MAKAN DAN MANNA
Dalam berita ini kita akan melihat masalah manna yang tersimpan dalam buli-buli emas (9:4).
MAKAN, SATU HAL YANG MENDASAR
DALAM ALKITAB
Kalau kita ingin mengerti apa artinya manna yang tersembunyi, yaitu manna yang tersimpan dalam buli-buli emas, terlebih dulu kita harus memahami satu konsepsi dasar dalam Alkitab; konsepsi ini tidak dipahami atau dimiliki oleh kebanyakan orang Kristen. Setelah Allah menciptakan manusia, Ia tidak berbuat apa-apa bagi manusia, juga tidak menyuruh manusia melakukan sesuatu bagi-Nya. Menurut Kejadian 1 dan 2, permintaan dasar Allah terhadap manusia untuk hidup di hadapan-Nya ialah manusia harus makan dengan tepat. Hal yang terpenting di hadapan Allah ialah apa yang kita makan dan cara kita makan. Karena itu, dalam Alkitab, makan merupakan satu konsepsi dasar dalam hubungan kita dengan Allah. Allah telah menciptakan segala sesuatu, termasuk manusia. Jika Allah dapat menjadikan langit, bumi, dan segala sesuatu, apa lagi yang mustahil bagi-Nya? Ia dapat melakukan segala sesuatu dengan mudah. Sebenarnya, Allah bahkan tidak perlu berbuat apa-apa, sebab asalkan Ia berfirman, maka jadilah apa yang dikehendaki-Nya. Akan tetapi, ada satu hal yang tidak dapat Ia lakukan, yakni Ia tidak dapat makan untuk kita. Walaupun seorang ibu dapat melakukan banyak hal bagi anak-anaknya, tetapi ia tidak dapat makan untuk mereka; anak-anak itu harus makan sendiri. Tentang hubungan kita dengan Allah, prinsipnya yang mendasar ialah makan dengan tepat.
MAKAN ADALAH UNTUK MENDAPATKAN SUPLAI HAYAT DAN PENEBUSAN
Dalam Kejadian 2 kita nampak bahwa bagi manusia, makan adalah masalah pohon hayat. Setelah manusia jatuh, Allah datang menebusnya. Tetapi ketika Allah melaksanakan penebusan dalam Keluaran 12, makan berubah menjadi tidak hanya mencakup satu hal yakni pohon hayat saja. Makan tidak lagi hanya agar mendapatkan suplai hayat saja, melainkan juga berkaitan dengan penebusan. Karena itu dalam Keluaran 12 bani Israel disuruh memakan anak domba. Pohon hayat adalah hayat nabati (tumbuh-tumbuhan), dan anak domba ialah hayat hewani; pohon tidak berdarah, tetapi anak domba berdarah. Dalam Alkitab, darah adalah bagi penebusan. Ketika bani Israel keluar dari Mesir, mereka mengoleskan darah, agar dapat ditebus, juga memakan anak domba, agar beroleh suplai hayat. Dalam masa pertama, makan hanya untuk suplai hayat manusia, tetapi dalam masa kedua, makan bukan hanya untuk suplai hayat, tetapi juga untuk penebusan.
MAKAN DAGING TUHAN
DAN MINUM DARAH-NYA
Pada tahun-tahun selama berada di padang gurun, bani Israel makan manna. Karena manna tidak berdarah, maka makan manna tidak berkaitan dengan penebusan, melainkan sepenuhnya berkaitan dengan suplai hayat. Bagaimanakah bani Israel yang mengembara di padang gurun selama empat puluh tahun itu bisa terus hidup dan bergerak? Mereka hidup dan bergerak bersandarkan suplai manna yang mereka makan dari hari ke hari. Dalam Yohanes 6:35 Tuhan Yesus berkata, “Akulah roti kehidupan (hayat).” Perkataan ini menyulitkan orang-orang Yahudi. Tuhan berkata pula, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu” (ayat 53). Dalam pasal ini pertama-tama Tuhan mengatakan bahwa Dialah roti hidup. Kemudian Ia mengatakan kita harus minum darah-Nya. Bagaimana mungkin dalam roti itu ada darah? Nyatalah bahwa roti ini tidak hanya berasal dari hayat nabati, tetapi ia juga daging anak domba. Dalam Yohanes 6:51 Tuhan berkata, “Roti yang akan Kuberikan itu ialah daging-Ku yang akan Kuberikan untuk hidup dunia.” Roti milik hayat nabati hanya untuk perawatan; daging milik hayat hewani, bukan hanya untuk perawatan, tetapi juga untuk penebusan. Sebelum kejatuhan manusia, Tuhan adalah pohon hayat (Kej. 2:9), yang hanya untuk merawat manusia. Setelah manusia jatuh ke dalam dosa, Tuhan menjadi Anak Domba (Yoh. 1:29), tidak hanya untuk memberi makan, juga untuk menebus manusia (Kel. 12:4, 7-8).
