← Daftar isi Ibrani (4) · bab 4/17

MENGALAMI KRISTUS UNTUK HIDUP GEREJA

Dalam berita ini kita akan melihat masalah mengalami Kristus untuk hidup gereja (13:8-15). Sebelum membahasnya, saya mempunyai beban menambah beberapa kata mengenai jalan, perlombaan, dan jalan-jalan (paths), khususnya mengenai berubahnya satu perlombaan menjadi banyak jalan.

Dengan melihat susunan perabotan tabernakel, kita dapat nampak bagaimana Kristus sebagai jalan dan perlombaan, dan bagaimana satu perlombaan berubah menjadi banyak jalan. Seperti telah kita ketahui, mezbah dan bejana pembasuhan berada di pelataran luar; meja roti sajian, kaki pelita, dan mezbah pembakaran ukupan ada dalam tempat kudus; sedang tabut kesaksian dengan buli-buli emas, tongkat yang bertunas, dan batu loh kesaksian, berada dalam tempat maha kudus. Mezbah, bejana pembasuhan, mezbah pembakaran ukupan, dan tabut membentuk sebuah garis bujur, sedang meja roti sajian dan kaki pelita membentuk sebuah garis lintang. Kedua garis itu membentuk salib. Setiap benda itu melambangkan satu aspek dari Kristus.

Perhatikanlah pengalaman seorang dosa yang datang kepada Kristus. Pertama-tama ia datang ke mezbah di mana ia berlutut, mengaku dosa, dan menerima Kristus sebagai Pengganti, Penebus, dan Juruselamat. Di mezbah ini ia mulai menikmati Kristus. Setelah menikmati Kristus di mezbah, ia menuju ke bejana pembasuhan yang menandakan Sang Penebus ini telah menjadi Roh pemberi hayat (1Kor. 15:45b; 2Kor. 3:17); di situ ia mengalami pembasuhan air hayat. Pembasuhan air dalam bejana pembasuhan berbeda dengan pembasuhan darah di mezbah. Kalau darah di mezbah membasuh dosa-dosa kita, maka air di bejana pembasuhan membasuh kecemaran bumiah.

Banyak orang Kristen selalu mondar-mandir di antara mezbah dan bejana pembasuhan, tetapi kita perlu menempuh jalan lurus memasuki tempat kudus. Setelah itu kita berbelok ke kanan ke meja roti sajian, di sana kita menik-mati Kristus sebagai roti hayat. Sebelum masuk ke dalam gereja, kita tidak pernah mendengar orang berkata bahwa Kristus dapat dimakan. Tetapi Tuhan Yesus berkata, “Akulah roti kehidupan (hayat) “ dan “siapa saja yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku.” (Yoh. 6:48, 57). Setelah masuk ke dalam gereja, kita mendapatkan bantuan untuk memakan Kristus, mendapatkan pemeliharaan-Nya, bahkan mengunyah Dia. Sesudah mendapatkan perawatan dari Kristus di meja roti sajian, kita harus berbalik badan dan menempuh jalan lurus menuju kaki pelita. Di kaki pelita ini kita menerima penerangan dari terang hayat (Yoh. 1:4), yakni terang yang berasal dari perawatan Kristus. Dari kaki pelita kita berbalik ke belakang lagi menuju ke garis tengah dan membelok ke kiri ke mezbah pembakaran ukupan untuk menikmati Kristus dalam kebangkitan sebagai wangi-wangian, yang olehnya kita diperkenan Allah. Pengalaman atas mezbah pembakaran ukupan ini selanjutnya membawa kita langsung ke tempat maha kudus. Dalam Kemah Pertemuan, kita melihat ada beberapa jalan; jalan dari salib ke bejana pembasuhan, jalan dari bejana pembasuhan ke meja roti sajian, jalan dari meja roti sajian ke kaki pelita, dari kaki pelita ke mezbah pembakaran ukupan, dan dari mezbah pembakaran ukupan ke tabut dalam tempat maha kudus. Bila kita berada di tempat maha kudus, barulah kita berada dalam kemuliaan Allah. Tetapi kita tidak boleh berhenti di sini. Kita harus maju terus untuk mengalami seluruh isi tabut itu, yakni mendapatkan perawatan Kristus sebagai manna yang tersembunyi, berbagian atas Kristus sebagai tongkat yang bertunas, dan mengalami operasi hukum hayat. Seperti pernah kita katakan, operasi hukum hayat akan membuat kita menjadi reproduksi korporat model standar Allah, untuk penggenapan kehendak Allah yang kekal. Jalan-jalan dari mezbah di pelataran luar sampai ke tabut dalam tempat maha kudus semua adalah jalan kita untuk menggenapkan ekonomi Allah dan menikmati hak kesulungan. Pada akhirnya, itulah jalan menuju kesempurnaan, pemuliaan, dan kenikmatan penuh atas diri Allah. Semua yang kita butuhkan terdapat di jalan ini.

