristus kepada Allah.

Jika kita ingin memakan manna yang tersembunyi, kita harus terlebih dulu memakan manna yang terbuka. Jika kita tidak mengalami manna yang terbuka, kita juga tidak bisa memiliki manna yang tersembunyi untuk dipersembahkan kepada Allah. Manna yang tersembunyi adalah manna yang kita alami, nikmati, dan yang kemudian kita persembahkan kepada Allah. Akhirnya, karena kita begitu intim dengan Allah, Ia akan berkata, “Mari masuk ke dalam ruang makan-Ku dan bersantap bersama-Ku.” Jangan mengira bahwa Anda bisa secara tiba-tiba menikmati Kristus sebagai manna yang tersembunyi, tanpa pernah menikmati-Nya sebagai manna yang terbuka. Manna yang tersembunyi berasal dari kenikmatan kita atas manna yang terbuka. Kita menikmati manna, dan dari manna yang kita nikmati, kita mempersembahkan sebagian kecil kepada Allah, dan berkata, “Ya Allah, kepada-Mu kupersembahkan Kristus yang telah kunikmati. Engkau telah mengaruniakan Kristus kepadaku sebagai bagianku, kini, bagian-Nya yang terindah kupersembahkan kembali kepada-Mu, sebagai bagian-Mu.” Dengan demikian Allah akan berkata, “Anak-Ku, mari masuk ke dalam tempat maha kudus-Ku, dan nikmatilah bagian ini bersama-Ku.” Inilah manna yang tersembunyi.

Perhatikanlah pengalaman kita. Ketika kita secara umum menikmati Kristus sebagai suplai sehari-hari kita, dengan spontan kita ingin mempersembahkan Kristus yang telah kita nikmati ini kepada Allah, dan berkata, “Ya, Allah, aku bersyukur kepada-Mu karena Kristus yang Kau karuniakan kepadaku. Aku telah banyak menikmati-Nya. Sekarang perkenankanlah aku mempersembahkan bagian-Nya yang terindah bagi-Mu.” Inilah arti segomer manna, yakni bagian manna yang terindah yang kita persembahkan kembali kepada Allah. Bagian ini bukan untuk seluruh umat Allah, melainkan hanya bagi mereka yang melayani-Nya secara intim di tempat maha kudus. Inilah manna yang tersembunyi, yang berasal dari manna yang kita nikmati secara umum.

Sekali lagi saya katakan, Allah telah mengaruniakan Kristus kepada kita sebagai makanan kita. Ketika kita menikmati Dia sebagai makanan; kita pun mempersembahkan-Nya kembali kepada Allah sambil bersyukur. Dengan demikian, Kristus menjadi bagian yang terbaik dari kenikmatan kita, yang kita persembahkan kepada Allah sebagai bagian-Nya. Allah senang dan berkenan menerima bagian ini, Ia akan berkata, “Karena engkau sekarang telah beserta-Ku di tempat maha kudus, tidak melayani-Ku di pelataran luar atau di tempat kudus, maka Aku ingin melayanimu dengan apa yang telah kaupersembahkan kepada-Ku itu. Silakan menikmati bagian Kristus yang terbaik ini bersama-Ku.” Alangkah indahnya hal ini! Hal ini sangat sesuai dengan pengalaman kita, juga dengan seluruh wahyu Alkitab, sesuai pula dengan Wahyu 2:17. Maka menikmati manna yang tersembunyi bukan merupakan pengalaman yang datang secara tiba-tiba, melainkan memiliki suatu sejarah di baliknya.