PERLU TERUS-MENERUS MAKAN
Saya ingin mengatakan sekali lagi, sesudah manusia tercipta, bahkan dalam penebusan Allah terhadap manusia, konsepsi dasar hidup manusia di hadapan Allah ialah terletak pada makan. Sebab itu kita harus mencurahkan seluruh perhatian kita pada hal ini. Jangan ingin mempelajari banyak perkara, tetapi makanlah dengan sebaik-baiknya, dan makanlah senantiasa di hadapan Tuhan. Saya telah menjadi orang Kristen lebih dari tiga puluh tahun sebelum saya mengetahui masalah makan di dalam roh. Dahulu saya tidak pernah diajar orang tentang hal ini. Banyak di antara kita dapat bersaksi, sebelum kita datang ke dalam gereja, kita tidak pernah mendengar bahwa kita dapat memakan Yesus. Namun Alkitab menerangkan perkara makan ini dari awal hingga akhir. Alkitab berawal dan berakhir dengan masalah makan pohon hayat (Why. 2:7; 22:1-2, 14).
MAKAN DALAM SURAT IBRANI
Seperti telah kita tunjukkan, seluruh Surat Ibrani berfokus pada Kristus sebagai Minister surgawi berikut imamat-Nya yang rajani dan ilahi. Sebagai Minister surgawi, tanggung jawab utama-Nya adalah melayankan Allah Tri-tunggal ke dalam kita sebagai suplai kita. Ia kini sedang melayankan suplai yang ajaib itu, bukan di pelataran luar, melainkan di tempat maha kudus, dan bukan di salib, melainkan di atas takhta anugerah. Kita telah nampak betapa Surat Ibrani memanggil kita datang ke tempat maha kudus, ke takhta anugerah, dan kepada Allah. Di tempat maha kudus kita bukan berkumpul mengelilingi salib untuk penebusan, melainkan berkumpul mengelilingi takhta anugerah untuk beroleh suplai hayat. Di sini kita menikmati Kristus sebagai Melkisedek kita yang melayani kita dengan roti dan anggur sebagai suplai hayat. Hal ini pun mutlak merupakan masalah makan. Karena itu, kitab ini membawa kita dari pelataran luar ke tempat maha kudus, di mana terdapat satu hal yang unik tabut kesaksian, yang mewakili Kristus. Dalam tempat maha kudus tidak ada benda lain kecuali Kristus Sang almuhit. Menurut penampilan lahirnya, Ia hanya satu benda, yakni tabut kesaksian. Tetapi ketika kita mengalami-Nya sebagai tabut, kita nampak Ia bukan hanya satu benda unik, melainkan tiga benda buli-buli emas yang berisi manna, tongkat yang bertunas, dan hukum hayat.
Ketiga benda tersebut adalah inti di dalam inti. Setelah memasuki Kemah Pertemuan, kita menemukan diri kita dalam tempat kudus, di mana segalanya masih agak lahiriah. Sesudah melalui tirai kedua, kita masuk ke bilik bagian dalam Kemah Pertemuan yang disebut tempat maha kudus. Begitu masuk ke dalam tempat maha kudus, kita telah tiba pada jantung atau inti Kemah Pertemuan. Namun di dalam tempat maha kudus, kita beroleh tabut kesaksian, dan di dalam tabut kita memiliki buli-buli emas yang berisi manna, tongkat yang bertunas, dan hukum hayat. Karena benda-benda ini berada di dalam tabut yang di tempat maha kudus, maka kita boleh mengatakannya sebagai inti di dalam inti.
