SEPULUH KEBAJIKAN PRAKTIS BAGI HIDUP GEREJA
Surat Ibrani kelihatannya tidak menyinggung masalah gereja, tetapi pada dasarnya, surat ini mutlak ditujukan kepada gereja, sebab gereja adalah perwujudan dan peram-pungan sempurna ekonomi Allah. Dalam Ibrani 2 kita nampak jelas bahwa Kristus yang bangkit beserta sifat insani-Nya yang ditinggikan adalah bagi gereja. Menurut Ibrani 2:12, setelah kebangkitan-Nya, Kristus kembali lagi kepada saudara-saudaraNya, dan Ia bernyanyi memuji-muji Bapa di tengah-tengah gereja. Dalam ayat ini gereja disinggung dengan jelas dan pasti. Dengan ini kita nampak Surat Ibrani bukan hanya membicarakan Kristus, ia pun membicarakan gereja.
Ibrani 10:25 mengatakan tentang janganlah kita menjauhkan diri kita dari pertemuan ibadah (sidang). Seperti telah kita tegaskan, bagi kaum beriman Ibrani, menjauhkan diri dari pertemuan ibadah berarti meninggalkan jalan perjanjian baru. Ketika kaum beriman berhimpun bersama di zaman kuno itu, perhimpunan mereka adalah gereja yang riil dan sesungguhnya.
Kita juga pernah membaca Ibrani 12:18-24, yang memperlihatkan suatu perbandingan kontras antara pemandangan perjanjian yang lama dengan perjanjian yang baru. Dalam pemandangan perjanjian yang baru kita nampak Gunung Sion, kota kudus Allah, pesta para malaikat yang bersorak-sorai, dan gereja para anak sulung. Gereja merupakan inti pemandangan ini. Setelah menyinggung gereja, kita lalu nampak Allah, Hakim semua orang, roh-roh orang-orang benar zaman kuno, dan Yesus, Pengantara perjanjian yang lebih indah, berikut darah adi-Nya yang berbicara lebih baik daripada darah Habel. Dari sini kita dapat nampak betapa gereja adalah inti pemandangan perjanjian yang baru.
Sekarang kita mencapai berita dalam pasal 13. Walaupun istilah gereja tidak terdapat dalam pasal ini, tetapi seluruh pasal ini membicarakan hidup gereja (church life). Pengalaman atas Kristus (ayat 8-15) dan sepuluh kebajikan praktis (ayat 1-7, 16-19) yang dibahas di sini, adalah untuk gereja. Hampir semua hal yang dinyatakan dalam ayat 1-7 dan ayat 16-19, seperti kasih persaudaraan dan memberi tumpangan, adalah untuk hidup gereja, bukan hanya untuk kehidupan kristiani. Jika kita menginginkan hidup gereja yang wajar, kita perlu memiliki kesepuluh kebajikan ini. Baiklah sekarang kita melihatnya satu per satu.
I. KASIH PERSAUDARAAN
Ayat 1 mengatakan, “Peliharalah kasih persaudaraan.” Tak seorang pun dapat mengatakan bahwa kasih persaudaraan bukan ditujukan untuk hidup gereja. Jika kita tidak berada dalam hidup gereja, tentu kita tak perlu kasih persaudaraan; kita akan terpisah jauh satu sama lain, tidak perlu saling mengasihi. Namun, karena kita telah dikumpulkan bersama, maka kita perlu memelihara kasih persaudaraan.
Setiap gereja lokal pernah melalui masa bulan madu. Saya yakin, setiap gereja di Amerika Serikat dan Kanada pernah melalui bulan madu. Setelah bulan madu berlalu, setiap pengantin baru akhirnya tentu bisa cekcok. Untuk mempertahankan pernikahan itu, kita perlu kasih suami istri. Dalam gereja kita perlu kasih persaudaraan, sedang dalam keluarga kita perlu kasih suami istri.
Satu Korintus 13:13 mengatakan, “Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan, dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih.” Menurut ayat ini, kasih merupakan kebajikan yang paling besar, juga menjadi jalan yang lebih utama (1Kor. 12:31). Jalan yang lebih utama bukan karunia atau ajaran, melainkan kasih. Kasih adalah ekspresi hayat (1Kor. 13:1). Kasih boleh dikatakan adalah suatu bentuk lain dari ekspresi hayat. Dalam 1 Korintus 8:1 Paulus berkata, “Pengetahuan . . . membuat orang sombong, tetapi kasih membangun.” Kalau kita ingin dibangun bersama, kita perlu memiliki kasih persaudaraan.
