← Daftar isi Ibrani (4) · bab 5/17

MASUK KE BELAKANG TIRAI DAN PERGI KE LUAR PERKEMAHAN

Jika kita menyelami kedalaman Surat Ibrani, kita akan nampak bahwa seluruh kitab ini tercakup dalam dua hal masuk ke belakang tirai (tabir) dan pergi ke luar perkemahan. Kita harus masuk ke belakang tirai dan pergi ke luar perkemahan. Di belakang tirai terdapat satu tempat yang unik tempat maha kudus. Bila kita berada di belakang tirai berarti berada di dalam tempat maha kudus. Di dalam tempat maha kudus yang unik ini terdapat satu benda yang unik pula, yakni tabut kesaksian, yang menjadi lambang yang penuh akan Kristus. Di dalam benda yang unik ini ada tiga benda: manna yang tersembunyi, tongkat yang bertunas, dan loh hukum kesaksian, yaitu hukum hayat yang menghasilkan ekspresi dan kesaksian Allah. Perkataan yang singkat ini telah membuka satu ruang lingkup yang sangat luas, yang menerangkan arti “masuk ke belakang tirai” itu. Berada di belakang tirai berarti berada di dalam tempat maha kudus, di mana kita beroleh bagian dalam Kristus, menikmati manna yang tersembunyi, tongkat yang bertunas, dan hukum hayat yang menghasilkan ekspresi korporat Allah. Inilah kegenapan kehendak kekal Allah.

Ibrani 13:13 menerangkan, “Karena itu, marilah kita pergi kepadaNya di luar perkemahan dan menanggung kehinaan-Nya.” Baik dalam kitab ini maupun dalam perlambangan, perkemahan berarti organisasi keagamaan yang bersifat insani dan bumiah. Maka, pergi ke luar perkemahan berarti pergi ke luar organisasi keagamaan insani. Kalau perkemahan menandakan organisasi insani, maka kota menandakan ruang lingkup bumiah. Dalam Kitab Ibrani, baik pintu gerbang maupun perkemahan semua menandakan agama Yahudi berikut kedua aspeknya, yaitu bumiah dan insani. Agama Yahudi benar-benar bersifat bumiah dan insani. Agama merupakan organisasi insani dan ruang lingkup bumiah, yang menjauhkan orang dari ekonomi Allah.

Di satu pihak, ekonomi Allah telah tergenapkan di belakang tirai; di pihak lain banyak hal keagamaan diselenggarakan di dalam perkemahan. Semua yang tertampak dalam perkemahan hanyalah hal-hal keagamaan. Walaupun banyak yang berhubungan dengan Alkitab, tetapi di dalamnya tidak ada Allah. Di dalam perkemahan, yakni organisasi keagamaan, tidak ada malaikat, gereja, Juruselamat, orang yang beroleh selamat, Kristus, atau darah yang dipercikkan, yang ada hanyalah gunung api yang menyala-nyala, yang diliputi kegelapan dan kekelaman, angin badai yang meniup tanpa arah dan tidak tenang, bunyi sangkakala yang dahsyat, serta suara peringatan yang mengerikan. Itulah pemandangan dari agama Yahudi yang terlukis dalam kitab ini. Dari berita-berita terdahulu kita telah nampak sebuah lukisan yang sangat jelas tentang apa yang terdapat di belakang tirai di satu pihak, dan di dalam agama, yakni di dalam perkemahan di pihak lainnya. Sekarang kita harus memilih di manakah seharusnya kita berada di belakang tirai, atau di dalam perkemahan? Kita tidak dapat bersikap netral.