Ketika kita menjamah benda yang pertama, yaitu buli-buli emas yang berisi manna, kita menemukan sesuatu yang lebih dalam. Untuk mencapai manna, kita perlu melalui empat penutup: penutup Kemah Pertemuan, penutup tempat maha kudus, penutup tabut kesaksian, dan penutup buli-buli emas. Ketika kita menjamah benda ini, barulah kita benar-benar sampai di rumah. Jika kita hanya berada di dalam tempat maha kudus, tanpa memakan manna dalam buli-buli emas, kita masih belum sampai di rumah. Bahkan bila kita telah menjamah tabut kesaksian pun masih belum sampai di rumah. Kemah Pertemuan untuk tempat maha kudus, tempat maha kudus untuk tabut, tabut untuk buli-buli emas, dan buli-buli emas untuk manna yang tersembunyi. Dalam Wahyu 2:17 Tuhan Yesus berkata, “Siapa yang menang, kepadanya akan Kuberikan dari manna yang tersembunyi.” Di manakah manna yang tersembunyi itu? Di dalam buli-buli emas, yaitu di tabut di tempat maha kudus. Jadi manna yang tersembunyi adalah inti utama, yaitu inti hidup dalam semua inti. Tuhan Yesus berjanji kepada pemenang-pemenang-Nya bahwa mereka akan makan manna yang tersembunyi ini.
ARTI MANNA
Sebelum kita belajar bagaimana memakan manna yang tersembunyi, kita harus tahu lebih dulu apakah manna. Istilah “manna” berarti “apakah ini?” (Kel. 16:15). Manna yang dimakan bani Israel di padang gurun berbeda dengan makanan lain yang diketahui mereka, sebab manna tidak seperti makanan apa pun di bumi ini. Ia bukan gandum, jagung, atau sekoi (jawawut). Ketika bani Israel melihatnya, mereka bertanya, “Apakah ini?” Dalam Bilangan 11 kita melihat suatu perbandingan antara manna dengan makanan-makanan yang dikenal bani Israel. Dalam Bilangan 11:5-6 dikatakan, “Kita teringat kepada ikan yang kita makan di Mesir dengan tidak bayar apa-apa, kepada mentimun dan semangka, bawang prei, bawang merah, dan bawang putih. Tetapi sekarang kita kurus kering, tidak ada sesuatu apa pun, kecuali manna ini saja yang kita lihat.” Di sini kita lihat ada bawang prei, bawang merah, dan bawang putih. Walau bani Israel mengerti semuanya ini, tetapi mereka tidak mengerti apakah manna itu. Baik warna, bentuk, rupa, rasa, dan aspek lainnya sama sekali tidak sama dengan benda-benda yang pernah mereka lihat sebelumnya. Mereka hanya dapat bertanya-tanya, “Apakah ini?” Mereka seolah-olah berkata, “Apakah ini? Bukan ikan, bukan bawang prei, bukan bawang merah, bukan bawang putih. Tumbuh-tumbuhan atau binatang? Tampaknya bukan dua-duanya!” Tidak ada perkataan manusia dapat menerangkan manna itu apa. Manna adalah manna. Manna ialah “apakah ini?” Setiap orang tahu apa itu bawang merah, tetapi ketika Anda membicarakan manna, mereka hanya dapat bertanya, “Apakah ini?” Manna tidak lain “apakah ini”!
Manna adalah lambang Kristus. Apakah Kristus? Kristus ialah “apakah ini”! Dia luar biasa. Karena demikian luar biasanya, sehingga Ia tidak dapat disejajarkan dengan apa pun.
BERBAGAI ASPEK MANNA
Turun Bersama Embun
Marilah kita melihat berbagai aspek manna dalam Perjanjian Lama. Bilangan 11:9 mengatakan, “Dan apabila embun turun di tempat perkemahan pada waktu malam, maka turunlah juga manna di situ.” Manna selalu turun pada pagi buta bersama embun. Apakah arti embun? Mazmur 133:3 mengatakan, “Seperti embun gunung Hermon yang turun ke atas gunung-gunung Sion.” Dalam Alkitab, embun melambangkan kunjungan Allah yang beranugerah dari surga kepada kita. Ketika Allah laksana anugerah dari surga datang mengunjungi kita, Ia mirip dengan embun, mustika dan mendiris. Manna selalu turun bersama embun, melambangkan Kristus, manna kita hari ini, selalu datang bersama anugerah, bersama kunjungan Allah yang beranugerah dari surga. Bila kita menjamah Kristus sebagai suplai hayat, kita merasa dengan mendalam bahwa surga telah mendatangi kita secara lembut dan menyegarkan. Pendirisan yang demikian sangat merata, sehingga tidak meresahkan, melainkan menyegarkan. Ketika menikmati dan menyentuh Kristus sebagai manna kita, kita akan merasa surga telah turun mengunjungi kita, sambil mendiris dan menyegarkan kita.