Begitu kita berada di jalan ini, janganlah kita bimbang dan ragu. Kita harus berlari dalam perlombaan, melupakan agama Yahudi, kekristenan, dan segala agama lainnya. Begitu kita mulai berlari, jalan ini segera berubah menjadi perlombaan yang terdiri dari banyak jalan, yaitu jalan dari mezbah ke bejana pembasuhan, jalan dari bejana pembasuhan ke meja roti sajian, jalan dari meja roti sajian ke kaki pelita, jalan dari kaki pelita ke mezbah pembakaran ukupan, jalan dari mezbah pembakaran ukupan ke tabut jalan-jalan ini membentuk sebuah jalan Allah yang unik.

Mengapa kita perlu begitu banyak belokan atau tikungan dalam mengalami Kristus sebagai jalan? Sebab kita perlu salib untuk menyingkirkan segala hal yang negatif di dalam kita. Saya pernah menunjukkan bahwa susunan perabotan Kemah Pertemuan membentuk salib. Jalan di dalam Kristus itu berbentuk salib. Pada hakikatnya, jalan itu ialah salib. Ketika kita mulai dari mezbah di pelataran luar, diri kita penuh dengan hal-hal yang negatif, seperti dosa, dunia, daging, hawa nafsu, dan Iblis. Tetapi, ketika kita bergerak menelusuri jalan-jalan ini, dan melewati semua tikungannya, hal-hal negatif tadi tersingkirkan. Begitu kita mencapai tabut dalam tempat maha kudus, kita menjadi orang yang telah disucikan. Saya ulangi, semua hal yang negatif telah disingkirkan oleh tikungan-tikungan yang membentuk jalan-jalan tersebut. Apa yang tersisa setelah melewati tikungan-tikungan tadi tidak lain sifat insani yang telah dibangkitkan dan ditinggikan, yang cocok untuk berbaur dengan sifat ilahi. Alangkah indahnya hal ini! Hanya Allah yang dapat merancang sedemikian.

Kini marilah kita membahas pengalaman atas Kristus dalam Ibrani 13:8-15. Dalam dua belas pasal yang di depan dari Surat Ibrani sudah banyak hal yang dibahas, mengapa penulis masih perlu mencantumkan pengalaman atas Kristus dalam pasal 13? Karena para penganut agama Yahudi ingin memakai aspek tertentu dari upacara agama mereka makan jamuan perayaan untuk menarik kaum beriman Ibrani. Menurut Perjanjian Lama, bani Israel datang ke Yerusalem setahun tiga kali untuk menyembah Allah dalam perayaan tahunan mereka; pada hari-hari itu mereka berhimpun sambil makan bersama selama beberapa hari. Dalam perayaan itulah mereka memakan jamuan festival mereka. Makan bersama semacam itu adalah hal yang sangat menarik, itulah yang melatarbelakangi ayat 9, yang mengatakan, “Janganlah kamu disesatkan oleh berbagai-bagai ajaran asing. Sebab yang baik ialah bahwa hati kamu diteguhkan dengan anugerah dan bukan dengan aturan-aturan tentang makanan yang tidak memberi faedah kepada mereka yang menurutinya.” Istilah “makanan” yang di sini bertentangan dengan “anugerah”, dan itu mengacu kepada makanan yang digunakan dalam upacara-upacara ibadah perjanjian yang lama (9:10; Kol. 2:16). Para penganut Yudaisme berusaha menggunakan makanan yang demikian untuk menyesatkan kaum beriman Ibrani dari kenikmatan atas anugerah, yaitu mengambil bagian dalam Kristus di dalam perjanjian yang baru.