Surat Ibrani menyuruh dan mendesak kita untuk maju ke depan menuju tempat maha kudus, yakni masuk ke belakang tirai. Jalan untuk memasuki tempat maha kudus, jalan yang baru dan yang hidup, telah terbuka. Karena itu, kitab ini mula-mula menyuruh kita masuk ke dalam tempat maha kudus, kemudian mengarahkan kita untuk pergi ke luar perkemahan. Menurut pikiran kita, seharusnya pergi ke luar perkemahan lebih dulu, kemudian baru masuk ke belakang tirai, tetapi itu perhitungan manusia. Menurut perhitungan Allah, kita lebih dulu masuk ke belakang tirai, baru kemudian pergi ke luar perkemahan. Setiap orang yang telah pergi ke luar perkemahan telah lebih dulu mengalami apa yang terdapat di belakang tirai. Misalkan, ketika Anda baru mulai datang mengikuti sidang gereja, Anda masih belum pergi ke luar perkemahan. Anda hanya datang ke belakang tirai dan mencicipinya saja. Tetapi setelah mencicipi, Anda tertarik, terpikat, dan disuplai dengan kekuatan, sehingga Anda mampu pergi ke luar perkemahan. Tidak ada seorang pun yang lebih dulu pergi ke luar perkemahan, kemudian baru masuk ke belakang tirai. Meskipun Tuhan Yesus lebih dulu pergi ke luar pintu gerbang, kemudian baru masuk ke belakang tirai; kita tidaklah demikian. Dengan kata lain, kita lebih dulu masuk ke tempat maha kudus, di sana kita memperoleh kekuatan dan dorongan untuk pergi ke luar perkemahan, yakni pergi meninggalkan organisasi keagamaan. Semakin banyak kita masuk ke belakang tirai, semakin banyak pula kita pergi ke luar perkemahan.

I. KRISTUS YANG SURGAWI

BERADA DI BELAKANG TIRAI

Surat Ibrani pertama-tama memperlihatkan kepada kita bahwa Kristus yang surgawi berada di belakang tirai, di dalam tempat maha kudus (6:19-20). Di sana Ia menjadi Imam Besar kita (4:14; 7:26), menjadi Minister (pelayan) surgawi (8:2) dan menjadi Pengantara perjanjian yang baru (8:6; 9:15; 12:24). Sebagai Imam Besar kita, Ia di sana melakukan doa syafaat bagi kita, dan menyuplaikan segala kekayaan Allah ke dalam kita. Sebagai Minister surgawi, Ia sedang menunaikan jabatan-Nya yang terhormat bagi kita; dan sebagai Pengantara perjanjian yang baru, Ia sedang menerapkan semua isi perjanjian yang baru bagi kenikmatan kita. Semua ini jauh lebih indah daripada apa yang Ia perbuat bagi kita sewaktu berada dalam daging di bumi.

II. KAUM BERIMAN DIDORONG

UNTUK MASUK KE BELAKANG TIRAI

Sesudah memperlihatkan Kristus yang surgawi di belakang tirai, Surat Ibrani mendorong kita untuk masuk ke belakang tirai (10:19-20, 22). Di belakang tirai, kita hanya bisa memandang kepada Dia (12:2), dan dapat memperhatikan Dia (12:3; 3:1). Kita perlu langsung berkontak dengan Dia. Karena Ia berada di belakang tirai, maka kita juga harus masuk ke belakang tirai, baru kita dapat memandang Dia, memperhatikan Dia, dan memikirkan Dia agar kita mendapatkan transfusi dan infusi-Nya. Sudah tentu, hal ini hanya dapat kita lakukan melalui menggunakan roh kita. Seperti telah kita lihat, roh kita berhubungan dengan tempat maha kudus di surga. Ketika kita berpaling ke roh kita dan menggunakannya, kita sudah masuk ke belakang tirai. Di sini kita beroleh bagian dalam suplai surgawi dari Kristus yang surgawi, diresapi dan dijenuhi dengan seluruh kekayaan ilahi, sehingga kita menjadi reproduksi korporat Putra Sulung Allah, untuk mengekspresikan Dia. Di sini kita menerima anugerah dan dikuatkan agar kita dapat pergi ke luar perkemahan, mengikuti Dia menempuh jalan salib.