Halus
Keluaran 16:14 melukiskan manna itu “sesuatu yang halus, sesuatu yang seperti sisik, (berbentuk bundar), halus seperti embun beku di bumi.” Banyak syair dan kidung telah dikarang untuk memuji keagungan Kristus, namun kita pun perlu memuji kehalusan-Nya. Manna itu halus; tetapi Alkitab tidak memberi tahu kita tentang ukurannya. Walaupun manna itu halus, tetapi ia tidak terukur; kita tidak dapat mengatakan betapa halusnya. Hal ini menunjukkan bahwa kita tidak dapat mengatakan ukuran Kristus. Kristus kita tidak berukuran, tidak ada sesuatu yang lebih kecil daripada Dia, dan tidak ada sesuatu yang lebih besar daripada Dia. Dialah yang terkecil, juga yang terbesar. Tidak ada sesuatu pun yang dapat melampaui Dia. Siapa yang dapat mengukur kebesaran atau kehalusan Kristus?
Bundar
Manna pun dilukiskan seperti sisik, yakni berbentuk bundar (Kel. 16:14). Menurut perlambangan, ini melambangkan bahwa manna bersifat kekal, tanpa awal atau akhir. Kristus adalah makanan yang kekal, bersifat kekal untuk pemeliharaan kekal yang tidak terbatas. Siapa yang memakan Dia akan beroleh hayat kekal yang bersifat abadi dan akan beroleh perawatan kekal.
Seperti Embun Beku
Manna juga seperti embun beku (Kel. 16:14) yang berupa benda antara embun dengan salju. Embun menyegarkan orang, tetapi embun beku lebih menyegarkan. Embun menyegarkan, namun tidak dapat membunuh kuman. Embun beku dapat membunuh kuman. Sebagai manna, Kristus tidak saja menyegarkan kita, Ia juga dapat membunuh semua hal negatif di dalam kita. Ketika kita mengalami Kristus sebagai suplai, kita merasa surga turun mengunjungi dan mendiris kita. Sementara kita disegarkan dan didiris, kita juga merasa hal-hal negatif di dalam kita, seperti sikap kita yang negatif, terbunuh. Saya menikmati penyegaran dan pembunuhan embun beku ini. Kalau ada dua orang saudara saling berselisih, itu berarti mereka memerlukan pembunuhan embun beku.
Embun beku tidak hanya membunuh hal-hal negatif dalam diri kita, juga dapat mendinginkan kita. Meskipun kaum muda mengasihi Tuhan, kadang-kadang mereka masih “panas” dalam hal olahraga. Kalau mereka tidak ada waktu bermain sepak bola, setidaknya mereka menontonnya di televisi. Ketika mereka sedang “panas-panasnya” dalam hal olahraga, mereka menjamah Kristus, maka embun beku itu akan mendinginkan mereka. Ada saudara saudari yang suka banyak bicara, yaitu mengobrol tentang banyak hal yang sia-sia. Sewaktu kita mengobrol seperti itu, kita menjadi “panas”, tetapi ketika kita menjamah Kristus, “embun beku” segera mendinginkan kita. Saudara saudari yang tua pun perlu didinginkan oleh embun beku ini. Meskipun saudari tua mengasihi suami mereka, jika kita minta suami-suami mereka berkata dengan terus terang, mereka pasti mengatakan bahwa mereka tidak tahan menghadapi kebawelan istri-istri mereka; di pihak lain, saudari-saudari tua juga tidak tahan terhadap kebawelan suami mereka yang sudah pensiunan itu. Banyak saudara tua yang sudah pensiun tidak mengerjakan apa-apa kecuali merepotkan istri mereka. Dari hal ini kita nampak yang tua juga perlu didinginkan. Semakin tua, kita semakin menyusahkan orang. Jadi, kita semua perlu “embun beku” yang dapat mendinginkan sifat kita yang panas itu. Sedikit banyak “embun beku” ini mirip dengan lemari es rohani kita. Kristus yang di dalam kita selain merawat kita, juga sebagai embun beku yang mendinginkan kita.