II. MEMBERI TUMPANGAN
Ayat 2 “Jangan kamu lalai memberi tumpangan kepada orang, sebab dengan berbuat demikian beberapa orang tanpa diketahuinya telah menjamu malaikat-malaikat.” Betapa pentingnya pemberian tumpangan dalam hidup gereja dalam pemulihan Tuhan hari ini. Tak seorang pun dapat menilai betapa banyaknya pemberian tumpangan itu telah membangun kesaksian Tuhan sejak adanya pemulihan Tuhan di Amerika Serikat. Pemberian tumpangan benar-benar berguna dalam pembinaan gereja. Hal ini mendatangkan banyak darah baru ke dalam persekutuan Tubuh. Kita benar-benar bersyukur kepada Tuhan karenanya! Roma 12:13 menyuruh kita berusaha untuk selalu memberikan tumpangan, dan dalam 1Timotius 3:2, Titus 1:8, dan 1Petrus 4:9, kita juga diperingatkan untuk rela memberikan tumpangan kepada orang. Kasih persaudaraan ini hendaknya dipelihara di antara kita, dan juga jangan lupa memberikan tumpangan kepada orang.
III. INGAT AKAN ANGGOTA YANG MENDERITA
Ayat 3 “Ingatlah orang-orang hukuman, karena kamu sendiri juga adalah orang-orang hukuman. Ingatlah juga orang-orang yang diperlakukan sewenang-wenang, karena kamu sendiri juga masih hidup di dunia ini.” Tidak perlu diragukan bahwa mengingat anggota yang menderita pasti untuk hidup gereja. Bila kita ingat akan anggota yang menderita, berarti kita hidup di dalam Tubuh, dan mempunyai perasaan Tubuh. Jika satu anggota menderita, semua anggota turut menderita (1Kor. 12:26). Inilah kehidupan Tubuh. Sebab itu, ingat akan anggota yang menderita ialah fungsi dalam Tubuh dan dalam hidup gereja.
IV. MENGHORMATI PERKAWINAN
Tertulis dalam ayat 4 “Hendaklah kamu semua penuh hormat terhadap perkawinan dan janganlah kamu mencemarkan tempat tidur, sebab Allah akan menghakimi orang-orang sundal dan pezina.” Dilihat dari luar, hal ini tidak berkaitan dengan hidup gereja. Namun, perkawinan merupakan faktor yang amat penting dalam hidup gereja. Apakah sebuah gereja dalam keadaan sehat ataukah dalam keadaan lemah dan suram, sangat tergantung pada hidup perkawinan. Maka janganlah kita memandang ringan hal ini. Kita harus menghormati perkawinan. Hal ini berarti kita harus menjaga tubuh kita, yaitu wadah kita, dalam kekudusan dan kehormatan (1Tes. 4:3-4), agar “dalam hal-hal ini orang jangan merugikan saudara seimannya atau memperdayakannya” (1Tes. 4:6). Dalam hidup gereja, kontak antara saudara dengan saudari tidak dapat dihindari. Maka, agar terlindung dari kejatuhan ke dalam kecemaran, kita harus menghormati perkawinan dan tidak berperilaku sembarangan. Ini adalah perkara yang sangat mempengaruhi hak kesulungan kita di dalam ekonomi Allah. Ruben kehilangan hak kesulungan karena kecemarannya (Kej. 49:3-4; 1Taw. 5:1), dan Yusuf menerimanya karena kemurniannya (1Taw. 5:1; Kej. 39:7-12). Allah akan menghakimi orang-orang sundal dan pezina; dan gereja juga harus menghakimi mereka (1Kor. 5:1-2, 11-13). Tidak ada yang merusak kaum beriman dan hidup gereja sehebat pencemaran ini.
Ayat 4 mengatakan bahwa orang-orang sundal dan pezina akan dihakimi Allah. Kitab Ibrani menyinggung tentang kekudusan Allah. Allah yang kudus tidak akan bertoleransi terhadap pencemaran apa pun di antara kita. Dia pasti menghakimi umat-Nya (10:30; 12:23).