TERSEMBUNYI DALAM BEBERAPA LAPISAN

Manna yang tersembunyi ini paling sedikit tersembunyi di balik empat lapisan. Di tengah-tengah bani Israel terdapat Kemah Pertemuan, dalam Kemah Pertemuan terdapat tempat maha kudus, dalam tempat maha kudus terdapat tabut, dan dalam tabut terdapat buli-buli emas. Siapa saja yang ingin menikmati manna yang tersembunyi, pertama-tama ia harus berada di antara bani Israel. Kedua, ia harus masuk ke dalam Kemah Pertemuan, lalu harus masuk ke dalam tempat maha kudus; terakhir ia harus masuk ke dalam tabut yang berisi buli-buli emas, yang di dalamnya terdapat manna yang tersembunyi itu.

Jika hal ini kita terapkan dalam situasi kita hari ini, kita nampak bahwa tidak mungkin orang menikmati manna yang tersembunyi di luar hidup gereja. Dalam hidup gereja kita mempunyai berbagai macam kelompok pelayanan, namun kelompok-kelompok pelayanan itu berupa pelayanan orang Lewi yang di pelataran luar. Tetapi melalui pelayanan pelataran luar ini kita masuk ke dalam tempat kudus, dan melalui tempat kudus kita masuk ke tempat maha kudus. Seperti banyak di antara kita dapat bersaksi, sebelum kita memasuki kelompok pelayanan, kita berada di jalan-jalan, belum masuk ke pelataran luar sekalipun. Tetapi ketika kita melayani bersama orang lain, kita akan merasa bahwa kita berada dalam tempat kudus menikmati Kristus. Melalui kenikmatan ini kita masuk pula ke dalam tempat maha kudus, di mana terdapat manna yang tersembunyi.

KETIGA TAHAP MAKAN

DALAM KEMAH PERTEMUAN

Dalam Kemah Pertemuan ada tiga tahap makan: ma-kan kurban persembahan di sekitar mezbah, makan roti sajian di dalam tempat kudus, dan makan manna yang tersembunyi dalam buli-buli emas di tempat maha kudus. Menikmati Kristus di mezbah akan membawa kita masuk ke tempat kudus, di mana kita dapat menikmati-Nya lebih halus. Roti sajian di atas meja tentu lebih halus daripada kurban di atas mezbah. Hal ini bukan hanya doktrin, tetapi dapat kita buktikan dari pengalaman kita. Ketika kita menikmati Kristus sebagai roti sajian, kita lalu mengalami lagi sesuatu yang berbeda, dan berkata, “Aku kini berada dalam tempat maha kudus, dan memakan sesuatu yang tidak pernah kualami sebelumnya.” Inilah manna yang tersembunyi.

KURBAN UNJUKAN

Dalam Perjanjian Lama ada dua kurban yang khusus: Kurban timangan, melambangkan Kristus yang telah bangkit; dan kurban unjukan, melambangkan Kristus yang terangkat dan naik ke surga (Kel. 29:26-28). Sepersepuluh dari persepuluhan yang dipersembahkan kepada Allah untuk Harun, adalah kurban unjukan (Bil. 18:28). Ketika kita mengalami Kristus di pelataran luar dan di tempat yang kudus, kita tidak saja menikmati Kristus sebagai kurban timangan tetapi juga menikmati Kristus sebagai kurban unjukan; tidak saja Kristus yang dibangkitkan, juga Kristus yang terangkat dan ditinggikan. Ini berarti pada akhirnya kita akan berada dalam tempat maha kudus, menikmati bagian Kristus yang khusus, yang tersembunyi di dalam Allah.