Sewaktu hari raya itu berlangsung, setiap orang Israel merasa gembira sekali, jauh lebih gembira daripada perayaan hari Natal bagi orang Amerika maupun Eropa. Maka pencari-pencari Kristus sangat sulit menghindarkan diri dari tarikan yang demikian hebat. Boleh jadi para penganut agama Yahudi itu datang kepada kaum beriman Ibrani dan berkata, “Sedikit hari lagi hari raya pondok Daun akan dimulai, kalau kalian tidak mau ikut, kalian akan kehilangan semua kenikmatan. Ketika kami berhimpun bersama dan bernyanyi-nyanyi, sambil menikmati kekayaan tanah permai, di manakah kalian? Kalian hanya mengikuti sidang gereja di sebuah rumah kecil. Apa yang kalian makan di sana? Kalau kalian pergi ke situ, kalian akan kehilangan hak untuk menyembelih kurban untuk kalian makan. Jika kalian ingin makan, kalian harus pergi ke Bait Allah bersama kami. Tetapi sayang kalian malah meninggalkan pesta kami yang berharga ini. Itu berarti kalian, yang disebut orang Kristen, telah kehilangan segala kenikmatan ini!” Andaikata Anda seorang Yahudi di masa itu, dapatkah Anda bertahan terhadap tarikan demikian? Kebanyakan di antara kita tentu akan tidak berdaya menolak tarikan itu. Saat itu juga mungkin ada seorang beriman datang kepada kaum beriman Ibrani dan berkata, “Janganlah kembali ke Bait Allah. Jika ke sana, kalian akan kehilangan anugerah Allah. Jangan dengarkan ajaran-ajaran asing tentang makanan dalam agama kita yang usang itu. Kristus adalah realitas. Dialah segala sesuatu!” Dalam menghadapi dilema semacam itu, kaum beriman Ibrani tidak tahu bagaimana sebaiknya. Karena itu, dalam pasal 13 ini penulis memberikan perkataan yang tegas untuk menasihati mereka.

I. KRISTUS TIDAK BERUBAH,

TETAP SAMA SELAMA-LAMANYA

Tertulis dalam ayat 8 “Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya.” Kristus adalah firman yang diberitakan dan diajarkan oleh para pelayan firman dalam ayat 7, adalah kehidupan yang mereka tempuh, juga Perintis dan Penyempurna iman mereka. Dia kekal selama-selamanya, tidak dapat diubah, dan tidak berubah. Dia tetap sama selamanya (1:11-12). Penulis seolah-olah mengatakan kepada kaum beriman Ibrani, “Saudara-saudara, Allah mengirim utusan-Nya untuk memberitakan firman Kristus kepada kalian. Kristus bukan hanya firman yang mereka beritakan, tetapi juga kehidupan yang mereka tempuh. Kristus ini selamanya sama. Ia sama, kemarin, hari ini, dan sampai selama-lamanya. Kalau kalian dulu telah menerima-Nya sebagai Kristus, janganlah kalian mengubah konsepsi kalian sekarang karena ajaran-ajaran asing tentang makanan. Janganlah kalian menjual hak kesulungan kalian dalam Kristus hanya karena menginginkan sedikit makanan dalam upacara itu. Kalau kalian belum menerima Kristus, aku tidak berkata demikian kepada kalian. Tetapi kalian telah menerima Kristus yang tidak berubah, maka kalian pun seharusnya tidak berubah. Janganlah disesatkan oleh ajaran-ajaran asing tentang makanan pesta. Semua makanan itu tidak ada artinya!” Surat Ibrani adalah sejilid kitab yang dalam. Kita tidak dapat memahaminya menurut huruf-huruf hitam di atas putih saja. Bila kita ingin memahami pasal 13, kita harus menyelami kedalamannya.