III. KAUM BERIMAN DISURUH PERGI KE LUAR

PERKEMAHAN UNTUK MENGIKUTI TUHAN

A. Musa Pindah ke Luar Perkemahan,

Tempat Pencari-pencari Tuhan

Bertemu dengan Dia

Setelah bani Israel menyembah patung anak lembu emas (Kel. 32), Musa lalu pindah ke luar perkemahan, tempat setiap pencari Tuhan bertemu dengan dia, sebab penyertaan dan pembicaraan Tuhan ada di sana (Kel. 33:7-11). Demikian pula, kita harus pergi ke luar perkemahan, meninggalkan tempat orang menyembah berhala, agar kita bisa menikmati penyertaan Tuhan dan mendengar pembicaraan-Nya. Inilah yang diperlukan bagi hidup gereja yang praktis dan tepat.

B. Agama adalah Perkemahan yang Ditolak Tuhan

Agama telah menolak Tuhan, telah menjadi suatu perkemahan, menjadi suatu organisasi manusia yang ditolak Tuhan. Babilon besar yang tercantum dalam Wahyu 17 telah menjadi kota duniawi, ruang lingkup bumiah, yang harus ditinggalkan oleh umat Tuhan (Why. 18:4).

Si jahat telah menginjeksikan agama ke dalam darah kita. Karena itu, perkemahan tidak saja berada di luar diri kita, juga berada di dalam kita. Sejak Hawa memakan buah pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat, agama telah berada dalam darah manusia. Ketika ular menggoda Hawa, ia tidak menyuruh Hawa melakukan hal yang amoral. Ular berkata kepadanya secara agamis, “Tentulah Allah berfirman: Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan?” (Kej. 3:1). Di sini kita nampak ular pun dapat membicarakan tentang Allah. Itulah agama. Ular seolah-olah berkata, “Hawa, aku tahu engkau dan suamimu adalah untuk Allah. Aku di sini tidak membicarakan kesenangan duniawi, tetapi aku ingin membicarakan tentang Allah.” Membicarakan soal Allah adalah salah satu aspek agama. Tahukah Anda apa itu agama? Agama adalah pembicaraan tentang Allah. Mungkin ada orang berkata, “Bukankah indah sekali kalau orang membicarakan tentang Allah? Mengapa Anda menyalahkan hal itu? Agama mengajar orang mengenal Allah, tujuan agama bukan percabulan atau perjudian, tetapi Allah yang sejati.” Namun demikian, seperti diwahyukan dalam Kejadian 3, agama justru dimulai dengan percakapan ular dengan Hawa tentang Allah. Jawab Hawa kepada ular, “Buah pohon-pohonan dalam taman ini boleh kami makan, tetapi tentang buah pohon yang ada di tengah-tengah taman, Allah berfirman: Jangan kamu makan atau pun raba buah itu, nanti kamu mati” (Kej. 3:2-3). Ular itu lalu menjawab, “Sekali-kali kamu tidak akan mati, tetapi Allah mengetahui bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat” (Kej. 3:4-5). Mengetahui tentang yang baik dan yang jahat itu juga masalah keagamaan. Agama mengajar orang mengenal perkara Allah dan mengenal tentang yang baik dan yang jahat. Pada akhirnya, Hawa memakan buah pohon pengetahuan itu, dan sejak itu agama telah terinjeksi ke dalam darah manusia.

Siapa pun tidak perlu diajar tentang agama, sebab kita semua telah sangat agamis sejak dilahirkan. Maka, jika kita berkhotbah secara agamis, kita akan disambut baik di mana-mana. Tetapi jika kita memberitakan Injil secara “tempat maha kudus”, orang akan berteriak, “Salibkan dia!”, seperti yang mereka lakukan atas diri Tuhan. Karena kita dilahirkan dan dibesarkan di dalam agama, maka agama tidak hanya berada dalam konsepsi kita, tetapi juga di dalam diri kita, yakni dalam darah kita. Itulah sebabnya dari hari ke hari kita harus menanggalkan agama, pergi ke luar perkemahan.