TERSEMBUNYI DI DALAM SIFAT ILAHI

Kita telah nampak Wahyu 2:17 mengatakan bahwa Tuhan akan memberi para pemenang manna yang tersembunyi sebagai makanan. Kolose 3:3 mengatakan bahwa hidup kita tersembunyi bersama Kristus di dalam Allah. Kristus tersembunyi di dalam Allah. Manna yang tersem-bunyi yang dikatakan dalam Wahyu 2:17 itu tersembunyi di dalam buli-buli emas (Ibr. 9:4). Dalam Alkitab, emas melambangkan sifat ilahi. Jadi, manna yang tersembunyi dalam buli-buli emas melambangkan bagian Kristus yang paling top tersembunyi dalam sifat ilahi. Sifat ilahi terdapat dalam tabut, sedang tabut justru adalah Kristus sendiri. Hari ini tabut berada dalam roh kita, yang bersatu dengan tempat maha kudus. Di dalam roh kita terdapat tempat maha kudus, di dalam tempat maha kudus terdapat Kristus, yakni tabut itu; di dalam Kristus terdapat buli-buli emas, yakni sifat ilahi. Di dalam sifat ilahi ada manna yang tersembunyi. Apakah manna yang tersembunyi itu? Itulah Kristus sebagai makanan kita yang khusus yang tersembunyi dalam sifat ilahi. Ketika kita berada di tempat di mana kita menjamah buli-buli emas, kita mutlak berada di luar du-nia, diri kita sendiri, dan manusia alamiah kita. Kita menjamah sifat ilahi, dan dalam sifat ilahi ini kita mengambil bagian atas manna yang tersembunyi.

Periksalah pengalaman Anda. Setelah Anda mengikuti kelompok pelayanan, Anda lebih banyak dibawa masuk ke dalam hidup gereja, dan mulai mengalami sesuatu yang lebih halus. Akhirnya, Anda dekat dengan Allah dan menjadi lebih intim dengan-Nya. Adakalanya, Anda begitu dekat dengan Allah, sehingga Anda jauh melampaui dunia, diri sendiri, bahkan manusia alamiah Anda. Dalam sifat ilahi Allah, Anda akan menjadi orang yang lain. Ketika Anda menjamah sifat ilahi, Anda menjamah buli-buli emas dan menikmati manna yang tersembunyi di dalamnya, menikmati Kristus sebagai bagian Anda yang tersembunyi dalam sifat ilahi.

Nanti kita akan nampak bahwa tongkat yang bertunas menyusul manna yang tersembunyi, dan hukum hayat menyusul tongkat yang bertunas. Ketiga benda yang penting sebagai isi tabut urutannya demikian. Pertama, kita harus menikmati manna yang tersembunyi. Kemudian dari kenikmatan kita, tongkat kita akan bertunas, dan setelah itu, kita akan memiliki hukum hayat. Karena sedikit sekali orang Kristen yang mengalami manna yang tersembunyi, maka tongkat mereka tidak dapat bertunas, dan jarang sekali ada orang yang hidup bersandar pada hukum hayat. Mereka tidak mengerti catatan dalam Alkitab tentang manna yang tersembunyi, tongkat yang bertunas, dan hukum hayat, sebab mereka kekurangan pengalaman. Akan tetapi, dalam pemulihan Tuhan, segala kekayaan ini telah terpulihkan satu per satu di antara kita.

Ketika kita mengambil bagian dalam manna yang tersembunyi, kita bukan mengalami Kristus di mezbah, juga bukan mengambil bagian atas Kristus di meja roti sajian, melainkan menikmati Kristus yang ada dalam buli-buli emas dalam tabut. Di sini kita melampaui dunia dan setiap situasi. Kita juga melampaui diri sendiri dan manusia alamiah kita; kita menjamah dan menikmati sifat ilahi. Dua Petrus 1:4 mengatakan, “Dengan jalan itu Ia telah menganugerahkan kepada kita janji-janji yang berharga dan sangat besar, supaya olehnya kamu boleh mengambil bagian dalam kodrat (sifat) ilahi.” Kecuali kita menjamah buli-buli emas, kita sulit mengambil bagian dalam kodrat (sifat) ilahi. Sifat ilahi di sini berada dalam tabut bersama buli-buli emas. Dalam buli-buli emas, yaitu dalam sifat ilahi, ada manna yang tersembunyi sebagai bagian yang khusus untuk kenikmatan kita. Di sinilah kita menikmati Kristus yang tersembunyi; Kristus yang tersembunyi di dalam Allah bersama kita, dan Kristus yang dengan-Nya kita bersembunyi di dalam Allah. Kristus yang tersembunyi dalam Allah itulah manna yang tersembunyi dalam buli-buli emas. Kristus di sini adalah manna yang tersembunyi, dan kita juga tersembunyi bersama-Nya dalam sifat ilahi.