Putih
Manna di padang gurun berwarna putih (Kel. 16:31). Ini berarti manna itu bersih dan murni. Tidak ada satu pun makanan di bumi ini yang seputih manna. Manna adalah makanan yang paling murni. Semakin kita makan Kristus sebagai manna kita, kita akan semakin diputih bersihkan. Kita tidak saja dibersihkan dan dimurnikan, bahkan diputihkan. Menjadi putih berarti sama sekali tanpa cacat. Bila kita terus makan Kristus, semua cacat atau noda kita akan dilenyapkan. Walau mungkin pada aspek tertentu kita baik, tetapi kita tidak putih. Walau kita memiliki kasih, kasih kita berwarna, tidak putih. Kerendahan hati kita juga berwarna. Sebenarnya, kebajikan insani kita tidak ada yang putih, semuanya berwarna. Namun, semakin kita makan Kristus sebagai suplai hayat kita, warna kita semakin berkurang, sehingga kita menjadi semakin putih.
Ada sejenis makanan yang cukup enak, yaitu yang disebut haisom (teripang laut). Tetapi karena warnanya hitam, maka saudara-saudara dari Amerika tidak menyukainya. Walau saya mencoba meyakinkan mereka untuk memakannya, mereka tetap takut terhadap warnanya yang hitam itu. Namun manna itu sebaliknya, ia berwarna putih, tidak menakutkan siapa pun, malahan ia memberi rasa damai sejahtera kepada kita.
Dimakan Seperti Roti, Kue,
Atau Biskuit Tipis
Manna dapat dimakan seperti roti (Kel. 16:15), kue (roti bundar, Bil. 11:8), atau biskuit tipis (Kue madu, Kel.16:31). Sebagai manna kita, Kristus memiliki aneka aspek dan merawat kita dalam berbagai cara. Ketika kita memakan Dia sebagai manna, kadang-kadang rasa-Nya seperti roti, kadang-kadang seperti kue atau seperti biskuit tipis, yang mudah dimakan dan dicerna.
Seperti Ketumbar
Manna juga seperti ketumbar (Kel. 16:31; Bil. 11:7). Makanan ini adalah biji-bijian. Ketika kita memakan Kristus, di dalam kita Ia seperti sebuah biji. Biji ketumbar sangat kecil, tidak seperti jagung. Biji adalah sesuatu yang mengandung hayat, yang membawa unsur hayat ke dalam kita. Sebagai biji yang demikian, Kristus akan bertumbuh di dalam kita.
Rasanya Seperti Madu
Keluaran 16:31 mengatakan, rasa manna seperti biskuit tipis yang dibubuhi madu. Madu itu manis, berasal dari dua macam hayat, hayat hewani dan hayat nabati. Jadi madu adalah perbauran dua macam hayat. Lebah madu yang menghasilkan madu mendapat suplai dari bunga-bunga, yaitu dari hayat nabati. Sebagai manna kita, Kristus memiliki unsur perbauran hayat hewani dan nabati dan menjadi makanan yang manis dan bergizi.
Rasanya Seperti Minyak Baru
Bilangan 11:8 mengatakan bahwa manna “rasanya seperti minyak yang baru” (Tl.) Minyak melambangkan Roh Kudus. Ketika kita memakan Kristus sebagai manna kita, kita pun mengecap Roh Allah. Minyak di sini adalah minyak baru, berarti ketika menikmati Kristus sebagai manna, Roh yang kita kecap selalu segar. Kristus sebagai manna kita, rasa-Nya seperti minyak baru yang mengandung rasa dan gizi madu.
Kelihatannya seperti Damar Bedolah
Menurut bahasa Ibrani, Bilangan 11:7 mengatakan, “Adapun manna itu seperti ketumbar dan matanya seperti mata damar bedolah” (Tl.) Ayat ini sulit sekali diterjemahkan dengan tepat oleh siapa pun. Terjemahan bahasa Inggris versi King James mengatakan bahwa “warna manna seperti damar bedolah”. Damar bedolah ialah suatu mutiara yang berasal dari getah pohon, yang sangat mirip dengan mutiara dari tiram. Warna manna adalah warna damar bedolah. Ada terjemahan lain yang memakai istilah “coraknya” atau “kelihatannya”, bukan “warnanya”. Tetapi dalam istilah Ibraninya ialah mata. Manna itu bermata, sebab coraknya mirip dengan sebuah mata. Memang sebuah mutiara mirip dengan sebuah mata. Kalau Anda meneliti sebuah mutiara, Anda akan merasa bahwa ia persis sebuah bola mata. Bola mata mempunyai corak mutiara, dan corak ini adalah warnanya. Dengan kata lain, corak dan warna damar bedolah laksana sebuah mata.