Di satu pihak, agama mirip sekali dengan ekonomi Allah. Baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, dapat kita jumpai banyak ayat yang kelihatannya untuk agama. Akan tetapi kita harus memahami ayat-ayat tersebut dalam wahyu Alkitab yang azasi, yaitu dalam terang ekonomi Allah; ekonomi Allah ialah Allah menyalurkan diri-Nya ke dalam manusia, agar manusia dapat mengekspresikan-Nya. Allah tidak memperhatikan agama; Ia hanya memperhatikan ekonomi-Nya. Ia hanya ingin menyalurkan diri-Nya ke dalam manusia. Tujuan Allah ialah ingin menggarapkan diri-Nya ke dalam manusia, tetapi banyak orang Kristen hanya mengetahui agama mereka. Mereka sama sekali tidak tahu tentang ekonomi Allah, juga tidak tahu apa artinya Allah Tritunggal disalurkan ke dalam diri manusia. Karena telah menjadi suatu agama, maka terpisah jauh dari ekonomi Allah. Namun dalam pemulihan Tuhan, kita tidak menghiraukan sesuatu yang agamis. Kita hanya menghiraukan penyaluran Allah Tritunggal ke dalam kita.

C. Pergi kepada Yesus di luar Agama,

Menanggung Kehinaan-Nya

Berada di belakang tirai berarti masuk ke tempat maha kudus, tempat Tuhan bertakhta dalam kemuliaan; pergi ke luar perkemahan berarti keluar dari agama, dari sanalah Tuhan telah dibuang karena penolakan. Ini menandakan bahwa kita harus berada di dalam roh kita, tempat maha kudus yang praktis dalam pengalaman kita hari ini, dan berada di luar agama, tempat perkemahan yang praktis hari ini. Semakin kita berada di dalam roh, menikmati Kristus yang surgawi, semakin kita keluar dari perkemahan agama, mengikuti Yesus yang menderita. Dengan berada di dalam roh, menikmati Kristus yang telah dimuliakan, kita dapat keluar dari perkemahan agama untuk mengikuti Yesus yang ditolak. Semakin kita tinggal di dalam roh untuk mengontak Kristus yang surgawi, yang berada dalam kemuliaan, kita akan makin jauh keluar dari perkemahan agama kepada Yesus yang rendah, untuk menderita bersama-Nya. Melalui mengontak Kristus di surga dan menikmati pemuliaan-Nya, kita dikuatkan untuk menempuh jalan salib yang sempit di bumi dan menanggung kehinaan Yesus. Kitab Ibrani pertama-tama memberi kita visi yang jelas tentang Kristus yang surgawi dan tempat maha kudus yang surgawi, kemudian memperlihatkan kepada kita bagaimana menempuh jalan salib di bumi, yaitu pergi kepada Yesus di luar perkemahan, di luar agama, menanggung kehinaan-Nya. Pergi ke luar perkemahan, menanggung kehinaan-Nya adalah menempuh jalan salib.

D. Tempat Maha Kudus Memungkinkan Kita

Menempuh Jalan Salib, dan Jalan Salib

Membawa Kita ke dalam Kerajaan

Tempat maha kudus, jalan salib dilambangkan dengan pergi kepada Yesus di luar perkemahan, menanggung kehinaan-Nya), dan kerajaan adalah tiga hal yang sangat penting yang dikemukakan dalam kitab ini. Tempat maha kudus dengan suplainya yang kaya memungkinkan kita untuk menempuh jalan salib yang sempit dan sulit, dan jalan salib ini membawa kita masuk ke dalam kerajaan dalam manifestasinya, sehingga kita dapat memperoleh pahala kemuliaan. Untuk masuk ke dalam kerajaan dalam manifestasinya kita perlu menempuh jalan salib, dan untuk menempuh jalan salib kita perlu masuk ke tempat maha kudus. Jadi, tempat maha kudus sangatlah penting terhadap perilaku seorang Kristen.