Kalau kita berada di padang gurun yang jauh dari Kemah Pertemuan, karena belas kasihan Allah, kita tetap dapat menikmati manna yang terbuka sebagai pengalaman normal di padang gurun. Namun pengalaman semacam ini terlalu dangkal, terlalu lahiriah, dan terpisah terlalu jauh. Allah menghendaki kita masuk ke dalam tempat maha kudus dan berdekatan demikian intim dengan-Nya, serta menjamah buli-buli emas. Kristus yang tersembunyi, yaitu manna tersembunyi yang surgawi berada di sini, di dalam sifat ilahi Allah. Kita tak dapat menemukan-Nya di tempat lain. Hari ini sifat ilahi Allah berada dalam roh kita. Meskipun kita memiliki buli-buli emas, tetapi kita sering meninggalkan roh kita. Anda tidak perlu bertengkar atau berkelahi dengan orang untuk keluar dari roh, ketika Anda bersenda gurau atau bercanda saja dengan para saudara, Anda sudah berada di luar roh. Kegairahan agama juga sangat berbeda dengan perihal berada dalam roh. Kegairahan agama akan membawa kita ke padang gurun. Buli-buli emas berada dalam tabut, dan tabut berada dalam tempat maha kudus, sedang tempat maha kudus bersatu dengan roh kita. Saya senang sekali dengan kidung yang mengatakan:

Kian dalam kian limpah,

Jamah Kristus di batin,

Menjamah hukum hayat,

Jamah manna sembunyi.

(Kidung No. 556, bait ke-5)

Di dalam tempat maha kudus ada Kristus, yaitu tabut Allah yang berisi buli-buli emas. Kristus ini mengandung sifat ilahi dan menampung manna yang tersembunyi, karena Kristus yang tersembunyi berada dalam sifat ilahi. Untuk menjamah bagian yang khusus, yakni Kristus yang paling top ini, kita harus menjamah sifat ilahi. Pada prinsipnya, setiap orang yang menikmati bagian ini, pasti berada dalam tempat maha kudus.

Setiap orang yang masuk ke dalam tempat maha kudus, pastilah bersama Imam Besar kita. Kristus berada dalam tempat maha kudus, maka kita juga harus berada di situ. Kita tidak seharusnya hanya menjadi imam di pelataran luar atau di dalam tempat kudus; kita juga harus menjadi imam di mana buli-buli emas berada, yakni di tempat maha kudus. Jika kita ingin berada di tempat ini, kita ha-rus melampaui dunia dan setiap macam situasi, kita juga harus bebas dari gangguan orang. Kadang-kadang kita merasa jengkel oleh sepatah kata yang tidak enak, bahkan ada orang yang tersinggung sedemikian rupa sehingga tidak dapat tidur nyenyak berbulan-bulan lamanya. Jika kita terganggu sedemikian, berarti kita terpisah jauh dari roh kita, dan karenanya kita sulit berada di tempat maha kudus. Tetapi jika kita dapat melampaui segala situasi, entah itu baik atau buruk, menyenangkan atau menjengkelkan, barulah kita dapat menjamah tabut dan buli-buli emas di dalam roh kita. Saya ulangi, dalam buli-buli emas terdapat manna yang tersembunyi, yaitu Kristus yang tersembunyi yang menjadi bagian khusus kita. Bila kita ingin berbagian dalam manna yang tersembunyi, kita harus senantiasa berada dalam roh, dan menjamah sifat ilahi. Semoga kita semua maju ke depan, masuk ke dalam pengalaman yang sedemikian ini.