V. JANGAN MENJADI HAMBA UANG
Ayat 5 mengatakan, “Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu.” Orang yang tamak akan uang tidak akan dapat masuk ke dalam realitas hidup gereja. Setiap hamba uang adalah Yudas, seorang pengkhianat yang menjual Tuhan, kesaksian Tuhan, dan hidup gereja. Orang semacam itu mustahil dapat menempuh hidup gereja.
Ayat 5 juga menganjuri kita harus selalu puas dengan apa yang kita miliki saat ini, sebab Tuhan pernah berfirman, “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.” Kita harus merasa puas dengan apa yang kita miliki, dan dalam keadaan apa pun, karena kita menyadari kita memiliki Tuhan, dan dapat bersandar kepada-Nya. Kita harus selalu puas dengan keadaan kita, sehingga kita tidak akan ditipu dan dipalingkan dari hidup gereja oleh Mammon. Karena kita memiliki Tuhan sebagai Penolong kita, kita seharusnya puas dan tenang agar kita dapat terpelihara sepenuhnya dalam kenikmatan hidup gereja.
Dengan rahmat dan anugerah Tuhan, sebagai orang yang lanjut usia, saya dapat memberi kesaksian kuat kepada kaum muda. Saya menjamin, Anda tak perlu khawatir akan hidup Anda. Allah adalah Bapa kita, Ia mengetahui segala keperluan kita. Saya masih ingat ketika Tuhan menghendaki saya meninggalkan pekerjaan saya untuk ministri-Nya. Saya bergumul dengan Tuhan hampir tiga pekan untuk hal itu. Pada hari terakhir 23 Agustus 1933, saya datang kepada Tuhan tengah malam. Sebelumnya saya menerima firman dari Tuhan dalam Matius 6:33, yaitu bila kita mencari Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya, Tuhan akan menambahkan apa yang menjadi keperluan hidup kita sehari-hari. Malam itu juga saya berusaha mengerti apakah benar saya harus melepaskan pekerjaan lalu sepenuh waktu melayani Dia? Tetapi ketika saya menghadap hadirat-Nya, Ia tidak memberi saya waktu untuk berdoa, Ia hanya menegur saya dengan menunjukkan bahwa Ia telah memberi saya sebuah firman dalam Matius 6. Tuhan berkata, “Jika kau percaya, terimalah; jika tidak percaya, sudahlah.” Tiba-tiba saya merasa Tuhan meninggalkan saya, dan saya kehilangan penyertaan-Nya. Saya tidak dapat berdoa lebih lanjut, bahkan tidak dapat berkata, “dalam nama Tuhan Yesus, amin”. Sambil berlutut di sana, saya mengucurkan air mata dan berkata, “Baiklah Tuhan, aku terima firman-Mu!” Sejak hari itu hingga kini, saya tidak pernah kekurangan apa pun. Tuhan mengetahui kebutuhan kita. Kita boleh dengan tenang mempersembahkan segala sesuatu bagi Tuhan dan hidup gereja; tanpa khawatir akan hidup kita. Asalkan kita masuk dan berada dalam tirai dan keluar ke perkemahan, Tuhan pasti akan memperhatikan segala keperluan kita. Dialah Penolong kita, dan Dia selamanya tidak pernah meninggalkan kita. Kewajiban kita hanya hidup di tempat maha kudus. Hayat kita berada di dalam-Nya, hidup kita pun berada dalam tangan-Nya. Terpujilah Tuhan, karena Dia begitu hidup dan riil!
VI. INGAT AKAN PARA PELAYAN FIRMAN ALLAH
Ayat 7 “Ingatlah akan pemimpin-pemimpin kamu, yang telah menyampaikan firman Allah kepadamu. Perhatikanlah akhir hidup mereka dan teladanilah iman mereka.” Ini sangat penting dalam hidup gereja. Ayat 7 adalah kelanjutan dari ayat 5-6. Kata “akhir hidup mereka” tentunya mengacu kepada hidup dan perilaku yang dituntut oleh para pelayan firman Allah itu. Mereka tidak mengasihi uang, puas dengan apa yang mereka miliki saat ini. Iman mereka tentunya mengacu kepada percaya dan bersandarnya mereka kepada Tuhan, Penolong mereka, untuk kehidupan mereka. Firman yang mereka suplaikan dan kehidupan yang mereka tempuh sudah tentu sepenuhnya adalah Kristus. Iman mereka sudah tentu adalah iman dalam Kristus, dengan Kristus sebagai Perintis dan Penyempurnanya (12:2). Cara hidup dan iman yang demikian tentunya layak diteladani oleh kaum beriman.