IV. MASUK KE BELAKANG TIRAI BERARTI MASUK KE DALAM ROH KITA

Jika kita ingin masuk ke belakang tirai, kita harus masuk ke dalam roh kita (4:12). Berada di belakang tirai berarti berada dalam roh kita, pergi ke luar perkemahan berarti meninggalkan segala hal milik agama. Kita tidak boleh menetap dalam perkemahan yang mana pun, tetapi harus masuk ke dalam roh kita. Jika kita menetap di dalam perkemahan agama, berarti kita tetap berkemah di luar roh Anda. Namun, kini kita tidak lagi berkemah, sebab kita telah berada di dalam tempat maha kudus. Penulis seolah-olah berkata kepada kaum beriman Ibrani, “Saudara-saudara, keluarlah segera dari pintu perkemahan pikiran, dan masuklah ke dalam roh kalian!” Hari ini kita juga harus berlatih untuk membawa seluruh diri kita ke dalam roh. Kita tidak boleh tetap berada dalam perkemahan mentalitas kita, sebab mentalitas itu bersifat agamis. Sekali demi sekali kita perlu masuk ke belakang tirai melalui masuk ke dalam roh.

Orang Kristen sulit mengerti mengapa penulis Surat Ibrani mengatakan tentang roh dalam Ibrani 4:12. Setelah membandingkan Kristus dengan agama Yahudi, tiba-tiba ia berkata, “Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam daripada pedang bermata dua mana pun; ia menusuk sangat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, . . .” Sekarang kita mengerti bahwa ayat ini memperlihatkan satu kunci untuk mengalami Kristus roh kita bersatu dengan tempat maha kudus. Sebab itu, kita harus memisahkan roh kita dari dalam perkemahan pikiran kita, yaitu dari perkemahan jiwa. Jangan lagi berkemah dalam pikiran kita, berpalinglah ke dalam roh. Tuhan Yesus Kristus menyertai roh kita (2Tim. 4:22). Anugerah juga menyertai roh kita (Gal. 6:18). Kita telah nampak bahwa kita harus menerima anugerah, tetapi ke manakah kita menerimanya? Kita harus pergi ke dalam roh kita. Tempat maha kudus, ekonomi Allah, bahkan perampungan ekonomi Allah, semuanya berkaitan dengan roh kita. Yang paling kita butuhkan hari ini adalah masuk ke belakang tirai melalui masuk ke dalam roh.

Misalkan, ada saudara muda yang saling bertengkar, ini adalah contoh perkemahan liar. Tetapi jangan mengira mereka perlu diajar oleh orang yang agamawi untuk menjadi orang baik, belajar sabar, dan berkemah secara agamis. Hal itu hanya dapat mengajar mereka bagaimana berkemah dalam jiwa agamis mereka, tetapi bukan masuk ke belakang tirai. Saudara-saudara yang saling bertengkar itu perlu berpaling ke dalam roh. Bila mereka berpaling ke dalam roh dan menerima anugerah, mereka pasti akan mengecap Kristus sebagai manna yang tersembunyi, mengambil bagian atas Dia sebagai tongkat yang bertunas, dan mengalami pengaturan hukum hayat. Kemudian mereka tidak perlu diajar oleh siapa pun untuk bersikap sabar, rendah hati, atau pelajaran sejenis lainnya.

Ekonomi Allah adalah menyalurkan Allah Tritunggal ke dalam diri kita. Ini akan membangun Tubuh Kristus, menghasilkan bahan-bahan untuk pembangunan gereja. Semua ini terjadi dalam tempat maha kudus di belakang tirai, yang bersatu dengan roh kita. Betapa bedanya hal ini dengan agama! Bila kita mengalami Kristus secara batiniah seperti ini, kita akan nampak betapa banyak unsur perkemahan agamis yang masih terkandung dalam darah kita. Dengan sendirinya kita akan membenci unsur agamis, dan membenci pula diri kita yang senang berkemah itu. Kita semua perlu masuk ke belakang tirai, agar Tuhan membawa kita ke dalam pengertian yang sedemikian.