II. BERPEGANG PADA KRISTUS YANG TIDAK

BERUBAH UNTUK MENEMPUH HIDUP GEREJA

YANG SEJATI DAN MANTAP

Ayat 9 mengatakan tentang “berbagai-bagai ajaran asing.” Untuk menempuh hidup gereja yang sejati dan mantap, kita harus berpegang pada Kristus yang tidak berubah. Berbagai-bagai ajaran asing selalu digunakan oleh Iblis untuk menimbulkan perselisihan dan bahkan perpecahan di dalam gereja. Karena itu, rasul melarang orang-orang mengajarkan hal-hal yang berbeda (1Tim. 1:3). Pada waktu itu, para penganut Yudaisme pasti telah mengajarkan berbagai ajaran asing. Penulis memperingatkan kaum beriman Ibrani agar tidak membiarkan ajaran-ajaran para penganut Yudaisme menyesatkan mereka dari hidup gereja di bawah perjanjian yang baru. Dalam gereja, tidak boleh mengajarkan “Yesus lain” dan “Injil lain” (2 Kor. 11:4; Gal. 1:8-9). Untuk hidup gereja yang sejati dan mantap, kita harus berpegang pada Kristus yang tetap sama baik kemarin maupun hari ini, dan bahkan selamanya, dan tidak sepatutnya disesatkan oleh berbagai-bagai ajaran asing.

III. DITEGUHKAN DENGAN ANUGERAH,

TETAP TINGGAL DALAM PERJANJIAN BARU, MENIKMATI KRISTUS SEBAGAI ANUGERAH

Karena para penganut agama Yahudi memakai makanan upacara perayaan perjanjian lama untuk menyesatkan kaum beriman Ibrani, maka penulis surat ini menyuruh mereka diteguhkan dengan anugerah. Pada waktu itu diteguhkan dengan anugerah berarti tetap tinggal di dalam perjanjian yang baru untuk menikmati Kristus sebagai anugerah (Gal. 5:4), dan tidak disesatkan kepada Yudaisme dengan mengambil bagian dalam makan makanan (dari kurban-kurban) dalam upacara-upacara keagamaan orang Yahudi.

Banyak orang kudus tercinta yang telah nampak pemulihan Tuhan hari ini, tetapi mereka telah menjual hak kesulungan mereka karena perayaan hari Natal. Perayaan Natal mirip dengan pesta dalam agama Yahudi. Banyak orang Kristen di Amerika dan Eropa merasa keberatan untuk meninggalkan Sinterklas dan pohon natal. Ajaran tentang Sinterklas, pohon natal, dan kaus kaki natal adalah ajaran-ajaran asing pada hari ini. Banyak juga orang kudus dari Barat yang telah tertarik oleh ajaran itu sehingga meninggalkan pemulihan Tuhan. Jika kita mengesampingkan hal-hal ini, banyak anak akan meninggalkan gereja, banyak kakek dan nenek akan merasa tidak senang, dan berkata, “Ini pengkhotbah dari mana, ia datang ke negeri kita untuk menghapus perayaan Natal, Sinterklas, dan kaus kaki natal?” Lainnya akan berkata, “Kami tahu pemulihan Tuhan itu memang jalan yang benar, namun karena anak-anak kami tidak dapat meninggalkan hari Natal, sebab itu kami pun tidak dapat menempuh jalan ini.” Pada prinsipnya, me-reka telah ditarik oleh agama hari ini, sama seperti kaum beriman Ibrani telah ditarik oleh makanan festival di abad pertama itu.