Para pelayan firman Allah harus mempunyai suatu cara hidup yang memberikan teladan iman untuk diteladani oleh anggota-anggota gereja, para penerima firman Allah. Dengan demikian, anggota-anggota gereja tidak hanya akan menerima firman yang disuplaikan oleh para pelayan firman, tetapi juga akan meneladani iman mereka yang terekspresi dalam cara hidup mereka. Cara hidup mereka ialah bersandar kepada Tuhan dalam setiap kebutuhan mereka. Cara ini sangat berbeda dengan cara hidup orang dunia! Ketika kaum beriman memperhatikan akhir hidup para pelayan firman yang menyuplaikan firman Allah kepada me-reka, mereka akan terpengaruh untuk meneladani iman mereka di dalam Allah.
VII. BERBUAT BAIK
Ayat 16 “Janganlah kamu lalai untuk berbuat baik dan memberi bantuan, sebab kurban-kurban yang demikianlah yang berkenan kepada Allah.” Ayat ini menyinggung tentang berbuat baik. Baik ini bukan baik dalam hal yang baik atau buruk, melainkan yang baik dalam ekonomi Allah. Berbuat baik menurut ekonomi Allah, yang adalah kurban yang diperkenan-Nya, adalah menurut operasi Allah dalam batin hati kita (Ef. 2:10; Flp. 2:13), yakni menurut operasi hukum hayat. Perbuatan baik kita yang di lahir se-harusnya berasal dari operasi hukum hayat yang di batin.
VIII. MEMBERI BANTUAN
Ayat 16 juga menyinggung tentang memberi bantuan. Hal ini adalah suatu perkara yang diperlukan dalam hidup gereja. Tidaklah tepat jika di dalam gereja ada orang beriman yang miskin yang tidak dirawat dan dilayani dengan baik. Ini berarti persekutuan dengan orang lain itu tidak ada atau tidak memadai. Memberi bantuan juga merupakan suatu kurban yang diperkenan Allah. Hal ini bertujuan untuk menyuplai kekurangan kaum saleh, supaya terdapat keseimbangan (2Kor. 8:14-15). Mereka yang berkelebihan seharusnya membagikan kepada mereka yang berkekurangan. Ketika orang yang berkelebihan membantu orang yang berkekurangan, maka akan ada keseimbangan di antara kita. Ini sama seperti pengumpulan manna oleh bani Israel di padang gurun. Pada hari-hari itu, “Orang yang mengumpulkan banyak, tidak kelebihan dan orang yang mengumpulkan sedikit, tidak kekurangan” (2 Kor. 8:15, Kel. 16:18). Akhirnya terjadilah keseimbangan di antara bani Israel.
IX. TAATILAH PEMIMPIN-PEMIMPINMU
DAN TUNDUKLAH KEPADA MEREKA
Ayat 17 mengatakan, “Taatilah pemimpin-pemimpinmu dan tunduklah kepada mereka, sebab mereka berjaga-jaga atas jiwamu, sebagai orang-orang yang harus bertanggung jawab atasnya, supaya mereka melakukannya dengan gembira, bukan dengan keluh kesah, sebab hal itu tidak akan membawa keuntungan bagimu.” Saya pernah mendengar banyak orang yang disebut orang-orang rohani berkata bahwa asalkan mereka memiliki Roh Kudus, mereka sudah menjadi pemimpin, tidak perlu dipimpin oleh siapa pun. Mereka mengatakan kita ini keliru, sebab di tengah-tengah kita ada pemimpin. Menurut mereka mempunyai pemimpin berarti mempunyai organisasi, hirarki, dan paus. Kita harus seimbang dalam hal ini. Kita bersyukur kepada Tuhan bahwa dalam pemulihan-Nya selama lima puluh tahun berselang, di tengah-tengah gereja-gereja selalu ada pemimpin-pemimpin yang tepat, yang memelihara ketertiban dalam rumah Allah.