Sewaktu kita makan manna, kita memakan banyak mata, dan mata-mata itu masuk ke dalam kita. Sebagai manna, Kristus mirip sebuah mata. Semakin banyak kita makan Kristus, semakin banyak pula kita memiliki mata. Keempat makhluk dalam Wahyu 4:6 dikatakan “penuh dengan mata”. Di depan dan belakang, di dalam dan di luar, penuh dengan mata. Jika Anda pergi ke sebuah rumah kaca, Anda akan nampak tidak ada dinding yang buram; tiap sisinya tembus cahaya (transparan). Mata berarti tembus cahaya. Seluruh tubuh kita tidak tembus cahaya kecuali mata kita. Kalau kita tidak memiliki Kristus, kita tidak ada mata, dan kita akan buram sama sekali. Ketika kita diselamatkan, kita mulai tembus cahaya. Kini, semakin kita menikmati Kristus, kita semakin tembus cahaya. Kapan saja kita bersama saudara atau saudari yang benar-benar menikmati Kristus, kita dapat merasa bahwa mereka tembus cahaya. Berdiri di depan mereka, laksana berada di dalam rumah kaca yang tembus cahaya. Namun, orang yang tidak menikmati Tuhan, ia buram sama sekali. Kalau Anda tinggal bersama empat orang yang demikian, Anda akan merasa seperti di dalam sel bawah tanah yang dikelilingi dinding yang buram. Tetapi kalau Anda dikelilingi oleh beberapa orang yang mengasihi Tuhan dan makan Dia, Anda akan merasa segalanya tembus cahaya. Sebagai manna, Kristus itu tembus cahaya. Ketika kita memakan Dia, kita memakan mata dan kita menjadi tembus cahaya.
Pada akhirnya, keadaan tembus cahaya semacam ini akan menjadi corak kita. Bila dari hari ke hari kita menikmati Kristus, memakan Dia sebagai mata, kita akan memiliki corak atau rupa Kristus; yaitu berupa suatu mata, dan rupa ini akan menjadi warna kita. Melalui makan Kristus, kita akan diwarnai dengan tembus cahaya Kristus. Dengan demikian, tembus cahaya akan menjadi corak dan warna kita.
Tidak Ada Ketentuan (Peraturan)
Akhirnya, sebagai manna, Kristus itu tidak ada ketentuan (peraturan). Bilangan 11:8 mengatakan, “Bangsa itu berlari kian ke mari untuk memungutnya, lalu menggilingnya dengan batu kilangan atau menumbuknya dalam lumpang. Mereka memasaknya dalam periuk dan membuatnya menjadi roti bundar.” Kristus boleh digiling, ditumbuk di dalam lumpang, atau dimasak dalam periuk. Ia tidak ada ketentuan. Tetapi hampir setiap orang Kristen itu memiliki ketentuan. Bila Anda mengalami Kristus dengan cara tertentu, Anda lalu membuat cara itu menjadi suatu ketentuan. Namun, Kristus akan berkata, “Bagimu Aku digiling halus. Tetapi orang lain lebih senang menumbuk Aku. Aku merasa cukup baik kalau Aku ditumbuk secara demikian. Masih ada lagi orang yang memasak Aku dan memanggang-Ku dalam oven. Aku pun merasa baik kalau Aku diperlakukan begitu. Mengapa kamu demikian picik dan kaku?”
Alangkah indahnya catatan yang kita jumpai dalam Alkitab mengenai manna. Kalau orang lain bertanya kepada kita, apakah ini?, kita hanya dapat mengatakan, “Inilah manna.” Ia turun bersama embun dan serupa embun beku di tanah. Ia halus, bundar, putih, seperti ketumbar, ia dapat dimakan seperti roti, kue, atau biskuit tipis; rasanya seperti madu dan minyak baru. Rupanya seperti mata. Mungkin kita pernah membaca Keluaran 16 dan Bilangan 11 berkali-kali, tetapi tidak pernah memperhatikan semua aspek manna ini. Kita perlu memakan mata ini lebih banyak, agar kita memiliki daya penglihatan yang tembus cahaya.