IV. SALIB ADALAH MEZBAH KITA

YANG DI ATASNYA KRISTUS

MEMPERSEMBAHKAN DIRINYA

SEBAGAI KURBAN PENGHAPUS DOSA

Ayat 10 mengatakan, “Kita mempunyai suatu mezbah dan orang-orang yang melayani kemah tidak boleh makan dari apa yang di dalamnya.” Mezbah ini tentu mengacu kepada salib tempat Tuhan Yesus mempersembahkan diri-Nya sendiri sebagai kurban karena dosa-dosa kita (10:12). Menurut peraturan-peraturan mengenai persembahan-persembahan dalam Perjanjian Lama, kurban karena dosa, atau kurban penghapus dosa, darahnya dibawa masuk ke dalam tempat maha kudus atau tempat kudus untuk pendamaian, tidak memberikan apa-apa untuk dimakan oleh imam yang mempersembahkan atau orang yang mempersembahkan, seluruh kurban harus dibakar habis (Im. 4:2-12; 16:27; 6:30). Karena itu, mereka yang melayani kemah tidak berhak makan dari mezbah kurban penghapus dosa (yang penggenapan Perjanjian Barunya adalah salib Tuhan). Ayat 10 adalah argumentasi yang kuat melawan penggunaan makanan dalam berbagai-bagai ajaran asing para penganut Yudaisme yang mencoba menyesatkan kaum beriman perjanjian yang baru dari kenikmatan atas Kristus. Yang ditekankan para penganut Yudaisme adalah makanan yang mereka nikmati di dalam pelayanan-pelayanan keagamaan mereka. Namun penulis kitab ini menyatakan bahwa di dalam kurban penghapus dosa, kurban dasar untuk pendamaian tahunan (Im. 16) tidak ada yang dapat dimakan oleh siapa pun. Kurban penghapus dosa bukan memberi manusia makan sesuatu, melainkan memberi manusia khasiat penudungan dosa. Sekarang kurban penghapus dosa yang sejati adalah Kristus, yang telah mempersembahkan diri-Nya sendiri kepada Allah karena dosa kita dan telah merampungkan penebusan yang sempurna bagi kita, agar kita dapat dibawa ke dalam kenikmatan atas anugerah Allah dalam Dia di bawah perjanjian yang baru. Yang kita perlukan hari ini bukanlah makan makanan dari pelayanan-pelayanan perjanjian yang lama, melainkan menerima khasiat kurban Kristus dan mengikuti Dia di dalam anugerah perjanjian yang baru di luar perkemahan, di luar agama orang Yahudi. Dalam kitab ini Kristus hanya ditampilkan sebagai kurban penghapus dosa, tidak sebagai kurban lainnya. Karena masalah utama kita dengan Allah adalah masalah dosa, maka kurban penghapus dosa adalah kurban yang utama dan terpenting di antara semua kurban. Bila masalah dosa kita belum beres, maka masalah kita dengan Allah akan tetap ada. Kitab ini berkali-kali menerangkan bahwa Kristus telah mempersembahkan diri-Nya (7:27; 9:14), semuanya menyinggung bahwa Kristus mempersembahkan diri-Nya sebagai kurban penghapus dosa. Jadi, argumentasi dalam pasal 13 adalah: tidak peduli berapa banyak kaum beriman Ibrani mengikuti festival dan makan makanan upacara perayaan itu, mereka tetap tidak mungkin dapat memakan kurban penghapus dosa. Namun, sekarang mereka menikmati Kristus sebagai kurban penghapus dosa, dan kurban ini tidak dapat dimakan oleh mereka dalam agama Yahudi. Tidak hanya demikian, tertulis dalam ayat 11 “Karena tubuh binatang-binatang yang darahnya dibawa masuk ke tempat kudus oleh Imam Besar sebagai kurban penghapus dosa, dibakar di luar perkemahan.” Tubuh Kristus telah dibawa keluar pintu gerbang. Di sana, dalam suatu pengertian, Ia menderita kematian terbakar. Maka seba-gai kurban penghapus dosa, Kristus tidak untuk dimakan, melainkan untuk dipersembahkan di luar pintu gerbang.