Dalam setiap keluarga, selain orang tua, ada kakak lelaki dan perempuan. Misalnya, dalam sebuah keluarga ada enam anak, dengan sendirinya setiap anak mengetahui kedudukan masing-masing. Sewaktu anak yang paling tua berbicara, yang lain mematuhinya. Tetapi kalau anak ketiga menganggap dirinya paling tua, pasti anak-anak lainnya enggan mematuhinya. Jika kita ingin memelihara ketertiban di dalam rumah Allah, kita harus memiliki pemimpin, dan semua orang kudus harus menaati mereka serta tunduk kepada mereka. Hal ini dibutuhkan bagi pembangunan gereja.
Akan tetapi, masalah kepemimpinan ini tidak boleh di jadikan terlalu resmi atau kaku. Sebagai contoh, dalam satu keluarga, anak yang tertua tidak perlu berkata, “Akulah anak pertama, kalian harus mengakui bahwa aku adalah pemimpin kalian dalam keluarga ini. Karena aku memiliki kedudukan ini, aku adalah kuasa yang mewakili Allah.” Sangat disayangkan, banyak pemimpin kelompok Kristen telah menggunakan buku karangan Watchman Nee ”Kekuasaan dan Ketaatan” untuk mendirikan “kerajaan” mereka. Mereka berkata, “Aku adalah kuasa rohani di tempat ini. Menurut buku Watchman Nee, kalian semua harus menuruti kata-kataku.” Beberapa saat yang lalu, dari sebuah lokal datang tiga orang pemuda mengunjungi para penatua gereja di Anaheim. Mereka menghardik para penatua, “Kalian penatua? Kalian tidak mengerti bagaimana menjadi penatua. Kamilah penatua yang sesungguhnya!” Pemuda-pemuda itu berusia sekitar dua puluhan, hanya boleh menjadi “penatua kanak-kanak”, tetapi telah dilantik oleh mereka yang mengangkat dirinya sendiri sebagai raja. Mereka bukanlah penatua sejati, mereka hanyalah pemain sandiwara.
Jika seorang saudara benar-benar menjadi penatua, setiap orang pasti mengetahui, ia juga tidak perlu menggenggam kuasa apa pun. Kalau Anda adalah anak tertua dalam keluarga, semua anak yang lain tentu mengetahui hal ini. Tidak perlu Anda sendiri yang menggenggam kekuasaan tersebut. Malahan Anda harus dengan kasih memperhatikan adik-adik yang lebih muda. Demikian pula, para penatua dalam gereja tidak boleh menggenggam kuasa, tetapi harus memelihara kaum saleh dengan kasih. Para penatua, lupakanlah kekuasaan kalian! Di pihak mereka, kaum saleh harus menaati dan tunduk kepada Anda; tetapi di pihak Anda, janganlah menggenggam kekuasaan. Tidak ada satu hal yang lebih jelek daripada seorang penatua mengenggam kekuasaan. Kita harus menjadi apa adanya kita, tanpa menggenggam apa pun. Namun demikian, dalam rumah Allah dan untuk pembangunan Tubuh Kristus, harus ada suatu ketertiban di antara kita.
X. MENDOAKAN PARA RASUL
Ayat 18-19 mengatakan, “Berdoalah terus untuk kami; sebab kami yakin bahwa hati nurani kami murni, karena di dalam segala hal kami menginginkan hidup yang baik. Secara khusus aku menasihatkan kamu untuk melakukannya, supaya aku lebih lekas dikembalikan kepada kamu.” Berdoa untuk para rasul adalah aspek yang lain dari hidup gereja. Mendoakan para rasul bukanlah mendoakan secara pribadi atau individu, melainkan untuk ministri itu dan mengambil bagian dalam gerakan Tuhan, yang bertujuan menggenapkan kehendak-Nya. Saya bersyukur atas sidang doa di Anaheim. Setiap pekan kami menghabiskan banyak waktu untuk mendoakan pergerakan Tuhan di bumi ini, dan bagi penggenapan kehendak-Nya.
Setelah kita melihat kesepuluh kebajikan ini, kita nampak bahwa semua kebajikan ini perlu ada dalam hidup gereja, dan harus dilaksanakan di antara kita.