Kalau kita setia terhadap Tuhan dan masuk ke belakang tirai setiap hari dan setiap minggu, kita akan menyadari bahwa banyak latar belakang agama kita masih bercokol di dalam diri kita. Saudara-saudara yang berlatar belakang agama Yahudi akan menyadari bahwa unsur agama Yahudi itu masih berada di dalam mereka, dan mereka yang berlatar-belakang lainnya akan menyadari bahwa unsur perkemahan mereka itu masih mengendap dalam darah mereka. Pada masa lampau mungkin entah berapa kali Anda mengukur atau menilai keadaan hidup gereja dengan latar belakang “agama” Anda, dan membandingkan hidup gereja dengan unsur perkemahan itu. Akan tetapi semakin sering kita masuk ke belakang tirai, ditransfusikan, dan diinfus oleh Kristus yang surgawi, semakin sering pula kita akan berkata, “Hai latar belakang agama, enyahlah dari diriku!” Namun demikian, walau seolah-olah kita telah membuang unsur perkemahan kita, tetapi masih ada saja yang melekat pada diri kita. Sebab itu, kita perlu terus-menerus masuk ke belakang tirai dan pergi di luar perkemahan.

Salah satu unsur perkemahan yang susah dibuang ialah masalah berbahasa lidah. Mereka yang berlatar belakang berbahasa lidah sering bertanya, “Bagaimana tentang bahasa lidah dalam gereja? Di manakah kalian meletakkan hal ini? Apakah kalian mengira hal ini tidak berguna?” Boleh jadi Anda sering mengajukan pertanyaan demikian. Betapa sukarnya kita meninggalkan latar belakang agama kita! Saya tidak menyalahkan bahasa lidah, tetapi kita ini hanya untuk ekonomi Allah, yakni untuk penyaluran Allah Tritunggal ke dalam kita bagi pembangunan Tubuh Kristus. Kita bukan untuk agama apa pun, entah itu golongan fundamental, Pentakosta, atau Kharismatik. Kita hanya untuk satu hal penyaluran Allah Tritunggal ke dalam diri kita, agar kita dapat diubah dan dibangun bersama menjadi ekspresi-Nya yang korporat, serta dapat mengakhiri zaman ini dan mendatangkan kerajaan-Nya. Hal ini hanya bisa terlaksana melalui masuknya kita ke belakang tirai, mengalami tabut kesaksian Allah dengan manna yang tersembunyi, tongkat yang bertunas, dan hukum hayat. Dengan mengalami semua hal tersebut, kita akan diinfus, diperkuat, memiliki kekuatan dan mampu keluar dari segala perkemahan. Beban saya yang sesungguhnya dalam semua berita Surat Ibrani ialah agar kita semua masuk ke belakang tirai dan pergi ke luar perkemahan. Inilah sasaran dan kesimpulan terakhir Surat Ibrani.

Bila kita masuk ke belakang tirai melalui masuk ke dalam roh kita, kita akan mengecap kemanisan Kristus yang surgawi, sehingga kita mampu pergi ke luar perke-mahan, meninggalkan bumi dan kasih bumiah. Ketika kita menetap di belakang tirai, roh kita akan dipenuhi dengan kemuliaan Kristus yang surgawi, sehingga hati kita dapat dibebaskan dari pengekangan kenikmatan bumiah di luar perkemahan. Tidak hanya demikian, di belakang tirai kita dapat memandang Kristus yang telah dimuliakan, sehingga kita tertarik mengikuti Kristus yang menderita sengsara di luar perkemahan. Memandang wajah-Nya di surga, akan memungkinkan kita mengikuti jejak-Nya di bumi. Ketika kita masuk ke belakang tirai, kita akan diinfus dengan kuasa kebangkitan (Flp. 3:10), supaya kita diperkuat untuk menempuh jalan salib di luar perkemahan. Kita juga mengambil bagian dalam ministri Kristus yang surgawi, agar kita diperlengkapi untuk menyuplaikan-Nya kepada roh-roh yang dahaga di luar perkemahan. Di sini kita menikmati berkat Tuhan yang terindah, sehingga kita diperkaya dan dapat memenuhi keperluan orang-orang di luar perkemahan.