V. TUBUH KRISTUS MENDERITA MAUT SALIB

DI LUAR PINTU GERBANG, DARAH-NYA DIBAWA

MASUK KE DALAM TEMPAT MAHA KUDUS

UNTUK MENGUDUSKAN KITA

Ayat 12 mengatakan, “Itu jugalah sebabnya Yesus telah menderita di luar pintu gerbang untuk menguduskan umat-Nya dengan darah-Nya sendiri.” Darah kurban penghapus dosa dibawa masuk ke dalam tempat maha kudus pada hari pendamaian untuk mendamaikan umat; tubuh binatang-binatang itu dibakar di luar perkemahan (Im. 16:14-16, 27). Ini melambangkan darah Kristus, yang adalah kurban penghapus dosa yang sejati, yang dibawa masuk ke dalam tempat maha kudus yang sejati untuk merampungkan pe-nebusan bagi kita; tubuh Kristus dikurbankan bagi kita di luar pintu gerbang kota Yerusalem.

Tubuh Kristus menderita maut salib di luar pintu gerbang, darah-Nya dibawa ke dalam tempat maha kudus untuk pengudusan kita (ayat 11-12). Kitab ini menyingkapkan kepada kita bahwa panggilan surgawi Allah adalah untuk membuat kita menjadi umat kudus (3:1), umat yang dikuduskan bagi Allah. Kristus adalah Sang Pengudus (2:11). Dia telah menderita kematian di atas salib, mencurahkan darah-Nya, dan memasuki tempat maha kudus dengan darah-Nya (9:12), agar melalui ministri surgawi (8:2, 6) dari keimaman surgawi-Nya (7:26), Dia dapat melakukan pekerjaan pengudusan, dan agar kita dapat masuk ke belakang tirai oleh darah-Nya untuk berbagian di dalam Dia sebagai Sang Pengudus surgawi. Dengan berbagian di dalam Dia sedemikian ini, kita dapat mengikuti Dia di luar perkemahan melalui jalan pengudusan salib.

VI. PERGI KEPADA-NYA

“DI LUAR PERKEMAHAN”,

MENANGGUNG KEHINAAN-NYA,

MENGIKUTI-NYA DI JALAN PENGUDUSAN SALIB

Tuhan dengan darah-Nya sendiri masuk ke dalam tempat maha kudus (9:12) dan darah ini telah membuka jalan yang baru dan yang hidup, sehingga kita dapat masuk ke belakang tirai untuk menikmati Dia di surga sebagai Yang dimuliakan (10:19-20); dan tubuh-Nya yang telah dikurbankan untuk kita di kayu salib, juga telah membuka jalan salib yang sempit, sehingga kita dapat pergi ke luar perkemahan untuk mengikuti Dia di bumi sebagai Yang menderita. Ayat 13 menerangkan, “Karena itu, marilah kita pergi kepada-Nya di luar perkemahan dan menanggung kehinaan-Nya.” Kalau kita mau menjadi orang Kristen sejati, kita harus mengalami Kristus, namun bukan dengan memakan makanan agama, melainkan melalui pergi ke luar perkemahan dan menanggung kehinaan-Nya, yakni mengikuti Dia di jalan pengudusan salib. Kita perlu mengalami Kristus pada aspek yang khusus ini. Bila kita ingin mengalami-Nya dalam aspek ini, kita harus masuk “ke belakang tirai”, yakni masuk ke tempat maha kudus, menikmati-Nya sebagai Pengudus surgawi kita dalam imamat-Nya yang surgawi (10:19-20; 6:19-20).

Kita telah menunjukkan bahwa dalam pasal 13 terdapat banyak kebajikan yang diperlukan bagi hidup gereja. Bila kita tidak memiliki kebajikan-kebajikan tersebut, kita tidak mungkin menempuh hidup gereja. Andaikan kaum beriman Ibrani berpaling kembali ke Bait Allah dan memakan makanan upacara perayaan agama Yahudi, tidak mungkinlah mereka menempuh hidup gereja. Demikian juga prinsipnya pada hari ini. Mereka yang meninggalkan persidangan gereja dan kembali kepada upacara ibadah kekristenan, telah membuang hak kesulungan mereka. Orang yang sengaja berbuat demikian berarti tidak memperhatikan Kristus dan gereja, tetapi hanya memperhatikan daya tarik agamis. Karena mereka telah menjual hak kesulungan mereka, maka mereka tidak dapat menikmati Kristus, juga tidak dapat menunaikan imamat dan jabatan raja. Coba pikir, mungkinkah orang beriman yang demikian bisa menikmati hak kesulungan sebagai pahala dalam Kerajaan Seribu Tahun? Menurut wahyu Perjanjian Baru, jika kita tidak melatih roh untuk menetap dalam gereja, menikmati Kristus sebagai tanah permai, dan menunaikan tugas kita sebagai imam dan raja pada hari ini, kita tidak layak menikmati hak kesulungan sebagai pahala dalam Kerajaan Seribu Tahun itu. Jika kita ingin menerapkan hak kesulungan kita, agar beroleh pahala dalam kerajaan kelak, haruslah kita tetap tinggal di dalam gereja.

Untuk bisa tetap tinggal di dalam gereja kita harus meletakkan setiap praktek agama. Misalkan, ada orang yang dulu pernah menjadi pendeta, ia tetap senang dipanggil “pendeta”, tidak mau menyingkirkan gelar itu. (Di Amerika dan Inggris gelar pendeta ialah Reverend, berarti yang terhormat). Padahal yang terhormat hanya Allah (Mzm. 111:9), tetapi mereka tetap mempertahankan sebutan itu dan menikmatinya sebagai makanan agama. Apakah gunanya memakai gelar seperti itu? Kalau Anda tetap memakainya, Anda harus membayar harga dengan mengorbankan hak kesulungan Anda. Hati kita harus diteguhkan dengan anugerah, bukan dengan makanan agama macam apa pun; bukan oleh tarikan, kedudukan, gelar, dan praktek-praktek agama yang mana pun. Semuanya itu harus kita kesampingkan.

Anugerah berada di perlombaan dan jalan-jalan (paths). Janganlah kita sampai dialihkan dari setiap jalan dalam perlombaan ini, sebaliknya hendaklah kita maju terus di atas perlombaan anugerah. Banyak hal sedang menunggu kesempatan untuk mengalihkan kita dari jalan perlombaan ini, yakni meninggalkan jalan untuk menikmati anugerah. Seperti yang diwahyukan dalam susunan perabotan Kemah Pertemuan, tiap jalan dalam perlombaan ini merupakan salah satu aspek dari kenikmatan kita atas Kristus. Kita harus terus berlari dalam perlombaan dalam kenikmatan atas Kristus ini. Jangan sampai dialihkan oleh gelar, kedudukan, atau tarikan-tarikan agama, yang hanya merupakan “makanan-makanan” agama. Kita harus mengalami Kristus sebagai anugerah kita untuk hidup gereja. Jika kita tidak mengalami-Nya sedemikian, kita tidak dapat menempuh hidup gereja.