V. DIPERLENGKAPI DENGAN SEGALA YANG BAIK

MELALUI MASUK KE BELAKANG TIRAI

DAN PERGI KE LUAR PERKEMAHAN

Ayat 20-21 mengatakan, “Kiranya Allah damai sejahtera, yang dengan darah perjanjian yang kekal telah membawa kembali dari antara orang mati Gembala Agung segala domba, yaitu Yesus, Tuhan kita, memperlengkapi kamu dengan segala yang baik untuk melakukan kehendak-Nya, dan mengerjakan di dalam kita apa yang berkenan kepada-Nya, melalui Yesus Kristus. Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya! Amin.” Melalui masuk ke belakang tirai dan pergi ke luar perkemahan, kita akan diperlengkapi dengan segala yang baik. Di dalam kita, oleh Yesus Kristus, Allah sedang mengerjakan apa yang berkenan kepada-Nya, agar kita dapat melakukan kehendak-Nya. Karena “Allah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya.” (Flp. 2:13). Dari awal hingga akhir, kitab ini menyajikan kepada kita Kristus yang surgawi. Hanya dalam Ibrani 13:21 dikatakan, “(Allah) . . . mengerjakan di dalam kita . . . melalui Yesus Kristus,” menyiratkan Kristus yang berhuni. Ini menyatakan bahwa Allah beroperasi di dalam kita, melalui Kristus yang berhuni (Dia yang kita nikmati di dalam roh, di belakang tirai), supaya kita melakukan kehendak-Nya.

Dalam ayat 20 Tuhan Yesus disebut sebagai “Gembala Agung segala domba”. “Segala domba” di sini adalah kawanan domba, yaitu gereja. Ini memperkuat pandangan bahwa hal-hal yang diliput dalam pasal ini, dengan pengalaman atas Kristus yang tak berubah sebagai kurban penghapus dosa kita, yang melaluinya kita telah ditebus, dan sebagai Gembala Agung kita yang oleh-Nya kita sekarang dirawat, semuanya adalah untuk hidup gereja.

Ayat 20 juga menyinggung suatu “perjanjian yang kekal”. Kitab Ibrani tidak memperhatikan hal-hal yang sementara, seperti hal-hal dari perjanjian yang lama, melainkan hal-hal yang kekal, hal-hal yang melampaui batas waktu dan ruang, seperti keselamatan yang kekal (5:9), penghukuman yang kekal (6:2), penebusan yang kekal (9:12), Roh yang kekal (9:14), warisan kekal (9:15) dan perjanjian yang kekal (13:20). Perjanjian yang baru bukan hanya suatu perjanjian yang lebih baik (7:22; 8:6), tetapi juga adalah suatu perjanjian yang kekal. Perjanjian ini berlaku untuk selamanya karena khasiat kekal darah Kristus, yang dengannya perjanjian ini disahkan (Mat. 26:28; Luk. 22:20).

Kitab ini ditutup dengan pemberkatan, “Anugerah menyertai kamu sekalian. Amin.” Untuk memahami dan mengambil bagian dalam semua hal yang disingkapkan di dalam kitab ini, kita perlu anugerah. Untuk memiliki anugerah (12:28), kita perlu menghampiri takhta anugerah, agar kita dapat menemukan anugerah, untuk mendapatkan pertolongan kita pada waktunya (4:16). Ketika kita menjamah takhta anugerah di dalam tempat maha kudus, melalui melatih roh kita, kita akan menikmati Roh anugerah (10:29) dan hati kita akan dikuatkan oleh anugerah (13:9). Dengan menikmati anugerah secara demikian kita dapat berlari dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita (12:1), untuk mencapai sasaran ekonomi Allah.