Jika kita ingin mengalami Kristus di aspek ini, kita harus menempuh jalan salib, menderita penganiayaan, penolakan dan perlawanan dari pihak agama. Sebagaimana Kristus menderita sengsara di luar pintu gerbang, kita pun harus mengikuti-Nya, menderita kehinaan-Nya di luar pintu gerbang. Jika hari ini kita mengambil bagian dalam penderitaan-Nya, kelak kita juga beroleh bagian dalam pemuliaan-Nya. Jika kita mengalami Kristus sedemikian, yakni menanggung kehinaan-Nya di atas jalan salib, kita pasti terpelihara di dalam kelimpahan hidup gereja; sehingga setiap sidang gereja terangkat tinggi dan menjadi kaya melimpah. Dalam hidup gereja yang demikian, kita dapat menerapkan hak kesulungan kita. Hal ini akan membuat kita memperoleh pahala dalam kerajaan yang akan datang.

VII. DI SINI TIDAK ADA KOTA YANG TETAP,

TIDAK ADA LINGKUNGAN YANG TERORGANISIR,

MELAINKAN MENCARI KOTA YANG AKAN

DATANG, YAKNI KOTA ALLAH

YANG KUDUS — YERUSALEM BARU

Dalam ayat 12 tercantum perkataan “di luar pintu gerbang”, sedang ayat 13 mengatakan tentang “di luar perkemahan”. Pintu gerbang di sini adalah pintu gerbang kota Yerusalem. “Kota” melambangkan ruang lingkup bumiah, sedangkan perkemahan melambangkan organisasi insani. Keduanya melambangkan satu hal, yaitu agama orang Yahudi dengan kedua aspeknya, bumiah dan insani. Yudaisme bersifat bumiah dan insani. Ayat 14 mengatakan, “Sebab di sini kita tidak mempunyai kota yang tetap; kita mencari kota yang akan datang.” Ini berarti kita di sini tidak mempunyai sebuah kota yang tetap atau lingkungan yang terorganisir atau tersusun, tetapi kita mencari kota yang akan datang, yakni kota Allah yang kudus, Yerusalem Baru (Why. 21:2, 10). Dengan kata ganti “kita”, penulis menunjukkan bahwa ia menganggap dirinya bersama para pembacanya sebagai penyeberang-penyeberang sungai Ibrani yang sejati, sama seperti nenek moyang mereka (11:9-10, 13-16).

VIII. DALAM TEMPAT MAHA KUDUS,

MELALUI YESUS, MEMPERSEMBAHKAN

KURBAN SYUKUR KEPADA ALLAH

Ayat 15 mengatakan, “Sebab itu, marilah kita, melalui Dia, senantiasa mempersembahkan kurban syukur kepada Allah, yaitu ucapan bibir yang memuliakan nama-Nya.” Ayat 15 adalah lanjutan dari ayat 8-14. Karena di dalam hidup gereja kita menikmati Kristus yang tidak berubah sebagai anugerah dan mengikuti Dia di luar agama, maka kita harus mempersembahkan kurban rohani kepada Allah melalui Dia. Pertama-tama, di dalam gereja kita harus mempersembahkan kurban puji-pujian kepada Allah secara terus-menerus melalui Dia. Dalam gereja, Tuhan Yesus di dalam kita menyanyikan kidung pujian kepada Allah Bapa (2:12). Di dalam gereja kita juga harus memuji Allah Bapa melalui Dia. Akhirnya, di dalam gereja Dia dan kita, kita dan Dia bersama-sama di dalam roh yang berbaur memuji Bapa. Dia adalah Roh pemberi hayat, memuji Bapa; di dalam roh kita; kita melalui roh kita, memuji Bapa di dalam Roh-Nya. Inilah kurban yang terbaik dan tertinggi yang dapat kita persembahkan kepada Allah melalui Dia. Hal ini sangat diperlukan dalam sidang-sidang gereja.